Maria Machado Memberikan Hadiah Nobel Perdamaiannya kepada Donald Trump

EtIndonesia. Maria Corina Machado, penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2025, telah memberikan medalinya kepada Presiden AS, Donald Trump atas dukungannya terhadap “perjuangan untuk kebebasan” Venezuela. Trump berterima kasih kepada pemimpin oposisi Venezuela tersebut, menyebutnya sebagai “wanita luar biasa yang telah melalui begitu banyak hal”.

Pemberian Machado kepada Trump dipandang sebagai upaya untuk mengambil hati Trump. Presiden AS, untuk saat ini, telah menyatakan dukungannya kepada pemerintah sementara Venezuela yang dipimpin oleh Delcy Rodriguez.

Trump telah menerima medali tersebut, kata seorang pejabat Gedung Putih kepada ABC News. Namun, Hadiah Nobel Perdamaian itu sendiri tetap menjadi milik Machado dan tidak dapat diberikan kepada Trump berdasarkan aturan Yayasan Nobel.

Apa yang Dikatakan Aturan Nobel

Setelah Hadiah Nobel Perdamaian diberikan, hadiah tersebut tidak dapat dialihkan, dibagikan, atau diberikan kepada orang lain, menurut Institut Nobel Norwegia dan Komite Nobel. Ini adalah prinsip mendasar dalam statuta yayasan yang ditetapkan berdasarkan wasiat Alfred Nobel.

Meskipun seorang penerima penghargaan dapat melakukan apa pun yang mereka sukai dengan medali fisik atau hadiah uang tunai, gelar dan kehormatan resmi penerima Hadiah Nobel Perdamaian tetap melekat pada penerima penghargaan yang terpilih selamanya dan tidak dapat dialihkan kepada orang lain.

Itu berarti Machado tetap menjadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2025 resmi. Trump dapat memegang atau memamerkan medali yang diberikan kepadanya oleh Machado, tetapi dia tidak menjadi penerima Hadiah Nobel Perdamaian.

Bagaimana Bentuk Medali Nobel

Medali Hadiah Nobel Perdamaian adalah cakram emas, lebar 6,6 cm dan berat 196 gram. Medali ini menampilkan potret Alfred Nobel di bagian depan, dan di bagian belakang, tiga pria telanjang saling memegang bahu untuk melambangkan persaudaraan. Desainnya tetap sama selama lebih dari 120 tahun.

Medali Nobel Lain yang Berpindah Tangan

Beberapa medali telah berpindah tangan setelah diberikan. Medali Nobel Perdamaian Dmitry Muratov tahun 2021 dilelang dengan harga lebih dari 100 juta dolar untuk mendukung pengungsi Ukraina.

Medali yang dipajang di Pusat Perdamaian Nobel sebagai pinjaman awalnya milik Christian Lous Lange, penerima Hadiah Nobel Perdamaian pertama dari Norwegia.

Bisakah Hadiah Nobel Perdamaian Dicabut?

Hadiah Nobel Perdamaian tidak dapat dicabut. Baik wasiat Alfred Nobel maupun Statuta Yayasan Nobel tidak mengizinkan hal ini. Setelah penerima diumumkan, keputusan tersebut bersifat final dan permanen.

Komite Nobel Norwegia hanya mengevaluasi kandidat hingga saat pemberian penghargaan dan tidak menilai tindakan para penerima penghargaan setelahnya.

Maria Machado: Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2025

Machado memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu atas upayanya untuk “mempromosikan hak-hak demokrasi di Venezuela” dan mendorong negara tersebut dari kediktatoran menuju demokrasi. Ketika penghargaan diumumkan pada Oktober 2025, Machado mendedikasikan hadiah tersebut kepada rakyat Venezuela dan kepada Trump, memuji dukungannya terhadap gerakan demokrasi negaranya.

Pekan lalu, dia mengatakan ingin memberikan atau berbagi Hadiah Nobel Perdamaiannya dengan Trump, yang mengawasi penggerebekan AS yang menggulingkan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro. (yn)

Italia Mendesak Warganya Segera Meninggalkan Iran, G7 Berencana Meningkatkan Sanksi

Seiring terus meningkatnya jumlah korban tewas dan luka di kalangan para pengunjuk rasa di Iran, Kementerian Luar Negeri Italia pada Rabu (14 Januari) mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa, mengingat situasi keamanan saat ini, Italia kembali mendesak dengan keras warganya untuk segera meninggalkan Iran. Pemerintah Inggris juga menyatakan bahwa Kedutaan Besar Inggris di Teheran telah “ditutup sementara”. Sementara itu, Kelompok Tujuh (G7) menyatakan bahwa jika kekerasan terus berlanjut, mereka siap memperketat sanksi.

EtIndonesia. Menurut laporan Reuters, Kementerian Luar Negeri Italia menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 600 warga negara Italia di Iran, dan sebagian besar berada di wilayah Teheran.

Kantor Perdana Menteri Italia pada 13 Januari telah mengeluarkan pernyataan tertulis yang menyatakan bahwa Italia sangat mencermati perkembangan situasi di Iran serta terus meningkatnya laporan kematian para pengunjuk rasa. 

Italia menyerukan kepada otoritas Iran untuk menjamin penghormatan terhadap berbagai hak rakyat dan menjaga keselamatan para demonstran di jalanan.

Menurut laporan AFP, juru bicara pemerintah Inggris mengatakan:  “Kami telah menutup sementara Kedutaan Besar Inggris di Teheran dan akan beroperasi melalui sistem jarak jauh. Saran perjalanan dari Kementerian Luar Negeri juga telah diperbarui untuk mencerminkan perubahan konsuler ini.”

G7 Ancam Tambahkan Langkah Pembatasan

Kelompok Tujuh pada 14 Januari menyatakan bahwa mereka sangat prihatin atas banyaknya korban tewas dan luka akibat penindasan terhadap aksi protes di Iran. Jika kekerasan terus berlanjut, G7 siap menambah sanksi, serta menyerukan kepada otoritas Iran agar menahan diri dan menghentikan penggunaan kekerasan.

Menurut laporan CNN, para menteri luar negeri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat pada 14 Januari mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam otoritas Iran atas apa yang mereka sebut sebagai “penindasan brutal” terhadap rakyat Iran, termasuk penggunaan kekerasan, pembunuhan, dan penangkapan sewenang-wenang untuk menekan aksi protes.

Dalam pernyataan bersama tersebut, para menteri luar negeri G7 bersama Perwakilan Tinggi Uni Eropa (UE) menyatakan:  “Jika Iran terus melanggar kewajiban internasional di bidang hak asasi manusia serta menindas aksi protes dan para pembangkang, negara-negara anggota G7 siap memberlakukan langkah-langkah pembatasan tambahan.”

Sebuah kelompok hak asasi manusia di Amerika Serikat memperkirakan bahwa jumlah korban tewas akibat penindasan keras terhadap para pembangkang di Iran telah melampaui 2.400 orang, sehingga banyak negara mengancam akan menjatuhkan hukuman terhadap otoritas Teheran.

Belgia menyatakan telah siap untuk membahas sanksi baru Eropa terhadap Iran, sementara sejumlah negara Eropa lainnya telah memanggil duta besar Iran di negara masing-masing. (Hui)

Arab Saudi, Qatar, Oman, Mesir: Negara-negara Arab Bersatu Meredakan Ketegangan AS-Iran

EtIndonesia. Empat negara Arab melakukan diplomasi intensif dengan Amerika Serikat dan Iran pekan ini untuk mencegah ancaman serangan AS terhadap Iran terkait penggunaan kekerasan oleh Teheran terhadap para demonstran yang mereka khawatirkan akan berdampak di seluruh kawasan, kata seorang pejabat Teluk.

Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Mesir terlibat dalam diplomasi selama lebih dari 48 jam sebelum Presiden AS, Donald Trump memberi sinyal pada hari Kamis bahwa dia akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan serangan untuk saat ini, dengan mengatakan bahwa pembunuhan di Iran mereda.

Keempat negara tersebut telah menyampaikan kepada Washington bahwa setiap serangan akan memiliki konsekuensi bagi kawasan yang lebih luas dalam hal keamanan dan ekonomi yang pada akhirnya akan berdampak pada Amerika Serikat sendiri, kata pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas masalah tersebut.

Mereka memberi tahu Iran bahwa setiap serangan balasan yang dilancarkan terhadap fasilitas AS di Teluk akan memiliki konsekuensi bagi hubungan Teheran dengan negara-negara lain di kawasan itu, tambah pejabat itu.

Kantor media internasional Arab Saudi, Kementerian Luar Negeri Qatar, Kementerian Informasi Oman, dan juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab, yang tidak terlibat dalam diplomasi yang dijelaskan oleh pejabat tersebut, tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai apakah mereka telah terlibat dalam diplomasi apa pun terkait masalah ini.

Wall Street Journal melaporkan pekan ini bahwa Arab Saudi, Qatar, dan Oman telah melobi Washington untuk mengurungkan serangan tersebut.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa upaya diplomatik tersebut berfokus pada meredam retorika dan menghindari tindakan militer apa pun yang dapat memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas, dan bahwa diplomasi ini pada akhirnya dapat mengarah pada pembicaraan tentang perselisihan mengenai program nuklir Iran.

Meskipun Oman dan Qatar telah menjadi mediator dalam perselisihan antara Iran dan Barat, sekutu AS, Arab Saudi dan Mesir, memiliki hubungan yang jauh lebih tegang dengan kekuatan Muslim Syiah revolusioner tersebut.

Namun, setelah puluhan tahun persaingan Iran-Arab Saudi yang memicu konflik dan perselisihan politik di seluruh kawasan, kedua negara menyepakati gencatan senjata pada tahun 2023, dengan Riyadh ingin fokus pada prioritas ekonominya.

Negara-negara Teluk khawatir bahwa fasilitas militer AS di negara mereka dapat menjadi sasaran pembalasan Iran terhadap serangan AS, dan bahwa fasilitas energi yang menopang ekonomi regional juga dapat menjadi target.

Arab Saudi dan Qatar memiliki hubungan yang kuat dengan pemerintahan Trump. Qatar dan Mesir sama-sama terlibat erat dengan AS dalam mediasi atas perang antara Israel dan Hamas di Gaza.(yn)

Menhan Ukraina Ungkap Krisis Militer: 2 Juta Penghindar Wajib Militer, 200 Ribu Prajurit Tinggalkan Pos Tanpa Izin

EtIndonesia. Beredar luas kabar bahwa tingkat pembelotan di Ukraina sangat tinggi. Pada Rabu (14 Januari), Menteri Pertahanan Ukraina yang baru, Mykhailo Fedorov, untuk pertama kalinya mengungkap skala serius masalah tersebut. Ia memperkirakan sekitar 200.000 tentara telah meninggalkan tugas tanpa izin, sementara sekitar 2 juta warga Ukraina tercatat sebagai “buronan” karena menghindari wajib militer.

Menurut laporan CNN, Fedorov menyampaikan pernyataan tersebut di parlemen Ukraina dan kemudian mengkonfirmasinya kembali menjelang pemungutan suara pengangkatannya sebagai Menteri Pertahanan. Ini merupakan pertama kalinya seorang pejabat Ukraina secara terbuka mengungkap besarnya permasalahan tersebut.

Berdasarkan hukum Ukraina, semua pria berusia 18 hingga 60 tahun wajib mendaftarkan diri ke militer dan membawa dokumen identitas setiap saat. Namun saat ini, hanya pria berusia 25 hingga 60 tahun yang masuk dalam daftar mobilisasi. 

Selain itu, status darurat militer melarang semua pria yang memenuhi syarat militer berusia 23 hingga 60 tahun untuk meninggalkan negara tersebut. Meski demikian, puluhan ribu orang dilaporkan telah melarikan diri ke luar negeri secara ilegal.

Menurut laporan AFP, menghadapi kekurangan personel yang serius ini, Fedorov mengusulkan agar Ukraina menggandakan investasi pada keunggulan strategisnya, yakni perang non-konvensional dan teknologi drone.

Pada 14 Januari, ia mengatakan kepada anggota parlemen:  “Lebih banyak robot berarti lebih sedikit kerugian. Lebih banyak teknologi berarti lebih sedikit kematian. Nyawa para pahlawan Ukraina adalah yang paling berharga.”

Populasi Rusia sekitar empat kali lipat lebih besar dibanding Ukraina, dan ukuran militer Ukraina selama ini berada di bawah militer Rusia. Selama bertahun-tahun, tentara Ukraina berada di bawah tekanan besar saat menghadapi musuh yang jauh lebih kuat.

Situasi pertempuran di garis depan sangat brutal. Pasukan Kyiv sering kali harus mempertahankan posisi strategis dengan keras, meskipun berada dalam kondisi kalah jumlah dan kalah daya tembak. (Hui)

Reruntuhan Roket Pengangkut Beijing Jatuh di Banyak Wilayah, Rekaman Lokasi Terungkap 

Pada 13 Januari malam, reruntuhan roket pengangkut Long March-6A yang diluncurkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) jatuh di Ningxia dan beberapa daerah lain, disertai suara ledakan keras. Menurut warga desa, lokasi jatuhnya reruntuhan hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah penduduk terdekat.

EtIndonesia. Media resmi PKT melaporkan bahwa pada 13 Januari pukul 22.16, roket pengangkut Long March-6A lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan, lalu berhasil menempatkan Satelit Penginderaan Jauh Yaogan-50 01 ke orbit yang telah ditentukan.

Sementara itu, pada 15 Januari, akun media independen yang memantau insiden massal di Tiongkok daratan bernama “Zuótiān (Kemarin)” mengunggah tulisan yang menyebutkan bahwa pada malam 13 Januari, setelah terdengar tiga dentuman keras, reruntuhan roket Long March-6 yang digunakan untuk peluncuran satelit jatuh di Desa Liuyangbao, Kelurahan Huamachi, Kabupaten Yanchi, Ningxia. Warga desa mengatakan lokasi jatuhnya reruntuhan hanya sekitar 100 meter dari rumah penduduk terdekat.

Artikel tersebut menyatakan bahwa meskipun pihak berwenang mengklaim telah mengevakuasi warga, video yang direkam penduduk menunjukkan masih ada aktivitas warga di sekitar lokasi, dan sebagian warga sama sekali tidak mengetahui adanya jatuhnya reruntuhan roket. 

Setelah peluncuran, media resmi ramai-ramai merayakan keberhasilan misi, namun sama sekali tidak menyebutkan bahwa reruntuhan roket jatuh ke desa. Video yang direkam warga juga dengan cepat dihapus. Bagi penduduk, apakah akan tertimpa reruntuhan roket atau tidak, sepenuhnya hanya bisa pasrah pada nasib. 

Sejumlah warganet berkomentar:
“Dekat sekali dengan rumah warga.”
“Rumah terdekat lebih dari 100 meter.”
“Sebenarnya jatuh di mana?”
“Mungkin jatuh di Huamachi, Desa Shabianzi.”
“Pantas tadi malam (13 Januari) terdengar bunyi ‘dug’, ternyata ini—benar-benar menakutkan.”
“Siapa yang bisa tahu pasti dimana reruntuhan roket jatuh? Hanya bisa pasrah saja.”

Ada pula yang mengatakan: 

 “Di Ulanqab, Mongolia Dalam, juga terdengar (ledakan keras).”
“Kemarin malam aku heran suara apa, kupikir gempa.”
“Di Kabupaten Yanchi, itu benar-benar di desa, lalu pendorong roket jatuh, kemudian terdengar tiga kali dentuman.”

Berdasarkan video yang diunggah banyak warganet, reruntuhan roket kali ini jatuh di Kabupaten Yanchi, Dingbian (Shaanxi), serta Mongolia Dalam. Secara geografis, Kabupaten Yanchi dan Dingbian berbatasan langsung dengan Banner Etuokeqian, Mongolia Dalam.

Seorang warganet Ningxia bernama “Siji Yuqian” mengunggah video di media sosial, mengatakan bahwa pendorong roket seharusnya mendarat di wilayah berpasir Shabianzi, Liuyangbao, Kabupaten Yanchi, namun justru jatuh tidak jauh dari Desa Liuyangbao dan kemudian diambil oleh pihak berwenang. Ada warganet yang menimpali, “Mereka tidak takut sampai membunuh orang?”

Warganet “Noah Bridge” juga mengunggah video dan mengatakan bahwa ini adalah kejadian nyata di lokasi langsung—reruntuhan roket. Teks dalam video berbunyi: “Tiga dentuman keras di Dingbian, reruntuhan roket.”

Warganet Mongolia Dalam “Dongtang Erbashou” menulis, “Kemarin benar-benar membuatku kaget!” Video menunjukkan banyak rumah penduduk di dekat lokasi jatuhnya reruntuhan. Reruntuhan roket ditutup, dan banyak warga datang menonton. Ada komentar warganet yang mengatakan, “Astaga, hampir menimpa orang.” “Nyaris jatuh ke halaman rumah warga.”

Dalam beberapa tahun terakhir, PKT mempercepat frekuensi peluncuran roket demi mencapai tujuan ilmiah dan militernya. Namun, roket Long March yang diluncurkan PKT kerap bermasalah. Pada April dan Juli 2024, perusahaan pemantau antariksa asal Swiss, s2a Systems, mendeteksi puluhan pecahan di sekitar tahap akhir (upper stage) roket Long March-6A.

Surat kabar Inggris The Daily Telegraph pada Juli 2024 melaporkan bahwa roket Tiongkok secara tradisional bergantung pada bahan bakar berbahaya seperti dinitrogen tetroksida (N₂O₄), hidrazin cair (N₂H₄), dan asam nitrat asap merah. Senyawa-senyawa ini membentuk bahan pendorong yang sangat efisien, namun juga sangat beracun dan bersifat karsinogenik. Saat terbakar, bahan bakar ini menghasilkan warna merah kecoklatan yang khas dan kotor.

Pada Agustus 2024, Komando Antariksa Amerika Serikat menyatakan dapat mengKonfirmasi bahwa roket Long March-6A yang diluncurkan PKT pada 6 Agustus 2024 mengalami disintegrasi, menghasilkan lebih dari 300 pecahan yang dapat dilacak di orbit rendah Bumi. 

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa perusahaan pelacakan antariksa AS LeoLabs menyebut jumlah pecahan kemungkinan melebihi 900, menjadikan insiden ini salah satu peristiwa sampah antariksa terbesar dalam sejarah. Beberapa analis mengatakan awan pecahan yang terbentuk di ketinggian sekitar 800 kilometer akan bertahan selama bertahun-tahun.

Pada 4 November 2022, reruntuhan roket Long March-5B milik PKT jatuh kembali ke Bumi dalam kondisi tak terkendali, menghasilkan lebih dari 500 pecahan. Masyarakat Barat menilai hal ini sebagai satu lagi tindakan petualangan tidak bertanggung jawab oleh Badan Antariksa Nasional Tiongkok.

Para ilmuwan sejak lama khawatir bahwa sampah antariksa dapat memicu tabrakan berantai, yang dikenal sebagai Sindrom Kessler, yang berpotensi menghancurkan kehidupan sehari-hari manusia karena sistem navigasi, televisi, dan komunikasi sangat bergantung pada satelit.

Laporan komprehensif oleh reporter Li Enzhen / Editor Li Quan

Represi Mematikan Iran Memicu Korban Besar, Pengerahan Militer Kian Dekat 

Meski otoritas Iran telah memutus jaringan internet dan memblokir komunikasi selama lima hari berturut-turut, kabar tentang penindasan berdarah tetap menyebar ke luar negeri. Menurut laporan sejumlah media, penindasan brutal terhadap para demonstran oleh pemerintah Iran telah menyebabkan lebih dari 12.000 orang tewas. Tumpukan jenazah yang menggunung dan gambar-gambar penuh darah sangat memilukan.

EtIndonesia. Pada Rabu (14 Januari), beredar kabar bahwa militer Amerika Serikat sedang menarik pasukan dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar serta dari pangkalan militer AS lainnya di Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa AS tengah mempersiapkan operasi militer berskala besar, dan situasi Iran kini berada di titik yang sangat genting.

Menurut video yang dikutip CBS, di Pusat Forensik Kahrizak di pinggiran Teheran, setidaknya 366 hingga 400 jenazah tergeletak di jalanan. Petugas forensik memeriksa luka tembak peluru senapan burung dalam skala besar serta luka sobek lainnya pada tubuh korban. Keluarga korban menangis sambil mencari sanak saudara mereka di antara tumpukan jenazah—pemandangan yang sangat tragis.

CNN juga melaporkan bahwa seorang dokter Iran mengkonfirmasi, pada 8 Januari, penindasan terhadap para pengunjuk rasa tiba-tiba meningkat drastis, menyebabkan korban luka dan tewas dalam jumlah besar, hingga rumah sakit setempat kewalahan.

Seorang dokter anonim mengatakan:  “Pukul 20.20 malam saya mendapat telepon dari rumah sakit: ‘Dokter, cepat datang, harus segera ke sini.’ Saat saya tiba, saya menyaksikan langsung situasi korban massal. Keempat ruang operasi penuh. Saya bekerja dari pukul 10–11 malam hingga pagi hari.”

Dokter tersebut mengungkapkan bahwa sejak tengah malam Kamis (8 Januari), situasi berubah drastis. Otoritas mulai menggunakan peluru tajam untuk menembaki para demonstran, dan tindakan ini berlangsung hingga Jumat (9 Januari) sore. Sebagian besar korban mengalami luka akibat senapan berburu atau senjata sejenis.

Pada Rabu pekan lalu (7 Januari), Kepala Kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, mengancam akan menjatuhkan hukuman cepat terhadap para demonstran guna menciptakan efek teror.

Seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Soltani kini menghadapi hukuman mati oleh pemerintah Iran karena ikut serta dalam gelombang besar protes anti-pemerintah.

Soltani ditangkap pada 8 Januari, dan hanya dua hari kemudian dijatuhi hukuman mati melalui proses yang dipercepat. Ia tidak diizinkan menunjuk pengacara, dan kasusnya tidak melalui persidangan yang layak. Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah eksekusi yang dijadwalkan pada Rabu telah dilaksanakan.

Kerabat Soltani, Somayeh, dalam wawancara dengan CNN menyatakan harapannya agar Presiden Amerika Serikat campur tangan menghentikan pembantaian oleh pemerintah Iran. Ia meyakini bahwa hanya Presiden Donald Trump yang dapat menyelamatkan Soltani dari hukuman mati.

Pada Selasa (13 Januari), Presiden Trump menyatakan bahwa ia tengah menunggu laporan mengenai jumlah korban tewas di kalangan demonstran Iran, sebelum mengambil langkah selanjutnya.

 “Kami akan memperoleh data yang akurat mengenai pembunuhan ini. Skala pembunuhan tampaknya sangat besar, namun belum sepenuhnya dikonfirmasi. Dalam 20 menit saya akan mengetahui rinciannya, dan kami akan bertindak berdasarkan itu,” kata Trump. 

Pada hari yang sama, saat menyampaikan pidato ekonomi di Detroit, Presiden Trump kembali menegaskan bahwa pemerintah Iran akan membayar harga atas kekejaman mereka terhadap para demonstran.

Pada Rabu pekan lalu (7 Januari), Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, kembali menyampaikan pidato kepada para demonstran Iran. Ia memuji keberanian rakyat dalam melawan kediktatoran Iran dan mendorong mereka untuk terus berjuang demi kebebasan, sekaligus menyerukan pesan kepada militer Iran.

 “Kalian adalah tentara bangsa Iran, bukan pasukan Republik Islam. Kalian bertanggung jawab melindungi sesama warga. Waktu kalian tidak banyak—segeralah bergabung dengan rakyat,” katanya. 

Seiring meningkatnya ketegangan di Iran, muncul kabar bahwa militer AS sedang menarik pasukan dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar dan pangkalan-pangkalan lainnya di Timur Tengah.

Menurut laporan Reuters, seorang pejabat militer Barat mengatakan:  “Semua tanda menunjukkan bahwa serangan militer AS terhadap Iran sudah sangat dekat. Namun ini juga merupakan gaya khas pemerintahan saat ini—membuat semua pihak tetap waspada. Ketidakpastian adalah bagian dari strateginya.”

Dua pejabat Eropa lainnya mengungkapkan bahwa intervensi militer AS kemungkinan terjadi dalam 24 jam ke depan.

Namun pada Rabu (14 Januari) sore, Presiden Trump menyatakan bahwa ia telah diberitahu bahwa pembunuhan di Iran sedang berhenti.

Trump berkata:  “Kami diberi tahu bahwa pembunuhan di Iran sedang berhenti. Itu sudah berhenti, sedang berhenti, dan tidak ada kabar tentang eksekusi rakyat.” (Hui)

Laporan komprehensif oleh reporter NTD Television, Zhao Fenghua.

Seorang Wanita Mengajukan Laporan Polisi Terhadap Suaminya Karena Menyembunyikan Fakta Bahwa Dia Botak

EtIndonesia. Seorang wanita India telah mengajukan laporan polisi terhadap suaminya yang telah dinikahinya selama dua tahun, dengan alasan bahwa dia telah ditipu mengenai penampilan fisik suaminya.

Lavika Gupta, warga Gaur City Avenue-1, di pusat Noida, baru-baru ini mengajukan laporan polisi terhadap suaminya dan empat anggota keluarga mertuanya, dengan tuduhan bahwa dia telah ditipu ketika setuju untuk menikahi suaminya pada tahun 2024. Di antara tuduhannya, wanita itu mengklaim bahwa dia dijanjikan seorang pria dengan rambut lebat dan sehat, tetapi menikahi seorang pria botak yang mengenakan wig.

Menurut Laporan Informasi Pertama (FIR) yang diajukan di kantor polisi Bisrakh, Lavika Gupta dan Sanyam Jain menikah pada 16 Januari 2024. Sang istri mengklaim bahwa dia telah ditipu pada saat itu, dengan Jain dan keluarganya menyembunyikan berbagai detail tentang penampilan fisik, pendidikan, dan status keuangannya.

“Setelah menikah, saya juga menemukan bahwa suami saya hanya lulusan kelas 12, sementara biodatanya menunjukkan bahwa dia memiliki gelar Sarjana Perdagangan (BCom). Dia juga berbohong bahwa penghasilannya sebesar Rs 18 lakh (sekitar Rp 336 juta). Dengan cara ini, saya benar-benar ditipu.”

Gupta menambahkan bahwa ketika dia setuju untuk menikahi Sanyam, dia dijanjikan seorang pria dengan “rambut tebal”, tetapi kemudian dia mengetahui bahwa suaminya botak dan mengenakan penutup kepala untuk menyembunyikan kebotakannya.

“Wanita itu juga menuduh bahwa suaminya menyerangnya selama perjalanan ke luar negeri dan menekannya untuk membawa ganja dari Thailand ke India,” kata seorang petugas dari kantor polisi Bisrakh kepada wartawan.(yn)

Akankah Trump Bertemu Zelenskyy di Forum Ekonomi Dunia di Davos? Apa yang Dikatakannya

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa Ukraina – bukan Rusia – yang menghambat potensi kesepakatan perdamaian, retorika yang sangat kontras dengan sekutu Eropa, yang secara konsisten berpendapat bahwa Moskow kurang tertarik untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Dalam wawancara eksklusif di Ruang Oval pada hari Rabu (14/1), Trump mengatakan Presiden Rusia, Vladimir Putin siap untuk mengakhiri invasi Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun. Zelenskyy, kata presiden AS, lebih pendiam.

“Saya pikir dia siap untuk membuat kesepakatan,” kata Trump tentang presiden Rusia. “Saya pikir Ukraina kurang siap untuk membuat kesepakatan.”

Ditanya mengapa negosiasi yang dipimpin AS belum menyelesaikan konflik darat terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua, Trump menjawab: “Zelensky.”

Komentar Trump menunjukkan frustrasi yang diperbarui terhadap pemimpin Ukraina. Kedua presiden telah lama memiliki hubungan yang bergejolak, meskipun interaksi mereka tampaknya telah membaik selama tahun pertama Trump kembali menjabat.

Terkadang, Trump lebih bersedia menerima jaminan Putin begitu saja daripada para pemimpin beberapa sekutu AS, yang membuat Kyiv, ibu kota Eropa, dan anggota parlemen AS, termasuk beberapa anggota Partai Republik, frustrasi.

Pada bulan Desember, Reuters melaporkan bahwa laporan intelijen AS terus memperingatkan bahwa Putin belum meninggalkan tujuannya untuk merebut seluruh Ukraina dan merebut kembali sebagian Eropa yang dulunya milik kekaisaran Soviet. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard membantah laporan tersebut pada saat itu.

‘Mengalami Kesulitan untuk Mencapai Tujuan’

Setelah beberapa kali mengalami hambatan, negosiasi yang dipimpin AS dalam beberapa minggu terakhir berpusat pada jaminan keamanan untuk Ukraina pasca-perang guna memastikan bahwa Rusia tidak akan menyerangnya lagi setelah kesepakatan damai potensial. Secara garis besar, para negosiator AS telah mendorong Ukraina untuk meninggalkan wilayah Donbas timur sebagai bagian dari kesepakatan apa pun dengan Rusia.

Para pejabat Ukraina telah terlibat secara mendalam dalam pembicaraan baru-baru ini, yang dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump, dari pihak AS. Beberapa pejabat Eropa meragukan kemungkinan Putin menyetujui beberapa persyaratan yang baru-baru ini dirumuskan oleh Kyiv, Washington, dan para pemimpin Eropa.

Trump mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak mengetahui adanya kemungkinan kunjungan Witkoff dan Kushner ke Moskow, yang sebelumnya dilaporkan oleh Bloomberg pada hari Rabu.

Ketika ditanya apakah dia akan bertemu Zelenskyy di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, minggu depan, Trump mengatakan dia akan bertemu tetapi mengisyaratkan bahwa belum ada rencana yang pasti.

“Saya akan bertemu – jika dia ada di sana,” kata Trump. “Saya akan berada di sana.”

Ketika ditanya mengapa dia percaya Zelenskyy menahan diri dalam negosiasi, Trump tidak menjelaskan lebih lanjut, hanya mengatakan: “Saya hanya berpikir dia, Anda tahu, kesulitan untuk mencapai kesepakatan.”

Zelenskyy secara terbuka menolak konsesi teritorial apa pun kepada Moskow, dengan mengatakan Kyiv tidak memiliki hak berdasarkan konstitusi negara untuk menyerahkan tanah apa pun.(yn)

Seorang Pria Meninggal Akibat Keracunan Timbal Setelah Menggunakan Mug Termos yang Sama Selama Hampir 20 Tahun

EtIndonesia. Seorang pria Taiwan secara tragis kehilangan nyawanya setelah menderita keracunan timbal karena menggunakan mug termos yang sama untuk kopi panas setiap hari selama hampir 20 tahun.

Pria yang tidak disebutkan namanya itu berusia 50-an dan memiliki pengalaman mengemudi lebih dari 30 tahun ketika dia menabrakkan mobilnya ke sebuah toko dalam perjalanan ke tempat kerja, tanpa menginjak rem sama sekali. Petugas pertolongan pertama menemukannya dalam keadaan linglung, dan tes selanjutnya menunjukkan bahwa dia menderita anemia berat, atrofi korteks serebral, dan fungsi ginjal yang abnormal. Dia dipindahkan ke departemen nefrologi untuk penyelidikan lebih lanjut.

Ahli nefrologi Hung Yung-hsiang baru-baru ini mempresentasikan kasus pria tersebut dalam sebuah program televisi di Taiwan sebagai kisah peringatan, mengingatkan orang-orang untuk mengganti botol air atau mug termos mereka dari waktu ke waktu.

Saat mencoba mempelajari lebih lanjut tentang kondisi pasien, tim Hung Yung-hsiang mengetahui bahwa pasien tersebut baru-baru ini mengalami kelelahan dan indra perasaannya berubah, sering merasa makanan tidak cukup asin. Semua gejala ini mengarah pada keracunan timbal, suatu kondisi yang dikonfirmasi oleh tes darahnya.

Saat mencoba mencari sumber keracunan, dokter menemukan bahwa pria tersebut telah menggunakan termos yang sama hampir setiap hari selama hampir dua dekade. Ternyata lapisan dalam termos tersebut berkarat dan melepaskan timbal ke dalam kopi asam setiap hari.

Pria tersebut kemudian mengembangkan gejala degeneratif yang mirip dengan demensia, dan kesehatannya terus menurun. Dia kemudian menderita pneumonia aspirasi akibat tersedak dan meninggal hanya sekitar setahun setelah kecelakaan mobil.

Minuman asam atau basa seperti jus buah, kopi, teh, dan obat tradisional Tiongkok dapat meningkatkan risiko pelepasan logam berat jika dibiarkan dalam cangkir berinsulasi yang sudah tua atau rusak untuk jangka waktu yang lama. Hung Yung-hsiang menyarankan orang-orang untuk secara teratur memeriksa kondisi termos mereka untuk menghindari komplikasi kesehatan yang berpotensi mematikan.(yn)

Saat Ketegangan Meningkat, Iran Umumkan Penutupan Sementara Wilayah Udara — Rekaman Terungkap

EtIndonesia. Pada Rabu (14 Januari) malam, Iran telah menutup sementara wilayah udaranya. Selain penerbangan sipil internasional yang telah memperoleh izin sebelumnya untuk masuk dan keluar Iran, seluruh penerbangan lainnya dilarang, sehingga maskapai penerbangan terpaksa membatalkan, mengalihkan rute, atau menunda sejumlah penerbangan.

Dari situs pelacakan penerbangan FlightRadar24, terlihat bahwa banyak penerbangan menghindari wilayah udara Iran. Rekaman juga memperlihatkan wilayah udara di sekitar Iran dipadati pesawat yang harus memutar jalur penerbangan.

Berdasarkan pemberitahuan penerbangan, wilayah udara Teheran akan ditutup hingga 15 Januari, dan hanya penerbangan sipil internasional yang disetujui oleh otoritas penerbangan sipil yang diizinkan beroperasi. Pembatasan ini berlaku untuk penerbangan masuk dan keluar Iran, sementara seluruh lalu lintas udara lainnya dihentikan sementara.

Maskapai Lufthansa Group Jerman menyatakan bahwa seluruh penerbangannya akan menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Lufthansa Group juga mengatakan bahwa pada periode 15 hingga 19 Januari, penerbangan menuju dan dari Israel serta Yordania hanya akan dioperasikan pada siang hari. Awak pesawat tidak akan menginap di lokasi tersebut, dan sebagian penerbangan kemungkinan akan dibatalkan.

Sejak akhir Desember tahun lalu, ketika gelombang besar protes yang mengguncang rezim Iran meletus, Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih bersikap hati-hati mengenai kemungkinan intervensi militer terhadap Iran. Ia hanya menyatakan bahwa Washington akan mencermati perkembangan situasi dengan ketat. (Hui)

Sumber Ungkap: Elite Rezim Iran Siap Kabur, Dana Diam-Diam Dialihkan ke Luar Negeri

Situasi di Iran terus memanas. Di bawah tekanan kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat, beredar kabar bahwa para petinggi Iran tengah merencanakan pelarian dan telah memindahkan sejumlah besar dana rahasia ke rekening luar negeri.

EtIndonesia. Menurut laporan Channel 14 Israel, dalam dua hari terakhir, sejumlah pejabat tinggi rezim Islam—termasuk putra Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei—telah memindahkan sekitar 1,5 miliar dolar AS ke rekening kustodian di Dubai. Mereka dilaporkan sedang bersiap melarikan diri dan berada dalam kondisi panik.

Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Ia mengatakan bahwa pimpinan Iran sedang memindahkan dana keluar dari Iran, seraya menyebut, “Tikus-tikus sedang melarikan diri dari kapal ini.”

Dalam wawancara dengan program “Bob Schmitt Tonight” di saluran televisi AS Newsmax TV pada 14 Januari malam waktu setempat, Bessent menyatakan:
“Sebagai Departemen Keuangan yang bertanggung jawab menegakkan sanksi, apa yang kami lihat sekarang adalah tikus-tikus yang melarikan diri dari kapal.”

Bessent menjelaskan bahwa para pemimpin Iran mentransfer jutaan hingga puluhan juta dolar AS melalui kawat bank ke luar negeri, atau diam-diam membawanya keluar dari negara tersebut. “Mereka sedang meninggalkan kapal, dan kami melihat dana-dana itu mengalir ke bank serta lembaga keuangan di berbagai belahan dunia.”

Ia berjanji akan menelusuri ke mana dana-dana tersebut mengalir. “Apa yang dilakukan Departemen Keuangan kami adalah melacak arus dana,” tegasnya.

Sementara itu, menurut laporan Reuters, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya telah memutuskan untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran. Dua pejabat Eropa mengungkapkan pada 14 Januari malam bahwa intervensi militer AS terhadap Iran mungkin dimulai dalam 24 jam ke depan.

Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya juga mengatakan bahwa Trump tampaknya telah memutuskan untuk ikut campur dalam situasi Iran, meskipun skala dan waktu operasi tersebut masih belum jelas.

Seorang pejabat AS yang meminta anonimitas menyatakan bahwa, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Amerika Serikat sedang mengambil langkah pencegahan dengan menarik sebagian personel dari pangkalan-pangkalan penting.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa AS sedang mempersiapkan tindakan militer terhadap Iran. Pada Juni tahun lalu, sebelum AS melancarkan serangan udara terhadap Iran, personel di sejumlah pangkalan militer AS beserta keluarga mereka juga lebih dulu dievakuasi untuk mengantisipasi serangan balasan Iran. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Rusia Mengusir Diplomat Inggris yang Dituduh Sebagai Mata-mata Terselubung

EtIndonesia. Rusia mengatakan pada hari Kamis (15/1) bahwa mereka mengusir seorang diplomat Inggris, menyebutnya sebagai mata-mata terselubung dalam tuduhan spionase terbaru antara Moskow dan London.

Kremlin telah lama menunjuk Inggris sebagai salah satu negara Barat yang paling bermusuhan — dengan hubungan yang praktis membeku bahkan sebelum serangan skala penuh Moskow ke Ukraina.

Kedua negara telah mengusir staf kedutaan masing-masing beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir.

Hubungan Moskow-London telah dirusak oleh tuduhan spionase selama beberapa dekade dan sudah berada pada titik terendah sebelum serangan Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Sejak saat itu, Inggris menjadi salah satu pendukung terkuat Kyiv.

Dinas keamanan FSB Rusia menyebutkan nama orang yang diusir sebagai Gareth Samuel Davies — terdaftar dalam basis data resmi diplomat terakreditasi Moskow sebagai sekretaris kedua kedutaan.

Kementerian Luar Negeri Rusia memanggil kuasa usaha Inggris, dengan mengatakan bahwa mereka telah mengeluarkan “protes keras” dan telah menerima informasi bahwa “salah satu staf diplomatik kedutaan termasuk dalam dinas intelijen Inggris.”

“Akreditasi individu tersebut dicabut. Dia diharuskan meninggalkan Federasi Rusia dalam waktu dua minggu,” kata kementerian tersebut.

Pengusiran oleh satu pihak biasanya diikuti oleh respons balasan dari pihak lain.

Rusia memperingatkan Inggris untuk tidak “meningkatkan situasi”, dan berjanji untuk memberikan “respons simetris yang tegas” jika London membalas.

Inggris belum berkomentar tentang tuduhan tersebut.

Hubungan yang Membeku

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer telah beberapa kali menjamu Volodymyr Zelenskyy dari Ukraina untuk pembicaraan tentang bagaimana mengakhiri perang dengan Rusia dan merupakan salah satu kritikus Kremlin yang paling vokal.

Bulan ini, Inggris dan Prancis menandatangani deklarasi niat yang menetapkan pengerahan pasukan di wilayah Ukraina setelah gencatan senjata.

Rusia menolak rencana pasca-perang tersebut, dengan mengatakan bahwa pasukan tersebut akan dianggap sebagai “target militer yang sah.”

Moskow juga baru-baru ini mengecam London karena terlibat dalam perencanaan operasi AS untuk merebut kapal tanker berbendera Rusia di Atlantik Utara.

Tuduhan spionase antara kedua negara sudah ada jauh sebelum serangan Ukraina.

Pada tahun 2006, pembelot Rusia, Alexander Litvinenko tewas di London, diracuni dengan polonium dalam apa yang menurut penyelidik Inggris merupakan pembunuhan oleh dinas rahasia Rusia.

Dan pada tahun 2018, Inggris mengatakan agen ganda Rusia, Sergei Skripal diracuni dengan agen saraf Novichok di kota katedral Inggris, Salisbury.

Seorang warga sipil tewas setelah memegang alat pengantar racun, sebuah botol parfum bekas, yang memicu pengusiran diplomat Rusia terbesar di Barat, yang diduga sebagai mata-mata, dalam beberapa dekade.

Jalur komunikasi antara Downing Street dan Kremlin telah ditutup sejak serangan Rusia.

Pemimpin Inggris terakhir yang diketahui berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin adalah Boris Johnson pada Februari 2022, beberapa hari sebelum Moskow melancarkan serangannya, ketika ia mengatakan kepada pemimpin Kremlin bahwa mengirim pasukan ke Ukraina “akan menjadi kesalahan perhitungan yang tragis.”(yn)

Iran Mengerahkan Milisi Irak untuk Menindak Demonstran di Tengah Ancaman AS

EtIndonesia. Milisi asing, yang menyamar sebagai peziarah Syiah, dilaporkan memasuki Iran untuk membantu menumpas kerusuhan nasional terhadap rezim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei. Jumlah pasti pejuang yang memasuki Iran tidak diketahui, tetapi, menurut media berita Amerika The Media Line, setidaknya 60 bus serupa berkapasitas 50 penumpang, yang membawa pemuda Irak, telah melintasi perbatasan Iran.

Di antara para pemuda yang mengangkat senjata untuk Iran adalah Mohammed Iyad, seorang warga Irak berusia 37 tahun. Menurut ibunya, Iyad direkrut oleh kelompok Hizbullah Irak dengan bayaran 600 dolar per bulan.

Dia mengatakan kepada The Media Line bahwa putranya telah menganggur selama lebih dari tiga tahun. Dia sangat membutuhkan pekerjaan, dan pada tanggal 5 Januari, seorang teman menawarinya 600 dolar per bulan untuk pergi dan membela Revolusi Islam di Iran.

“Meskipun kami menolak, dia bersikeras untuk pergi. Dia berangkat pada hari Selasa, 6 Januari, dan mengatakan dia pergi ke Basra dan kemudian ke perbatasan Iran melalui penyeberangan perbatasan Shalamcheh. Kami kehilangan kontak dengannya pada hari Rabu setelah internet mati,” kata ibu Iyad.

Laporan tersebut mengatakan beberapa milisi Syiah Irak terlibat dalam menekan protes Iran sebagai bagian dari jalur terorganisir.

“Saya tidak tahu apakah dia akan kembali atau tidak. Saya sangat terpengaruh, dan saya berharap dia kembali hidup-hidup. Dia sebelumnya berpartisipasi dalam Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), tetapi dia diberhentikan setelah tahun 2017 dan pembebasan dari ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Sejak itu, gagasan untuk berperang dan mengangkat senjata telah menghantuinya, dan dia belum bisa melupakannya,” tambahnya.

Media Amerika juga berbicara dengan seorang pegawai Kementerian Dalam Negeri Irak yang bekerja di penyeberangan perbatasan Shalamcheh antara Irak dan Iran. Ali D, yang menolak menyebutkan nama lengkapnya, mengatakan kepada publikasi tersebut bahwa lebih dari 60 bus telah melintasi perbatasan antara Irak dan Iran pada malam tanggal 11 Januari.

Dia mengatakan setiap bus dengan kapasitas 50 orang membawa pemuda yang mengaku sebagai peziarah ke tempat-tempat suci di Iran, tetapi penampilan mereka tidak mencerminkan hal itu.

“Perjalanan keagamaan ini biasanya membawa logo perusahaan atau kantor terkenal, dan bus-bus tersebut biasanya bercampur, dengan keluarga dan anak muda. Namun, semua bus yang berangkat hanya membawa pemuda yang mengenakan kemeja hitam yang sama,” katanya.

Ali D mengatakan peristiwa itu terjadi saat dia sedang bertugas di perbatasan. “Kami membahas keberadaan semua bus ini yang berangkat tanpa kami mengetahui tujuan mereka, dan mereka pergi tanpa diperiksa,” tambahnya.

Abu Azrael, seorang komandan senior di Brigade Imam Ali, milisi Irak yang didukung Iran yang beroperasi di bawah payung PMF, juga baru-baru ini mengunggah video di X yang menunjukkan dirinya mengarahkan kendaraan militer yang meninggalkan kamp Kementerian Dalam Negeri Irak.

Klip tersebut menunjukkan beberapa kendaraan militer, dengan plat nomor pemerintah Irak, meninggalkan Unit ke-8 Komando Penegakan Hukum Kepolisian Federal Irak.

“Siapa pun yang membakar tempat ibadah dan menyerang lembaga-lembaga rakyat bukanlah seorang revolusioner atau reformis, melainkan alat murahan di tangan musuh-musuh negara, yang menerapkan agenda Zionis dengan kedok kekacauan dan slogan-slogan palsu … bersama Republik melawan arogansi global,” tulis Azrael bersama video tersebut.

Namun, unggahan Departemen Luar Negeri AS dalam bahasa Persia di X menyatakan bahwa Amerika Serikat prihatin dengan laporan bahwa rezim Republik Islam Iran telah mengerahkan teroris Hizbullah dan militan Irak untuk menekan protes damai.

“Rezim ini telah menghabiskan miliaran dolar milik rakyat Iran untuk pasukan proksi teroris. Mengerahkan pasukan tersebut melawan warganya sendiri akan menjadi pengkhianatan besar lainnya terhadap rakyat Iran,” tulisnya.

Keberadaan milisi Irak di Iran juga dikonfirmasi oleh Mehdi Reza, seorang tokoh oposisi Iran dan salah satu pemimpin kampanye media yang mendukung protes tersebut.

“Selama lebih dari seminggu, milisi Irak telah terlibat dalam menekan demonstrasi di berbagai bagian Iran, tetapi banyak dari mereka telah dikerahkan untuk menjaga markas resmi atau militer, menurut konfirmasi dari para demonstran di dalam Iran,” katanya kepada The Media Line.

“Jumlahnya signifikan, dan saksi mata di Ahvaz yang berpartisipasi dalam demonstrasi melaporkan bahwa di antara mereka yang terlibat dalam menekan demonstrasi tersebut adalah individu yang berbicara bahasa Arab dengan aksen Irak,” tambahnya.

Trump Klaim Pembunuhan Para Demonstran Iran ‘Telah Berhenti’

Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa dia telah diberitahu “dari sumber yang dapat dipercaya” bahwa rencana eksekusi di Iran telah berhenti, meskipun Teheran telah mengisyaratkan pengadilan dan eksekusi cepat di masa mendatang dalam penindakannya terhadap para demonstran.

Klaim presiden AS, yang disampaikan dengan sedikit detail, muncul setelah dia mengatakan kepada warga Iran yang berdemonstrasi dalam beberapa hari terakhir bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” dan bahwa pemerintahannya akan “bertindak sesuai” untuk menanggapi pemerintah Iran.

Namun Trump belum memberikan detail apa pun tentang bagaimana AS mungkin akan merespons, dan tidak jelas apakah komentarnya pada hari Rabu mengindikasikan bahwa dia akan menunda tindakan.(yn)

Iran di Titik Kritis, tetapi Dunia Tidak Siap Menghadapi Apa yang Akan Terjadi

Tak banyak perencana yang benar-benar memikirkan pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk membangun kembali Iran.

Gregory Copley

Ke mana Iran akan melangkah setelah ini? Bagaimana keseimbangan global berubah—dan sedang diubah—oleh runtuhnya rezim teokrasi revolusioner Iran?

Rezim ulama Iran sebenarnya sudah lama berada dalam sakaratul maut. Selama 47 tahun keberadaannya, usia kekuasaannya diperpanjang oleh teknologi pengendalian massa, analisis perilaku kerumunan, serta sistem penindasan modern. Namun pada saat yang sama, ia juga dikalahkan oleh teknologi. Dan pada Januari 2026, pemerintahan Iran di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Hosseini Khamenei pada hakikatnya telah dilumpuhkan.

Meskipun transisi ini nyaris tak terelakkan, hampir tidak ada perencana yang benar-benar memikirkan pekerjaan besar untuk merekonstruksi Iran. Mereka yang memahami tugas itu sebagian besar telah tiada.

Akankah pengaruh masjid Syiah di Iran merosot drastis, sehingga Iran bergerak menuju negara yang lebih sekuler—seperti visi mendiang Shah: bukan memusnahkan agama, tetapi menempatkannya secara seimbang dalam masyarakat?

Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai muncul kembali keteraturan dan pemerintahan baru? Dan sejauh mana Rusia—khususnya—akan berupaya mempertahankan akses strategisnya ke Samudra Hindia melalui Iran, sesuatu yang telah dikejar Moskow selama berabad-abad?

Inilah intinya: Iran—yang sebelum 1935 dikenal sebagai Persia—memiliki kekuatan strategis besar karena letak geografisnya. Saat ini Iran adalah jembatan darat vital menuju dan dari Eropa Tengah, wilayah yang sangat membutuhkan jalur perdagangan tanpa harus tunduk pada Rusia atau rezim komunis Tiongkok.

Layak dipertanyakan: bagaimana struktur kekuasaan modern semakin mampu mempertahankan kekuasaan meskipun ketidakpuasan publik kian meluas—bahkan di negara-negara yang masih disebut demokrasi? 

Dalam setengah abad terakhir, kapasitas mempertahankan kekuasaan ini melonjak drastis, terlihat di Tiongkok, Iran, Venezuela, Kuba, dan bahkan—dengan cara berbeda—di Uni Eropa, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka yang berkuasa hampir selalu berusaha mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun.

Strategis Assad Homayoun (1932–2020) pernah menilai umur rezim ulama Iran menggunakan teori The Anatomy of Revolution (1938) karya Crane Brinton. Pendekatan ini tepat, kecuali soal lamanya proses. Di era modern, para “revolusioner” mampu memperpanjang masa berkuasa jauh melampaui perkiraan, sehingga memberi mereka lebih banyak waktu untuk mengokohkan cengkeraman kekuasaan.

Namun pada Januari 2026, runtuhnya rezim ulama Iran tampak tak terhindarkan. Ini menjadi sinyal keras bagi rezim-rezim “revolusioner modern” lain untuk menyadari posisi mereka dalam siklus kejatuhan: Tiongkok, Kuba, Venezuela, bahkan Ethiopia—yang telah melalui tiga fase sejak kudeta 1974—semuanya berada pada tahap terminal. Satu-satunya pertanyaan hanyalah: berapa lama fase itu akan bertahan?

Seperti Revolusi Rusia—yang sejatinya adalah kudeta disusul perang saudara—yang mampu bertahan selama 73 tahun sebelum akhirnya runtuh karena keropos dari dalam, rezim-rezim modern juga hidup lebih lama karena legitimasi yang diberikan musuh-musuhnya serta kondisi global yang menguntungkan.

Apa yang akan terjadi pada Iran ketika penggulingan rezim ulama menjadi kenyataan—dengan kemungkinan Khamenei melarikan diri? Faktor terpenting adalah sejauh mana kekuatan asing akan berlomba memengaruhi dan mengendalikan situasi. Pemain utama adalah Israel, Amerika Serikat, Rusia, dan Turkiye. Sementara Tiongkok, India, dan Arab Saudi akan bergerak lebih tidak langsung, dan negara-negara Asia Tengah serta Eropa akan tampil lebih diplomatis, terutama dalam isu perdagangan dan integrasi.

Ironisnya, hampir semua kekuatan besar yang kini ingin “mengklaim” Iran telah kehilangan memori politik tentang dinamika Persia klasik.

Tulisan dan kebijakan AS tentang Iran selama satu hingga dua dekade terakhir nyaris tanpa konteks sejarah mendalam. Sangat mungkin Rusia telah lebih dulu membuka jalur diplomasi bayangan dengan kelompok oposisi Iran, termasuk lingkaran Putra Mahkota Reza Pahlavi (65), untuk mempertahankan kepentingannya. Tidak ada bukti bahwa Reza didukung Donald Trump, yang tampaknya memiliki visi sendiri tentang Iran pasca-ulama—namun hingga pertengahan Januari 2026, visi itu belum pernah diuraikan secara jelas.

Jika Amerika tidak mencegahnya, Rusia akan berusaha mengukuhkan kembali koridor darat Iran dalam International North-South Transport Corridor, yang menghubungkan Baltik–Atlantik ke Laut Kaspia dan menembus Azerbaijan–Iran menuju Samudra Hindia. Respons Moskow yang cenderung tenang terhadap runtuhnya rezim ulama kemungkinan besar karena Rusia melihat masa depannya terikat pada Iran—bukan pada rezim ulama itu sendiri.

Tiongkok kini hampir tak lagi memiliki tenaga untuk menopang rezim ulama Iran. Kejatuhan mereka akan dipandang di dalam Tiongkok sebagai pertanda bahwa Partai Komunis Tiongkok pun sedang menuju kejatuhan. Ketidakberdayaan Tiongkok di Iran dan Venezuela adalah indikator kunci melemahnya PKT.

Masa depan datang lebih cepat daripada kesiapan siapa pun—bahkan rakyat Iran sendiri.

Dari mana akan muncul “penunggang kuda putih”—penyelamat yang mampu membangkitkan kembali bangsa ini?

【Berita Terlarang】Petinggi PKT Wang Yi Berkunjung ke Banyak Negara Sebarkan Informasi Palsu, Taiwan Kecam Keras

Menteri Luar Negeri PKT (Partai Komunis Tiongkok), Wang Yi, baru-baru ini mengunjungi sejumlah negara Afrika. Selama kunjungan tersebut, ia berulang kali menggaungkan kembali apa yang disebut sebagai “prinsip satu Tiongkok” serta menyampaikan pernyataan keras terkait Taiwan. Kementerian Luar Negeri Taiwan pada 12 Januari menyampaikan kecaman keras, menyatakan bahwa pihak PKT terus menyebarkan informasi palsu di komunitas internasional, secara serius menantang tatanan internasional dan perdamaian regional, serta memperlihatkan hakikat buruk campur tangan serius PKT terhadap urusan dalam negeri negara lain.

EtIndonesia. Wang Yi melakukan kunjungan ke Ethiopia, Tanzania, dan Lesotho pada 7–12 Januari. Selama kunjungan itu, ia berulang kali menekankan apa yang disebut “prinsip satu Tiongkok” serta melontarkan pernyataan tidak benar dan merugikan mengenai interaksi luar negeri Taiwan. Pada 12 Januari, saat mengakhiri rangkaian kunjungannya ke Afrika, Wang Yi kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Taiwan.

Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Taiwan merilis siaran pers yang mengkritik Wang Yi karena terus menggunakan ancaman, iming-iming, dan manipulasi bahasa dalam berbagai forum internasional untuk menyebarkan informasi palsu. 

Tindakan ini dinilai telah secara serius menantang tatanan internasional dan perdamaian, serta dengan jelas mengungkapkan sifat buruk penggunaan cara-cara otoriter untuk mencampuri urusan negara lain, yang patut mendapat perhatian serius dari seluruh negara.

 “Dalam rangkaian kunjungan, komunike bersama, maupun wawancara media, Wang Yi berulang kali menegaskan apa yang disebut prinsip satu Tiongkok atau klaim bahwa Taiwan adalah bagian dari Tiongkok. Tujuannya adalah untuk menginstitusikan narasi tersebut sebagai bahasa default di forum internasional, serta menggambarkan setiap hubungan luar negeri Taiwan sebagai tindakan provokatif, urusan dalam negeri, atau pemisahan,” ujar Profesor tetap Departemen Urusan Internasional dan Bisnis Universitas Nanhua Taiwan, Sun Kuo-hsiang.

Sun Kuo-hsiang juga menilai bahwa pernyataan Wang Yi bersifat menyesatkan bagi negara-negara Afrika.

 “Ketika narasi yang tidak benar ini dituliskan ke dalam teks seperti komunike pers Afrika, bagi media lokal dan birokrasi setempat, hal tersebut sering dianggap sebagai sikap diplomatik yang sudah ditetapkan, lalu disebarluaskan dan diinternalisasi sebagai pedoman kebijakan internal,” katanya. 

“Misalnya, dalam narasi mengenai kedaulatan Somalia, interaksi Taiwan dengan Somaliland digambarkan sebagai tindakan separatis atau campur tangan kekuatan eksternal, sehingga audiens yang tidak memahami aspek hukum lintas selat dan sejarah diplomasi dapat salah menafsirkan hubungan luar negeri Taiwan sebagai tantangan terhadap keutuhan wilayah negara lain,” tambahnya. 

Saat ini, Taiwan hanya memiliki satu negara sahabat diplomatik di Afrika, yaitu Eswatini. Sebagian besar negara Afrika menjalin hubungan diplomatik dengan PKT dan mempertahankan hubungan ekonomi, perdagangan, serta pembiayaan dalam skala besar.

Peneliti dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Ming-shih, menyatakan:  “Kunjungan Wang Yi ke Afrika kali ini terutama terkait dengan kedekatan hubungan antara Somaliland dengan Israel dan Taiwan. Selain itu, PKT juga memiliki pangkalan militer di Djibouti di kawasan Tanduk Afrika. Kawasan ini memiliki posisi strategis yang sangat penting; sebelumnya dalam operasi anti-pembajakan di Teluk Aden, Ethiopia juga memainkan peran penting.”

Pada Desember 2025, Israel secara resmi mengakui Somaliland—yang sejak 1991 memisahkan diri dari Somalia—sebagai “negara merdeka dan berdaulat”. Kementerian Luar Negeri PKT segera menyatakan “penentangan keras”. Dalam latar belakang sensitif ini, kunjungan Wang Yi dipandang sebagai langkah penting PKT untuk memperkuat sikap politik negara-negara Afrika.

Shen Ming-shih menambahkan:  “Wang Yi menekankan prinsip satu Tiongkok untuk mencegah negara-negara multilateral terpengaruh oleh Somaliland dan mengubah pandangan mereka terhadap realitas Taiwan saat ini. Kita juga melihat kerja sama antara Israel dan Somaliland telah menginspirasi negara-negara Amerika Latin. Misalnya, presiden terpilih Honduras juga berencana mengunjungi Israel. Amerika Serikat dan Israel memainkan peran penting baik di Amerika Latin maupun Timur Tengah.”

Perlu dicatat, Wang Yi tidak memasukkan Somalia dalam agenda kunjungannya. Namun, pada 11 Januari, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Somalia, ia menyatakan bahwa Tiongkok mendukung Somalia dalam menjaga kedaulatan, persatuan, dan keutuhan wilayahnya, serta menuduh “Somaliland berkolusi dengan otoritas Taiwan untuk merdeka”, dan menuntut Somalia mematuhi apa yang disebut “prinsip satu Tiongkok”.

Menteri Luar Negeri Somalia kemudian mengadopsi istilah satu Tiongkok versi PKT, dengan menyatakan bahwa “isu terkait Taiwan sepenuhnya merupakan urusan dalam negeri Tiongkok”. 

Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Taiwan menyampaikan protes dan kecaman keras, serta menyatakan penyesalan mendalam terhadap negara-negara terkait yang menyesuaikan diri dengan posisi Tiongkok.

Sun Kuo-hsiang menjelaskan:  “Dalam forum publik, menggunakan istilah satu Tiongkok versi Beijing merupakan pilihan berbiaya rendah bagi banyak pemerintah. Bagi negara-negara Afrika yang memiliki kerja sama dengan Taiwan tetapi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, di satu sisi mereka tidak ingin terlibat dalam perang narasi kekuatan besar, namun di sisi lain tetap berharap mempertahankan sumber kerja sama yang beragam di bidang perdagangan, investasi, pertanian, kesehatan, pendidikan dan pelatihan, serta transformasi digital.”

Ia menambahkan bahwa kunjungan Wang Yi ke Afrika dengan sorotan tinggi, disertai operasi pesan intensif terkait Taiwan, merupakan sinyal kepada negara ketiga bahwa mendekat ke Taiwan akan mendapat sorotan.

“Serangan narasi Beijing kemungkinan besar akan semakin mempersempit ruang resmi Taiwan, serta berdampak nyata terhadap diplomasi, ekonomi, dan dukungan internasional Taiwan di Afrika. Dengan kata lain, Taiwan menghadapi ambang politik dan hambatan wacana yang lebih tinggi. Selain itu, hal ini juga berfungsi sebagai peringatan bagi sejumlah kecil negara yang memiliki hubungan diplomatik resmi atau hubungan erat dengan Taiwan.”

Para pakar menilai, perjalanan Wang Yi ke Afrika bukan sekadar kunjungan diplomatik, melainkan juga sebuah perang wacana dan narasi yang berpusat pada isu Taiwan. Bagaimana mencegah penyebaran informasi palsu oleh PKT yang mengikis pemahaman komunitas internasional telah menjadi tantangan penting yang dihadapi bersama oleh negara-negara demokratis. (Hui)