Etna di Italia telah terus mengalami erupsi selama 8 hari. Abu vulkanik dalam jumlah besar menyebabkan gangguan lalu lintas udara di Pulau Sisilia. Bandara Catania telah memperpanjang pembatasan operasional hingga pukul 14.00 waktu setempat pada 15 Agustus. Para ahli mengatakan, lamanya erupsi menjadi salah satu karakteristik paling menonjol dari aktivitas vulkanik kali ini.
EtIndonesia.com Pada 14 Agustus malam, Gunung Etna masih terus meletus, memuntahkan bola api berwarna jingga, asap tebal, serta aliran lava. Pada 15 Agustus, tingkat kewaspadaan aktivitas vulkanik diturunkan dari merah menjadi oranye. Dengan demikian, Gunung Etna telah terus mengalami erupsi selama 8 hari.
Sejak 8 Agustus, sekitar 700 penerbangan dibatalkan akibat abu vulkanik. Menurut informasi terbaru dari Bandara Catania, pembatasan operasional telah diperpanjang hingga pukul 14.00 waktu setempat pada 15 Agustus.
Menurut laporan Euronews pada 13 Agustus, Salvo Gambino, kepala Observatorium Gunung Etna di Catania yang berada di bawah Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV), mengatakan bahwa fase erupsi Gunung Etna saat ini menunjukkan sejumlah karakteristik yang pernah diamati sebelumnya. Namun, durasi erupsi yang panjang menjadi ciri paling menonjol kali ini.
Etna, alte fontane di lava nella notte. Poi la calma? pic.twitter.com/UdlOIbPT5w
— Local Team (@localteamit) August 15, 2026
Gambino mengatakan kepada Euronews pada 13 Agustus bahwa fenomena serupa juga pernah terjadi pada akhir 1970-an.
Dalam beberapa dekade terakhir, air mancur lava dan aliran lava telah beberapa kali muncul di Gunung Etna. Namun, menurut Gambino, fenomena tersebut biasanya berlangsung sangat singkat, mulai dari beberapa jam hingga sekitar setengah hari. Kali ini erupsi telah berlangsung selama 7 hari, sehingga menjadi karakteristik yang sangat menonjol.
Gambino memperkirakan bahwa durasi erupsi yang sangat panjang ini kemungkinan disebabkan oleh naiknya magma dari lapisan yang lebih dalam dan kaya gas.
Namun, ia menegaskan bahwa untuk saat ini aliran lava tidak mengancam kawasan permukiman. Sebaliknya, abu vulkanik yang menjadi penyebab utama gangguan dan kerusakan.
Ia mengatakan bahwa masalah terbesar saat ini terutama berkaitan dengan kolom abu vulkanik yang terus keluar dari kawah Voragine. Kolom abu tersebut membentuk awan yang menyebar di atmosfer. Dalam beberapa hari terakhir, angin bertiup dari arah selatan sehingga situasinya menjadi semakin rumit karena awan abu terdorong ke arah kawasan bandara dan menyebabkan gangguan lalu lintas udara.
#Etna, continua il caos negli aeroporti siciliani. Lo scalo di #Catania resta chiuso almeno fino alle 15 di oggi pic.twitter.com/pW83KgUtMI
— Tg2 (@tg2rai) August 15, 2026
Menteri Perlindungan Sipil dan Kebijakan Kelautan Italia Nello Musumeci pada 12 Agustus menegaskan bahwa “masalahnya bukan pada gunung berapi, melainkan pada bandara.” Bandara Catania berada sangat dekat dengan Gunung Etna sehingga sangat rentan terkena dampak erupsi.
Gunung Etna, yang oleh masyarakat setempat dijuluki “Yang Mulia Sang Ratu”, menarik banyak wisatawan selama erupsi berlangsung.
Cristian Alessi, pemandu alam dari EtnaWay, mengatakan bahwa menyaksikan erupsi gunung berapi secara langsung memang sangat spektakuler, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Ia menyarankan agar wisatawan didampingi oleh pemandu.
Gunung Etna memiliki ketinggian sekitar 3.324 meter dan merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Eropa. Etna juga dikenal sebagai salah satu gunung berapi dengan frekuensi erupsi tertinggi di dunia. Sejarah letusannya dapat ditelusuri hingga sekitar 1500 SM.
Sumber : NTDTV.com


