Internet dan Telepon di Iran Diputus Saat Aksi Protes Meledak Menjawab Seruan Pangeran Pengasingan

Reza Pahlavi, putra shah yang digulingkan pada 1979 menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan turun ke jalan melalui unggahan di X.

EtIndonesia. Pemadaman internet dan jaringan telepon dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Iran pada 8 Januari, ketika gelombang protes terus meluas setelah seruan dari pangeran Iran yang hidup di pengasingan. Selama beberapa hari terakhir, demonstrasi meletus di seluruh negeri—awalnya dipicu krisis ekonomi. 

Namun kini, aksi protes berkembang menjadi tuntutan terbuka untuk menggulingkan rezim yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Reza Pahlavi, putra shah yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, kembali menyerukan eskalasi perlawanan melalui video yang ia unggah di X pada 7 Januari.

“Saudara-saudari sebangsaku, hari ini, 7 Januari, kehadiran kalian di seluruh Iran belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah deklarasi kesiapan untuk rencana esok hari,” kata Pahlavi dalam video tersebut.

“Kami menerima laporan bahwa rezim sangat ketakutan dan sekali lagi berusaha memutus internet. Ketahuilah, komunikasi kita tidak akan bisa mereka lumpuhkan—baik melalui ratusan ribu perangkat Starlink di Iran, maupun melalui jaringan televisi Iran International dan Manoto.”

Pahlavi menegaskan bahwa rencana tersebut akan “memaku satu paku lagi ke peti mati rezim ini.”

Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran, menggelar konferensi pers di Paris pada 23 Juni 2025. Joel Saget/AFP via Getty Images

Dalam unggahan lanjutan pada 9 Januari, ia menulis:

“Saya bangga kepada setiap dari kalian yang turun ke jalan di seluruh Iran pada Kamis malam.”
Ia menyerukan agar mereka yang belum ikut bergabung segera turun ke jalan pada 9 Januari.

Sementara itu, media pemerintah Iran mengklaim bahwa kota-kota di seluruh negeri dalam keadaan “tenang,” menurut laporan IranWire.

Pada 9 Januari, Khamenei menuduh para demonstran bertindak atas perintah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan menyatakan bahwa para perusuh telah merusak fasilitas publik. Ia memperingatkan bahwa Teheran tidak akan mentoleransi siapa pun yang bertindak sebagai “tentara bayaran asing.”

“Tadi malam di Teheran, sekelompok perusuh dan vandalis merusak sebuah bangunan milik negara—milik rakyat sendiri—hanya demi menyenangkan hati Presiden Amerika Serikat,” ujar Khamenei, seraya menyindir Trump: “Urus saja negerimu sendiri.”

Trump sebelumnya memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan turun tangan bila Iran menggunakan kekerasan mematikan terhadap para demonstran.

“Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” kata Trump pada 4 Januari.

Gelombang protes saat ini—yang merupakan yang terbesar dalam tiga tahun terakhir—dimulai bulan lalu di Grand Bazaar Teheran, ketika para pedagang mengecam kejatuhan bebas nilai rial, mata uang Iran.

Namun, skalanya belum menyamai demonstrasi besar 2022 terkait hak-hak perempuan yang meletus setelah kematian Mahsa Amini, perempuan Kurdi yang tewas dalam tahanan.

Dalam pernyataan 8 Januari, Amnesty International menuduh rezim Iran melancarkan “penumpasan mematikan terhadap para demonstran di seluruh negeri” sejak Desember, serta melakukan “penggunaan kekuatan dan senjata api secara melawan hukum serta penangkapan massal sewenang-wenang.”

Pasukan keamanan—termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan kepolisian Iran (FARAJA)—disebut menggunakan senapan, senapan tabur berpeluru logam, meriam air, gas air mata, serta pemukulan untuk membubarkan, mengintimidasi, dan menghukum para demonstran yang sebagian besar bersifat damai.

Lembaga HAM berbasis di AS, HRANA, mencatat korban tewas telah mencapai 42 orang, termasuk 5 anak di bawah 18 tahun, serta 8 personel keamanan. Lebih dari 2.277 orang dilaporkan telah ditangkap hingga 8 Januari.

Reuters berkontribusi dalam laporan ini.

Tri Dukung Pengembangan Generasi Muda lewat Yamaha Fazzio Liga Tendang Bola 2026

Surabaya, 9 Januari 2026 — Indosat Ooredoo Hutchison melalui brand Tri kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan generasi muda dengan berpartisipasi dalam Yamaha Fazzio Liga Tendang Bola (LTB) with Tri 2026, sebuah liga futsal pelajar yang dikemas sebagai ekosistem sportainment berkelanjutan.

Memasuki musim terbarunya, Liga Tendang Bola 2026 hadir dengan skala yang lebih luas, melibatkan pelajar dari Surabaya, Gresik, dan Mojokerto. Sejak pertama kali digelar pada 2023, ajang ini terus berkembang dari kompetisi tingkat kota menjadi liga regional yang mendapat antusiasme tinggi dari pelajar dan komunitas sekolah.

Pada musim sebelumnya, Liga Tendang Bola mencatat puluhan ribu penonton secara langsung serta ratusan ribu penonton melalui platform digital. Capaian tersebut memperkuat posisi Liga Tendang Bola sebagai salah satu ajang sportainment pelajar terbesar di Jawa Timur.

Sebagai partner strategis, Tri memberikan dukungan melalui penyediaan konektivitas digital, aktivasi langsung ke sekolah-sekolah, serta program apresiasi bagi peserta. Dukungan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Tri untuk menghadirkan ruang positif, aman, dan relevan bagi generasi muda dalam menyalurkan bakat dan membangun karakter.

Melalui kolaborasi ini, Tri berharap Liga Tendang Bola 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi futsal, tetapi juga wadah pembinaan sportivitas, kreativitas, dan kepercayaan diri pelajar, sekaligus memperkuat peran Tri sebagai partner digital generasi muda Indonesia.

Yang Paling Unggul dan Paling Cerdas

EtIndonesia. Pada tahun 1960, Robert Rosenthal, seorang profesor dari Universitas Harvard, pernah melakukan sebuah eksperimen terkenal di sebuah sekolah di California.

Saat tahun ajaran baru dimulai, Dr. Rosenthal meminta kepala sekolah memanggil tiga orang guru ke ruangannya. 

Kepada mereka dia berkata: “Berdasarkan kinerja mengajar kalian selama ini, kalian adalah guru-guru terbaik di sekolah ini. Karena itu, kami secara khusus memilih 100 siswa paling cerdas di seluruh sekolah untuk dibagi ke dalam tiga kelas dan diajar oleh kalian. Tingkat kecerdasan mereka lebih tinggi dibandingkan siswa lain. Kami berharap kalian bisa membantu mereka meraih prestasi yang lebih baik.”

Ketiga guru itu merasa sangat senang dan menyatakan akan berusaha sebaik mungkin. Kepala sekolah kemudian berpesan agar mereka memperlakukan para siswa tersebut seperti biasa, tanpa memberi tahu anak-anak maupun orangtua mereka bahwa siswa-siswa itu dipilih secara khusus. Ketiga guru pun menyetujui hal tersebut.

Satu tahun kemudian, prestasi ketiga kelas itu benar-benar menonjol dan berada di jajaran teratas di seluruh distrik sekolah. 

Pada saat itu, kepala sekolah mengungkapkan kebenaran kepada para guru :  “Sesungguhnya, para siswa itu bukanlah siswa unggulan yang dipilih secara khusus. Mereka hanyalah siswa biasa yang dipilih secara acak.”

Para guru terkejut mendengarnya dan semakin yakin bahwa keberhasilan itu adalah hasil dari kemampuan mengajar mereka yang tinggi. 

Namun, kepala sekolah lalu menyampaikan satu kebenaran lagi:  “Kalian pun sebenarnya bukan guru-guru terbaik yang dipilih secara khusus. Kalian juga dipilih secara acak dari para guru biasa di sekolah ini.”

Hasil ini sepenuhnya sesuai dengan perkiraan Dr. Rosenthal. Karena ketiga guru tersebut meyakini bahwa diri mereka adalah guru terbaik dan siswa yang mereka ajar adalah anak-anak dengan kecerdasan tinggi, mereka mengajar dengan penuh keyakinan, semangat, dan dedikasi. Akibatnya, proses belajar mengajar berlangsung dengan sangat baik, dan hasilnya pun luar biasa.

Renungan / Hikmah Cerita

Sebelum melakukan apa pun, jika kita mampu meyakini dan mengafirmasi diri sendiri, itu berarti kita telah berhasil setengah jalan menuju kesuksesan.

Ketika menghadapi tantangan, cobalah mengatakan pada diri sendiri bahwa kamu adalah orang yang paling unggul dan paling cerdas. Dengan keyakinan itu, sikap, tindakan, dan hasil yang kamu peroleh pun akan berubah menjadi jauh lebih baik.(jhn/yn)

Raja yang Kehilangan Jari

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja di India. Dia dikenal sebagai pemimpin yang pandai mengelola negara dan gemar turun langsung ke tengah rakyat dengan menyamar untuk memahami kehidupan masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, negara hidup aman, rakyat sejahtera, dan pembangunan berjalan pesat.

Raja ini memiliki seorang perdana menteri yang sangat cakap. Setiap kali ada urusan besar dan penting, sang raja selalu meminta pendapatnya dan mendengarkan pandangan bijak dari bawahannya itu.

Suatu hari, hujan turun dengan sangat deras sehingga rencana raja untuk keluar istana terpaksa tertunda. 

Sang raja lalu bertanya kepada perdana menterinya: “Menurutmu, hujan deras ini baik atau tidak?”

“Baik, Paduka, setelah hujan reda, jalan-jalan akan menjadi bersih, udara segar, dan Paduka dapat menikmati keindahan langit cerah sekaligus turun ke rakyat untuk melihat keadaan mereka,” jawab sang perdana menteri.

Mendengar itu, raja pun merasa senang.

Pada kesempatan lain, ketika raja hendak melakukan inspeksi, cuaca justru sangat panas. Teriknya membuat keringat raja bercucuran. 

Dia kembali bertanya : “Dalam cuaca sepanas ini, apakah baik jika aku keluar?”

Tanpa ragu, sang perdana menteri menjawab: “Baik. Cuaca seperti ini jarang terjadi akhir-akhir ini. Jika Paduka turun ke lapangan, Paduka akan lebih memahami bagaimana rakyat kita bertahan dan bekerja di tengah panas yang menyengat.”

Raja merasa jawaban itu masuk akal dan dengan gembira pun berangkat.

Raja dan perdana menterinya memiliki hobi yang sama—berburu. Setiap kali berburu, raja selalu ditemani oleh sang perdana menteri.

Suatu hari, ketika raja sedang memeriksa peralatan berburu, dia tak sengaja terluka dan sebagian ibu jarinya terpotong. 

Dengan panik dia bertanya: “Ibu jariku terpotong. Apakah ini baik?”

“Baik, Paduka,” jawab sang perdana menteri.

Mendengar jawaban itu, raja sangat marah. Dia mengira perdana menterinya sedang mengejek dan menertawakannya di saat sulit. Dalam amarahnya, raja memerintahkan agar perdana menteri dipenjarakan.

Sebelum pergi, raja bertanya dengan nada sinis : “Sekarang kamu dikurung di penjara. Apakah itu baik?”

“Baik. Sangat baik,” jawab sang perdana menteri dengan tenang.

Raja semakin murka.

 “Kalau begitu, tinggallah di sini beberapa hari!” katanya sambil pergi dengan kesal.

Dua hari kemudian, hasrat berburu sang raja kembali muncul. Namun karena gengsi, dia tidak ingin membebaskan perdana menterinya. Akhirnya, raja pergi berburu seorang diri dengan menunggang kuda.

Biasanya, karena perdana menteri sangat mengenal medan dan lingkungan, perburuan mereka selalu berakhir dengan hasil yang baik. Namun kali itu, raja sendirian mengejar hewan di hutan selama berjam-jam tanpa mendapatkan seekor pun. Dia menjadi sangat kecewa dan terus berkeliling mencari mangsa.

Tak lama kemudian, matahari mulai terbenam dan burung-burung kembali ke sarang. Raja pun kelelahan dan turun dari kudanya, menuntunnya sambil berjalan. Tiba-tiba, dia menyadari bahwa lingkungan sekitarnya terasa sangat asing.

“Sepertinya aku tersesat,” pikirnya.

Saat sedang berjalan, raja tiba-tiba terperosok ke dalam sebuah lubang jebakan binatang. Lubang itu sangat dalam. Berkali-kali dia mencoba memanjat keluar, namun selalu gagal.

Tak lama kemudian, dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Hatinya pun diliputi harapan.

 “Tolong! Tolong!” teriaknya keras-keras.

Orang-orang itu akhirnya menolongnya keluar. Namun ternyata mereka adalah penduduk dari suku kanibal di negeri tetangga. Raja pun dibawa ke perkampungan mereka.

Malam itu, seluruh suku berpesta. Mereka menari mengelilingi raja yang diikat pada sebuah tiang berbentuk salib. Di bawah kakinya, kayu bakar telah ditumpuk untuk menyalakan api—mereka bersiap membakarnya dan memakan dagingnya. Karena tidak bisa berkomunikasi, raja hanya bisa terdiam dan berharap akan terjadi keajaiban.

Upacara pun dimulai. Kepala suku memberi aba-aba, lalu seorang dukun maju dan memercikkan air ke tubuh raja sambil memeriksa setiap bagian tubuhnya. Ketika sampai pada tangan raja, sang dukun terdiam, menghela napas, dan menggelengkan kepala berulang kali. Orang-orang di sekitarnya pun kebingungan.

Dukun itu kemudian berkata kepada kepala suku: “Kami hanya memakan hewan yang tubuhnya sempurna. Orang ini tidak utuh—ibu jarinya terpotong. Dia membawa pertanda buruk. Kita tidak boleh memakannya.”

Kepala suku pun memeriksa sendiri dan mendapati bahwa ibu jari raja memang tidak lengkap. Dia segera memerintahkan agar raja dibebaskan.

Raja yang selamat dari maut merasa sangat terharu. Dia segera kembali ke ibu kota dan langsung menuju penjara untuk menemui perdana menterinya. Begitu bertemu, dia memeluk sang perdana menteri sambil menangis.

“Sekarang aku mengerti mengapa kamu berkata bahwa kehilangan jariku adalah hal yang baik. Jari itu telah menyelamatkan nyawaku. Aku telah salah menilaimu.”

Kemudian raja bertanya lagi: “Aku telah memenjarakanmu selama lebih dari sepuluh hari. Apakah itu baik?”

“Baik. Sangat baik,” jawab sang perdana menteri.

“Kenapa?” tanya raja heran.

“Jika Paduka tidak memenjarakan saya, saya pasti akan ikut berburu bersama Paduka. Kita berdua akan ditangkap oleh suku kanibal itu. Paduka bisa selamat karena ibu jari Paduka terpotong, tetapi saya pasti mati—karena tubuh saya utuh.”

Saat itu juga, raja tersadar sepenuhnya. Dia memahami sebuah kebenaran besar: segala sesuatu memiliki dua sisi. Apakah itu baik atau buruk, semuanya bergantung pada cara kita memandangnya.

Renungan / Hikmah Cerita

Kisah ini merupakan versi luar negeri dari cerita klasik “Sai Weng kehilangan kuda”—di mana musibah bisa berubah menjadi berkah.

Banyak orang sering mengeluh: “Musim hujan datang lagi, penjualan pasti menurun.”

Mereka berpikir hujan membuat sulit bertemu pelanggan dan serba tidak nyaman—sebuah sudut pandang yang negatif.

Namun orang yang berpikir positif akan berkata: “Wah, hujan! Banyak orang tinggal di rumah. Inilah kesempatan terbaik untuk menawarkan produk.”

Ketika lingkungan tidak bisa diubah, pilihan terbaik adalah menyesuaikan diri dan belajar mengambil manfaat darinya. Ingatlah selalu: Tidak ada salahnya kita bersikap optimis dan positif dalam memandang segala sesuatu.(jhn/yn)

Nenek 82 Tahun di Tiongkok Memanjat Pagar Setinggi 3 Meter untuk Keluar Rumah, Rekaman CCTV Bikin Merinding

EtIndonesia. Pada 8 Januari, kabar tentang seorang lansia berusia 82 tahun di daratan Tiongkok yang memanjat pagar hampir setinggi 3 meter untuk keluar rumah menjadi topik terpopuler di media sosial. Video terkait beredar luas di internet dan menarik perhatian publik.

Belakangan ini, seorang perempuan bermarga Chen dari Shanwei, Guangdong, mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan neneknya yang berusia 82 tahun, memanfaatkan saat rumah kosong untuk memanjat pagar hampir 3 meter dengan tangan kosong demi keluar rumah. Aksi ini membuat seluruh keluarga berkeringat dingin karena ketakutan.

Rekaman kamera pengawas menunjukkan bahwa pada 5 Januari, sang nenek sempat mengamati keadaan di depan pintu selama beberapa saat. Ia kemudian memilih sisi kanan, meraih bagian atas pagar dengan kedua tangan, dengan gerakan yang cukup lincah menginjak jeruji pagar, lalu membalikkan badan dan melewati pagar (terlihat sangat berbahaya). Setelah itu, ia turun dari sisi luar dan akhirnya melompat ke tanah dengan selamat. Seluruh proses tampak sangat terampil.

Pada 7 Januari, Chen mengatakan kepada media daratan Tiongkok bahwa neneknya sehari-hari berjalan pun sudah tidak lincah, dan biasanya membutuhkan bantuan becak roda tiga saat keluar rumah. Hari itu, neneknya ingin keluar, tetapi karena kunci pintu berkarat akibat hujan dan sulit dibuka, ia pun langsung memanjat pintu untuk keluar.

“Benar-benar bikin takut. Usianya 82 tahun. Pintunya memang agak sulit dibuka, jadi dia tidak bisa keluar dan hanya bisa memanjat. Tinggi pintu itu lebih dari dua meter, hampir tiga meter. Kami sebelumnya tidak tahu, baru ketahuan setelah mengecek rekaman CCTV… Kami juga sangat terkejut,” ujar Chen.

Chen menambahkan, setelah keluarga melihat rekaman tersebut, mereka merasa sangat ngeri membayangkan risikonya. 

Saat menghubungi teknisi untuk memeriksa pintu, barulah diketahui bahwa sang nenek ternyata sudah diam-diam memanjat pagar itu sebanyak empat kali. Saat ini, keluarga telah memperbaiki kunci pintu dan secara khusus mengajarkan nenek cara membuka pintu dengan benar.

Setelah video itu beredar, para warganet Tiongkok ramai memberikan komentar:

“Ya ampun! Terlalu berbahaya, benar-benar menakutkan.”
“Biasanya jalan saja susah, tapi bisa memanjat gerbang besar. Lucu sekaligus bikin ngeri.”
“Ya Tuhan… Kelincahan tubuhnya luar biasa, tapi tetap bikin jantung berdebar… Kalau sampai… Tapi kalau dilihat dari sisi lain, nenek ini mungkin hidup sampai 100 tahun!”
“Usia 82 tahun tapi kondisi fisiknya luar biasa! Hebat.”

“Apapun yang terjadi, neneknya sehat. Masalah utamanya justru pintu ini—bahkan lansia 82 tahun saja tidak bisa dicegah, jadi apa gunanya?”
“Lansia juga sering perlu keluar untuk jalan-jalan dan bersantai, jadi kemudahan akses keluar rumah bagi orang tua itu sangat penting.”

“Lebih hebat dari saya, saya saja tidak berani memanjat…”
“Tangan dan kakinya lebih lincah daripada saya yang usia 30-an.”
“Nenek lebih jago dari saya, saya tidak bisa memanjat tembok.”
“Tidak ada yang bisa menghalangi hati yang mencintai kebebasan.”
“Nenek ini pejuang cantik ala Sailor Moon usia 80-an.”
“Tekad untuk keluar rumah.”
(Hanya bisa dibilang masih sangat kuat di usia lanjut, saya kalah jauh—tapi keselamatan tetap yang paling penting.)

“Lansia usia 82 tahun pun mendambakan kebebasan dan ingin melihat dunia luar. Namun cara ini memang terlalu berbahaya. Sepertinya, saat kaki kita masih kuat melangkah, jangan hanya berdiam di rumah—usahakan lebih sering keluar melihat dunia. Akan tiba suatu hari ketika keluar sekali saja menjadi sebuah kemewahan.”

Sumber : NTDTV.com

Simpul yang Sulit Diurai

EtIndonesia. Pada zaman Romawi Kuno, seorang peramal pernah membuat sebuah simpul yang sangat rumit di sebuah kota, lalu menyampaikan sebuah ramalan: Siapa pun yang mampu membuka simpul ini, kelak akan menjadi penguasa Asia.

Selama bertahun-tahun, banyak orang dengan penuh keberanian mencoba memecahkan simpul tersebut. Namun, tak satu pun berhasil. Simpul itu tetap tak terurai, seolah menantang siapa pun yang mendekatinya.

Suatu ketika, Alexander Agung, yang saat itu masih menjabat sebagai jenderal Makedonia, mendengar ramalan tentang simpul misterius tersebut. Ketika pasukannya sedang ditempatkan di kota itu, dia pun memutuskan untuk mencoba membuka simpul tersebut.

Berbulan-bulan lamanya Alexander mencoba berbagai cara. Dia mengerahkan kecerdasan, kesabaran, dan kekuatan pikirannya. Namun, semua usaha itu tetap berakhir dengan kegagalan. Dia pun menjadi semakin kesal dan frustrasi.

Suatu hari, setelah kembali gagal memecahkan simpul itu, Alexander berkata dengan penuh amarah:  “Aku tidak ingin melihat simpul ini lagi!”

Saat dia memaksa dirinya mengalihkan perhatian dan berhenti memikirkan simpul tersebut, tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Dia segera mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya, lalu dengan satu tebasan kuat, dia memotong simpul itu menjadi dua bagian.

Simpul pun terbuka.

Renungan / Hikmah Cerita

Pola pikir yang terbiasa dan kaku sering kali justru menjadi penghalang terbesar. Karena itulah, sekarang kita sering mendengar pentingnya berpikir terbalik atau berpikir di luar kebiasaan.

Beranilah melompat keluar dari jerat pola pikir lama dan membuka simpul di dalam hati. Setelah itu, kita akan menyadari bahwa banyak persoalan sebenarnya tidak sesulit yang terlihat atau yang kita bayangkan.

Bersikaplah lebih positif dan terbuka—ketika pikiran berubah, jalan pun akan terbuka dengan sendirinya.(jhn/yn)

AS Ultimatum Presiden Sementara Venezuela: Singkirkan Pengaruh Tiongkok dan Rusia

EtIndonesia. Media Amerika Serikat melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah memberitahukan kepada presiden sementara Venezuela bahwa jika negara tersebut ingin meningkatkan produksi minyak, syarat utamanya adalah mengusir pengaruh Tiongkok, Rusia, dan kekuatan lainnya, serta memutus hubungan ekonomi dengan mereka.

Menurut laporan ABC News, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui rencana pemerintahan Trump, pemerintah AS telah memberitahukan kepada presiden sementara Venezuela, Rodríguez, bahwa untuk mengekstraksi lebih banyak minyak, Venezuela terlebih dahulu harus mengusir Tiongkok, Rusia, Iran, dan Kuba, serta memutus hubungan ekonomi dengan negara-negara tersebut. 

Selain itu, Venezuela juga harus setuju untuk bekerja sama hanya dengan Amerika Serikat dalam produksi minyak, serta memprioritaskan Amerika Serikat dalam penjualan minyak mentah berat.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 5 Januari, dalam sebuah pengarahan tertutup kepada anggota Kongres, mengatakan bahwa ia yakin Amerika Serikat dapat memaksa Venezuela untuk mengalah, karena kapal tanker minyak Venezuela saat ini sudah penuh. Ia menyatakan bahwa menurut perkiraan AS, jika Venezuela tidak menjual cadangan minyaknya, negara itu hanya akan mampu bertahan beberapa minggu sebelum bangkrut.

 “Informasi yang saya terima adalah Venezuela sudah tidak dapat lagi memproduksi minyak mentah, karena tidak ada tempat untuk menyimpannya dan tidak ada sarana untuk mengangkutnya,” ujar Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker. 

“Semua kapal tanker sudah penuh dengan minyak mentah dan sedang menunggu tujuan yang tepat, berharap bisa menjualnya di pasar terbuka, bukan memberikannya secara gratis kepada Tiongkok (PKT),” tambahnya. 

Pada Selasa malam (6 Januari), Presiden Trump menulis di media sosial bahwa “pemerintahan sementara” Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat untuk dijual dengan harga pasar. Trump mengatakan bahwa dana tersebut akan berada di bawah kendalinya, “untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.”

Membersihkan Pengaruh Tiongkok dan Rusia di Belahan Barat

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancara dengan NBC pada 4 Januari menyampaikan peringatan keras kepada kepemimpinan sementara baru Venezuela bahwa negara itu tidak boleh lagi menjadi basis strategis bagi Rusia, Tiongkok, atau Iran.

“Venezuela tidak boleh dijadikan pusat operasi bagi Iran, Rusia, Hizbullah, Tiongkok, dan personel intelijen Kuba yang mengendalikan negara tersebut. Situasi seperti ini tidak boleh berlanjut,” ujar Rubio.

Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat sama sekali tidak akan mengizinkan industri minyak Venezuela jatuh ke tangan kekuatan yang memusuhi Amerika. Ia mempertanyakan mengapa negara-negara seperti Tiongkok atau Rusia, mengingat jarak geografisnya yang jauh, perlu menguasai minyak mentah Venezuela.

“Mereka bahkan tidak berada di benua ini,” kata Rubio. “Kami hidup di sini, dan kami sama sekali tidak akan membiarkan Belahan Barat menjadi basis operasi bagi kekuatan yang memusuhi, menyaingi, dan menentang Amerika Serikat.”

Rencana Tiga Langkah Kebijakan AS terhadap Venezuela

Pada 7 Januari, Menteri Luar Negeri Rubio mengatakan kepada media bahwa Amerika Serikat telah menyusun rencana tiga langkah untuk Venezuela pasca-Maduro: stabilisasi, pemulihan ekonomi, dan transisi kekuasaan.

Rubio menjelaskan bahwa pada tahap pertama, Amerika Serikat akan terus mengendalikan akses terhadap sumber daya minyak Venezuela. Tahap kedua adalah memastikan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika dan negara lain dapat memasuki pasar Venezuela secara adil. Pada tahap transisi terakhir, kekuasaan akan diserahkan, dan rakyat Venezuela akan menentukan sendiri bagaimana mengubah negara mereka.

Laporan gabungan oleh jurnalis Jin Jing / Wen Hui

Cara Menyebrangi Jembatan Kayu

EtIndonesia. Fromm adalah seorang psikolog ternama asal Amerika Serikat.

Suatu hari, beberapa mahasiswanya bertanya kepadanya: “Sejauh apa sikap mental memengaruhi seseorang?”

Dia hanya tersenyum tipis, tanpa berkata apa-apa, lalu mengajak para mahasiswa itu masuk ke sebuah ruangan gelap gulita.

Di bawah bimbingannya, para mahasiswa dengan cepat berhasil melewati ruangan tersebut—ruangan yang begitu gelap hingga tangan sendiri pun tak terlihat. Setelah itu, Fromm menyalakan sebuah lampu di dalam ruangan. Di bawah cahaya redup yang remang-remang seperti nyala lilin, barulah para mahasiswa dapat melihat dengan jelas isi ruangan tersebut. Seketika, mereka semua berkeringat dingin ketakutan.

Ternyata, lantai ruangan itu adalah sebuah kolam air yang sangat dalam dan luas. Di dalam kolam tersebut merayap berbagai jenis ular berbisa, termasuk seekor ular piton besar dan tiga ekor ular kobra. Beberapa ular berbisa bahkan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, mendesis sambil menjulurkan lidah ke arah mereka.

Fromm memandang para mahasiswa itu lalu bertanya: “Sekarang, siapa di antara kalian yang masih berani menyeberangi jembatan ini sekali lagi?”

Mereka saling berpandangan, tak seorang pun berani bersuara.

Setelah beberapa saat, akhirnya tiga mahasiswa dengan ragu-ragu berdiri. Dengan langkah gemetar, seolah menghadapi musuh besar, mereka menaiki jembatan kayu tunggal tersebut.

“Tuk!”

Fromm kembali menyalakan beberapa lampu lain di ruangan itu. Para mahasiswa mengucek mata mereka dan melihat lebih teliti. Barulah mereka menyadari bahwa di bawah jembatan kayu kecil itu ternyata telah terpasang jaring pengaman.

Fromm lalu bertanya dengan suara lantang:  “Sekarang, siapa lagi yang bersedia menyeberangi jembatan ini?”

Kali ini, seluruh mahasiswa dengan berani berjalan menyeberangi jembatan kayu tersebut.

Fromm tersenyum dan berkata: “Sekarang aku bisa menjelaskan kebingungan kalian. Ular-ular berbisa di bawah jembatan itu menciptakan tekanan psikologis yang besar. Akibatnya, kalian kehilangan ketenangan, pikiran menjadi kacau, tangan dan kaki gemetar, sehingga muncul rasa takut dalam berbagai tingkat.”

Renungan / Hikmah Cerita

Sering kali, ketika kita melihat kesulitan terlalu jelas, menganalisisnya terlalu mendalam, dan mempertimbangkannya terlalu detail, justru kita akan dikalahkan oleh rasa takut itu sendiri dan akhirnya ragu untuk melangkah.

Dahulu ada sebuah anggapan yang mengatakan bahwa orang berpendidikan tinggi sering kali sulit menghasilkan uang dalam jumlah besar. Bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena kemampuan analisis mereka terlalu kuat. Dalam dunia investasi berisiko, mereka justru kerap gentar oleh “jarak pandang” mereka sendiri—terlalu sadar akan kemungkinan kegagalan—hingga akhirnya menjadi ragu-ragu, bertindak setengah-setengah, dan kehilangan peluang besar yang seharusnya bisa diraih.(jhn/yn)

Lautan Manusia Mengamuk di Iran: Polisi Mundur, Milisi Membelot, Patung Khamenei Dibakar

EtIndonesia. Aksi unjuk rasa besar-besaran di Iran pada Selasa, 7 Januari, terus berlangsung dengan intensitas tinggi dan skala yang kian meluas. Memasuki hari ke-11 gelombang protes nasional, demonstrasi tidak hanya terjadi di ibu kota Teheran, tetapi telah menyebar ke lebih dari 100 kota di seluruh negeri, mencerminkan krisis legitimasi serius yang tengah dihadapi rezim Islam Iran.

Teheran: Lautan Manusia dan Teriakan “Hidup Raja!”

Rekaman udara dari pusat Teheran memperlihatkan pemandangan mencolok: lautan manusia memenuhi jalan-jalan sempit, bergerak seperti gelombang tanpa henti. Taksi-taksi kuning khas kota itu terjebak di tengah kerumunan, tak mampu bergerak sama sekali.

Para demonstran mengibarkan bendera dan meneriakkan slogan “Hidup Raja!”, seruan yang menggema di udara kota dan secara simbolis diarahkan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebagai bentuk pelampiasan kemarahan rakyat.

Bojnurd: Polisi Mundur, Aparat Beri Isyarat Dukungan

Situasi serupa terlihat di Bojnurd, di mana pada siang hari massa dalam jumlah sangat besar bergerak menyusuri jalanan kota. Barisan demonstran begitu panjang hingga ujung depan dan belakang tidak terlihat.

Yang paling mencolok, dalam beberapa rekaman, polisi terlihat berjalan seiring dengan massa, bahkan dalam satu momen tampak melambaikan tangan kepada demonstran sebelum mundur secara teratur. Pemandangan ini menjadi indikasi awal bahwa sebagian aparat keamanan mulai kehilangan kemauan atau kemampuan untuk menindak massa.

Mogok Nasional: Pedagang dan Pekerja Gas Ikut Bergerak

Pada 7 Januari, aksi protes memasuki fase baru dengan mogok kerja nasional. Para pedagang pasar di 28 kota menghentikan aktivitas mereka. Yang paling signifikan, Tabriz, kota terbesar kedua Iran, untuk pertama kalinya bergabung dalam mogok besar, menandai eskalasi serius tekanan ekonomi terhadap pemerintah.

Selain itu, para pekerja di kilang gas South Pars di selatan Iran juga melakukan mogok kerja. Para pengamat menilai, bila aksi ini meluas ke sektor minyak—urat nadi ekonomi Iran—maka dampaknya terhadap stabilitas rezim akan jauh lebih besar.

Korban Jiwa dan Seruan dari Pengasingan

Hingga saat ini, tindakan represif pemerintah dilaporkan telah menyebabkan sedikitnya 35 demonstran tewas, meski angka sebenarnya diyakini lebih tinggi.

Sementara itu, Putra Mahkota Iran yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi, terus menyerukan perlawanan nasional melalui media sosial. Akun Instagram-nya dilaporkan telah menjangkau hampir 70 juta orang, memperkuat narasi bahwa gerakan ini memiliki figur simbolik pemersatu.

Mashhad: Milisi Basij Dipukul Mundur Massa

Di Mashhad, kota berpenduduk lebih dari 3,3 juta jiwa, rekaman menunjukkan milisi Basij yang bersenjata lengkap dan mengendarai sepeda motor dipukul mundur oleh gelombang demonstran.

Sebagian massa melempari aparat dengan batu. Dalam kekacauan tersebut, sejumlah perlengkapan aparat ditinggalkan dan dirusak oleh warga yang meluapkan kemarahan mereka. Aparat akhirnya terpaksa melarikan diri secara tidak teratur.

Teheran, Shiraz, Bandar Abbas: Api, Barikade, dan Tembakan

Di distrik Sar, Teheran, kelompok pemuda pendukung monarki turun ke jalan sambil meneriakkan slogan “Mati bagi diktator!” dan “Khamenei mati!” Api terlihat menyala di berbagai sudut kota, menandakan situasi yang semakin panas.

Rekaman dari 6 Januari memperlihatkan warga di pusat Teheran memblokir jalan utama menggunakan barang-barang bekas untuk menghambat pergerakan aparat.

Di Shiraz, demonstran membangun barikade dengan batu-batu besar pada siang hari 7 Januari. Namun pada malam harinya, militer dikerahkan untuk membersihkan barikade, disertai tembakan sporadis, sebelum akhirnya aparat bermotor kembali menguasai lokasi.

Sementara itu, di Bandar Abbas, pelabuhan minyak strategis Iran, demonstrasi besar terjadi sepanjang hari. Pasukan keamanan bermotor tampak tidak mampu melawan massa dan mundur secara teratur. Massa meneriakkan slogan “Tahun ini adalah tahun pertumpahan darah” dan “Kediktatoran pasti tumbang.”

Karaj, Abhar, hingga Kota-Kota Kecil: Rezim Kehilangan Kendali

Pada malam 7 Januari, beredar luas rekaman yang menunjukkan demonstran telah menguasai Kota Karaj. Patung Khamenei diruntuhkan dan dibakar hingga habis.

Di Abhar (Provinsi Zanjan), kota berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa, warga menyerukan penggulingan rezim Islam. Di kota-kota kecil seperti Chenaran dan Sabzevar, massa menghancurkan simbol ideologi rezim dan meneriakkan slogan “Ini adalah pertempuran terakhir” serta “Pahlavi pasti kembali.”

Di Borujerd, pemuda-pemuda dilaporkan menyerang fasilitas milik Garda Revolusi Iran.

Provinsi Ilam: Kota-Kota Dikuasai, Milisi Membelot

Di Provinsi Ilam, wilayah barat Iran yang mayoritas penduduknya etnis Kurdi dan berbatasan langsung dengan Irak, dilaporkan dua kota telah sepenuhnya dikuasai demonstran, termasuk Abadan.

Beberapa milisi Basij dilaporkan meletakkan senjata dan membelot. Video malam hari menunjukkan massa yang begitu besar hingga ujung barisan tak terlihat, seolah seluruh kota turun ke jalan.

Situasi Kritis: Tekanan Internal dan Ancaman Eksternal

Gelombang demonstrasi ini dinilai telah melampaui kendali rezim Islam. Meski aparat keamanan dikerahkan sejak awal dan bahkan menggunakan senjata api, penindasan terbukti tidak efektif.

Di saat yang sama, Iran juga menghadapi tekanan eksternal. Aktivitas kendaraan radar di sejumlah wilayah menambah spekulasi akan ancaman militer Israel. Rezim kini berada di bawah tekanan ganda: pemberontakan domestik dan potensi eskalasi eksternal.

Sejumlah analis menilai, bila terjadi serangan terhadap fasilitas militer strategis Garda Revolusi, pembelotan aparat secara massal bukanlah skenario yang mustahil.

Akhir Sebuah Era?

Lebih dari empat dekade setelah Revolusi Islam, kemarahan rakyat Iran kini terlihat meledak secara serentak di seluruh negeri—dari kota besar hingga kota kecil. Dengan aparat yang terus mundur dan rakyat yang tak lagi gentar, banyak pihak menilai bahwa waktu bagi rezim Khamenei semakin menipis.

Gelombang protes ini bukan lagi sekadar demonstrasi, melainkan pertarungan penentuan arah masa depan Iran.

Menukar Tiket

EtIndonesia. Ada dua orang desa yang bersiap pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan. Yang satu membeli tiket ke New York, yang satu lagi membeli tiket ke Boston.

Sesampainya di stasiun, setelah bertanya ke sana-sini, mereka baru tahu: orang-orang New York terkenal dingin—sekadar menunjukkan jalan saja ingin dibayar;  sementara orang-orang Boston dikenal sangat polos dan baik hati—melihat orang tidur di jalan saja bisa langsung merasa iba.

Orang yang hendak ke New York berpikir: “Boston kelihatannya lebih baik. Meski tidak dapat uang, setidaknya tidak akan mati kelaparan. Untung keretanya belum berangkat, kalau tidak aku benar-benar melompat ke dalam lubang api.”

Sementara itu, orang yang hendak ke Boston justru berpikir sebaliknya: “New York lebih baik. Menunjukkan jalan saja bisa menghasilkan uang. Untung belum naik kereta, kalau tidak aku akan kehilangan kesempatan untuk menjadi kaya.”

Akhirnya, keduanya bertemu di loket penukaran tiket. Yang semula hendak ke New York menukar tiket ke Boston,  dan yang semula hendak ke Boston justru menukar tiket ke New York.

Orang yang pergi ke Boston mendapati bahwa kota itu memang baik. Selama bulan pertamanya di sana, dia hampir tidak melakukan apa-apa, tetapi tetap tidak sampai kelaparan. Air minum di aula bank bisa diminum gratis, dan di pusat perbelanjaan besar tersedia camilan gratis untuk dicicipi.

Sementara itu, orang yang pergi ke New York menemukan bahwa di kota itu peluang mencari uang ada di mana-mana. Asalkan mau berpikir dan bekerja sedikit lebih keras, hidup bisa tercukupi.

Berbekal pengetahuan orang desa tentang tanah dan tanaman, keesokan harinya dia mengemas sepuluh kantong tanah yang bercampur pasir dan daun kering. Dia menjualnya kepada warga New York—yang jarang menyentuh tanah tetapi gemar menanam bunga—dengan nama “tanah pot bunga”.

Dalam satu hari, dia bolak-balik ke pinggiran kota sebanyak enam kali dan meraih laba bersih 50 dolar AS. Setahun kemudian, hanya bermodalkan bisnis “tanah pot bunga” itu, dia sudah memiliki sebuah toko kecil.

Dalam perjalanan bertahun-tahun menyusuri jalan dan lorong kota, dia menemukan peluang baru: banyak gedung toko tampak bersih dan mengilap, tetapi papan namanya justru kotor dan hitam. Setelah bertanya, dia tahu penyebabnya—perusahaan kebersihan hanya membersihkan gedung, tidak termasuk papan nama.

Dia segera menangkap peluang itu. Dia membeli tangga lipat, ember, dan lap kain, lalu mendirikan perusahaan jasa pembersihan khusus papan nama. Kini perusahaannya memiliki lebih dari 150 karyawan, dan usahanya telah berkembang ke beberapa kota di sekitarnya.

Suatu hari, dia naik kereta ke Boston untuk berwisata. Di pinggir jalan, seorang pemulung mengulurkan tangan meminta sedekah.

Keduanya tertegun.

Karena lima tahun sebelumnya, merekalah dua orang yang pernah menukar tiket kereta itu.

Hikmah cerita:

Bukan lingkungan yang menentukan nasib, melainkan pola pikir. Bagi seseorang yang hanya ingin hidup tanpa usaha, sekalipun diberi peluang sebaik apa pun, semuanya akan sia-sia.(jhn/yn)

Harga Properti Anjlok! Nilai Aset Menyusut Tajam, Orang-orang Kaya Tiongkok ‘Evakuasi’ Kekayaan ke Asuransi dan Emas

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar properti Tiongkok terus lesu, dengan harga rumah di berbagai kota terus mengalami penurunan. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa para orang kaya di Tiongkok—yang sebelumnya gemar berinvestasi di properti—kini beramai-ramai beralih arah: terus menjual properti yang mereka miliki dan membeli produk asuransi bernilai tinggi serta emas.

EtIndonesia. Menurut “Laporan Strategi Pensiun Individu Beraset Tinggi di Tiongkok 2025” yang dirilis oleh Hurun Research Institute, pertumbuhan kekayaan orang kaya di Tiongkok pada masa lalu terutama bergantung pada kenaikan nilai properti dan dividen perusahaan. Namun, dalam beberapa tahun ke depan, mereka berencana mengurangi porsi aset properti dan produk keuangan perbankan, serta meningkatkan alokasi pada asuransi, emas, dan saham.

Ekonom Amerika Huang David menganalisis bahwa penarikan diri orang kaya Tiongkok dari sektor properti terutama disebabkan oleh tiga faktor utama.

 “Pertama, properti tidak lagi memiliki fungsi menjaga nilai dan likuiditas. Harga rumah terus turun dan transaksi menyusut, sehingga aset terkunci dalam jangka panjang.”

“Kedua, properti sangat dipengaruhi penyesuaian kebijakan, termasuk pajak, warisan, dan ketidakpastian dalam pengelolaan maupun pelepasan aset. Orang kaya lebih cenderung memilih aset yang mudah dibawa, bisa lintas negara, dan berfungsi sebagai lindung nilai.”

“Ketiga, keyakinan lama bahwa harga properti hanya akan naik dan tidak pernah turun telah runtuh. Asuransi dan emas pun menjadi pilihan alokasi defensif.”

Profesor Sun Guoxiang dari Jurusan Urusan Internasional dan Bisnis Universitas di Taiwan menyatakan:  “Kelompok beraset tinggi lebih menekankan pada perlindungan yang dapat diprediksi dan arus kas, yang pada dasarnya adalah asuransi, serta aset dengan fungsi lindung nilai yang lebih kuat dan likuiditas yang lebih baik, yaitu emas. Ini mencerminkan kurangnya kepercayaan orang kaya Tiongkok terhadap pemulihan pasar properti dalam jangka menengah.”

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah keluarga beraset tinggi di Tiongkok sedang menurun.

Pada 2025, jumlah keluarga dengan aset lebih dari 10 juta yuan turun menjadi sekitar 2,066 juta rumah tangga, turun 0,8% secara tahunan. Sementara itu, jumlah keluarga dengan aset lebih dari 100 juta yuan sekitar 130 ribu rumah tangga, turun 1,7% dari tahun sebelumnya.


“Penurunan jumlah individu beraset tinggi kemungkinan besar mencerminkan koreksi pada model kekayaan yang didominasi oleh properti, akibat penyusutan nilai aset dan melemahnya kepercayaan,” tutur Sun.

“Hal ini menyebabkan berkurangnya populasi yang memenuhi ambang batas kekayaan, sehingga kita melihat dana lebih condong ke asuransi, emas, dan bahkan sebagian dialokasikan ke luar negeri,” pungkas Sun.

Laporan wawancara oleh wartawan New Tang Dynasty Television Li Yun dan Qiu Yue.

Menjelang Pemilu yang Digelar Junta Militer Myanmar, Suku Karen Umumkan Kemerdekaan

Di tengah pelaksanaan pemilihan umum di Myanmar, Nerdah Mya, tokoh yang aktif di wilayah perbatasan Myanmar–Thailand, Myawaddy, pada 5 Januari mengumumkan pembentukan “Republik Kawthoolei” (Republic of Kawthoolei). Para pengamat menilai langkah ini berpotensi memicu penindasan yang lebih keras dari junta militer Myanmar.

EtIndonesia. Nerdah Mya adalah putra dari Bo Mya, pemimpin mendiang organisasi bersenjata etnis di Myanmar timur, Persatuan Nasional Karen (Karen National Union/KNU). Nerdah Mya mengumumkan pembentukan pemerintahan baru dan menyatakan dirinya sebagai presiden “Republik Kawthoolei”.

Para analis menilai langkah ini menjadikan wilayah tersebut sebagai titik konflik yang sangat tegang, karena berarti keluar dari kerangka Persatuan Nasional Karen. Pemerintahan baru ini mengklaim akan mengambil garis yang lebih keras dan berkomitmen untuk memulihkan otonomi penuh bagi suku Karen.

Harian The Nation mengutip para analis yang menyatakan bahwa tindakan Nerdah Mya berpotensi memperburuk ketegangan dengan militer Myanmar, serta dapat memicu penindasan yang lebih keras dan eskalasi konflik di kawasan perbatasan Thailand. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan setempat dan kemungkinan munculnya gelombang pengungsi baru.

Menurut laporan The Nation, otoritas Thailand saat ini memantau secara ketat perkembangan situasi dari semua pihak guna mencegah meluasnya kekerasan ke wilayah perbatasan Thailand. (Hui)

Menjual Sisir kepada Biksu

EtIndonesia. Ada empat orang tenaga pemasaran yang mendapat tugas untuk pergi ke sebuah vihara dan menjual sisir kepada para biksu.

Tenaga pemasaran pertama pulang dengan tangan kosong. Dia berkata bahwa setibanya di vihara, para biksu mengatakan mereka tidak punya rambut sehingga tidak membutuhkan sisir. Akibatnya, dia tidak berhasil menjual satu pun sisir.

Tenaga pemasaran kedua pulang dengan hasil penjualan lebih dari sepuluh sisir. 

Dia membagikan pengalamannya: “Saya menjelaskan kepada para biksu bahwa kulit kepala tetap perlu disisir secara rutin. Selain mengurangi rasa gatal, menyisir juga melancarkan peredaran darah dan baik untuk kesehatan. Setelah membaca kitab suci dan merasa lelah, menyisir kepala bisa membuat pikiran lebih segar.” 

Dengan cara itu, dia berhasil menjual sebagian sisir.

Tenaga pemasaran ketiga pulang dengan hasil penjualan sekitar seratus sisir. 

Dia berkata : “Saya berbicara dengan biksu senior. Saya katakan, lihatlah betapa khusyuknya para peziarah. Saat mereka membakar dupa dan bersujud, setelah bangun rambut mereka menjadi berantakan dan abu dupa sering jatuh ke kepala. Jika di depan setiap aula disediakan sisir, setelah bersembahyang mereka bisa merapikan rambut. Mereka akan merasa vihara ini benar-benar peduli pada peziarah, dan kemungkinan besar akan datang kembali.”

Dengan cara ini, dia menjual sekitar seratus sisir.

Tenaga pemasaran keempat pulang dengan hasil yang mengejutkan. Dia berhasil menjual ribuan sisir, bahkan mendapatkan pesanan lanjutan. 

Dia menjelaskan : “Saya berkata kepada biksu senior bahwa vihara sering menerima sumbangan dari para tamu dan tentu perlu memberikan balasan sebagai ungkapan terima kasih. Sisir adalah hadiah paling murah dan praktis. Tuliskan nama vihara pada sisir itu, lalu tambahkan tiga kata: ‘Sisir Penebar Kebajikan’, dan katakan bahwa sisir ini membawa berkah. Sisir-sisir ini bisa disiapkan sebagai hadiah. Siapa pun yang datang akan diberi satu, dijamin dupa persembahan di vihara akan semakin ramai.”

Dengan cara itu, ribuan sisir pun terjual.

Hikmah cerita:

Tanpa mengubah cara berpikir, menjual sisir kepada biksu terdengar seperti khayalan belaka.
Namun tenaga pemasaran keempat justru mengubah sudut pandang dan metode penjualan, sehingga mampu menemukan pasar yang sangat luas dari peluang yang tampaknya mustahil.

Jika setiap orang mau melihat masalah dari cara berpikir yang berbeda, berani melakukan terobosan dan inovasi, serta tidak terpaku pada pola lama, maka tidak ada alasan kita tidak bisa mengerjakan dan mengembangkan usaha—bahkan pekerjaan apa pun—dengan lebih baik.(jhn/yn)