EtIndonesia.com Di tengah kemerosotan ekonomi Tiongkok, banyak anak muda kehilangan pekerjaan. Berbagai laporan bahkan menyebut ada orang yang pingsan karena kelaparan, bahkan meninggal dunia akibat kelaparan di jalanan. Baru-baru ini, media melaporkan kasus seorang pria berusia 30 tahun yang kehilangan pekerjaan dan mengalami kesulitan ekonomi. Setelah menahan lapar selama 20 hari, ia akhirnya jatuh dan dilarikan ke rumah sakit. Ia kemudian didiagnosis mengalami gagal ginjal akut.
Menurut laporan Southern Metropolis Daily, Rumah Sakit Pertama Universitas Zhejiang (Zhejiang University First Affiliated Hospital) pada 20 Agustus mempublikasikan sebuah kasus medis. Seorang pria berusia 30 tahun, yang disebut dengan nama samaran Yang, kehilangan pekerjaan, mengalami kesulitan keuangan, dan terlilit pinjaman daring.
Selama 10 hari penuh, ia hanya mengandalkan biskuit dan makanan ringan untuk mengganjal perut di rumah. Setelah makanan ringan tersebut habis, setiap kali merasa lapar ia minum air dalam jumlah sangat banyak. Kondisi ini berlangsung selama 10 hari berikutnya.
Namun, pada hari ke-21, ia mulai mengalami kram perut, pusing, tubuh sangat lemas, serta kesulitan berjalan. Ia bahkan terjatuh di rumah dan tidak mampu bangun. Yang kemudian menelepon layanan darurat 120 dan segera dibawa ke rumah sakit di Shenzhen. Ia didiagnosis mengalami gagal ginjal akut.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, orang tua Yang membawanya kembali ke kampung halaman mereka di Jiangxi untuk melanjutkan pengobatan. Setelah menjalani tiga kali hemodialisis, tiba-tiba kedua matanya tidak dapat melihat dengan jelas. Ia hanya mampu melihat cahaya yang samar.
Keluarganya kemudian membawanya ke Rumah Sakit Pertama Universitas Zhejiang. Dokter menemukan bahwa Yang mengalami gangguan sistem saraf akut akibat kekurangan vitamin B1 yang sangat parah. Setelah mendapatkan suplementasi vitamin B1, penglihatannya mulai dapat menangkap cahaya kembali. Setelah menjalani perawatan yang disesuaikan dengan kondisinya, fungsi ginjalnya akhirnya berhasil pulih.
Pengalaman tersebut membuat banyak warganet daratan Tiongkok berkomentar:
“Aduh, situasi ekonomi sedang buruk, mencari uang semakin sulit, sementara harga barang semakin mahal!”
“Kasihan sekali.”
“Terlalu menyedihkan.”
“Ekonomi platform yang tidak sehat menyebabkan semakin banyak orang kehilangan pekerjaan!”
Seorang pengguna Weibo menyindir:
“Kemarin baru saja melihat pakar mengatakan bahwa pekerjaan fleksibel adalah sebuah keuntungan.”
Ada pula yang mengatakan bahwa sekarang mereka merasa kesal setiap kali melihat istilah seperti “kesejahteraan”, “keberuntungan”, atau “bonus”. Mereka menyinggung istilah-istilah seperti “996 adalah berkah”, “bonus demografi”, “bonus talenta”, dan “bonus insinyur”.
Dalam beberapa tahun terakhir, seiring perlambatan ekonomi dan meningkatnya pengangguran di daratan Tiongkok, terus muncul laporan mengenai anak muda yang diduga pingsan karena kelaparan di jalanan, bahkan meninggal akibat kelaparan.
Pada Agustus 2024, di Xi’an, pernah diberitakan kasus seorang perempuan lulusan universitas ternama Beijing yang termasuk kelompok universitas “211”. Setelah mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, perempuan tersebut dilaporkan meninggal karena kelaparan di kamar kontrakannya. Jenazahnya baru ditemukan sekitar 20 hari kemudian. Kasus tersebut menggemparkan internet Tiongkok.
Pada April lalu, warga Dongguan merekam seorang pemuda terbaring tak bergerak di trotoar. Dua petugas polisi berjaga di dekatnya, diduga sedang menunggu kendaraan datang untuk menangani jenazah. Sejumlah pejalan kaki menduga bahwa pria tersebut mungkin meninggal karena kelaparan.
Pada 25 Mei tahun ini, seorang pemuda di Wuhan tidak dapat menemukan pekerjaan. Setelah beberapa hari tidak makan, ia pingsan di pinggir jalan dan kehilangan kesadaran. Dua warga yang memberikan pertolongan mengatakan:
“Mereka ditipu oleh agen tenaga kerja berkali-kali. Beberapa hari sebelumnya ada seorang perempuan yang juga ditipu agen ilegal. Dia bekerja selama 18 hari, tetapi hanya dibayar 200 yuan.” (***)


