Trump Masuk Markas Globalisme: Dua Hari di Davos yang Mengubah Arktik dan Mengancam Tatanan Dunia

EtIndonesia. Dalam dua hari terakhir, dunia menyaksikan sebuah drama geopolitik berskala besar di Davos, Swiss—panggung berkumpulnya sekitar 3.000 elite politik dan ekonomi global, termasuk lebih dari 60 kepala negara/pemerintahan serta hampir 850 CEO dan ketua dewan perusahaan raksasa dunia. Namun, di tengah kerumunan elite tersebut, sorotan utama hanya tertuju pada satu figur: Donald Trump.

Kehadiran Trump di Forum Ekonomi Dunia tahun ini bukan sekadar formalitas. Dia datang untuk “mengguncang panggung”, menantang narasi lama globalisme, dan memaksakan ulang agenda America First di jantung markas globalisme.

Insiden Langka di Udara: Air Force One Berbalik Arah

Drama dimulai bahkan sebelum Trump menginjakkan kaki di Davos. Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat dengan standar keamanan paling ketat di dunia, tiba-tiba berbalik arah tak lama setelah lepas landas menuju Swiss.

Alasan resmi menyebut gangguan listrik ringan. Namun kesaksian jurnalis yang berada di dalam pesawat menyebutkan, ketika pesawat sudah stabil di ketinggian jelajah, lampu kabin media berkedip lalu padam total selama beberapa detik, memicu suasana tegang.

Setelah mendarat kembali di Pangkalan AU Andrews, tingkat pengamanan langsung dinaikkan ke level tertinggi. Trump segera dipindahkan ke pesawat cadangan C-32—yang biasanya digunakan Wakil Presiden AS—dan diterbangkan ulang agar jadwal Davos tetap terpenuhi. Insiden ini dinilai banyak pengamat sebagai adu strategi senyap yang sudah dimulai bahkan sebelum Trump bertatap muka dengan elite Davos.

Tiba di Markas Globalisme

Trump akhirnya tiba tepat waktu di Davos, lokasi World Economic Forum. Dia mendarat menggunakan helikopter Marine One, disambut karpet merah panjang. Ironisnya, tokoh-tokoh yang selama ini lantang mengkritiknya, justru mengantre untuk berjabat tangan dan berfoto—sebuah gambaran telanjang realitas kekuatan politik.

Dua Ironi Besar Davos

Di luar ruang forum, dua ironi mencolok mencuri perhatian dunia:

  1. Jet Pribadi dan Klimatologi Moral
    Dalam beberapa hari, lebih dari 1.000 jet pribadi mendarat di Davos, membawa dua hingga tiga ribu elite yang berpidato soal perubahan iklim—sambil menghasilkan ribuan ton emisi karbon. Di saat yang sama, publik global diminta menurunkan pemanas rumah, mengurangi konsumsi daging, dan meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil.
  2. “No Kings” vs Para Raja
    Sebuah papan besar bertuliskan “No Kings” dipasang sebagai protes terhadap Trump. Ironisnya, tujuh raja Eropa duduk di dalam forum. Dari delapan negara Eropa yang sebelumnya diancam tarif oleh Trump terkait isu Greenland, lima adalah monarki. Pesan protes itu pun berubah menjadi satire.

Hari Pertama (20 Januari 2026): Greenland & Arktik Berubah Arah

Pada hari kedatangannya, Trump mengumumkan kabar paling mengguncang Davos: kesepakatan kerangka masa depan Greenland dan kawasan Arktik telah dicapai bersama NATO. Konsekuensinya, tarif hukuman yang sedianya berlaku 1 Februari 2026 ditunda sementara.

Kesepakatan ini akan dibahas lebih lanjut dalam kerangka sistem pertahanan “Kubah Emas”, dengan rincian tambahan menyusul. Namun garis besarnya mencakup enam poin strategis:

  1. Akses Wilayah Strategis
    AS memperoleh kendali atas beberapa titik kecil di Greenland untuk pangkalan militer dan sistem pertahanan rudal. AS telah memiliki satu pangkalan di sana; tambahan titik di Greenland utara dinilai krusial.
  2. Tanpa Pembelian, Tanpa Batas Waktu
    Tidak ada transaksi pembelian bernilai ratusan miliar dolar. Denmark mempertahankan kedaulatan simbolis, sementara kehadiran AS bersifat permanen dan berlaku tanpa batas waktu.
  3. Akses Sumber Daya
    AS memperoleh hak partisipasi dalam pengembangan sumber daya mineral Greenland.
  4. Memutus Pengaruh Rusia–Tiongkok
    Poin krusial: menghentikan pengaruh Rusia dan Tiongkok di Greenland dan Arktik.

Sebagai imbalan, Trump hanya menunda tarif terhadap delapan negara Eropa. Banyak pengamat menyebut ini sebagai seni transaksi ala Trump: tanpa biaya pembelian, namun meraih kepentingan strategis penuh.

Trump juga menegaskan percepatan produksi senjata—Patriot, Tomahawk, F-35, dan sistem unggulan lain—seluruhnya diproduksi di AS.

Efeknya instan: pasar prediksi Polymarket mencatat peluang AS “memperoleh Greenland” pada 2026 melonjak dari 12% menjadi 55% dalam satu hari.

Pidato Tajam dan Tekanan Terbuka

Dalam pidato lebih dari satu jam, Trump menyinggung Denmark dengan mengingatkan bahwa pada Perang Dunia II negara itu menyerah dalam enam jam. Pesannya tegas: keamanan Greenland, menurut Trump, bergantung pada AS—yang kala itu melindungi dan mengembalikannya tanpa syarat.

Dia juga menyebut kegagalan sistem pertahanan buatan Rusia dan Tiongkok di Venezuela, serta menegaskan Eropa harus bangun dari ilusi bertahan tanpa Amerika. Pernyataan Presiden Finlandia yang sebelumnya menyebut Eropa tak membutuhkan AS, bahkan dikoreksi sendiri dalam 11 menit.

Sekjen NATO mengakui, tanpa Trump, target belanja pertahanan 2%—bahkan 5%—tak akan tercapai. Sementara Volodymyr Zelenskyy secara terbuka mengkritik kemunafikan Eropa: pandai bicara masa depan, enggan bertindak hari ini.

Hari Kedua (21 Januari 2026): Komisi Perdamaian

Pada hari kedua, Trump meluncurkan langkah yang dinilai lebih radikal: pembentukan Komisi Perdamaian, sebuah organisasi internasional baru yang oleh sebagian pihak disebut berpotensi menyaingi PBB.

Komisi ini mengusung prinsip bahwa perdamaian dicapai lewat kekuatan dan tindakan nyata, bukan sekadar deklarasi. Hingga 22 Januari 2026, 59 negara dilaporkan telah menandatangani keanggotaan awal.

Struktur organisasi sangat tegas:

  • Trump sebagai satu-satunya ketua,
  • Hak veto absolut,
  • Masa jabatan seumur hidup (kecuali mengundurkan diri atau tidak mampu bertugas).

Keanggotaan gratis selama tiga tahun; untuk status tetap, biaya 1 miliar dolar AS per negara—logika bisnis khas Trump.

Menariknya, Vladimir Putin turut diundang. Saat ditanya alasannya, Trump menjawab lugas: semua negara—termasuk musuh—harus dilibatkan agar bermain di aturan yang sama.

Secara nominal, komisi ini ditujukan untuk penyelesaian konflik Timur Tengah, khususnya Gaza. Namun bagi banyak analis, inilah panggung tata dunia baru yang berpusat pada Amerika—atau lebih tepatnya, pada Trump.

Pulang ke Washington

Pada 22 Januari 2026, Trump kembali ke Amerika Serikat. Dia menegaskan rencana Greenland terus berjalan dan Komisi Perdamaian akan menjadi terobosan yang belum pernah ada.

Kesimpulan:

Dalam dua hari, Trump mengubah agenda Arktik, menekan Eropa dan NATO, serta memperkenalkan arsitektur tata kelola global baru. Davos 2026 pun tercatat bukan sekadar forum ekonomi—melainkan panggung drama geopolitik yang menggeser keseimbangan dunia.

ARTOTEL TS Suites Surabaya Gelar “Pajamas Party” untuk Karyawan, Serukan Peduli Sosial dan Lepas Magang

0

Surabaya – Suasana santai dan penuh kehangatan mewarnai acara I Am Artotel Day yang digelar ARTOTEL TS Suites Surabaya, Minggu (8/1) siang. Bertema “Pajamas Party”, seluruh karyawan tampil dengan piyama mereka, mengubah Venture Meeting Room menjadi ajang kebersamaan yang cair dan penuh kegembiraan.

Acara yang dibuka oleh Rado Gusti, Executive Assistant Manager, tidak hanya menjadi momen apresiasi atas dedikasi dan kerja keras karyawan, tetapi juga wadah penguatan budaya kekeluargaan dan solidaritas tim.

“Kami ingin menciptakan ruang kebersamaan, kebahagiaan, dan rasa memiliki. Setiap individu harus merasa dihargai dan bangga menjadi bagian dari ARTOTEL,” ujar Ari Anggraini Mayadewi, Human Resources Manager ARTOTEL TS Suites Surabaya.

Gabungkan Apresiasi dengan Edukasi dan Aksi Sosial
Di tengah kemeriahan, acara juga menyisipkan agenda sosial yang serius. Hadir perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan yang memberikan sosialisasi tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, serta isu anak berhadapan dengan hukum.

ARTOTEL TS Suites Surabaya juga menunjukkan kepeduliannya dengan menyerahkan donasi sebesar Rp3.000.000 untuk korban bencana alam di Sumatera Barat melalui LAZ Dana Amanah Umat (DAU).

Momen Penghargaan dan Perpisahan
Puncak acara diisi dengan pemberian penghargaan kepada karyawan terbaik sebagai bentuk pengakuan atas kinerja luar biasa. Tak kalah mengharukan, acara ini sekaligus menjadi momen pelepasan siswa magang yang telah menyelesaikan masa belajarnya di hotel tersebut.

“Ini adalah ajang apresiasi bagi seluruh karyawan yang telah memberikan kontribusi terbaik, sekaligus ucapan terima kasih dan selamat jalan untuk adik-adik magang yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,” tambah Ari.

Penampilan Kreatif dan Kekompakan Setiap Departemen
Suasana semakin meriah dengan penampilan kreatif dari setiap departemen. Penampilan tersebut tidak hanya menunjukkan bakat tersembunyi para staf, tetapi juga mencerminkan kekompakan dan semangat kolaborasi yang kuat di dalam tim.

Acara I Am Artotel Day berhasil menegaskan bahwa di balik operasional hotel yang profesional, ada jiwa kebersamaan, kepedulian, dan semangat saling menghargai yang menjadi fondasi budaya kerja ARTOTEL TS Suites Surabaya.

Hidup Dimulai dari Sebuah Senyuman

EtIndonesia. Sejak kita hadir ke dunia ini, saat pertama kali membuka mata, yang kita lihat adalah senyum bahagia keluarga menyambut kedatangan kita. Perasaan pertama yang kita rasakan adalah kasih sayang yang mengalir melalui senyum mereka. Sejak saat itu, hidup kita pun terikat erat dengan senyuman.

Senyum penuh kebanggaan membuat seseorang percaya diri; tawa lepas membuat hati terasa ringan dan lapang. Semua itu adalah getaran alami kehidupan. Namun ada satu jenis senyum yang lebih murni dan tenang, yang membuat kita merasakan kedalaman makna hidup, menikmati emosi, dan melampaui suka maupun duka—itulah senyuman yang sejati.

Hidup manusia memang terbatas. Suatu hari nanti, kita tak lagi bisa menikmati keindahan dunia atau merasakan hangatnya kasih sayang. Namun selama di dalam hati kita masih bersemi angin musim semi, bukankah setiap fase kehidupan tetap indah? Selama kita memiliki hati yang tenang, penuh rasa syukur, dan gembira, bahkan ketika berjalan di padang kehidupan yang tandus sekalipun, kita tetap bisa menangkap sekilas keajaiban yang memukau.

Karena itu, hadapilah segala sesuatu dalam hidup dengan senyuman. Dengan begitu, kita bisa menikmati hidup di dalam senyum, dan merasakan betapa kaya dan indahnya kehidupan. Hadapilah hidup dengan senyuman—karena hidup dimulai dari sebuah senyum.

Hidup adalah perpaduan rasa: manis, asam, pahit, pedas, dan asin. Kehidupan yang manis memang menjadi dambaan setiap orang, namun tak selalu sesuai dengan harapan. Dalam perjalanan hidup, kita pasti menghadapi kegagalan dan kekecewaan. Kadang hati gelisah, ingin kembali ke masa lalu, tetapi waktu tak pernah bisa diputar ulang.

Jangan takut untuk memulai kembali. Hidup selalu membawa kita kembali ke titik awal. Ingatlah kalimat ini: “Buluh yang tertekan tidak akan dipatahkan oleh langit; Pelita yang hampir padam tidak akan ditiup hingga mati.”

Beranilah—tampilkan sebuah senyuman, dan melangkahlah maju. Hidup memang seperti itu: ketika kita mengubah cara pandang, kita akan melihat pemandangan yang berbeda, merasakan tingkat kehidupan yang berbeda pula. Meski tak sempurna, hidup tetap bisa dijalani dengan tenang dan penuh makna.

Dengan senyum di dalam hati, kita menembus kabut peristiwa dunia, belajar beradaptasi, bekerja keras, menuai hasil, memperluas pemahaman, dan menguatkan batin—hingga akhirnya melangkah menuju tepi kebahagiaan. Di sana, tersenyumlah dengan bangga dan penuh syukur.

Senyuman juga merupakan jembatan komunikasi antar manusia. Senyum tulus kepada orang lain bagaikan aliran air kecil yang mengalir perlahan ke dalam hati mereka, menumbuhkan kehangatan dan cinta. Masyarakat adalah sebuah keluarga besar—di mana ada rumah, di situ ada cinta; dan di mana ada cinta, di situlah rumah.

Tersenyumlah. Senyum adalah ungkapan perasaan, agar dunia kita dipenuhi oleh cinta sejati.

Senyum adalah naluri manusia: senyum bersama membangun kedamaian, senyum kepada orang lain melahirkan pengertian, dan senyum kepada diri sendiri adalah obat penenang bagi jiwa.

Ketenangan batin melahirkan kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah tenaga pendorong yang membuat hidup terus bergerak menuju ketinggian.

Mulailah dari senyum yang paling sederhana—bangun kembali sistem kekebalan jiwa, dan bentangkan kembali dada yang lapang. 

Tersenyumlah:

  • di setiap pagi, menyambut sinar matahari pertama,
  • di setiap musim semi, menatap tunas rumput yang baru tumbuh,
  • di setiap titik awal, memandang cakrawala yang mungkin belum terlihat.

Ada sebuah kalimat yang mengatakan: “Kamu mungkin tidak bisa mengubah wajah yang dilahirkan padamu,  tetapi kamu selalu bisa menampilkan senyuman.”

Mari kita semua tersenyum. Mulailah dari satu senyuman, hadapi setiap hari dengan senyum. Dengan begitu, kesuksesan sudah dekat, dan kebahagiaan tidak jauh.

Teman-teman, mari kita selalu tersenyum, setiap saat, sepanjang hidup. (jhn/yn)

Trump Ungkap Fakta Mengejutkan di Davos: Pada Awal Pandemi, Jalanan Wuhan Dipenuhi Kantong Jenazah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (21 Januari) menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos. Saat membahas ekonomi Amerika Serikat, ia secara tak terduga menyinggung kembali pandemi COVID-19 yang meletus pada masa jabatan pertamanya. Trump mengungkapkan bahwa sejak awal pandemi, pihak AS sudah mengetahui adanya kematian massal di Wuhan, Tiongkok. Bahkan, sekali lagi menegaskan bahwa virus tersebut berasal dari Wuhan. 

Trump menekankan bahwa justru karena memiliki intelijen yang akurat, Amerika Serikat pada awal 2020 menjadi negara pertama yang memberlakukan larangan perjalanan terhadap Tiongkok. Para analis menilai, pernyataan ini kembali mengguncang narasi PKT (Partai Komunis Tiongkok) terkait asal-usul pandemi.

EtIndonesiaPada Rabu, 21 Januari 2026 Presiden AS Donald Trump menghadiri kegiatan Forum Ekonomi Dunia di Davos. Dalam sesi wawancara dengan moderator mengenai ekonomi AS, ia secara tak terduga menyinggung pandemi virus PKT (COVID-19) yang terjadi pada masa jabatan pertamanya.

“Ada seseorang yang memberitahu saya untuk memperhatikan dengan saksama, karena sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di Tiongkok. Di Wuhan, mayat-mayat ada di mana-mana, tepat di sekitar gedung yang kami sebutkan itu,” ujarnya. 

Meskipun Trump tidak secara jelas menyebut gedung apa yang dimaksud di Wuhan, ia sebelumnya telah berkali-kali menyatakan secara terbuka bahwa virus tersebut bocor dari laboratorium. 

Situs resmi Gedung Putih juga pada 18 April 2025 menerbitkan halaman khusus yang menyatakan bahwa “kebocoran laboratorium” adalah sumber sebenarnya dari pandemi COVID, serta mengkritik lembaga federal dan sebagian pakar yang dinilai telah menyesatkan publik selama awal wabah.

“Saya selalu mengatakan virus itu berasal dari Wuhan, dan memang benar berasal dari Wuhan. Mayat-mayat itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Kami melihatnya melalui satelit. Mereka mengatakan ada sesuatu yang aneh terjadi di Tiongkok. Begitulah awalnya, dan akhirnya kita menghadapi pandemi COVID, seluruh dunia menderita.”

Pada 23 Januari 2020, Wuhan mengumumkan penutupan kota. Pada 31 Januari, pemerintahan Trump, meskipun menghadapi tekanan besar, memberlakukan larangan perjalanan terhadap Tiongkok—kebijakan yang saat itu menuai banyak kontroversi.

“Trump adalah pengambil keputusan Amerika Serikat pada tahap awal pandemi. Jadi ucapannya mewakili pemahaman pemerintah AS saat itu tentang situasi wabah ini. Kita tahu bahwa dalam komunikasi terkait pandemi antara Tiongkok dan AS, pihak PKT memang memberikan laporan, tetapi laporan tersebut tidak lengkap, bahkan menutupi fakta dan merekayasa data sehingga menyesatkan Amerika Serikat,” kata pakar isu Tiongkok, Wang He. 

“Namun Trump dan timnya memiliki intelijen sendiri, khususnya wakil penasihat keamanan nasionalnya, Matthew Pottinger, yang pernah menjadi jurnalis di Tiongkok selama bertahun-tahun dan memiliki jaringan hubungan pribadi, sehingga memperoleh informasi kunci mengenai tahap awal wabah di Tiongkok,” lanjutnya.

Pengamat luar menilai bahwa pernyataan Trump secara tidak langsung mengungkap kebenaran besar mengenai pandemi.

Wang He menambahkan: “Ini juga merupakan pertama kalinya Trump, sebagai pejabat resmi Amerika Serikat, mengungkap secara terbuka peristiwa kematian massal berskala besar di Wuhan pada saat itu. Jadi meskipun pernyataannya kali ini disampaikan secara spontan, nilainya sangat besar. Hal ini membuat kebohongan PKT runtuh dengan sendirinya.”

Trump juga menyebutkan bahwa dalam dua hingga tiga tahun pertama masa jabatan pertamanya, ekonomi AS mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebelum akhirnya pandemi tiba-tiba meletus.

“Trump mengangkat isu ini di Davos juga menunjukkan ancaman terhadap perkembangan ekonomi dunia. Dalam banyak kasus, dampak terhadap ekonomi bukan semata-mata masalah perencanaan pembangunan atau model ekonomi manusia sendiri, tetapi juga ada ‘tangan tak terlihat’ yang lebih besar,” ujar pakar virologi AS, Dr. Lin Xiaoxu. 

“Jika umat manusia kembali menghadapi bencana besar, dampaknya terhadap ekonomi akan sangat besar. Apakah manusia sudah siap? Apakah kita telah mengambil pelajaran dari COVID? Dan apakah kita sudah memikirkan, jika PKT kembali melakukan kejahatan, dampak baru apa yang akan ditimbulkannya bagi dunia?” imbuhnya. (Hui)

Laporan oleh reporter NTD Television: Yi Jing dan Qiu Yue

Analisis Kesepakatan NATO dan Amerika Serikat soal Greenland Hingga Bersiap Hadapi Ancaman Tiongkok dan Rusia

Pada  Rabu (21/1/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan di Forum Ekonomi Dunia Davos bahwa Amerika Serikat tidak akan memperoleh Greenland dengan kekuatan militer, melainkan melalui perundingan dan cara-cara lain, guna mendapatkan kendali atas wilayah strategis di kawasan Arktik tersebut. 

Meskipun mendapat penentangan dari Denmark dan sejumlah negara Eropa, para analis menilai bahwa di tengah meningkatnya ketegangan keamanan Arktik serta meluasnya ancaman dari Tiongkok dan Rusia, Greenland telah menjadi titik panas penting yang mempengaruhi NATO dan tatanan strategis global.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (21/1) menyampaikan sejumlah pidato penting di Forum Ekonomi Dunia Davos, yang berfokus pada strategi Arktik dan isu perdagangan internasional. Setelah forum tersebut, Amerika Serikat dan NATO dengan cepat mencapai kesepakatan terkait Greenland, serta mengumumkan bahwa delapan negara utama Eropa tidak lagi akan menghadapi rencana kenaikan tarif dari pihak AS.

Pada kesempatan itu, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mendapatkan Greenland, namun akan menempuh perundingan dan cara lain guna memperoleh wilayah strategis di Arktik itu. Trump juga menyatakan bahwa sejak lama para presiden AS memiliki minat untuk membeli Pulau Greenland.

Analisis dari berbagai pihak menyebutkan bahwa baik dari sudut pandang sejarah, hukum, maupun realitas geopolitik, Amerika Serikat memiliki dasar untuk membeli Greenland.

“Dengan kekuatan yang dimiliki Amerika Serikat, mereka sepenuhnya mampu mengembangkan dan mengendalikan Greenland. Kita tahu bahwa pada Perang Dunia II, setelah pendaratan Amerika di Normandia, seluruh Eropa—termasuk Denmark—dibebaskan. Tanpa pemerintah Amerika Serikat, tanpa rakyat Amerika, dan tanpa pengorbanan berdarah dari militer Amerika, Denmark akan menjadi koloni Jerman dan bagian dari Jerman,” kata Ketua Partai Sosial Demokrat Tiongkok, Liu Yinquan. 

“Dari realitas saat ini, NATO pada dasarnya melindungi Eropa, dan Amerika Serikat telah mengerahkan sejumlah besar pasukan, logistik, dan dana untuk memainkan peran utama di dalam NATO,” tambahnya. 

Seiring meningkatnya eksploitasi sumber daya Arktik oleh Partai Komunis Tiongkok serta penempatan militer Rusia di kawasan tersebut, Presiden Trump berharap dapat membangun sistem pertahanan rudal “Kubah Emas” terbesar sepanjang sejarah di Greenland, guna menghadapi ancaman dari Tiongkok dan Rusia.

Selain itu, Greenland memiliki sumber daya mineral yang sangat kaya, termasuk unsur tanah jarang, yang bernilai strategis langsung bagi industri teknologi dan pertahanan Amerika Serikat.

Presiden Trump juga mengkritik Denmark karena dinilai kurang berinvestasi di Greenland, sehingga wilayah tersebut saat ini berada dalam kondisi tanpa perlindungan yang memadai. Ia menegaskan bahwa hanya Amerika Serikat yang mampu melindungi, mengembangkan, dan memperbaiki “hamparan es raksasa” tersebut, dan karena itu berharap perundingan dapat segera dimulai.

Para analis menilai bahwa isu Greenland kini bukan lagi sekadar persoalan bilateral antara Amerika Serikat dan Denmark, melainkan telah menjadi isu keamanan kolektif NATO dan bagian penting dari tatanan strategi global.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Partai Komunis Tiongkok beberapa kali berupaya membeli hak penggunaan bandara sipil dan pelabuhan di Greenland, namun semuanya ditolak oleh Denmark. Tiongkok sangat mengincar Greenland, dan ini juga menjadi salah satu alasan penting mengapa Presiden Trump bersikeras untuk mengendalikan Greenland,” kata Mark, pembawa acara program Mark Space-Time dan Chronicles of Current Affairs.

Liu Yinquan menambahkan: “Masalah Greenland bukanlah masalah Greenland semata, juga bukan sekadar persoalan hubungan Amerika Serikat dan Denmark. Ini adalah persoalan hubungan Amerika Serikat dengan poros kejahatan.” 

“Kita tahu, saat ini di dunia ada pusat kejahatan yang terdiri dari Rusia, Tiongkok (PKT), Iran, dan Korea Utara, yang pada akhirnya bertujuan menguasai dunia. Jika Greenland tetap seperti sekarang—kosong dan tanpa kemampuan pertahanan Denmark untuk mencegah perang nuklir—maka hanya Amerika Serikat yang memiliki kekuatan tersebut.”

“Sebagai anggota utama NATO, Amerika Serikat memiliki kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab untuk melindungi wilayah ini. Dalam kondisi seperti ini, seluruh negara NATO seharusnya mendukung, dan Denmark terlebih lagi harus mendukung.”

Laporan reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Chang Chun.

Pidato Trump di Davos : Tidak Akan Mengambil Greenland dengan Kekuatan Militer

EtIndonesia. Pada Rabu (21 Januari), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato yang sangat diperhatikan di “Forum Ekonomi Dunia” Davos, Swiss. Ini merupakan penampilan Trump kembali di ajang pertemuan elite global tersebut setelah enam tahun. Dunia luar menilai bahwa Amerika Serikat telah siap untuk mendefinisikan ulang tatanan ekonomi dan keamanan global. 

Berikut laporan sambungan langsung dengan reporter Washington, Zhang Liang.

Zhang Liang : Pada Selasa malam (20 Januari), pesawat Air Force One yang membawa Presiden Trump mengalami “gangguan listrik ringan” tak lama setelah lepas landas, sehingga terpaksa kembali ke pangkalan udara.

Selanjutnya, Presiden Trump menaiki pesawat lain menuju Swiss, dan akhirnya menggunakan helikopter Marine One untuk tiba di Davos, dengan keterlambatan lebih dari dua jam dari jadwal semula.

Pada malam hari itu, Presiden Trump menyampaikan pidato pembukaan Forum Davos. Setelah sambutan singkat, ia mulai menyoroti berbagai isu, termasuk ekonomi Amerika Serikat dan Greenland, serta menekankan bahwa Amerika Serikat adalah mesin penggerak ekonomi dunia.

Presiden AS Donald Trump berkata: “Amerika Serikat adalah mesin ekonomi global. Ketika ekonomi Amerika makmur, seluruh dunia akan makmur. Sejarah selalu demikian. Ketika ekonomi Amerika melemah, keadaan juga akan memburuk. Kita semua—kalian semua—akan mengalami masa sulit bersama kami, dan juga akan bangkit bersama kami menuju kemakmuran.” 

“Saat ini kita berada pada situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saya yakin kita belum pernah mengalami keadaan seperti ini. Saya tidak pernah menyangka kita bisa mencapai titik ini secepat ini.”

“Namun demikian, beberapa wilayah di Eropa sudah berubah total—benar-benar berubah. Kita bisa berdebat soal ini, tetapi fakta ada di depan mata dan tidak terbantahkan. Teman-teman saya kembali dari berbagai tempat, dan saya tidak bermaksud menyinggung siapa pun, tetapi saya harus mengatakan bahwa saya hampir tidak mengenali tempat-tempat itu lagi.” 

“Dan ini sama sekali bukan hal yang baik, melainkan sangat buruk. Saya mencintai Eropa dan berharap Eropa berkembang dengan baik, tetapi arah perkembangannya saat ini tidak benar.”

Presiden Trump menilai bahwa pembelian Greenland oleh Amerika Serikat tidak akan menimbulkan ancaman bagi NATO, serta berjanji tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk memperoleh Pulau Greenland.

“Kami tidak pernah meminta apa pun, dan kami juga tidak pernah mendapatkan apa pun. Kecuali jika saya memutuskan untuk menggunakan kekuatan berlebihan, maka kemungkinan kami tidak akan mendapatkan apa-apa—dan sejujurnya, jika itu terjadi, kami akan menjadi tak terbendung. Tetapi saya tidak akan melakukan itu. Sekarang semua orang berkata, ‘Oh, bagus sekali.’ Ini mungkin pernyataan paling kuat yang pernah saya buat, karena orang-orang mengira saya akan menggunakan kekuatan militer,” katanya. 

“Saya tidak perlu menggunakan kekuatan. Amerika Serikat hanya menginginkan sebuah tempat bernama Greenland. Kami sebelumnya pernah menjadi negara pengelola Greenland, tetapi tak lama setelah kami mengalahkan Jerman, Jepang, Italia, dan negara-negara lain dalam Perang Dunia II, kami mengembalikannya kepada Denmark sebagai bentuk penghormatan,” ujarnya. 

Saat menyinggung perang Rusia–Ukraina, Trump menyatakan bahwa NATO akan membantu menghentikan perang tersebut, dan ia juga mengatakan akan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Trump juga memperingatkan Kanada bahwa negara itu telah memperoleh banyak keuntungan dari Amerika Serikat dan seharusnya bersyukur. Ia menambahkan bahwa sistem pertahanan rudal “Kubah Emas” yang ia rencanakan juga akan melindungi Kanada.

Dalam pidatonya, Trump turut menyebut Venezuela. Ia memperkirakan bahwa setelah mantan Presiden Maduro lengser, Venezuela akan “berkembang dengan sangat baik” di bawah pengawasan Amerika Serikat.

Setelah pidato tersebut, Presiden Trump juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pemimpin dunia. Gedung Putih menyatakan bahwa Trump berencana bertemu dengan para pemimpin Swiss, Polandia, dan Mesir.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, sebelumnya pada Rabu mengatakan bahwa ia akan berdiskusi dengan Presiden Trump di Davos mengenai berbagai topik.

Usai pidato Trump, pasar saham AS menguat, dengan kontrak berjangka indeks S&P 500 melonjak signifikan.

Pembatasan Pembelian Rumah Tapak 

Selain isu internasional, Presiden Trump juga mengeluarkan langkah besar di bidang ekonomi domestik AS. Pada Selasa, Presiden Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang membatasi investor institusional besar dalam membeli rumah tapak yang seharusnya dimiliki oleh keluarga. 

Tujuan perintah eksekutif ini adalah untuk memastikan bahwa keluarga Amerika memiliki hak prioritas dalam membeli rumah di pasar perumahan, serta menjawab kekhawatiran publik mengenai keterjangkauan perumahan. Pemerintah menegaskan bahwa rumah adalah untuk ditinggali, bukan semata-mata untuk keuntungan investasi perusahaan.

Presiden Trump menyatakan bahwa sejak lama, membeli dan memiliki rumah dipandang sebagai puncak dari Impian Amerika, serta sebagai cara keluarga berinvestasi dan mengumpulkan kekayaan seumur hidup. Untuk menjamin ketersediaan rumah tapak bagi keluarga Amerika, pemerintah berupaya memperluas jalur pembelian rumah.

Perintah eksekutif tersebut menetapkan bahwa investor institusional besar tidak seharusnya membeli rumah tapak tunggal yang sebenarnya dapat dibeli oleh keluarga. Perintah ini mewajibkan Departemen Keuangan AS untuk mendefinisikan, dalam waktu 30 hari sejak penandatanganan, lembaga mana yang tergolong investor institusional besar serta apa yang dimaksud dengan rumah tapak tunggal.

Selanjutnya, Departemen Pertanian, Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan, serta Departemen Urusan Veteran diwajibkan dalam waktu 60 hari mengeluarkan pedoman untuk membatasi pengalihan aset federal kepada investor institusional besar, serta menerapkan kebijakan hak beli prioritas.

Departemen Kehakiman dan Komisi Perdagangan Federal bertanggung jawab untuk melakukan peninjauan terhadap investor institusional besar. Dalam perintah tersebut secara khusus disebutkan bahwa properti yang dibangun khusus untuk disewakan dikecualikan dari ketentuan ini.

Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa mengumumkan bahwa ia menerima undangan Presiden Trump untuk secara resmi bergabung dengan komite perdamaian yang baru dibentuk. Presiden Trump berharap komite ini dapat mengawasi pelaksanaan rencana gencatan senjata Gaza, termasuk penempatan pasukan keamanan internasional, pelucutan senjata Hamas, serta mobilisasi dana internasional untuk rekonstruksi Gaza.

Menurut rancangan anggaran dasar yang telah diungkap, Presiden Trump akan menjadi ketua pertama komite tersebut, dengan kewenangan akhir untuk mengundang anggota, memecah kebuntuan pemungutan suara, mengadakan pertemuan tambahan, serta membubarkan badan-badan di bawahnya. Rancangan tersebut juga menetapkan bahwa masa jabatan negara anggota umumnya tiga tahun, dan negara yang menyumbangkan dana sebesar 1 miliar dolar AS dalam tahun pertama dapat memperoleh kursi permanen.

Saat ini, setidaknya delapan negara telah berpartisipasi, termasuk Israel, Uni Emirat Arab, Monako, Vietnam, Kazakhstan, Hungaria, Argentina, dan Belarus. Para pemimpin Kanada, Mesir, Rusia, dan Turkiye juga dilaporkan telah menerima undangan untuk bergabung dalam BoP. (Hui)

Menaklukkan Kebiasaan

EtIndonesia. Penulis novel detektif Inggris, Arthur Conan Doyle pernah menderita insomnia berat akibat terlalu sering memforsir otaknya. Dokter menyarankan agar dia meminum segelas gin sebelum tidur supaya bisa nyenyak. Dia pun mencobanya, dan ternyata memang manjur.

Sejak saat itu, selama belasan tahun berikutnya, minum segelas gin sebelum tidur menjadi kebiasaan yang tak pernah dia lewatkan—entah dia sedang sulit tidur ataupun tidak.

Suatu musim dingin, Conan Doyle pergi ke sebuah kota kecil yang tenang di pinggiran London untuk menulis. Hari itu salju turun dengan sangat lebat. Kereta kuda yang dia tumpangi berguncang selama berjam-jam sebelum akhirnya tiba di penginapan.

Setibanya di kamar, dia langsung menulis dengan lancar bab yang telah dia susun sejak siang hari. Baru sekitar pukul satu dini hari dia menyelesaikan tulisannya. Ketika bersiap untuk tidur, seperti biasa, dia teringat ingin minum gin.

Dia mengambil botol dari kopernya—lalu tertegun. Ternyata penutup botol tidak tertutup rapat, dan seluruh isinya sudah bocor habis.

Di luar, semua bar dan restoran telah lama tutup. Satu-satunya cara untuk mendapatkan gin hanyalah pergi ke toko di stasiun kereta api, yang jaraknya setidaknya tiga mil.

Di luar jendela, badai salju masih mengamuk. Jalanan lengang, dan jelas mustahil menyewa kereta kuda pada jam seperti itu. Kebiasaan yang telah mengakar lama memang demikian: semakin sulit didapat, semakin kuat keinginan untuk memilikinya. Rasa ingin minum gin terus mengusik pikirannya.

Dia pun mengenakan mantel, melilitkan syal, dan ketika hendak meraih topinya, tiba-tiba dia berhenti.

Menatap kabut salju di luar jendela, dia mendadak tersadar: betapa tidak masuk akalnya—bahkan betapa konyolnya—perilakunya ini.

Seorang yang dianggap cerdas, dipuji karena kejernihan pikiran dan kemampuannya menganalisis serta mendidik orang lain, justru berniat meninggalkan penginapan yang hangat di tengah malam, menantang angin dan salju, berjalan beberapa mil hanya demi segelas minuman keras?

Conan Doyle pun mulai merenung dengan sungguh-sungguh. Dia menyadari bahwa dirinya telah terjerat dalam sebuah kebiasaan yang sulit dilepaskan, bahkan rela mengorbankan kenyamanan untuk memuaskannya. Padahal kebiasaan itu sama sekali tidak membawa manfaat, malah berpotensi mencelakakan dirinya.

Kesadaran itu membuat pikirannya jernih. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengambil keputusan.

Dia melemparkan botol kosong itu ke tempat sampah, lalu menanggalkan pakaian dan naik ke tempat tidur. Dengan perasaan lega—bahkan seperti meraih sebuah kemenangan—dia mematikan lampu, memejamkan mata, dan mendengarkan suara angin serta salju yang menghantam pintu dan jendela.

Tak sampai beberapa menit, dia pun tertidur lelap, nyenyak, dan memuaskan.

Sejak malam itu, dia tidak pernah lagi meminum setetes alkohol pun, dan keinginan untuk minum pun benar-benar lenyap.

Conan Doyle tinggal di penginapan itu lebih dari sebulan dan berhasil menyelesaikan salah satu karya penting dalam seri Sherlock Holmes, yaitu The Final Problem (Masalah Terakhir). Dalam kisah tersebut, dia menambahkan unsur cerita tentang Sherlock Holmes yang pernah gagal karena minuman, lalu tersadar dan dengan tegas meninggalkan kebiasaan minum yang telah berlangsung lama.

Dia juga menuliskan sebuah renungan mendalam:

“Seseorang yang dalam jangka panjang selalu mampu memuaskan keinginannya, lambat laun akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan itu bukan hanya merokok dan minum alkohol, tetapi juga mencakup pengejaran uang, materi, dan kenikmatan jasmani. Untuk menaklukkan kebiasaan-kebiasaan ini, tidak cukup hanya mengandalkan kemauan dan tekad, tetapi juga dibutuhkan kewaspadaan diri dan kesadaran akan bahaya yang ditimbulkannya. Jika tidak, manusia justru akan ditaklukkan oleh kebiasaannya sendiri dan menjadi tawanan darinya.”(jhn/yn)

Moorlife Indonesia dan Komunitas Katolik Surabaya Sebarkan “Terang” di Panti Werdha Lewat Perayaan Natal & Epifani

Surabaya, – Semangat berbagi dan kasih sesama di penghujung masa Natal diwujudkan dalam aksi nyata. Moorlife Indonesia, brand produk rumah tangga asli Indonesia, berkolaborasi dengan tiga komunitas muda Katolik dari Gereja Katolik Sakramen Maha Kudus Surabaya—yakni BIAK (Bina Iman Anak Katolik), REKAT (Remaja Katolik), dan OMK (Orang Muda Katolik)—menggelar acara Natal Bersama dan Pesta Epifani di Panti Werdha Bhakti Luhur, Surabaya, Minggu (11/1).

Kegiatan ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi refleksi iman dan aksi sosial yang menyentuh langsung. Acara diisi dengan doa bersama, kebersamaan hangat, serta penyerahan bantuan berupa produk-produk kebutuhan harian berkualitas dari Moorlife Indonesia untuk menunjang kenyamanan para lansia.

Kolaborasi ini menegaskan komitmen Moorlife dalam mengedepankan nilai kepedulian sosial dan keberlanjutan. “Kami percaya, bisnis yang baik adalah yang mampu memberi dampak positif bagi masyarakat. Kegiatan ini adalah bentuk nyata komitmen kami untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” disampaikan perwakilan Moorlife.

Sementara bagi BIAK, REKAT, dan OMK, keterlibatan anak-anak, remaja, dan kaum muda dalam aksi ini menjadi media pendidikan karakter yang sangat berharga. “Kami ingin menanamkan nilai empati, solidaritas, dan semangat melayani sejak dini. Berinteraksi langsung dengan para lansia di Panti Werdha Bhakti Luhur adalah pembelajaran hidup yang tak ternilai,” ujar perwakilan OMK.

Panti Werdha Bhakti Luhur dipilih karena dedikasinya yang tinggi dalam merawat dan mendampingi lansia. Melalui momen Natal dan Epifani—yang melambangkan terang dan pengharapan—para penghuni panti diharapkan merasakan sukacita, perhatian, dan semangat baru.

“Kami berharap kegiatan sederhana ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak, baik perusahaan maupun individu, untuk tergerak berbagi dan peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tambah pernyataan bersama dari para pelaksana kegiatan.

Sebagai informasi, Moorlife adalah brand produk rumah tangga berbahan plastik premium, BPA Free, dan 100% Food Grade, yang mengusung semangat inovasi lokal dengan standar global. Melalui kampanye #MoorlifePilihanku, Moorlife mengajak masyarakat untuk memulai perubahan positif melalui pilihan produk sehari-hari yang berkualitas dan ramah lingkungan.

IASC Kembalikan Rp161 Miliar ke 1.070 Korban Penipuan Digital: Bukti Nyata Perlindungan Negara Hadapi Kejahatan Finansial

Jakarta – Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) berhasil mengembalikan dana sebesar Rp161 miliar kepada 1.070 masyarakat yang menjadi korban penipuan digital (scam). Dana tersebut berhasil diblokir dari 14 bank yang digunakan oleh pelaku kejahatan. Capaian ini merupakan akumulasi sejak IASC mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 12 Januari 2026.

Penyerahan secara simbolis dilaksanakan hari ini di Jakarta, dihadiri oleh Ketua Komisi XI DPR RI Mokhamad Misbakhun, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Friderica Widyasari Dewi, perwakilan bank anggota IASC, Kepolisian RI, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta sejumlah korban yang mendapatkan pengembalian dana.

“Bukti Nyata Kehadiran Negara”
Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa pengembalian dana ini merupakan bukti konkret komitmen negara dalam melindungi masyarakat dari kejahatan keuangan yang semakin kompleks dan inovatif.
“Ini menjadi simbol nyata kehadiran negara untuk melindungi masyarakat dari kejahatan keuangan saat ini yang semakin unthinkable modusnya,” ujar Friderica.

Sinergi Kunci Keberhasilan
Mahendra Siregar menekankan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari sinergi kuat antar pemangku kepentingan. “Kolaborasi menjadi kunci dalam memerangi segala modus scam. Kejahatan dengan ruang lingkup luas ini harus selalu diantisipasi bersama,” tuturnya. Ia juga mengapresiasi keberanian korban yang bersedia berbagi pengalaman, sebagai pembelajaran untuk meningkatkan perlindungan keuangan nasional.

“Ini Bukan Kejahatan Biasa”
Ketua Komisi XI DPR RI, Mokhamad Misbakhun, mengingatkan bahwa penipuan di sektor jasa keuangan merupakan “white collar crime” dengan tingkat kecanggihan modus dan teknik yang tinggi.
“Saya yakin langkah OJK melalui IASC memberikan angin segar dan harapan baru bagi masyarakat,” kata Misbakhun, menilai langkah ini telah membawa dampak nyata dan optimisme.

Data dan Tantangan yang Dihadapi
Hingga 14 Januari 2026, IASC telah menerima 432.637 pengaduan dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun. Dari jumlah tersebut, IASC berhasil melokir dana sebesar Rp436,88 miliar, dengan Rp161 miliar di antaranya telah dikembalikan kepada korban.
Tantangan dalam penanganan scam meliputi lonjakan pengaduan, pelaporan yang lambat, kompleksitas pelarian dana, serta kebutuhan optimalisasi dan percepatan proses pemblokiran.

Imbauan untuk Masyarakat
OJK dan Satgas PASTI mengimbau masyarakat untuk segera melapor ke IASC jika menjadi korban penipuan keuangan melalui website resmi: iasc.ojk.go.id. Semakin cepat laporan, semakin besar peluang dana dapat dikembalikan.
Masyarakat juga diminta waspada terhadap oknum atau website yang mengatasnamakan IASC untuk meminta data atau biaya tertentu, karena IASC tidak memungut biaya dalam proses pengaduan.

Menerima Diri Sendiri dan Belajar Menghargai Diri

EtIndonesia. Di dunia ini tidak ada dua manusia yang benar-benar sama. Setiap orang adalah individu yang unik. Dalam diri kita masing-masing terdapat banyak hal yang berbeda, bahkan mungkin lebih unggul dibandingkan orang lain—dan itulah hal-hal yang pantas kita banggakan. Kita tidak seharusnya terus-menerus mengagumi orang lain sambil mengabaikan kelebihan diri sendiri; tidak pula terus membandingkan diri dengan orang lain hingga akhirnya kehilangan jati diri.

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: “Bukan hidup ini yang kekurangan keindahan, melainkan mata kitalah yang kurang mampu melihatnya.”

Ketika kita menerima diri sendiri dan belajar menghargai diri sendiri, kita akan menemukan sosok diri yang sama sekali baru.

Suatu kali, di kelas Harvard University, Profesor Tal Ben-Shahar ditanya oleh seorang mahasiswa:  “Profesor, apakah Anda benar-benar mengenal diri Anda sendiri?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam. Dalam hati dia berpikir: “Ya juga, apakah aku benar-benar mengenal diriku?”

Dia pun menjawab :  “Baiklah, sepulang nanti aku akan benar-benar mengamati, memikirkan, dan memahami kepribadian serta batinku sendiri.”

Sesampainya di rumah, Profesor Ben-Shahar mengambil sebuah cermin dan mulai mengamati wajah serta ekspresinya dengan saksama, lalu menganalisis dirinya sendiri.

Pertama, dia melihat kepalanya yang botak mengilap dan berpikir : “Hmm, tidak buruk. William Shakespeare juga memiliki kepala botak yang mengilap.”

Kemudian dia memperhatikan hidungnya yang mancung dan berkata dalam hati : “Detektif hebat Sherlock Holmes juga punya hidung seperti ini—dan dia adalah simbol kecerdasan kelas dunia.”

Melihat wajahnya yang panjang, dia berpikir : “Presiden Amerika yang agung, Abraham Lincoln, juga memiliki wajah panjang.”

Saat melihat tubuhnya yang tidak tinggi, dia tertawa kecil :  “Ha-ha! Napoleon Bonaparte juga bertubuh pendek. Aku sama dengannya.”

Lalu dia menatap kedua kakinya yang sedikit mengarah ke luar dan berkata :  “Wah, Charlie Chaplin juga berjalan dengan kaki seperti ini!”

Keesokan harinya, dia berkata kepada para mahasiswanya: “Aku menghimpun ciri-ciri para tokoh besar, jenius, dan orang-orang luar biasa dari masa lalu hingga kini. Aku bukan orang biasa—masa depanku tak terbatas.”

Profesor Ben-Shahar pandai menghargai dirinya sendiri, dan hal itu membuatnya dipenuhi rasa percaya diri. Meski di mata orang lain penampilannya tampak biasa saja, melalui sugesti psikologis yang positif, dia mampu mengaitkan setiap bagian tubuhnya dengan tokoh-tokoh besar. Dengan begitu, dia yakin dirinya adalah seseorang yang memiliki masa depan cerah.

Friedrich Nietzsche pernah berkata:“Orang cerdas, selama ia mampu mengenal dirinya sendiri, tidak akan kehilangan apa pun.”

Hanya dengan belajar menghargai diri sendiri, seseorang bisa menumbuhkan kepercayaan diri, memperoleh kebahagiaan darinya, dan menjaga hidup agar tidak kehilangan arah.

Ada sebuah kalimat yang sangat bermakna: “Dalam hidup, mungkin ada banyak orang yang patut kamu kagumi, tetapi yang paling pantas kamu kagumi adalah dirimu sendiri.”

Niels Bohr, fisikawan asal Denmark, telah mengajukan teori kuantum sejak usia muda. Namun, dalam sebuah diskusi ilmiah, teori tersebut ditolak oleh para pakar otoritatif. Penolakan itu tidak membuat Bohr kehilangan kepercayaan diri. Justru sebaliknya, dia semakin giat meneliti dan melakukan banyak eksperimen untuk membuktikan teorinya.

Pada akhirnya, pandangan Bohr terbukti benar, dan dia pun dianugerahi Nobel Prize. 

Seperti pepatah mengatakan: “Setiap manusia diciptakan dengan kegunaannya masing-masing.”

Belajar menghargai diri sendiri dapat melahirkan kekuatan besar yang mendorong seseorang menuju keberhasilan. Menghargai diri sendiri adalah rahasia pertama menuju sukses.

Seiji Ozawa adalah konduktor orkestra kelas dunia. Sebelum terkenal, dia pernah mengikuti kompetisi internasional konduktor. Pada babak final, dia memimpin orkestra berdasarkan partitur yang diberikan juri. Dalam prosesnya, dia dengan tajam menyadari adanya nada yang tidak harmonis.

Awalnya dia mengira kesalahan ada pada pemain musik, lalu menghentikan dan mengulang. Namun ketidakharmonisan itu tetap terdengar. 

Dia pun langsung berkata :  “Saya rasa partitur ini bermasalah.”

Para komposer dan juri yang hadir dengan tegas membantah: “Partitur ini sama sekali tidak bermasalah.”

Meski wajahnya memerah karena tekanan, Ozawa tetap berkata dengan lantang dan tegas: “Tidak! Pasti partiturnya yang salah!”

Begitu kalimat itu diucapkan, seluruh juri berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Ozawa dinyatakan sebagai pemenang.

Ternyata, partitur itu memang sengaja dirancang sebagai “jebakan”, dan keberanian Ozawa untuk percaya pada dirinya sendiri membawanya pada kemenangan.

Setiap orang memiliki nilai yang unik. Tidak ada siapa pun yang bisa menggantikan kita, dan tidak ada yang bisa merendahkan kita—kecuali jika kita sendiri terlebih dahulu meremehkan diri kita. Banyak orang mengeluh karena merasa pekerjaan, penampilan, atau kemampuan mereka tidak sebaik orang lain.

Padahal, dalam hidup, kita tidak perlu terlalu terikat pada penilaian orang lain. Belajar menghargai diri sendiri justru bisa membantu kita menemukan kembali kepercayaan diri. “Emas tidak ada yang murni, manusia tidak ada yang sempurna.” Setiap orang pasti memiliki kekurangan atau luka. Namun, seperti tidak ada dua daun yang benar-benar sama, kita pun adalah pribadi yang paling unik.

Lepaskan pemujaan berlebihan terhadap orang lain dan kebencian terhadap diri sendiri. Tenangkan pikiran, renungkan dengan jujur, dan kamu akan menemukan bahwa dirimu memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Kamu pun bisa sama hebatnya dengan siapa pun.

Renungan :

Ada sebuah kalimat klasik: “Kamu berdiri di atas jembatan memandang pemandangan, sementara orang yang memandang pemandangan justru sedang memandangmu dari gedung.”

Saat kita sibuk mengagumi orang lain, bisa jadi orang lain justru sedang mengagumi kita. Dalam hidup, perbandingan memang tak terelakkan. Namun kita perlu sadar bahwa selain memiliki kekurangan, kita juga memiliki banyak kelebihan.

Harvard mengajarkan kepada kita: menghargai diri sendiri adalah sebuah kebijaksanaan—dia membuat seseorang memancarkan pesona percaya diri; menghargai diri sendiri adalah sugesti psikologis—apa yang kita bayangkan tentang diri kita, itulah yang perlahan akan kita wujudkan.

Terimalah dirimu, belajarlah menghargai diri sendiri, hiduplah sesuai nilai dirimu, pandanglah kejauhan dengan jernih, dan temukan posisi hidupmu dengan tepat. Di sanalah letak pesona sejati kehidupan. (jhn/yn)

Dari Davos ke Medan Perang: Trump Aktifkan 25 B-2, Iran Tinggal Menunggu Jam

EtIndonesia. Pada 22 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran saat berbicara di hadapan Forum Ekonomi Dunia di Davos. Dalam pidatonya, Trump membuka satu pintu diplomasi—namun sekaligus menegaskan garis merah terakhir yang tak bisa ditawar.

Trump menyatakan, Amerika Serikat siap membuka dialog bila Teheran mencabut dukungan persenjataan kepada Hizbullah, Hamas, kelompok Houthi, serta berbagai milisi anti-Amerika di Timur Tengah, sebagai syarat untuk meredakan konflik kawasan. Namun dia menegaskan, Iran sama sekali tidak boleh memiliki senjata nuklir.

“Garis Merah” Nuklir dan Ancaman Serangan Cepat

Di Davos, Trump mengungkapkan bahwa sebelumnya militer AS telah mengerahkan pembom siluman B-2 dan seluruh rudal yang ditembakkan mengenai target secara presisi, menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Kini, menurut Trump, 25 unit B-2 kembali diaktifkan. Pesannya tegas: jika Iran tetap berniat mengembangkan senjata nuklir, serangan mematikan akan dilancarkan.

Sejumlah indikasi intelijen menyebut opsi militer bisa dijalankan paling cepat akhir pekan ini, menempatkan kawasan pada fase paling genting.

AS dan Israel: Opsi Militer di Meja

Penilaian Israel menyebutkan bahwa bila Teheran menolak kembali ke meja perundingan nuklir sesuai syarat Amerika, serangan AS berpotensi terjadi dalam hitungan minggu. Target utamanya: sisa fasilitas nuklir, program rudal, dan sistem pertahanan udara Iran.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, intelijen Barat mendeteksi retakan internal pada aparat keamanan Iran. Ratusan perwira dilaporkan membelot dari Garda Revolusi dan milisi Basij—kebanyakan perwira menengah dan rendah—namun tetap dinilai sebagai sinyal baru yang signifikan.

Israel Naikkan Kesiagaan Nasional

Mengutip Channel 12 Israel, Pasukan Pertahanan Israel telah menyelesaikan seluruh persiapan menghadapi kemungkinan serangan AS ke Iran. Pertahanan domestik berada pada status siaga penuh.

Pengerahan pasukan dan aset AS di Timur Tengah diperkirakan rampung dalam 24 jam, sehingga akhir pekan ini AS akan memiliki kekuatan serangan besar yang siap digunakan kapan saja.

Israel juga menaikkan kewaspadaan dan akan mengaktifkan saluran darurat perang elektronik senyap pada hari Sabat. Otoritas Israel tidak menutup kemungkinan Iran melakukan serangan pendahuluan demi merebut keunggulan awal.

Menuju Perang Terbesar Timur Tengah?

Menurut Haaretz dan media lain, status siaga pertahanan Israel telah dinaikkan drastis. Sejumlah sumber menyebut Trump telah memutuskan menyerang Iran, mungkin dalam beberapa hari atau paling lambat Sabtu.

Meski keputusan Trump dikenal bisa berubah di menit terakhir, kerja sama militer AS–Israel kini berada pada level sangat erat, termasuk opsi keterlibatan Angkatan Udara Israel untuk menyerang target di wilayah Iran.

Israel menilai AS tengah mempersiapkan perang terbesar dalam sejarah Timur Tengah. Jumlah pasukan AS yang dikerahkan ke kawasan disebut melampaui total pengerahan pada Perang Teluk I, Perang Teluk II, dan Perang Irak jika digabungkan. Skema serangan diperkirakan cepat dan mematikan.

Pergerakan Militer AS Makin Mendekat

Dalam 36 jam terakhir, AS mengerahkan 12 pesawat angkut C-17 Globemaster ke pangkalan sekitar Iran—masing-masing mampu membawa hingga 77 ton persenjataan dan peralatan.

Jet tempur F-15E Strike Eagle juga dikerahkan ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, dengan pengiriman personel dan logistik tambahan via C-17.

Yang paling mencolok, sejumlah pesawat militer AS menghilang dari pelacakan sipil, menandakan mode gelap telah diaktifkan. Hari ini, Komandan CENTCOM tiba di Amman, Yordania, untuk koordinasi akhir.

Radar Iran Lumpuh, Perang Elektronik Dimulai?

Pada 22 Januari 2026, radar Iran di Shiraz dilaporkan lumpuh mendadak, memicu spekulasi bahwa perang gangguan elektronik AS telah menembus jantung Iran.

Di saat yang sama, kapal induk AS memasuki Laut Arab, sementara unsur armada lain bergerak ke Mediterania Timur, membawa F-35C siluman, pesawat perang elektronik, dan sistem pertahanan rudal.

Sebagai perbandingan, dalam perang 12 hari Israel–Iran tahun lalu, Israel mengerahkan sekitar 150 pesawat. Kini, AS disebut telah menempatkan ratusan pesawat, belum termasuk kapal selam, drone, dan rudal.

Iran sendiri dilaporkan menguji rudal balistik antarbenua, dengan Eropa dan Amerika dalam jangkauan—sebuah provokasi terbuka.

Peringatan Regional dan Manuver Politik

Kelompok Houthi memperingatkan bahwa jika AS menyerang Iran, mereka akan menyerang kapal-kapal Amerika. Di waktu bersamaan, serangan udara Israel terjadi di wilayah Lebanon, sementara sistem radar Iran dilaporkan bermasalah.

Di Davos, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengecam keras dunia internasional yang dinilai mengabaikan protes rakyat Iran. Dia memperingatkan, jika rezim Iran bertahan, dunia sedang mengirim pesan berbahaya kepada para diktator: “cukup membunuh rakyat, maka kekuasaan akan tetap aman.”

Kesimpulan

Pernyataan Trump di Davos menempatkan Iran pada tenggat kritis: diplomasi bersyarat atau konsekuensi militer. Dengan pengerahan pasukan yang hampir tuntas, gangguan elektronik yang diduga telah dimulai, dan koordinasi AS–Israel pada level tertinggi, akhir pekan ini menjadi penentu arah—menuju meja perundingan, atau ke konfrontasi terbesar di Timur Tengah.

Dikepung Banjir dan Dilanda Cuaca Ekstrem, Seluruh Sekolah di Jakarta Terapkan Pembelajaran Jarak jauh

EtIndonesia. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sementara bagi satuan pendidikan di Jakarta menyusul kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu keselamatan peserta didik. 

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana, pada Kamis (22/1), yang ditujukan kepada seluruh kepala satuan pendidikan.

Edaran ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 2/SE/2026 tentang Pelaksanaan Tugas Kedinasan Pegawai Aparatur Sipil Negara Secara Fleksibel karena Cuaca Ekstrem, serta memperhatikan informasi prediksi cuaca dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta.

“Langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah dalam menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik, mengingat potensi risiko yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem,” ujar Nahdiana, di Jakarta, pada Jumat (23/1) dalam siaran persnya. 

Melalui surat edaran tersebut, satuan pendidikan diminta menerapkan pembelajaran jarak jauh selama kondisi cuaca ekstrem masih berlangsung. Kepala satuan pendidikan juga diminta melakukan pendampingan dan pemantauan secara aktif terhadap pelaksanaan PJJ, serta menyiapkan alternatif pembelajaran apabila terdapat kendala teknis, dengan berkoordinasi bersama Suku Dinas Pendidikan maupun Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

Selain itu, kepala satuan pendidikan diharapkan menjalin komunikasi yang intensif dengan orang tua atau wali murid serta seluruh warga sekolah agar proses pembelajaran jarak jauh dapat berjalan dengan baik dan tetap memperhatikan kebutuhan peserta didik.

“Koordinasi dan komunikasi dengan orang tua menjadi kunci agar pembelajaran tetap berlangsung efektif meskipun tidak dilakukan secara tatap muka,” kata Nahdiana.

Edaran pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini berlaku hingga 28 Januari 2026 dan akan dievaluasi lebih lanjut sesuai dengan perkembangan kondisi cuaca di wilayah DKI Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta mengimbau seluruh warga satuan pendidikan untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari pemerintah, serta mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas. (***)

Ketegangan Mencapai Titik Kritis Saat Iran Umumkan Status Perang

EtIndonesia. Situasi keamanan global memasuki fase paling genting dalam beberapa tahun terakhir. Iran secara terbuka mengonfirmasi bahwa negara itu telah memasuki status perang, sementara Amerika Serikat merespons dengan pengerahan militer besar-besaran di berbagai kawasan strategis, khususnya Timur Tengah.

Ketegangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik global yang berlangsung serempak: ledakan besar gudang amunisi Rusia, perubahan drastis medan perang Ukraina akibat serangan pasukan khusus Kyiv, serta peningkatan aktivitas militer AS di Asia-Pasifik yang diarahkan ke Tiongkok melalui Selat Taiwan.

Iran: “Kami Sudah Berada dalam Keadaan Perang”

Beberapa hari sebelum 20 Januari 2026, Ali Akbar Safavi—penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran sekaligus mantan petinggi Garda Revolusi—secara terbuka menyatakan bahwa Iran telah resmi berada dalam kondisi perang, dengan fokus utama menghadapi kemungkinan konfrontasi langsung dengan Israel.

Dalam pidato internal yang bocor ke publik, Safavi menegaskan bahwa tidak ada lagi ruang untuk gencatan senjata, protokol internasional, ataupun kesepakatan pembatasan konflik antara Iran, AS, dan Israel. Dia menyebut fase saat ini sebagai “perang yang sedang berlangsung”, dan menyatakan bahwa konflik berikutnya akan bersifat final dan menentukan.

Uji Coba Rudal Jarak 10.000 Km Picu Alarm Washington

Pada pertengahan Januari 2026, akun platform X Youwanban TV mengungkapkan bahwa Iran—dengan izin Rusia—telah melakukan uji coba peluncuran rudal balistik jarak jauh ke arah Siberia.

Rudal tersebut diklaim memiliki jangkauan hingga 10.000 kilometer, yang secara teoritis mampu menjangkau kota-kota strategis AS seperti New York dan Washington. Informasi ini langsung memicu status kewaspadaan tinggi di Pentagon, sekaligus mempercepat penguatan sistem pertahanan udara AS di kawasan Timur Tengah.

Pengerahan Militer AS: Darat, Udara, dan Laut

Menanggapi ancaman tersebut, AS sejak 16–21 Januari 2026 melaksanakan pengerahan militer berlapis:

  • Sistem pertahanan Patriot dan THAAD dipercepat penempatannya untuk menghadapi potensi serangan rudal balistik dan jelajah Iran.
  • Sistem anti-drone laser IgEos dikirim dalam jumlah besar ke Pangkalan Udara Kuwait, mengantisipasi serangan kawanan drone.
  • Pangkalan utama AS di Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Turki meningkatkan kesiapan tempur ke level siaga tinggi.

Dalam periode yang sama, Angkatan Udara AS mencatat:

  • Sedikitnya 30 penerbangan pesawat angkut C-17
  • 12 penerbangan pesawat tanker KC-135

Seluruhnya difokuskan untuk pemindahan pasukan, sistem senjata, dan logistik ke titik-titik krusial.

Armada Kapal Induk Bergerak Menuju Teluk Persia

Di laut, satu grup tempur kapal induk AS telah bergerak dari Asia Tenggara menuju Teluk Persia, dengan sistem identifikasi dimatikan demi keamanan taktis. Armada ini membawa jet tempur F-35 serta kapal perusak dan penyapu ranjau sebagai pengawal.

Sementara itu, kapal induk George H. W. Bush telah meninggalkan pangkalan Norfolk dan diperkirakan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan. Patroli intensif di Teluk Persia juga dilakukan untuk mencegah upaya Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital energi global.

Ancaman Terbuka Antar Pemimpin Negara

Ketegangan meningkat tajam ketika nama para pemimpin tertinggi mulai disebut secara langsung dalam ancaman resmi.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Shekarchi, pada pertengahan Januari menyatakan bahwa keselamatan Pemimpin Tertinggi Iran adalah garis merah mutlak. Dia memperingatkan bahwa siapa pun yang mengancam Ali Khamenei akan “dipatahkan tangannya” dan diseret ke “lautan api tanpa tempat berlindung” di Timur Tengah.

Trump: “Itu Perintah Militer, Bukan Emosi”

Pada 20 Januari 2026, Presiden AS, Donald Trump dalam wawancara dengan NewsNation memberikan pernyataan paling keras sejak krisis ini berkembang.

Trump menegaskan bahwa dia telah mengeluarkan perintah militer eksplisit: jika Iran merencanakan atau melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya atau pemimpin Amerika mana pun, militer AS akan melancarkan serangan penghancur total hingga Iran dilenyapkan.

Dia menekankan bahwa pernyataan tersebut bukan reaksi emosional, melainkan instruksi strategis yang sudah disiapkan.

Tekanan Internal Iran dan Krisis Kemanusiaan

Para analis menilai eskalasi ini bertepatan dengan krisis internal terparah Iran sejak Revolusi Islam 1979. Sejak akhir 2025, runtuhnya ekonomi dan anjloknya nilai mata uang memicu gelombang protes nasional.

Organisasi HAM Iran yang berbasis di Norwegia menyebutkan bahwa akibat pemblokiran informasi ketat, angka korban tewas kemungkinan jauh melampaui data resmi, dan dalam skenario terburuk dapat mencapai 20.000 orang.

Krisis ini bahkan mendorong perubahan sikap sejumlah tokoh diaspora, termasuk Shirin Ebadi, peraih Nobel Perdamaian, yang secara terbuka menyerukan intervensi internasional dan serangan presisi terhadap pucuk pimpinan rezim Iran.

Israel Siap Hadapi Hujan Rudal

Di sisi lain, Israel menyatakan kesiapan ekstrem untuk menghadapi kemungkinan serangan hingga 700 rudal Iran demi menjatuhkan rezim Teheran. Pernyataan ini memicu kontroversi global dan menegaskan bahwa konflik kini telah memasuki titik kritis paling berbahaya, baik secara internal di Iran maupun dalam skala geopolitik internasional.

Kesimpulan:

Dengan status perang yang diumumkan Iran, pengerahan militer AS yang masif, serta saling ancam terbuka di level tertinggi, dunia kini menyaksikan konvergensi krisis global yang berpotensi meledak menjadi konflik besar. Banyak pihak menilai, satu kesalahan kecil saja dapat memicu eskalasi yang tak lagi terkendali.

Cuaca Ekstrem di Jakarta, Pemprov Imbau Perusahaan Terapkan Kerja Fleksibel dan WFH

EtIndonesia. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengimbau perusahaan di Jakarta untuk menerapkan sistem kerja fleksibel, termasuk penyesuaian jam kerja dan work from home (WFH), menyusul meningkatnya curah hujan dan potensi cuaca ekstrem di wilayah Jakarta.

Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) Provinsi DKI Jakarta yang dikeluarkan pada Kamis (22/1). Surat edaran ini merujuk pada informasi prediksi cuaca dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta.

Kepala Disnakertransgi Provinsi DKI Jakarta, Saripudin, mengatakan kebijakan ini bertujuan menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja sekaligus memastikan keberlangsungan kegiatan usaha di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Kami mengimbau pimpinan perusahaan untuk menyesuaikan sistem kerja melalui jam kerja fleksibel atau WFH bagi jenis pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara daring. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi risiko keselamatan pekerja akibat cuaca ekstrem,” ujar Saripudin dikutip dari rilis Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta. 

Dalam pelaksanaannya, perusahaan diminta tetap memenuhi hak dan kewajiban pekerja sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, menjaga produktivitas dan kelangsungan operasional, serta memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja, khususnya bagi pekerja yang harus tetap bermobilitas.

Adapun penyesuaian sistem kerja dikecualikan bagi perusahaan atau tempat kerja dengan operasional 24 jam atau yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, seperti sektor kesehatan, transportasi umum, logistik vital, serta energi dan utilitas dasar. Untuk sektor tersebut, perusahaan dapat mengombinasikan pengaturan kerja dari rumah dengan kehadiran fisik secara proporsional sesuai kebutuhan operasional dan tingkat risiko di lapangan.

Saripudin menegaskan bahwa penerapan kebijakan ini perlu disesuaikan dengan kondisi objektif masing-masing sektor usaha melalui pengaturan internal perusahaan.

“Pemprov DKI juga meminta perusahaan melaporkan pelaksanaan penyesuaian sistem kerja ini kepada Disnakertransgi melalui tautan yang telah disediakan, sebagai bahan pemantauan dan evaluasi,” katanya.

Surat Edaran tersebut berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi cuaca atau hingga ditetapkannya kebijakan lebih lanjut. (***)