EtIndonesia.com . Tekanan terhadap pemerintahan Iran semakin datang dari berbagai arah. Di tengah ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel, pemerintah di Teheran juga menghadapi persoalan serius di dalam negeri: memburuknya kondisi ekonomi, jatuhnya nilai mata uang rial, meningkatnya biaya hidup, serta kekhawatiran terhadap munculnya kembali gelombang ketidakpuasan masyarakat.
Pada saat bersamaan, kekhawatiran terhadap operasi intelijen Israel tetap menjadi persoalan keamanan yang menghantui lingkaran elite Iran.
Dalam beberapa tahun terakhir, badan intelijen Israel, Mossad, berulang kali dituduh berada di balik sejumlah operasi rahasia di wilayah Iran. Salah satu kasus yang paling terkenal adalah pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, pada 27 November 2020. Fakhrizadeh tewas dalam sebuah serangan di dekat Teheran yang oleh pihak Iran dikaitkan dengan Israel.
Sejumlah laporan kemudian menyebut serangan tersebut menggunakan sistem persenjataan yang dapat dioperasikan dari jarak jauh. Israel tidak secara resmi mengakui bertanggung jawab atas operasi itu.
Pengalaman tersebut membuat pemerintah Iran semakin sensitif terhadap kemungkinan infiltrasi intelijen asing.
Berbagai laporan dan spekulasi mengenai dugaan operasi rahasia Israel kembali bermunculan selama konflik yang semakin intensif pada 2026. Bahkan muncul klaim mengenai kemungkinan penggunaan metode yang jauh lebih sulit dideteksi, termasuk dugaan upaya peracunan terhadap tokoh-tokoh tertentu.
Namun, klaim mengenai seorang politikus garis keras Iran yang diduga diracun ketika menghadiri pertemuan militer belum memperoleh konfirmasi independen yang cukup kuat. Karena itu, informasi tersebut masih harus diperlakukan sebagai dugaan, bukan fakta yang telah terbukti.
Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, kekhawatiran terhadap infiltrasi memang menjadi persoalan serius bagi pemerintah Iran. Situasi keamanan internal semakin diperketat, sementara struktur keamanan negara juga mengalami berbagai perubahan.
Pada 10 Agustus 2026, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menunjuk mantan kepala Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran, Hossein Taeb, sebagai pemimpin Basij. Penunjukan tokoh garis keras tersebut dipandang sejumlah analis sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat pengawasan domestik sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya kerusuhan akibat tekanan ekonomi.
Dengan demikian, para elite Iran kini menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus.
Dari luar, terdapat tekanan militer dan ekonomi Amerika Serikat serta ancaman operasi Israel. Dari dalam, pemerintah harus menghadapi memburuknya kondisi ekonomi dan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Washington pada akhir Agustus meluncurkan langkah ekonomi baru yang dirancang untuk semakin membatasi kemampuan Iran memperoleh devisa dan menjalankan perdagangan internasional.
Dampaknya mulai terasa semakin berat.
Pada 24 Agustus 2026, nilai rial Iran di pasar terbuka jatuh hingga sekitar 2,02 juta rial terhadap satu dolar AS, mencatatkan rekor terendah baru. Sebagai perbandingan, pada Maret 2026 nilainya masih berada di sekitar 1,53 juta rial per dolar.
Tekanan tersebut kemudian berlanjut. Data yang dilaporkan pada 1 September 2026 menunjukkan rial telah menembus lebih dari dua juta terhadap dolar AS, sementara inflasi tahunan pada Juli dilaporkan mencapai sekitar 66 persen. Bank Sentral Iran menyatakan masih memiliki cadangan devisa yang cukup dan siap melakukan intervensi untuk menstabilkan pasar.
Namun bagi masyarakat biasa, angka-angka tersebut memiliki konsekuensi yang jauh lebih nyata.
Harga makanan, kebutuhan rumah tangga, biaya transportasi, hingga berbagai barang impor melonjak. Pendapatan masyarakat dalam rial semakin kehilangan daya beli.
Pada pertengahan Agustus, laporan dari dalam Iran menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat mulai mengurangi konsumsi makanan, mencari pekerjaan tambahan, atau meninggalkan pengeluaran yang sebelumnya dianggap normal. Harga minyak goreng bahkan dilaporkan meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Situasi ini tidak hanya menghantam pekerja sektor swasta.
Aparat keamanan Iran yang menerima gaji dari pemerintah juga menghadapi tekanan yang sama.
Pada 24 Agustus, Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara khusus menyinggung kondisi personel keamanan Iran. Ia mengatakan pembayaran gaji sebagian aparat dapat mengalami keterlambatan atau bahkan terhenti ketika tekanan terhadap keuangan pemerintah semakin berat. Analisis Institute for the Study of War juga menilai depresiasi rial, berkurangnya pendapatan ekspor, serta kesulitan memperoleh mata uang asing berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pegawai pemerintah, termasuk aparat keamanan.
Belakangan, sebuah video yang beredar di internet juga diklaim memperlihatkan seorang anggota kepolisian Iran menyampaikan keluhannya mengenai kondisi ekonomi.
Dalam video tersebut, pria yang disebut sebagai polisi Iran itu menggambarkan betapa beratnya tekanan yang dialami aparat tingkat bawah. Ia mengaku hampir tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan dan mengatakan bahwa rekan-rekannya menghadapi persoalan serupa.
Ia menyampaikan rasa tidak berdaya ketika melihat sesama aparat juga kesulitan memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Keaslian dan konteks lengkap video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Namun isi keluhannya sejalan dengan gambaran lebih luas mengenai merosotnya daya beli masyarakat Iran.
Persoalan inilah yang kini menjadi tantangan besar bagi pemerintah Teheran.
Tekanan ekonomi bukan lagi sekadar persoalan nilai tukar atau statistik inflasi. Ketika kesulitan tersebut mulai menyentuh aparat yang selama ini menjadi salah satu pilar utama stabilitas pemerintahan, dampak politiknya berpotensi menjadi jauh lebih serius.
Para pemimpin Iran tampaknya menyadari risiko tersebut.
Laporan Reuters pada 17 Agustus 2026 menyebut kalangan penguasa Iran semakin khawatir bahwa tekanan ekonomi yang lebih berat dapat memicu kembali keresahan sosial. Pemerintah karena itu meningkatkan kesiapan aparat keamanan dan memperkuat struktur yang selama ini digunakan untuk mengendalikan demonstrasi.
Enam bulan setelah konflik besar mengguncang kawasan, pemerintah Iran memang masih bertahan. Namun tekanan yang dihadapinya kini semakin kompleks.
Di luar negeri, Teheran harus menghadapi Amerika Serikat dan Israel. Di dalam negeri, pemerintah menghadapi inflasi tinggi, nilai rial yang jatuh ke titik terendah, berkurangnya pendapatan negara, dan masyarakat yang semakin terbebani biaya hidup.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap infiltrasi dan operasi intelijen membuat lingkaran kekuasaan semakin meningkatkan pengamanan.
Dengan kondisi seperti ini, persoalan terbesar Iran mungkin bukan hanya bagaimana menghadapi tekanan militer dari luar, tetapi juga bagaimana mempertahankan stabilitas di dalam negeri apabila tekanan ekonomi terus berlangsung.
Sebab ketika kesulitan ekonomi mulai dirasakan bukan hanya oleh masyarakat biasa, tetapi juga oleh aparat yang bertugas menjaga ketertiban dan mempertahankan pemerintahan, maka tekanan terhadap Teheran memasuki tahap yang jauh lebih sensitif. (***)


