AS Siap Membantu Rakyat Iran Memperjuangkan Kebebasan, Sejumlah Negara Kutuk Kekerasan Aparat Iran

Iran tengah mengalami gelombang perlawanan anti-otoritarian paling sengit dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah memutus akses internet dan meningkatkan penindasan, namun rakyat tetap turun ke jalan. Pada 10 Januari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat siap membantu rakyat Iran memperjuangkan kebebasan.

EtIndonesia. Aksi protes nasional di Iran telah berlangsung selama dua minggu. Pemerintah melakukan pemadaman internet secara menyeluruh dan melancarkan penindasan berdarah. Organisasi hak asasi manusia menyatakan bahwa lebih dari 2.000 orang telah ditangkap. Seorang dokter di Teheran mengatakan kepada majalah Time bahwa hanya di enam rumah sakit di ibu kota saja telah tercatat lebih dari 200 orang tewas, “sebagian besar akibat tembakan peluru tajam”.

Meski menghadapi tekanan keras, rakyat Iran tidak gentar. Aksi protes terus meluas, dengan warga di sekitar 180 kota turun ke jalan untuk menentang rezim ekstrem Ayatollah Khamenei.

Pada 10 Januari, video yang beredar di media sosial memperlihatkan para demonstran berkumpul di tepi jalan tol di wilayah timur laut Iran, meneriakkan slogan-slogan seperti “Hidup Raja!”, sementara api besar menyala di sekitar mereka.

Amerika Serikat telah berulang kali menyatakan dukungan kepada para demonstran Iran. Pada 10 Januari, Presiden Trump kembali menulis di platform media sosial Truth Social bahwa rakyat Iran tengah menunjukkan hasrat akan kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan Amerika Serikat siap memberikan bantuan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 11 Januari menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi di Iran dan jatuhnya banyak korban sipil. Jepang menentang penggunaan kekerasan dalam bentuk apa pun untuk menekan aksi demonstrasi damai.

Para pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman juga pada hari Jumat mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pembunuhan terhadap para demonstran di Iran.

Sementara itu, otoritas Iran mengklaim bahwa jika Washington melakukan intervensi militer, Iran akan membalas dengan menyerang pangkalan militer dan fasilitas komersial Amerika Serikat.

Sejumlah warganet Tiongkok berdiskusi di internet bahwa gerakan protes dan perlawanan jalanan rakyat Iran telah memberikan contoh dan inspirasi bagi masyarakat Tiongkok.

Laporan gabungan oleh reporter NTD Television, Xu Zhe dan Zhang Ruiqi.

Melangkah Menuju Podium

EtIndonesia. Amerika Serikat pernah memiliki seorang presiden bernama Franklin D. Roosevelt. Saat masih menjabat sebagai senator, dia dikenal luas karena penampilannya yang menawan, kecerdasannya yang luar biasa, serta kharismanya yang membuat rakyat mencintainya.

Suatu hari, ketika sedang berlibur di kawasan Karibia, sebuah musibah tiba-tiba menimpanya. Saat berenang, dia mendadak merasakan kakinya mati rasa dan tak bisa digerakkan sama sekali. Beruntung, teman-temannya segera menolongnya sehingga dia terhindar dari tragedi fatal.

Setelah diperiksa oleh dokter, Roosevelt didiagnosis menderita polio (penyakit lumpuh).

Dokter berkata kepadanya dengan nada serius: “Anda mungkin akan kehilangan kemampuan untuk berjalan.”

Roosevelt menjawab dengan tegas: “Saya masih akan berjalan. Saya akan berjalan menuju Gedung Putih.”

Ketika pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden, dia berkata kepada tim kampanyenya: “Siapkan sebuah mimbar yang besar untuk saya. Saya ingin seluruh pemilih melihat bahwa saya—seorang penderita kelumpuhan—tetap bisa berjalan ke depan untuk berpidato, tanpa menggunakan tongkat apa pun.”

Pada hari itu, Roosevelt mengenakan setelan jas yang rapi. Wajahnya memancarkan keyakinan penuh. Dari balik panggung, dia melangkah perlahan menuju mimbar. Setiap langkah kakinya menggema—dan setiap bunyi langkah itu membuat rakyat Amerika merasakan dengan jelas kekuatan tekad dan keyakinannya yang tak tergoyahkan.

Kelak, Roosevelt mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai satu-satunya presiden Amerika Serikat yang terpilih kembali hingga empat masa jabatan.

Hikmah Cerita

Keberhasilan dalam banyak hal, pada hakikatnya, bertumpu pada kemauan yang tak kenal menyerah dan keyakinan yang mutlak.

Orang yang selalu membatasi dirinya karena kekurangan tertentu sesungguhnya sedang bersikap tidak bijak. Itu hanyalah alasan untuk menutupi ketakutan akan kegagalan.

Hidup pada dasarnya adalah sebuah tantangan. Sekalipun kita memiliki berbagai keterbatasan, selama kita tidak menyerah dan terus berusaha membuktikan kemampuan diri, kesuksesan pasti bisa diraih.(jhn/yn)

Panduan Lengkap 12 Jenis Teh: Manfaat, Pantangan, dan Waktu Terbaik Minum Teh

EtIndonesia. Teh adalah salah satu minuman sehat paling populer di dunia. Berbagai jenis teh memiliki perbedaan besar dalam kandungan zat aktif, kadar kafein, serta efek fisiologisnya. Karena itu, memilih waktu minum yang tepat dapat membantu memaksimalkan manfaat kesehatan dari teh.

Artikel ini memperkenalkan 12 jenis teh secara lengkap, agar Anda memahami manfaat masing-masing teh serta waktu terbaik untuk mengkonsumsinya.

Teh Hijau

Teh hijau kaya akan antioksidan, polifenol, katekin, serta mengandung kafein dalam jumlah sedang (25–45 mg). Waktu minum yang berbeda dapat mempengaruhi efek menyegarkan, metabolisme, pencernaan, dan tidur.

Minum di pagi hari

Manfaat:

  • Memberi dorongan energi ringan (kafein lebih rendah daripada kopi)
  • Mengaktifkan metabolisme dan membantu pengelolaan berat badan
  • Kombinasi L-theanine dan kafein meningkatkan fokus dan kejernihan berpikir
  • Dapat menjadi pengganti minuman sarapan tinggi kalori

Perhatian:
Minum saat perut kosong dapat menyebabkan iritasi lambung. Sebaiknya diminum 30 menit setelah bangun tidur, atau setelah makan sedikit.

Minum di sore hari

Manfaat:

  • Menambah energi tanpa mengganggu tidur
  • Menghindari rasa lelah di sore hari
  • Membantu pencernaan setelah makan siang
  • Menekan nafsu makan diantara waktu makan

Waktu terbaik: 1–2 jam setelah makan, sekitar pukul 14.00–16.00.

Minum di malam hari

Manfaat (khusus teh hijau tanpa kafein):

  • L-theanine membantu relaksasi
  • Membantu pencernaan setelah makan malam
  • Menyediakan antioksidan

Perhatian:
Teh hijau biasa mengandung kafein dan dapat mengganggu tidur. Jika bukan versi tanpa kafein, sebaiknya diminum 2–3 jam sebelum tidur. Orang yang sensitif terhadap kafein dapat memilih teh herbal seperti chamomile.

Strategi khusus minum teh hijau

  • Untuk penyerapan antioksidan maksimal, minum di antara waktu makan (zat besi dan makanan tertentu dapat menghambat penyerapan katekin)
  • Minum 30–60 menit sebelum olahraga dapat meningkatkan pembakaran lemak
  • Minum di antara waktu makan membantu menekan nafsu makan
  • Untuk manajemen gula darah: minum setelah makan dapat memperlambat kenaikan gula darah

Teh Hitam

Teh hitam mengandung kafein, theaflavin, dan L-theanine, dengan manfaat antioksidan, antiinflamasi, dan membantu pencernaan.

Minum di pagi hari

Manfaat:

  • Menghidrasi tubuh setelah tidur malam
  • Memberi energi dan meningkatkan konsentrasi serta daya ingat
  • Membantu melancarkan pencernaan

Waktu terbaik: setelah sarapan, tidak dianjurkan diminum saat perut kosong.

Minum setelah makan siang

Manfaat:

  • Antioksidan dan antiinflamasi
  • Mempercepat pencernaan dan mengurangi rasa berat setelah makan
  • Membantu detoksifikasi hati dan ginjal
  • Mengandung vitamin E dan vitamin penting lainnya

Minum saat waktu jeda (snack time)

Manfaat:

  • Menambah energi dengan cepat
  • Cocok saat rapat atau kelelahan kerja
  • Saat cuaca panas bisa diminum sebagai es teh hitam

Minum di malam hari

Manfaat:

  • Jika perlu tetap terjaga, sekitar pukul 20.30 dianggap waktu ideal
  • Mendukung sistem kekebalan tubuh

Perhatian:
Tidak dianjurkan bagi orang yang sensitif terhadap kafein.

Batas konsumsi teh hitam

  • Maksimal 4 cangkir per hari
  • Konsumsi berlebihan dapat mengurangi manfaat kesehatannya

Teh Herbal

1. Teh Rosemary

Manfaat:

  • Meningkatkan fungsi kognitif
  • Mengurangi kecemasan
  • Antibakteri dan antiinflamasi
  • Mendukung kesehatan hati
  • Membantu tidur

Waktu terbaik:
Malam hari untuk relaksasi dan tidur; pagi hari untuk meningkatkan konsentrasi.

2. Teh Jahe

Manfaat:

  • Melancarkan pencernaan
  • Mengurangi mual, muntah, mabuk perjalanan
  • Anti-inflamasi
  • Menurunkan gula darah
  • Mengatasi gangguan pencernaan

Waktu terbaik:
Sepanjang hari; sebelum atau saat makan besar untuk membantu pencernaan; pagi hari untuk menghangatkan lambung.

3. Teh Dandelion (Taraxacum)

Manfaat:

  • Diuretik dan detoksifikasi
  • Mendukung fungsi hati dan kantung empedu
  • Menurunkan kolesterol dan trigliserida
  • Antioksidan dan antiinflamasi
  • Mengatur gula darah

Waktu terbaik:
Siang hari; tidak disarankan sebelum tidur karena efek diuretik.

4. Teh Hibiscus

Manfaat:

  • Menurunkan tekanan darah dan gula darah
  • Antioksidan
  • Menurunkan lemak darah
  • Mendukung penurunan berat badan
  • Melindungi hati

Waktu terbaik:
Sepanjang hari; setelah makan untuk mengurangi kembung.

5. Teh Chamomile

Manfaat:

  • Menenangkan
  • Membantu tidur
  • Mengurangi kecemasan
  • Meredakan gangguan pencernaan

Waktu terbaik:
Sekitar 1 jam sebelum tidur.

Jenis Teh Tambahan

1. Teh Peppermint

Waktu terbaik: setelah makan, sore hari, atau sebelum tidur
Manfaat: mengurangi kembung, menyegarkan napas, meredakan sakit kepala, antiinflamasi
Pantangan: penderita refluks asam lambung sebaiknya berhati-hati

2. Teh Serai (Lemongrass)

Waktu terbaik: setelah makan, sore hari
Manfaat: diuretik, detoksifikasi, antiinflamasi, membantu pencernaan, menurunkan kolesterol
Pantangan: ibu hamil sebaiknya menghindari

3. Teh Oolong

Waktu terbaik: pagi hari, setelah makan siang, sore hari
Manfaat: meningkatkan metabolisme lemak, menurunkan lemak darah, antioksidan, mengurangi rasa berminyak
Pantangan: tidak diminum sebelum tidur atau saat perut kosong

4. Teh Putih

Waktu terbaik: pagi dan sore hari
Manfaat: antioksidan sangat kuat, antiinflamasi, melindungi kulit, menyegarkan secara lembut
Pantangan: tidak diminum saat perut kosong atau sebelum tidur (mengandung sedikit kafein)

Teh dan Tujuan Kesehatan

  • Melancarkan pencernaan: teh jahe, peppermint, serai, oolong
  • Manajemen berat badan: teh hijau, oolong, hibiscus
  • Memperbaiki kualitas tidur: chamomile, rosemary, teh hijau tanpa kafein

Berapa Banyak Teh yang Sebaiknya Diminum?

  • 2–3 cangkir per hari dikaitkan dengan penurunan risiko kematian dini, penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2
  • Teh hitam maksimal 4 cangkir per hari
  • Penderita penyakit kronis, ibu hamil, dan orang yang sedang mengkonsumsi obat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis

Song Qiyun / Xu Rui

Video Seorang Pria Tiongkok Beli “Dendeng Sapi” di Pameran, Ternyata Semuanya Palsu 

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang blogger di Tiongkok mengunggah video untuk mengadukan bahwa “dendeng sapi suwir” seharga 75 yuan per jin yang dibelinya di sebuah pameran ternyata palsu. Setibanya di rumah, ia secara tak terduga menemukan bahwa dendeng tersebut seluruhnya terbuat dari tahu kering, sehingga memicu kehebohan.

Dalam video tersebut, sang blogger menjelaskan bahwa dendeng sapi suwir itu dibelinya di pameran sebagai oleh-oleh untuk istrinya. Baru setelah sampai di rumah ia menyadari bahwa dendeng tersebut palsu.

“Karena biasanya kami makan makanan yang cukup ringan, saya merebusnya dengan air. Setelah diangkat dan dilihat, coba kalian perhatikan, hampir semuanya adalah tahu kering,” kata sang blogger sambil menunjukkan dendeng palsu yang dibelinya.”

 “Semuanya produk kedelai, hampir tidak ada daging sapi sama sekali. Tapi saya membelinya dengan harga 75 yuan per jin, seolah-olah itu daging sapi.”

Ia juga memperlihatkan kemasan produk tersebut, yang di atasnya tercetak keterangan: “Nama makanan: Dendeng sapi” dan “Komposisi: daging sapi, garam”.

Blogger itu mengatakan, “Kalian bisa lihat daftar komposisinya, hanya tertulis daging sapi dan garam. Saat itu saya dan istri bahkan merasa daftar komposisinya sangat ‘bersih’. Tapi ternyata isinya hampir semuanya produk kedelai, daging sapi nyaris tidak ada, mungkin hanya sedikit sekali.”

Ia kemudian menunjukkan satu kemasan kecil dendeng yang bahkan tidak mencantumkan daftar komposisi. Sang blogger mengingatkan, “Ini adalah bentuk penipuan seperti ini. Semua orang harus benar-benar waspada.”

Video tersebut memicu perdebatan hangat di kalangan warganet daratan Tiongkok. Beberapa komentar antara lain:

“Kalau cuma belasan atau dua puluh yuan per jin, mungkin masih bisa diterima. Tapi sudah beli 75 yuan per jin dan tetap tidak dapat daging sapi asli, itu benar-benar bikin emosi.”

“Apakah ini tidak termasuk penipuan? Bagaimana bisa lolos pemeriksaan keamanan pangan?”

“Sekarang bahkan daftar komposisi juga mulai dipalsukan.”

Ada pula berkomentar :  “Pernahkah terpikir bagaimana daftar komposisi palsu bisa lolos? Mari beri tepuk tangan untuk para ‘pemimpin’ kita.”

Warganet lain menyindir:  “Kalau cuma tahu kering, saya malah lega. Asal bukan daging tikus.”

“Sekarang bahan di dalamnya palsu, kemasannya palsu, mereknya palsu, daftar komposisinya palsu. Tapi harganya yang asli.”

Kasus pemalsuan pangan di Tiongkok daratan terus bermunculan. Sejumlah pedagang nakal menggunakan daging bebek atau sisa potongan daging untuk membuat “daging sapi palsu”, bahkan ada yang memakai daging beku rubah atau rakun—yang dilarang untuk dikonsumsi—untuk dijual sebagai daging kelinci. Hal ini menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Namun, berbagai kasus pemalsuan pangan tersebut hampir tidak pernah benar-benar diberantas. Banyak warga mempertanyakan apakah hal ini disebabkan oleh kelalaian lembaga pengawas Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Seorang warganet mengeluh, “Orang yang melakukan pelanggaran hukum terlalu banyak, sampai-sampai tidak mungkin diperiksa semuanya. Kalau tidak ada yang melapor, ya dibiarkan saja. Untuk makanan, sebaiknya pilih yang asal-usulnya jelas.” (Hui)

Laporan kompilasi oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui 

Kotak Hitam Jeju Air Pertama Kali Dipublikasikan, Ungkap Pesawat Dihantam 50.000 Burung

Kecelakaan udara Jeju Air pada akhir tahun lalu yang menewaskan 179 orang kini mengungkap fakta baru. Seorang anggota parlemen Korea Selatan baru-baru ini mempublikasikan data dari Komite Investigasi Kecelakaan, termasuk rekaman kotak hitam pada detik-detik terakhir yang untuk pertama kalinya dibuka ke publik. Rekaman tersebut menunjukkan bahwa pilot segera menjalankan prosedur darurat standar setelah pesawat dihantam kawanan burung dalam jumlah besar, namun tetap tidak mampu mencegah tragedi

EtIndonesia. Pesawat Jeju Air bernomor penerbangan 7C 2216, tipe Boeing 737-800, terbang dari Bangkok, Thailand menuju Korea Selatan pada 29 Desember 2024. Pesawat tersebut keluar dari landasan pacu di Bandara Internasional Muan, Provinsi Jeolla Selatan (South Jeolla), menabrak pembatas dan meledak. Dari 175 penumpang dan 6 awak kabin, hanya 2 orang yang selamat.

Menurut laporan media Korea Dong-A Ilbo dan situs berita penerbangan FL360aero, kantor anggota parlemen Partai Kekuatan Rakyat, Kim So-hee, memperoleh data dari Komite Investigasi Kecelakaan, termasuk hasil laporan sementara. 

Laporan tersebut mencakup tabrakan pesawat dengan kawanan burung, kondisi tanggul beton, ada tidaknya cacat pada pesawat, serta respons pilot. Didalamnya juga terdapat analisis kotak hitam yang sebelumnya belum dipublikasikan.

Komite Investigasi Kecelakaan awalnya menjadwalkan dengar pendapat publik pada 4 dan 5 Desember tahun lalu, namun dibatalkan karena penolakan dari keluarga korban dan faktor lainnya.

Berdasarkan rekaman cockpit voice recorder (CVR) dari kotak hitam, pilot tampaknya menyadari keberadaan kawanan sekitar 50.000 ekor bebek Baikal (Baikal teal, juga dikenal sebagai bebek bermuka belang) sesaat sebelum kecelakaan.

Antara pukul 08:58:11 hingga 08:58:13 pada hari kejadian, kopilot berteriak “Bird!” (burung) dan mengatakan “banyak di bawah.” Kapten kemudian berkata, “Ini tidak bisa,” dan pada pukul 08:58:20 awak pesawat mengumumkan prosedur go around (membatalkan pendaratan dan terbang kembali), sambil berteriak “Go around, go around.”

Namun sekitar enam detik kemudian, pada pukul 08:58:26, kotak hitam merekam suara benturan pesawat dengan kawanan burung. Pada detik ke-35, awak menyatakan “severe damage” (kerusakan parah), dan dalam waktu 15 detik pesawat dialihkan ke mode darurat manual serta salah satu mesin dimatikan.

Setelah menganalisis flight data recorder (FDR) dan engine electronic control (EEC), Komite Investigasi menemukan bahwa mesin nomor 1 berhenti beroperasi 11 detik setelah pilot mengumumkan pemadaman mesin, sementara mesin nomor 2 terus berfungsi hingga pesawat menghantam tanah.

Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan atau menganalisis alasan pilot memilih mematikan mesin sebelah kiri. Investigasi juga menunjukkan bahwa kedua mesin tidak memiliki cacat teknis, baik dalam 14 penerbangan sebelumnya maupun pada hari kecelakaan.

Analisis sisa-sisa benturan burung pada mesin menunjukkan bahwa semuanya berasal dari bebek Baikal. Komite Investigasi menyatakan bahwa bebek Baikal bukanlah spesies yang biasa hidup di sekitar Bandara Muan. 

Sehari sebelum kecelakaan, habitat asal mereka dilanda badai salju dan penurunan suhu drastis, sehingga kawanan tersebut bermigrasi ke selatan secara mendadak. Karena migrasi ini bersifat tiba-tiba dan tidak sesuai dengan kebiasaan mereka yang biasanya aktif pada pagi atau sore hari, kawanan burung tersebut muncul pada waktu pagi saat kecelakaan terjadi.

Laporan juga menunjukkan bahwa saat itu hanya ada satu petugas khusus yang bertanggung jawab atas pengelolaan risiko burung di bandara. Selain itu, publikasi informasi penerbangan terkait kondisi dan lingkungan Bandara Muan tidak mencantumkan informasi mengenai keberadaan bebek Baikal.

Laporan tersebut juga menyoroti salah satu faktor utama yang memperparah jumlah korban jiwa, yaitu keberadaan tanggul beton. Sesuai peraturan, dalam jarak 240 meter dari ujung landasan pacu, tidak boleh ada fasilitas atau peralatan apa pun selain yang mutlak diperlukan untuk penerbangan. Bahkan jika diperlukan, fasilitas tersebut harus menggunakan struktur yang mudah hancur dan dibuat serendah mungkin. Namun, tanggul beton di Bandara Muan saat itu tidak memenuhi standar tersebut.

Hasil simulasi dalam laporan menunjukkan bahwa tanpa tanggul beton tersebut, pesawat kemungkinan akan mendarat dengan badan pesawat (belly landing), meluncur sekitar 770 meter, lalu berhenti, sehingga seluruh penumpang berpeluang selamat. Bahkan jika tanggul tetap ada namun dirancang dengan struktur mudah hancur, tragedi sebesar ini kemungkinan tidak akan terjadi. (Hui)

Dikutip dari Central News Agency / Lu Yongxin

Penundaan Tuhan Bukanlah Penolakan-Nya

EtIndonesia. Bintang film dunia Sylvester Stallone pernah menjalani masa hidup yang sangat terpuruk sekitar belasan tahun lalu. Saat itu, uang yang tersisa di sakunya hanya 100 dolar AS. Dia bahkan tak mampu menyewa rumah dan terpaksa tidur di dalam mobil Volkswagen Beetle miliknya.

Meski hidup dalam kesulitan ekstrem, Stallone tetap bertekad menjadi seorang aktor. Dengan penuh percaya diri, dia mendatangi berbagai perusahaan film di New York untuk melamar pekerjaan. Namun, satu per satu dia ditolak—alasannya klasik: penampilannya dianggap biasa saja, dan cara bicaranya dinilai kurang jelas.

Ketika seluruh 500 perusahaan film di New York menolaknya, dia tidak berhenti. Dia kembali lagi ke perusahaan pertama, lalu yang kedua, dan seterusnya.

Setelah 1.500 kali penolakan, dia menulis sebuah skenario dan membawanya berkeliling untuk ditawarkan. Namun yang dia terima justru ejekan dan penolakan lanjutan. Total penolakan yang dia alami mencapai 1.855 kali.

Akhirnya, ada seorang produser yang bersedia membeli skenarionya—tetapi dengan satu syarat: Stallone tidak boleh ikut bermain dalam film tersebut. Dia menolak syarat itu.

Dan pada akhirnya, dunia mengenalnya sebagai superstar kelas dunia.

Pertanyaannya sederhana: Mampukah kamu menghadapi 1.855 kali penolakan tanpa menyerah?

Stallone bisa.

Dia melakukan hal yang tidak mampu dilakukan kebanyakan orang—itulah sebabnya dia berhasil.

Saya percaya, jika kamu mampu melakukan hal yang sama, kesuksesan juga akan menjadi milikmu.

Ada pula seorang tokoh lain. Dalam hidupnya, dia mengalami kegagalan demi kegagalan:

  • Usia 21 tahun: usaha bisnisnya bangkrut
  • Usia 22 tahun: gagal terpilih sebagai anggota parlemen negara bagian
  • Usia 24 tahun: usaha bisnisnya kembali gagal
  • Usia 26 tahun: kekasihnya meninggal dunia
  • Usia 27 tahun: mengalami gangguan mental berat
  • Usia 34 tahun: gagal terpilih sebagai anggota DPR federal
  • Usia 36 tahun: kembali gagal dalam pemilihan DPR federal
  • Usia 45 tahun: gagal terpilih sebagai senator
  • Usia 47 tahun: gagal menjadi wakil presiden
  • Usia 49 tahun: kembali gagal dalam pemilihan senator
  • Usia 52 tahun: terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-16

Orang itu adalah Abraham Lincoln.

Dia mampu bangkit berkali-kali karena dia percaya sepenuh hati bahwa penundaan Tuhan bukanlah penolakan Tuhan. Karena keyakinan itulah, dia jatuh berkali-kali namun selalu bangkit kembali—hingga akhirnya meraih pencapaian yang luar biasa.

Hikmah Cerita

Abraham Lincoln mampu meraih keberhasilan besar di akhir hidupnya karena ia teguh memegang satu keyakinan sederhana namun dahsyat: penundaan Tuhan bukanlah penolakan Tuhan.

Keyakinan itulah yang membuatnya berani gagal berulang kali, namun tidak pernah berhenti berjuang. Dan karena itulah pula, ia akhirnya menorehkan sejarah yang tak tergantikan. (jhn/yn)

Tuhan Menyayanginya, Maka Dia Disuruh Membersihkan Toilet

EtIndonesia. Di kalangan masyarakat Jepang, beredar luas sebuah kisah kecil yang sangat menyentuh hati.

Bertahun-tahun silam, seorang gadis muda yang masih belia datang ke Hotel Imperial Tokyo untuk bekerja sebagai pelayan. Ini adalah pekerjaan pertamanya sejak terjun ke dunia kerja—langkah pertama dalam perjalanan hidupnya. 

Karena itu, dia merasa sangat bersemangat dan diam-diam bertekad dalam hati:“Aku harus bekerja dengan sungguh-sungguh!”

Namun, dia sama sekali tak menyangka bahwa tugas pertama yang diberikan atasannya adalah membersihkan toilet.

Membersihkan toilet! Jujur saja, pekerjaan ini tidak disukai siapa pun. Apalagi gadis itu belum pernah melakukan pekerjaan kasar. Kulitnya halus, terbiasa hidup bersih—mampukah dia melakukannya?

Membersihkan toilet merupakan ujian berat, baik secara visual, penciuman, maupun fisik. Belum lagi tekanan psikologis yang membuatnya hampir tak sanggup menahan rasa mual. Saat dia mengulurkan tangannya yang putih dan lembut, memegang kain lap untuk membersihkan kloset, perutnya langsung terasa bergejolak. Rasa mual menyerbu, ingin muntah namun tak keluar—sangat menyiksa.

Yang lebih berat lagi, atasannya menetapkan standar kerja yang sangat tinggi, bahkan terasa mengerikan: toilet harus dibersihkan hingga benar-benar mengilap, seperti baru.

Dia tentu paham apa arti “seperti baru”. Dia juga sadar betul bahwa dirinya tidak cocok membersihkan toilet, dan hampir mustahil memenuhi standar setinggi itu. Dia pun terjebak dalam kebingungan dan penderitaan batin. Dia menangis. Dia bimbang.

Di hadapannya terbentang pilihan hidup pertama yang sangat menentukan: apakah dia harus terus bertahan, atau mencari pekerjaan lain?

Bertahan—terlalu berat.  Pergi—apakah itu berarti mundur sebelum berjuang?

Bukankah hidup tidak seharusnya dijalani dengan mundur? 

Dia tidak rela menyerah begitu saja. Dia teringat tekadnya saat pertama datang:  langkah pertama dalam hidup harus dijalani dengan baik, tidak boleh asal-asalan.

Di saat kritis itulah, seorang senior di tempat kerjanya muncul tepat waktu. Dia membantu gadis itu keluar dari kebingungan dan penderitaannya, membantunya melangkah mantap pada pijakan pertama kehidupan. Yang lebih penting lagi, dia membantunya memahami bagaimana seharusnya jalan hidup dijalani.

Namun sang senior tidak menasihatinya dengan teori kosong. Dia langsung memberi contoh.

Pertama, dia membersihkan toilet itu berulang-ulang hingga benar-benar mengilap seperti baru.
Lalu, dia mengambil segelas air dari dalam kloset tersebut… dan meminumnya hingga habis, tanpa ragu sedikit pun.

Tindakan nyata jauh lebih kuat daripada ribuan kata.

Tanpa berkata apa-apa, dia menyampaikan kepada Noda Seiko sebuah kebenaran yang sangat sederhana namun mendalam: “Makna mengilap seperti baru terletak pada kata baru.
Sesuatu yang baru tidaklah kotor. Tidak ada orang yang menganggap toilet baru itu kotor. Air di dalam toilet yang benar-benar bersih pun tidak kotor—bahkan bisa diminum. Sebaliknya, hanya ketika air di dalam toilet sudah cukup bersih untuk diminum, barulah toilet itu benar-benar layak disebut mengilap seperti baru.”

Dan hal itu—ternyata—bisa dilakukan.

Kemudian, sang senior memberinya sebuah senyum penuh makna, serta tatapan yang sarat perhatian dan dorongan. Itu sudah lebih dari cukup.

Gadis itu begitu terharu hingga hampir tak sanggup menahan dirinya. Tubuh dan jiwanya bergetar hebat. Dia terdiam, matanya berkaca-kaca. Seketika dia tersadar—seperti terbangun dari mimpi panjang.

Dengan tekad yang bulat, dia berkata dalam hati: “Sekalipun seumur hidup aku hanya membersihkan toilet, aku akan menjadi orang yang paling hebat dalam membersihkan toilet!”

Sejak saat itu, ia berubah menjadi pribadi yang sepenuhnya baru—penuh semangat. Kualitas kerjanya mencapai standar tinggi sang senior. Dia bahkan berkali-kali meminum air dari toilet yang telah dia bersihkan—untuk menguji kepercayaan dirinya, membuktikan kualitas kerjanya, dan meneguhkan dedikasi profesionalnya.

Sejak itu pula, dia melangkah dengan sangat mantap pada langkah pertama kehidupannya. Sejak itu, dia menapaki jalan kesuksesan, dan memulai perjalanan hidup yang terus bergerak menuju keberhasilan.

Puluhan tahun berlalu dalam sekejap mata. Kini, dia telah menjadi salah satu pejabat utama pemerintah Jepang—Menteri Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi ( 3 Agustus 2017 sampai 2 Oktober 2018)

Namanya adalah Noda Seiko.

Keyakinan hidupnya yang teguh tercermin dalam dedikasi profesionalnya yang luar biasa: “Sekalipun seumur hidup aku hanya membersihkan toilet, aku akan menjadi orang yang paling unggul dalam membersihkan toilet.”

Di situlah rahasia kesuksesannya—tidak misterius, tidak rumit. Keyakinan inilah yang membuatnya puluhan tahun terus melaju di jalan keberhasilan. Keyakinan inilah yang memberinya kehidupan yang sukses—menjadikannya seorang yang beruntung karena sukses, sekaligus sukses karena keteguhannya.

Hikmah cerita

Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil di dunia ini—karena semua pekerjaan tetap harus dilakukan oleh seseorang. Kesuksesan adalah buah dari keringat dan kepahitan yang tak terhitung jumlahnya.

Kesuksesan bukanlah hasil sesaat. Kuncinya terletak pada persiapan sehari-hari dan kerja keras yang terus-menerus.

Ada orang yang, berbekal ketekunan dan kesanggupan menanggung derita, mampu menciptakan prestasi luar biasa dari pekerjaan biasa. Namun ada pula orang yang memegang “mangkuk emas”, tetapi tetap harus meminta-minta pada orang lain.

Perbedaan di antaranya—layak kita renungkan dengan seksama.(jhn/yn)

Internet Diputus Berhari-hari! Media Iran di Luar Negeri Ungkap Kebrutalan Penindasan, 2.000  Orang Dilaporkan Tewas

Aksi protes di Iran terus berkobar. Akses internet di dalam negeri telah diputus selama empat hari berturut-turut. Otoritas menggunakan kekuatan mematikan di seluruh negeri. Media Iran di luar negeri melaporkan bahwa sekitar 2.000 orang telah tewas. Aktivis Iran di luar negeri juga mengungkapkan bahwa setiap pasien dengan luka tembak yang dibawa ke rumah sakit akan diculik sehingga tidak dapat menerima perawatan medis.

EtIndonesia. Pada malam 11 Januari, 2026 jaringan internet di Iran telah diputus total, bahkan lampu jalan juga dimatikan. Namun warga Iran tetap turun ke jalan, menggunakan cahaya ponsel mereka untuk menerangi jalan, dan ribuan orang memadati jalanan Teheran untuk melanjutkan aksi protes.

Organisasi pemantau internet NetBlocks dan Cloudflare menyatakan bahwa koneksi internet nasional telah mendekati nol selama empat hari berturut-turut. Saat ini, pasukan keamanan rezim Iran telah menggunakan kekuatan mematikan untuk menyerang para demonstran. Saluran “Iran International” melaporkan bahwa pada l 8 dan 9 Januari saja, diperkirakan sedikitnya 2.000 orang tewas di seluruh negeri.

Wakil Direktur Organisasi Aktivis Hak Asasi Manusia Iran, Skylar Thompson, mengatakan:
“Kami menyaksikan penyalahgunaan kekuatan mematikan terhadap para demonstran oleh rezim, dan juga memiliki bukti bahwa penembakan jarak dekat, penggunaan gas air mata, serta senjata kelas militer digunakan untuk menindas demonstrasi jalanan. Ini sama sekali tidak dapat diterima.”

Seorang aktivis Iran yang disebutkan namanya dalam unggahan daring mengungkapkan bahwa pasukan keamanan telah menguasai seluruh rumah sakit di Teheran dan mencari para korban luka. 

Setiap pasien dengan luka tembak yang dibawa ke rumah sakit akan segera diculik, sehingga tidak dapat menerima perawatan. Meski menghadapi penindasan dengan kekerasan oleh aparat, rakyat Iran tetap melanjutkan perlawanan.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perempuan Iran membakar foto Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei untuk menyalakan rokok—sebuah bentuk perlawanan yang sangat berani. Dalam kondisi normal, tindakan tersebut dapat membuat mereka dipenjara, bahkan mengalami perlakuan kekerasan karena dianggap tidak menghormati pemimpin tertinggi.

Laporan disusun oleh Huang Liangjian dan Chen Lingzhi, NTD Asia-Pacific.

Warga Iran Tak Gentar Represi, Terus Turun ke Jalan; Pemandangan Mengerikan Saat Mayat- mayat di Pusat Forensik 

EtIndonesia. Menghadapi penindasan berdarah yang semakin meningkat terhadap aksi protes, rakyat Iran menunjukkan keberanian luar biasa dan terus turun ke jalan meskipun berada di bawah tekanan tinggi. Sejumlah video yang beredar di internet memperlihatkan banyak kantong jenazah dan mayat, menggambarkan kekerasan brutal yang dilakukan aparat.

Aksi Protes Terus Berlanjut

Pada malam 11 Januari, meskipun menghadapi penindasan kejam, pembantaian besar-besaran, dan pemutusan akses internet, warga kembali turun ke jalan.

Di kawasan Punak, Teheran, massa meneriakkan slogan:  “Ini adalah pertempuran terakhir, Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”

Di Tonekabon dan Shahsavār, lautan manusia terlihat memadati area luar kota.

Di Teheran, warga membentangkan spanduk di jembatan simpang susun jalan tol bertuliskan:
“Kami akan berjuang, ini lebih kuat daripada sekadar perlawanan.”

Pemandangan Mengerikan di Pusat Forensik

Sejak pemerintah Iran memutus jaringan internet pada 8 Januari, berbagai video dan informasi yang disalurkan melalui Starlink dan jalur lain menunjukkan bahwa penindasan berdarah telah meningkat tajam.

CNN melaporkan adanya video yang memperlihatkan deretan kantong jenazah hitam berisi mayat yang disusun di lorong luar gedung Pusat Forensik Kahrizak di Teheran. Media resmi Iran mengakui isi video tersebut dan menyatakan bahwa jenazah-jenazah itu adalah warga sipil.

Media yang berbasis di London, Iran International, merilis video yang menunjukkan mayat-mayat berserakan di Pusat Forensik Kahrizak, Teheran. Nomor pada foto-foto dalam video mengindikasikan kemungkinan terdapat hingga 250 jenazah. Disebutkan bahwa jenazah-jenazah ini dibawa ke lokasi tersebut menggunakan truk pikap setelah penindasan pada 8 Januari.

⚠️ (Video berikut mengandung gambar yang mengganggu, harap berhati-hati)

Iran International melaporkan bahwa video memperlihatkan puluhan mayat ditempatkan di dalam sebuah bangunan industri, sementara mayat-mayat lainnya juga ditemukan di bangunan industri lain di sekitarnya.

Dua saksi mata yang pergi ke Kahrizak untuk mencari anggota keluarga mereka mengatakan bahwa mereka melihat lebih dari 400 jenazah di lokasi tersebut. Perkiraan paling konservatif menunjukkan bahwa dalam 48 jam terakhir, setidaknya 2.000 orang tewas di seluruh Iran.

Lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), pada 11 Januari menyatakan bahwa mereka telah memverifikasi 538 kematian, termasuk 490 pengunjuk rasa. Lebih dari 10.000 orang dilaporkan ditangkap selama dua minggu aksi protes.

Dukungan Internasional untuk Aksi Protes Iran

Pada 11 Januari, warga di Montreal, Toronto, dan Ottawa (Kanada) menggelar aksi untuk mendukung para pengunjuk rasa Iran.

Di Toronto, ribuan orang turun ke jalan dalam aksi solidaritas.

Di Los Angeles, juga digelar aksi dukungan bagi warga Iran yang memprotes pemerintah.

Laporan gabungan oleh reporter Jin Jing / Lin Qing – NTDTV.com

Tentara Iran Menyampaikan Pesan kepada Trump: Tentara dan Rakyat Berharap Anda Menyelamatkan Kami 

Aksi protes warga Iran masih terus berlangsung, sementara tindakan penindasan semakin meningkat dan telah menyebabkan banyak demonstran tewas. Seorang tentara Iran mengunggah sebuah video di media sosial yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan mengatakan: “Tentara dan rakyat berharap Anda datang untuk menyelamatkan kami.”

EtIndonesia. Sebuah video yang beredar di platform X memperlihatkan seorang tentara Iran berseragam militer dan mengenakan ban lengan, berbicara langsung ke kamera dan menyampaikan pesan kepada Presiden AS Donald Trump:

“Kami—anggota militer dan seluruh rakyat Iran—berharap Anda dapat datang menyelamatkan kami, membebaskan kami dari rezim tirani ini, agar kami dapat membangun kembali Iran. Seperti yang Anda katakan tentang Amerika, kami juga ingin berkata: ‘Make Iran Great Again!’

Di akhir video, tentara tersebut terlihat mencium foto Trump.

Sejumlah warganet berkomentar: “Sebagian besar tentara dan rakyat Iran telah sadar. Kediktatoran jahat akan segera dihancurkan! Kami percaya Presiden Trump akan dicintai oleh rakyat dunia! Semangat!”

Sejak pecahnya aksi protes nasional menentang pemerintahan diktator di Iran, tidak sedikit tentara dan polisi yang memilih mendukung para demonstran dan bergabung dalam perlawanan. Namun belakangan ini, rezim Iran memutus jaringan internet dan mulai melakukan penindasan brutal terhadap para pengunjuk rasa.

Sebuah video menunjukkan bahwa pada malam tanggal 10 Januari, di kota Mashhad—kota terbesar kedua di Iran—seorang demonstran merekam momen ketika militer Iran menembaki para pengunjuk rasa.

Dalam video tersebut terdengar suara tembakan tanpa henti, sementara sekelompok demonstran berlarian menyelamatkan diri. Pria yang merekam video itu berteriak dalam bahasa Inggris kepada dunia: “Lihat, mereka menembaki kami! Mereka menembaki kami! Tolong bantu kami!”

Banyak warganet menanggapi:

“Peristiwa Tiananmen versi Iran telah dimulai. Amerika dan Israel, sudah saatnya kalian menghunus pedang keadilan.”

“Tragedi Tiananmen sedang terjadi di negara lain.”

Sekitar 10 Januari  pukul 01.00 dini hari , menanggapi situasi Iran yang semakin memanas, Trump menulis di media sosial: “Iran sedang menunjukkan kerinduan akan ‘kebebasan’—mungkin yang belum pernah terlihat sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja!!!”

Sebelumnya, Presiden Trump juga telah mengeluarkan peringatan tegas dari Gedung Putih, menekankan bahwa AS memantau situasi dengan sangat cermat:

“Jika mereka (rezim Iran) mulai membunuh rakyatnya, kami akan bertindak. Ini tidak berarti kami akan mengirim pasukan, tetapi kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras.”

Video lain yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada malam 9 Januari, jalan-jalan kota Amol di Iran dipenuhi massa yang marah. Para demonstran menyalakan api unggun di tengah malam, dan seluruh kota menggema dengan teriakan “Matilah diktator!”. Gas air mata dari aparat keamanan pun gagal membubarkan kerumunan besar tersebut.

Pada malam 10 Januari, slogan anti-pemerintah kembali menggema di jalan-jalan Teheran, sementara pihak berwenang melakukan penindasan mematikan terhadap para demonstran.

Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa aksi protes ini telah menyebabkan setidaknya 72 orang tewas, dan lebih dari 2.300 orang ditahan.

Selain itu, staf dari tiga rumah sakit di Iran mengatakan kepada BBC bahwa penindasan brutal oleh pemerintah membuat rumah sakit dipenuhi korban luka dan korban tewas.

Seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit di Teheran mengatakan: “Kepala dan jantung anak-anak muda ditembak secara langsung.”

Dokter lain menyebutkan bahwa sebuah rumah sakit mata di Teheran telah memasuki mode krisis.

Sebagian besar korban luka berusia 20 hingga 25 tahun. Ada yang tertembak di mata, ada yang peluru menembus bagian belakang kepala, dan ada pula yang tertembak di kepala sekaligus di jantung. Beberapa korban bahkan meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Di kamar jenazah, mayat ditumpuk satu di atas yang lain, bahkan dipindahkan ke ruang doa untuk disimpan.

Saat ini, pemerintah Iran telah memutus akses internet. Sebagian warga mencoba mempertahankan komunikasi yang sangat terbatas dengan dunia luar melalui terminal Starlink milik Elon Musk. (Hui)

 HuiLaporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor  Hui)

12 Malam Tanpa Internet, Iran Berubah Jadi Medan Perang

EtIndonesia. Di jalan-jalan Teheran, teriakan “Matilah para diktator!” kini menggema lebih keras daripada sirene polisi. Amarah publik telah meluap ke titik yang belum pernah terlihat selama puluhan tahun terakhir. Para pedagang tua di Grand Bazaar Teheran—pasar bersejarah yang telah menjadi jantung ekonomi Iran selama berabad-abad—menutup rapat pintu besi toko mereka. Aksi ini bukan sekadar mogok dagang, melainkan pernyataan politik terbuka: memutuskan hubungan dengan rezim yang berkuasa.

Apa yang terjadi di Iran hari ini bukan lagi sekadar “perang demi roti”. Ini telah berubah menjadi serangan balik terakhir rakyat terhadap kelas elite kekuasaan—anak-anak pejabat yang hidup mewah, mengendarai Porsche, memamerkan pesta glamor, sambil dengan dingin berkata kepada rakyat miskin, “Kalau tidak bisa hidup, mati saja.”

Kronologi Krisis: Dari Runtuhnya Rial hingga Ledakan Amarah

Gelombang protes nasional Iran bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh krisis ekonomi akut dan merosotnya taraf hidup masyarakat. Nilai tukar rial Iran anjlok tajam. Menjelang akhir 2025, kurs pasar gelap mencapai sekitar 1.450.000 rial per dolar AS, dari kisaran 800.000 setahun sebelumnya. Dalam hitungan bulan, tabungan rakyat praktis terpangkas setengah.

Gaji bulanan penuh waktu seorang pekerja Iran kini, jika dikonversi ke dolar AS, hanya sekitar 100 dolar—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar satu keluarga. Inflasi pangan melonjak hingga 72 persen, membuat belanja harian terasa seperti “mengiris daging sendiri”, sebagaimana diungkapkan seorang warga dalam video yang viral di media sosial.

Pada 8 Januari 2026, pemerintah Iran mengambil langkah ekstrem dengan memutus jaringan internet secara nasional. Selama 12 malam berturut-turut, aksi protes meletus di berbagai kota besar dan menengah—termasuk wilayah yang sebelumnya nyaris tak pernah mengalami kerusuhan. Pemadaman internet justru memperkuat kemarahan publik.

Grand Bazaar: Penyangga Rezim yang Runtuh

Dalam sejarah Iran, Grand Bazaar bukan sekadar pasar. Dia adalah barometer ekonomi sekaligus penyangga stabilitas politik. Pada Revolusi Islam 1979, dukungan pedagang bazaar menjadi faktor kunci tumbangnya monarki Pahlavi.

Namun kali ini, pilar itu runtuh.

Para pedagang menghadapi dilema fatal: berbisnis berarti rugi, sementara menabung berarti menyaksikan nilai uang menguap. Dalam tekanan inflasi, monopoli, dan kebijakan diskriminatif, mogok massal menjadi satu-satunya pilihan rasional.

Akar Masalah: Sistem Nilai Tukar Ganda dan Perampokan Terstruktur

Kemiskinan memang pemicu, tetapi bukan keseluruhan cerita. Inti kemarahan rakyat terletak pada ketidakadilan sistemik.

Iran menerapkan sistem nilai tukar ganda: kurs resmi yang jauh lebih rendah dari kurs pasar, dengan dalih untuk impor barang kebutuhan pokok seperti obat dan gandum. Dalam praktiknya, akses ke dolar murah ini hanya dinikmati oleh keluarga elite yang dekat dengan kekuasaan.

Skemanya sederhana:

  • Elite menukar rial dengan dolar negara pada kurs resmi
  • Dolar dijual kembali di pasar gelap dengan keuntungan berlipat
  • Atau digunakan untuk mengimpor barang mewah—mobil sport, tas Hermès, gaya hidup elit

Akibatnya, rakyat kekurangan obat dan pangan, sementara kawasan utara Teheran dipenuhi mobil supermewah. Ini bukan ekonomi pasar, melainkan pencurian sistemik.

Kekaisaran Bayangan: Yayasan “Amal” dan Garda Revolusi

Masalah diperparah oleh keberadaan yayasan-yayasan besar yang mengatasnamakan amal, namun pada kenyataannya merupakan kerajaan bisnis raksasa yang dikendalikan langsung oleh Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Yayasan-yayasan ini:

  • Menguasai lebih dari 60 persen ekonomi nasional
  • Bebas pajak dan tidak diaudit
  • Memiliki monopoli di sektor minyak, telekomunikasi, konstruksi, hingga farmasi

Dalam kondisi seperti ini, kerja keras kehilangan makna, dan bisnis jujur menjadi lelucon pahit.

“Gen Unggul” dan Amarah Kelas Sosial

Ketimpangan ini melahirkan istilah sinis di kalangan rakyat: “gen unggul”—ungkapan yang merujuk pada klaim elite bahwa kekayaan mereka berasal dari faktor bawaan, bukan privilese.

Pernyataan arogan sejumlah anak pejabat, pamer kemewahan di media sosial, hingga gaya hidup kontras saat rakyat kelaparan, mempercepat perubahan slogan protes.

 Dari tuntutan ekonomi, massa kini berteriak: “Matilah diktator!”, “Hancurkan negara lama, hidup negara baru!”

Respons Rezim: Peluru, Represi, dan Teknologi dari Tiongkok

Rezim merespons dengan peluru tajam, gas air mata, dan pasukan khusus. Suara tembakan di jalanan Teheran terdengar seperti medan perang.

Yang lebih menggetarkan, Iran mengandalkan teknologi pengawasan canggih dari Tiongkok:

  • Kamera pengenal wajah
  • Sistem identifikasi massa
  • Peralatan interogasi
  • Bahkan “kursi harimau”, alat penyiksaan yang sebelumnya digunakan di Xinjiang

Iran perlahan berubah menjadi penjara digital raksasa.

Perlawanan Rakyat: Starlink dan Kreativitas Bawah Tanah

Meski terisolasi, rakyat Iran tidak menyerah. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menembus sensor:

  • Internet satelit Starlink
  • Penyelundupan perangkat komunikasi
  • Pesan tersembunyi dalam gambar
  • Bluetooth dan catatan tangan
  • Bahkan ruang obrolan gim daring seperti Clash of Clans dan Call of Duty

Dimensi Global: Seruan ke Amerika Serikat

Di berbagai sudut Teheran, muncul grafiti dan sebutan tidak resmi seperti “Jalan Trump”—simbol harapan pada tekanan internasional.

Pada 8 Januari 2026, Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa jika pemerintah Iran membantai demonstran, Amerika Serikat akan memberikan “pukulan yang sangat keras”. Namun pada 9 Januari, situasi justru memburuk: Iran hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar, penerbangan internasional dibatalkan, dan konfrontasi antara rezim dan rakyat memasuki fase tanpa kompromi.

Cermin Tiongkok: Dua Peradaban Kuno di Persimpangan

Sementara Teheran membara, di Beijing para pemuda menyebut hidup mereka sebagai berada di “waktu sampah sejarah”—fase tanpa harapan. Pengangguran melonjak, masa depan mengabur, dan protes muncul dalam bentuk terfragmentasi namun tragis.

Iran dan Tiongkok, dua peradaban kuno dengan model kediktatoran berbeda, kini menghadapi krisis struktural yang serupa:

  • Kontrak ekonomi runtuh
  • Generasi muda terbangun
  • Mesin represi kelelahan

Pertanyaan terakhir pun menggantung di udara: Ketika aparat mulai kehilangan gaji dan legitimasi, ke mana moncong senjata akan mengarah?

Revolusi Iran Kian Panas, AS Ungkit Operasi Venezuela—Pesan Tersirat untuk Teheran?

EtIndonesia. Situasi Revolusi Nasional Iran memasuki hari ke-15 pada 11 Januari 2026, ditandai dengan berlanjutnya aksi protes di berbagai wilayah Iran setelah Putra Mahkota, Reza Pahlavi untuk keempat kalinya menyampaikan seruan nasional kepada rakyat Iran. 

Gelombang perlawanan di dalam negeri berlangsung seiring dengan meningkatnya aksi solidaritas diaspora Iran di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, serta ratusan kota lain di seluruh dunia, yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran dan kepemimpinan simbolik Reza Pahlavi.

Diaspora Iran Bergerak Serentak

Pada 11 Januari, komunitas Iran di luar negeri kembali turun ke jalan. Aksi-aksi tersebut menampilkan tuntutan yang konsisten: diakhirinya rezim ulama dan dimulainya transisi politik yang damai. Para pengamat menilai konsistensi mobilisasi diaspora memperkuat tekanan internasional, sekaligus menjaga atensi media global pada perkembangan di dalam Iran.

Rekaman Air Force One dan Sinyal dari Washington

Di tengah eskalasi tersebut, spekulasi mengenai langkah Amerika Serikat kian menguat. Sejumlah akun berpengaruh di platform X membagikan rekaman audio yang diklaim merekam percakapan Presiden AS, Donald Trump dengan wartawan di Air Force One. 

Saat ditanya apakah Iran telah melampaui “garis merah”, Trump menjawab: “Mereka mulai melampaui batas. Tampaknya sudah ada korban jiwa. Militer sedang menyelidiki hal ini. Kami memiliki langkah balasan yang sangat kuat.”

Pernyataan tersebut memicu harapan di kalangan demonstran bahwa Washington akan mengambil tindakan tegas terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagaimana AS pernah bertindak keras terhadap Nicolás Maduro di Venezuela.

Gedung Putih Angkat Kesaksian Operasi Venezuela

Masih pada 11 Januari, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt membagikan ulang sebuah kesaksian wawancara mantan personel keamanan Venezuela—yang sebelumnya loyal pada rezim Maduro—melalui platform X. 

Leavitt menyertakan pesan singkat yang mencolok: “Hentikan sejenak pekerjaanmu dan tonton ini.”

Kesaksian tersebut diproduksi oleh sebuah stasiun televisi di California bersama seorang pembawa acara podcast, dan menggambarkan secara rinci operasi militer AS di Venezuela.

“Radar Lumpuh, Drone Membanjiri Langit”

Menurut pengakuan mantan pengawal itu, begitu operasi dimulai, sistem radar Venezuela langsung lumpuh total tanpa peringatan, membuat pertahanan kehilangan kesadaran situasional. Tak lama berselang, gerombolan drone muncul dalam jumlah besar, menyulitkan pasukan untuk mendeteksi maupun bereaksi tepat waktu.

Dia menyebut fase pertempuran darat sebagai bagian paling menakutkan. Militer AS, katanya, hanya mengerahkan sekitar 8 helikopter dan ±20 personel, namun dengan perlengkapan yang melampaui doktrin militer konvensional. Dalam baku tembak singkat, kepadatan dan akurasi tembakan digambarkan sangat tinggi—seolah ratusan peluru dilepaskan setiap menit—mengakibatkan kerugian besar di pihak penjaga. Situasi itu dia ibaratkan “pemanenan sepihak”, bukan pertempuran setara.

Klaim Senjata Gelombang Suara

Bagian paling kontroversial dari kesaksian tersebut adalah klaim penggunaan senjata berbasis gelombang suara. Senjata ini, menurutnya, memancarkan gelombang kuat yang memicu sakit kepala hebat, mimisan, muntah darah, hingga hilangnya kemampuan bergerak, tanpa menggunakan amunisi konvensional.

Saat operasi berlangsung, Venezuela disebut telah mengoperasikan kendaraan amfibi VN-16, kendaraan tempur infanteri VN-18, serta sistem roket multi-laras SR-5 buatan Tiongkok—yang sebelumnya dipromosikan sebagai tulang punggung pertahanan modern Amerika Selatan. Namun, jaringan pertahanan udara yang mendapat dukungan Tiongkok dan Rusia diklaim gagal memberikan peringatan dini, dan sejumlah fasilitas militer berhasil ditekan dalam waktu singkat.

Reaksi Publik dan Pesan Geopolitik

Di media sosial, sejumlah warganet menilai publikasi kesaksian ini bukan kebetulan, melainkan sinyal strategis yang ditujukan kepada Partai Komunis Tiongkok—sebagai pengingat bahwa keunggulan militer AS tidak dapat dikejar hanya dengan investasi besar dalam waktu singkat.

Venezuela, Logam Tanah Jarang, dan Rantai Pasok Global

Di luar isu senjata, fokus internasional kini mengarah pada kepentingan sumber daya di Venezuela. Para analis menilai cadangan logam tanah jarang Venezuela berpotensi mencapai sekitar setengah cadangan Tiongkok. Mengingat Tiongkok dan Iran telah menembus rantai pasok Venezuela secara mendalam, langkah AS dipandang sebagai bagian dari strategi besar restrukturisasi sumber daya global—menghubungkan Belahan Barat dan Asia, dengan Venezuela sebagai salah satu simpul kunci.

Titik Balik Strategis

Dengan latar itu, berbagai kalangan menilai operasi di Venezuela bukan sekadar aksi militer atau pergantian rezim, melainkan titik balik strategis yang dapat membentuk ulang rantai pasok global untuk 10–20 tahun ke depan. Di saat yang sama, sinyal-sinyal dari Washington—di tengah Revolusi Iran hari ke-15—menunjukkan bahwa dinamika geopolitik kawasan dan dunia tengah memasuki fase yang jauh lebih menentukan.

Darah di Jalanan Iran: Korban Diduga Tembus 2.000, Mossad Kirim Pesan Rahasia

EtIndonesia. Situasi keamanan di Iran terus memburuk seiring berlanjutnya gelombang besar aksi protes anti-pemerintah yang menyapu berbagai wilayah negara tersebut. Pada 10 Januari 2026, sejumlah laporan media internasional mengungkapkan bahwa aparat keamanan Iran semakin mengintensifkan tindakan represif, bahkan menggunakan persenjataan militer berat terhadap demonstran damai.

Senjata Berat Digunakan di Kota-kota yang Lepas dari Kendali Pemerintah

Menurut laporan Iran International, di sejumlah kota menengah Iran yang dilaporkan telah terlepas dari kendali efektif pemerintah pusat, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dikerahkan secara penuh. Pasukan ini dilaporkan menggunakan senapan mesin berat, senjata otomatis, serta berbagai jenis persenjataan militer untuk membubarkan dan menyerang massa demonstran yang tidak bersenjata.

Tindakan tersebut menandai eskalasi signifikan dalam metode penindasan, dari sebelumnya penggunaan gas air mata dan peluru karet, menjadi kekuatan mematikan berskala militer.

Korban Tewas dan Penangkapan Terus Bertambah

Berdasarkan laporan Associated Press (AP), hingga 10 Januari, sedikitnya 538 orang telah tewas dalam aksi protes di berbagai wilayah Iran. Dari jumlah tersebut, 490 korban merupakan demonstran, sementara 48 lainnya adalah personel keamanan. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan telah ditahan oleh aparat negara.

Namun demikian, sejumlah sumber lokal dan jaringan aktivis HAM menyatakan bahwa angka resmi tersebut kemungkinan besar jauh di bawah kondisi sebenarnya. Menurut perkiraan mereka, jumlah demonstran yang tewas diduga telah melampaui 2.000 orang, terutama akibat tembakan langsung di jalanan dan operasi pembersihan malam hari.

Amerika Serikat Evaluasi Berbagai Opsi terhadap Iran

Di tengah eskalasi kekerasan tersebut, dua pejabat Amerika Serikat mengungkapkan kepada CNN bahwa Presiden Donald Trump tengah mengevaluasi berbagai opsi strategis terkait Iran. Opsi-opsi tersebut meliputi:

  • Serangan siber terhadap infrastruktur rezim Iran
  • Pengetatan sanksi ekonomi
  • Dukungan daring dan teknologi bagi demonstran
  • Hingga kemungkinan intervensi militer langsung

Meski demikian, hingga laporan ini disusun, belum ada keputusan final yang diambil oleh Gedung Putih.

Iran Minta Bantuan Milisi Irak

Sementara itu, Fox News, mengutip pejabat Amerika Serikat, melaporkan bahwa pemerintah Iran telah meminta bantuan kelompok bersenjata Irak, termasuk Kataib Hezbollah, untuk membantu menekan dan mengendalikan gelombang protes yang semakin meluas.

Langkah ini dipandang sebagai indikasi bahwa kapasitas aparat keamanan domestik Iran mulai tertekan, sehingga rezim berupaya mengandalkan jaringan milisi regional yang selama ini berada dalam orbit pengaruh Teheran.

Pernyataan Militer Iran Dinilai Bersifat Defensif

Pada 10 Januari, The Wall Street Journal melaporkan bahwa militer reguler Iran merilis sebuah pernyataan resmi. Dalam pernyataan tersebut, militer menyatakan akan:

  • Melindungi kepentingan nasional
  • Menjaga infrastruktur strategis
  • Mengamankan properti publik

Pernyataan itu juga menuding Israel dan kelompok “musuh” sebagai pihak yang berupaya mengacaukan keamanan publik Iran.

Namun, sejumlah analis menilai pernyataan tersebut bersifat sangat umum dan defensif, serta tidak secara eksplisit menyebutkan keterlibatan langsung militer reguler dalam penindasan terhadap demonstran. Hal ini memicu spekulasi bahwa terdapat keretakan atau perbedaan sikap internal antara militer reguler dan Korps Garda Revolusi.

Laporan Eksekusi Perwira IRGC dan Dugaan Pelarian Elite Agama

Kabar terbaru yang beredar menyebutkan bahwa Kolonel Mehdi Rasimi, seorang perwira yang bertanggung jawab memimpin pasukan Garda Revolusi di wilayah tertentu, diduga telah dieksekusi oleh demonstran anti-pemerintah. Hingga kini, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Selain itu, beredar pula laporan belum terkonfirmasi yang menyebutkan bahwa sejumlah Ayatollah Republik Islam Iran beserta anggota keluarganya terlihat di Bandara Moskow, Rusia, diduga sedang berupaya melarikan diri dari Iran di tengah memburuknya situasi keamanan.

Starlink Tembus Blokade Internet Iran

Selama aksi protes berlangsung, kelompok perlawanan berbasis teknologi dilaporkan memanfaatkan layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk untuk menembus blokade internet nasional yang diberlakukan pemerintah Iran.

Melalui koneksi ini, para aktivis berhasil mengirimkan rekaman video, foto, dan informasi lapangan secara real time ke luar negeri. Meskipun pemerintah Iran berusaha mengganggu dan memutus koneksi, tingkat keberhasilan sambungan dilaporkan tetap mencapai 90,71%, sebuah angka yang dinilai sangat tinggi dalam kondisi represi digital.

Pesan Mossad dan Sinyal Intervensi

Pada 10 Januari, The Jerusalem Post melaporkan bahwa badan intelijen Israel, Mossad, telah menyampaikan pesan dalam bahasa Persia yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran. Pesan tersebut berbunyi: “Saatnya telah tiba. Kami bersama kalian—di jalanan.”

Pesan ini dipandang sebagai sinyal psikologis dan politik yang kuat, menunjukkan bahwa krisis Iran telah menarik perhatian serius aktor-aktor intelijen regional.

Media Amerika Serikat juga melaporkan bahwa Presiden Trump telah menerima sejumlah pengarahan informal terkait kemungkinan intervensi militer terhadap Iran, dan dijadwalkan mengikuti pengarahan resmi pada hari Selasa.

Dunia Menanti Langkah Trump

Para pengamat internasional menilai bahwa gaya kepemimpinan Donald Trump yang kerap bertindak di luar pola diplomasi konvensional berpotensi kembali mengejutkan dunia. Mereka membandingkan situasi ini dengan penangkapan hidup-hidup Nicolás Maduro, yang sebelumnya juga terjadi secara tak terduga.

Dengan Iran kini berada di titik kritis, banyak pihak menilai bahwa langkah Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan dapat menentukan arah masa depan Iran—dan stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.