Para Peneliti Saksikan Kebangkitan Lubang Hitam dengan Massa 1 Juta Kali Lebih Besar dari Matahari
Ren Hao
Lubang hitam dengan massa 1 juta kali matahari mungkin akan bangkit. Di luar angkasa, terdapat sebuah galaksi bernama SDSS1335+0728. Pada akhir 2019, para astronom terkejut menemukan bahwa lubang hitam di pusat galaksi tiba-tiba mulai terang. Kecerahan pada panjang gelombang inframerah tengah menjadi dua kali lipat, kecerahan sinar ultraviolet meningkat 4 kali lipat dan kecerahan X -Sinar meningkat lebih dari 10 kali lipat.
Diwartakan NTD, (27/6/2024) para ahli dari European Southern Observatory percaya bahwa ini berarti lubang hitam sedang bangkit.
“Kali ini kita dapat mengamati keseluruhan proses (kebangkitan lubang hitam) dan memahami mekanisme fisik yang menyebabkan lubang hitam terbangun. Ini adalah penelitian yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” ujar Astronom ESO Paula Sánchez Saiz.
Sebelumnya, manusia telah melihat galaksi aktif atau lubang hitam yang tertidur. Ini adalah pertama kalinya proses kebangkitan lubang hitam yang diamati.
Massa lubang hitam raksasa ini 1 juta kali massa Matahari. Tim peneliti mengamati dengan cermat perubahan lubang hitam, berharap dapat mencatat detailnya dan menyimpulkan mekanisme kebangkitan lubang hitam.
Astronom Inggris, Anna Gammon-Ross: “Lubang hitam sangat sulit diamati karena daya tariknya sangat kuat, bahkan tidak memantulkan cahaya.”
Saat ini, komunitas astronomi memiliki pendapat berbeda mengenai apakah lubang hitam sedang bangkit atau tidak. Kebanyakan lebih memilih untuk mengamati dari dekat, namun beberapa orang percaya bahwa ini hanyalah peristiwa gangguan pasang surut di mana lubang hitam menelan sebuah bintang di galaksi. (Hui)
29 Negara Bergabung dalam Latihan Militer Lingkar Pasifik 2024 Guna Mencegah Tiongkok Menyerang Taiwan
NTD
Latihan Militer Lingkar Pasifik (Rim of the Pacific Exercise. RIMPAC) 2024 yang dipimpin AS diluncurkan di Hawaii dan perairan sekitarnya mulai 27 Juni. Beberapa analis percaya bahwa ini adalah latihan militer preventif yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya untuk mencegah Partai Komunis Tiongkok menyerang Taiwan dengan kekuatan.
Latihan militer Lingkar Pasifik merupakan latihan militer terbesar di dunia yang diadakan setiap dua tahun sekali dan memiliki sejarah 53 tahun sejak tahun 1971. Dibandingkan dengan barisan 38 kapal perang dari 26 negara pada RIMPAC sebelumnya (2022), skala latihan militer RMIPAC kali ini lebih besar.
Menurut siaran pers Angkatan Laut AS, 29 negara, 40 kapal permukaan, 3 kapal selam, 14 pasukan darat, lebih dari 150 pesawat tempur, dan lebih dari 25.000 orang perwira dan tentara berpartisipasi dalam latihan gabungan tahun ini. Latihan ini diperkirakan akan berlangsung hingga 1 Agustus.
Proyek latihan kali ini mencakup peperangan multi-domain dalam serangkaian skenario seperti peperangan anti-kapal selam, peperangan permukaan multi-kapal, pendaratan amfibi multinasional, dan “pertahanan multi-sumbu” kelompok penyerang kapal induk melawan pasukan bersenjata aktif.
Komandan pasukan gabungan latihan ini adalah Laksamana Madya John Wade, komandan Armada Ketiga AS. Ia dalam pidatonya di hari pertama latihan mengatakan bahwa tujuan latihan ini adalah untuk memperkuat kemampuan latihan bersama dari 29 negara. Tujuan utamanya adalah berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
Su Tzu-Yun, Asisten Profesor di Institut Urusan dan Strategi Internasional Universitas Tamkang, Taiwan mengatakan kepada Radio Free Asia, bahwa dilihat dari subjek, desain, dan isi latihannya, semua pihak percaya bahwa latihan ini dimaksudkan untuk mengirim sinyal ke Beijing demi mencegah mereka bertindak gegabah.
Hal penting dari latihan ini yang patut disorot adalah upaya menenggelamkan “Tarawa”, sebuah kapal serbu amfibi AS berbobot 40.000 ton dengan amunisi aktif milik militer AS. Kapal tersebut dikenal sebagai kapal induk semu di Amerika Serikat. Hal ini dianggap sebagai pembuktian kemampuan militer AS dan sekutunya dalam menyerang kapal serbu amfibi Partai Komunis Tiongkok, dan sebagai pratinjau untuk mengekang kapal serbu amfibi Partai Komunis Tiongkok melakukan serangan bersenjata ke Taiwan.
“Jika AS dan sekutunya dapat menenggelamkan kapal besar berbobot lebih dari 40.000 ton, itu berarti mereka juga memiliki kemampuan untuk menyerang kapal serbu amfibi atau kapal induk Partai Komunis Tiongkok, yang selanjutnya diharapkan dapat menghalangi Beijing untuk berpetualangan militer”, ujar Su Tzu-Yun juga menekankan, tujuan utama Amerika Serikat adalah untuk menyatukan mitra dan sekutunya dan dengan memperluas tindakannya untuk mengekang ambisi PKT. (sin)
Bala Bantuan Tersedia, Ukraina Serang 30 Fasilitas Energi Rusia
Yi Jing – NTD
Ukraina pada Senin (24 Juni)menyatakan telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 30 fasilitas energi Rusia.
Presiden Ukraina Zelensky: “Puji Ukraina!”
Pejabat intelijen Ukraina: “Puji para pahlawan!”
Pada Senin, Presiden Ukraina Zelensky memuji pasukan Ukraina karena berhasil menyerang lebih dari 30 kilang minyak, terminal, dan depot minyak Rusia.
Zelensky: “Rakyat Ukraina harus mengetahui dan berterima kasih kepada Anda karena telah ‘merusak’ potensi ekonomi Rusia untuk mendukung perang dan berdampak pada infrastruktur penyulingan minyak Rusia.”
Ukraina telah meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak Rusia tahun ini sebagai upaya untuk mengganggu pasokan minyak ke militer Rusia sekaligus membatasi kemampuan ekonomi Rusia mempertahankan perang.
Di garis depan, ketika senjata bantuan Barat secara bertahap tiba, tentara garis depan Ukraina akhirnya memiliki cukup peluru artileri setelah berbulan-bulan mengalami kekurangan amunisi.
Vasil, komandan unit operasi howitzer M-109 berkata: “Kami menggunakan bom pembakar, bom asap, ranjau, bom pembakar dengan daya ledak tinggi.”
Ketika ditanya peluru mana yang paling efektif, komandan unit menegaskan kekuatan amunisi tandan.
Vasil: “(Amunisi tandan) mencakup wilayah yang luas dan efektif terhadap kendaraan infanteri dan militer.”
Sehari sebelumnya, Rusia menuduh Ukraina menggunakan Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) yang disediakan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan ke Krimea. Rusia mengklaim lima rudal yang dicegat dilengkapi dengan hulu ledak cluster buatan Amerika Serikat.
Pada Senin, Rusia menuduh Amerika Serikat terlibat langsung dalam serangan dan secara resmi memperingatkan duta besar Amerika bahwa mereka akan membalas.
Pada hari yang sama, Rusia meluncurkan dua rudal balistik Iskander-M terhadap kota Pokrovsk di Ukraina timur, menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai lebih dari 40 orang.
Penduduk setempat Petro: “Anakku sudah meninggal, dia sudah meninggal.”
Penduduk setempat Andry: “Seluruh Pokrovsk hancur, semua sekolah hancur.”
Vadym Filashkin, gubernur Oblast Donetsk di Ukraina timur, mengatakan, “Ini adalah salah satu serangan musuh terbesar terhadap warga sipil dalam beberapa waktu terakhir.” (Hui)
Saking Panasnya, Suhu Permukaan Gunung Huoyan di Xinjiang Mencapai 81℃
NTD
Suhu di Kota Turpan, Xinjiang, terus meningkat dengan suhu di kawasan wisata Gunung Api di Turpan mencapai titik ekstrim. Pada 23 Juni, termometer di kawasan wisata mencatat suhu permukaan tanah mencapai 81℃.
Pada 22 Juni pukul 15:55, Biro Meteorologi Xinjiang mengeluarkan peringatan merah untuk suhu tinggi, memprediksi bahwa suhu maksimum di beberapa wilayah di bagian selatan Prefektur Tacheng, Kota Karamay, Kota Shihezi, Kota Turpan, dan daerah lainnya akan naik di atas 40℃ dari 23 Juni siang hingga 24 Juni siang dengan beberapa daerah di Kota Turpan dan Kota Hami mencapai di atas 45℃.
Pada 23 Juni pukul 15.35, termometer “lingkaran emas” raksasa di Area Pemandangan Gunung Api di Kota Turpan mengukur suhu tinggi 81°C.
Pada 24 Juni, staf di Flame Mountain Scenic Area mengungkapkan kepada Upstream News bahwa suhu 81°C adalah nyata dan merupakan suhu permukaan pada hari itu melebihi 40°C. Selama tidak ada angin dan tidak ada awan di langit, suhu di sini meningkat. Pada tahun-tahun sebelumnya, suhu seperti ini biasanya terjadi pada Agustus. Namun demikian, pada tahun ini suhu menjadi lebih ekstrem.
Pada 9 Juni, suhu permukaan yang dipantau untuk pertama kalinya di tempat pemandangan adalah 75°C. Pada 22 Juni, suhu permukaan melebihi 80°C untuk pertama kalinya suhu tertinggi pada tahun ini.
Seorang staf mengatakan bahwa waktu paling panas setiap hari adalah pukul 15.00 hingga 17.00 sore. Jika berjalan dengan memakai sepatu, kaki tidak akan terbakar, tetapi jika sol sepatu pengunjung tidak kuat, solnya akan menempel di jalanan. “Setiap tahun kami selalu menemukan sol sepatu yang tertinggal.”
Netizen di Tiongkok berkomentar, “Terlalu panas.” “Mengerikan.” “Sangat mengerikan, besok saya akan pergi ke sana. Membayangkannya saja sudah panas.” “Sepatu bisa rusak karena panas, saat sangat panas lemnya bisa meleleh.”
“Tuhan, panas sekali, siapa yang mau berwisata ke sana.” “Waktu saya pergi, suhunya 76 derajat Celcius. Sungguh, sebaiknya jangan keluar rumah, kulit bisa terbakar. Apakah lensa kontak saya akan meleleh langsung?” “Saya pernah ke sana sekali, mengingat panasnya saja membuat saya sesak napas.”
Gunung Api terletak di Distrik Gaochang, Kota Turpan, di Jalan Nasional 312, merupakan tempat terpanas di Tiongkok, dikenal dengan sebutan “Pulau Api”. Permukaan gunung di sekitarnya tidak ditumbuhi tanaman sama sekali dengan gelombang panas yang bergejolak di bawah sinar matahari. Suhu tertinggi pada musim panas bisa mencapai 47,8℃, dengan suhu permukaan di sisi selatan Gunung Api mencapai 82,3℃, cukup panas untuk memanggang telur di pasir. (Hui)
Kawanan Rusa Berenang Sejauh 2 Kilometer Hingga Berlari Liar Menuju Kota Saat Danau Dongting, Hunan, Tiongkok Meluap
Luo Tingting
Hujan lebat di Hunan, Tiongkok pada 24 Juni menyebabkan permukaan air Danau Dongting naik. Demi menghindari banjir, sejumlah besar rusa liar berenang sejauh 2 kilometer di dalamnya danau untuk masuk ke Kota Yueyang dan berkeliaran di jalanan.
Video yang beredar di internet menunjukkan permukaan air Danau Dongting meningkat, sebagian besar pantai danau terendam. Kawanan rusa berenang menuju pantai sambil berendam di air. Sejumlah rusa yang berhasil berenang, tiba di daratan. Kawanan hewan ini akhirnya memasuki kota dan berlarian di jalanan.
Luo, seorang warga Yueyang, yang memposting video tersebut, mengatakan kepada “Live TV” Tiongkok bahwa dia berjalan-jalan di dekat Danau Dongting sekitar pukul 06.00 pagi pada 24 Juni dan tiba-tiba mendengar suara rusa, ketika dia mendekat, dia menemukan sekelompok besar rusa di pantai.
Luo berkata bahwa oasis di danau tersebut adalah habitat rusa. Dikarenakan, hujan lebat yang terus menerus dalam beberapa hari terakhir, permukaan air Danau Dongting meningkat dan habitat rusa tersebut terendam banjir. Sehingga mereka datang ke darat. .
Dia melihat kawanan rusa berenang lebih dari dua kilometer dari danau. Jumlahnya diperkirakan mencapai enam puluh atau tujuh puluh ekor. Setelah rusa tersebut sampai ke darat, beberapa warga sekitar menggiring rusa tersebut ke suatu tempat untuk menjaganya. Rusa juga berenang menuju ke wilayah daratan di tempat lainnya di sepanjang Danau Dongting.
Luo menuturkan kawanan rusa mungkin ketakutan dan sekitar empat puluh atau lima puluh rusa berlari ke jalanan. “Kebanyakan dari mereka adalah anak rusa. Diperkirakan, ada rusa yang berbobot empat hingga lima ratus kilogram dan rusa yang lebih kecil berbobot lebih dari seratus kilogram. Orang-orangi tidak berani mendekat, khawatir kawanan rusa menyerang orang-orang.
Ia mengatakan, di masa lalu ada kasus rusa yang berenang ke darat karena habitatnya terendam banjir.
Staf dari Biro Pengelolaan Cagar Alam Danau Dongting Timur Hunan menjawab bahwa setelah menemukan rusa tersebut mendarat, staf dari departemen terkait bergegas ke lokasi kejadian untuk menangani situasi tersebut. Sekarang semua kawanan rusa tersebut telah mendarat.
Menurut pemberitaan media sebelumnya, banjir besar terjadi di Sungai Yangtze pada 1998. Beberapa rusa melarikan diri dari Cagar Alam Nasional Rusa Shishou di Provinsi Hubei. Di antara mereka, 26 rusa menyeberangi Sungai Yangtze dan kembali ke Ladang Buluh Sanheyuan di Danau Dongting, tempat tinggal nenek moyang mereka, membentuk populasi rusa liar alami di Sanheyuan.
10 rusa lainnya tiba di Cagar Alam Nasional Danau Dongting Timur di Hunan, membentuk populasi rusa liar alami Danau Dongting Timur. Sejauh ini, data pemantauan menunjukkan jumlah rusa mencapai 289 ekor. (Hui)
Masalah Ketahanan Pangan Kembali Terjadi di Tiongkok
James Gorie
Seperti yang saya bahas di postingan sebelumnya, “The Hollowing of China,” faktor-faktor makroekonomi yang penting di Tiongkok berubah menjadi negatif dengan suatu cara yang sangat berubah-ubah.
Beberapa di antaranya adalah hal-hal seperti Produk Domestik Bruto yang melambat, dan hal-hal lain yang menyertainya turunnya produktivitas per kapita, populasi menua yang semakin membebani perekonomian, dan generasi muda dengan angka pengangguran yang mungkin yang akan mendekati 50 persen.
Selain itu, banyak negara di dunia yang ingin memindahkan produksinya di luar Tiongkok menuju iklim-iklim bisnis yang lebih bersahabat, seperti di India dan Vietnam.
Sementara itu, para jutawan Tiongkok meninggalkan Tiongkok menuju Amerika Serikat dalam jumlah yang lebih besar daripada sebelumnya. Hal ini adalah perubahan besar dalam lanskap perekonomian yang tidak akan hilang dengan segera.
Krisis Ketahanan Pangan Kembali Terjadi
Namun, ada satu faktor makroekonomi penting lainnya yang dihadapi Tiongkok, yaitu: sedang membangkitkan hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu. Dengan meningkatnya ketegangan-ketegangan antara Tiongkok dengan negara pemasok biji-bijian utama di Barat, perang di Ukraina, dan meningkatnya gangguan rantai pasokan, Tiongkok sedang menghadapi potensi krisis ketahanan pangan yang lebih parah dibandingkan dengan krisis tersebut di masa lalu. Pada tahun 2022, untuk pertama kalinya sejak tahun 1989, Tiongkok menyaksikan protes-protes masyarakat melawan kelangkaan pangan.
Kekurangan pangan, kelaparan, dan bencana kelaparan telah menjadi mimpi buruk yang berulang kali terjadi di bawah kekuasaan Partai Komunis Tiongkok dan telah menjadi sumber utama ketidakstabilan politik dan sipil di masa lalu. Pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping sangat tajam menyadari bahaya politik yang dapat ditimbulkan dan diakibatkan oleh kekurangan ketahanan pangan dan membuat kekurangan ketahanan pangan menjadi prioritas utama rezimnya. Antara 2000 hingga 2020, rasio swasembada pangan di Tiongkok menurun dari 93,6 persen menjadi 65,8 persen.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan kerawanan pangan di Tiongkok. Sebagian besar pada dasarnya secara struktural—–atau dipengaruhi oleh kebijakan. Misalnya, bencana kelaparan telah memainkan peran yang bermakna dan berulang di dalam kekayaan Tiongkok sepanjang sejarah dan bahkan di era modern.
Salah satu faktor struktural utama untuk hal tersebut adalah geografi yang sederhana. Tiongkok harus menyediakan pangan untuk sekitar 20 persen populasi dunia dengan di mana Tiongkok hanya memiliki sekitar 10 persen lahan subur dunia dan hanya memiliki 6 persen sumber daya air dunia–—hal-hal tersebut merupakan faktor-faktor yang abadi dan berat.
Kebodohan Ideologis dan Bencana Alam Memainkan Peran-Perannya
Namun, ada juga faktor-faktor kebijakan, yang dapat dianggap struktural, tergantung bagaimana anda ingin melihatnya, tetapi tentu saja bersejarah di dalam dampak-dampak jangka panjangnya.
Selama periode Lompatan Jauh ke Depan dari tahun 1958 hingga 1962, Partai Komunis Tiongkok menerapkan praktik pertanian yang tidak efisien pada para petani yang sukses, yang mencakup kolektivisasi secara paksa, menyingkirkan atau bahkan melenyapkan petani “borjuis” yang tahu bagaimana memanfaatkan lahan secara maksimal, dan kesalahan alokasi lahan dan sumber daya secara keseluruhan. Kekurangan pangan adalah akibat kebijakan bodoh Partai Komunis Tiongkok.
Produksi pangan semakin terkena akibat dampak banjir dan kekeringan pada tahun 1960 hingga 1961, yang menyebabkan Kelaparan Besar, yang menyebabkan puluhan juta kematian akibat kelaparan. Ini adalah kelaparan terburuk di zaman modern.
Kembalinya Kepemilikan Tanah Pribadi dan Perubahan Selera
Pada akhir tahun 1970-an, pemimpin Partai Komunis Tiongkok Deng Xiaoping mulai melonggarkan mandat-mandat pertanian kolektif. Ia memulihkan kepemilikan tanah pribadi dan bahkan mengizinkan petani-petani menjual kelebihan hasil panen. Membiarkan motif keuntungan kembali ke pertanian yang menyebabkan efisiensi yang lebih besar, produksi pangan yang lebih banyak, dan perluasan-perluasan pertanian.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi faktor negatif di dalam tantangan-tantangan produksi pangan Tiongkok.
Saat ini, Tiongkok bergantung pada sumber eksternal untuk memberi makan penduduknya. Salah satu alasannya adalah bahwa kelas menengah lebih menyukai pola makan yang lebih banyak daging, gula, dan olahan biji-bijian daripada pola makan tradisional yang mengutamakan sayuran. Padahal, sejak tahun 1990, konsumsi daging meningkat tiga kali lipat di Tiongkok. Alasan lainnya adalah basis pertanian Tiongkok menjadi kurang produktif.
Kehilangan Lahan Garapan, Petani-Petani, dan Kepercayaan Terhadap Pangan Dalam Negeri
Tiongkok sedang kehilangan banyak lahan subur akibat polusi dan terlalu sering digunakan. Pada tahun 2021, sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada akhir tahun 2019, total luas lahan subur di Tiongkok sekitar 490.000 mil persegi, turun hampir 6 persen total luas lahan subur pada dekade sebelumnya, menurut data resmi.
Selain itu, keamanan pangan merupakan kekhawatiran utama di kalangan masyarakat Tiongkok. Banyak yang tidak percaya pada makanan yang diproduksi di dalam negeri karena banyaknya skandal makanan beracun yang tersedia di masyarakat. Konsumen Tiongkok sebagian besar lebih menyukai makanan luar negeri karena mereka percaya produk luar negeri adalah lebih aman.
Terlebih lagi, generasi muda Tiongkok, khususnya lulusan baru, juga memilih kehidupan perkotaan yang lebih menguntungkan dan menarik serta pekerjaan dengan gaji yang lebih baik jika bisa mereka dapatkan, sementara Beijing berusaha mendorong mereka untuk bekerja di pedesaan.
Sementara itu, para petani yang lebih tua sudah pensiun. Artinya, terjadi kekurangan tenaga kerja di bidang pertanian, angkutan truk, dan industri terkait lainnya dari dua populasi itu. Hal itu adalah perubahan yang tidak akan mudah berbalik dengan sendirinya dan akan secara langsung berdampak pada produktivitas dan distribusi pertanian.
Importir Pangan Terbesar di Dunia
Karena alasan ini dan alasan lainnya, Tiongkok kini sangat bergantung pada sumber-sumber pangan asing. Tiongkok adalah importir jagung terbesar di dunia, yang mengimpor lebih dari 28 juta metrik ton jagung pada 2021, meningkat 152 persen dibandingkan tahun 2020, menurut data resmi. Tiongkok juga mengimpor produk-produk pertanian senilai U$D 42 miliar dari Amerika Serikat saja pada 2022.
Namun selain menjadi importir produk pertanian terbesar di dunia, Tiongkok juga membeli lahan pertanian di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat dan negara-negara di Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.
Partai Komunis Tiongkok sangat menyadari sifat alam dunia yang berubah-ubah serta bagaimana peristiwa dan ketegangan internasional dapat berdampak langsung terhadap ketahanan pangan Tiongkok. Awalnya, perang Rusia-Ukraina menyebabkan perubahan naik turun harga dan pasokan pangan secara cepat dalam periode waktu pendek di Tiongkok dan menyebabkan ketahanan pangan menjadi fokus yang lebih tajam bagi para perencana Partai Komunis Tiongkok.
Laporan Gandum Palsu dan Pejabat yang Korup
Untuk menambah permasalahannya, para pejabat provinsi, dan bahkan pejabat yang berada di tingkat yang lebih tinggi, diketahui sangat korup. Para petani melaporkan produksi biji-bijian secara berlebihan untuk menghindari hukuman. Angka-angka palsu itu kemudian menjadi dokumen perencanaan yang resmi, yang meremehkan perencanaan kebijakan dan efektivitas pelaksanaan. Hal ini menjadi masalah endemik di Partai Komunis Tiongkok yang berbasis korupsi. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya pemberantasan korupsi telah mengakibatkan penangkapan ratusan pejabat di dalam sistem cadangan biji-bijian Tiongkok baik di tingkat lokal maupun pusat.
Untuk mengatasi kerentanan dalam ketahanan pangan Tiongkok, Badan Pangan Nasional dan Administrasi Cadangan Strategis telah dengan tekun mengembangkan cadangan biji-bijian Tiongkok, yang kini diduga berada pada tingkat rekor. Ini merupakan indikasi betapa seriusnya keamanan pangan bagi Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok. Para pejabat Tiongkok sepenuhnya memahami bahwa posisi kekuasaan dan hak istimewa mereka pada akhirnya bergantung pada makanan yang tersimpan di dalam perut 1,4 miliar orang yang mereka kuasai. (vv)
James R. Gorrie adalah penulis “The China Crisis” (Wiley, 2013) dan menulis di blognya, TheBananaRepublican.com. Ia tinggal di California Selatan.
Ratusan WN Asing yang Diduga Melakukan Kejahatan Dunia Maya Tertangkap di Bali
NTD
Pihak imigrasi melakukan penggerebekan terhadap sebuah vila di Bali dan menangkap ratusan WN Asing yang diduga melakukan kejahatan dunia maya. 14 orang di antaranya adalah warga Taiwan. Pejabat imigrasi menyatakan bahwa pihaknya telah menyita beberapa komputer dan ponsel, mereka dicurigai merupakan kelompok yang terlibat dalam kejahatan dunia maya, dan saat ini sedang menjalani pengusutan.
Otoritas Imigrasi menyatakan bahwa mereka melakukan penggerebekan di sebuah vila yang terletak di Desa Kukuh, Kecamatan Tabanan, Bali pada Rabu (26 Juni) dan menangkap 103 orang warga asing, termasuk 91 orang laki-laki dan 12 orang perempuan.
Dirjen Imigrasi Silmy Karim mengatakan dalam pernyataannya pada 27 Juni, bahwa Kantor Imigrasi Bali sejak kemarin telah memantau sebuah vila dan hingga sore harinya baru dapat memastikan bahwa di dalamnya terdapat banyak warga asing, yang diduga melakukan kejahatan siber dan pelanggaran keimigrasian. Atas dasar itu mereka dibawa untuk menjalani pengusutan.
“(Dari 103 WNA tersebut), 14 orang merupakan warga negara Taiwan, sedangkan satu lainnya belum dapat ditentukan identitasnya, saat ini sedang didalami”, ujarnya.
Dari foto-foto yang dikirim oleh pihak berwenang menunjukkan, bahwa puluhan tahanan terbaring di tepi kolam dengan kedua tangan memegangi kepala dan samping vila tiga lantai.
Silmy Karim menambahkan, Petugas Imigrasi telah menyita sejumlah laptop dan ponsel di lokasi penangkapan kelompok WNA tersebut, dan ditahan sebagai barang bukti. Dan ke-103 orang WNA tersebut untuk sementara ditempatkan di Rutan sambil menunggu penyidikan.
Direktorat Jenderal Imigrasi berencana melanjutkan operasi bersama untuk memantau warga asing di Bali. Langkah ini bertujuan untuk memastikan orang asing yang tinggal di pulau tersebut mematuhi peraturan dan menjaga ketertiban dan keamanan. (sin)









