Negara-negara Teluk Mendesak Trump Agar Tidak Mundur, AS Bermaksud Menuntut Biaya Perang

EtIndonesia. Sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk sedang mendesak Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan perang terhadap Iran. Mereka kembali menegaskan dukungan terbuka terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran. Terkait apakah negara-negara Teluk akan memberikan dukungan finansial, juru bicara Gedung Putih pada 30 Maret menyatakan bahwa Trump berencana menyerukan agar negara-negara Arab menanggung biaya perang melawan Iran.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 30 Maret, seorang jurnalis menyinggung bahwa selama Perang Teluk 1990–1991, negara-negara Arab seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menanggung sebagian besar biaya perang. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan tanggapan.

Karoline Leavitt vs. Jurnalis:  “Siapa yang akan menanggung biaya perang ini? Apakah negara-negara Arab itu akan secara sukarela melakukannya?”

“Saya pikir presiden kemungkinan besar akan menyerukan hal tersebut. Saya tidak akan berbicara sebelum ia membuat keputusan. Namun saya tahu ia memang memiliki pemikiran itu, dan saya yakin Anda akan mendengar lebih banyak pernyataannya mengenai hal ini.”

Leavitt juga menyatakan bahwa saat ini negosiasi antara Amerika Serikat dan Tehran terkait upaya mengakhiri konflik berlangsung dengan baik.

Menurut laporan media AS, sekutu Amerika di kawasan Teluk secara tertutup melobi Trump agar terus melanjutkan perang terhadap Iran. Mereka menilai bahwa pemboman selama sebulan terakhir belum sepenuhnya melemahkan Teheran.

Media Israel juga mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk—terutama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar—ingin memastikan bahwa Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka.

Negara-negara tersebut sebelumnya menentang perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, terutama karena khawatir akan pembalasan dari Iran. Namun kini mereka menyadari bahwa perang ini justru merupakan peluang terbaik untuk menghilangkan ancaman dari Iran, sehingga mereka berharap Amerika Serikat tidak menghentikan operasi militer di Timur Tengah. 

Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Hu Zonghan dan Chen Lingzhi.

Iran Akan Memungut Biaya Transit di Selat Hormuz, Tolak Hukum Internasional dan Larang Kapal AS–Israel Melintas

EtIndonesia. Konflik di Timur Tengah menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz anjlok lebih dari 90%, yang berdampak serius pada pasokan energi global. Kini muncul kabar bahwa parlemen Iran telah mengambil langkah untuk memberlakukan biaya transit. Namun, Menteri Luar Negeri AS menyatakan bahwa Amerika Serikat dan dunia tidak akan menerima hal tersebut. Jika Iran benar-benar memungut biaya di selat itu, tindakan tersebut akan melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu reaksi dari negara-negara Teluk.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Komite Keamanan Nasional parlemen Iran pada 30 Maret telah menyetujui rencana baru untuk mengenakan biaya kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan pembayaran harus dilakukan menggunakan mata uang Iran, rial. Selain itu, kapal dari Amerika Serikat dan Israel akan dilarang melintas.

Meskipun rencana ini masih harus disetujui oleh seluruh anggota parlemen Iran, langkah tersebut memicu peringatan dari Amerika Serikat.

 “Bukan hanya kami yang tidak dapat menerima klaim kedaulatan atas Selat Hormuz, tetapi seluruh dunia juga tidak akan menerimanya. Tidak ada negara di dunia yang bisa menerima hal seperti ini. Ini akan menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Artinya, ke depan setiap negara bisa saja mengambil alih jalur perairan internasional dan mengklaimnya sebagai milik sendiri. Apakah Amerika Serikat juga bisa melakukan hal yang sama?,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 30 Maret. 

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Rubio juga menyatakan bahwa setelah operasi AS di Iran berakhir, Selat Hormuz pasti akan kembali dibuka—baik Iran setuju mematuhi hukum internasional, maupun melalui koalisi negara-negara yang memastikan kebebasan pelayaran. Ia juga menegaskan bahwa jika Iran memilih untuk memblokir selat tersebut, maka akan ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Pada Maret lalui, volume lalu lintas di Selat Hormuz telah anjlok lebih dari 90%. S&P Global memperkirakan sekitar 3.000 kapal saat ini sedang menunggu di sekitar kawasan tersebut untuk bisa melintas. (Hui)

Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Lin Yutang dan Qiu Chunrong.

KPPU Gelar Sidang Perdana Dugaan Keterlambatan Notifikasi Akuisisi oleh PT Evans Indonesia

Jakarta, 31 Maret 2026 – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggelar sidang perdana pemeriksaan pendahuluan perkara dugaan keterlambatan pemberitahuan (notifikasi) akuisisi saham yang dilakukan oleh PT Evans Indonesia. Sidang dengan nomor perkara 14/KPPU-M/2025 ini berlangsung pada Senin, 30 Maret 2026, di Kantor KPPU Jakarta.

Majelis Komisi yang memimpin sidang terdiri dari Gopprera Panggabean sebagai Ketua Majelis, serta Wakil Ketua KPPU Aru Armando dan Anggota KPPU Budi Joyo Santoso sebagai anggota majelis. Agenda sidang meliputi pemaparan Laporan Dugaan Pelanggaran (LDP) oleh Investigator dan pemeriksaan kelengkapan serta kesesuaian alat bukti.

Perkara ini bermula dari akuisisi yang dilakukan PT Evans Indonesia pada tahun 2023 terhadap 99,99% saham PT Agro Bumi Kaltim dan 99,99% saham PT Nusantara Agro Sentosa. PT Evans Indonesia merupakan perusahaan jasa konsultasi dan manajemen agrikultur (CPO), sedangkan kedua perusahaan yang diakuisisi bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.

Berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 jo. Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010, setiap transaksi pengambilalihan saham yang memenuhi ambang batas wajib dilaporkan kepada KPPU paling lambat 30 hari kerja sejak transaksi efektif secara yuridis. Kedua transaksi akuisisi tersebut efektif secara yuridis pada 23 November 2023, sehingga batas akhir pelaporan adalah 8 Januari 2024. Namun, KPPU baru menerima pemberitahuan pada 10 Januari 2024, sehingga terjadi dugaan keterlambatan selama 2 (dua) hari kerja.

Sidang pemeriksaan pendahuluan berikutnya dijadwalkan pada Kamis, 9 April 2026, dengan agenda penyampaian tanggapan Terlapor terhadap Laporan Dugaan Pelanggaran.

Kecurigaan Mata-mata PKT Muncul Lagi! FBI Buka Kembali Kasus Lama, Anggota DPR California Kembali Terseret Skandal Kebocoran Informasi

EtIndonesia. Sebuah kasus lama yang sempat mereda—yang dikenal sebagai kasus “mata-mata cantik” Partai Komunis Tiongkok (PKT), Christine Fang—baru-baru ini kembali diangkat oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Perempuan asal Tiongkok yang diduga sebagai mata-mata ini diketahui memiliki hubungan dekat dengan anggota DPR dari California dari Partai Demokrat, Eric Swalwell, pada tahun 2014.

Seiring Swalwell masuk ke Komite Intelijen DPR AS, hubungan keduanya sempat memicu kekhawatiran keamanan. Kini, FBI meminta agar kasus lama ini ditinjau kembali dan dilaporkan ke pejabat tinggi di Washington. Swalwell sendiri dikenal sebagai salah satu pengkritik Presiden AS Donald Trump, dan saat ini tengah mengikuti pemilihan gubernur California. Publik kini menyoroti apakah kasus lama ini akan memicu gejolak baru.

Penyelidikan ini dapat ditelusuri lebih dari satu dekade lalu, ketika agen kontra intelijen FBI mulai menyelidiki Christine Fang. Ia diduga sebagai agen mata-mata PKT, dan disebut-sebut menjalin hubungan dekat dengan Eric Swalwell selama kampanye pemilihan ulangnya pada 2014, bahkan membantu penggalangan dana.

Pada tahun 2015, Swalwell menjadi anggota Komite Intelijen DPR AS. Dugaan identitas Fang sebagai mata-mata memicu kekhawatiran serius dari FBI, yang kemudian mulai mengambil langkah untuk menangkapnya.

Setelah mengetahui dirinya sedang diselidiki, Fang segera meninggalkan Amerika Serikat dan kembali ke Tiongkok. Sementara itu, Swalwell membantah adanya tindakan yang tidak pantas.

Selanjutnya, Komite Etik DPR AS pada tahun 2023 mengakhiri penyelidikan selama dua tahun terhadap keduanya tanpa mengambil tindakan apa pun.

Pada tahun yang sama, Ketua DPR AS saat itu, Kevin McCarthy, mencopot Swalwell dari Komite Intelijen DPR AS dengan alasan risiko keamanan.

Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa baru-baru ini puluhan agen FBI dan personel terkait di California diminta untuk kembali menyusun data lama tersebut, dengan harapan dapat segera menyelesaikan peninjauan. Atasan mereka juga menginstruksikan agar sebagian dokumen disunting untuk menyamarkan informasi sensitif, sebelum dibagikan kepada pejabat tinggi pemerintah di Washington.

Menurut laporan The Washington Post, juru bicara FBI menyatakan bahwa lembaga tersebut secara rutin meninjau dokumen untuk dibagikan kepada instansi lain, serta meninjau kembali penyelidikan yang dimulai pada pemerintahan sebelumnya.

Swalwell adalah anggota DPR AS dari Partai Demokrat di California dan dikenal sebagai pengkritik Presiden Trump di Kongres. Saat ini, ia aktif mencalonkan diri sebagai gubernur California.

Kandidat Demokrat lainnya, Tom Steyer, memiliki tingkat dukungan yang tidak jauh berbeda dengannya, dan menuduh Swalwell sebenarnya tidak tinggal di California. Sementara itu, pemerintahan Trump menuduhnya terlibat dalam penipuan kredit perumahan.

Laporan oleh koresponden NTD Television di Amerika Serikat, Liu Jiajia.

Ancaman Bom! Pertunjukan Shen Yun di Toronto Dibatalkan, Berbagai Kalangan Kecam Represi Lintas Negara yang Diluncurkan Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia. Pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang semula dijadwalkan pada 29 Maret pukul 14.00 di pusat kota Toronto, tepatnya di Four Seasons Centre for the Performing Arts, terpaksa dibatalkan secara mendadak setelah adanya ancaman bom. Polisi telah turun tangan untuk menyelidiki, dan detail lebih lanjut masih terus diperbarui. Insiden ini disebut-sebut mengarah pada represi lintas negara oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang memicu kecaman dari berbagai pihak.

Polisi Toronto menyatakan bahwa setelah menerima laporan ancaman bom pada 29 Maret sore, mereka segera menuju lokasi dan mengevakuasi orang-orang di lokasi untuk melakukan penyelidikan.

“Berdasarkan hasil penyelidikan saat ini, ancaman tersebut tampaknya tidak nyata. Penyelidikan masih berlangsung. Keputusan pembatalan pertunjukan diambil oleh pihak teater,” ujar kepolisian Toronto. 

Sebuah papan pengumuman yang dipasang di Four Seasons Centre for the Performing Arts di Toronto pada 29 Maret 2026, memberitahukan kepada para pengunjung bahwa pertunjukan Shen Yun pada Minggu telah dibatalkan. The Epoch Times

Shen Yun sebuah pertunjukan yang menampilkan budaya tradisional Tiongkok sebelum ditekan oleh puluhan tahun pemerintahan komunis di Tiongkok, didirikan pada tahun 2006 oleh para seniman klasik Tiongkok terkemuka di New York, tempat mereka menikmati kebebasan artistik, jauh dari penindasan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Namun, para penyelenggara mengatakan bahwa pertunjukan ini telah menjadi target penindasan lintas negara oleh PKT selama bertahun-tahun. 

Baru-baru ini, Perdana Menteri Kanada Mark Carney termasuk di antara enam pemimpin dunia yang menjadi sasaran ancaman yang dikirim kepada penyelenggara lokal pertunjukan tersebut. Ancaman itu memperingatkan bahwa para pemimpin tersebut bisa menghadapi bahaya jika Shen Yun diizinkan tampil di negara mereka.

Anggota parlemen Partai Konservatif Roman Baber memegang buku program Shen Yun sambil berdiri di samping salah satu pembawa acara pertunjukan tersebut di luar Four Seasons Centre for the Performing Arts di Toronto pada 29 Maret 2026. The Epoch Times

Shen Yun, yang merayakan ulang tahun ke-20 tahun ini, memulai rangkaian tur globalnya di Kanada pada  Maret dengan pertunjukan di Hamilton, Mississauga, dan Kitchener, serta menggelar dua pertunjukan pembuka di Four Seasons Centre for the Performing Arts pada 28 Maret. Perusahaan tersebut dijadwalkan menampilkan satu pertunjukan lagi yang hampir terjual habis pada 29 Maret, sebelum teater membatalkan pertunjukan tersebut karena adanya ancaman bom.

Foto arsip Four Seasons Centre for the Performing Arts yang menjadi tuan rumah pertunjukan Shen Yun di Toronto pada 29 Maret 2025. The Epoch Times

Penyelenggara segera mengirim surat kepada para penonton, menyatakan, “Kami sangat menyesalkan pembatalan ini, namun kami berterima kasih kepada pemerintah Kanada atas dukungannya terhadap kebebasan berkesenian, serta kepada pihak teater yang menempatkan keselamatan penonton sebagai prioritas utama.” 

“Untuk pertunjukan selanjutnya, teater akan meningkatkan langkah-langkah keamanan, termasuk pemeriksaan oleh anjing pelacak (K-9) sebelum setiap pertunjukan, guna memastikan keselamatan penonton dan mencegah gangguan apa pun.”

Ini merupakan kedua kalinya tur Shen Yun di Kanada tahun ini menghadapi ancaman serupa.

 “Saya sangat menyesal, kami menerima banyak ancaman bom, tetapi ini adalah satu-satunya kali pertunjukan benar-benar dibatalkan. Ini adalah serangan PKT terhadap Shen Yun. Hal seperti ini tidak boleh terjadi,” kata penyelenggara pertunjukan Shen Yun di Toronto, Michael Cui. 

Penyelenggara menambahkan, “Sebagian email ancaman telah dilacak berasal dari Tiongkok dan semuanya merupakan ancaman palsu. Insiden ini bukan kasus terisolasi, melainkan bagian dari operasi global terkoordinasi yang dipimpin PKT untuk menekan Shen Yun secara lintas negara. Shen Yun menampilkan budaya tradisional Tiongkok sebelum komunisme serta mengungkap realitas di bawah pemerintahan otoriter saat ini, yang membuat otoritas di Beijing merasa tidak nyaman.”

Para penonton menikmati pertunjukan Shen Yun di Four Seasons Centre for the Performing Arts di Toronto pada 28 Maret 2026. May Huang/The Epoch Times

Film dokumenter terbaru Unbroken: The Untold Story of Shen Yun menceritakan tantangan yang dihadapi Shen Yun dalam mempromosikan budaya tradisional dan seni klasik di seluruh dunia, serta dalam mempertahankan kebebasan berekspresi.

Banyak penonton di lokasi, meskipun kecewa, tetap menyatakan dukungan mereka agar Shen Yun terus tampil.

 “Ini benar-benar buruk dan sama sekali tidak dapat diterima. Kami mendorong Anda untuk terus maju, bangga atas budaya dan tradisi Anda, serta pertunjukan ini, dan berharap masa depan yang lebih baik,” ujar anggota Parlemen Kanada Roman Baber. 

Kandidat anggota parlemen federal dan mantan artis Hong Kong Joe Tay mengatakan:  “Saya justru merasa ancaman bom ini memberi lebih banyak keberanian kepada orang-orang, menyatukan berbagai latar belakang untuk mendukung Shen Yun. Ini juga justru membuktikan bahwa apa yang dilakukan Shen Yun adalah benar.”

Seorang penonton Shen Yun, imigran dari Tiongkok, bermarga Zhang, mengatakan:
“Saya berharap Shen Yun bisa semakin berkembang dan lebih baik lagi dalam menyebarkan budaya Tionghoa ke dunia.”

Sejumlah tokoh Tionghoa juga menyatakan perhatian mereka.

YouTuber dengan jutaan pengikut, Wen Zhao, yang sempat mengadakan pertemuan dengan penggemar sebelum pertunjukan, kemudian menerima pemberitahuan pembatalan. Ia mengatakan:  “Dalam menghadapi ancaman jahat, satu-satunya jalan adalah menghadapinya langsung dan tidak mundur.”

Komentator isu terkini Gongzi Shen menyatakan di platform X bahwa kejadian ini merupakan peringatan bagi ribuan penonton dan mencerminkan bagaimana rezim otoriter PKT mengekspor ketakutan ke luar negeri.

Ketua Komite Partai Demokrasi Tiongkok di Kanada, Yu Houqiang, mengatakan:
“Pemerintah Kanada seharusnya membentuk satuan tugas khusus untuk menyelidiki, menangkap, dan menghukum pelaku.”

Sutradara film In the Name of Confucius, Doris Liu, menyatakan di media sosial bahwa sangat mengejutkan sebuah pertunjukan Shen Yun yang merupakan hasil kerja keras berbulan-bulan terpaksa dihentikan oleh ancaman palsu. Ia menyerukan agar pertunjukan diadakan kembali serta meminta pemerintah Kanada mengambil tindakan balasan terhadap represi lintas negara oleh PKT.

Juru bicara Asosiasi Falun Dafa Toronto, Joel Chipkar, mengatakan:  “Kami mengecam ancaman lintas negara PKT yang sangat keji, dan menyerukan pemerintah Kanada untuk melindungi kelompok yang menjadi sasaran serta melakukan penyelidikan menyeluruh.”

Laporan oleh kantor koresponden NTD Television di Toronto

Diduga Bom Penembus Bunker AS Hantam Gudang Amunisi di Isfahan, Iran, Kobaran Api Membumbung Tinggi

EtIndonesia. Konflik di Timur Tengah menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz anjlok lebih dari 90%, yang berdampak serius pada pasokan energi global. Kini muncul kabar bahwa parlemen Iran telah mengambil langkah untuk memberlakukan biaya transit. Namun, Menteri Luar Negeri AS menyatakan bahwa Amerika Serikat dan dunia tidak akan menerima hal tersebut. Jika Iran benar-benar memungut biaya di selat itu, tindakan tersebut akan melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu reaksi dari negara-negara Teluk.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Komite Keamanan Nasional parlemen Iran pada 30 Maret telah menyetujui rencana baru untuk mengenakan biaya kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan pembayaran harus dilakukan menggunakan mata uang Iran, rial. Selain itu, kapal dari Amerika Serikat dan Israel akan dilarang melintas.

Meskipun rencana ini masih harus disetujui oleh seluruh anggota parlemen Iran, langkah tersebut memicu peringatan dari Amerika Serikat.

 “Bukan hanya kami yang tidak dapat menerima klaim kedaulatan atas Selat Hormuz, tetapi seluruh dunia juga tidak akan menerimanya. Tidak ada negara di dunia yang bisa menerima hal seperti ini. Ini akan menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Artinya, ke depan setiap negara bisa saja mengambil alih jalur perairan internasional dan mengklaimnya sebagai milik sendiri. Apakah Amerika Serikat juga bisa melakukan hal yang sama?,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 30 Maret. 

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Rubio juga menyatakan bahwa setelah operasi AS di Iran berakhir, Selat Hormuz pasti akan kembali dibuka—baik Iran setuju mematuhi hukum internasional, maupun melalui koalisi negara-negara yang memastikan kebebasan pelayaran. Ia juga menegaskan bahwa jika Iran memilih untuk memblokir selat tersebut, maka akan ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Pada Maret lalui, volume lalu lintas di Selat Hormuz telah anjlok lebih dari 90%. S&P Global memperkirakan sekitar 3.000 kapal saat ini sedang menunggu di sekitar kawasan tersebut untuk bisa melintas. (Hui)

Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Lin Yutang dan Qiu Chunrong.

Rahasia Gelap Terungkap: Tiongkok Dituding Bantu Iran Serang AS, Trump Langsung Bereaksi!

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik global kembali memanas setelah munculnya sebuah bocoran intelijen yang berpotensi mengubah peta konflik internasional. Di tengah memuncaknya perang antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah laporan mengejutkan mengindikasikan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) diduga terlibat dalam membantu Iran melalui dukungan intelijen sensitif.

Informasi ini pertama kali diungkap pada 31 Maret 2026 oleh seorang jurnalis intelijen ternama, Yinggebó, melalui blog pribadinya. Dalam tulisannya, dia mengutip sumber internal dari komunitas intelijen Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa sejak 10 Maret 2026, PKT diduga secara sistematis memberikan koordinat posisi militer Amerika Serikat kepada Iran.

Menurut sumber tersebut, data yang digunakan berasal dari pengamatan satelit, yang kemudian disalurkan secara berkelanjutan kepada pihak Iran. Menariknya, aktivitas ini disebut baru dimulai sekitar sepuluh hari sebelum konflik militer pecah, sehingga menimbulkan spekulasi mengenai adanya eskalasi dukungan Tiongkok di tahap akhir sebelum perang.

Hingga kini, belum ada konfirmasi apakah informasi tersebut telah menyebabkan kerugian langsung bagi pasukan Amerika di lapangan. Namun, dampak strategisnya dinilai sangat signifikan.

Gedung Putih Diduga Sudah Mengetahui, Pertemuan Trump–Xi Ditunda

Sumber intelijen tersebut juga mengungkapkan bahwa Gedung Putih sebenarnya telah mengetahui adanya dugaan kerja sama intelijen antara PKT dan Iran. Hal ini disebut-sebut menjadi salah satu faktor di balik keputusan Presiden Amerika, Serikat Donald Trump untuk menunda pertemuannya dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.

Pertemuan tingkat tinggi yang sebelumnya dijadwalkan tersebut kini resmi ditunda selama enam minggu.

Ketika dikonfirmasi oleh media, Asisten Sekretaris Pers Gedung Putih, Wells, tidak memberikan jawaban tegas. Dia tidak membenarkan maupun membantah kabar tersebut, namun menegaskan bahwa:

“Informasi apa pun yang diberikan oleh negara lain kepada Iran tidak akan memengaruhi keberhasilan operasi militer Amerika Serikat.”

Meski demikian, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya meredakan spekulasi. Banyak analis menilai bahwa langkah penundaan pertemuan merupakan sinyal bahwa hubungan Washington–Beijing tengah mengalami tekanan serius.

AS Tunjukkan Dominasi Militer, Dukungan PKT Dinilai Tak Efektif

Di tengah tudingan tersebut, Amerika Serikat disebut semakin menunjukkan superioritas militernya di kawasan Timur Tengah. Berbagai bentuk bantuan dari Tiongkok kepada Iran—mulai dari bahan baku rudal, teknologi militer, hingga sistem pertahanan udara—dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap jalannya perang.

Bahkan, sejumlah pengamat militer menilai bahwa meskipun kini ditambah dengan dukungan intelijen, hal tersebut tetap tidak akan mengubah arah konflik secara keseluruhan.

Dengan posisi militer yang semakin dominan, Amerika Serikat disebut telah memiliki keunggulan besar sebelum memasuki tahap negosiasi.

Israel Perluas Serangan: Kini Sasar “Urat Nadi” Ekonomi Iran

Sementara itu, tekanan terhadap Iran tidak hanya datang dari Amerika Serikat. Israel juga terus meningkatkan intensitas serangannya.

Pada 30 Maret 2026, militer Israel mengumumkan telah menyelesaikan gelombang baru serangan terhadap industri militer Iran. Dalam kurun waktu 24 jam, sebanyak 170 target berhasil diserang.

Menurut laporan The Times of Israel, setelah satu bulan konflik berlangsung, hampir seluruh target militer utama Iran yang telah direncanakan di awal perang kini telah berhasil dihancurkan.

Akibatnya, strategi Israel mulai bergeser.

Jika sebelumnya fokus pada instalasi militer, kini target serangan diperluas ke sektor ekonomi. Dalam beberapa hari terakhir, serangan dilaporkan menyasar:

  • Fasilitas gas alam utama di wilayah selatan Iran
  • Dua pabrik baja besar yang diserang pada pekan sebelumnya

Sumber keamanan menyebutkan bahwa langkah ini bertujuan untuk melumpuhkan fondasi ekonomi Iran secara menyeluruh.

Beberapa analis bahkan menggambarkan strategi ini sebagai upaya untuk “mengembalikan Iran ke era sebelumnya”, yakni melemahkan negara tersebut bukan hanya secara militer, tetapi juga secara ekonomi dan industri dalam jangka panjang.

Iran Melunak ke Arab Saudi di Tengah Tekanan Perang

Di tengah tekanan militer yang semakin berat, Iran mulai menunjukkan perubahan sikap dalam hubungan regionalnya.

Pada malam 30 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan yang cukup mengejutkan melalui media sosial. 

Dia menyebut bahwa Iran:

  • Menghormati Arab Saudi
  • Menganggap Arab Saudi sebagai negara “saudara”
  • Menegaskan bahwa operasi militer Iran hanya ditujukan kepada pihak yang dianggap sebagai agresor

Pernyataan ini dinilai sebagai sinyal bahwa Iran berusaha meredakan ketegangan dengan negara-negara Teluk di tengah posisi militernya yang tertekan.

Namun di sisi lain, Iran tetap menegaskan tuntutan agar militer Amerika Serikat ditarik dari kawasan Timur Tengah.

Trump Dorong Negara Arab Ikut Biayai Perang

Di Washington, Presiden Donald Trump juga tengah menyusun strategi baru terkait pembiayaan perang.

Dalam konferensi pers Gedung Putih pada 30 Maret 2026, juru bicara Karoline Leavitt mengungkapkan bahwa Trump mempertimbangkan untuk meminta negara-negara Arab—terutama di kawasan Teluk—ikut menanggung biaya operasi militer melawan Iran.

Menurut laporan Reuters, gagasan tersebut memang telah diajukan dan berpotensi segera dibahas lebih lanjut.

Data dari Pentagon menunjukkan bahwa dalam enam hari pertama perang, biaya operasi militer telah mencapai lebih dari 11,3 miliar dolar AS, terutama untuk penggunaan amunisi.

Sejumlah analis memperkirakan:

  • Biaya perang harian: 1–2 miliar dolar AS
  • Rencana tambahan anggaran: hingga 200 miliar dolar AS yang akan diajukan ke Kongres

Leavitt juga mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara pernyataan publik Iran dan komunikasi tertutupnya. Secara diam-diam, Iran disebut telah menyetujui sebagian tuntutan Amerika Serikat, dan proses negosiasi masih terus berlangsung.

Ancaman Trump: Selat Hormuz Jadi Taruhan

Dalam perkembangan yang sama, Trump juga kembali mengeluarkan peringatan keras.

Dia menegaskan bahwa jika Iran tidak membuka akses di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global—maka Amerika Serikat akan mengambil langkah ekstrem:

  • Menghancurkan fasilitas energi Iran
  • Menargetkan ladang minyak utama negara tersebut

Ancaman ini mempertegas bahwa konflik tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyangkut kendali atas jalur energi dunia.

Negara Teluk Berbalik Arah: Kini Dukung Perang

Perubahan sikap juga terjadi di kalangan negara-negara Teluk.

Menurut laporan Associated Press, negara-negara seperti:

  • Arab Saudi
  • Uni Emirat Arab
  • Kuwait
  • Bahrain

yang sebelumnya khawatir konflik akan meluas, kini justru mulai mendukung operasi militer terhadap Iran.

Pada awal konflik, negara-negara tersebut sempat mengkritik Amerika Serikat karena kurangnya koordinasi sebelum serangan dilakukan. Mereka juga khawatir perang akan menyeret seluruh kawasan ke dalam konflik besar.

Namun kini, pandangan tersebut berubah drastis.

Sejumlah pejabat kawasan secara tidak resmi menyatakan bahwa mereka melihat perang ini sebagai peluang strategis untuk:

  • Melemahkan pengaruh Iran
  • Mendorong perubahan besar dalam kepemimpinan Iran

Bahkan, ada indikasi bahwa mereka tidak menginginkan perang dihentikan sebelum tujuan tersebut tercapai.

Kesimpulan: Konflik Melebar, Dunia Menuju Titik Kritis

Dengan munculnya dugaan keterlibatan Tiongkok dalam konflik, perluasan serangan Israel ke sektor ekonomi, serta perubahan sikap negara-negara Teluk, perang Iran kini tidak lagi sekadar konflik regional.

Situasi ini berpotensi berkembang menjadi krisis global yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Di satu sisi, Amerika Serikat menunjukkan dominasi militernya. Di sisi lain, dinamika diplomasi dan aliansi terus berubah dengan cepat.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perang akan berakhir—melainkan seberapa jauh konflik ini akan meluas, dan siapa saja yang akan terseret ke dalamnya.

Surat Terbuka untuk Pak Eri Cahyadi: Jangan Biarkan Rumah Seniman Surabaya Ini Hilang

Oleh: Hamid Nabhan

Surabaya, 30 Maret 2026

Bapak Eri Cahyadi,
Walikota Surabaya yang saya hormati dan cintai.

Saya menulis surat ini dengan hati yang berat. Bukan sebagai seorang pejabat, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai seorang pelaku seni yang telah menghabiskan sebagian besar masa kreatif saya di ruang-ruang yang kini terancam hilang. Saya menulis ini sebagai bagian dari komunitas yang merasa seperti kehilangan rumah—rumah yang penuh kenangan, tempat kami bertumbuh, dan tempat kami menemukan suara.

Rumah yang Lebih Tua dari Kota Ini Bernama

Balai Pemuda. Begitulah kami biasa menyebutnya. Namun, dinding-dinding ini telah berdiri jauh sebelum nama itu melekat. Dibangun pada tahun 1907 oleh arsitek Belanda Westmaes, gedung ini awalnya bernama De Simpangsche Societeit. Setelah kemerdekaan, tepatnya 12 Desember 1957, gedung ini diserahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya dan resmi berganti nama menjadi Balai Pemuda—sebuah ikon kebanggaan kota yang pada tahun ini resmi terdaftar sebagai cagar budaya.

Sejak 30 September 1971, melalui pertemuan bersama Walikota Soekotjo Sastrodinoto, sekretariat Dewan Kesenian Surabaya (DKS) beserta galerinya mulai menempati sisi utara Balai Pemuda. Sejak saat itu, kompleks ini menjelma menjadi Pusat Pagelaran Kesenian Surabaya (PPKS)—jantung kebudayaan Arek Suroboyo.

Namun sejarah di sini bahkan lebih panjang. Pada tahun 1968, Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera)—lembaga pendidikan seni rupa bergaya sanggar yang melahirkan banyak seniman besar—telah lebih dulu menjadikan ruang di Balai Pemuda sebagai tempat berkarya. Hingga akhirnya pada tahun 1972, Aksera berpindah ke Dukuh Kupang, meninggalkan ruang yang kemudian terus hidup sebagai galeri publik bagi para seniman Surabaya hingga hari ini.

Tempat di Mana Nama-Nama Besar Itu Lahir

Pak Eri, di ruang-ruang inilah nama-nama besar seni Indonesia tumbuh. Amang Rahman, OH. Supono, Daryono, dan para pelukis legendaris lainnya pernah meneteskan keringat di sini, menghiasi lantai dengan warna-warna kehidupan.

Di dunia musik, nama-nama seperti Gombloh, Leo Kristi, Naniel, hingga Franky Sahilatua pernah berkumpul dan mencipta di ruang yang sama. Di dunia sastra, Muhammad Ali—sastrawan yang karyanya menyuarakan denyut nadi rakyat kecil—juga menemukan suaranya dari tempat ini.

Bahkan ketika Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 digelar di Surabaya pada tahun 1969, para seniman Aksera yang berkumpul di Balai Pemuda bekerja tanpa lelah membuat spanduk, tulisan, dan karya seni untuk memeriahkan acara besar tersebut. Ini membuktikan bahwa seni bukan sekadar tentang keindahan—tapi juga tentang cinta tanah air dan kontribusi nyata kepada kota.

Dulu, tempat ini menjadi persinggahan bagi seniman dari berbagai generasi dan berbagai kota di Indonesia. Mereka datang bukan hanya untuk pamer, tetapi untuk berbagi, menginspirasi, dan membuktikan bahwa Surabaya adalah rumah bagi kreativitas yang besar.

Ada Juga Mak Ning yang Hatinya Berdenyut di Sini

Namun, Pak Eri, Balai Pemuda tidak hanya hidup dari karya-karya besar. Tempat ini juga memiliki hati yang berdenyut setiap hari: sebuah kantin kecil yang dikelola oleh Mak Ning, seorang janda tua yang telah melayani para seniman, pegawai, dan supir DPRD Surabaya selama puluhan tahun.

Ketika surat perintah pengosongan itu tiba di tangannya yang gemetar, saya melihat air mata yang ia sendiri tak sadari menetes di pipinya.

“Saya sudah menganggap tempat ini sebagai rumah saya,” ujarnya dengan suara lirih.

Selama puluhan tahun, kantin Mak Ning bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sanalah cerita-cerita terlontar, kekhawatiran dan harapan diutarakan, tawa bersama mengisi sudut kecil yang penuh kehangatan. Kini, ia bimbang harus ke mana. Setelah semua yang ia kenal selama bertahun-tahun harus ditinggalkan, bagaimana ia akan mencari nafkah?

Dan Ini Rumah Saya Juga

Untuk saya pribadi, Pak Eri, Galeri DKS di Komplek Balai Pemuda adalah tempat pertama saya menunjukkan karya kepada publik. Di sanalah saya belajar bahwa seni bukan hanya tentang lukisan, patung, atau kata-kata—tapi tentang menyampaikan suara kota. Setiap sudut ruangan itu menyimpan cerita: dari ungkapan yang terlukis di kanvas, nyanyian yang menyuarakan harapan rakyat, hingga puisi-puisi yang mengabadikan jiwa Surabaya.

Bahkan lezatnya masakan Mak Ning yang selalu mengisi hari-hari penuh tawa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan tentang rumah kita.

Apa yang Terjadi, Pak?

Kabar bahwa tempat-tempat ini akan dikosongkan membuat kami bingung dan sedih. Sebuah keputusan yang—maaf—terasa lahir dari pihak yang mungkin tidak sepenuhnya memahami sejarah panjang dan kontribusi yang telah diberikan insan seni Surabaya selama lebih dari setengah abad.

Di mana kami akan bertemu?
Di mana karya Arek-Arek Suroboyo akan bisa dilihat masyarakat?
Di mana para seniman itu akan hidup dan tumbuh?
Dan di mana Mak Ning akan tetap bisa menghidupi dirinya dengan makanan hangat yang telah menjadi bagian dari hidup kami?

Pak Eri, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dengan tegas menyatakan bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban memfasilitasi dan memajukan kebudayaan—termasuk menyediakan fasilitas fisik dan anggaran. Namun tindakan pengosongan ini, jika diteruskan, seolah mengabaikan amanat tersebut.

Kami Hanya Ingin Pulang ke Rumah

Pak Walikota yang saya cintai, seniman bisa menjadi duta terbaik bagi Surabaya. Karya mereka bisa membawa nama kota ini ke berbagai tempat, menarik perhatian dunia pada kekayaan budaya kita. Tapi bagaimana kami bisa melakukannya tanpa tempat yang bisa kami sebut sebagai milik sendiri—apalagi tempat yang merupakan bagian dari cagar budaya yang telah menyaksikan perjuangan dan perkembangan kota Surabaya selama lebih dari satu abad?

Bagaimana mungkin sebuah kota membangun masa depannya dengan menggusur bagian penting dari dirinya sendiri?

Saya dan para insan seni Surabaya sangat berharap, Bapak Walikota dapat melihat betapa berharganya warisan ini. Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya, galeri-galeri, dan tak terkecuali kantin Mak Ning—semua ini bukanlah beban. Mereka adalah aset berharga yang telah mengangkat martabat Surabaya selama bertahun-tahun.

Mari kita duduk bersama. Mari kita cari solusi bersama. Surabaya layak memiliki seniman yang berkembang. Seniman layak memiliki rumah di kotanya sendiri yang mereka cintai. Dan setiap orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat tempat ini—seperti Mak Ning—layak mendapatkan wadah untuk terus hidup dan berkontribusi.

Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya, dan semua ruang kreatif di dalamnya adalah jantung kebudayaan Surabaya. Bukan hanya cagar budaya dengan sejarah panjang, tapi juga rumah bagi saya, rumah bagi teman-teman seniman lainnya, dan tempat penghidupan bagi orang-orang seperti Mak Ning yang telah begitu lama merawat tempat ini.

Sekali lagi, saya memohon dan sangat berharap Bapak Walikota dapat memperhatikan hal ini. Semoga kita bisa menemukan jalan keluar bersama—jalan yang menghargai sejarah, menghidupi masa kini, dan membangun masa depan yang berbudaya.

Atas perhatian dan kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.

Hamid Nabhan
Pelaku Seni Surabaya

20 Tahun Earth Hour: ARTOTEL TS Suites Surabaya Buktikan Komitmen Berkelanjutan Lewat Aksi “Switch Off” Bersama Tamu

SURABAYA, 28 Maret 2026 – Dua dekade sudah gerakan Earth Hour mengajak masyarakat dunia memberikan satu jam untuk bumi. Di momen istimewa ini, ARTOTEL TS Suites Surabaya kembali menunjukkan konsistensinya dalam mendukung pelestarian lingkungan. Pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, hotel bintang empat di pusat Kota Pahlawan ini resmi berpartisipasi dalam aksi Switch Off selama satu jam, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB.

Tidak sekadar memadamkan lampu, partisipasi hotel yang mengusung semangat The Art of Goodness dari ARTOTEL Group ini menjadi simbol nyata kepedulian terhadap krisis iklim sekaligus implementasi dari komitmen keberlanjutan yang telah lama dijalankan.

Redupkan Lampu, Hangatkan Kebersamaan

Dalam aksi simbolis tersebut, ARTOTEL TS Suites Surabaya memadamkan sebagian lampu di area hotel. Namun, dukungan terhadap gerakan yang pertama kali diinisiasi oleh WWF ini tidak berhenti di sana. Seluruh tamu hotel diajak untuk turut berpartisipasi dengan mematikan lampu di kamar masing-masing dan menikmati suasana malam yang lebih hangat.

Suasana berbeda tercipta di One Deck Gastropub, outlet F&B hotel yang buka 24 jam. Dengan pencahayaan yang redup namun tetap hangat, para tamu dimanjakan dengan alunan musik serta menu spesial. Sebagai bentuk dukungan terhadap pengalaman Earth Hour yang lebih berkesan, hotel memberikan diskon 20 persen untuk seluruh menu makanan dan minuman yang tersedia.

Lebih dari Sekadar Seremoni Tahunan

Bagi ARTOTEL TS Suites Surabaya, aksi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Hotel ini merupakan salah satu properti yang telah meraih sertifikasi GSTC (Global Sustainable Tourism Council) —standar global untuk pariwisata berkelanjutan. Partisipasi dalam Earth Hour menjadi penguat dari langkah hotel dalam menghadirkan praktik operasional yang bertanggung jawab terhadap lingkungan secara konsisten.

Teddy Patrick, S.E., M.Par., CHA., General Manager ARTOTEL TS Suites Surabaya, menegaskan bahwa komitmen ini bersifat jangka panjang.

“Partisipasi kami dalam Earth Hour 2026 merupakan bentuk komitmen berkelanjutan ARTOTEL TS Suites Surabaya dalam mendukung pelestarian lingkungan. Kami berharap semakin banyak masyarakat yang terinspirasi untuk melakukan aksi sederhana namun berdampak nyata bagi masa depan bumi,” ujar Teddy.

Pengalaman Berkesan bagi Tamu

Antusiasme juga dirasakan langsung oleh para tamu. Salah satunya, Andin, yang turut merasakan suasana berbeda selama aksi berlangsung.

“Saya sempat ikut foto-foto suasana Earth Hour di area hotel karena ambience-nya unik dan jarang ada. Langsung saya posting juga di sosial media karena menurut saya ini pengalaman seru dan meaningful,” ungkapnya.

Melalui partisipasi aktif dalam peringatan 20 tahun Earth Hour ini, ARTOTEL TS Suites Surabaya berharap dapat terus menginspirasi masyarakat, khususnya warga Surabaya dan para tamu hotel, untuk mengambil bagian dalam aksi nyata menjaga keberlanjutan bumi—tidak hanya satu jam dalam setahun, tetapi sebagai gaya hidup sehari-hari.

Di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta, ARTOTEL Harmoni Pilih “Sunyi” untuk Bumi

Jakarta, 28 Maret 2026 – Di tengah gemerlap pusat ibu kota yang tak pernah tidur, ARTOTEL Harmoni Jakarta memilih untuk mengambil langkah yang berbeda. Pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, hotel bernuansa seni kontemporer ini ikut serta dalam gerakan global Earth Hour. Selama satu jam, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB, gedung ikonik di persimpangan Harmoni tersebut meredupkan lampu-lampu utamanya—bukan sekadar untuk hemat energi, melainkan untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam tentang harapan dan keberlanjutan.

Aksi pemadaman tidak hanya terjadi pada logo fasad raksasa hotel, tetapi juga mencakup lobi utama, koridor tamu, hingga restoran Eatspace. Sebagai pengganti cahaya listrik, ARTOTEL Harmoni Jakarta menghadirkan instalasi lilin yang disusun secara artistik di berbagai sudut, menciptakan suasana yang syahdu, hangat, dan penuh refleksi.

“Pernyataan Seni” untuk Pelestarian Lingkungan

Bagi manajemen hotel, Earth Hour bukan sekadar seremoni tahunan. Arbiter Gerhard, General Manager ARTOTEL Harmoni Jakarta, menjelaskan bahwa momen ini dirayakan dengan pendekatan yang berbeda.

“Earth Hour bagi kami bukan sekadar mematikan sakelar lampu selama 60 menit. Ini adalah sebuah pernyataan seni tentang bagaimana kita menghargai sumber daya alam,” ujar Arbiter. “Tahun ini, kami memilih merayakannya dalam keheningan yang syahdu. Kami ingin mengajak tamu untuk sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk teknologi dan menikmati keindahan visual dari pendar cahaya alami di tengah kegelapan.”

Keterlibatan tamu menjadi kunci keberhasilan aksi ini. Melalui pesan yang disampaikan saat proses check-in, para tamu diajak untuk ikut memadamkan lampu kamar serta menutup rapat tirai blackout. Langkah sederhana ini tidak hanya menciptakan keseragaman visual dari luar, tetapi juga berfungsi sebagai isolasi termal yang menjaga suhu ruangan tetap sejuk tanpa beban energi berlebih.

Malam Refleksi di Tengah Kota

Di area Courtyard lantai 1, suasana berbeda tercipta. Ruang yang biasanya menjadi titik lalu lalang tamu itu disulap menjadi ruang komunal yang tenang. Dalam acara candlelit gathering, para tamu berkumpul menikmati malam Jakarta dari perspektif yang baru—tanpa kebisingan elektronik dan gangguan visual yang mencolok. Momen ini menjadi ruang dialog santai dan refleksi bersama tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan.

Melalui langkah kecil namun bermakna ini, ARTOTEL Harmoni Jakarta berharap dapat menginspirasi masyarakat luas—khususnya para tamu dan staf—untuk menjadikan hemat energi sebagai kebiasaan sehari-hari, jauh melampaui seremoni satu jam dalam setahun.

KPPU Mulai Sidang Perkara Keterlambatan Notifikasi Akuisisi oleh NTT Docomo

Jakarta, 31 Maret 2026 – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) resmi memulai persidangan perdana perkara dugaan keterlambatan notifikasi pengambilalihan saham (akuisisi) yang dilakukan oleh NTT Docomo, Inc. terhadap Intage Holdings, Inc. Sidang pemeriksaan pendahuluan yang digelar pada Senin, 30 Maret 2026, di Kantor KPPU Jakarta ini sempat mengalami dua kali penundaan akibat kuasa hukum Terlapor belum melengkapi administrasi perwakilan.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh Majelis Komisi yang terdiri dari Mohammad Reza sebagai Ketua Majelis, serta Hilman Pujana dan Eugenia Mardanugraha sebagai anggota, agenda utama meliputi pembacaan Laporan Dugaan Pelanggaran (LDP) oleh Investigator serta pemeriksaan kelengkapan dan kesesuaian alat bukti. Terlapor hadir melalui kuasa hukum.

Berdasarkan LDP yang dibacakan, Investigator mengungkap adanya dugaan pelanggaran terhadap kewajiban notifikasi sebagaimana diatur dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 jo. Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010. NTT Docomo, Inc., yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi dan telepon seluler, mengakuisisi 51% saham Intage Holdings, Inc., sebuah perusahaan induk asal Jepang yang memiliki anak usaha di Indonesia, PT Intage Indonesia, yang berfokus pada riset pasar dan data-analytics.

Akuisisi tersebut telah memenuhi unsur perubahan pengendali dan nilai aset gabungan yang melebihi batas ketentuan, sehingga wajib dilaporkan kepada KPPU. Transaksi secara yuridis efektif pada 23 Oktober 2023, dengan batas akhir notifikasi pada 1 Desember 2023. Namun, NTT Docomo baru menyampaikan notifikasi pada 11 Desember 2023, terlambat 6 (enam) hari kerja dari ketentuan yang berlaku.

Majelis Komisi menyampaikan bahwa perkara keterlambatan notifikasi ini dimungkinkan untuk diperiksa melalui mekanisme sidang cepat. Dalam mekanisme tersebut, Terlapor diberikan kesempatan untuk menyatakan sikap atas LDP, baik menerima maupun menolak, sebelum masuk ke tahapan pemeriksaan lanjutan.

Dalam persidangan, kuasa hukum Terlapor sempat mempertanyakan kewajiban kehadiran pihak principal mengingat Direktur Utama tidak dapat hadir dalam waktu satu bulan ke depan jika proses berlanjut ke sidang cepat. Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Komisi menegaskan bahwa kelanjutan persidangan akan menunggu sikap resmi Terlapor atas LDP, dan pengaturan kehadiran pihak principal akan dikoordinasikan lebih lanjut.

Sidang Pemeriksaan Pendahuluan berikutnya dijadwalkan pada 7 April 2026 dengan agenda penyampaian tanggapan Terlapor terhadap LDP serta pemeriksaan alat bukti dari pihak Terlapor.

Mengukuhkan Ekspansi Global, Moollife Cetak Transaksi Awal USD 66.000 di Eropa dan Perkuat Penetrasi ke Amerika Serikat

Surabaya, 27 Maret 2026 – Brand premium lifestyle houseware asli Indonesia, Moollife, terus menunjukkan taringnya di kancah internasional. Dalam langkah strategis memperluas jaringan distribusi global, perusahaan secara simultan berpartisipasi dalam dua pameran dagang bergengsi: SIRHA Budapest 2026 di Hungaria dan The Inspired Home Show 2026 di Chicago, Amerika Serikat.

Keikutsertaan dalam dua ajang internasional yang berlangsung pada awal Maret 2026 ini tidak hanya menjadi ajang pengenalan produk, tetapi juga membuahkan hasil nyata berupa komitmen awal yang menjanjikan serta perluasan jejaring bisnis di kawasan Eropa dan Amerika.

Sapa Buyer Eropa, Kantongi Komitmen Awal

Memanfaatkan gelaran SIRHA Budapest (3–6 Maret 2026) di Hungexpo Budapest, Moollife tampil untuk memperkuat branding sekaligus menjalin hubungan lebih erat dengan para mitra. Kehadiran perusahaan di Hungaria didukung penuh oleh Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Budapest serta mendapat sambutan hangat dari mitra lokal, LifeVia Kft.

Antusiasme pengunjung terhadap produk Moollife dinilai sangat positif. Mereka terutama mengapresiasi kualitas material produk yang dinilai memiliki standar tinggi, serta desain dan fungsi yang dinilai kompetitif di pasar Eropa.

Kehadiran langsung Moollife di pameran ini semakin memperkuat kepercayaan buyer terhadap produk asli Indonesia. Selain berinteraksi dengan buyer asal Hungaria, Moollife juga membuka peluang kolaborasi dengan buyer dari Rumania dan sejumlah negara Eropa lainnya yang hadir.

Hasil nyata dari partisipasi ini adalah komitmen pemesanan kedua dari partner di Hungaria, LifeVia Kft. Rencana pengiriman yang dijadwalkan pada Juli mendatang ini membawa estimasi nilai transaksi awal mencapai sekitar USD 66.000.

Langkah Awal Menembus Pasar Amerika Serikat

Sementara itu, di seberang samudra, Moollife turut ambil bagian dalam The Inspired Home Show 2026 di McCormick Place Chicago (10–14 Maret 2026). Pada pameran yang menjadi salah satu ajang utama industri houseware global ini, Moollife memamerkan berbagai produk unggulannya.

Sejumlah buyer potensial dari Amerika Serikat menunjukkan ketertarikan besar terhadap produk yang ditampilkan dan telah melakukan pertemuan bisnis langsung dengan tim Moollife. Meskipun perusahaan mengakui bahwa penetrasi pasar Amerika memiliki tantangan tersendiri—seperti persaingan ketat, regulasi kepatuhan yang ketat, hingga standar audit sosial dan keamanan bahan produk—partisipasi ini dinilai sebagai langkah awal yang krusial.

Dukungan Penuh Pemerintah dan Diplomasi Dagang

Sepanjang rangkaian kegiatan pameran, Moollife juga melakukan sejumlah agenda strategis dengan perwakilan pemerintah Indonesia. Di Budapest, tim bertemu dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Hungaria, Penny Dewi Herasati, serta tim ITPC Budapest. Sementara di Chicago, perusahaan berkesempatan berdialog dengan Konsul Jenderal Republik Indonesia di Chicago, Trisari Dyah Paramita, dan tim ITPC Chicago.

Dalam pertemuan tersebut, Moollife membagikan katalog produk, sampel, serta penawaran harga kepada para calon mitra. Seluruh buyer yang telah mengunjungi booth Moollife kini dalam tahap komunikasi lanjutan, yang secara berkala akan ditindaklanjuti untuk membuka peluang kerja sama lebih lanjut.

Optimisme Menembus Pasar Global

Kehadiran Moollife di dua benua sekaligus ini diharapkan tidak hanya memperkuat fondasi pasar di Hungaria dan kawasan Eropa, tetapi juga membuka pintu bagi pasar baru di Amerika Serikat. Dengan dukungan dari Kementerian Perdagangan Republik Indonesia serta jaringan ITPC di luar negeri, Moollife optimistis dapat terus meningkatkan penetrasi produk Indonesia di pasar global.

“Partisipasi ini adalah langkah awal yang penting untuk memperkenalkan produk karya anak bangsa kepada buyer internasional. Kami optimistis dapat bersaing dan menembus pasar global,” demikian pernyataan resmi dari tim Moollife.

Serangan Tanpa Ledakan: Teheran Mendadak Gelap, Dunia Mulai Curiga Strategi Baru Israel

EtIndonesia. Pada malam 29 Maret 2026, situasi di Iran memasuki babak yang lebih mengkhawatirkan. Sejumlah wilayah di Teheran dan Karaj dilaporkan mengalami pemadaman listrik setelah serangan terhadap infrastruktur di sekitar ibu kota, meskipun tidak ada konfirmasi bahwa pembangkit listrik utama dihancurkan secara langsung. 

Media Iran dan laporan Reuters menyebut gangguan pasokan listrik memang terjadi setelah serangan, sementara lembaga pemantau perang seperti Institute for the Study of War juga mencatat pemadaman di sejumlah kawasan pada hari yang sama.

Perkembangan ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa Israel bergerak pada saat masih ada jeda sebelum tenggat baru yang disampaikan Donald Trump? Salah satu penjelasan yang banyak dibahas analis adalah bahwa operasi kali ini tidak semata ditujukan untuk menghancurkan target keras, melainkan untuk melumpuhkan sistem terlebih dahulu. 

Dalam 24 jam terakhir, militer Israel juga dikabarkan meningkatkan intensitas serangan ke sasaran-sasaran strategis di Iran, memperkuat dugaan bahwa serangan terhadap jaringan listrik merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membutakan radar, mengganggu komando, dan menekan pusat-pusat kendali negara sebelum fase serangan berikutnya. 

Namun, rincian teknis seperti penggunaan bom pemutus listrik CBU-94 masih belum mendapat verifikasi independen dari sumber resmi yang kuat, sehingga sejauh ini harus dipandang sebagai klaim intelijen atau analisis medan perang, bukan fakta yang sudah terkonfirmasi.

Di saat bersamaan, Trump justru menaikkan tekanan politik dan militer. Pada 30 Maret 2026, ia kembali memperingatkan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz dan menyatakan bahwa bila kesepakatan tidak segera tercapai, fasilitas minyak, pembangkit, serta infrastruktur penting Iran bisa menjadi sasaran berikutnya. 

Kantor berita Reuters, AP, dan sejumlah media internasional juga melaporkan bahwa Trump secara terbuka berbicara mengenai kemungkinan “mengambil minyak Iran”, sebuah pernyataan yang membuat krisis ini tidak lagi terlihat hanya sebagai perang pembalasan, melainkan juga pertarungan atas kendali energi. Pasar langsung merespons: harga minyak Brent melonjak hingga di atas US$116 per barel, menandakan dunia melihat ancaman ini sebagai sesuatu yang nyata.

Bila diringkas, tekanan yang kini dihadapi Teheran memang tampak datang dari beberapa arah sekaligus. 

Pertama, ada tenggat menuju 6 April 2026, setelah Trump sebelumnya menunda serangan yang lebih luas ke infrastruktur energi Iran sambil membuka ruang perundingan. 

, ada persiapan militer yang makin terlihat, dengan laporan bahwa Pentagon sedang menimbang pengerahan tambahan pasukan darat dalam jumlah besar, di samping pergerakan Marinir dan pasukan lintas udara yang sudah lebih dulu disiapkan. 

Ketiga, ada tekanan terhadap jaringan vital: pemadaman di Teheran dan Karaj menunjukkan bahwa lawan Iran bisa menciptakan kelumpuhan besar bahkan tanpa menghancurkan pembangkit satu per satu. 

Keempat, ada tekanan ekonomi: gangguan pada perbankan, ATM, dan pembayaran gaji di tengah perang memperlihatkan bahwa kemampuan negara untuk menjaga stabilitas domestik sedang teruji sangat keras.

Di dalam negeri Iran sendiri, tanda-tanda friksi elite semakin sulit disembunyikan. Iran International pada 28 Maret 2026 melaporkan adanya ketegangan serius antara Presiden Masoud Pezeshkian dan petinggi Garda Revolusi terkait cara mengelola perang serta dampaknya terhadap ekonomi rakyat. 

Menurut laporan itu, Pezeshkian memperingatkan bahwa tanpa gencatan senjata, ekonomi Iran bisa menuju kehancuran total dalam tiga minggu hingga sebulan. Media yang sama juga melaporkan bahwa kewenangan eksekutif Pezeshkian makin tergerus, sementara Garda Revolusi memperluas dominasinya atas pengambilan keputusan keamanan nasional. Klaim yang lebih sensasional—termasuk bahwa Pezeshkian merasa seperti “sandera” atau ingin mundur—beredar luas di media sosial dan kanal pro-Israel, tetapi belum terverifikasi secara independen oleh sumber besar yang kredibel.

Dari sini terlihat bahwa konflik sekarang tidak semata soal serangan udara dan balasan rudal. Yang sedang dibangun adalah tekanan politik-psikologis: di satu sisi, Israel dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa mereka mampu melumpuhkan saraf negara Iran; di sisi lain, Trump terus memberi sinyal bahwa pintu negosiasi masih ada, tetapi waktunya sangat terbatas. 

Reuters melaporkan bahwa Washington berbicara tentang berhubungan dengan pihak yang dianggap sebagai unsur “lebih rasional” di dalam struktur kekuasaan Iran, walaupun Teheran sendiri membantah adanya pembicaraan langsung. Ini membuat perang terlihat seperti kombinasi antara operasi militer, perang ekonomi, dan upaya membentuk ulang peta kekuasaan internal Iran.

Adapun soal dimensi yang lebih besar—yakni dugaan bahwa Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sedang membangun ulang arsitektur energi dan keamanan regional—bagian ini masih harus dibaca dengan hati-hati. Memang ada laporan, komentar, dan potongan pidato yang mengaitkan Hegseth dengan konsep seperti “Greater North America” atau perluasan perimeter strategis Amerika dari Greenland hingga jalur energi utama. 

Namun, rincian konsep ini belum muncul secara utuh dan kokoh dalam pelaporan utama yang setara dengan Reuters atau AP. Karena itu, lebih aman menyimpulkan bahwa yang sudah jelas saat ini adalah: Washington sedang memadukan operasi militer, tekanan terhadap jalur energi, dan ancaman penguasaan titik ekspor penting Iran seperti Pulau Kharg, sementara implikasi terbesarnya memang akan dirasakan pula oleh negara-negara yang sangat bergantung pada energi Timur Tengah, termasuk Tiongkok.

Kesimpulannya, 29–30 Maret 2026 dapat dibaca sebagai titik penting dalam konflik ini. Teheran yang gelap tanpa pembangkit dihancurkan menunjukkan bahwa perang telah memasuki fase baru: bukan hanya menghantam target, tetapi juga mengunci fungsi negara. 

Trump pada saat yang sama menekan Iran dengan batas waktu, ancaman militer, dan retorika perebutan sumber energi. Sementara itu, di dalam Tehran sendiri, laporan mengenai keretakan antara pemerintahan sipil dan Garda Revolusi memperlihatkan bahwa Iran kini berada di bawah tekanan simultan—dari udara, dari ekonomi, dan dari dalam sistem kekuasaannya sendiri. 

Bila tren ini berlanjut sampai awal April 2026, maka konflik bisa bergerak ke dua arah ekstrem sekaligus: perundingan darurat atau justru eskalasi yang jauh lebih besar. (***)

Nyaris Jadi Bencana Kimia! Rudal Iran Meledak di Pabrik Kimia Milik Tiongkok di Israel

EtIndonesia. Konflik bersenjata di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin kompleks dan sensitif. Pada 29 Maret 2026, sebuah insiden mengejutkan terjadi ketika rudal Iran justru menghantam fasilitas industri yang memiliki keterkaitan kuat dengan modal Tiongkok di wilayah Israel. Peristiwa ini tidak hanya memicu kekhawatiran akan potensi bencana kimia, tetapi juga menyoroti keterlibatan teknologi Tiongkok dalam rantai persenjataan Iran.


Rudal Jatuh di Pabrik Kimia, Ancaman Bencana Besar Nyaris Terjadi

Menurut laporan dari Reuters dan The Times of Israel, pada sore hari 29 Maret 2026, Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal balistik ke wilayah selatan Israel.

Salah satu rudal yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel meninggalkan puing yang jatuh ke darat dan menghantam pabrik pestisida Adama yang berlokasi di kawasan industri Neot Hovav, Israel selatan.

Ledakan besar pun terjadi.

Rekaman di lokasi menunjukkan kobaran api yang menjulang tinggi disertai asap hitam pekat. Struktur industri, termasuk pipa-pipa kimia dan rangka baja, mengalami kerusakan serius akibat gelombang kejut dari benturan tersebut.

Meski demikian, tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam insiden ini.

Namun, situasi dinilai sangat berbahaya. Pihak militer Israel segera mengeluarkan peringatan darurat kepada warga sekitar untuk tetap berada di dalam rumah guna menghindari kemungkinan paparan bahan kimia beracun. Tim pemadam kebakaran dan unit penyelamat juga langsung dikerahkan ke lokasi.

Yang membuat insiden ini semakin mengkhawatirkan adalah lokasi pabrik tersebut.

Kawasan Neot Hovav merupakan kompleks industri kimia terbesar di Israel yang menampung sekitar 19 fasilitas pengolahan bahan kimia dan limbah berbahaya. 

Para ahli menyebut, jika rudal tersebut tidak berhasil dicegat dan menghantam langsung fasilitas inti, maka potensi kebocoran zat beracun dalam skala besar hampir tak terhindarkan—yang bisa berujung pada bencana lingkungan dan kemanusiaan.


Keterkaitan Tiongkok: Pabrik Dimiliki Perusahaan BUMN

Sorotan tajam muncul pada latar belakang kepemilikan pabrik yang terdampak.

Perusahaan ADAMA diketahui telah diakuisisi sepenuhnya oleh China National Chemical Corporation (ChemChina) pada tahun 2017, sebelum kemudian digabungkan ke dalam Sinochem Group, salah satu raksasa kimia milik negara Tiongkok.

Dengan struktur kepemilikan tersebut, Adama secara luas dianggap sebagai perusahaan yang berada di bawah kendali modal negara Tiongkok.

Fakta bahwa rudal Iran—yang disebut-sebut menggunakan teknologi Tiongkok—justru menghantam fasilitas yang dikendalikan oleh entitas Tiongkok sendiri, dinilai sebagai ironi geopolitik yang memalukan bagi Beijing.


Teknologi Tiongkok Dominasi Rudal Iran

Analisis lebih lanjut mengungkap keterkaitan mendalam antara teknologi Tiongkok dan sistem persenjataan Iran.

Seorang analis geopolitik, Pereira, melalui platform X menyebut bahwa rudal yang digunakan Iran memiliki komponen utama sebagai berikut:

  • Sistem navigasi satelit Beidou (Tiongkok)
  • Bahan bakar berbasis natrium perklorat dari Tiongkok
  • Sistem navigasi presisi berbasis giroskop buatan Tiongkok
  • Chip kendali yang diproduksi menggunakan peralatan dari SMIC

Dengan demikian, hampir seluruh rantai produksi rudal tersebut terhubung dengan teknologi dan industri Tiongkok.

Pereira juga menyoroti peningkatan signifikan dalam akurasi rudal Iran. Jika sebelumnya memiliki deviasi hingga 500–1.000 meter, kini setelah menggunakan sistem Beidou, tingkat kesalahan berkurang drastis menjadi sekitar 50–200 meter.

Artinya, rudal Iran kini mampu menghantam target strategis dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.


Ketimpangan Biaya: Pertahanan Jauh Lebih Mahal dari Serangan

Peningkatan akurasi ini memaksa Israel dan sekutunya untuk menggunakan sistem pertahanan yang jauh lebih mahal.

Perkiraan biaya menunjukkan:

  • Rudal Iran: US$200.000 – US$500.000 per unit
  • Rudal pencegat Israel: US$2 juta – US$4 juta per unit
  • Sistem THAAD AS: hingga US$13 juta – US$15 juta per unit

Dengan demikian, biaya pertahanan bisa mencapai 5 hingga 200 kali lebih mahal dibandingkan biaya serangan.

Kondisi ini menimbulkan tekanan besar terhadap sistem pertahanan Israel dalam jangka panjang.


Serangan Balasan Israel: Targetkan Fasilitas Inti Iran

Pada hari yang sama, 29 Maret 2026, Israel melancarkan serangan balasan besar-besaran ke Iran.

Militer Israel mengerahkan puluhan jet tempur untuk menyerang Teheran, menjatuhkan lebih dari 120 bom yang menargetkan fasilitas penelitian dan produksi senjata.

Salah satu target utama adalah fasilitas pengembangan komponen inti rudal yang berada di dalam kompleks Kementerian Pertahanan Iran—yang disebut sebagai titik vital dalam sistem pengembangan rudal balistik Iran.

Militer Israel menyatakan bahwa fasilitas seperti ini hanya terdapat dua unit di seluruh Iran, menjadikannya target strategis dengan nilai tinggi.


Kerusakan Besar di Infrastruktur Rudal Iran

Laporan dari Institute for the Study of War pada 29 Maret 2026 mengungkap bahwa serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel telah:

  • Menghancurkan empat fasilitas inti produksi rudal balistik Iran
  • Menyerang setidaknya 29 lokasi peluncuran rudal

Akibatnya, Iran diperkirakan akan mengalami kesulitan signifikan dalam memproduksi rudal balistik dalam jangka pendek.

Namun, laporan tersebut juga menyebut bahwa Rusia masih memberikan dukungan intelijen, termasuk penyediaan citra satelit terhadap pangkalan militer Amerika Serikat.


Israel Perluas Operasi ke Lebanon

Selain menyerang Iran, Israel juga memperluas operasi militernya ke Lebanon.

Pada 29 Maret 2026, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan perluasan operasi di Lebanon selatan untuk menekan serangan roket dari Hizbullah.

Militer Israel berupaya memperluas zona penyangga hingga mendekati Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel.

Sejak eskalasi konflik pada 2 Maret 2026, tercatat:

  • Lebih dari 400 anggota Hizbullah tewas
  • Israel kehilangan 4 personel militer

Netanyahu menegaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk mengubah secara mendasar kondisi keamanan di perbatasan utara Israel.


UEA Tuntut Iran Bertanggung Jawab

Di tengah meningkatnya ketegangan, Uni Emirat Arab (UEA) turut mengambil sikap tegas.

Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, menyerukan agar Iran:

  • Membayar kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan
  • Memberikan jaminan non-agresi di masa depan

Ia menekankan bahwa solusi politik harus mencakup tanggung jawab nyata atas kerugian sipil dan infrastruktur di kawasan Teluk.

Hubungan antara UEA dan Iran dilaporkan memburuk tajam, bahkan Presiden UEA secara terbuka mulai menyebut Iran sebagai musuh.


Kesimpulan: Konflik Makin Kompleks, Risiko Global Meningkat

Insiden rudal yang menghantam pabrik berafiliasi Tiongkok di Israel mencerminkan kompleksitas baru dalam konflik Timur Tengah.

Di satu sisi, keterlibatan teknologi Tiongkok dalam sistem persenjataan Iran semakin terlihat jelas. Di sisi lain, konflik ini juga mulai memperlihatkan dimensi geopolitik yang lebih luas, melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok.

Dengan eskalasi militer yang terus meningkat serta risiko bencana industri dan kimia yang nyata, kawasan ini kini berada di ambang krisis yang jauh lebih besar—yang dampaknya berpotensi meluas ke tingkat global. (***)

Tak Ada Perubahan Harga BBM di SPBU Pertamina pada 1 April 2026

ETIndonesia– Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya dalam menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat dengan mengikuti arahan kebijakan Pemerintah untuk tidak ada penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM), baik non-subsidi maupun bbm bersubsidi.

Sebagai badan usaha di sektor hilir energi, Pertamina Patra Niaga terus melakukan berbagai langkah strategis guna memastikan distribusi energi berjalan optimal di seluruh wilayah. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi dan negosiasi dengan para pemasok (supplier), serta optimalisasi sistem distribusi untuk menjaga pasokan tetap aman dan tersedia bagi masyarakat.

Pertamina Patra Niaga juga menegaskan akan terus melakukan upaya secara maksimal dalam menghadapi dinamika yang ada, dengan mengedepankan keandalan layanan serta kesinambungan distribusi energi nasional.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun menyampaikan bahwa Pertamina Patra Niaga senantiasa melaksanakan kebijakan Pemerintah, termasuk dalam hal penetapan harga BBM. Di sisi lain, dilakukan juga berbagai upaya strategis seperti negosiasi dengan supplier dan optimalisasi distribusi untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga bagi masyarakat.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak terpengaruh oleh informasi yang dapat memicu panic buying”, ujar Roberth dalam siaran persnya. 

Penggunaan energi yang hemat dan bertanggung jawab menjadi salah satu kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional. Pertamina Patra Niaga juga mengajak masyarakat untuk bersama dengan Pertamina melaksanakan kebijakan Pemerintah dalam hal hemat energi melalui aktivitas baik pribadi maupun secara institusi.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, yang berpotensi memicu kepanikan atau panic buying. Partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga konsumsi yang wajar akan sangat membantu kelancaran distribusi energi di lapangan.

Melalui sinergi antara Pemerintah, Aparat Keamanan dan masyarakat diharapkan ketersediaan energi nasional dapat terus terjaga secara optimal demi mendukung aktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia. (***)