EtIndonesia.com Ketegangan geopolitik dunia kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai langkah persiapan pertahanan yang dilakukan Amerika Serikat dan Inggris. Kedua negara anggota NATO tersebut disebut tengah meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik militer berskala besar, termasuk ancaman terhadap infrastruktur penting di wilayah mereka sendiri.
Salah satu laporan yang paling menarik perhatian menyebutkan bahwa Pentagon telah menginstruksikan pangkalan-pangkalan militer utama Amerika Serikat untuk mempersiapkan kemampuan beroperasi secara mandiri selama 90 hari.
Artinya, pangkalan tersebut harus mampu mempertahankan kegiatan militernya meskipun jaringan listrik lumpuh, pasokan air dan bahan bakar terganggu, serta bantuan dari luar tidak dapat menjangkau lokasi.
Sementara itu, dari Inggris muncul peringatan mengenai pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi keadaan darurat. Bahkan, terdapat pembahasan mengenai periode sekitar 1.000 hari menuju awal dekade 2030-an, ketika ancaman keamanan internasional dikhawatirkan semakin meningkat.
Lantas, mengapa Amerika Serikat dan Inggris memperkuat kesiapan pertahanan mereka? Apakah langkah ini merupakan tindakan pencegahan biasa, atau mencerminkan kekhawatiran terhadap kemungkinan pecahnya konflik yang jauh lebih besar?
Dan yang tidak kalah penting, apakah perkembangan tersebut memiliki hubungan dengan meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan?
25 Oktober 2026: Pentagon Ungkap Program FORTRESS untuk Memperkuat Pertahanan Amerika
Pada 25 Oktober 2026, Fox News menerbitkan laporan mengenai program pertahanan Pentagon yang dikenal sebagai FORTRESS.
Berdasarkan dokumen yang ditinjau media tersebut, program ini dirancang agar setiap instalasi militer utama Amerika Serikat di wilayah kontinental mampu mempertahankan operasi pentingnya selama sedikitnya 90 hari tanpa bantuan eksternal.
Langkah ini mencerminkan perubahan dalam strategi pertahanan Washington, terutama dalam menghadapi kemungkinan serangan terhadap infrastruktur domestik.
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat mengandalkan letak geografisnya yang dipisahkan oleh Samudra Atlantik dan Pasifik sebagai salah satu keuntungan strategis.
Namun, perkembangan teknologi rudal jarak jauh, serangan siber, dan kemampuan mengganggu jaringan satelit telah mengubah perhitungan tersebut.
Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menjelaskan bahwa militer Amerika tidak dapat terus menggantungkan kelangsungan operasinya pada jaringan listrik dan fasilitas umum sipil.
Menurutnya, ketergantungan tersebut dapat menjadi kelemahan serius apabila konflik besar menyebabkan kerusakan pada infrastruktur nasional.
Karena itulah, Pentagon ingin memastikan bahwa pangkalan militernya tetap mampu beroperasi meskipun fasilitas pendukung di luar pangkalan mengalami kelumpuhan.
Pentagon Siapkan Reaktor Nuklir dan Jaringan Listrik Mandiri
Salah satu komponen terpenting program FORTRESS adalah pengembangan sistem energi yang tidak bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik nasional.
Pentagon merencanakan penggunaan reaktor nuklir berukuran kecil yang dapat dipindahkan, sistem penyimpanan energi menggunakan baterai berkapasitas besar, serta jaringan listrik mikro atau microgrid.
Teknologi tersebut memungkinkan pangkalan militer memisahkan jaringan listriknya dari sistem sipil ketika terjadi gangguan besar.
Dengan demikian, pusat komando, sistem komunikasi, fasilitas medis, hingga peralatan pertahanan tetap dapat berfungsi.
Langkah ini sebenarnya telah memiliki dasar kebijakan sejak 23 Mei 2025, ketika Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif mengenai penggunaan teknologi reaktor nuklir canggih untuk kepentingan keamanan nasional.
Dalam perintah tersebut, Departemen Pertahanan melalui Angkatan Darat Amerika Serikat diwajibkan memulai pengoperasian sebuah reaktor nuklir di pangkalan militer domestik paling lambat 30 September 2028.
Tanggal tersebut merupakan tenggat pelaksanaan program energi pertahanan, bukan tanggal yang ditetapkan sebagai awal peperangan.
Selain energi, Pentagon juga mempersiapkan cadangan amunisi, bahan bakar, komponen elektronik, suku cadang, mineral penting, dan perlengkapan medis.
Bahkan, fasilitas industri sipil akan dipetakan agar sebagian dapat dialihkan untuk mendukung produksi pertahanan ketika terjadi keadaan darurat.
Program tersebut juga mencakup peningkatan ketahanan sistem navigasi terhadap gangguan GPS dan serangan terhadap infrastruktur satelit.
Seluruh langkah ini bertujuan menjaga kemampuan militer Amerika Serikat menghadapi konflik berkepanjangan yang mungkin berlangsung di beberapa kawasan secara bersamaan.
24 Oktober 2026: Inggris Peringatkan Ancaman Perang dalam 1.000 Hari
Di seberang Samudra Atlantik, pemerintah Inggris menyampaikan peringatan yang tidak kalah serius.
Pada 24 Oktober 2026, Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, melalui tulisan yang diberitakan The Telegraph, memperingatkan bahwa negara-negara yang dianggap bermusuhan dapat memiliki kemampuan militer untuk melancarkan serangan pada 2030.
Streeting menilai bahwa peningkatan kekuatan militer dan kapasitas ekonomi perang negara-negara tersebut harus menjadi perhatian serius Inggris bersama sekutu NATO.
Ia menyebut Inggris memiliki waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk memperkuat kesiapan pertahanannya.
Pernyataan itu bukan berarti pemerintah Inggris telah mengetahui bahwa perang pasti akan pecah setelah 1.000 hari.
Sebaliknya, periode tersebut digunakan sebagai kerangka waktu untuk mempercepat persiapan militer dan meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman.
Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran mengenai aktivitas Rusia, termasuk kemungkinan sabotase, serangan siber, dan gangguan terhadap infrastruktur strategis Eropa.
Pemerintah Inggris Minta Masyarakat Menyiapkan Persediaan Tiga Hari
Selain memperkuat kemampuan militernya, pemerintah Inggris juga meningkatkan kesiapan masyarakat sipil.
Melalui kampanye Be Ready, warga dianjurkan menyediakan kebutuhan pokok untuk menghadapi keadaan darurat selama sedikitnya tiga hari.
Persediaan tersebut mencakup makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, senter, baterai, dan perlengkapan penting lainnya.
Pemerintah menjelaskan bahwa persiapan tersebut bukan hanya ditujukan untuk menghadapi kemungkinan perang, tetapi juga bencana alam, serangan siber, pemadaman listrik, serta gangguan distribusi kebutuhan pokok.
Pada 23 Oktober 2026, kampanye ini turut menjadi perhatian media Inggris setelah muncul pembahasan mengenai pentingnya cadangan makanan rumah tangga.
Pesan utama pemerintah adalah meningkatkan ketahanan masyarakat tanpa menimbulkan kepanikan.
Apakah Persiapan Amerika dan Inggris Berkaitan dengan Selat Taiwan?
Kemunculan dua perkembangan tersebut dalam waktu berdekatan menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan hubungan dengan ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Selat Taiwan merupakan salah satu kawasan strategis yang terus menjadi perhatian Amerika Serikat dan sekutunya.
Apabila konflik bersenjata pecah di kawasan tersebut, dampaknya berpotensi meluas terhadap jalur perdagangan internasional, industri semikonduktor, pasokan energi, dan stabilitas keamanan Asia.
Dalam skenario konflik berkepanjangan, Amerika Serikat juga harus memperhitungkan kemungkinan terganggunya rantai pasokan global serta meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur domestiknya.
Namun, hingga 27 Oktober 2026, laporan yang ditinjau belum memberikan bukti bahwa program FORTRESS maupun peringatan pemerintah Inggris secara khusus dipicu oleh keputusan untuk menghadapi perang di Selat Taiwan.
Karena itu, hubungan langsung antara kedua persiapan tersebut dan kemungkinan konflik Taiwan masih merupakan analisis geopolitik, bukan kesimpulan resmi.
Demikian pula, klaim mengenai perkembangan politik internal Partai Komunis Tiongkok, pengejaran aset pengusaha kaya, dan kasus spionase bernilai 4,4 miliar dolar Taiwan belum dapat dijadikan bukti bahwa perang besar sedang dijadwalkan.
Dunia Memasuki Periode Kesiapsiagaan Baru
Perkembangan pada 24 hingga 26 Oktober 2026 memperlihatkan bahwa Amerika Serikat dan Inggris semakin serius mempertimbangkan kemungkinan terganggunya sistem pertahanan dan kehidupan masyarakat akibat konflik berskala besar.
Amerika Serikat memusatkan perhatian pada kemampuan pangkalan militer untuk bertahan selama 90 hari, sedangkan Inggris menekankan kesiapan nasional menghadapi risiko keamanan menuju 2030.
Keduanya menunjukkan perubahan penting dalam cara negara-negara Barat mempersiapkan diri menghadapi ancaman masa depan.
Meski demikian, peningkatan kesiapan pertahanan tidak otomatis berarti perang dunia akan segera terjadi.
Justru, kemampuan bertahan dan mempertahankan operasi ketika menghadapi serangan dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan agar pihak lawan tidak mudah mengambil tindakan militer.
Kini, pertanyaan terbesarnya bukan sekadar apakah perang besar akan terjadi, melainkan apakah negara-negara dunia mampu memperkuat pertahanan sekaligus mempertahankan jalur diplomasi sebelum ketegangan berkembang menjadi konflik terbuka.
Sebab, dalam dunia yang semakin saling terhubung, satu konflik besar tidak hanya dapat mengguncang kawasan tempat peperangan berlangsung, tetapi juga memengaruhi keamanan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat di seluruh dunia. (***)


