Mengapa Kita Masih Membutuhkan Buku Fisik

Oleh Ila Bonczek

Ila meraih gelar Sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences, Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah menanam berbagai hasil pertanian dan tanaman tahunan selama 25 tahun. Ikuti Ila dalam mengeksplorasi berbagai topik menarik seperti kehidupan berkelanjutan, kesehatan holistik, serta pengembangan bukan hanya tanaman, tetapi juga pikiran dan tubuh.

Di era yang mengutamakan efisiensi dan kemudahan, media digital telah menjadi sarana utama kita untuk berkomunikasi, mencari hiburan, dan semakin banyak digunakan dalam pendidikan. Namun, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa kita justru belajar lebih baik melalui media kertas.

Mulai dari pemahaman bacaan hingga kecepatan membaca, berbagai penelitian menunjukkan keunggulan yang mengesankan dari membaca buku fisik—terutama bagi anak-anak.

Apa yang ditunjukkan oleh berbagai penelitian

Buku fisik berkaitan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi

Dalam sebuah penelitian, para peneliti membandingkan anak-anak dari berbagai latar belakang di seluruh dunia untuk melihat seberapa besar pengaruh keberadaan buku di rumah mereka.

Terlepas dari status sosial ekonomi maupun negara asal, anak-anak yang memiliki setidaknya satu buku di rumah memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk memenuhi standar literasi dan matematika dibandingkan anak-anak yang tidak memiliki buku fisik sama sekali.

Mereka yang memiliki lebih dari satu buku menyelesaikan pendidikan rata-rata tiga tahun lebih lama dibandingkan mereka yang tidak memiliki buku atau hanya memiliki satu buku.

Sementara itu, buku elektronik (e-book) tidak menunjukkan korelasi positif dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Meningkatkan pemahaman membaca

Sebuah penelitian komprehensif yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengungkapkan bahwa materi bacaan dalam bentuk cetak lebih mudah dipahami.

Penilaian kemampuan membaca dilakukan terhadap lebih dari setengah juta siswa dari 34 negara. Siswa yang terbiasa menggunakan teks dalam bentuk kertas memperoleh nilai rata-rata 23 poin lebih tinggi dibandingkan siswa yang hanya menggunakan materi digital.

Para peneliti juga menemukan bahwa, “Siswa yang membaca buku untuk kesenangan menunjukkan kemampuan membaca yang secara signifikan lebih baik dibandingkan siswa yang tidak membaca untuk kesenangan.”

Membantu memperluas kosakata

Penelitian yang dilakukan oleh National Reading Panel menunjukkan bahwa pembaca muda memperoleh kemampuan membangun kosakata 34 persen lebih baik ketika menemukan kata-kata baru dalam bentuk cetak dibandingkan ketika membacanya melalui layar.

Membaca buku fisik lebih efisien

Meskipun terdengar tidak masuk akal, ketika materi tulisan yang sama disajikan dalam format berbeda, pembaca buku cetak terbukti membaca 10–30 persen lebih cepat dibandingkan mereka yang membaca melalui layar.

Teks di atas kertas lebih mudah diingat

Para aktor, yang secara rutin harus menghafalkan naskah panjang, sebagian besar lebih memilih teks yang dicetak daripada menggunakan tablet.

Manfaatnya melampaui kemampuan membaca

Data penilaian standar dari lebih dari 400 sekolah yang dianalisis dalam penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa siswa yang secara konsisten berinteraksi dengan buku fisik mengungguli teman-teman mereka yang lebih berfokus pada perangkat digital dalam hal rentang perhatian, kemampuan berpikir analitis, dan kepercayaan diri di berbagai mata pelajaran akademik.

Mengapa demikian?

Meskipun hasil penelitian tersebut cukup jelas, alasannya masih belum sepenuhnya diketahui. Berbagai penelitian telah membantu para ilmuwan mengembangkan sejumlah teori mengenai mengapa buku fisik memberikan manfaat pembelajaran yang lebih baik secara menyeluruh.

Salah satu faktor penting mungkin terletak pada struktur alami sebuah buku fisik. Buku mendorong pembaca untuk menavigasi informasi secara sistematis melalui bab, indeks, dan daftar isi. Hal ini membantu membentuk pola berpikir yang terorganisasi serta keterampilan penelitian yang menjadi dasar dalam mempelajari berbagai bidang ilmu.

Halaman yang dapat disentuh juga jauh lebih mendukung apa yang disebut sebagai “membaca secara rekursif”, yakni secara tidak sadar kembali membalik halaman sebelumnya untuk memperoleh penjelasan atau memahami sesuatu dengan lebih baik.

Peneliti Dr. Timothy Shanahan menyatakan bahwa tindakan fisik memperlambat proses membaca untuk memahami kata-kata yang belum dikenal dalam teks cetak menciptakan keterlibatan kognitif yang lebih mendalam dibandingkan sekadar menggulir melewatinya di layar.

Faktanya, otak kita memang merespons kedua bentuk membaca tersebut secara berbeda.

Ketika membaca buku fisik, otak manusia menunjukkan aktivitas yang lebih rendah di korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan fungsi eksekutif.

Pembaca buku kertas mungkin dapat membaca lebih efisien karena beban kognitif menjadi lebih ringan, sehingga energi mental dapat lebih terfokus selama proses memahami informasi.

Sebaliknya, pembaca melalui layar harus berhadapan dengan berbagai gangguan digital yang menghabiskan sumber daya mental sehingga mengurangi kemampuan kita untuk memahami informasi.

Selain itu, penelitian menggunakan elektroensefalogram (EEG) menunjukkan bahwa membaca teks cetak merangsang gelombang beta dan gamma di otak, yang berkaitan dengan pemecahan masalah dan konsentrasi tinggi—kondisi yang ideal untuk kegiatan akademik.

Sementara itu, membaca melalui layar mengaktifkan gelombang theta dan alfa, yang berkaitan dengan kondisi pikiran yang lebih santai, dengan tingkat fokus yang lebih rendah dan kecenderungan pikiran mengembara.

Dan meskipun pikiran yang mengembara dapat menghambat proses belajar, ternyata mata yang “mengembara” justru tidak demikian.

Sebuah penelitian melacak pergerakan mata 50 mahasiswa ketika membaca teks yang sama dalam format berbeda. Mata para pembaca melalui layar pada dasarnya bergerak dalam satu arah—ke depan.

Sebaliknya, mata para pembaca buku kertas jauh lebih aktif. Mereka memindai, menjelajahi, dan kembali melihat bagian-bagian sebelumnya.

Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut Dr. Anne Mangen dari University of Stavanger sebagai “penjangkaran spasial” (spatial anchoring).

Melihat posisi suatu informasi pada halaman dan hubungannya dengan petunjuk visual lain yang tidak bergerak memberikan semacam “penanda” yang membantu navigasi dan mengingat informasi dengan lebih baik.

Selain itu, buku kertas mendorong apa yang disebut para peneliti sebagai “umpan balik haptik” (haptic feedback).

Menyentuh halaman dan membaliknya secara fisik membantu memperkuat jalur saraf yang menghubungkan gerakan dengan ingatan. Semua hal tersebut membantu menciptakan hubungan yang lebih bermakna dan meningkatkan pemahaman.

Sebaliknya, membaca melalui layar tidak memberikan pengalaman sensorik yang sama untuk menghubungkan informasi dengan ingatan.

Karena teks yang digulir memiliki sedikit ciri pembeda, kita cenderung bergerak maju secara otomatis, mencari kata-kata kunci dan membaca sekilas sambil menggulir.

Ditambah lagi dengan iklan, notifikasi, dan berbagai gangguan digital lainnya, seluruh lingkungan tersebut tampaknya menghambat proses membaca secara mendalam dan lebih mendorong pemrosesan informasi secara dangkal.

Apa yang harus dilakukan?

Tentu saja, teknologi merupakan alat yang berguna dan sebaiknya kita manfaatkan. Namun, sama seperti seorang tukang kayu yang tidak menggunakan palu untuk setiap pekerjaan, kita juga dapat memilih alat yang paling tepat untuk setiap tujuan.

Perangkat elektronik kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sehingga sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari layar digital. Namun, seperti yang terlihat dari berbagai penelitian di atas, teknologi digital juga memiliki keterbatasan.

Berikut beberapa saran untuk mempertahankan kebiasaan membaca buku fisik dalam kehidupan sehari-hari, terutama jika Anda memiliki anak.

Ciptakan lingkungan membaca

  • Isi rak buku dengan judul-judul menarik, topik-topik yang menggugah rasa ingin tahu, karya-karya inspiratif, dan buku karya penulis favorit Anda.
  • Ciptakan ruang membaca yang nyaman dengan kursi yang nyaman, lampu baca, dan selimut hangat.
  • Jadikan sudut membaca sebagai area bebas ponsel dengan mematikan perangkat atau mengisi dayanya di tempat yang tidak terlihat.

Jadwalkan waktu untuk membaca buku fisik

  • Bergabunglah dengan klub buku atau buat klub Anda sendiri untuk menggabungkan kesenangan membaca dengan interaksi sosial.
  • Luangkan waktu untuk menikmati pengalaman membaca buku nyata demi kesenangan dan pengayaan diri.
  • Bacakan cerita bersama anak-anak Anda selama masa pertumbuhan mereka dan seterusnya.
  • Tetapkan target membaca—misalnya satu buku setiap bulan, satu bab setiap malam, atau membaca selama waktu tertentu setiap hari.

Jadikan membaca menyenangkan

  • Bacalah buku-buku yang dapat membuat Anda tertawa.
  • Biarkan anak-anak memilih buku yang ingin mereka baca bersama Anda.
  • Hidupkan karakter dalam cerita dengan menggunakan suara yang ekspresif seperti sedang bermain drama, meskipun hanya dalam pikiran Anda.
  • Baca ulang, atau bahkan hafalkan, bagian-bagian favorit Anda.

Gantikan media digital dengan buku fisik

  • Gantilah perangkat seluler dengan buku paperback ketika bepergian menggunakan transportasi umum atau ketika sedang duduk menunggu.
  • Bawalah buku ke tempat tidur sebagai pengganti e-book.
  • Ketika Anda perlu memahami suatu subjek secara mendalam, kunjungi perpustakaan atau gunakan buku teks. Membuat catatan secara fisik juga semakin memperkuat proses belajar, karena alasan yang serupa.
  • Jika Anda perlu menghafalkan sesuatu yang tidak tersedia dalam bentuk cetak, cetaklah! Biarkan mata Anda memetakan informasinya, buat daftar kosakata, beri tanda atau catatan pada teks, dan biarkan keajaiban materi cetak bekerja.

Anda tidak perlu sepenuhnya menggantikan kebiasaan membaca secara elektronik. Bahkan, hal itu mungkin mustahil dilakukan.

Kuncinya adalah menjaga keseimbangan, sehingga Anda dapat memperoleh manfaat dari kedua format membaca tersebut.

Untuk mendapatkan informasi yang cepat dan terkini, internet memang sulit dikalahkan. Namun, untuk pengalaman yang lebih kaya, pemahaman yang lebih mendalam, dan kepuasan yang bertahan lama, tetaplah membaca buku fisik.

Visiontimes.com

INSPIRASI ERABARU

Memanfaatkan Frustrasi sebagai Alat — 3 Cara Frustrasi Dapat Membantu Anda

Oleh Ila BonczekIla meraih gelar sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences di Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah...

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine