EtIndonesia.com Insiden kekerasan di berbagai wilayah Prancis masih terus berlangsung. Api di jalanan telah berkobar selama dua malam berturut-turut. Gedung Balai Kota Limoges dibakar hingga runtuh, toko-toko bermerek mewah dijarah habis, serta mobil dan petugas polisi diserang. Lebih dari 2.000 orang telah ditangkap.
Api berkobar tinggi, asap hitam membumbung hingga menutupi langit, para pelaku kekerasan melarikan diri ke berbagai arah, sementara pecahan kaca toko berserakan di jalan. Inilah pemandangan kekacauan di jalanan Prancis selama dua hari berturut-turut.
Farida, warga Marseille, Prancis: “Jika setiap aksi protes selalu berakhir dengan etalase toko dihancurkan dan toko-toko dijarah hingga kosong, situasi seperti ini benar-benar tidak boleh terus berlanjut.”
Kerusuhan ini bermula dari aksi demonstrasi besar-besaran yang kemudian lepas kendali. Pada 17 Oktober, sekitar 550.000 orang turun ke jalan untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap kenaikan biaya hidup dan pelayanan publik.
Namun, di kota-kota seperti Paris, Marseille, dan Limoges, sejumlah kelompok ekstremis yang melakukan kekerasan memanfaatkan situasi tersebut untuk menyerang gedung-gedung publik. Mereka menjarah toko-toko barang mewah seperti Louis Vuitton (LV), serta supermarket, apotek, toko pakaian, dan berbagai toko kebutuhan sehari-hari. Mereka juga menyerang mobil dan petugas polisi.
Gedung Balai Kota Limoges yang memiliki sejarah panjang turut dibakar pada 17 Oktober hingga akhirnya runtuh.
“Ini membuat hati saya hancur. Ketika bangunan itu runtuh, saya seolah-olah kembali menyaksikan menara puncak Katedral Notre-Dame di Paris ambruk. Bedanya, kali ini yang runtuh adalah bangunan kota kami, bangunan milik kami,” kata Françoise Foury, pekerja sektor pendidikan publik Prancis.
Menteri Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa polisi telah menangkap lebih dari 2.000 orang di seluruh negeri, sementara lebih dari 600 petugas polisi mengalami luka-luka.
Dalam aksi demonstrasi di Paris, seorang demonstran meninggal dunia akibat henti jantung.
Presiden Prancis Emmanuel Macron: “Pihak yang merusak properti harus membayar ganti rugi. Para penjarah harus mengganti kerugian yang ditimbulkan. Siapa pun yang berupaya menggulingkan republik pasti akan dikenai sanksi hukum.”
Macron mengatakan bahwa demi melindungi keamanan kota, sejumlah aksi unjuk rasa akan dilarang. Ia juga akan mengumpulkan para pemimpin dari berbagai kalangan untuk menyusun langkah-langkah konkret dalam menghadapi krisis tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengunggah pernyataan pada hari yang sama, mengecam para imigran yang menurutnya berasal dari dunia yang berbeda dan dipenuhi kebencian, serta telah menghancurkan Prancis yang dahulu merupakan negara besar. Ia mendesak agar perbatasan ditutup dan situasi dikendalikan sebelum semuanya terlambat.
Laporan gabungan oleh Li Jiayin, reporter New Tang Dynasty Television.


