Perang Hampir Meledak: Trump Hentikan Serangan ke Iran Saat Bom Sudah Siap Dijatuhkan


EtIndonesia.
Sebuah operasi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dilaporkan nyaris dilaksanakan, sebelum akhirnya dibatalkan hanya beberapa menit menjelang eksekusi, menyusul intervensi langsung Presiden Donald Trump.

Informasi tersebut diungkapkan oleh analis militer Wola, Bobert, yang menyebut bahwa keputusan pembatalan diambil secara mendadak di tingkat tertinggi. Tak lama setelah itu, ruang udara Iran yang sebelumnya ditutup kembali dibuka, sementara berbagai aset militer AS yang telah dikerahkan dalam keadaan darurat menerima perintah untuk kembali ke pangkalan dan tetap berada dalam status siaga.

Aset Militer AS Ditarik dari Al Udeid

Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa sejumlah aset tempur yang diberangkatkan dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebelumnya telah berada dalam posisi siap operasi. Namun, setelah keputusan Presiden Trump, seluruh unit tersebut diperintahkan menghentikan manuver ofensif dan kembali ke posisi awal.

Pesan Trump ke Teheran: “AS Tidak Akan Menyerang”

Pada 15 Januari 2026, harian Dawn dari Pakistan melaporkan pernyataan Duta Besar Iran untuk Pakistan, Moghadam. Dia mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah menyampaikan pesan langsung kepada Teheran bahwa Amerika Serikat tidak berniat menyerang Iran, sekaligus meminta pemerintah Iran untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut.

Namun di sisi lain, seorang pejabat AS dan dua sumber internal pemerintahan menyampaikan narasi yang lebih kompleks. Mereka mengungkapkan bahwa Trump telah menegaskan kepada tim keamanan nasionalnya: jika aksi militer benar-benar dilakukan, maka serangan harus cepat, tegas, dan langsung menyasar inti rezim, bukan menyeret Amerika Serikat ke dalam perang panjang yang memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Kekhawatiran Balasan Iran dan Opsi Serangan Terbatas

Para pejabat tersebut juga mengakui adanya kekhawatiran serius bahwa kekuatan militer AS di kawasan mungkin belum cukup untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan besar-besaran dari Iran. Karena itu, muncul pertimbangan bahwa Trump bisa saja menyetujui aksi militer terbatas sebagai langkah awal, sembari tetap membuka opsi eskalasi jika situasi memburuk.

Pernyataan Trump di Gedung Putih

Pada 14 Januari 2026, Trump berbicara kepada wartawan di Ruang Oval. Dia mengaku menerima laporan bahwa rezim Iran telah menghentikan kekerasan terhadap demonstran, serta menunda rencana eksekusi terhadap seorang demonstran berusia 26 tahun.

“Saya berharap itu benar. Siapa yang tahu?” ujar Trump singkat.

Ketika ditanya apakah hal tersebut berarti opsi militer telah dicoret, Trump menjawab dengan nada terbuka: “Kita lihat saja bagaimana situasinya berkembang.”

Ancaman Terbuka dari Media Negara Iran

Di saat yang sama, televisi nasional Iran menayangkan ulang cuplikan penembakan terhadap Trump saat masa kampanye, disertai pernyataan bernada ancaman: “Kali ini, pelurunya tidak akan meleset.”

Siaran tersebut memicu kekhawatiran luas di kalangan pengamat internasional mengenai eskalasi ancaman langsung terhadap kepala negara asing.

Unjuk Kekuatan Aparat dan Arus Dana Elite

Sejak dini hari 15 Januari 2026, pasukan keamanan Iran diperintahkan menggelar latihan unjuk kekuatan serentak di berbagai kota besar.

Sementara itu, laporan televisi Israel menyebutkan bahwa dalam 48 jam terakhir, elite Iran telah memindahkan sekitar 1,5 miliar dolar AS ke Dubai melalui mata uang kripto. Salah satu putra Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan sendiri mentransfer 328 juta dolar AS.

Pada saat yang sama, lima bank besar di Iran mulai menolak pencairan dana, memunculkan tanda-tanda bahwa sistem perbankan nasional berada di ambang keruntuhan.

Peringatan Keras dari Menteri Keuangan AS

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyampaikan pernyataan tajam: “Mereka seperti tikus yang melompat dari kapal yang sedang tenggelam—panik memindahkan uang yang dicuri dari rakyat Iran ke bank-bank di seluruh dunia. Tenang saja, kami akan melacak mereka, dan juga melacak Anda. Namun jika Anda memilih berdiri di pihak kami, kesempatan itu masih ada.”

Penutupan Wilayah Udara dan Aktivitas Mahan Air

Iran juga menutup wilayah udaranya, hanya mengizinkan penerbangan internasional tertentu dengan izin khusus. Data Flightradar24 menunjukkan bahwa pada periode tersebut, hanya dua pesawat Mahan Air yang melintasi wilayah Iran—masing-masing berasal dari Guangzhou dan Shenzhen, menuju Bandara Internasional Imam Khomeini.

Beberapa hari sebelumnya, media resmi Tiongkok merilis video promosi yang mengundang warga Tiongkok berwisata gratis ke Iran, dengan alasan tahun 2026 menandai 55 tahun hubungan diplomatik Tiongkok–Iran dan 10 tahun kemitraan strategis komprehensif. Bahkan, Mahan Air meluncurkan program 1.000 tiket pesawat gratis ke Iran.

Sejumlah pengamat menilai, meski dua pesawat tersebut tidak cukup untuk mengangkut minyak, penerbangan ini berpotensi menjadi kedok pengiriman dana dan bantuan militer dari Tiongkok ke Iran.

Bentrokan di Perbatasan dan Tuduhan ke Irak–Turki

Menurut Middle East Monitor, milisi bersenjata Kurdi yang berbasis di Irak baru-baru ini mencoba menyeberang ke wilayah barat dan barat laut Iran, memicu bentrokan bersenjata. Otoritas Iran menuduh kelompok tersebut dikirim dari Irak dan Turki, serta telah meminta kedua negara menghentikan aliran personel dan senjata.

Kesaksian Warga: “Seluruh Iran Sedang Dibantai”

Dalam dua hari terakhir, sinyal komunikasi di Iran mulai pulih sebagian. Banyak warga menghubungi keluarga mereka untuk memastikan keselamatan, sekaligus menyampaikan kesaksian mengerikan mengenai penindasan yang terjadi.

Seorang ibu menangis saat menelepon putrinya, mengatakan bahwa tentara menembaki warga sipil dengan senapan mesin, dan Isfahan, kota terbesar ketiga Iran, telah mengalami pembantaian. Dia menegaskan bahwa detail tidak bisa dibicarakan lewat telepon karena seluruh komunikasi diawasi ketat.

Dalam panggilan lain, seorang warga menyatakan: “Seluruh Iran sedang dibantai. Anak-anak muda dibunuh di depan rumah mereka. Tidak ada satelit, Iran seperti mundur seratus tahun. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Para penguasa Iran adalah penjahat perang.”

Dia menambahkan bahwa angka 12.000 korban tewas yang beredar di luar negeri “tidak ada apa-apanya dibandingkan kenyataan di lapangan.”

Korban selamat juga mengungkap praktik pemerasan di rumah sakit. Seorang ayah yang hendak mengambil jenazah anaknya diminta membayar 19.000 dolar AS. Jika tak mampu, dia dipaksa menandatangani pernyataan bahwa anaknya tewas akibat “kerusuhan oleh preman”, bukan akibat tindakan aparat negara.

Banyak penelepon memperingatkan bahwa panggilan tidak boleh terlalu lama, karena risiko penangkapan sangat tinggi. Rakyat Iran berharap internet segera pulih agar dunia mengetahui kondisi sebenarnya.

Dukungan Internasional dan Seruan Reza Pahlavi

Menteri Luar Negeri Prancis mengonfirmasi bahwa Paris sedang mempertimbangkan penyerahan terminal satelit komunikasi Eropa kepada rakyat Iran, guna membantu mereka menembus pemblokiran internet hampir total.

Sementara itu, Reza Pahlavi, pewaris Dinasti Pahlavi, menyampaikan pidato yang menggambarkan visi Iran pasca runtuhnya rezim Khamenei—meski sebelumnya Presiden Trump sempat menyatakan keraguan terhadap kepemimpinannya.

Iran Mencekam: Ledakan di Teheran, Jet Tempur AS Mengepung, Elit Rezim Kabur Bawa Miliaran Dolar

EtIndonesia. Gelombang protes di Iran kembali meningkat tajam dan memasuki fase paling berbahaya sejak pecahnya aksi perlawanan rakyat terhadap rezim. Pada 14 Januari, warga di kawasan Ekbatana, Teheran, tetap bertahan di jalan-jalan meski menghadapi penindasan brutal dari aparat keamanan. Situasi ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran luas akan kemungkinan pecahnya konflik berskala besar.

Demonstrasi Berlanjut di Tengah Penembakan Peluru Tajam

Pada 14 Januari waktu setempat, pasukan keamanan Iran dilaporkan melancarkan operasi penindasan besar-besaran di kawasan Ekbatana. Namun, alih-alih surut, para demonstran tetap bertahan. Rekaman video yang beredar luas di media sosial menunjukkan aparat rezim menembaki demonstran dari belakang saat mereka berusaha melarikan diri.

Sejumlah video lain memperlihatkan pasukan keamanan Iran melepaskan peluru tajam ke arah massa tak bersenjata, memperkuat tudingan bahwa rezim menggunakan kekuatan mematikan untuk meredam aksi protes.

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan pernyataan dari Gedung Putih pada sore hari 14 Januari waktu Pantai Timur AS. Trump mengklaim menerima laporan bahwa pembunuhan di Iran “sedang melambat—bahkan telah berhenti”.

Dia juga menyebutkan bahwa sebagian korban tembakan diduga melakukan perlawanan balik, seraya menegaskan bahwa kondisi di lapangan sangat kompleks dan terus berubah.

Laporan Israel: Warga Mulai Dipersenjatai

Pernyataan Trump dinilai sejalan dengan laporan Channel 14 Israel pada hari yang sama. Media tersebut melaporkan bahwa sejumlah negara mulai mengirimkan senjata ke Iran dan membagikannya kepada warga yang terlibat dalam aksi protes.

Menurut laporan tersebut, inilah salah satu alasan utama mengapa pembantaian oleh aparat mulai mereda, karena warga kini memiliki kemampuan untuk melawan. Situasi ini disebut telah menciptakan efek gentar terhadap rezim Iran dan aparat keamanannya.

Iran Tutup Wilayah Udara, Aktivitas Militer AS Meningkat Drastis

Masih pada 14 Januari, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa tidak akan ada “aksi nekat” pada hari itu atau keesokan harinya. Namun, dia mengakui tidak dapat menjamin situasi pada hari Jumat.

Tak lama setelah pernyataan tersebut, situasi berubah drastis. Iran secara mendadak menutup seluruh wilayah udaranya, memaksa maskapai internasional mengalihkan rute atau membatalkan penerbangan. Pada waktu yang hampir bersamaan, wilayah udara Irak—yang berbatasan langsung dengan Iran—terpantau aktivitas jet tempur intensif. Video pesawat tempur yang terbang rendah di langit Irak pun beredar luas secara daring.

Berdasarkan informasi real-time di platform X serta konfirmasi berbagai media pada 14 Januari, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan menerima perintah untuk bergerak dari Laut Cina Selatan menuju Timur Tengah, lengkap dengan kapal pengiring dan kesiapan tempur penuh.

Selain itu, delapan pesawat tanker udara AS dilaporkan lepas landas dari Pearl Harbor menuju kawasan sekitar Iran. Puluhan jet tempur Angkatan Udara AS kini berpatroli di langit Irak, didukung pesawat pengisian bahan bakar KC-135 dan KC-46 di wilayah perbatasan.

Para analis menilai pola pengerahan ini sangat mirip dengan persiapan Operasi “Midnight Hammer” pada Juni tahun lalu, yang kala itu mendahului aksi militer besar AS.

Sekitar pukul 16:00 waktu Pantai Timur AS, sistem komunikasi strategis AS dilaporkan mengirimkan pesan berkode prioritas tinggi yang dikenal sebagai “Sky Master Messages”, sebuah level perintah yang hanya satu tingkat di bawah perintah peluncuran senjata nuklir.

Ledakan di Teheran dan Insiden Laut Iran

Sumber-sumber yang belum terverifikasi menyebutkan bahwa ledakan besar terdengar di Teheran tak lama setelah Iran menutup wilayah udaranya dan melarang penerbangan sipil. Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan resmi terkait sumber ledakan tersebut.

Pada sore hari waktu AS, sebuah insiden lain dilaporkan terjadi di laut. Kapal Iran bernama Rona, yang disebut digunakan untuk mengangkut senjata ke Rusia, dilaporkan diserang dan tenggelam di laut lepas.

Iran kemudian memperpanjang penutupan wilayah udaranya hingga pukul 07 : 00 pagi waktu setempat, dengan pengecualian penerbangan yang telah mendapat izin khusus. Teheran juga mengeluarkan peringatan keras kepada militer AS agar tidak memasuki wilayah udaranya tanpa izin.

Namun, laporan lain menyebutkan bahwa dua penerbangan Mahan Air dari Guangzhou dan Shenzhen tetap memasuki wilayah udara Iran yang dibatasi. Hal ini memicu spekulasi bahwa Tiongkok mulai terlibat secara tidak langsung dalam dinamika krisis ini.

Sinyal Serangan: Bocoran Reuters dan Target IRGC

Menurut laporan Reuters, seorang pejabat militer Barat menyatakan bahwa serangan AS terhadap Iran akan segera dimulai, dengan detail operasi yang dirahasiakan dan dilaksanakan secara mengejutkan.

Keyakinan akan aksi militer semakin menguat setelah terjadinya kebocoran data besar-besaran. Menyusul seruan Trump pada 13 Januari agar rakyat Iran mencatat nama para pelaku kekerasan, data sekitar 1.250 anggota pasukan keamanan dan milisi rezim dilaporkan bocor ke publik. Data tersebut mencakup informasi sangat rinci, mulai dari identitas keluarga, unit militer, hingga status dinas.

Media Daily Mail melaporkan bahwa Amerika Serikat juga memegang daftar sekitar 50 target bernilai tinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk pusat komando utama di Teheran dan sejumlah basis strategis. Analisis menyebutkan bahwa fokus AS tertuju pada elit rezim, bukan warga sipil. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei disebut-sebut sebagai salah satu target potensial.

Elit Iran Diduga Kabur, Dana Miliaran Dipindahkan

Masih pada 14 Januari, televisi Israel melaporkan bahwa elit Iran diduga telah memindahkan sekitar 1,5 miliar dolar AS ke Dubai melalui mata uang kripto. Salah satu putra Khamenei disebut terlibat dalam pemindahan dana sekitar 328 juta dolar AS.

Lima bank besar Iran juga dilaporkan mulai menolak pencairan dana, menandakan tekanan berat terhadap sistem keuangan nasional dan meningkatnya kepanikan di lingkaran kekuasaan.

AS Bertemu Oposisi Iran: “Bantuan Sedang Dalam Perjalanan”

Pada sore hari waktu AS, Senator Lindsey Graham dilaporkan bertemu dengan Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi. Usai pertemuan tersebut, Graham menyatakan secara singkat namun tegas:

“Saya yakin bantuan sedang dalam perjalanan.”

Pernyataan ini semakin memperkuat spekulasi bahwa Amerika Serikat telah memasuki fase akhir persiapan untuk menghadapi rezim Iran, sementara krisis di dalam negeri Iran sendiri terus bergerak menuju titik balik yang menentukan.

Adegan Memilukan! Video Seekor Kuda Poni Diam-diam Meneteskan Air Mata Saat Mencium Bulu Ekor Induknya yang Mati

Baru-baru ini, sebuah video yang menunjukkan seekor anak kuda yang baru berusia 14 hari di Provinsi Sichuan, Tiongkok,  yang mencium rambut ekor induknya yang telah mati  lalu meneteskan air mata dalam diam, membuat banyak orang merasa terenyuh.

EtIndonesia. Pada 12 Januari, seorang warganet Sichuan dengan nama akun “Elang Chuanshuo” mengunggah video di media sosial dan menuliskan bahwa induk kuda bernama Heidou telah meninggal dunia, meninggalkan anak kudanya yang baru lahir. Di dalam kandang, anak kuda itu terus berputar mengikuti aroma ibunya. Setelah rambut ekor Heidou dipotong dan digantung di sudut dinding kandang, anak kuda itu langsung berhenti ketika mencium bau tersebut.

Dengan ujung hidung menempel pada rambut ekor itu, ia berdiri diam tak bergerak, dan air mata perlahan mengalir tanpa suara. Sehelai rambut itu menjadi satu-satunya kenangan terakhirnya.

Pemilik kuda, Tuan Xu, mengatakan kepada media daratan bahwa anak kuda tersebut baru berusia 14 hari. Setelah induknya meninggal karena obstruksi usus akut, anak kuda itu terus berkeliling di kandang seolah mencari ibunya. Ketika rambut ekor induknya dipotong dan digantung di sudut dinding, anak kuda itu mencium baunya lalu berhenti, menatap ke arah itu, dan mulai menangis.

Tuan Xu juga menanggapi komentar warganet dengan menceritakan momen-momen terakhir induk kuda tersebut: 

 “Sebelum pergi, induk ‘Doubao’ masih sempat memberi anaknya minum susu untuk terakhir kalinya, lalu berbaring. Ia berusaha bangkit, tetapi tidak mampu, lalu meneteskan air mata. Kami semua sangat terharu dan sedih. Setelah induknya mati, kami memisahkan anak kuda ke kandang sebelah. Saat saya datang dan merekam momen ketika si kecil Doubao menangis, hati saya benar-benar luluh.”

Setelah video tersebut tersebar, banyak warganet meninggalkan komentar penuh empati, seperti:
“Kasihan sekali, melihatnya bikin hati perih.”
“Ia tidak mengerti mengapa ibunya tiba-tiba pergi.”
“Baru lahir sudah kehilangan ibu.”
“Anak kuda yang malang.”

“Semua makhluk punya perasaan, perlakukanlah hewan dengan baik.”
“Hewan ternak memang tidak bisa bicara, tetapi mereka mengerti di dalam hati.”
“Segala makhluk hidup memiliki jiwa, hormatilah kehidupan.”

“Aku ingin sekali memeluknya, ibunya sudah tidak ada.”
“Sedih sekali! Di dunia ini hanya ibu yang terbaik.”
“Melihat anak kuda itu menangis, air mataku ikut pecah.”
“Astaga, ekspresinya benar-benar menyentuh hati.”

“Seperti aku waktu kecil, kalau merasa sedih atau teraniaya, aku pergi ke sudut sendiri, memainkan batu sambil menangis, tidak berani mengatakan kepada siapa pun betapa sedihnya aku.”

Diketahui bahwa obstruksi usus akut merupakan kondisi darurat yang cukup umum pada hewan jenis kuda. Setelah terjadi, usus dapat terpuntir dan saling terikat, dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. (Hui)

Seiring dengan Terus Menyebarnya Wabah di Tiongkok, Jumlah Kematian Mendadak Meningkat Hingga Para Petugas Krematorium Bekerja Lembur

Wabah penyakit di Tiongkok terus menyebar skala luas. Rumah sakit besar di berbagai daerah tetap penuh sesak, sementara jumlah kematian mendadak tanpa gejala meningkat tajam. Banyak warga mempertanyakan apakah pemerintah menutupi kondisi wabah yang sebenarnya. Sektor pemakaman pun sangat sibuk; bahkan para pekerja krematorium mengungkapkan bahwa mereka harus lembur hampir setiap malam.

Etindonesia. Belakangan ini, banyak warganet Tiongkok membagikan foto hasil tes cepat “virus corona” yang menunjukkan hasil positif di platform Xiaohongshu, sambil mempertanyakan dugaan penutupan informasi wabah oleh pihak berwenang. Sementara itu, rumah sakit besar di berbagai daerah terus dipadati pasien; antrean panjang terlihat di mana-mana. Bahkan, lorong-lorong rumah sakit dipenuhi tempat tidur tambahan.

Warga Provinsi Henan mengungkapkan bahwa gejala yang muncul saat ini sangat mirip dengan infeksi COVID-19. Banyak orang yang tidak mampu bertahan akhirnya meninggal dunia dengan cepat.

foto hasil tes cepat “virus corona”

Warga Kabupaten Xincai, Henan, bermarga Zhang: “Dua malam lalu anak saya demam, sebentar panas, sebentar dingin. Saya sendiri pilek beberapa hari ini, tidak minum obat, memaksakan diri sampai lewat. Sekarang flu saja bisa tiba-tiba merenggut nyawa, sering sekali orang meninggal mendadak.”

Warga Kabupaten Xincai, Henan, bermarga Cai:  “Tenggorokan sangat sakit, sampai tidak bisa berbicara. Dua tahun lalu saya juga seperti ini. Banyak orang demam, diinfus, dan yang parah langsung meninggal.”

Seorang perias jenazah bermarga Wang Ting (nama samaran) mengungkapkan bahwa belakangan ini jumlah kematian mendadak sangat banyak, sehingga industri pemakaman menjadi sangat sibuk.

Perias jenazah Wang Ting (Harbin):  “Setiap hari pekerjaan tidak pernah selesai. Di jalan menuju alam baka, tidak ada perbedaan usia tua atau muda. Bisa jadi satu detik masih baik-baik saja, detik berikutnya sudah sampai di rumah duka. Ketika keluarga diberi tahu dan langsung diminta datang ke rumah duka, mereka sering tidak sanggup menahan kesedihan, menangis histeris.”

Seorang pekerja krematorium bermarga Ge dari Provinsi Jilin juga mengatakan bahwa belakangan ini banyak orang meninggal. Saat ini, industri pemakaman bahkan menjadi sektor yang ‘panas’, bukan lagi pekerjaan yang sepi peminat. 

Ia mengungkapkan bahwa setelah pelonggaran kebijakan pengendalian pandemi pada akhir 2021, rumah duka sempat penuh sesak, dan banyak orang baru masuk ke industri ini.

 “Beberapa hari ini meninggal dunia lagi banyak orang. Kami harus lembur malam hari, hampir tidak ada waktu istirahat. Saat kebijakan dilonggarkan dulu, jumlah kematian benar-benar sangat banyak. Rumah duka tidak muat, bengkel kremasi kami cukup besar, semua ruang kosong dipenuhi jenazah. Di daerah kecil seperti kami, biasanya sehari hanya 3 atau 5 orang, tapi waktu itu sampai 60 orang. Tungku kremasi sampai rusak karena dipakai terus-menerus,” ujar Ge.

Seorang warga Changde, Provinsi Hunan, bermarga He, mengatakan bahwa sejak Desember tahun lalu, beberapa kerabat dan temannya yang dikenal sangat sehat dan gemar berolahraga tiba-tiba meninggal mendadak. Ia menyebut mereka sebagai pendukung fanatik Partai Komunis Tiongkok (PKT), sementara dirinya mengaku menolak Partai Komunis dan telah lama menyatakan keluar dari PKT, sehingga merasa dirinya tetap aman.

Warga Changde, Hunan, bermarga He:  “Bulan ini banyak yang meninggal. Hampir tidak ada gejala. Ada seorang pria yang biasa berenang di musim dingin, ada juga teman sekelas saya yang berlatih tai chi. Dalam dua hari ini, dua orang berusia di atas 50 tahun meninggal, padahal kondisi fisiknya bagus. Ipar perempuannya juga meninggal. Dokter melaporkan satu karena kanker, satu lagi karena serangan jantung.”

Sebelumnya, Epoch Times pernah menerbitkan laporan khusus yang mengutip ajaran pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi, yang menyatakan bahwa wabah COVID-19 terutama menargetkan Partai Komunis serta mereka yang secara membabi buta mengikuti, membela, dan mengabdi kepada PKT. Pada awal merebaknya pandemi, Li Hongzhi juga menerbitkan tulisan berjudul “Rasional”, yang menyebutkan bahwa cara terbaik untuk menghindari wabah adalah “menyampaikan kebenaran, mundur dari PKT (Tiga Pengunduran Diri), dan dengan tulus melafalkan kalimat kebenaran”.

Laporan hasil wawancara oleh wartawan New Tang Dynasty, Xiong Bin dan Gao Yu.

Pohon Zaitun Tertua di Dunia yang Masih Hidup Telah Berusia Sekitar 3.000 Tahun

EtIndonesia. Desa Ano Vouves, di Pulau Kreta, Yunani, adalah rumah bagi pohon zaitun tertua di dunia yang masih hidup, sebuah keajaiban alam kuno yang masih menghasilkan buah zaitun setiap tahunnya.

Pohon zaitun kuno Vouves termasuk dalam varietas pohon lokal tsounati dan dicangkokkan pada ketinggian tiga meter ke pohon zaitun liar. Batangnya yang besar, dengan keliling 12,5 meter dan diameter 4,6 meter, tampak seperti struktur yang rumit, tetapi yang benar-benar menarik adalah bahwa pahatan alami ini selalu berubah.

Usia pasti pohon zaitun Vouves tidak dapat ditentukan karena kayu intinya telah membusuk berabad-abad yang lalu. Ini adalah bagian dari proses pembaruan diri pohon yang luar biasa. Saat bagian tengah pohon terus membusuk, kayu baru ditambahkan di bagian luar, sehingga desain dan dimensi batang terus berubah, bahkan setelah ribuan tahun.

Analisis lingkaran pohon menunjukkan bahwa pohon tersebut setidaknya berusia 2.000 tahun, tetapi para ilmuwan di Universitas Kreta memperkirakan usia pohon tersebut sekitar 4.000 tahun. Menariknya, tidak ada metode ilmiah untuk memastikan usia pohon zaitun, jadi kita tidak dapat mengetahui dengan pasti berapa usia pohon zaitun Vouves sebenarnya, tetapi pohon ini dianggap sebagai pohon zaitun tertua di dunia.

Pohon zaitun Vouves menarik sekitar 20.000 pengunjung setiap tahun ke Kreta barat dan merupakan monumen alam yang dilindungi.

Sebagai perbandingan, pohon zaitun tertua di dunia lebih tua dari Parthenon, simbol budaya Yunani lainnya, dan kemungkinan lebih tua dari tokoh-tokoh sejarah seperti Alexander Agung dan Pythagoras. Batangnya yang berwarna merah keputihan merupakan bukti ketahanannya, yang telah bertahan dari kekeringan, kebakaran, dan perambahan manusia, sambil tetap berbuah.

Saat Anda berada di sini, lihat juga tanaman anggur tertua di dunia, yang telah ada selama 400 tahun.(yn)

Turis Asal Taiwan Terjebak di Lereng Ski Setelah Mengikuti Petunjuk GPS

EtIndonesia. Tiga turis wanita dari Taiwan baru-baru ini menjadi berita utama di Andorra setelah mengemudi ke lereng ski bersalju saat mengikuti petunjuk GPS.

Sistem navigasi GPS tidak diragukan lagi merupakan salah satu keajaiban kehidupan modern, tetapi terkadang, sistem ini dapat mengacaukan segalanya bagi penggunanya, membuat mereka berada dalam situasi yang tidak akan pernah mereka alami. Contohnya, tiga wanita muda asal Taiwan yang berakhir di lereng ski di negara kecil Eropa, Andorra, setelah mengikuti instruksi sistem GPS mobil mereka.

Foto-foto sebuah Mercedes hitam yang terjebak di dasar lereng bersalju, di samping mesin pembuat salju, telah beredar di media sosial, terutama karena kisah peringatan di baliknya.

Pada tanggal 6 Januari, layanan darurat di Bordes d’Envalira, dekat area ski Grau Roig, menerima beberapa panggilan tentang sebuah mobil di salju setelah keluar jalur. Laporan tersebut dikonfirmasi, dan setelah memastikan keselamatan penumpang, operasi penyelamatan pun dimulai.

Mengembalikan mobil ke jalan raya adalah operasi kompleks yang membutuhkan tiga derek logam dan lebih dari tiga jam kerja. Dan itu semua karena petunjuk dari sistem navigasi GPS dan kurangnya pengalaman tiga turis dari Taiwan yang menggunakannya untuk menemukan jalan di sekitar Bordes d’Envalira. Meskipun mereka jelas tahu bahwa mereka telah keluar jalur, mereka terus mengikuti instruksi GPS sampai mobil terjebak di salju.

Untungnya, tidak ada yang terluka, dan ketiga turis wanita itu bahkan berpose untuk foto di samping mobil sewaan mereka sebelum diselamatkan. Ini pasti akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah mereka lupakan, tetapi, bagi kita semua, ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kita harus lebih mengandalkan akal sehat daripada instruksi GPS, bahkan ketika kita tidak mengenal daerah yang kita lewati.(yn)

Dua Orang Pengemis

EtIndonesia. Ada dua orang pengemis yang setiap hari, pada waktu yang sama, melewati sebuah rumah orang kaya.

Pemilik rumah itu setiap hari melemparkan beberapa keping uang kepada mereka. 

Pengemis yang bertubuh lebih tinggi dan besar selalu berteriak lantang:  “Terima kasih, Tuan! Anda benar-benar berhati mulia, suka berbuat kebajikan. Semoga Anda panjang umur, sehat selalu!”

Namun pengemis yang satu lagi—kurus dan bertubuh kecil—hanya berkata pelan: “Terima kasih atas anugerah Tuhan.”

Setiap hari, sang tuan rumah melemparkan uang logam ke luar jendela, dan setiap hari pula terdengar dua suara ucapan terima kasih: satu berterima kasih kepadanya, satu lagi berterima kasih kepada Tuhan.

Awalnya, sang tuan rumah tidak merasa apa-apa. Namun lama-kelamaan, perasaan tidak nyaman mulai muncul dan terus menumpuk. 

Hingga suatu hari, dia berpikir:  “Aneh! Aku yang memberi uang, tapi dia tidak berterima kasih kepadaku—malah berterima kasih kepada Tuhan. Aku harus memberinya pelajaran supaya dia tahu siapa yang seharusnya dia syukuri.”

Dia pun pergi ke toko roti dan memesan dua roti tawar dengan ukuran yang sama. Salah satu roti dilubangi dan diisi dengan perhiasan emas dan permata yang sangat berharga, lalu ditutup kembali dengan rapi. Kedua roti itu tampak persis sama.

Ketika para pengemis datang, dia memberikan roti biasa kepada pengemis kurus yang hanya mengucap syukur kepada Tuhan, sementara roti yang berisi emas dan permata diberikan kepada pengemis besar yang setiap hari memujinya. 

Dalam hati sang tuan rumah berkata: “Biar kamu tahu bedanya berterima kasih kepadaku dan berterima kasih kepada Tuhan!”

Pengemis besar menerima roti itu dan merasa berat. 

Dia berpikir :  “Roti ini pasti tidak mengembang dengan baik, pasti rasanya tidak enak.”

Karena dia memang suka mengambil keuntungan, dia berkata kepada pengemis kecil : “Mau tukar roti denganku?”

Dia tidak memberi alasan, dan pengemis kecil pun tidak bertanya. 

Dalam hatinya dia berpikir: “Ini pasti juga pengaturan Tuhan.”

Maka mereka pun bertukar roti.

Keesokan harinya, pengemis kecil itu tidak datang lagi untuk mengemis. Dia memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk ayah dan ibunya, dan bersiap memulai kehidupan baru. Dia sangat bersyukur kepada Tuhan.

Ketika sang tuan rumah melihat pengemis besar datang lagi untuk mengemis, dia bertanya, :“Rotimu sudah habis dimakan?”

“Sudah,” jawab pengemis itu.

“Lalu… bagaimana dengan emas dan permata di dalamnya?” tanya sang tuan rumah.

“Emas dan permata?” 

Saat itulah pengemis besar baru sadar bahwa berat roti itu bukan karena adonannya gagal, melainkan karena berisi harta berharga. 

Dia berkata : “Saya kira roti itu tidak mengembang dengan baik, jadi saya menukarnya dengan roti teman saya.”

Akhirnya, sang tuan rumah benar-benar mengerti perbedaan antara berterima kasih kepadanya dan berterima kasih kepada Tuhan.

Berterima kasih kepadanya ternyata disertai dengan keinginan untuk mendapatkan lebih banyak, sementara berterima kasih kepada Tuhan justru lahir dari ketenangan hati tanpa keserakahan.

Renungan

Dalam Alkitab tertulis:  “Hai kamu yang kurang percaya! Janganlah kamu khawatir tentang apa yang akan kamu makan atau minum, dan jangan gelisah, karena semua itu dicari oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Bapamu di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Carilah terlebih dahulu Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Renungan Redaksi

Siapa yang berbuat baik kepada kita, wajar bila kita berterima kasih kepadanya.

Namun, rasa terima kasih itu ada dua macam: yang pertama, rasa syukur yang tulus dari hati atas pertolongan orang lain; yang kedua, ucapan terima kasih yang sekadar menjilat dan penuh kepentingan.

Orang yang bersyukur dengan tulus tahu cara menghargai dan mengenang kebaikan. Sementara orang yang berterima kasih demi keuntungan cenderung lupa budi—mulutnya berterima kasih, tetapi hatinya tidak menyimpan rasa syukur.

Jika suatu hari kita memiliki kemampuan untuk menolong orang lain, kita juga perlu kebijaksanaan untuk membedakan siapa yang patut ditolong dan siapa yang tidak. Menolong orang yang keliru bukan hanya membuat kita tak mendapat rasa terima kasih, tetapi bahkan bisa menumbuhkan permusuhan yang disesali di kemudian hari.

Cerita pendek ini ingin menonjolkan perbedaan dua jenis kepribadian tersebut.

Namun demikian, hanya berterima kasih kepada manusia saja, atau hanya kepada Tuhan saja, keduanya belumlah sempurna.

Sebagai manusia, kita patut berterima kasih kepada orang yang menolong kita, dan juga bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukan kita dengan orang-orang tersebut. Itulah sikap hidup yang benar. (jhn/yn)

Menuju Perang Besar? AS Siapkan 50 Target di Iran, Penindasan Internal Tewaskan Ribuan

EtIndonesia. Situasi di Iran memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Pada 14 Januari 2026, seorang pengguna platform X yang dikenal sebagai analis intelijen sumber terbuka (OSINT) asal Pakistan mengungkapkan bahwa militer Amerika Serikat telah mengidentifikasi sedikitnya 50 target serangan di dalam wilayah Iran.

Menurut unggahan tersebut, pemerintahan Donald Trump telah menyusun daftar target strategis yang berfokus pada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mencakup pusat komando, pangkalan militer, serta milisi Basij yang disebut terlibat langsung dalam penindasan brutal terhadap demonstran sipil.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal tekanan serius menuju perubahan rezim, sekaligus penegasan bahwa ancaman Washington terhadap Teheran bukan sekadar retorika politik.

Indikasi Militer: Aktivitas Udara Israel dan Peringatan Balasan Iran

Masih pada 14 Januari, sebuah akun analis lain di X yang mengklaim memiliki keterkaitan dengan Mossad menuliskan bahwa pesawat khusus telah lepas landas dari Israel. Pesawat yang sama disebut pernah terbang beberapa jam sebelum operasi militer terakhir terhadap Iran, sehingga aktivitas ini dipandang sebagai indikasi kuat bahwa serangan berskala besar semakin dekat.

Menanggapi perkembangan tersebut, kelompok-kelompok protes Iran memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat melancarkan serangan, Teheran kemungkinan akan membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa militer AS telah menyarankan sebagian personel di salah satu pangkalan terbesarnya di Timur Tengah untuk dievakuasi sebelum malam 14 Januari. Langkah ini dipandang luas sebagai tindakan pencegahan standar menjelang potensi konflik terbuka.

Sejumlah pengamat militer menilai bahwa tumpang tindih waktu dari berbagai peristiwa ini bukanlah kebetulan, melainkan pola klasik yang kerap muncul menjelang pecahnya perang.

Penindasan Paling Berdarah Sejak Revolusi Islam 1979

Di dalam negeri, situasi Iran terus memburuk. Pada Rabu, 14 Januari 2026, data dari Iran Human Rights Activists News Agency menunjukkan bahwa aksi protes nasional telah memasuki hari ke-17.

Di 31 provinsi, tercatat:

  • 614 aksi protes
  • 18.434 orang ditangkap
  • 1.134 orang mengalami luka berat

Sebuah rekaman audio dari kawasan Narmak, Teheran, yang dianalisis oleh pakar militer Barat, mengungkap bahwa dalam waktu hanya 6 menit terdengar 262 tembakan, termasuk rentetan senapan otomatis tanpa henti—sekitar satu tembakan per detik.

Para analis menegaskan bahwa pola ini tidak lagi mencerminkan penegakan hukum, melainkan operasi militer penuh di wilayah perkotaan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, informasi intelijen dari lingkar inti IRGC menyebutkan bahwa dalam 48 jam terakhir, Teheran mengalami penindasan paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979, dengan jumlah korban tewas diperkirakan mencapai sekitar 12.000 orang, mayoritas berusia di bawah 30 tahun.

Menurut laporan CNN, seorang dokter di Iran menggambarkan kondisi rumah sakit yang kewalahan, dengan jenazah menumpuk, jalanan dipenuhi darah, dan tragedi kemanusiaan ini nyaris tak terlihat oleh dunia luar akibat pemutusan informasi.

Perang Informasi: Internet Diputus Total Lebih dari Lima Hari

Sebagai bagian dari strategi penindasan, Iran juga melancarkan perang informasi berskala nasional. Rezim dilaporkan menggunakan chip pengganggu jaringan (kill switch) untuk melumpuhkan komunikasi nasional.

Laporan NetsBlocks pada Rabu, 14 Januari, menyebutkan bahwa pemadaman internet telah berlangsung selama 132 jam tanpa jeda.

Intelijen Iran dan polisi rahasia menjadikan pencarian terminal satelit berwarna putih di atap rumah sebagai prioritas utama. Kendaraan pendeteksi radio dikerahkan untuk melacak sinyal uplink—karena perangkat inilah yang memungkinkan dunia luar melihat kondisi nyata di jalanan Teheran.

Meski Kantor Berita Fars dan Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa internet akan dipulihkan dalam dua minggu, organisasi HAM memperingatkan bahwa rezim Iran kerap menggunakan pola “menindas terlebih dahulu, lalu membuka sebagian”, sehingga kewaspadaan internasional tetap diperlukan.

Reaksi Global dan Sikap Dingin Tiongkok–Rusia

Di Jerman, kepolisian melaporkan dua pria menurunkan bendera Iran di kawasan kedutaan. Sebelumnya di Inggris, demonstran mengganti bendera Iran dengan bendera Singa dan Matahari, simbol oposisi monarki.

Meski aksi solidaritas terhadap rakyat Iran meluas di Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa, dukungan dari Tiongkok dan Rusia terhadap Teheran terlihat sangat terbatas.

Media South China Morning Post pada 14 Januari menulis bahwa bagi Moskow, Iran memiliki kepentingan strategis jauh lebih besar, mengingat kedalaman kerja sama militer Rusia–Iran. Namun, fokus Vladimir Putin pada perang Ukraina dinilai membuat sekutu seperti Iran semakin rentan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, hanya menyampaikan harapan agar Iran mengatasi kesulitan dan menjaga stabilitas, tanpa menawarkan dukungan konkret.

Pengamat politik Jiang Feng menilai bahwa Beijing takut terseret lebih dalam, meski Teheran berupaya menunjukkan bahwa mereka “masih memiliki teman”. Ia menegaskan bahwa gelombang protes saat ini bukan lagi soal ekonomi semata, melainkan pemberontakan lintas kelas sosial, termasuk dari keluarga elite di Teheran Utara.

Iran Dikeluarkan dari Latihan Militer Laut BRICS 2026

Di tengah eskalasi dengan Amerika Serikat, Penyiaran Afrika Selatan pada 12 Januari 2026 melaporkan bahwa Iran diminta keluar dari latihan militer laut gabungan BRICS 2026, dan hanya diizinkan hadir sebagai pengamat.

Latihan tersebut berlangsung 9–16 Januari di sekitar Simon’s Town, dekat Cape Town, dipimpin oleh Tiongkok dan diikuti sejumlah negara anggota BRICS.

Meski kapal perang Iran telah tiba di lokasi, Afrika Selatan khawatir keterlibatan aktif Iran akan memperburuk hubungan dengan Amerika Serikat, terutama di tengah pembahasan perpanjangan Undang-Undang AGOA, yang menentukan status perdagangan istimewa Afrika Selatan.

Langkah ini dinilai sebagai strategi diplomasi pragmatis untuk menghindari risiko sanksi ekonomi, bukan sebagai penolakan terhadap kerja sama BRICS, namun menjadi sinyal jelas bahwa posisi Iran di panggung internasional semakin terisolasi.

Mengulang Kata-kata Orang Lain

EtIndonesia. Seorang pengusaha besar sangat piawai mengelola ratusan karyawan. Namun anehnya, dia sama sekali tak mampu mengendalikan anaknya sendiri. Hingga suatu hari, ketika dia mencoba mengulang kembali kata-kata yang diucapkan sang anak, segalanya pun berubah…

Mari kita simak kisah berikut ini.

Tuan Li adalah seorang pengusaha yang menjalankan pabrik pengolahan ekspor di Taichung. Pabrik dan perusahaannya mempekerjakan sekitar lima hingga enam ratus karyawan. Berkat keterlibatannya yang aktif—baik dalam urusan bisnis maupun manajemen—usahanya berjalan sangat sukses. Dalam mengambil keputusan, dia selalu tenang, mantap, dan penuh wibawa, layaknya seorang jenderal besar yang memimpin ribuan pasukan.

Namun, dia benar-benar tak berdaya menghadapi anaknya sendiri.

Kesenjangan generasi di antara mereka terasa selebar Selat Taiwan—mustahil diseberangi. Setiap kali bertemu, belum sampai tiga kalimat terucap, meja sudah dipukul, pintu dibanting, dan rumah pun berubah menjadi medan perang.

Hari itu pun sama. Gara-gara sang anak pulang larut malam, pertengkaran kembali meledak. Saat keduanya sudah memerah wajah dan meninggi suara, tiba-tiba sang anak terdiam. 

Lalu sang anak berkata dengan tenang : “Ayah, kalau terus bertengkar seperti ini juga bukan solusi. Bolehkah aku minta Ayah mengulang kembali kalimat yang barusan aku ucapkan?”

“Hah?!”

 Tuan Li benar-benar terkejut. Dia sama sekali tak menyangka akan menghadapi cara seperti itu.

“Kamu bilang… kamu bilang… sebagai ayah yang terlalu hebat, tentu saja memandang rendah anaknya!”

“Bukan! Coba Ayah pikirkan lagi. Apa aku benar-benar berkata seperti itu?”

“Dasar bocah! Kalau begitu, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu sendiri tidak mengulanginya?”

Sang anak tiba-tiba tertawa:  “Nah, lihat kan! Dari awal sampai akhir, Ayah sama sekali tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Itu semua hanya pikiran Ayah sendiri, bukan ucapanku.

Bukankah kita ingin berkomunikasi? Kalau begitu, apa yang aku katakan, Ayah ulangi dulu. Setelah itu giliran Ayah bicara, dan aku yang mengulang.”

“Hei! Mana ada waktu sebanyak itu untuk mengulang-ulang! Kamu benar-benar mau bikin Ayah mati emosi, ya?!”

“Ayah, mari kita coba saja. Kalau tidak, pertengkaran seperti ini tidak akan pernah selesai. Coba Ayah pikirkan lagi, sebenarnya tadi aku bilang apa?”

Tuan Li berpikir sejenak, lalu akhirnya mengakui : “Ayah benar-benar tidak ingat. Kamu ulangi saja.”

“Baik. Aku bilang begini: Ayah itu sangat hebat. Sebagai anak, aku di satu sisi sangat mengagumi Ayah, tapi di sisi lain aku takut tidak bisa menyamai Ayah, jadi dalam hati aku merasa tertekan.”

Tuan Li terdiam dan merenung. Ucapan itu terdengar masuk akal. Mengapa tadi dia bisa begitu emosional?

Malam itu, sesuatu yang tak terbayangkan pun terjadi—ayah dan anak bisa berbincang selama dua jam penuh tanpa bertengkar. Bahkan Tuan Li sendiri tak menyangka hasilnya bisa seefektif itu.

Keesokan paginya, meski kurang tidur, Tuan Li bangun dengan perasaan ringan dan segar. Dia berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya.

Hari itu, dia harus memimpin rapat pembelian penting untuk menentukan mesin senilai sepuluh juta yang akan dibeli—apakah buatan Amerika atau Jepang. Menurut bagian pembelian, mesin Jepang lebih murah dan kualitasnya cukup baik. Namun para insinyur bersikeras memilih produk Amerika.

Dalam rapat, Tuan Li mempersilakan kepala insinyur menyampaikan pendapat. Secara lahiriah itu tampak sopan, tetapi sang insinyur tahu betul: pemilik perusahaan yang sudah lama berkuasa biasanya cenderung mengambil keputusan sendiri. Pengalamannya berkata, pertanyaan bos sering kali hanya formalitas—lagipula, siapa yang tak ingin menghemat biaya?

Pilihan bos sudah bisa ditebak, maka dia pun berbicara dengan lesu. Belum sampai lima menit, dia berkata bahwa dirinya tidak punya pendapat lain.

Jika biasanya, Tuan Li akan langsung mengambil alih pembicaraan dan menikmati rasa berkuasa itu. 

Namun hari ini, dia justru berkata: “Pak Insinyur, izinkan saya mengulang poin utama Anda. Tolong koreksi jika ada yang tidak tepat.

Mesin buatan Jepang memang lebih murah dan kualitasnya tidak buruk. Namun, jika di kemudian hari terjadi kerusakan, masalah akan muncul. Tim mereka kesulitan berkomunikasi langsung karena kendala bahasa. Penerjemah yang dibawa pun sering kali tidak memahami mesin presisi. Kita jadi tidak benar-benar tahu di mana letak masalahnya. Jika masalah yang sama terulang, kita harus kembali memanggil teknisi mereka, dan ini bisa menghambat produksi. Jika dihitung secara keseluruhan, justru membeli mesin buatan Amerika akan lebih menguntungkan.”

Seiring Tuan Li mengulang penjelasan itu, mata kepala insinyur mulai berbinar. Dia kembali bersemangat dan menambahkan beberapa poin. Satu orang berbicara, yang lain menanggapi—diskusi pun mengalir lancar dan penuh antusiasme.

Saudara-saudari sekalian, jika tujuan kita adalah bertengkar, maka cukup sibuk menyerang balik lawan bicara. Namun jika tujuan kita adalah menyelesaikan masalah, kita harus sungguh-sungguh memahami pemikiran pihak lain.

Mengulang kata-kata lawan bicara, di satu sisi membuat mereka merasa didengarkan dan yakin bahwa tidak ada kesalahpahaman. Di sisi lain, hal itu memberi kita waktu untuk mencerna makna ucapannya sebelum membantah atau mengambil keputusan.

Sering kali, pada titik itulah kita menyadari: pertengkaran tak lagi menjadi pertengkaran, melainkan komunikasi yang aktif dan membangun.

Renungan Redaksi

Mendengarkan perkataan orang lain barulah disebut komunikasi. Terus-menerus menyampaikan pendapat sendiri tanpa mau mendengarkan pihak lain hanyalah pertengkaran.

Komunikasi dan pertengkaran sebenarnya adalah dua sisi dari koin yang sama—semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Ketika pendapat kita berbenturan dengan orang lain, ingatlah cerita ini. Tenangkan diri, dengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang ingin disampaikan pihak lain. Hanya setelah benar-benar memahami makna ucapannya, barulah kita bisa menolak atau menyetujuinya—dan membuat mereka mengerti alasan kita.(jhnyn)

Krisis Iran Fase Berbahaya: Evakuasi Warga, AS Siaga Serangan, Protes Meledak di Dalam Negeri

EtIndonesia. Situasi keamanan di Iran mengalami eskalasi sangat cepat dan kini berada pada titik yang dinilai paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Dalam dua hari terakhir, sejumlah negara—termasuk Amerika Serikat, Australia, Swedia, Polandia, India, dan beberapa negara Eropa—secara resmi mengeluarkan peringatan darurat dan mendesak seluruh warganya untuk segera meninggalkan Iran.

Langkah evakuasi massal ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran global terhadap kemungkinan konflik militer terbuka serta memburuknya situasi keamanan domestik akibat gelombang protes nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Israel Naikkan Status Siaga: Serangan AS Tinggal Menunggu Waktu

Menurut laporan Channel 12 Israel, dalam beberapa jam terakhir Israel telah menaikkan tingkat kewaspadaan ke status siaga tertinggi khusus. Lembaga keamanan Israel menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran kini bukan lagi persoalan apakah akan terjadi, melainkan kapan akan terjadi.

Peningkatan status siaga ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan Iran, khususnya dalam bentuk serangan rudal jarak jauh terhadap wilayah Israel.

Demonstrasi Diaspora Iran: Kedutaan di Denmark Diterobos

Di Eropa, gejolak Iran juga memicu aksi langsung. Pada 13 Januari, sekelompok diaspora Iran menerobos masuk ke Kedutaan Besar Iran di Kopenhagen, Denmark. Para demonstran menyatakan bahwa gedung kedutaan tersebut “bukan milik rezim, melainkan milik rakyat Iran.”

Dalam aksi tersebut, potret Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dan pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini disobek di tempat, sebagai simbol penolakan terhadap kekuasaan teokrasi yang telah berkuasa hampir setengah abad.

Qatar Berpihak ke AS, Iran Kehilangan Sekutu Kunci

Iran kini menghadapi tekanan dari berbagai arah. Selain ancaman militer Amerika Serikat dan sanksi berat Barat, bahkan sekutu tradisionalnya di kawasan Teluk mulai mengambil jarak.

Pada 13 Januari, media pertahanan independen Defense Blog melaporkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mendirikan pusat koordinasi pertahanan udara di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.

Sebanyak 17 mitra regional terlibat dalam mekanisme ini, yang dirancang untuk membangun respons darurat terpadu terhadap ancaman rudal Iran.

Pengamat geopolitik Timur Tengah, Mario Nawfal menilai langkah ini sebagai sinyal jelas bahwa dunia Teluk telah membaca arah konflik. Qatar—yang selama ini dikenal memiliki hubungan relatif lebih baik dengan Iran dibanding Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—kini memilih berpihak secara strategis kepada Amerika Serikat.

Penerbangan Mahan Air dari Tiongkok Picu Kecurigaan Global

Pada hari yang sama, 13 Januari, warganet global memantau data real-time dari Flightradar24 dan menemukan bahwa dua pesawat milik Mahan Air terbang dari Tiongkok menuju Teheran.

Mahan Air, maskapai swasta terbesar Iran yang didirikan pada 1992, dikenal memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sepanjang sejarahnya, maskapai ini berulang kali dituduh menggunakan penerbangan sipil untuk mengangkut senjata, amunisi, dan personel militer ke kawasan konflik Timur Tengah.

Karena itu, Mahan Air telah lama menjadi target sanksi Departemen Keuangan AS dan Uni Eropa. Dalam konteks eskalasi protes dan penindasan brutal di Iran, dunia internasional mencurigai bahwa penerbangan tersebut membawa bantuan senjata dan logistik untuk menopang rezim Khamenei.

Iran Membara: Teheran dan Isfahan Jadi Medan Tempur

Di dalam negeri, situasi berkembang semakin liar. Pada malam 12 Januari, berbagai rekaman video menunjukkan bahwa jalan-jalan Teheran berubah menjadi medan perang. Para demonstran menggunakan bom molotov rakitan untuk melawan aparat militer dan kepolisian bersenjata lengkap.

Penindasan bersenjata tidak lagi efektif meredam kemarahan publik. Pada 13 Januari, Teheran kembali diguncang demonstrasi besar-besaran, dengan estimasi sekitar satu juta orang turun ke jalan. Aparat keamanan dilaporkan menghilang dari sejumlah titik strategis.

Di Isfahan, kota terbesar ketiga Iran, massa membakar kendaraan dan memblokade jalan utama guna memutus jalur bala bantuan IRGC.

Serangan Terhadap IRGC di Kermanshah

Pada 13 Januari dini hari, organisasi oposisi Partai Kebebasan Kurdistan mengumumkan bahwa mereka melancarkan serangan terhadap pangkalan IRGC di Kermanshah, Iran barat. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah personel IRGC, sementara sisanya melarikan diri. Pangkalan tersebut diklaim berhasil dihancurkan.

Partai ini didirikan pada 1991 dan selama lebih dari 30 tahun aktif menentang pemerintahan Iran, memperjuangkan kemerdekaan etnis Kurdi di wilayah barat laut negara itu.

Krisis Kemanusiaan: Air dan Makanan Menipis

Seorang sumber dari Iran mengatakan kepada jurnalis konservatif Amerika, Laura Loomer bahwa toko-toko di Iran kini kehabisan makanan dan air bersih. Tanpa air, manusia dapat meninggal dalam waktu 3–5 hari.

Laura Loomer menilai kelangkaan ini kemungkinan merupakan strategi IRGC untuk mematahkan protes. Ia memperingatkan bahwa situasi Iran sudah memasuki fase darurat kemanusiaan dan membutuhkan tindakan segera.

Trump Kirim Sinyal Keras: “Bantuan Sedang dalam Perjalanan”

Pada 13 Januari, Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa ia telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.”

Dalam wawancara dengan CBS pada hari yang sama, Trump mengeluarkan peringatan keras: “Jika mereka benar-benar mengeksekusi para demonstran, kami akan mengambil tindakan yang sangat kuat. Lihat apa yang terjadi pada Baghdadi. Lihat juga Soleimani.”

Dia menambahkan: “Ketika puluhan ribu orang dibantai, lalu mereka masih berpura-pura? Kita akan lihat konsekuensi apa yang harus mereka hadapi.”

Pengamat politik Tang Jingyuan menilai pernyataan ini sebagai sinyal bahwa peringatan verbal telah berakhir, dan dunia kini memasuki fase aksi nyata.

Starlink Jadi Jalur Harapan Terakhir

Di tengah pemutusan komunikasi besar-besaran, Elon Musk dilaporkan telah menginstruksikan para insinyur SpaceX untuk bekerja siang dan malam guna membantu rakyat Iran menghindari gangguan terhadap jaringan Starlink.

Langkah ini dinilai sebagai urat nadi terakhir komunikasi rakyat Iran dengan dunia luar.

Kesimpulan

Periode 12–13 Januari menandai titik balik paling krusial dalam krisis Iran. Dengan dunia mengevakuasi warganya, sekutu berbalik arah, oposisi bersenjata bergerak, dan Amerika Serikat mengirim sinyal keras, Iran kini berdiri di ambang perubahan besar—baik melalui runtuhnya rezim, maupun konflik regional berskala luas.

Tiket Menuju Surga

EtIndonesia. Ada sepasang saudara kembar yang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi pada waktu yang sama.

Hasilnya, sang kakak berhasil dan diterima di universitas, sementara sang adik gagal hanya karena selisih dua poin. Wajah mereka nyaris tak bisa dibedakan, namun kepribadian mereka sangat berbeda.

Kakak bersifat jujur, setia, dan sederhana; adiknya lincah, cerdas, dan pandai berbicara. Kakak kurang pandai merangkai kata, sedangkan adik fasih berbicara seperti air mengalir.

Kakak memegang surat penerimaan universitas itu sambil menatap kedua orangtuanya  yang miskin dan sakit-sakitan, terdiam tanpa sepatah kata. 

Sementara itu, adik mengurung diri di kamar, tak makan dan tak minum, hanya mengeluh panjang sambil berkata :  “Langit sungguh tak adil, tak bisa mengenali orang berbakat!”

Sang ayah yang murung dan penuh beban pikiran merenung selama dua malam berturut-turut.

Akhirnya, dengan mata berkedip-kedip menahan rasa berat di hati, dia berkata kepada anak sulungnya :  “Berikan kesempatan itu kepada adikmu. Dia memang terlahir sebagai orang yang cocok untuk belajar.”

Kakak pun menyerahkan surat penerimaan universitas itu ke tangan adiknya, lalu berkata pelan di sampingnya : “Ini bukan tiket menuju surga. Jangan gantungkan terlalu banyak harapan padanya.”

Adiknya bingung dan bertanya : “Kalau begitu, menurutmu ini apa?”

Kakak menjawab:  “Selembar kertas penyerap keringat—kertas yang hanya menyerap keringat.”

Adik menggelengkan kepala sambil tertawa, menganggap kakaknya hanya berbicara omong kosong.

Hari pertama kuliah pun tiba. Sang adik memanggul ranselnya dan melangkah menuju perguruan tinggi di kota besar.

Sementara itu, kakak menyuruh ayah mereka yang lemah dan sering sakit untuk pulang dan beristirahat dari pekerjaannya di pabrik semen milik pemerintah kota. Dia sendiri menggantikan posisi sang ayah, berdiri di samping mesin pemecah batu, menggenggam linggis baja yang berat…

Di mesin itu, tampak bercak-bercak darah. Sudah banyak pekerja yang kehilangan jari mereka akibat mesin tersebut.

Sejak hari pertama bekerja di sana, sang kakak menyimpan sebuah mimpi yang indah.

Selama tiga bulan, dia melakukan modifikasi teknis pada mesin tersebut—hasil pecahan batu menjadi lebih baik dan tingkat keamanannya meningkat. Direktur pabrik lalu memindahkannya ke bagian pembakaran.

Di bengkel pembakaran, debu beterbangan memenuhi udara, dan banyak pekerja menderita penyakit paru-paru akibat debu silika. Bersama beberapa teknisi inti, dia mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk meneliti serta memperbaiki sistem perlindungan lingkungan. Hasilnya, dia kembali dipindahkan—kali ini ke laboratorium penelitian.

Di laboratorium, dia membaca banyak buku, berkali-kali mengunjungi pabrik ternama untuk belajar, melakukan eksperimen berulang-ulang, dan mengekstraksi unsur kimia baru. Melalui inovasi demi inovasi, kualitas semen meningkat drastis. Pabrik pun menciptakan merek baru, dan produknya laris di berbagai provinsi di wilayah Tiongkok Selatan.

Tak lama kemudian, dia menjadi tokoh terkenal di industri bahan bangunan kota itu.

Sementara itu, setelah masuk universitas, sang adik masih tampak seperti mahasiswa sungguhan di tahun pertama. Dia sempat menulis beberapa surat menanyakan kondisi ayahnya. Namun di tahun kedua, dia berpacaran dengan putri seorang konglomerat, dan keduanya jatuh cinta.

Gadis itu menjadi “dompet hidup” baginya—tak pernah habis uangnya. Selama dua tahun penuh, dia tak pernah meminta uang sepeser pun dari rumah. Penampilannya berubah total, dari desa menjadi modern, terlihat “keren luar biasa” dan “super stylish”.

Namun ketika memasuki tahun keempat, sang gadis mengucapkan “selamat tinggal”. Dia pun terjerumus ke dalam apa yang disebut “masa galau anak muda”: nongkrong di bar, kecanduan internet, tak lagi serius belajar. Dia lulus dengan ijazah sarjana berkat mencontek saat ujian.

Seperti lalat yang berputar-putar lalu kembali ke titik awal, dia pulang ke kota asalnya untuk mencari pekerjaan. Masih ada sedikit rasa malu dalam dirinya—dia tak berani pulang menemui orangtuanya dalam keadaan gagal.

Melalui rekomendasi pusat tenaga kerja kota, dia melamar ke sebuah perusahaan bahan bangunan ternama. Setelah susah payah melewati tiga tahap seleksi, tibalah saatnya wawancara akhir di ruang direktur utama.

Namun ketika giliran wawancara tiba, sang direktur tak kunjung muncul. Akhirnya, sekretaris datang dan memberi tahu bahwa dia diterima bekerja.

Syaratnya satu: dia harus memulai dari bagian pembakaran sebagai pekerja biasa.

Dia merasa sangat terhina dan bersikeras ingin bertemu direktur.

Sekretaris menyerahkan selembar kertas kecil. 

Saat dibuka, tertulis delapan karakter besar: “Ingin naik ke surga, turunlah dulu ke neraka.”

Dia mendongak—dan tiba-tiba melihat kakaknya berjalan masuk, duduk tegak di kursi direktur utama. Wajahnya seketika memanas, terasa seperti terbakar.

Renungan Redaksi

Surat penerimaan universitas bukanlah jaminan kesuksesan, apalagi tiket menuju surga. Tiket yang sejati adalah kerja keras dan ketekunan. Jika ingin naik ke surga, bersiaplah lebih dulu turun ke neraka. Jika ingin melompat tinggi, belajarlah jongkok lebih dulu—semakin rendah kita merendah, semakin tinggi kita bisa melompat. (jhn/yn)

Pembantaian Terbesar Iran Meledak: 12.000 Tewas, Militer Mulai Membelot, Trump Kirim Ultimatum


EtIndonesia. 
Pemberontakan nasional di Iran kini memasuki fase paling panas dan menentukan dalam sejarah modern negara tersebut. Gelombang protes anti-pemerintah yang telah berlangsung selama berminggu-minggu berubah menjadi konfrontasi terbuka berskala nasional, ketika aparat keamanan dilaporkan melakukan pembantaian besar-besaran terhadap warga sipil.

Alih-alih meredam perlawanan, kekerasan negara justru mendorong semakin banyak rakyat Iran turun ke jalan dengan keberanian yang belum pernah terlihat sebelumnya.

12.000 Tewas dalam Dua Hari, Internet Diputus Total

Seorang sumber tingkat tinggi pemerintah Iran mengungkapkan kepada media oposisi Iran International bahwa sedikitnya 12.000 orang tewas, menjadikannya pembantaian terbesar dalam sejarah modern Iran.

Mayoritas korban dilaporkan jatuh pada 8–9 Januari, periode ketika pemerintah Iran memutus total jaringan internet nasional, sehingga informasi dari dalam negeri nyaris sepenuhnya terisolasi.

Pemimpin redaksi Iran International menegaskan bahwa angka tersebut bukan estimasi, melainkan bersumber dari laporan internal resmi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang diserahkan kepada pimpinan tertinggi negara.

CBS: Korban Bisa Capai 20.000 hingga 30.000 Orang

Laporan CBS mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas dalam aksi protes anti-pemerintah berpotensi mencapai 20.000 orang, bahkan bisa jauh lebih tinggi.

Informasi ini berasal dari percakapan antara klimatolog Iran, Nasser Karami, dengan seorang saksi mata di Teheran. Saksi tersebut memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat tidak turun tangan, jumlah korban bisa melampaui 30.000 orang.

Dia mengaku menyaksikan langsung hingga fajar menyingsing, warga masih membersihkan darah yang mengering di dinding, tembok luar, dan aspal jalan, sebuah gambaran yang mengguncang banyak pihak.

Militer dan Polisi Mulai Membelot

Di tengah eskalasi kekerasan, sistem penindasan negara Iran mulai menunjukkan retakan serius. Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, mengunggah sebuah video yang menyatakan bahwa ribuan personel militer dan polisi menolak masuk dinas, demi menghindari keterlibatan dalam pembantaian terhadap rakyat.

Sumber-sumber internal menyebutkan bahwa pembelotan dan peralihan kesetiaan kini terjadi baik di kalangan militer maupun sipil. Sejumlah elite rezim bahkan secara terbuka mengakui bahwa usia kekuasaan Republik Islam Iran mungkin telah mencapai ujungnya.

Isu Pelarian Pemimpin Tertinggi Mencuat

Laporan lain menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tengah bersiap meninggalkan negara atau bersembunyi di lokasi yang dirahasiakan, menyusul meningkatnya kekhawatiran akan operasi “pemenggalan kepala” yang menargetkan inti kekuasaan rezim.

Para analis menilai bahwa seluruh sistem kekuasaan Iran dibangun di sekitar figur Pemimpin Tertinggi. Jika figur ini tumbang, maka tidak ada institusi lain yang mampu mempertahankan fungsi negara secara normal.

Trump Kirim Pesan Langsung ke Rakyat Iran

Pada Selasa pagi, 13 Januari (waktu Pantai Timur AS), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan pesan keras kepada rakyat Iran:

“Wahai para patriot Iran, teruslah berunjuk rasa. Ambil alih institusi kalian. Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan—mereka akan membayar mahal.”

Trump juga menyatakan bahwa dia telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan menegaskan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.

Pada hari yang sama, Amerika Serikat secara resmi menetapkan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Lebanon, dan Yordania sebagai kelompok ekstremis, sebuah langkah yang dipandang sebagai sinyal keras terhadap jaringan pendukung rezim Iran di kawasan.

Demonstrasi Terbesar Sepanjang Sejarah Iran

Diduga terdorong oleh pesan Trump, pada Selasa malam, 13 Januari, Teheran menyaksikan demonstrasi terbesar dalam sejarah Iran, dengan lebih dari satu juta orang turun ke jalan meneriakkan tuntutan agar diktator mundur.

Di saat bersamaan, gelombang evakuasi internasional pun terjadi. Amerika Serikat, Prancis, Selandia Baru, Jepang, Tiongkok, Irlandia, Taiwan, Singapura, Inggris, dan Jerman serempak mengeluarkan peringatan keras:

“Jika Anda berada di Iran, segera tinggalkan negara itu. Jika Anda tidak berada di Iran, jangan bepergian ke sana.”

AS Perkuat Kontak dengan Oposisi Iran

Menurut laporan Axios, utusan khusus AS, Steve Witkoff diam-diam bertemu dengan Reza Pahlavi pada akhir pekan sebelum 13 Januari.

Pertemuan ini membahas gelombang protes nasional dan dinilai sebagai peningkatan signifikan keterlibatan pemerintahan Trump terhadap oposisi Iran, dengan Reza Pahlavi mulai diposisikan sebagai figur transisi potensial pasca-runtuhnya rezim Islam.

Bagi rakyat Iran, sinyal ini dipandang sebagai kemungkinan kembalinya monarki ke panggung politik, meski dalam bentuk transisi.

Isyarat Militer AS Makin Jelas

Pada 13 Januari, para senator Partai Republik AS secara terbuka menyatakan dukungan bulat terhadap kemungkinan serangan ke Iran, dengan menyebutnya sebagai jalan perubahan rezim yang diharapkan para demonstran.

Tak lama setelah Gedung Putih merilis pernyataan “Memohon berkat Tuhan bagi militer AS”, saksi mata melaporkan aktivitas pesawat militer AS di sekitar wilayah Iran. Pesawat tanker udara dan pembom strategis dilaporkan lepas landas dari pangkalan AS di Qatar.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, tiba di Gedung Putih sekitar pukul 20:00 waktu Pantai Timur, menandakan koordinasi krisis tingkat tertinggi.

Trump mengatakan kepada wartawan pada sore hari yang sama: “Terakhir kali saya membombardir Iran, mereka sudah tidak punya kemampuan membalas. Mereka sebaiknya patuh.”

Tiongkok Menjauh, Iran Makin Terisolasi

Sementara itu, sumber dari Beijing menyebutkan bahwa Tiongkok menolak memberikan bantuan ekonomi maupun militer kepada Iran, karena khawatir terkena sanksi perbankan Amerika Serikat dan Eropa.

Seorang pejabat AS menegaskan bahwa jika Iran mulai mengeksekusi demonstran, maka respons Amerika akan sangat keras dan bukan gertakan.

Saluran Channel 14 melaporkan bahwa jika operasi terhadap Iran dilakukan, targetnya adalah langsung rezim, bukan sekadar operasi militer terbatas.

Iran di Ambang Keruntuhan

Pasukan AS di Timur Tengah kini berada dalam kesiapan penuh. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa persiapan operasi militer telah memasuki tahap lanjut.

Anggota DPR AS, Gabe Evans menegaskan bahwa gelombang perlawanan rakyat Iran adalah peringatan bagi semua rezim otoriter: “Rakyat pada akhirnya akan muak. Jika Anda tidak memberi kebebasan dan hak, mereka akan bangkit.”

Para analis sepakat: Iran kini berada di persimpangan sejarah—antara bertahan dengan kekerasan, atau runtuh oleh gelombang perlawanan rakyatnya sendiri.

Saksi Mata : Warga Sipil Iran yang Tidak Ikut Aksi Protes Juga Ditembak Mati

Etindonesia. Pada Selasa (13/1/2026), semakin banyak informasi terungkap mengenai tindakan brutal rezim khamenei dalam membantai warga sipil. Sejumlah saksi mata mengatakan bahwa aparat Iran secara kejam menembaki warga sipil, termasuk mereka yang sama sekali tidak ikut serta dalam aksi protes.

Menurut laporan saluran Persia BBC, saksi mata dari Kota Fardis, di sebelah barat Teheran, menyatakan bahwa pada Jumat lalu, milisi Basij di bawah Garda Revolusi Islam tiba-tiba menembaki para pengunjuk rasa di jalanan.

Para saksi menyebutkan bahwa aparat berseragam yang mengendarai sepeda motor langsung melepaskan tembakan ke arah massa. Mereka juga mengatakan bahwa beberapa kendaraan tanpa tanda memasuki gang-gang sempit dan menembaki warga yang tidak ikut dalam aksi protes. Seorang saksi mata mengatakan, “Di setiap gang ada dua atau tiga orang yang dibunuh.”

Seorang perempuan muda lainnya dari Teheran mengatakan bahwa pada Kamis lalu, bahkan kawasan pinggiran Teheran pun dipenuhi pengunjuk rasa. “Namun pada hari Jumat, pasukan keamanan terus membunuh, tanpa henti membunuh,” katanya dengan sedih. “Hari Jumat adalah hari yang berdarah.”

Ia mengatakan bahwa hari itu Teheran berubah menjadi medan perang. “Tetapi di sini, orang-orang hanya meneriakkan slogan, lalu dibunuh. Ini adalah perang sepihak.”

Di platform X, akun aktivis Iran “Vahid Online” mengunggah beberapa video baru yang memperlihatkan deretan jenazah di Pusat Forensik Kahrizak, Teheran, pada 10 Januari. Gambar-gambar yang mengerikan menunjukkan sejumlah korban tampak memiliki luka akibat peluru dan senapan shotgun, cedera serius lainnya, serta tumpukan pakaian berlumuran darah.

Vahid mengatakan bahwa video-video tersebut dikirimkan kepadanya oleh seorang sumber yang menempuh perjalanan sekitar 1.000 kilometer untuk mengunggahnya selama pemadaman komunikasi. Ia juga menyebutkan bahwa hanya pada hari itu saja, terdapat lebih dari 2.000 jenazah berserakan di lokasi.

Para pelapor menyatakan bahwa situasi nyata di dalam Iran jauh lebih mengerikan daripada yang bisa dibayangkan dunia luar. Jumlah korban tewas yang selama ini diberitakan media internasional, menurut mereka, hanyalah sebagian kecil dari angka sebenarnya.

Stasiun televisi Iran International yang berbasis di London mengatakan bahwa redaksi mereka menghimpun berbagai sumber informasi, termasuk seorang sumber yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dua sumber dari kantor presiden, sejumlah sumber internal Garda Revolusi Iran, kesaksian saksi mata dan keluarga korban, laporan lapangan, data pusat medis, serta informasi dari tenaga kesehatan di berbagai kota. Berdasarkan perkiraan awal, sedikitnya 12.000 orang tewas, dengan pembantaian terutama terjadi pada dua malam, Jumat dan Sabtu pekan lalu.

Seorang perempuan muda yang tinggal di Teheran mengatakan kepada New York Post bahwa lima orang kerabat dan temannya telah tewas. Ia juga mengungkapkan bahwa pihak berwenang memungut “biaya peluru” dari keluarga korban, dan jenazah baru diserahkan setelah uang dibayarkan. 

Salah satu keluarga korban membayar 500 juta toman (sekitar US$5.000) untuk membawa pulang jenazah anggota keluarganya. Bahkan setelah biaya tersebut dibayarkan, laporan resmi penyebab kematian tetap menuliskan “wajah terkena benturan benda tajam”, tanpa menyebutkan bahwa korban tewas akibat tembakan.

Perempuan itu mengatakan bahwa meskipun berada dalam situasi yang sangat mengerikan, rakyat tetap percaya bahwa kali ini akan berbeda. “Semua orang percaya bahwa rezim ini pada akhirnya akan runtuh.”

Laporan gabungan oleh reporter Jin Jing / Editor Zhu Xinrui

Perumpamaan Ekonomi

EtIndonesia. Bertahun-tahun yang lalu, aku pernah mengenal seorang pria tua yang membuka sebuah kedai makanan kecil di pinggir jalan raya.

Saat itu, kondisi ekonomi sedang sangat lesu.

Orangtua ini sebenarnya bisa dibilang “beruntung”. Penglihatannya sudah tidak begitu baik, dan pendengarannya pun hampir tuli.

Aku menyebutnya beruntung karena penglihatannya yang buruk membuatnya tidak bisa membaca koran atau buku.

Pendengarannya yang kurang baik juga membuatnya jarang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Akibatnya, dia tidak terlalu mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana.

Karena dia tidak tahu seberapa parah kondisi ekonomi sedang memburuk, dia tetap bekerja seperti biasa, dengan penuh semangat.

Dia mengecat tampilan tokonya dengan rapi dan menarik, memasang papan reklame di pinggir jalan sehingga orang-orang bisa mencium aroma makanannya dari kejauhan dan berhenti untuk mampir. Makanan yang dia jual bermutu baik, harganya terjangkau, rasanya pun lezat—bahkan orang yang hampir tak punya uang sekalipun tak tahan untuk berhenti dan makan sedikit di kedainya.

Pria tua itu bekerja dengan sangat rajin. Dari hasil jerih payahnya, dia menyekolahkan anaknya hingga masuk universitas.

Anaknya memilih jurusan ekonomi, dan dia sangat memahami betapa buruknya kondisi perekonomian Amerika saat itu.

Ketika liburan Natal tiba, sang anak pulang ke rumah.

Melihat usaha ayahnya masih sangat ramai, dia berkata : “Ayah, ada yang tidak beres di sini.”

“Seharusnya Ayah tidak mendapatkan bisnis sebagus ini. Ayah terlihat begitu bersemangat, seolah-olah di luar sana tidak sedang terjadi krisis ekonomi.”

Lalu, sang anak menjelaskan dengan panjang lebar tentang penyebab dan dampak resesi ekonomi, serta mengatakan bahwa seluruh Amerika sedang mati-matian berhemat dan mengencangkan ikat pinggang.

Sejak saat itu, sang ayah mulai terpengaruh oleh pemikiran yang negatif. 

Dia berkata dalam hati: “Kalau begitu, tahun ini aku sebaiknya tidak perlu mengecat toko lagi.”

“Ekonomi sedang kacau, lebih baik aku menghemat sedikit uang.”

“Potongan daging dalam sandwich seharusnya diperkecil.”

“Lagipula, kalau semua orang tidak punya uang, untuk apa aku memasang papan reklame di jalan?”

Akhirnya, dia menghentikan semua upaya positif yang selama ini dia lakukan.

Apa hasilnya?

Benar saja, bisnisnya langsung merosot tajam.

Ketika sang anak pulang lagi saat liburan Paskah, ayahnya berkata:  “Anakku, aku harus berterima kasih padamu karena sudah memberitahuku tentang krisis ekonomi. Ternyata itu benar-benar nyata. Bahkan kedai kecilku pun ikut merasakannya. Nak, pendidikan universitas memang luar biasa bermanfaat. Para ahli benar-benar pantas disebut ahli!” (jhn/yn)