Kapal Tanker Rusia Berbelok Mendadak di Laut Baltik, Apa yang Terjadi?

EtIndonesia. Sebuah kapal tanker minyak Aframax bernama Arcusat, yang sedang menuju pelabuhan Rusia, melakukan manuver tak terduga dan berbalik arah, menghindari memasuki Laut Baltik, menurut Bloomberg.

Kapal tanker tersebut, yang terkait dengan armada bayangan Rusia, menarik perhatian para analis dengan rutenya yang tidak biasa. Kapal tersebut, yang sedang menuju untuk memuat bahan baku di salah satu pelabuhan Rusia, tiba-tiba berhenti bergerak menuju Laut Baltik, berbalik arah, dan menuju ke arah lain.

Manuver Misterius di Baltik

Arcusat termasuk dalam apa yang disebut kapal tanker hantu yang digunakan Rusia untuk menghindari sanksi Barat dan pembatasan harga minyak. Perubahan haluan yang tiba-tiba ini mungkin menunjukkan masalah teknis atau tantangan baru bagi logistik Kremlin.

Detail penting dari insiden tersebut:

  • Geografi: Belokan terjadi tepat sebelum memasuki selat sempit yang menuju ke Laut Baltik.
  • Afiliasi: Kapal tersebut tidak memiliki asuransi yang transparan atau struktur kepemilikan yang jelas, yang merupakan ciri khas armada bayangan.
  • Konsekuensi: Gangguan pelayaran seperti itu menunda ekspor minyak Rusia dan menciptakan biaya logistik tambahan bagi pihak agresor.

Jerman menolak kapal tanker Rusia untuk pertama kalinya

Arcusat sedang menuju Teluk Finlandia untuk memuat minyak Rusia, tetapi saat melewati selat sempit antara Denmark dan Swedia, kapal tersebut tiba-tiba berbalik arah dan menuju Arktik. Menurut laporan media Jerman, ini disebabkan oleh paksaan langsung dari otoritas Jerman, meskipun Kepolisian Federal belum secara resmi mengomentari penyelidikan tersebut.

Ini adalah kasus pertama yang tercatat di mana sebuah negara Eropa secara paksa menolak akses kapal bayangan ke Laut Baltik. Jika strategi seperti itu menjadi sistematis, hal itu dapat sepenuhnya melumpuhkan kemampuan Moskow untuk mengekspor minyak mentah dari wilayah tersebut.

Kapal tersebut menggunakan taktik bendera kemudahan. Dalam berbagai basis data, kapal tersebut terdaftar di bawah bendera Tanzania dan Kamerun, yang merupakan tanda khas upaya untuk menyembunyikan pemilik sebenarnya.

Tekanan pada Armada Bayangan

Para ahli Bloomberg mencatat bahwa telah terjadi peningkatan pengawasan terhadap kapal-kapal semacam itu di perairan internasional baru-baru ini. Ini bukan pertama kalinya kapal tanker yang beroperasi untuk kepentingan Moskow mengalami kesulitan saat melewati jalur laut penting.

Meskipun Rusia berupaya menyembunyikan rute dengan mematikan pemancar AIS, pemantauan satelit memungkinkan pergerakan anomali tersebut untuk direkam.

Washington telah meluncurkan operasi skala besar terhadap armada bayangan yang berupaya mengekspor minyak dari Venezuela dengan memanipulasi bendera dan nama.

Pada awal Januari, pasukan AS melakukan serangkaian pencegatan di perairan netral. Kasus yang paling menonjol adalah penahanan Bella 1 (Marinera) di Atlantik Utara.

Hampir bersamaan dengan pencegatan di Atlantik, militer AS melakukan operasi yang sukses di Laut Karibia, menahan kapal lain dari armada bayangan, kapal tanker Sophia.

Di Laut Karibia, pasukan khusus AS menyita kapal tanker Veronica yang dikenai sanksi, yang merupakan kapal keenam yang ditahan sebagai bagian dari operasi tersebut. Kapal tersebut melanggar embargo dengan memanipulasi dokumen dan sistem pelacakan untuk secara ilegal mengangkut minyak untuk Iran, Rusia, dan Venezuela.

Para anggota parlemen Amerika menuntut agar pemerintahan Donald Trump mengambil langkah-langkah radikal, mulai dari sanksi yang ditargetkan hingga penangkapan massal kapal-kapal yang membawa minyak Rusia.(yn)

Pembersihan Internal Besar-besaran Terus Berlanjut di Militer Partai Komunis Tiongkok, 10 Jenderal Menghilang Bersamaan

Pembersihan besar-besaran di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus meningkat. Pada Sidang Pleno Kelima Komisi Pusat Inspeksi Disiplin (KPKD) PKT yang ditutup pada 14 Januari, tercatat sebanyak 10 anggota dari kalangan militer tidak hadir, termasuk mantan Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Disiplin Militer, Letnan Jenderal Chen Guoqiang. Para pakar menilai hal ini menunjukkan bahwa pembersihan internal di militer PKT masih terus berlangsung.

EtIndonesia. Sidang Pleno Kelima KPKD PKT digelar pada 12 hingga 14 Januari. Komunike sidang menunjukkan bahwa jumlah anggota KPKD yang hadir adalah 120 orang, berkurang 11 orang dibandingkan tahun lalu.

Pengamat juga mencatat bahwa dari total 22 anggota KPKD yang berasal dari sistem militer, tahun lalu semuanya hadir, namun tahun ini 10 orang absen—hampir setengahnya. Mereka terdiri dari 8 letnan jenderal dan 2 mayor jenderal.

Para anggota militer yang absen berasal dari berbagai matra, termasuk angkatan darat, laut, udara, serta Pasukan Polisi Bersenjata. 

Di antaranya adalah mantan Wakil Sekretaris Komisi Disiplin Komisi Militer Pusat, Letnan Jenderal Chen Guoqiang; Wakil Komisaris Politik Angkatan Laut, Letnan Jenderal Leng Shaojie; serta Wakil Komisaris Politik Angkatan Laut, Letnan Jenderal Cheng Dongfang.

 “Ini menunjukkan bahwa pembersihan besar-besaran di dalam militer PKT masih terus berlangsung. Kita melihat para jenderal senior dari berbagai matra, termasuk dari Komando Teater Timur dan Selatan, satu per satu tersandung kasus. Kini yang ditangkap adalah para kroni mereka,” kata Pembawa acara Military Intelligence Bureau, Zhou Ziding. 

Pada Sidang Pleno Keempat PKT yang digelar Oktober tahun lalu, dari 42 anggota Komite Sentral yang berasal dari militer, 27 orang tidak hadir, dengan tingkat ketidakhadiran mencapai 63 persen, di mana 22 di antaranya berpangkat jenderal penuh.

 “Pembersihan besar-besaran di militer secara keseluruhan—tingkat jatuhnya dan tersingkirnya para jenderal senior—jauh melampaui bayangan dunia luar. Dilihat dari dua indikator ini saja, yakni tingkat kehadiran anggota Komite Sentral dan anggota KPKD, sudah tampak bahwa situasi internal sebenarnya jauh lebih rumit dan mungkin tak terbayangkan oleh pihak luar,” ujar penulis kolom Epoch Times, Wang He. 

Tahun lalu, pada Sidang Pleno Keempat tersebut, sembilan jenderal yang sebelumnya dipromosikan dan dipercaya oleh pemimpin PKT Xi Jinping—termasuk Wakil Ketua Komisi Militer Pusat He Weidong dan Kepala Departemen Kerja Politik Komisi Militer Pusat Miao Hua—jatuh secara bersamaan.

Di antara 10 orang yang absen dalam sidang pleno kali ini, mantan Kepala Auditor Komisi Militer Pusat, Mayor Jenderal Sun Bin, telah dicopot dari jabatannya sebagai anggota Kongres Rakyat Nasional.

Wang He menambahkan:  “Ini menunjukkan bahwa karena telah terjadi perubahan dalam kekuasaan tertinggi militer PKT, para pemegang kekuasaan koersif sebelumnya pasti akan diganti. Dan mereka yang memegang ‘pisau kekuasaan’ itu kemungkinan besar akan menghadapi akhir yang sangat tragis. Pertarungan internal di militer ini sangat kejam—barangkali yang paling brutal sejak PKT berkuasa.”

Dilaporkan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Li Yun dan Qiu Yue.

Pabrik Lateks

EtIndonesia. Sekelompok wisatawan sedang mengunjungi sebuah pabrik lateks. Ketika mereka melewati bagian produksi dot bayi, terdengar suara mesin yang mula-mula berbunyi “sss…”, lalu disusul “pop”, dan sebuah dot bayi pun jatuh keluar.

Seorang teknisi di samping mereka menjelaskan: “Ketika mesin mengeluarkan suara ‘sss…’, itu berarti mesin sedang menyuntikkan lateks ke dalam cetakan dot. Sedangkan suara ‘pop’ di akhir proses adalah saat mesin melubangi dot tersebut.”

Kemudian rombongan melanjutkan kunjungan ke bagian produksi kondom. Di sana mereka kembali mendengar suara “sss…”, hanya saja bedanya, setelah beberapa kali suara “sss…”, barulah terdengar satu kali “pop”.

Para pengunjung pun penasaran dan bertanya: “Kalau suara ‘sss…’ kami mengerti. Tapi kenapa dalam pembuatan kondom juga ada suara ‘pop’?”

Teknisi itu menjelaskan, “Karena mesin akan melubangi satu dari setiap lima kondom yang diproduksi.”

Para wisatawan terkejut dan bertanya lagi, “Hah?! Bukankah cara seperti ini justru merugikan produk kondom kalian?”

Teknisi itu tersenyum lalu menjawab, “Memang, ini tidak menguntungkan bagi penjualan kondom. Tapi justru sangat menguntungkan bagi penjualan dot bayi.”

Renungan Redaksi

Agar sebuah perusahaan bisa bertahan dan berkembang dalam jangka panjang, inovasi adalah keharusan. Kuncinya terletak pada bagaimana memanfaatkan sumber daya yang sudah ada untuk menciptakan sumber daya baru—dan bagaimana sumber daya baru itu kembali memberi nilai tambah pada yang lama.

Seperti pabrik lateks ini: mereka memanfaatkan tingkat cacat produksi kondom untuk mendorong penjualan dot dan botol bayi.Dan ketika bayi-bayi itu tumbuh dewasa, mereka pada akhirnya akan kembali menjadi pasar bagi produk kondom.

Benar juga pepatah itu: “Tak ada pedagang tanpa kelicikan.”(jhn/yn)

AS Peringatkan Maskapai Penerbangan dengan Potensi Operasi Militer di Meksiko, Kolombia, dan Wilayah Lainnya

EtIndonesia. Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) telah memperingatkan maskapai penerbangan yang terbang di atas Amerika Tengah dan sebagian Amerika Selatan tentang potensi aktivitas militer dan gangguan sinyal GPS, lapor Reuters.

FAA mengatakan peringatan bagi pilot mencakup wilayah udara di atas Meksiko, negara-negara Amerika Tengah lainnya, Ekuador, Kolombia, dan sebagian Samudra Pasifik bagian timur. Peringatan tersebut mulai berlaku pada 16 Januari dan akan tetap berlaku selama 60 hari ke depan.

Dalam peringatannya, FAA menekankan bahwa potensi aktivitas militer dan gangguan navigasi menimbulkan risiko bagi penerbangan sipil di semua ketinggian – dari lepas landas hingga mendarat. Maskapai penerbangan disarankan untuk memantau pembaruan dengan cermat dan memperhitungkan kemungkinan penyimpangan rute.

Peringatan FAA ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan keamanan regional. AS sebelumnya mengerahkan pasukan militer di Karibia selatan, melakukan operasi terhadap Venezuela, dan menahan Presiden Nicolás Maduro, meningkatkan gesekan dengan para pemimpin regional.

Presiden AS, Donald Trump juga baru-baru ini mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer baru, termasuk operasi terhadap kartel narkoba di Meksiko.

Mengenai potensi operasi AS di Kolombia, Trump mengatakan: “Saya menyukainya.” Dia juga mengancam Kuba, mendesak negara itu untuk membuat kesepakatan sebelum terlambat.

Para analis mencatat bahwa peringatan seperti itu dapat berdampak pada penerbangan internasional, memaksa maskapai penerbangan untuk mengubah rute atau menghindari area wilayah udara tertentu untuk memastikan keselamatan penumpang. (jhn/yn)

Laporan Reporter Epoch Times Timur Tengah: Ketegangan Tetap Tinggi di Jalanan Iran

EtIndonesia. Sebagai akibat rezim Iran memutus jaringan internet, para demonstran hanya dapat mengandalkan Starlink milik Elon Musk untuk mengirimkan keluar rekaman konfrontasi mereka dengan pihak berwenang, agar dunia luar mengetahui kondisi nyata di lapangan.

Reporter Timur Tengah The Epoch Times, Mahi Aryani, memaparkan situasi yang ia ketahui. Berikut laporannya.

“Saksi mata memberi tahu kami bahwa pengamanan di jalan-jalan sangat ketat dan suasananya masih sangat menegangkan,” katanya. 

Mahi Aryani mengatakan, di sepanjang jalan di Teheran terlihat kantong-kantong jenazah yang tersusun rapi. Keluarga yang dilanda kecemasan tengah meratapi orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia.

 “Saksi mata mengatakan, sayangnya pada malam hari mereka melihat banyak mayat tergeletak di tanah. Bahkan pada siang hari ketika keluar rumah, masih terlihat bercak darah di jalanan,” katanya. 

Keluarga para demonstran yang tewas dibunuh oleh pasukan keamanan sedang mengumpulkan jenazah sambil meneriakkan slogan ‘Turunkan Khamenei’.

Mahi Aryani:  “Jadi mereka benar-benar menembak untuk membunuh. Tujuan mereka bukan sekadar menghentikan protes atau membubarkan massa. Mereka memang berniat membunuh warga sipil.”

Video yang beredar sebelum pemutusan internet menunjukkan militer Iran bersenjata menyerbu rumah sakit. Menurut laporan, mereka menembakkan gas air mata, mendobrak pintu, menyeret pasien, serta memukuli tenaga medis dan pasien dengan pentungan.

Saat ini, pemutusan internet telah berlangsung lebih dari satu minggu. Sistem Starlink milik Elon Musk telah dibuka secara gratis untuk rakyat Iran, namun hanya dapat digunakan jika memiliki perangkat penerima.

Mahi Aryani:  “Ada laporan yang menyebutkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebenarnya membantu rezim Iran mengganggu sinyal komunikasi Starlink, sehingga warga tidak dapat menggunakannya.”

Sebuah video menunjukkan pasukan Iran menembaki para demonstran. Ada juga laporan yang menyebutkan bahwa rezim Iran bahkan memungut biaya untuk setiap peluru yang ditembakkan.

Seorang pria dalam video mengatakan bahwa ia baru-baru ini melarikan diri dari Iran dan memohon kepada Presiden Donald Trump agar membantu rakyat yang dianiaya di sana.

Video lain memperlihatkan jalan-jalan di Teheran dipenuhi noda darah.

Dalam sebuah poster yang ditempel oleh para demonstran, terlihat foto Presiden AS Donald Trump dengan tulisan di bawahnya:  “Rakyat Iran sedang menunggu Anda.”

Mahi Aryani:  “Sebagian besar rakyat berharap dan meminta Amerika Serikat memberikan bantuan dan dukungan. Tentu bukan dengan mengirim pasukan, tetapi setidaknya menyerang pusat-pusat kekuasaan dan bangunan rezim, yang mungkin dapat mengubah situasi menjadi lebih menguntungkan bagi rakyat Iran.”

Pada Kamis (15 Januari), berdasarkan mosi yang diajukan Amerika Serikat, Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan untuk membahas dan melaporkan situasi di Iran. (Hui)

Laporan oleh reporter NTD Television Daniel Monahan dan Chi Xiao, Washington, AS.

Sumber Orang Dalam : Ketika Ketegangan Meningkat di Iran, Partai Komunis Tiongkok Siaga Tinggi Secara Internal, Mengecilkan Risiko dari Luar

Di tengah terus memanasnya situasi di Iran, banyak negara telah mengeluarkan peringatan terkait keamanan personel dan risiko pelayaran. Menurut sumber informasi orang dalam, pimpinan tinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini telah melakukan penilaian internal terhadap situasi keamanan terkait

EtIndonesia. Menurut laporan eksklusif The Epoch Times, sumber dari orang dalam tersebut mengungkapkan bahwa fokus penilaian internal PKT mencakup beberapa aspek, antara lain: apakah PKT akan terus membeli minyak dari Iran, apakah proyek-proyek investasi Tiongkok di Iran dapat terus beroperasi, serta kelayakan rencana evakuasi personel dan penanganan proyek dalam kondisi darurat.

Sistem diplomatik PKT juga telah meminta kedutaan dan konsulat PKT di sejumlah negara Timur Tengah untuk meningkatkan frekuensi pelaporan informasi keamanan, sekaligus mempelajari rencana konkret untuk evakuasi darurat diplomat PKT di Iran serta manajer perusahaan Tiongkok yang beroperasi di sana.

Sumber lain menyebutkan bahwa sejumlah lembaga Tiongkok yang memiliki bisnis terkait Iran baru-baru ini diminta untuk menilai ulang risiko keselamatan personel di luar negeri.

Sebagian diplomat dan personel yang ditugaskan di Iran telah menerima pemberitahuan dari Kementerian Luar Negeri dan kedutaan agar bersiap untuk evakuasi. Bahkan, beberapa proyek yang didanai Tiongkok telah ditangguhkan sementara.

Para analis menunjukkan bahwa di satu sisi, otoritas terkait mendorong penyusunan rencana darurat dan penyiapan sumber daya; di sisi lain, mereka dengan sengaja menghindari penilaian terbuka terhadap situasi Iran, guna mencegah dampak negatif terhadap tata letak diplomatik dan kerja sama energi PKT di Timur Tengah. 

Pendekatan “meningkatkan kewaspadaan secara internal, tetap rendah hati ke luar” ini merupakan praktik yang selama ini konsisten digunakan PKT dalam menangani isu risiko keamanan luar negeri.

Siaga Tinggi di Dalam Negeri, Hati-hati ke Luar

Yang Yongming, nama samaran yang digunakan oleh seseorang yang memahami seluk-beluk internal dinas diplomatik Tiongkok, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penilaian internal Beijing saat ini memandang situasi Iran sebagai “risiko yang terus meningkat, namun belum layak diklasifikasikan secara terbuka.”

“Di satu sisi, instansi-instansi terkait telah memasuki status kewaspadaan yang lebih tinggi, mempercepat perencanaan darurat serta koordinasi sumber daya,” ujar Yang. “Namun di sisi lain, secara eksternal terdapat upaya yang disengaja untuk menghindari peringatan risiko secara terang-terangan, karena hal itu dapat memengaruhi posisi diplomatik Tiongkok, kerja sama energi, maupun hubungan politik yang sudah ada di Timur Tengah.”

Yang menambahkan bahwa pesan resmi pemerintah secara konsisten meremehkan tingkat keseriusan situasi, serta menghindari sorotan terhadap tekanan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia juga mengatakan bahwa PKT jarang mengomentari secara terbuka pengerahan militer AS di kawasan tersebut—perubahan yang oleh banyak pengamat internasional ditafsirkan sebagai persiapan menuju potensi konflik.

Sikap hati-hati di ruang publik itu terlihat jelas pada 13 Januari, ketika seorang jurnalis asing menanyakan kepada Kementerian Luar Negeri Tiongkok apakah pemerintah akan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga Tiongkok yang hendak menuju Iran, setelah sejumlah negara mendesak warganya untuk meninggalkan negara tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, tidak memberikan jawaban langsung. Ia hanya menyatakan bahwa Tiongkok “memantau perkembangan dengan saksama dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi keselamatan warga negara Tiongkok,” tanpa menjelaskan apakah imbauan perjalanan yang ada akan diubah. (Hui)

Hanya Tersisa Cadangan Bahan Bakar untuk 20 Hari di Ukraina Saat Serangan Rusia Berlanjut

EtIndonesia. Ukraina memiliki cadangan bahan bakar untuk lebih dari 20 hari, kata Menteri Energi Denys Shmyhal kepada parlemen pada hari Jumat (16/1), menggambarkan situasi energi secara keseluruhan di negara itu sangat sulit setelah serangkaian serangan drone dan rudal Rusia terhadap infrastruktur listrik.

Shmyhal, yang menjabat awal pekan ini, mengatakan situasi yang paling menantang tetap berada di ibu kota Kyiv, wilayah Dnipropetrovsk, Kharkiv dan Odesa, dan di kota-kota dekat garis depan, di mana ribuan rumah telah tanpa listrik dan pemanas selama berhari-hari dalam suhu di bawah nol derajat.

“Di beberapa kota dan wilayah, persiapan musim dingin telah gagal. Selama dua hari terakhir menjabat, saya telah melihat bahwa banyak hal jelas-jelas terhenti,” katanya.

“Tidak ada satu pun pembangkit listrik di Ukraina yang belum diserang musuh.”

Pada hari Rabu, Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan dia akan menyatakan keadaan darurat di sektor energi untuk mengejar ketertinggalan dan mengatasi masalah gangguan pasokan listrik setelah serangan Rusia yang berkelanjutan.

Shmyhal, yang sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan, memerintahkan impor listrik darurat. Dia mengatakan bahwa Ukraina perlu memasang kapasitas pembangkit listrik sebesar 2,2-2,7 GW pada akhir tahun 2026 untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.(yn)

Seorang Pria berusia 48 Tahun dengan Golongan Darah Rh-Negatif Meninggal Dunia, Mendonorkan Tiga organnya yang Menarik Perhatian

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang pria berusia 48 tahun di daratan Tiongkok bernama Li Changbo meninggal dunia. Setelah itu, kabar bahwa keluarganya menyumbangkan beberapa organ tubuhnya menarik perhatian publik. Dilaporkan bahwa Li Changbo memiliki golongan darah langka yang dikenal sebagai “darah panda”.

Menurut laporan media resmi Puyang, Provinsi Henan, pada 14 Januari, Li Changbo—seorang petani biasa dari Kabupaten Taian, Kota Puyang (Kecamatan Wuba)—meninggal dunia pada 13 Januari di usia 48 tahun akibat “gagal napas”.

“Dengan disaksikan oleh koordinator donasi organ tubuh dari Palang Merah kota,” keluarga Li Changbo menyumbangkan hati, dua ginjal, dan kornea matanya, yang kemudian diberikan kepada lima orang pasien.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa sejak kecil ia memiliki kondisi fisik yang baik, pernah berlatih barongsai, bekerja sebagai sopir dan petugas keamanan. Sebagai pemilik golongan darah langka “darah panda”, ia secara konsisten mendonorkan darah secara sukarela setiap tahun.

Namun, laporan itu tidak menjelaskan penyakit apa yang menyebabkan Li Changbo meninggal dunia.

Kabar mengenai donasi organ Li Changbo pun memicu perhatian dan keraguan warganet di media sosial.

Sejumlah netizen di Tiongkok berkomentar:

  • “Sudah gagal (organ), tidak bisa hidup lagi, tapi lima organ dalam masih sehat.”
  • “Gagal pernapasan, apakah itu tidak mempengaruhi jantung, hati, dan paru-paru? Usia 48 tahun, lima organ semuanya sehat dan memenuhi syarat donasi, ini terlalu ajaib.”
  • “Kalau sudah melibatkan Palang Merah, pasti tidak ada hal baik.”
  • “Masih ada yang percaya omongan mereka?”
  • “Sekarang mulai menyasar para petani.”

Warganet lainnya bertanya:

  • “Kalau organ-organnya semua baik, sebenarnya dia sakit apa?”
  • “Setelah orang meninggal, organ juga kehilangan fungsi. Organ hanya bisa digunakan jika diambil saat orang masih hidup.”
  • “Orangnya seharusnya belum benar-benar meninggal. Kalau sudah mati, organ tidak akan berguna.”

Komentar lain menyebut:

  • “Organ-organ ini pasti diberikan kepada orang kaya dan berkuasa, rakyat biasa disingkirkan.”
  • “Larangkan transplantasi organ. Semua yang memperjualbelikan organ harus dihukum mati.”

Sebagian warganet juga menuliskan pengalaman pribadi:

  • “Saya menentang donasi. Hanya saja tidak bisa bergerak dan tidak bisa bicara, tetapi kesadaran masih ada dan bisa merasakan sakit. Bisa mendengar saat organ dipotong, sungguh. Ayah saya tahun lalu sempat berhenti bernapas beberapa menit. Saat kami memakaikan baju, saya berkata, ‘Ayah, saya anak perempuan bungsumu. Saya akan memakaikan baju untuk Ayah.’ Saya melihat ayah saya meneteskan air mata, dan tangannya benar-benar menjadi lebih lemas sehingga bajunya bisa dipakaikan.”
  • “Ayah saya berusia 57 tahun. Pada Oktober 2024, ia jatuh di lokasi proyek di Changsha dan kepalanya terbentur bagian belakang hingga tidak sadarkan diri, lalu dilarikan ke rumah sakit. Selama beberapa hari di rumah sakit, ia tidak pernah sadar. Rumah sakit pada dasarnya menetapkan bahwa ia sudah mati otak, tetapi jantungnya masih berdetak dengan bantuan alat bantu napas. Karena ayah saya diketahui memiliki darah panda dan struktur tubuh yang relatif khusus, sejak hari ketiga rumah sakit terus-menerus membujuk kami agar menyumbangkan jenazahnya, dengan alasan bisa digunakan untuk penelitian ilmiah. Mereka bahkan bersedia membayar mahal untuk membeli jenazah ayah saya. Ibu saya menolak dengan tegas.”
  • “Tiga tahun lalu, seorang teman menjalani transplantasi hati di Shanghai. Dokter yang menangani berkata, siapkan biaya, kapan saja bisa dilakukan. Ia baru dirawat sehari dan keesokan harinya langsung menjalani operasi. Saat itu rasanya sangat mengerikan.”
  • “Jangan ada yang mendonorkan, untuk mencegah mereka sengaja tidak menyelamatkanmu agar kamu meninggal dan organmu bisa diambil. Orang-orang ini sangat kejam, kalau belum mengalaminya sendiri, kamu tidak akan mengerti.”

Reporter/Editor Li Enzhen – NTD

Senator AS Ted Cruz: Amerika Serikat Berdiri Bahu-Membahu dengan Rakyat Iran, Tirani Pasti Tumbang

EIndonesia. Ketika aksi protes di Iran memasuki hari ke-19 pada 15 Januari 2026, otoritas Iran pada Kamis menyatakan bahwa para demonstran yang ditangkap tidak akan dieksekusi. Presiden Donald Trump mengatakan bahwa hal ini merupakan “kabar baik. Semoga ini bisa terus berlanjut!”

Pada hari Kamis, Iran juga kembali membuka wilayah udaranya. Namun, terkait apakah akan diambil tindakan militer terhadap penindasan mematikan yang dilakukan rezim tersebut, Presiden Trump masih belum memberikan pernyataan yang jelas, sehingga memicu berbagai spekulasi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dalam wawancara terbarunya dengan media mengungkapkan bahwa para penguasa Iran sedang memindahkan dana dalam jumlah besar ke luar negeri.

Amerika Serikat Dukung Rakyat Iran di Dewan Keamanan PBB

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Mike Waltz pada 15 Januari menyatakan di Dewan Keamanan PBB bahwa Amerika Serikat berdiri bersama “rakyat Iran yang berani”. Ia menegaskan bahwa Presiden Trump “telah dengan jelas menyatakan bahwa demi menghentikan pembantaian ini, semua opsi ada di atas meja”.

Dilaporkan bahwa otoritas Iran telah menyebabkan ribuan orang tewas dalam penindasan terhadap aksi protes yang menentang pemerintahan teokrasi. Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB yang diminta oleh Amerika Serikat, Waltz mengatakan: “Presiden Trump adalah seorang pemimpin yang bertindak nyata, bukan seperti yang sering kita lihat di PBB—hanya berbicara tanpa akhir. Ia telah dengan jelas menyatakan bahwa demi menghentikan pembantaian ini, semua opsi ada di atas meja.”

Duta Besar Denmark untuk PBB Christina Markus Lassen menyatakan bahwa berulang kali dunia mendengar seruan rakyat Iran yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, namun para pemimpin di Teheran selama ini mengabaikan suara tersebut. Ia menegaskan bahwa kini pemerintah Iran seharusnya mulai mendengarkan dan menanggapi kehendak rakyat secara damai, serta mendesak mereka untuk segera bertindak.

Sutradara dan Aktor Terkenal Ditembak Tewas dalam Aksi Protes di Teheran

Menurut laporan media hiburan Amerika Deadline pada 13 Januari, menanggapi situasi Iran yang terus memburuk, Asosiasi Pembuat Film Independen Iran (IIFMA) mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa tindakan brutal otoritas Islam Iran sangat mengejutkan. Disebutkan bahwa dalam hampir tiga hari setelah internet diputus, lebih dari 2.000 warga sipil tak bersalah telah dibantai.

Pernyataan itu mengungkapkan bahwa pada 9 Januari, sutradara dan produser film ternama Iran berusia 39 tahun Javad Ganji, serta aktor dan sutradara teater Ahmad Abbasi, ditembak mati secara langsung oleh pasukan keamanan di lokasi aksi protes di Teheran.

Pernyataan tersebut menyerukan komunitas internasional untuk segera bertindak, dengan menyebut peristiwa ini sebagai “tragedi Tiananmen yang lain, dengan skala yang lebih besar”, serta mendesak dunia agar menanggapi seruan bantuan rakyat Iran demi mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.

Reporter Epoch Times Timur Tengah: Situasi Jalanan Iran Masih Sangat Tegang

Setelah pemerintah memutus akses internet, para demonstran Iran hanya dapat mengandalkan jaringan satelit Starlink milik Elon Musk untuk menyebarkan gambaran konfrontasi mereka dengan aparat, agar dunia luar mengetahui kondisi nyata di lapangan. Reporter Timur Tengah Epoch Times, Mahi Aryani, menyampaikan bahwa situasi di jalan-jalan Iran masih sangat tegang.

Cruz: Amerika Akan Berdiri Bahu-Membahu dengan Rakyat Iran, Tirani Akan Tumbang

Di tengah spekulasi internasional mengenai langkah Amerika Serikat terhadap Iran, Senator Partai Republik AS Ted Cruz pada sore hari 15 Januari mengunggah sebuah video penuh semangat di akun X miliknya. Ia memuji keberanian rakyat Iran dan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan berdiri bersama mereka.

Ia berkata: “Saya ingin berbicara langsung kepada rakyat Iran yang bangkit, menunjukkan keberanian luar biasa, melawan rezim diktator, dan mengejar kebebasan. Terima kasih atas keberanian kalian. Kalian harus tahu bahwa Amerika Serikat berdiri bersama kalian. Amerika mendukung perjuangan kalian, dan Presiden Trump akan mendukung kalian. Kami mengenang kalian dalam doa-doa kami. Kami berdiri bahu-membahu dengan kalian, dan para tiran ini pada akhirnya akan tumbang oleh keberanian luar biasa kalian. Semoga Tuhan memberkati kalian.”

Radio Militer Israel: Trump Hanya Menunda, Bukan Membatalkan

Radio militer di bawah Kementerian Pertahanan Israel, Galei Tzahal, dalam laporan pada 16 Januari 2026 menyebutkan bahwa sejumlah pejabat keamanan senior Israel menilai Presiden Trump hanya menunda, bukan membatalkan, niat untuk melakukan serangan militer terhadap Iran.

Poin-poin utama dari penilaian tersebut mencakup: penundaan ini dipandang sebagai penyesuaian taktis, bukan perubahan strategis; lebih sebagai upaya untuk mendapatkan waktu guna menyelesaikan koordinasi akhir, bukan pembalikan kebijakan secara mendasar; dan pandangan arus utama di Yerusalem adalah bahwa opsi militer tetap jelas ada dan belum dikesampingkan.

Penilaian ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, sementara konsultasi militer antara Amerika Serikat dan Israel terus berlangsung, dan Iran juga terus melanjutkan aktivitas terkait rudal balistik serta nuklir.

Era Perubahan Besar di Timur Tengah, Senator AS ke Israel: Bersatu Akan Membuat Kita Lebih Kuat

Senator Amerika Serikat Lindsey Graham menyatakan bahwa pada momen bersejarah bagi Timur Tengah, ia akan segera mengunjungi Israel untuk bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan timnya.

Dalam unggahannya di platform X, ia menulis: “Tujuan kami adalah memperkuat peluang bersejarah yang diciptakan oleh kepemimpinan luar biasa Presiden Trump, bersama-sama melawan kekuatan jahat, dan mendukung mereka yang berkorban demi kebebasan.”

Ia juga menegaskan peran penting Israel, dengan mengatakan bahwa hingga saat ini, aliansi antara Trump dan Netanyahu merupakan salah satu kemitraan paling kokoh dalam sejarah hubungan AS–Israel. Ia berharap kemitraan tersebut dapat membuahkan hasil besar dalam waktu dekat.

“Kita berada di masa yang sangat penting. Timur Tengah berada di ambang perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bersatu dan menepati komitmen kita hanya akan membuat kita semakin kuat,” ujarnya.

Departemen Luar Negeri AS: Satu Penjara Iran Masuk Daftar Sanksi

Pada 15 Januari, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat merilis siaran pers yang menjatuhkan sanksi terhadap rezim Iran sekaligus menyatakan dukungan kepada rakyat Iran yang berani.

Siaran pers tersebut menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah memasukkan penjara terkenal Fardis Prison ke dalam daftar sanksi. Penjara ini diketahui pernah melakukan perlakuan kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat terhadap tahanan perempuan.

Departemen Keuangan AS Jatuhkan Sanksi kepada Pejabat Keamanan Iran


Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat pasukan keamanan Iran, termasuk Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani. 

Selain itu, 18 individu dan entitas yang terkait dengan jaringan “perbankan bayangan” Iran juga dimasukkan ke dalam daftar sanksi. Jaringan tersebut diduga terlibat dalam pencucian uang dan penggelapan hasil penjualan minyak serta produk petrokimia Iran.

Langkah ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan lebih lanjut Memorandum Keamanan Nasional Presiden Nomor 2 tahun 2025.

Dalam pernyataannya ditegaskan: “Amerika Serikat berdiri bersama rakyat Iran yang sedang memprotes demi memperjuangkan hak-hak alami mereka. Rezim Iran tidak hanya gagal berinvestasi demi kesejahteraan rakyatnya sendiri, tetapi juga terus mendanai aktivitas jahat yang mengganggu stabilitas di berbagai belahan dunia. Kami akan terus memutus hubungan rezim Iran dengan jaringan keuangan dan sistem perbankan global untuk mencegah mereka terus menindas rakyat Iran.”

Putri Seorang Komandan: Hidup dalam Ketakutan dan Rasa Bersalah

ManotoNews membagikan di platform X rekaman panggilan telepon dari putri seorang komandan yang berada di dalam aparat penindasan Republik Islam Iran. Dalam panggilan tersebut, perempuan itu menceritakan bagaimana ia hidup dalam keluarga seperti itu, menyebut adanya paspor palsu, dolar yang disembunyikan, kekerasan seksual, serta perintah pembunuhan. Ia mengatakan bahwa dirinya selama ini hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah.

Menteri Luar Negeri Kanada: Warga Negara Kanada Dibunuh oleh Rezim Iran

Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menyatakan bahwa seorang warga negara Kanada telah dibunuh oleh pasukan keamanan Islam Iran.

Sebelumnya, Anand menulis di platform X:  “Saya baru saja mendapat informasi bahwa seorang warga negara Kanada meninggal di Iran di tangan otoritas Iran. Pejabat konsuler kami telah menghubungi keluarga korban di Kanada. Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada mereka.”

Ia menegaskan bahwa Kanada mengecam kekerasan yang dilakukan oleh penguasa Iran. Anand menulis:  “Rakyat Iran menggelar aksi protes damai untuk menyuarakan aspirasi mereka di tengah penindasan rezim Iran dan pelanggaran HAM yang terus berlanjut. Namun hal ini justru berujung pada penguasa yang secara terang-terangan mengabaikan nilai kehidupan manusia. Kekerasan ini harus dihentikan. Kanada mengecam tindakan kekerasan rezim Iran dan menyerukan agar segera dihentikan.”

Graham: Kejatuhan Rezim Iran Tinggal Menunggu Waktu
Senator AS Lindsey Graham mengunggah sebuah video di platform X dan mengatakan:
“Waktu yang akan membuktikan. Semoga ini bukan sekadar optimisme, tetapi kejatuhan rezim Iran tinggal menunggu waktu.”

Menteri Keuangan AS: Sanksi Sedang Diterapkan terhadap Para Pemimpin Utama Iran

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengeluarkan pernyataan:  “Amerika Serikat dengan tegas mendukung tuntutan rakyat Iran untuk kebebasan dan keadilan.”

Ia mengatakan:  “Atas instruksi Presiden Trump, Departemen Keuangan sedang menjatuhkan sanksi terhadap para pemimpin utama Iran yang terlibat dalam penindasan brutal terhadap rakyat Iran. Departemen Keuangan akan mengerahkan semua sarana yang tersedia.”

Analis Independen: Tanpa Bom, Harga Minyak Anjlok — Washington Menang

Analis independen Shanaka Anslem Perera memuji keputusan Presiden Trump. Ia menyatakan bahwa melalui pendekatan “menahan diri”, Presiden Trump telah menyebabkan harga minyak mentah turun 2,5%, dan Washington menjadi pihak yang menang.

Menurutnya, ekonomi Iran sudah sangat rapuh. Penurunan harga minyak akan mengurangi pendapatan fiskal Iran sebesar 10–15%. Penurunan pendapatan ini akan memperburuk krisis fiskal Iran dan mempercepat tekanan terhadap rezim yang sudah membuat rakyatnya hidup sengsara.

Ia menulis:  “Trump tidak membutuhkan bom. Penurunan harga saja sudah cukup untuk menyelesaikan masalah.”

Pada saat yang sama, ia menilai bahwa pengenaan tarif 25% oleh AS terhadap mitra dagang Iran telah melengkapi keseluruhan strategi. Tiongkok dan India diperkirakan menghadapi kerugian sebesar 70 miliar dolar AS. Pencekikan ekonomi ini dilakukan tanpa perlu menggunakan senjata nuklir.

Ia memuji “seni bertransaksi” Presiden Trump dan menulis:  “Bom tidak akan dijatuhkan, bukan karena Washington lemah, melainkan karena Washington sudah menang.”

Anggota Parlemen Swedia Dukung Rakyat Iran dan Putra Mahkota Pahlavi

Akun komunikasi Putra Mahkota Iran di platform X mengunggah gambar yang menunjukkan bahwa 12 anggota Parlemen Swedia secara bersama-sama menyatakan dukungan mereka terhadap revolusi nasional rakyat Iran dan Putra Mahkota Reza Pahlavi.

Analis Militer: Tanpa Keyakinan Penuh, Trump Tidak Akan Melancarkan Serangan Udara

Akun “Mossad Commentary” di platform X mengutip analisis analis militer Walla, Amir Bohbot, yang menyebutkan bahwa Presiden Trump secara pribadi turun tangan pada malam sebelumnya dan menghentikan rencana serangan udara AS terhadap Iran.

Saat ini, wilayah udara Iran telah dibuka kembali. Pesawat yang lepas landas darurat dari Pangkalan Udara Al Udeid diperintahkan untuk kembali dan tetap siaga. Dilaporkan bahwa misi tersebut dibatalkan hanya beberapa menit sebelum eksekusi.

Disebutkan bahwa Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa ia hanya akan mengizinkan operasi yang dapat memberikan pukulan menentukan terhadap rezim Iran. Namun, para pejabat tidak dapat menjamin bahwa rezim Iran akan runtuh setelah serangan udara, dan memperingatkan bahwa AS mungkin tidak memiliki sumber daya regional yang cukup untuk menghadapi pembalasan besar-besaran dari Iran.

Kesimpulannya: jika tidak ada kepastian, maka serangan udara tidak akan dilancarkan. Otoritas Iran masih berada di ambang keruntuhan dan belum benar-benar keluar dari bahaya.

Penguasa Iran Memindahkan Dana Besar ke Luar Negeri

Menteri Keuangan AS Bessent, dalam wawancara dengan Newsmax, mengungkapkan bahwa para penguasa Iran sedang memindahkan dana dalam jumlah besar ke luar negeri.

Ia mengatakan:  “Kami sekarang melihat tikus-tikus melompat dari kapal yang sedang tenggelam, karena kami melihat jutaan hingga puluhan juta dolar diam-diam dipindahkan keluar negeri oleh para pemimpin Iran. Mereka meninggalkan kapal yang tenggelam ini, dan dana tersebut mengalir ke bank dan lembaga keuangan di seluruh dunia.”

Pengacara Berspekulasi tentang Niat Sebenarnya Presiden Trump

Pada 14 Januari malam, sejumlah pernyataan Presiden AS membuat dunia luar kebingungan dan sulit memahami maksud sebenarnya Presiden Trump.

Pada 15 Januari, pengacara Amerika-Israel Marc Zell, yang juga menjabat sebagai Ketua Cabang Partai Republik Israel Luar Negeri dan Wakil Presiden Perusahaan Partai Republik Luar Negeri, menganalisis di platform X bahwa tindakan Presiden Trump telah memaksa rezim diktator Iran membuka semua rencana daruratnya, sehingga mereka tidak punya jalan keluar.

Ia menulis:  “Apa yang dilakukan Presiden Trump tadi malam telah mendorong sistem rezim Iran ke tepi jurang. Rezim tersebut memasuki status pertahanan yang telah mereka rencanakan sejak peristiwa bulan Juni. Karena mereka, seperti negara-negara lain, yakin bahwa serangan sedang berlangsung, mereka sepenuhnya mengekspos semua rencana darurat baru yang telah mereka latihkan, di semua tingkat.”

Ia menambahkan bahwa selama proses tersebut, Amerika Serikat dan para mitranya dengan cermat mengamati reaksi rezim Iran serta rencana darurat barunya.

Namun kini, mereka menyadari bahwa tindakan AS kali ini sama sekali berbeda dari sebelumnya. Sekarang mereka memahami bahwa ini hanyalah sebuah “tipuan”, tetapi mereka sudah tidak memiliki waktu untuk menerapkan rencana cadangan lainnya.

Zell melanjutkan:  “Kini, orang-orang Amerika sudah siap.”

Graham Kecam Pemberitaan Tidak Akurat: Presiden Trump Tegas dan Bertekad

Senator Lindsey Graham menulis di platform X bahwa beberapa judul pemberitaan saat ini menyiratkan bahwa Trump tidak berani menyerang otoritas Iran. Ia menegaskan bahwa laporan-laporan tersebut sangat tidak akurat.

Ia menulis:  “Situasi yang menuntut tindakan perlu dan tegas terhadap rezim jahat Iran sama sekali tidak berkaitan dengan kemauan atau tekad Presiden Trump.”

Ia menekankan:  “Faktanya jauh dari itu. Justru sebaliknya. Silakan terus mengikuti.”

Iran Klaim ‘Tidak Akan Mengeksekusi Demonstran’ — Trump: Kabar Baik

Pada Kamis, otoritas Iran menyatakan bahwa Erfan Soltani, pemilik toko berusia 26 tahun yang ditangkap dalam aksi protes, tidak akan menghadapi hukuman mati. Pada Kamis pagi, Presiden Trump menulis di Truth Social bahwa ini adalah “kabar baik. Semoga hal ini terus berlanjut!”

Nasib Soltani yang sebelumnya tidak pasti telah menarik perhatian internasional. Awal pekan ini, organisasi HAM menyatakan bahwa keluarga Soltani diberitahu bahwa ia akan dieksekusi pada hari Rabu.

Namun pada Kamis, lembaga peradilan Iran menyatakan bahwa ia tidak dijatuhi hukuman mati. Menurut media pemerintah, Soltani didakwa “berkolusi untuk merusak keamanan internal negara dan melakukan propaganda anti-rezim”. Tuduhan tersebut tidak mencakup hukuman mati, tetapi ia masih tetap ditahan.

Iran juga membuka kembali wilayah udaranya pada Kamis. Namun, terkait apakah akan ada tindakan militer terhadap penindasan mematikan oleh rezim tersebut, Presiden Trump masih belum memberikan pernyataan yang jelas.

Pada 15 Januari 2026, Presiden Trump menulis di Truth Social bahwa Fox News melaporkan para demonstran Iran tidak lagi akan dijatuhi hukuman mati, dan menyebutnya sebagai kabar baik.

Menurut kabar terbaru dari akun X “visegrad24”, wilayah udara Iran dibuka kembali setelah sempat ditutup selama beberapa jam. Setelah masa berlaku larangan terbang (NOTAM) berakhir, pembatasan dicabut dan pesawat kembali memasuki wilayah udara Iran. (Hui)

(Laporan terjemahan oleh reporter Jin Hong / Editor : Lin Qing)

Begini Suasana Pemimpin Oposisi Venezuela Machado Bertemu Trump

EtIndonesia. Di tengah langkah besar Amerika Serikat dalam menangani situasi Venezuela serta dimulainya pengaturan transisi kekuasaan, Presiden AS Donald Trump pada 15 Januari untuk pertama kalinya bertemu dengan pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, di Gedung Putih. Pertemuan ini bukan hanya sensitif dari sisi waktu, tetapi juga menarik perhatian luas karena atmosfernya yang istimewa.

Sekitar tengah hari, media memotret Machado berjalan memasuki Gedung Putih, di mana ia dan Trump makan siang bersama. Sekitar pukul 16.00 sore, saat meninggalkan Gedung Putih, Machado melambaikan tangan kepada para pendukung yang menunggu di luar dan memeluk mereka yang bersorak menyambutnya. Kepada media, ia mengatakan bahwa pembicaraan berlangsung sangat baik.
“Kami menaruh harapan pada Presiden Trump untuk membawa kebebasan bagi Venezuela,” ujarnya, seraya menegaskan, “Kami bisa mempercayai Presiden Trump.”

Gedung Putih juga mengkonfirmasi bahwa Trump memberikan perhatian besar pada pertemuan ini. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa Trump menilai Machado sebagai wakil berani dari banyak rakyat Venezuela dan berharap melalui pertemuan ini dapat memahami situasi nyata di negara tersebut secara lebih mendalam.

Namun, Gedung Putih juga mengakui bahwa penilaian Trump terhadap realitas politik dalam negeri Venezuela tetap cenderung “pragmatis”, dan dalam jangka pendek fokus utama masih akan berada pada pengoperasian pemerintahan transisi.

Saat ini, Venezuela dikelola oleh pemerintahan sementara. Pihak AS menyatakan bahwa selama periode ini kedua belah pihak tetap menjaga komunikasi erat, bahkan telah memfasilitasi kerja sama energi senilai ratusan juta dolar AS, serta membebaskan sebagian orang yang sebelumnya ditahan. Apakah perkembangan ini benar-benar dapat membawa titik balik bagi situasi Venezuela, masih terus diamati oleh dunia luar.

Dalam pertemuan tersebut, juga muncul sebuah insiden yang cukup menyita perhatian. BBC melaporkan bahwa Machado kemudian mengungkapkan, dalam pembicaraan pribadi di Gedung Putih, ia menyerahkan medali Hadiah Nobel Perdamaian yang ia peroleh kepada Trump, seraya menyatakan bahwa hal itu merupakan “pengakuan atas kontribusi uniknya dalam membela kebebasan kami.” 

Namun, ia tidak menjelaskan apakah Trump secara resmi menerima medali tersebut. Selain itu, Komite Nobel menyatakan bahwa penghargaan tersebut tidak dapat dipindahtangankan.

Media asing juga mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama kunjungan Machado kali ini adalah untuk meyakinkan Trump agar menilai kembali pengaruh dirinya dan kubu oposisi di dalam negeri, serta untuk mendapatkan dukungan Amerika Serikat yang lebih tegas. 

Ia juga memahami bahwa mendorong perubahan menyeluruh dalam waktu singkat tidaklah realistis, sehingga berharap dapat memulai langkah awal melalui pengaturan transisi, kerja sama energi, dan isu-isu kemanusiaan. (Hui)

Mantan Pemimpin Korea Selatan Terancam Penjara, Detail Kasus Terungkap

EtIndonesia. Pengadilan Korea Selatan sedang bersiap untuk mengumumkan putusan dalam salah satu kasus kunci terhadap mantan Presiden Yoon Suk Yeol, terkait upaya untuk menghalangi penahanannya dan tindakannya selama krisis darurat militer tahun 2024, menurut Yonhap.

Pada hari Jumat, Pengadilan Distrik Pusat Seoul akan menyampaikan putusannya atas dakwaan terhadap mantan presiden Korea Selatan tersebut.

Kasus ini menyangkut tuduhan menghalangi penyelidikan setelah upaya Yoon untuk memberlakukan darurat militer pada tahun 2024.

Sidang dijadwalkan dimulai pukul 14 : 00 waktu setempat dan akan disiarkan langsung setelah mendapat persetujuan dari jaringan televisi.

Posisi Jaksa Penuntut

Tim jaksa penuntut khusus menuntut hukuman penjara 10 tahun.

Dakwaan menyatakan bahwa mantan presiden tersebut melakukan kejahatan serius, secara efektif menggunakan lembaga negara untuk menyembunyikan dan membenarkan tindakannya.

Yoon dituduh memerintahkan Dinas Keamanan Presiden untuk menghalangi pelaksanaan surat perintah penangkapannya, melanggar hak sembilan anggota kabinet yang tidak diundang ke pertemuan darurat militer, dan menyusun—kemudian menghancurkan—proklamasi yang direvisi setelah dekrit tersebut dibatalkan.

Tuduhan tambahan

Mantan presiden itu juga menghadapi tuduhan mengeluarkan siaran pers dengan informasi palsu, menghapus data dari telepon aman komandan militer, dan memalsukan dokumen resmi.

Secara keseluruhan, jaksa penuntut umum menuntut hukuman 2 hingga 5 tahun penjara untuk setiap dakwaan.

Konsekuensi yang mungkin terjadi

Putusan pengadilan dalam kasus ini diperkirakan akan memengaruhi hasil dari tuduhan yang lebih serius terkait dugaan kepemimpinan Yoon dalam upaya kudeta. Sidang untuk kasus tersebut dijadwalkan pada 19 Februari, dan jaksa penuntut umum sebelumnya telah menuntut hukuman mati untuk Yoon.

Konteks Sejarah

Secara keseluruhan, mantan presiden tersebut menghadapi delapan kasus yang sedang berlangsung, termasuk tuduhan terkait darurat militer, korupsi, dan kematian seorang marinir pada tahun 2023.

Ini baru ketiga kalinya dalam sejarah Korea Selatan persidangan mantan kepala negara disiarkan langsung.

Secara terpisah, perwakilan dari Korea Selatan dan Rusia mengadakan konsultasi pribadi di Moskow yang berfokus pada program nuklir Korea Utara dan isu-isu keamanan regional saat ini. Menurut sumber, seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Korea Selatan yang bertanggung jawab atas portofolio nuklir Korea Utara mengunjungi Rusia dan bertemu dengan perwakilan khusus Rusia mengenai topik tersebut.

Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan, Wi Sung-lak, menyarankan bahwa Seoul mungkin perlu menegosiasikan perjanjian bilateral terpisah dengan AS untuk secara legal mengamankan opsi pengembangan kapal selam bertenaga nuklir untuk pertahanan negaranya sendiri.(yn)

32 Orang Tewas dalam Kecelakaan Kereta Api Cepat di Thailand, Inisiatif “Belt and Road” PKT Menyebabkan Bencana

Pada 14 Januari 2026, sebuah kecelakaan transportasi besar terjadi di wilayah timur laut Thailand. Sebuah crane (alat berat derek) yang sedang beroperasi di jalur layang tiba-tiba roboh dan tepat menimpa sebuah kereta yang membawa lebih dari 190 penumpang, menyebabkan gerbong terpelintir parah, terbelah dua, dan terbakar. 

Hingga saat ini, jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 32 orang, sementara lebih dari 60 orang lainnya luka-luka. Proyek tempat terjadinya kecelakaan merupakan bagian penting dari inisiatif “Belt and Road” (Satu Sabuk Satu Jalan) Partai Komunis Tiongkok, sehingga penyebab kecelakaan ini menuai perhatian luas.

EtIndonesia. Laporan media Thailand, pada 14 Januari sekitar pukul 09.00 waktu setempat, sebuah kereta yang berangkat dari Bangkok, saat melintasi ruas pembangunan kereta cepat di Provinsi Nakhon Ratchasima (Korat), tertimpa sebuah crane yang jatuh dari ketinggian. Gerbong kereta langsung “terbelah menjadi dua”, menyebabkan kereta anjlok dan terbakar.

Saat kejadian, kereta tersebut mengangkut 195 penumpang dan awak, yang sebagian besar merupakan pelajar dan pekerja. Hingga pukul 18.00 hari yang sama, kecelakaan ini telah menewaskan sedikitnya 32 orang dan melukai lebih dari 60 orang.

Sebuah crane (alat berat derek) yang sedang beroperasi di jalur layang tiba-tiba roboh dan tepat menimpa sebuah kereta yang membawa lebih dari 190 penumpang (tangkapan layar)

Wakil Sekretaris Tetap Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand, Ekachai Piansriwachara, mengatakan : “Korban luka berat mencakup semua usia, mulai dari balita perempuan berusia satu tahun hingga lansia berusia 85 tahun.”

Seorang warga setempat, Suphan Imjantuek, mengatakan:  “Dalam proses membantu evakuasi, saya memanjat ke atas dan membantu mengangkat dua jenazah, dua korban luka, dan seorang anak kecil.”

Menurut informasi dari situs resmi proyek kereta cepat Thailand–Tiongkok, crane yang mengalami kecelakaan tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan kereta cepat hasil kerja sama Thailand–Tiongkok, yang bertujuan menghubungkan Bangkok, Kamboja, dan Kunming (Tiongkok), dengan target penyelesaian pada tahun 2028. Proyek ini merupakan salah satu proyek utama Belt and Road di Asia Tenggara.

Sebuah crane (alat berat derek) yang sedang beroperasi di jalur layang tiba-tiba roboh dan tepat menimpa sebuah kereta yang membawa lebih dari 190 penumpang

Data menunjukkan bahwa ruas proyek tempat kecelakaan terjadi dibangun oleh perusahaan Italia–Thailand, namun desain teknik sipil dan konsultasi teknis proyek ditangani oleh pihak Tiongkok.

Ini merupakan kecelakaan besar kedua yang terjadi dalam proyek-proyek konstruksi Tiongkok di Thailand, setelah runtuhnya gedung Kantor Audit Nasional Thailand yang masih dalam tahap pembangunan tahun lalu. Proyek Belt and Road Tiongkok kembali memicu keraguan dan kritik dari berbagai pihak.

 “Dalam beberapa dekade terakhir, dalam proses pembangunan di Tiongkok—mulai dari properti, pembangunan jembatan, rel kereta api, terowongan, hingga bendungan—terdapat banyak masalah laten terkait kualitas,” kata Ekonom dari Washington Information and Strategy Research Institute, Li Hengqing.

“Mulai dari desain, pengawasan konstruksi, hingga manajemen proyek, semuanya kerap dicampuri produk palsu dan berkualitas rendah. Tujuannya satu: mencari keuntungan dan menekan biaya, sementara keuntungan diselewengkan di setiap tingkatan. Akibat akhirnya adalah kualitas yang tidak terjamin, dan itu berarti masalah besar akan terus muncul di kemudian hari,” tambahnya. 

Hingga kini, penyebab pasti jatuhnya crane dari jembatan layang masih belum diketahui. Perdana Menteri Thailand Anutin menyatakan bahwa pihaknya akan menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak terkait. (Hui)

Laporan oleh reporter NTD Television Tang Rui.

Pentagon Menghabiskan Sejumlah Besar Uang untuk Membeli Persenjataan Sonik, Diperkirakan Digunakan Selama Penangkapan Maduro

Pada tahun 2016, para diplomat Amerika Serikat yang ditempatkan di Havana, ibu kota Kuba, secara beruntun mengalami sakit kepala hebat, telinga berdenging, mual, dan muntah. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai “Sindrom Havana” (Havana Syndrome). 

Selama bertahun-tahun, gejala serupa dilaporkan muncul di Rusia, Tiongkok, serta beberapa negara Afrika. Pemerintah AS mencurigai bahwa insiden-insiden tersebut disebabkan oleh serangan senjata misterius milik Rusia atau Partai Komunis Tiongkok. Baru-baru ini, media Amerika mengungkap bahwa Departemen Perang AS (Pentagon) sedang menguji sebuah perangkat misterius yang dapat memancarkan gelombang radio berdenyut, yang kemungkinan berkaitan dengan insiden tersebut.

EtIndonesia. Pada 2016, para diplomat AS di Havana pertama kali melaporkan gejala seperti sakit kepala parah, pusing, telinga berdenging, mual, serta gangguan konsentrasi dan keseimbangan tubuh. Gejala-gejala ini diduga disebabkan oleh serangan suatu perangkat senjata berbasis gelombang suara, yang kemudian dikenal sebagai Sindrom Havana. Setelah itu, diplomat dan personel intelijen dari berbagai negara juga melaporkan kasus serupa.

Puluhan kejadian gangguan kesehatan yang hingga kini belum mendapat penjelasan resmi tersebut memunculkan berbagai spekulasi. Badan intelijen dan Departemen Pertahanan AS pun terus melakukan penyelidikan.

Menurut laporan CNN baru-baru ini, beberapa sumber mengungkapkan bahwa menjelang akhir masa pemerintahan sebelumnya, Departemen Pertahanan AS melalui operasi rahasia menghabiskan ratusan juta dolar untuk memperoleh sebuah perangkat terkait.

Sumber tersebut mengatakan bahwa perangkat ini menghasilkan gelombang radio berdenyut. Perangkat itu tidak sepenuhnya berasal dari Rusia, tetapi mengandung komponen buatan Rusia. Pentagon telah menghabiskan lebih dari satu tahun untuk meneliti dan menguji perangkat tersebut.

Selain itu, dalam operasi militer AS untuk menangkap Nicolás Maduro, sebuah wawancara dengan seseorang yang mengaku sebagai pengawal pribadi Maduro mengungkap bahwa militer AS saat itu menggunakan senjata serangan gelombang suara yang sangat kuat, menyebabkan mereka seketika mengalami sakit kepala luar biasa, disertai mimisan dan muntah darah, hingga tidak mampu bergerak sama sekali.

Para analis menilai bahwa militer AS kemungkinan telah menggunakan senjata gelombang suara ini dalam operasi nyata.

Sumber lain menyebutkan bahwa tantangan utama dari teknologi ini adalah bagaimana mengubah perangkat berdaya besar menjadi senjata portabel. Sejumlah pejabat memperingatkan bahwa jika teknologi ini terbukti efektif, bukan hanya satu negara yang akan memilikinya, sehingga hal tersebut menimbulkan kekhawatiran serius.

Jurnalis bidang intelijen Sasha Ingber pada Senin (12 Januari) mengatakan bahwa menurut dua sumber, pasukan khusus AS beberapa bulan lalu menyita sebuah senjata yang terkait dengan Sindrom Havana dalam sebuah operasi, dan senjata tersebut telah diuji. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa senjata itu pernah digunakan.

Meski demikian, ia menambahkan bahwa pengacara keamanan nasional AS, Mark Zaid, juga telah mengkonfirmasi bahwa pemerintah AS memang memiliki satu atau lebih perangkat semacam ini.

Laporan oleh reporter NTD Television Guo Yuexi, Amerika Serikat.

Trump : Pembunuhan di Iran Telah Berhenti, Mendorong Pemberlakuan Tarif Semikonduktor dan Mineral

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (14 Januari) menyampaikan pernyataan terbaru terkait situasi Iran, perintah eksekutif, serta kebijakan semikonduktor. Trump menyatakan bahwa aksi pembunuhan dan eksekusi di dalam wilayah Iran telah berhenti.

Selain itu, menjelang konferensi pers, Trump menandatangani dua tindakan eksekutif yang bertujuan untuk memastikan keamanan rantai pasok internasional mineral kritis dan produk turunannya, yang juga berkaitan dengan kebijakan perdagangan semikonduktor. 

Berikut laporan koresponden NTD di  Washington, Zhang Liang.

Reporter :  “Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintah telah menerima informasi intelijen yang dapat dipercaya, yang menunjukkan bahwa aksi pembunuhan di dalam Iran sedang berhenti. Eksekusi yang sebelumnya sangat menjadi perhatian publik dan dikabarkan mungkin akan dilakukan dalam waktu dekat, kini dipastikan tidak akan terjadi.”

Presiden AS Donald Trump :  “Kami diberi tahu bahwa pembunuhan di Iran sedang berhenti—telah berhenti dan terus berhenti—dan tidak ada rencana eksekusi apa pun, baik satu eksekusi maupun eksekusi massal.”

Selain isu Iran, Trump juga mengungkapkan bahwa pemerintah AS telah menemukan seorang pembocor informasi besar yang terkait dengan isu Venezuela.

Trump : “Pembocor ini terkait dengan isu Venezuela dan merupakan pembocor yang sangat serius. Mungkin masih ada orang lain, dan kami akan memberitahu Anda nanti. Pembocor tersebut telah ditangkap dan dipenjara, dan kemungkinan besar akan dipenjara untuk waktu yang lama.”

Dalam bidang kebijakan, Gedung Putih juga mengumumkan bahwa Trump telah menandatangani dua tindakan eksekutif sebelum konferensi pers, yang didasarkan pada hasil penyelidikan Pasal 232 Undang-Undang Perluasan Perdagangan.

Menurut ketentuan baru, produk semikonduktor yang diimpor ke Amerika Serikat namun tidak digunakan untuk infrastruktur kecerdasan buatan atau komputasi di dalam negeri AS akan dikenakan tarif sebesar 25%.

Trump :  “Tiongkok menginginkannya, negara-negara lain juga menginginkannya, dan pada dasarnya kami akan memperoleh 25% dari penjualan chip tersebut.”

Reporter :  “Selain itu, Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang baru yang mengizinkan sekolah-sekolah yang berpartisipasi dalam Program Makan Siang Sekolah Nasional untuk menyediakan susu full cream dan susu rendah lemak 2%, sambil tetap mempertahankan pilihan susu skim dan rendah lemak. Undang-undang baru ini juga menetapkan bahwa jika siswa membawa bukti pembatasan diet dari orang tua, sekolah harus menyediakan alternatif non-susu.” (Hui)

Dilaporkan oleh reporter NTD Television Zhang Liang dan Yixin dari Washington, Amerika Serikat.