Penangkapan Zhang Youxia Jadi Pemicu — Ramalan Tiongkok Kuno dan Barat Ungkap Akhir Nasib Xi Jinping

EtIndonesia. Pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping secara tiba-tiba menangkap Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia, memicu gejolak serius dalam politik internal PKT. Kitab ramalan kuno Tiongkok 《推背圖》 (Tui Bei Tu) disebut telah meramalkan akhir nasib Xi Jinping, sementara peramal asal Inggris Craig Hamilton Parker memperkirakan tahun 2026 akan terjadi perubahan besar di Tiongkok, dan Xi Jinping berisiko jatuh dari kekuasaan.

Pembersihan Zhang Youxia Memicu Krisis Rezim

Setelah Zhang Youxia secara resmi diumumkan tumbang pada 24 Januari, sumber internal militer mengungkap kepada media luar negeri bahwa pada hari yang sama, Kantor Umum Komisi Militer Pusat mengirimkan setidaknya dua dokumen ke seluruh satuan militer. 

Dokumen tersebut menuntut semua unit untuk “menjaga keselarasan dengan Komite Sentral Partai dan Komisi Militer Pusat”, serta mengharuskan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan penyampaian sikap politik.

Namun, banyak unit menolak menyatakan sikap dan tidak melaksanakan kegiatan apa pun, bahkan secara terbuka bersikap berseberangan dengan pusat.

Sumber tersebut mengatakan bahwa ketidakpuasan dan perlawanan terhadap Komisi Militer Pusat kini menyebar luas, dari para komandan hingga prajurit biasa.  “Perintah memang dikeluarkan, tetapi tidak ada yang menganggapnya serius.”

Bahkan, banyak prajurit tingkat bawah secara terbuka menjuluki Xi Jinping dengan sebutan ‘Baozi’ (roti kukus), menandakan tidak adanya wibawa dan kepercayaan, serta tidak ada yang mau mempertaruhkan nyawa demi dirinya.

Sumber itu juga memperingatkan bahwa jika pusat tidak membebaskan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, maka Komisi Militer Pusat perlahan akan kehilangan kendali atas sekitar 2 juta personel aktif.

Ramalan Tui Bei Tu tentang Akhir Nasib Xi Jinping

Jurnalis senior Tang Hao, dalam program Crossroads, menganalisis bahwa pembersihan Zhang Youxia oleh Xi Jinping telah memicu perlawanan keras dari militer. Ia menyebut bahwa kitab ramalan kuno Tui Bei Tu sejak lama telah meramalkan akhir Xi Jinping, bahkan Xi kemungkinan adalah sosok yang ditakdirkan mengakhiri kekuasaan PKT.

Kementerian Pertahanan Tiongkok dikabarkan sedang menyelidiki Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, Zhang Youxia, sehingga memicu guncangan besar di kancah politik. Dunia luar mengaitkan hal ini dengan ramalan dalam Tui Bei Tu tentang seorang prajurit yang “membawa busur” yang menggulingkan kekuasaan.
(Foto/Ilustrasi: tangkapan layar dari Wikimedia Commons).

Dalam Gambar ke-46 Tui Bei Tu tertulis:

“Ada seorang prajurit membawa busur,
Sekata ia berkata: aku si kepala putih,
Di gerbang timur tersembunyi pedang emas,
Seorang ksatria masuk istana lewat pintu belakang.”

Ramalan ini ditafsirkan sebagai kudeta militer istana.

Disebutkan bahwa Xi Jinping sangat mempercayai Tui Bei Tu, sehingga target pembersihan awalnya adalah mereka yang memiliki unsur “busur (弓)”—yakni Pasukan Roket. Mantan Perdana Menteri Li Keqiang, yang namanya juga mengandung unsur “busur”, meninggal mendadak tak lama setelah pensiun.

Kini, Zhang Youxia, tokoh militer nomor dua dengan unsur “busur” dalam namanya, juga menjadi target pembersihan.

Sementara itu, Liu Zhenli, Kepala Staf Departemen Staf Gabungan yang juga ditangkap, dikaitkan dengan ramalan karena karakter “Liu (劉)” dalam bentuk tradisional dapat diuraikan menjadi “卯、金、刀”, dan radikal “刂” menyerupai pedang, yang dianggap sesuai dengan frasa “pedang emas tersembunyi” dalam ramalan.

Tang Hao mengatakan bahwa Tui Bei Tu bukan hanya menghancurkan Pasukan Roket PKT dan rencana invasi Taiwan, tetapi kini juga memecah belah para jenderal, mempercepat kehancuran PKT.

“Menerima Takdir Langit, Mengakhiri Nyawa PKT”

Gambar ke-58 Tui Bei Tu juga menyebutkan ramalan tentang “kaisar masa depan”:

Ramalan:

“Kaisar dari wilayah Guanzhong,
Menghormati kaum berbakat,
Mengikuti kehendak langit dan menghentikan satu nyawa,
Setengah tua memiliki seorang anak.”

Syair:

“Seorang anak berbakti datang dari barat,
Menggenggam kekuasaan, dunia pun tenteram,
Dua kali melihat panji indah di negeri,
Yang terdahulu tak sebanding dengan yang kemudian.”

Tang Hao menafsirkan bahwa “kaisar” ini berasal dari Guanzhong, yang sesuai dengan asal Xi Jinping dari Fuping, Shaanxi.

 “Setengah tua memiliki seorang anak” adalah teka-teki karakter ‘xiao’ (孝)—anak berbakti—yang juga selaras dengan reputasi Xi yang berbakti kepada ibunya.

Namun, frasa “mengikuti kehendak langit dan menghentikan satu nyawa” ditafsirkan sebagai mengakhiri nyawa PKT.

Tang Hao menjelaskan bahwa setelah naik kekuasaan pada Kongres ke-18, Xi sempat bergerak ke arah “mengakhiri PKT” lewat kampanye anti-korupsi. Namun setelah Kongres ke-19, Xi berbalik arah, memilih melindungi partai dan membangun kekuasaan otoriter.

Menurut Tang Hao, apa pun pilihan Xi—mengikuti atau melawan kehendak langit—akhir PKT tidak akan berubah. Jika Xi melawan, maka langit akan memaksanya secara pasif untuk membubarkan PKT melalui cara yang lebih tragis.

Ia menyimpulkan bahwa Xi akan menjadi “orang terdahulu” yang tersingkir, sementara orang lain akan muncul untuk melaksanakan kehendak langit.

Tentang frasa “dua kali melihat panji indah”, Tang Hao mengaitkannya dengan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada April, yang merupakan kunjungan keduanya. Setelah itu, nasib Xi akan berakhir.

Ramalan Parker: Xi Jinping Bisa Tumbang pada 2026

Craig Hamilton Parker

Peramal terkenal asal Inggris Parker juga meramalkan kejatuhan Xi Jinping. Ia dikenal pernah meramalkan dengan tepat:

  • Terpilihnya Donald Trump
  • Brexit
  • Wafatnya Ratu Elizabeth II
  • Pandemi COVID-19

Dalam ramalan akhir 2025, Parker menyebut 2026 sebagai “tahun perhitungan”, ketika banyak kebohongan akan terbongkar.

Ia memperingatkan bahwa Maret 2026 adalah periode sangat sensitif, kemungkinan terjadi insiden tabrakan pesawat atau kapal selam di Selat Taiwan, yang dapat memicu konflik dan menyeret Jepang. Namun konflik tersebut tidak akan berujung pada pencaplokan Taiwan, melainkan menjadi awal runtuhnya rezim PKT secara “seperti gletser”.

Menurut Parker, rezim PKT akan mengalami krisis ekonomi berat dan kekacauan sosial, kekuasaan Xi Jinping akan mendapat tantangan besar, dan rezim diktator akhirnya tumbang.

 Tiongkok kemudian bisa terpecah menjadi banyak negara kecil, dan pada akhirnya membentuk sistem seperti Uni Eropa, dengan perbatasan terbuka dan perdagangan bebas.

Parker menggambarkan kehancuran PKT sebagai “keruntuhan gletser”—diawali retakan kecil, lalu runtuh besar yang tak bisa dibalik. Ia menegaskan bahwa 2026 adalah titik balik krusial.

Sumber : NTDTV.com

Harga Perang Taiwan: 100 Ribu Korban, Ekonomi Ambruk, dan Risiko Kudeta di Beijing

EtIndonesia. Pada akhir Januari 2026, sejumlah individu yang memiliki akses dekat ke lingkungan militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara pribadi mengungkapkan sebuah realitas yang sangat berbeda dari narasi resmi Beijing. Di balik rangkaian latihan militer berskala besar yang tampak agresif dan penuh ancaman terhadap Taiwan, suasana internal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) justru diliputi kecemasan, keraguan, dan resistensi psikologis yang mendalam.

Latihan kepung Taiwan, pengerahan armada laut dan udara, serta retorika keras dari pimpinan pusat memang menciptakan kesan kesiapan tempur penuh. Namun, menurut sejumlah sumber militer, kondisi mental dan kesiapan sistemik di dalam tubuh PLA tidak sejalan dengan citra tersebut.

“Tugas Politik, Bukan Pilihan Militer”

Bagi banyak perwira PLA, demonstrasi militer di sekitar Taiwan dipandang sebagai tugas politik, bukan keputusan yang lahir dari penilaian profesional militer. Seorang narasumber militer yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada Epoch Times bahwa berlayar dan berputar mengelilingi Taiwan masih dapat diterima, tetapi perang sungguhan adalah hal yang ingin dihindari oleh hampir semua pihak di lapangan.

Menurutnya, dorongan penggunaan opsi militer lebih banyak berasal dari kalkulasi politik pimpinan tertinggi, bukan dari analisis rasional tentang risiko dan kemampuan tempur. Dia menegaskan bahwa tidak ada perwira yang benar-benar ingin memikul konsekuensi perang berskala besar, karena risikonya bukan hanya kekalahan militer, melainkan kehancuran sistemik.

Pandangan serupa disampaikan seorang perwira dari Komando Teater Selatan bermarga Wang. Dia menyatakan secara terbuka bahwa slogan “penyatuan Taiwan” di kalangan militer lebih sering dipahami sebagai retorika politik, sementara mereka yang benar-benar harus maju ke medan tempur dan mempertaruhkan nyawa adalah anak-anak rakyat biasa.

Logistik dan Medis: Titik Lemah yang Mengkhawatirkan

Selain faktor psikologis, persoalan yang jauh lebih nyata adalah ketidaksiapan logistik dan sistem medis militer. Sejumlah sumber mengungkapkan bahwa sistem kesehatan, suplai logistik, dan cadangan darah PLA sama sekali tidak memadai untuk menopang perang modern berintensitas tinggi.

Seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit di Xiamen, Provinsi Fujian, mengungkapkan bahwa pasokan darah di wilayah tersebut telah lama berada pada kondisi kritis. Dalam skenario perang lintas selat, sistem medis yang ada diperkirakan akan runtuh dalam waktu singkat, bahkan sebelum konflik mencapai fase eskalasi penuh.

Kondisi inilah yang membuat banyak kalangan militer menilai bahwa persoalan Taiwan bukan lagi soal menang atau kalah, melainkan apakah PLA mampu bertahan secara struktural. Dalam situasi seperti ini, sekeras apa pun perintah politik dari atas, akan sangat sulit diterjemahkan menjadi operasi militer yang benar-benar dapat dijalankan.

Penilaian Dingin Lembaga Pemikir AS

Pandangan internal PLA ini justru selaras dengan penilaian lembaga pemikir Amerika Serikat. Dalam laporan terbarunya, German Marshall Fund membagi kemungkinan konflik Taiwan ke dalam dua skenario: konflik terbatas dan perang total.

Namun, kesimpulannya konsisten dan tegas—apa pun skalanya, Beijing akan menanggung harga yang sangat mahal dan nyaris tak sanggup ditanggung.

Dari sisi militer, dalam skenario perang total, korban PLA diperkirakan dapat melampaui 100.000 jiwa. Dalam sistem politik yang sangat menekankan loyalitas dan hukuman, kegagalan perang berpotensi memicu pembersihan elite, kekacauan internal militer, bahkan risiko kudeta.

Dari sisi ekonomi, konflik terbatas saja sudah cukup untuk menghantam ekonomi Tiongkok dengan kerugian triliunan dolar AS. Jika perang besar terjadi, embargo dagang AS–Tiongkok, sanksi finansial, serta pemutusan pasokan energi dan bahan mentah akan berjalan serempak. Rantai pasok global akan dipercepat menuju “de-Tiongkokisasi”, sebuah proses yang hampir mustahil dibalikkan.

Dampak Sosial dan Risiko Keruntuhan Internal

Dampak sosial perang juga dinilai sangat besar. Pemblokiran transportasi pesisir, gangguan distribusi pangan dan obat-obatan, serta runtuhnya stabilitas sosial akan segera terasa. Dalam konflik berkepanjangan, laporan tersebut menilai eksodus pengungsi dan keruntuhan tatanan sosial bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Bahkan, dalam skenario terburuk, PKT bisa dipaksa mencari gencatan senjata atau menerima kekalahan. Dengan kata lain, konflik Taiwan bukan soal apakah Beijing bisa menang, melainkan apakah Beijing akan menyeret dirinya sendiri menuju kehancuran.

Perang Sudah Dimulai, Tapi Berwujud Lain

Karena pertimbangan inilah, Beijing dinilai lebih memilih strategi tekanan jangka panjang bertahap. Selat Taiwan kini bukan lagi satu medan tempur tunggal, melainkan medan konflik hibrida—mulai dari latihan militer, operasi abu-abu, hingga perang informasi dan kognitif.

Tekanan terhadap Taiwan telah menjadi menyeluruh dan terlembaga, termasuk perang psikologis, intimidasi lintas batas, dan penindasan hukum terhadap individu. Bagi Taiwan, pertanyaannya bukan lagi apakah perang akan terjadi, melainkan bahwa perang itu sudah berlangsung setiap hari, hanya dengan bentuk yang berbeda.

Suara dari Garis Depan Politik Taiwan

Perubahan ini paling dirasakan oleh para pengambil keputusan pertahanan Taiwan. Legislator DPP Wang Ting-yu, yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di dunia militer dan politik, menggambarkan bagaimana situasi Selat Taiwan telah berubah dari ketegangan menjadi ketidakpastian tingkat tinggi.

Dia mengenang masa dinas militernya pada 1992, ketika bertugas di Wing Udara Keenam Pingtung. Saat itu, Taiwan masih mengoperasikan pesawat angkut C-119 dan mulai beralih ke C-130H, dengan lingkungan ancaman yang jauh lebih sederhana.

Krisis misil Selat Taiwan 1996 menjadi titik balik awal. Namun menurut Wang, ancaman kala itu masih terbatas dan kasar. Memasuki dekade 2020-an, media sosial, citra waktu nyata, dan teknologi AI membuat medan perang menyusup ke layar ponsel setiap individu, menguras ketahanan sosial secara perlahan namun konsisten.

Legislator DPP lainnya, Chen Kuan-ting, menegaskan bahwa tekanan Beijing bersifat kontinu, bukan sporadis. Menanggapi sanksi personal seumur hidup terhadap pejabat Taiwan, pemerintah Taipei menegaskan bahwa langkah tersebut tidak memiliki dasar hukum dan hanya bertujuan menciptakan teror psikologis.

Presiden Lai Ching-te menegaskan bahwa intimidasi dan taktik front persatuan justru akan memperkuat solidaritas nasional Taiwan. Negara demokratis, menurutnya, hanya bisa menahan ekspansi otoritarianisme melalui kerja sama dan kekuatan nyata.

Sinyal Keras Washington dan Sekutu

Dalam konteks ini, langkah Amerika Serikat dan sekutunya semakin jelas sebagai pencegah terukur. Dengan moral militer PLA yang rapuh, keterbatasan logistik, dan tekanan internasional yang meningkat, opsi militer Beijing terhadap Taiwan dinilai semakin sulit direalisasikan.

Menurut laporan media AS, Donald Trump telah mengusulkan sistem pertahanan misil generasi baru bernama Golden Dome, dengan Guam dipilih sebagai lokasi uji coba pertama. Perwakilan Guam, Michael San Nicolas, menegaskan bahwa Guam adalah poros strategis Indo-Pasifik—kehilangan pulau itu berarti ancaman langsung terhadap daratan Amerika Serikat.

Sistem Golden Dome dipandang sebagai versi lebih besar dan canggih dari Iron Dome Israel, mengintegrasikan pencegat luar angkasa dan sensor mutakhir untuk menghadapi misil balistik, hipersonik, dan jelajah. Trump bahkan meminta anggaran pertahanan tahun fiskal 2027 dinaikkan hingga USD 1,5 triliun, menandakan bahwa Washington tidak lagi memandang konflik Taiwan sebagai krisis yang bisa dikendalikan secara ringan.

Latihan Tembak Nyata dan Pesan Terbuka

Kesiapan ini bukan sekadar wacana. Pada akhir Januari 2026, militer AS melakukan latihan tembak langsung di Laut Cina Selatan. Kapal induk nuklir USS Abraham Lincoln memperlihatkan tembakan intensitas tinggi untuk menghadapi skenario serangan kawanan drone dan kapal tak berawak—taktik yang sering dilatih militer Tiongkok.

Inti pertahanan terakhir kapal induk ini adalah Phalanx CIWS, meriam enam laras kaliber 20 mm dengan laju tembak hingga 4.500 peluru per menit, membentuk tirai peluru rapat di jarak dekat. Namun yang membuat kapal induk sulit ditembus bukan satu sistem, melainkan pertahanan berlapis: dari misil Sea Sparrow, RIM-116 Rolling Airframe Missile, hingga Phalanx sebagai zona akhir.

Pemilihan Laut Cina Selatan sebagai lokasi publikasi latihan ini dipandang sebagai sinyal strategis terbuka: taktik kawanan bukan tanpa solusi, dan Amerika Serikat tengah mempersiapkan diri menghadapi perang masa depan, termasuk skenario terburuk di Selat Taiwan.

Mantan Pejabat Senior PKT Ungkap Xi Jinping Telah Membersihkan Jutaan Orang, Akan Menyelidiki Kasus yang Terjadi Hingga 30 Tahun ke Belakang

Mantan pengusaha Shanghai Hu Liren mengungkapkan bahwa seorang mantan wakil menteri Departemen Organisasi Pusat Partai Komunis Tiongkok (Zhongzubu) telah melarikan diri dari Tiongkok. Pejabat tersebut mengungkap bahwa Xi Jinping telah membersihkan lebih dari puluhan juta pejabat. Bahkan, ke depan akan melancarkan pembersihan besar bergaya Revolusi Kebudayaan dengan rencana menelusuri kembali kasus hingga 20–30 tahun ke belakang.

EtIndonesia. Dalam siaran langsung YouTube pada 28 Januari, mantan pengusaha Shanghai Hu Liren pertama kali mengungkap bahwa setelah jatuhnya Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia, kepanikan di kalangan pejabat PKT meningkat tajam. 

Ia menyebutkan, seorang mantan wakil menteri Departemen Organisasi Pusat telah berhasil meninggalkan Tiongkok. Dalam siaran lanjutan pada 29 Januari, Hu menambahkan informasi terbaru mengenai kondisi pejabat tersebut setelah melarikan diri ke luar negeri.

Hu Liren menyatakan bahwa ia telah berkomunikasi langsung dengan pejabat tersebut. Sebelum melarikan diri, orang ini sudah dipindahkan ke posisi “lini kedua” di Departemen Organisasi dan berada dalam status “setengah pensiun”. Identitas, nama, serta metode pelarian belum dapat diungkap untuk sementara.

Menurut Hu, pejabat tersebut kini telah “mendarat dengan aman” di luar negeri, namun sebagian anggota keluarganya masih berada di Tiongkok. Karena itu, ia sedang bernegosiasi dengan otoritas PKT, berharap dapat menjamin keselamatan keluarganya agar tidak terseret. Hu mengisyaratkan bahwa pejabat ini menguasai banyak bukti kejahatan PKT, yang dapat digunakan sebagai modal tawar-menawar.

Dalam siaran langsungnya, Hu Liren menyampaikan sebagian isi bocoran yang diizinkan oleh pejabat tersebut untuk dipublikasikan.

Pejabat itu mengatakan bahwa sejak Xi Jinping berkuasa lebih dari sepuluh tahun lalu, secara resmi sekitar 5 juta pejabat dan anggota partai diumumkan telah diselidiki karena “korupsi”. Namun berdasarkan informasi yang ia kuasai, jumlah sebenarnya yang telah dibersihkan mendekati atau bahkan melebihi 10 juta orang.

Di antaranya:

  • Sekitar 50% adalah kader tingkat bawah, termasuk tingkat desa dan kecamatan
  • Pejabat setingkat departemen dan biro (tingkat厅局级) yang tumbang secara kumulatif sekitar 100.000 orang

Pejabat tersebut menilai bahwa pembersihan semacam ini tidak mungkin benar-benar memberantas korupsi, karena akar korupsi terletak pada sistem itu sendiri. Di dalam sistem PKT terbentuk rantai “tanggung jawab – kepentingan – risiko” dari atas ke bawah. Begitu seorang pejabat masuk ke dalam sistem, jika tidak ikut korup, ia akan tersingkir.

Karena korupsi bersifat sistemik, hampir tidak ada seorang pun yang bisa tetap bersih, yang berarti secara teori pemerintah dapat menangkap siapa pun kapan saja atas nama anti-korupsi.

Hu Liren menyampaikan bahwa kelompok yang paling panik saat ini adalah para pejabat wakil menteri ke atas yang sudah pensiun atau setengah pensiun.

Pejabat tersebut memperkirakan bahwa tahap pembersihan berikutnya akan berfokus pada pemeriksaan menyeluruh aset pejabat dan keluarganya, dengan rentang waktu penelusuran hingga 20–30 tahun. Penyelidikan tidak hanya menargetkan individu, tetapi juga perusahaan terkait, anggota keluarga, serta jaringan hubungan historis.

Hu Liren menambahkan bahwa di saat membersihkan pejabat, pemerintah juga akan terus “memanen” perusahaan swasta, karena “kembali ke ekonomi terencana” adalah tujuan akhir.

Hu juga menyebutkan bahwa sistem penjara di berbagai daerah di seluruh negeri sedang diperluas dan diperbesar, dengan tambahan anggaran. Pejabat tersebut menilai bahwa langkah ini bukan untuk kejahatan kriminal biasa, melainkan persiapan untuk penahanan massal pejabat di masa depan.

Sebagai contoh, Penjara Qincheng di Beijing, bahkan pada masa “Kelompok Empat” pun hanya menahan sedikit pejabat tinggi. Namun jika jumlah pejabat tingkat provinsi dan kementerian yang ditangani mencapai puluhan ribu, sistem yang ada jelas tidak akan mampu menampungnya.

Dalam konteks ini, kalangan internal sistem berada dalam kondisi “ketakutan tanpa henti”, terutama para pejabat pensiunan atau setengah pensiunan yang sudah tidak memiliki kekuasaan nyata.

Terkait kasus Zhang Youxia, Hu Liren menganalisis bahwa Zhang sebelumnya merupakan pendukung penting Xi Jinping dalam amendemen konstitusi dan penguatan kendali militer, namun akhirnya “dibuang setelah dimanfaatkan”, menjadi korban pembersihan politik.

Mengenai rumor kudeta militer atau pasukan masuk ke Beijing, Hu Liren menyatakan skeptisisme. Menurutnya, sistem pengamanan politik dan kontrol militer PKT yang telah terbentuk selama puluhan tahun membuat kemungkinan konflik militer terbuka dalam jangka pendek sangat kecil.

Hu Liren juga memperkirakan bahwa Politbiro PKT akan menggelar rapat dalam beberapa hari ke depan, yang mana akan menjadi titik penting untuk mengamati arah situasi. (Hui)

Mengapa Kelompok Separatis Kanada Meminta Bantuan Trump untuk Memisahkan Diri dari Negaranya?

EtIndonesia. Sebuah kelompok separatis di Kanada bernama Alberta Prosperity Project (APP) telah menerima persetujuan untuk mengumpulkan tanda tangan dukungan untuk referendum yang bertujuan menjadikan provinsi barat tersebut sebagai negara merdeka. Para pemimpin kelompok separatis tersebut telah bertemu dengan pejabat Departemen Luar Negeri di Washington tiga kali sejak April.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan kepada penyiar sayap kanan Real America’s Voice, “Alberta adalah mitra alami bagi AS. Mereka memiliki sumber daya yang besar. Penduduk Alberta adalah orang-orang yang sangat mandiri.”

Namun, CNN melaporkan bahwa seorang pejabat Gedung Putih telah meremehkan keterlibatan tersebut dan mengatakan: “Para pejabat administrasi bertemu dengan sejumlah kelompok masyarakat sipil. Tidak ada dukungan atau komitmen yang disampaikan.”

Pada hari Kamis, Perdana Menteri Kanada ,Mark Carney mendesak AS untuk “menghormati kedaulatan Kanada”.

Hal ini telah memicu kemarahan di Kanada, karena penduduk setempat berupaya untuk menunjukkan persatuan melawan pemerintahan Trump. Pemimpin British Columbia, provinsi paling barat Kanada, telah membandingkan langkah kelompok Alberta tersebut dengan “pengkhianatan”.

Mengapa Alberta Ingin Memisahkan Diri dari Kanada

Alberta terletak di Kanada bagian barat, kaya akan minyak, dan dikenal sebagai “provinsi energi”, karena menyumbang sekitar 84 persen dari total produksi minyak mentah di negara tersebut. Luasnya hampir sama dengan Texas dan dihuni oleh sekitar 5 juta orang.

Secara politik, provinsi ini didominasi oleh kelompok konservatif, dan perdana menteri, Danielle Smith, mempertahankan hubungan baik dengan Presiden AS, Donald Trump dan anggota partai Republiknya.

Tahun lalu, pada bulan Januari, Smith mengunjungi klub pribadi Trump di Mar-a-Lago, meskipun para pemimpin provinsi lainnya bersatu menentangnya karena ancamannya untuk menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS.

Alasan utama di balik keinginan separatis di Alberta untuk memisahkan diri adalah dorongan pemerintah federal untuk menghentikan perubahan iklim. Sebagai provinsi yang kaya minyak, mereka berpendapat bahwa industri minyak Alberta terhambat. Mereka juga mengatakan bahwa provinsi tersebut membayar pajak federal lebih banyak daripada yang mereka terima kembali dan bahwa pandangan konservatif mereka dikalahkan oleh nilai-nilai liberal di provinsi-provinsi timur yang padat penduduknya.

“Make Alberta Great Again”

Kembalinya Trump ke Gedung Putih telah membangkitkan gerakan separatis, karena pemimpin Partai Republik tersebut adalah seorang konservatif pro-minyak. Tahun lalu pada bulan Juni, para separatis berunjuk rasa untuk kemerdekaan Alberta dengan gaya MAGA, dengan topi “Make Alberta Great Again”, kaos “Alberta Republic”, dan poster bertuliskan “Albertans for Alberta!”

Pemungutan suara kemerdekaan dapat diadakan paling cepat musim gugur ini, meskipun jajak pendapat saat ini menunjukkan bahwa para separatis akan kalah. Jajak pendapat tanggal 23 Januari dari Ipsos menemukan 28 persen warga Alberta akan memilih ya untuk kemerdekaan.(yn)

Perampokan Besar di Jalanan Tokyo: Uang Setara Rp 45 Miliar Dirampas, Semprotan Cabai Digunakan sebagai Senjata

EtIndonesia. Di Tokyo, Jepang, sejak (29 Januari) malam hingga dini hari ini, terjadi dua kasus perampokan besar yang melibatkan uang dalam jumlah sangat besar.

 Kasus pertama terjadi di jalanan kawasan Ueno, di mana tiga koper berisi uang tunai 400 juta yen dirampas (Rp 45,78 miliar). 

 Kasus kedua terjadi di area parkir Bandara Haneda, di mana seorang pelaku usaha penukaran valuta asing diserang.

Dalam kedua kasus tersebut, korban disemprot zat yang diduga semprotan cabai, dan kepolisian menduga kedua kasus saling berkaitan, serta kini sedang memburu para pelaku.

Kasus pertama: Perampokan di Ueno

Menurut keterangan Kepolisian Metropolitan Tokyo, kasus pertama melibatkan 5 korban, terdiri dari 3 warga negara Jepang dan 2 warga negara Tiongkok.

Sekitar pukul 21.30, saat mereka sedang memasukkan tiga koper ke dalam mobil di jalanan kawasan Ueno, Distrik Taito, tiba-tiba tiga orang tak dikenal mendekat dan menyemprotkan zat yang diduga semprotan cabai.

Ketiga pelaku kemudian merampas koper-koper tersebut dan melarikan diri menggunakan mobil.

Kelima korban—terdiri dari pria dan wanita berusia 20 hingga 40-an tahun—memberi tahu polisi bahwa total uang tunai dalam koper mencapai 420 juta yen (sekitar 2,583 juta dolar AS), dan rencananya uang tersebut akan dibawa ke Hong Kong.

Tak lama setelah kejadian, sekitar 100 meter di sebelah tenggara lokasi perampokan, para pelaku yang diduga sama—masih dalam kelompok tiga orang—menabrak mobil sedan yang dikendarai seorang pria paruh baya saat melarikan diri, lalu berganti kendaraan dan kabur.

Pria tersebut mengalami luka ringan di bagian wajah.

 Di sekitar lokasi juga ditemukan sebuah mobil kecil berwarna biru yang ditinggalkan.

Kasus kedua: Serangan di Bandara Haneda

Kasus kedua terjadi pada pagi hari ini (30 Januari) di tempat parkir yang bersebelahan dengan Terminal 3 Bandara Haneda.

Seorang pria berusia sekitar 50-an tahun, yang bekerja di bidang penukaran valuta asing, diserang oleh pria tak dikenal di dekat mobil yang berisi uang dalam jumlah besar.

Pelaku juga menyemprotkan zat yang diduga semprotan cabai, namun korban hanya mengalami luka ringan.

Saat kejadian, di dalam mobil terdapat hampir 200 juta yen (sekitar 1,23 juta dolar AS) dan uang tersebut tidak berhasil dirampas.

Dalam kasus ini, para pelaku juga berjumlah tiga orang dan menggunakan mobil sedan berwarna putih.

Penyelidikan polisi

Kepolisian Metropolitan Tokyo menyatakan bahwa ketiga pelaku semuanya adalah pria, dan penyidikan awal menunjukkan kedua kasus kemungkinan saling terkait.

Saat ini polisi menangani perkara ini sebagai kasus perampokan serius dan sedang melacak keberadaan para pelaku. (Hui)

Deretan Gelombang Pengunduran Diri Melanda Petinggi OJK

EtIndonesia. Usai bursa saham gabungan (IHSG) anjlok, sejumlah petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat (30/1/2026) malam.  Pengunduran diri ini dilakukan setelah sebelumnya Dirut BEI Iman Rachaman juga mengundur diri jabatannya.

Para petinggi yang mengundurkan diri adalah Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi, dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) I.B. Aditya Jayaantara.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan telah menyampaikan pengunduran diri para petinggi OJK dari jabatan mereka dalam keterangan resmi lembaga ini. 

Pihak OJK, menyampaikan pengunduran diri tersebut telah disampaikan secara resmi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan akan diproses lebih lanjut sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana telah diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Mahendra Siregar menyatakan bahwa pengunduran dirinya bersama KE PMDK dan DKTK merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan.

OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional.

Sehubungan dengan hal tersebut, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Ketua Dewan Komisioner, KE PMDK, dan DKTK untuk sementara waktu akan dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan tata kelola yang berlaku guna memastikan keberlangsungan kebijakan, pengawasan, dan pelayanan kepada masyarakat serta pelaku industri jasa keuangan.

OJK menyatakan berkomitmen untuk terus menjaga kepercayaan publik dan pelaku industri jasa keuangan melalui penerapan prinsip tata kelola yang baik, transparansi, serta akuntabilitas dalam setiap proses kelembagaan. (asr)

XL Perluas Jaringan 5G Merata di Sejumlah Daerah, Dorong Akses Digital Berkecepatan Tinggi

JAKARTA — PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk melalui merek XL meluncurkan layanan XL Ultra 5G+ secara serentak di sejumlah kota dan kabupaten di Indonesia pada akhir Januari 2026. Peluncuran ini menandai perluasan jaringan 5G dengan pendekatan blanket coverage, yakni penyediaan jaringan yang menjangkau seluruh area dalam satu wilayah administrasi, bukan terbatas pada titik-titik tertentu.

Berdasarkan keterangan perusahaan, layanan tersebut kini tersedia di 20 kota dan kabupaten, termasuk Jakarta, Medan, Banjarmasin, Depok, Tangerang Selatan, serta sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ekspansi ini melanjutkan penggelaran 5G yang sebelumnya telah dilakukan di 13 daerah lain pada akhir 2025. Dengan demikian, total wilayah yang telah terjangkau layanan 5G XL mencapai 33 kota dan kabupaten.

Presiden Direktur dan CEO XLSMART Rajeev Sethi menyebutkan bahwa penerapan jaringan 5G secara merata menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan data, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki kebutuhan trafik tinggi. Pendekatan ini berbeda dengan model awal penggelaran 5G yang umumnya masih bersifat terbatas atau berbasis titik tertentu (spot coverage).

Dari sisi teknologi, XL Ultra 5G+ dirancang untuk menghadirkan kecepatan unduh hingga ratusan megabit per detik dengan latensi yang lebih rendah dibandingkan jaringan generasi sebelumnya. Direktur dan Chief Technology Officer XLSMART Shurish Subbramaniam menjelaskan bahwa jaringan 5G perusahaan dibangun menggunakan spektrum khusus guna menjaga konsistensi kualitas koneksi. Ke depan, pengembangan jaringan akan disesuaikan dengan kesiapan perangkat, regulasi, serta kebutuhan pasar.

Penggelaran 5G secara merata dinilai memiliki potensi dampak yang lebih luas, tidak hanya bagi pengguna ritel, tetapi juga sektor industri dan layanan publik. Karakteristik 5G yang memiliki latensi rendah dan kapasitas besar membuka peluang penerapan teknologi seperti smart city, otomasi industri, layanan berbasis sensor, hingga penguatan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.

Dalam konteks adopsi, pelanggan tidak diwajibkan mengganti kartu SIM selama perangkat yang digunakan telah mendukung teknologi 5G. Jaringan akan otomatis terakses saat pengguna berada di wilayah yang telah terjangkau. Model ini dinilai dapat mempercepat adopsi 5G di masyarakat karena tidak memerlukan perubahan teknis yang signifikan di sisi pengguna.

Sebagai bagian dari pengenalan teknologi tersebut kepada publik, XL juga menggelar rangkaian kegiatan berbasis pengalaman, termasuk konser lintas kota yang memanfaatkan koneksi 5G secara real-time. Aktivitas semacam ini mencerminkan upaya operator untuk menunjukkan pemanfaatan 5G dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada layanan hiburan dan interaksi digital.

Saat ini, jaringan XLSMART didukung lebih dari 209 ribu base transceiver station (BTS) yang didominasi jaringan 4G, serta sejumlah BTS 5G yang terintegrasi dengan jaringan serat optik nasional. Infrastruktur tersebut melayani puluhan juta pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.

Pengembangan jaringan 5G yang lebih merata diharapkan dapat memperkecil kesenjangan kualitas akses digital antarwilayah, sekaligus menjadi fondasi bagi transformasi digital yang lebih luas di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Usai IHSG Anjlok, Dirut BEI Iman Rachman Mengundurkan Diri 

EtIndonesia. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri ini setelah bursa saham anjlok terus anjlok dalam beberapa hari terakhir. 

“Saya sebagai direktur dan utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin menyatakan mengundurkan diri sebagai direktur utama Bursa Efek Indonesia,” ujar Iman di Jakarta, Jumat (30/1/2026). 

Ia berharap pengunduran dirinya menjadi keputusan terbaik untuk pasar modal Indonesia.

“Semoga dengan pengunduran saya ini pasar modal kita jadi lebih baik, Nanti akan ada sementara (pelaksana tugas) yang akan ditunjuk berdasarkan aturan kita sampai ditunjuk definitif direktur utama yang baru,” ujarnya.  

Untuk diketahui, ia menjabat sebagai Dirut BEI sejak RUPST pada 29 Juni 2022 . 

Pada Selasa, 31 Januari 2024, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, menerima penghargaan Best CEO 2023 yang diselenggarakan oleh Majalah SWA dan Dunamis Organization.

Ia pernah menduduki sejumlah jabatan di berbagai perusahaan. Ia sempat menjabat sebagai Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero).

Belasan tahun lalu, ia menjabat sebagai manajer di PT Danareksa Sekuritas pada periode 1998-2003 dan Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas sepanjang 2003-2016.

Di perusahaan BUMN, ia menjabat sebagaui Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) pada 2019-2020, Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) periode 2016-2018, serta Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) pada 2018-2019. (asr)

Kamu Mencintaiku, atau Membutuhkan Aku?

EtIndonesia. Psikolog ternama Erich Fromm dalam karya klasiknya The Art of Loving (Seni Mencintai / Memaknai Hakikat Cinta) pernah mengemukakan sebuah kalimat yang sangat terkenal:

Cinta yang belum matang berkata:  “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu.”

Cinta yang matang berkata: “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.”

Apakah cinta yang diberikan seseorang itu matang atau tidak, sebenarnya dapat diuji dari motivasi paling awal serta cara dia mengekspresikannya.

Jika cinta itu berangkat dari kebutuhan —misalnya: “Aku kesepian, aku butuh ditemani, aku perlu penghiburan”— maka apa yang dia disebut sebagai cinta sesungguhnya bukanlah cinta sejati, melainkan tuntutan bersyarat yang menyamar dengan nama cinta.

Cinta palsu seperti ini sangat mudah dikenali. Begitu kebutuhannya telah terpenuhi
—misalnya, karena kehadiranmu dia tak lagi merasa kesepian— maka keberadaanmu justru mulai terasa berlebihan dan menjengkelkan.

Karena itu, ketika kekasihmu menelepon dan berkata bahwa hari-hari tanpa dirimu membuatnya tak berselera makan dan minum, lalu memintamu segera datang menemuinya, jangan terlalu cepat merasa senang. Jika ditelanjangi maknanya, bisa jadi dia hanya membutuhkanmu sebagai “pelengkap makan”— dia membutuhkanmu, bukan mencintaimu.

Cinta sejati adalah pemberian yang bebas dan tanpa syarat. Apa yang disebut “kebutuhan” di dalam cinta sejati sejatinya hanyalah sebuah undangan: dia ingin mengajak seseorang untuk bersama-sama mewujudkan pengalaman cinta itu, maka ia mengundangmu.

Cinta yang seperti ini juga sangat mudah dikenali. Ketika kamu menolak undangannya dengan halus, atau bahkan hanya ragu sejenak, dia akan langsung menghormati pilihanmu dan berhenti, tanpa memaksa, mengejar, atau menekan sampai kamu mengiyakan.

Mengapa demikian?

Karena dia bukan pribadi yang rapuh yang membutuhkanmu sebagai penopang hidupnya, melainkan seseorang yang mandiri dan kuat, yang dengan kesadaran penuh ingin mengajakmu berbagi keindahan hidupnya.

Oleh sebab itu, inti pertama dari cinta adalah kebebasan.

Kebebasan ini memiliki dua makna penting:

  • Cinta harus diberikan atas dasar kehendak bebas, tanpa motif tersembunyi.
  • Cinta harus disertai penghormatan penuh terhadap kebebasan pribadi pasangan, tanpa dibebani harapan, tuntutan, permintaan berlebihan, apalagi paksaan.

Cinta sejati adalah pengalaman yang manis dan membahagiakan, bukan hutang emosional yang saling menjerat dan menguras.

Namun kenyataannya, banyak hubungan dimulai dengan keikhlasan dan kebahagiaan, tetapi berakhir sebagai beban yang berat.

Para kekasih sering kali ingin mengikat pasangannya demi rasa aman pribadi,  tanpa menyadari bahwa yang mereka ciptakan justru kegelisahan yang lebih besar.

Padahal, siapa yang tega meninggalkan seseorang yang memberi kebebasan sepenuhnya?

Sayangnya, meskipun kebenaran ini sederhana, ketika benar-benar dihadapkan pada situasi nyata, tidak mudah untuk mempraktikkannya.

Seseorang pernah bertanya: “Kenapa kamu menyukai seseorang?”

Aku hanya bisa menjelaskan mengapa aku tidak menyukai seseorang, tetapi tidak pernah bisa benar-benar menjelaskan mengapa aku menyukai seseorang.

Menyukai seseorang adalah perasaan. Tidak menyukai seseorang adalah fakta.

Fakta mudah dijelaskan. Perasaan sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Cinta adalah ketika tiba-tiba ada seseorang yang terasa seperti sudah lama kita kenal, kita ingin mendekatinya, hormon kita seolah berubah drastis, dan kita ingin memeluknya.

Namun setelah itu, entah bahagia atau sedih, kita sering tak lagi ingat mengapa dulu kita mencintainya.

Sebaliknya, ketika kita tidak lagi mencintai seseorang, barulah kita mulai mencari alasan-alasan untuk tidak mencintainya— karena saat itu, kita mulai mencela dan mencari-cari kekurangan.

Siapa pun, jika dicari-cari, pasti memiliki kekurangan. Semakin dicari, semakin banyak kekurangannya, dan dengan mudah kita bisa berkata: “Inilah alasan aku tidak menyukainya.”

Ketika kita ingin membeli sebuah pakaian, meski menemukan cacat kecil, kita tetap bisa memakluminya— karena kita sangat menyukainya. Cacat kecil tak menutupi keindahannya.

Namun jika sejak awal kita memang tidak ingin membelinya, cacat kecil itu langsung menjadi alasan fatal. Bahkan kita akan berusaha mencari kekurangan lain: bahannya kurang bagus, warnanya terlalu mencolok— sekadar untuk membenarkan bahwa kita telah “mempertimbangkannya dengan matang”.

Putus cinta bisa memiliki banyak alasan. Namun bersatu hanya punya satu alasan— Karena cinta tidak membutuhkan alasan.

Renungan 

“Cinta” adalah satu kata sederhana yang nyaris tak pernah bisa dijelaskan dengan tuntas.
Ia juga merupakan emosi yang bahkan tim Erabaru pun sulit memahaminya sepenuhnya.

Setelah membaca artikel ini, makna “cinta” justru terasa semakin misterius.

Dia membuat kita bertanya pada diri sendiri:Saat aku bersamanya, apakah aku mencintainya sehingga aku membutuhkannya, atau aku membutuhkannya sehingga aku mencintainya?

Terus terang, jawabannya sering kali tidak mudah ditemukan.

Mungkin, seiring bertambahnya usia dan kedalaman pengalaman hidup, kita akan semakin memahami hakikat cinta itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan Anda, sahabat pembaca?

Apakah Anda mencintai pasangan Anda sehingga ingin bersamanya, atau karena Anda membutuhkan kehadirannya, maka Anda menyebutnya cinta?

Semoga setiap orang dapat menemukan pasanganyang dibutuhkan karena dicintai,

bukan dicintai karena dibutuhkan. (jhn/yn)

Prancis Dukung Rencana Uni Eropa untuk Memasukkan Garda Revolusi Islam Iran ke Daftar Organisasi Teroris

Menteri-menteri luar negeri Uni Eropa diperkirakan akan mengesahkan sanksi baru terhadap Iran, termasuk larangan perjalanan dan pembekuan aset.

EtIndonesia. Prancis menyatakan pada 28 Januari bahwa pihaknya akan mendukung pencantuman Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) sebagai organisasi teroris, ketika para menteri luar negeri Uni Eropa bersiap bertemu di Brussel untuk menyetujui sanksi baru sebagai respons atas penindasan brutal rezim Iran terhadap demonstrasi nasional.

Menteri Eropa dan Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengatakan dalam unggahannya di platform X pada 28 Januari bahwa Paris akan mendukung penetapan tersebut sebagai bagian dari paket langkah hukuman yang lebih luas, yang dikoordinasikan bersama mitra-mitra Eropa.

“Iran: Tidak boleh ada impunitas,” kata Barrot. “Penindasan yang tak tertahankan terhadap pemberontakan damai rakyat Iran tidak boleh dibiarkan tanpa tanggapan. Keberanian luar biasa yang mereka tunjukkan dalam menghadapi kekerasan membabi buta yang dilepaskan terhadap mereka tidak boleh sia-sia.”

Barrot menyebutkan bahwa UE akan mengadopsi sanksi baru di Brussel, termasuk larangan perjalanan dan pembekuan aset, yang menargetkan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pelanggaran. Ia menambahkan bahwa Prancis akan mendukung pencantuman IRGC ke dalam daftar teroris UE, sebuah langkah yang telah lama diperdebatkan di dalam blok tersebut.

Barrot juga menyerukan kepada Teheran untuk membebaskan para tahanan, menghentikan eksekusi, memulihkan akses internet, serta mengizinkan misi pencari fakta PBB menyelidiki dugaan kejahatan.

Gelombang protes besar-besaran pecah di seluruh Iran pada akhir Desember 2025, yang awalnya dipicu oleh meningkatnya biaya hidup, inflasi tinggi, dan merosot tajamnya nilai mata uang nasional.

Apa yang bermula sebagai demonstrasi menentang kesulitan ekonomi berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap rezim Iran. Seruan untuk menggulingkan Republik Islam ditanggapi dengan tindakan keras oleh aparat keamanan, termasuk penangkapan massal dan kekerasan mematikan, menurut kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia.

Perdebatan di Eropa berlangsung di tengah tekanan berkelanjutan dari Amerika Serikat terhadap Iran, di mana IRGC telah ditetapkan sebagai Organisasi Teroris Asing sejak April 2019. Presiden AS Donald Trump berulang kali memperingatkan Teheran agar tidak mengeksekusi para demonstran, seraya memberi sinyal bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memicu respons militer.

Menjelang pertemuan Dewan Urusan Luar Negeri, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas mengatakan dalam pernyataannya pada 29 Januari bahwa Iran akan menjadi fokus utama pembahasan terkait Timur Tengah.

“Tentu saja, topik utamanya adalah Iran. Kami akan memasukkan sanksi baru ke dalam daftar, dan saya juga memperkirakan kami akan menyepakati pencantuman Garda Revolusi Iran dalam daftar teroris,” ujarnya. “Ini akan menempatkan mereka sejajar dengan al-Qaeda, Hamas, dan Daesh. Jika Anda bertindak sebagai teroris, maka Anda juga harus diperlakukan sebagai teroris.”

Ia mengatakan bahwa skala kekerasan yang digunakan otoritas Iran terhadap para demonstran membuat tindakan lanjutan tak terelakkan.

“Jelas apa yang kita lihat: jumlah korban tewas dalam protes di Iran dan cara-cara yang digunakan rezim benar-benar sangat parah,” kata Kallas. “Itulah sebabnya kami juga mengirimkan pesan yang jelas bahwa jika Anda menindas rakyat, ada harga yang harus dibayar, dan Anda juga akan dikenai sanksi.”

Setidaknya 6.373 orang telah tewas sejak protes dimulai, termasuk 5.993 demonstran dan 113 anak, menurut data per 28 Januari yang diterbitkan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat.

Menurut HRANA, total penangkapan telah mencapai 42.486 orang, sementara ribuan kematian lainnya masih dalam proses peninjauan. The Epoch Times tidak dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.

Ketika ditanya langkah-langkah spesifik apa yang sedang dipertimbangkan, Kallas mengatakan bahwa paket sanksi akan mencakup individu maupun entitas yang terkait dengan kekerasan terhadap para demonstran, di samping pencantuman IRGC secara keseluruhan.

Menanggapi kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat menghambat operasi diplomatik Eropa di Iran, Kallas mengatakan bahwa risiko-risiko tersebut telah diperhitungkan.

“Risiko-risiko ini telah dikalkulasikan,” ujarnya. “Bagian diplomatik tidak termasuk dalam pencantuman Garda Revolusi ini. Interaksi dengan Menteri Luar Negeri tidak tercakup di dalamnya. Penilaiannya adalah bahwa jalur diplomatik akan tetap terbuka, bahkan setelah Garda Revolusi dimasukkan ke dalam daftar.”

PM Jepang : Aliansi Jepang–AS “Akan Runtuh” Jika Tokyo Menutup Mata terhadap Krisis Taiwan

“Jika sesuatu yang mengerikan terjadi di sana, kami harus pergi mengevakuasi warga Jepang dan Amerika di Taiwan,” kata Takaichi.

EtIndonesia. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada 26 Januari bahwa jika Tiongkok dan Amerika Serikat terlibat konflik terkait Taiwan, Jepang akan bekerja bersama sekutu utamanya, Amerika Serikat, untuk melindungi warga Jepang dan Amerika yang berada di Taiwan.

“Jika pasukan AS, yang bertindak bersama kami, diserang, lalu kami hanya melarikan diri tanpa melakukan apa pun, maka Aliansi Jepang–AS akan runtuh,” kata Takaichi dalam sebuah program TV Asahi yang menampilkan para pemimpin partai besar Jepang.

“Oleh karena itu, kami harus merespons dengan membuat penilaian yang komprehensif berdasarkan situasi di lapangan, secara ketat dalam batas-batas hukum, dan dalam batas undang-undang yang berlaku saat ini,” ujarnya, menurut terjemahan pernyataannya.

Komentar Takaichi tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas kritik dari seorang anggota parlemen oposisi yang menyerukan agar perdana menteri mencabut pernyataannya sebelumnya terkait Taiwan.

Sejak November 2025, Jepang menghadapi tekanan diplomatik dan ekonomi dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), setelah Takaichi mengaitkan kemungkinan krisis Taiwan dengan situasi yang berpotensi “mengancam kelangsungan hidup” Jepang—sebuah penetapan yang dapat membuka jalan bagi Jepang untuk mengerahkan pasukan.

PKT memandang Taiwan sebagai wilayahnya sendiri, yang akan direbut dengan kekuatan jika diperlukan. Rezim Tiongkok berupaya mengisolasi demokrasi yang memerintah sendiri itu di panggung internasional dan dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan aktivitas militernya di sekitar pulau tersebut. Hal ini mencakup pengiriman pesawat tempur mendekati Taiwan hampir setiap hari serta pelaksanaan latihan tembak langsung di sekitar pulau, yang meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik di Selat Taiwan—jalur laut vital bagi perdagangan global.

Pulau paling barat Jepang, Yonaguni, berjarak hanya sekitar 68 mil dari Taiwan dan menjadi lokasi kehadiran lebih dari 50.000 tentara Amerika, bersama dengan pesawat militer AS berteknologi maju.

Berbicara dalam program televisi nasional tersebut, Takaichi menegaskan bahwa pernyataannya sebelumnya tidak berarti Jepang akan melakukan intervensi militer dalam bentrokan antara AS dan Tiongkok.

“Saya ingin menegaskan secara mutlak bahwa ini bukan tentang Jepang keluar dan mengambil tindakan militer jika Tiongkok dan Amerika Serikat terlibat konflik [terkait Taiwan],” katanya.

Dengan menyinggung kedekatan geografis antara Taiwan dan Jepang, ia menambahkan, “Jika sesuatu yang mengerikan terjadi di sana, kami harus pergi dan menyelamatkan warga Jepang dan Amerika di Taiwan. Dalam situasi seperti itu, tindakan bersama mungkin diperlukan.”

Konstitusi pasifis Jepang melarang tindakan militer secara langsung. Namun, konstitusi tersebut mengizinkan Jepang menjalankan hak pertahanan diri kolektif, yakni membela Amerika Serikat atau negara sahabat lain yang diserang, dalam kasus di mana Jepang menghadapi “ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.”

Menanggapi komentar perdana menteri Jepang tersebut dalam pengarahan rutin di Beijing pada 27 Januari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun menuduh Jepang mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok dan mengancam penggunaan kekuatan terhadap Tiongkok.

Beijing terus mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Jepang. Pada 26 Januari, Kementerian Luar Negeri Tiongkok kembali mengeluarkan peringatan kepada warganya agar tidak bepergian ke Jepang selama libur Tahun Baru Imlek mendatang.

Maskapai-maskapai besar di daratan Tiongkok telah menawarkan pengembalian dana penuh untuk penerbangan tujuan Jepang sejak Beijing mengeluarkan peringatan perjalanan pertama pada November lalu.

Pada Desember, jumlah wisatawan Tiongkok turun sekitar 45 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, menjadi sekitar 330.000 orang, kata Menteri Pariwisata Jepang Yasushi Kaneko dalam sebuah pengarahan awal bulan ini. Meski terjadi penurunan wisatawan dari Tiongkok, Kaneko mencatat bahwa total kedatangan wisatawan internasional secara keseluruhan mencapai rekor tertinggi, sekitar 3,6 juta orang.

Ketegangan antara dua raksasa Asia tersebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah Tiongkok melarang pengiriman barang-barang dual-use (penggunaan ganda) ke Jepang jika barang tersebut dapat diadaptasi untuk meningkatkan kemampuan militer Jepang, langkah yang memicu protes keras dari pihak Jepang.

“Langkah-langkah terbaru ini, yang hanya menargetkan Jepang, sangat menyimpang dari praktik internasional, sama sekali tidak dapat diterima, dan sangat disesalkan,” kata seorang juru bicara Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang dalam pernyataan email kepada The Epoch Times awal bulan ini.

“Pemerintah Jepang akan memeriksa dan menganalisis secara menyeluruh rinciannya serta akan mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan dengan sikap tegas dan tenang.”

Takaichi, yang menikmati tingkat persetujuan tinggi sejak menjabat pada Oktober 2025, telah menyerukan pemilihan umum kilat untuk majelis rendah parlemen pada 8 Februari, dengan mengatakan bahwa ia ingin para pemilih memutuskan apakah akan mengizinkan pemerintahan koalisinya melakukan perubahan besar dalam kebijakan ekonomi dan keamanan Jepang.

Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.

Anak Nakal Terjebak Gembok Kombinasi di Hidungnya

EtIndonesia. Anak-anak seringkali mendapati benda-benda terjebak di hidung mereka, mulai dari LEGO dan kelereng kecil hingga tutup pena dan potongan kertas, tetapi pernahkah Anda mendengar ada anak yang terjebak gembok kombinasi di hidungnya? Nah, petugas pemadam kebakaran di Huaihua, Provinsi Hunan, Tiongkok, juga belum pernah mendengarnya.

Tidak jelas bagaimana anak laki-laki itu bisa terjebak gembok kombinasi kecil di hidungnya, tetapi semua orang menduga dia sedang bermain-main dengannya, mungkin mencoba meniru Raja Iblis Banteng. Yang kita ketahui adalah bahwa pada suatu saat, gembok itu tersangkut dan dia akhirnya memiliki cincin banteng yang unik.

Setelah beberapa kali mencoba melepaskan gembok tersebut, anak laki-laki itu meminta bantuan orangtuanya, tetapi mereka tidak dapat melepaskannya tanpa menyebabkan rasa sakit yang parah dan kemungkinan cedera pada anak laki-laki itu. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk meminta bantuan pemadam kebakaran setempat. Tetapi bahkan bagi mereka, kasus ini menghadirkan tantangan yang cukup besar.

Pertama, petugas pemadam kebakaran memanggil anak laki-laki itu, dan setelah memeriksa pengunci, mereka memutuskan bahwa menariknya atau memberikan terlalu banyak tekanan dapat menyebabkan cedera serius, atau bahkan menusuk septum hidung anak tersebut. Jadi mereka memilih untuk memotong pengunci tersebut dengan gunting.

Anehnya, anak laki-laki itu tetap tenang selama seluruh operasi dan bersumpah untuk tidak pernah memasukkan benda apa pun ke hidungnya lagi. (yn)

Menteri Pertahanan Pakistan Dibully Karena Meresmikan Restoran Pizza Hut Palsu

EtIndonesia. Seorang pejabat tinggi militer Pakistan baru-baru ini melakukan upacara pembukaan untuk restoran Pizza Hut baru, hanya untuk kemudian jaringan makanan cepat saji tersebut mengumumkan bahwa restoran tersebut bukan milik mereka.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, baru-baru ini memotong pita gerai “Pizza Hut” baru di Sialkot. Foto dan video dari acara tersebut menunjukkan dia tersenyum bersama para pemilik saat meresmikan restoran baru tersebut, tetapi kemudian Pizza Hut mengumumkan bahwa mereka sama sekali tidak berafiliasi dengan restoran baru tersebut, dan Asif menjadi sasaran lelucon dan meme.

“Pizza Hut Pakistan memberitahukan kepada pelanggan kami yang terhormat bahwa gerai tidak resmi yang secara salah menggunakan nama dan merek Pizza Hut baru-baru ini dibuka di Sialkot Cantonment,” demikian bunyi pernyataan Pizza Hut. “Gerai ini tidak terkait dengan Pizza Hut Pakistan, atau Yum! Brands. Restoran ini tidak mengikuti resep, protokol kualitas, standar keamanan pangan, dan standar operasional Pizza Hut Internasional.”

Meskipun restoran baru ini menampilkan logo dan merek atap merah Pizza Hut yang familiar, restoran ini tidak tercantum dalam daftar 16 lokasi perusahaan di Pakistan, dan pernyataan resmi tersebut mengkonfirmasi apa yang sudah dicurigai banyak orang – Khawaja Asif telah mempromosikan Pizza Hut palsu.

“Bagaimana mungkin dia tidak tahu?” tanya seorang pengguna media sosial, sementara yang lain bersuka cita mengejek pejabat tinggi Pakistan tersebut.

“Hanya di Pakistan seorang Menteri Pertahanan dapat dengan bangga meresmikan Pizza Hut palsu. Khawaja Asif memotong pita, tersenyum ke arah kamera, dan pergi—hanya untuk kemudian merek tersebut menyatakan gerai tersebut tidak sah. Tidak ada yang bisa memparodikan tingkat ketidakkompetenan seperti ini,” komentar seseorang tentang situasi tersebut.

Jaringan restoran cepat saji Amerika itu mengatakan telah mengajukan pengaduan kepada pihak berwenang terkait untuk menghentikan penyalahgunaan “merek dagang kami dan memastikan tindakan segera,” tetapi yang sebenarnya ingin diketahui orang adalah mengapa Khawaja Asif begitu tidak mengetahui siapa orang-orang di balik restoran tersebut.

Pizza Hut tidak pernah menyebut nama Asif, dan Menteri Pertahanan Pakistan belum memberikan pernyataan mengenai kesalahan besar ini.(yn)

Rahasia Paling Berbahaya PKT Terungkap: Surat Zhang Youxia Membuka Perang Senyap di Tubuh Militer

EtIndonesia. Penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT), Zhang Youxia, memicu gelombang kejut politik dan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejumlah sumber membocorkan kepada media luar negeri, termasuk Epoch Times, sebuah surat rahasia yang diklaim ditulis langsung oleh Zhang Youxia sebelum dia ditangkap.

Surat tersebut bukan sekadar pesan pribadi, melainkan dokumen politis yang secara terbuka mengungkap konflik mendalam antara Zhang Youxia dan Xi Jinping, serta memuat prediksi detail tentang cara penangkapannya—yang secara mencolok selaras dengan berbagai informasi yang kini beredar luas.

Di bagian awal surat itu tertulis kalimat yang kini menjadi sorotan internasional: “Jika sesuatu terjadi pada saya, mohon surat ini dipublikasikan.”

Konflik Fundamental dengan Xi Jinping

Dalam surat tersebut, Zhang Youxia menyatakan bahwa penangkapannya bukanlah kasus tunggal, melainkan awal dari rangkaian penangkapan lanjutan. Menurutnya, akar konflik terletak pada perbedaan pandangan yang tajam dengan Xi Jinping, khususnya mengenai:

  • Sistem pertanggungjawaban Ketua Komisi Militer Pusat
  • Promosi dan mutasi perwira tinggi militer
  • Kebijakan terhadap Taiwan
  • Arah hubungan strategis dengan Rusia

Zhang mengungkapkan bahwa dirinya memiliki syarat dan kemampuan untuk melakukan kudeta militer, namun dengan tegas menolak jalan tersebut. 

Alasannya sederhana namun tegas: jika situasi lepas kendali, Tiongkok akan terjerumus ke dalam perang saudara, dan korban terbesarnya adalah para prajurit biasa yang tak bersalah.

Prediksi Penangkapan yang Menjadi Kenyataan

Zhang Youxia juga memperkirakan secara rinci cara Xi Jinping akan menangkapnya: melalui konspirasi tertutup, hanya melibatkan tiga hingga lima orang, tanpa pembahasan kolektif di Politbiro, namun tetap diumumkan atas nama “pusat kekuasaan”.

Dia memperingatkan bahwa jika langkah ini benar-benar dilakukan, Tiongkok akan bergerak menuju model Korea Utara, dengan ciri-ciri:

  • Sentralisasi kekuasaan ekstrem
  • Potensi perang paksa demi penyatuan Taiwan
  • Penggunaan militer untuk memberlakukan darurat militer kapan saja

Dalam kalimat yang paling keras dan bersifat peringatan moral, Zhang menulis kepada Xi Jinping: “Jika kamu menang, tetaplah punya sikap dan batasan. Jangan bertindak terlalu kejam. Ingat, di atas kepala kita ada langit, dan Tuhan melihat.”

Penolakan Perang dan Peringatan Keras soal Amerika Serikat

Surat tersebut juga menunjukkan sikap anti-perang yang tegas dari Zhang Youxia. Dia mendesak Xi Jinping untuk menghormati tatanan internasional yang dipimpin Amerika Serikat dan tidak pernah menjadikan AS sebagai musuh utama.

Zhang mengungkap bahwa dalam interaksinya dengan pihak Amerika, AS secara sengaja memperlihatkan kepadanya berbagai rahasia tingkat tinggi, termasuk:

  • Foto pangkalan militer PKT
  • Denah fasilitas nuklir
  • Lokasi kediaman pribadi para pemimpin Tiongkok

Dia menegaskan dengan kalimat yang mengguncang: “Amerika mengetahui segalanya. Jika PKT memulai perang, sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menang.”

Meski demikian, keaslian surat ini masih diperdebatkan, dan hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Beijing.

Keheningan Total di Tubuh Militer PKT

Pasca penangkapan Zhang Youxia, dunia internasional mengamati fenomena yang sangat tidak biasa:  tidak satu pun cabang militer maupun lima zona komando besar PKT secara terbuka menyatakan dukungan terhadap penangkapan tersebut—baik melalui situs resmi, akun media sosial, maupun video propaganda.

Pengamat politik Tang Jingyuan menilai situasi ini sangat berbahaya. Menurutnya, ada dua kemungkinan yang sedang terjadi:

  1. Faksi pendukung Xi dan faksi anti-Xi telah mencapai kesepakatan diam-diam, atau
  2. Negosiasi tingkat tinggi mengalami kebuntuan total, yang berisiko memicu krisis militer serius

“Kode Rahasia” di Kalangan Militer

Pada 29 Januari 2026, komentator politik Zhen Fei mengungkap bocoran dari seorang perwira pensiunan Tentara Grup ke-31. 

Dia menyebutkan adanya satu “kode rahasia” yang kini beredar luas di tubuh militer: “Kamu petugas propaganda resimen, ya?”

Kalimat ini terdengar biasa, namun sejatinya merupakan sindiran politik dan ujian loyalitas. Ungkapan tersebut berasal dari serial TV Karangan Bunga di Bawah Gunung, yang menggambarkan pejabat propaganda yang naik pangkat lewat koneksi, sementara prajurit sejati tak mendapat penghargaan.

Dalam konteks saat ini, kalimat tersebut digunakan untuk menguji posisi politik seseorang:

  • Apakah berpihak pada Xi Jinping,
  • Atau pada veteran militer Zhang Youxia,
  • Sekaligus menyiratkan tuduhan pengkhianatan.

Seorang perwira menggambarkan situasi ini sebagai “keheningan absolut sebelum perang”—tenang di permukaan, namun sangat mencekam.
Militer PKT dilaporkan telah memasuki status kesiapan tempur tingkat satu.

Perpecahan Soal Taiwan dan Pandemi

Sumber militer Shen Jianhui pada 29 Januari 2026 mengungkap bahwa Xi Jinping memiliki perbedaan tajam dengan para jenderal senior terkait:

  • Strategi militer di Selat Taiwan
  • Penanganan pandemi

Zhang Youxia, bersama sejumlah perwira aktif dan pensiunan, disebut secara pribadi mengkritik Xi Jinping, menudingnya takut mati selama pandemi, namun tetap memaksakan diri mempertahankan kekuasaan.

Konflik internal PKT kini semakin memburuk, diperparah oleh rumor pelarian pejabat ke luar negeri.

Tanda-Tanda Keruntuhan Sistem

Akademisi yang bermukim di AS, Wu Zuolai, menyatakan bahwa dalam sejarah Tiongkok, setiap pergantian dinasti selalu diawali oleh rumor dan lagu rakyat, yang kelak berubah menjadi peristiwa politik nyata.

Mantan pejabat Mongolia Dalam, Du Wen, menyoroti kekacauan administratif PKT saat ini. Dia mempertanyakan mengapa meski Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah diumumkan “jatuh”, jabatan resmi mereka masih tercantum di situs Xinhua dan Dewan Negara, dan berita lama belum dihapus.

Menurutnya, ini mencerminkan kekacauan sistemik, antara lain:

  1. Vonis diumumkan sebelum penyelidikan selesai
  2. Secara hukum, jabatan mereka masih berlaku—Zhang Youxia masih tercatat sebagai anggota Politbiro dan Wakil Ketua CMC

Pakar Tiongkok Heng He menyebut jatuhnya Zhang Youxia sebagai tonggak menuju keruntuhan PKT. Menurutnya, Xi Jinping memang memegang kekuasaan absolut, tetapi kehilangan wibawa sepenuhnya—sebuah kondisi yang sangat berbahaya.

Fenomena “Tiga Pengunduran” yang Tak Terbendung

Pada tahun 2025, data dari Global Tuidang Service Center mencatat fakta mencolok: 15.494.903 orang secara terbuka menyatakan keluar dari PKT, Liga Pemuda, dan Pionir Muda—rata-rata 42.452 orang per hari.

Gerakan ini berlangsung tanpa rapat umum, tanpa pemimpin, dan tanpa mobilisasi organisasi. Sebagian besar dilakukan secara anonim, sebagai keputusan pribadi atau keluarga.

Justru karena sifatnya yang tenang, terfragmentasi, dan berkelanjutan, fenomena ini mencerminkan pergeseran batin masyarakat, bukan kudeta politik.

Ini bukan upaya menggulingkan rezim, melainkan penolakan psikologis untuk terus tunduk pada sistem yang dianggap kehilangan legitimasi.

Penutup

Kasus Zhang Youxia bukan sekadar penangkapan seorang jenderal senior. Dia menjadi cermin retakan mendalam di jantung kekuasaan PKT—militer yang diam, elite yang terbelah, dan rakyat yang perlahan menjauh.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan akan terjadi, melainkan kapan dan dengan cara apa perubahan itu akan meledak ke permukaan.