Iran Dibuat Geger! Israel Bongkar Fasilitas Rahasia di Perut Gunung, AS Mulai Memburu Elite IRGC

EtIndonesia.com  Tekanan terhadap jaringan militer Iran kembali menjadi sorotan setelah Israel mengungkap lebih jauh aktivitas Teheran dan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan, sementara Amerika Serikat secara terpisah meningkatkan upaya memburu informasi mengenai jajaran penting Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.

Perkembangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik, ekonomi, dan keamanan terhadap Iran. Namun, sejumlah bagian dari informasi yang beredar perlu diluruskan berdasarkan tanggal serta identitas tokoh yang tercantum dalam sumber resmi.

Salah satu perkembangan yang berkaitan dengan Israel adalah tindakan terhadap UNRWA, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani pengungsi Palestina.

Parlemen Israel atau Knesset sebelumnya mengesahkan undang-undang pada Oktober 2024 yang melarang kegiatan UNRWA di wilayah yang dianggap Israel sebagai wilayah kedaulatannya serta membatasi hubungan antara pejabat Israel dan badan tersebut. Ketentuan utama undang-undang itu mulai berlaku pada 30 Januari 2025.

Israel menuduh sejumlah pegawai UNRWA memiliki hubungan dengan Hamas dan menyatakan keberadaan badan tersebut menimbulkan persoalan keamanan. UNRWA dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menolak tindakan Israel tersebut dan menegaskan bahwa badan PBB memiliki perlindungan berdasarkan hukum internasional.

Perselisihan itu kembali meningkat pada 29 Desember 2025, ketika Knesset mengesahkan perubahan undang-undang yang semakin memperketat pembatasan terhadap UNRWA. Amendemen tersebut antara lain memungkinkan penghentian layanan penting terhadap fasilitas UNRWA serta memberikan kewenangan tertentu terkait pengambilalihan properti yang digunakan badan tersebut.

Ketegangan mencapai titik baru pada 20 Januari 2026, ketika pasukan Israel memasuki kompleks markas UNRWA di Yerusalem Timur dan alat-alat berat mulai merobohkan sejumlah bangunan di dalamnya. UNRWA mengecam tindakan itu sebagai serangan terhadap fasilitas PBB dan menyebutnya bertentangan dengan kewajiban Israel berdasarkan hukum internasional.

Pada saat yang sama, perhatian keamanan Israel tetap diarahkan pada jaringan militer Iran di kawasan, termasuk infrastruktur yang sebelumnya dibangun Teheran di Suriah.

Salah satu kasus paling menonjol adalah fasilitas bawah tanah di kawasan Masyaf, Provinsi Hama, Suriah barat. Fasilitas tersebut dibangun jauh di dalam gunung dan, menurut militer Israel, dirancang Iran sebagai pusat produksi rudal berpemandu presisi yang dapat dipasok kepada Hizbullah di Lebanon serta sekutu Iran lainnya.

Israel mengatakan telah memantau pembangunan fasilitas itu sejak pekerjaan penggalian dimulai sekitar akhir 2017. Kompleks tersebut kemudian berkembang menjadi fasilitas bawah tanah yang berada sekitar 70 hingga 130 meter di bawah permukaan, sehingga dinilai sangat sulit dihancurkan hanya melalui serangan udara.

Pada 8 September 2024, pasukan khusus Angkatan Udara Israel dari Unit Shaldag melakukan operasi darat berisiko tinggi untuk menghancurkan fasilitas tersebut.

Pasukan Israel diterbangkan jauh memasuki wilayah Suriah dengan dukungan pesawat tempur, helikopter dan pesawat nirawak. Setelah memasuki fasilitas, mereka memasang bahan peledak pada infrastruktur produksi, mengambil material intelijen dan kemudian meninggalkan lokasi sebelum kompleks bawah tanah tersebut dihancurkan. Israel baru mengungkap secara resmi rincian operasi itu pada 2 Januari 2025.

Menurut penilaian militer Israel, apabila beroperasi penuh, fasilitas itu berpotensi memproduksi sekitar 100 hingga 300 rudal per tahun, termasuk rudal berpemandu presisi dan rudal jarak jauh dengan jangkauan hingga sekitar 300 kilometer. Israel menggambarkannya sebagai salah satu proyek utama Iran untuk memperkuat kemampuan persenjataan Hizbullah.

Dengan memproduksi rudal lebih dekat ke Lebanon, Iran dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada jalur pengiriman senjata dari Iran melalui Irak dan Suriah—jalur yang selama bertahun-tahun berulang kali menjadi sasaran serangan Israel.

Sementara Israel terus menyoroti jaringan militer Iran di kawasan, Washington mengambil langkah berbeda.

Pada Senin, 24 Agustus 2026, program Rewards for Justice di bawah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan tawaran hadiah hingga 10 juta dolar AS bagi informasi mengenai para pemimpin utama IRGC dan cabang-cabangnya.

Untuk lima tokoh senior IRGC yang menjadi perhatian khusus, nama yang tercantum dalam pengumuman tersebut adalah Ahmad Vahidi, Ali Abdollahi, Sa’id Aghajani, Hamidreza Lashgarian, dan Majid Khademi. 

Vahidi disebut sebagai komandan IRGC. Ali Abdollahi dikaitkan dengan Markas Pusat Khatam al-Anbiya. Sa’id Aghajani merupakan tokoh yang berkaitan dengan komando pesawat nirawak Pasukan Dirgantara IRGC, sedangkan Hamidreza Lashgarian dikaitkan dengan Komando Siber-Elektronik IRGC. Majid Khademi tercantum sebagai pejabat organisasi intelijen IRGC.

Rewards for Justice menyatakan bahwa informasi yang dicari dapat berkaitan dengan identifikasi maupun lokasi tokoh-tokoh tersebut. Selain hadiah finansial hingga US$10 juta, orang yang memberikan informasi yang dapat ditindaklanjuti juga berpotensi memperoleh bantuan relokasi.

Washington menuduh unsur-unsur IRGC terlibat dalam serangan terhadap personel Amerika serta operasi siber terhadap infrastruktur penting AS. Pemerintah Amerika Serikat sendiri telah menetapkan IRGC sebagai Foreign Terrorist Organization sejak 15 April 2019.

Langkah terbaru Washington ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Iran tidak hanya dilakukan melalui jalur ekonomi dan diplomatik. Amerika Serikat juga berusaha meningkatkan tekanan terhadap struktur kepemimpinan militer dan jaringan operasional IRGC dengan mendorong masuknya informasi dari orang-orang yang mengetahui kegiatan mereka.

Dengan demikian, perkembangan pada 24–25 Agustus 2026 memperlihatkan dua jalur tekanan yang berjalan secara paralel. Israel terus menyoroti dan membongkar jaringan infrastruktur militer Iran serta kelompok proksinya di kawasan, sedangkan Amerika Serikat menggunakan instrumen intelijen, finansial, dan program hadiah untuk memperoleh informasi mengenai tokoh-tokoh penting IRGC.

Situasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa persaingan dengan Iran kini berlangsung jauh melampaui medan perang konvensional. Infrastruktur bawah tanah, produksi rudal, jaringan proksi, operasi siber, intelijen, hingga tekanan ekonomi telah menjadi bagian dari pertarungan yang semakin luas.

Dan selama ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat belum mereda, setiap pengungkapan baru mengenai jaringan militer Teheran—serta setiap langkah Washington terhadap jajaran IRGC—berpotensi kembali meningkatkan tensi keamanan di Timur Tengah. (***)

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine