EtIndonesia. Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Senin (12 Januari) mengumumkan bahwa pengadilan federal menjatuhkan hukuman 200 bulan penjara—sekitar 16 tahun 8 bulan—kepada mantan pelaut Angkatan Laut AS Wei Jinchao, atas dakwaan spionase. Wei lahir di Tiongkok dan kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat melalui naturalisasi.
Menurut dokumen Departemen Kehakiman, Wei Jinchao yang kini berusia 25 tahun ditangkap pada Agustus 2023 atas tuduhan spionase. Dewan juri federal mendakwanya karena, selama masih bertugas, ia menjual informasi pertahanan kepada seorang pejabat intelijen Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan memperoleh keuntungan sebesar US$12.000.
Bukti menunjukkan bahwa Wei Jinchao mencuri ribuan halaman informasi teknis dan operasional terkait kapal perang Angkatan Laut AS—termasuk USS Essex—dari sistem komputer internal Angkatan Laut AS. Informasi tersebut kemudian dikirimkan kepada pejabat intelijen PKT. Selain itu, ia juga menyerahkan sekitar 60 buku manual teknis, puluhan foto kapal perang, serta berbagai data terkait masa tugasnya di USS Essex.
Pada Agustus tahun lalu, juri memutuskan bahwa Wei Jinchao terbukti bersalah atas enam dakwaan, termasuk konspirasi spionase, bersekongkol melakukan aktivitas mata-mata, serta mengekspor secara ilegal data rahasia terkait kapal perang Angkatan Laut AS.
Pada Senin, pengadilan federal menjatuhkan vonis 200 bulan penjara kepada Wei Jinchao.
Jaksa Adam Gordon menyatakan: “Wei Jinchao telah mengkhianati sumpahnya, rekan-rekan prajuritnya, Angkatan Laut Amerika Serikat, dan rakyat Amerika. Ketidaksetiaan yang serius ini menyentuh inti keamanan nasional kami dan harus dihukum dengan sangat berat.”
Pihak kejaksaan sebelumnya mengungkapkan bahwa sejak Wei Jinchao mengajukan permohonan kewarganegaraan AS, ia sudah menjadi target perekrutan oleh pejabat intelijen PKT. Ibunya bahkan mendorongnya untuk menjadi informan PKT, dengan iming-iming bahwa setelah pensiun dari militer ia bisa memperoleh posisi di pemerintahan Tiongkok. (Hui)
Laporan gabungan oleh wartawan New Tang Dynasty, Li Mei dan Tang Cheng.
Meski baru-baru ini Kamboja mengekstradisi otak utama penipuan sekaligus pendiri Taizi Group, Chen Zhi, ke Tiongkok, banyak kamp penipuan tidak berhenti beroperasi. Belakangan, seorang pemuda dari Tiongkok daratan mengungkap bahwa kamp-kamp penipuan di Kamboja masih terus berjalan, dan terdapat sejumlah besar warga Tiongkok yang terjebak di dalamnya.
EtIndonesia. Pada 12 Januari, seorang pemuda asal Sichuan berusia 25 tahun bernama Li He (nama samaran) mengatakan dalam wawancara bahwa ia awalnya mencari pekerjaan di Shenzhen. Karena percaya pada iklan lowongan kerja “memindahkan barang, gaji bulanan di atas 10.000 yuan”, ia justru ditipu dan dibawa ke sebuah kamp penipuan di Kamboja.
Li He mengenang bahwa setelah masuk ke kamp tersebut, ia digeledah, kebebasannya dibatasi, dan setiap hari dipaksa bekerja dalam waktu lama melakukan penipuan telekomunikasi. Jika target tidak tercapai, ia akan dimaki, dihukum secara fisik, bahkan dikurung dalam sel isolasi.
Ia juga menggambarkan kamp itu seperti penjara. Menurutnya, para petinggi sudah lebih dulu melarikan diri, tetapi seluruh sistem masih terus beroperasi, dan hingga kini masih ada ribuan warga Tiongkok yang terperangkap.
Pada akhirnya, keluarganya membayar tebusan sekitar 250.000 yuan agar ia bisa dibebaskan.
“Kamp penipuan di Kamboja ini berskala besar, terorganisasi, dan berdisiplin. Pada hakikatnya, ini adalah rantai industri hitam yang mendapat perlindungan, dorongan, bahkan pembagian keuntungan dari pihak berwenang. Bahwa pemuda ini bisa lolos adalah sebuah keberuntungan di tengah kemalangan,” ujar Lai Jianping, akademisi independen.
Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut pernah mengungkap bahwa berbagai kamp penipuan di Asia Tenggara selama bertahun-tahun berada di bawah perlindungan Departemen Front Persatuan dan sistem keamanan negara PKT.
Li He juga mengungkapkan bahwa pada Juli 2025, setelah keluarganya meminta bantuan ke kedutaan besar Tiongkok, ia justru “dijual”. Perusahaan tempat ia ditahan memborgol dan menggantungnya di bawah terik matahari selama tiga hari tiga malam, disertai pembatasan makanan dalam waktu lama, sebelum akhirnya ia dijual ke perusahaan penipuan lain di sebelahnya.
Wu Shaoping, Ketua Aliansi Pengacara HAM Tiongkok di Luar Negeri: “Karena itu, jika warga Tiongkok di luar negeri menjadi korban kelompok kriminal, jangan sekali-kali meminta bantuan ke kedutaan atau konsulat PKT. Hasilnya justru akan membuat para korban mengalami penderitaan yang lebih parah.”
Pada Juni tahun lalu, Amnesty International memastikan bahwa setidaknya terdapat 53 kamp penipuan di wilayah Kamboja.
Lai Jianping: “Kamp penipuan di Kamboja pada dasarnya merupakan hasil kolusi resmi antara Tiongkok (PKT) dan Kamboja, bahkan melibatkan Myanmar serta negara-negara lain. Termasuk sumber nomor telekomunikasi mereka, semuanya menunjukkan ciri jelas kejahatan terorganisasi.”
Laporan hasil wawancara oleh wartawan New Tang Dynasty, Li Yun dan Qiu Yue
EtIndonesia. Seorang pemuda bekerja di pegunungan. Setiap hari dia masuk ke hutan untuk menebang kayu. Dia bekerja sangat keras. Saat orang lain beristirahat, dia tetap mengayunkan kapaknya tanpa henti. Dia tak mau berhenti sebelum hari benar-benar gelap.
Dia berharap suatu hari bisa sukses. Selagi masih muda, dia ingin berjuang lebih keras. Namun setelah lebih dari setengah bulan berlalu, dia heran: tak sekali pun dia mampu mengalahkan para pekerja senior. Padahal ketika mereka beristirahat, dia masih bekerja. Mengapa hasilnya tetap kalah?
Pemuda itu bingung. Dia mengira dirinya belum cukup berusaha. Dia pun bertekad, besok harus bekerja lebih keras lagi. Namun keesokan harinya, hasilnya justru lebih buruk dari hari-hari sebelumnya.
Saat itulah seorang pekerja senior memanggilnya untuk minum teh bersama.
Dalam hati, pemuda itu menggerutu: “Hasil kerjaku saja sudah jelek! Mana ada waktu untuk istirahat?”
Dia pun menjawab dengan suara keras: “Terima kasih! Saya tidak punya waktu!”
Pekerja senior tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu berkata: “Anak muda yang bodoh! Terus menebang kayu tanpa mengasah kapak, cepat atau lambat hasilmu akan turun dan kamu akan menyerah. Itu bukan kerja keras—itu hanya menghambur-hamburkan tenaga.”
Barulah pemuda itu mengerti.
Ternyata, para senior memanfaatkan waktu minum teh, mengobrol, dan beristirahat untuk mengasah kapak mereka. Tak heran, mereka bisa menumbangkan pohon dengan cepat dan efisien.
Sambil menepuk bahu si pemuda, sang senior berkata: “Anak muda memang harus rajin bekerja! Tapi ingat, hemat tenaga—jangan hanya mengandalkan tenaga kasar secara membabi buta.”
Dia pun tertawa sambil mengangkat kapaknya yang baru diasah, berkilau dan tajam.
Bagaimana denganmu?
Ingatlah: yang kamu butuhkan adalah efisiensi, bukan sekadar sibuk.
Tingkatkan keterampilan dan kemampuanmu, barulah kamu punya waktu untuk mengerjakan hal-hal yang benar-benar penting. Kalau tidak, yang tersisa hanya keluhan: “Tidak ada waktu!”
Belajar Melepas Tekanan (Tips Mengelola Stres)
Tarik napas dalam-dalam Saat merasa tertekan, berhentilah sejenak dan ambil beberapa napas panjang untuk menenangkan diri.
Menjauh sejenak Kadang, keluar sebentar dari situasi yang menekan justru membuat masalah lebih mudah diatasi.
Tersenyum Apa pun keadaannya, cobalah tersenyum—meski senyum palsu atau senyum pahit. Lihat dirimu yang tersenyum; itu membantu.
Bergerak Tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan. Bergerak atau berolahraga membantu tubuh rileks, dan pikiran pun ikut lega. Jika jadi kebiasaan, kesehatan dan daya tahan stres akan meningkat pesat.
Satu per satu Stres sering muncul karena kita menghadapi terlalu banyak hal sekaligus. Batasi fokus: pikirkan satu hal, kerjakan satu hal.
Rapikan diri, lalu lanjutkan Saat panik, masalah terasa buntu. Tenangkan diri, pahami apa yang terjadi, dan cari cara yang paling membantu—baru melangkah lagi.
Renungan
Bekerja keras itu penting. Bekerja dengan arah yang benar jauh lebih penting. Banyak orang sibuk bekerja hingga lupa mencari cara agar bekerja lebih efektif. Ketika diingatkan, jawabannya sering sama: “Aku sudah sibuk sekali, mana ada waktu?”
Padahal, karena tak meluangkan waktu untuk mencari cara yang lebih baik, kita justru terjebak berputar-putar dalam kesibukan yang melelahkan.
Cobalah berhenti sejenak, melihat sekitar, dan menyusun strategi. Meski belum menemukan cara baru, setidaknya kamu mendapatkan istirahat yang layak. Dan jika menemukan cara yang tepat, pertumbuhanmu akan jauh lebih efisien. (jhn/yn)
Setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan keinginannya untuk membeli Pulau Greenland, anggota DPR dari Partai Republik, Randy Fine, pada 12 Januari secara resmi mengajukan rancangan undang-undang yang bertujuan memberi wewenang kepada presiden untuk mengambil langkah guna memasukkan Greenland ke dalam wilayah Amerika Serikat. Namun, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen pada 13 Januari mengubah sikapnya dan menegaskan bahwa Greenland lebih memilih tetap berada di bawah Denmark daripada menjadi wilayah Amerika Serikat.
Pada Rabu pekan ini (14 Januari), Menteri Luar Negeri Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wakil Presiden JD Vance di Gedung Putih untuk membahas masa depan Greenland.
EtIndonesia. Pada Senin (12 Januari), anggota DPR AS Partai Republik Randy Fine mengajukan RUU berjudul “Greenland Annexation and Statehood Act” (Undang-Undang Aneksasi dan Kenegaraan Greenland). Jika RUU ini disahkan, presiden akan diberi kewenangan untuk menggunakan “segala cara yang diperlukan” guna memperoleh Greenland, serta mewajibkan Kongres merencanakan langkah untuk secara resmi memasukkannya ke dalam Amerika Serikat sebagai negara bagian ke-51.
Fine menyatakan dalam pernyataannya: “Greenland adalah aset keamanan nasional yang sangat penting. Siapa pun yang menguasai Greenland, akan menguasai jalur pelayaran utama di Arktik.”
Ia menekankan bahwa setelah pemerintahan Trump berhasil menyingkirkan Maduro, Amerika Serikat seharusnya melanjutkan momentum tersebut untuk memastikan bahwa aturan di kawasan Arktik ditentukan oleh AS, bukan oleh Partai Komunis Tiongkok atau Rusia.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen pada Selasa (13 Januari) menyatakan bahwa di tengah dorongan Presiden Trump untuk mengambil alih pulau Arktik tersebut, Greenland lebih memilih tetap berada di bawah Denmark dan tidak ingin menjadi wilayah Amerika Serikat.
“Greenland tidak ingin dimiliki oleh Amerika Serikat. Greenland tidak ingin diperintah oleh Amerika Serikat. Greenland tidak akan menjadi bagian dari Amerika Serikat. Kami memilih Greenland seperti yang kita kenal hari ini, yaitu sebagai bagian dari Kerajaan Denmark. Saat ini kami menghadapi krisis geopolitik. Jika pada saat ini kami harus memilih antara Amerika Serikat dan Denmark, maka pilihan kami adalah Denmark,” ujar Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen.
Menteri Luar Negeri Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Gedung Putih pada Rabu.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen: “Kami berharap dapat membuka dialog dan menjalin kerja sama. Kami tidak mencari konflik, tetapi pesan kami sangat jelas: Greenland tidak untuk dijual.”
Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen menyatakan bahwa ia akan bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Senin depan (19 Januari), dengan didampingi Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt, untuk membahas keamanan kawasan Arktik.
Poulsen mengatakan Denmark berencana meningkatkan penempatan militer di Greenland pada tahun 2026 dan mengundang negara-negara NATO lainnya untuk berpartisipasi dalam latihan dan pelatihan bersama.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Senin menyatakan bahwa negara-negara anggota sedang mendiskusikan “langkah selanjutnya” untuk menjamin keamanan Arktik, termasuk mempertimbangkan pembentukan mekanisme pertahanan bersama bernama “Arctic Sentry” (Penjaga Arktik), guna meredakan kekhawatiran Trump terkait keamanan Greenland.
Meskipun Denmark telah menguasai Greenland selama ratusan tahun, sejak 1979 Greenland secara bertahap bergerak menuju kemerdekaan, sebuah tujuan yang didukung oleh seluruh partai politik di parlemen pulau tersebut.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat harus memiliki Greenland untuk mencegah Rusia atau Partai Komunis Tiongkok di masa depan menguasai pulau yang memiliki posisi strategis dan kaya sumber daya mineral itu. Pejabat Gedung Putih disebut telah membahas berbagai opsi, termasuk kemungkinan penggunaan militer AS atau pembayaran uang tunai satu kali kepada penduduk Greenland, guna membujuk mereka untuk melepaskan diri dari Denmark.
Selain itu, Komisioner Uni Eropa untuk urusan pertahanan dan antariksa pada Senin menyatakan bahwa jika Denmark mengajukan permintaan, Uni Eropa dapat membantu menyediakan jaminan keamanan bagi Greenland. Namun ia memperingatkan bahwa pengambilalihan Greenland oleh Amerika Serikat melalui cara militer akan berarti berakhirnya NATO. (Hui)
Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat.
Baru-baru ini, pihak berwenang merilis dua pengumuman resmi secara berurutan. Seorang siswa SMP berusia 13 tahun di Provinsi Henan, Tiongkok meninggal dunia secara mencurigakan.
Setelah kejadian, keluarga korban menuntut kebenaran namun justru menghadapi pemblokiran total, sementara sejumlah besar polisi bersenjata dikerahkan dan ditempatkan di lingkungan sekolah. Pihak berwenang juga dengan tergesa-gesa menetapkan kesimpulan kasus. Namun, pada jenazah bocah tersebut ditemukan luka aneh berupa lubang seperti bekas paku di area jantung, yang memicu keraguan luas dari publik.
Pihak luar menilai kasus ini penuh kejanggalan dan memiliki kemiripan tinggi dengan kasus Hu Xinyu. Selain itu, baru-baru ini di Tiongkok daratan beredar dua surat terbuka berjudul “Surat kepada Sesama Rakyat” yang menyerukan masyarakat untuk sadar dan bangkit melawan tirani Partai Komunis Tiongkok (PKT).
“Lihatlah, di Qinghuayuan bisa terjadi hal seperti ini. Anak saya meninggal di sekolah, sekarang kami tidak diizinkan bertemu siapa pun, kami terus dihalangi,” ujar keluarga korban.
EtIndonesia. Pada 12 Januari 2026, informasi yang beredar di media sosial luar negeri menyebutkan bahwa setelah seorang siswa bermarga Zhu dari Sekolah Menengah Atas Jinshi Qinghuayuan di Kabupaten Xincai, Kota Zhumadian, Henan, Tiongkok, meninggal dunia secara mencurigakan, keluarganya menuntut kejelasan.
Warga kemudian datang memberikan dukungan, namun pihak berwenang mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata untuk menindas aksi tersebut, mengepung sekolah dengan ketat. Bukan hanya jalan raya yang diblokir, bahkan pengacara yang disewa keluarga untuk melakukan penyelidikan independen juga dihalangi masuk ke sekolah; ponselnya dirusak oleh petugas, dan informasi akun media sosialnya dihapus.
Wu Shaoping, Ketua Aliansi Pengacara HAM Luar Negeri: “Ini jelas upaya untuk menutupi fakta kejahatan. Penutupan itu termasuk mengerahkan polisi bersenjata dalam jumlah besar ke lokasi, menggunakan kekuatan untuk mencegah masyarakat mencari kebenaran.”
Menurut warga setempat, keluarga korban telah dikendalikan oleh pihak berwenang, dan video-video yang diunggah warga ke internet juga dihapus.
Orang tua di Henan, bermarga Liu: “Keluarga korban sudah tidak bisa ditemukan. Video-video di internet menghilang. Apa pun yang diunggah dari Henan, entah dibatasi jangkauannya atau langsung dihapus, bahkan akun-akunnya dimatikan.”
Peristiwa ini terjadi pada 8 Januari. Pihak sekolah berusaha memindahkan jenazah dengan cepat tanpa kehadiran orang tua, namun upaya tersebut berhasil dicegah oleh kerabat korban yang segera datang.
Setelah orang tua korban tiba, dan melalui protes selama beberapa jam, mereka akhirnya diizinkan melihat jenazah anak tersebut. Namun, mereka menemukan darah di sudut mulut anak, serta sebuah lubang mencurigakan sebesar paku di bagian dada, sehingga penyebab kematian pun dipertanyakan.
Warga daratan Tiongkok : “Keluarga hanya ingin penjelasan. Anak itu meninggal di sekolah, bagaimana bisa meninggal? Tidak satu pun orang yang keluar memberikan keterangan. Saya sudah melihat video anak itu, tapi sekarang sudah tidak bisa ditemukan, banyak yang dihapus. Apa sebenarnya lubang seperti bekas jarum di posisi jantung itu?”
Namun, dalam waktu kurang dari 24 jam, Biro Pendidikan setempat—menggantikan peran kepolisian—dengan tergesa-gesa merilis pengumuman yang menyatakan bahwa berdasarkan penyelidikan awal, kasus pidana telah dikesampingkan.
Wu Shaoping: “Dalam seluruh pengumuman itu, mereka sama sekali tidak menjelaskan mengapa anak itu meninggal atau apa penyebab kematiannya. Tidak ada penjelasan apapun kepada publik. Jelas kami menilai ada sesuatu yang tidak berani mereka ungkapkan kepada masyarakat.”
Dua hari kemudian, apa yang disebut sebagai tim investigasi gabungan Kabupaten Xincai kembali merilis pengumuman yang menyatakan bahwa berdasarkan pemeriksaan dan konsultasi medis, Zhu meninggal akibat penyakit jantung. Mengenai lubang jarum di dada kiri, diklaim sebagai bekas pengambilan darah oleh dokter forensik untuk pemeriksaan toksikologi; sedangkan cairan merah di sudut mulut disebut sebagai cairan tubuh yang keluar saat jenazah dipindahkan.
Namun, penjelasan ini menuai bantahan luas. Sejumlah profesional medis menulis bahwa lubang bulat di dada korban lebih menyerupai bekas tusukan jarum besar yang langsung menembus jantung untuk mengambil darah. Ada pula yang menyebutkan bahwa tindakan menusuk darah jantung di area tersebut biasanya muncul dalam eksperimen yang membutuhkan sampel dengan aktivitas biologis tinggi dalam waktu singkat. Pihak luar menilai ini sebagai kasus Hu Xinyu yang terulang kembali.
Orang tua dari Xincai, bermarga Qi: “Ini adalah sebuah rantai industri, mereka tidak menganggap rakyat biasa sebagai manusia.”
Pada 12 Januari, di Tiongkok daratan juga beredar dua surat “Surat kepada Sesama Rakyat” yang menyerukan masyarakat untuk sadar dan berdiri melawan tirani PKT. (Hui)
Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty, Tang Rui dan Xiong Bin melalui wawancara telepon.
EtIndonesia. Seorang kakek merayakan ulang tahunnya yang ke-90. Banyak orang datang memberi ucapan selamat. Mereka semua memuji sang kakek: tubuhnya masih kuat, wajahnya tampak berseri, dan semangatnya begitu prima—sama sekali tidak terlihat seperti orang berusia 90 tahun.
Lalu ada yang bertanya: “Eyang, apa rahasia panjang umur Anda?”
“Baiklah, akan kuberitahu rahasiaku!”
Kakek itu menjawab dengan ekspresi penuh misteri sekaligus bangga: “Enam puluh lima tahun yang lalu, pada malam pertama setelah menikah, aku dan istriku membuat kesepakatan. Mulai hari itu, kalau kami bertengkar dan akhirnya terbukti siapa yang salah—maka orang yang salah harus keluar ke halaman untuk berjalan-jalan.”
“Dan selama 65 tahun ini… setiap kali kami bertengkar, akulah yang selalu keluar ke halaman, bahkan kadang berjalan sampai ke jalanan.”
Cerita ini ingin menyampaikan apa?
Para ahli komunikasi menemukan bahwa konflik yang paling sengit biasanya terjadi karena perdebatan soal “benar” dan “salah”.
Banyak orang memegang keyakinan: “Di antara kita, hanya boleh ada satu yang benar.”
Maka ketika konflik muncul, menang-kalah sering terasa lebih penting daripada menyelesaikan masalah.
Namun… coba perhatikan sebuah gambar (seperti yang disebutkan pada link terkait). Menurutmu, kamu melihat apa?
Sebuah segi enam dengan tiga garis yang saling berpotongan di tengah?
Enam segitiga?
Enam jajargenjang?
Enam belah ketupat?
Enam trapesium?
Lalu… siapa yang benar? siapa yang salah?
Semuanya benar—tapi sekaligus bisa dianggap salah.
Karena:
Satu “kebenaran” bisa memiliki banyak sudut pandang
Satu peristiwa bisa dipahami dengan seribu cara
Satu objek bisa memiliki tak terhitung sisi
Sebelum kita berdebat sampai muka memerah dan emosi meledak, cobalah mundur sebentar dari perang “benar vs salah”.
Karena…kamu tidak pernah tahu, setelah bergeser sedikit saja, kamu akan melihat hal lain yang sebelumnya tak terlihat.
Renungan
Di dunia ini, jarang ada benar atau salah secara mutlak. Yang kerap berbeda adalah: cara memandang, cara berpikir, kedalaman dan keluasan sudut pandang, serta posisi dan kepentingan.
Dalam hubungan antarmanusia, jika kita mau mencoba berdiri di posisi orang lain, kita akan lebih mudah memiliki kepedulian dan kesabaran.(jhn/yn)
Serangan terjadi pada 4 Januari, ketika seorang petugas keamanan Konsulat Tiongkok menyemprotkan semprotan merica (pepper spray) kepada sejumlah pengunjuk rasa damai.
EtIndonesia. Para korban serangan oleh petugas keamanan Konsulat Tiongkok di Los Angeles menyatakan bahwa mereka berniat mengajukan gugatan hukum terhadap pelaku, misi diplomatik tersebut, dan otoritas Beijing.
Jie Lijian, ketua Aliansi Internasional Partai Demokrasi Tiongkok dan salah satu korban, menggelar konferensi pers di luar Konsulat Jenderal Tiongkok pada 11 Januari. Ia mengatakan bahwa pertanggungjawaban tidak boleh hanya berhenti pada pelaku dan perusahaan keamanannya, tetapi juga harus mencakup Konsulat Jenderal Tiongkok dan otoritas di Beijing. Ia menegaskan bahwa serangan itu merupakan tindakan represi lintas negara rezim Tiongkok.
“Kami akan membawa mereka ke pengadilan,” kata Jie, menurut terjemahan pidato aslinya dalam bahasa Mandarin.
“Upaya menuntut keadilan ini bukan sekadar soal pemulihan pribadi—ini adalah perjuangan hidup dan mati antara keadilan global, demokrasi, dan kebebasan, melawan tirani gelap dan jahat rezim komunis Tiongkok.”
Orang-orang berpartisipasi dalam konferensi pers di luar Konsulat Tiongkok di Los Angeles pada 11 Januari 2026. (Jie Lijian)You Feizhu, seorang pengacara hak asasi manusia asal Tiongkok, berbicara dalam konferensi pers di luar Konsulat Tiongkok di Los Angeles pada 11 Januari 2026. (Jie Lijian)
Serangan itu terjadi pada 4 Januari, setelah puluhan pengunjuk rasa asal Tiongkok menggelar aksi damai di luar Konsulat Jenderal Tiongkok untuk merayakan penangkapan mantan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, sekaligus mengecam Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan pemimpinnya, Xi Jinping.
Acara tersebut berubah menjadi insiden serius ketika seorang petugas keamanan—setelah melontarkan ancaman verbal dalam adu mulut yang memanas—menyemprotkan pepper spray kepada para peserta dan orang-orang yang berdiri di jalan, sebagaimana terlihat dalam rekaman video di lokasi kejadian.
Petugas tersebut, Wu Xian (38 tahun), pemilik perusahaan keamanan, ditangkap tak lama setelah serangan. Menurut Departemen Sheriff Kabupaten Los Angeles, ia dibebaskan dua hari kemudian berdasarkan perintah pengadilan.
Jie mengatakan ia percaya Wu memilih menyerang para pengunjuk rasa karena mengira dirinya bertindak sebagai aparat penegak hukum Tiongkok yang menjalankan aturan PKT.
You Feizhu, seorang pengacara HAM asal Tiongkok yang termasuk di antara ratusan pengacara dan aktivis yang menjadi sasaran penindasan nasional di Tiongkok pada 2015, mengatakan dalam konferensi pers bahwa ia merasa beruntung dapat ikut serta dalam aksi damai di Amerika Serikat.
“Jika serangan semacam ini terjadi di Tiongkok … para korban bisa dikurung di pusat tahanan dan menghadapi tuduhan seperti ‘mengganggu ketertiban umum’ dan ‘mengganggu ketertiban sosial,’” kata You, menurut terjemahan pidato aslinya dalam bahasa Mandarin.
Gugatan Hukum
Markas besar Partai Demokrasi Tiongkok menggelar konferensi pers terpisah di City of Industry, California, pada 10 Januari. Ketua organisasi tersebut, Zheng Cunzhu, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa gugatan juga akan menuntut Konsulat Jenderal Tiongkok untuk menyampaikan permintaan maaf atas serangan tersebut.
“Kami percaya Konsulat Jenderal Tiongkok memikul tanggung jawab bersama, karena dalam mempekerjakan perusahaan keamanan semacam ini dan menugaskan personel keamanan tersebut, mereka gagal melakukan pemeriksaan latar belakang yang memadai,” kata Zheng.
“Mereka mempekerjakan perusahaan keamanan yang pada dasarnya tidak memahami hukum AS dan menggunakan kekerasan terhadap orang lain di lokasi. Karena itu, konsulat sendiri memikul tanggung jawab—baik disengaja maupun karena kelalaian—dan memiliki tanggung jawab perdata bersama.”
Zheng mengatakan bahwa serangan ini mencerminkan taktik baru Beijing untuk mengintimidasi aktivis pro-demokrasi di luar negeri dan menghalangi partisipasi dalam aksi damai di masa depan.
Konferensi pers Partai Demokrasi Tiongkok di City of Industry, California, pada 10 Januari 2026. Ma Shangen/The Epoch Times.Fu Chaoqun (kiri) berbicara dalam konferensi pers di City of Industry, California, pada 10 Januari 2026. Ma Shangen/The Epoch Times.Le Zailin (kiri) berbicara dalam konferensi pers di City of Industry, California, pada 10 Januari 2025. Ma Shangen/The Epoch Times.
Terdapat delapan korban dalam serangan tersebut, dan sebagian memerlukan perawatan rumah sakit.
Fu Chaoqun, salah satu korban, mengenang perasaannya sesaat setelah serangan dalam konferensi pers 10 Januari:
“Selama mungkin satu atau dua detik, saya berada dalam kondisi seperti tercekik, merasa tidak bisa bernapas. Lalu segera muncul sensasi terbakar di seluruh wajah saya. Pada saat itu, saya merasa seperti akan mati. Itu adalah perasaan tercekik yang luar biasa,” ujar Fu.
“Saya berjongkok di tanah dan berteriak minta tolong dengan putus asa. Itu adalah dorongan naluriah yang sangat dalam, dari hati, untuk bertahan hidup.”
Korban lain, Le Zailin, mengatakan bahwa Wu sudah tidak lagi bertindak sebagai petugas keamanan:
“Dia telah memilih berpihak kepada Konsulat Jenderal Tiongkok. Dia bukan lagi petugas keamanan. Dia adalah preman Partai Komunis Tiongkok,” kata Le.
Pejabat AS Mengecam Represi Lintas Negara, Membela Kebebasan
Setelah insiden itu, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan: “Amandemen Pertama Konstitusi AS melindungi hak untuk berkumpul secara damai. Setiap upaya untuk menekan kebebasan dasar ini di AS adalah tidak dapat ditoleransi.”
Beberapa anggota Kongres AS juga angkat suara. John Moolenaar, anggota Partai Republik dari Michigan dan Ketua Komite DRP AS untuk Partai Komunis Tiongkok, dengan tegas mengecam paksaan transnasional PKT:
“PKT menggunakan represi dan intimidasi transnasional untuk membungkam para kritikus di luar negeri.”
Komite tersebut berjanji untuk: “terus mengekspos dan menentang pelanggaran hak asasi manusia oleh PKT serta intimidasi terhadap para pembangkang.”
Byron Donalds, anggota Partai Republik dari Florida, juga menyatakan dukungannya. Darrell Issa, anggota Partai Republik dari California dan Wakil Ketua House Foreign Affairs Committee, mengutip peristiwa penumpasan Lapangan Tiananmen 1989:
“Sejak Tiananmen, kita tahu PKT menggunakan metode tersembunyi; saya tidak terkejut mereka melakukan ini di AS.”
Jie Lijian mengatakan: “Pernyataan publik ini adalah perlindungan terbesar kami. Departemen Luar Negeri AS dan Kongres menunjukkan keseriusan AS. Tetapi diperlukan tindakan lebih lanjut. PKT semakin sembrono; peristiwa ini menghina hukum AS. Kami berharap FBI dan DOJ menangkap lebih banyak agen untuk mencegah mereka.”
Dalam beberapa tahun terakhir, AS telah menangkap dan menuntut beberapa agen PKT.
Pola Global Represi Lintas Negara: Dari Shen Yun hingga Ancaman Siber
Insiden ini hanyalah puncak gunung es dari represi transnasional PKT. Jie Lijian menyebutkan bahwa pertunjukan Shen Yun telah menghadapi pelecehan global, dan dirinya sendiri juga menjadi sasaran:
“PKT mengirim ancaman bom palsu ke teater di seluruh dunia, menyamar sebagai pejabat untuk menghentikan pertunjukan. Pada Desember 2025, nama saya dan email Sheng Xue disalahgunakan untuk mengirim ancaman ke Taiwan, memperingatkan ledakan atau penembakan di teater Shen Yun. Tahun lalu, mereka menyamar sebagai saya untuk mengancam perayaan Taiwan 101 dan Double Ten untuk memblokir penayangan film.”
Pada 2025, Falun Dafa Information Center dan Kuil Dragon Spring (Longquan) menerima surat ancaman bersenjata atas nama Jie, yang kemudian dilaporkan ke Kongres dan Gedung Putih. Jie berkomentar:
“Ini adalah ancaman kasar, jelas palsu, yang bertujuan menimbulkan kepanikan. Agen PKT, putus asa untuk membuktikan diri, tidak memiliki opsi lain.”
Jie Lijian mengatakan, para korban meminta Badan Keamanan Nasional AS (NSA) untuk menyelidiki secara penuh dan menuntut pertanggungjawaban konsulat, perusahaan keamanan, dan Wu Xian.
“Kami mendesak pemerintah AS untuk mengambil tindakan lebih tegas. Peristiwa ini adalah panggilan waspada. Komunitas internasional harus merespons secara aktif terhadap represi global PKT.” (asr)
Tiongkok adalah pembeli terbesar minyak Iran, mencakup lebih dari 80 persen dari total pembelian.
EtIndonesia. Sebagai mitra dagang terbesar Iran dan pembeli minyak terbesarnya, Tiongkok menempati posisi teratas dalam daftar negara yang berpotensi menghadapi tarif tambahan sebesar 25 persen setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Senin 12 Januari .
Trump menulis di Truth Social bahwa semua negara yang berbisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25 persen atas seluruh transaksi bisnis dengan Amerika Serikat, beberapa jam setelah ia memberi sinyal bahwa serangan udara atau langkah-langkah lain terhadap Iran sedang dipertimbangkan.
Gedung Putih hingga kini belum menerbitkan perintah eksekutif yang merinci tarif baru tersebut, dan Trump juga belum memberikan detail tambahan.
Menurut data Bank Dunia, Tiongkok menyumbang 27,72 persen dari total perdagangan Iran, sementara Iran juga membeli 26 persen barang impornya dari Tiongkok.
Tiongkok adalah pembeli terbesar minyak Iran, mencakup lebih dari 80 persen dari total pembelian. Pasar Iran sendiri sudah terbatas akibat sanksi AS yang bertujuan membatasi pengembangan nuklir Iran, sehingga Tiongkok dapat memperoleh minyak Iran dengan harga diskon. Minyak tersebut sering dikirim ke Tiongkok melalui apa yang oleh Departemen Keuangan AS disebut sebagai “armada bayangan”—kapal-kapal yang mengibarkan bendera palsu dan melakukan pemindahan kargo berisiko untuk menghindari sanksi.
Menurut perusahaan analitik perdagangan global Kpler, Tiongkok membeli 1,38 juta barel per hari minyak Iran dalam enam bulan pertama tahun 2025, dibandingkan 1,48 juta barel per hari sepanjang 2024.
Rezim Tiongkok dan Iran telah menjadi sekutu dekat selama beberapa dekade, dengan Tiongkok memberikan bantuan penting bagi Iran dalam pengembangan nuklirnya. Kedua rezim menandatangani perjanjian penelitian nuklir rahasia pada 1985 dan 1990, yang rinciannya baru diketahui pada tahun-tahun berikutnya, menurut laporan U.S.–China Security Review Commission tahun 2013.
Di bawah tekanan Amerika Serikat, pada 1995 Tiongkok setuju menghentikan penjualan reaktor nuklir kepada Iran, namun masih terlibat dalam kegiatan pengembangan nuklir lainnya—seperti pengembangan fasilitas konversi uranium—menurut laporan Kongres tersebut. Setelah beberapa putaran negosiasi tingkat tinggi, pada 1997 Tiongkok sepakat tidak lagi terlibat dalam proyek-proyek nuklir baru dengan Iran.
Tiongkok juga telah menjadi pemasok senjata utama bagi Iran selama beberapa dekade. Pada 1990, Tiongkok menandatangani perjanjian pertukaran teknologi militer 10 tahun dengan Iran, namun diyakini telah menjual senjata kepada Iran melalui negara perantara jauh sebelum perjanjian tersebut, menurut laporan itu.
Entitas-entitas Tiongkok beberapa kali dijatuhi sanksi sejak 2002 karena menyediakan barang terkait rudal kepada Iran, dan selama bertahun-tahun terdapat puluhan laporan mengenai bantuan Tiongkok dalam pembangunan fasilitas-fasilitas terkait rudal di Iran.
Pada Maret 2021, Tiongkok dan Iran menandatangani perjanjian kerja sama 25 tahun, yang menuai kritik internasional.
Laporan riset staf U.S.–China Economic and Security Review Commission tahun 2021 menemukan bahwa Iran memandang Tiongkok sebagai salah satu dari sedikit kekuatan dunia yang dapat memberinya penyangga terhadap Amerika Serikat, sementara pandangan Tiongkok lebih bersifat oportunistis—karena pada saat-saat tertentu Tiongkok juga mendukung para pesaing Iran di kawasan.
Iran juga merupakan anggota Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) andalan Tiongkok serta Organisasi Kerja Sama Shanghai, sebuah blok internasional yang didirikan untuk menandingi pengaruh Barat.
Menurut laporan tersebut, Tiongkok diuntungkan oleh fokus Amerika Serikat yang tersedot ke Iran dan Timur Tengah, karena hal itu memberi Beijing waktu untuk memperluas pengaruhnya di Indo-Pasifik.
Namun, potensi konflik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi faktor pembatas utama dalam kemitraan ini, karena dapat membahayakan keamanan energi Tiongkok—sebuah skenario yang kini mungkin sedang mulai terwujud.
Mitra dagang Iran lainnya termasuk Uni Emirat Arab, Turkiye, India, Jerman, Korea Selatan, dan Jepang.
Sejauh ini, sekitar 2.403 pengunjuk rasa dilaporkan tewas, menurut pembaruan terbaru dari sebuah kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat.
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan para pemimpin Iran dengan “tindakan yang sangat keras” jika laporan yang menuduh rezim Khamenei menggantung para pengunjuk rasa di negara itu terbukti benar. Hal demikian disampaikan Trump dalam wawancara dengan CBS News yang dipublikasikan secara daring pada 13 Januari 2026.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga memberikan dukungan kepada para demonstran, dengan menulis di Truth Social agar mereka terus memberi tekanan kepada rezim dan mengambil alih lembaga-lembaga negara.
“Catat nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar harga yang sangat mahal,” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dibatalkan hingga pembunuhan dihentikan. “BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN.”
Ketika pewawancara menanyakan tentang kabar bahwa rezim akan mulai “menggantung para demonstran besok … apakah mereka telah melampaui garis merah Anda, atau garis itu telah bergeser?”, Trump menjawab bahwa ia belum “mendengar soal penggantungan.” Namun ia menegaskan:
“Jika mereka menggantung mereka, … kami akan mengambil tindakan yang sangat keras. Jika mereka melakukan hal semacam itu, kami akan mengambil tindakan yang sangat keras.”
Saat ditanya mengenai “akhir permainan”-nya, Trump menyinggung contoh pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dan Jenderal Iran Qasem Soleimani, yang keduanya dieliminasi pada masa jabatan pertama Trump.
“Kami tidak ingin apa yang sedang terjadi di Iran ini terus berlangsung. Jika mereka ingin melakukan protes, itu satu hal. Tetapi ketika mereka mulai membunuh ribuan orang, dan sekarang Anda memberi tahu saya tentang penggantungan, kita akan lihat bagaimana hasilnya bagi mereka. Itu tidak akan berakhir baik bagi mereka,” ujar Trump.
Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah kelompok HAM berbasis di AS, sudah 17 hari sejak protes massal dimulai di Iran.
Berdasarkan data terbaru, 614 aksi unjuk rasa telah tercatat terjadi di Iran, meliputi 17 kota dan seluruh 31 provinsi. Sekitar 18.434 orang telah ditangkap berdasarkan laporan yang tersedia.
HRANA melaporkan bahwa sekitar 2.403 pengunjuk rasa telah tewas, termasuk 12 anak-anak. Jumlah korban tewas yang sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi. Lebih dari 1.100 orang dilaporkan mengalami luka parah.
Selain itu, sembilan orang non-pengunjuk rasa juga tercatat tewas sejak protes dimulai, serta 147 anggota pasukan keamanan dan pendukung pemerintah juga dilaporkan terbunuh.
Angka-angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen oleh The Epoch Times.
Sejak protes mulai meningkat, rezim telah memblokir akses internet dan layanan telepon di seluruh negeri. Hal ini menyulitkan organisasi internasional untuk menilai tingkat intensitas protes dan respons pemerintah.
Sejak 13 Januari, Iran mulai melonggarkan sebagian pembatasan komunikasi. Teheran mengizinkan warga Iran menelepon ke luar negeri, namun belum mengaktifkan panggilan masuk. Pembatasan terhadap layanan pesan masih diberlakukan.
Walaupun demonstrasi awalnya dipicu oleh lonjakan inflasi ekonomi, kini protes telah berkembang menjadi perlawanan langsung terhadap rezim Mullah yang telah mencengkeram negara itu dengan tangan besi sejak 1979.
Para pengunjuk rasa menuntut jatuhnya kekuasaan ulama yang dipimpin oleh Ali Khamenei.
Pada 12 Januari, Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan bahwa Amerika Serikat masih memiliki banyak opsi terkait Iran. Meski serangan udara militer tetap menjadi pilihan, ia menegaskan bahwa “diplomasi selalu menjadi opsi pertama bagi presiden.”
Sementara itu, Kedutaan Virtual Amerika Serikat untuk Iran mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh warga Amerika yang masih berada di Iran agar segera meninggalkan negara tersebut.
“Tinggalkan Iran sekarang. Miliki rencana keberangkatan dari Iran yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS,” tulis kedutaan tersebut.
“Jika Anda tidak dapat meninggalkan Iran, temukan lokasi aman di dalam tempat tinggal Anda atau bangunan aman lainnya. Siapkan persediaan makanan, air, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya.”
Kedutaan AS juga menyatakan bahwa protes terus meningkat dan berpotensi berubah menjadi kekerasan, yang mana dapat berujung pada penangkapan dan cedera massal. (asr)
EtIndonesia. Sebuah derek di proyek kereta api cepat yang didukung Tiongkok di Thailand roboh dan menyebabkan kereta penumpang tergelincir pada hari Rabu (14/1), menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai puluhan lainnya, kata pihak berwenang setempat.
Rekaman dari lokasi kejadian yang diverifikasi oleh AFP menunjukkan struktur derek yang rusak bertumpu pada pilar beton raksasa, dengan asap mengepul dari reruntuhan kereta di bawahnya.
Tim penyelamat berupaya mengeluarkan penumpang dari gerbong yang miring di Provinsi Nakhon Ratchasima, timur laut ibu kota Bangkok.
“Sekitar pukul 09:00 pagi, saya mendengar suara keras, seperti sesuatu yang meluncur dari atas, diikuti oleh dua ledakan,” kata warga setempat Mitr Intrpanya, 54 tahun, yang berada di lokasi kejadian.
“Ketika saya pergi untuk melihat apa yang terjadi, saya menemukan derek itu menimpa kereta penumpang dengan tiga gerbong.
“Logam dari derek itu tampaknya menghantam bagian tengah gerbong kedua, membelahnya menjadi dua,” kata Mitr kepada AFP.
Thatchapon Chinnawong, kepala polisi distrik, mengatakan kepada AFP bahwa 22 orang telah dipastikan tewas dan 80 lainnya terluka.
“Kami sekarang meminta rumah sakit untuk mengatakan berapa banyak orang yang dalam kondisi kritis,” kata Thatchapon.
Kecelakaan itu terjadi di lokasi konstruksi yang merupakan bagian dari proyek senilai 5,4 miliar dolar yang didukung oleh Beijing untuk membangun jaringan kereta api berkecepatan tinggi di Thailand.
Proyek ini bertujuan untuk menghubungkan Bangkok ke Kunming di Tiongkok melalui Laos pada tahun 2028 sebagai bagian dari inisiatif infrastruktur “Belt and Road” Tiongkok yang luas.
“Sebuah derek roboh menimpa kereta api sehingga menyebabkan kereta tersebut tergelincir dan terbakar,” kata departemen hubungan masyarakat Provinsi Nakhon Ratchasima dalam sebuah pernyataan.
Rekaman langsung yang ditayangkan oleh media lokal menunjukkan petugas penyelamat bergegas ke lokasi kejadian, dengan kereta api berwarna cerah. Kereta api tersebut tergelincir ke samping saat asap mengepul dari puing-puing.
Thatchapon, kepala polisi, kemudian mengatakan kepada AFP bahwa pihak berwenang menghentikan sementara operasi penyelamatan karena “kebocoran bahan kimia” di lokasi kejadian.
Departemen Provinsi Nakhon Ratchasima mengatakan kereta api tersebut sedang dalam perjalanan dari Bangkok ke Provinsi Ubon Ratchathani.
Menteri Transportasi Phiphat Ratchakitprakarn mengatakan 195 orang berada di dalam kereta api dan pihak berwenang sedang bergegas untuk mengidentifikasi para korban.
Dia memerintahkan para pejabat untuk menentukan penyebab kecelakaan tersebut, menurut sebuah pernyataan.
Thailand sudah memiliki sekitar 5.000 kilometer (3.107 mil) jalur kereta api, tetapi jaringan yang sudah usang telah lama mendorong orang untuk lebih memilih perjalanan melalui jalan darat.
Setelah selesainya jalur kereta api berkecepatan tinggi sepanjang 600 kilometer, kereta api buatan Tiongkok akan beroperasi dari Bangkok ke Nong Khai, di perbatasan Sungai Mekong dengan Laos, dengan kecepatan hingga 250 km/jam.
Kecelakaan di lokasi industri dan konstruksi telah lama menjadi hal yang umum di Thailand, di mana penegakan keselamatan yang longgar menjadi masalah. Regulasi seringkali menyebabkan insiden yang berakibat fatal.
Pada tahun 2023, sebuah kereta barang menewaskan delapan orang setelah menabrak sebuah truk pikap yang melintasi rel kereta api di Thailand timur.
Sebuah kereta barang menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 40 lainnya pada tahun 2020 ketika menabrak sebuah bus yang membawa penumpang menuju upacara keagamaan.(yn)
EtIndonesia. Sebuah video baru muncul yang menunjukkan momen sebuah kendaraan lapis baja polisi Pakistan diledakkan dalam serangan bom yang ditargetkan di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa pada hari Senin (12/1), menewaskan tujuh personel.
Klip tersebut menunjukkan anggota unit khusus yang berafiliasi dengan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) menargetkan kendaraan tersebut, yang sedang berpatroli di distrik Tank, dengan alat peledak improvisasi (IED). Video itu juga menunjukkan anggota TTP menembak para petugas polisi yang tergeletak di jalan setelah ledakan.
Visual tersebut juga menunjukkan puing-puing kendaraan yang hancur dan terbalik di pinggir jalan.
Wakil kepala polisi Tank, Pervez Shah, mengatakan lima personel polisi tewas di tempat kejadian setelah bom kendali jarak jauh meledak, sementara dua lainnya meninggal di rumah sakit.
Mereka yang tewas dalam ledakan tersebut termasuk seorang Kepala Polisi, seorang Sub-Inspektur, tiga personel Pasukan Elit, dan seorang pengemudi, kata polisi.
“Para polisi pemberani itu mengorbankan hari ini demi masa depan damai bangsa,” kata Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.
Pakistan telah menyaksikan peningkatan serangan teroris, terutama di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan, yang sebagian besar menargetkan polisi, personel lembaga penegak hukum, dan pasukan keamanan.
Pakistan menyalahkan Taliban Afghanistan karena menyediakan tempat perlindungan bagi teroris TTP, dengan mengatakan bahwa mereka menggunakan wilayah Afghanistan untuk merencanakan serangan mereka terhadap target di Pakistan. Kabul membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa keamanan Pakistan adalah masalah internal.
Pakistan dan Afghanistan berada di tengah gencatan senjata yang rapuh setelah bentrokan perbatasan pada Oktober tahun lalu yang menewaskan puluhan orang, pertempuran terburuk mereka sejak Taliban berkuasa pada tahun 2021.(yn)
EtIndonesia. Krisis nasional di Iran pada Selasa, 13 Januari 2026, memasuki fase paling menentukan sejak rezim teokrasi berkuasa hampir setengah abad lalu. Negara itu kini berada di ambang keruntuhan, di tengah gelombang protes nasional, pembantaian massal warga sipil, serta sinyal konfrontasi terbuka dari Amerika Serikat.
Situasi yang berkembang cepat ini dipicu oleh satu pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang diunggah pada pagi hari, pukul 09 : 43 waktu Washington, dan langsung mengguncang peta politik global.
Unggahan tersebut dinilai oleh banyak pengamat internasional sebagai isyarat paling jelas menuju konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan rezim Iran.
Unggahan Trump yang Mengubah Arah Sejarah
Pada Selasa pagi itu, Trump secara terbuka menyerukan perlawanan rakyat Iran melalui media sosial.
Dalam pesannya, dia menulis: “Para patriot Iran, teruslah berjuang. Rebut kembali institusi kalian. Catat nama para pembunuh dan pelaku kekerasan—mereka akan membayar harga yang sangat mahal. Sebelum pembantaian keji terhadap para demonstran ini dihentikan, saya telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran. Bantuan sedang dalam perjalanan. MEGA — Make Iran Great Again.”
Pernyataan ini dipandang luas sebagai deklarasi politik paling agresif AS terhadap Iran sejak Revolusi Islam 1979, bahkan disamakan oleh sejumlah analis sebagai “terompet perang” terhadap para mullah garis keras di Teheran.
Pembantaian Massal 8–9 Januari: Titik Balik Krisis
Laporan independen dari media oposisi Iran International mengungkap fakta mengejutkan terkait eskalasi kekerasan di dalam negeri Iran.
Berdasarkan data rumah sakit, kesaksian medis, sumber internal pemerintah, dan saksi mata, pada 8 dan 9 Januari 2026, Iran mengalami pembantaian warga sipil terbesar di masa damai.
Sedikitnya 12.000 orang tewas hanya dalam dua hari
Korban termasuk perempuan dan anak-anak
Luka-luka yang ditemukan bersifat luka perang, akibat senjata otomatis berpeluru tajam
Sumber intelijen yang diklaim telah diverifikasi menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, secara langsung mengeluarkan perintah tembak yang dikirim ke tiga lembaga utama negara. Fakta ini memperkuat tudingan bahwa kekerasan tersebut merupakan kejahatan negara yang terorganisir dan direncanakan.
Tentara Bayaran Asing dan Sniper di Atap Gedung
Ketika sebagian aparat militer dan kepolisian Iran menolak menembak rakyatnya sendiri, rezim dilaporkan mengambil langkah ekstrem.
Di sejumlah kota, termasuk Dezful, warga melaporkan kehadiran kelompok bersenjata bertopeng yang:
Tidak berbicara bahasa Persia
Menggunakan bahasa Arab
Diduga berasal dari milisi Irak
Dalam beberapa hari terakhir, penembak jitu bayaran ditempatkan di atap gedung untuk menembak demonstran secara acak. Video yang beredar juga menunjukkan sisa-sisa milisi pro-rezim Suriah dan Lebanon menyatakan kesiapan membantu Teheran menekan rakyatnya sendiri.
Reaksi Dunia: Barat Pecah Diam
Selama dua hari terakhir, sikap internasional terhadap Iran berubah drastis.
Kanselir Jerman Olaf Scholz menyatakan bahwa rezim Iran telah kehilangan seluruh legitimasi dan memasuki hari-hari terakhirnya.
Menteri Luar Negeri Australia menegaskan bahwa pemerintahan yang bertahan dengan membunuh rakyatnya sendiri tidak memiliki legitimasi apa pun.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy bahkan menulis pernyataan dalam bahasa Arab, menyebut bahwa pemberontakan di Iran menjadi sinyal memburuknya posisi Rusia secara global.
Bayang-bayang Perang: Pengerahan Militer AS
Di kawasan Teluk Persia, pengerahan militer Amerika Serikat kian masif dan sistematis:
Jet tempur siluman F-35 siaga di Arab Saudi
Pembom strategis B-52H dan B-2 Spirit berada dalam status siap lepas landas
Pesawat angkut militer terus mengalirkan persenjataan berat ke Timur Tengah
Secara paralel, Israel—yang baru saja mendekati akhir konflik dengan Hamas—dipandang siap menjadi sekutu tempur utama AS jika operasi terhadap Iran dilancarkan. Keunggulan intelijen Israel dinilai menjadi faktor kunci dalam skenario “serangan dari luar dan dalam” terhadap Teheran.
Sanksi Ekonomi: Serangan dari Dalam
Selain tekanan militer, Washington juga melancarkan serangan ekonomi mematikan.
Nilai tukar rial Iran terhadap euro sempat menyentuh angka nol, sebuah fenomena langka yang mencerminkan runtuhnya kepercayaan total terhadap rezim.
Trump kemudian mengumumkan kebijakan tegas:
Mulai 13 Januari 2026, negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif 25% atas seluruh transaksi dagang dengan Amerika Serikat.
Kebijakan ini bersifat final dan mengikat.
Data perdagangan menunjukkan mitra utama Iran meliputi:
Tiongkok (22–32%)
Uni Emirat Arab
Irak
Turki
India
Pakistan
Langkah ini menempatkan mitra-mitra tersebut pada dilema strategis besar.
Kesaksian Medis: Rumah Sakit Jadi Medan Perang
Seorang dokter bedah di Teheran bersaksi bahwa sejak awal pekan kedua Januari, kekerasan meningkat drastis:
Garda Revolusi dan milisi Basij menggunakan senapan otomatis
Peluru tajam digunakan tanpa peringatan
Rumah sakit dipenuhi jenazah
Tenaga medis kewalahan menangani korban
“Ini bukan lagi operasi keamanan. Ini perang terhadap rakyat sendiri,” ujarnya.
Rakyat Bertahan di Tengah Kegelapan
Di tengah pembantaian, semangat perlawanan rakyat Iran tidak padam. Seorang demonstran mengatakan: “Sekalipun kami dibantai, kami tidak akan mundur. Kami harus merebut kembali negara kami.”
Banyak pengamat menilai, jika perubahan akhirnya terjadi, itu bukan semata hasil tekanan luar, melainkan karena rakyat Iran sendiri telah menyalakan api perlawanan di saat paling gelap dalam sejarah mereka.
Penutup: Dunia Menanti Babak Akhir
Per 13 Januari 2026, revolusi paling mengguncang di Timur Tengah abad ini telah memasuki pertempuran penentuan.
Apakah Iran akan runtuh melalui tekanan internal, intervensi eksternal, atau kombinasi keduanya—dunia kini menahan napas menunggu jawabannya.
Namun satu hal kian diyakini oleh banyak pihak: Iran tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.
Surabaya – Menyambut Tahun Baru Imlek 2025, Vasa Hotel Surabaya akan menggelar perayaan spektakuler bertajuk “Vasa Lunar Celebration – The Fire Horse Gala”. Acara yang menggabungkan kemewahan, seni pertunjukan, dan kuliner kelas dunia ini akan berlangsung pada 16 Februari 2025 di Vasa Grand Ballroom.
Gala dinner ini mengusung simbol Fire Horse (Kuda Api) dalam astrologi Tionghoa, yang melambangkan keberanian, energi dinamis, dan transformasi. Vasa Hotel Surabaya ingin menciptakan sebuah perayaan Imlek yang bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna, hangat, dan cocok dinikmati oleh seluruh keluarga.
“Melalui The Fire Horse Gala, kami ingin menghadirkan perayaan yang memadukan hiburan dan kuliner istimewa, sekaligus menciptakan kehangatan untuk momen kebersamaan bersama keluarga,” ujar Eko Setiawan Winarto, General Manager Vasa Hotel Surabaya.
Rangkaian Hiburan Teatrikal dan Tradisional Malam puncak perayaan di Grand Ballroom akan dihiasi oleh rangkaian pertunjukan teatrikal dari Stage 9 yang mengangkat tema Fire Horse. Atmosfer Imlek akan hidup melalui Yee Sang Parade, pertunjukan Barongsai, Tarian Tiongkok, serta atraksi misterius Bian Lian (penukaran wajah). Hiburan juga dilengkapi dengan aksi Magician dan penampilan Two Face Singer.
Sebagai bintang tamu utama, penyanyi Helen Huang akan memukau para tamu dengan penampilan spesialnya, mengakhiri malam dengan kesan yang tak terlupakan.
Kuliner Eksklusif 8 Hidangan Keberuntungan Pengalaman kuliner menjadi salah satu pilar utama acara ini. Chef Lim Kim Loong, Executive Chef Xiang Fu Hai Chinese Restaurant, telah mengkurasi khusus 8 hidangan Chinese set menu penuh filosofi keberuntungan.
Menu istimewa tersebut mencakup hidangan premium seperti Chilled Bird’s Nest with Rock Sugar, Musang King Durian Mochi Puff, Lotus Leaf Glutinous Rice with Chinese Sausage, hingga Braised Abalone F8 dan Szechuan Roasted Duck. Puncak perjalanan rasa adalah Sup Buddha Fo Tiao Qiang, hidangan legendaris simbol kemakmuran.
Penawaran Spesial dan Pembuka Perayaan Perayaan Vasa Lunar Celebration telah dimulai dengan acara intim bersama para opinion leader dan media pada 9 Januari 2025 di lobby hotel, yang diisi dengan prosesi Yee Sang dan pemasangan harapan di Wishes Tree.
Untuk Gala Dinner tanggal 16 Februari 2025, paket tiket ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 1.488.000,++ per orang. Vasa Hotel Surabaya memberikan diskon spesial 15% untuk reservasi yang dilakukan hingga 25 Januari 2025.