EtIndonesia.com Tumpukan sampah raksasa di sebuah tempat pembuangan sampah di Conakry, ibu kota Guinea, longsor pada 23 Agustus dini hari setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sepanjang malam.
Saksi mata mengatakan skala longsor sangat besar, bahkan cukup untuk menimbun sebuah gedung apartemen beserta rumah-rumah sederhana di sekitarnya. Bencana tersebut telah menyebabkan 30 orang meninggal dunia, 6 orang mengalami luka berat, dan 16 lainnya mengalami luka ringan.
Menurut laporan Associated Press (AP), hujan deras yang mulai turun sekitar pukul 03.00 dini hari menyebabkan tumpukan sampah yang menjulang seperti gunung menjadi tidak stabil. Sejumlah besar sampah kemudian meluncur menuruni lereng dan menimbun rumah serta bangunan-bangunan sederhana di kaki tempat pembuangan sampah.
Petugas penyelamat menggunakan ekskavator dan berbagai peralatan lainnya untuk membersihkan lokasi longsor.
Berdasarkan laporan awal, masih ada kemungkinan sejumlah orang terjebak di bawah reruntuhan.
Pemerintah menyatakan bahwa setelah kejadian tersebut, sejumlah besar personel dan sumber daya telah dikerahkan untuk mencari orang-orang yang mungkin tertimbun, menyelamatkan korban luka, serta mencari dan mengevakuasi jenazah korban.
Menurut informasi yang diperoleh, beberapa hari sebelum bencana terjadi, pemerintah sebenarnya telah memerintahkan evakuasi warga yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah guna mencegah terjadinya longsor.
Tokoh oposisi utama Guinea yang kini berada di pengasingan, mantan Perdana Menteri Cellou Dalein Diallo, menulis di Facebook:
“Tragedi ini sangat mengkhawatirkan, terutama karena tempat pembuangan sampah ini sebenarnya dijadwalkan untuk ditutup secara resmi pada 23 Agustus.”
Bencana ini merupakan kecelakaan longsor fatal kedua yang terjadi di lokasi tersebut sejak 2017.
Tempat pembuangan sampah Dar-es-Salaam di Conakry, yang juga dikenal sebagai tempat pembuangan sampah Laminier, berada di kawasan perkotaan yang padat penduduk dan memiliki luas sekitar 25 hektare.
Tempat tersebut dibangun sekitar tahun 1980 di bekas lokasi tambang batu yang telah ditinggalkan. Awalnya, tempat pembuangan sampah itu diperkirakan hanya akan beroperasi selama sekitar 20 tahun.
Namun, hingga kini lokasi tersebut masih menerima sekitar 1.600 ton sampah dari Kota Conakry setiap hari.
Selama bertahun-tahun, penumpukan sampah yang tidak terkendali membentuk sebuah “gunung” sampah buatan yang curam. Kondisi tersebut membuat kawasan ini sangat rentan mengalami longsor, terutama selama musim hujan.
Sumber : NTDTV.com


