Pembangkit listrik tenaga air di Ekuador yang dibangun oleh perusahaan bermodal Tiongkok dan disebut sebagai “proyek bermutu buruk” dilaporkan memiliki sekitar 17.000 retakan. Baru-baru ini, mantan Presiden Ekuador Lenín Moreno dijatuhi hukuman penjara karena sejumlah tindak pidana, termasuk menerima suap dalam jumlah besar dari perusahaan bermodal Tiongkok terkait proyek pembangkit listrik tersebut.
EtIndonesia.com Menurut laporan Associated Press (AP), mantan Presiden Ekuador Lenín Moreno pada Jumat (28 Agustus) dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Moreno yang berusia 73 tahun memiliki disabilitas dan tidak dapat berjalan, sehingga akan menjalani hukumannya di rumah.
Moreno dinyatakan bersalah karena terlibat langsung dalam praktik suap ketika menjabat sebagai wakil Presiden di bawah pemerintahan mantan Presiden Rafael Correa.
Istri dan putrinya, dua saudara laki-lakinya, serta seorang ipar laki-lakinya dinyatakan sebagai kaki tangan dan masing-masing dijatuhi hukuman 2,5 hingga 3 tahun penjara. Mereka juga diperintahkan untuk mengembalikan tiga kali lipat dari keuntungan ilegal yang diperoleh dalam waktu 90 hari.
Jaksa mengatakan bahwa sebuah jaringan korupsi antara 2008 hingga 2018 menerima suap yang nilainya setara dengan 4% dari nilai proyek yang dikerjakan oleh China Hydroelectric Corporation, atau sekitar US$76,1 juta.
Dana tersebut kemudian disalurkan melalui transaksi domestik dan internasional kepada pejabat pemerintah, termasuk Moreno, serta pihak-pihak lain yang memperoleh keuntungan.
Menurut laporan media Ekuador Primicias, Cai Runguo, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar PKT untuk Ekuador dan kemudian menjadi perwakilan hukum China Hydroelectric Corporation di Ekuador, bersama dua eksekutif perusahaan bermodal Tiongkok lainnya dan seorang perantara bisnis lokal, juga dinyatakan pengadilan sebagai pihak yang secara langsung mengatur praktik korupsi. Mereka masing-masing dijatuhi hukuman lima tahun penjara.
China Hydroelectric Corporation mulai membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air Coca Codo Sinclair pada 2010 dengan biaya sekitar US$2 miliar. Setelah selesai dibangun, pembangkit tersebut diserahkan kepada Ekuador pada 2016.
Namun setelah mulai beroperasi, proyek tersebut terungkap sebagai apa yang disebut “proyek bermutu buruk”.
Sebelumnya, pemeriksaan yang dilakukan lembaga audit Ekuador menemukan bahwa bagian dalam bendungan ternyata dipenuhi lebih dari 17.000 retakan struktural. Selain itu, terdapat cacat desain serius serta risiko erosi dasar sungai. Kondisi tersebut menyebabkan pembangkit tidak pernah mampu menghasilkan listrik pada kapasitas penuh dan bahkan menghadapi risiko jebolnya bendungan.
Pada periode Januari hingga Juni 2024, pembangkit tersebut hanya menghasilkan sekitar 42% dari kapasitas produksi listrik yang dirancang. Kondisi ini berkontribusi terhadap terjadinya 19 kali pemadaman listrik yang masing-masing berlangsung lebih dari delapan jam di negara tersebut.
Setelah putusan pengadilan, Moreno mengklaim bahwa dirinya “tidak pernah menerima satu sen pun dari perusahaan bermodal Tiongkok”. Ia menuduh kasus tersebut merupakan bentuk pembersihan politik yang dilakukan oleh mantan Presiden Rafael Correa.
Namun, hakim dalam putusannya menegaskan bahwa perkara tersebut didukung oleh lebih dari 300 bukti transaksi pencucian uang lintas negara dan dokumen kontrak yang telah diperiksa secara silang. Menurut pengadilan, bukti mengenai praktik suap yang melibatkan perusahaan bermodal Tiongkok dinilai jelas. (***)


