Israel dan Suriah Sepakat Bentuk Mekanisme Keamanan Bersama dalam Perundingan yang Dimediasi AS

Washington menyatakan pertemuan di Paris ini mendorong dialog yang didesakkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah kekerasan terbaru di perbatasan memperuncing hubungan kedua negara.

EtIndonesia. Israel dan Suriah sepakat membentuk mekanisme keamanan dan komunikasi bersama setelah pertemuan trilateral yang dimediasi Amerika Serikat di Paris pada 6 Januari, menurut pernyataan bersama ketiga pemerintah.

Pejabat senior Israel dan Suriah bertemu di bawah naungan Amerika Serikat dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap keamanan dan stabilitas, meskipun hubungan antara Yerusalem dan Damaskus telah lama tegang serta situasi di perbatasan kedua negara terus membara.

Pernyataan itu menyebutkan bahwa perundingan ini dimungkinkan oleh kepemimpinan Donald Trump di Timur Tengah, dengan fokus pada penghormatan terhadap kedaulatan dan stabilitas Suriah, keamanan Israel, serta kemakmuran bagi kedua negara.

Mekanisme “Sel Fusi” Keamanan

Kedua pihak sepakat membentuk “mekanisme fusi bersama”—sebuah sel komunikasi khusus untuk memungkinkan koordinasi cepat dan berkelanjutan.

Mekanisme ini akan memfasilitasi pertukaran intelijen, de-eskalasi militer, keterlibatan diplomatik, hingga peluang kerja sama komersial, dan akan beroperasi di bawah pengawasan Amerika Serikat.

Mekanisme ini dirancang sebagai wadah penyelesaian sengketa secara cepat sekaligus mencegah salah tafsir dan salah perhitungan antara kedua pihak.

“Pernyataan bersama ini mencerminkan semangat pertemuan besar hari ini serta tekad kedua pihak untuk membuka lembaran baru hubungan mereka demi generasi mendatang,” bunyi dokumen tersebut.

Amerika Serikat menyambut kesepakatan ini dan menegaskan komitmennya mendukung implementasi sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.

“Ketika negara-negara berdaulat bekerja sama secara saling menghormati dan produktif, kemakmuran akan dilepaskan,” tambah pernyataan tersebut.


Trump Menekan Dialog

Perundingan Paris berlangsung setelah intervensi publik Trump menyusul operasi militer Israel di dekat perbatasan Suriah yang memicu lonjakan ketegangan dan kecaman keras dari Damaskus.

Pada 1 Desember, Trump menyatakan dirinya “sangat puas” dengan kemajuan pemerintahan transisi Suriah, serta mengisyaratkan bahwa aksi militer lanjutan dapat merusak transisi politik negara itu setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada 2024.

Trump juga menulis di Truth Social bahwa presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa—yang mengunjungi Gedung Putih pada 10 November—“sedang bekerja keras” untuk membangun hubungan “jangka panjang dan makmur” dengan Israel.

Trump dan al-Sharaa terakhir bertemu pada Mei 2025 di Riyadh, Arab Saudi, di mana Trump mendesak Suriah untuk bergabung dengan Abraham Accords—serangkaian perjanjian normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab. Isu ini tetap sangat sensitif di Damaskus dan tidak disebut dalam pernyataan Paris.


Pernyataan Israel

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pada 6 Januari bahwa perundingan Paris merupakan bagian dari visi Trump untuk memajukan perdamaian di Timur Tengah.

Dalam perundingan, Israel menekankan pentingnya menjamin keamanan warganya dan mencegah ancaman di sepanjang perbatasan. Kantor Netanyahu juga menyoroti perlunya mendorong kerja sama ekonomi demi keuntungan bersama Israel dan Suriah.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa dialog akan terus berlanjut untuk mencapai tujuan bersama dan menjamin keselamatan minoritas Druze di Suriah.

Pasukan Israel telah mempertahankan kehadiran militer di sebagian wilayah Suriah selatan sejak jatuhnya rezim al-Assad, dengan alasan kekhawatiran keamanan serta perlindungan komunitas Druze.

Druze adalah kelompok minoritas keagamaan yang berkembang sebagai cabang dari Islam, dan memiliki komunitas di Suriah, Israel, serta Lebanon.

Sekitar 24.000 warga Druze Israel tinggal di Dataran Tinggi Golan—wilayah yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari 1967 dan kemudian dianeksasi. Langkah ini diakui Amerika Serikat, namun tidak oleh sebagian besar komunitas internasional.


Ketegangan Perbatasan

Ketegangan kembali meletup pada 28 November, ketika enam tentara Israel terluka dalam operasi militer Israel di dekat desa Suriah Beit Jinn, sekitar 6,5 kilometer di sebelah timur zona penyangga Dataran Tinggi Golan.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut misi tersebut bertujuan menangkap tersangka yang terkait kelompok Islamis Jamaa Islamiya.

Menurut IDF, sejumlah kombatan bersenjata menembaki pasukan Israel, memicu tembakan balasan serta dukungan udara jarak dekat dari helikopter, drone, dan jet tempur. Militer Israel menyatakan semua tersangka berhasil ditangkap dan beberapa “teroris” “dilenyapkan.”

Media pemerintah Suriah melaporkan sedikitnya 13 orang tewas dalam apa yang disebut Damaskus sebagai “kejahatan perang penuh.”

Kementerian Luar Negeri Suriah menuduh Israel melakukan “agresi berat” yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan, menurut kantor berita negara SANA.

Bill Pan berkontribusi dalam laporan ini.

Serangan Pemerintahan Trump di Venezuela Mengguncang Peran Global Tiongkok

Sinyal strategis yang sedang dibaca Beijing—dan maknanya.

James Gorrie 

Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan kekuatan militer untuk menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro bukan sekadar upaya menjatuhkan satu lagi diktator bandar narkoba di Amerika Latin—ini adalah serangan strategis langsung terhadap pengaruh  komunis Tiongkok di Benua Amerika.

Dan ini bukan yang pertama.


Salah Satu dari Banyak Pukulan bagi Venezuela

Sudah saatnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Amerika Serikat benar-benar melancarkan perang nyata melawan narkoba ilegal yang menewaskan puluhan ribu warga Amerika setiap tahun. Namun perubahan kebijakan ini melampaui isu narkoba semata.

Strategi keamanan nasional baru ini bertujuan menata ulang peta geopolitik kawasan agar kembali selaras dengan kepentingan strategis Amerika Serikat.

Dalam konteks ini, “tumpangan helikopter gratis” Maduro keluar dari Caracas menuju New York hanyalah episode terbaru dari rangkaian perubahan agresif kebijakan luar negeri AS. Serangan berulang terhadap “kapal-kapal narkoba” Venezuela dan penyitaan kapal tanker minyak Venezuela yang hendak menuju Tiongkok seharusnya sudah menjadi sinyal terang bahwa era geopolitik baru telah dimulai.


Pukulan Langsung terhadap Tiongkok

Penjatuhan rezim pro-Tiongkok di Venezuela juga merupakan pukulan geopolitik, dagang, dan politik langsung terhadap Beijing.

Selama bertahun-tahun, jaringan kriminal Tiongkok beroperasi leluasa dari Venezuela—memfasilitasi penyelundupan narkoba, memperkuat kartel, hingga terlibat dalam perdagangan manusia dan kejahatan lintas negara lainnya yang menyasar Amerika Serikat.

Karena itu, bagi para analis di Beijing, tindakan Amerika terhadap Venezuela dipahami sebagai langkah strategis yang secara langsung menantang Tiongkok di berbagai lini.


Konteks Baru Perilaku Militer AS

Bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), operasi militer AS di kawasan Karibia tidak dipandang sekadar operasi anti-narkoba, melainkan sebagai model baru bagaimana Amerika membingkai legitimasi, mengelola eskalasi, dan menahan tekanan global.

Dengan kata lain, Beijing sedang mengamati dengan cermat respons dunia terhadap langkah Amerika di Venezuela.

PKT juga memahami bahwa taruhannya jauh melampaui Venezuela—menyentuh semua sekutu Tiongkok di kawasan dan bahkan di luar Amerika Latin.

Lebih dekat lagi, pengamat Tiongkok menafsirkan langkah AS sebagai uji coba jalur menuju reunifikasi militer Taiwan.


Venezuela sebagai “Studi Kasus” Perlawanan AS terhadap Tiongkok

Sebelum menangkap Maduro, pemerintahan Trump menggabungkan serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba dengan penegakan maritim agresif, termasuk penyitaan kapal tanker minyak lepas pantai Caracas.

Beijing mengecam keras langkah tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman bagi perdamaian regional.

Namun kecaman resmi itu menutup mata terhadap peran sentral Tiongkok dalam jaringan narkoba global, yang juga menjadi mesin finansial kartel narkoba yang mengacaukan—bahkan menguasai—pemerintahan kawasan. Beijing juga mengabaikan pengaruh ekonomi raksasanya di Amerika Latin: dari mineral tanah jarang di Argentina, kedelai Brasil, minyak dan narkoba Venezuela, potensi basis militer dekat Terusan Panama, hingga kartel dan elite bisnis-politik di Meksiko.


Reputasi Global Tiongkok Dipertaruhkan

Sebagai kekuatan global yang menantang dominasi AS, Tiongkok ingin ditakuti dan dihormati oleh sekutu maupun rival. Bila Beijing membiarkan AS menghantam dan memblokade Venezuela tanpa konsekuensi berarti, sekutu-sekutu Tiongkok akan mulai bertanya: masihkah aman berlindung di bawah payung Beijing?

Lebih jauh, Beijing sedang mencermati bagaimana Washington mengelola eskalasi dan kritik global. Jika AS bisa melancarkan serangan, menahan tekanan diplomatik, dan tidak menuai konsekuensi nyata, PKT bisa menyimpulkan bahwa operasi militer terbatas dapat “diterima” selama dibingkai sebagai penegakan hukum atau pertahanan diri.

Hal ini sangat relevan dengan Taiwan, di mana Tiongkok kian mengaburkan batas antara tekanan masa damai dan postur perang melalui operasi abu-abu, pelanggaran wilayah udara, dan latihan blokade maritim.


Narasi Kedaulatan sebagai Senjata Strategis

Beijing juga tengah memikirkan bagaimana memanfaatkan langkah AS demi kepentingannya sendiri. Dengan menuding tekanan militer AS di Venezuela sebagai bukti dunia membutuhkan alternatif dari dominasi geopolitik Amerika, Beijing memperkuat narasinya tentang “kedaulatan dan non-intervensi.”

Narasi ini langsung dipindahkan ke isu Taiwan—membingkai Taiwan sebagai urusan “internal Tiongkok,” bukan persoalan internasional.

Di sinilah letak bahayanya: legitimasi moral Amerika dapat terkikis, sementara Beijing memperoleh pembenaran retoris untuk memaksakan reunifikasi Taiwan.

Pada akhir Desember 2025, Tiongkok bahkan menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan—yang dapat ditafsirkan sebagai respons langsung terhadap kebijakan AS di Venezuela.


Taruhan Terakhir

Kehadiran militer besar AS di sekitar Venezuela—termasuk kapal induk dan ribuan tentara—berpotensi menguras sumber daya Amerika.

Jika Washington tampak memproyeksikan kekuatan secara geografis namun tidak merata, Beijing bisa menyimpulkan bahwa AS tidak mampu merespons secara kuat di semua medan secara bersamaan, dan hal ini bisa memberanikan Tiongkok untuk bergerak cepat di Taiwan.

Tak diragukan, PKT tengah mengamati ke mana Amerika memusatkan perhatian, sumber daya, dan modal politiknya—dan sedang menimbang langkah berikutnya.

Pandangan dalam artikel ini merupakan opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Mobil Seharga Dua Dolar yang Hilang

EtIndonesia. Rosen bekerja sebagai pemain saksofon di sebuah klub malam. Penghasilannya tidak tinggi, tetapi dia selalu ceria dan menghadapi segala sesuatu dengan sikap yang optimistis. 

Dia sering berkata: “Matahari terbenam, lalu terbit lagi, kemudian terbenam lagi. Begitulah kehidupan.”

Rosen sangat menyukai mobil. Namun, dengan penghasilannya, membeli mobil jelas mustahil.

Setiap kali berkumpul bersama teman-temannya, dia selalu berkata : “Andai saja aku punya sebuah mobil.”

Matanya selalu memancarkan kerinduan yang mendalam.

Ada yang bercanda kepadanya: “Coba beli lotre saja. Kalau menang, kamu bisa beli mobil!”

Akhirnya, dia pun membeli tiket lotre seharga dua dolar. Seolah-olah Tuhan memberinya keberuntungan, Rosen benar-benar memenangkan hadiah besar hanya dengan tiket dua dolar itu.

Impian Rosen akhirnya terwujud. Dia membeli sebuah mobil dan setiap hari mengendarainya untuk berkeliling. Dia jadi jarang datang ke klub malam. Orang-orang sering melihatnya bersiul riang saat melaju di jalanan yang rindang, dengan mobil yang selalu bersih mengilap tanpa setitik debu.

Namun suatu hari, Rosen memarkir mobilnya di bawah gedung. Setengah jam kemudian, ketika dia turun kembali, mobil itu sudah lenyap—dicuri orang.

Teman-tamannya yang mendengar kabar itu tahu betapa Rosen sangat mencintai mobilnya. Mobil seharga puluhan ribu dolar itu hilang, mereka khawatir dia tak sanggup menerima pukulan tersebut. 

Mereka pun datang untuk menghiburnya :  “Rosen, mobilmu hilang. Jangan terlalu sedih, ya.”

Rosen justru tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Hei, kenapa aku harus sedih?”

Teman-temannya saling berpandangan dengan wajah bingung.

Lalu Rosen bertanya: “Kalau salah satu dari kalian tidak sengaja kehilangan dua dolar, apakah kalian akan bersedih?”

“Tentu tidak!” jawab mereka serempak.

“Nah, itu dia,” Rosen tersenyum. “Yang hilang dariku juga cuma dua dolar.”

Renungan / Hikmah Cerita

Bagi kebanyakan orang, kehilangan mobil adalah kerugian besar—menangis pun terasa wajar. Namun tokoh dalam cerita ini melihatnya dari sudut pandang yang berbeda: baginya, harga mobil itu sebenarnya hanya dua dolar, karena hanya sebesar itulah modal yang dia keluarkan.

Mengubah sudut pandang dapat menghadirkan kebahagiaan. Singkirkan emosi negatif dalam hidup, dan milikilah hati yang cukup lapang untuk menampung kegagalan, kekecewaan, serta berbagai masalah yang datang silih berganti.(jhn/yn)

Sejumlah Pengawet Makanan Terbukti Berkaitan dengan Diabetes Tipe 2 dan Kanker

Anda mungkin perlu berpikir dua kali sebelum meraih makanan olahan dan camilan kemasan

Amy Denney

Orang yang mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung pengawet—baik bahan kimia maupun berbasis tanaman yang digunakan untuk mencegah makanan cepat busuk dan menghindarkan kita dari keracunan—memiliki risiko 40 hingga 49 persen lebih tinggi terkena diabetes tipe 2, menurut studi terbaru.

Temuan tentang diabetes ini, bersama studi terpisah mengenai risiko kanker yang dilakukan oleh para peneliti di Paris, menambah bukti kuat bahwa semakin tinggi konsumsi makanan berpengawet, semakin besar kecenderungan tubuh memasuki kondisi metabolik dan peradangan yang merusak dan berujung pada penyakit kronis.

Meluasnya penggunaan pengawet dan bahan kimia lain oleh industri makanan—sering kali tanpa pengujian risiko penyakit kronis jangka panjang—menjadi latar belakang penelitian ini, ujar Mathilde Touvier, Direktur Riset Institut Nasional Kesehatan dan Riset Medis Prancis.


Temuan Diabetes Tipe 2

Peneliti Universitas Sorbonne Paris Nord mengikuti 108.723 peserta selama periode 2009–2023. Dari jumlah itu, 1.131 orang didiagnosis menderita diabetes tipe 2, sebagaimana dipublikasikan dalam Nature Communications.

Kelompok berisiko tinggi mengonsumsi makanan dengan kadar pengawet non-antioksidan yang tinggi—zat yang bekerja mencegah pertumbuhan mikroba atau memperlambat reaksi kimia yang memengaruhi warna dan tekstur makanan.

Sementara itu, kelompok dengan risiko 40 persen lebih tinggi mengonsumsi makanan dengan kadar pengawet antioksidan tinggi—zat yang mencegah radikal bebas menyebabkan oksidasi yang membuat makanan cepat rusak, berubah warna, dan kehilangan nutrisi.

Sebanyak 17 jenis pengawet dianalisis, dan 12 di antaranya terbukti berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, termasuk:

  • Kalium sorbat
  • Natrium nitrit
  • Natrium asetat
  • Kalium metabisulfit
  • Asam asetat
  • Kalsium propionat
  • Natrium askorbat
  • Alfa-tokoferol
  • Natrium eritrobat
  • Asam sitrat
  • Asam fosfat
  • Ekstrak rosemary

Para peneliti mengemukakan sejumlah mekanisme yang mungkin terjadi: gangguan sinyal insulin dan regulasi glukosa, peradangan kronis tingkat rendah, perubahan ekspresi gen metabolisme, hingga perubahan mikrobioma usus yang memengaruhi kontrol gula darah dan sensitivitas insulin.


Studi Risiko Kanker

Dalam studi lain yang dipublikasikan di BMJ, para peneliti menemukan bahwa kelompok yang paling banyak mengonsumsi pengawet juga lebih sering terdiagnosis kanker.

Ditemukan hubungan antara pengawet non-antioksidan (kalium sorbat, kalium metabisulfit, natrium nitrit, kalium nitrat, asam asetat, natrium eritrobat) dan pengawet antioksidan (total eritrobat dan natrium eritrobat) dengan peningkatan kejadian kanker secara keseluruhan, kanker payudara, dan kanker prostat.

Dari 105.260 peserta, 4.226 orang terserang kanker dalam 14 tahun—sekitar 4 persen.
Enam dari 17 pengawet yang diteliti berkaitan dengan peningkatan risiko kanker, mulai dari kenaikan 12 persen risiko kanker secara umum akibat total sulfit, hingga kenaikan 32 persen risiko kanker prostat akibat natrium nitrit.

Pengawet yang sama banyak ditemukan dalam produk pasar Amerika seperti saus, makanan acar, anggur, bir, buah kering, saus salad, keju, yogurt, serta daging olahan seperti bacon, hot dog, daging deli, dan sosis.


Mengapa Pengawet Bisa Berbahaya

Menurut ahli gastroenterologi dan pakar mikrobioma usus Will Bulsiewicz, pengaruh pengawet terhadap makanan bisa berbanding lurus dengan dampaknya pada tubuh manusia—terutama bila dikonsumsi dalam jumlah besar.

Sifat antimikroba sebagian pengawet bisa bertindak layaknya antibiotik, membunuh bakteri baik di saluran cerna.
Diabetes tipe 2 sendiri sudah lama diketahui sangat terkait dengan gangguan mikrobioma usus.

Lebih dari setengah total kalori dalam pola makan rata-rata orang Amerika berasal dari makanan ultra-olahan.


Tantangan Menghindari Pengawet

Berbeda dari pewarna atau pemanis buatan, pengawet tidak diklasifikasikan sebagai penanda makanan ultra-olahan, meski nyaris ada di semua kategori pangan. Hal ini menyulitkan konsumen yang ingin membatasi paparan, terutama penderita penyakit kronis.

Menambah larangan diet tanpa kebijakan publik dianggap tidak realistis. Para peneliti menilai regulasi pemerintah jauh lebih efektif untuk menekan paparan pengawet.


Apa yang Bisa Anda Lakukan Sekarang

Para peneliti menyarankan:

  • Pilih makanan segar dan minim olahan
  • Masak sendiri di rumah
  • Pilih produk bebas pengawet bila memungkinkan

Mereka menegaskan bahwa jika temuan ini terkonfirmasi lebih lanjut, pengawet makanan berpotensi menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk sejumlah penyakit kronis utama.

“Jika temuan ini terbukti, ini menunjukkan adanya faktor risiko yang sebenarnya bisa kita kendalikan,” tegas Mathilde Touvier.

Terang-terangan! Beredar Kabar “Korban” Diangkut dengan Kandang Besi di Jalanan Kamboja 

EtIndonesia. Dengan infiltrasi mendalam Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke Kamboja, kawasan Scam Online di negara tersebut bertindak semakin sewenang-wenang. Video yang beredar di internet menunjukkan sebuah kawasan secara terang-terangan mengangkut sejumlah “korban” menggunakan kandang besi besar di jalanan kota.

Menurut informasi yang dibocorkan, kejadian tersebut terjadi di sekitar kawasan Poipet (Moc Bai), dekat perbatasan Vietnam. Lokasi ini merupakan salah satu kawasan penipuan daring setempat, yang berdekatan dengan Kota Bavet, Kamboja.

Dalam video terlihat, pada malam hari sebuah kendaraan menarik kandang besi besar dan melaju di jalan kota yang ramai dengan lalu lintas. Di dalam kandang besi tersebut terdapat orang-orang yang dikurung, meskipun jumlah pastinya tidak diketahui.

Berdasarkan video lain yang sebelumnya juga beredar secara daring, banyak kawasan penipuan daring di Asia Tenggara dilaporkan memiliki kandang besi besar semacam ini, yang digunakan untuk menghukum dan menyiksa para “korban”.

Rezim keluarga Hun di Kamboja diketahui memiliki hubungan erat dengan PKT. 

Sejumlah besar kasino dan kawasan penipuan daring yang dioperasikan oleh warga Tiongkok telah menjadi “pilar keuangan” penting bagi negara tersebut. Dengan dukungan PKT serta pembiaran dari pemerintah Kamboja, kawasan-kawasan penipuan ini bertindak tanpa kendali.

Kelompok Prince Group yang terkenal buruk reputasinya serta Cambodian Institute of Life Sciences berlokasi di ibu kota Kamboja, Phnom Penh. 

Lembaga-lembaga bermodal Tiongkok ini telah diungkap terlibat dalam industri kejahatan penipuan dan pengambilan organ hidup. 

Bahkan ada laporan bahwa mereka mengekstraksi sumsum tulang belakang anak-anak untuk membuat “obat keabadian” bagi para orang kaya. (Hui)

Trump Kembali Mengangkat Rencana Greenland: Jalur Diplomatik untuk Membeli Tetap Jadi Prioritas

EtIndonesia. Pada Rabu (7/1/2026), juru bicara Gedung Putih Caroline Leavitt menyatakan bahwa Presiden Donald Trump bersama tim keamanan nasionalnya sedang aktif membahas kemungkinan mengakuisisi Pulau Greenland. Namun, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa pembelian melalui jalur diplomatik masih menjadi opsi utama pemerintahan Trump. Ia dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Denmark pekan depan untuk membahas rencana pembelian tersebut.

 “Presiden sangat terbuka dan jelas kepada Anda semua dan kepada dunia. Ia percaya bahwa langkah ini sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat dan membantu membendung agresi Rusia dan Tiongkok di kawasan Arktik. Karena itu, timnya saat ini sedang mengkaji seperti apa skema pembelian potensial tersebut,’ katanya. 

Leavitt juga menekankan bahwa Presiden Trump selalu menjaga semua opsi tetap terbuka dalam menangani urusan internasional, namun diplomasi tetap menjadi pilihan pertama.

Dalam waktu terakhir, Presiden Trump berulang kali menegaskan keinginannya untuk menguasai Greenland. Gagasan ini pertama kali muncul pada masa jabatan pertamanya pada tahun 2019. Trump menilai pulau tersebut sangat penting bagi strategi militer Amerika Serikat dan mengkritik Denmark karena dianggap tidak menjalankan tanggung jawab pertahanan secara memadai.

Pada Rabu, Trump menulis di platform Truth Social:  “Kami akan selalu mendukung NATO, meskipun NATO belum tentu akan melakukan hal yang sama untuk kami.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa ia akan bertemu dengan pejabat Denmark pekan depan untuk membahas status Greenland. Namun, Presiden Trump tetap tidak menutup kemungkinan penggunaan cara militer untuk mencapai tujuannya.

Rubio juga menekankan bahwa Trump “bukanlah presiden Amerika Serikat pertama yang mempertimbangkan bagaimana memperoleh Greenland”. Mantan Presiden Harry Truman pada tahun 1946 pernah mengusulkan untuk membeli Greenland dari Denmark dengan emas senilai 100 juta dolar AS.

Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Rubio telah menyampaikan kepada anggota Kongres AS bahwa opsi utama saat ini tetap pembelian. Namun, para pakar menilai bahwa meskipun Greenland bersedia dijual, proses transaksi akan sangat kompleks, karena memerlukan persetujuan pendanaan dari Kongres serta dukungan dua pertiga suara Senat untuk menyelesaikan akuisisi.

Greenland sejak lama merupakan pos penting dalam sistem pertahanan rudal balistik Amerika Serikat, dan kekayaan sumber daya mineralnya juga sejalan dengan strategi AS untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Pulau ini memiliki populasi sekitar 57.000 orang. Greenland bukan anggota NATO secara mandiri, tetapi berada di bawah perlindungan NATO melalui Denmark.

Selain itu, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Finlandia, Koskinen, menyerukan agar isu ini dibahas di dalam NATO.

Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Kebijakan Luar Negeri, Kaja Kallas, pada Kamis (8 Januari) menyatakan bahwa Uni Eropa telah membahas bagaimana Eropa seharusnya merespons isu tersebut.

Di sisi lain, senator Partai Demokrat AS bersama sebagian kecil anggota Partai Republik juga menyatakan bahwa mereka memperkirakan akan melakukan pemungutan suara atas rancangan undang-undang yang bertujuan membatasi upaya presiden untuk merebut Greenland dari Denmark.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas warga Greenland ingin merdeka dari Denmark, tetapi apakah mereka ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat masih perlu didiskusikan. Meski demikian, Amerika Serikat kemungkinan dapat meraih dukungan penduduk pulau melalui insentif keuangan jangka pendek atau manfaat ekonomi jangka panjang di masa depan.

Awal tahun lalu, influencer ternama Amerika Serikat Nick Shirley pernah mengunjungi Greenland untuk mewawancarai penduduk setempat. Banyak anak muda di sana menyatakan bahwa mereka berharap Presiden Trump dapat “membeli” Greenland.


“Saya sekarang berada di Greenland. Anak ini memakai topi MAGA. Apa yang ingin kamu sampaikan kepada Trump?” katanya. 

Seorang warga Greenland menjawab:  “Beli Greenland! Beli Greenland! Beli Greenland! Tidak mau orang Denmark! Tidak mau orang Denmark! Kami tidak suka orang Denmark!”

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat

Pasangan Kekasih Iran Bergandengan Tangan Menghadapi Laras Senjata, Mengharukan Warganet Tiongkok 

Perlawanan rakyat Iran telah meluas ke seluruh negeri, dan rezim Khamenei yang dilanda kepanikan melepaskan tembakan untuk menindas. Video yang beredar luas memperlihatkan sepasang kekasih bergandengan tangan menghadang tembakan. Banyak warganet Tiongkok daratan tersentuh dan memberi tanda suka, serta berharap mereka juga memiliki keberanian seperti itu untuk memperjuangkan kebebasan bagi generasi mendatang.

EtIndonesia. Belakangan ini, video bertajuk “Pasangan Iran Melawan Kekuasaan Otoriter” ramai beredar di platform Douyin (TikTok versi Tiongkok). Meski video tersebut berulang kali diblokir, warganet terus membagikannya. Banyak komentar juga muncul, secara tersirat mengekspresikan keinginan untuk melawan tirani Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Salah satu video memperlihatkan sekelompok tentara dan polisi Iran mengangkat senjata dan berdiri di tengah jalan, menghalangi laju massa demonstran. Di antara mereka tampak asap mesiu, diduga baru saja melepaskan tembakan.

Pada saat itu, seorang pemuda berpakaian hitam merentangkan kedua tangannya dan melangkah perlahan menuju laras senjata yang menganga. Tak lama kemudian, seorang berpakaian hitam lainnya menggenggam lengan kirinya dan juga merentangkan tangan. 

Keduanya diduga sepasang kekasih, berjalan berdampingan perlahan menuju barisan tentara dan polisi. Hingga mereka tiba di hadapan aparat, tidak ada tembakan dilepaskan. Di sisi kanan video, terlihat seorang aparat yang tampak terharu perlahan menurunkan senjata yang semula terangkat.

Dalam video lain, seorang pemuda berpakaian hitam kembali terlihat merentangkan tangan dan berjalan menuju aparat bersenjata lengkap. Sang kekasih perempuan meski tampak ketakutan, tetap memilih untuk hidup dan mati bersama pacarnya. Ia berjalan di sisi belakang sang pria, menyembunyikan kepala di balik bahu kiri pacarnya, mengikuti langkahnya maju.

Belum diketahui apakah pasangan dalam kedua video tersebut adalah orang yang sama.

Tangkapan layar menunjukkan bahwa video yang dibagikan seorang kreator Douyin memperoleh lebih dari seribu komentar. Selain segelintir akun “pembersih citra” pasukan siber PKT, sebagian besar warganet memberikan tanda suka.

Banyak komentar berbunyi: “Pahlawan”, “Pejuang”, “Sangat mengharukan”, “Air mata mengalir”. Ada pula yang menulis: “Aku pengecut, tapi aku memberi hormat kepada semua pahlawan pemberani di dunia ini”, “Semoga suatu hari aku juga punya keberanian seperti ini”, dan “Aku berharap kelak bisa setangguh ini! Aku hanya ingin mengatakan kepada keturunan kami bahwa generasi kami—angkatan 80-an—bukan pengecut”.

Menurut banyak informasi yang beredar daring, aksi protes di Iran kini telah meluas ke 31 provinsi dan lebih dari 200 kota. Di sejumlah kota, warga menduduki gedung-gedung pemerintah dan membakar lembaga resmi. 

Di beberapa wilayah, warga bahkan telah mengangkat senjata untuk melawan. Aparat militer dan polisi di berbagai tempat menembaki para demonstran, memicu bentrokan sengit antara pemerintah dan rakyat. Dilaporkan sedikitnya lebih dari 30 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Namun, di sebagian daerah, ada polisi yang memilih menghentikan penindasan, bahkan mendukung perjuangan rakyat.

Video yang beredar juga memperlihatkan massa demonstran meneriakkan slogan “Tumbangkan Khamenei” dan merobohkan patung penguasa totaliter. Sebagian penentang secara terbuka menuntut agar pemerintahan teokrasi otoriter mundur, serta menyerukan agar putra mahkota yang terpaksa hidup di pengasingan kembali ke tanah air untuk memimpin.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyatakan bahwa jika rezim Iran membantai rakyatnya, militer AS akan turun tangan. Di bawah tekanan dari dalam dan luar negeri, rezim Khamenei kini berada di ujung tanduk. (Hui)

Bangkit dengan Mengandalkan Diri Sendiri

EtIndonesia. Di sebuah negara Barat, hiduplah seorang manajer yang menanamkan seluruh tabungan yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun ke dalam sebuah usaha manufaktur kecil. Namun, akibat pecahnya perang dunia, dia tidak lagi bisa mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan pabriknya. Tak ada pilihan lain, dia terpaksa menyatakan bangkrut.

Kehilangan harta dan runtuhnya pabrik membuatnya sangat terpukul. Dia merasa dirinya telah menyeret keluarganya ke dalam kehancuran. Didorong oleh rasa bersalah dan putus asa, dia meninggalkan istri dan anak-anaknya, lalu menjalani hidup sebagai seorang gelandangan.

Kenangan masa lalu terus berputar di benaknya. Dia tak mampu melupakan apa yang telah hilang, terus terjebak dalam masa lalu, dan sama sekali tidak mau memikirkan hari esok. Kesedihannya kian dalam, hingga pada suatu titik dia bahkan berniat melompat ke danau untuk mengakhiri hidupnya.

Suatu hari, secara kebetulan, dia melihat sebuah buku berjudul Kepercayaan Diri. Buku itu membahas bagaimana membangun kembali keyakinan diri, bagaimana bangkit setelah kehidupan dan pekerjaan runtuh, serta bagaimana menata ulang hidup setelah kegagalan. Setelah membacanya, hatinya dipenuhi kembali oleh keberanian dan harapan. Dia pun memutuskan untuk menemui penulis buku tersebut dan meminta bantuannya agar bisa bangkit kembali.

Dia mencari ke sana kemari, hingga akhirnya berhasil menemukan penulis itu. 

Setelah menceritakan seluruh kisah hidupnya, sang penulis berkata: “Aku mendengarkan ceritamu dengan penuh perhatian dan aku sungguh berharap bisa membantumu. Namun sejujurnya, aku sama sekali tidak punya kemampuan untuk menolongmu.”

Wajah pria itu seketika pucat. 

Dia terdiam beberapa menit, lalu menundukkan kepala dan bergumam pelan: “Kalau begitu, tamatlah sudah.”

Beberapa detik kemudian, sang penulis melanjutkan: “Walaupun aku tidak bisa membantumu, aku bisa memperkenalkanmu kepada seseorang. Orang ini mampu menolongmu bangkit kembali.”

Mendengar itu, sang gelandangan langsung melompat berdiri, menggenggam tangan penulis dengan penuh harap: “Demi Tuhan, tolong antarkan aku menemui orang itu.”

Penulis itu lalu membawanya ke sebuah kamar tidur di bagian dalam rumah. Di sana, dia mengajaknya berdiri di depan sebuah cermin besar. 

Sambil menunjuk ke arah cermin, penulis itu berkata: “Orang yang kumaksud adalah dia. Di dunia ini, hanya dengan bantuan orang ini kamu bisa bangkit kembali. Tapi kamu harus duduk dengan tenang, menatapnya baik-baik, dan mengenalnya secara mendalam. Jika tidak, lebih baik kamu melompat ke Danau Michigan saja. Karena sebelum kamu benar-benar mengenal orang ini, bagi dirimu sendiri maupun bagi dunia, kamu hanyalah orang yang tidak memiliki nilai apa pun.”

Pria itu melangkah mendekati cermin, menyentuh wajahnya yang penuh janggut, dan menatap sosok di cermin dari ujung kepala hingga ujung kaki selama beberapa menit. Lalu dia mundur beberapa langkah, menundukkan kepala, dan mulai menangis terisak-isak.

Tak lama kemudian, dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada sang penulis.

Beberapa hari berselang, penulis itu melihat pria tersebut kembali di jalanan. Dia hampir tak mengenalinya. Langkahnya kini mantap dan ringan, kepalanya tegak, pakaiannya rapi dan bersih. Dia tampak seperti orang yang sukses dan penuh percaya diri.

Dengan heran, penulis itu menyapanya. 

Mantan gelandangan itu dengan penuh semangat berkata: “Hari ketika saya meninggalkan kantor Anda, saya masih seorang gelandangan. Tapi di depan cermin itu, saya menemukan kembali kepercayaan diri saya. Sekarang, saya telah mendapatkan pekerjaan dengan gaji tahunan 3.000 dolar. Atasan saya bahkan telah memberi uang muka untuk membantu keluarga saya. Saya sudah kembali berada di jalur kesuksesan.”

Dia berhenti sejenak, lalu berkata sambil tersenyum, “Suatu hari nanti, saya akan kembali menemui Anda. Saya akan membawa sebuah cek yang sudah saya tandatangani, dengan nama penerima Anda dan jumlahnya masih kosong—silakan Anda isi sendiri. Karena Andalah yang membuat saya mengenal diri saya. Untung Anda menyuruh saya berdiri di depan cermin besar itu dan menunjukkan siapa diri saya yang sebenarnya.”

Renungan / Hikmah Cerita

Di dunia ini, hanya diri kitalah yang benar-benar mampu menolong diri kita sendiri untuk bangkit kembali. Dan hanya diri kita pula yang bisa menyadari nilai sejati yang kita miliki.

Dengan kepercayaan diri, kita dapat mengenal diri sendiri secara utuh, mampu menghadapi berbagai ujian, rintangan, dan kegagalan, serta berani melangkah untuk meraih kemenangan pada akhirnya.(jhn/yn)

Financial Times Mengungkap: Peretas PKT Bobol Email Staf Anggota Kongres AS

EtIndonesia. Surat kabar Inggris Financial Times pada Rabu (7 Januari) mengutip sumber yang mengetahui masalah ini dan mengungkapkan bahwa tahun lalu kelompok peretas Partai Komunis Tiongkok (PKT) bernama “Salt Typhoon” (Topan Garam) telah menyusup ke sistem email staf beberapa komite kunci Kongres Amerika Serikat, yang mencakup bidang militer, diplomasi, dan intelijen. 

Kementerian Luar Negeri PKT dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Para pengamat menilai bahwa “Salt Typhoon” merupakan unit di bawah Kementerian Keamanan Negara PKT, dan operasinya telah melampaui lingkup spionase tradisional, sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan energi, transportasi, dan komunikasi Amerika Serikat. Insiden ini menjadi pengingat bagi para legislator Kongres bahwa PKT adalah ancaman terbesar bagi dunia bebas.

Menurut sumber terkait, kelompok peretas PKT “Salt Typhoon” telah membobol sistem email staf dari sejumlah komite penting di Dewan Perwakilan Rakyat AS, termasuk Komite Urusan Tiongkok, Komite Hubungan Luar Negeri, Komite Intelijen, serta Komite Angkatan Bersenjata.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Luar Negeri PKT pada Kamis membantah keras semua tuduhan terkait.

 “PKT melakukan ini untuk menunjukkan bahwa mereka sangat memahami cara kerja politik Amerika Serikat… karena pentingnya Kongres, para stafnya memiliki akses ke sejumlah informasi dengan tingkat kerahasiaan yang relatif tinggi. Terlebih lagi, ketiga komite ini—militer, diplomasi, dan intelijen—semuanya berkaitan erat dengan PKT dan kawasan Asia-Pasifik,” ujar pengamat isu terkini dan blogger “Biro Intelijen Militer”, Zhou Ziding. 

Disebutkan bahwa insiden peretasan ini ditemukan pada Desember tahun lalu. Hingga kini belum diketahui apakah para peretas berhasil memperoleh isi email anggota Kongres itu sendiri.

Menurut laporan, “Salt Typhoon” adalah kelompok peretas di bawah Kementerian Keamanan Negara PKT, yang didukung oleh pendanaan dan sumber daya manusia dari seluruh mesin negara PKT.

Sebelumnya, “Salt Typhoon” juga pernah menyusup ke jaringan telekomunikasi sejumlah lembaga pemerintah di Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Asia Tenggara. Bahkan sempat berhasil mencuri komunikasi tidak terenkripsi dari sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk panggilan telepon, pesan teks, dan pesan suara.

Kini, “Salt Typhoon” telah menjadi salah satu ancaman utama terhadap keamanan siber Amerika Serikat. Pejabat AS memperingatkan bahwa tindakan kelompok ini telah melampaui aktivitas spionase tradisional. Strategi penempatan awal yang mereka lakukan membuat sistem energi, transportasi, dan komunikasi Amerika Serikat berada dalam risiko tinggi.

 “Serangan siber PKT terhadap Amerika Serikat bukanlah yang pertama. Dalam sepuluh tahun terakhir, PKT terus meningkatkan penyadapan terhadap jaringan telekomunikasi AS, termasuk berbagai lembaga pemerintah dan badan legislatif. Ini jelas merupakan masalah keamanan yang sangat serius dan tentu saja harus mendapat perhatian dari komunitas internasional,” tambah Zhou Ziding. 

Para analis menilai bahwa insiden ini merupakan peringatan penting bagi Amerika Serikat dan masyarakat bebas Barat.

 “Saya pikir ini juga menjadi peringatan bagi lembaga legislatif. Karena beberapa tahun lalu, masih ada sebagian orang di dalam Kongres yang berpikir bahwa kerja sama atau ‘saling menguntungkan’ dengan PKT masih mungkin dilakukan. Namun kita bisa melihat bahwa arah angin telah berubah sangat cepat,” jelasnya. 

“Hingga saat ini, baik Partai Republik maupun Partai Demokrat perlahan-lahan menyadari bahwa PKT, bagi Amerika Serikat maupun dunia bebas, adalah ancaman terbesar,” imbuhnya.  

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Chang Chun

Tunawisma Muda Membanjiri Kota-kota Tiongkok, Taman dan Terowongan Bawah Tanah Berubah Jadi Tempat Tidur Darurat

Perekonomian Tiongkok terus mengalami kelesuan, tingkat pengangguran tetap tinggi. Banyak orang tidak dapat menemukan pekerjaan dan terpaksa bermalam di jalanan. Data menunjukkan bahwa kelompok tunawisma di Tiongkok semakin muda, dan di banyak kota besar, taman-taman serta kolong jembatan secara diam-diam sudah “dipenuhi orang”.

EtIndonesia. Sejak 2025, dua pilar utama ekonomi Tiongkok—sektor properti dan perdagangan luar negeri—mengalami kejatuhan. Permintaan domestik tidak mampu menggerakkan ekonomi, dan berbagai sektor usaha mengalami kemerosotan. 

Gelombang PHK dan pengangguran menyapu hampir semua industri. Karena pendapatan kerja tidak stabil, banyak orang tidak berani membelanjakan uang, para pedagang pun kesulitan bertahan, sehingga pasar tenaga kerja semakin menyempit. Tiongkok kini terjebak dalam lingkaran setan penurunan ekonomi yang semakin cepat, dan jumlah tunawisma pun melonjak tajam.

Dua pemuda tidur di paviliun di taman. (Tangkapan layar dari video)
Dua pemuda tidur di taman. (Tangkapan layar dari video)

Banyak video yang beredar di media sosial Tiongkok memperlihatkan para tunawisma meringkuk di paviliun taman atau bermalam di bawah jembatan. Saat ini sudah musim dingin, banyak orang tidur langsung di tanah, hanya ditutupi selimut tua, meringkuk kedinginan di tengah hembusan angin dingin.

Karena sulit mendapatkan pekerjaan dan tidak mampu membayar sewa, banyak pekerja terpaksa hidup di jalanan demi bertahan hidup. Kolong jembatan, taman, jalur hijau, dan pintu belakang pusat perbelanjaan kini menjadi “tempat tinggal sementara” bagi semakin banyak pekerja. Di antara mereka ada kurir pengantar makanan, karyawan perusahaan besar yang terkena PHK, hingga lulusan baru perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan.

Sebuah taman di provinsi Guangdong menjadi tempat berkumpulnya sejumlah besar tunawisma. (Tangkapan layar dari video)
Sebuah taman di provinsi Guangdong menjadi tempat berkumpulnya sejumlah besar tunawisma. (Tangkapan layar dari video)
Sebuah taman di provinsi Guangdong menjadi tempat berkumpulnya sejumlah besar tunawisma. (Tangkapan layar dari video)

Seorang vlogger pada 5 Januari mengunggah video yang menyebutkan bahwa di Shenzhen, banyak pekerja migran memilih tidur di bawah jembatan atau di tenda demi menghemat biaya, tanpa menyewa tempat tinggal.

Vlogger lain mengatakan: “Sekarang kamu tahu betapa sulitnya keadaan di luar sana? Tahun ini semakin banyak pekerja yang memilih tidur di taman.” Dalam video terlihat di Taman Yingling, Kecamatan Dongkeng, Dongguan, banyak pekerja menggelar alas tidur di tanah untuk bermalam.

Seorang warganet Guangdong bernama “Bingbing Xiaoshimei” mengunggah video pada 6 November, mengatakan bahwa dirinya datang ke Guangdong untuk mencari pekerjaan namun gagal, sehingga terpaksa tidur di taman.

Dalam video tersebut, seorang perempuan menggelar tikar di bangku taman dan berbaring untuk tidur. Karena merasa takut tidur sendirian di taman, ia berpindah ke tempat yang lebih ramai dan tidur di tanah. Di dekatnya, sekelompok ibu-ibu sedang menari dansa persegi (tarian publik) dengan musik yang sangat keras. Perempuan itu mengeluh bahwa sekarang ia tidak takut lagi, tetapi justru tidak bisa tidur karena terlalu berisik.

Warganet “Langzi Minghui” dalam videonya mengatakan bahwa ia sudah tinggal di dalam tenda di bawah jembatan selama dua bulan dan berencana menetap di sana untuk jangka panjang.

Sejak 2025, semakin banyak anak muda yang tidak dapat menemukan pekerjaan dan terpaksa memilih untuk “rebahan total” (pasrah), menjalani hidup dengan keinginan rendah dan konsumsi rendah, serta menyebut diri mereka sebagai “manusia tikus”.

Pada 26 September 2025, media Caixin di Tiongkok daratan memuat sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Biro Data Nasional, dipimpin oleh Chen Ronghui, bersama 34 lembaga survei provinsi, telah melaksanakan pendataan populasi tunawisma. 

Data laporan internal menunjukkan bahwa hingga akhir Agustus, jumlah tunawisma di Tiongkok mencapai sekitar 47,5 juta orang, meningkat 5,3 kali lipat dibandingkan tahun 2020.

Di antaranya, kelompok usia di bawah 33 tahun mencapai 61%, usia di atas 60 tahun sekitar 25%. Sementara pada tahun 2020, kelompok usia di atas 65 tahun hanya sekitar 6,95%. Data ini menunjukkan bahwa populasi tunawisma di Tiongkok jelas semakin muda. Namun, artikel tersebut segera diblokir dan disensor.

Sejumlah warganet berkomentar bahwa jumlah populasi ini lebih besar dibandingkan total penduduk sebagian besar negara di dunia. Mereka menilai bahwa pada akhir sebuah dinasti, gelandangan akan tersebar luas, kerusuhan dan pemberontakan akan muncul. Jika situasi ini terus berlanjut, kerentanan rezim akan meningkat dan pada akhirnya dapat menyebabkan runtuhnya kekuasaan.

Laporan komprehensif oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui 

Perang Ditunda, Perburuan Dimulai: Trump Ubah Venezuela Jadi Medan Catur Global

EtIndonesia. Amerika Serikat memasuki fase baru dalam kebijakan Amerika Latin setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pembatalan gelombang kedua operasi militer terhadap Venezuela, menyusul perubahan sikap Caracas yang dinilai lebih kooperatif.

Operasi Militer Dibekukan, Investasi Minyak Mengalir

Pada 9 Januari 2026, Trump menyatakan bahwa Washington membatalkan rencana lanjutan operasi militer karena kerja sama dengan pihak Venezuela menunjukkan perkembangan positif. Dia menegaskan bahwa hubungan bilateral saat ini “berjalan dengan baik”.

Seiring dengan itu, perusahaan-perusahaan raksasa minyak global diperkirakan akan menanamkan investasi sedikitnya 100 miliar dolar AS di Venezuela, menandai perubahan besar setelah bertahun-tahun negara tersebut berada dalam isolasi ekonomi dan sanksi internasional.

Armada Bayangan Rusia Diburu

Masih pada 9 Januari, sedikitnya sembilan kapal pesiar yang diduga merupakan bagian dari “armada bayangan” Rusia dilaporkan melarikan diri secara bertahap dari berbagai perairan internasional. Empat kapal di antaranya mengibarkan bendera Rusia.

Militer AS kini memperluas pengejaran, sementara Penjaga Pantai Amerika Serikat telah berhasil menyita kapal pesiar Orinna, setelah sebelumnya mengamankan Bella I dan Sophia, serta beberapa kapal lain yang tercantum dalam daftar sanksi. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi Washington memutus jalur logistik energi ilegal yang menopang Rusia.

Kolombia–AS Sepakat Hantam ELN

Menurut laporan media internasional, setelah penangkapan Nicolás Maduro oleh militer AS, Trump menyampaikan peringatan keras kepada Kolombia terkait keamanan perbatasan.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Kolombia, Gustavo Petro pada 8 Januari 2026 secara proaktif menghubungi Trump. Dalam percakapan telepon pertama mereka, kedua pemimpin sepakat melakukan tindakan bersama untuk menargetkan Tentara Pembebasan Nasional (ELN), kelompok gerilya besar terakhir di Kolombia yang terlibat aktif dalam penyelundupan kokain di perbatasan Kolombia–Venezuela.

Upaya perundingan damai Petro dengan ELN sebelumnya dinilai gagal. Kali ini, Petro secara terbuka meminta bantuan Washington untuk melancarkan operasi militer keras terhadap kelompok tersebut.

Trump: Diplomasi Tak Cukup Hadapi Kartel Narkoba

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa dia telah berulang kali menawarkan bantuan kepada Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum untuk memberantas kartel narkoba, namun selalu ditolak.

Trump menegaskan bahwa kartel narkoba memiliki kendali besar atas Meksiko dan bertanggung jawab atas sekitar 300.000 kematian per tahun di AS. Dia menyatakan bahwa kekuatan militer diperlukan, bukan sekadar diplomasi.

Trump juga mengklaim bahwa 97% jalur penyelundupan narkoba melalui laut dan perairan telah berhasil diputus, dan kini Washington bersiap melancarkan operasi darat. Meski Sheinbaum belakangan menyatakan ingin memperbaiki komunikasi, seorang analis politik menilai janji pengetatan terhadap kartel tak pernah ditepati, sehingga Trump kini memilih menjaga jarak.

Kuba Melunak: “Masalah Ada pada Kami Sendiri”

Sebuah video yang beredar luas menunjukkan Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel mengubah sikapnya secara mengejutkan. 

Dia menyatakan : “Mungkin kita memang harus mulai melakukan refleksi. Masalah Kuba terletak pada kita sendiri, pada Partai Komunis.”

Pernyataan ini dinilai sebagai sinyal langka pelunakan sikap Havana terhadap tekanan internasional.

Trump Bertemu Oposisi Venezuela

Trump juga mengonfirmasi rencananya untuk bertemu pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado pada pekan berikutnya. Dia menilai bahwa pemerintahan sementara di bawah Jorge Rodríguez tidak memenuhi syarat untuk menyelenggarakan pemilu baru.

Menurut laporan ABC pada 9 Januari, Rodríguez mengajukan permohonan kunjungan ke Washington sebelum Selasa pekan depan, termasuk kemungkinan agenda ke Gedung Putih. Karena dia dikenai sanksi HAM AS, kunjungan ini memerlukan penangguhan sementara sanksi oleh Departemen Keuangan, dengan koordinasi lintas lembaga seperti Departemen Luar Negeri, Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan OFAC.

Sehari sebelumnya, 8 Januari, Rodríguez mengunggah pernyataan di media sosial yang mengucapkan terima kasih kepada Partai Komunis Tiongkok, disertai foto pertemuannya dengan Duta Besar Tiongkok untuk Venezuela, Lan Hu.

AS Tegaskan Batas Pengaruh Tiongkok

Menteri Energi AS, Wright menegaskan bahwa Washington tidak akan pernah mengizinkan Beijing menguasai kendali strategis Venezuela atau menjadikannya negara satelit Tiongkok.

Menanggapi hal tersebut, analis politik Hu Ping menilai pemerintah sementara Venezuela berusaha menyeimbangkan AS dan Tiongkok. Dia menyimpulkan bahwa Trump kini mempertimbangkan dukungan lebih besar kepada oposisi sebagai langkah penyeimbang terhadap pengaruh Beijing.

Taruhan Besar Tiongkok: Utang dan Minyak Terancam

Selama puluhan tahun, Tiongkok telah menyalurkan lebih dari 60 miliar dolar AS pinjaman kepada Venezuela melalui skema oil-for-loan. Pemerintahan baru berpotensi menggunakan prinsip “utang keji” untuk menolak pembayaran.

Sementara itu, Sinopec dan CNPC memiliki kepentingan sekitar 4,4 miliar barel minyak, senilai 264 miliar dolar AS. Kedua perusahaan dilaporkan meminta bantuan darurat ke Beijing, sementara bank-bank kebijakan Tiongkok bersiap menghadapi skenario kerugian total.

Rusia dan Korea Utara Bereaksi

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengecam tindakan AS sebagai agresi bersenjata dan melakukan panggilan telepon dengan Rodríguez. Namun hingga kini, Presiden Vladimir Putin belum memberikan pernyataan publik.

Pada 8 Januari, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un menyatakan dukungan tanpa syarat kepada seluruh kebijakan Putin, menegaskan penguatan kemitraan strategis Rusia–Korea Utara. Pernyataan ini muncul tak lama setelah Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung menyelesaikan kunjungan ke Tiongkok.

Di media sosial Tiongkok, reaksi publik beragam—mulai dari sindiran bahwa Kim “mencari pelindung” hingga menyebutnya “Maduro berikutnya”. Meski Pyongyang–Moskow menghangat, hubungan Korea Utara–Tiongkok dinilai tidak sepenuhnya solid.

Babak Paling Krisis Sejak 1979: 31 Provinsi Bergolak, Garda Revolusi Jadi Sasaran, AS Masuk Skenario

EtIndonesia. Gelombang krisis di Iran memasuki fase paling genting sejak Revolusi Islam 1979. Aksi protes yang semula bersifat demonstrasi damai kini berkembang menjadi pemberontakan nasional terbuka, menyusul pemutusan total internet, pengerahan militer, serta meningkatnya bentrokan bersenjata di berbagai wilayah.

Rakyat Tetap Turun ke Jalan Meski Internet Diputus

Pada Kamis–Jumat, 8–9 Januari 2026, meskipun pemerintah Iran memutus total akses internet dan sambungan telepon internasional, rakyat tetap turun ke jalan menanggapi seruan Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi. Demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah kota dengan teriakan slogan anti-pemerintah yang menggema hingga larut malam.

Lembaga komunikasi aktivis HAM yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan bahwa hingga 9 Januari, sedikitnya 45 orang tewas dan 2.270 orang ditangkap akibat bentrokan dan tindakan represif aparat keamanan.

Militer Turun Tangan, Garda Revolusi Ambil Alih Jalanan

Sejumlah unggahan di media sosial sebelumnya mengungkapkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengumumkan penutupan total wilayah udara Iran. Video terbaru yang beredar di platform X memperlihatkan bahwa pada dini hari 9 Januari, pasukan milisi keamanan ditarik dari jalan-jalan ibu kota Teheran dan digantikan langsung oleh unit militer Garda Revolusi.

Langkah ini memicu kekhawatiran luas bahwa pemerintah Iran tengah mempersiapkan penindasan militer berskala besar terhadap rakyatnya sendiri.

Peringatan Keras: Pemutusan Internet Dinilai Sangat Berbahaya

Komentator politik Cai Shengkun menilai bahwa pemutusan total jaringan komunikasi nasional merupakan sinyal ekstrem dan berbahaya. Dia mengingatkan bahwa pada gelombang protes besar sebelumnya, pemadaman internet digunakan aparat keamanan untuk melakukan penangkapan massal dan penembakan terhadap demonstran, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.

“Setiap kali internet diputus, selalu diikuti darah,” tegasnya.

Bentrok Berdarah di Zahedan

Di Zahedan, ibu kota Provinsi Sistan–Baluchestan, bentrokan hebat pecah pada Jumat, 9 Januari 2026, setelah salat Jumat. Pasukan keamanan dilaporkan melepaskan tembakan langsung ke arah massa di sekitar Masjid Makki, menyebabkan banyak korban luka dan korban jiwa. Insiden ini semakin memperkuat kemarahan publik di wilayah selatan dan timur Iran.

Dari Protes Damai ke Pemberontakan Terbuka

Seiring meningkatnya eskalasi, aksi protes kini berubah menjadi pemberontakan. Laporan dari berbagai daerah menyebutkan bahwa markas Garda Revolusi di Bojnurd serta stasiun televisi nasional di Isfahan telah menjadi sasaran serangan. Para demonstran secara terbuka menyebut situasi saat ini sebagai “pertempuran terakhir” melawan rezim.

Trump Keluarkan Ancaman Serangan

Pada larut malam 8 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras. Dia menyebut semangat rakyat Iran untuk menggulingkan rezim sebagai “luar biasa”, dan memperingatkan bahwa jika pemerintah Iran membantai demonstran, Amerika Serikat siap melancarkan serangan yang sangat keras.

Khamenei Tampil di TV, Tegaskan Tidak Akan Mundur

Sebagai respons, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada 9 Januari 2026 untuk pertama kalinya menyampaikan pidato yang disiarkan televisi nasional. Dia menegaskan bahwa rezim tidak akan mundur dan akan menindak tegas para pengunjuk rasa.

Menurut laporan Reuters, Khamenei bahkan menyampaikan pesan langsung kepada Trump agar “mengurus negaranya sendiri”.

Israel Terbuka Dukung Rakyat Iran

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu secara terbuka memuji keberanian rakyat Iran. Dia menegaskan bahwa rezim Teheran lebih memilih menghabiskan puluhan miliar dolar untuk mendukung Hamas dan Hizbullah daripada mengatasi kelaparan dan kemiskinan di dalam negeri.

Netanyahu menekankan bahwa Israel tidak memusuhi rakyat Iran, melainkan menentang tirani yang menindas mereka. Menteri Kebudayaan Israel bahkan mengungkapkan bahwa agen-agen Israel tengah menjalankan operasi di dalam wilayah Iran.

Dukungan Internasional Mengalir

Dukungan terhadap rakyat Iran juga datang dari Eropa. Putra Mahkota Italia serta Menteri Luar Negeri Austria secara terbuka menyatakan solidaritas dan mengecam keras penindasan yang dilakukan pemerintah Iran.

Internet Diputus, Starlink Disebut Dibuka Diam-diam

Pengamat menilai bahwa Khamenei sangat takut terhadap meluasnya gelombang protes secara nasional dan internasional. Karena itu, dia kembali memerintahkan pemutusan internet untuk mengisolasi Iran dari dunia luar.

Namun, sumber media sosial menyebutkan bahwa Elon Musk secara diam-diam telah menginstruksikan pembukaan akses internet gratis bagi demonstran Iran. Sebelumnya, Musk juga pernah menyediakan layanan internet gratis selama sekitar satu bulan di Venezuela.

Pahlavi Bangun Jalur Politik ke Lingkaran Trump

Reza Pahlavi menegaskan bahwa komunikasi rakyat Iran tidak akan pernah terputus. Dia menyatakan bahwa pemutusan internet justru akan mempercepat kehancuran rezim karena mendorong lebih banyak rakyat turun ke jalan.

Pahlavi dijadwalkan mengunjungi Mar-a-Lago sebelum 12 Januari 2026 untuk menghadiri peringatan 10 tahun Jerusalem Prayer Breakfast dan bertemu Trump. Acara ini juga akan dihadiri putra mantan Presiden Brasil serta sejumlah anggota parlemen dari kubu Bolsonaro.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Pahlavi membangun pengaruh melalui jalur non-resmi di lingkaran pribadi Trump. Di platform X, Pahlavi secara terbuka berterima kasih atas dukungan keras Trump dan menyebut peringatan tersebut sebagai sumber harapan bagi rakyat Iran.

Seruan Aksi Serentak Nasional

Pahlavi menyerukan agar rakyat Iran setiap malam pukul 20:00 serentak turun ke jalan atau berteriak dari jendela rumah. Seruan ini mendapat respons luas di 31 provinsi, mematahkan pola protes sporadis sebelumnya.

Video daring memperlihatkan massa di Teheran dan kota-kota lain mengelilingi api unggun, membakar potret Qassem Soleimani, mencabut kamera pengawas, serta mengibarkan bendera singa dan matahari—simbol nasional Iran sebelum era Republik Islam.

Situasi Militer: AS Siaga, Elite Iran Terbelah

Laporan juga menyebutkan bahwa demonstran di Provinsi Fars telah menerobos gerbang unit militer, sementara penerbangan internasional menuju Iran dibatalkan satu per satu. Markas Garda Revolusi di Bojnurd bahkan dilaporkan diserang secara bersenjata.

Analisis menyimpulkan bahwa Garda Revolusi kini menjadi target utama kemarahan rakyat. Di sisi lain, Presiden Iran dilaporkan memerintahkan agar aparat tidak menembak rakyat, menandakan kemungkinan perpecahan serius di tubuh elite kekuasaan.

Secara paralel, pembom strategis B-52 Amerika Serikat dilaporkan memasuki wilayah Irak, sementara Pasukan Delta AS menggelar latihan di perbatasan Irak–Iran. Pengamat militer menilai bahwa jika penindasan ditingkatkan, AS memiliki kemampuan melakukan serangan presisi cepat terhadap fasilitas militer dan pusat komando Iran.

Dampak Global: Tiongkok Disebut Paling Terancam

Analis Wang Hao menilai bahwa jika Amerika Serikat menerapkan model intervensi seperti di Venezuela, Tiongkok akan menjadi pihak yang paling dirugikan, kehilangan jalur energi dan infrastruktur strategis, serta menghadapi tekanan geopolitik besar dari Washington.

Iran Dibungkam dalam Semalam: 90 Juta Orang Terisolasi, Tiga Pilar Kekuasaan Khamenei Retak Serentak

EtIndonesia. Iran pada Kamis malam, 8 Januari 2026, memasuki fase yang oleh banyak pengamat internasional disebut sebagai “malam penentuan”—sebuah momen krusial yang dinilai berpotensi menentukan nasib rezim Republik Islam Iran untuk pertama kalinya sejak Revolusi 1979.

Sedikitnya 340.000 akun analis, jurnalis independen, dan influencer geopolitik di berbagai platform global secara serempak memantau perkembangan situasi Iran sepanjang malam tersebut. Salah satu analis ternama, Neuberger, menyatakan bahwa “malam ini adalah malam terpenting bagi Iran sejak 1979”—sebuah pernyataan yang mencerminkan betapa gentingnya kondisi yang sedang berlangsung.

Menurut para pengamat, malam ini akan menentukan apakah pemberontakan rakyat dapat dipadamkan, atau justru mampu melangkah lebih jauh menuju kemenangan strategis atas rezim Ayatollah Ali Khamenei.

Namun hingga larut malam, hasilnya tetap tak terlihat. Seluruh negeri berada dalam kondisi bungkam total.

Negara Dibungkam: Internet Nol Total, Iran Berubah Menjadi “Penjara Raksasa”

Sejak malam 8 Januari, Iran dilaporkan memutus total jaringan komunikasi nasional. Telepon seluler tidak berfungsi, sinyal operator hilang, dan akses internet internasional nol total. Warga tidak dapat saling berkomunikasi, sementara dunia luar kehilangan akses untuk memverifikasi situasi di lapangan secara independen.

Di tengah pemadaman informasi tersebut, beredar laporan bahwa pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) telah melepaskan tembakan ke arah massa di sejumlah titik. Dengan komunikasi yang sepenuhnya terputus, Iran seolah berubah menjadi penjara tertutup bagi lebih dari 90 juta penduduknya.

Para analis menilai, pemutusan total komunikasi ini menandakan ketakutan akut rezim, karena untuk pertama kalinya pusat perlawanan tidak lagi berada di wilayah pinggiran, melainkan menekan langsung ke jantung kekuasaan negara.

Teheran Menjadi Garis Depan, Isfahan Terbakar

Ibu kota Teheran kini berubah menjadi garis depan utama. Gelombang massa turun ke jalan dalam skala besar, memicu bentrokan intens dengan aparat keamanan.

Sementara itu, eskalasi paling simbolik terjadi di Isfahan. Gedung penyiaran radio dan televisi pemerintah di kota tersebut dilaporkan dibakar massa. Sejumlah warga setempat mengatakan kepada BBC bahwa pusat Kota Isfahan telah dikuasai secara de facto oleh demonstran.

Isfahan bukan kota biasa. Kota ini merupakan ibu kota sejarah Iran, pusat kebudayaan Persia, serta sentra industri penerbangan dan militer. Kehilangannya memiliki dampak simbolik dan strategis yang sangat besar bagi rezim.

Pada saat yang sama, urat nadi ekonomi Iran, yakni Pelabuhan Bandar Abbas di Teluk Persia, juga dilaporkan jatuh ke tangan massa.

Dalam satu malam, tiga pilar utama rezim Khamenei— pusat politik (Teheran), jantung budaya dan militer (Isfahan), serta arteri ekonomi (Bandar Abbas)— serentak memasuki kondisi krisis serius.

Isu Kurdistan dan Dugaan Campur Tangan Asing

Situasi kian memburuk ketika seruan kemerdekaan Kurdi semakin menguat. Kelompok-kelompok politik menyerukan mogok nasional, sementara sejumlah pemimpin Kurdi di pengasingan secara terbuka meminta dukungan Amerika Serikat dan Israel untuk memperjuangkan kemerdekaan sekitar 14 juta rakyat Kurdi.

Di balik layar, muncul dugaan bahwa kekuatan eksternal mulai mengambil peran aktif. Neuberger mengklaim bahwa unit intelijen Israel, Mossad, telah menyusup ke jalanan Iran.

Menurut klaim tersebut—yang masih menunggu verifikasi independen—agen Mossad tidak hanya melacak lokasi persembunyian Khamenei, tetapi juga mendistribusikan perangkat Starlink kepada para demonstran.

Dia juga menyebut adanya terowongan bawah tanah di sejumlah masjid yang digunakan Garda Revolusi untuk menyimpan logistik, senjata, makanan, dan air. Koordinat lokasi tersebut diklaim telah dibagikan kepada massa.

Jika informasi ini terbukti benar, maka Iran sedang menghadapi serangan presisi dari luar yang bersifat “bedah pisau”, langsung menusuk struktur inti rezim.

Tiga Sinyal Global Muncul Secara Bersamaan

Bersamaan dengan eskalasi di dalam negeri Iran, tiga sinyal global muncul hampir serempak:

1. Rusia Evakuasi Staf dari Israel

Setelah menarik diri dari Iran, Rusia dilaporkan kembali mengevakuasi stafnya dari Israel.
Akun Daily Iran News menyebutkan bahwa dalam 24 jam, Rusia telah tiga kali mengirim pesawat untuk mengevakuasi staf Kedutaan Besar Rusia di Israel beserta keluarga mereka.

2. Israel Bersiap Membangun Tembok

Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan peledakan ladang ranjau lama di Lembah Yordan sebagai persiapan pembangunan tembok perbatasan dengan Yordania. Langkah ini ditafsirkan sebagai antisipasi perang regional, guna mencegah Iran membuka front belakang terhadap Israel.

3. Trump Memperjelas Garis Merah

Pada 8 Januari, Presiden AS, Donald Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat akan melakukan pembalasan sangat berat jika rezim Iran menembaki rakyatnya.

Sehari kemudian, 9 Januari, laman resmi berbahasa Persia Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa rezim Iran telah menerima peringatan yang jelas dan serius.

Para analis menilai ini sebagai eskalasi dari kecaman moral menuju sinyal kebijakan nyata.

Elite Iran Bersiap Hadapi Skenario Terburuk

Di tengah krisis, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi dilaporkan tiba di Beirut, Lebanon, bersama istri dan anak-anaknya.

Media Lebanon menilai kehadiran keluarga tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ini bukan sekadar diplomatik, melainkan indikasi bahwa elite rezim sedang menyiapkan jalur pengamanan pribadi.

Menuju Skenario Perubahan Rezim Global?

Pakar strategi Taiwan Lin Ting-hui menyebut bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menghabiskan empat hari bersama Trump di resor Mar-a-Lago selama libur Tahun Baru.

Menurut Lin, pertemuan selama itu hampir mustahil tidak membahas pengakhiran rezim Khamenei. Dia menambahkan bahwa hampir 50% impor minyak Tiongkok melewati Teluk Persia. Jika Iran berubah menjadi rezim pro-AS, jalur energi vital Beijing dapat ditekan secara langsung.

Dalam konteks ini, Lin menilai bahwa Vladimir Putin pada akhirnya bisa memilih mengorbankan Xi Jinping demi kepentingan strategis Rusia.

Starlink dan Ketakutan Beijing

Kekhawatiran Tiongkok terhadap Starlink bukan isapan jempol. Media internal Tiongkok mengakui bahwa mengganggu jaringan Starlink secara total membutuhkan sistem gangguan berskala sangat besar, yang secara tidak langsung menegaskan bahwa komunikasi satelit adalah titik vital konflik masa depan, termasuk di kawasan Taiwan.

Jika Iran benar-benar mengalami perubahan rezim, pertanyaan besar pun muncul di panggung global:  apakah Beijing akan menjadi target berikutnya, atau justru memilih konfrontasi terbuka?

Peristiwa malam 8 Januari 2026 kini dipandang bukan sekadar krisis domestik Iran, melainkan awal dari potensi pergeseran geopolitik besar di Timur Tengah—dan mungkin dunia.

Jantung Energi Iran Direbut! Khuzestan Bergolak, TV Nasional Dibakar, Starlink Tembus Blokade

EtIndonesia. Situasi keamanan dan stabilitas nasional Iran dilaporkan memasuki fase yang semakin genting. Sejumlah video dan informasi yang beredar dari sumber internal Iran menunjukkan bahwa ladang minyak dan fasilitas penyulingan di Provinsi Khuzestan telah diduduki oleh kelompok bersenjata. Hingga berita ini disusun, pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi atau membantah klaim tersebut.

Khuzestan: Jantung Energi Iran

Provinsi Khuzestan selama ini dikenal sebagai tulang punggung sektor energi nasional Iran. Berdasarkan data industri energi yang banyak dirujuk analis internasional:

  • Khuzestan menyumbang sekitar 80% produksi minyak mentah Iran
  • Sekitar 60% produksi gas alam berasal dari wilayah ini
  • Provinsi ini menjadi pusat jaringan pipa utama, pelabuhan ekspor, serta fasilitas penyulingan strategis

Penguasaan atas wilayah ini, meskipun bersifat sementara, dipandang para analis sebagai ancaman langsung terhadap kemampuan produksi dan ekspor energi Iran.

Dampak Ekonomi yang Berpotensi Fatal

Dari sisi ekonomi makro, ekspor minyak menyumbang sekitar 20–30% Produk Domestik Bruto (PDB) Iran dan merupakan sumber devisa utama negara. Karena itu, para pengamat menilai bahwa:

  • Gangguan di Khuzestan berpotensi melumpuhkan arus pendapatan negara
  • Kapasitas ekspor minyak Iran dapat turun drastis dalam waktu singkat
  • Tekanan ekonomi terhadap pemerintahan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei akan meningkat tajam

Sejumlah analis bahkan menyebut bahwa jika kendali Khuzestan benar-benar lepas, dampaknya terhadap stabilitas rezim bisa bersifat sistemik dan sulit dipulihkan.

Stasiun Televisi Isfahan Dilaporkan Dibakar

Di saat yang hampir bersamaan, stasiun televisi nasional Iran di Kota Isfahan dilaporkan dibakar. Isfahan merupakan kota terbesar ketiga di Iran dan memiliki nilai strategis tinggi, baik dari sisi:

  • Sejarah dan kebudayaan
  • Industri manufaktur dan militer
  • Infrastruktur komunikasi nasional

Pembakaran fasilitas media negara ini dipandang sebagai eskalasi simbolik, karena menyerang langsung alat komunikasi dan propaganda resmi pemerintah.

Starlink Disebut Aktif, Internet Tetap Hidup di Tengah Pemadaman

Di ranah internasional, stasiun televisi Israel Channel 14 melaporkan bahwa Elon Musk telah membuka akses jaringan satelit Starlink bagi masyarakat Iran.

Menurut laporan tersebut:

  • Akses Starlink memungkinkan demonstran tetap berkomunikasi
  • Jaringan tetap berfungsi meski terjadi pemadaman listrik dan pemutusan internet nasional
  • Komunikasi lintas kota dan lintas negara masih dapat dipertahankan

Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi langsung dari Elon Musk maupun pemerintah Iran yang mengonfirmasi detail teknis dan cakupan layanan tersebut.

Titik Kritis bagi Iran

Kombinasi antara:

  • Dugaan penguasaan wilayah energi vital
  • Gangguan terhadap media nasional
  • Terbukanya jalur komunikasi alternatif di luar kendali negara

Dinilai banyak pengamat sebagai indikasi bahwa Iran sedang menghadapi titik kritis dalam sejarah politik dan ekonominya. Situasi ini bukan lagi sekadar protes sosial biasa, melainkan krisis multidimensi yang menyentuh keamanan energi, legitimasi politik, serta kontrol negara atas informasi.

Perkembangan selanjutnya sangat bergantung pada:

  • Respons militer dan politik pemerintah pusat
  • Sikap aparat keamanan di daerah
  • Reaksi kekuatan internasional terhadap eskalasi krisis

Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau dengan ketat perkembangan di Iran, menyusul potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.