Koridor EuroAsia Tangkis Inisiatif Sabuk & Jalan
DR Xie Tian
Awal September lalu telah diadakan KTT G20 di India, AS (Amerika Serikat) dan India mengeluarkan program baru yakni Koridor Ekonomi India-Eropa (India-Middle East-Europe Economic Corridor atau IMEC), yang dianggap sebagai penakluk program “Inisiatif Sabuk & Jalan” (Belt & Road Initiative atau B&RI) dari PKT (Partai Komunis Tiongkok), hal ini merupakan strategi terbaru AS dalam menangkal B&RI.
Namun makna strategis IMEC sepertinya tidak hanya itu saja, IMEC tidak hanya mendorong nilai-nilai ekonomi dan perdagangan internasional, mungkin juga setidaknya akan memperlihatkan makna strategis tiga aspek AS dan Barat dalam mengepung Beijing, bisa dibilang satu panah mengenai tiga burung, yakni: Diplomatik negara besar, strategi militer dan geopolitik, serta transformasi pusat ekonomi dunia.
IMEC adalah program baru yang diumumkan oleh AS, Uni Eropa, India, dan Timur Tengah dalam KTT G20 yang diselenggarakan di ibukota India New Delhi pada 9 September lalu, keempat pihak tersebut akan membangun “Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa”.
Koridor ekonomi ini meliputi penggabungan jalur darat dan laut, koneksi transportasi kapal laut dan kereta api, yang lebih lanjut menghubungkan Asia Selatan dan Timur Tengah dengan Eropa. Pejabat AS menyebutkan program IMEC ini sebagai “Modern-day Spice Route (Jalur Rempah Zaman Modern)”. Setiap negara yang ikut serta, dalam 60 hari ke depan akan menetapkan rencana tindakan beserta jadwal pelaksanaannya yang konkrit.
PM Li Qiang (dibaca: li chiang) yang mewakili Sekjend PKT Xi Jinping (dibaca: si cin bing) hadir dalam konferensi tersebut, dan dalam menghadapi AS, Eropa, India, dan Timur Tengah yang mengeluarkan program tandingan “B&RI” dari PKT, bagi Li Qiang pasti terasa seperti tulang ikan tersangkut di tenggorokan, berbagai rasa pun bercampur aduk, dan sulit membuka mulut untuk berkomentar.
Sebenarnya sejak mendarat di India Li Qiang telah mengalami kendala yang sangat tidak nyaman, tim delegasi RRT membawa 20 buah koper, namun menolak pemeriksaan keamanan oleh pihak penyelenggara, maka pihak India pun mengutus petugas keamanan untuk “memblokir” bagasi rombongan delegasi, kedua belah pihak bersikukuh hingga 12 jam lamanya, dan hal itu telah menjadi peristiwa diplomatik yang sangat canggung.
Mungkin, bisa jadi karena kali ini Xi Jinping telah mengetahui KTT G20 akan mengeluarkan program semacam ini, sementara PKT juga akan sulit menentang apalagi mencegahnya, terlebih lagi tidak sudi menyatakan dukungannya, maka diputuskan untuk tidak menghadirinya, agar tidak terjadi hal-hal canggung. Bagaimana pun juga, yang lebih menakutkan bagi Beijing adalah, bukan hanya koridor ekonomi itu akan bersaing dengan B&RI, tapi juga mulai terbentuknya suatu struktur dunia yang baru.
IMEC bertujuan memajukan pertumbuhan ekonomi dan kerjasama politik keempat pihak. Selain Biden, Modi, dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, juga negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Prancis, Italia, dan Jerman ikut serta pula dalam program pembangunan infrastruktur lintas negara dan menandatangani nota kesepahaman ini.
Menurut Biden, ini adalah suatu kesepakatan yang sangat penting, adalah “kesepakatan yang tak terhingga besarnya”. Penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan menegaskan, koridor ini akan “memajukan perdagangan dan transportasi sumber daya energi, serta memperbaiki konektivitas digital”, yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membantu negara Timur Tengah menjadi kompak, membentuk kawasan Timur Tengah sebagai pusat kegiatan perekonomian, dan bukan sebagai “sumber tantangan, konflik, ataupun krisis.”
Memang demikian halnya, IMEC selain merupakan sebuah “sabuk”, juga merupakan sebuah “jalan”, transportasi laut dan darat secara optimal memanfaatkan jalur laut dan darat yang ada. Jadi, program ini lebih unggul dalam hal biaya dan harga dibandingkan dengan program B&RI yang membutuhkan banyak pembangunan infrastruktur di kawasan gunung yang tinggi dan daerah terpencil.
Apalagi dalam hal politik internasional juga tidak terdapat banyak variabel, tak ada negara yang berpotensi konflik yang harus dimediasi, program ini memang benar-benar merupakan suatu program yang sangat besar yang lebih memungkinkan untuk dilaksanakan.
Bagi pemerintah AS, jalur transportasi antara India-Timur Tengah-Eropa yang baru ini akan dihubungkan dengan jalur kereta api di beberapa negara Timur Tengah dan Eropa, lalu lewat pelabuhan laut dihubungkan lagi dengan India, ini akan membantu ekspor energi dari Teluk Persia dan negara-negara teluk, serta mendorong arus perdagangan Eropa dan Asia.
Direncanakan dapat mempersingkat waktu transportasi, mengurangi biaya, dan menekan konsumsi bahan bakar. Bagi negara Eropa, koridor ekonomi India-Timur Tengah-Eropa ini merupakan pencapaian yang bersejarah, serta menjadi jalur paling langsung yang menghubungkan India, Teluk Persia, dan Eropa, ia merupakan jembatan peradaban lintas dataran Eropa dan Asia. Dengan adanya koneksi jalur kereta api ini, perdagangan bilateral India dan Eropa digadang-gadang akan meningkat sebesar 40%!
Rencana AS-India-Eropa ini bisa dibilang satu panah kena tiga sasaran (burung), yang menimbulkan fungsi rangkap tiga sekaligus. Fungsi pertama, bersamaan dengan mengimbangi program “B&RI” ciptaan PKT, juga memperkuat pola baru diplomatik negara besar Timur dan Barat di dunia setelah mengucilkan RRT dan Rusia.
Sejak Xi Jinping resmi menjabat untuk ketiga kalinya, Beijing terus mendorong yang disebut “diplomatik negara besar”, tapi hari ini, kinerja diplomatik RRT memperlihatkan pemandangan yang serba kacau, bahkan mulai terlihat bersikap defensif dalam hal diplomatik. Setelah absen dari KTT G20, Xi Jinping juga akan absen pada sidang Majelis Umum PBB yang akan digelar di New York.
Kemenlu RRT pada 15 September lalu mengumumkan, akan mengutus wakil kepala negara RRT yakni Han Zheng untuk menghadiri sidang Majelis Umum PBB 2023 ini. Sudah beberapa tahun Xi Jinping tidak menghadiri sendiri sidang tersebut. Pilar inti yang disebut “diplomatik negara besar” RRT, dan hubungan RRT dengan AS, telah terjebak dalam masalah besar, dan perebutan kekuasaan yang sengit dalam sistem diplomatik justru terjadi di balik situasi diplomatik yang sedang merosot ini.
AS dan negara Barat lainnya memang sangat membutuhkan terobosan diplomatik dan aktif menyerang seperti ini, karena PKT bahkan berani menantang AS di “halaman belakang” Amerika, dan telah aktif menyerang. Pada medio September KTT G77+RRT digelar di Kuba, dan tujuan utama KTT kali ini adalah “ilmu pengetahuan serta teknologi dan inovasi”.
Sebagai tuan rumah, pemimpin Kuba Miguel Diaz-Canel dalam upacara pembukaan mengatakan, “Negara di utara terus saja mengorganisir dunia sesuai kepentingannya sendiri, kini sudah waktunya bagi negara-negara di selatan untuk mengubah aturan main.”
Diaz-Canel mengatakan, negara berkembang dan negara yang baru bangkit adalah korban utama dalam “krisis multi-dimensi” dunia, lingkupnya mulai dari “penyalahgunaan perdagangan yang tidak adil”, sampai pemanasan global dan dampak yang ditimbulkannya. Pemimpin Kuba itu mengeluhkan “arsitektur internasional” saat ini “memusuhi” kemajuan negara selatan dunia.
Sekjend PBB António Guterres juga menghimbau pada KTT, agar membentuk tatanan dunia baru yang “lebih representatif dan lebih mampu memenuhi kebutuhan negara ekonomi berkembang”. Kelompok G77 yang dibentuk pada 1964 itu kini telah memiliki 134 negara, yang mewakili 80% populasi dunia. RRT bukan negara anggota dari organisasi itu, tapi juga cukup aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok tersebut, pada situs resmi G77 telah memasukkan Tiongkok di dalam daftar negara anggotanya.
Utusan khusus Xi Jinping selaku Sekjend Komisi Kedisiplinan Pusat sekaligus anggota ketujuh Komite Tetap Politbiro PKT yakni Li Xi mewakili negara RRT menghadiri konferensi tersebut. Li Xi menyampaikan pidatonya bahwa Tiongkok bersedia berdampingan dengan Kuba dan anggota G77 lainnya, untuk “bersama-sama membangun komunitas negara selatan yang senasib”. Yang disebut dengan “komunitas negara selatan yang senasib”, tentu saja merupakan satu bagian dari “komunitas manusia senasib” yang dicanangkan PKT. PKT juga menyambut negara G77 untuk menghadiri “Belt and Road Forum for International Cooperation” (Belt and Road Forum atau BRFIC) ketiga yang akan diadakan bulan depan di Beijing. Situasinya sangat jelas terlihat niatan penentangannya.
Fungsi kedua dari IMEC ini adalah telah memperkuat strategi militer dan kerjasama geopolitik pada barisan kekuatan anti komunis internasional.
Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa yang baru telah memperkuat dan memperluas “strategi Indo-Pasifik” Amerika, dengan menghubungkan aliansi melawan komunisme ini dari Samudera Pasifik hingga Samudera Hindia, dan meluas lagi sampai ke Laut Merah dan Teluk Persia, serta langsung terhubung dengan Eropa dan NATO.
Dari sudut pandang geopolitik internasional, koridor ini telah merampungkan kepungan komprehensif terhadap RRT, memojokkan rezim Beijing dari segala penjuru. KTT G20 mengumumkan, aliansi Afrika yang beranggotakan 55 negara telah resmi bergabung dengan kelompok tersebut, dan menjadi anggota tetap G20.
Sementara itu Ursula von der Leyen dari Uni Eropa juga mengumumkan “Trans-African Corridor”, untuk memperbaiki konflik “Copperbelt (Sabuk Tembaga)” antara Kongo dan Zambia, serta hubungan transportasi Pelabuhan Lobito di Angola. AS dan Uni Eropa juga mendukung proyek Lobito Corridor ini. Perlu diketahui, dulu PKT menghabiskan banyak uang untuk membangun jalur kereta api Tanzam (Tanzania-Zambia), karena mengincar tambang tembaga Zambia.
Tindakan aktif pemerintah AS di utara Tiongkok, yakni dengan menjalin hubungan mitra kerjasama dan ekonomi perdagangan yang sepenuhnya baru, yakni dengan Negara Mongolia, yang bertujuan untuk mematahkan ancaman monopoli PKT atas mineral tanah jarang.
Usai KTT G20, Biden langsung berkunjung ke Vietnam, dan sukses menjalin “hubungan kemitraan strategis komprehensif” dengan Vietnam. Biden menyatakan, ini mungkin adalah “awal dari era kerjasama yang lebih besar” antara AS dan Vietnam. AS jelas telah mulai memandang Vietnam sebagai kunci yang berpengaruh di Asia untuk mengimbangi PKT, dan Vietnam dianggap sebagai halaman belakang RRT.
Dalam kunjungan Biden ke Vietnam, juga didampingi oleh para petinggi perusahaan besar seperti Google, Intel, perusahaan pengemas dan penguji semi konduktor Amkor, Marvell, Global Foundries, dan juga Boeing, mereka semua telah menghadiri forum kerjasama ekonomi yang diadakan di Hanoi.
Bisa dibayangkan para pemimpin tentunya PKT terkejut sekaligus kecewa setelah menemukan bahwa pemandangan 20 tahun lalu dimana para petinggi perusahaan besar itu mengajukan izin untuk masuk ke Tiongkok, saat ini telah terulang kembali di Hanoi!
Pengulangan dan reinkarnasi dari sejarah, memang sedemikian menarik. Lima dasawarsa lalu, demi melawan rezim komunis Uni Soviet, Amerika pernah menggandeng negara tetangga komunis di selatan Uni Soviet dan RRT, lalu berhasil menyelesaikan ancaman komunis Soviet; kini, demi melawan rezim komunis PKT, AS kembali bekerjasama dengan rezim partai komunis Vietnam di sebelah selatan Tiongkok, dengan tujuan meruntuhkan ancaman PKT.
Hasil dari kerjasama AS dengan PKT adalah telah mengalahkan komunis Soviet; tujuan kerjasama AS dengan Vietnam adalah untuk mengalahkan PKT. Angin memberantas komunis dari utara bertiup ke selatan, dari tanah kelahiran negara komunisme, terus meluas hingga beberapa rezim komunisme yang tersisa. Pengaturan takdir dan sejarah, memang benar-benar tidak bisa diprediksi, namun ada jejak yang dapat ditelusuri.
Ketika kekompakan AS dengan Korsel dan Jepang semakin erat, dan bersama-sama menghadapi PKT, kebijakan India terhadap Tiongkok juga dilakukan perubahan cepat. India pun menjadi titik awal yang krusial bagi AS dalam memperluas strategi Indo-Pasifik dan menciptakan koridor Asia-Eropa yang baru. Pada medio September barusan, dengan tujuan melawan PKT, India akan membangun lapangan terbang tempur yang tertinggi di dunia.
Makna penting kawasan Daulat Beg Oldi secara strategis adalah karena Ladakh Timur hanya berjarak 30 mil dari garis kontrol aktual (LAC) India-Tiongkok, bandara baru tersebut akan membantu India dengan cepat mengirim pasokan dan personel ke wilayah tersebut.
Menurut informasi, Daulat Beg Oldi berada di ketinggian 13.000 kaki di atas permukaan laut, saat ini hanya memiliki satu landasan pacu tanah, hanya bisa mendaratkan pesawat angkut C-130J buatan AS dan helikopter. Pensiunan AU India Letjend Anil Golani mengatakan kepada VoA, “Pembangunan bandara Daulat Beg Oldi merupakan tindakan yang akan mengubah aturan main.”
Golani juga menyatakan, “Pasca kontak senjata India-Tiongkok pada 2020 lalu di Lembah Galwan, India telah meninggalkan pola pemikiran pasifisme, dan sekarang bertekad bersaing dengan lawan, serta tidak akan mengalah lagi dalam hal kepentingan negara dan keutuhan wilayah kedaulatannya.”
Fungsi ketiga adalah koridor ini dapat mendorong transformasi pusat ekonomi dunia.
Pakar dan akademisi di dalam maupun luar negeri umumnya berpendapat, “koridor ekonomi baru” ini adalah produk dukungan AS kepada India untuk menggantikan “B&RI”, dan di tengah kondisi merosotnya perekonomian Tiongkok, program “B&RI” telah semakin melemah.
Menurut dokumen IMEC, diasumsikan akan terbentuk dari dua koridor yang independen, yang pertama adalah koridor timur yang menghubungkan India dengan Teluk Persia, dan yang kedua adalah koridor utara yang akan menghubungkan Teluk Persia dengan Eropa, ini yang dipandang sebagai respon terhadap inisiatif “satu sabuk satu jalan” PKT. Negara mitra berencana membangun kabel koneksi digital dan tenaga listrik di sepanjang jalur kereta api, serta saluran ekspor hidrogen bersih.
PM Israel Netanyahu menyatakan, “Israel akan menjadi hub pusat dari koridor ekonomi ini.” Tetapi di antara negara-negara yang dihubungkan oleh jalur IMEC, India dianggap sebagai negara yang paling diuntungkan. Sehingga India akan menjadi hub inti arus perdagangan dari Asia Tenggara hingga ke Timur Tengah dan Eropa.
Karena restrukturisasi rantai industri dunia, rantai pasokan sedang meninggalkan Tiongkok dengan cepat, bersamaan dengan beralihnya rantai industri yang mengakibatkan kemerosotan ekonomi Tiongkok, Vietnam dan India pun menjadi negara yang menuai keuntungan paling besar. India pun mempercepat pertumbuhan ekonomi saling menguntungkan dengan Timur Tengah, meningkatkan perdagangan dengan Eropa, bahkan memperoleh pesanan yang tadinya untuk Tiongkok namun dialihkan ke Vietnam dan negara ASEAN lainnya, semua karena koridor ini telah membukakan peluang tak terbatas.
Bagi negara Eropa, koridor ekonomi ini dapat membantu mereka melepaskan ketergantungan pada RRT, dapat membantu mereka mengurangi risiko, mewujudkan diversifikasi rantai pasokan, membuat Eropa, India, dan ASEAN mendapatkan banyak keuntungan.
India pada dasarnya sangat tidak percaya pada program “B&RI” dari PKT, bahkan menolaknya dengan tegas, sebab proyek koridor ekonomi RRT-Pakistan itu melalui wilayah Kashmir yang Tengah dalam persengketaan.
Dalam KTT G20, Modi menekankan, “koridor ekonomi baru” mendorong kemudahan finansial, dan tidak akan menambah beban utang, serta menghormati prinsip ramah lingkungan dan kedaulatan wilayah negara mitra. Ini menjadi perbandingan yang sangat mencolok dengan “B&RI” yang membebani negara sepanjang jalurnya dengan sistem kolonialisme, ini juga yang membuat setiap negara lebih mudah menerima koridor tersebut, dan meninggalkan “B&RI” dari PKT.
Yang cukup berarti adalah, dikabarkan program tersebut awalnya dikemukakan oleh India, UEA, dan Amerika, kemudian didukung penuh oleh Kerajaan Arab Saudi, lalu diikuti pula oleh Italia, Jerman, dan Prancis. Saat ini Italia sedang konflik dengan PKT, dan hendak keluar dari program “B&RI” PKT, seharusnya ada kaitan dengan keikut-sertaan Italia dalam proyek IMEC.
Bisa dibayangkan, PKT dengan mata terbelalak menyaksikan Italia direbut oleh India dari tangannya, juga merebut masa depan proyek “B&RI”. Bisa dibayangkan kemarahan dan kebencian PKT.
Seperti disebutkan di atas, Xi Jinping absen dari KTT G20 di India kali ini, mungkin karena telah mencium aroma peluang yang sedang tercipta, telah merasakan akan ada pemblokiran pada proyek signature “B&RI” Xi Jinping, jadi Xi Jinping memutuskan absen begitu saja sebagai wujud “protes”, dan menyatakan rasa tidak senangnya. Tapi pemerintah Xi Jinping juga tidak memiliki cara untuk melawannya, juga tidak ada alasan untuk melawannya, benar-benar seperti si bisu menelan pil pahit, terasa begitu pahit tapi tak bisa mengungkapkannya!
“IMEC menggunakan kontainer standar internasional, barang dikirim lewat laut dari India ke pesisir timur UEA, lalu diteruskan ke Haifa, Israel, lewat jalur kereta api, kemudian dari Haifa dikirim ke Eropa. Keunggulan terbesar dari koridor ini adalah, hampir seluruhnya telah ada, dan hanya menunggu dikelola saja, hanya ada seruas kecil jalur kereta api di dalam wilayah Arab Saudi yang harus diperbaiki.”
Yang lebih mengkhawatirkan PKT adalah, proyek ini mungkin akan memperoleh izin dari pemerintahan militer Myanmar, jika dibangun sebuah pelabuhan di Myanmar, maka koridor itu mungkin akan menghubungkan Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Bangladesh, secara menyeluruh dengan India, Timur Tengah, dan Eropa. Di saat AS dan Eropa melakukan pengurangan risiko dan melepaskan ketergantungannya terhadap RRT, koridor itu akan dengan lebih cepat dan lebih efektif mengalihkan pusat ekonomi dan perdagangan internasional, pusat manufaktur, serta pusat pabrik dunia yang selama ini disandang oleh RRT, dengan cepat beralih ke India dan Vietnam!
AS, Eropa, India, ditambah dengan Israel dan banyak negara Arab lainnya, kali ini berhasil bersatu dan dengan kuat menghadang PKT, ini bisa dibilang sebagai satu panah diluncurkan tiga burung terkena. Dalam makna berlapis: membentuk kembali pola diplomatik internasional, menggariskan kembali peta geopolitik, merestrukturisasi rantai pasokan dunia, memposisikan kembali pusat ekonomi dunia, dan dengan telak melawan rezim PKT, program IMEC ini memiliki kekuatan deterensi dan dampak menyeluruh di bidang politik, diplomatik, militer, dan ekonomi pada masa mendatang, seharusnya dalam setengah hingga satu tahun mendatang, akan terpampang secara bertahap. (sud/whs)
AS-Tiongkok Bersaing di ASEAN, Vietnam Condong ke AS
Pinnacle View
Pada awal September Presiden Biden telah berkunjung ke Asia, selain India, Vietnam yang merupakan salah satu fokusnya. Selama beberapa hari Biden berunding beberapa kali dengan para pemimpin Vietnam, juga telah menandatangani serangkaian kerjasama teknologi, ekonomi dan perjanjian di bidang diplomatik, serta telah tercapai hubungan kemitraan strategis level tertinggi antar kedua negara.
Semua analis telah memandang peningkatan hubungan ini sebagai langkah besar bagi AS (Amerika Serikat) dalam konfrontasi dengan Beijing di Laut Tiongkok Selatan. Tetapi apakah hubungan ini benar-benar bermanfaat? Benarkah Vietnam akan bersekutu dengan AS dalam melawan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) ? Kesulitan apakah yang bakal dihadapi PKT (Partai Komunis Tiongkok) di kawasan Asia Tenggara?
Gandeng Vietnam, AS Rampungkan Puzzle Terakhir Strategi Asia Pasifik
Peneliti sejarah perang yang pernah mengalami sendiri Perang Vietnam, Yang Haiping, kepada acara “Pinnacle View” stasiun televisi NTDTV menyatakan, sekarang AS berniat mengobarkan strategi perang keroyokan, maka digalanglah semua negara untuk mengepung PKT, sekarang selain Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Filipina, potongan (puzzle) terakhir ini adalah Vietnam.
Sejak 2007 kapal perang AS sudah mulai bertandang ke Vietnam, walaupun dulunya AS memiliki hubungan buruk dengan Vietnam, tetapi karena Vietnam berada di antara beberapa negara besar, aliansi kemitraan strategis Vietnam dulunya ditandatangani dengan Rusia, juga dengan Tiongkok, lalu dengan India, juga pernah dengan Korsel. Waktu itu banyak anak-anak keturunan Korea berdarah campuran Korea-Vietnam yang menetap di Vietnam, jadi belakangan ini banyak orang Korsel berinvestasi di Vietnam, orang Jepang juga pergi ke Vietnam. Kini Vietnam harus menyeimbangkan semua kekuatan tersebut, karena kekuatan PKT kian hari kian membesar, jadi sekarang Vietnam lebih condong ke pihak AS untuk mengimbangi PKT.
Di Taiwan banyak wanita Vietnam yang menikah dengan warga Taiwan, para wanita Vietnam itu pekerja keras yang ulet, dan berani, serta sangat rajin, mereka memiliki banyak keunggulan. Benarkah sejarah Vietnam adalah sejarah yang dipengaruhi oleh kebudayaan Tiongkok?
Orang Vietnam mengakui kebudayaan Tionghoa, dan sebenarnya budaya mereka sangat mirip dengan orang Minyue (kerajaan kuno di Fujian, selatan Tiongkok, red.), karena gaya hidup mereka menyerupai orang-orang di wilayah selatan Tiongkok. Mereka sangat tidak puas dengan PKT, karena Beijing terlalu arogan, tidak mau menyelesaikan masalah Laut Tiongkok Selatan secara damai, dan selalu bersikukuh menggunakan cara militer yang keras untuk menyelesaikannya.
Orang Vietnam agak mirip dengan orang Jepang, dan berusaha mati-matian melawan PKT, sehingga terbentuklah sikap menggabungkan kekuatan dengan AS. Dulu Vietnam menggalang Rusia, menggalang India, tapi karena Rusia tidak becus dalam Perang Ukraina, Vietnam mencatatnya, maka itu Vietnam berpindah ke pihak AS.
Walaupun Vietnam mempunyai empat kebijakan utama, yakni non-blok tanpa aliansi militer, tidak bersekutu, tidak membiarkan masuknya militer asing, dan tidak ikut dalam perang, tetapi selama ini AS telah memberikan banyak bantuan militer bagi Vietnam berupa kapal patroli, juga melatih pasukan pengawal pantai Vietnam, dalam rangka melawan tekanan PKT terhadap Vietnam, jadi hal ini juga merupakan salah satu dari kebijakannya, sudah sama-sama tahu.
Bagi pihak militer AS, yang terpenting adalah jika terjadi konflik di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan, Vietnam dapat menjadi pangkalan pemasok perbekalannya, seperti pelayaran kapal militer AL, setiap beberapa bulan sekali harus berganti personel dan memasok perbekalan, jadi letak geografis Vietnam wajib dipertahankan bagi Amerika Serikat.
Produser televisi independen bernama Li Jun menyatakan kepada “Pinnacle View”, dulu orang mengatakan dalam bidang ekonomi mengandalkan Tiongkok, dalam bidang keamanan mengandalkan AS, tetapi faktanya ketergantungan ekonomi Vietnam terhadap AS justru sangat besar. AS adalah negara tujuan ekspor terbesar bagi Vietnam, sementara Tiongkok adalah negara impor terbesar bagi Vietnam, nilai ekspor Vietnam ke AS mencapai surplus perdagangan hampir 100 milyar dolar AS (Rp 1.537 triliun, kurs per 19/09), sementara defisit perdagangan dengan Tiongkok mulai Januari hingga Juli 2022 sekitar 40 milyar dolar AS (Rp 615 triliun ), dengan kata lain, jika Vietnam tidak berbisnis dengan AS, maka Vietnam tidak akan mempunyai uang untuk membeli barang-barang dari Tiongkok. Jadi kondisi seperti ini, setelah Vietnam bekerjasama dengan AS, tidak hanya dalam bidang keamanan mengandalkan AS, dalam hal ekonomi pun Vietnam sangat bergantung pada AS. Di dalam perjanjian yang ditandatangani Presiden Biden dengan Vietnam kali ini ada satu konten krusial terkait industri cip, yakni di kemudian hari industri cip akan dialihkan untuk diproduksi di Vietnam.
Pemimpin redaksi surat kabar The Epoch Times yakni Guo Jun berkata pada “Pinnacle View”, jelas sekali bahwa AS sedang membentuk kepungan terhadap Beijing, setelah aliansi AS-Jepang-Korsel di kawasan Asia Pasifik, maka fokus berikutnya adalah Asia Tenggara. ASEAN sangat penting dalam hal politik internasional dan perekonomian di masa mendatang, jumlah populasi negara ASEAN mencapai 650 juta jiwa, dengan PDB mencapai 3,6 miliar dolar AS (Rp 55.340 triliun), hampir sama dengan India saat ini, dan ASEAN sedang berada dalam jalur pertumbuhan yang cepat. Pada mall-mall di AS bisa disaksikan semakin banyak produk buatan Vietnam dan Malaysia.
Selain penduduk ekonomi, ada satu faktor penting lainnya yakni Laut Tiongkok Selatan, sebagai kawasan yang mutlak diperebutkan dalam perang, ancaman terhadap negara Asia Tenggara sejak dulu berasal dari RRT. Dulu (1950-an – akhir 1970-an) di dalam kubu komunis internasional, PKT bertugas menyebarkan revolusi di negara-negara Asia, khususnya di kawasan Asia Tenggara (perebutan kekuasaan G30-S PKI 1965 berhasil dipatahkan, redaksi), pada dasarnya kelompok gerilyawan komunis dan revolusi bersenjata di setiap negara mendapatkan dukungan serta bantuan dari PKT. Berkat dukungan tersebut pada akhirnya organisasi komunis di negara Vietnam, Laos dan Kamboja, telah berhasil merebut kekuasaan.
Tentu saja negara lain sangat cemas, jadi berdirinya ASEAN beranggotakan lima negara, pada awalnya merupakan aliansi politik dan militer dalam menentang komunisme, hingga Partai Komunis Vietnam berhasil menyatukan Vietnam, saat itu juga Vietnam menjadi negara yang paling ditakuti di Asia Tenggara. Tetapi antara PKT dan AS pada 1972 telah menyepakati, Beijing berhenti mendukung pasukan gerilya di Asia Tenggara, pada 1979 RRT malahan berperang dengan Vietnam, itulah saatnya RRT memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbaiki hubungan mereka dengan negara Asia Tenggara lainnya.
Namun beberapa tahun belakangan ini PKT menjadi semakin garang di hadapan dunia, negara Asia Tenggara pun merasakan tekanan PKT kian hari kian besar, ketika masalah keamanan saat ini menjadi semakin mendesak, fungsi AS pun menjadi semakin menonjol. Titik panas ini berada di Laut Tiongkok Selatan, bagi AS, Laut Tiongkok Selatan adalah kawasan yang menjadi perebutan dalam ajang perang, seluruh jalur transportasinya harus melalui Laut Tiongkok Selatan.
Sekarang AS dan ASEAN sedang bersekutu kembali dalam aliansi strategis yang baru, dua negara yang paling penting di dalamnya adalah Filipina dan Vietnam, AS dan Filipina telah memiliki traktat pertahanan bersama, terdapat hubungan aliansi militer, sekarang AS mempererat hubungannya dengan Vietnam, niat dan tujuannya sudah sangat jelas.
Pertempuran Yang Menentukan AS-RRT-Vietnam, Hubungan Geografis Rumit dan Terus Berubah
Penulis utama di surat kabar The Epoch Times yakni Shi Shan menyatakan kepada “Pinnacle View”, dalam hubungan AS-PKT, sebenarnya Vietnam memainkan peran yang sangat penting. Saya pernah melihat sebuah dokumen Komisi Pusat Partai Komunis Vietnam yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Mandarin, di dalamnya tertulis dengan jelas: “Kami selamanya tidak akan dapat melupakan negara besar di utara yang telah melakukan intervensi yang kasar terhadap unifikasi negara kami.” Setelah membaca dokumen tersebut saya kembali mencari tahu penggalan sejarah, dan menemukan beberapa faktor yang sangat penting di dalamnya, yakni setelah Nixon berkunjung ke Tiongkok, antara AS dengan RRT telah tercapai kesepakatan diam-diam, dengan kata lain, AS menarik pasukannya dari Vietnam, sementara RRT membantu kedua pihak Vietnam (Utara dan Selatan) agar terus eksis. Dengan kata lain Vietnam Utara tidak boleh menginvasi Vietnam Selatan atau sebaliknya, jadi berbarengan dengan AS menarik pasukannya, sekitar 1973 atau 1974, diadakanlah rapat tiga negara empat pihak di Paris, yakni antara Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Kamboja dan Laos, yang isinya menyatakan keempat pihak ini tidak akan saling menginvasi.
Namun pada dasarnya setelah AS menarik semua pasukannya, Vietnam Utara pun mulai menyerang Vietnam Selatan secara besar-besaran. Waktu itu PKT menepati janjinya pada AS, yakni memberikan tekanan yang amat besar terhadap Vietnam Utara, jadi pada 1974 hingga 1975, pada dasarnya Beijing telah menghentikan segala pasokan barang dan persenjataan kepada Vietnam Utara, serta semua staf militernya ditarik keluar, maksudnya adalah agar Vietnam Utara tidak melakukan invasi pada saat itu, melainkan ditunda lima, atau sepuluh tahun, maka sejarah akan tercatat lain.
Oleh karena itu Vietnam sangat berang terhadap PKT, padahal sebelum kejadian itu hubungan Vietnam dengan Beijing boleh dibilang adalah sangat dekat, bahkan erat, karena PKT pernah mengirimkan 300.000 orang pasukan pertahanan udaranya ke Vietnam dengan mengenakan seragam militer Tentara Rakyat Vietnam dan berperang bersama Vietnam melawan Amerika. Saya mengenal banyak veteran tentara Tiongkok yang dulu ikut berperang di Vietnam, tapi setelah mereka semua ditarik mundur, hubungan komunis Vietnam dengan komunis Tiongkok lantas memburuk, Vietnam pun berpihak pada Uni Soviet. Hingga akhirnya pada 1979 Vietnam malah berperang melawan RRT, disini hubungan pun menjadi sangat kompleks, karena PKT berniat berkompromi dengan AS untuk melawan ancaman dari Uni Soviet, maka hubungan dengan Vietnam menjadi rusak. Sementara untuk menghadapi ancaman dari PKT, Vietnam menjalin hubungan dengan Uni Soviet, hubungan ini pada masa itu sangat rumit, juga sangat bermakna, di dalamnya terdapat serangkaian hubungan geopolitik.
Komunis Vietnam Belok Kanan Berpihak Pada AS, PKT Menyendiri Dikucilkan
Kepada “Pinnacle View” Guo Jun menyatakan, Vietnam masih merupakan sebuah negara kediktatoran komunis satu partai, masih banyak tawanan politik dan kaum oposisi ditahan di penjaranya, juga masalah korupnya pejabat-pejabatnya, pengendalian penguasa terhadap warganya juga sangat ketat. Tetapi partai komunis di Vietnam sangat berbeda dengan PKT.
Pertama, karena kapasitas komunis Vietnam tidak besar, sepertinya sulit menjadi ancaman yang bersifat global terhadap AS.
Kedua, komunis Vietnam tidak berambisi ekspansi, bisa dilihat selama beberapa dasawarsa terakhir, setelah unifikasi Vietnam tidak terlihat semacam ambisi untuk melakukan ekspansi, tidak ada pula niat mengirim utusan dalam rangka menggulingkan negara lain.
Ketiga, Partai Komunis Vietnam telah melakukan serangkaian reformasi, dan menerapkan demokrasi dalam internal partai. Pemimpin Partai Komunis Vietnam sekarang dipilih oleh internal partainya, hal ini sangat penting, karena pemimpin tertingginya tidak mengalami krisis rezim, tradisi hukumnya memiliki legalitas internal partai, Vietnam tidak seperti Partai Komunis Tiongkok dimana siapa saja yang naik jabatan semua orang merasa orang itu tidak sah, bahkan tidak memiliki legalitas internal partai, Vietnam telah mengatasi masalah pewarisan kekuasaan, ini adalah perbedaan yang sangat mencolok. Selain itu tingkat keterbukaan Vietnam jauh lebih tinggi daripada Tiongkok, misalnya di Vietnam tidak ada firewall internet, segala informasi di luar negeri bisa diakses bebas oleh rakyat Vietnam.
Guo Jun menyatakan, dalam kancah politik internasional posisi Vietnam saat ini sangat menguntungkan, bagi Vietnam, ini adalah peluang baik yang tak akan ditemui bangsa ini selama ratusan tahun. Sekarang Vietnam tidak hanya menjadi sasaran yang digandeng oleh AS, Rusia juga sedang menggandeng Vietnam, hubungan Vietnam dengan Uni Soviet dulu sangat erat, hingga kini masih menjaga hubungan yang cukup baik dengan Rusia, di antara mahasiswa asing yang menempuh studi di Moscow State University, mahasiswa asal Vietnam adalah yang paling banyak, baru-baru ini pada Eastern Economic Forum (EEF) yang digelar di Vladivostok Putin secara rinci menjelaskan alasan dialihkannya fokus strategi Rusia ke Asia, Putin mengatakan negara Barat berusaha membatasi ekonomi Rusia, ia mengatakan tindakan ini menyebabkan Rusia akan mempercepat mengalihkan fokus strateginya ke Asia, sebenarnya teman terbaik Putin di Asia adalah Vietnam, dan bukan RRT, ia lebih percaya pada Vietnam. Walaupun merupakan partai politik komunis, tapi sifat nasionalisme Vietnam lebih mengutamakan kesetiakawanan, dan orang Vietnam sangat membenci sikap PKT yang suka merundung atau mengintimidasi.
Kepada “Pinnacle View” Yang Haiping menyatakan, kepercayaan Vietnam terhadap AS jelas jauh melampaui PKT, karena pemerintah RRT sama sekali tidak bisa dipercaya, sama sekali tidak seperti AS, setidaknya berdampingan dengan AS akan membuat Vietnam kaya, dan ekonominya akan membaik, ini adalah fakta mendasar yang diketahui semua orang, Singapura adalah contoh terbaik.
Pemerintahan Singapura di masa awal kekuasaan Lee Kuan Yew adalah pemerintahan sayap kiri, yang pro-komunis, tapi begitu memerdekakan diri, Lee langsung belok kanan, beralih kepada AS dan bekerjasama penuh dengan negara Barat, sehingga diperoleh prestasinya sekarang ini, dari PDB hanya 500 dolar AS tumbuh hingga mencapai 90.000 dolar AS. Dikatakan keberhasilan perkembangannya adalah mengandalkan AS, semua negara Asia Tenggara telah melihat contoh nyata ini, jadi mereka juga memahami mengikuti PKT tidak akan berakhir baik, saya percaya mereka hanya akan semakin dekat dengan AS, lalu bagaimana mereka akan bersekutu mungkin harus dilihat bagaimana perkembangan ekonominya, hal ini akan memengaruhi kebijakan setiap negara di masa mendatang. (sud/whs)
Rudal Neptune menjadi Senjata Serbu Andalan, Hancurkan Kapal Selam dan Kapal Pendaratan
Mark Space
Pada 13 September dini hari Ukraina menggunakan 10 unit rudal dan 3 unit kapal nirawak melancarkan serangan terhadap galangan kapal di kota terbesar Semenanjung Krimea yaitu Sevastopol, dan berhasil menyasar telak dua unit kapal perang yang sedang dalam perawatan, yakni kapal angkut pendaratan Minsk kelas Ropucha, dan kapal selam kelas Kilo yang bertenaga konvensional yakni Rostov-on-Don yang nilai pembuatannya sebesar 300 juta dolar AS (4,6 triliun rupiah, status kurs per 18/9) meledak dan terbakar, ini adalah kapal selam Rusia yang pertama diserang sejak perang dimulai pada Februari tahun lalu, dan posisi diserang adalah di darat.
Keesokan harinya 14 September, pasukan Ukraina kembali menyerang sistem pertahanan udara Krimea dengan pesawat nirawak dan rudal Neptune, berhasil menghancurkan sistem pertahanan udara S-400, membuat kekuatan pertahanan udara Rusia kembali mengalami kerugian.
Foto satelit menunjukkan, serangan Ukraina terhadap galangan kapal itu sangat berhasil, kapal angkut pendaratan dan kapal selam itu sudah dapat dipastikan rusak berat. Setelah kehilangan kedua unit kapal militer tersebut, kemampuan pasokan logistik dan daya tempur jarak jauh pasukan Rusia pun turut terdampak serius.
Kapal selam Rostov-on-Don adalah kapal selam bertenaga konvensional kelas Kilo, baru mulai berdinas sejak 2014. Armada Laut Hitam Rusia memiliki 7 unit kapal selam, semuanya kelas Kilo, tapi ada 1 unit yang sejak 2022 selalu berada di Laut Mediterania, tidak berada di Laut Hitam, oleh sebab itu Rusia hanya memiliki 6 unit kapal selam di Laut Hitam.
Setelah melakukan invasi berskala penuh terhadap Ukraina, fungsi utama kapal selam pada Armada Laut Hitam Rusia sudah bukan lagi anti kapal selam dan anti kapal lagi, karena AL Ukraina sudah tidak memiliki armada kapal perang yang memadai. Sebaliknya kapal selam Rusia telah berubah menjadi platform angkut rudal jelajah 3M-54 Kaliber penuh waktu, dan telah menjadi profesional dalam serangan terhadap darat.
Sementara kapal angkut pendaratan telah menjadi alat transportasi logistik yang sangat penting bagi pasukan Rusia. Karena pasukan Ukraina telah menerobos garis pertahanan pertama, sehingga jaraknya semakin dekat dengan Krimea dan pesisir Laut Azov, banyak jalur perbekalan darat sudah tidak dapat digunakan lagi, atau menjadi sangat berbahaya, jumlah pasokan perbekalan darat pun berkurang drastis, dengan demikian angkutan logistik lewat laut dengan kapal pendaratan bagi garis perang di selatan dan timur pun menjadi semakin penting.
Kapal angkut kelas Ropucha yang dimiliki Armada Laut Hitam hanya ada 4 unit, dengan standar isi tolak 2.812 ton, dan berat benaman lebih dari 4.000 ton, kali ini Ukraina berhasil menghancurkan satu unit kapal angkut pendaratan bisa dibilang adalah sebuah kemenangan besar bagi mereka, serta mengikis pasokan perbekalan tentara Rusia, hal itu setara dengan mengurangi jumlah korban tewas dan cedera di pihak sendiri.
Dalam serangan terhadap Krimea belum lama ini, selain pesawat nirawak, rudal Neptune telah memainkan peran penyerangan yang utama, membuat taktik perang Ukraina menjadi lebih fleksibel.
Media massa Ukraina memberitakan, pada 14 September, serdadu Ukraina menggunakan pesawat drone menghancurkan radar pada sistem pertahanan udara S-400, lalu menembakkan dua buah rudal Neptune untuk menghancurkan sistem pertahanan udara S-400 itu secara tuntas.
Media massa AS menilai Neptune telah meraih “lompatan teknologi yang besar”, seharusnya karena mendapat sejumlah cip yang krusial, tidak hanya menjadikannya memiliki sistem pandu berbasis GPS, juga mempunyai sistem pelacak citra inframerah (IIR Seeker System, red.), di samping itu jarak tembaknya juga telah meningkat. Menurut pejabat Ukraina yang dirahasiakan namanya, rudal Neptune setelah dimodifikasi masih menggunakan peluncur yang sama dengan sebelumnya, jangkauan tembak dari 280 km meningkat menjadi 400 km, dan bobot angkutnya juga meningkat hingga 350 kg, bisa dibilang merupakan metode penyerangan jarak jauh paling kuat dengan jangkauan terjauh yang dimiliki Ukraina saat ini. (sud/whs)
Demi Menyelamatkan 2.700 Orang, Direktur Keamanan Mempertaruhkan Nyawa
Cai Rong
Pada 11 September 2001, Amerika Serikat (AS) mengalami serangan teroris, Menara Kembar World Trade Center ditabrak hancur oleh pesawat, yang menewaskan hampir 3.000 orang. Dalam musibah ini, ada satu orang yang patut dikenang namanya, yakni: Rick Rescorla. Ia adalah Direktur Keamanan Morgan Stanley dan mantan perwira Angkatan Darat (AD) Inggris dan AS yang bertugas di Perang Vietnam serta penerima anugerah Purple Heart dan Silver Star. Pada hari kejadian 9‧11, ia berhasil menggiring 2.700 rekannya menyelamatkan diri, namun ia sendiri tidak lolos dari maut.
Rick dilahirkan di Inggris dan sejak kecil tertarik pada kemiliteran. Ketika ia berusia 16 tahun, ia bergabung dengan Angkatan Darat Inggris dan berperang melawan komunisme di Siprus dan koloni Inggris Rhodesia di Afrika bagian selatan. Kemudian, ia berimigrasi ke AS dan bergabung dengan AD-AS, ia tampil mengesankan dalam Perang Vietnam, dan mendapatkan rasa hormat dari rekan senegaranya karena ketenangan, keberanian, dan kepemimpinannya. Ia juga terkenal karena menyanyikan lagu-lagu yang membangkitkan semangat, dan fotonya digunakan sebagai sampul buku terlaris tentang Perang Vietnam.
Setelah pensiun, Rick Rescorla menjadi konsultan keamanan. Pada 1988, dua teroris Libya membajak sebuah pesawat Pan Am dan meledakkannya di atas kota Lockerbie di Inggris, hal ini memicu kekhawatiran Rick bahwa World Trade Center bisa saja akan menjadi sasaran serangan teroris.
Dia mengundang Dan Hill, seorang kawan lama yang mengerti tentang pelatihan kontraterorisme, untuk datang dan menilai keamanan World Trade Center. Hill menunjukkan target potensial di tempat parkir basement. Meskipun mereka melaporkan rekomendasi keselamatan kepada otoritas pelabuhan, namun rekomendasi itu diabaikan karena memerlukan biaya besar untuk diterapkan. Pada 1993, teroris meledakkan bom truk berjarak hanya 30 kaki dari perkiraan laporan tersebut.
Pandangan ke depan Rescorla
Setelah insiden pemboman dengan truk di World Trade Center pada 1993 terjadi, Rick menjadi semakin khawatir tentang keamanan gedung tersebut, karena ia percaya bahwa teroris kemungkinan besar akan menabrakkan pesawat ke salah satu menara dalam serangan berikutnya. Ia menyarankan kepada para eksekutif perusahaan: Pindah keluar dari World Trade Center. Namun masa sewa Morgan Stanley baru akan berakhir pada 2006. Itulah sebabnya ia bersikeras melakukan latihan evakuasi mendadak sebanyak dua kali dalam setahun. Ia melatih karyawan satu kelompok dua orang untuk menuruni tangga, sampai dengan ke lantai 44. Ia menggunakan stopwatch untuk menghitung waktu ketika karyawan bergerak terlalu lambat dan mengajari mereka dasar-dasar tanggap darurat kebakaran.

Sikap keras dan disiplin yang dilakukan Rick terhadap pelatihan ini membuat banyak eksekutif tidak senang karena merasa rutinitas sehari-hari mereka terganggu. Namun ia bersikeras bahwa hal ini perlu: Di gedung-gedung super tinggi seperti World Trade Center, Anda tidak bisa menunggu atau mengharapkan penyelamatan, Anda harus mengambil inisiatif; penyelamatan dari atap gedung jarang terjadi dan berbahaya, jadi semua orang harus lari ke bawah. Karir militernya meyakinkannya bahwa dalam keadaan darurat, sulit bagi orang pada umumnya untuk berpikir dengan tenang, hanya melalui pelatihan berulang-ulang seseorang baru dapat membuat reaksi yang hampir naluriah dalam kepanikan.
Menurut cerita New Yorker tahun 2002 mengenai “Pahlawan Sejati Telah Mati”: Pada 9.11, ketika pesawat pertama menabrak (sekitar 8:50), Rick menelepon Hill, agar segera menyalakan TV untuk menganalisis situasi pada saat itu. Kawannya mengenang bahwa di telepon, ia mendengar Rick dengan nada tenang mengevakuasi karyawan melalui pengeras suara, dan bahkan menyanyikan lagu kenangan saat di Vietnam: “……. Jangan pernah bilang kamu tidak siap bertarung, berdirilah, jangan pernah menyerah!” Rick mengatakan kepada rekannya bahwa ia sangat marah karena Otoritas Pelabuhan menyuruh seluruh karyawan untuk tetap diam di tempat. “Dampaknya, semua lantai di atas hantaman pesawat akan runtuh, saya harus mengeluarkan semua orang saya.”
Menurut memori karyawan Morgan Stanley, Rick sejak awal menggunakan pengeras suara untuk memandu karyawan melakukan evakuasi secara tertib dari sisi kanan tangga, sehingga petugas pemadam kebakaran yang naik dapat lewat dengan lancar (jalan keluar darurat World Trade Center hanya dapat menampung dua orang sekaligus), dan dilanjutkan dengan bernyanyi atau berbicara untuk meyakinkan para karyawan dan membuat mereka tetap tenang.
Ketika Menara II juga ditabrak pesawat, ia tidak mencampakkan siapa pun, tetapi bersikeras untuk membawa semua orang untuk keluar. Ketika ia terakhir kali menelepon istrinya, Susan, ia mengatakan kepadanya, “Saya harus mengeluarkan mereka semua dengan selamat. Jika sesuatu terjadi pada saya, saya ingin kamu mengetahui, kamu telah menciptakan kehidupanku.” Tak lama kemudian, seiring dengan keruntuhan Menara II, Rick Rescorla meninggal saat menjalankan tugas.
Seorang veteran yang Pantang Mundur
Hill, mengatakan kepada New Yorker: “Rick yang saya kenal adalah pria dengan berat 82 kilogram dan tinggi 1,85 meter, orang itu tidak tahu cara menyerah, tidak tahu apa itu kegagalan dan tidak akan mundur selangkahpun …… Jika ia keluar dari gedung, alhasil ada seseorang telah meninggal di dalam, maka ia akan membunuh dirinya sendiri.”
Hill: “Saya pernah menyampaikan kepada Susan (istri Rick) kata-kata ini, tetapi dia masih belum siap untuk menerima fakta ini. Selama beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan, saya akan mengundangnya ke tempat saya, berjalan menelusuri pantai dan saya akan menjelaskan hal-hal ini. Bagi Rick, inilah kematian yang wajar. Orang seperti Rick Rescorla ini tidak akan mati karena usia tua. Mereka tidak ditakdirkan demikian, mereka pun tidak seharusnya mati pada usia tua, yang dalam proses menua menjadi lemah dan tak berdaya. Ada sekelompok orang di dunia ini yang memang harus mati dengan cara khusus untuk memberi contoh bagi para pecundang yang loyo di sekitar kita.”
Rick Rescorla adalah seorang pahlawan sejati yang tidak hanya menyelamatkan nyawa karyawan Morgan Stanley tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk menghormati patriotisme dan semangat pengorbanan.
Istrinya, Susan, menulis sebuah buku, “Tersentuh oleh Pahlawan — Buku Harian Cinta dan Warisan Sejarah Seorang Janda 9-11”. Ia juga telah ditulis dalam biografi, “Soldier’s Heart: The Story of Love, Heroism, and 9-11”. Ia menerima banyak penghargaan anumerta setelah meninggal, termasuk Presidential Citizenship Medal pada 2019. Ia juga memiliki monumen di Museum Infanteri Nasional di Columbus, Georgia. Patungnya juga ditempatkan di Hall of Fame Militer Oklahoma, dan batu nisannya diukir dengan tulisan: “Jangan tinggalkan siapa pun.”
Rick bukan satu-satunya pahlawan di hari itu, wakilnya dan beberapa orang lainnya secara berkelompok tetap tinggal untuk membantu yang lain. Dalam peristiwa 9.11, Morgan yang memiliki jumlah karyawan cukup banyak, hanya 13 karyawan yang tewas.
Banyak agen dan pengunjung yang menerima pelatihan di Perusahaan, pada hari itu juga berhasil diselamatkan, serta hampir 3.000 keluarga berkat para pahlawan tersebut telah mempertahankan kebahagiaan mereka. Rick Rescorla telah membuktikan dengan tindakannya bahwa seorang pahlawan tidak harus memakai jubah atau lencana, pahlawan itu ada di dalam hatimu. (Lin/whs)
Kementerian Pertahanan India Sedang Merumuskan Rencana Respons India Terhadap Perang di Selat Taiwan
oleh Tang Rui dan Jin Shi
Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus meningkatkan provokasinya di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan, dan militer India juga mulai secara aktif mempelajari strategi apa yang harus diambil sebagai tanggapan jika terjadi perang di Selat Taiwan.
Menurut penuturan beberapa orang pejabat India, bahwa saat ini Kementerian Pertahanan India sedang merumuskan rencana respons terhadap perang di Selat Taiwan. Opsi-opsi yang mungkin dilakukan India meliputi antara lain mengeluarkan pernyataan keras, menyediakan basis logistik bagi pasukan sekutu, atau bahkan langsung berperang di perbatasan Tiongkok – India.
Rencana respon ini dirumuskan di bawah perintah langsung komandan militer tertinggi India dan Kepala Staf Pertahanan Anil Chauhan.
“Ketika situasi di Selat Taiwan menjadi semakin tegang, wajar bagi India untuk memperhatikannya, melakukan penelitian yang relevan, dan merumuskan beberapa rencana tanggapan,” Wang He, seorang komentator politik di AS.
Ini adalah pertama kalinya India secara terbuka menunjukkan minatnya untuk berpartisipasi dalam urusan Selat Taiwan sejak PKT terus meningkatkan ancamannya di Selat Taiwan.
Sebelum Kementerian Pertahanan India meluncurkan studi ini, Amerika Serikat telah berulang kali menanyakan posisi India tentang bagaimana India akan berkontribusi jika terjadi perang di Selat Taiwan.
Wang He mengatakan : “India menjadi semakin waspada terhadap PKT. Konflik perbatasan antara Tiongkok dengan India telah menyebabkan perubahan besar dalam pemahaman India terhadap PKT”. “Dulu India sering dikelabui oleh PKT, tapi sekarang India sudah sadar”.
Sengketa perbatasan Tiongkok – India telah berlangsung lama, namun peta wilayah Tiongkok versi terbaru justru memasukkan seluruh wilayah sengketa antara kedua negara ke dalam wilayahnya sendiri, sehingga memicu protes keras dari pemerintah India.
Para analis percaya bahwa ekspansi strategis PKT telah memaksa India mengubah kebijakan pemuasan (Appeasement Policy) yang diterapkan sebelumnya.
Bagi Wang He : “Partisipasi India dalam masalah Selat Taiwan sudah pasti. Tinggal memilih cara dan intensitas partisipasinya.”
Menurut pejabat India, sikap respons India jika terjadi perang di Selat Taiwan akan ditentukan bergantung pada keadaan yang terjadi.
Jika konflik berakhir dalam waktu singkat, India mungkin cuma mengeluarkan pernyataan tegas untuk menyatakan ssikapnya. Jika perang terjadi berlarut-larut seperti perang Rusia – Ukraina, India mungkin akan menjadi pusat logistik bagi pasukan sekutu. Namun jika situasinya mendesak, India juga dapat melakukan intervensi langsung, yakni membuka medan perang baru di perbatasan India – Tiongkok, menjadikan PKT seperti sandwich. (sin)




























