Insiden Kebakaran Besar Seperti di Hong Kong Terulang — Sebuah Gedung Tinggi di Hunan, Tiongkok, Dilalap Api

Pada 10 Januari 2026 waktu setempat, sebuah bangunan di Kota Changsha, Provinsi Hunan, Tiongkok, mengalami kebakaran hebat. Api dengan cepat merambat ke bagian atas gedung melalui perancah luar.  Pemandangan kebakaran tersebut mirip dengan kebakaran besar di Wang Fuk Court (宏福苑) Hong Kong yang terjadi sebelumnya.

EtIndonesia. Pada malam 10 Januari 2026, sebuah bangunan proyek konstruksi di tepi jalan di Distrik Tianxin, Kota Changsha, terbakar. Hingga sekitar pukul 23.00 , api terbuka baru berhasil dipadamkan.

Berdasarkan rekaman video yang beredar di internet, bangunan yang terbakar diperkirakan memiliki sekitar sepuluh lantai. Setelah kebakaran terjadi, api dengan cepat menjalar hingga ke puncak gedung. Asap tebal membumbung ke langit, dan cahaya api menerangi area proyek konstruksi di sekitarnya.

Warga sekitar mengatakan kepada reporter Jimu News bahwa kebakaran terjadi sekitar pukul 21:25. Pada awalnya api terlihat kecil dan ia mengira seseorang sedang menyalakan api untuk menghangatkan diri. Namun, api kemudian semakin membesar, dan fasilitas penahan debu pada perancah konstruksi ikut terbakar sehingga api tampak sangat besar.

Seorang pedagang lain menyebutkan bahwa lantai paling bawah gedung tersebut adalah deretan toko, sementara di dalam gedung terdapat hotel dan hunian. Saat kebakaran terjadi, belum diketahui apakah ada orang di dalam gedung.

Menurut keterangan, karena pembangunan jalur kereta bawah tanah setempat, bagian luar gedung tersebut telah lama dipagari dengan jaring pelindung. Kebakaran kali ini dengan cepat menyebar hingga ke atap karena jaring pelindung tersebut ikut terbakar.

Departemen pemadam kebakaran Changsha kemudian mengumumkan bahwa pada pukul 21:25 malam pada 10 Januari, terjadi kebakaran di sebuah proyek konstruksi di No. 137 Jalan Shaoshan Selatan, Komunitas Meiling, Jalan Wen Yuan, Distrik Tianxin. Pihak berwenang menyatakan bahwa setelah verifikasi di lokasi, tidak ada orang yang terjebak, dan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Kebakaran ini mengingatkan publik pada kebakaran besar di Wang Fuk Court, Hong Kong, yang terjadi belum lama ini. Dalam kasus tersebut, jaring pelindung yang terbakar juga memperparah bencana. Jaring pelindung semacam ini sebagian besar berasal dari daratan Tiongkok.

Kebakaran Wang Fuk Court di Hong Kong terjadi pada 26 November 2025. Dari delapan gedung, tujuh diantaranya terbakar. Pihak berwenang menyatakan bahwa kebakaran tersebut menewaskan 161 orang dan melukai 79 lainnya, menjadikannya kebakaran dengan jumlah korban terbesar di Hong Kong dalam kurun waktu hampir 70 tahun terakhir. (Hui)

Ketika Rakyat Menantang Takdir: Iran Menggugat Kekuasaan Ulama

EtIndonesia. Situasi di Iran kini memasuki titik paling berbahaya dalam lebih dari empat dekade terakhir—sebuah fase kritis yang tidak hanya menentukan nasib rezim berkuasa, tetapi juga berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara menyeluruh.

Dalam beberapa hari terakhir, gelombang protes nasional di Iran resmi memasuki fase kedua, yang oleh banyak analis disebut sebagai fase “penentuan hidup dan mati”. Ini bukan lagi rangkaian demonstrasi sporadis, melainkan konfrontasi terbuka antara rezim teokratis yang dipimpin ulama dengan rakyat penentang kekuasaan Republik Islam.

Protes Terbesar Sejak 1979, Menyapu 115 Kota

Berbagai media internasional dan regional melaporkan bahwa gelombang perlawanan ini merupakan yang terbesar dan paling intens sejak Revolusi Iran 1979, sekaligus yang paling luas selama 46 tahun kekuasaan kelompok ulama.

Aksi protes tercatat telah terjadi di sedikitnya 115 kota, belum termasuk puluhan kota kecil dan wilayah pedesaan yang tidak terdata secara resmi. Untuk pertama kalinya, terbentuk koordinasi nasional lintas wilayah dan lintas kelas sosial, sebuah fenomena yang belum pernah terlihat dalam sejarah modern Iran.

Teheran dan Mashhad: Kota Besar Masuk Kondisi Setengah Perang

Pada malam 7–8 Januari 2026, jumlah demonstran di Teheran dan Mashhad—kota terbesar kedua Iran—diperkirakan melampaui satu juta orang.

Massa meneriakkan slogan seperti “Ini adalah pertempuran terakhir!” sambil mendorong garis pertahanan aparat keamanan. Bentrokan frontal berlangsung selama berjam-jam antara demonstran dan Garda Revolusi Islam (IRGC), milisi Basij, serta kepolisian nasional. Banyak wilayah kota berubah menjadi zona bentrokan intens, menciptakan kondisi yang oleh warga setempat digambarkan sebagai “setengah perang”.

Di kawasan Haft-e-Hoz, Teheran, sebuah gedung resmi pemerintah dibakar oleh massa. Di berbagai distrik, demonstran mengibarkan bendera Pahlavi, simbol dinasti Iran sebelum Revolusi Islam—sebuah tindakan yang secara terbuka menantang legitimasi Republik Islam Iran.

Tekanan Massa Memukul Mundur Aparat di Sejumlah Kota

Di wilayah Ashrafi, Isfahan, pasukan keamanan dilaporkan mundur tergesa-gesa akibat tekanan besar dari demonstran, mencerminkan melemahnya kontrol keamanan di tingkat lapangan.

Situasi semakin genting ketika massa sempat bergerak hingga Jalan Pirouz, hanya beberapa ratus meter dari markas pusat IRGC. Meski akhirnya dipukul mundur melalui serangan balasan besar-besaran, insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya garis pertahanan rezim.

Di Mashhad, massa berhasil memaksa IRGC dan milisi Basij menarik diri dari sejumlah wilayah strategis. Kota ini memiliki nilai simbolik tinggi, karena merupakan kampung halaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Hamedan, Ardabil, Isfahan: Kota-kota Jatuh ke Tangan Massa

Di Hamedan, demonstran menggunakan batu bata, bom molotov, bahkan senjata api untuk memukul mundur aparat dan mengambil alih operasional kota. Hamedan menjadi kota keempat yang dilaporkan “jatuh ke tangan massa” setelah Karaj, Malayer, dan Abdanan.

Bentrok keras juga terjadi di Isfahan, di mana fasilitas luar IRGC dibakar. Mahasiswa, buruh, guru, dan pedagang terlihat berada di garis depan, menandai partisipasi lintas kelas sosial yang membuat gerakan ini semakin sulit dibendung.

Di Ardabil, kantor polisi dibakar. Rekaman video memperlihatkan tarik-ulur sengit antara massa dan aparat, dengan pemandangan yang menyerupai pertempuran kota.

Perlawanan Simbolik Kaum Perempuan Iran Mengguncang Dunia

Salah satu pemandangan paling mengguncang datang dari perempuan muda Iran. Beberapa di antaranya merobek jilbab mereka di depan aparat bersenjata, berteriak: “Lindas aku dengan kendaraanmu!”

Aksi ini dipandang luas sebagai penolakan total terhadap rasa takut, sekaligus simbol runtuhnya kontrol psikologis rezim terhadap generasi muda Iran.

Korban Jiwa dan Penangkapan Massal

Hingga 8 Januari 2026, sedikitnya 41 orang tewas, sementara lebih dari 2.200 orang ditangkap, termasuk pelajar, buruh, hingga pengusaha. Dalam satu malam saja, seorang remaja 17 tahun tewas di lokasi, dan seorang pemuda 18 tahun meninggal dunia di rumah sakit. Ratusan orang dari kedua pihak mengalami luka-luka.

Internet Diputus Total, Starlink Jadi Jalur Kehidupan

Menghadapi eskalasi yang makin liar, Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, sempat berencana menyerukan mobilisasi nasional daring dan transisi ke fase perlawanan bersenjata.

Namun, pemerintah Iran segera memutus total akses internet nasional, sebuah langkah yang oleh banyak analis dipandang sebagai sinyal akan dimulainya pembersihan berdarah skala besar.

Sebelum pemadaman total, Elon Musk mengumumkan pembukaan layanan Starlink gratis bagi demonstran Iran. Banyak perangkat Starlink yang masih tersisa sejak protes 2022, dan hingga kini dinilai sulit dinetralisasi oleh pemerintah.

Seruan Terbuka ke Trump dan Netanyahu

Di Mashhad, demonstran secara terbuka menyerukan bantuan kepada Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa rakyat Iran sedang dibantai dan meminta dukungan internasional agar Pahlavi dapat kembali ke Iran—sebuah langkah yang sangat jarang terjadi dalam sejarah Iran modern.

8 Januari: Ancaman Trump dan Isu Pelarian Khamenei

Pada 8 Januari 2026, Trump mengeluarkan peringatan ketiga kepada kelompok ulama Iran, menegaskan bahwa jika penindasan berlanjut, Amerika Serikat akan memberikan pukulan keras. Dia juga secara terbuka mengklaim bahwa Khamenei tengah bersiap melarikan diri dari Teheran, disertai ancaman militer yang sangat gamblang.

Pernyataan ini langsung mengguncang opini publik internasional dan memperparah ketegangan AS–Iran.

Emas, Moskow, dan Bayang-bayang Skenario Suriah

Hampir bersamaan, kalangan diplomatik dan intelijen melaporkan bahwa Teheran diam-diam memindahkan cadangan emas dan dokumen negara penting ke luar negeri, dengan Moskow disebut sebagai tujuan utama. Meski dibantah pemerintah Iran, laporan eksklusif media Inggris memperkuat kecurigaan tersebut.

Banyak pihak membandingkan situasi ini dengan nasib mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang akhirnya berlindung di Rusia setelah kekuasaannya runtuh.

Militer AS Bergerak, Dunia Evakuasi Warga

Menurut Reuters, Komando Eropa militer AS mempercepat penempatan pasukan di sekitar Iran. Berbagai pesawat militer dikerahkan, dan Delta Force dilaporkan telah menyelesaikan penempatan garis depan di perbatasan Irak–Iran.

Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, India, dan Ukraina mengeluarkan peringatan perjalanan tingkat tertinggi dan memerintahkan warganya segera meninggalkan Iran.

Pidato Penentu Reza Pahlavi, 12 Januari

Media Jerusalem Post melaporkan bahwa Reza Pahlavi akan menyampaikan pidato penting pada 12 Januari 2026 di Mar-a-Lago, yang dipandang sebagai pernyataan arah transformasi politik Iran ke depan.

Iran di Persimpangan Sejarah

Saat ini, Iran telah menutup seluruh wilayah udaranya, sementara sistem pertahanan udara berada pada status siaga tingkat satu. BBC sebelumnya mengutip sumber yang menyebut Khamenei telah melarikan diri ke Moskow dengan membawa sekitar 95 miliar dolar AS aset, meski klaim ini belum terverifikasi.

Namun, rumor itu saja sudah cukup mengguncang fondasi rezim.

Jika rezim teokratis runtuh, sanksi Barat hampir pasti akan dicabut. Dengan cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia, Iran berpotensi mengalami transformasi ekonomi besar dalam waktu singkat—dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, harapan akan masa depan yang lebih sejahtera kembali terbuka bagi rakyatnya.

Menargetkan ISIS, Militer AS Luncurkan Serangan Udara Skala Besar di Suriah

EtIndonesia. Sebagai tanggapan atas serangan yang terjadi pada 13 Desember tahun lalu, ketika pasukan Amerika dan Suriah diserang oleh kelompok ekstremis “Negara Islam” (Islamic State) di Palmyra (Tadmur) yang menyebabkan tiga warga Amerika tewas, Komando Pusat AS pada Sabtu (10 Januari) menyatakan bahwa mereka telah melancarkan beberapa serangan udara “berskala besar”. Namun, tidak disebutkan apakah operasi tersebut menimbulkan korban jiwa.

Komando Pusat AS menyampaikan melalui platform X bahwa:  “Serangan udara hari ini (10 Januari) menargetkan sasaran-sasaran ‘Negara Islam’ di wilayah Suriah. Ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan kami untuk memberantas terorisme Islam yang mengancam personel operasi kami, serta merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike.”

Dalam pernyataannya disebutkan bahwa operasi ini merupakan “respons langsung” atas serangan pada 13 Desember terhadap pasukan AS dan Suriah di Palmyra. Serangan tersebut menewaskan dua tentara Amerika dan satu penerjemah sipil.

Pernyataan itu juga menambahkan bahwa gelombang serangan ini dilakukan tak lama setelah siang hari waktu Pantai Timur Amerika Serikat, dengan tujuan memerangi terorisme serta melindungi keamanan pasukan Amerika dan sekutunya di kawasan tersebut.

Pernyataan tersebut menegaskan:  “Pesan kami selalu jelas dan kuat: siapa pun yang melukai personel operasi kami, di mana pun mereka bersembunyi di dunia ini dan bagaimanapun mereka berusaha menghindari keadilan, kami akan menemukan dan menghancurkan Anda.”

Menurut informasi yang diperoleh, pada 10 Januari militer AS mengerahkan lebih dari 20 pesawat tempur untuk melakukan pengeboman presisi terhadap 35 target.

Cheng Yi-ren – NTDTV.com

Perbankan Tetap Solid, OJK Tegaskan Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga hingga Akhir 2025

Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kinerja sektor perbankan nasional tetap solid dan resilien di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Penegasan tersebut disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK periode Desember 2025.

OJK menilai stabilitas sistem keuangan nasional berada dalam kondisi terjaga, dengan sektor perbankan tetap menjadi penopang utama intermediasi dan kepercayaan pasar.

Perbankan: Likuiditas Kuat, Risiko Terkendali

OJK mencatat fungsi intermediasi perbankan terus berjalan dengan baik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang positif dan sejalan dengan kebutuhan sektor riil. Likuiditas perbankan dinilai memadai, dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang berada jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga pada level yang aman. OJK menilai manajemen risiko perbankan cukup solid dalam menghadapi potensi tekanan global, termasuk ketidakpastian suku bunga dan volatilitas pasar keuangan internasional.

“Perbankan nasional memiliki bantalan permodalan dan likuiditas yang kuat untuk menyerap berbagai risiko,” ujar perwakilan OJK dalam konferensi pers tersebut.

OJK juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengawasan prudensial serta mendorong perbankan menjaga prinsip kehati-hatian, khususnya dalam penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.

Pasar Modal: Volatil, namun Fundamenta Tetap Terjaga

Di sektor pasar modal, OJK mencatat adanya volatilitas seiring perkembangan sentimen global. Namun demikian, fundamental emiten dan partisipasi investor domestik dinilai tetap kuat, sehingga mampu meredam tekanan eksternal.

Industri Keuangan Non-Bank (IKNB): Tumbuh Selektif

Sektor IKNB menunjukkan pertumbuhan yang lebih selektif dengan profil risiko yang relatif terkendali. OJK terus mendorong penguatan tata kelola dan perlindungan konsumen di tengah inovasi produk dan layanan keuangan.

Keuangan Syariah dan Digital: Potensi Terus Dikembangkan

OJK juga menyoroti perkembangan positif sektor keuangan syariah serta transformasi digital jasa keuangan. Penguatan regulasi dan pengawasan diarahkan agar inovasi berjalan seimbang dengan stabilitas dan perlindungan konsumen.

Outlook 2026: OJK Perkuat Sinergi dan Pengawasan

Memasuki 2026, OJK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Archipelago International Hadirkan Sensasi Street Food Seoul di Indonesia Lewat “60 Seconds to Seoul”

Malang, 10 Desember 2025 – Guna merespons tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea, Archipelago International, grup manajemen perhotelan terbesar di Asia Tenggara, meluncurkan program pop-up kuliner bertajuk “60 Seconds to Seoul”. Program yang merupakan bagian dari Archipelago Global Flavours Series ini akan menghadirkan cita rasa otentik street food Seoul di seluruh jaringan hotel Archipelago di Indonesia, termasuk The Alana Hotel Malang, mulai Januari hingga Juni 2026.

Berdasarkan Survei Hallyu Luar Negeri 2024 oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, Indonesia mencatat ketertarikan tertinggi secara global terhadap budaya Korea, dengan 86,3% responden menunjukkan minat kuat, termasuk dalam hal kuliner.

“Kami menghadirkan 60 Seconds to Seoul untuk membawa cita rasa autentik street food Seoul lebih dekat ke Indonesia. Inisiatif ini akan berganti setiap enam bulan dengan menampilkan ragam street food dari berbagai negara,” jelas John Flood, CEO Archipelago.

Menu Terjangkau dengan Rasa Autentik
Dengan harga mulai dari Rp 38.000, para tamu dapat menikmati berbagai hidangan populer khas Korea seperti:

  • Tteokbokki
  • Korean Cheese Burger
  • Gangnam Hot Chicken
  • Soko Fish Taco
  • Kimchi Fried Rice

Pengalaman bersantap dilengkapi dengan pilihan dessert seperti Jeju Matcha Puff dan Baesuk Pear, serta minuman segar seperti Sparkling Yuzu HoneyShiye FizzMaesil Mojito, dan Omija Cooler.

Kemudahan Akses Layanan
Menu “60 Seconds to Seoul” tidak hanya tersedia di restoran hotel, tetapi juga dapat dinikmati di area poolside, melalui room service, dan layanan pesan antar seperti GoFood dan GrabFood. Hal ini memungkinkan baik tamu hotel maupun masyarakat umum untuk menikmati sajian ini dengan mudah.

Tentang Archipelago International
Archipelago International mengoperasikan lebih dari 45.000 kamar di 300+ hotel di Asia Tenggara, Amerika Latin, Karibia, Timur Tengah, dan Oseania. Grup ini memiliki 13 merek pemenang penghargaan, termasuk Aston, Alana, Huxley, dan Quest, dengan pendekatan berbasis teknologi dan tata kelola yang kuat.

Cintailah Apa yang Telah Kamu Miliki

EtIndonesia. Pada tahun 1929, saat pasar saham New York runtuh, seorang pemilik perusahaan besar di Amerika Serikat pulang ke rumah dengan wajah muram dan hati penuh kecemasan.

“Ada apa, sayang?” tanya istrinya dengan senyum lembut.

“Habis sudah! Habis semuanya!” katanya terisak.  “Pengadilan telah menyatakan aku bangkrut. Besok, seluruh harta di rumah ini akan disita.”

Mendengar itu, sang istri bertanya pelan: “Apakah tubuhmu juga ikut disita?”

“Tidak,” jawabnya sambil mengangkat kepala, bingung.

“Kalau begitu, apakah aku—istrimu—ikut disita?”

“Tidak,” katanya lagi, menyeka air mata dan menatap istrinya dengan putus asa.

“Lalu anak-anak kita?”

“Mereka masih kecil. Urusan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.”

Istrinya tersenyum dan berkata dengan tenang: “Kalau begitu, bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa seluruh harta kita akan disita? Kamu masih memiliki seorang istri yang mendukungmu, anak-anak yang penuh harapan, pengalaman hidup yang berharga, serta kesehatan dan kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan. Adapun kekayaan yang hilang, anggap saja sebagai jerih payah masa lalu yang belum membuahkan hasil. Bukankah itu masih bisa kamu usahakan kembali?”

Tiga tahun kemudian, perusahaannya kembali bangkit dan terpilih sebagai salah satu dari lima perusahaan terbaik versi majalah Fortune. Semua perubahan itu bermula dari beberapa kalimat bijak sang istri.

Renungan / Hikmah Cerita

Saat kamu merasa terpuruk, cobalah membuat daftar aset kehidupan secara rinci:
– Apakah kamu masih memiliki tangan dan kaki yang utuh?
– Apakah kamu memiliki tubuh yang sehat dan otak yang mampu berpikir?
– Apakah kamu punya keluarga, sahabat, pasangan, atau anak-anak?
– Apakah kamu memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keahlian tertentu?

Arahkan perhatianmu pada apa yang kamu miliki, bukan pada apa yang hilang atau belum kamu dapatkan.

Ketika kamu melakukannya, kamu akan menyadari bahwa—ternyata—kamu sudah cukup beruntung dan bahagia.(jhn/yn)

Revolusi Terbuka! Iran Bergolak, Simbol Rezim Dibakar, Masjid Dibakar, Jutaan Rakyat Turun ke Jalan

EtIndonesia. Situasi di Iran dalam dua hari terakhir hanya dapat digambarkan dengan satu kenyataan pahit: sebuah rezim sedang menghadapi ancaman runtuh dari akar-akarnya. Gelombang perlawanan rakyat yang meletus sejak awal Januari kini telah berkembang menjadi revolusi nasional terbuka, dengan skala, intensitas, dan keberanian yang belum pernah terlihat sepanjang 46 tahun kekuasaan rezim teokrasi Iran.

Api yang menyala di tanah Persia bukan lagi sekadar simbol kemarahan—dia telah menjelma menjadi titik balik sejarah. Bagi sebagian pengamat, ini adalah akhir sebuah zaman. Bagi yang lain, inilah kelahiran kembali peradaban Persia yang lama terkungkung.

Gelombang Nasional: 1,8 Juta Warga Turun ke Jalan di 180 Kota

Menurut data lapangan yang masih terus diverifikasi, dalam satu malam pada 8 Januari 2026, sekitar 1,8 juta warga Iran turun ke jalan di sekitar 180 kota, mencakup seluruh 31 provinsi. Aksi yang sebelumnya disebut “demonstrasi” kini secara terbuka dinamai oleh rakyat Iran sendiri sebagai “Revolusi Nasional Iran”.

Di ibu kota Teheran, pemandangan dari udara memperlihatkan kota yang nyaris diliputi cahaya api. Gedung-gedung pemerintahan dibakar, simbol-simbol kekuasaan rezim dihancurkan, bahkan masjid-masjid yang selama puluhan tahun menjadi pilar legitimasi politik rezim agama ikut menjadi sasaran amuk massa.

Media resmi Iran mengonfirmasi bahwa setidaknya 25 masjid dibakar di Teheran hanya dalam satu malam.

Masjid Al-Rasul Dibakar: Simbol Titik Tanpa Jalan Mundur

Peristiwa paling mengguncang terjadi di Masjid Al-Rasul, sebuah masjid besar dan bersejarah di wilayah barat laut Teheran. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol langsung kekuasaan ideologis rezim teokrasi.

Pembakaran masjid tersebut dipandang sebagai pesan paling tegas dari rakyat: tidak ada lagi kompromi, tidak ada lagi jalan kembali.

Slogan yang menggema di berbagai kota pun terdengar seragam dan terang-terangan: “Gulingkan Khamenei!”

Represi Berdarah: Ratusan Korban, Rumah Sakit Lumpuh

Sejarah mencatat bahwa rezim otoriter yang mendekati kejatuhan sering kali menjadi semakin brutal—dan Iran kini menunjukkan pola yang sama.

Seorang dokter di Teheran, yang berbicara dengan mempertaruhkan nyawanya, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, hanya di enam rumah sakit ibu kota, dia menyaksikan setidaknya 217 demonstran tewas.

Sebagian besar korban meninggal akibat luka tembak, dengan kondisi yang digambarkan para tenaga medis sebagai “sangat mengerikan”. Para dokter dan perawat mengakui bahwa angka kematian sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan data yang dirilis organisasi HAM.

Rumah sakit dilaporkan kewalahan, kekurangan ruang, dan nyaris lumpuh.

Sebuah rekaman yang beredar luas memperlihatkan jenazah para demonstran diangkut dan ditumpuk dalam kantong plastik hitam, dipindahkan secara senyap ke sebuah gedung di Teheran—sebuah pemandangan yang memperkuat tuduhan pembantaian tersembunyi.

Keberanian di Hadapan Senjata: Aparat Mulai Ragu

Di tengah laras senjata, rakyat Iran justru menunjukkan keberanian yang mencengangkan. Mereka tidak mundur—sebaliknya, semakin banyak warga berdiri menghadapi aparat dengan kepala tegak.

Sebuah video viral memperlihatkan sepasang pria dan wanita, diduga pasangan kekasih, bergandengan tangan, merentangkan kedua lengan, dan berjalan lurus menuju barisan senjata aparat. Adegan ini mengguncang dunia.

Menurut informasi yang beredar, aparat tidak menembak, bahkan sebagian dilaporkan menurunkan senjata mereka.

Fenomena ini memunculkan tanda-tanda serius bahwa mesin represi rezim mulai retak dari dalam.

Aparat Menghilang, Kota Dikuasai Massa

Hingga malam 8 Januari, di sebagian besar wilayah Teheran, kehadiran polisi dan militer tiba-tiba menghilang. Militer bahkan menyerukan warga sipil untuk “membantu menggagalkan konspirasi musuh”—sebuah sinyal bahwa kendali lapangan mulai lepas.

Lapangan, jalan utama, dan kawasan pemukiman dipenuhi lautan manusia. Di saat yang sama, elite pendukung Ali Khamenei dilaporkan mulai meninggalkan posisi mereka.

Mashhad Jatuh: Media Negara Direbut Massa

Di Mashhad, kota terbesar ketiga Iran, demonstran menurunkan dan merobek bendera besar Republik Islam Iran, lalu mengambil alih kantor pusat televisi dan radio nasional setempat—sebuah langkah simbolik dan strategis yang menunjukkan runtuhnya kontrol narasi rezim.

Perlawanan terhadap Teknologi Represi: Kamera Buatan Tiongkok Dihancurkan

Fenomena mencolok lain dalam revolusi ini adalah penghancuran massal kamera pengawas buatan Tiongkok, khususnya merek Hikvision, yang selama bertahun-tahun digunakan rezim untuk memantau dan mengidentifikasi demonstran.

Di kota-kota besar maupun kecil, warga menggunakan tangga, batu, dan alat seadanya untuk menghancurkan kamera-kamera tersebut. 

Slogan yang diteriakkan berbunyi: “Jika kalian melarang kami bersuara, kami akan mencungkil mata kalian!”

Selongsong gas air mata bertuliskan “Made in China” ditemukan di jalanan Teheran, bahkan di stasiun metro, tempat gas air mata tetap digunakan meski ruang tertutup dan berisiko mematikan.

Internet Diputus, Starlink Menjadi Penyelamat

Pada 8 Januari, pemerintah Iran memberlakukan pemutusan internet nasional, bahkan memutus jaringan telepon kabel di sejumlah wilayah. Namun langkah ini gagal total.

Jaringan Starlink milik Elon Musk kembali menjadi jalur komunikasi vital. Foto-foto warga Iran memegang perangkat Starlink menyebar ke seluruh dunia.

Melalui sinyal ini, dunia menyaksikan perempuan Iran membakar jilbab, demonstran membakar foto Khamenei, gedung pemerintah dilalap api, dan bendera Singa dan Matahari era Dinasti Pahlavi dikibarkan di jalanan.

Simbolisme Global: X Ganti Bendera Iran

Pada 9 Januari 2026, platform X mengambil langkah simbolis yang mengejutkan: mengganti ikon bendera Iran. Simbol Republik Islam digantikan oleh bendera Singa dan Matahari.

Langkah ini dipandang sebagai pukulan simbolik langsung terhadap legitimasi rezim Teheran di panggung media global.

Ironisnya, Ali Khamenei sendiri memiliki akun di X. Tak lama setelah perubahan tersebut, dia menghapus simbol bendera Iran dari profilnya, seolah menyadari bahwa simbol itu tak lagi dapat dia pertahankan.

Elite Kabur, Listrik Dipadamkan

Ketika internet gagal dihentikan, rezim beralih ke pemadaman listrik di sejumlah wilayah Teheran. Namun para demonstran menyalakan lampu ponsel, mengubah kegelapan menjadi simbol kekuatan massa.

Sementara itu, laporan menyebutkan elite penguasa mulai melarikan diri. Menteri Luar Negeri Iran, Aragchi, dilaporkan membawa keluarganya ke Beirut, Lebanon. Keluarga Ketua Parlemen Ghalibaf disebut telah mengajukan visa ke Prancis.

Sikap AS Berubah: Tekanan Maksimum Kembali Diterapkan

Pada 9 Januari 2026, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keras terakhir kepada rezim Iran, menegaskan bahwa Teheran tidak boleh menguji tekad Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang menuju kebebasan terbesar dalam sejarahnya, dan AS siap membantu.

Media AS melaporkan bahwa kabinet Trump menggelar rapat darurat, membahas opsi serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran.

Senator Lindsey Graham menyampaikan pesan terbuka kepada rakyat Iran: “Mimpi buruk panjang kalian hampir berakhir. Keberanian kalian telah diperhatikan. Tuhan memberkati kalian—bantuan sedang menuju ke sana.”

Penutup: Kebangkitan Persia di Ambang Sejarah

Iran kini berdiri di persimpangan sejarah. Rezim ingin menyeret negara itu ke Abad Pertengahan, tetapi rakyatnya menyambut kebebasan dengan darah, api, dan keberanian.

Ketika demonstran Iran menurunkan bendera rezim di Kedutaan Besar Iran di London dan mengibarkan bendera Singa dan Matahari, banyak yang percaya bahwa secara spiritual dan historis, era teokrasi Iran telah berakhir—meski pertarungan terakhir masih berlangsung.

Dunia sedang menyaksikan: bukan sekadar protes, melainkan kebangkitan sebuah peradaban.

Memanfaatkan Sifat Egois

EtIndonesia. Seorang psikolog di Amerika Serikat pernah melakukan sebuah eksperimen menarik di sebuah kolam renang terbuka. Dia sengaja mengatur berbagai skenario orang yang “tenggelam”, lalu mengamati berapa banyak orang yang akan terjun untuk menolong. Hasilnya cukup menggelitik dan mengundang renungan.

Dalam eksperimen yang berlangsung selama satu tahun itu, ketika yang “tenggelam” adalah seorang lansia berambut putih, tercatat 20 orang yang melakukan penyelamatan. Ketika yang “tenggelam” adalah seorang anak, jumlah penolong meningkat menjadi 32 orang. Namun saat yang “tenggelam” adalah seorang wanita muda, jumlah orang yang melompat untuk menolong melonjak hingga 50 orang.

Psikolog tersebut menyimpulkan bahwa eksperimen ini membuktikan adanya kecenderungan egois dalam sifat manusia. Meskipun secara lahiriah sama-sama menolong orang, pada detik seseorang melompat ke air, sesungguhnya ada dorongan batin tertentu yang memengaruhi keputusan itu.

Eksperimen ini mengingatkan pada sebuah kisah nyata di sekitar kita. Ada seorang karyawan yang terkenal sangat pelit. Setiap kali perusahaan mengadakan penggalangan dana, dia paling banyak hanya menyumbang satu yuan. Namun yang mengejutkan, baru-baru ini dia menjalin hubungan bantuan pendidikan dengan seorang siswa miskin di daerah pegunungan Zhejiang Utara, dan kali ini dia langsung mengeluarkan 1.000 yuan sekaligus.

Sebenarnya, di dalam hati setiap orang terdapat kecenderungan bawah sadar yang berlandaskan pada kepentingan diri sendiri. Terus terang saja, dibandingkan banyak orang bersama-sama membantu satu orang, membantu satu orang secara langsung jauh lebih memberikan rasa pencapaian dan harapan akan “imbalan” batin.

Manusia adalah “makhluk egois”, dan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Yang penting bukanlah menentang sifat ini, melainkan memahami dan memanfaatkannya dengan bijak.

Di pinggiran sebuah kota terdapat sebuah waduk yang setiap musim panas selalu dipenuhi para perenang. Padahal waduk tersebut merupakan sumber utama air baku bagi perusahaan air minum kota. Demi menjaga kebersihan air, pihak pengelola memasang banyak papan bertuliskan “Dilarang Berenang”. Namun hasilnya tidak memuaskan—orang-orang tetap berenang seperti biasa.

Kemudian, pihak pengelola mengganti semua papan larangan itu. Kali ini, papan pengumuman berbunyi: “Air yang Anda gunakan berasal dari sini. Demi kesehatan Anda dan keluarga, mohon jaga kebersihan.”

Hasilnya sangat berbeda. Hampir tidak ada lagi orang yang berenang di waduk tersebut.

Renungan / Hikmah Cerita

Sisi egois dalam diri manusia adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah menciptakan suasana “aku untuk semua, semua untuk aku”.

Kita tentu tahu bahwa dunia membutuhkan pengorbanan dan ketulusan. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, terlalu menekankan sikap “tanpa pamrih” justru sering kali tidak menghasilkan dampak yang efektif. Memahami sifat manusia, lalu mengarahkannya ke tujuan yang baik—itulah kebijaksanaan sejati.(jhn/yn)

Iran di Ambang Runtuh: Kota-Kota Memberontak, Emas Diselundupkan, “Pesawat Hari Kiamat” AS Muncul

EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran memasuki fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal Januari 2026, gelombang aksi protes anti-rezim meningkat tajam dan kini dilaporkan telah meluas ke lebih dari 100 kota di seluruh negeri. Demonstrasi berskala nasional ini diwarnai bentrokan keras, penindasan berdarah aparat keamanan, serta tanda-tanda awal runtuhnya kendali negara atas institusi keamanan dan keuangan.

Represi Berdarah dan Jebolnya Aparat Keamanan

Pada 8 Januari 2026, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menembaki massa demonstran di wilayah Fardis, menggunakan senapan mesin. Insiden ini menyebabkan puluhan korban jiwa, meskipun angka resmi belum dirilis pemerintah.

Sehari berselang, 9 Januari 2026, situasi kian memburuk. Warga dilaporkan menduduki Kantor Polisi Kriminal Babol serta Kantor Polisi Sektor 12 dan 13, dan berhasil menyita lebih dari 500 pucuk senjata api. Di kawasan elit Sa’adat Abad, Teheran, ribuan demonstran turun ke jalan tanpa perlawanan berarti dari aparat keamanan, sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari—simbol Iran pra-Revolusi 1979.

Beberapa laporan menyebut massa bahkan sempat menerobos kawasan hunian Pemimpin Tertinggi, menandai melemahnya kontrol keamanan di jantung kekuasaan.

Elite Politik Diduga Bersiap Pergi

Tekanan politik internal turut memicu kepanikan di kalangan elite. Sejumlah media Eropa, termasuk Le Figaro, melaporkan adanya perundingan internal tertutup dengan salah satu skenario utama: Ali Khamenei meninggalkan Iran demi menjaga kesinambungan rezim.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dikabarkan telah mengurus visa melalui pengacara di Paris. Kerabat mantan Presiden Hassan Rouhani juga disebut melakukan langkah serupa. Sumber diplomatik menyebut pejabat Iran menggunakan jalur perantara Oman untuk menghubungi otoritas Prancis demi pengurusan visa keluarga.

Paralel dengan itu, beredar informasi bahwa sejumlah besar emas tengah dipindahkan ke luar negeri menggunakan pesawat kargo Rusia, memperkuat dugaan persiapan pelarian elite rezim.

Krisis Keuangan dan Penarikan Dana Massal

Kepanikan melanda sektor keuangan. Media Iran Manoto melaporkan bahwa Bank Nasional Iran, bank terbesar di negara itu, mengalami penarikan dana besar-besaran, hingga terpaksa menghentikan layanan penarikan tunai di sejumlah cabang. Dugaan kuat mengarah pada pemindahan dana dalam jumlah sangat besar oleh kalangan elite dan pejabat tinggi.

Langkah AS: Sinyal Militer Muncul ke Permukaan

Di tengah kekacauan domestik Iran, pergerakan militer Amerika Serikat mulai menarik perhatian dunia. Pada 9 Januari 2026, pesawat Boeing 747 E-4B Nightwatch—dikenal luas sebagai “pesawat hari kiamat”—terpantau melakukan patroli malam hari. Ini merupakan kemunculan publik pertama dalam 51 tahun sejarah operasional pesawat tersebut.

Pesawat E-4B lepas landas dari Bandara Los Angeles sekitar pukul 14.30 waktu Pasifik, disertai pesawat angkut militer C-17 Globemaster III. Pemerintah AS belum memberikan penjelasan resmi, namun kemunculan ini dipandang sebagai sinyal strategis tingkat tinggi.

Pesawat E-4B merupakan pusat komando udara AS untuk skenario perang nuklir atau krisis nasional. Pesawat ini dirancang tahan pulsa elektromagnetik, gelombang kejut nuklir, serta mampu menjalankan misi lebih dari tujuh hari nonstop, dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara. Sistem komunikasinya mencakup antena tarik sepanjang lima mil untuk komunikasi dengan kapal selam nuklir, dan mampu menampung hingga 112 personel komando.

Pernyataan Trump dan Aktivitas Militer Tambahan

Sekitar pukul 16.30 waktu Pantai Timur AS, Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas: “Iran sedang menghadapi masalah besar. Jika mereka kembali membantai rakyatnya seperti sebelumnya, kami akan terlibat.”

Selain itu, analis militer di platform X melaporkan sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, melintasi Teluk Persia dan Irak dalam misi yang tidak diumumkan—ditafsirkan sebagai peningkatan kesiapan operasi udara AS.

Perang Informasi dan Reaksi Global

Kelompok peretas Anonymous pada 9 Januari sore mengumumkan peluncuran “Operasi Iran”, sebagai respons atas pemblokiran internet dan penindasan brutal aparat. Sementara itu, platform X dilaporkan mengganti emoji bendera Iran dengan simbol Singa dan Matahari—sebuah langkah simbolik yang menuai perhatian luas.

Saluran televisi Israel Channel 12 melaporkan badan intelijen Israel kini merevisi penilaian sebelumnya dan menganggap demonstrasi berpotensi menjatuhkan rezim.

Seruan Reza Pahlavi dan Ancaman Mogok Nasional

Aliansi Nasional Demokrasi Iran menyatakan bahwa Reza Pahlavi tengah mempersiapkan langkah untuk kembali ke Iran. Ia menyerukan mogok kerja nasional lintas sektor dan menyampaikan pesan keras:

“Jika rezim memutus internet, maka kita harus memutus sumber pendapatan mereka.”

Seruan tersebut memicu gaung luas, dengan banyak demonstran meneriakkan “Hidup Raja!”, menandai harapan akan perubahan politik besar di Iran.


Kesimpulan

Iran kini berada di titik kritis sejarahnya. Kombinasi protes nasional, retaknya aparat keamanan, kepanikan elite, krisis keuangan, serta sinyal militer Amerika Serikat menempatkan kawasan Timur Tengah—dan dunia—di ambang eskalasi besar. Apakah ini akan berujung pada perubahan rezim atau konflik internasional terbuka, masih menjadi pertanyaan yang membuat dunia menahan napas. (***)

Iran Memasuki Hari-hari Kritis: Penindasan Brutal, Ancaman Perang, dan Dunia Hadapi Kejatuhan Rezim

EtIndonesia.  Iran memasuki fase paling krusial sejak gelombang protes nasional pecah hampir dua pekan lalu. Pada Kamis–Jumat, 8–9 Januari 2026, aksi protes di berbagai wilayah Iran resmi memasuki hari ke-12, sebuah titik balik yang dinilai akan menentukan nasib rezim Republik Islam Iran.

Gelombang demonstrasi kali ini dipicu oleh seruan terbuka Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, yang mengajak rakyat turun ke jalan pada 8 dan 9 Januari untuk menuntut perubahan politik secara menyeluruh. Seruan tersebut direspons luas oleh masyarakat, dari ibu kota Teheran hingga kota-kota besar lain di seluruh negeri.

Namun, alih-alih membuka dialog, rezim Iran justru meningkatkan represi secara ekstrem.


Pidato Keras Khamenei dan Eskalasi Konfrontasi Terbuka

Pada 9 Januari, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tampil dalam pidato televisi nasional dengan nada paling keras sejak protes dimulai. Dalam pidato tersebut, Khamenei secara terbuka menghina Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyebutnya sebagai “tiran”, dan menuduh seluruh aksi protes di Iran sebagai konspirasi asing yang dikendalikan Washington dan Tel Aviv.

Khamenei mengklaim bahwa para demonstran hanyalah alat kekuatan asing untuk “menjilat Trump”, serta menegaskan bahwa seluruh korban tewas dan luka dalam aksi protes adalah tanggung jawab Amerika Serikat. Ia juga menyatakan tidak akan menyerah dan bahkan melontarkan ancaman akan “menggulingkan pemerintahan Trump”.

Tak lama setelah pidato tersebut, akun resmi Khamenei mempublikasikan 16 unggahan berturut-turut yang seluruhnya mengecam Amerika Serikat dan Israel atas dugaan campur tangan dalam urusan domestik Iran.


Penerbangan Dibatalkan, Internet Diputus, Ancaman Terbuka ke Warga

Seiring meningkatnya ketegangan, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Turki secara bersamaan mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan menuju Iran, menandai kekhawatiran regional yang semakin serius.

Di dalam negeri, setelah pemutusan total internet dan listrik di banyak wilayah, media nasional Iran untuk pertama kalinya mengakui keberadaan aksi protes—namun dengan narasi resmi yang menyalahkan “kelompok teroris asing” yang diklaim berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam siaran televisi nasional, rezim bahkan melontarkan ancaman terbuka kepada warga: “Jangan biarkan anak-anak Anda keluar malam ini. Jika mereka tertembak, jangan mengeluh.”

Sementara itu, radio dan televisi pemerintah melaporkan adanya demonstrasi pro-pemerintah di sejumlah kota, yang menuntut aparat keamanan menumpas “perusuh asing”.


Dunia Luar Menilai: Sinyal Awal Pembantaian Massal

Pengamat internasional menilai bahwa pemadaman total internet, listrik, dan pelabelan protes damai sebagai aksi terorisme merupakan pola klasik pembenaran menuju kekerasan massal.

Banyak analis membandingkan situasi ini dengan tragedi Tiananmen 4 Juni 1989, ketika rezim menjustifikasi penindasan dengan menuduh rakyat sebagai agen asing. Di media sosial, warganet menyindir narasi Teheran sebagai “lulusan sekolah propaganda PKT” atau “naskah resmi People’s Daily—resep lama, rasa sama”.


Korban Jiwa Membengkak, Rumah Sakit Dibungkam

Jurnalis oposisi Ilya Hashemi melaporkan bahwa berdasarkan kesaksian saksi mata dan seorang dokter bedah di Teheran, jumlah demonstran yang tewas di Teheran, Karaj, dan Shahriar dalam satu malam bahkan melampaui korban pertempuran militer.

Rumah sakit dilaporkan kewalahan, kamera pengawas dimatikan, dan seluruh informasi diblokade. Di Fardis, Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) disebut menggunakan metode penyapuan senapan mesin terhadap massa, menyebabkan puluhan korban luka dan tewas.


Bentrok Besar di Teheran dan Kota-Kota Lain

Pada  8 Januari dini hari, Jalan Pahlavi di Teheran dipenuhi massa yang berusaha menyerbu Kementerian Dalam Negeri. Dua bom molotov dilaporkan dilemparkan ke kompleks tersebut, membakar sebagian fasilitas keamanan. Pasukan keamanan kemudian membuka tembakan ke arah demonstran.

Laporan internal menyebutkan 42 bus dikerahkan ke rumah sakit Teheran untuk mengangkut korban tewas dan luka.


Mashhad Jatuh ke Tangan Massa

Memasuki hari kedua seruan Pahlavi, demonstrasi kembali meledak meski represi brutal terus berlangsung. Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran sekaligus basis kekuasaan Khamenei, terjadi demonstrasi besar-besaran. Laporan menyebutkan pasukan keamanan mundur, bertahan di beberapa gedung pemerintah, sementara kota berada dalam kendali massa.


Seruan Darurat Pahlavi dan Ancaman Intervensi

Putra Mahkota Reza Pahlavi mengeluarkan seruan mendesak kepada Presiden Trump, meminta perhatian dan tindakan segera. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran kini menghadapi tembakan, pemadaman total komunikasi, dan ancaman pembantaian dengan memanfaatkan pemadaman listrik.

Pahlavi menyerukan rakyat untuk menggunakan keunggulan jumlah guna menekan aparat, serta meminta dunia bersiap melakukan intervensi bila diperlukan.


Pernyataan Keras Trump: “Jika Mereka Menembak, Kami Akan Menembak”

Pada  9 Januari sore, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan keras dalam konferensi pers. Ia menyebut kondisi Iran “sangat buruk”, mengonfirmasi bahwa rakyat telah merebut sejumlah kota, dan menegaskan Amerika Serikat terus memantau situasi. “Jika mereka menembak, kami akan menembak. Kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras.”

Trump menegaskan ini bukan berarti pendudukan militer, tetapi Iran akan membayar harga yang sangat mahal. Pernyataan ini mengejutkan jurnalis dan dinilai sebagai pengumuman de facto kesiapan serangan besar AS terhadap Iran.


Mossad Bergerak, Elite Iran Bersiap Kabur

Pada 9 Januari, beredar informasi bahwa Mossad telah melacak lokasi persenjataan dan suplai Garda Revolusi yang disembunyikan di bawah masjid dan situs suci, serta menyampaikan informasi tersebut kepada rakyat Iran. Operasi pelacakan lokasi Khamenei juga dilaporkan sedang berlangsung.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS dan Israel terlibat langsung dalam protes. Sementara itu, laporan Lembaga Penyiaran Publik Israel menyebutkan badan intelijen asing tengah memantau apakah situasi telah mencapai titik runtuh.


Tanda-Tanda Keruntuhan Internal

Laporan menyebutkan Menteri Luar Negeri Iran melarikan diri ke Lebanon, sementara Ketua Parlemen Iran mengajukan visa Prancis. Intelijen Inggris juga melaporkan pesawat kargo Rusia mengangkut emas keluar dari Teheran.

Khamenei sendiri dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi rahasia di gurun Iran timur, dengan pengamanan maksimum oleh Garda Revolusi.


Penutup: Menunggu Titik Balik Sejarah

Situasi Iran kini berada di ambang sejarah. Pengamat menilai dua kemungkinan terbuka: pembantaian besar-besaran, atau kejatuhan rezim secara tiba-tiba di bawah tekanan rakyat dan kekuatan eksternal.

Amerika Serikat dan sekutunya kini berada dalam posisi siaga tinggi. Bagi rezim diktator, pilihan sering kali tinggal dua: bertahan dengan darah, atau melarikan diri demi nyawa.

Pertanyaan yang tersisa: apakah Khamenei akan bertahan sampai akhir, atau hanya membeli waktu untuk kabur? (***)

Langit Teheran Menyala Merah: Malam Paling Berbahaya bagi Rezim Khamenei

EtIndonesia. Situasi di Iran pada Jumat malam, 9 Januari 2026, mencapai titik yang sangat emosional dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir. Rekaman-rekaman yang beredar dari ibu kota Teheran memperlihatkan pemandangan yang mengguncang: puluhan ribu warga turun ke jalan, mengubah malam kota menjadi lautan manusia, api, dan teriakan perlawanan.

Di bawah langit malam yang gelap gulita, siluet massa tampak bergerak seperti gelombang pasang. Kobaran api berwarna jingga kekuningan menyala di berbagai sudut kota, menerangi wajah-wajah penuh amarah sekaligus harapan. Asap tebal membubung ke udara, sementara sekelompok besar demonstran menari mengelilingi api unggun raksasa—sebuah pemandangan yang menyerupai ritual kuno, namun sarat makna pembebasan.

Cahaya api memantul di wajah para demonstran yang saling berpegangan tangan, berputar, bernyanyi, dan mengangkat ponsel dengan lampu menyala. Atmosfer yang tercipta bukan sekadar aksi unjuk rasa, melainkan terasa seperti pesta pembebasan kolektif setelah lebih dari 40 tahun penindasan.

Teriakan Penggulingan Rezim dan Simbol Perlawanan

Dalam rekaman lain dari malam yang sama, massa besar terdengar meneriakkan slogan-slogan yang secara terbuka menuntut penggulingan rezim Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ketika sebuah kembang api dinyalakan dari tengah kerumunan, langit malam Teheran seketika terang benderang. Alih-alih gentar, massa justru bersorak, bertepuk tangan, dan bernyanyi dengan penuh semangat.

Bagi rakyat Iran, protes ini bukanlah luapan emosi sesaat. Aksi tersebut mencerminkan akumulasi penderitaan selama lebih dari empat dekade, sekaligus tekad untuk memperjuangkan masa depan yang bebas, bermartabat, dan sejahtera bagi generasi mendatang. Banyak demonstran menyatakan bahwa mereka turun ke jalan tanpa lagi takut mati.

Teheran: Jalanan Dikuasai Massa, Aparat Nyaris Tak Terlihat

Sejumlah video memperlihatkan lautan manusia di berbagai titik Teheran, dengan ujung kerumunan yang tidak terlihat. Di Jalanan Sepehr-e Ferdows, puluhan ribu orang memenuhi ruas jalan sambil meneriakkan:

“Ini adalah pertempuran terakhir kita!”, “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”

Yang paling mencolok, hampir tidak terlihat kehadiran aparat kepolisian atau pasukan keamanan Islam di banyak lokasi. Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa rezim Islam telah kehilangan kendali atas ibu kota.

Sekitar pukul 02 : 00 dini hari waktu setempat, massa masih terus membludak. Para demonstran mendirikan barikade, membakar bendera Islam, dan menghalangi kemungkinan masuknya pasukan keamanan. Hampir di setiap rekaman dari berbagai sudut kota, yang terlihat hanyalah manusia—tak jelas lagi di mana awal dan akhir kerumunan.

Di beberapa alun-alun Teheran, warga tampak mengenakan dan mengibarkan bendera Singa dan Matahari, simbol kerajaan Iran, menandakan nostalgia sekaligus harapan akan perubahan sistem pemerintahan.

Aksi Simbolik: Pembakaran Potret dan Kendaraan Keamanan

Di Lapangan Zafaraniyeh dan Jalan Pasdaran, ribuan demonstran berkumpul di tengah gelap malam. Kilauan lampu ponsel membentuk lautan cahaya yang menggetarkan. Massa meneriakkan slogan secara serempak, menciptakan gema yang terdengar hingga jauh.

Dalam salah satu video paling mencolok, massa membakar potret raksasa Qasem Soleimani. Api melahap wajah tokoh tersebut, serpihan beterbangan di tengah asap tebal, diiringi sorak sorai dan tepuk tangan.

Rekaman lain menunjukkan kendaraan milik pasukan keamanan Iran dibakar. Api besar menjulang, asap hitam pekat membubung tinggi, menciptakan kontras dramatis dengan cahaya kota di kejauhan.

Masih pada malam yang sama, sebuah masjid di Lapangan Kachi turut dibakar. Menurut keterangan warga, bangunan tersebut berfungsi sebagai basis kelompok bersenjata rezim, bukan semata tempat ibadah.

Protes Meluas ke Seluruh Iran

Gelombang perlawanan tidak hanya terjadi di Teheran.

  • Mashhad (9 Januari malam)
    Kota terbesar kedua Iran dan kampung halaman Khamenei lumpuh total. Puluhan ribu orang memenuhi jalan, meski listrik sempat dipadamkan. Massa tetap turun ke jalan dengan lampu ponsel menyala, meneriakkan: “Reza Pahlavi kembali!”
  • Shiraz
    Gedung Bank Pertanian Iran dan Komite Bantuan Ekonomi dibakar. Puing kendaraan hangus berserakan di sekitar lokasi.
  • Isfahan
    Rekaman dari ketinggian menunjukkan api besar menyala di beberapa titik kota, sementara teriakan massa terdengar hingga beberapa blok jauhnya.
  • Yazd, Ahvaz, Bandar Abbas, Arak, dan Hamedan
    Demonstran menguasai pusat kota, membakar barikade, papan reklame rezim, hingga gedung pemerintahan bertingkat.

Di Khoy, wilayah dengan mayoritas etnis Azerbaijan, massa meneriakkan: “Kami semua adalah prajurit Dinasti Pahlavi! Kami rela mempertaruhkan nyawa!”

Peta sebaran aksi menunjukkan bahwa demonstrasi telah menjalar ke hampir seluruh penjuru Iran—dari Teheran hingga Tabriz, dari Mashhad hingga Bandar Abbas.

Internet Diputus, Starlink Jadi Penyelamat Informasi

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Iran memutus akses internet secara luas untuk mencegah mobilisasi massa. Namun langkah ini dinilai gagal. Berkat jaringan Starlink yang dibuka oleh Elon Musk, ribuan rekaman lapangan tetap berhasil dikirim ke luar negeri.

Respons Amerika Serikat dan Ancaman Internasional

Pada 9 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang menghadapi “masalah besar”. Dalam konferensi pers, Trump menegaskan bahwa jika rezim kembali menembaki rakyatnya, Amerika Serikat akan mempertimbangkan intervensi dengan menghantam titik-titik vital rezim—tanpa pengerahan pasukan darat.

Trump juga menyebut bahwa setelah menyelesaikan krisis Venezuela, fokus Washington kini tertuju pada Iran. Di sisi lain, Israel disebut telah berada dalam posisi siaga tinggi. Jika diperlukan, jet tempur F-35 Israel dapat dikerahkan ke wilayah udara Teheran dalam waktu singkat atas persetujuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Korban Berjatuhan, Situasi Masih Berkembang

Hingga dini hari 10 Januari 2026, laporan menyebutkan aparat keamanan kembali melepaskan tembakan ke arah massa di sejumlah wilayah. Ratusan orang dilaporkan luka-luka dan tewas, meskipun angka pasti masih terus diverifikasi karena kondisi komunikasi yang terbatas.

Iran di Persimpangan Sejarah

Mengutip pernyataan Xi Jinping tentang “perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad”, banyak pengamat menilai bahwa tahun 2026 benar-benar membuka babak baru sejarah dunia. Baru sepuluh hari memasuki tahun ini, dunia berpotensi menyaksikan runtuhnya lebih dari satu rezim diktator.

Di Iran, satu kesimpulan mulai menguat di kalangan rakyat dan pengamat internasional:
gelombang perlawanan ini tampaknya sudah sulit dihentikan, dan runtuhnya rezim Khamenei kini dinilai hanya tinggal menunggu waktu.

Hari ke-13 Pemberontakan Iran: Balai Kota Dibakar, Rezim Khamenei Dikepung dari Segala Arah

EtIndonesia. Iran kini memasuki hari ke-13 gelombang protes nasional yang terus membesar dan semakin sulit dikendalikan. Video-video yang berhasil keluar dari dalam negeri—meski di tengah pemutusan internet nasional—menunjukkan gelombang besar warga Iran turun ke jalan secara serentak di berbagai kota, meneriakkan slogan-slogan keras seperti “Ini adalah pertempuran terakhir!” dan “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”

Aksi-aksi tersebut menandai eskalasi paling serius dalam krisis politik Iran dalam beberapa dekade terakhir, dengan tuntutan terbuka untuk runtuhnya rezim teokrasi Islam dan pemulihan sistem monarki di bawah Dinasti Pahlavi.

Internet Diputus, Represi Aparat Berlanjut

Sejak awal Januari, pemerintah Iran menerapkan pemblokiran internet nasional secara ketat, yang secara signifikan membatasi arus informasi keluar negeri. Namun, sejumlah rekaman tetap berhasil diselundupkan ke luar Iran dan beredar luas di media sosial.

Video-video tersebut memperlihatkan tindakan represif aparat keamanan, termasuk penembakan terhadap demonstran, pengejaran massa di jalan-jalan kota, serta bentrokan keras di berbagai wilayah. 

Warga Iran di diaspora menggambarkan situasi ini dengan satu ungkapan simbolik: “Singa Persia telah terbangun.”

Korban Jiwa Terus Bertambah

Menurut laporan Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia pada 9 Januari 2026, sedikitnya:

  • 51 demonstran tewas,
  • 9 di antaranya berusia di bawah 18 tahun,
  • Ratusan lainnya mengalami luka-luka,
  • Lebih dari 2.200 orang ditahan oleh aparat keamanan.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa banyak rumah sakit di kota-kota besar penuh sesak oleh korban luka, sementara tenaga medis bekerja dalam tekanan ketat aparat keamanan.

Demonstrasi Meluas ke Kota-kota Strategis

Produser dan jurnalis multimedia berbasis London, Farzat Fattasi, membagikan ulang sejumlah video di platform X yang menunjukkan gelombang massa demonstran di berbagai wilayah, termasuk:

  • Provinsi Razavi Khorasan
  • Mashhad
  • Kawasan Makilabad

Sementara itu, laporan gabungan media diaspora menyebutkan bahwa demonstrasi besar, bentrokan, dan pembakaran terjadi di banyak kota, termasuk Teheran, Isfahan, Shiraz, Mashhad, dan Tabriz.

Balai Kota Karaj Terbakar, Jadi Simbol Perlawanan

Salah satu peristiwa paling mengejutkan terjadi di Karaj, kota strategis di Iran utara. Pada malam 9 Januari hingga dini hari 10 Januari 2026, Gedung Balai Kota Pusat Karaj dilaporkan dilalap api besar.

Api terlihat muncul serentak dari beberapa titik, dengan cepat menjalar hingga ke atap gedung bertingkat tersebut. Asap hitam pekat membumbung tinggi dan menerangi langit malam dengan cahaya merah menyala.

Menurut warga setempat, gedung itu selama ini digunakan sebagai pusat koordinasi dan komando pasukan keamanan lokal, sehingga menjadi target utama para demonstran. Insiden ini segera menjadi simbol paling mencolok dari gelombang protes anti-pemerintah yang melanda Iran.

Seruan Terbuka untuk Kembalinya Dinasti Pahlavi

Di tengah eskalasi ini, tuntutan politik para demonstran semakin jelas. Mereka secara terbuka menyerukan:

  • Runtuhnya rezim teokrasi Islam
  • Pemulihan sistem monarki
  • Kembalinya Dinasti Pahlavi

Menariknya, tiga pejabat pemerintah Iran yang berbicara secara anonim kepada The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa secara pribadi mereka merindukan kembalinya Dinasti Pahlavi. 

Salah satu dari mereka bahkan mengatakan: “Saya ingin raja saya kembali.”

Eksekusi Demonstran dan Peringatan Keras dari AS

Organisasi HAM Iran dan media diaspora melaporkan insiden penembakan langsung terhadap demonstran oleh tentara dan polisi. Bahkan, sumber-sumber Israel menyebut bahwa pemerintah Iran telah mengeksekusi demonstran untuk malam kedua berturut-turut, dan menyerukan agar Amerika Serikat turun tangan.

Pada 9 Januari 2026, Donald Trump menyampaikan pernyataan keras: “Iran sedang menghadapi masalah besar. Jika mereka mulai membantai rakyatnya seperti dulu, kami akan terlibat.”

Reaksi PBB dan Tekanan Internasional

Pada hari yang sama, Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat Iran.

PBB menyerukan:

  • Penghentian kekerasan terhadap demonstran
  • Pemulihan kebebasan internet
  • Penghormatan terhadap hak demonstrasi damai

Sejumlah negara Eropa dan Amerika juga mendesak Iran untuk segera menghentikan represi.

Isu Dukungan Tiongkok dan Peran Starlink

Masih pada 9 Januari, beredar unggahan di platform X yang mengklaim bahwa otoritas resmi Tiongkok siap memberikan dukungan intelijen dan logistik kepada Iran untuk menghadapi apa yang disebut sebagai “konspirasi eksternal”.

Namun, hingga kini:

  • Xinhua dan kanal resmi Tiongkok lainnya tidak memuat pernyataan tersebut
  • Sikap resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok tetap menekankan penolakan terhadap campur tangan asing dan seruan stabilitas regional

Di sisi lain, setelah Iran memutus internet nasional, Starlink milik Elon Musk memainkan peran krusial dengan menyalurkan informasi dari Iran ke dunia internasional secara real-time.

Platform X juga secara resmi mengganti emoji bendera Iran menjadi simbol Singa dan Matahari, lambang historis Iran sebelum Revolusi Islam. Pada saat yang sama, publik menemukan bahwa Ali Khamenei menghapus bendera Iran dari foto profil akun X miliknya—sebuah langkah simbolik yang memicu spekulasi luas.

Dampak Global dan Pandangan Washington

Perkembangan di Iran terjadi bersamaan dengan penangkapan diktator Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, memperkuat persepsi bahwa rezim-rezim otoriter global tengah menghadapi tekanan besar.

Anggota DPR AS dari Carolina Selatan, Joe Wilson, menyebut situasi ini sebagai titik balik sejarah, dan menilai rakyat Iran kini berada di momen penentuan nasib mereka sendiri, dengan dukungan Presiden Trump.

Dalam wawancara eksklusif dari Washington, Wilson menyatakan bahwa dunia berubah sangat cepat dan bahwa era “perdamaian melalui kekuatan” tengah meruntuhkan pemerintahan otoriter satu per satu.

Kesimpulan: Iran di Persimpangan Sejarah

Memasuki pertengahan Januari 2026, Iran berdiri di persimpangan sejarah yang genting. Dengan korban jiwa yang terus bertambah, simbol-simbol kekuasaan yang terbakar, dan tekanan internasional yang meningkat, masa depan negara itu kini sangat bergantung pada pilihan rakyatnya sendiri—serta bagaimana komunitas global akan merespons krisis yang terus membara ini.

Video Seorang Nenek-nenek Iran Mengangkat Kedua Tangan Menghadapi Laras Senjata, Diduga Tertembak Hingga Terjatuh, Viral di Medsos Daratan Tiongkok  

Rakyat Iran bangkit melawan pemerintahan otoriter Khamenei. Berbagai adegan mengharukan bermunculan di jalanan. Sebuah video yang beredar memperlihatkan seorang emak-emak mengangkat kedua tangannya untuk menghentikan tindakan kekerasan aparat militer dan polisi, namun diduga ia ditembak.

EtIndonesia. Dalam video tersebut terdengar suara tembakan, sementara para demonstran di jalan berhamburan menghindar, diduga dipukul mundur oleh tembakan aparat. 

Pada saat itu, seorang perempuan terlihat mengangkat kedua tangannya dan berjalan ke arah aparat militer dan polisi, tampak sambil berteriak untuk membujuk mereka agar menghentikan kekerasan. 

Di belakangnya, seorang perempuan muda berteriak panik memanggil, “Ibu!”, diduga berusaha mencegah sang ibu mempertaruhkan nyawanya. Tak lama kemudian terdengar satu kali tembakan, disusul teriakan kaget dari perempuan muda tersebut—diduga sang ibu telah tertembak.

Video ini menjadi viral di media sosial daratan Tiongkok. Banyak warganet Tiongkok menyebut ibu dalam video itu sebagai “pahlawan”, dan mendukungnya sebagai sosok yang “mengorbankan nyawanya demi memperjuangkan secercah harapan bagi putrinya”.

Banyak komentar warganet yang secara tersirat mengungkapkan keinginan untuk melawan kekuasaan otoriter Partai Komunis Tiongkok (PKT), antara lain:

 “Demi generasi berikutnya, ibu ini adalah teladan bagi kita”,
“Urusan besok biarlah diserahkan pada orang di masa depan, yang harus aku lakukan hari ini adalah mati dengan gagah”,
“Cahaya peradaban pada akhirnya akan menerangi seluruh dunia”.

Sebelumnya, beredar pula video lain di internet yang menunjukkan seorang perempuan lanjut usia berjalan di tengah barisan demonstran sambil meneriakkan slogan. Darah mengalir dari mulutnya hingga membasahi pakaiannya, diduga akibat dipukuli aparat militer dan polisi. Namun ia tetap tidak gentar menghadapi kekuasaan, dan terus melangkah maju.

Selain itu, foto-foto yang beredar di internet memperlihatkan sejumlah perempuan muda Iran membakar potret Khamenei dan menggunakannya untuk menyalakan rokok. 

Media Inggris melaporkan foto-foto tersebut dan menyebutnya sebagai “tindakan perlawanan yang berani”. Berdasarkan apa yang disebut sebagai hukum Iran saat ini, membakar foto Pemimpin Tertinggi merupakan “kejahatan serius”.

Di tengah teror pemutusan internet dan pembantaian oleh otoritas Iran, rakyat Iran tetap tidak gentar menghadapi ancaman kematian dan terus turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Banyak orang di seluruh dunia berharap Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memberikan bantuan.

Pada 10 Januari, Trump secara resmi mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa Amerika Serikat siap membantu rakyat Iran memperjuangkan kebebasan. Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah melakukan pembahasan awal mengenai serangan militer terhadap Iran, dengan salah satu opsi berupa serangan udara skala besar terhadap target militer Iran. (Hui)

Chen Zhenjin

Trump Umumkan Bantuan untuk Rakyat Iran yang Mencari Kebebasan, Media AS Ungkap Kajian Serangan Udara

EtIndonesia. Iran sedang dilanda gerakan perlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rezim teokrasi. Pemerintah kembali memutus akses internet dan melakukan pembantaian besar-besaran, namun rakyat tidak menyerah. Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan akan membantu rakyat Iran dalam upaya mereka meraih kebebasan. Media Amerika melaporkan bahwa tim Trump sedang mengkaji kemungkinan tindakan militer.

Pada 10 Januari pukul 13:27 waktu Pantai Timur AS , Trump menulis di platform Truth Social:  “Iran mungkin sedang mencari kebebasan dengan semangat yang belum pernah ada sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan!!!”

 Ia menggunakan tiga tanda seru untuk menegaskan pernyataannya.

Sekitar satu jam sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut dan melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah melakukan pembahasan awal mengenai cara-cara untuk menyerang Iran guna menepati peringatan yang sebelumnya disampaikan Trump. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah melakukan serangan udara skala besar terhadap sasaran militer Iran.

Sebelumnya, sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa pesawat-pesawat militer AS sedang dikerahkan dan berkumpul menuju kawasan Timur Tengah.

Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika otoritas Iran kembali melakukan pembantaian terhadap para demonstran seperti di masa lalu, Amerika Serikat akan turun tangan secara keras.

Pada 8 Januari, pemerintah Iran memberlakukan pemutusan internet nasional dan mulai melakukan penindasan berdarah. Majalah Time, mengutip seorang dokter setempat, melaporkan bahwa hanya di enam rumah sakit di ibu kota Teheran saja tercatat 217 orang tewas, termasuk para demonstran yang ditembak dengan senapan mesin.

Namun rakyat Iran tidak menyerah. Pada  9 dan 10 Januari malam, masih banyak warga yang turun ke jalan untuk melakukan protes. Mantan putra mahkota Iran yang kini hidup di pengasingan di Amerika Serikat, Reza Pahlavi, menyerukan agar rakyat Iran menduduki pusat-pusat kota.

Elon Musk juga mengumumkan bahwa jaringan Starlink akan dibuka secara gratis bagi para demonstran Iran. Menurut informasi yang beredar di internet, otoritas Iran berupaya keras mengganggu transmisi Starlink, tetapi belum berhasil memutusnya sepenuhnya. Warganet menduga teknologi gangguan tersebut berasal dari Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Berdasarkan informasi daring, banyak demonstran Iran menggunakan aplikasi komunikasi terenkripsi BitChat untuk menyebarkan informasi. BitChat tidak bergantung pada internet, melainkan menggunakan koneksi Bluetooth antarponsel untuk membangun jaringan luring berbasis “peer-to-peer” guna mengirimkan pesan terenkripsi. (Hu)

Sumber : NTDTV.com