Serangan ke Iran : Militer AS Pertama Kali Kerahkan “Task Force Scorpion Strike”

EtIndonesia. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) pada 28 Februari menyatakan bahwa dalam operasi tempur terhadap Iran kali ini, untuk pertama kalinya dikerahkan satuan khusus drone bunuh diri bernama “Task Force Scorpion Strike”.

CENTCOM juga menegaskan bahwa meskipun pada hari yang sama Iran melakukan serangan balasan, hingga kini tidak ada laporan korban jiwa di pihak militer AS. Kerusakan pada fasilitas militer Amerika disebut ringan dan tidak mengganggu kelanjutan operasi.

Konsentrasi Kekuatan Militer Terbesar dalam Generasi Ini

Dalam beberapa waktu terakhir, militer AS melakukan pengerahan besar-besaran di kawasan Timur Tengah. CENTCOM menyebut bahwa “Operation Epic Fury” melibatkan konsentrasi kekuatan militer regional terbesar Amerika dalam satu generasi terakhir.

Dalam unggahan di platform X pada 28 Februari sore, CENTCOM menyatakan bahwa pasukan AS dan mitranya memulai serangan pada pukul 01.15 dini hari waktu Pantai Timur AS. Tujuan utama operasi ini adalah melumpuhkan sistem keamanan rezim Iran, dengan prioritas menyerang lokasi-lokasi yang dinilai menimbulkan ancaman langsung.

Target serangan meliputi:

  • Fasilitas komando dan kendali Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)
  • Sistem pertahanan udara Iran
  • Lokasi peluncuran rudal dan drone
  • Pangkalan udara militer

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa operasi dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump. Ia menegaskan bahwa personel Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Korps Marinir, Angkatan Antariksa, dan Penjaga Pantai AS “menjawab panggilan tugas dengan keberanian.”

Serangan Balasan Iran Gagal Menimbulkan Korban

Setelah gelombang serangan awal dilancarkan oleh pasukan AS dan sekutunya, Iran melakukan ratusan serangan balasan menggunakan rudal dan drone. Namun CENTCOM menyatakan bahwa seluruh serangan tersebut berhasil dipertahankan.

Hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa di pihak militer AS. Kerusakan fasilitas militer dinilai ringan dan tidak memengaruhi operasi lanjutan.

CENTCOM juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa jam awal operasi, militer AS menggunakan amunisi presisi yang diluncurkan dari udara, darat, dan laut secara simultan.

Pertama Kali Gunakan Drone Bunuh Diri Berbiaya Rendah

Dalam operasi ini, Task Force Scorpion Strike untuk pertama kalinya menggunakan drone bunuh diri berbiaya rendah dalam pertempuran nyata.

CENTCOM juga membantah sejumlah klaim Iran di media sosial:

  • ❌ Klaim bahwa 50 personel militer AS tewas — Tidak benar.
    ✅ Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
  • ❌ Klaim bahwa kapal Angkatan Laut AS terkena serangan rudal — Tidak benar.
    ✅ Tidak ada kapal Angkatan Laut AS yang terkena serangan. Armada tetap beroperasi penuh.

Sistem Drone LUCAS

Salah satu sistem yang digunakan adalah Low-Cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS), yakni drone serangan satu arah (one-way attack drone). Bentuknya hampir identik dengan drone buatan Iran tipe Shahed, yang sebelumnya banyak digunakan Rusia dalam perang di Ukraina dan kini telah dikembangkan menjadi versi produksi dalam negeri Rusia.

Drone LUCAS dikembangkan oleh perusahaan rekayasa Amerika, SpektreWorks. Sistem ini dapat diluncurkan dari peluncur katapel, kendaraan, maupun stasiun darat bergerak. Menurut Angkatan Laut AS, drone ini memiliki kemampuan lepas landas dengan dorongan roket dan jangkauan operasional yang “sangat jauh.” (Jhon)

Serangan Udara AS–Israel Picu Harapan Perubahan Kekuasaan, Warga Iran Turun ke Jalan dan Bersorak

EtIndonesia. Pada Sabtu (28 Februari), berdasarkan laporan sejumlah media dan video yang beredar di media sosial, sebagian warga Iran turun ke jalan untuk menari dan merayakan sebagai bentuk dukungan terhadap serangan udara Amerika Serikat. Sejak “Revolusi Islam” tahun 1979, aktivitas menari di ruang publik dianggap melanggar hukum. Aksi perayaan terbuka kali ini dinilai mencerminkan akumulasi ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang telah mencapai titik tinggi.

Di beberapa wilayah Iran, termasuk Teheran dan Karaj, sejumlah warga terlihat turun ke jalan, menari dan bersorak, merayakan serangan gabungan AS–Israel terhadap rezim Iran. Peristiwa ini disebut-sebut membangkitkan kembali harapan sebagian masyarakat akan perubahan politik.

Tidak hanya di dalam negeri, komunitas diaspora Iran di berbagai negara Eropa juga menggelar aksi serupa.

Di Madrid dan Barcelona, Spanyol, para demonstran mengibarkan bendera Iran era sebelum revolusi, serta bendera Amerika Serikat dan Israel, sambil meneriakkan slogan-slogan penentangan terhadap pemerintahan saat ini.

Seorang demonstran bernama Mohammad mengatakan:  “Presiden Trump pernah berkata, ‘Bantuan sedang dalam perjalanan,’ dan kini bantuan itu akhirnya tiba. Ini adalah bantuan militer, bukan sekadar serangan militer. Kami berkumpul hari ini untuk merayakan, karena kami akhirnya semakin dekat dengan kebebasan.”

Di London, Inggris, para demonstran juga menggelar aksi dan menyerukan pergantian rezim di Iran.

Sementara itu, di Berlin dan Hamburg, Jerman, ribuan warga Iran di pengasingan berkumpul di jalan-jalan dan menari untuk merayakan.

Seorang peserta aksi bernama Sarah mengatakan:  “Saya merasa bahagia. Tidak ada yang menginginkan perang. Amerika dan Israel tentu memiliki kepentingan mereka sendiri. Namun jika rakyat Iran ingin meraih kebebasan, tampaknya tidak ada jalan lain. Hal itu hanya bisa terwujud melalui intervensi dari luar.”

Sebelumnya, otoritas Iran melaporkan adanya kemajuan dalam putaran terbaru perundingan nuklir dengan Amerika Serikat di Jenewa. Namun setelah serangan udara terjadi, seorang warga Teheran menyatakan secara terbuka:  “Mereka mengatakan negosiasi berjalan baik, tetapi sekali lagi mereka membohongi kami.” (jhon)

Sumber : NTDTV.com

AS dan Israel Luncurkan Serangan Mendadak ke Iran, Analis: Operasi Telah Lama Dipersiapkan

EtIndonesia. Pada Sabtu (28 Februari), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara siang hari yang jarang terjadi terhadap ibu kota Iran, Teheran. Seorang analis militer menilai bahwa operasi ini telah dipersiapkan sejak lama, sementara kemungkinan serangan balasan Iran ke depan diperkirakan akan didominasi penggunaan rudal jelajah dan drone.

Pada hari yang sama, AS dan Israel memulai operasi militer besar bertajuk “Operation Epic Fury”. Menurut laporan terbaru media Israel, Menteri Pertahanan Iran dan Komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) termasuk di antara korban tewas dalam serangan udara tersebut. Namun hingga kini, otoritas Teheran belum memberikan konfirmasi resmi.

Analisis: Serangan Tahap Awal Targetkan Pejabat Tinggi

Seorang blogger militer ternama bernama Mark menjelaskan bahwa gelombang pertama serangan difokuskan pada pejabat tinggi Iran.

“Serangan tahap pertama terutama menyasar pejabat tinggi Iran. Angkatan Udara Israel menyerang ratusan target di wilayah Iran. Saat itu, tiga pertemuan pejabat senior Iran sedang berlangsung. Dalam serangan mendadak tersebut, tujuan utamanya adalah melakukan ‘pemenggalan kepemimpinan’. Dengan demikian, rantai komando Iran akan terputus, sehingga pemerintah Iran dan Garda Revolusi Islam akan mengalami kekacauan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat sejauh ini terutama melalui peluncuran rudal jelajah Tomahawk untuk mendukung serangan presisi Israel.

“AS pada dasarnya berpartisipasi dengan menembakkan rudal Tomahawk untuk membantu Israel melakukan serangan presisi. Dalam beberapa minggu terakhir, sekitar 6.500 ton logistik telah dikirim ke Israel melalui lebih dari 90 penerbangan dan kapal angkut,” katanya. 

“Ini menunjukkan bahwa operasi militer kali ini telah direncanakan dalam waktu lama oleh Israel dan Amerika Serikat. Israel mengerahkan sejumlah besar jet tempur dan melakukan serangan jarak jauh. ‘Blue Sparrow’ adalah rudal balistik udara-ke-darat Israel yang mampu menjangkau seluruh wilayah Iran,” tambahnya. 

Iran Luncurkan Serangan Balasan

Setelah serangan udara AS–Israel, Iran membalas dengan menembakkan rudal ke Israel serta ke sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain, Al Udeid (Qatar), dan lokasi lainnya.

Mark menilai bahwa Israel, Amerika Serikat, serta sekutu Arab mereka telah mempersiapkan sistem pertahanan udara dan pertahanan rudal untuk menghadapi skenario tersebut.

“Di antara serangan itu, hanya pangkalan militer AS di Bahrain yang terkena rudal balistik secara langsung. Namun sejak Januari, militer AS telah mulai memindahkan kapal-kapal perang penting dari pangkalan Bahrain tersebut. Bandara internasional di Qatar dan Kuwait juga terkena serangan drone, menimbulkan kerusakan ringan, tetapi tidak ada korban jiwa,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa karena wilayah Iran sangat luas, masih terdapat banyak peluncur rudal dan fasilitas peluncuran drone yang mungkin tersembunyi di lokasi bawah tanah atau tempat yang belum terdeteksi.

“Serangan balasan kemungkinan masih akan berlanjut. Kini tinggal melihat apakah operasi militer AS dan Israel mampu secara efektif menekan atau menghancurkan peluncur rudal dan fasilitas drone tersebut,” katanya. (jhon)

Detail Kematian Khamenei: Operasi Serangan Dimajukan Berdasarkan Info CIA, Tewas Saat Rapat, Sekaligus Bersama Kerabat dan Sejumlah Pejabat Tinggi 

EtIndonesia. Pemerintah Iran pada 1 Maret mengonfirmasi bahwa dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ali Khamenei, telah tewas. Sejumlah anggota keluarganya serta beberapa pejabat inti tingkat tinggi juga dilaporkan meninggal dunia dalam serangan tersebut.

Khamenei dan Empat Anggota Keluarga Tewas

Kantor berita resmi Iran pada hari yang sama membenarkan kabar kematian Ayatollah Ali Khamenei. Disebutkan bahwa putrinya, menantunya, serta cucu perempuannya turut tewas dalam serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.

Sejumlah Pejabat Inti Iran Ikut Tewas

Ilustrasi oleh The Epoch Times, Domain Publik

Selain Khamenei dan anggota keluarganya, Israel menyatakan bahwa sejumlah tokoh inti pemerintahan dan militer Iran juga tewas dalam serangan udara tersebut. Di antaranya:

  • Penasihat utama Khamenei, Ali Shamkhani
  • Komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour
  • Kepala intelijen Markas Komando Darurat Militer Iran, Salah Asadi
  • Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh
  • Kepala Kantor Militer Pemimpin Tertinggi, Mohammad Shirazi

Tewas Saat Bertemu Lingkaran Inti

Reuters, mengutip dua sumber Amerika dan seorang pejabat AS yang mengetahui peristiwa tersebut, melaporkan bahwa serangan udara dilancarkan ketika Khamenei sedang mengadakan pertemuan dengan anggota lingkaran inti kepemimpinannya. Seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada Reuters bahwa jenazah Khamenei telah ditemukan.

Menurut sumber dari pihak Israel, Khamenei tewas bersama sejumlah pembantu seniornya, termasuk mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional yang sangat berpengaruh, Ali Shamkhani, serta Komandan IRGC Mohammad Pakpour.

Dua sumber dari Iran mengatakan kepada Reuters bahwa sesaat sebelum serangan udara Amerika dan Israel dimulai, Khamenei tengah bertemu di sebuah lokasi rahasia dengan Shamkhani dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani.

Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan bahwa setelah badan intelijen berhasil melacak pergerakan Pemimpin Tertinggi Iran, target tersebut kemudian dilumpuhkan.

Trump menulis:  “Ia tidak dapat menghindari sistem intelijen dan pelacakan presisi tinggi kami. Kami bekerja sangat erat dengan Israel. Dia (Khamenei) dan para pemimpin lain yang tewas bersamanya tidak dapat berbuat apa-apa.”

Serangan Dimajukan, Target Utama Khamenei

Dua sumber Amerika dan seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa setelah dikonfirmasi Khamenei sedang bertemu para penasihat senior, Israel dan Amerika segera meluncurkan operasi udara dan laut.

Seorang pejabat AS menjelaskan bahwa untuk menjaga unsur kejutan, serangan terhadap Khamenei harus dilakukan terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan kekhawatiran bahwa jika memiliki kesempatan, Khamenei akan melarikan diri ke tempat persembunyian.

Salah satu sumber Amerika menyebutkan bahwa Khamenei semula dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Sabtu malam (28 Februari) di Teheran. Namun, intelijen  menemukan bahwa pertemuan tersebut dimajukan menjadi Sabtu pagi, sehingga serangan udara juga dipercepat untuk menyesuaikan waktu tersebut. (Jhon)

Serangan “Pemenggalan” Presisi AS–Israel Tewaskan Sekitar 40 Pejabat Tinggi Militer dan Politik Iran

EtIndonesia. Pada Sabtu, 28 Februari, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, dengan operasi yang disebut sebagai aksi “pemenggalan presisi” terhadap jajaran pimpinan tinggi negara itu. Militer Israel menyatakan bahwa sekitar 40 pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.

Pada pagi hari yang sama, AS dan Israel memulai operasi militer gabungan dengan sandi “Operation Epic Fury”, yang menargetkan sejumlah fasilitas penting di Teheran secara presisi. Serangan itu disebut berhasil menghantam lokasi rahasia tempat para pejabat tinggi militer dan politik Iran tengah menggelar pertemuan.

Presiden AS Donald Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, mengumumkan bahwa setelah badan intelijen melacak pergerakan Khamenei, target tersebut berhasil dilumpuhkan.

Militer Israel menjelaskan bahwa kunci dari serangan udara dini hari 28 Februari adalah keberhasilan Direktorat Intelijen Militer Israel dalam memastikan bahwa sejumlah pejabat keamanan senior Iran sedang berkumpul di dua lokasi di Teheran. Hingga kini, diperkirakan lebih dari 40 pejabat tinggi militer dan politik Iran tewas.

Di antara nama-nama yang disebutkan termasuk Komandan Garda Revolusi Islam Mohammad Pakpour, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani, Direktur Intelijen Markas Komando Darurat Angkatan Bersenjata Iran Saleh Asadi, Kepala Kantor Militer Pemimpin Tertinggi Mohammad Shirazi, Ketua Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan (SPND) Hossein Jabal Amelian, serta mantan Ketua SPND Reza Mozaffari-Nia.

Seorang pejabat tinggi keamanan nasional Israel mengatakan kepada Fox News bahwa operasi ini merupakan salah satu aksi “pemenggalan kepemimpinan” terbesar dalam sejarah perang modern. Keberhasilan operasi tersebut, menurutnya, sangat bergantung pada kemampuan badan intelijen Israel dalam menembus lingkaran keamanan tingkat tinggi Iran.

Dua sumber Amerika dan seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa setelah dikonfirmasi Khamenei sedang mengadakan pertemuan dengan para penasihat senior, Amerika dan Israel segera meluncurkan operasi udara dan laut.

Seorang pejabat AS menjelaskan bahwa demi menjaga unsur kejutan, target terhadap Khamenei harus dilakukan lebih dahulu, karena jika terlambat, ia berpotensi melarikan diri ke lokasi persembunyian rahasia.

Salah satu sumber AS mengungkapkan bahwa Khamenei semula dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Sabtu malam di Teheran. Namun, intelijen Israel menemukan bahwa pertemuan tersebut dipercepat menjadi Sabtu pagi, sehingga serangan udara juga dimajukan untuk menyesuaikan waktu tersebut. (jhon)

Sumber : NTDTV.com



Kumpulan Foto: Khamenei Tewas, Warga Iran di AS Berterima Kasih kepada Trump

EtIndonesia. Pada 28 Februari, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran. Dalam peristiwa tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dipenggal. Di berbagai kota di Amerika Serikat, komunitas Iran turun ke jalan untuk merayakan dan menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Trump yang mereka anggap telah membebaskan Iran.

Keterangan foto: 28 Februari 2026, di depan Gedung Federal West Los Angeles, anggota komunitas Iran merayakan tewasnya Khamenei dan menyatakan bahwa rakyat Iran akan segera memperoleh kebebasan. (Apu GOMES / AFP via Getty Images)

Keterangan foto: 28 Februari 2026, di depan Gedung Federal West Los Angeles, anggota komunitas Iran merayakan tewasnya Khamenei dan menyatakan bahwa rakyat Iran akan segera memperoleh kebebasan. (Apu GOMES / AFP via Getty Images)
Keterangan foto: 28 Februari 2026, di depan Gedung Federal West Los Angeles, anggota komunitas Iran merayakan tewasnya Khamenei dan menyatakan bahwa rakyat Iran akan segera memperoleh kebebasan. (Apu GOMES / AFP via Getty Images)

Keterangan foto:
28 Februari 2026, di Copley Square, Boston, Amerika Serikat, warga mengibarkan bendera Iran untuk merayakan aksi militer gabungan Amerika dan Israel terhadap pemerintah Iran. (Lauren Owens Lambert / AFP via Getty Images)
Keterangan foto:
28 Februari 2026, di Copley Square, Boston, warga membawa poster bertuliskan “Terima Kasih Trump” dalam perayaan aksi militer gabungan Amerika dan Israel terhadap pemerintah Iran. (Lauren Owens Lambert / AFP via Getty Images)





Keterangan foto:
28 Februari 2026, di Copley Square, Boston, warga mengibarkan bendera Iran serta membawa spanduk bertuliskan “Make Iran Great Again (MIGA)” untuk merayakan aksi militer gabungan Amerika dan Israel terhadap pemerintah Iran. (Lauren Owens Lambert / AFP via Getty Images)


Keterangan foto:
28 Februari 2026, di depan Gedung Federal Los Angeles, seorang perempuan memegang potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tulisan “Terima Kasih”. (Apu GOMES / AFP via Getty Images)



Keterangan foto: 28 Februari 2026, Los Angeles, California, anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan peristiwa tersebut. (Mario Tama/Getty Images
Keterangan foto:
28 Februari 2026, Los Angeles, California, anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan. Seorang perempuan memegang foto Putra Mahkota Iran di pengasingan Reza Pahlavi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden AS Donald Trump. (Mario Tama/Getty Images)
28 Februari 2026, Washington D.C., anggota komunitas Iran merayakan; seorang pria memegang foto Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. (Heather Diehl/Getty Images)
28 Februari 2026, Washington D.C., anggota komunitas Iran merayakan serangan udara militer AS terhadap Iran. (Heather Diehl/Getty Images)




28 Februari 2026, Los Angeles, California, anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan. (Mario Tama/Getty Images)
28 Februari 2026, Los Angeles, California, anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan. (Mario Tama/Getty Images)
28 Februari 2026, Los Angeles, California, anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan. (Mario Tama/Getty Images)




28 Februari 2026, Los Angeles, California, anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan. (Mario Tama/Getty Images)




28 Februari 2026, Los Angeles, California, anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan. (Mario Tama/Getty Images)

Dalam 12 Jam, Militer AS Luncurkan 900 Serangan ke Iran; Rekaman Video Dipublikasikan

EtIndonesia. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel memulai operasi militer gabungan terhadap Iran dengan sandi “Operation Epic Fury” (Operasi Amarah Epik). Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) merilis rekaman video yang memperlihatkan langsung momen serangan udara terhadap Iran. Pejabat militer AS menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 12 jam, militer AS melancarkan sekitar 900 serangan.

Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan kepada Fox News bahwa selama 12 jam pertama serangan udara terhadap Iran, hampir 900 aksi militer dilakukan dari darat, udara, dan laut, termasuk penggunaan pesawat nirawak (drone). Selain menyerang target militer Iran, pasukan AS juga harus menghadapi ratusan rudal balasan yang ditembakkan Iran.

Video yang dirilis CENTCOM di media sosial memperlihatkan kapal perusak kelas Arleigh Burke, USS Spruance, meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. Selain itu, jet tempur siluman F-35C Angkatan Laut AS yang berbasis di kapal induk USS Abraham Lincoln, serta jet tempur F/A-18E/F Super Hornet yang dipersenjatai bom berpemandu presisi 500 pon Joint Direct Attack Munition (JDAM), rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 AMRAAM, dan rudal AIM-9X, terlihat menyerang target darat Iran, termasuk drone, rudal, dan sistem radar.

CENTCOM menyatakan bahwa pada jam-jam awal operasi, militer AS secara serentak meluncurkan amunisi dari udara, darat, dan laut untuk melakukan serangan presisi terhadap target-target Iran.

Selain itu, satuan khusus CENTCOM yang dikenal sebagai Task Force Scorpion Strike untuk pertama kalinya menggunakan drone bunuh diri berbiaya rendah dalam operasi tempur nyata.

Serangan Balasan Iran dan Respons AS

Setelah gelombang serangan awal dilancarkan oleh pasukan gabungan AS–Israel, Iran dilaporkan menembakkan rudal ke markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Namun, pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa pasukan di bawah CENTCOM berhasil menangkis ratusan serangan rudal dan drone Iran. Kerusakan pada fasilitas militer AS disebut relatif ringan dan tidak mengganggu jalannya operasi.

Pejabat tersebut menegaskan bahwa tujuan akhir militer AS adalah membuat Iran “tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyerang negara tetangganya,” serta memastikan Iran “tidak memiliki drone, tidak memiliki rudal, dan tidak memiliki angkatan laut.”

Klaim Penargetan Kepemimpinan Iran

Dalam beberapa jam setelah operasi dimulai, pasukan gabungan AS–Israel berhasil melakukan serangan yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Presiden Trump kemudian mengumumkan kabar kematian Khamenei melalui media sosial dan menyerukan agar rakyat Iran mengambil alih pemerintahan serta menggulingkan rezim yang berkuasa.

Trump dengan nada tegas menyatakan bahwa operasi militer AS akan terus berlanjut sepanjang pekan, bahkan lebih lama jika diperlukan, “hingga tujuan kita untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah dan di seluruh dunia tercapai.” (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Di Balik Keputusan Serangan AS ke Iran: Trump Diberi Peringatan “Risiko Tinggi, Imbal Hasil Tinggi”

Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa sebelum militer AS melancarkan serangan ke Iran, Presiden Donald Trump menerima pengarahan khusus di Gedung Putih. Dalam pengarahan tersebut ditegaskan bahwa pasukan AS berisiko menghadapi korban besar, namun operasi ini juga dinilai sebagai langkah “berisiko tinggi, dengan imbal hasil tinggi” yang berpotensi membawa perubahan langka dan bersejarah bagi kawasan tersebut.

EtIndonesia. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan dengan sandi “Operation Epic Fury” (Operasi Amarah Epik), menyerang sejumlah lokasi di Iran. Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap Israel serta beberapa negara Arab di sekitar Teluk Persia.

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sebelum serangan dimulai, tim pemberi pengarahan menyampaikan kepada Trump bahwa ini adalah operasi dengan “risiko tinggi dan imbal hasil tinggi” yang dapat membuka peluang perubahan yang jarang terjadi dalam satu generasi di kawasan tersebut.

Trump sendiri tampaknya menyetujui penilaian tersebut. Saat operasi dimulai, ia secara terbuka mengakui risiko perang, dengan mengatakan bahwa “pahlawan-pahlawan Amerika yang pemberani mungkin akan kehilangan nyawa.” Namun ia menambahkan, “Kami melakukan ini bukan untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Ini adalah sebuah misi yang mulia.”

Sebelum secara resmi mengumumkan dimulainya pertempuran, Trump menyatakan:
“Selama 47 tahun, rezim Iran meneriakkan ‘Matilah Amerika’ dan melancarkan pertumpahan darah tanpa henti serta pembantaian besar-besaran… Kita tidak bisa lagi mentolerir situasi ini.”

Serangan militer terhadap Iran ini dipandang sebagai operasi paling berisiko yang dilancarkan Amerika Serikat sejak Perang Irak tahun 2003.

Rangkaian Pengarahan Tingkat Tinggi

Sebelum memberikan lampu hijau, Trump menerima pengarahan dari sejumlah pejabat tinggi, termasuk Direktur CIA John Ratcliffe, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Brad Cooper, juga terbang ke Washington pada 26 Februari untuk mengikuti pembahasan di Ruang Situasi Gedung Putih.

Pejabat lain menyebutkan bahwa Gedung Putih telah menerima penilaian risiko menyeluruh sebelum serangan, termasuk kemungkinan Iran membalas dengan serangan rudal terhadap berbagai pangkalan militer AS di kawasan, serta aksi milisi proksi Iran yang menargetkan pasukan Amerika di Irak dan Suriah.

Meski Amerika telah mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar ke kawasan tersebut, sistem pertahanan udara yang dikerahkan secara darurat tetap memiliki keterbatasan.

Target Strategis Trump

Beberapa pekan sebelum serangan, Trump memerintahkan peningkatan besar-besaran kehadiran militer AS di Timur Tengah. Reuters melaporkan bahwa militer AS telah menyusun rencana untuk kemungkinan operasi berkelanjutan terhadap Iran, termasuk skenario penargetan pejabat tinggi tertentu.

Pejabat Israel menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian termasuk dalam daftar target utama operasi tersebut.

Pada hari pelaksanaan operasi, Trump secara tegas menyatakan bahwa tujuannya di Iran sangat luas dan strategis, termasuk mengakhiri ancaman Teheran terhadap Amerika Serikat serta memberi kesempatan kepada rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia memaparkan rencana menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Iran dan mencegah negara itu memproduksi senjata nuklir.

“Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka, meratakan industri rudal mereka… Kami akan sepenuhnya menghancurkan angkatan laut mereka,” ujar Trump.

 “Kami akan memastikan bahwa proksi-proksi teroris di kawasan ini tidak lagi mampu mengganggu stabilitas regional maupun global, dan tidak lagi menyerang pasukan kami.”

Reuters menilai keputusan Trump menunjukkan tingkat keberanian mengambil risiko yang lebih tinggi dibandingkan bulan lalu, ketika ia memerintahkan pasukan khusus AS masuk ke Venezuela dalam operasi berani untuk menangkap presiden negara tersebut.

Operasi militer terhadap Iran kali ini juga dinilai lebih berisiko dibandingkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran yang diperintahkan Trump pada  Juni lalu. (Jhon)

Serangan Mendadak AS–Israel Picu Ledakan di Teheran, Warganet Soroti Beijing 

EtIndonesia. Pada 28 Februari siang hari, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara gabungan terhadap ibu kota Iran, Teheran. Insiden ini segera memicu perbincangan luas di media sosial, dengan sejumlah komentar menyerukan agar rezim Iran dilenyapkan.

Menurut laporan berbagai media internasional, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya telah melancarkan “serangan pencegahan terlebih dahulu” terhadap Iran. Israel menetapkan status darurat khusus secara nasional, mengeluarkan peringatan kepada warga untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan rudal balasan, serta menutup wilayah udaranya tanpa batas waktu. Seluruh penerbangan sipil dilarang lepas landas dan mendarat, dan masyarakat diminta untuk sementara waktu tidak menuju bandara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengonfirmasi keterlibatan militer AS dalam serangan tersebut. Menurut laporan Associated Press, seorang pejabat AS dan sumber yang mengetahui operasi tersebut menyatakan bahwa Amerika turut berpartisipasi dalam serangan udara Israel ke Teheran, meski tingkat keterlibatannya belum dijelaskan secara rinci.

Tak lama setelah itu, Pentagon merilis pernyataan resmi yang menamai operasi mendadak tersebut sebagai “Operasi Lion’s Roar” (Auman Singa), menandakan bahwa aksi ini telah meningkat menjadi operasi militer berskala besar.

Trump juga menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran, menyerukan agar mereka mengambil tindakan dan mengambil alih pemerintahan setelah operasi militer berakhir. Ia mengatakan, “Ini mungkin satu-satunya kesempatan dalam beberapa generasi bagi Anda.”

Reaksi Media Sosial dan Seruan Politik

Serangan tersebut memicu diskusi hangat di platform X (sebelumnya Twitter). Sejumlah unggahan bernada dukungan bermunculan, antara lain:

“Iran hari ini merayakan hari terbesar dalam 47 tahun terakhir. Saatnya rakyat bersuka cita! Turut berbahagia untuk rakyat Iran yang berani!”

“Tuhan memberkati Israel! Tuhan memberkati Amerika! Hancurkan rezim Iran! Bebaskan rakyat Iran!”

“Arah sejarah, kondisi geografis, dan dukungan rakyat tidak berpihak pada rezim Islam Iran yang dianggap jahat ini. Kerja sama AS–Israel terhadap Khamenei hanyalah awal. Sasaran akhirnya adalah Partai Komunis Tiongkok. Xi Jinping sedang gemetar.”

Ada pula komentar yang memuji Trump karena dinilai menepati janji kepada rakyat Iran, meskipun disebut terlambat satu bulan.

Beberapa unggahan bahkan mengklaim bahwa warga Teheran turun ke jalan untuk merayakan runtuhnya rezim, meski berada dalam risiko serangan udara. “Kami sudah tahu hari ini akan tiba!” tulis salah satu unggahan, merujuk pada gelombang protes yang disebut telah berlangsung dua bulan dan menelan banyak korban jiwa.

Komentar lain menyatakan bahwa warga Iran tetap tenang karena percaya bahwa serangan AS dan Israel hanya menyasar pejabat tinggi dan elite pemerintahan, bukan rakyat sipil. Ada pula klaim bahwa tuduhan mengenai serangan terhadap warga sipil hanyalah propaganda yang direkayasa.

Beberapa unggahan video yang beredar memperlihatkan kelompok anak muda Iran bersorak setelah muncul kabar bahwa kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, terkena rudal. Dalam salah satu video terdengar teriakan, “Mereka mengenainya! Bagaimana perasaanmu?” yang dijawab dengan, “Luar biasa!” Unggahan itu disertai klaim bahwa seluruh Iran telah lama menantikan momen tersebut.

Komentar lainnya menulis, “Hari ini Teheran, besok Beijing,” serta mempertanyakan kapan rakyat Tiongkok akan menyaksikan momen bersejarah serupa.

Analisis dan Dampak Geopolitik

Penulis yang bermukim di Taiwan, Wang Hao, menulis bahwa Xi Jinping kembali kehilangan sekutu dekat. Ia berpendapat bahwa Iran kini berada dalam pusaran kehancuran: di luar menghadapi serangan rudal AS–Israel, di dalam menghadapi runtuhnya nilai mata uang dan krisis ekonomi.

Menurutnya, badai militer dan ekonomi ini tengah menggerogoti apa yang disebut sebagai “poros otoriter” Tiongkok–Rusia–Iran. Jika terjadi perubahan rezim di Iran, Beijing dinilai berpotensi kehilangan pasokan energi dan posisi tawar strategisnya. Ia menggambarkan aliansi otoriter tersebut tampak kuat di permukaan, tetapi rapuh secara fundamental.

Pernyataan Putra Mahkota Iran di Pengasingan

Pada hari yang sama, Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, juga merilis pernyataan. Ia menyebut bahwa bantuan yang dijanjikan Presiden AS kepada rakyat Iran kini telah terealisasi. Menurutnya, bantuan tersebut merupakan bentuk intervensi kemanusiaan yang menargetkan rezim Republik Islam dan mesin penindasannya, bukan negara Iran atau rakyatnya.

Ia menyerukan agar masyarakat tetap waspada dan siap bertindak. Ia juga menyatakan akan secara pribadi memberi tahu publik pada waktu yang tepat untuk kembali turun ke jalan dan melancarkan perjuangan terakhir.

Reza Pahlavi menegaskan bahwa kemenangan akhir akan diraih oleh rakyat Iran sendiri. “Kita sudah sangat dekat dengan kemenangan akhir,” ujarnya. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Pembelot Intelijen Bongkar Cara Identifikasi Agen Tiongkok; Kanada Jadi Target Utama Infiltrasi

EtIndonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya infiltrasi yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke negara-negara Barat terus menjadi sorotan internasional. Seorang mantan personel intelijen PKT mengungkapkan bahwa meskipun sangat sulit mengidentifikasi agen Tiongkok di Amerika Utara, tetap terdapat sejumlah petunjuk yang dapat membantu mengenali identitas asli mereka. Ia juga menegaskan bahwa Kanada telah menjadi salah satu target utama infiltrasi PKT.

Menurut pengakuan mantan agen intelijen PKT yang menggunakan nama samaran “Eric”, ia pernah bertugas sebagai agen penyamaran selama 15 tahun, dengan tanggung jawab memantau para pembangkang yang berada di luar negeri. Pada tahun 2023, dengan pertimbangan keamanan pribadi dan dorongan hati nurani, ia memutuskan untuk membelot dan melarikan diri ke Australia.

Eric menjelaskan bahwa menentukan apakah seseorang bekerja untuk PKT dalam kegiatan spionase luar negeri merupakan hal yang sangat sulit. Bahkan lembaga intelijen profesional pun harus mengerahkan sumber daya besar untuk memastikan hal tersebut. Namun demikian, menurutnya tetap ada tanda-tanda tertentu yang bisa dijadikan indikator.

“Dalam sistem negara otoriter dan totaliter seperti (PKT), sistem intelijennya juga memiliki kelemahan dan kekurangan yang relatif tetap. Seorang agen tidak mungkin bisa mengambil semua keputusan sendiri,” katanya. 

“Dalam banyak situasi, mereka harus meminta persetujuan atasan. Di sinilah Anda bisa melakukan pengujian. Misalnya, dengan menyampaikan hal-hal yang biasanya tidak dapat ditoleransi dalam operasi intelijen. Perhatikan apakah ia bisa langsung mengambil keputusan sendiri,” ujarnya. 

“Jika dalam banyak hal ia tidak mampu memutuskan secara mandiri, dan waktu responsnya panjang karena harus menunggu instruksi, maka tingkat kecurigaan bahwa orang tersebut adalah agen menjadi lebih besar,” tambahnya. 

Mengenai infiltrasi jangka panjang PKT terhadap negara-negara Barat, Eric menganalisis bahwa Kanada, sebagai anggota penting sejumlah organisasi internasional, memiliki pengaruh strategis dan sejak lama menjadi salah satu sasaran utama.

Eric menjelaskan: “Kanada adalah negara yang cukup penting. Ia merupakan anggota Aliansi Five Eyes dan berbagi intelijen serta data dengan Amerika Serikat dan Australia.”

Di sisi lain, Kanada berbatasan langsung dengan Amerika Serikat sehingga memiliki nilai strategis tinggi, namun kemampuan kontra-intelijennya relatif lebih lemah.

“Dalam hal kekuatan kontra-intelijen dan intelijen keamanan, Kanada relatif lebih lemah dibandingkan Amerika Serikat. Selain itu, kebijakan imigrasi dan budaya keterbukaannya yang lebih inklusif justru mempermudah PKT untuk melakukan infiltrasi.”

Saat ini, Tiongkok menempatkan hingga 176 personel diplomatik di Kanada, dengan skala dan pengaruh diplomatik yang jauh lebih besar dibandingkan negara lain.

“Yang saya khawatirkan adalah bahwa di antara para diplomat Tiongkok yang ditempatkan di Kanada, ada proporsi signifikan yang sebenarnya tidak menjalankan kegiatan diplomatik yang sah, melainkan mengoordinasikan operasi Kementerian Keamanan Negara serta Departemen Pekerjaan Front Persatuan PKT. Karena itu, saya sangat mengkhawatirkan jumlah besar diplomat yang berada di wilayah Vancouver,” ujar pakar isu Tiongkok, Charles Burton. 

Eric juga mengungkapkan bahwa PKT, mulai dari tingkat pusat hingga biro keamanan publik tingkat provinsi, mengirimkan agen ke luar negeri. Ia memperkirakan jumlah orang yang bekerja untuk PKT di Kanada bisa melebihi 1.000 orang, dan mereka digunakan untuk menekan serta mengawasi para pembangkang di luar negeri.

“Di dalam negeri, PKT lebih mengandalkan sarana teknologi untuk menghadapi pembangkang, seperti sistem pengawasan ‘Sky Net’ dan analisis big data. Namun di luar negeri, mereka lebih bergantung pada jaringan intelijen manusia—menyuap dan merekrut orang untuk melaporkan kondisi internal kelompok atau individu yang anti-PKT. Selain itu, mereka juga mungkin melakukan operasi peretasan siber, seperti menanamkan malware di komputer Anda,” ujarnya. 

Di akhir wawancara, Eric mengingatkan bahwa ancaman infiltrasi PKT tidak boleh diremehkan. Ia menyerukan agar negara-negara Barat memperkuat kerja sama untuk menghadapi potensi ancaman keamanan tersebut.

“Berbagi informasi dan bekerja sama dengan sekutu adalah hal yang sangat diperlukan. Selain itu, penting juga untuk mendengarkan pendapat komunitas Tionghoa yang memahami aktivitas intelijen PKT atau yang pernah menjadi korban operasi rahasia tersebut, serta membangun komunikasi dan kerja sama dengan mereka,” pungkasnya. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

3 Tentara AS Tewas dan 5 Terluka Dalam Operasi Serangan di Iran

Lima lainnya terluka parah, dan beberapa personel militer mengalami luka ringan, demikian pernyataan militer AS.

EtIndonesia. Tiga anggota militer Amerika Serikat tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam rangkaian serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran. Hal demikian diumumkan oleh militer AS pada Minggu, 1 Maret 2026.

Selain itu, sejumlah personel lainnya mengalami “luka serpihan ringan dan gegar otak,” namun sedang dalam proses kembali bertugas, menurut Komando Pusat AS (U.S. Central Command) dalam unggahan di platform X.

Komando Pusat menambahkan, “Operasi tempur besar masih berlangsung dan upaya respons kami terus berjalan.”

“Situasi masih dinamis. Demi menghormati keluarga, kami akan menahan informasi tambahan, termasuk identitas para prajurit yang gugur, hingga 24 jam setelah keluarga terdekat diberi tahu,” tambahnya.

Sementara itu, dinas penyelamat Israel menyatakan pada hari yang sama bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Iran di wilayah tengah Israel meningkat menjadi 9 orang dengan 28 lainnya terluka.

Setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran membalas dengan meluncurkan puluhan rudal, menghantam target-target di Israel dan pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah.

Israel pada hari yang sama mengklaim telah melenyapkan puluhan pemimpin Iran. “Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyerang dan melenyapkan 7 anggota pimpinan tertinggi keamanan Iran di Teheran serta 40 komandan senior,” demikian pernyataan IDF di X pada 1 Maret.

Unggahan terpisah dari Angkatan Udara Israel menyebutkan bahwa 40 komandan “dilenyapkan dalam satu menit.” Unggahan itu menyertakan ilustrasi serangan tersebut, dan angkatan udara juga merilis rekaman video sebagai “dokumentasi” penghancuran markas rezim di Teheran.

Kementerian Kesehatan Kuwait melaporkan bahwa serangan Iran di negara itu menewaskan satu orang dan melukai 32 lainnya.

Uni Emirat Arab (UEA) mencatat tiga korban tewas akibat serangan Iran selama akhir pekan. Negara itu menjadi sasaran 165 rudal balistik; 152 berhasil dihancurkan dan 13 jatuh ke laut, menurut kementerian pertahanan UEA.

UEA juga menjadi target 541 drone pembawa bom. Sebanyak 506 dihancurkan oleh pasukan pertahanan, sementara 35 lainnya menghantam wilayah negara tersebut, melukai 58 orang dan menewaskan tiga warga asal Bangladesh, Nepal, dan Pakistan.

Dalam insiden terpisah, ketika para pengunjuk rasa mencoba menyerbu konsulat AS di Karachi, Pakistan, sedikitnya sembilan orang tewas dan 25 lainnya terluka.

Insiden itu terjadi beberapa jam setelah pejabat Iran mengonfirmasi bahwa pemimpin Iran, Ali Khamenei, telah tewas dalam serangan udara di Teheran.

Pejabat setempat membantah laporan bahwa gedung kedutaan benar-benar dibakar, namun mengakui adanya upaya pembakaran terhadap pos polisi di luar gedung.

Ketika serangan gabungan terhadap Iran memasuki hari kedua, kedutaan dan konsulat AS di seluruh Timur Tengah memerintahkan pegawai serta warga negara Amerika untuk berlindung di tempat.

Warga Amerika yang tinggal atau bepergian di Bahrain, Israel, Irak, Yordania, Oman, dan Pakistan disarankan oleh kedutaan masing-masing untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Harap tetap waspada, karena pemerintah Iran dan proksinya mungkin berupaya menargetkan warga Amerika sebagai balasan atas serangan AS terhadap Iran. Wilayah udara Qatar ditutup. Semua personel non-esensial harus menghindari seluruh instalasi militer,” demikian peringatan keamanan Kedutaan Besar AS di Qatar pada Minggu.

Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan peringatan “kewaspadaan global” bagi warga Amerika di luar negeri agar mengikuti langkah-langkah serupa.

“Setelah dimulainya operasi tempur AS di Iran, warga Amerika di seluruh dunia, khususnya di Timur Tengah, harus mengikuti panduan dalam peringatan keamanan terbaru yang dikeluarkan oleh kedutaan atau konsulat AS terdekat,” demikian bunyi peringatan tersebut.

Bandara-bandara di Israel, Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, serta sebagian wilayah Uni Emirat Arab ditutup, membuat puluhan ribu pelancong terlantar.

Penutupan ini dikaitkan dengan serangan balasan Iran, yang memaksa lebih dari 1.800 penerbangan dibatalkan dan sedikitnya 145 pesawat dialihkan, menurut data pelacakan penerbangan.

Operasional di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha—bandara yang biasanya melayani sekitar 90.000 penumpang—dibatasi atau dihentikan, menyebabkan para pelancong terlantar di Eropa, Asia, dan kawasan Teluk.

Tom Ozimek, Joseph Lord, Sam Dorman, dan Jacob Burg turut berkontribusi dalam laporan ini.

Video-video Rakyat Hingga Diaspora Iran Bersorak Sambil Menari Setelah Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Gabungan AS–Israel

Rakyat Iran turun ke jalan di berbagai penjuru negeri, meluapkan kegembiraan atas kematian Ali Khamenei

EtIndonesia. Video-video yang beredar dari Iran memperlihatkan warga di berbagai kota merayakan di jalanan setelah pemimpin Republik Islam, Ali Khamenei, tewas dalam serangan di tengah operasi militer gabungan Amerika Serikat–Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Salah satu video dari kota Abdanan di wilayah barat menunjukkan orang-orang menjulurkan tubuh dari jendela mobil sambil mengacungkan tanda kemenangan. Perekam video terdengar berkata, “Selamat atas kebebasan kita,” seraya menambahkan bahwa ia tak mampu menyembunyikan luapan kegembiraannya atas kematian Khamenei.

Anggota komunitas Iran dan para pendukungnya merayakan di Los Angeles pada 28 Februari 2026. Mario Tama/Getty Images

Ali Khamenei memimpin Republik Islam Iran sejak 1989, setelah meninggalnya pendiri rezim tersebut, Ruhollah Khomeini. Rezim teokrasi itu dikenal sebagai salah satu yang paling represif, serta bersekutu dengan rezim-rezim otoriter lain seperti Tiongkok, menindak keras para pembangkang melalui pemenjaraan hingga eksekusi.

Dalam gelombang pemberontakan besar terakhir pada Desember dan Januari, rezim Khamenei melakukan penindasan brutal untuk membungkam gerakan tersebut, menewaskan lebih dari 32.000 orang, menurut angka yang dikutip oleh Presiden AS Donald Trump.

Orang-orang yang mendukung serangan militer gabungan AS–Israel terhadap Iran mengibarkan spanduk dan poster selama pawai dari Memorial Perang Dunia I menuju Gedung Putih pada 28 Februari 2026. Stacy Robinson/The Epoch Times

Video lain dari Karaj, barat laut Teheran, memperlihatkan warga turun ke jalan sambil menari diiringi musik dan bersorak lantang. Beberapa rekaman menunjukkan orang-orang berkeliling dengan mobil sambil terus-menerus membunyikan klakson dan bersiul.

Rekaman lain dari Lapuee, dekat kota Shiraz di barat daya, menunjukkan warga berkumpul di rumah salah satu pemuda demonstran yang tewas dalam penindasan baru-baru ini, merayakan setelah kabar kematian Khamenei tersebar.

Dalam video lain dari Galehdar, lebih jauh ke selatan dari Shiraz, terlihat orang-orang merayakan di sebuah alun-alun dengan api unggun menyala di latar belakang. Perekam video berseru, “Apakah aku sedang bermimpi? Halo dunia baru!”

Akses internet dan layanan telepon diputus atau sangat dibatasi di banyak wilayah Iran, sehingga mempersulit penyebaran informasi keluar negeri.

Diaspora Iran di berbagai kota dunia juga turun merayakan, termasuk di Los Angeles, Toronto, Frankfurt, Roma, dan banyak kota lainnya.

Kabar kematian Khamenei pertama kali diumumkan pejabat Israel pada 28 Februari, dan tak lama kemudian dikonfirmasi oleh Trump. Media pemerintah Iran akhirnya mengonfirmasi berita tersebut beberapa jam setelahnya.

Media rezim menayangkan adegan warga berkabung di jalan-jalan dan di lokasi-lokasi keagamaan, termasuk di kompleks Imam Reza di Mashhad.


Serangan AS–Israel

Dalam pengumuman operasi militer pada 28 Februari, Trump meminta rakyat Iran untuk sementara tetap berlindung di tempat masing-masing, dan setelah perang usai, keluar dan menggulingkan rezim.

“Ketika kami selesai, ambillah alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian untuk direbut. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi,” ujarnya.

Putra Mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan, Reza Pahlavi, yang namanya kerap diteriakkan para demonstran dalam aksi-aksi protes di berbagai wilayah Iran, juga menyampaikan pesan serupa. Ia menyatakan akan berkomunikasi dengan rakyat Iran melalui gelombang radio jika internet dan siaran satelit diputus.

Trump mengatakan serangan akan berlanjut “tanpa henti sepanjang minggu ini atau selama diperlukan.”

Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan operasi gabungan itu berfokus pada sasaran militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, pangkalan udara militer, serta lokasi peluncuran rudal dan drone.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta ke negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Studi Ungkap Fakta Mengejutkan : Paparan Sinar Matahari di Siang Hari Kendalikan Gula Darah dengan Lebih Baik

Sinar alami mungkin menjadi “obat gratis” untuk membantu mengontrol gula darah yang belum banyak dimanfaatkan

George Citroner

Sesuatu yang sesederhana duduk di dekat jendela dengan cahaya alami dapat membantu penderita diabetes Tipe 2 menjaga kadar gula darah mereka tetap lebih stabil, menurut sebuah studi terbaru.

Temuan menunjukkan bahwa peserta mampu menjaga gula darah dalam kisaran sehat selama 50 persen waktu ketika terpapar cahaya alami, dibandingkan 43 persen saat berada dalam fase pencahayaan buatan.

“Pada orang yang terpapar cahaya alami, kadar glukosa darah berada dalam kisaran normal selama lebih banyak jam per hari, dengan variasi yang lebih kecil,” kata Patrick Schrauwen, penulis studi dan ilmuwan di German Diabetes Center dalam sebuah pernyataan. “Dua elemen penting ini menunjukkan bahwa para relawan penderita diabetes mampu mengendalikan kadar gula mereka dengan lebih baik.”


Pengendalian Gula Darah Lebih Baik dengan Sinar Matahari

Studi yang dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism ini menunjukkan bahwa meluangkan waktu di bawah sinar matahari alami dapat menjadi tambahan yang bermanfaat dalam strategi pengendalian gula darah bagi penderita diabetes Tipe 2.

Para peneliti merekrut 13 orang untuk menguji bagaimana lingkungan kantor memengaruhi kesehatan mereka. Semua peserta ditempatkan di gedung kantor yang sama. Satu kelompok duduk di meja dekat jendela besar yang menghadap selatan dan barat untuk memaksimalkan paparan sinar matahari harian. Kelompok lainnya ditempatkan di ruangan yang sepenuhnya tertutup dari cahaya alami dan hanya menerima pencahayaan buatan.

Peserta duduk di meja mereka dari pukul 08.00 hingga 17.00, meniru jam kerja kantor pada umumnya.

Setelah jeda minimal empat minggu, peserta kembali untuk sesi kedua. Kali ini, kelompok yang sebelumnya berada di bawah cahaya buatan dipindahkan ke ruangan bercahaya alami, dan sebaliknya. Semua peserta menderita diabetes Tipe 2, tidak menggunakan tabir surya selama periode penelitian, dan memiliki usia rata-rata 70 tahun.

“Selain sumber cahaya, semua parameter gaya hidup lainnya—makanan, tidur, aktivitas fisik, waktu layar, dan sebagainya—dibuat benar-benar identik,” ujar Joris Hoeks, salah satu penulis studi.

Peneliti menemukan bahwa ketika peserta terpapar cahaya alami melalui jendela, mereka lebih sering mempertahankan gula darah dalam kisaran sehat dibandingkan saat berada di ruangan dengan cahaya buatan. Fluktuasi glukosa selama 24 jam juga lebih kecil di bawah cahaya alami, dan fluktuasi yang lebih kecil dikaitkan dengan lebih banyak waktu berada dalam kisaran normal—menunjukkan kontrol glukosa yang lebih stabil.

Sepanjang hari, peserta membakar lebih banyak lemak dan lebih sedikit karbohidrat di bawah cahaya alami—baik saat istirahat pada hari keempat maupun setelah uji makan campuran pada hari kelima—meskipun total pengeluaran energi tetap serupa.

Kadar melatonin peserta juga sedikit lebih tinggi pada malam hari, dan metabolisme pembakaran lemak mereka menunjukkan perbaikan.


Mengapa Sinar Matahari Berpengaruh?

Studi ini tidak secara pasti menjelaskan mengapa sinar matahari memengaruhi pengendalian gula darah, tetapi para ahli memiliki beberapa teori yang berfokus pada bagaimana cahaya memengaruhi sistem biologis internal tubuh.

“Sudah diketahui selama beberapa tahun bahwa gangguan ritme sirkadian memainkan peran besar dalam perkembangan gangguan metabolik yang memengaruhi semakin banyak populasi Barat,” kata Charna Dibner, salah satu penulis studi dan profesor madya di Fakultas Kedokteran UNIGE.

Menurut Hoeks, cahaya alami lebih efektif dalam menyelaraskan jam biologis tubuh dengan lingkungan dibandingkan pencahayaan buatan, yang memiliki intensitas lebih rendah dan spektrum panjang gelombang yang lebih sempit. Namun, sebagian besar waktu kita dihabiskan di bawah cahaya buatan.

Beberapa ahli lain menduga efek ini berkaitan dengan paparan vitamin D atau cara sel-sel peka cahaya di mata membantu mengatur metabolisme.

Dr. Betul Hatipoglu, profesor kedokteran di Case Western Reserve University School of Medicine yang tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa vitamin D memiliki banyak peran penting dalam keseimbangan glukosa. Namun, studi besar sebelumnya untuk mencegah diabetes dengan vitamin D belum menunjukkan manfaat yang pasti.

Alih-alih vitamin D sebagai penyebab utama, Hatipoglu menyoroti hipotalamus—bagian otak yang mengkoordinasikan sistem saraf serta membantu mengatur suhu tubuh, rasa lapar, tidur, dan respons emosional.

Disfungsi hipotalamus telah dikaitkan dengan masalah metabolik dan mungkin menjadi mekanisme yang dipengaruhi paparan sinar matahari sehingga menghasilkan kontrol gula darah yang lebih baik.

“Ada kemungkinan hormon stres dan sistem saraf simpatik turut berperan,” ujarnya.

Selain vitamin D, sinar ultraviolet dari matahari dapat membantu melepaskan nitric oxide, yang berpotensi mengurangi stres dan memperbaiki fungsi pembuluh darah—efek yang dapat mendukung kesehatan metabolik.


Keterbatasan Studi

Meski desain penelitian ini memperkuat keandalan hasil, terdapat beberapa keterbatasan penting.

Jumlah peserta yang kecil—hanya 13 orang—membuat temuan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati. Studi yang lebih besar dan berlangsung lebih lama, seperti berminggu-minggu atau berbulan-bulan, diperlukan untuk melihat apakah efeknya bertahan lama dan bermakna secara klinis.

Sebagian besar peserta juga merupakan lansia, dengan usia rata-rata 70 tahun dan 12 orang berusia minimal 65 tahun. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah efek yang sama akan terlihat pada kelompok usia lebih muda atau populasi yang lebih beragam.

Penulis studi juga mencatat bahwa meskipun analisis mereka mengidentifikasi beberapa indikator potensial tentang bagaimana cahaya alami mempengaruhi kesehatan, hasilnya belum cukup kuat untuk membuat prediksi yang sangat spesifik—kemungkinan karena jumlah peserta yang terbatas.

Meski demikian, Schrauwen menegaskan bahwa bahkan dalam periode singkat, sinar matahari menunjukkan efek yang terukur. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan sederhana ini layak diteliti lebih lanjut sebagai pelengkap dalam pengelolaan diabetes.

Studi Ungkap Air Minum Kemasan Mengandung Nanoplastik dalam Jumlah Tinggi

Studi baru memunculkan kekhawatiran segar tentang paparan plastik dari kebiasaan minum sehari-hari

George Citroner

Botol air minum yang Anda pilih karena dianggap lebih murni ternyata bisa saja mengandung tiga kali lebih banyak partikel plastik mikroskopis dibandingkan air yang keluar dari keran rumah Anda, menurut penelitian terbaru.

Temuan ini kembali memunculkan kekhawatiran tentang keberadaan tersembunyi polutan mikroskopis dalam minuman sehari-hari—serta dampaknya bagi kesehatan jangka panjang kita.

Air Kemasan Menyimpan Risiko

Studi yang baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Science of The Total Environment menyoroti masalah berkelanjutan polusi plastik di lingkungan, yang menyebabkan meluasnya keberadaan mikroplastik dan nanoplastik ketika produk plastik terurai.

Para peneliti menganalisis sampel air dari empat instalasi pengolahan air di sekitar Danau Erie—salah satu dari lima Great Lakes di Amerika Utara—serta enam merek air minum dalam kemasan. Mereka menemukan bahwa sebagian air kemasan mengandung tiga kali lebih banyak partikel nanoplastik dibandingkan air minum yang telah diolah.

Kecuali satu sampel dari satu merek tertentu, seluruh sampel air kemasan lainnya mengandung lebih banyak plastik dibandingkan air keran.

“Temuan studi ini menunjukkan bahwa salah satu cara untuk mengurangi paparan mikro dan nanoplastik adalah dengan membatasi konsumsi air minum dalam kemasan,” kata John Lenhart, profesor teknik lingkungan di The Ohio State University sekaligus salah satu penulis studi tersebut, kepada The Epoch Times.

Ia menambahkan bahwa ukuran sampel penelitian ini masih terbatas sehingga diperlukan analisis lebih lanjut dari berbagai sumber air olahan dan air kemasan lainnya.

Bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa mikroplastik (0,1 mikrometer hingga 5 milimeter) dan nanoplastik (kurang dari 1 mikrometer) berpotensi menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan manusia. Partikel ini dapat menyusup ke sistem organ utama dan memicu kerusakan sel.

Para peneliti menggunakan kombinasi teknologi pencitraan resolusi tinggi dan alat identifikasi kimia, sehingga mampu mendeteksi partikel berukuran sangat kecil alih-alih mengelompokkannya secara umum sebagai mikroplastik.

Menurut Lenhart, nanoplastik lebih mungkin diserap oleh sel ketika tertelan atau terhirup. Oleh karena itu, menyelidiki keberadaannya dalam berbagai lingkungan—termasuk air minum—sangat penting untuk memahami potensi penyerapannya oleh sel.

Ia juga menekankan bahwa kemampuan timnya mengukur konsentrasi nanoplastik merupakan langkah penting bagi penelitian selanjutnya, karena metodologi tersebut dapat diadopsi oleh peneliti lain untuk mengevaluasi keberadaan nanoplastik dalam sampel lain.

Lenhart menambahkan bahwa timnya belum mengevaluasi kemampuan sistem pengolahan air dalam menghilangkan nanoplastik. “Itu adalah topik yang sedang kami teliti saat ini,” ujarnya.

Kontaminasi Tertinggi Berasal dari Kemasan

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar plastik dalam air kemasan berasal dari kemasannya sendiri. Lebih dari setengah partikel yang terdeteksi adalah nanoplastik.

Sementara itu, sumber plastik dalam air keran masih belum jelas. Jenis plastik yang ditemukan lebih beragam, sebagian kemungkinan berasal dari bahan kemasan, pakaian, dan material bangunan.

Lenhart mencatat bahwa konsentrasi plastik yang diamati lebih tinggi dari perkiraan awal. Hal ini disebabkan oleh dimasukkannya nanoplastik dalam pengukuran—sesuatu yang dalam banyak studi sebelumnya belum banyak diperhitungkan.

“Dipercaya bahwa ketika tertelan atau terhirup, nanoplastik memiliki potensi lebih besar dibandingkan mikroplastik untuk diserap oleh sel,” katanya. “Karena itu, memahami keberadaan nanoplastik dalam berbagai media seperti air minum memberikan informasi penting untuk membantu kita memahami potensi penyerapannya.”

Memahami komposisi plastik dalam air, lanjutnya, dapat membantu memperbaiki proses pengolahan air atau mengembangkan metode baru untuk menghilangkan partikel-partikel tersebut di masa depan.

Bukti Dampak Mikroplastik Kian Menguat

Meski para ilmuwan masih terus mempelajari dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, banyak yang meyakini bahwa keberadaannya dapat berbahaya dalam jangka panjang.

Penelitian terbaru mengaitkannya dengan stres oksidatif, peradangan kronis, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan metabolik. Partikel-partikel kecil ini telah ditemukan di organ seperti hati, paru-paru, dan plasenta, serta dikaitkan dengan kerusakan jaringan, potensi gangguan hormon, dan perubahan pada mikrobioma usus.

Nanoplastik bahkan lebih mungkin menembus penghalang biologis tubuh, seperti epitel usus dan sawar darah-otak, sehingga berpotensi menyebabkan peradangan, gangguan sistem kekebalan tubuh, kerusakan jaringan, perubahan fungsi metabolik, perkembangan organ yang abnormal, hingga kerusakan sel.

“Meski kita belum sepenuhnya memahami risiko kesehatan manusia akibat paparan nanoplastik, tetap lebih baik untuk mencoba memitigasi risikonya, karena bukti menunjukkan bahwa partikel ini memang menimbulkan masalah—meskipun kita belum sepenuhnya mengetahui seperti apa dampaknya,” kata Megan Hart, penulis utama studi tersebut, dalam siaran pers.

Truk Terbakar di Terowongan Jalan Tol Beijing–Kunming, Picu Kepanikan

Saksi mata mengatakan kebakaran disertai tiga ledakan keras dan asap tebal di dalam terowongan.

EtIndonesia. Kebakaran yang disertai suara ledakan keras terjadi di Terowongan Gujiashan di Jalan Tol G5 Beijing–Kunming pada 23 Februari, hari ketujuh libur Tahun Baru Imlek, yang tahun ini berlangsung dari 17 Februari hingga 3 Maret.

Kepolisian Provinsi Sichuan menyatakan melalui media sosial bahwa sebuah truk pengangkut buah tiba-tiba terbakar sekitar pukul 10.50 pagi di dalam Terowongan Gujiashan, arah keluar, pada kilometer 921 Jalan Tol G5 Beijing–Kunming.

Polisi menyatakan api telah berhasil dipadamkan, tidak ada korban luka, dan tidak ada orang yang terjebak di lokasi kejadian. Lalu lintas di jalur masuk kembali normal pada pukul 14.50, dan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

Seorang saksi mata, Yang Ling (nama samaran), yang meminta identitasnya disamarkan karena takut pembalasan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa keluarganya yang berjumlah empat orang sedang melakukan perjalanan darat dari Provinsi Henan ke Chengdu ketika insiden itu terjadi dalam perjalanan pulang.

“Sebuah truk besar bermuatan jeruk terbakar di dalam terowongan,” ujarnya. “Kami terjebak di dalam terowongan yang panjangnya lebih dari 1,24 mil. Semua orang meninggalkan kendaraan mereka dan berlari keluar dari terowongan, termasuk wanita hamil, lansia, dan anak-anak. Beberapa orang bahkan tidak sempat memakai sepatu sebelum berlari keluar.”

Yang mengatakan bahwa saat ia berlari, “rasanya seperti kiamat.”

“Ketika saya keluar dari terowongan, tempat itu sudah dipenuhi asap tebal,” katanya. “Saya tidak tahu apakah akan terjadi ledakan. Saya pikir mobil itu sudah pasti hancur.”

“Saya pikir saya akan mati,” katanya. “Saya bahkan sudah menyiapkan kata-kata terakhir, tetapi tidak bisa menelepon karena tidak ada sinyal. Benar-benar beruntung hanya truk itu yang terbakar. Kendaraan lain tidak ikut terbakar, dan tidak ada korban jiwa. Kami sangat beruntung.”

Seorang saksi lain bermarga Liu (nama samaran), yang juga meminta identitasnya dirahasiakan karena takut pembalasan, mengatakan kepada media Tiongkok daratan bahwa ia berada beberapa kendaraan di belakang truk yang terbakar. Ia mengaku mendengar tiga ledakan keras, dan terowongan serta kendaraannya terasa bergetar.

Karena tidak mengetahui situasi dan takut terjadi ledakan, ia segera keluar dari kendaraannya dan melarikan diri. Ia melihat terowongan macet total, dan banyak tabrakan beruntun terjadi saat mobil-mobil mencoba mundur; mobilnya juga ikut terlibat dalam salah satu tabrakan tersebut.

Video yang beredar di internet menunjukkan terowongan dipenuhi mobil, dengan banyak orang meninggalkan kendaraan mereka dan berlari menuju pintu keluar sambil saling bertanya apa yang telah terjadi.

Tang Bing dan Gu Xiaohua berkontribusi dalam laporan ini.