Dugaan Keracunan Akibat Air Ledeng di Provinsi Henan, Tiongkok Menyebabkan Rumah Sakit Kewalahan, Warga Borong Air Kemasan

Pada 20 Mei, Kabupaten Weishi di Kaifeng, Henan, Tiongkok mengalami insiden keracunan massal yang diduga terkait air ledeng. Banyak warga dan siswa sekolah mengalami muntah, diare, sakit kepala, serta tubuh lemas. Rumah sakit setempat penuh sesak, sementara warga berebut membeli air galon dan air kemasan, memicu kepanikan luas.

EtIndonesia. Baru-baru ini, banyak warga Weishi mengunggah video yang menunjukkan orang dewasa maupun siswa sekolah mengalami muntah, diare, sakit kepala, dan kelelahan. Mereka menduga ada masalah pada kualitas air ledeng.

Beberapa video memperlihatkan air keran berwarna kuning, keruh, dan kental. Sejumlah besar warga memadati unit gawat darurat rumah sakit. Dalam semalam, semua rumah sakit dipenuhi pasien rawat jalan. Warga juga terlihat mengantri mengambil air di kompleks perumahan dan memborong air galon di supermarket.

Pada 20 Mei, seorang warga bermarga Niu mengatakan kepada media daratan Tiongkok Jiupai News bahwa di rumahnya terdapat dua orang dewasa dan satu anak. Mereka tidak makan makanan aneh dan makan seperti biasa, tetapi pada malam 19 Mei ia dan anaknya mengalami sakit perut dan diare, sementara suaminya tidak mengalami gejala.

Saat pergi ke rumah sakit, ia melihat bukan hanya anak-anak, tetapi juga banyak orang dewasa yang mengantri pemeriksaan. Ia mengatakan bahwa sejak malam sebelumnya air telah diputus, sehingga kini memasak hanya menggunakan air mineral galon.

Warga lain bermarga Song juga mengalami muntah. Hasil pemeriksaan rumah sakit menunjukkan adanya kadar bakteri berlebih dan keracunan makanan.

Pada 20 Mei, seorang staf rumah sakit di Weishi mengatakan bahwa sejak pagi banyak orang datang untuk diperiksa. Gejala tiap pasien berbeda-beda; ada yang muntah dan ada yang diare. Rumah sakit telah menambah staf untuk pemeriksaan, tetapi penyebab pasti masih belum diketahui. Ia menduga kemungkinan air hujan masuk ke dalam pipa air ledeng.

Hari itu juga, tim investigasi gabungan Kabupaten Weishi mengumumkan bahwa pada malam 19 Mei, sejumlah warga kota mengalami muntah dan diare sehingga pergi ke rumah sakit dan klinik untuk berobat. Setelah perawatan, gejala mereka berangsur membaik. Sampel terkait telah dikirim untuk diperiksa. Hingga 21 Mei, pihak berwenang belum mengumumkan penyebab resmi kejadian tersebut.

Warga setempat ramai meninggalkan komentar:

  • “Ini terjadi di kompleks perumahan di Weishi. Air ledeng tercemar dan sekarang air diputus. Seluruh keluarga kami keracunan, muntah dan diare. Banyak siswa juga mengalami hal yang sama. Semua orang membeli air untuk memasak, bahkan harus mencari air ke luar. Semoga pihak atas segera menyelidiki penyebabnya, ini terlalu menakutkan.”
  • “Saat saya pergi infus, saya melihat banyak orang membeli air lalu saya ikut membeli. Saya dan anak saya juga korban. Kami baru pulang dari rumah sakit jam 2 pagi. Rumah sakit penuh, bahkan tengah malam masih harus antre. Sampai sekarang air belum menyala, seluruh kabupaten mati air, jadi terpaksa membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Air galon dan air botolan di supermarket juga habis diborong.”
  • “Dua hari lalu diumumkan seluruh kabupaten akan mati air. Banyak siswa di sekolah muntah dan diare massal, diduga kualitas air bermasalah.”
  • “Airnya kuning seperti bir, berbusa, bahkan ada serpihan hitam mengambang di dalamnya!”
  • “Saya cuma mau cuci muka, tapi yang keluar dari keran seperti kecap.”
  • “Apakah ada yang meracuni air? Semua orang muntah dan diare.”
  • “Sekarang hampir seluruh warga Weishi, baik siswa maupun orang dewasa, mengalami muntah dan diare!”
  • “Ada apa dengan Weishi? Dalam semalam semua rumah sakit penuh pasien. Orang-orang muntah, diare, demam tak kunjung turun, antrean terus berlanjut.”
  • “Anak saya masih kecil dan minum susu formula. Air selalu disaring lalu direbus sebelum digunakan, bahkan tidak pernah minum air mentah, tapi tetap terkena. Ia muntah, diare, dan demam. Tadi malam bahkan tidak bisa minum air maupun obat sehingga tengah malam harus dibawa ke rumah sakit untuk disuntik.”
  • “Sudah lebih dari 30 jam mati air! Mau ke toilet saja susah, tempat umum antre panjang. Harus bagaimana sekarang…”
  • “Kami harus antri mengambil air, orangnya banyak sekali. Hidup sekarang terlalu sulit, cari uang susah, kesehatan dan keamanan juga tidak terjamin.”
  • “Berapa banyak lagi warga yang harus jadi korban karena air ledeng Weishi sebelum masalah ini berhenti? Sekarang malah menyebabkan pemadaman air…”
  • “Air ledeng Weishi bermasalah. Hari ini listrik dan air mati. Jalanan kosong tanpa kendaraan, rasanya seperti kiamat.”

Disusun oleh reporter Li Enzhen / Xia He – NTDTV.com

Putin Terbang ke Beijing Usai Trump, Tapi Hasil Pertemuannya Justru Bikin Kremlin Gelisah

EtIndonesia. Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Tiongkok pada 19–20 Mei 2026 langsung menjadi sorotan dunia internasional. Kunjungan tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan lawatan kenegaraannya ke Beijing.

Rombongan Rusia kali ini disebut sebagai salah satu delegasi terbesar dan paling mewah sepanjang sejarah hubungan Rusia–Tiongkok. Kremlin membawa jajaran pejabat tinggi, pelaku industri energi, diplomat senior, hingga tokoh ekonomi strategis dalam upaya memperkuat kerja sama bilateral dengan Beijing.

Namun setelah seluruh agenda berakhir pada 20 Mei 2026, banyak analis menilai hasil kunjungan itu justru menunjukkan kenyataan yang berbeda dari kemegahan protokol penyambutan yang dipamerkan Beijing.

Di atas panggung diplomasi, hubungan kedua negara tampak sangat erat. Akan tetapi, di balik simbol persahabatan tersebut, Rusia dinilai gagal memperoleh hasil konkret yang paling dibutuhkan Moskow, terutama terkait proyek energi strategis dan dukungan ekonomi jangka panjang.

Putin Disambut Megah, tetapi Gagal Membawa Pulang Kesepakatan Energi Besar

Dalam pertemuan resmi bersama Xi Jinping, Putin kembali menggunakan bahasa yang sangat hangat. Ia menyebut Xi sebagai “sahabat terkasih” dan bahkan mengutip pepatah Tiongkok:

“Sehari tidak bertemu terasa seperti tiga musim gugur.”

Sementara itu, Xi Jinping menyebut Putin sebagai “teman lama” dan menegaskan bahwa hubungan strategis kedua negara terus mengalami pendalaman.

Kedua pemimpin juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap:

  • kerja sama strategis jangka panjang,
  • perlawanan terhadap dominasi Barat,
  • penguatan “dunia multipolar”,
  • serta koordinasi politik global antara Moskow dan Beijing.

Sejumlah dokumen kerja sama memang ditandatangani selama kunjungan tersebut, termasuk:

  • perpanjangan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Tiongkok–Rusia,
  • peningkatan koordinasi strategis,
  • kerja sama ekonomi tertentu,
  • serta penguatan komunikasi geopolitik kedua negara.

Namun proyek paling penting yang diburu Rusia justru kembali gagal mencapai titik terang.

Proyek “Power of Siberia 2” Masih Mandek

Fokus utama Rusia sebenarnya adalah proyek pipa gas alam “Power of Siberia 2”, sebuah proyek raksasa yang sangat penting bagi masa depan ekspor energi Rusia setelah pasar Eropa semakin tertutup akibat perang Ukraina dan sanksi Barat.

Melalui proyek ini, Rusia berharap dapat mengalihkan sebagian besar ekspor gas alamnya ke pasar Tiongkok.

Namun hingga akhir pertemuan, tidak ada terobosan berarti.

Menurut laporan Reuters yang mengutip pejabat Kremlin, hingga kini:

  • jadwal pembangunan proyek masih belum jelas,
  • harga gas belum disepakati,
  • dan berbagai detail teknis penting lainnya juga masih tertunda.

Dengan kata lain, Putin memperoleh sambutan politik yang megah, tetapi gagal mendapatkan kesepakatan energi besar yang sangat dibutuhkan Rusia di tengah tekanan ekonomi dan perang berkepanjangan.

Kontras dengan Pertemuan Trump–Xi

Banyak pengamat kemudian membandingkan hasil kunjungan Putin dengan pertemuan Trump–Xi yang berlangsung beberapa hari sebelumnya di Beijing.

Walaupun hubungan Washington dan Beijing dipenuhi persaingan strategis, kedua pihak setidaknya berhasil menghasilkan beberapa kesepakatan awal yang lebih konkret di bidang ekonomi, antara lain:

  • kerja sama produk pertanian,
  • pembelian pesawat Boeing,
  • pembentukan jalur negosiasi perdagangan baru,
  • serta pembahasan mekanisme investasi bilateral.

Sebaliknya, dalam pertemuan Putin–Xi, dokumen politik memang sangat banyak, tetapi hampir tidak ada hasil ekonomi besar yang benar-benar mengubah posisi Rusia.

Situasi inilah yang membuat banyak analis menilai hubungan Rusia–Tiongkok kini semakin tidak seimbang.

Trump Meremehkan Pertemuan Putin–Xi

Pada 20 Mei 2026, Donald Trump turut menanggapi pertemuan antara Xi Jinping dan Vladimir Putin.

Trump mengatakan bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan kedua pemimpin tersebut. Namun ia juga secara tersirat meremehkan arti penting kunjungan Putin ke Beijing.

Trump menyindir bahwa dirinya telah melihat upacara penyambutan Rusia di Beijing, tetapi menurutnya, kunjungan yang ia lakukan sebelumnya ke Tiongkok memiliki:

“Skala dan kemegahan yang jauh lebih besar.”

Pernyataan tersebut langsung memicu diskusi luas di media internasional mengenai persaingan pengaruh global antara Washington, Moskow, dan Beijing.

Laporan Financial Times Picu Spekulasi Besar

Situasi menjadi semakin sensitif setelah Financial Times melaporkan bahwa dalam pertemuan Trump–Xi sebelumnya, Xi Jinping diduga sempat menyampaikan pandangan pribadi mengenai perang Ukraina.

Menurut laporan tersebut, Xi disebut mengatakan kepada Trump bahwa suatu hari nanti Putin mungkin akan menyesali invasi Rusia ke Ukraina dan harus membayar harga mahal atas perang tersebut.

Walaupun Beijing maupun Trump sama-sama membantah laporan itu, sejumlah analis menilai isi laporan tersebut tetap mencerminkan realitas penting dalam hubungan Rusia–Tiongkok.

Analis politik Zhang Tianliang menilai bahwa:

  • Beijing sebenarnya tidak benar-benar yakin Rusia akan menang dalam perang Ukraina,
  • dan Tiongkok juga tidak bersedia mempertaruhkan kepentingan fundamentalnya demi membantu Moskow sepenuhnya.

Beijing Dinilai Memanfaatkan Rusia demi Kepentingannya Sendiri

Di permukaan, Tiongkok dan Rusia terus menampilkan citra “koordinasi strategis tanpa batas”.

Namun banyak pengamat internasional melihat hubungan itu kini lebih bersifat pragmatis.

Xi Jinping dinilai memanfaatkan Rusia sebagai:

  • penyeimbang tekanan Amerika Serikat,
  • pemasok energi murah,
  • sekaligus alat geopolitik untuk mengganggu dominasi Barat.

Tetapi Beijing dianggap belum pernah menunjukkan tanda siap ikut menanggung risiko besar perang bersama Rusia.

Beberapa pengamat bahkan menyimpulkan:

“Tiongkok bukan sedang menyelamatkan Rusia. Beijing hanya sedang membeli minyak murah Rusia, sumber daya diskon, ketergantungan politik, dan tetangga yang semakin sulit berkata tidak.”

Media Rusia Mulai Terbuka Mengkritik Ketimpangan Hubungan

Menariknya, kritik paling tajam justru datang dari media dan komentar publik di Rusia sendiri.

Banyak komentar menyoroti perbedaan mencolok antara kunjungan Trump dan Putin ke Beijing:

  • Trump mendapat kunjungan kenegaraan selama tiga hari,
  • sementara Putin hanya melakukan kunjungan singkat sekitar satu hari,
  • dan dilakukan tepat setelah Trump meninggalkan Tiongkok.

Bagi sebagian media Rusia, hal itu menunjukkan bahwa Beijing kini menjadi pusat permainan diplomasi global, sementara Moskow semakin berada dalam posisi mengikuti ritme yang ditentukan Tiongkok.

Ketimpangan ekonomi kedua negara juga semakin jelas:

  • sekitar 30% perdagangan luar negeri Rusia kini bergantung pada Tiongkok,
  • tetapi Rusia hanya menyumbang sekitar 4% perdagangan luar negeri Tiongkok.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan Rusia terhadap Beijing jauh lebih besar dibanding ketergantungan Beijing terhadap Moskow.

Komentar-komentar di internet Rusia bahkan mulai bernada sinis:

  • dulu Uni Soviet membantu membangun industri Tiongkok,
  • kini warga Rusia justru ramai belajar bahasa Mandarin,
  • dulu Rusia menentukan harga gas,
  • sekarang Tiongkok membeli energi Rusia dengan diskon besar,
  • dulu Rusia bangga pada industri otomotif dan penerbangannya,
  • kini pasar Rusia dipenuhi produk-produk Tiongkok.

Salah satu komentar yang banyak dikutip berbunyi:

“Persaudaraan Rusia–Tiongkok memang masih ada. Tetapi sekarang sang kakak bukan lagi Moskow, melainkan Beijing.”

Tekanan Perang Ukraina Terus Membesar

Di saat hubungan dengan Beijing semakin tidak seimbang, tekanan militer terhadap Rusia juga terus meningkat.

Pada pertengahan Mei 2026, wilayah Moskow mengalami salah satu serangan drone terbesar sejak perang Rusia–Ukraina dimulai pada tahun 2022.

Sejumlah fasilitas kilang minyak di Rusia bagian tengah dilaporkan:

  • menghentikan operasi,
  • mengurangi kapasitas produksi,
  • atau mengalami gangguan logistik.

Situasi ini menunjukkan bahwa perang kini mulai merambah jauh ke wilayah belakang Rusia.

Ancaman terbesar bagi Kremlin saat ini bukan hanya garis depan perang, tetapi juga:

  • fasilitas energi strategis,
  • jalur logistik belakang,
  • dan infrastruktur penting Rusia yang semakin rentan terhadap serangan jarak jauh.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan menyatakan bahwa dirinya telah menyetujui rencana operasi jarak jauh baru untuk bulan Juni 2026.

Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina dilaporkan terus memperluas serangan terhadap:

  • Armada Laut Hitam Rusia,
  • fasilitas militer,
  • kapal perang,
  • hingga kemampuan peluncuran rudal jelajah Kalibr milik Moskow.

Putin Masih Berharap Bertemu Trump di APEC Shenzhen

Di tengah tekanan perang dan meningkatnya isolasi internasional, Putin juga menyampaikan bahwa dirinya bersedia menghadiri KTT APEC yang direncanakan berlangsung di Shenzhen pada musim gugur 2026.

Kremlin bahkan menyebut bahwa apabila Donald Trump turut hadir, maka peluang pertemuan langsung Trump–Putin tetap terbuka.

Pernyataan tersebut dianggap penting karena menunjukkan bahwa Rusia masih berusaha menjaga jalur komunikasi dengan Washington, meskipun hubungan kedua negara terus berada dalam ketegangan tinggi.

Rusia Dinilai Semakin Kehilangan Posisi Tawar Mandiri

Banyak analis internasional menyimpulkan bahwa situasi geopolitik saat ini semakin memperlihatkan perubahan besar dalam hubungan Rusia–Tiongkok.

Di masa lalu, Moskow pernah menjadi kekuatan dominan yang membantu pembangunan industri Tiongkok.

Namun kini, kondisi justru berbalik:

  • Rusia semakin bergantung pada pasar Tiongkok,
  • semakin membutuhkan investasi Beijing,
  • dan semakin sulit mempertahankan posisi tawar independennya sendiri.

Kunjungan Putin ke Beijing pada 19–20 Mei 2026 akhirnya dipandang sebagai simbol perubahan besar tersebut:  megah secara protokol, tetapi minim hasil nyata bagi Rusia. (***)

“Apakah Amerika Akan Membela Taiwan?” — Satu Pertanyaan Xi Jinping dan Jawaban Trump

EtIndonesia. Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026 kini memunculkan perhatian besar dunia internasional, khususnya terkait masa depan Taiwan dan kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat jika konflik benar-benar pecah di Selat Taiwan.

Dalam rangkaian kunjungan resmi tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai isu strategis global, mulai dari konflik Iran, hubungan Rusia–Tiongkok, hingga sengketa perdagangan antara Washington dan Beijing. Namun di balik seluruh agenda diplomatik itu, satu topik justru menjadi pusat perhatian publik internasional, yaitu persoalan Taiwan.

Xi Jinping Ajukan Pertanyaan Langsung yang Sangat Jarang Terjadi

Sebelum meninggalkan Beijing, Trump sempat memberikan keterangan kepada wartawan mengenai isi pembicaraannya dengan Xi Jinping. Dalam wawancara tersebut, Trump mengungkapkan bahwa Xi pernah secara langsung menanyakan kepadanya:

“Apakah Amerika Serikat akan mengirim pasukan untuk membela Taiwan?”

Trump tidak memberikan jawaban tegas. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya tidak ingin membahas persoalan tersebut dan kemudian melewati topik itu tanpa penjelasan lebih lanjut.

Meski singkat, percakapan tersebut langsung memicu gelombang analisis dari para pengamat geopolitik internasional. Banyak pihak menilai bahwa pertanyaan Xi Jinping bukan sekadar pertanyaan biasa dalam diplomasi, melainkan sinyal serius mengenai kalkulasi strategis Beijing terhadap Taiwan.

Dalam sejarah hubungan Tiongkok–Amerika modern, hampir tidak pernah ada pemimpin Tiongkok yang secara terbuka dan langsung menanyakan kepada presiden Amerika apakah Washington akan turun tangan secara militer untuk membela Taiwan.

Karena itulah, pertanyaan Xi dianggap memiliki makna politik dan militer yang sangat dalam.


Dua Makna Besar di Balik Pertanyaan Xi Jinping

1. Beijing Dinilai Memang Memiliki Skenario Militer terhadap Taiwan

Banyak pengamat menilai bahwa pertanyaan Xi Jinping menunjukkan satu hal penting: Beijing memang sedang mempertimbangkan opsi militer terhadap Taiwan.

Logikanya sederhana. Jika Tiongkok sama sekali tidak memiliki niat menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan, maka pertanyaan mengenai apakah Amerika akan ikut campur tentu tidak akan menjadi perhatian utama.

Situasi ini sangat berbeda dibanding era mantan pemimpin Tiongkok seperti Hu Jintao maupun Jiang Zemin. Pada masa mereka, isu invasi terhadap Taiwan belum menjadi prioritas strategis utama Beijing.

Selain itu, kemampuan militer Tiongkok ketika itu juga masih jauh tertinggal dibanding kekuatan militer Amerika Serikat dan sekutunya.

Pada era 1990-an misalnya, salah satu kapal perang tercanggih milik Tiongkok hanyalah kapal perusak kelas Sovremenny buatan Rusia. Angkatan udaranya juga hanya memiliki sekitar 30–40 pesawat tempur Su-27.

Dengan kekuatan tersebut, banyak analis menilai Tiongkok saat itu bahkan belum tentu mampu mengalahkan Taiwan dalam perang terbuka, apalagi jika harus menghadapi gabungan kekuatan Amerika Serikat, Jepang, dan Taiwan sekaligus.

Namun situasinya berubah drastis sejak Xi Jinping mulai berkuasa pada tahun 2013.


Xi Jinping Dinilai Paling Keras terhadap Taiwan

Sejak awal kepemimpinannya, Xi Jinping memang dikenal memiliki sikap paling keras terhadap Taiwan dibanding seluruh pemimpin modern Tiongkok sebelumnya.

Pada awal masa pemerintahannya, Xi pernah mengatakan bahwa:

“Perbedaan politik tidak boleh diwariskan dari generasi ke generasi.”

Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Beijing tidak ingin status quo Taiwan berlangsung tanpa batas waktu.

Kemudian pada tahun 2018, ketika bertemu Menteri Pertahanan AS saat itu, Jim Mattis, Xi kembali menegaskan:

“Wilayah yang diwariskan leluhur tidak boleh hilang walau satu inci pun.”

Sikap itu semakin dipertegas pada tahun 2019 dalam pidato peringatan 40 tahun “Pesan kepada Rekan Sebangsa di Taiwan”. Dalam pidato tersebut, Xi secara terbuka menyatakan bahwa Beijing tidak akan meninggalkan opsi penggunaan kekuatan militer untuk menyatukan Taiwan dengan Tiongkok.

Banyak analis menilai bahwa sejak saat itu, isu Taiwan telah menjadi bagian inti dari agenda politik Xi Jinping.


Modernisasi Militer Tiongkok Berlangsung Sangat Cepat

Selama lebih dari satu dekade terakhir, Tiongkok juga terus mempercepat pembangunan kekuatan militernya.

Kapal induk Liaoning dan Shandong kini telah aktif bertugas, sementara kapal induk Fujian sudah memasuki tahap uji coba laut. Dengan demikian, Tiongkok perlahan mulai membentuk armada tiga kapal induk yang sebelumnya hanya dimiliki negara-negara adidaya besar.

Selain itu, Angkatan Laut Tiongkok juga memperkuat armadanya dengan:

  • sekitar 10 kapal perusak Type 055,
  • lebih dari 20 kapal perusak Type 052D,
  • serta peningkatan besar pada kekuatan rudal dan sistem antiakses regional.

Dalam beberapa tahun terakhir, kapal perang Tiongkok juga semakin sering melakukan latihan jauh hingga melewati “rantai pulau pertama”, mendekati Guam, bahkan wilayah sekitar Hawaii.

Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Beijing kini semakin percaya diri menantang dominasi militer Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.


Hambatan Terbesar Beijing Tetap Amerika Serikat

Meski demikian, banyak pengamat menilai bahwa memiliki niat menyerang Taiwan dan benar-benar mampu melakukannya adalah dua hal yang sangat berbeda.

Hambatan terbesar Beijing tetap sama: kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat.

Mantan jenderal Angkatan Udara Tiongkok, Liu Yazhou, pernah secara terbuka memperingatkan risiko besar perang Taiwan.

Dalam analisisnya mengenai Pertempuran Kinmen, Liu menulis:

“Bukan Taiwan saja yang mempertahankan Taiwan, melainkan seluruh dunia Barat.”

Ia juga memperingatkan bahwa jika perang pecah di Selat Taiwan, maka Amerika Serikat dan Jepang hampir pasti akan ikut campur secara militer.

Ironisnya, Liu Yazhou yang dikenal memiliki pandangan cukup realistis mengenai kemampuan militer Tiongkok kini justru dipenjara dan tersingkir dari lingkaran kekuasaan Xi Jinping.

Namun pandangannya tetap dianggap mencerminkan kekhawatiran banyak elite militer Tiongkok.


Xi Jinping Dinilai Percaya Trump Bisa Benar-Benar Berperang

Makna kedua di balik pertanyaan Xi Jinping kepada Trump adalah kemungkinan bahwa Beijing benar-benar percaya Trump mungkin akan mengirim pasukan untuk membela Taiwan.

Dalam logika strategi militer, seseorang biasanya hanya akan menanyakan kemungkinan tindakan lawan jika ia menganggap ancaman tersebut benar-benar realistis.

Karena itulah, banyak analis percaya Xi sedang mencoba membaca sikap asli Trump.

Terlebih lagi, sejak kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Trump dipandang menunjukkan pendekatan yang jauh lebih keras dalam berbagai isu internasional.

Beijing menilai Trump sebagai pemimpin yang relatif lebih berani menggunakan kekuatan militer dibanding banyak presiden Amerika sebelumnya.

Hal itu juga menjelaskan mengapa Xi Jinping tidak pernah mengajukan pertanyaan serupa kepada pemimpin Eropa seperti Keir Starmer maupun Emmanuel Macron.

Menurut kalkulasi Beijing, Inggris maupun Prancis kemungkinan besar tidak akan mengirim pasukan langsung jika perang Taiwan benar-benar terjadi.

Sebaliknya, Amerika Serikat dipandang sebagai faktor penentu utama.


Strategi Ambigu Amerika Masih Dipertahankan

Hingga saat ini, pemerintahan Trump masih mempertahankan apa yang dikenal sebagai “strategi ambigu” terhadap Taiwan.

Artinya, Washington sengaja tidak pernah memberikan jawaban pasti apakah akan membela Taiwan secara militer atau tidak.

Strategi ini telah lama menjadi bagian dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Taiwan. Tujuannya adalah menciptakan ketidakpastian strategis agar Beijing tidak berani mengambil langkah militer secara gegabah.

Dengan kata lain, inti persoalannya bukan apakah Trump benar-benar akan mengirim pasukan atau tidak.

Yang jauh lebih penting adalah:

apakah Xi Jinping percaya bahwa Amerika Serikat mungkin akan ikut perang?

Selama Beijing masih menganggap peluang intervensi Amerika cukup besar — bahkan sedikit di atas 50 persen — maka risiko menyerang Taiwan akan tetap sangat tinggi.


Operasi Militer AS Jadi Faktor Psikologis bagi Beijing

Beberapa operasi militer Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir juga dinilai memperkuat kekhawatiran Beijing.

Dalam berbagai konflik internasional terbaru, militer Amerika dianggap menunjukkan kemampuan operasi cepat, dominasi udara, dan koordinasi teknologi yang sangat tinggi.

Dalam konflik Iran misalnya, operasi gabungan Amerika dan Israel disebut mampu melumpuhkan sebagian besar sistem pertahanan Iran hanya dalam waktu singkat.

Dominasi udara penuh berhasil dicapai dengan cepat. Angkatan laut Iran mengalami kerusakan besar, sementara sistem pertahanan udaranya dinilai lumpuh secara signifikan.

Salah satu peristiwa yang banyak dibahas adalah ketika sebuah pesawat tempur F-15 Eagle jatuh di wilayah Iran, namun kedua pilotnya berhasil dievakuasi hanya dalam waktu sekitar 48 jam.

Kemampuan operasi semacam itu dianggap menjadi pengingat serius bagi Beijing mengenai keunggulan teknologi dan pengalaman tempur militer Amerika Serikat.


Militer Tiongkok Dinilai Masih Penuh Tanda Tanya

Di sisi lain, militer Tiongkok sendiri sudah sangat lama tidak terlibat dalam perang besar berskala nyata.

Akibatnya, kemampuan tempur sebenarnya dari berbagai sistem persenjataan modern Tiongkok masih belum pernah benar-benar diuji di medan perang sesungguhnya.

Selain itu, dalam dua tahun terakhir, militer Tiongkok juga mengalami gejolak internal besar.

Sejumlah petinggi militer dilaporkan terseret kasus politik dan korupsi, termasuk mantan Menteri Pertahanan Li Shangfu dan Wei Fenghe.

Beberapa pejabat militer senior lain seperti Miao Hua dan He Weidong juga disebut mengalami penurunan pengaruh politik secara drastis.

Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa Xi Jinping sendiri sedang melakukan pembersihan besar-besaran di tubuh militer Tiongkok.

Banyak analis percaya bahwa kondisi internal tersebut membuat Beijing belum memiliki kesiapan politik maupun kesiapan militer penuh untuk melancarkan perang besar terhadap Taiwan dalam waktu dekat.


Taiwan Dinilai Masih Memiliki Ruang Stabilitas

Melihat seluruh perkembangan tersebut, sejumlah pengamat internasional menilai bahwa meskipun Xi Jinping terus menunjukkan sikap keras terhadap Taiwan, risiko perang besar dalam waktu dekat masih relatif terkendali.

Faktor utama penahannya tetap sama: ketidakpastian mengenai respons Amerika Serikat.

Selama Beijing masih percaya bahwa Washington mungkin akan turun tangan secara langsung, maka keputusan untuk menyerang Taiwan akan tetap menjadi perjudian yang sangat berbahaya bagi Xi Jinping.

Ditambah lagi dengan kondisi internal militer Tiongkok yang masih bergejolak, banyak pihak memperkirakan bahwa stabilitas di Selat Taiwan kemungkinan masih dapat dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan, meskipun ketegangan geopolitik dipastikan akan terus meningkat.  (***)

“Jantung Ekonomi Iran” Diserang AS, Houthi dan Hizbullah Mulai Goyah

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam pada pertengahan Mei 2026. Di tengah negosiasi nuklir yang terus menemui jalan buntu, pemerintahan Presiden Donald Trump mulai menggabungkan tekanan diplomatik, operasi ekonomi, sanksi finansial, hingga ancaman militer terbuka terhadap Teheran.

Persoalan utama yang hingga kini belum menemukan titik temu tetap berkisar pada uranium Iran dengan tingkat pengayaan tinggi. Isu ini menjadi hambatan terbesar dalam perundingan nuklir antara Washington dan Teheran selama beberapa bulan terakhir.

Iran Usulkan Pemindahan Uranium ke Rusia

Dalam perkembangan terbaru, Iran menyatakan kesediaannya untuk memindahkan uranium hasil pengayaan tinggi ke Rusia dengan syarat-syarat tertentu. Langkah itu dipandang Teheran sebagai salah satu jalan kompromi untuk meredakan tekanan internasional.

Namun usulan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sejak Maret 2026, Presiden Donald Trump dilaporkan sudah secara tegas menolak gagasan serupa yang sebelumnya pernah diajukan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Menurut sumber pemerintahan AS, Trump menilai pemindahan uranium ke negara sekutu Iran bukanlah solusi permanen. Washington disebut tidak ingin material nuklir Iran sekadar dipindahkan atau “disembunyikan” di negara lain, melainkan benar-benar menghilangkan kemampuan Iran untuk membangun senjata nuklir.

Bagi pemerintahan Trump, tujuan utama negosiasi bukan sekadar pengawasan, melainkan penghancuran total infrastruktur yang dianggap dapat mendukung program senjata nuklir Iran di masa depan.

Trump: Serangan Bisa Dimulai Kapan Saja

Situasi semakin memanas setelah Trump pada 19 Mei 2026 kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan yang dianggap memadai oleh Washington, maka militer Amerika Serikat telah diperintahkan untuk selalu berada dalam kondisi siaga penuh.

Trump bahkan menyebut bahwa “jendela waktu” menuju keputusan akhir kini semakin sempit.

Menurut sumber Gedung Putih, opsi serangan militer besar-besaran terhadap Iran dapat dilakukan dalam hitungan hari. Pemerintahan AS disebut mempertimbangkan berbagai skenario, mulai dari serangan terbatas terhadap fasilitas nuklir hingga operasi militer berskala luas.

Sejumlah pejabat pertahanan AS mengungkapkan bahwa akhir pekan ini hingga awal pekan depan dianggap sebagai periode paling kritis dalam perkembangan krisis tersebut.

Operasi “Iran Fury” Resmi Diluncurkan

Di saat ancaman militer meningkat, Washington juga meluncurkan operasi tekanan ekonomi besar-besaran yang diberi nama “Iran Fury”.

Pada 19 Mei 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat resmi menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 50 target yang dituduh terlibat dalam jaringan keuangan rahasia Iran.

Salah satu target utama adalah Amin Exchange, yang disebut sebagai jaringan “bank bayangan” utama milik Iran.

Selain itu, berbagai perusahaan cangkang yang beroperasi di Uni Emirat Arab, Turki, dan Hong Kong juga masuk daftar hitam Washington.

Pemerintah AS menuduh jaringan tersebut selama bertahun-tahun membantu Iran menyembunyikan transaksi keuangan internasional, mencuci uang hasil penjualan minyak, serta memindahkan dana secara diam-diam untuk mendukung operasi militer dan aktivitas kelompok proksi di Timur Tengah.

Armada Bayangan Iran Ikut Disanksi

Tidak hanya sektor keuangan, Amerika Serikat juga memperluas sanksi ke sektor pelayaran Iran.

Sebanyak 19 kapal yang disebut sebagai bagian dari “armada bayangan” Iran dimasukkan ke dalam daftar sanksi AS. Kapal-kapal itu dituduh digunakan untuk mengangkut minyak mentah dan produk petrokimia Iran secara rahasia guna menghindari embargo internasional.

Menurut Departemen Keuangan AS, jaringan pelayaran dan bank bayangan Iran setiap tahun membantu memindahkan miliaran dolar pendapatan minyak secara ilegal.

Washington menuduh dana tersebut kemudian digunakan untuk:

  • mendukung pengembangan program senjata Iran,
  • memperkuat Garda Revolusi Iran,
  • mendanai Hamas di Gaza,
  • membantu Hizbullah di Lebanon,
  • serta menopang kelompok Houthi di Yaman.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan secara terbuka menyebut sistem keuangan rahasia Iran sebagai:

“saluran transfusi bagi ekstremisme.”

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Washington kini tidak lagi hanya menargetkan program nuklir Iran, tetapi juga berusaha menghancurkan fondasi ekonomi yang menopang pengaruh regional Teheran.

AS Buka Perburuan Informasi Jaringan Garda Revolusi

Tekanan terhadap Iran semakin meningkat ketika Departemen Luar Negeri AS pada Selasa, 19 Mei 2026, mengunggah poster program “Rewards for Justice” melalui platform resminya.

Dalam pengumuman tersebut, pemerintah AS menawarkan hadiah hingga 15 juta dolar AS bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai jaringan keuangan Garda Revolusi Iran.

Washington menyebut Garda Revolusi menggunakan berbagai metode untuk memindahkan dana secara internasional, termasuk:

  • akun mata uang kripto,
  • jaringan kustodian dana,
  • perusahaan cangkang internasional,
  • hingga transaksi anonim lintas negara.

Pemerintah AS juga secara terbuka meminta masyarakat internasional untuk memberikan informasi melalui aplikasi Signal maupun jalur anonim di dark web.

Mereka yang dianggap memberikan informasi penting bahkan disebut bisa memperoleh perlindungan khusus, hadiah finansial besar, hingga bantuan relokasi ke negara lain.

Langkah ini menunjukkan bahwa operasi terhadap Iran kini bukan hanya berbentuk sanksi ekonomi, tetapi juga sudah memasuki level operasi intelijen internasional.

CENTCOM Klaim Jalur Senjata Iran Mulai Lumpuh

Pada waktu hampir bersamaan, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Michael Kurilla, mengumumkan bahwa operasi militer AS telah berhasil mengganggu jalur pengiriman senjata dan dukungan Iran kepada kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.

Menurut Kurilla, jalur logistik menuju Hamas, Hizbullah, dan Houthi mulai mengalami gangguan serius.

Selama bertahun-tahun, Iran diketahui mengandalkan jaringan finansial Garda Revolusi untuk mempertahankan pengaruh geopolitiknya melalui kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.

Namun kini, menurut CENTCOM, kombinasi operasi militer, patroli laut, sanksi ekonomi, dan pengawasan intelijen mulai memutus rantai pendanaan serta distribusi senjata tersebut.

Kurilla bahkan menyatakan bahwa kondisi ini secara signifikan mengurangi kemungkinan terulangnya serangan besar seperti peristiwa 7 Oktober 2023 di Israel.

Houthi Mulai Menjauh dari Teheran?

Sementara itu, analis senior urusan Iran dari Channel 14, Parazadeh, mengungkapkan perkembangan yang dinilai sangat penting terkait kelompok Houthi di Yaman.

Menurutnya, selama enam bulan terakhir Houthi hampir tidak menerima bantuan dana maupun suplai senjata dari Iran.

Kondisi tersebut membuat kelompok Houthi kini berada dalam posisi yang semakin sulit.

Parazadeh menyebut Houthi saat ini menghadapi dua ancaman besar sekaligus:

  1. serangan udara Amerika Serikat yang terus berlanjut di kawasan,
  2. kemungkinan Arab Saudi kembali melakukan intervensi militer besar-besaran di Yaman.

Akibat melemahnya dukungan Iran, Houthi disebut mulai enggan terlibat dalam rencana konfrontasi baru Teheran, kecuali bantuan finansial dan persenjataan kembali dipulihkan.

Timur Tengah Memasuki Fase Paling Berbahaya

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini telah memasuki fase yang jauh lebih serius dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Washington tampaknya tidak lagi hanya berfokus pada negosiasi nuklir semata, melainkan juga berusaha menghancurkan seluruh jaringan ekonomi, finansial, dan militer yang selama ini menopang pengaruh regional Iran.

Di sisi lain, Iran masih berusaha mempertahankan posisi tawarnya melalui diplomasi, jaringan proksi, dan hubungan strategis dengan Rusia.

Namun dengan meningkatnya tekanan ekonomi, ancaman serangan militer, serta operasi intelijen internasional yang semakin agresif, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang eskalasi besar yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi konflik terbuka berskala luas. (***)

Putin, Trump, dan Xi Masuk Permainan Berbahaya: Sinyal Keretakan Besar di Tubuh PKT Mulai Terlihat

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia kembali memanas setelah serangkaian peristiwa sensitif terjadi hampir bersamaan pada pertengahan Mei 2026. 

Pernyataan mengejutkan dari penasihat senior Gedung Putih, Peter Navarro, ditambah ucapan tidak biasa dari pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, hingga langkah militer Rusia yang mendadak menggelar latihan nuklir besar-besaran, memicu spekulasi luas mengenai situasi genting di balik tembok kekuasaan Zhongnanhai.

Banyak analis kini menilai bahwa pusat kekuasaan PKT sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah, baik dari konflik internal elite partai maupun tekanan geopolitik internasional yang semakin intens.

Navarro: “Kami Membaca Dokumen Internal Mereka”

Pada 19 Mei 2026, Peter Navarro tampil dalam wawancara bersama CNBC dan melontarkan pernyataan yang langsung menarik perhatian dunia internasional.

Dalam wawancara tersebut, Navarro mengatakan bahwa kelompok garis keras atau yang ia sebut sebagai “serigala perang” PKT telah salah menilai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, Beijing mengira Trump mudah dibohongi oleh Xi Jinping, padahal Washington selama ini terus memantau dinamika internal PKT secara mendalam.

Navarro berkata: “Mereka mengira kami tidak bisa membaca bahasa Mandarin. Mereka mengira kami orang barbar. Tetapi sebenarnya kami terus membaca dokumen internal mereka.”

Ucapan tersebut segera memicu spekulasi besar. Banyak pihak menilai Navarro sengaja mengirim pesan psikologis kepada Beijing bahwa Amerika Serikat diduga memiliki akses intelijen hingga ke lingkaran elite pemerintahan Tiongkok.

Pernyataan itu juga dianggap sebagai bentuk perang informasi terbuka yang bertujuan mengguncang kepercayaan internal PKT, terutama di tengah meningkatnya rumor mengenai perebutan pengaruh di dalam partai.

Pertanyaan Trump yang Memicu Kecurigaan

Sorotan terbesar muncul dari sebuah momen saat kunjungan Donald Trump ke Tiongkok baru saja berakhir.

Menurut analisis yang ramai dibahas di platform X oleh penulis politik Kunlun, ketika Trump hendak berpamitan dengan Xi Jinping di Zhongnanhai, tiba-tiba ia berbalik dan mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana, namun dianggap sangat sensitif secara politik.

Trump disebut bertanya:

“Apakah Anda masih akan melanjutkan empat tahun lagi?”

Xi Jinping lalu langsung menjawab:

“Empat tahun, empat tahun, setidaknya empat tahun.”

Jawaban singkat itu kemudian memicu gelombang spekulasi.

Mengapa “Empat Tahun” Dinilai Janggal?

Komentator politik Tiongkok di luar negeri, Chen Pokong, menilai jawaban Xi Jinping mengandung kejanggalan serius.

Dalam sistem politik PKT, satu masa jabatan kepemimpinan partai berlangsung selama lima tahun, bukan empat tahun seperti sistem presidensial Amerika Serikat.

Kongres Nasional PKT ke-21 sendiri dijadwalkan berlangsung pada tahun 2027. Jika Xi Jinping kembali mempertahankan kekuasaan dalam periode berikutnya, secara teori masa pemerintahannya seharusnya berlangsung hingga tahun 2032.

Namun Xi justru menyebut “setidaknya empat tahun”, yang berarti kira-kira hanya sampai tahun 2030.

Pernyataan itu kemudian ditafsirkan dalam berbagai kemungkinan:

  • Xi Jinping diduga hanya akan menjalani sebagian masa jabatan berikutnya sebelum menyerahkan kekuasaan.
  • Bisa jadi sedang terjadi kompromi politik besar di internal PKT.
  • Ada kemungkinan Xi sengaja memberi sinyal tertentu kepada Trump.
  • Atau justru tanpa sadar membocorkan situasi internal partai karena berada di bawah tekanan politik.

Chen Pokong bahkan menduga Xi mungkin sedang mencoba mengirimkan pesan terselubung kepada Washington mengenai kondisi internal kepemimpinannya.

Dugaan Adanya Informan di Zhongnanhai

Spekulasi lain yang berkembang jauh lebih sensitif.

Sejumlah pengamat menduga bahwa Washington mungkin telah menerima informasi dari sumber internal Zhongnanhai mengenai konflik elite PKT.

Ada yang meyakini bahwa pertanyaan Trump sebenarnya bukan pertanyaan spontan. Ia diduga sengaja menggunakan istilah “empat tahun” ala sistem politik Amerika untuk menguji reaksi Xi Jinping.

Dalam situasi penuh tekanan, Xi disebut kemungkinan kehilangan fokus dan tanpa sadar memberikan jawaban yang justru membuka indikasi adanya kompromi kekuasaan di internal partai.

Dugaan ini semakin ramai dibahas karena selama beberapa bulan terakhir beredar berbagai rumor mengenai:

  • persaingan antar faksi di PKT,
  • ketidakpuasan elite senior,
  • tekanan ekonomi domestik,
  • hingga ketegangan akibat hubungan luar negeri Tiongkok yang memburuk.

Walau seluruh spekulasi tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh Beijing, diskusi mengenai stabilitas internal kepemimpinan Xi Jinping terus berkembang di media sosial dan komunitas analis politik internasional.

Putin Tiba di Beijing, Rusia Langsung Gelar Latihan Nuklir

Situasi semakin memanas ketika pada hari yang sama, 19 Mei 2026, Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing untuk melakukan kunjungan penting.

Namun hampir bersamaan dengan kedatangannya, Kementerian Pertahanan Rusia tiba-tiba mengumumkan latihan besar-besaran pasukan nuklir strategis Rusia.

Latihan tersebut dilaporkan melibatkan sekitar 65.000 personel militer serta simulasi peluncuran rudal balistik strategis.

Langkah Rusia itu segera menimbulkan banyak tafsir geopolitik.

Akun analis politik “Xin Gaodi” di platform X menyebut latihan tersebut kemungkinan merupakan bentuk tekanan tidak langsung Moskow terhadap Beijing.

Rusia Khawatir “Ditinggalkan” Beijing?

Menurut analisis yang beredar, Kremlin disebut mulai khawatir setelah muncul dugaan bahwa Xi Jinping telah memberi sinyal kepada Donald Trump mengenai kemungkinan pembatasan dukungan terhadap Iran.

Jika Beijing benar-benar mulai mengurangi dukungan strategis terhadap sekutu-sekutunya demi meredakan tekanan Washington, Rusia khawatir mereka bisa menjadi pihak berikutnya yang “dikorbankan”.

Karena itu, latihan nuklir besar-besaran Rusia dinilai sebagai pesan strategis kepada Beijing bahwa Moskow masih memiliki kekuatan militer yang tidak bisa diabaikan.

Bahkan muncul spekulasi ekstrem di media sosial bahwa Rusia ingin memperingatkan Tiongkok agar tidak memutus kerja sama strategis mereka di tengah tekanan Amerika Serikat.

Walaupun klaim seperti ancaman “rudal jatuh karena kesalahan teknis” tidak pernah dibuktikan secara resmi, narasi tersebut menunjukkan betapa tingginya ketegangan dan rasa saling curiga di antara kekuatan besar dunia saat ini.

Zhongnanhai Dinilai Sedang Berada di Titik Kritis

Jika seluruh peristiwa tersebut dilihat sebagai satu rangkaian, banyak pengamat menilai bahwa Zhongnanhai kini sedang menghadapi tekanan paling rumit dalam beberapa tahun terakhir.

Di satu sisi, Beijing menghadapi tekanan eksternal dari Amerika Serikat yang terus meningkatkan perang informasi, tekanan ekonomi, serta manuver geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.

Di sisi lain, muncul berbagai rumor mengenai pertarungan internal elite PKT, ketidakstabilan ekonomi domestik, dan kekhawatiran mengenai masa depan kepemimpinan Xi Jinping.

Kedatangan Vladimir Putin ke Beijing di tengah situasi seperti ini justru semakin memperlihatkan bahwa hubungan antara Tiongkok dan Rusia pun kemungkinan tidak sepenuhnya stabil seperti yang selama ini ditampilkan ke publik.

Hingga kini, pemerintah Tiongkok belum memberikan tanggapan resmi terkait berbagai spekulasi tersebut. Namun satu hal yang jelas, dinamika politik di balik tembok Zhongnanhai kini kembali menjadi perhatian utama dunia internasional. (***)

Cuplikan CNN Picu Kontroversi: Iran Melatih Anak-Anak Memegang Senjata dan Simulasi Menembak Trump

EtIndonesia. Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, pemerintah Iran kembali mengizinkan reporter CNN masuk ke Teheran untuk melakukan peliputan. Namun dalam program wawancara yang kemudian ditayangkan, muncul rekaman militer Iran melatih warga sipil dan anak-anak menggunakan senjata, serta pembawa acara televisi yang menjadikan Presiden AS Donald Trump sebagai sasaran tembak simulasi. Hal itu memicu kritik bahwa CNN telah berubah menjadi alat propaganda politik Iran.

Yang lebih memicu kecaman internasional adalah keputusan pemerintah Iran menurunkan usia perekrutan militer dan memaksa anak-anak berusia 12 tahun terlibat di medan konflik.

Dalam tayangan CNN tersebut terlihat adegan militer melatih anak-anak dan warga sipil menggunakan senjata, yang memicu kritik luas dari publik internasional.

Pemerintah Iran dinilai sengaja memperlihatkan pelatihan senjata dan parade massa untuk menciptakan kesan bahwa “seluruh rakyat mendukung rezim dan siap berperang”. Banyak pihak mempertanyakan muatan propaganda politik yang sangat kuat dalam tayangan itu.

Sebagian kalangan juga mengkritik CNN karena tidak mempertanyakan isi tayangan tersebut. Mereka menilai pelaporan yang menerima begitu saja narasi Iran berpotensi menjadikan media itu alat pencitraan bagi rezim Iran.

Belakangan ini, televisi pemerintah Iran juga secara terbuka menayangkan program pelatihan penggunaan senjata di berbagai saluran. Program tersebut bukan hanya mengajarkan cara menembak, tetapi juga menampilkan simulasi penembakan terhadap Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, hingga bendera United Arab Emirates yang dianggap provokatif.

Kontroversi semakin besar setelah Garda Revolusi Iran pada 26 Maret mengumumkan penurunan usia perekrutan tentara menjadi 12 tahun. Sejumlah anak-anak dan remaja dilaporkan sudah ditempatkan di pos pemeriksaan militer dan mulai menjalankan tugas patroli.

Beberapa waktu lalu, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dilaporkan tewas akibat serangan drone saat bertugas di pos pemeriksaan di Tehran. Peristiwa itu memicu kecaman keras dari organisasi hak asasi manusia internasional.

Menurut hukum internasional, anak di bawah usia 15 tahun tidak boleh terlibat dalam konflik bersenjata. Iran sendiri sebelumnya telah menandatangani Convention on the Rights of the Child. Karena itu, kebijakan terbaru Iran memicu kecaman keras dari masyarakat internasional.

Laporan reporter NTDTV, Zheng Shengxun, dari AS

MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL Ramaikan Sumenep Festival 2026: Sae Rassa Restaurant Hadirkan Kuliner Premium di Stadion A. Yani

SUMENEP, Mei 2026 – Pesta rakyat terbesar di ujung timur Pulau Madura, Sumenep Festival 2026, semakin meriah dengan kehadiran MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL sebagai salah satu sponsor. Hotel bintang empat ini juga memboyong unit kuliner andalannya, Sae Rassa Restaurant, untuk membuka stan spesial selama 12 hari penuh di Lapangan Stadion A. Yani Sumenep.

Festival yang berlangsung mulai 16 hingga 27 Mei 2026 ini diprediksi menjadi magnet bagi ribuan wisatawan dan warga lokal. Kehadiran Sae Rassa Restaurant di area festival bertujuan mendekatkan pengalaman bersantap lezat dan spesial kepada masyarakat luas.

Komitmen Dukung Pariwisata dan Budaya Daerah

Anndy Bramasto S.E., M.Par., General Manager MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL, menyampaikan bahwa partisipasi ini merupakan wujud nyata komitmen hotel dalam mendukung geliat budaya dan pariwisata daerah.

“Melalui kehadiran Sae Rassa Restaurant di Stadion A. Yani, kami ingin memberikan akses bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menikmati kuliner kualitas hotel dalam atmosfer festival yang meriah. Kami yakin ini akan memberikan warna baru yang lebih segar dan premium bagi para pengunjung,” ujarnya.

Menu Spesial untuk Suasana Festival

Pengunjung dapat menikmati kurasi menu spesial food & beverage yang dirancang khusus untuk suasana festival. Mulai dari hidangan utama yang menggugah selera hingga minuman segar racikan spesial, semuanya hadir dengan penyajian istimewa namun tetap pas dinikmati di tengah kemeriahan festival.

Ragam Hiburan dan Wahana Modern

Sumenep Festival 2026 juga menampilkan berbagai atraksi menarik, mulai dari Festival Tongtong Panggung, Seni Budaya Madura, hingga wahana bermain modern. Pengunjung dapat menikmati hidangan istimewa dari Sae Rassa Restaurant sambil menyaksikan pertunjukan.

Stand MYZE Hotel Sumenep melayani pengunjung setiap hari selama periode festival mulai pukul 16.30 hingga 23.00 WIB.

Partisipasi MYZE Hotel Sumenep dalam festival ini merupakan komitmen nyata untuk mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Sumenep, sekaligus memberikan pengalaman gaya hidup yang lebih seru bagi masyarakat.

ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya Gelar “Ekspresiku”, Panggung Apresiasi Musik untuk Talenta Muda

SURABAYA, 17 Mei 2026 – Alunan musik dan tepuk tangan penonton berpadu hangat menghidupkan suasana penuh semangat dalam gelaran “Ekspresiku” di One Deck Gastropub, ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya. Acara ini menjadi ruang apresiasi bagi anak dan remaja usia 7 hingga 17 tahun dari Surabaya dan Sidoarjo untuk menunjukkan kemampuan bermusik mereka di hadapan publik.

Dimulai pukul 10.00 WIB, acara ini menampilkan lima solois dan tiga band yang terdiri dari pelajar tingkat SD hingga SMA. Para solois tampil membawakan berbagai lagu menggunakan gitar dan keyboard, sementara penampilan band menghadirkan suasana energik dan interaktif sepanjang acara.

Mengusung konsep panggung kreatif yang hangat dan suportif, “Ekspresiku” tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wadah pengembangan kepercayaan diri serta eksplorasi bakat generasi muda di bidang musik. Setiap peserta tampil dengan identitas dan gaya mereka sendiri, membawakan lagu-lagu populer dengan aransemen yang disesuaikan.

Dukungan ARTOTEL untuk Perkembangan Seni Muda

Teddy Patrick, S.E., M.Par., CHA., General Manager ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya, menyampaikan bahwa pihaknya ingin hadir lebih dari sekadar tempat menginap.

“ARTOTEL hadir bukan hanya sebagai ruang menginap, tetapi juga ruang kreatif yang mendukung perkembangan seni dan talenta muda. Melalui Ekspresiku, kami ingin memberikan pengalaman positif sekaligus menjadi wadah bagi generasi muda untuk berani tampil dan terus berkembang,” ujarnya.

Antusiasme Peserta Cilik

Salah satu peserta, Rafano Ardana Asmara atau yang akrab disapa Fano, mengaku senang bisa tampil. Siswa kelas 1 SD Muhammadiyah Sidoarjo itu tampil memainkan gitar dan membawakan lagu favoritnya.

“Aku suka main gitar. Lagu favoritku Laskar Pelangi sama Ampar-Ampar Pisang. Pengen nanti bisa bikin dan mainin lagu sendiri. Walaupun kadang sakit pas metik dan genjreng senar, tapi tetap happy,” ujar Fano dengan antusias.

Suasana One Deck Gastropub terasa semakin hidup dengan dukungan para orang tua, keluarga, dan penonton yang memberikan apresiasi hangat di setiap penampilan. Momentum ini menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk terus berkembang di industri kreatif, khususnya dunia musik.

Cek Mata Gratis hingga Lomba Merias, Dafam Pacific Caesar Surabaya dan AWS Meriahkan HJKS 733 dengan Gebyar Bazar Rakyat

0

SURABAYA, 17 Mei 2026 – Memasuki minggu ketiga bulan Mei, kemeriahan Gebyar Bazar Rakyat dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 semakin memuncak. Dafam Pacific Caesar Surabaya bersama Aliansi Wartawan Surabaya (AWS) kembali menghadirkan serangkaian kegiatan sosial, kesehatan, dan edukasi yang berlangsung di area bazar UMKM lokal.

Berbeda dengan pekan-pekan sebelumnya, minggu ketiga ini menghadirkan kolaborasi strategis yang lebih luas. Dafam Pacific Caesar Surabaya secara resmi bergabung dengan AWS, sebuah langkah yang dinilai sebagai sinergi penting antara industri perhotelan dan insan pers.

Novita Anjarsari, Assistance Vice President Head of Postpaid IM3 Platinum East Java, menyambut positif kolaborasi ini.

“Bergabungnya Dafam Pacific Caesar Surabaya dengan AWS adalah langkah strategis untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan rekan media. Momentum HJKS 733 yang mendukung perkembangan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM di Surabaya ini sangat cocok dan sejalan dengan kami di IM3 Platinum,” ujarnya.

Rangkaian acara diawali dengan layanan Cek Mata Gratis yang didukung penuh oleh Surabaya Eye Clinic sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan penglihatan masyarakat. Antusiasme warga terlihat tinggi, terutama dari kawasan Kejawan Putih Tambak dan Manyar Sabrangan.

Aspek edukasi juga menjadi sorotan. Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Internasional, panitia mengundang Mohammad Faridz Afif, Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, untuk memberikan sosialisasi bersama AWS. Kegiatan ini bertujuan membangun literasi media dan memberikan pemahaman kepada publik mengenai pentingnya informasi yang sehat dan bertanggung jawab.

Kemeriahan bazar juga diisi dengan aktivitas kebugaran dan kreativitas. Warga antusias mengikuti sesi Senam Aerobic energik yang dipandu oleh Coach Bebel. Untuk menambah inspirasi, hadir cooking demo menarik oleh Chef Muntiani dari Manita, serta ajang unjuk bakat melalui Lomba Merias yang didukung penuh oleh Salsa Beauty Centre.

Muhamad Muamar Khadafi, General Manager Dafam Pacific Caesar Surabaya, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang terlibat.

“Gebyar Bazar Rakyat di minggu ketiga ini tidak hanya sekadar tempat belanja produk UMKM, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat kegiatan sosial dan kesehatan warga. Kami sangat berterima kasih atas dukungan dari Surabaya Eye Clinic, Salsa Beauty Centre, AWS, dan seluruh warga Kejawan Putih Tambak serta Manyar Sabrangan yang membuat perayaan HJKS tahun ini terasa jauh lebih bermakna dan berdampak langsung,” ujarnya.

Melalui integrasi berbagai kegiatan ini, Gebyar Bazar Rakyat tidak hanya sukses menggerakkan roda ekonomi para pelaku UMKM lokal, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup, kesehatan, dan wawasan masyarakat di momen perayaan hari jadi Kota Surabaya.

Bukan Hanya Kebun Teh, Kebun Mangga di Tiongkok Juga Dipenuhi Botol Pestisida 

EtIndonesia. Keamanan pangan di daratan Tiongkok  kembali menjadi sorotan. Setelah video kebun teh yang dipenuhi botol pestisida memicu kehebohan publik, kini muncul video lain yang menunjukkan berbagai kebun buah di Tiongkok juga dipenuhi botol kosong pestisida dan hormon pertumbuhan.

Dalam salah satu video, seorang blogger memperlihatkan sebuah kebun mangga yang di bawah pohon dan selokan sekitarnya dipenuhi berbagai botol bahan kimia. Ia mengatakan ada setidaknya 20 hingga 30 jenis bahan, termasuk hormon pertumbuhan tanaman, herbisida, insektisida, bahkan pestisida sangat beracun seperti dichlorvos (DDVP).

Blogger tersebut menjelaskan bahwa kondisi itu bukan kasus tunggal. Menurutnya, penggunaan pestisida di Tiongkok mencapai setengah dari total penggunaan pestisida dunia, dan ada alasan di balik angka tersebut.

Beberapa waktu lalu, video kebun teh di Tiongkok yang penuh dengan botol pestisida sempat mengejutkan para netizen. Banyak orang mengaku “tak berani lagi minum teh”.

Artikel tersebut menyebut bahwa di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok, demi mengejar hasil panen tinggi tanpa mempedulikan cara, penggunaan pestisida dan pupuk kimia dilakukan secara berlebihan. Persaingan ketat di industri makanan juga disebut memunculkan berbagai “teknologi hitam” atau praktik tidak sehat dalam produksi pangan.

Selain itu, berbagai kasus mencurigakan terus bermunculan, bahkan disebut ada kasus daging manusia yang masuk ke rantai pengolahan makanan. Banyak netizen pun mempertanyakan: “Apakah makanan dari Tiongkok daratan masih aman dimakan?” (***)

Kewaspadaan Global Meningkat, Ebola dan Virus Hanta Sama-Sama Jadi Perhatian

EtIndonesia. Wabah penyakit menular mematikan kembali meningkat di berbagai belahan dunia. Di tengah merebaknya gelombang baru wabah Ebola di Afrika, wilayah Amerika dan beberapa daerah di Amerika Serikat juga terus memantau kasus Hantavirus. Banyak negara kini memperketat pengawasan perbatasan dan langkah pengendalian kesehatan masyarakat.

Di bagian timur Democratic Republic of the Congo, muncul varian langka Ebola yang memicu wabah baru. Pada Selasa, World Health Organization menyatakan kekhawatiran terhadap “kecepatan dan skala” penyebaran wabah tersebut.

Saat ini, otoritas setempat melaporkan sedikitnya 131 kematian yang diduga terkait Ebola, serta lebih dari 500 kasus suspek infeksi. WHO pada hari Minggu telah menetapkan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat internasional (PHEIC).

 “Ini adalah pertama kalinya direktur jenderal langsung menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat sebelum komite darurat dibentuk,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. 

Virus yang memicu wabah kali ini adalah Bundibugyo virus, yaitu salah satu varian langka Ebola yang hingga kini belum memiliki obat maupun vaksin yang disetujui.

Pada Selasa, wilayah timur Kongo melaporkan tambahan 26 kematian suspek Ebola dalam waktu 24 jam. WHO menyatakan keprihatinannya dan telah mengirim bantuan logistik medis.

Pada 19 Mei, Kementerian Kesehatan Jerman mengkonfirmasi bahwa atas permintaan pihak Amerika Serikat, seorang warga AS yang terinfeksi Ebola di Kongo akan dipindahkan ke Rumah Sakit Universitas Charité di Berlin untuk menjalani perawatan isolasi.

Sementara terkait wabah virus Hanta, WHO menilai tingkat risikonya masih relatif rendah. Hingga saat ini telah dilaporkan 11 kasus, termasuk 3 kematian. Sejak 2 Mei, belum ada tambahan korban jiwa baru.

Para ahli mengingatkan bahwa virus Hanta terutama menyebar melalui kotoran dan urin hewan pengerat seperti tikus. Masyarakat disarankan memastikan ventilasi yang baik sebelum membersihkan ruang bawah tanah, gudang, atau kabin kayu guna mengurangi risiko infeksi.

Laporan gabungan reporter NTDTV, Xiao Chang.

Laporan Intelijen Terbaru dari Eropa: Tiongkok Secara Diam-diam Melatih Skuadron Drone Rusia

EtIndonesia. Pada Selasa (19 Mei), bersamaan dengan dimulainya kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing, Rusia menggelar latihan militer nuklir skala besar.

Meski Rusia dan Tiongkok secara terbuka terus menyatakan hubungan “kemitraan strategis komprehensif”, media Inggris Financial Times mengungkap bahwa pemimpin PKT Xi Jinping pekan lalu secara pribadi mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Putin menyesali invasi Rusia ke Ukraina.

Di saat yang sama, kalangan intelijen Eropa juga membocorkan informasi mengejutkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) tahun lalu diam-diam melatih pasukan drone Rusia. Berbagai bocoran ini kembali memicu penafsiran baru terhadap hubungan nyata antara PKT dan Rusia.

Putin Berkunjung ke Tiongkok Saat Perang Berlanjut, Rusia Gelar Latihan Nuklir

Kementerian Pertahanan Rusia pada Selasa mengumumkan bahwa militer Rusia mulai hari itu menggelar latihan nuklir selama tiga hari, termasuk uji coba rudal balistik dan rudal jelajah.

Pihak Rusia menyatakan latihan tersebut melibatkan lebih dari 65.000 personel militer, lebih dari 200 perangkat peluncur rudal, 140 pesawat, serta kapal perang dan kapal selam nuklir strategis.

Waktu latihan ini dianggap sangat sensitif karena pada malam harinya Putin tiba di Beijing untuk memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari.

 “Hari ini, hubungan Rusia-Tiongkok telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Putin. 

Dalam pidato videonya sebelum berangkat, Putin menekankan kerjasama strategis dan kemitraan komprehensif Rusia-Tiongkok, serta menyatakan kedua negara akan saling mendukung dalam isu kepentingan inti masing-masing.

Namun ironisnya, Financial Times melaporkan bahwa Xi Jinping saat bertemu Trump minggu lalu mengungkap bahwa Putin kemungkinan menyesali peluncuran perang invasi terhadap Ukraina.

Meskipun Xi Jinping dan Trump sama-sama membantah kabar tersebut, informasi itu langsung mengguncang komunitas internasional dan memicu penafsiran baru mengenai hubungan Tiongkok-Rusia, sekaligus menambah spekulasi menjelang pertemuan puncak kedua negara.

Perang Rusia-Ukraina Terus Memanas

Saat Putin melakukan kunjungan luar negeri, perang Rusia-Ukraina masih terus berkecamuk. Pada Selasa dini hari, Rusia menyerang wilayah Chernihiv dan Sumy di utara Ukraina, serta membombardir wilayah Odessa di selatan. Sedikitnya empat orang dilaporkan tewas. Serangan itu merupakan kelanjutan dari gelombang serangan udara besar-besaran Rusia belakangan ini.

Di sisi lain, Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh empat drone Ukraina yang menuju Moskow. Sejumlah wilayah Rusia dan fasilitas kilang minyak di Kota Yaroslavl juga dilaporkan diserang drone.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan:  “Dalam beberapa bulan terakhir, kapasitas pengolahan minyak Rusia turun 10 persen. Sekarang sebagian besar wilayah Rusia sudah bangkrut, dan Putin sedang membawa Rusia menuju kebangkrutan.”

Laporan Intelijen Eropa: PKT Diam-Diam Latih Pasukan Drone Rusia

Reuters pada Selasa melaporkan bahwa menurut dokumen rahasia terbaru yang diungkap tiga badan intelijen Eropa, PKT pada akhir tahun lalu diam-diam melatih sekitar 200 tentara Rusia di beberapa lokasi militer di Tiongkok.

Pelatihan itu berfokus pada “taktik drone”. Tentara Rusia disebut menggunakan simulator penerbangan milik PKT untuk melatih pengoperasian drone FPV (first-person view), mempelajari cara menggunakan drone untuk memandu mortir mengunci target, serta memakai senapan perang elektronik untuk melawan drone musuh.

Informasi intelijen juga menyebut bahwa sebagian tentara Rusia yang telah menyelesaikan pelatihan kini sudah kembali ke garis depan perang di Ukraina.

Terungkapnya dokumen rahasia ini terjadi tepat menjelang kunjungan Putin ke Tiongkok. Para analis menilai hal tersebut membuat negara-negara Eropa semakin waspada, karena menunjukkan tingkat keterlibatan PKT dalam perang Rusia-Ukraina mungkin jauh lebih langsung dan mendalam daripada yang sebelumnya diketahui publik.

Laporan gabungan reporter NTDTV, Yi Jing 

Bukan Rudal, Bukan Jet Tempur! Anggota Terpenting dari Kapal Induk USS Gerald Ford Sebenarnya adalah Seekor Anjing

0

EtIndonesia. Di atas kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) milik militer Amerika Serikat, ada seekor anjing Labrador Shepherd yang lucu. Di tengah suasana garis depan militer yang penuh tekanan, anjing ini menjadi teman paling hangat bagi para pelaut Angkatan Laut AS.

Pemandu anjing terapi, Eric Snitzer, mengatakan:  “Bahkan prajurit paling tangguh pun bisa luluh dan merasa rileks hanya setelah berinteraksi dengannya selama 30 detik, sebelum kembali menjalankan misi berbahaya.”

Untuk membantu mengatasi tekanan akibat lama jauh dari kampung halaman, para awak kapal induk Ford memiliki seorang teman berbulu istimewa bernama “Sage”. Ia adalah anjing terapi Labrador Shepherd berusia 6 tahun yang telah menemani para pelaut melewati banyak masa sulit.

Bagi para awak kapal, membelai, memeluk, atau sekadar melihat Sage berjalan di tengah keramaian sudah cukup untuk meredakan ketegangan sejenak. Saat ada anggota yang merasa sedih atau tertekan, Sage juga dapat memberikan kenyamanan dan membantu mereka menenangkan emosi sebelum kembali menjalankan tugas berikutnya.

Setelah kapal induk Ford menyelesaikan misi militer selama 11 bulan dan kembali ke pangkalan Norfolk di Virginia, Sage pun turut menyelesaikan perjalanan luar biasa itu bersama para perwira dan awak kapal.

Sumber : NTDTV.com

Kunjungan Tergesa-gesa Putin ke Beijing: Apa Perhitungan yang Mendasari Tindakan Tiongkok dan Rusia ?

Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja mengakhiri kunjungannya ke Tiongkok, Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada 19 Mei  malam. Sejumlah analis menilai bahwa Putin datang terburu-buru untuk mencari tahu “kartu rahasia” dari kontak antara Tiongkok dan AS. Pada dasarnya, pertemuan ini disebut sebagai ajang “pembagian kepentingan” antara Tiongkok dan Rusia, di mana masing-masing memiliki agenda sendiri dan sedang membahas strategi menghadapi situasi internasional.

EtIndonesia. Media Partai Komunis Tiongkok melaporkan bahwa pada 19 Mei pukul 23.12, Putin tiba di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing dengan pesawat khusus. Menteri Luar Negeri PKT Wang Yi datang menyambutnya. Dalam kunjungan ini, Putin dijadwalkan bertemu pemimpin PKT Xi Jinping.

Tokoh media terkenal Tiongkok, Li Chengpeng, menulis di platform X pada 20 Mei bahwa kunjungan Putin ke Tiongkok untuk ke-25 kalinya disambut dengan bunga plastik di tangan para pemuda dan diiringi band militer. Namun suasananya tidak semegah penyambutan Trump sebelumnya, dan durasinya juga sangat singkat. Pejabat yang menyambut Putin pun hanya Wang Yi.

Li Chengpeng mengatakan bahwa Putin datang dengan tiga tujuan utama:

  1. Meminta dukungan dana untuk menopang Rusia.
  2. Mengumpulkan informasi tentang Trump.
  3. Membahas langkah strategi bersama.

Ia mengatakan Putin tampak jauh lebih tua dibanding beberapa tahun lalu, terlihat gelisah meskipun berusaha tampak tenang. Hal itu dikaitkan dengan serangan drone Ukraina yang terus menggempur Rusia dalam beberapa hari terakhir. Putin disebut hanya tinggal satu hari di Beijing sebelum buru-buru kembali karena situasi di dalam negeri sedang genting.

Komentator independen Cai Shenkun juga menulis bahwa ini merupakan pertemuan ke-40 antara Xi Jinping dan Putin. Menurutnya, di permukaan tampak seperti “jabat tangan puncak politik dua pemimpin kuat”, tetapi sebenarnya merupakan “pertemuan pembagian kepentingan” di mana masing-masing pihak menyimpan agenda tersembunyi.

Cai menilai waktu kunjungan Putin sangat sensitif karena Trump baru saja meninggalkan Beijing. Pengaturan seperti “baru pergi lalu langsung datang” menunjukkan Beijing sedang memainkan strategi keseimbangan.

Menurut Cai Shenkun, bagi Xi Jinping, setelah beberapa hari lalu berbincang santai dengan Trump lalu langsung merangkul Putin, hal itu bertujuan menunjukkan kepada Washington bahwa Beijing selalu memiliki “kartu Rusia” di tangannya. 

Sedangkan bagi Putin, kunjungan mendadak ini bertujuan mencari tahu isi pembicaraan Tiongkok-AS sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya belum tersisih dari panggung internasional. Situasi ini justru memperlihatkan bahwa Rusia kini telah menjadi salah satu bidak dalam persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, seorang sumber yang dekat dengan sistem diplomasi Tiongkok bernama samaran Xue Zhiqiang mengatakan kepada media Epoch Times bahwa salah satu tujuan penting kunjungan Putin adalah mengetahui rincian pertemuan “Trump-Xi”. Karena itu, tidak terlihat agenda kunjungan lapangan atau wisata khusus selama Putin berada di Beijing.

Xue Zhiqiang mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri PKT menilai Putin ingin mengetahui apa sebenarnya yang dibicarakan Trump dan Xi, terutama terkait perang Rusia-Ukraina. Putin disebut sangat khawatir Amerika Serikat tidak puas dengan dukungan Rusia terhadap Iran.

Menurut sumber tersebut, Trump dan Xi telah mencapai kesepahaman mengenai isu Iran, yaitu menolak Iran memiliki senjata nuklir, dan Beijing juga disebut berjanji tidak akan memasok senjata kepada Iran.

Memasuki April, beberapa garis pertahanan Rusia dilaporkan mengalami kemunduran, sementara Ukraina mengklaim berhasil merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah. Tepat sebelum kunjungan Putin ke Beijing, media Inggris Financial Times mengungkap bahwa Xi Jinping dalam pertemuannya dengan Trump minggu lalu disebut mengatakan bahwa Putin menyesali invasi ke Ukraina.

Informasi tersebut dianggap sebagian pihak sebagai tanda perubahan halus dalam sikap Beijing terhadap Rusia. Namun kabar sensitif itu dibantah oleh Kementerian Luar Negeri PKT. Trump sendiri dalam wawancara juga mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar hal tersebut.

Komentator politik Li Linyi mengatakan kepada NTDTV bahwa jika bocoran itu benar, maka jelas Beijing sedang menjadikan perang Rusia-Ukraina sebagai kartu tawar dalam negosiasi dengan Trump. Menurutnya, Xi berani mengatakan hal seperti itu karena sudah tidak terlalu memandang Putin sebagai pihak yang setara.

Sementara komentator politik Lan Shu berpendapat bahwa pernyataan Xi pada momen penting ini sebenarnya bertujuan mengurangi tekanan pemerintah AS terhadap Rusia, sehingga memberi Putin lebih banyak ruang gerak secara politik, ekonomi, dan diplomatik. 

Laporan gabungan reporter Tang Zheng / Xia He

Remahan Dendeng di Tiongkok Jatuh ke Lantai, Semut yang Memakannya Langsung Mati

Pada 20 Mei, topik “semut mati semua setelah memakan dendeng camilan anak yang jatuh ke lantai” menjadi trending di media sosial Tiongkok. Setelah video terkait tersebar, banyak warga daratan Tiongkok kembali khawatir terhadap masalah keamanan pangan.

EtIndonesia. Pada 17 Mei, seorang netizen dari Hainan mengunggah postingan di media sosial yang mengatakan:  “Camilan dendeng yang dibeli anak jatuh ke lantai, lalu dimakan semut dan semuanya mati. Entah kandungannya apa sampai sekuat itu, benar-benar mengerikan. Saya menolak membiarkan anak makan makanan seperti ini lagi.”

Video yang diunggah menunjukkan sebuah camilan “dendeng ayam suwir” dari salah satu merek di Tiongkok. Setelah remah-remah daging jatuh ke lantai, banyak semut datang memakannya. Namun dalam waktu singkat, seluruh semut tersebut mati. Pemandangan itu membuat bulu kuduk merinding.

Berdasarkan daftar komposisi pada kemasan, produk dendeng tersebut mengandung etil maltol (bahan penambah aroma) dan natrium nitrit (pengawet).

Media daratan melaporkan bahwa etil maltol mengeluarkan aroma manis yang menarik semut, sementara natrium nitrit menghambat kemampuan sel membawa oksigen sehingga menyebabkan semut mati lemas. Kombinasi keduanya disebut mirip prinsip kerja umpan pembasmi serangga komersial.

Semut bisa mati karena ukuran tubuhnya sangat kecil (berat sekitar 5 miligram) dan memiliki metabolisme yang cepat.

Natrium nitrit merupakan bahan pengawet yang umum digunakan dalam produk daging untuk menghambat pertumbuhan bakteri botulisme, memperpanjang masa simpan, sekaligus menjaga warna daging tetap merah segar. Namun dalam kondisi tertentu, zat ini dapat membentuk nitrosamin yang bersifat karsinogenik kuat.

Sistem metabolisme anak-anak yang belum berkembang sempurna membuat konsumsi jangka panjang atau berlebihan terhadap produk daging olahan yang mengandung natrium nitrit berpotensi meningkatkan risiko kesehatan. Hal ini juga menjadi pengingat bagi para orang tua agar tidak hanya melihat rasa dan kemasan saat memilih camilan untuk anak, tetapi juga memperhatikan keamanan dan kewajaran komposisinya.

Video tersebut memicu kekhawatiran netizen mengenai keamanan pangan:

  • “Terlalu mengerikan, jangan berikan lagi kepada anak-anak.”
  • “Kalau semut memakannya bisa mati, manusia kalau makan terlalu banyak juga pasti bermasalah.”
  • “Kalau sering makan bisa jadi keracunan kronis.”

Ada juga yang berkomentar:

  • “Ini seperti pestisida model baru.”
  • “Saya curiga kandungan tambahannya sudah melebihi batas.”
  • “Obat semut yang saya beli online saja tidak bisa membunuh semut, ternyata camilan anak malah bisa membunuh semut.”

Sebagian netizen juga mengatakan bahwa beberapa camilan kemungkinan mengandung bahan tambahan berlebihan atau disalahgunakan, terutama produk tanpa merek terkenal. Konsumsi jangka panjang camilan tinggi garam dan aditif disebut dapat membebani hati dan ginjal anak-anak, serta mempengaruhi perkembangan indera perasa mereka sehingga terbiasa dengan rasa yang terlalu kuat.

Artikel itu juga menyinggung berbagai skandal keamanan pangan di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, seperti “susu beracun”, “daging mengandung clenbuterol”, “minyak limbah”, “roti kukus berwarna”, “beras beracun”, penggunaan ribuan jenis aditif makanan, hingga kasus “truk tangki pengangkut minyak makan campur muatan”. Menurut artikel tersebut, berbagai kasus itu menunjukkan seriusnya krisis kepercayaan dan kemerosotan moral dalam industri pangan di Tiongkok.

Sumber : NTDTV.com