Surabaya, 8 September 2026 – Bayangkan, kotoran ternak dan sisa pertanian yang selama ini hanya menumpuk dan mencemari lingkungan, kini bisa berubah menjadi gas untuk memasak dan pupuk untuk menyuburkan tanaman. Inilah yang diwujudkan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Kawasan Transmigrasi Momi Waren, Papua Barat.
Bertolak dari persoalan nyata warga yang sulit mendapatkan gas LPG untuk kebutuhan sehari-hari, tim yang terdiri dari lima anggota ini membangun sistem biogas komunal. Teknologi ini mengolah limbah organik—mulai dari kotoran sapi hingga jerami—menjadi energi yang bisa digunakan untuk memasak dan penerangan.
Limbah Jadi Dua Manfaat Sekaligus
Ketua tim, Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T., menjelaskan bahwa ide ini lahir dari dua masalah utama yang dihadapi masyarakat setempat: limbah yang melimpah dan akses energi yang terbatas.
“Di sana, LPG hampir tidak tersedia. Sementara limbah peternakan dan pertanian justru berlimpah. Kami berpikir, kenapa tidak kita ubah masalah ini menjadi peluang?” ujar dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS tersebut.
Caranya? Limbah dikumpulkan, dicampur air, lalu diolah dalam reaktor biodigester. Proses fermentasi anaerob (tanpa oksigen) ini menghasilkan biogas yang dialirkan melalui pipa ke rumah-rumah warga. Sisa pengolahan berupa bio-slurry tidak dibuang, melainkan diolah menjadi pupuk organik berkualitas.
“Jadi satu proses menghasilkan dua manfaat: energi untuk memasak dan pupuk untuk pertanian. Limbah yang dulu jadi beban, sekarang malah bernilai ekonomi,” tambah Arief.
Bukan Sekadar Pasang Alat, Tapi Beri Pendampingan
Tim ITS tidak hanya membangun infrastruktur, lalu pergi. Mereka juga memberikan pendampingan dan pelatihan kepada warga dan perangkat desa. Mulai dari cara mengoperasikan, merawat, hingga menjaga keberlanjutan sistem.
Tujuannya jelas: agar masyarakat bukan sekadar penerima teknologi, tetapi menjadi pengelola yang mandiri. Dengan begitu, fasilitas ini bisa terus dimanfaatkan dalam jangka panjang tanpa bergantung pada pihak luar.
“Kami ingin program ini benar-benar dimiliki dan dikelola oleh masyarakat. Potensi lokal harus dimanfaatkan optimal oleh mereka sendiri,” tegas Arief.
Model Kemandirian Energi dari Papua untuk Indonesia
Program ini diharapkan menjadi contoh kemandirian energi berbasis potensi lokal. Jika berhasil, model serupa bisa diterapkan di kawasan transmigrasi lain atau daerah terpencil yang menghadapi tantangan serupa.
Inisiatif ini juga sejalan dengan komitmen ITS mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-11 tentang permukiman berkelanjutan dan poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau.
Dengan kerja keras tim dan partisipasi aktif masyarakat, kotoran ternak yang dulu diabaikan kini berubah menjadi sumber kehidupan. Sebuah bukti bahwa inovasi sederhana, jika dikelola dengan tepat, bisa memberikan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat.


