Malam Ketika Rezim Khamenei “Kehilangan” Ibu Kota: Punak Dikuasai, Masjid Dibakar

EtIndonesia. Iran memasuki hari ketiga pemutusan total jaringan telepon dan internet nasional, sebuah langkah darurat yang diambil pemerintah untuk menekan gelombang protes anti-rezim yang terus meluas. 

Meski demikian, arus informasi dari dalam negeri tidak sepenuhnya terputus. Dengan bantuan layanan internet satelit milik Elon Musk, rekaman video dan laporan lapangan tetap berhasil dikirim ke luar Iran dan menyebar luas di media internasional.

Kawasan Elit Punak  Jatuh ke Tangan Demonstran

Pada malam Jumat, 10 Januari 2026, situasi di kawasan Punak-e, Teheran Barat, berubah drastis. Rekaman video menunjukkan pasukan keamanan tidak lagi terlihat melakukan penindasan di wilayah tersebut. Sebaliknya, suasana perayaan justru muncul, dengan kembang api dinyalakan di tengah kerumunan massa.

Diperkirakan lebih dari 100.000 demonstran memadati alun-alun Punak-e. Ribuan ponsel dinyalakan serentak, menciptakan lautan cahaya, sementara massa meneriakkan slogan “Hidup Raja!” serta secara terbuka menyerukan kembalinya Dinasti Pahlavi.

Punake memiliki makna politik yang sangat sensitif. Kawasan ini dikenal sebagai permukiman elite internal lingkar kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, termasuk pejabat tinggi militer dan keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan rezim. Secara simbolis, wilayah ini kerap disamakan dengan Zhongnanhai di Beijing, pusat kekuasaan tertinggi Partai Komunis Tiongkok.

Pendudukan Punak-e oleh demonstran menyampaikan pesan yang tegas dan tanpa ambiguitas:  tidak ada lagi wilayah terlarang atau tabu bagi perlawanan rakyat.

Kantor Polisi Dikuasai, Balai Kota Dibakar

Gelombang perlawanan tidak hanya terkonsentrasi di ibu kota. Di kota Babol, Iran Utara, warga dilaporkan berhasil menguasai kantor polisi setempat dan membebaskan para tahanan.

Sementara itu, pada Sabtu, 11 Januari 2026, beredar luas video yang memperlihatkan gedung balai kota Karaj dibakar massa. Karaj merupakan ibu kota Provinsi Alborz, berjarak sekitar 40 kilometer dari Teheran, serta termasuk salah satu kota terpadat dan paling sensitif secara politik dan keamanan di Iran. Pembakaran fasilitas pemerintahan di kota ini dipandang sebagai eskalasi besar dalam skala dan keberanian aksi.

Serangan terhadap Aparat dan Status Siaga Tingkat Perang

Sebelum menyasar institusi negara secara terbuka, massa protes dilaporkan lebih dulu menargetkan aparat-aparat kunci rezim. Dalam sebuah insiden terbaru, Kepala Kepolisian Shaur, Mohammad Haghighat, diserang ketika berada di dalam kendaraan yang sedang melaju.

Kelompok bersenjata anti-pemerintah “Tentara Keadilan” secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Media Israel melaporkan bahwa Ali Khamenei telah menaikkan status kesiapsiagaan nasional Iran ke tingkat “di atas masa perang”, sebuah indikator bahwa rezim memandang situasi ini sebagai ancaman eksistensial.

Seorang warganet Iran menuliskan komentar yang banyak dibagikan: “Inilah ciri khas kediktatoran—perang melawan rakyat selalu lebih penting daripada perang melawan musuh asing.”

Sinyal Keras dari Washington

Di tengah eskalasi krisis, pada 10 Januari 2026, Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa Iran sedang menuju cahaya kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mulai mendiskusikan berbagai skenario militer terhadap Iran, termasuk opsi serangan udara besar-besaran terhadap target-target militer strategis Iran.

Sejumlah akun intelijen sumber terbuka (OSINT) juga melaporkan bahwa Amerika Serikat tengah melakukan pengangkutan militer skala besar ke Timur Tengah, memperkuat spekulasi tentang kemungkinan eskalasi regional.

Korban Jiwa dan Pembakaran Simbol Ideologi

Namun, harga yang dibayar rakyat Iran sangat mahal. Pada 10 Januari 2026, berdasarkan estimasi Iran International TV, sedikitnya 2.000 demonstran dilaporkan tewas hanya dalam 48 jam terakhir, akibat tindakan represif pasukan pemerintah.

Rezim Iran juga secara terbuka mengancam hukuman mati bagi siapa pun yang merusak tempat ibadah. Meski demikian, perlawanan tidak surut.

Analis militer dan pertahanan Iran, Babak Taghvaei, menyatakan bahwa ratusan masjid, sekolah agama, dan seminari telah dibakar massa di berbagai wilayah Iran.

Salah satu peristiwa paling simbolis terjadi pada malam 10 Januari 2026, ketika Masjid Abuzar di Teheran dibakar demonstran. Di Iran, masjid bukan sekadar bangunan keagamaan, melainkan pilar utama ideologi Republik Islam.

 Pembakaran masjid menandai bahwa protes telah melampaui seluruh “garis merah”, berubah dari penolakan terhadap penguasa menjadi penolakan total terhadap sistem politik yang ada.

Efek Domino: Ketakutan Menyebar ke Tiongkok

Menariknya, pihak yang disebut-sebut paling merasakan ketakutan atas potensi perubahan rezim di Iran justru adalah Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Sejak gelombang protes Iran meledak, polisi antihuru-hara dan kendaraan lapis baja Tiongkok dilaporkan terlihat di berbagai kota besar. Di Chongqing, ratusan polisi dikerahkan untuk menjaga ketat bank-bank utama. Di Shenyang, kendaraan lapis baja dengan senapan mesin berat dikerahkan di Jalan Zhongjie—perlengkapan yang lebih menyerupai operasi semi-militer ketimbang patroli sipil.

Di Taiyuan, Provinsi Shanxi, aparat bahkan mengaktifkan platform komando pengawasan ketinggian, menempatkan pasukan khusus di posisi tinggi untuk memantau dan mengendalikan kerumunan dari atas. Bahkan kota tingkat empat seperti Zhumadian, Henan, dilaporkan memasuki status siaga tinggi, sementara di Xincai, jalan tol ditutup untuk mencegah potensi pengumpulan massa.

Seorang netizen Tiongkok menyimpulkan situasi tersebut dengan tajam: “Rezim yang mengaku melayani rakyat justru paling takut rakyat turun ke jalan. Stabilitas menjadi naluri, ketakutan tercermin dalam tindakan. Mereka tidak menyelesaikan masalah, tetapi menyingkirkan orang yang mengajukan masalah—itulah wajah asli kekuasaan PKT.”

Trump: Greenland Seperti Venezuela, Jika AS Tidak Bertindak Akan Jatuh ke Tangan Tiongkok dan Rusia

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan di Gedung Putih bahwa Greenland, seperti Venezuela, merupakan isu keamanan nasional yang sangat penting bagi Amerika Serikat. Jika AS tidak bertindak, Greenland berisiko jatuh ke dalam pendudukan Tiongkok dan Rusia. Trump mengatakan ia berharap dapat mencapai kesepakatan untuk memperoleh Greenland, namun jika tidak, maka opsi yang lebih keras akan digunakan.

Menanggapi pernyataan tersebut, para pemimpin lima partai di Parlemen Greenland dalam pernyataan bersama pada Jumat (9 Januari) menegaskan kembali bahwa masa depan Pulau Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.

 “Jika Anda melihat ke arah Greenland sekarang, di sana ada kapal perusak Rusia, ada kapal perusak Partai Komunis Tiongkok, ada kapal selam Rusia—mereka ada di mana-mana. Kami tidak akan membiarkan Tiongkok dan Rusia menduduki Greenland. Jika tidak, mereka pasti akan berhasil,” kata Trump. 

Pada Jumat, Trump mengumpulkan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih dan mengumumkan rencana rekonstruksi minyak Venezuela senilai 100 miliar dolar AS. Dalam pertemuan tersebut, Trump mengatakan bahwa Greenland seperti Venezuela—jika tidak segera ditangani, wilayah itu akan jatuh ke dalam kendali Tiongkok dan Rusia, dan hal ini merupakan masalah besar bagi keamanan nasional AS.

Trump:  “Ini juga merupakan masalah keamanan nasional yang sangat besar, sama seperti Greenland. Kita tidak boleh membiarkan Tiongkok dan Rusia menguasai Greenland, dan kita tidak boleh membiarkan Tiongkok dan Rusia menguasai Venezuela. Jika kita tidak bertindak, Tiongkok dan Rusia sudah mengendalikan Venezuela.”

Trump menambahkan bahwa ia akan mengupayakan perolehan Greenland melalui kesepakatan terlebih dahulu, namun jika itu tidak berhasil, maka ia akan beralih ke cara yang lebih tegas.

Trump:  “Saya ingin mencapai kesepakatan—itu cara yang paling mudah. Jika kita tidak bisa menggunakan cara yang mudah, maka kita akan menggunakan cara yang keras.”

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menilai bahwa pernyataan tersebut tidak berarti Amerika Serikat akan secara langsung mengambil alih Greenland dengan kekuatan militer.

 “Saya tetap tidak percaya bahwa Amerika Serikat akan melancarkan aksi militer untuk menguasai Pulau Greenland. Saya dengan tegas menyatakan tidak akan mendukung pendekatan semacam itu, dan saya telah menuliskannya secara jelas. Saya pikir hal itu tidak menguntungkan siapa pun. Terus terang, saya bahkan menilai itu juga tidak menguntungkan bagi Amerika Serikat,” katanya. 

Meloni mengatakan bahwa ia dapat memahami kekhawatiran Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa bukan hanya Greenland, tetapi NATO juga perlu menunjukkan kehadiran yang penting di kawasan Arktik.

Diterjemahkan oleh Jiang Ziyang, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.

Venezuela Mulai Membebaskan Tahanan Politik, Keluarga Menanti Reuni di Luar Penjara

Pada Sabtu (10/1/2026), otoritas Venezuela mulai membebaskan sebagian tahanan yang dianggap sebagai tahanan politik. Di luar Penjara El Rodeo di ibu kota, para anggota keluarga dengan cemas menunggu, berharap dapat kembali berkumpul dengan orang-orang tercinta.

EtIndonesia.  Sejumlah keluarga berkumpul di luar penjara untuk menantikan kemungkinan adanya kabar pembebasan kerabat mereka pada Sabtu (10 Januari). 

Lorealber Gutierrez mengatakan bahwa ibu, saudara laki-laki, pasangan, bibi, dan sepupunya telah ditahan sejak mengikuti aksi protes setelah pemilihan presiden Agustus 2024, dan hingga kini masih ditahan.

 “Saya percaya mereka pasti bisa keluar dari tempat itu, dan kami akan kembali berkumpul seperti dulu. Itulah yang paling saya inginkan. Saya ingin bersama kakak saya; saya sudah empat tahun tidak bertemu dengannya,” ujar Lorealber Gutierrez, anggota keluarga tahanan. 

Di luar penjara, seorang ibu bernama Mirta Marin juga menunggu dengan penuh harap. Putranya telah ditahan di Penjara Rodeo I selama delapan bulan.

“Tidak ada seorang pun yang menjelaskan kepada saya mengapa pemerintah Venezuela membawa anak saya ke sini. Saya hanya bisa menunggu di sini dan terus mendukung, berharap mereka benar-benar memberikan kebebasan yang telah mereka janjikan berkali-kali,” kata Mirta Marin, ibu dari tahanan. 

Malam sebelumnya, sebagian keluarga sempat mengadakan aksi berjaga dengan lilin di luar penjara, berharap pengumuman pemerintah mengenai “pembebasan besar-besaran” benar-benar diwujudkan.

Kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa pemerintah Venezuela telah membebaskan 18 tokoh oposisi, termasuk 5 warga negara Spanyol serta mantan calon presiden dari pihak oposisi, Enrique Márquez. Namun, pihak berwenang belum merilis daftar lengkap para tahanan yang dibebaskan, dan juga belum menjelaskan jumlah total pembebasan yang akan dilakukan.

Selain itu, dilaporkan bahwa pada Jumat (9 Januari), Gedung Putih Amerika Serikat menyatakan Presiden Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif darurat untuk memastikan dana digunakan demi tujuan kebijakan luar negeri AS. 

Perintah tersebut melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di rekening Departemen Keuangan AS (Dana Simpanan Pemerintah Asing) dari penahanan, proses hukum, penyitaan, atau perampasan.

Laporan gabungan oleh Yi Xin dan Zhang Ruiqi, wartawan New Tang Dynasty Television.

13 Hari Rakyat Melawan, Iran Tak Bisa Kembali Seperti Dulu, Dunia Bertanya: Siapa Selanjutnya?

EtIndonesia. Gelombang aksi protes besar-besaran di Iran telah memasuki hari ke-13 berturut-turut pada Jumat, 10 Januari 2026. Meski menghadapi penindasan aparat keamanan dan pemutusan jaringan internet secara nasional, rakyat Iran tetap turun ke jalan pada Jumat malam, menggelar demonstrasi serentak di berbagai kota, termasuk ibu kota Teheran.

Militer Iran Klaim Lindungi Infrastruktur, Rakyat Tetap Melawan

Pada 10 Januari, militer Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa mereka tengah “melindungi infrastruktur vital negara” dan menyerukan masyarakat untuk menggagalkan apa yang mereka sebut sebagai “konspirasi musuh”. Namun di lapangan, pernyataan tersebut tidak menghentikan laju demonstrasi.

Di sejumlah wilayah Teheran, termasuk Lapangan Heravi, massa berkumpul rapat bahu-membahu sambil meneriakkan slogan: “Ini untuk Iran, bukan untuk rezim!”

Laporan dari dalam negeri Iran menyebutkan bahwa sejumlah masjid dibakar atau dirusak oleh massa di berbagai daerah. Aksi tersebut dipandang sebagai simbol penolakan terbuka terhadap legitimasi rezim ulama yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Pemadaman Listrik Gagal Redam Aksi

Masih pada 10 Januari, pemerintah Iran dilaporkan memutus aliran listrik di beberapa wilayah Teheran dalam upaya menekan demonstrasi. Namun langkah ini justru memunculkan pemandangan simbolik: para demonstran menyalakan lampu kilat ponsel, menerangi jalan-jalan kota yang gelap, menciptakan suasana perlawanan yang menggugah emosi.

Di berbagai kota, sebagian demonstran bahkan memanjat tiang listrik untuk mencopot dan menghancurkan kamera pengawas jalanan, yang diketahui merupakan produk perusahaan asal Tiongkok yang dijual ke Iran.

Aksi Solidaritas di Luar Negeri

Di luar negeri, aksi simbolik juga terjadi. Sejumlah demonstran Iran dilaporkan memanjat Kedutaan Besar Iran di London, menurunkan bendera resmi rezim, dan menggantinya dengan bendera nasional Iran Singa dan Matahari, simbol Iran pra-revolusi 1979.

Pesan perlawanan kini menyebar luas, dari Iran bagian utara hingga wilayah selatan yang didominasi kelas pekerja. Banyak pengamat menilai bahwa demonstrasi telah berubah dari aksi protes sporadis menjadi seruan nasional untuk “Iran yang baru”.

Amerika Serikat Kirim Dukungan Terbuka

Pada hari yang sama, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menyatakan bahwa rakyat Iran mendambakan kebebasan dan menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menulis di platform X bahwa AS mendukung rakyat Iran yang berani. Senator Lindsey Graham juga menyatakan bahwa rakyat Iran “tidak sendirian” dan sedang mendapatkan dukungan internasional.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth membagikan ulang pernyataan Trump di media sosial, menegaskan kembali kesiapan Amerika Serikat untuk bertindak kapan saja.

Peringatan Keras untuk Para Diktator

Masih pada 10 Januari, Departemen Luar Negeri AS merilis sebuah video berisi pernyataan keras dari Menlu Rubio yang ditujukan kepada para pemimpin otoriter di seluruh dunia. 

Rubio memperingatkan: “Jangan bermain-main dengan presiden ini. Dia bukan sedang berakting. Setiap janji akan diwujudkan.”

Isu Retaknya Elite Kekuasaan Iran

Di media sosial, beredar klaim bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian telah mengajukan pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Pezeshkian sebelumnya dilaporkan sempat memerintahkan militer untuk tidak menembaki warga sipil, yang memicu ketegangan serius dengan Khamenei. Namun hingga kini, klaim pengunduran diri tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

AS Bahas Opsi Militer terhadap Iran

Media Israel pada 10 Januari mengutip laporan The Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa seorang pejabat AS anonim mengungkapkan pemerintahan Trump sedang membahas berbagai opsi terhadap Iran, termasuk rencana awal serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran.

Di media sosial, muncul pula perdebatan publik, mulai dari usulan menjatuhkan senjata ke Iran melalui udara, hingga pendapat bahwa membiarkan elite rezim melarikan diri adalah cara terbaik menghadapi para diktator.

Operasi Militer AS di Suriah: Sinyal Global

Masih pada 10 Januari 2026 siang waktu Pantai Timur AS, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa militer AS bersama pasukan sekutu melancarkan serangan udara besar terhadap kelompok ekstremis di Suriah dalam kelanjutan Operasi Eagle Eye.

Operasi ini melibatkan:

  • Lebih dari 20 pesawat tempur, termasuk F-15, A-10, AC-130, dan drone MQ-9
  • Dukungan udara dari Yordania dan sekutu lainnya
  • Lebih dari 90 amunisi berpemandu presisi ditembakkan ke 35 target

Serangan ini merupakan respons atas penyergapan di dekat Palmyra pada akhir 2025, yang menewaskan dua prajurit Garda Nasional AS dari Iowa dan seorang penerjemah sipil Amerika.

Dimensi Global: Rusia, Ukraina, dan Venezuela

Dalam wawancara terbaru, Presiden Trump menyatakan bahwa Vladimir Putin “tidak takut pada Eropa, tetapi hanya pada Amerika Serikat”. Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Eropa.

Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Kyiv dan Washington hampir setiap hari berkomunikasi dan tengah menjajaki perjanjian perdagangan bebas. Menurut The Daily Telegraph, AS dan Ukraina menargetkan Perjanjian Kemakmuran senilai 800 miliar dolar AS untuk rekonstruksi Ukraina dalam 10 tahun ke depan, dengan keterlibatan BlackRock.

Di sisi lain, Rusia terus meningkatkan eskalasi militer, termasuk peluncuran rudal balistik hipersonik berkemampuan nuklir ke wilayah Ukraina yang dekat dengan perbatasan Polandia.

Langkah Darurat AS atas Minyak Venezuela

Pada 10 Januari, Presiden Trump juga menandatangani perintah eksekutif darurat yang menetapkan status darurat nasional untuk melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di AS. Seluruh aset dan pendapatan minyak Venezuela di AS akan dikonsolidasikan dalam dana perwalian yang dikelola pemerintah AS.

Menurut data OPEC, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel, namun produksinya masih terbatas akibat sanksi dan minim investasi.

Penutup

Pengamat internasional menilai bahwa rangkaian peristiwa ini menunjukkan satu tren global yang semakin jelas: rezim-rezim otoriter yang dibangun di atas represi dan sentimen anti-Amerika kini menghadapi tekanan serius, baik dari dalam negeri maupun dari dinamika geopolitik global.

Seperti yang diungkapkan jurnalis senior Akio Yaita, situasi Iran saat ini memancarkan “aroma sejarah”—sebuah tanda bahwa perubahan besar mungkin sedang berlangsung.

Teheran Membara: Penembakan Warga, Ribuan Tewas, Rezim Iran Kehilangan Kendali

EtIndonesia. Gelombang aksi protes anti-pemerintah di Iran memasuki hari ke-14 pada Jumat, 10 Januari, dengan eskalasi yang kian tajam di berbagai wilayah, terutama di ibu kota Teheran. Meskipun rezim Iran memberlakukan pemblokiran total jaringan internet dan meningkatkan tindakan represif aparat keamanan, demonstrasi besar tetap berlangsung, khususnya di kawasan Heravi.

Di wilayah tersebut, ribuan pengunjuk rasa terdengar meneriakkan slogan, “Hanya setelah para mullah pergi, barulah kita memiliki negara,” sebagai simbol penolakan terhadap pemerintahan ulama yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Rekaman Bocor Tunjukkan Penembakan Warga Sipil

Sejumlah pengamat Iran mengunggah rekaman video terbaru di platform X yang diklaim bocor dari dalam negeri. Video tersebut memperlihatkan pasukan bersenjata menembaki warga sipil tak bersenjata di jalanan, memperkuat laporan mengenai meningkatnya kekerasan aparat terhadap massa demonstran.

Pada hari yang sama, Sabtu, sejumlah pejabat Iran dilaporkan meningkatkan intensitas penindasan dan mengeluarkan peringatan keras bahwa keamanan nasional merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. Pernyataan ini dipandang sebagai sinyal bahwa rezim siap menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan.

Laporan Korban Jiwa Capai Ribuan

Di tengah situasi yang semakin kacau, beredar laporan bahwa dalam 48 jam terakhir sedikitnya 2.000 orang di seluruh Iran tewas akibat bentrokan dan tindakan represif aparat. Angka ini belum dapat diverifikasi secara independen, namun mencerminkan tingkat kekerasan yang dilaporkan oleh berbagai sumber di dalam dan luar negeri.

Akibat memburuknya situasi keamanan, sejumlah maskapai internasional, termasuk Lufthansa dan Turkish Airlines, telah menangguhkan penerbangan ke Teheran dan beberapa kota besar lainnya di Iran. Meski demikian, pada malam hari, aksi protes tetap berlanjut di berbagai kota besar.

Persatuan Etnis Menggema di Tabriz

Di Tabriz, ibu kota Provinsi Azerbaijan Timur, massa demonstran meneriakkan slogan persatuan: “Orang Azerbaijan dan Persia bersatu, negara akan meraih kebebasan.” 

Seruan ini mencerminkan meluasnya perlawanan lintas etnis yang selama ini kerap dimanfaatkan rezim sebagai alat perpecahan.

Di kawasan Heravi, besarnya jumlah massa membuat aparat kesulitan melakukan penindasan, menciptakan situasi yang oleh pengamat disebut sebagai “mimpi buruk terburuk” bagi rezim Iran.

Starlink Aktif di Tengah Pemadaman Total

Sebuah video yang direkam di kawasan Gisha, Teheran, menunjukkan massa meneriakkan, “Tahun ini adalah tahun kekacauan, Khamenei akan digulingkan.” Video tersebut dilaporkan berhasil dikirim keluar Iran melalui jaringan Starlink, meski negara itu tengah mengalami pemadaman internet total.

Pada 9 Januari, Channel 14 Israel mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, menyebutkan bahwa Elon Musk secara diam-diam mengaktifkan layanan Starlink gratis bagi para pengunjuk rasa di Iran, memungkinkan warga tetap memiliki koneksi internet dasar di tengah pemutusan jaringan nasional.

Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa sejak 8 Januari, lalu lintas internet di Teheran dan berbagai wilayah lain anjlok tajam, menandakan terjadinya pemadaman komunikasi berskala besar. Iran juga dilaporkan mencoba menggunakan teknologi pengacauan sinyal satelit untuk memblokir akses Starlink.

Seorang blogger di platform X menulis bahwa Iran saat ini juga mengalami pemadaman listrik total, dengan hanya segelintir orang yang dapat terhubung ke Starlink. Rezim disebut secara aktif mengganggu dan merusak perangkat Starlink yang berhasil dioperasikan warga.

Dukungan Simbolik dan Moral dari Rakyat

Meski terisolasi dari dunia luar, jalanan Iran tetap dipenuhi massa. Para demonstran terus meneriakkan: “Selama para mullah belum lenyap, tanah ini tidak akan pernah merdeka.”

Berbagai foto yang beredar menunjukkan warga Iran berpose di sekitar perangkat Starlink, menampilkan simbol gunting dan empat layar ponsel dengan gambar “Tank Man Iran”, bendera Kerajaan Pahlavi, adegan Donald Trump dalam pertempuran, serta ilustrasi Musk berjabat tangan dengan Trump. Sejumlah warga menyampaikan pesan bahwa moral perlawanan tetap tinggi dan situasi masih dipandang optimistis.

Israel, AS, dan Sinyal Militer Global

Menurut laporan The Times of Israel, Wakil Kepala Kantor Perdana Menteri Israel, Cohen, baru-baru ini meminta seorang investor Israel-Amerika bernama Francis untuk menanyakan kepada tim Musk apakah Starlink dapat beroperasi di Iran saat pemutusan internet total. Musk dilaporkan berjanji mempertahankan layanan Starlink tetap gratis selama aksi protes berlangsung, serta memerintahkan jajaran eksekutifnya untuk mencegah gangguan teknis dari rezim Iran.

Pada hari yang sama, Sabtu, 10 Januari, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Hegseth, membagikan pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan menulis: “Kami tidak akan pernah melupakan dan tidak akan pernah menyerah.”

Pernyataan tersebut merujuk pada serangan besar-besaran militer AS dan pasukan mitra terhadap target ekstremis ISIS di Suriah pada sore hari 10 Januari, sebagai respons atas serangan kelompok tersebut pada Desember lalu yang menewaskan tiga warga Amerika. Washington menegaskan komitmennya untuk terus memburu ekstremis yang mengancam keselamatan warga AS di mana pun berada.

Rencana Kontinjensi AS terhadap Iran

Pada 10 Januari, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah menyusun rencana awal untuk kemungkinan menyerang Iran, termasuk opsi serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran. Diskusi tersebut mencakup penentuan lokasi potensial sebagai sasaran, meski hingga kini belum ada konsensus maupun pengerahan pasukan, dan pembahasan disebut masih bersifat rutin.

Trump sendiri menulis di Truth Social bahwa Iran sedang berjuang untuk kebebasan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan. Dia juga memperingatkan Teheran agar tidak menembaki rakyatnya, dengan ancaman balasan dari AS jika peringatan tersebut diabaikan.

Harapan Baru di Tengah Krisis

Sementara itu, Panahi, seorang tokoh Iran yang kini berada di luar negeri, menulis di platform X bahwa sejak ia dan keluarganya melarikan diri dari rezim Islam, ia tidak pernah kembali ke Iran. Menurutnya, dengan Trump kembali ke Gedung Putih, para pejuang kebebasan Iran kini melihat harapan baru untuk menantang dan mengalahkan kekuasaan para mullah fanatik.

Negara Pembeli Minyak Rusia Akan Dikenakan AS Tarif 500 Persen, Prospek Perundingan Damai Rusia–Ukraina Tidak Jelas

Pekan ini, perjanjian damai yang dibahas antara Ukraina dan Amerika Serikat dapat dikatakan telah hampir rampung, tinggal menunggu hasil perundingan antara AS dan Rusia. Ukraina juga telah menandatangani nota kesepahaman jaminan keamanan dengan Prancis dan Inggris, sehingga perdamaian tampak di depan mata. Namun, Rusia justru melancarkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina minggu ini, bahkan Kedutaan Besar Qatar ikut terdampak. Rusia dengan tegas menyatakan bahwa setiap pasukan yang ditempatkan di Ukraina akan menjadi sasaran serangan.

Kongres AS mengajukan rancangan undang-undang sanksi keras terhadap Rusia. Jika RUU tersebut disahkan, negara mana pun yang membeli minyak Rusia akan menghadapi tarif hukuman hingga 500%.

EtIndonesia. Pada 6 Januari, Ukraina bersama Inggris dan Prancis yang memimpin “Koalisi Sukarela” (Coalition of the Willing) menandatangani “Deklarasi Paris” (Paris Declaration).

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan:  “Deklarasi Paris yang ditandatangani oleh Koalisi Sukarela untuk pertama kalinya mengakui adanya kesepakatan aksi bersama antara 35 negara anggota koalisi, Ukraina, dan Amerika Serikat dalam membangun jaminan keamanan yang kuat.”

Koalisi Sukarela dibentuk pada Maret 2025. KTT Paris kali ini menghasilkan dua konsensus utama. Pertama, setelah gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina tercapai, Ukraina akan memperoleh jaminan keamanan. Amerika Serikat akan bertanggung jawab atas pemantauan dan verifikasi gencatan senjata, termasuk mekanisme yang melibatkan negara-negara peserta, seperti penggunaan drone militer AS dan teknologi satelit. Inggris dan Prancis kemungkinan akan mendirikan pusat militer di Ukraina untuk penyimpanan senjata dan pelatihan pasukan.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan:  “Pasukan hanya akan dikerahkan setelah gencatan senjata, dengan tujuan mendukung kemampuan Ukraina, melakukan pencegahan, serta membangun dan melindungi pusat-pusat militer.”

Italia menyatakan tidak akan mengirim pasukan secara langsung ke Ukraina. Polandia juga mengatakan akan berperan dalam dukungan logistik dan urusan organisasi, tetapi tidak akan menempatkan pasukan di Ukraina. Jerman kemungkinan akan mengerahkan pasukan di negara-negara sekitar Ukraina. Para sekutu Eropa ini juga berharap Amerika Serikat berkomitmen untuk ikut merespons jika Rusia melanggar perjanjian damai.

Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff telah menegaskan bahwa “Presiden Trump dengan tegas mendukung perjanjian keamanan ini”. Ia bersama Jared Kushner akan terus berdiskusi dengan delegasi Ukraina mengenai isu wilayah dalam “Perjanjian Damai 20 Poin” guna mencapai konsensus.

Namun, Kementerian Luar Negeri Rusia pada 8 Januari memberikan tanggapan keras: setiap pasukan Barat yang ditempatkan di Ukraina akan menjadi target serangan. Semua fasilitas militer, gudang, dan infrastruktur yang dikerahkan di Ukraina akan dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Rusia.

Wartawan: “Apakah menurut Anda Rusia siap menandatangani perjanjian damai?”
Warga Dnipro, Alla: “Tidak, belum siap.”
Warga Dnipro, Svitlana: “Saya tidak percaya. Selama Putin masih hidup, tidak mungkin ada perjanjian damai.”

Pekan ini, drone dan rudal Rusia terus membombardir Ukraina secara besar-besaran, termasuk Lviv yang berdekatan dengan Polandia serta ibu kota Kyiv. Bahkan Kedutaan Besar Qatar, rumah tinggal warga, dan rumah sakit ikut rusak. Rusia juga menggunakan rudal hipersonik jenis baru “Oreshnik”, yang mampu membawa hulu ledak nuklir, sebagai balasan atas tuduhan bahwa Ukraina menyerang kediaman Presiden Putin—meskipun klaim tersebut telah dibantah oleh Ukraina dan CIA AS.

Wilayah Lviv berada dekat perbatasan Polandia, anggota NATO dan Uni Eropa. Kyiv memperingatkan bahwa serangan Moskow di wilayah ini secara serius mengancam keamanan benua Eropa.

Gubernur Oblast Belgorod, Vyacheslav Gladkov, menuduh Ukraina menyerang fasilitas umum, menyebabkan 200 ribu orang kehilangan pasokan air, 500 ribu orang mengalami pemadaman listrik, dan tidak memiliki pemanas. Drone Ukraina juga menargetkan gudang senjata besar di Oblast Kostroma, memicu kebakaran besar dan ledakan beruntun.

Rusia juga menyerang wilayah Ukraina yang memiliki fasilitas energi. Daerah Dnipro dan Zaporizhzhia hampir sepenuhnya mengalami pemadaman listrik, diperkirakan lebih dari satu juta orang tidak dapat menggunakan pemanas.

Prospek perundingan damai Rusia–Ukraina tampak tidak menentu. Sementara itu, Amerika Serikat minggu ini bergerak cepat dan tegas: menerima minyak mentah Venezuela, menyita kapal tanker berbendera Rusia yang menyelundupkan minyak, serta Trump memberi lampu hijau pada RUU sanksi bipartisan terhadap Rusia yang telah lama tertunda.

Jika RUU tersebut disahkan, negara-negara yang membeli minyak, gas alam, uranium, dan produk ekspor lainnya dari Rusia akan dikenai tarif hukuman hingga 500%. Entitas asing yang melakukan transaksi energi dengan Rusia juga dapat menghadapi sanksi sekunder.

Lalu, bagaimana Ukraina memulihkan diri setelah gencatan senjata? Konsensus kedua dalam Deklarasi Paris adalah rencana pembangunan ekonomi pascaperang Ukraina yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Pekan ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengunjungi Siprus—ketua bergilir Uni Eropa—untuk membahas kemajuan proses keanggotaan Ukraina di UE bersama Presiden Nikos Christodoulides.

Presiden Zelenskyy mengatakan:  “Dalam proses perundingan (perdamaian), kami melakukan segala upaya. Kami berharap tidak akan ada tuntutan tambahan atau tuntutan berlebihan terhadap Ukraina.”

Selain itu, anggota parlemen Kanada yang berpengalaman secara internasional dan mantan Wakil Perdana Menteri Kanada, Chrystia Freeland, mengundurkan diri pada 9 Januari. Ke depan, ia akan menjabat sebagai penasihat pembangunan ekonomi Ukraina untuk membawa lebih banyak peluang investasi. (Hui)

Laporan gabungan Majalah Berita New Tang Dynasty oleh Lin Chao dan Yu Wei.

Iran Masuk Titik Tanpa Jalan Kembali: Rezim Terkepung, Rakyat Menolak Mundur

EtIndonesia. Gelombang besar aksi protes anti-pemerintah di Iran pada 10 Januari 2026 resmi memasuki hari ke-14, menandai salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Republik Islam sejak berdiri pada 1979. Meski otoritas terus memperketat pengamanan, memutus total jaringan internet nasional, serta mengerahkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mengancam penindasan bersenjata, momentum perlawanan rakyat justru tidak menunjukkan tanda-tanda melemah.

Para analis menilai Iran kini telah mencapai titik kritis (point of no return). Rezim yang berkuasa menghadapi situasi hidup-mati yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam lebih dari empat dekade terakhir.

Sinyal Politik dari Luar Negeri: Reza Pahlavi dan Sikap Amerika Serikat

Di tengah eskalasi krisis domestik, Reza Pahlavi, putra mahkota dari dinasti terakhir Iran yang kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat, menyatakan kesiapannya untuk kembali ke tanah air. Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal politik kuat bagi gerakan protes yang telah berkembang menjadi perlawanan nasional terbuka.

Pada saat yang sama, Presiden AS, Donald Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan. Meski belum disertai langkah resmi berskala negara, pernyataan ini dipahami sebagai bentuk dukungan moral dan strategis terhadap rakyat Iran.

Internet Diputus, Starlink Dibuka Gratis

Sejak 8 Januari 2026, lalu lintas internet di Teheran dan berbagai kota besar Iran mengalami penurunan drastis. Pemerintah Iran tidak hanya memutus jaringan kabel dan seluler, tetapi juga mencoba menggunakan teknologi pengacauan (jamming) untuk menghalangi sinyal satelit.

Namun, di balik layar, CEO SpaceX, Elon Musk mengambil langkah mengejutkan. Dia mengaktifkan layanan internet satelit Starlink secara gratis bagi para demonstran Iran, memungkinkan komunikasi dasar dengan dunia luar tetap berjalan.

Musk menyatakan bahwa akses tersebut akan tetap dibuka selama masa protes berlangsung, serta telah menginstruksikan tim teknisnya untuk mencegah intervensi digital dari pihak berwenang Iran.

Dukungan Regulasi AS: Ribuan Satelit Baru Disetujui

Dalam perkembangan terkait, Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat baru-baru ini menyetujui permohonan SpaceX untuk menambah 7.500 satelit Starlink generasi kedua. Dengan persetujuan ini, total satelit Starlink di orbit diproyeksikan mencapai sekitar 15.000 unit, dari sebelumnya sekitar 9.400 satelit aktif.

FCC menjelaskan bahwa satelit tambahan tersebut akan difokuskan untuk:

  • Mendukung layanan ponsel-ke-satelit (direct-to-cell) di luar wilayah AS
  • Memperluas dan memperkuat cakupan jaringan domestik Amerika Serikat

Meski tidak secara eksplisit ditujukan untuk Iran, keputusan ini dinilai memberi keunggulan strategis besar bagi upaya menjaga konektivitas di negara-negara yang mengalami sensor ekstrem.

Tekanan Media dan Seruan Aksi Nyata

Media Amerika Fox News mengutip sejumlah pakar kebijakan luar negeri yang menegaskan bahwa Amerika Serikat harus menyelaraskan kata dan tindakan. Menurut mereka, inilah momen krusial bagi Washington untuk membantu rakyat Iran mengubah kemarahan dan ketidakpuasan menjadi tekanan nyata yang mampu menggoyahkan rezim.

Bantuan yang disorot meliputi:

  • Dukungan internet dan VPN berskala besar
  • Perlindungan digital bagi aktivis
  • Keterlibatan langsung Trump sebagai figur politik berpengaruh

Situasi Lapangan: Demonstrasi Besar di Teheran

Menurut laporan CNN, pada malam 9 Januari 2026, Lapangan Punak di wilayah barat Teheran dipenuhi ribuan demonstran. Massa meneriakkan slogan kebebasan, memblokir jalan raya utama, dan menghadapi aparat keamanan secara terbuka.

Warga setempat menyatakan bahwa meski:

  • Internet terputus
  • Komunikasi dibatasi
  • Tekanan ekonomi semakin berat

rakyat tetap terorganisir, solid, dan pantang menyerah. Keyakinan umum yang berkembang adalah bahwa pemerintah saat ini sudah tidak memiliki jalan kembali.

“Revolusi Sejati” dengan Perempuan sebagai Inti

Pakar Iran asal Jerman, Tekal, menyebut peristiwa ini sebagai revolusi sejati, dengan perempuan sebagai kekuatan inti perlawanan. Aksi-aksi simbolik seperti:

  • Pembakaran stasiun televisi pemerintah
  • Pembalikan mobil polisi
  • Perusakan kamera pengawas

menjadi penanda perlawanan terbuka terhadap sistem teokrasi.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan tanpa hijab merokok di depan potret Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei telah menyebar luas dan dianggap sebagai ikon pemberontakan, menandai titik balik psikologis dan simbolis dalam sejarah Iran modern.

Dukungan Publik Hampir Mutlak

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan sekitar 90 persen rakyat Iran mendambakan demokrasi, dan hampir tidak ada lagi kepercayaan bahwa sistem lama dapat direformasi. Ditambah dengan:

  • Kegagalan milisi proksi Iran di luar negeri
  • Pembelotan sekutu internal
  • Melemahnya kendali keamanan

Rezim Iran kini dinilai berada dalam kondisi sangat rapuh. Konsensus utama rakyat semakin jelas: mengakhiri kekuasaan Republik Islam.

Pernyataan Terbaru Reza Pahlavi

Pada 10 Januari 2026, Reza Pahlavi menulis di platform X bahwa ia sedang mempersiapkan kepulangannya untuk berdiri berdampingan dengan rakyat Iran ketika revolusi nasional mencapai kemenangan.

Dia menegaskan keyakinannya bahwa hari itu akan segera tiba.

Penindasan di Iran Meningkat, Ratusan Orang Tewas! Warga Terus Turun ke Jalan untuk Berdemo

 Aksi protes rakyat Iran terus berlanjut pada Sabtu (10 Januari). Sementara itu, tindakan penindasan juga semakin meningkat. Menurut laporan organisasi hak asasi manusia, hingga Jumat sedikitnya 65 orang telah tewas, termasuk 7 anak-anak dan remaja, serta 2.311 orang ditangkap. Amerika Serikat menyatakan dukungannya kepada rakyat Iran yang berani. Uni Eropa, Jerman, Inggris, dan Prancis juga turut mengecam rezim Iran dan menyuarakan dukungan bagi rakyat Iran.

EtIndonesia. Video yang diunggah ke media sosial pada Jumat (9 Januari) menunjukkan bahwa meskipun pemerintah memutus akses internet, para demonstran Iran tetap berkumpul di jalan-jalan ibu kota Teheran, mengikuti aksi protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Selama dua pekan terakhir, aksi protes telah menyebar ke 31 provinsi di Iran. Awalnya dipicu oleh melonjaknya inflasi, gerakan ini dengan cepat berkembang menjadi protes terhadap rezim diktator Iran dan tuntutan untuk menggulingkan penguasa.

Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, pada Sabtu menyerukan kepada para demonstran untuk menduduki dan menguasai kota-kota.

Putra Mahkota Iran di Pengasingan, Reza Pahlavi:  “Tujuan kita tidak lagi sekadar turun ke jalan; tujuan kita adalah bersiap untuk menduduki dan menguasai pusat-pusat kota.”

Ia juga mendesak para pekerja yang menguasai sektor-sektor ekonomi vital untuk memulai pemogokan nasional.

Reza Pahlavi:  “Saya menyerukan kepada para pekerja dan pegawai di sektor-sektor ekonomi kunci—terutama transportasi, minyak, gas, dan energi—untuk memulai pemogokan nasional.”

Menurut Human Rights Activists News Agency, dalam 13 hari terakhir hingga Jumat, sedikitnya 65 orang tewas, termasuk 7 anak-anak dan remaja, serta 2.311 orang ditangkap oleh pihak berwenang.

Sementara itu, kelompok berbasis di Amerika Serikat Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan pada 11 Januari bahwa sedikitnya 538 orang telah tewas dalam penindasan pemerintah terhadap protes nasional. 

Dari jumlah itu, 490 korban adalah demonstran dan 48 lainnya anggota pasukan keamanan rezim. Sekitar 10.600 orang telah ditahan, dan HRANA menegaskan bahwa angka korban tewas dan penangkapan masih akan meningkat.

Meski arus informasi sangat dibatasi dan pemerintah memberlakukan blokade ketat terhadap berita, laporan menyebutkan bahwa aksi unjuk rasa malam hari masih terus berlangsung.

Pada saat yang sama, penindasan semakin meningkat, termasuk penembakan, penggunaan gas air mata dan senapan peluru karet/shotgun, serta ancaman hukum terbuka terhadap para demonstran. Selain itu, penerbangan internasional terdampak dan sejumlah pemerintah asing mengeluarkan peringatan perjalanan ke Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Jumat menuduh para demonstran dikendalikan oleh Donald Trump, menyebut mereka sebagai “perusuh” yang menyerang properti publik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada musim panas lalu telah mengebom Iran, kembali memperingatkan Iran pada Jumat:  “Lebih baik kalian jangan menembak, karena kami juga akan menembak.”

Presiden AS Donald Trump: “Jika mereka mulai membunuh orang seperti sebelumnya, kami akan campur tangan. Kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras. Ini tidak berarti kami akan mengirim pasukan, tetapi kami akan menyerang titik-titik penting mereka.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menulis di media sosial bahwa “Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani.”

Sebuah akun terverifikasi di platform X yang sering membagikan informasi militer menyebutkan bahwa pesawat angkut strategis C-17 Angkatan Udara AS telah terbang dari Jerman menuju kawasan Timur Tengah.

Dilaporkan bahwa Amerika Serikat telah mulai menggunakan pesawat angkut berat untuk mengirim amunisi dan perlengkapan militer lainnya ke pangkalan-pangkalan di Timur Tengah.

Sementara itu, sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Angkatan Udara AS telah lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, terbang melintasi Teluk Persia dan Irak, menjalankan misi yang tidak diumumkan. Hal ini menunjukkan bahwa Angkatan Udara AS kemungkinan sedang melakukan latihan intensif yang menargetkan rezim Iran.

Terkait aksi protes di Iran, negara-negara Eropa juga menyatakan dukungan kepada rakyat Iran.

Para pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman pada Jumat mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pembunuhan terhadap para demonstran oleh Iran, serta mendesak otoritas Iran untuk menghindari penggunaan kekerasan dan menjamin hak rakyat atas kebebasan berpendapat dan berkumpul secara damai, tanpa takut akan pembalasan.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menulis di media sosial: “Rakyat Iran sedang berjuang untuk masa depan mereka. Rezim Iran mengabaikan tuntutan sah mereka dan memperlihatkan wajah aslinya.”

 “Menutup internet sambil melakukan penindasan brutal terhadap aksi protes memperlihatkan ketakutan rezim terhadap rakyatnya sendiri.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Li Mei dan Liu Fang.

Dua Belas Senyuman

EtIndonesia. Sebelum pesawat lepas landas, seorang penumpang meminta pramugari untuk mengambilkan segelas air agar dia bisa minum obat. 

Dengan sopan, pramugari itu menjawab: “Pak, demi keselamatan Anda, mohon menunggu sebentar. Setelah pesawat mencapai kondisi terbang stabil, saya akan segera mengantarkan air untuk Anda. Apakah tidak apa-apa?”

Lima belas menit kemudian, pesawat telah lama berada dalam kondisi terbang stabil. Tiba-tiba, bel panggilan penumpang berbunyi dengan nada mendesak. 

Sang pramugari tersentak dan langsung teringat: “Astaga… karena terlalu sibuk, aku lupa mengantarkan air untuk penumpang itu!”

Dia segera menuju kabin, dengan hati-hati membawa segelas air ke hadapan penumpang tersebut. 

Sambil tersenyum, dia berkata dengan tulus: “Pak, saya benar-benar minta maaf. Karena kelalaian saya, waktu Anda untuk minum obat jadi tertunda. Saya sungguh mohon maaf.”

Namun penumpang itu mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arlojinya, lalu berkata dengan nada kesal: “Ada apa ini? Pelayanan macam apa ini? Coba lihat, sudah berapa lama saya menunggu!”

Pramugari itu memegang gelas air dengan perasaan sangat sedih dan tertekan. Dia merasa amat bersalah. Tetapi, sekeras apa pun dia berusaha menjelaskan, penumpang yang sangat cerewet itu tetap tidak mau memaafkan kelalaiannya.

Sepanjang sisa penerbangan, demi menebus kesalahannya, setiap kali pramugari masuk ke kabin untuk melayani penumpang, dia selalu sengaja mendatangi pria tersebut. Dengan senyum yang sama tulusnya, dia bertanya apakah dia membutuhkan air atau bantuan lain.

Namun kemarahan penumpang itu belum mereda. Dia bersikap dingin dan tidak kooperatif, bahkan sama sekali tidak menanggapi pramugari tersebut.

Menjelang pesawat tiba di tujuan, penumpang itu meminta agar buku pesan dan saran diserahkan kepadanya. Jelas sekali, dia berniat mengajukan keluhan terhadap pramugari itu.

Saat itu, meskipun hatinya terasa sangat perih, pramugari tersebut tetap menjaga profesionalismenya. 

Dia bersikap sangat sopan dan tetap tersenyum seraya berkata: “Pak, izinkan saya sekali lagi menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Apa pun pendapat atau kritik yang ingin Anda sampaikan, saya akan menerimanya dengan lapang dada.”

Wajah penumpang itu tampak menegang. Bibirnya seolah hendak berkata sesuatu, tetapi akhirnya dia tidak mengatakan apa pun. Dia mengambil buku pesan dan mulai menulis. 

Pesawat pun mendarat dengan selamat. Setelah semua penumpang turun, pramugari membuka buku pesan tersebut. Dia sangat terkejut—yang tertulis di sana bukanlah surat keluhan, melainkan sebuah surat pujian yang penuh kehangatan.

Apa yang membuat penumpang cerewet itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengajukan keluhan?

Di dalam surat tersebut tertulis kalimat ini:

“Sepanjang kejadian itu, ketulusan permintaan maaf Anda—terutama dua belas senyuman Anda—sangat menyentuh hati saya. Itulah yang membuat saya akhirnya mengubah surat keluhan menjadi surat pujian. Kualitas pelayanan Anda sangat baik. Jika ada kesempatan di lain waktu, saya pasti akan kembali menggunakan penerbangan ini.”

Pesan cerita

Senyuman yang tulus mampu menebus kesalahan, mencairkan kesalahpahaman, dan meluruhkan rasa kecewa maupun kebencian dalam hidup. Ketika kamu menghadirkan senyum yang jujur kepada orang lain, mereka pun akan membalasnya dengan kehangatan dan kepedulian yang sama.

Jangan pelit dengan senyummu. Biarkan di bibirmu mekar setangkai bunga yang indah—maka dunia pun akan ikut menjadi lebih indah karenanya.(jhn/yn)

Penindakan Brutal Rezim Iran: Dokter Mengungkapkan “Peluru Menembus Bagian Belakang Kepala, 40 Butir Peluru Timah Bersarang di Kaki”

Pada Sabtu (10 Januari) malam, slogan-slogan anti-pemerintah kembali menggema di jalanan ibu kota Iran, Teheran. Di bawah perlindungan pemutusan jaringan internet, otoritas melancarkan penindasan mematikan. Media asing hanya dapat menghubungi tenaga medis setempat melalui jaringan Starlink, yang kemudian mengungkap “pemandangan mengerikan” dengan korban tewas dan luka dalam jumlah besar di garis depan. Menurut perhitungan kelompok hak asasi manusia, aksi protes telah menewaskan sedikitnya 72 orang, sementara lebih dari 2.300 orang ditahan.

EtIndonesia. Kelompok pemantau internet independen NetBlocks dan organisasi HAM pada 10 Januari memperingatkan bahwa di bawah pemadaman internet yang telah berlangsung selama 48 jam, otoritas Iran semakin meningkatkan penindasan mematikan. Di wilayah Teheran utara, warga kembali berkumpul, menyalakan kembang api, memukul panci dan wajan, serta meneriakkan slogan-slogan yang mendukung monarki yang telah digulingkan.

Amnesty International menyatakan sedang menganalisis “sejumlah laporan yang mengkhawatirkan”, yang menunjukkan bahwa sejak  8 Januari, pasukan keamanan semakin sering menggunakan kekuatan mematikan secara ilegal terhadap para demonstran, sehingga menyebabkan lebih banyak korban.

Organisasi yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebutkan bahwa aksi protes telah menewaskan sedikitnya 72 orang dan lebih dari 2.300 orang ditangkap.

Tenaga Medis: Korban Datang tanpa Sempat Dilakukan CPR, Rumah Sakit Penuh Korban Tewas dan Terluka

Staf dari tiga rumah sakit di Iran mengatakan kepada BBC bahwa akibat berlanjutnya aksi protes besar-besaran anti-pemerintah, rumah sakit dipenuhi korban tewas dan luka. Seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit di Teheran mengatakan, “Kepala dan jantung para pemuda ditembak langsung,” sementara seorang dokter lainnya menyebut sebuah rumah sakit mata di ibu kota telah memasuki mode krisis.

BBC melaporkan bahwa unit gawat darurat di Teheran kewalahan, dan tenaga medis “bahkan tidak sempat melakukan CPR”. Seorang dokter di sebuah pusat medis mengatakan kepada BBC: “Jumlah korban sangat tinggi. Saya melihat seseorang tertembak di mata, pelurunya keluar menembus bagian belakang kepalanya.”

“Sekitar tengah malam, pintu pusat medis ditutup rapat. Sekelompok orang mendobrak masuk dan melemparkan seorang pria yang tertembak ke dalam, lalu pergi. Namun semuanya sudah terlambat—dia telah meninggal sebelum tiba di rumah sakit dan tidak dapat diselamatkan.”

Sebagian besar korban luka yang dibawa ke rumah sakit berusia antara 20 hingga 25 tahun. Ada yang tertembak di mata, peluru menembus bagian belakang kepala; ada pula yang “kepalanya tertembak dan jantungnya juga terkena peluru”. 

Sebagian korban bahkan meninggal dunia sebelum sempat mendapat perawatan medis. Kamar jenazah telah penuh sesak, “mayat ditumpuk satu di atas yang lain”, bahkan dipindahkan ke ruang doa untuk penampungan sementara.

Seorang dokter lain mengatakan kepada BBC melalui sambungan satelit Starlink bahwa pusat spesialis mata utama di Teheran, Rumah Sakit Farabi (Farabi Hospital), telah memasuki status krisis. Rumah sakit menghentikan penerimaan dan operasi non-darurat serta memanggil kembali tenaga medis untuk fokus menangani kasus gawat darurat.

CNN, mengutip keterangan para demonstran, melaporkan bahwa saat mereka membantu seorang pria berusia sekitar 60 tahun mendapatkan perawatan medis, ditemukan sekitar 40 butir peluru timah (peluru senapan) tertanam di kakinya, serta tulang lengannya patah. Mereka menggambarkan kondisi di berbagai rumah sakit sebagai “benar-benar kacau”.

BBC melaporkan bahwa luka tembak para korban berasal dari peluru tajam dan peluru senapan (shotgun). Dalam penindasan, pasukan keamanan Iran sering menggunakan senapan yang menembakkan peluru berisi banyak butir timah.

Pada hari Jumat, Amerika Serikat kembali menegaskan bahwa pembunuhan terhadap para demonstran akan memicu respons militer. Menanggapi perkembangan terbaru, Presiden Donald Trump menulis di media sosial:  “Iran sedang mencari kebebasan, mungkin dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja!!!” (Hui)

Cheng Yi-ren – NTDTV.com

Dari Protes ke Revolusi: Jam-jam Paling Berbahaya bagi Iran

EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran terus memburuk seiring berlanjutnya gelombang protes rakyat yang kini telah memasuki hampir dua pekan penuh. Hingga 9 Januari 2026, organisasi-organisasi hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 62 orang tewas dan lebih dari 2.300 orang ditangkap akibat tindakan represif aparat keamanan.

Pemerintah Iran dilaporkan telah mengerahkan pasukan darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke sejumlah provinsi untuk memperkuat penindasan. Langkah ini menandai eskalasi serius dari sekadar pengamanan demonstrasi menjadi operasi militer internal berskala luas.

Internet Diputus Total, Informasi Tetap Bocor

Sejak awal Januari, pemerintah memberlakukan pemutusan total jaringan internet dan komunikasi internasional. Meski demikian, sebagian warga masih berupaya menyelundupkan informasi ke luar negeri menggunakan perangkat komunikasi alternatif yang baru diperoleh.

Pengacara HAM Iran yang hidup di pengasingan, Shirin Ebadi, menegaskan bahwa pemadaman internet bukanlah masalah teknis, melainkan strategi yang disengaja untuk menutupi penindasan brutal di dalam apa yang ia sebut sebagai “kotak hitam informasi”.

Ebadi juga mengungkapkan bahwa banyak demonstran harus dirawat di rumah sakit akibat cedera serius pada mata, yang diduga disebabkan oleh tembakan peluru karet dari jarak dekat.

Ancaman Hukuman Mati dan Penggunaan Senjata Berat

Kepala lembaga peradilan Iran secara terbuka mengancam bahwa demonstran yang dianggap merusak fasilitas publik dapat dijatuhi hukuman mati. Di beberapa wilayah, saksi mata dan organisasi HAM menuduh aparat militer serta kepolisian telah menggunakan senapan mesin, selain gas air mata, meriam air, peluru karet, hingga peluru tajam, untuk membubarkan massa yang sebagian besar bersikap damai.

Para pengamat menilai bahwa potensi pembelotan massal di tubuh aparat keamanan kini menjadi faktor kunci yang dapat menentukan arah krisis Iran ke depan.

Lautan Massa di Teheran, Masjid Dibakar

Rekaman video yang beredar luas menunjukkan bahwa pada malam 9 Januari 2026, sejumlah jalan utama di Teheran dipenuhi lautan manusia. 

Massa meneriakkan slogan seperti :  “Hancurkan diktator!” dan “Jatuhkan Khamenei!”.

Di berbagai wilayah, warga melakukan aksi solidaritas dengan memukul panci dan wajan, serta membunyikan klakson kendaraan secara serempak.

Di Lapangan Kazi, Teheran, sebuah masjid dilaporkan dibakar. Masjid tersebut dikenal sebagai lokasi berkumpulnya kelompok bersenjata pendukung Republik Islam. Selain itu, sejumlah mobil dan sepeda motor hangus terbakar, memancarkan cahaya jingga kekuningan dengan asap hitam tebal membubung ke udara, sementara puing-puing berserakan di jalanan.

Situasi di Daerah: Rasht Seperti Zona Perang

Seorang jurnalis yang berada di Jalan Shariati, Kota Rasht, Provinsi Gilan, menggambarkan kondisi setempat bak zona perang. Hampir seluruh pertokoan dilaporkan hancur atau terbakar.

Di tengah tekanan publik, beredar informasi bahwa Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, sempat menyampaikan kepada para anggota parlemen bahwa mereka perlu mendengarkan suara para demonstran—sebuah pernyataan yang jarang terdengar dari elite kekuasaan.

Sinyal Militer AS dan Israel Meningkatkan Ketegangan

Di platform X, sejumlah akun intelijen sumber terbuka melaporkan bahwa pesawat angkut strategis C-17 dan pesawat pengisian bahan bakar KC-135 milik Angkatan Udara Amerika Serikat terbang dari Jerman menuju Timur Tengah. Unggahan tersebut memicu spekulasi bahwa Amerika Serikat tengah bersiap menghadapi skenario konflik besar dengan Iran.

Sejumlah analis menilai bahwa selama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu menghendakinya, jet tempur F-35 Israel dapat sewaktu-waktu memasuki wilayah udara Iran dan melancarkan serangan presisi terhadap pangkalan IRGC maupun fasilitas Kementerian Pertahanan Iran—sebuah skenario yang disebut sebagai ketakutan terbesar otoritas Teheran.

Rumor Pelarian Khamenei dan Emas ke Rusia

Di tengah kekacauan, beredar kabar di media sosial bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, diduga telah meninggalkan Teheran. Sementara itu, sejumlah anggota parlemen Inggris mengungkapkan laporan intelijen yang menyebutkan bahwa pesawat kargo Rusia mendarat di Teheran untuk mengangkut emas dalam jumlah besar keluar dari Iran—memicu spekulasi tentang persiapan darurat elite rezim.

Putra Mahkota Pahlavi Kembali Disorot

Nama Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, kembali menjadi sorotan internasional. Sebagai figur simbolik oposisi, ia terus menyerukan penggulingan sistem teokrasi Islam dan pembentukan pemerintahan demokratis berbasis pemilu.
Dia juga berulang kali menegaskan bahwa dirinya tidak berniat memulihkan Dinasti Pahlavi, melainkan ingin memfasilitasi transisi damai menuju demokrasi.

“Ini Bukan Lagi Protes, Ini Revolusi”

Pakar Jerman Dr. Michael Tekal, dalam wawancara dengan Focus News, menegaskan bahwa peristiwa di Iran telah melampaui batas demonstrasi biasa.

“Ini bukan lagi protes ekonomi, melainkan revolusi nasional—perlawanan menyeluruh dari berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.

Seruan pemogokan nasional kini menggema di berbagai wilayah. Massa dilaporkan membakar gedung penyiaran nasional, membalikkan mobil polisi, serta merusak kamera pengawas publik.

Simbol Baru Perlawanan Perempuan

Sebuah foto yang viral di internet memperlihatkan seorang perempuan tanpa kerudung yang menyalakan rokok menggunakan lukisan bertema ideologi rezim. Gambar tersebut dengan cepat menjadi simbol keberanian dan kebebasan perempuan Iran, dibagikan ribuan kali di berbagai platform media sosial.

Para analis menilai bahwa simbol semacam ini menunjukkan runtuhnya tembok ketakutan. Ketika rasa takut tak lagi efektif sebagai alat kontrol, fondasi rezim otoriter mulai goyah.

Penutupan Wilayah Udara dan Keterlibatan Milisi Asing

Di saat yang sama, IRGC menutup seluruh wilayah udara Iran. Langkah ini dinilai bukan hanya untuk mencegah pasokan eksternal kepada rakyat, tetapi juga untuk mengantisipasi kemungkinan intervensi Amerika Serikat atau Israel.

Lebih jauh, dilaporkan bahwa Garda Revolusi mulai mengerahkan milisi Syiah Irak ke Teheran dan wilayah Kurdi. Penggunaan tentara bayaran asing kerap dipandang sebagai sinyal bahwa pasukan domestik mulai enggan atau menolak menembaki warga sendiri.

Standar Seorang Malaikat

EtIndonesia. Dua malaikat yang sedang melakukan perjalanan singgah untuk bermalam di rumah sebuah keluarga kaya. Namun, keluarga itu tidak bersikap ramah. Mereka menolak memberi para malaikat kamar tamu yang nyaman, dan justru menyuruh mereka tidur di sudut ruang bawah tanah yang dingin dan keras.

Saat para malaikat menggelar alas tidur di lantai yang kaku, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding. Dia pun memperbaikinya begitu saja. Melihat hal itu, malaikat yang lebih muda bertanya dengan heran, mengapa dia melakukan hal tersebut. 

Sang malaikat tua hanya menjawab dengan tenang: “Ada banyak hal di dunia ini yang tidak seperti apa yang terlihat di permukaannya.”

Malam berikutnya, mereka kembali singgah di rumah seorang petani yang sangat miskin. Berbeda dengan keluarga kaya sebelumnya, pasangan suami istri ini menyambut mereka dengan penuh kehangatan. Mereka berbagi sedikit makanan yang mereka miliki, bahkan rela menyerahkan tempat tidur mereka sendiri agar kedua malaikat bisa beristirahat dengan nyaman.

Namun keesokan paginya, kedua malaikat mendapati sang petani dan istrinya menangis tersedu-sedu. Seekor sapi perah mereka mati di ladang—padahal susu dari sapi itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka. Malaikat tua itu hanya diam tanpa melakukan tindakan apa pun.

Malaikat muda pun sangat marah. 

Dia mempertanyakan keputusan malaikat tua: “Keluarga pertama punya segalanya, tapi kamu malah membantu mereka menutup lubang di dinding. Keluarga kedua ini begitu miskin, tetapi masih mau berbagi apa yang mereka punya. Mengapa kamu membiarkan sapi mereka mati?”

Malaikat tua menjawab dengan suara lembut: “Ada banyak hal yang tidak seperti apa yang terlihat di permukaannya.”

Dia melanjutkan penjelasannya: “Saat kita bermalam di ruang bawah tanah rumah keluarga kaya itu, aku melihat lubang di dinding tersebut menyembunyikan tumpukan emas. Karena pemilik rumah dikuasai keserakahan dan tidak mau berbagi kekayaannya, aku menutup lubang itu agar dia tidak pernah menemukan emas tersebut.”

“Malam tadi, ketika kita tidur di rumah petani, malaikat maut datang untuk menjemput nyawa istri petani itu. Aku membiarkan sapi itu menggantikannya. Karena itulah, ada banyak hal yang tidak seperti apa yang terlihat.”

Hikmah Cerita

Para bijak sering mengajarkan kita untuk tidak menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di luar, melainkan memahami hakikat yang tersembunyi di baliknya. Tidak semua peristiwa terlihat sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Seperti pepatah lama mengatakan: Sesuatu yang awalnya tampak sebagai musibah, bisa jadi justru membawa berkah di kemudian hari.

Jika kamu memiliki keyakinan, maka percayalah bahwa setiap kebaikan dan pengorbanan pasti akan mendapat balasan. Hanya saja, terkadang kita baru menyadarinya setelah waktu berlalu.(jhn/yn)

Teheran Jadi Neraka Sebelum Fajar: Ultimatum Rezim Gagal Total

EtIndonesia. Iran kini berdiri di persimpangan sejarah paling menentukan sejak Revolusi Islam 1979. Pada pukul 06.00 dini hari, Jumat (10/1), batas waktu ultimatum terakhir yang dikeluarkan rezim Iran kepada massa demonstran resmi berakhir. Namun, bahkan sebelum tenggat tersebut tercapai, ibu kota Teheran telah berubah menjadi medan kekacauan dan kekerasan terbuka.

Sejumlah pengamat menyebut Iran saat ini berada pada titik paling gelap sekaligus paling terang dalam lebih dari empat dekade terakhir—sebuah ambang batas yang akan menentukan arah masa depan negara tersebut: bertahan di bawah rezim lama, atau runtuh oleh gelombang revolusi nasional.

Sinyal Militer Aneh Menguat di Langit Timur Tengah

Di tengah eskalasi domestik, langit Timur Tengah memperlihatkan sinyal militer yang dinilai sangat tidak lazim. Sejumlah sumber intelijen regional mengungkapkan bahwa banyak pesawat militer Amerika Serikat secara serentak mematikan transponder mereka.

Dalam doktrin peperangan modern, langkah ini umumnya diartikan sebagai indikasi awal operasi militer presisi atau “surgical strike”, terutama untuk misi pengintaian lanjutan atau serangan mendadak ke sasaran bernilai tinggi.

Pada 9 Januari 2026, media profesional Angkatan Laut AS, Maritime Executive mengutip citra satelit komersial yang menunjukkan bahwa kapal-kapal fregat Angkatan Laut Iran telah meninggalkan Pangkalan Bandar Abbas, namun arah dan tujuan pelayaran mereka tidak diketahui.

Sementara itu, akun intelijen militer Intersky melaporkan bahwa jet tempur Iran telah lepas landas dengan persenjataan penuh, melakukan patroli intensif dan mengunci wilayah sekitar fasilitas bahan bakar rudal strategis.

GPS Lumpuh, Rudal Siaga, Zona Nuklir Ditutup Total

Situasi keamanan nasional Iran dilaporkan meningkat drastis ke level hampir pecahnya perang terbuka. Beberapa indikator krusial terpantau secara bersamaan:

  • Sinyal GPS di seluruh Iran lumpuh
  • Rudal-rudal strategis masuk status siaga peluncuran dan pencegatan
  • Wilayah udara di atas pangkalan rudal ditutup tanpa batas ketinggian
  • Zona “segitiga nuklir” di gurun Iran bagian tengah ditutup total

Langkah-langkah ini menandakan bahwa rezim Iran mengantisipasi skenario terburuk, baik dari ancaman eksternal maupun pemberontakan internal yang meluas.

Peringatan Keras dari Gedung Putih

Di Washington, Donald Trump untuk ketiga kalinya menyampaikan peringatan paling keras terkait situasi Iran. 

Dalam pernyataannya dari Gedung Putih, Trump menegaskan: “Jika Iran menembakkan satu peluru pun, kami akan turun tangan. Bukan dengan pasukan darat, tetapi dengan serangan sangat keras ke titik-titik vital mereka.”

Pernyataan tersebut ditafsirkan luas oleh analis pertahanan sebagai sinyal kesiapan militer AS untuk melakukan eliminasi presisi, termasuk terhadap Pemimpin Tertinggi Iran dan jajaran puncak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Api Kemarahan Rakyat: Simbol 1979 Dibakar

Di dalam negeri, kemarahan rakyat Iran telah melampaui aksi jalanan biasa. Pada 9–10 Januari, massa dilaporkan membakar Makam Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh pendiri Republik Islam Iran. Selain itu, Masjid Al-Rasul di Teheran juga dibakar.

Aksi ini dipandang sebagai tantangan langsung terhadap tatanan ideologis yang berdiri sejak 1979, sekaligus simbol runtuhnya rasa takut terhadap otoritas agama.

Analis pertahanan Iran Babak Taghvaei, menulis di platform X bahwa perkembangan paling signifikan dari gelombang protes ini adalah proses “de-Islamisasi nasional”. Menurutnya, rakyat Iran kini secara terbuka menolak ideologi Islamisme, dengan sasaran masjid, sekolah agama, dan simbol-simbol spiritual rezim.

Kelas Elite Turun ke Jalan, Seruan Dinasti Pahlavi Menggema

Fenomena baru juga muncul di Teheran Utara, kawasan elite yang selama ini dikenal apolitis dan cenderung diam. Pada 9 Januari, wilayah ini justru meledak dalam aksi protes besar, dengan seruan terbuka mendukung kembalinya Dinasti Pahlavi.

Sebuah adegan yang viral memperlihatkan seorang wanita lanjut usia berambut putih berteriak sambil menahan wajahnya: “Aku tidak takut! Aku sudah mati selama 47 tahun!”

Kalimat ini menjadi simbol trauma panjang generasi Iran yang hidup di bawah rezim pasca-1979.

Korban Tewas Bertambah, Represi Memuncak

Pada pagi 10 Januari, Kepolisian Teheran mengeluarkan perintah keras: seluruh demonstran wajib mengosongkan jalan sebelum pukul 06: 00, atau akan ditembak dengan peluru tajam.

Tak lama berselang, IRGC dan aparat keamanan melakukan operasi pembersihan besar-besaran di kota-kota utama, dengan laporan penembakan langsung terhadap demonstran.

Pakar jaringan komunikasi menyebut IRGC juga mengganggu sinyal GPS dan sistem pemantauan biologis, menyebabkan hampir tidak ada rekaman video baru yang berhasil keluar dari Iran.

Seorang dokter di Teheran mengatakan kepada Time Magazine bahwa enam rumah sakit utama di ibu kota telah mencatat 212 korban tewas akibat tembakan langsung. Sementara itu, Babak Taghvaei memperkirakan jumlah korban tewas melebihi 300 orang hanya dalam 48 jam terakhir.

Ke Mana Arah Iran Selanjutnya?

Tokoh oposisi Yahudi Iran, Neuberger, menulis dengan nada emosional bahwa sejak 2009, setiap gelombang protes di Iran selalu dipatahkan melalui pemutusan komunikasi dan pembantaian massal.

Namun kali ini, situasinya berbeda. Jumlah demonstran justru terus bertambah, koordinasi semakin rapi, dan untuk pertama kalinya muncul figur pemimpin lapangan dengan kemampuan komando yang jelas, dikenal dengan nama Hallevi.

Menurut Neuberger, ini bukan lagi sekadar pemberontakan—melainkan revolusi yang sesungguhnya.

Seruan Putus Asa ke Dunia

Sebuah video viral menampilkan pemuda Iran bernama Ali, yang dengan wajah terbuka mempertaruhkan nyawanya, menyerukan bantuan kepada Amerika Serikat: “Tolong bantu kami mengembalikan cahaya ke negara kami.”

Dia menegaskan bahwa rakyat Iran bukan musuh Amerika, melainkan anak-anak, orangtua, dan keluarga yang hanya menginginkan kehidupan yang layak dan bebas dari ketakutan.

Bayang-bayang Intervensi Militer AS

Akun X Safe kemudian merilis video yang menyoroti kekuatan militer Amerika Serikat, berdasarkan kesaksian pengawal Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Menurut kesaksian tersebut, 20 tentara AS tanpa korban mampu melumpuhkan ratusan lawan. Mereka disebut bergerak tanpa suara, menembakkan 300 peluru per menit, serta menggunakan senjata energi terarah yang menyebabkan lawan lumpuh seketika, dengan gejala pendarahan dari telinga dan hidung, bahkan muntah darah.

Salah satu pernyataan dalam video itu berbunyi: “Kamu pikir bisa melawan Amerika? Kamu tidak tahu betapa mengerikannya senjata mereka.”

Iran kini berada di ujung tanduk sejarah. Apakah negara ini akan menyaksikan kejatuhan rezim 46 tahun, atau justru tenggelam dalam pertumpahan darah yang lebih besar, dunia tengah menunggu jawabannya—jam demi jam.

Dari Doa ke Amarah: Masjid Terbakar, Rakyat Menuntut Akhir Rezim


EtIndonesia. Gelombang protes nasional di Iran kini memasuki hari ke-13, menandai salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah Republik Islam Iran sejak Revolusi 1979. Situasi di lapangan berkembang cepat, dengan eskalasi perlawanan rakyat di berbagai kota besar, bersamaan dengan meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dukungan Terbuka AS dan Pergerakan Militer ke Timur Tengah

Pada 10 Januari, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio menulis pernyataan di platform X, menegaskan bahwa Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani dalam menghadapi tekanan rezim. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap krisis Iran.

Di hari yang sama, sejumlah akun intelijen militer sumber terbuka melacak pergerakan sebuah pesawat angkut berat C-17 Globemaster milik Angkatan Udara AS yang lepas landas dari Jerman menuju Timur Tengah. Laporan-laporan tersebut menyebutkan bahwa Washington telah mulai menggunakan pesawat angkut strategis untuk memindahkan amunisi serta perlengkapan militer ke pangkalan-pangkalan regionalnya.

Selain itu, sebuah pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 dilaporkan lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, terbang melintasi Teluk Persia dan wilayah udara Irak dalam sebuah misi yang tidak dipublikasikan. Para pengamat militer menilai, rangkaian penerbangan ini menunjukkan peningkatan signifikan kesiapan operasional militer AS, dan tidak menutup kemungkinan sedang mengarah pada skenario serangan besar terhadap Iran.

Teheran Membara: Gedung Pemerintah Dibakar, Jalur Utama Dikuasai Massa

Menurut laporan jurnalis senior Timur Tengah Ariel Oseran dari i24News (edisi Inggris) pada 10 Januari, para demonstran di Teheran membakar gedung-gedung pemerintahan di sedikitnya 15 distrik kota.

Blogger geopolitik Mario Nawfal, yang memiliki 2,78 juta pengikut, menulis pada hari yang sama bahwa massa demonstran telah menguasai jalur lalu lintas utama Teheran dari utara ke selatan—mulai dari Lapangan Tajrish di utara hingga Taman Velayat di selatan. Jalur ini merupakan salah satu arteri transportasi paling vital di ibu kota Iran.

Nawfal menambahkan bahwa setelah bentrokan sengit, pasukan keamanan terpaksa mundur, dan dia menerima informasi bahwa Presiden Iran disebut telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei—meskipun belum ada konfirmasi resmi.

Sejumlah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan bahwa pada malam 9 Januari, rezim kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah Teheran. Kehadiran aparat keamanan hampir tidak terlihat di banyak kawasan, sementara aksi perlawanan rakyat terus berlangsung hingga larut malam. Keberadaan Ali Khamenei sendiri dilaporkan tidak diketahui.

Makam Khamenei Dibakar, Masjid Diserang, Seruan Akhir Kekuasaan Islam Menggema

Video lain yang beredar menunjukkan bahwa makam Ali Khamenei di selatan Teheran turut dibakar massa. Khamenei dikenal sebagai tokoh sentral Revolusi Islam Iran 1979 dan kerap disebut sebagai “bapak bangsa” oleh pendukung rezim. Seorang warganet membandingkan peristiwa ini dengan pembakaran Mausoleum Mao Zedong di Beijing, sebuah simbol runtuhnya legitimasi ideologis.

Selain itu, sejumlah masjid di ibu kota dilaporkan dibakar, sementara para demonstran secara terbuka menyerukan berakhirnya kekuasaan Islam di Iran. Tokoh media Tang Boqiao menyatakan bahwa hari kebebasan rakyat Iran semakin dekat.

Namun demikian, perkembangan besar ini nyaris tidak mendapat sorotan dari media arus utama internasional.

Diaspora Iran Protes BBC di London

Sebuah video memperlihatkan ribuan warga diaspora Iran berkumpul di luar kantor pusat BBC di Inggris, mengibarkan bendera singa dan matahari Dinasti Pahlavi serta bendera Israel, sebagai bentuk protes terhadap sikap diam BBC dalam melaporkan gejolak di Iran.

Pasukan Elite AS Dipindahkan, Sinyal Operasi Besar Menguat

Nawfal juga mengungkapkan bahwa dua hari sebelumnya, pada 8 Januari, unit pasukan khusus elite AS—yang sebelumnya terlibat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro—telah mulai dipindahkan ke Timur Tengah.

Lebih dari sepuluh pesawat angkut strategis AS dilaporkan menyeberangi Atlantik menuju Inggris, lalu melanjutkan penerbangan ke arah timur. Beberapa pesawat tersebut mengangkut helikopter unit Night Stalkers, yang sebelumnya berperan penting dalam menerbangkan Pasukan Delta ke Caracas.

Laporan lain menyebutkan bahwa bukan hanya Pasukan Delta, tetapi juga unit infanteri gerilya dan pasukan serbuan udara dari Eropa, sedang dipindahkan secara cepat ke kawasan Timur Tengah.

Mashhad, Bandar Abbas, Karaj: Kota-kota Strategis Dilaporkan Jatuh

Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran dan tempat kelahiran Khamenei, jutaan warga turun ke jalan pada malam hari, meneriakkan slogan “Pahlavi telah kembali” dan “Pahlavi akan kembali”. Demonstran anti-pemerintah dilaporkan telah sepenuhnya menguasai kota, sementara pasukan keamanan terjebak di beberapa gedung pemerintah.

Video memperlihatkan kantor televisi nasional Iran dan markas kepolisian setempat dibakar oleh massa.

Di saat yang sama, ribuan demonstran merebut Bandar Abbas, pelabuhan strategis di Teluk Persia yang sangat vital bagi ekonomi dan ekspor minyak Iran. Di Karaj, kota terbesar keempat Iran, balai kota dilaporkan dibakar massa. Di Provinsi Fars, para demonstran menduduki kamp Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sementara di ibu kota Provinsi Golestan, polisi dilaporkan meletakkan senjata dan menolak menghadapi demonstran.

Keuangan Iran Lumpuh, Bank Besar Hentikan Penarikan Tunai

Dalam sebuah video, seorang komandan Iran menyerukan kepada pasukan keamanan agar tidak menggunakan senjata terhadap para pemuda demonstran, menyatakan bahwa mereka bukan musuh.

Seorang pengguna X menulis bahwa sistem keuangan Iran telah runtuh. Media Iran melaporkan bahwa bank terbesar di negara itu mengalami penarikan dana besar-besaran, hingga terpaksa menghentikan layanan penarikan tunai.

Penilaian Intelijen AS Berubah Drastis dalam Dua Hari

Pada 7 Januari, badan intelijen AS CIA masih menilai bahwa protes rakyat Iran belum cukup kuat untuk menantang rezim Khamenei. Namun hanya dalam dua hari, situasi berubah drastis. Pada 9 Januari, Axios melaporkan bahwa para pejabat AS tengah melakukan penilaian ulang terhadap situasi Iran.

Sejumlah akun intelijen sumber terbuka juga melaporkan bahwa sebuah pesawat pemerintah Iran lepas landas dari Teheran menuju arah selatan, meski belum dapat dipastikan apakah pesawat tersebut terkait langsung dengan Khamenei.

Implikasi Global: Poros Energi dan Geopolitik Terancam

Seorang warganet berkomentar bahwa jika perubahan rezim di Iran benar-benar terjadi, maka tiga jalur utama yang menopang kelangsungan hidup PKT—Rusia, Venezuela, dan Iran—akan terputus secara bersamaan. Situasi ini disebut sebagai pengepungan geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya, jauh melampaui dampak perang dagang atau pembatasan teknologi.

Para pengamat menilai bahwa strategi Amerika Serikat sangat terfokus dan presisi, karena secara langsung menargetkan jalur energi, yang merupakan urat nadi vital kekuatan geopolitik PKT.