Presiden Ukraina Meminta Reaksi Kuat atas Partisipasi Korea Utara dalam Perang Rusia-Ukraina
EtIndonesia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada hari Minggu (20/10), menyatakan bahwa dia sedang meminta reaksi kuat dari negara-negara yang mengakui keterlibatan Korea Utara yang semakin besar dalam perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari dua setengah tahun.
Zelenskyy dalam pidato video malam itu menyatakan, ada bukti satelit dan video yang cukup menunjukkan bahwa Korea Utara tidak hanya mengirim peralatan ke Rusia, tetapi juga sedang mempersiapkan untuk mengerahkan tentaranya.
“Saya berterima kasih kepada para pemimpin dan perwakilan negara yang tidak menutup mata dan secara terbuka membicarakan kerjasama ini untuk perang berskala lebih besar,” ujar Zelenskyy. “Kami mengharapkan reaksi normal, jujur, dan kuat dari mitra kami.”
Zelenskyy menambahkan bahwa keterlibatan lebih lanjut Korea Utara hanya akan membahayakan semua pihak.
“Sayangnya, setelah Korea Utara menerima pelatihan perang modern, ketidakstabilan dan ancaman bisa meningkat secara signifikan,” katanya.
“Jika dunia terus diam sekarang, dan kami harus berhadapan dengan tentara Korea Utara di garis depan, seperti kami harus mempertahankan diri dari drone pengintai Iran, itu pasti tidak akan menguntungkan siapa pun dan hanya akan memperpanjang perang.”
Dia menegaskan bahwa tindakan Korea Utara menyiratkan fakta “negara lain telah bergabung dalam perang melawan Ukraina.”
Pekan lalu, Zelenskyy menuduh Korea Utara mengerahkan perwira dan mempersiapkan pengiriman ribuan tentara untuk mendukung upaya perang Moskow. Pada hari Jumat, badan intelijen Korea mengatakan bahwa Korea Utara telah mengirimkan 1.500 anggota pasukan khusus ke wilayah timur jauh Rusia untuk pelatihan. Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, pada hari Sabtu mengatakan bahwa dia tidak dapat mengonfirmasi laporan tentang pengiriman tentara Korea Utara ke Rusia sebelum dikerahkan, tetapi jika benar, itu akan menjadi perhatian.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pada hari Kamis mengatakan saat ini tidak ada bukti keberadaan Pyongyang. Menteri Luar Negeri Prancis dan Ukraina pada hari Sabtu dalam konferensi pers bersama di Kyiv mengatakan bahwa partisipasi tentara reguler Korea Utara dalam mendukung invasi Rusia ke Ukraina akan menjadi eskalasi serius dalam perang.(jhn/yn)
Utusan AS Berkunjung ke Lebanon Mendorong Gencatan Senjata, Israel Luncurkan Serangan terhadap Lembaga Keuangan Hizbullah
Pada 21 Oktober 2024, utusan Amerika Serikat mengadakan pembicaraan dengan pejabat Lebanon di Beirut tentang kondisi gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Pada hari yang sama, Israel menyerang beberapa cabang lembaga keuangan di Lebanon yang terkait dengan Hizbullah. Utusan AS, Amos Hochstein, bertemu dengan Perdana Menteri Lebanon yang sedang menjalankan tugas, Najib Mikati, dan Ketua Parlemen, Nabih Berri
oleh Zhou Chen
Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri mengatakan kepada media lokal bahwa kunjungan Hochstein merupakan ‘kesempatan terakhir’ sebelum pemilu Amerika untuk mendorong gencatan senjata di Timur Tengah.
Berri telah berupaya untuk mendorong gencatan senjata di Lebanon. Kantor Perdana Menteri Lebanon, Mikati, menyatakan bahwa tidak ada alternatif untuk Resolusi 1701 PBB, tetapi mungkin tercapai ‘pemahaman baru’ untuk mengimplementasikan resolusi tersebut.
Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB, yang diadopsi pada tahun 2006, memberi wewenang kepada misi penjaga perdamaian PBB untuk membantu tentara Lebanon mempertahankan wilayah perbatasan selatan dengan Israel bebas dari senjata atau personel bersenjata, hanya kekuatan bersenjata pemerintah Lebanon yang diizinkan di sana. Resolusi ini secara efektif melarang kehadiran bersenjata Hamas di wilayah perbatasan Lebanon dengan Israel.
Sejak serangan mendadak Hamas terhadap Israel pada Oktober tahun lalu, upaya diplomatik belum berhasil meredakan konflik antara Israel dengan Hamas dan pendukungnya, Hizbullah. Konflik ini telah memasuki tahun kedua. AS berharap untuk mendorong proses perdamaian baru di Timur Tengah setelah pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, yang merencanakan serangan terhadap Israel tahun lalu, dibunuh oleh Israel minggu lalu.
Pada awal Oktober lalu, Israel memulai operasi darat di Lebanon dan telah membunuh sebagian besar pemimpin senior Hizbullah.
Hizbullah dan Hamas, yang keduanya mendapatkan dukungan dari belakang layar oleh Iran, dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh negara-negara Eropa dan Amerika. Hizbullah mengklaim mewakili rakyat Palestina dalam perang melawan Israel.
Syarat Gencatan Senjata Israel
Media AS, Axios, mengutip dua pejabat Amerika dan dua pejabat Israel mengatakan bahwa Israel telah memberikan dokumen kepada AS yang merinci syarat diplomatik untuk mengakhiri perang di Lebanon.
Israel menginginkan izin untuk ‘penegakan hukum yang aktif’ oleh pasukannya untuk memastikan Hizbullah tidak akan kembali memobilisasi militer di dekat perbatasan dan menginginkan kebebasan bagi angkatan udara Israel untuk beroperasi di wilayah udara Lebanon.
Seorang pejabat Amerika mengatakan kepada Axios, kemungkinan Lebanon dan komunitas internasional menyetujui kondisi Israel sangat kecil. Israel menyatakan bahwa tujuan operasi militernya di Lebanon adalah untuk mengusir Hizbullah dari daerah perbatasan sehingga puluhan ribu orang Israel dapat kembali ke rumah mereka, yang telah terpaksa mengungsi karena serangan Hizbullah selama tahun lalu.
Serangan Israel terhadap Sistem Keuangan Hizbullah
Militer Israel pada Senin menyatakan bahwa pesawat tempurnya telah menyerang beberapa peluncur rudal jarak pendek di selatan Lebanon, mengenai 15 peluncur yang ditujukan ke permukiman di utara Israel.
Di malam hari, Israel juga menyerang beberapa lokasi di Beirut, selatan Lebanon, dan Lembah Bekaa, yang menargetkan sistem perbankan yang dioperasikan oleh Hizbullah, Asosiasi Al-Qard Al-Hassan. Israel menyatakan bahwa sistem perbankan ini membiayai operasi Hizbullah dan independen dari sistem perbankan Lebanon.
AS menyatakan bahwa lembaga tersebut digunakan oleh Hizbullah untuk mengelola keuangannya. Asosiasi ini memiliki lebih dari 30 cabang di Lebanon, dengan 15 cabang berada di pusat Beirut dan pinggiran kota yang padat penduduk. Penduduk setempat menerima peringatan sebelum serangan sehingga tidak ada laporan korban jiwa hingga saat ini.
System ‘Thaad’ telah disiagakan
Militer Israel tidak mengurangi serangannya terhadap Hizbullah. Washington telah menekan Israel untuk tidak menyerang fasilitas energi atau nuklir Iran. Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, pada Senin selama kunjungan ke Kyiv menyatakan bahwa militer AS telah mengerahkan sistem pertahanan rudal canggih ‘THAAD’ ke Israel.
Austin menolak untuk mengungkapkan apakah ‘THAAD’ sudah digunakan, tetapi dia menambahkan, “Kami memiliki kemampuan untuk mengoperasikannya segera, dan kini berada pada jadwal yang diharapkan.” (Jhon)
Jepang Kerahkan Pesawat Tempur, Mencegat Pesawat Pembom dan Pengintai Tiongkok
EtIndonesia. Pada Minggu (20 Oktober), Tiongkok mengirimkan satu pesawat pembom dan satu pesawat pengintai yang terbang di atas perairan dekat pulau-pulau di barat daya Jepang untuk melakukan misi jarak jauh. Pasukan militer Jepang segera mengerahkan pesawat tempur untuk mencegat.
Kepala Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang merilis pernyataan yang menggambarkan aktivitas pesawat militer Tiongkok di zona identifikasi pertahanan udara Jepang. Pernyataan tersebut menyebutkan, sebuah pesawat pengintai Y-9 dan pesawat pembom H-6 dari Laut Timur terbang melewati wilayah antara pulau utama Okinawa dan Miyako, kemudian mengitari atas Samudra Pasifik sebelum berbalik arah. Menurut pernyataan itu, pesawat tempur dari Skuadron Udara Barat Daya Angkatan Udara Jepang segera dikerahkan untuk mencegat.
Selat Miyako, yang terletak di antara Pulau Miyako dan Okinawa di Jepang, merupakan bagian dari “rantai pulau pertama”. Rantai pulau pertama adalah konsep pertahanan Amerika Serikat, yang membentang dari Jepang ke selatan Taiwan dan Philipina, merupakan garis pertahanan maritim pertama dalam membendung Tiongkok di Pasifik Barat. Menurut peta rute penerbangan Y-9 dan H-6 yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Jepang, posisi pengitariannya berada di luar zona identifikasi pertahanan udara dekat Taiwan Timur. Militer Jepang menyatakan, setelah dua pesawat militer Tiongkok melewati Selat Miyako, mereka terbang menuju perairan selatan Pulau Saki di Jepang di Laut Philipina. Kedua pesawat militer itu kembali melalui selat yang sama menuju Laut Timur dan terbang kembali ke daratan Tiongkok.
Pernyataan dari Kementerian Pertahanan Jepang menyebutkan bahwa pesawat yang mengganggu Jepang adalah pesawat pembom H-6 Tiongkok. Menurut laporan “Newsweek”, seorang pengamat militer Tiongkok menyatakan bahwa pesawat pembom ini adalah H-6J, yang disebut oleh Pentagon sebagai pembom serangan maritim, merupakan model angkatan laut dari H-6K yang dioperasikan oleh angkatan udara Tiongkok.
Pentagon dalam laporan yang dirilis bulan Oktober tahun lalu menyatakan, pesawat pembom ini dilengkapi dengan peralatan elektronik penerbangan canggih dan mesin yang ditingkatkan. Pesawat pembom jarak jauh adalah bagian dari upaya Tiongkok untuk membangun kemampuan anti-akses/penolakan area.
Ini bukanlah pertama kalinya Tiongkok mengirim jenis pesawat pembom dan pengintai yang sama untuk terbang di atas perairan dekat pulau-pulau barat daya Jepang, pada tanggal 12 Maret, Tiongkok telah mengirim pesawat militer untuk mengganggu Jepang.
Kantor Kepala Staf Gabungan Jepang melaporkan bahwa dari tanggal 1 April hingga 30 September, Angkatan Udara Jepang telah melakukan penerbangan darurat sebanyak 358 kali untuk merespon pesawat asing yang mendekat ke Jepang.
Dari jumlah penerbangan darurat tersebut, 241 kali adalah terhadap pesawat militer Tiongkok, yang menunjukkan penurunan dari 304 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah penerbangan darurat terhadap pesawat militer Rusia adalah 115 kali, menunjukkan peningkatan dari 110 kali pada tahun sebelumnya.(jhn/yn)
Paket Stimulus Ekonomi Tiongkok Hanya untuk Pencitraan
Partai Komunis Tiongkok (PKT) tampaknya lebih terganggu oleh perselisihan politik internal daripada menangani masalah ekonomi
oleh Wang He
Beijing mengumumkan langkah-langkah baru untuk mendorong ekonomi Tiongkok yang lesu di tengah menurunnya permintaan domestik dan meningkatnya tarif ekspor. Namun, kinerja pasar setelah konferensi pers baru-baru ini yang diadakan oleh badan ekonomi tertingginya sungguh mengecewakan.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok (NDRC) mengadakan konferensi pers pada 8 Oktober untuk mempromosikan “implementasi menyeluruh kebijakan bertahap.”
Pada hari itu, pasar saham Hong Kong anjlok lebih dari 2.300 poin, dan pasar saham daratan dibuka tinggi tetapi dengan cepat kehilangan momentum.
Secara kebetulan, Bank Dunia mengeluarkan laporan pada hari yang sama, menyatakan bahwa meskipun pertumbuhan Tiongkok telah menguntungkan negara-negara tetangga selama tiga dekade terakhir, “pertumbuhan melambat” kini menjadi salah satu faktor utama yang “kemungkinan mempengaruhi pertumbuhan regional.”
Bank Dunia juga memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan melambat dari 4,8 persen pada 2024 menjadi 4,3 persen pada 2025, menambah tekanan di kawasan Asia Timur.
Konferensi pers NDRC tampaknya sudah direncanakan dengan baik.
Pada 26 September, Politbiro Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengadakan pertemuan untuk membahas situasi ekonomi saat ini dan langkah-langkah ekonomi berikutnya, yang menghasilkan serangkaian kebijakan bertahap. Kemudian, pada 29 September, kabinet Tiongkok, Dewan Negara, mengadakan pertemuan yang berfokus pada pelaksanaan kebijakan ini. NDRC bahkan mengumumkan konferensi pers ini dua hari sebelumnya. Lima pejabat teratasnya hadir, meningkatkan ekspektasi untuk langkah-langkah stimulus baru yang signifikan.
Namun, apa yang sebenarnya disampaikan mengecewakan.
Kebijakan bertahap yang disebut tidak memiliki kejelasan. Para pejabat mengumumkan bahwa sebagian besar dari 6 triliun yuan ($843 miliar) investasi negara telah dialokasikan untuk proyek-proyek tertentu. Namun, mereka tidak menanggapi pertanyaan wartawan Reuters tentang skala dan tujuan paket stimulus tersebut. Selain itu, para pejabat Tiongkok hanya secara samar menyatakan “keyakinan penuh” dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5 persen.
Pertemuan Politbiro pada 26 September tidak menghasilkan keputusan ekonomi yang signifikan. Pihak berwenang masih kekurangan arah yang jelas dan solusi efektif untuk masalah ekonomi Tiongkok. Mereka tampaknya ragu dan tidak pasti, hanya mengembangkan langkah-langkah untuk mengatasi masalah langsung.
Bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China, mengumumkan beberapa kebijakan signifikan pada 24 September. Hal ini meningkatkan ekspektasi akan stimulus besar-besaran yang mirip dengan paket 4 triliun yuan ($566 miliar) yang diperkenalkan pada 2008. Namun, ekspektasi ini tidak terwujud, memperburuk prospek ekonomi Tiongkok lebih lanjut.
Jadi, mengapa PKT belum meluncurkan rencana stimulus ekonomi berskala besar?
Penulis percaya ada tiga alasan utama.
Pertama, pihak berwenang sangat prihatin dengan penurunan ekonomi dan bahkan lebih khawatir karena mereka tidak memiliki kejelasan tentang seberapa parahnya itu.
Dalam waktu dekat, lingkungan ekonomi eksternal Tiongkok akan semakin menantang. Sebagai contoh, calon presiden dari Partai Republik dan mantan Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa jika dia terpilih kembali pada November, dia akan mempertimbangkan untuk mengenakan tarif lagi pada Tiongkok, mungkin melebihi 60 persen.
Beijing harus mempertimbangkan bagaimana menanggapi hal ini, sehingga kemungkinan besar mereka sedang mempersiapkan kemungkinan itu dengan menjaga kekuatan finansial mereka.
Kedua, tantangan ekonomi Tiongkok saat ini jauh lebih besar daripada pada 2008, sehingga jauh lebih sulit bagi PKT untuk memberikan dukungan, bahkan jika mereka menginginkannya.
Data berikut menunjukkan betapa parahnya kesulitan keuangan yang dihadapi rezim Tiongkok saat ini:
- Pada 2008, PDB Tiongkok sekitar 30 triliun yuan ($4,2 triliun), dan pada 2023, telah tumbuh menjadi 126 triliun yuan ($17,8 triliun), membuat upaya PKT untuk menyelamatkan ekonominya jauh lebih sulit.
- Pada 2008, M2 (uang tunai beredar) adalah 47,5 triliun yuan ($6,7 triliun); pada akhir 2023, telah mencapai hampir 300 triliun yuan ($42 triliun), menyisakan sedikit ruang untuk ekspansi moneter lebih lanjut.
- Pada 2008, utang rumah tangga kurang dari 18 persen; pada Juni 2024, telah meningkat menjadi 62,6 persen.
- Pada akhir 2008, utang pemerintah daerah sekitar 5 triliun yuan ($707,6 miliar), dan jumlah ini tetap relatif stabil; pada 2023, utang eksplisit pemerintah daerah mencapai 40,74 triliun yuan ($5,7 triliun), dengan total 9,34 triliun yuan ($1,3 triliun) obligasi pemerintah daerah diterbitkan sepanjang tahun.
- Pada akhir 2008, utang nasional Tiongkok sekitar 5,33 triliun yuan ($754 miliar), dengan sekitar 854,9 miliar yuan ($121 miliar) diterbitkan tahun itu; pada akhir 2023, utang nasional telah meningkat menjadi 30,03 triliun yuan ($4,2 triliun), dengan total penerbitan 11,14 triliun yuan ($1,57 triliun) untuk tahun itu.
Ketiga, Dewan Negara lemah dan terjebak dalam pertikaian internal di antara para anggotanya.
Sejak Kongres Nasional PKT ke-20 pada 2022, anggota baru Dewan Negara, termasuk Perdana Menteri Li Qiang, memiliki peran terbatas di tingkat atas. Selain itu, konsolidasi kekuasaan Xi Jinping lebih lanjut telah melemahkan otoritas Dewan Negara.
Selain itu, setelah Xi mendapatkan kekuasaan absolut pada Kongres Nasional ke-20, kroni-kroninya—yang telah mengembangkan hubungan pribadi dengan pemimpin PKT dari posisinya sebelumnya di Fujian, Zhejiang, dan Shanghai—telah menjadi anggota dari berbagai faksi politik.
Li dianggap sebagai anggota faksi Zhejiang, dan Wakil Perdana Menteri He Lifeng adalah bagian dari kelompok Fujian. Faksi-faksi ini bersaing sengit untuk keuntungan dan kepentingan, sering kali menolak untuk mengalah. Perpecahan dan konflik di dalam Dewan Negara memperburuk situasi ekonomi.
Sebagai contoh, pada pertemuan pada 8 Oktober yang dipimpin oleh Li, Wakil Perdana Menteri Eksekutif Ding Xuexiang tidak hadir, begitu pula He, wakil perdana menteri yang bertanggung jawab atas ekonomi, yang melakukan perjalanan ke Xinjiang sehari sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa Li kekurangan dukungan dari rekan-rekannya.
Kurangnya tindak lanjut terhadap kebijakan stimulus besar yang diumumkan oleh bank sentral, Administrasi Pengaturan Keuangan Nasional, dan Komisi Pengaturan Sekuritas Tiongkok menunjukkan bahwa upaya stimulus ekonomi PKT sebagian besar bersifat dangkal. PKT tampaknya lebih fokus pada perselisihan politik daripada menangani masalah ekonomi, yang mana justru memperburuk tantangan Tiongkok.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Wang He memiliki gelar master dalam bidang hukum dan sejarah, dan telah mempelajari gerakan komunis internasional. Ia adalah seorang dosen universitas dan seorang eksekutif di sebuah perusahaan swasta besar di Tiongkok. Wang sekarang tinggal di Amerika Utara dan telah menerbitkan komentar tentang urusan dan politik terkini Tiongkok sejak 2017.
2 Orang Tewas dan 309 Orang Berhasil Diselamatkan Setelah Banjir Besar di New Mexico, Amerika Serikat
Garda Nasional New Mexico, Amerika Serikat melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan pada Minggu 20 Oktober 2024 di Roswell setelah hujan deras memicu banjir besar di dalam dan sekitar kota serta Chaves County, yang menyebabkan setidaknya dua orang tewas.
Pejabat Garda mengatakan 309 orang diselamatkan sejak Sabtu, dengan 38 di antaranya dibawa ke rumah sakit untuk perawatan cedera yang tidak diungkapkan.
Polisi Negara Bagian New Mexico mengatakan dua orang tewasl akibat banjir bandang, tetapi informasi tentang para korban atau keadaan kematian mereka belum segera dirilis.
Pejabat kota Roswell mengatakan bahwa tingkat air telah surut di banyak bagian kota, tetapi tetap tinggi di pusat kota. Semua jalan menuju dan keluar dari kota ditutup pada Minggu, menurut pihak berwenang.
Layanan Cuaca Nasional di Albuquerque melaporkan bahwa hujan sebesar 5,78 inci turun di Roswell pada hari Sabtu, memecahkan rekor harian sebelumnya sebesar 5,65 inci yang tercatat pada 1 November 1901 di kota tenggara New Mexico ini.
Para ahli meteorologi mengatakan lebih banyak hujan dan banjir bandang mungkin terjadi.
Ketika beberapa rumah dan pusat bisnis mulai kebanjiran pada Sabtu malam, pihak berwenang mengatakan tujuh orang diselamatkan setelah sebuah mobil terseret air banjir. Kendaraan lain juga tersapu masuk ke saluran sungai.
Stasiun TV Albuquerque KOAT melaporkan bahwa Sheriff Chaves County Mike Herrington terlihat berdiri di atas kendaraannya yang dikelilingi oleh air banjir. Herrington mengatakan ia harus naik ke atap kendaraannya ketika kendaraannya dan beberapa kendaraan lainnya terjebak dalam air yang naik hingga mencapai jendela.
Pihak berwenang mendirikan tempat penampungan di arena pameran negara bagian New Mexico bagian timur untuk penduduk Roswell yang terlantar akibat banjir.
“Kami telah bekerja sepanjang malam dan terus bekerja dengan tim penyelamat air deras dan lembaga mitra lainnya untuk membantu sesama warga mencapai tempat aman,” kata Mayor Jenderal Miguel Aguilar, ajudan jenderal Garda Nasional New Mexico, dalam sebuah pernyataan.
Pejabat Garda mengatakan mereka akan “tetap bertugas membantu Roswell selama diperlukan” dengan 57 anggota Garda di lapangan.
Mereka mengatakan Garda memiliki beberapa kendaraan taktis di lokasi yang mampu melintasi air setinggi 1 meter lebih. (asr)
Sumber : The Associated Press
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan Memanggil Duta Besar Rusia, Mengutuk Bantuan Militer Korea Utara kepada Rusia
EtIndonesia. Pada hari Senin (21/10), Kementerian Luar Negeri Korea Selatan memanggil Duta Besar Rusia untuk Korea Selatan, mengutuk Rusia karena menerima pasukan yang dikirim oleh Korea Utara dan mengerahkannya ke medan perang Ukraina, serta mendesak Korea Utara untuk segera menarik pasukannya dari Ukraina. Pada saat yang sama, Korea Selatan menyatakan bahwa mereka akan mengambil tindakan bersama dengan komunitas internasional.
Menurut laporan Reuters, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kim Hong-kyun, memanggil Duta Besar Rusia untuk Korea Selatan, Georgy Zinoviev, pada hari Senin, mengungkapkan keprihatinan atas bantuan militer Korea Utara kepada Rusia, dan mengutuk kerjasama militer ilegal yang semakin dalam antara Rusia dan Korea Utara.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan, sebelum membuat pernyataan, agen intelijen negara tersebut telah memberitahukan hal ini kepada Washington. Kim Hong-kyun menyebutkan bahwa partisipasi pasukan Korea Utara dalam perang Rusia melawan Ukraina melanggar resolusi PBB dan Piagam PBB, dan membentuk ancaman serius terhadap keamanan Korea Selatan dan dunia secara keseluruhan.
“Kami sangat mengutuk kerjasama militer ilegal Korea Utara, termasuk pengiriman pasukan ke Rusia,” kata Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengutip pernyataan Kim Hong-kyun, “Kami akan mengambil semua tindakan yang mungkin bersama komunitas internasional untuk menanggapi ancaman terhadap kepentingan keamanan inti kami.”
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebutkan, Zinoviev kepada Kim Hong-kyun menyatakan bahwa dia akan menyampaikan pesan ini ke Moskow. Pekan lalu, agen intelijen Korea Selatan menyatakan bahwa Korea Utara telah mengirim 1.500 tentara pasukan khusus ke wilayah Timur Jauh Rusia untuk latihan dan adaptasi militer di pangkalan lokal, dan mereka kemungkinan akan dikerahkan ke medan perang Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuding Korea Utara bersiap untuk mengirim 10.000 tentara ke Rusia, dan pada hari Minggu dia meminta komunitas internasional untuk memberikan respons kuat.
Pada hari Jumat (18/10), juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih menyatakan bahwa mereka belum bisa mengonfirmasi laporan tentang partisipasi tentara Korea Utara dalam perang Rusia, tetapi menambahkan bahwa jika berita itu benar, “ini akan menandai eskalasi berbahaya dalam perang Ukraina oleh Rusia.”
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga menyatakan minggu lalu bahwa saat ini belum ada bukti yang menunjukkan partisipasi Pyongyang dalam perang Rusia-Ukraina. Rusia dan Korea Utara sama-sama menyangkal transfer senjata tetapi berjanji untuk memperkuat hubungan militer bilateral. Pada pertemuan puncak Rusia-Korea Utara pada bulan Juni lalu, Rusia dan Korea Utara menandatangani “Perjanjian Pertahanan Bersama Rusia-Korea Utara”. Pasal keempat dari perjanjian itu menyatakan, jika salah satu negara diserang dan terlibat dalam perang, negara lain harus memberikan bantuan militer dan lainnya.(jhn/yn)
One Direction ‘Hancur’ Setelah Kematian Liam Payne, Hasil Otopsi Mengungkapkan Keparahan Cedera yang Dialaminya
Personil band yang tersisa mengatakan mereka masih berusaha memahami kehilangan ‘saudara’ mereka
Katabella Roberts
Para personil One Direction yang tersisa telah berbicara tentang kematian rekan band mereka, Liam Payne, pada usia 31 tahun, dengan grup tersebut mengungkapkan bahwa mereka merasa “hancur” oleh kepergian mendadak sang penyanyi.
Payne ditemukan tewas setelah jatuh dari balkon di CasaSur Hotel di Buenos Aires, Argentina, pada 16 Oktober. Otoritas Argentina saat ini sedang menyelidiki keadaan seputar kematian sang penyanyi.
“Kami benar-benar hancur oleh berita meninggalnya Liam,” tulis personil One Direction, Harry Styles, Louis Tomlinson, Zayn Malik, dan Niall Horan dalam pernyataan bersama yang dipublikasikan di media sosial.
“Seiring waktu, dan ketika semuanya siap, akan ada lebih banyak yang bisa disampaikan. Namun untuk saat ini, kami akan mengambil waktu untuk berduka dan memahami kehilangan saudara kami yang sangat kami cintai.”
Grup tersebut menambahkan bahwa mereka akan selamanya “menghargai” kenangan yang mereka bagikan bersama Payne.
“Untuk saat ini, pikiran kami bersama keluarganya, teman-temannya, dan para penggemar yang mencintainya bersama kami,” kata grup tersebut. “Kami akan sangat merindukannya. Kami mencintaimu, Liam.”
Kepolisian Argentina mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka dipanggil ke CasaSur Hotel di kawasan Palermo, setelah diberitahukan tentang “seorang pria agresif yang mungkin berada di bawah pengaruh obat-obatan dan alkohol.” Ketika petugas penegak hukum tiba di tempat kejadian, manajer hotel melaporkan mendengar suara keras dari halaman dalam, dan polisi menemukan Payne jatuh dari balkon kamarnya dan ke halaman hotel.
Polisi Buenos Aires juga mengatakan bahwa mereka menemukan kamar hotel Payne “dalam keadaan benar-benar berantakan” dengan benda-benda dan perabotan yang rusak.
Laporan Otopsi Mengungkapkan Tingkat Cedera Payne
Obat-obatan dan alkohol juga tampak berada di dalam kamar, kata Kantor Kejaksaan Kriminal dan Koreksi Nasional Argentina. Laporan autopsi yang diterbitkan pada 17 Oktober menunjukkan Payne meninggal karena “politrauma” dan “perdarahan internal dan eksternal” pada tengkorak, dada, perut, dan anggota badan.
Laporan autopsi juga mengungkapkan bahwa Payne tidak memiliki cedera defensif, dan kemungkinan jatuh ke keadaan tidak sadar, yang berkontribusi pada kemungkinan bahwa penyanyi tersebut “mengalami episode penyalahgunaan zat” pada saat itu, kata Kantor Kejaksaan Argentina. Semua tanda menunjukkan bahwa artis tersebut sendirian pada saat kematiannya, tambah jaksa.
Payne sedang berlibur di Argentina bersama pacarnya, Kate Cassidy, yang meninggalkan Amerika Selatan dan kembali ke Amerika Serikat hanya dua hari sebelum kematiannya. Dia memposting serangkaian foto dan video pasangan itu di akun resmi Snapchat-nya beberapa jam sebelum kematiannya.
Payne lahir di Wolverhampton, Inggris, dan menjadi terkenal pada tahun 2010 di acara TV Inggris “The X Factor,” di mana One Direction dibentuk oleh eksekutif rekaman Simon Cowell.
Band ini kemudian menjadi salah satu boy band dengan penjualan terbaik sepanjang masa, menjual lebih dari 200 juta rekaman di seluruh dunia dan memenangkan hampir 200 penghargaan sebelum hiatus pada 2016.
Payne secara terbuka berbicara tentang perjuangannya dengan kesehatan mental, alkohol, dan penyalahgunaan zat.
Dalam sebuah video yang diposting di akun YouTube-nya pada Juli 2023, sang penyanyi memberi tahu penggemar bahwa dia telah sadar selama enam bulan setelah menghabiskan 100 hari di fasilitas rehabilitasi di Louisiana.
Dia meninggalkan seorang putra berusia 7 tahun, Bear Grey Payne, yang ia miliki bersama mantan pacarnya Cheryl Cole. (asr)
Rudy Blalock, The Associated Press, dan Reuters berkontribusi pada laporan ini.
Gencarnya Pergantian Pejabat di Faksi Politik Xi Jinping Dinilai Menandakan Meningkatnya Pertikaian di Beijing
Pejabat tinggi Tiongkok, terutama para tetua Partai, telah membuat kompromi di dalam Partai untuk mempertahankan kekuasaannya yang totaliter, menurut para ahli
Lynn Xu dan Jessica Mao
Seringnya pergantian personel di dalam faksi Xi Jinping menunjukkan adanya tindakan penyeimbangan taktis yang digunakan oleh lapisan atas untuk meredakan ketidakpuasan internal terhadap pemerintahan pemimpin Tiongkok tersebut, menurut para analis.
Dalam dua minggu, dari akhir September hingga awal Oktober, setidaknya tiga orang kepercayaan Xi, termasuk seorang pejabat disiplin militer, dicopot dari posisi penting mereka atau ditempatkan di bawah investigasi.
Pengamat Tiongkok mengatakan kebijakan Xi—seperti langkah-langkah lockdown COVID-19 yang ekstrem, tindakan keras terhadap perusahaan swasta, dan diplomasi “Serigala Perang”—telah menciptakan iklim ekonomi yang suram dan memperburuk hubungan dengan Barat. Perubahan dalam lingkungan geopolitik dan bisnis menyebabkan penurunan keuntungan bagi faksi-faksi lain di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT). Penurunan ekonomi Tiongkok juga mengurangi alasan utama bagi kekuasaan PKT.
Pejabat tinggi Tiongkok, terutama para tetua Partai, telah membuat kompromi di dalam Partai untuk mempertahankan kekuasaan totaliternya, menurut para ahli.
Kembali Mengandalkan Para Tetua Partai
Pada 30 September, dalam pertemuan tingkat tinggi PKT untuk memperingati ulang tahun ke-75 berdirinya Komunis Tiongkok, dua mantan pemimpin—Wen Jiabao dan Li Ruihuan—duduk tepat di sebelah kiri dan kanan Xi, yang memunculkan banyak interpretasi politik.
Dalam pidatonya, Xi mengungkapkan rasa terima kasih “kepada para pemimpin masa lalu dari generasi yang lebih tua.” Ini adalah langkah langka dari pemimpin tertinggi rezim tersebut.
Xi membutuhkan bantuan para tetua Partai untuk bertahan dari masalah politik yang sedang berlangsung, kata Wang He, seorang komentator politik, dalam wawancara dengan Program “Forum Elite” sebuah program berbahasa mandarin dari media saudara The Epoch Times, NTD.
Wang mencatat bahwa terakhir kali Xi mengatakan hal serupa adalah pada tahun 2014, saat awal pemerintahannya. Xi menghadapi berbagai rintangan dari blok yang dipenuhi korupsi yang dipimpin oleh mantan pemimpin PKT, Jiang Zemin. Belakangan, dengan mengandalkan dukungan para tetua Partai, Xi mengonsolidasikan kekuasaannya dan menangkap orang kepercayaan Jiang, Zhou Yongkang, mantan sekretaris Komite Urusan Politik dan Hukum.
Setelah satu dekade, Xi kembali berada di persimpangan jalan. “Ekonomi sedang kacau, dan Xi tidak punya jalan keluar. Oleh karena itu, dia harus menenangkan para tetua dan memanfaatkan kekuatan mereka,” kata Wang.
Wang menambahkan bahwa kebijakan Xi condong ke kiri dan kediktatoran satu orangnya telah membuat marah keluarga politik paling kuat dalam Partai, yang memonopoli aset negara—tetua dalam Partai tersebut berpotensi memiliki pengaruh.
Shi Shan, seorang pakar Tiongkok dan kontributor The Epoch Times, mengatakan bahwa sistem PKT menentukan bahwa para tetua menjadi juru bicara dan penopang utama dalam pembagian kekuasaan, sehingga penampilan mereka di acara penting menunjukkan sinyal politik yang tidak biasa.
Menurut Shi, Xi menghadapi desentralisasi kekuasaan sebagian. “Kemungkinan ada kesepakatan dan kompromi terselubung yang dicapai dalam kelompok elit tertentu ini,” katanya.
Kekuasaan Xi Melemah
Semua anggota faksi Xi yang mengalami pergantian jabatan berusia di bawah 65 tahun, usia puncak karier politik di Tiongkok. Mereka pernah bekerja di bidang yang terkait dengan pelaksanaan kampanye anti-korupsi Xi.
Pada 30 September, Chen Guoqiang, 61, mantan pengawas disiplin di Komite Sentral dan Komite Militer Pusat, dipindahkan ke Universitas Teknologi Pertahanan Nasional.
Chen memainkan peran penting dalam perjuangan Xi melawan saingan politiknya. Chen adalah “eksekutor kunci” di balik pembersihan militer besar-besaran, menurut komentator Xiang Yang.
“Sebenarnya, ini adalah penurunan pangkat,” kata analis politik yang berbasis di AS, Chen Pokong. Dia berpendapat bahwa pemindahan Chen dari departemen korupsi mungkin merupakan tindakan balasan dari faksi-faksi anti-Xi terhadap Xi.
Sejak tahun lalu, kampanye anti-korupsi Xi telah menyapu seluruh sistem militer. Sejumlah tokoh besar telah ditahan, diusir dari Partai, atau menghadapi penuntutan militer, termasuk mantan Menteri Pertahanan Li Shangfu dan Wei Fenghe, serta beberapa jenderal Pasukan Roket seperti mantan Komandan Li Yuchao.
Kehilangan orang kepercayaan Xi juga terjadi di sektor bisnis. Cao Xingxin, wakil manajer umum China Unicom, ditempatkan di bawah penyelidikan, menurut pemberitahuan resmi pada 28 September. China Unicom telah menjadi target pembersihan Xi selama dekade terakhir karena dugaan kegiatan korupsi dan hubungan dekatnya dengan Jiang Mianheng, putra Jiang Zemin.
Cao yang berusia 58 tahun baru saja dipindahkan ke perusahaan itu pada awal 2023. Sebelumnya, ia menjabat sebagai wakil direktur divisi kader dari Departemen Organisasi, sebuah badan pengawas yang mengawasi posisi staf Partai.
Menurut Chen, semua dinamika itu bukanlah hal yang diinginkan Xi, tetapi dia mungkin tidak dapat mencegahnya terjadi karena suatu alasan. Sejak Sesi Pleno Ketiga Komite Sentral ke-20 pada Juli, muncul desas-desus bahwa Xi mengalami stroke atau sakit parah. Lawan-lawannya mungkin melihat ini sebagai kesempatan untuk melemahkan kekuasaan Xi dengan menyingkirkan orang-orang kepercayaannya, kata Chen.
Perebutan kekuasaan di dalam Partai telah mengakibatkan ketidakstabilan politik, kata Wang. Tiongkok mungkin memasuki tahap di mana perubahan mendadak bisa terjadi kapan saja karena “partai yang berkuasa terjebak dalam dua krisis fatal—kepemimpinan Xi dan kelangsungan hidup PKT,” katanya.
“Keduanya tidak dapat dengan mudah diredakan.” (asr)
Jaringan Listrik Kuba Mati Lagi, 4 Kali dalam 48 Jam Saat Diterjang Badai Oscar
EtIndonesia. Pada Minggu (20/10) jaringan listrik Kuba kembali mengalami pemadaman, kejadian ini merupakan yang keempat dalam 48 jam. Sementara itu, hantaman Badai Oscar memperparah kondisi di negara kepulauan tersebut dan bisa menambah kerusakan pada infrastruktur yang sudah tua.
Menurut laporan dari Reuters, Kuba sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka sedang membuat kemajuan dalam pemulihan layanan setelah beberapa kali upaya menghidupkan kembali jaringan gagal. Namun, lebih dari dua hari setelah listrik pertama kali padam, jutaan orang masih tanpa listrik. Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba di media sosial X menyatakan: “Pekerjaan perbaikan dimulai segera.”
Badai Oscar mendarat di pulau Karibia ini, membawa angin kencang, gelombang badai yang kuat, dan hujan di beberapa bagian timur Kuba, yang bisa membuat usaha pemerintah untuk memulihkan pasokan listrik menjadi sangat sulit.
Lembaga Meteorologi Kuba memperingatkan tentang “situasi yang sangat berbahaya” di timur, sementara Pusat Badai Nasional AS melaporkan bahwa Badai Oscar melanda Kuba dengan kecepatan angin 120 kilometer per jam.
Pusat Badai Nasional AS menyatakan: “Berdasarkan prediksi, pusat Oscar diperkirakan akan terus bergerak melintasi bagian timur Kuba pada Minggu malam (20/10) dan Senin keesokannya, kemudian akan keluar ke laut di pesisir utara Kuba Senin malam, dan bergerak melintasi Bahama tengah lusa keesokannya (22/10).”
Pemerintah yang dipimpin oleh Partai Komunis ini mengumumkan penutupan sekolah hingga tanggal 23 Oktober sebagai alasan badai dan pemadaman listrik yang berkepanjangan, yang hampir tidak pernah terjadi di Kuba. Para pejabat mengatakan, hanya pekerja yang penting yang diharapkan masuk kerja besok. Para pejabat mengatakan bahwa hanya pekerja esensial yang harus bekerja pada Selasa keesokannya (22/10).
Warga sudah kelelahan karena kekurangan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar yang parah. Pemadaman listrik yang berulang menyiratkan pemerintah menghadapi kemunduran besar dalam upaya untuk memulihkan listrik bagi warga ini dengan segera.
AFP melaporkan bahwa Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, memperingatkan bahwa setelah terjadi pemadaman listrik besar-besaran selama tiga hari terakhir, pemerintah Kuba tidak akan mentolerir tindakan yang mengganggu ketertiban umum. Diaz-Canel, yang mengenakan seragam militer, mengatakan dalam sebuah acara berita televisi bahwa Minggu kemarin (20/10) ada orang yang mencoba “mengganggu ketertiban umum,” dan pelaku akan dikenai hukuman “yang keras.” (jhn/yn)
Ukraina Mendesak ‘Reaksi Keras’ dari Sekutu Setelah Korut Diduga Mengirim 10.000 Pasukan untuk Membantu Rusia
Zelenskyy memperingatkan bahwa keterlibatan Korea Utara dalam perang di Ukraina dapat memperpanjang konflik dan memengaruhi negara-negara lain
Aldgra Fredly
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada Minggu 20 Oktober 2024 menyerukan “reaksi keras” dari mitra sekutu setelah ia menyatakan adanya “bukti jelas” bahwa Korea Utara mengirim pasukan ke Rusia untuk dikerahkan dalam perang yang sedang berlangsung melawan negaranya.
Dalam pidato video pada 20 Oktober, Zelenskyy mengatakan bahwa bukti satelit dan video menunjukkan bahwa Korea Utara tidak hanya memasok senjata ke Rusia, tetapi juga mengirim personel militer ke negara tersebut.
“Kami mengharapkan reaksi normal, jujur, dan kuat dari mitra kami terhadap hal ini. Faktanya, ini adalah negara lain yang bergabung dalam perang melawan Ukraina,” kata pemimpin Ukraina tersebut, menurut kantornya.
Zelenskyy memperingatkan bahwa keterlibatan Korea Utara dalam perang Rusia–Ukraina, yang telah berlangsung sejak Februari 2022, tidak akan menguntungkan negara lain selain Rusia.
Pasukan Korea Utara dapat dikerahkan ke garis depan untuk bertempur bersama pasukan Rusia melawan tentara Ukraina jika mitra internasional tetap diam, yang akan memperpanjang konflik lebih lanjut, katanya.
“Sayangnya, ketidakstabilan dan ancaman bisa meningkat secara signifikan begitu Korea Utara mulai mempelajari seluk-beluk perang modern,” katanya. “Kita harus melawan ini. Kita tidak bisa membiarkan kejahatan tumbuh.”
Rekaman yang dibagikan oleh Pusat Komunikasi Strategis dan Keamanan Informasi Ukraina (Stratcom) pada 19 Oktober menunjukkan apa yang diduga oleh Stratcom sebagai pasukan Korea Utara yang berbaris di pusat pelatihan militer Rusia untuk menerima peralatan dalam persiapan untuk dikerahkan ke Ukraina.
Pusat tersebut mengatakan telah mendapatkan video tersebut dari Pusat Pelatihan Sergievsky di Rusia, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. The Epoch Times tidak dapat memverifikasi secara independen di mana rekaman itu diambil dan apakah pasukan dalam video tersebut berasal dari Korea Utara.
Dinas Intelijen Nasional Korea Selatan mengatakan pada 18 Oktober bahwa mereka memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Korea Utara sedang bersiap untuk mengirim 10.000 tentara ke Rusia, dengan sekitar 1.500 tentara sudah dikirim dalam tahap pertama.
Korea Selatan Memanggil Utusan Rusia
Pada Senin, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kim Hong Kyun memanggil duta besar Rusia, Georgy Zinoviev, untuk memprotes apa yang tampaknya merupakan kerja sama militer yang semakin mendalam antara Pyongyang dan Moskow. Ia menuntut penarikan segera pasukan Korea Utara dari Rusia, menurut Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
Kim mengatakan bahwa hubungan militer antara Rusia dan Korea Utara, yang tampaknya melampaui pasokan militer dan mengarah pada pengiriman pasukan Korea Utara, menimbulkan “ancaman keamanan serius” bagi komunitas internasional dan melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia mendesak Rusia untuk menghentikan kerja sama militer dengan Korea Utara dan memperingatkan bahwa negaranya akan merespons dengan “memobilisasi semua cara yang tersedia terhadap tindakan yang mengancam kepentingan keamanan inti kami.”
NATO maupun Pentagon mengatakan mereka tidak dapat mengonfirmasi laporan bahwa Korea Utara telah mengirim pasukan ke Rusia untuk terlibat aktif dalam perang di Ukraina.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan di X pada Senin bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, dan bahwa pengiriman pasukan Korea Utara ke Ukraina untuk mendukung pasukan Rusia dapat menyebabkan “eskalasi yang signifikan.”
Rutte mengatakan ia telah membahas kemitraan dengan presiden Korea Selatan, termasuk “kerja sama industri pertahanan, dan keamanan yang saling terkait di kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik.”
Pernyataan dari kantor Yoon setelah percakapan tersebut mengatakan bahwa Korea Selatan akan mengirim delegasi ke NATO untuk berbagi lebih banyak informasi tentang laporan tersebut.
Sementara itu, sekretaris pers kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan ada “informasi yang bertentangan” dari Amerika Serikat dan Korea Selatan terkait pengiriman pasukan Korea Utara ke Rusia.
“Ini tidak boleh menimbulkan kekhawatiran bagi siapa pun, karena kerja sama ini tidak diarahkan terhadap negara ketiga mana pun. Kami akan terus mengembangkan kerja sama ini,” katanya kepada wartawan pada hari Senin, menurut kantor berita Rusia, Interfax.
Pada Juni, Korea Utara dan Rusia menandatangani pakta “kemitraan strategis” yang memungkinkan masing-masing pihak memberikan bantuan militer jika pihak lain diserang. Dalam sebuah pernyataan bersama, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang menyatakan “keprihatinan besar” terkait pakta tersebut. (asr)
The Associated Press berkontribusi pada laporan ini.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan Rilis Gambar Satelit yang Menunjukkan Rusia Mengirim Tentara Korea Utara
EtIndonesia. Pusat Komunikasi dan Informasi Strategis Kementerian Kebudayaan Ukraina pada tanggal 18 Oktober mempublikasikan sebuah video yang menunjukkan tentara Korea Utara sedang bersiap di kamp militer Rusia untuk bergabung dalam perang Moskow melawan Ukraina. Pada hari yang sama, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) merilis siaran pers dan tiga gambar satelit yang membuktikan klaim pengiriman tentara Korea Utara ke Rusia untuk mendukung perang di Ukraina, menunjukkan bahwa tentara Korea Utara tersebut ditempatkan di berbagai lokasi di kawasan Timur Jauh.
Reporter Yonhap News Agency pada tanggal 20 Oktober mendapat informasi bahwa satelit milik Korea Selatan telah mengambil gambar kapal Rusia yang mengangkut pasukan khusus Korea Utara. Sumber pemerintah menyatakan, analisis komprehensif atas gambar yang diambil oleh satelit Korea dan satelit swasta asing telah mengkonfirmasi fakta pengiriman pasukan khusus Korea Utara ke Rusia.
NIS menyatakan bahwa Korea Utara memutuskan untuk mengirim empat brigade pasukan khusus untuk membantu Rusia dalam pertempuran, dengan total sekitar 12.000 personel. Dari jumlah tersebut, batch pertama yang berjumlah 1.500 personel telah tiba di Rusia.
Badan tersebut pada tanggal 18 Oktober merilis siaran pers dengan judul “Konfirmasi Partisipasi Pasukan Khusus Korea Utara dalam Perang Rusia-Ukraina”; juga diterbitkan dua gambar satelit dari fasilitas militer di “Wilayah Perbatasan Maritim Rusia Ussuriysk” dan “Fasilitas Militer Khabarovsk,” sumber gambar tersebut adalah penyedia layanan citra Airbus; dan satu gambar satelit lagi diklaim diambil oleh satelit Korea.
Gambar satelit Korea menangkap kapal Rusia pada tanggal 12 Oktober di pelabuhan Korea Utara yang mengangkut pasukan. NIS menyatakan, armada kapal Rusia berhasil mengirim sekitar 1.500 tentara khusus Korea Utara dari lokasi seperti Chongjin, Hamhung, dan Wonsan ke kota Timur Jauh Rusia, Vladivostok (disebut oleh Rusia sebagai Vladivostok).
NIS juga menyebutkan, tentara Korea Utara yang dikerahkan saat ini ditempatkan di kamp militer Rusia di Timur Jauh, termasuk di Vladivostok, Ussuriysk, Khabarovsk, dan Blagoveshchensk, dan diharapkan akan segera dikerahkan ke garis depan.
Diperkirakan gambar yang diambil oleh satelit pengintaian militer Korea merupakan rahasia militer, dan siaran pers yang dikeluarkan oleh departemen dan lembaga pemerintah biasanya tidak menggunakan gambar tersebut. Diduga bahwa gambar satelit yang dirilis oleh NIS mungkin diambil oleh satelit pemerintah, bukan satelit militer.
Pejabat pemerintah Korea menyatakan, analisis komprehensif atas gambar yang diambil oleh satelit Korea dan satelit swasta asing telah mengkonfirmasi fakta bahwa tentara Korea telah dikirim ke Rusia. NIS menyebutkan, tentara Korea telah menerima seragam militer Rusia dan senjata buatan Rusia, serta kartu identitas palsu orang-orang Yakut dan Buryat yang mirip dengan wajah orang Korea. Camouflage (penyamaran) ini bertujuan untuk menyembunyikan atau menutupi kenyataan bahwa tentara Korea berpartisipasi dalam pertempuran.
Belakangan ini, Moskow terus menyangkal laporan dari Korea dan Ukraina tentang pengiriman hingga 12.000 tentara Korea ke Rusia, yang juga didasarkan pada gambar satelit. NATO dan pejabat Amerika belum mengkonfirmasi pengiriman tentara Korea untuk membantu Rusia.
Menteri Pertahanan Amerika, Lloyd Austin, pada tanggal 19 di Naples, Italia, setelah menghadiri pertemuan menteri pertahanan G7, mengatakan tentang pengiriman tentara Korea: “Jika ini benar, tindakan tersebut sangat mengkhawatirkan,” namun ia juga menyatakan “tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut.”
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga menyatakan, “Saat ini posisi resmi kami adalah ‘tidak bisa mengkonfirmasi’.”
Zelenskyy: Kami Punya Bukti Jelas yang Menunjukkan Korea Utara Menyediakan Personel Militer untuk Rusia
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada tanggal 20 Oktober malam dalam pidato video rutinnya mengatakan bahwa kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara menandai eskalasi baru dalam agresi Moskow terhadap Ukraina.
Zelensky menyerukan: “Kita harus merespons dan melawan. Kita tidak boleh membiarkan kejahatan berkembang.”
Dalam pidatonya malam itu, Zelensky berkata: “Sekarang muncul ancaman baru—aliansi jahat antara Rusia dan Korea Utara. Saya berterima kasih kepada pemimpin negara dan perwakilan yang tidak memalingkan muka, tetapi secara terbuka membahas kerja sama ini yang bertujuan untuk memperluas skala perang. Tentang masalah Korea Utara menyediakan senjata untuk Rusia. Apa bantuan yang akan diberikan Rusia ke Pyongyang sebagai imbalannya?”
Zelensky menambahkan: “Sayangnya, begitu Korea Utara mulai mempelajari karakteristik perang modern, ketidakstabilan dan ancaman akan sangat meningkat. Sekarang, kami memiliki bukti jelas bahwa personel dari Korea Utara, mereka tidak hanya pekerja produksi, tetapi juga personel militer. Kami berharap mitra kami merespons ini secara normal, jujur, dan kuat.”
Mengomentari dukungan Iran kepada Rusia dalam menyediakan drone bunuh diri dan senjata lainnya, Zelensky, mengenai kerja sama militer Rusia-Korea berkata: “Faktanya, ini adalah negara lain yang bergabung dalam perang melawan Ukraina. Semua orang memiliki kesempatan untuk melihat buktinya—melalui satelit dan video yang beredar dari Rusia.”
Zelensky menekankan: “Masalah ini harus diatasi. Harus ada respons. Kita harus melawan. Kita tidak boleh membiarkan kejahatan berkembang. Jika dunia sekarang tetap diam, jika kita akhirnya sering menghadapi tentara Korea Utara di garis depan seperti menghadapi ‘saksi’ (drone), itu tidak baik bagi siapa pun di dunia, hanya akan memperpanjang perang ini. Perang yang harus segera berakhir secara adil.”
Kepala Intelijen Militer Ukraina, Kyrylo Budanov, sebelumnya melaporkan di media lokal bahwa saat ini sekitar 11.000 tentara infanteri Korea Utara sedang berlatih di bagian timur Rusia, dan diperkirakan mereka akan siap bertempur pada November mendatang. (jhn/yn)





