EtIndonesia. Amazon pada Oktober tahun lalu telah memangkas sekitar 14.000 posisi karyawan kantoran. Kini perusahaan tersebut berencana melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kedua pada pekan depan. Langkah ini merupakan bagian dari target Amazon untuk mengurangi total sekitar 30.000 pegawai kantor.
Menurut laporan Reuters, sumber yang mengetahui rencana tersebut—dan meminta identitasnya dirahasiakan—mengatakan bahwa jumlah PHK kali ini diperkirakan hampir sama dengan gelombang sebelumnya dan paling cepat bisa dimulai pada 27 Januari, meskipun rincian rencana masih dapat berubah. Juru bicara Amazon menolak memberikan komentar.
Sumber tersebut menyebutkan bahwa sejumlah posisi di berbagai divisi Amazon kemungkinan akan terdampak, termasuk Amazon Web Services (AWS), unit ritel, Prime Video, serta divisi sumber daya manusia yang dikenal sebagai People Experience and Technology. Namun, cakupan pastinya masih belum jelas.
Pemangkasan total 30.000 posisi hanya mencakup sebagian kecil dari total 1,58 juta karyawan Amazon di seluruh dunia, tetapi hampir 10 persen dari tenaga kerja kantoran perusahaan. Sebagian besar karyawan Amazon bekerja di pusat pemenuhan pesanan dan gudang logistik.
Jika terealisasi, ini akan menjadi PHK terbesar dalam sejarah 30 tahun Amazon. Sebelumnya, pada tahun 2022, Amazon juga telah memangkas sekitar 27.000 posisi.
Para karyawan yang terdampak PHK pada Oktober lalu diberi tahu bahwa mereka akan tetap menerima gaji selama 90 hari, di mana mereka dapat melamar posisi internal atau mencari pekerjaan lain. Masa tersebut akan berakhir pada 26 Januari.
Amazon sebelumnya menjelaskan bahwa PHK pada Oktober lalu berkaitan dengan pesatnya perkembangan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI).
Dalam memo internal perusahaan, Amazon menyatakan: “Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak hadirnya internet, dan memungkinkan perusahaan berinovasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Namun, CEO Amazon Andy Jassy kemudian mengatakan dalam panggilan konferensi laporan keuangan kuartal ketiga bahwa PHK tersebut “sebenarnya tidak didorong oleh faktor keuangan, dan bahkan tidak sepenuhnya didorong oleh AI”, melainkan oleh masalah budaya perusahaan, yang merujuk pada struktur birokrasi internal yang terlalu besar.
Saat ini, semakin banyak perusahaan besar memanfaatkan AI untuk menulis kode perangkat lunak dan menggunakan agen AI guna mengotomatiskan tugas-tugas rutin, demi menekan biaya dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia. Amazon sendiri gencar mempromosikan model AI terbarunya dalam konferensi tahunan AWS Cloud Computing yang digelar pada Desember lalu. (Hui)
EtIndonesia. Upaya internasional untuk meredakan perang Ukraina kembali menemui jalan buntu. Pada 23 Januari 2026, juru runding Amerika Serikat–Rusia–Ukraina menggelar pembicaraan trilateral di Uni Emirat Arab, namun perundingan tersebut gagal mencapai terobosan pada satu isu krusial: status wilayah Donetsk dan kawasan Donbas.
Meski berbagai aspek teknis lain disebut telah mendekati titik temu, Donetsk tetap menjadi satu-satunya perbedaan mendasar yang belum terselesaikan—dan justru itulah yang menentukan arah masa depan perang.
Donetsk, Titik Mati Negosiasi
Pihak Rusia secara tegas menuntut agar Ukraina menarik seluruh pasukannya dari wilayah Donetsk, menjadikannya sebagai syarat mutlak yang tidak dapat dinegosiasikan. Moskow menilai penguasaan penuh atas Donetsk sebagai bagian dari klaim teritorial yang telah mereka tetapkan sejak awal konflik.
Presiden Volodymyr Zelenskyy pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa Donetsk memang menjadi satu-satunya perbedaan kunci antara posisi Ukraina dan Amerika Serikat dalam perundingan ini, sekaligus faktor utama yang membuat dialog trilateral gagal mencapai kesepakatan.
Alasan Donetsk Menjadi Medan Tarik Ulur
Para analis menilai kebuntuan ini berakar pada tiga faktor utama:
Pertama, realitas militer. Hingga kini, Rusia hampir sepenuhnya menguasai wilayah Luhansk, namun di Donetsk masih terdapat sekitar 5.000 kilometer persegi wilayah yang dikuasai pasukan Ukraina. Kawasan tersebut menjadi tulang punggung garis pertahanan timur Ukraina. Jika Donetsk jatuh sepenuhnya, pasukan Rusia berpotensi memperoleh jalur strategis menuju Sungai Dnieper, yang akan mengubah peta perang secara fundamental.
Kedua, harga politik dan emosional yang sangat mahal. Perang atrisi berkepanjangan di wilayah seperti Bakhmut telah menelan korban besar di kedua belah pihak. Bagi Presiden Vladimir Putin, penguasaan Donetsk berkaitan langsung dengan narasi politik domestik tentang “merebut kembali wilayah historis Rusia”. Sebaliknya, bagi Zelenskyy, melepaskan wilayah yang masih dihuni ratusan ribu warga sipil berisiko dipandang sebagai pengkhianatan terhadap pengorbanan tentara Ukraina dan kehendak rakyat.
Lebih jauh, Konstitusi Ukraina mengharuskan setiap perubahan wilayah negara dilakukan melalui referendum nasional, sehingga keputusan sepihak hampir mustahil secara hukum.
Ketiga, kepentingan ekonomi strategis. Donetsk dikenal kaya akan logam tanah jarang, titanium, dan mineral strategis lainnya—sumber daya yang sangat bernilai dalam ekonomi dan industri pertahanan global.
Usulan Trump: Zona Ekonomi Bebas Non-Militer
Dalam konteks kebuntuan ini, Donald Trump belakangan mengusulkan gagasan alternatif: menjadikan wilayah sengketa sebagai zona ekonomi bebas non-militer, berada di bawah pengawasan internasional, dengan fokus pada perdagangan bebas dan eksploitasi mineral sebagai insentif ekonomi menuju perdamaian.
Namun hingga 23 Januari 2026, gagasan tersebut belum memperoleh dukungan substantif, baik dari Rusia maupun Ukraina.
Ketegangan Meluas ke Laut dan Eropa
Di tengah kebuntuan diplomasi, ketegangan geopolitik terus menjalar. Pada 22 Januari, Angkatan Laut Prancis mencegat dan menyita sebuah kapal pesiar yang berangkat dari Rusia di perairan internasional Mediterania. Paris menuduh kapal tersebut bagian dari “armada bayangan” Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi internasional.
Zelenskyy memuji langkah Prancis dan bahkan menyarankan agar muatan minyak di kapal tersebut disita sepenuhnya.
Zelenskyy–Trump Bertemu di Davos
Pada 23 Januari, Zelenskyy mengungkapkan bahwa dia baru saja bertemu Donald Trump di Davos, Swiss, di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF). Dalam pertemuan itu, keduanya membahas kemungkinan penambahan sistem pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat untuk Ukraina.
Zelenskyy juga menyatakan bahwa kerangka besar perjanjian jaminan keamanan AS–Eropa telah hampir rampung dan kini hanya menunggu keputusan Trump terkait waktu dan lokasi penandatanganan.
Pengamat politik Tao Miao menilai perkembangan ini sebagai sinyal strategis yang sangat penting. Selama ini, Ukraina berupaya memperoleh jaminan keamanan yang mengikat secara hukum—mirip Pasal 5 NATO. Dukungan Amerika Serikat sebagai kekuatan militer utama akan sangat menentukan arah perang dan struktur keamanan Eropa ke depan.
Greenland, NATO, dan Retaknya Uni Eropa
Sementara itu, ketegangan AS–Eropa meningkat di luar medan Ukraina. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick mempertanyakan logika negara-negara Eropa yang bersedia mengirim pasukan ke Greenland, tetapi tidak ke Ukraina—sebuah sikap yang menurut Washington sulit dipahami.
Akibat sengketa geopolitik Greenland dan ancaman tarif AS, sejumlah dana pensiun Eropa, termasuk dari Swedia dan Denmark, sempat melakukan penjualan obligasi Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan Fox News di Davos pada 22 Januari, Trump menanggapi potensi tekanan ekonomi itu dengan nada keras: “Jika mereka benar-benar ingin melakukannya, silakan. Tapi jika itu terjadi, kami akan melakukan pembalasan besar. Kami memegang semua kartu.”
Sehari kemudian, 23 Januari, Trump kembali mengejutkan dunia dengan unggahan media sosial yang menyatakan: “Mungkin kita seharusnya menguji NATO, mengaktifkan Pasal 5, memaksa NATO melindungi perbatasan selatan kita dan menghentikan imigrasi ilegal.”
Pernyataan tersebut memicu pertemuan darurat semalaman Uni Eropa di Brussel pada hari yang sama. Meski Trump tampak sedikit melunak soal Greenland, mayoritas negara UE menilai krisis berikutnya bisa muncul kapan saja. Uni Eropa kini terbelah antara pendekatan keras dan lunak, namun satu kesimpulan disepakati: UE tidak lagi memiliki jalan mundur.
Arktik Memanas, Inggris Mundur soal Chagos
Secara paralel, Norwegia meningkatkan kewaspadaan di Kepulauan Svalbard karena kekhawatiran meningkatnya aktivitas Tiongkok dan Rusia di kawasan Arktik. Pemerintah Norwegia menegaskan bahwa Perjanjian Svalbard hanya menjamin akses setara, bukan kedaulatan setara.
Di London, menurut laporan The Daily Telegraph, pada 23 Januari, Perdana Menteri Keir Starmer menarik kembali rancangan undang-undang penyerahan Kepulauan Chagos kepada Mauritius setelah mendapat penolakan keras dari Amerika Serikat. Partai Konservatif memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi melanggar Perjanjian Inggris–AS 1966, yang menjamin kedaulatan Inggris atas Chagos demi pertahanan bersama dan penggunaan Pangkalan Militer Diego Garcia.
Rusia Sambut Komisi Perdamaian Trump
Di tengah dinamika ini, Rusia menyatakan kesediaannya bergabung dengan Komisi Perdamaian yang digagas Trump, bahkan menawarkan penggunaan 1 miliar dolar dari aset Rusia yang dibekukan di AS sebagai modal tawar-menawar.
Analis menilai langkah ini memberi Rusia pengaruh diplomatik besar tanpa biaya tambahan. Moskow selama ini dikenal kurang menyukai peran dominan PBB, sehingga pembentukan Komisi Perdamaian alternatif justru sejalan dengan kepentingannya. Sebaliknya, PKT (Partai Komunis Tiongkok) yang sangat bergantung pada hak veto dan panggung PBB berpotensi tersisih jika struktur diplomasi global bergeser.
Meskipun kebenaran di balik kebohongan “bakar diri di Lapangan Tiananmen” Beijing pada 23 Januari 2001 telah dibongkar dan diungkap oleh masyarakat internasional, penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong tak pernah berhenti hingga sekarang.
Bahkan, metode penganiayaannya menjadi semakin kejam. Dalam beberapa tahun terakhir, PKT mulai mengekspor penindasan ini ke luar negeri dalam bentuk “represi lintas negara”. Dua puluh lima tahun telah berlalu, kebohongan PKT telah runtuh, dan kebenaran kini semakin banyak diketahui oleh dunia.
EtIndonesia. Pada 2002, film dokumenter False Fire yang diproduksi oleh New Tang Dynasty Television membongkar berbagai celah rekayasa dalam kasus “bakar diri” hoaks. PKT memilih bungkam dan tidak berani menanggapinya. Namun, penganiayaan terhadap Falun Gong justru terus meningkat dan bahkan meluas ke luar negeri. Insiden bakar diri palsu itu terjadi pada 23 Januari 2001.
“Kasus bakar diri Tiananmen hoaks dengan cepat terbongkar. Setelah konspirasi itu gagal, penganiayaan tetap berlanjut. PKT beralih dari penganiayaan terbuka ke penganiayaan secara tersembunyi. Namun, penganiayaan secara diam-diam ini justru sangat serius dan semakin parah,” kata Ketua World Organization to Investigate Persecution of Falun Gong (WOIPFG) atau Organisasi Internasional untuk Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong, Wang Zhiyuan.
Sebelum rekayasa kasus palsu Tiananmen, sudah tak terhitung jumlah praktisi Falun Gong yang ditangkap secara ilegal karena mengungkap penganiayaan dan menyampaikan kebenaran. Mereka dimasukkan ke kamp kerja paksa dan mengalami penyiksaan brutal, dan banyak di antaranya menghilang tanpa jejak.
Menurut laporan situs Minghui, PKT telah menerapkan lebih dari seratus jenis penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong. Namun, metode paling kejam adalah pengambilan organ hidup-hidup dari praktisi Falun Gong.
“Pada awalnya, PKT memiliki tiga kebijakan terhadap Falun Gong, yang ketiga adalah ‘pemusnahan fisik’. Banyak orang mengira ini hanya retorika, mungkin hanya berarti kematian akibat penyiksaan di kamp kerja paksa atau penjara. Namun, berdasarkan bukti besar yang muncul kemudian, ‘pemusnahan fisik’ ini berarti pemusnahan besar-besaran terhadap para praktisi yang tetap teguh pada keyakinan mereka,” ujar Wang Zhiyuan.
“Ini mirip dengan genosida yang dilakukan Nazi terhadap orang Yahudi pada Perang Dunia II. Pembantaian ini dilakukan secara terencana di seluruh negeri, dan metodenya adalah pengambilan organ hidup-hidup—sangat tidak berperikemanusiaan,” tambahnya.
Orang-orang berkumpul di sebuah taman di Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, untuk berlatih Falun Gong pada tahun 1998, sebelum penganiayaan. Courtesy of Minghui.org
Pada tahun 2006, kejahatan pengambilan organ hidup-hidup dari praktisi Falun Gong terungkap ke dunia internasional. Investigasi mendalam oleh WOIPFG menemukan bahwa pemerintah PKT, kepolisian, rumah sakit, dan penjara beroperasi secara terintegrasi dalam perdagangan organ praktisi Falun Gong, membentuk rantai industri pengambilan organ hidup-hidup berskala nasional.
Penyelidik WOIPFG bertanya: “Bagaimana Anda memastikan bahwa donor tersebut adalah praktisi Falun Gong?”
Chen Qiang, kontak sumber ginjal di Departemen Transplantasi Rumah Sakit Militer 307 Beijing, menjawab: “Bagaimana memastikan itu praktisi Falun Gong… nanti akan ada orang atasan kami yang memberikan data. Jangan khawatir. Terus terang saja, kami punya jalur resmi—di atas kami ada orang-orang berwenang.”
Selama bertahun-tahun, WOIPFG juga melakukan penyelidikan lewat telepon ke berbagai rumah sakit di Wuhan. Hasilnya menunjukkan bahwa pusat-pusat transplantasi di Wuhan memiliki volume transplantasi organ yang sangat besar, waktu tunggu yang sangat singkat, dan menggunakan praktisi Falun Gong sebagai sumber organ.
“Sejak 2003 saya sudah memastikan bahwa PKT melakukan pengambilan organ hidup-hidup terhadap praktisi Falun Gong sebagai sebuah kelompok. Saat itu saya juga menelusuri situs Kementerian Kesehatan PKT sendiri. Dari awal hingga akhir, ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan—kejahatan ekstrim dengan target yang jelas untuk membantai suatu kelompok,” ujar Wakil Ketua Federasi Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue.
Pada tahun 2006, Shen Yun Performing Arts didirikan. Selama 20 tahun terakhir, Shen Yun telah mengadakan lebih dari 7.400 pertunjukan di seluruh dunia, dengan total penonton lebih dari 11 juta orang, dan mendapat pujian luas dari kalangan elite budaya Timur dan Barat.
Namun, karena pertunjukan Shen Yun mengungkap kebenaran tentang penganiayaan PKT, kelompok ini menjadi target represi lintas negara oleh PKT. PKT melakukan berbagai upaya intimidasi, termasuk ancaman bom, perusakan ban bus Shen Yun, bahkan penembakan, tetapi semuanya gagal.
Pembawa acara Shen Yun, Lin Lishan (26 Maret 2025), mengatakan: “Saya bergabung dengan Shen Yun sejak awal berdirinya pada akhir 2006. PKT terus berusaha menghalangi kami. Pada awalnya, cara paling umum adalah kedutaan dan konsulat PKT mengirim surat ke teater, menelepon, bahkan datang langsung untuk menuntut pembatalan pertunjukan.”
Dalam dua tahun terakhir, represi lintas negara PKT semakin dipimpin secara sistematis oleh Menteri Keamanan Negara PKT, Chen Yixin, melalui perang hukum dan perang opini media untuk memfitnah pendiri Falun Gong dan mencemarkan nama Shen Yun Performing Arts.
“Ini bukan hanya menargetkan Falun Gong atau Shen Yun. Ini adalah strategi PKT untuk menggunakan institusi Amerika melawan Amerika sendiri. Jika mereka berhasil terhadap Shen Yun dan Falun Gong, mereka akan semakin berani melangkah lebih jauh,” ujar Direktur Falun Dafa Information Center, Levi Browde pada 26 Maret 2025.
Represi lintas negara PKT yang berlandaskan “kepalsuan, kejahatan, dan perjuangan” tidak dapat menghentikan penyebaran nilai “Sejati, Baik, Sabar”. Saat ini, Falun Gong telah menyebar ke lebih dari 140 negara dan wilayah di seluruh dunia.
“PKT sedang berperang melawan keyakinan—ini adalah perang yang sudah ditakdirkan akan mereka kalah,” ujar Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback.
Wang Zhiyuan menegaskan: “Penganiayaan terhadap Falun Gong merupakan kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Terutama pengambilan organ hidup-hidup, ini adalah kejahatan paling jahat yang belum pernah ada dalam sejarah manusia.”
“Siapa pun yang terlibat tidak akan bisa lolos dari pengadilan sejarah dan hukum pidana. Satu-satunya jalan keluar adalah menghentikan penganiayaan, segera mengaku dan menjelaskan kejahatan kepada WOIPFG, mengungkap pelaku lain, dan berusaha menebus dosa dengan jasa. Ini satu-satunya jalan.”
Kilas Balik Bakar Diri Hoaks di Tiananmen
Seminggu setelah Tahun Baru Imlek Tiongkok pada 31 Januari 2001, ketika jutaan orang di Tiongkok tengah menikmati tayangan televisi penyiar nasional China Central Television (CCTV), media negara melaporkan bahwa lima praktisi Falun Gong telah membakar diri di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada 23 Januari tahun itu.
Namun, insiden tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut dan menghasilkan sebuah film dokumenter berjudul “False Fire”. Dokumenter ini meraih penghargaan kehormatan pada Festival Film Internasional Columbia ke-51 pada November 2003 karena berhasil mengungkap propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang bertujuan mendemonisasi sistem meditasi damai tersebut.
Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan kultivasi jiwa dan raga yang berakar pada tradisi Buddhis. Praktik ini terdiri dari lima rangkaian latihan meditasi dan berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.
Menurut perkiraan resmi, pada akhir 1990-an terdapat sekitar 70 juta hingga 100 juta orang yang mempraktikkan Falun Gong di Tiongkok karena manfaat kesehatannya dan ajaran moralnya. Namun, pada Juli 1999, rezim Tiongkok melancarkan kampanye untuk menganiaya dan melarang praktik tersebut. Hingga kini, tak terhitung jumlah praktisi yang telah ditangkap, ditahan, disiksa, bahkan dibunuh untuk diambil organ tubuhnya.
Secara umum, warga Tiongkok yang mengenal Falun Gong sebagai praktik spiritual yang damai, bermoral, dan bermanfaat bagi kesehatan, bersikap simpatik terhadap Falun Gong. Namun, setelah PKT menyiarkan insiden bakar diri yang direkayasa tersebut, opini publik berubah secara drastis.
Rekayasa Aksi Bakar Diri di Lapangan Tiananmen
Tak lama setelah rekaman dugaan aksi bakar diri itu ditayangkan, muncul berbagai bukti yang mengungkap bahwa peristiwa tersebut merupakan tipuan yang direkayasa secara menyesatkan oleh rezim Tiongkok.
Menanggapi pertanyaan mengenai mengapa ada kru kamera di lokasi kejadian, media Tiongkok mengklaim bahwa rekaman jarak dekat insiden itu berasal dari CNN—klaim yang kemudian dibantah oleh CNN. Eason Jordan, eksekutif kepala divisi berita CNN saat itu, mengatakan kepada The Washington Post bahwa rekaman yang digunakan dalam laporan televisi Tiongkok tidak mungkin berasal dari video CNN, karena “juru kamera kami ditangkap hampir seketika setelah insiden itu dimulai.”
Wartawan asing yang familiar dengan kondisi Lapangan Tiananmen menyatakan bahwa polisi biasanya tidak membawa alat pemadam kebakaran, dan gedung terdekat membutuhkan waktu pulang-pergi sekitar 20 menit. Namun, rekaman insiden tersebut menunjukkan bahwa polisi dapat dengan cepat memadamkan api menggunakan peralatan pemadam kebakaran.
Bukti lain menunjukkan bahwa salah satu pelaku bakar diri, Wang Jindong, masih memiliki rambut utuh—padahal rambut adalah bagian tubuh yang paling cepat terbakar dalam peristiwa kebakaran. Selain itu, disebutkan bahwa Wang menggunakan botol plastik minuman Sprite berisi bensin untuk membakar diri, tetapi botol yang berada di antara kedua kakinya tetap utuh dan tidak meleleh.
Laporan The Washington Post pada 4 Februari 2001 mengungkapkan bahwa para tetangga dari Liu Chunling, yang disebut sebagai salah satu pelaku dan meninggal dunia dalam insiden tersebut, serta putrinya yang berusia 12 tahun, Liu Siying, yang meninggal beberapa minggu kemudian, menyatakan bahwa mereka tidak pernah melihat ibu maupun anak itu mempraktikkan Falun Gong.
Para tetangga itu juga menjelaskan bahwa perilaku Chunling, yang bekerja di sebuah klub malam, terbilang aneh: ia kerap memukul anaknya dan mengusir ibu kandungnya yang sudah lanjut usia. Perilaku tersebut bertentangan dengan ajaran Falun Gong yang menekankan peningkatan moral pribadi serta hidup berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Sementara itu, putrinya, Siying, yang diklaim telah menjalani trakeotomi setelah insiden tersebut, direkam sedang bernyanyi—sesuatu yang secara ilmiah hampir mustahil dilakukan dalam kondisi tersebut.
Laporan The Washington Post juga menyebutkan bahwa hanya media milik negara yang diizinkan mewawancarai para penyintas dan berinteraksi dengan keluarga mereka.
The Epoch Times juga melaporkan bahwa, menurut Sun Yanjun, seorang profesor madya psikologi di Capital Normal University Beijing pada saat itu, media negara Tiongkok mulai “meredam pemberitaan” setelah NTD (media saudara The Epoch Times dan bagian dari Epoch Media Group) menayangkan dokumenter “False Fire.”
Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui.
EtIndonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat ke level yang sangat berbahaya. Amerika Serikat secara bertahap namun masif terus memperkuat pengerahan militernya di kawasan, menyusul potensi eskalasi konflik dengan Iran.
Seorang pejabat Angkatan Laut Amerika Serikat mengonfirmasi kepada situs pertahanan The War Zone pada 22 Januari 2026 bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempur kapal induknya (Carrier Strike Group) telah memasuki Samudra Hindia. Pengerahan ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington sedang mempersiapkan skenario terburuk di kawasan Teluk.
Selain armada laut, pergerakan besar juga terjadi di udara. Sejumlah pesawat angkut militer dan pesawat pengisian bahan bakar di udara dilaporkan telah tiba di kawasan Timur Tengah dan diperkirakan akan segera mencapai perairan Teluk Oman, yang berbatasan langsung dengan pesisir selatan Iran. Kehadiran aset-aset ini memperluas jangkauan operasional militer AS secara signifikan.
Trump: Armada Besar Bergerak, Tapi Belum Tentu Digunakan
Pada pagi hari 23 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berbicara kepada awak media di atas pesawat Air Force One. Dalam pernyataannya, Trump mengakui secara terbuka bahwa kekuatan militer AS tengah bergerak ke kawasan tersebut.
“Kami memiliki armada besar yang sedang bergerak ke arah itu. Mungkin kita tidak perlu menggunakannya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, mari kita tunggu dan lihat,” ujar Trump.
Namun di balik nada yang terdengar menahan diri, pernyataan Trump juga disertai peringatan yang sangat keras.
Dia mengungkapkan bahwa sehari sebelumnya, pihak terkait hampir melakukan 837 eksekusi gantung, dengan mayoritas korban adalah pria muda. Trump menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang “terasa seperti terjadi seribu tahun lalu.”
Trump kemudian menyampaikan ancaman langsung: “Jika kalian benar-benar mengeksekusi orang-orang ini, kalian akan menghadapi serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Itu akan membuat apa pun yang kami lakukan terhadap fasilitas nuklir Iran tampak seperti hal sepele.”
Menurut Trump, sekitar satu jam sebelum tragedi itu nyaris terjadi, pihak terkait akhirnya menyatakan bahwa rencana tersebut dibatalkan secara permanen, bukan sekadar ditunda.
Yordania Disiapkan Jadi Basis Utama Jika Perang Pecah
Pada saat yang hampir bersamaan, pesawat komando Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) terdeteksi telah mendarat di Yordania. Sejumlah analis militer menilai langkah ini sebagai indikasi kuat bahwa Yordania tengah dipersiapkan menjadi basis utama operasi militer Amerika Serikat jika konflik bersenjata dengan Iran benar-benar pecah.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran beserta sejumlah pejabat tinggi negara tersebut secara terbuka memperingatkan bahwa setiap negara atau target yang terlibat dalam serangan Amerika Serikat akan dianggap sebagai sasaran sah bagi pembalasan Iran.
JD Vance: AS Siapkan Semua Opsi Respons
Pada 22 Januari 2026, Wakil Presiden AS, JD Vance turut angkat bicara. Dia menegaskan bahwa Presiden Trump memiliki beragam opsi strategis, meskipun ia menolak merinci langkah apa yang akan diambil.
“Kami hanya ingin memastikan bahwa kami memiliki pilihan respons,” kata Vance. “Arab Saudi dan beberapa negara lain telah menerima investasi besar dari Amerika Serikat. Kami harus memastikan ada personel kami di wilayah-wilayah itu untuk melindungi aset kami.”
Menurut Vance, fokus utama Trump adalah memastikan bahwa jika Iran melakukan tindakan yang sangat bodoh, Amerika Serikat memiliki kekuatan yang cukup untuk merespons secara tegas dan cepat.
Israel Siap, Serangan Bisa Dilancarkan Kapan Saja
Media The Times of Israel melaporkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menyelesaikan seluruh persiapan untuk menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Iran.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pengerahan militer AS di seluruh kawasan diperkirakan rampung dalam 24 jam, dan setelah itu serangan dapat dilancarkan kapan saja, tergantung pada keputusan politik Washington.
Di pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dilaporkan membatalkan agenda jalan-jalan rutinnya pada hari Jumat, sebuah langkah yang jarang terjadi dan dinilai sebagai indikasi kekhawatiran serius terhadap kemungkinan dirinya menjadi target serangan.
Zelenskyy di Davos: Dunia Hampir Diam
Dalam perkembangan lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy secara mengejutkan menyuarakan dukungan terhadap rakyat Iran dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos.
Zelenskyy menilai bahwa bantuan dunia internasional kepada rakyat Iran jauh dari memadai, dan banyak negara memilih untuk berdiam diri.
“Saat Eropa larut dalam perayaan Natal dan Tahun Baru, rezim Ayatollah justru membantai ribuan orang,” ujar Zelenskyy.
Dia memperingatkan bahwa jika rezim tersebut dibiarkan bertahan, dunia sedang mengirimkan pesan berbahaya kepada para tiran: “Selama pembantaian dilakukan dalam jumlah cukup besar, kekuasaan tetap bisa dipertahankan.”
Isu Tiongkok, Rusia, dan Nilai Kehidupan Manusia
Sebelumnya, beredar kabar di dunia maya bahwa dalam waktu 56 jam, Partai Komunis Tiongkok telah mengirim 16 pesawat angkut militer ke Iran untuk menyelesaikan pemindahan logistik dalam skala besar. Hingga kini, klaim tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.
Di sisi lain, pengusaha teknologi Amerika Rach memberikan pandangan tajam mengenai perbedaan sistem nilai antara negara demokratis dan rezim otoriter.
“Orang boleh mengkritik demokrasi atau bahkan oligarki perusahaan, tetapi sistem-sistem itu tidak digerakkan oleh satu orang yang mendorong perilaku irasional seperti dalam rezim diktator,” ujarnya.
Dia menambahkan: “Jika di Amerika Serikat kami kehilangan 7.000 orang per minggu, bahkan hanya selama satu minggu, politisi yang mendukungnya akan tamat secara politik—apalagi jika berlangsung bertahun-tahun.”
Menurut Rach, banyak pihak keliru mengasumsikan bahwa semua negara menghargai kehidupan manusia dengan standar yang sama. Dia menyebut bahwa Tiongkok dan Rusia menunjukkan pola yang berbeda.
“Mereka menempatkan ekonomi di atas nyawa manusia, apalagi kebebasan. Ekonomi hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Ini adalah sistem nilai yang sama sekali berbeda.”
Rach juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima pemberitahuan resmi dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok, yang menyatakan bahwa dia dimasukkan ke dalam daftar “orang berbahaya” dan dikenai sanksi.
EtIndonesia. Makassar — Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) kecelakaan pesawat di Pegunungan Bulusaraung Kabupaten Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan terus berlanjut dengan perkembangan terbaru dari lapangan.
Laporan menyebutkan hingga Jumat (231/2026), dua paket hasil evakuasi telah berhasil tiba di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin pada pukul 09.06 wita.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan terkini dari tim SAR gabungan, total temuan di area operasi saat ini telah mencapai 10 paket.
“Update dari lapangan, dua paket hasil evakuasi telah tiba di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin, pagi tadi. Sementara itu, informasi terbaru menyebutkan total temuan di lokasi operasi saat ini berjumlah 10 paket yang masih dalam proses penanganan dan evakuasi oleh tim SAR gabungan,” ujar Andi Sultan dalam keterangannya.
Ia menjelaskan bahwa semalam telah ada penambahan personel dari Basarnas Mamuju, Basarnas Kendari dan Basarnas Palu yang akan melakukan proses evakuasi terhadap korban pesawat ATR 42-500 PK THT di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
“Pukul 09.06 wita paket 9 telah ditemukan, dan pukul 09.10 wita paket 10 telah ditemukan, dan sementara dalam proses evakuasi,” ujarnya menahan haru dan tangis saat menyampaikan berita ini.
Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan memastikan operasi SAR akan terus dilaksanakan secara maksimal dan terkoordinasi hingga seluruh temuan berhasil dievakuasi sesuai dengan prosedur yang berlaku. (***)
EtIndonesia. Sebuah batang bambu yang tumbuh menembus tiang lampu sepanjang 6 meter hingga menumbuhkan daun-daun rimbun di sisi lainnya telah menjadi simbol ketahanan dan ketekunan di Tiongkok.
Sebuah video tentang batang bambu ramping yang entah bagaimana tumbuh menembus tiang lampu besi di dekat World Trade Plaza di Kabupaten Xinchang, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, telah menjadi viral di media sosial. Dijuluki “Bambu yang Tak Terkalahkan”, tanaman tangguh ini berakar hanya beberapa sentimeter dari tiang lampu dan masuk ke dalamnya melalui lubang kecil di dekat pangkalnya.
Sebagian besar tanaman tidak tumbuh dengan baik dalam kegelapan total, tetapi bambu ini tampaknya telah mengatasinya dengan cukup baik, karena berhasil mencapai sisi lain tiang, di mana dia menumbuhkan sekelompok daun hijau yang rimbun.
Para ahli mengatakan bahwa bambu masih dapat tumbuh dalam kegelapan karena memiliki sistem akar yang besar dan berkembang dengan baik serta batang bawah tanah yang dapat menembus jauh ke dalam tanah untuk menyerap air dan nutrisi anorganik, sehingga memungkinkan bambu untuk mempertahankan pertumbuhan pada tahap awal ketika tidak ada cahaya.
Sebuah video tentang batang bambu yang tidak biasa ini diunggah ke media sosial oleh seorang pria lokal yang hanya dikenal sebagai Jia, yang lewat bersama anak-anaknya dan memperhatikan gugusan daun hijau di puncak tiang lampu.
Dia bersama anak-anaknya, dan mereka semua menganggapnya sebagai pemandangan yang menarik, jadi dia memutuskan untuk merekamnya, tanpa mengantisipasi dampak yang akan ditimbulkannya di media sosial.
“Saya pikir itu luar biasa, dan anak-anak juga sangat terkesan, jadi saya membuat video,” kata Jia. “Saya tidak menyangka bahwa video biasa yang diunggah secara online akan menjadi sangat populer.”
Video awal itu ditonton jutaan kali, dan bambu yang tangguh itu menjadi sensasi dalam semalam di Xinchang. Orang-orang mulai berkunjung hanya untuk menyaksikan keajaiban itu secara langsung, dan beberapa bahkan membawa anak-anak mereka untuk mengajarkan kepada mereka arti ketahanan, kegigihan, dan vitalitas. (yn)
EtIndonesia. Seorang wanita Thailand berusia 24 tahun telah menarik banyak perhatian di dunia maya setelah mengungkapkan bahwa dia berpacaran dengan dua saudara kembar secara bersamaan.
Nong Fah, seorang wanita muda dari distrik Nakhon Phanom, Thailand, baru-baru ini menjadi sensasi dalam semalam di negara asalnya karena hubungan romantisnya yang unik. Wanita berusia 24 tahun itu menggunakan TikTok untuk mengkonfirmasi bahwa dia menjalin hubungan romantis dengan dua saudara kembar yang konon tidak keberatan berbagi dirinya.
Berbicara tentang hubungannya yang unik, Fah mengatakan kepada wartawan Thailand bahwa dia bertemu dengan si kembar, Sing dan Suea, tahun lalu, saat bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran untuk membiayai studinya di Universitas Nakhon Phanom.
Musim panas lalu, mereka datang suatu hari dengan beberapa teman, salah satunya meminta nomor teleponnya. Seseorang di meja itu bercanda bahwa dia terlalu tua dan bahwa Nah seharusnya memberikan nomor itu kepada si kembar. Dia tidak terlalu memikirkan lelucon itu saat itu, tetapi ternyata itu menjadi pertanda.
Sekitar sebulan kemudian, Sing dan Suea datang lagi ke restoran itu, dan mereka bertiga mulai mengobrol dan bertukar detail Line (aplikasi pesan populer). Pada hari yang sama, ketika sampai di rumah, Nong Fah menerima pesan dari saudara kembar yang lebih tua, Sing, diikuti tak lama kemudian oleh pesan dari Suea. Dia mulai mengobrol dengan keduanya secara bersamaan, dan sejak saat itu, dia mulai mengembangkan perasaan terhadap keduanya.
“Kedua saudara itu tidak pernah bertengkar atau cemburu karena mereka berdua mencintai saya, dan saya juga mencintai mereka,” kata Nong Fah. “Awalnya, kami tinggal terpisah—saya menyewa kamar di dekat Desa Noen Sa-at, Moo 8, Kecamatan Naratchkwai, dan mereka tinggal di rumah mereka di Desa Nong Bua, Moo 1, Kecamatan Naratchkwai. Seiring waktu, mereka terus berkunjung dan tidak ingin pergi, jadi saya menerimanya saja. Sekarang kami hidup bersama dengan bahagia.”
Nong Fah menjelaskan bahwa fakta bahwa kedua pacar kembarnya berasal dari latar belakang miskin tidak pernah mengganggunya. Mereka berdua bekerja di bidang pertanian, Sing mengemudikan traktor dan Suea mengoperasikan mesin pemanen padi, dan dia membantu mereka mengelola keuangan. Dia membuka rekening bank untuk mereka agar mereka dapat melacak tabungan bulanan mereka.
Ketiganya telah bersama selama lebih dari enam bulan sekarang, dan sejauh ini semuanya berjalan lancar. Terlepas dari pengaturan mereka yang tidak biasa, Fah mengklaim bahwa si kembar tidak pernah bertengkar atau berselisih. Mereka cenderung pemalu dan lembut. Jika ada yang memulai pertengkaran, itu adalah dirinya, karena mereka selalu lebih suka menghindari konfrontasi.
Wanita berusia 24 tahun itu mengakui bahwa keluarga mereka awalnya enggan menerima cinta segitiga mereka, tetapi setelah melihat betapa baiknya hubungan mereka, mereka menerimanya.
Adapun tanggapan online terhadap video TikTok mereka yang kini viral, tanggapannya beragam. Beberapa orang mengkritik, yang lain memuji keberanian mereka. Dia telah memberi tahu si kembar untuk mengabaikan komentar negatif, karena itu adalah pilihan mereka dan mereka tidak melakukan apa pun untuk memengaruhi orang lain secara negatif.
Sejak kisah mereka menjadi viral di Thailand, Nong Fah dan si kembar dibanjiri tawaran dari berbagai perusahaan dan individu untuk mempromosikan produk dan acara secara online. Namun, untuk saat ini, mereka semua fokus pada pekerjaan dan hubungan mereka.(yn)
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (20/1/2026) menyatakan bahwa Board of Peace atau “Dewan Perdamaian” yang dia bentuk untuk mendorong proses perdamaian Gaza, di masa depan mungkin akan menggantikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia juga mengkritik PBB karena dinilai hampir tidak memberikan bantuan berarti dalam delapan konflik militer global yang berhasil ia selesaikan. Namun demikian, Trump tidak menyerukan pembubaran PBB. Hingga kini, sedikitnya 25 pemimpin negara telah menerima undangan Presiden Trump untuk bergabung dengan “kelompok baru” tersebut.
Wartawan bertanya: “Apakah Anda berharap Dewan Perdamaian Anda dapat menggantikan PBB?”
Presiden AS Donald Trump menjawab: “Ya, mungkin saja. Maksud saya, PBB selama ini tidak terlalu efektif. Saya sangat percaya pada potensi PBB, tetapi potensi itu tidak pernah benar-benar tercapai.”
Pada tahun pertama masa jabatan keduanya di Gedung Putih, Trump mengumumkan bahwa ia telah menyelesaikan delapan konflik bersenjata di dunia, termasuk konflik antara Israel dan Hamas, India dan Pakistan, serta Kamboja dan Thailand.
Trump mengatakan: “PBB seharusnya bisa menyelesaikan setiap perang yang saya selesaikan, dan saya sama sekali tidak pernah meminta bantuan mereka—bahkan tidak terpikir untuk meminta. Mereka seharusnya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan konflik-konflik tersebut. Namun saya tetap percaya PBB harus terus ada, karena potensinya sangat besar.”
Dewan Keamanan PBB pada pertengahan November tahun lalu mengesahkan sebuah resolusi yang memberikan mandat kepada “Dewan Perdamaian” serta negara-negara mitranya untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional di Gaza. Menurut rencana Presiden Trump, Dewan ini pada tahap awal akan berfokus mengawasi struktur pemerintahan sementara di Gaza, dan di masa depan dapat diperluas ke konflik di wilayah lain.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu mengumumkan melalui platform media sosial X bahwa ia menerima undangan Trump dan akan bergabung dengan “Dewan Perdamaian”.
Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, pada Rabu menyatakan bahwa hingga kini sekitar 25 negara telah menerima undangan untuk bergabung dengan Komite Perdamaian. Negara-negara tersebut termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Azerbaijan, dan Armenia. Anggota NATO seperti Turkiye dan Hungaria juga telah menyatakan kesediaan untuk bergabung.
Norwegia dan Swedia telah menolak undangan tersebut, sementara Menteri Ekonomi Italia, Giancarlo Giorgetti, mengatakan bahwa bergabung tampaknya menimbulkan banyak persoalan. Prancis juga menolak undangan tersebut. Trump menyatakan bahwa ia akan mengenakan tarif 200 persen atas anggur dan sampanye Prancis kecuali Paris mengubah keputusannya.
Kanada menyatakan persetujuan secara prinsip, namun rincian masih dalam tahap perundingan. Sementara itu, sekutu utama Amerika Serikat seperti Inggris, Jerman, dan Jepang belum menyampaikan sikap resmi.
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan masih mengkaji rencana tersebut, namun Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa setelah mengalami perang selama empat tahun, ia sulit membayangkan duduk dalam satu komite bersama Rusia.
Presiden Belarus Alexander Lukashenko pada hari Selasa telah menandatangani perjanjian untuk bergabung dengan “Dewan Perdamaian”. Langkah ini dipandang sebagai perkembangan terbaru dalam upaya Belarus memperbaiki hubungan dengan Washington setelah bertahun-tahun mengalami isolasi internasional.
“Kami sangat berterima kasih kepada pihak Amerika Serikat karena dalam surat undangan secara jelas mengakui Belarus sebagai negara yang siap memikul tanggung jawab mulia untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan, memberi teladan, serta berinvestasi demi masa depan yang aman dan sejahtera bagi generasi mendatang,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Belarus, Ruslan Varankov. (Hui)
Laporan reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat.
EtIndonesia. Surga—tak seorang pun benar-benar pernah melihat seperti apa wujud aslinya. Karena itu, setiap orang menyimpan surga yang berbeda di dalam hatinya masing-masing. Kita semua tahu bahwa di atas kepala kita, selain hamparan alam semesta yang tak berbatas, tidak ada surga secara harfiah. Namun tetap saja, setiap manusia berharap: semoga di langit sana memang ada sebuah surga, persis seperti yang diimpikannya.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidup atau setelah mati, aku akan memiliki seluruh surga seperti dalam khayalan.
Seperti lirik lagu yang pernah dinyanyikan Pan Meichen: “Aku hanya ingin memiliki sebuah rumah, sebuah tempat yang tak perlu terlalu besar.”
Begitu pula aku. Aku tidak menginginkan surga yang utuh. Aku hanya berharap memiliki sebuah payung kecil—payung surga—yang mampu menopang secuil sudut dari surga itu. Sebuah payung yang menahan seluruh angin dan hujan kenyataan, agar aku bisa dengan tenang, di bawah naungannya, membangun sebuah rumah batin tempat harapan dan kerinduan hidup berdampingan.
Di hamparan alam yang luas, aku telah melihat tak terhitung pohon-pohon tinggi menjulang ke langit. Aku juga telah mencium harum berbagai bunga dan rumput liar. Namun semua kemegahan dan keindahan itu tak benar-benar menggugah hatiku.
Sampai suatu hari, di bawah pepohonan yang menjulang dan di antara rerumputan yang rimbun, aku melihat sebuah payung kecil yang nyaris tak berarti—namun fia berusaha sekuat tenaga, dengan tudungnya yang mungil, melindungi sebatang rumput kecil di bawahnya yang lemah dan letih.
Tudung payung itu berwarna cokelat kemerahan yang lembut, tidak mencolok, tidak istimewa. Namun justru karena kesederhanaannya, warna itu terasa jauh lebih menyejukkan mata dibandingkan mawar yang mekar di atas kain putih. Sebab fia menggunakan kehidupan yang sederhana untuk melindungi kehidupan lain yang sama-sama sederhana. Maka aku pun menamai payung kecil berwarna cokelat lembut itu sebagai payung surga.
Aku masih ingat, itu adalah musim gugur terdingin dalam hidupku. Angin kejam menyapu bersih seluruh kemegahan yang pernah kumiliki, tak menyisakan apa pun. “Datang dengan kesucian, pergi pun dengan kesucian,” mengakhiri hidup seperti itu sebenarnya tidak buruk bagi keadaanku saat itu. Bukankah teori evolusi telah lama menjelaskan prinsip “yang mampu bertahan, dialah yang hidup”?
Namun justru di saat penentuan hidup itulah, kamu membentangkan payung surga itu untukku. Kamu membuatku kembali menegakkan punggung, memegang pena di tanganku, dan menulis ulang jalan hidupku.
Kala itu, di mataku, dunia nyata begitu gelap dan buruk rupa. Keburukan yang telanjang membuat orang merasa raga berada di dunia, tetapi hati terperosok ke neraka. Namun sejak kamu mengirimkan payung surga itu, kenyataanku berubah—seolah aku berjalan di tengah hujan musim semi dan bunga aprikot.
Aku seperti memegang payung kecil pemberianmu, berjalan menyusuri gang-gang sempit di perkampungan air selatan, menikmati bunga aprikot yang basah oleh hujan, atau berhenti sejenak di lorong hujan untuk mendengarkan alunan kecapi dan senar. Kegelapan dan keburukan di depan mata berubah menjadi gang-gang basah yang sunyi, dengan suara dayung perahu beratap hitam yang perlahan menyentuh air sungai di sampingnya.
Ada jembatan kecil, ada aliran air, ada rumah-rumah di tepi sungai. Segalanya diselimuti kabut hujan yang lembut. Kenyataan pun menjelma menjadi sebuah lukisan tinta yang indah. Di bawah payungmu, aku membiarkan pikiranku mengembara jauh dalam hujan musim semi yang tak berkesudahan, menikmati sepenuh hati keindahan musim semi di dalam batin.
Melalui musim semi, melewati musim panas, payung surgamu kembali menemaniku menyongsong musim gugur. Angin gugur berdesir, hujan gugur turun perlahan. Dengan tudung kecil payungmu di atas kepalaku, yang kulihat bukan lagi kesedihan musim gugur, melainkan pegunungan yang memerah seluruhnya, hutan yang berlapis warna, perahu-perahu kecil yang berkejaran di atas ombak.
Dengan payung surgamu di sisiku, hatiku tak lagi dipenuhi kesepian pilu khas angin dan hujan musim gugur. Menyaksikan warna musim gugur di tengah gerimis, justru menghadirkan suasana dan perasaan yang sama sekali berbeda.
Memiliki payung surga seperti itu menaungi diri—bahkan saat angin telah reda dan hujan berhenti, aku tetap enggan menutupnya.
Di dunia ini memang ada jenis sahabat seperti itu. Mereka mungkin tidak bisa selalu bersama menyaksikan pasang surut kehidupan, tidak selalu dapat mendengarkan alunan air pegunungan bersama, tidak bisa berbagi hujan musim semi atau daun merah musim gugur, apalagi duduk bersama di malam musim dingin merebus arak di bawah pohon plum.
Namun mereka menyerahkan hati mereka satu sama lain. Aku menjadi bekal terberat dalam perjalanan hidupmu, dan kamu menjadi mimpi paling tulus dalam hidupku. Bahkan ketika rambut hitam telah berubah menjadi uban, keterikatan itu tetap tersimpan dalam-dalam di hati.
Seorang sahabat sejati adalah sebuah payung surga. Dengan payung seperti itu menemani langkahku, bagaimana mungkin hidupku tidak menjadi surga yang paling indah?(jhn/yn)
Dalam beberapa hari terakhir, fenomena aurora muncul di banyak wilayah utara Tiongkok, termasuk Danau Sayram di Xinjiang, Mohe di Heilongjiang, serta Hulunbuir di Mongolia Dalam. Cahaya aurora yang memukau membelah langit malam dan menarik banyak wisatawan untuk memotret. Di antaranya, Danau Sayram di Xinjiang bahkan menampilkan aurora merah-hijau yang langka.
EtIndonesia. Pada 19 Januari sekitar pukul 02.09 dini hari wilayah aktivitas Matahari melepaskan semburan suar Matahari berkekuatan X1.9. Ini merupakan suar Matahari kelas X pertama yang terjadi pada tahun 2026. Dampaknya, mulai 20 Januari Bumi mengalami badai geomagnetik super besar, sehingga aurora tampak di langit malam di berbagai wilayah.
Pada 21 Januari pagi, seorang mahasiswa bernama Xiao Zhu yang sedang berwisata di Desa Kutub Utara Mohe, Heilongjiang, mengatakan kepada Jimu News bahwa aurora muncul dua kali di Mohe, yakni pada pagi hari dan saat senja 20 Januari.
Foto-foto yang diambil Xiao Zhu menunjukkan langit malam yang gelap diterangi cahaya aurora hijau, dengan tepian disertai kilau merah muda keunguan.
“Dengan mata telanjang terlihat relatif samar, tetapi hasil jepretan ponsel sangat jelas. Dari sekitar pukul enam sore hingga delapan setengah malam pada 20 Januari adalah yang paling jelas,” ujar Xiao Zhu.
Pada 20 Januari 2026 malam, aurora langka juga muncul di langit Danau Sayram, Xinjiang. Banyak wisatawan yang mengamati atau memotret aurora di tepi danau maupun area terbuka di sekitarnya, dan mengatakan bahwa dengan mata telanjang pun dapat melihat pita cahaya merah atau hijau.
Seorang wisatawan bermarga Liu yang berada di Danau Sayram mengatakan, “Saya melihat orang-orang membagikan pengalaman berburu aurora, jadi saya sengaja berangkat larut malam untuk menunggu. Tidak disangka akhirnya berhasil memotret.”
Ia mengatakan bahwa sekitar setelah tengah malam, aurora perlahan mulai muncul dengan warna merah. Dengan mata telanjang mungkin tidak terlalu jelas, tetapi dengan mode eksposur panjang pada ponsel, aurora dapat tertangkap dengan baik.
Pada 21 Januari, seorang fotografer perjalanan bernama Adong Dol yang sedang melakukan pemotretan di Danau Sayram mengatakan kepada Cover News bahwa pada 20 Januari malam ia pertama kali mencoba memotret di sekitar Gerbang Timur kawasan wisata, dan hasil gambarnya menunjukkan warna kemerahan.
Setelah itu, ia berpindah ke area di dalam kawasan dengan polusi cahaya yang lebih rendah, memasang tripod dan melakukan pemotretan eksposur panjang, hingga akhirnya berhasil mengabadikan aurora bak mimpi yang menari di udara dingin malam hari.
Seorang saksi mata lainnya mengatakan, “Ini kami ambil di Kele Yongzhu, sekitar pukul 23.45. Saat itu, dengan mata telanjang sudah bisa melihat warna kemerahan.”
Selain itu, warganet dari wilayah Altay Hemu di Xinjiang serta Hailar, Hulunbuir, Mongolia Dalam, juga membagikan foto dan video fenomena aurora yang mereka saksikan. (Hui)
EtIndonesia. TikTok mengumumkan pada hari Kamis (22/1) bahwa mereka telah membentuk perusahaan patungan yang mayoritas sahamnya dimiliki Amerika untuk mengoperasikan bisnisnya di AS, sehingga perusahaan tersebut dapat menghindari larangan karena kepemilikannya oleh perusahaan Tiongkok.
TikTok USDS Joint Venture LLC akan melayani lebih dari 200 juta pengguna dan 7,5 juta bisnis sambil menerapkan pengamanan ketat untuk perlindungan data, keamanan algoritma, dan moderasi konten, kata perusahaan tersebut.
Struktur baru ini menanggapi undang-undang yang disahkan di bawah pendahulu Presiden Donald Trump, Joe Biden, yang memaksa ByteDance yang dimiliki Tiongkok untuk menjual operasi TikTok di AS atau menghadapi larangan di pasar terbesarnya.
Trump menyambut baik dan mengklaim keberhasilan kesepakatan tersebut, tetapi juga berterima kasih kepada Presiden Tiongkok, Xi Jinping karena telah menyetujuinya.
“Saya sangat senang telah membantu menyelamatkan TikTok!” kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Kamis malam. “Sekarang akan dimiliki oleh sekelompok Patriot dan Investor Amerika yang Hebat, yang Terbesar di Dunia, dan akan menjadi Suara yang penting.”
“Saya juga ingin berterima kasih kepada Presiden Xi, dari Tiongkok, atas kerja samanya dengan kami dan, pada akhirnya, persetujuannya terhadap Kesepakatan ini,” tambahnya.
Tiga investor—Silver Lake, Oracle, dan dana investasi AI yang berbasis di Abu Dhabi, MGX—masing-masing memegang 15 persen saham. Ketua eksekutif Oracle, Larry Ellison, adalah sekutu lama Trump.
Investor lainnya termasuk Dell Family Office, afiliasi Susquehanna International Group dan General Atlantic, serta beberapa perusahaan investasi lainnya.
Usaha patungan ini akan mempertahankan wewenang pengambilan keputusan atas kebijakan kepercayaan dan keamanan serta moderasi konten untuk pengguna AS, sementara entitas global TikTok akan mengelola integrasi produk internasional dan aktivitas komersial termasuk e-commerce dan periklanan.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, data pengguna AS akan disimpan di lingkungan cloud aman Oracle, dengan keamanan siber yang diaudit oleh pakar pihak ketiga dan mematuhi standar federal, kata TikTok.
Usaha patungan ini akan diatur oleh dewan beranggotakan tujuh orang, mayoritas Amerika, termasuk CEO TikTok Shou Chew dan para eksekutif dari perusahaan investasi besar.
Eksekutif TikTok, Adam Presser, diangkat sebagai CEO entitas baru tersebut, dengan Will Farrell menjabat sebagai kepala keamanan.
Undang-undang tahun 2024 ini muncul ketika para pembuat kebijakan AS, termasuk Trump pada masa kepresidenan pertamanya, memperingatkan bahwa Tiongkok dapat menggunakan TikTok untuk menambang data warga Amerika atau memberikan pengaruh melalui algoritmanya.
Namun Trump, yang menganggap aplikasi tersebut sebagai daya tariknya bagi pemilih muda, menunda penegakan hukum melalui serangkaian perintah eksekutif, yang terbaru memperpanjang tenggat waktu hingga 22 Januari.
Kesepakatan tersebut sebagian besar mengkonfirmasi garis besar yang diumumkan kepada staf oleh Chew bulan lalu.
Trump mengatakan pada bulan September bahwa usaha baru telah disepakati dengan Tiongkok dan akan memenuhi persyaratan undang-undang tersebut.
Trump secara khusus menyebut Ellison, salah satu orang terkaya di dunia, sebagai pemain utama dalam kesepakatan tersebut.
Ellison kembali menjadi sorotan melalui hubungannya dengan Trump, yang telah membawa teman lamanya itu ke dalam kemitraan AI besar dengan OpenAI.
Ellison juga telah membiayai pengambilalihan Paramount oleh putranya, David, baru-baru ini dan perang penawaran dengan Netflix untuk Warner Bros. (yn)
Babi berkata: “Kalau aku bisa hidup sekali lagi, aku ingin menjadi sapi. Meski kerjanya lebih berat, namanya baik dan disayangi manusia.”
Sapi menjawab: “Kalau aku bisa hidup lagi, aku ingin menjadi babi. Makan lalu tidur, tidur lalu makan, tak perlu bekerja keras, hidup serasa dewa.”
Elang berkata: “Kalau aku bisa hidup lagi, aku ingin menjadi ayam. Saat haus ada air, saat lapar ada pakan, ada tempat tinggal dan dilindungi manusia.”
Ayam pun berkata: “Kalau aku bisa hidup lagi, aku ingin menjadi elang. Bisa terbang tinggi, menjelajah langit dan bumi, bebas ke mana saja.”
Fenomena ini cukup menarik—seolah-olah keindahan selalu berada di tempat lain.
Kita sering kali tanpa sadar mengagumi apa yang dimiliki orang lain: pekerjaan mereka, rumah baru teman, mobil orang lain, dan sebagainya. Namun kita sering lupa satu hal penting—diri kita sendiri juga merupakan objek yang diam-diam dikagumi oleh orang lain.
Sesungguhnya, manusia memang hidup dalam lingkaran saling mengagumi. Ada orang yang sering berkhayal, suatu hari bangun tidur dan tiba-tiba menjadi orang lain. Barangkali karena kita terlalu sadar akan kekurangan hidup sendiri, maka kita menjadikan kehidupan yang tampak lebih “sempurna” sebagai tolok ukur dan pembanding.
Padahal, di dunia ini tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Orang-orang yang kita iri-kan itu pun sedang menanggung beban dan kesulitan mereka sendiri. Setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masing. Sifat manusia yang penuh gengsi membuat kita hanya menampilkan sisi gemilang kepada orang lain—siapa yang benar-benar tahu apa yang tersembunyi di balik kemilau itu?
Sering kali, apa yang kita dapatkan selalu sebanding dengan apa yang harus kita tanggung. Setiap hal seperti koin bermuka dua: ada sisi terang, pasti ada sisi gelap.
Manusia—terutama perempuan—sering suka membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, “membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat hati tersiksa.”
Padahal, tak ada salahnya membandingkan diri dengan diri sendiri: – Apakah aku hari ini lebih baik dari kemarin? – Apakah aku semakin mendekati tujuan yang kuharapkan?
Berilah diri sendiri dorongan dan semangat. Katakan, “Aku bisa menjadi lebih baik.” Bisa jadi, saat kamu sedang iri pada orang lain, orang lain justru sedang iri padamu.
Tentu saja, ada orang-orang yang memang layak kita kagumi. Namun bukan semata-mata karena mereka memiliki lebih banyak, melainkan karena mereka pandai mengelola kehidupan.
Kita iri pada orang lain karena kita mendambakan kesempurnaan dan ingin hidup lebih baik. Namun sering kali kita mengabaikan satu fakta: kondisi setiap orang berbeda, dan kehidupan orang lain tidak mungkin sepenuhnya kita tiru. Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari kelebihan mereka untuk memperbaiki kekurangan kita sendiri.
Daripada hanya memandang kebahagiaan orang lain, lebih baik memperhatikan bagaimana mereka mengelola kebahagiaan. Daripada iri pada keberuntungan orang lain, lebih baik meneladani proses kerja keras yang mereka jalani.
Berhentilah iri pada kehidupan orang lain. Hitunglah dengan jujur segala anugerah yang telah diberikan kepadamu—kamu akan menyadari bahwa apa yang kamu miliki jauh lebih banyak daripada apa yang tidak kamu miliki.
Adapun bagian yang kurang itu, meski tak selalu menyenangkan, tetaplah bagian dari hidupmu. Terimalah dan perlakukan dengan baik. Dengan begitu, hidupmu akan terasa jauh lebih ringan dan lapang.
Karena itu, sungguh tak perlu iri pada orang lain. Jagalah apa yang sudah kamu miliki, pahami apa yang benar-benar kamu inginkan— hanya dengan begitu, kita bisa meraih kebahagiaan yang sejati. (jhn/yn)
EtIndonesia. Sebuah lokasi perkemahan di kawasan gunung berapi di bagian utara Selandia Baru dilanda longsor pada Kamis (22/1/2026) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada 21 Januari malam. Insiden ini menyebabkan sejumlah orang dilaporkan hilang. Karena masih ada risiko pergerakan tanah dan bebatuan di lokasi kejadian, upaya penyelamatan menghadapi hambatan.
Menurut laporan AFP, lokasi kejadian berada di kaki Gunung Maunganui, sebuah gunung berapi yang sudah tidak aktif di Pulau Utara Selandia Baru. Longsor menghantam area perkemahan, termasuk fasilitas kamar mandi dan beberapa kendaraan karavan. Wilayah tersebut sebelumnya diguyur hujan lebat.
Longsor terjadi sekitar pukul 09.30 waktu setempat dan menghantam karavan, mobil, tenda, toilet, kamar mandi, serta kolam air panas di area taman.
Rekaman media setempat menunjukkan bahwa area fasilitas sanitasi di perkemahan kaki Gunung Maunganui hancur dan tertimbun material longsor.
Pejabat penyelamat darurat menyatakan bahwa mereka sempat mendengar suara dari bawah tumpukan puing-puing.
Wakil Komisaris Polisi, Tim Anderson, mengatakan kepada media di lokasi kejadian: “Mereka sedang melakukan penyelamatan, sementara tanah dan bebatuan masih terus bergerak.” Ia menambahkan, “Saya tidak dapat menyebutkan jumlah pasti, namun jumlahnya kurang dari 10 orang.”
Menteri Penanggulangan Keadaan Darurat, Mark Mitchell, mengkonfirmasi bahwa di antara orang-orang yang hilang terdapat seorang anak perempuan. Menurut Radio Selandia Baru, kemungkinan masih ada anak-anak lain yang belum diketahui keberadaannya.
Tim penyelamat telah mengerahkan anjing pelacak untuk mencari korban yang terjebak dalam longsor.
Mitchell mengatakan bahwa para ahli geologi akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap gunung tersebut, dan area itu hanya akan dibuka kembali setelah dinyatakan aman.
Wali Kota Tauranga, Mahé Drysdale, menyatakan bahwa situasi terus berubah. “Kami sedang mencocokkan daftar semua orang yang terdaftar… kami belum mengetahui angka pastinya,” ujarnya.
“Idealnya, area kamar mandi adalah yang paling mengkhawatirkan, namun di dekatnya juga terdapat sebuah karavan dan beberapa tenda,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sebagian orang meninggalkan lokasi perkemahan tanpa melapor kepada pihak berwenang, dan orang-orang yang tidak terdaftar keluar tersebut termasuk di antara mereka yang kini dinyatakan hilang.
EtIndonesia. Pengadilan Distrik Pusat Seoul Kamis (22 Januari) menjatuhkan hukuman 23 tahun penjara kepada mantan Perdana Menteri Korea Selatan, Han Deok-soo, atas tuduhan membantu dan menghasut pemberlakuan darurat militer. Han Deok-soo ditangkap di ruang sidang dan langsung dipenjara. Vonis ini delapan tahun lebih berat dibanding tuntutan jaksa.
Menurut laporan AFP, hakim Pengadilan Distrik Pusat Seoul, Lee Jin-gwan, menyatakan bahwa terdakwa “hingga akhir tidak menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai perdana menteri.” Ia menegaskan, “Pengadilan ini menjatuhkan hukuman penjara selama 23 tahun kepada terdakwa.”
“Terdakwa setidaknya secara formal memastikan legitimasi proses, sehingga memainkan peran penting dalam tindakan pemberontakan yang dilakukan oleh Yoon Suk-yeol dan pihak-pihak lainnya,” demikian dalam pembacaan putusan yang disiarkan langsung di televisi, hakim Lee.
Hakim menambahkan bahwa meskipun Han Deok-soo pernah menyampaikan kekhawatirannya kepada Yoon Suk-yeol, ia tidak pernah “secara tegas menentang” ataupun mendorong anggota kabinet lain untuk mencegah Yoon.
Selama persidangan, Han Deok-soo membantah melakukan pelanggaran hukum apa pun dan bersikeras bahwa dirinya tidak pernah mendukung atau membantu pemberlakuan darurat militer.
Pengadilan menyatakan bahwa tindakan darurat militer yang dilakukan oleh Yoon Suk-yeol merupakan “pemberontakan dari atas ke bawah” dan dapat dipandang sebagai “kudeta.” Hakim menyebutkan bahwa meskipun langkah tersebut inkonstitusional, Han Deok-soo tidak memilih untuk menentangnya, melainkan justru memutuskan untuk turut serta.
“Terdakwa, sebagai perdana menteri, memiliki kewajiban untuk mematuhi konstitusi dan hukum serta sepenuhnya menjaga tatanan konstitusional,” kata hakim. “Namun, karena meyakini bahwa pemberontakan pada 3 Desember berpotensi berhasil, ia pada akhirnya mengkhianati tugas dan tanggung jawab tersebut dan memilih untuk terlibat.” Han Deok-soo juga dinyatakan bersalah atas tuduhan sumpah palsu.
Putusan hari ini merupakan perkembangan terbaru dalam kasus pemberontakan yang dipicu oleh mantan Presiden Yoon Suk-yeol. Sebelumnya, Yoon telah dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas tuduhan menghalangi proses peradilan dan kejahatan lain yang terkait dengan darurat militer. Ia juga masih menghadapi putusan terpisah terkait perannya sebagai dalang utama dalam kasus darurat militer tersebut, dengan jaksa menuntut hukuman mati. Pengadilan Distrik Pusat Seoul akan menjatuhkan putusan atas perkara ini pada 19 Februari, oleh hakim yang berbeda.
Hakim Lee menyatakan bahwa perintah darurat militer yang dikeluarkan oleh Yoon Suk-yeol pada Desember 2024 bertujuan untuk “menggulingkan tatanan konstitusional” dan telah memenuhi unsur pemberontakan.
Setelah insiden tersebut dan setelah Yoon Suk-yeol dimakzulkan pada April, Han Deok-soo menjabat sebagai presiden sementara. Dua bulan kemudian, pemilihan umum digelar. Han sempat dipandang sebagai kandidat kuat dari kalangan konservatif dalam pemilu dini. Namun pada Mei, ia mengundurkan diri dari jabatan presiden sementara untuk maju sebagai calon presiden. Sayangnya, partai yang berafiliasi dengan Yoon Suk-yeol menolak mencalonkannya, sehingga pencalonannya pun berakhir.
Putusan hari ini kembali menjadi keputusan penting dalam rangkaian kasus ini, menyusul vonis lima tahun penjara terhadap Yoon Suk-yeol atas tuduhan menghalangi proses peradilan dan pelanggaran terkait darurat militer.
Yoon Suk-yeol juga masih menghadapi putusan terpisah terkait perannya sebagai dalang utama darurat militer, dengan jaksa menuntut hukuman mati. Pengadilan Distrik Pusat Seoul dijadwalkan akan mengeluarkan putusan pada 19 Februari mendatang. (Hui)