Analisis: Partai Komunis Tiongkok Melarang Perayaan Malam Tahun Baru Dikarenakan Petinggi Khawatir Rakyat Marah Besar dan Situasi Menjadi Kacau 

Saat seluruh dunia merayakan datangnya Tahun Baru 2026, Tiongkok justru tanpa alasan jelas membatalkan seluruh kegiatan malam Tahun Baru. Pada malam 31 Desember 2025, Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengerahkan pasukan polisi dalam jumlah besar dan bersiaga ketat, membuat hari yang seharusnya penuh kegembiraan berubah menjadi muram dan kaku, bahkan menjadi bahan ejekan internasional. Banyak warganet menyindir bahwa “malam Tahun Baru terasa seperti kota hantu.” Sejumlah pengamat menganalisis alasan di balik larangan PKT terhadap perayaan malam Tahun Baru oleh masyarakat.

EtIndonesia. Menjelang datangnya 2026, pemerintah daerah di banyak wilayah Tiongkok mengumumkan bahwa tahun ini tidak akan menyelenggarakan bentuk apapun perayaan malam Tahun Baru, serta melarang warga berkumpul. 

Mulai dari Anhui, Xi’an, Jiangsu, Henan, Tianjin, Guangzhou hingga kawasan Bund di Shanghai, pertunjukan cahaya, acara hitung mundur, dan pesta kembang api semuanya dibatalkan.

Meski berbagai daerah telah lebih dulu membatalkan acara malam Tahun Baru, warga tetap turun ke jalan untuk merayakannya. 

Pada malam 31 Desember 2025, beredar banyak foto dan video di internet yang menunjukkan bahwa di sejumlah kota di Tiongkok, polisi dikerahkan secara besar-besaran, menutup alun-alun yang biasanya menjadi tempat warga berkumpul saat pergantian tahun. 

Bahkan, terlihat pemuda yang menyalakan kembang api dikejar dan ditangkap polisi. Pemandangan ini sangat kontras dengan suasana meriah di sebagian besar kota di dunia.

Banyak warganet melontarkan sindiran, antara lain:
“Ini bukan malam Tahun Baru, tapi seperti kuburan.”
“Malam Tahun Baru terasa seperti kota hantu.”
“Setiap hari waspada berlebihan, justru makin terlihat tidak percaya diri.”
“Begitu takut orang berkumpul, apakah ada rasa bersalah di hati?”

Lalu, apa yang membuat pimpinan tertinggi PKT menunjukkan kewaspadaan sedemikian besar terhadap sebuah kegiatan yang sebenarnya bersifat sekuler, konsumtif, dan nyaris tanpa muatan politik seperti perayaan malam Tahun Baru? 

Pada 2 Januari, komentator isu terkini Xin Gaodi menulis di platform X luar negeri dan menganalisis beberapa alasan berikut:

Alasan paling utama:

  1. Tidak ingin kaum muda dalam jumlah besar berkumpul dan membentuk “medan empati instan”.
  2. Gerakan Kertas Putih yang melanda seluruh Tiongkok pada akhir 2022 bermula dari perkumpulan malam Tahun Baru di Jalan Urumqi, Shanghai—berkembang dari berkumpul, berkabung, marah, hingga terhubung secara nasional. Ketika ratusan ribu orang berada pada waktu yang sama, dalam emosi yang sama, dan menggunakan bentuk ekspresi yang sama (hitung mundur, kembang api, meneriakkan slogan, menyalakan lampu ponsel), kecepatan penularan emosi meningkat secara eksponensial. Dan begitu penularan itu dimulai, sangat sulit untuk dipadamkan dalam waktu singkat.
  3. Sangat sensitif terhadap narasi “kehilangan kendali secara kolektif”

 Begitu muncul video—meski hanya beberapa detik—yang menunjukkan “seluruh rakyat bersuka ria berlebihan, situasi tak terkendali, dan teriakan slogan yang tidak terkontrol”, hal itu akan sangat merusak citra “kendali total” yang dibangun penguasa.

  1. Kembang api = “politik cahaya” tanpa izin

 Dalam beberapa tahun terakhir, penindasan terhadap kembang api bukan semata-mata soal lingkungan. Logika mendasarnya adalah bahwa kembang api merupakan satu-satunya cara yang masih memungkinkan bagi rakyat biasa untuk menciptakan “cahaya spontan” dalam skala besar secara legal. 

Setiap “cahaya luas” yang spontan dan tidak dilaporkan sebelumnya kini dipandang sebagai sinyal risiko potensial dalam sistem pengawasan saat ini (menyalakan lampu, laser pointer, lampu kilat ponsel, pertemuan dengan senter, dan sebagainya—semuanya semakin diperketat).

  1. Benturan antara euforia konsumerisme dan narasi resmi

Sikap batin Xi Jinping saat ini kemungkinan adalah: “Kami tidak takut kalian hidup miskin; yang paling kami takuti adalah kalian berkumpul dan terlihat bahagia.”

Ketidakpuasan akibat kemiskinan masih bisa ditekan sementara dengan penindasan, pengalihan konflik, atau pembagian uang. Namun begitu “kebahagiaan kolektif yang tak terkendali” terlihat, ia dengan mudah menjadi pendahulu dari “kemarahan kolektif yang tak terkendali”.

Penulis menyatakan bahwa fenomena pengendalian ketat terhadap perayaan publik dan perkumpulan massa sering kali muncul pada fase akhir sebuah dinasti. 

Dalam sejarah Tiongkok, terdapat banyak contoh serupa pada masa akhir dinasti, yang menunjukkan bahwa larangan penguasa terhadap perayaan dan pertemuan hari besar biasanya berakar pada ketakutan bahwa “kebahagiaan kolektif” akan berubah menjadi “kemarahan kolektif”. Hal ini sejalan dengan pembatalan perayaan malam Tahun Baru di banyak wilayah Tiongkok saat ini, demi mencegah terulangnya peristiwa serupa.

Pada 1 Januari, Hung Yao-nan, dosen pembantu Departemen Diplomasi dan Hubungan Internasional Universitas Tamkang, menulis di media Taiwan Mirror Media bahwa secara ironis, rezim Partai Komunis Tiongkok—yang paling piawai dalam mengendalikan dan mengawasi—justru menghadapi sebuah pertemuan damai tanpa slogan politik, tanpa kembang api, dan hanya untuk hitung mundur waktu, seolah menghadapi musuh besar. Semakin menekankan “paling aman”, semakin tampak kecemasan dalam tata kelola; semakin mengklaim “paling stabil”, semakin terekspos ketakutan terhadap aksi spontan masyarakat. Ini bukan masalah kemampuan, melainkan runtuhnya kepercayaan diri.

Hung Yao-nan menilai bahwa pemerintah PKT kerap menyatakan kepada dunia: “Kami adalah salah satu negara paling aman di dunia.” Namun melalui kebijakan nyata, mereka justru mengatakan kepada rakyat: “Sebaiknya kalian tidak berdiri bersama.” Ketika sebuah sistem bahkan tidak mampu menoleransi momen simbolis perayaan berupa hitung mundur, maka “keamanan” yang dimaksud itu sebenarnya milik siapa? Milik rakyat, atau milik rezim? Milik kota, atau milik sistem kekuasaan? Kembang api belum dinyalakan, kepercayaan sudah lebih dulu runtuh. Inilah dinginnya malam Tahun Baru di Tiongkok yang sesungguhnya.

Sejumlah warganet juga mengatakan bahwa perbandingan hitung mundur di Tianjin, Hong Kong, Shanghai, Chongqing, dan Taipei menunjukkan satu hal: tanpa perbandingan, tidak terasa lukanya. Ada pula yang menyindir, “Orang yang tidak tahu mungkin mengira kami adalah pihak yang sudah disatukan.” (Hui)

Tragedi Kebakaran Bar di Swiss Tewaskan 47 Orang dan 100 Lebih Terluka, Saksi Ungkap Kepanikan Saat Evakuasi

EtIndonesia. Pesta malam Tahun Baru di bar kawasan resor ski Crans-Montana, Swiss, berakhir tragis setelah terjadi kebakaran yang menewaskan 47 orang dan melukai lebih dari 100 orang dengan tingkat luka yang bervariasi. Pemerintah Swiss menetapkan masa berkabung nasional selama lima hari. Para penyelidik pada Jumat (2 Januari) mulai melakukan proses identifikasi jenazah korban—pekerjaan berat yang diperkirakan memakan waktu beberapa hari.

Menurut pihak berwenang, kebakaran terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari waktu setempat. Kantor berita Reuters melaporkan, sebagian besar pengunjung yang berpesta di bar bernama Le Constellation adalah kaum muda, dan banyak di antaranya mengalami luka bakar parah.

Kesaksian sejumlah penyintas serta video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa langit-langit ruang bawah tanah bar kemungkinan terbakar akibat lilin kembang api (sparkler) yang diletakkan terlalu dekat. Api dilaporkan menyebar dengan sangat cepat.

Polisi telah menutup lokasi kejadian dan menyatakan bahwa sebagian jenazah masih berada di dalam bar. Pihak berwenang berjanji akan bekerja tanpa henti, siang dan malam, untuk memastikan seluruh korban dapat diidentifikasi.

Pada malam sebelumnya (1 Januari), ratusan orang berkumpul di sekitar lokasi kejadian untuk mengheningkan cipta. Di area peringatan darurat di jalan menuju bar, puluhan orang meletakkan bunga dan lilin; sebagian menangis, sementara yang lain saling berpelukan dalam diam.

Keluarga korban yang dinyatakan hilang dengan cemas mencari bantuan, berharap memperoleh kabar tentang orang-orang tercinta. Sejumlah kedutaan besar asing juga segera melakukan verifikasi untuk memastikan apakah ada warga negara mereka di antara para korban.

Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Otoritas Swiss menyatakan bahwa insiden ini tampaknya merupakan kecelakaan, bukan tindakan penyerangan.

Saksi Mata: Evakuasi Picu Desak-desakan

Axel Clavier, penyintas berusia 16 tahun asal Paris, Prancis, mengatakan kepada Associated Press bahwa setelah kebakaran terjadi, suasana di dalam bar “sangat kacau”. Salah satu temannya telah meninggal dunia, sementara dua hingga tiga orang lainnya masih hilang.

Clavier mengaku tidak melihat langsung penyebab kebakaran, tetapi ia melihat pelayan membawa botol sampanye dengan lilin kembang api yang menyala.

Ia menceritakan, setelah api menyebar, dirinya hampir kehabisan napas. Awalnya ia bersembunyi di balik meja, lalu berlari ke atas dan berusaha memecahkan jendela akrilik dengan meja. Setelah jendela itu terlepas, ia berhasil melarikan diri. Dalam prosesnya, ia kehilangan jaket, sepatu, ponsel, dan kartu bank. Namun, ia mengatakan bahwa yang terpenting adalah ia masih hidup—“yang lain hanyalah harta benda.”

Dua perempuan lain mengatakan kepada stasiun televisi Prancis BFMTV bahwa mereka melihat seorang bartender pria mengangkat seorang bartender perempuan di pundaknya, sementara bartender perempuan itu memegang botol minuman yang ditancapi lilin. Api kemudian menyebar dan menyebabkan langit-langit kayu runtuh.

Salah satu perempuan tersebut menggambarkan bahwa semua orang panik ingin menyelamatkan diri. Dari klub malam di ruang bawah tanah, orang-orang berdesakan menaiki tangga sempit dan melewati pintu yang kecil, sehingga terjadi dorong-dorongan.

Seorang saksi mata pria lainnya mengatakan kepada BFMTV bahwa orang-orang memecahkan jendela demi melarikan diri. Beberapa korban mengalami luka serius. Orang tua yang panik bergegas ke lokasi dengan mobil untuk memastikan apakah anak-anak mereka terjebak. Ia menyaksikan sekitar 20 orang berjuang keluar dari asap tebal dan kobaran api dari seberang jalan. Ia juga menggambarkan proses pelarian itu seperti adegan film horor. (Hui)

91 Drone, Nol Ledakan: Misteri Klaim Serangan ke Kediaman Putin yang Mengguncang Dunia

EtIndonesia. Kementerian Pertahanan Rusia secara mendadak merilis pernyataan resmi yang menggemparkan publik internasional. Moskow mengklaim telah menggagalkan serangan drone Ukraina yang diduga menargetkan kediaman Presiden Rusia, Vladimir Putin di Oblast Novgorod.

Menurut pernyataan tersebut, insiden terjadi pada 28 Desember 2025 sekitar pukul 19:20 waktu setempat. Otoritas militer Rusia mengklaim mendeteksi 91 unit drone yang diluncurkan dari wilayah Sumy dan Chernihiv di Ukraina, memasuki wilayah Rusia dari berbagai arah dalam sebuah operasi yang disebut “terkoordinasi dan berskala besar”.

Klaim Resmi Rusia dan Bukti yang Dipertanyakan

Dalam rilisnya, Kementerian Pertahanan Rusia bahkan menyertakan rekaman video yang memperlihatkan seorang prajurit berdiri di dekat puing drone yang diklaim milik Ukraina. Rusia menyebut setiap drone membawa sekitar enam kilogram bahan peledak.

Namun, klaim tersebut segera menuai tanda tanya besar. Hingga kini, tidak ada informasi rinci mengenai:

  • lokasi jatuhnya drone,
  • jalur penerbangan drone,
  • maupun bukti ledakan yang dapat diverifikasi secara independen.

Sejumlah media independen yang mewawancarai warga setempat melaporkan bahwa tidak seorang pun mendengar suara drone, peringatan udara, atau ledakan pada malam yang diklaim sebagai waktu serangan. Beberapa warga bahkan menegaskan bahwa malam itu berlangsung sepenuhnya normal.

Tanda Tanya di Sekitar Kediaman Presiden di Valdai

Sorotan juga tertuju pada lokasi yang disebut sebagai target utama, yakni kawasan Valdai (Dolgiye Borody)—wilayah yang dikenal sebagai salah satu tempat peristirahatan Presiden Rusia.

Warga lokal menegaskan bahwa setiap kali Presiden Putin berada di Valdai, kawasan tersebut biasanya menunjukkan aktivitas keamanan yang sangat mencolok, termasuk patroli ketat dan lalu lintas helikopter yang intens. Namun, pada malam 28 Desember, tidak ada satu pun tanda pengamanan ekstra yang terlihat, memperkuat keraguan atas klaim Moskow.

Reaksi Ukraina dan Analisis Media Internasional

Laporan Reuters menyebutkan bahwa pihak Ukraina menilai klaim Rusia tersebut sebagai manuver politik. Kyiv menuding Moskow berupaya mengganggu momentum diplomatik yang sedang terbentuk.

Klaim ini muncul tepat setelah pertemuan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada 28 Desember 2025 di Mar-a-Lago, Florida. Dalam pertemuan tersebut, Trump menyatakan bahwa kedua pihak hampir mencapai kerangka kesepakatan perdamaian.

Trump sempat mengungkapkan kemarahannya setelah klaim serangan Rusia diumumkan. Namun, setelah menerima laporan intelijen lanjutan, sikapnya berubah. Pada 31 Desember, Trump justru membagikan editorial dari New York Post yang secara terbuka mengkritik Rusia karena dinilai menghambat proses perdamaian.

Sikap Tegas Kyiv dan Dukungan Eropa

Dalam pidato Tahun Baru 2026, Presiden Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina menginginkan perdamaian, tetapi bukan dengan mengorbankan kedaulatan dan integritas wilayah. Dia mengakui bahwa rakyat Ukraina telah kelelahan setelah perang berkepanjangan, namun menegaskan bahwa kelelahan bukanlah tanda menyerah.

Dari Eropa, Italia mengumumkan langkah lanjutan dengan memperpanjang bantuan militernya untuk Ukraina selama satu tahun ke depan—menjadi perpanjangan ke-11 sejak konflik pecah. Perdana Menteri Giorgia Meloni menegaskan bahwa Roma akan terus mendukung Kyiv hingga tercapai “perdamaian yang adil dan permanen.”

Medan Perang Memanas di Malam Pergantian Tahun

Ironisnya, di saat wacana perdamaian bergulir, medan perang justru memanas tajam pada malam pergantian tahun.

Militer Ukraina melancarkan serangan intensif terhadap target militer dan infrastruktur energi Rusia. Brigade ke-412 Ukraina, yang dijuluki “Dewi Pembalasan”, dilaporkan berhasil menghancurkan dua sistem pertahanan udara Rusia—Buk-M3 dan Tor-M2—di front Huliaipole hanya dalam waktu satu jam.

Serangan drone juga menghantam fasilitas energi di wilayah Krasnodar dan Kaluga, memicu ledakan besar dan kebakaran hebat. Bahkan, pelabuhan energi utama Rusia di Laut Hitam dilaporkan ikut diserang, menyebabkan kelumpuhan infrastruktur vital.

Dampak Langsung di Dalam Negeri Rusia

Di dalam negeri Rusia, dampak serangan terasa nyata. Pemadaman listrik meluas hingga ke Saint Petersburg dan wilayah Moskow, mengakibatkan gangguan listrik, pasokan air, dan sistem pemanas, tepat di tengah musim dingin yang keras.

Dari ibu kota, kota terbesar kedua Rusia, hingga pusat energi strategis di Laut Hitam, tahun baru dimulai bukan dengan meredanya konflik, melainkan dengan eskalasi yang kian menjalar jauh ke wilayah belakang Rusia—menandai bahwa perang Rusia–Ukraina masih jauh dari kata usai.

Protes di Iran: Milisi Basij, ‘Mata dan Telinga Rezim’, Menghadapi Serangan

EtIndonesia. Iran sekali lagi menyaksikan pemandangan yang sangat familiar bagi kepemimpinannya: pasar yang tutup, universitas yang lumpuh, dan demonstran di jalanan, sekali lagi menantang rezim Khamenei.

Apa yang dimulai sebagai kemarahan atas anjloknya rial, hiperinflasi yang terus-menerus, dan seruan untuk stabilitas ekonomi telah meningkat menjadi protes politik yang lebih luas. Di seluruh Teheran, Isfahan, Lorestan, dan wilayah lain, para demonstran tidak lagi hanya menuntut bantuan ekonomi tetapi sekarang mereka secara terbuka menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama.

Video yang beredar online menunjukkan kerumunan orang meneriakkan slogan-slogan seperti ‘Mullah harus meninggalkan Iran’, ‘Matilah Khamenei’, dan ‘Shah akan kembali’, saat kerusuhan di seluruh Iran memasuki hari keenam, tanpa menyisakan ruang untuk ambiguitas.

Selama protes ini, seorang anggota sukarelawan Garda Revolusi paramiliter Iran tewas di Kuhdasht. Menurut Reuters, 13 anggota Basij lainnya, sebuah pasukan paramiliter sukarelawan yang berafiliasi dengan Garda Revolusi, dilaporkan terluka oleh para demonstran. Insiden-insiden ini telah menyoroti meningkatnya volatilitas dan perbedaan pendapat saat negara tersebut menghadapi kerusuhan terbesar dalam tiga tahun terakhir.

Perang Iran-Irak (1980–1988) mengubah IRGC menjadi kekuatan tempur konvensional. Kini sangat terinstitusionalisasi, IRGC tetap menjadi kekuatan yang setara dengan angkatan bersenjata reguler Iran. IRGC mencakup pasukan darat yang berbasis di 31 provinsi Iran, pasukan paramiliter Basij, angkatan laut yang terpisah dari cabang angkatan laut militer reguler Iran, angkatan udara yang terpisah, dan komando siber.

Asal Usul dan Struktur Basij

Basij, yang secara resmi dikenal sebagai Organisasi untuk Mobilisasi Kaum Tertindas (Sâzmân-e Basij-e Mostaz’afin), didirikan pada tahun 1980 atas perintah Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang menyerukan ‘20 juta penembak jitu’ untuk membela revolusi. Ini adalah milisi sukarelawan paramiliter Iran di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menurut Reuters, Basij adalah pasukan paramiliter sukarelawan yang beroperasi di bawah loyalitas langsung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Modern Science menggambarkan strategi keamanan Iran sebagai ‘doktrin pertahanan mosaik,’ yang menggabungkan perlindungan teritorial berlapis-lapis dengan peperangan asimetris. Dalam kerangka ini, peran Basij tidak hanya terbatas sebagai anak perusahaan IRGC tetapi juga memainkan perannya dalam mekanisme sentral untuk mobilisasi sosial, menekan perbedaan pendapat, dan mencapai tujuan rezim.

Di luar penegakan hukum domestik, Basij mendukung kelompok-kelompok sekutu di luar negeri dan berpartisipasi dalam konflik regional, yang mencerminkan peran gandanya dalam strategi internal dan eksternal Iran. Basij sering dituduh berpartisipasi dalam penindakan kekerasan, terutama selama pemilihan presiden 2009 dan pada November 2019 ketika Basij dilaporkan termasuk di antara pasukan keamanan Iran yang bertanggung jawab atas kematian ratusan pria, wanita, dan anak-anak.

Fungsi dan Pengaruh

Menurut United States Institute of Peace, Basij adalah pasukan tambahan yang menjalankan berbagai tugas, mulai dari keamanan internal dan penegakan hukum hingga pengawasan moral dan pengorganisasian acara keagamaan atau politik khusus. Milisi ini memiliki cabang di hampir setiap kota dan desa di Iran, memberikan Pemimpin Tertinggi jangkauan yang luas di masyarakat.

Basij memperoleh peningkatan signifikansi setelah pemilihan 2009 yang dipersengketakan, ketika Khamenei memobilisasi pasukan tersebut untuk melawan ancaman ‘domestik’ yang dianggap ada. Pengaruh yang semakin besar ini telah memperkuat kekuatan politik dan ekonomi Basij, yang berkontribusi pada militerisasi rezim Iran.

Meskipun memiliki otoritas, Basij tidak kebal terhadap tantangan. Tanggapannya terhadap protes di masa lalu terkadang dikritik, dan anggarannya yang terbatas membatasi operasinya. Namun, serangan terhadap Basij bukanlah hal baru; pasukan ini telah menghadapi kemarahan serupa dari warga sipil dan ‘kelompok teroris’ di masa lalu. Integrasi ke dalam Pasukan Darat IRGC pada tahun 2008 semakin membentuk kembali strukturnya, sementara sanksi AS dan internasional terhadap IRGC dapat melemahkan kapasitasnya. Namun, peran sentralnya dalam aparat keamanan internal Iran tetap tidak diragukan.

Relevansi Kontemporer dan Peran Regional

Seiring berlanjutnya protes di seluruh negeri, sukarelawan Basij telah aktif dalam memberikan keamanan dan dukungan publik. Selama konflik Israel-Iran pada Juni 2025, Panglima Garda Revolusi Mohammad Pakpour menyatakan: “Para sukarelawan Basij aktif di bidang keamanan dan dukungan publik sejak hari pertama eskalasi.” Dalam perang yang sama, Mohammad Taghi Yousefvand, komandan perlindungan intelijen untuk pasukan Basij, tewas selama serangan rudal Israel.

Dalam struktur kekuasaan Iran yang kompleks, Basij tetap menjadi “mata dan telinga” rezim, sebuah alat serbaguna untuk kontrol domestik dan pengaruh regional. Integrasinya yang mendalam dengan IRGC, jaringan yang luas, dan komitmen ideologisnya memastikan bahwa seiring intensifikasi protes, Basij akan terus menjadi pusat bagi kelangsungan hidup dan proyeksi kepemimpinan ulama Iran.(yn)

Suriah Luncurkan Uang Kertas Baru, Mengganti Potret Assad dengan Simbol Alam

EtIndonesia. Suriah telah mulai meluncurkan mata uang nasional yang didesain ulang untuk menggantikan uang kertas era rezim Assad, menandai pergeseran simbolis dan praktis dalam perekonomian negara tersebut.

Uang kertas baru, yang diresmikan dalam sebuah upacara di Damaskus oleh Presiden sementara Ahmed al-Sharaa dan Gubernur Bank Sentral, Abdulkader Husrieh, mulai beredar pada 1 Januari 2026 sebagai bagian dari reformasi moneter yang lebih luas setelah penggulingan rezim mantan Presiden Bashar al-Assad pada tahun 2024.

Presiden Sharaa menggambarkan uang kertas yang didesain ulang sebagai pemutus dari masa lalu, dengan mengatakan bahwa uang kertas tersebut mencerminkan identitas nasional baru dan menjauh dari pengagungan individu.

Uang kertas tersebut kini menampilkan simbol-simbol pertanian dan alam seperti mawar, gandum, zaitun, jeruk, dan murbei, menggantikan potret keluarga Assad yang muncul pada uang kertas sebelumnya.

Dalam perubahan teknis besar, mata uang telah mengalami redenominasi dengan menghilangkan dua angka nol – artinya 100 pound Suriah lama sekarang akan sama dengan satu pound baru. Bank sentral telah menetapkan periode transisi 90 hari, di mana uang kertas lama dan baru dapat digunakan, dengan kemungkinan perpanjangan jika diperlukan.

Meskipun penghapusan angka nol dan perubahan desain akan menyederhanakan transaksi, para pejabat mengakui bahwa perubahan ini, dengan sendirinya, tidak akan memperbaiki perekonomian.

Sharaa menekankan bahwa pemulihan jangka panjang bergantung pada peningkatan produksi, pengurangan pengangguran, dan penguatan sektor perbankan.

Inisiatif mata uang baru ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan pada pound Suriah, yang telah kehilangan lebih dari 99 persen nilainya sejak 2011 karena perang, sanksi, dan ketidakstabilan ekonomi.

Meskipun disambut sebagai langkah menuju stabilisasi, beberapa ekonom khawatir bahwa tanpa reformasi yang lebih luas, mata uang yang direvisi saja mungkin tidak akan menekan inflasi atau secara signifikan meningkatkan daya beli.(yn)

Sudah Masuk ke Indonesia ! Ketahui Gejalanya, Tercatat 62 Kasus “Super Flu” Varian Subklade K, Terbanyak di Jatim, Kalsel dan Jabar

EtIndonesia. Penyebaran  influenza A(H3N2) subclade K sudah terdeteksi masuk ke wilayah Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali 

Kemenkes RI juga mencatat, hasil surveilans juga menunjukkan bahwa influenza A(H3) merupakan varian dominan di Indonesia. Tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir. 

Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” kata Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine dikutip dari siaran pers Kemenkes RI. 

BACA JUGA : Warga di Tiongkok Melaporkan Memburuknya Wabah Influenza A, Varian Baru Subklad K Meledak di AS dan Eropa

BACA JUGA : Kasus Flu Mengganas di Tiongkok: Kasus Berat dan Kematian Meledak, Otoritas Diduga Tutup-Tutupi Fakta

BACA JUGA : 4 Wabah Virus Serangkai Secara Bersamaan Melanda Inggris dan AS, “Flu Super” Mendorong Pemberlakuan Kembali Kewajiban Penggunaan Masker

BACA JUGA : Kasus Virus Flu Tak Terbendung di Tiongkok: Beijing, Tianjin, dan Zhejiang Hentikan Kelas Belajar Hingga Viral di Medsos Tiongkok Paru-Paru Anak Kolaps dalam Waktu Singkat

Dari total 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan saat ini bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO.

Kemenkes RI menegaskan akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza sesuai dinamika yang ada.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar dr. Prima.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, serta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari.

dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin. 

Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025.  (asr)

2 Tewas, 50 Rumah Rusak Akibat Gempa Berkekuatan Magnitudo 6,5 Mengguncang Meksiko

EtIndonesia. Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 mengguncang ibu kota Meksiko dan pusat wisata di pantai Pasifik pada hari Jumat (2/1), menewaskan sedikitnya dua orang dan menyebabkan kerusakan sedang di sebuah kota kecil dekat pusat gempa.

Badan Survei Geologi AS mengatakan gempa terjadi sesaat sebelum pukul 8:00 pagi di dekat Acapulco, sebuah pelabuhan utama dan resor pantai.

Gempa tersebut dirasakan sekitar 400 kilometer ke utara di Kota Meksiko, di mana alarm berbunyi dan membuat orang-orang bergegas ke jalan untuk menyelamatkan diri, mengganggu liburan akhir pekan.

Seorang pria berusia 60 tahun meninggal setelah jatuh saat menyelamatkan diri dari apartemennya di lantai dua di ibu kota, kata pihak berwenang setempat.

Dua belas orang lainnya terluka, tulis Walikota Clara Brugada di media sosial, tetapi tidak ada laporan kerusakan besar di kota terbesar di negara itu.

Presiden Claudia Sheinbaum terpaksa mengevakuasi istana kepresidenan selama konferensi pers pagi rutinnya.

Layanan Seismologi Nasional Meksiko mengatakan bahwa pusat gempa terletak 14 kilometer barat daya kota San Marcos di negara bagian Guerrero.

Sheinbaum mengatakan tidak ada laporan langsung tentang kerusakan besar, tetapi di San Marcos, dampaknya terlihat jelas.

Seorang wanita berusia lima puluhan “meninggal dunia ketika rumahnya runtuh menimpanya,” kata Gubernur Guerrero Evelyn Salgado.

Walikota San Marcos Misael Lorenzo Castillo mengatakan sekitar 50 rumah hancur dan “semua rumah retak.”

Warga menunjukkan kepada wartawan AFP retakan di dinding rumah mereka dan bagian dinding yang runtuh.

“San Marcos sangat terdampak, hancur,” ratap Rogelio Moreno, seorang warga, berdiri di depan rumahnya yang rusak.

‘Terbangun dalam ketakutan’

Meksiko terletak di antara lima lempeng tektonik dan karenanya merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia.

Karen Gomez, seorang pekerja kantoran berusia 47 tahun yang tinggal di lantai 13 sebuah gedung apartemen di Mexico City, mengatakan kepada AFP bahwa ia terbangun dari tidurnya oleh sirene jalanan.

“Saya terbangun dalam ketakutan. Peringatan di ponsel saya mengatakan itu adalah gempa bumi yang kuat.”

Norma Ortega, seorang direktur taman kanak-kanak berusia 57 tahun, yang tinggal di apartemen lantai 10, mengatakan ia dapat merasakan gedungnya berguncang.

Di Acapulco, Ricardo, seorang turis dari negara bagian Morelos di Meksiko tengah, melarikan diri dari hotelnya tanpa mengenakan baju setelah sirene berbunyi.

Pusat Mexico City dibangun di atas tanah berlumpur yang dulunya merupakan dasar danau, sehingga sangat rentan terhadap gempa bumi.

Pengeras Suara di Tiang Lampu

Gempa bumi yang paling kuat dirasakan biasanya berasal dari lepas pantai negara bagian Guerrero di pesisir Pasifik.

Pada 19 September 1985, gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,1 menghancurkan sebagian besar wilayah Kota Meksiko, menewaskan hampir 13.000 orang, sebagian besar di kota tersebut, menurut angka resmi.

Pada tahun 2017, juga pada tanggal 19 September, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 menewaskan 369 orang, juga sebagian besar di Kota Meksiko.

Sistem peringatan dini, termasuk aplikasi ponsel pintar, telah dikembangkan untuk memperingatkan warga tentang gempa bumi kuat dan mendesak mereka untuk mencari tempat aman.

Kota Meksiko juga telah memasang pengeras suara di tiang lampu untuk menyiarkan peringatan tersebut.(yn)

Perang Rusia–Ukraina Meningkat di Awal Tahun, Putin Buka Ambisi Ekspansi 2026

Meski kalender telah memasuki tahun 2026, perang kejam antara Rusia dan Ukraina masih belum berhenti. Pada hari pertama Tahun Baru, kedua pihak saling melancarkan serangan udara besar-besaran.

EtIndonesia. Tahun 2026 telah tiba, namun yang menyambut Ukraina tetaplah kegelapan tanpa akhir dan suara sirine pertahanan udara yang memekakkan telinga. Pada hari pertama Tahun Baru, Rusia meluncurkan lebih dari 200 drone tempur ke sedikitnya tujuh wilayah di seluruh Ukraina. Sasaran utama adalah infrastruktur energi yang memicu pemadaman listrik skala besar dan kebakaran di sejumlah daerah.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunggah pernyataan yang mengecam Rusia karena dengan sengaja membawa perang ke Tahun Baru. Ia menyerukan kepada para sekutu bahwa pembunuhan harus dihentikan dan perlindungan terhadap nyawa manusia tidak boleh kendor sedikit pun. Jika serangan tetap berlanjut selama libur Tahun Baru, maka pengiriman peralatan pertahanan udara sama sekali tidak boleh ditunda.

Dalam pidato Tahun Baru sehari sebelumnya, Zelenskyy mengatakan:  “Kami menginginkan berakhirnya perang, bukan berakhirnya Ukraina. Apakah kami lelah? Sangat lelah. Namun apakah itu berarti kami siap menyerah? Orang yang berpikir demikian benar-benar keliru.”

Pada malam Tahun Baru yang sama, pejabat Rusia menyatakan bahwa drone Ukraina telah membombardir wilayah Yaroslavl, Oblast Kaluga, serta beberapa fasilitas energi dan industri di Krai Krasnodar. Rekaman video menunjukkan kilang minyak yang terkena serangan terbakar hebat, dengan asap hitam membumbung ke langit.

Sementara itu, Rusia juga menuduh drone Ukraina menyerang sebuah kafe di wilayah Kherson yang dikuasai Rusia, menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai 29 lainnya. Saat itu, warga sedang mengadakan perayaan Tahun Baru. Pihak Ukraina belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Terkait tuduhan Moskow sebelumnya bahwa Kyiv berupaya menggunakan drone jarak jauh untuk menyerang kediaman Presiden Putin, Kementerian Pertahanan Rusia pada Kamis mengklaim telah mengekstrak dan mendekode data dari sebuah drone Ukraina yang berhasil ditembak jatuh. Dokumen tersebut, menurut Rusia, membuktikan kebenaran tuduhan tersebut dan Moskow akan menyerahkan materi terkait kepada Amerika Serikat.

Namun sehari sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip pernyataan pejabat keamanan AS yang mengatakan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) memastikan Ukraina tidak memiliki niat menyerang kediaman Putin, melainkan menargetkan sebuah sasaran militer yang berada di kawasan tempat tinggal Putin.

Apa pun faktanya, yang terlihat oleh dunia luar adalah sikap Moskow terhadap perundingan damai semakin mengeras. Dalam pidato Tahun Barunya, Putin sama sekali tidak menyinggung perdamaian di Ukraina, melainkan justru menyemangati moral tempur pasukan Rusia.

 “Kita bersatu karena cinta yang tulus, tanpa pamrih, dan setia kepada Rusia. Saya mengucapkan selamat Tahun Baru kepada seluruh prajurit dan komandan! Kami percaya kepada kalian, dan kami percaya pada kemenangan kita,” ujar Putin, 

Panglima tertinggi Rusia Valery Gerasimov baru-baru ini mengungkapkan bahwa selain memperkuat serangan darat di Ukraina bagian selatan dan timur, Putin juga memerintahkan perluasan zona penyangga keamanan di wilayah utara Sumy dan Kharkiv pada tahun 2026. Ekspansi wilayah tersebut didefinisikan ulang sebagai kebutuhan defensif. Para analis menilai hal ini menunjukkan bahwa Moskow, sembari melakukan perundingan damai, berniat menguasai secara permanen wilayah-wilayah yang baru diduduki.

Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, menulis dalam sebuah unggahan menjelang Tahun Baru bahwa ia telah mengadakan pertemuan dengan Zelenskyy serta para penasihat keamanan nasional dari Inggris, Prancis, dan Jerman untuk membahas langkah-langkah selanjutnya dalam mendorong proses perdamaian. Seiring dentang lonceng Tahun Baru, perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini akan segera memasuki tahun kelimanya. (Hui)

Kota-Kota di Tiongkok Kerahkan Pasukan Keamanan Besar-Besaran pada Malam Tahun Baru

EtIndonesia. Pada malam pergantian tahun, kota-kota besar di Tiongkok berada dalam kondisi siaga tinggi. Selain membatalkan seluruh perayaan malam Tahun Baru, pihak berwenang juga mengerahkan pasukan polisi dan petugas keamanan dalam jumlah besar di lokasi-lokasi yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya warga untuk merayakan pergantian tahun. 

Meski demikian, antusiasme sebagian warga tetap mendorong mereka datang ke lokasi-lokasi tersebut. Namun banyak yang dihalangi, sehingga suasana malam Tahun Baru terasa jauh lebih sepi dan dingin dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sebelumnya, berbagai kota besar di Tiongkok telah mengumumkan pembatalan seluruh kegiatan perayaan malam Tahun Baru 2026, termasuk pertunjukan cahaya, acara hitung mundur, dan pesta kembang api. 

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada 31 Desember, kota-kota seperti Beijing, Shanghai, Shijiazhuang, Hangzhou, Zhengzhou, Chongqing, dan Qingdao mengerahkan dalam jumlah besar polisi, pasukan khusus, serta petugas keamanan. 

Di Changsha, pasukan khusus bersenjata tampak berjaga dengan senapan; di Nanjing, polisi menutup area Patung Sun Yat-sen dan bersiaga ketat; sementara di sekitar Menara Lonceng Xi’an, jalan-jalan ditutup dan polisi ditempatkan setiap beberapa meter.

 “Semua acara Tahun Baru dibatalkan. Sekarang tidak boleh ada kegiatan yang melibatkan kerumunan. Ada pemberitahuan yang melarang kegiatan seperti itu. Di setiap persimpangan dan jalan ada patroli, tidak boleh menyalakan petasan, tidak boleh ada kegiatan berskala besar. Rasanya benar-benar seperti menghadapi musuh besar, seolah-olah ketakutannya sudah sampai pada tingkat ekstrem,” kata seorang warga Beijing, Tuan Li. 

Pada malam 31 Desember, masih ada cukup banyak warga yang datang ke Jalan Wangfujing di Beijing untuk merayakan malam Tahun Baru. Namun Tuan Lin, yang berada di lokasi, mengungkapkan bahwa jumlah orang jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya dan nyaris tidak terasa suasana perayaannya.

 “Di Wangfujing bisa dibilang tidak ada acara apa pun. Orang-orang di sana hanya sibuk mencari-cari masalah. Sekarang untuk masuk harus reservasi, harus melewati dua atau tiga lapis pemeriksaan keamanan. Kalau mau masuk, ya harus lolos pemeriksaan dulu,” ujarnya. 

Seorang warga Shanghai, Tuan Liu, mengungkapkan bahwa cukup banyak orang yang pergi ke kawasan Bund Shanghai untuk merayakan malam Tahun Baru, namun pemandangan kerumunan besar seperti tahun-tahun sebelumnya tidak terlihat.

 “Tahun ini semua kegiatan perayaan Tahun Baru di kota tidak diselenggarakan. Di Bund Shanghai orangnya sedikit lebih banyak, tapi di jalan-jalan lain tidak terlalu ramai. Setiap tahun jumlah orang selalu dibatasi. Untuk acara seperti ini, polisi dikerahkan sepenuhnya, pengawasannya makin ketat. Rasanya kondisi makin tahun makin buruk,” ujarnya. 

Pada malam 31 Desember, cukup banyak warga berkumpul di sekitar Menara Kanton (Canton Tower), ikon kota Guangzhou. 

Seorang warga Guangzhou, Chen, mengatakan bahwa tidak adanya pertunjukan cahaya dan kembang api tahun ini membuatnya sangat kecewa. Namun ia merasa beruntung karena bisa tiba di rumah sekitar pukul dua dini hari, dua jam lebih cepat dibanding tahun lalu.

 “Tahun ini saat malam Tahun Baru, Guangzhou tidak ada acara apa pun. Di sekitar Menara Kanton juga tidak diadakan kegiatan. Jumlah orang jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu sangat ramai, tapi tahun ini tidak ada apa-apa. Kereta bawah tanah berhenti beroperasi pukul 10.00 malam, naik taksi sangat mahal, dan banyak kendaraan terjebak macet di jalan,” katanya. 

Laporan hasil wawancara oleh reporter Xiong Bin dan Peng Xinyu

Video Baku Tembak Meletus Selama Aksi Protes di Iran, Penembakan Digunakan Demi Menekan Para Demonstran di Beberapa Lokasi 

 Krisis ekonomi memicu gelombang perlawanan sipil terbesar di Iran dalam tiga tahun terakhir. Banyak video yang beredar di internet menunjukkan massa pengunjuk rasa menyerbu kantor-kantor pemerintah, sementara suara tembakan terdengar di berbagai daerah. Media setempat melaporkan bahwa baku tembak terjadi di sejumlah wilayah dan menewaskan banyak orang.

EtIndonesia. Media semi-resmi Iran, Fars News Agency, mengutip seorang “sumber yang mengetahui situasi” yang mengatakan bahwa pada 1 Januari 2026 pagi, bentrokan terjadi antara polisi dan pengunjuk rasa yang diduga bersenjata di kota Lordegan, Iran bagian barat, yang mengakibatkan beberapa orang tewas.

Namun hingga kini belum jelas apakah laporan tersebut mencerminkan fakta sebenarnya, atau justru menjadi dalih bagi otoritas Iran untuk melakukan penindasan kekerasan.

Kelompok pemantau hak asasi manusia Hengaw melaporkan bahwa pasukan keamanan menembaki massa pengunjuk rasa di Lordegan, menyebabkan banyak korban tewas dan luka-luka.

Selain itu, pada 1 Januari pagi, Garda Revolusi Iran juga mengklaim bahwa seorang anggota milisi garis keras Basij tewas dalam serangan di kota Kuhdasht, Provinsi Lorestan di Iran bagian barat, dan sejumlah anggota milisi lainnya mengalami luka-luka.

Hengaw juga melaporkan bahwa seorang pengunjuk rasa ditembak mati oleh aparat pada 31 Desember di Provinsi Isfahan di Iran tengah. Di Provinsi Kermanshah, Khuzestan, dan Hamedan di Iran barat, sejumlah demonstran ditangkap.

Seluruh informasi ini untuk sementara masih sulit diverifikasi. Namun berbagai sumber menunjukkan bahwa protes nasional yang dipicu oleh aksi mogok para pedagang pada 28 Desember ini terus meningkat tajam. Pemerintahan teokratis Khamenei di Iran kini menghadapi krisis kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Banyak video yang beredar di internet memperlihatkan bahwa di berbagai kota, massa pengunjuk rasa terlibat konfrontasi sengit dengan aparat pemerintah di jalanan, bahkan memukul mundur pasukan militer dan polisi. 

Mereka meneriakkan slogan “Gulingkan Khamenei”, secara kolektif menyerbu atau menduduki gedung-gedung pemerintah maupun basis milisi, serta membakarnya. Sebagian pengunjuk rasa juga terlihat membakar potret Khamenei dan para pendukungnya di depan umum. Di banyak kota, lokasi protes dipenuhi kobaran api yang menjulang tinggi.

Di Kuhdasht, Provinsi Lorestan, para pengunjuk rasa Iran terlihat merobohkan dan membakar patung serta monumen rezim Iran.

Di berbagai lokasi protes lainnya, suara tembakan yang padat juga terdengar. Ada laporan yang menyebutkan bahwa aparat militer dan polisi Iran melakukan pembantaian terhadap pengunjuk rasa, sementara laporan lain menyebutkan bahwa baku tembak terjadi antara kedua pihak.

Sebagian pengunjuk rasa secara terbuka menyerukan penggulingan rezim otoriter, pembentukan pemerintahan baru, serta mendukung Putra Mahkota Reza Pahlavi yang kini hidup di pengasingan agar kembali ke Iran dan memulihkan sistem monarki. 

Pahlavi, yang saat ini tinggal di Amerika Serikat, juga secara terbuka menyatakan dukungannya kepada para demonstran dan menyerukan agar militer serta polisi Iran berpihak kepada rakyat.

Rezim teokratis Iran telah lama dikenai sanksi Barat, yang menyebabkan ekonomi negara itu terpukul keras. Tingkat inflasi mencapai sekitar 40 persen, mata uang nasional merosot tajam, dan kondisi inilah yang memicu gelombang protes nasional tersebut.

Aksi protes di Iran juga menarik perhatian masyarakat Tiongkok. Banyak warganet di  Daratan Tiongkok menyatakan dukungan kepada rakyat Iran dan berharap agar “teman lama” Partai Komunis Tiongkok berkurang satu lagi. (Hui)

Malam Tahun Baru di Belanda Jauh dari  Kata Damai : Gereja Berusia 150 Tahun Terbakar Hingga Kembang Api Mengenai Polisi 

Malam pergantian tahun di Belanda berlangsung tidak tenang. Pada  1 Januari dini hari, sebuah gereja yang dibangun pada abad ke-19 di Amsterdam dilalap api. Kembang api menyebabkan dua orang tewas. Bahkan, di berbagai wilayah di seluruh negeri dilaporkan terjadi serangan yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap polisi dan petugas pemadam kebakaran.

EtIndonesia. Laporan kantor berita Agence France-Presse (AFP) menyebutkan, sebuah gereja di Amsterdam yang terletak di dekat taman kota yang sangat populer tiba-tiba terbakar pada 1 Januari dini hari. Menara setinggi sekitar 50 meter dari Gereja Vondel (Vondelkerk), yang dibangun pada tahun 1872, runtuh. Atap gereja mengalami kerusakan parah, namun struktur utama bangunan tetap utuh. Penyebab kebakaran masih belum diketahui.

Ketua serikat polisi Belanda, Nine Kooiman, mengatakan bahwa pada malam Tahun Baru, “polisi dan petugas layanan darurat menghadapi kekerasan yang sangat parah dan belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia sendiri, saat bertugas di Amsterdam, mengaku telah tiga kali diserang warga dengan kembang api dan bahan peledak lainnya.

Laporan serangan terhadap polisi dan petugas pemadam kebakaran muncul dari berbagai daerah di Belanda. 

Di kota Breda di wilayah selatan, bahkan ada pelaku yang melemparkan bom molotov ke arah polisi.

Sebelumnya diperkirakan pemerintah akan mulai melarang penyalaan kembang api secara pribadi. Akibatnya, warga berbondong-bondong membeli kembang api dalam jumlah besar. Meskipun beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai zona larangan kembang api, efektivitas kebijakan tersebut masih terbatas. (Hui)

Aksi Protes Akibat Ekonomi Sulit di Segala Penjuru Iran Terus Meluas, 6 Orang Tewas 

Aksi protes yang dipicu oleh kesulitan ekonomi di Iran terus meluas. Pada Kamis (1 Januari), gelombang protes menyebar hingga ke provinsi-provinsi pedesaan. Otoritas Iran menyatakan bahwa hingga saat ini bentrokan antara pasukan keamanan dan para demonstran telah menewaskan sedikitnya enam orang.

EtIndonesia. Aksi protes di Iran kali ini Ini merupakan aksi protes terbesar di Iran sejak tahun 2022. Aksi tersebut telah memicu bentrokan kekerasan di berbagai wilayah, yang berawal dari lonjakan inflasi. 

Dalam setahun terakhir, mata uang Iran, rial, telah terdepresiasi lebih dari sepertiga terhadap dolar AS. Saat ini, 1 dolar AS setara dengan sekitar 1,4 juta rial. Pada saat yang sama, menurut data badan statistik resmi Iran, tingkat inflasi tahunan pada Desember 2025 melonjak 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Selain itu, serangan udara Israel dan Amerika Serikat pada Juni 2025 yang menghantam fasilitas nuklir serta kepemimpinan militer Iran semakin memperburuk krisis rezim tersebut.

Bentrokan antara para demonstran dan pasukan keamanan menandai eskalasi signifikan sejak aksi protes meletus pada Minggu (28 Desember 2025). Hingga kini, sedikitnya enam orang dilaporkan tewas: satu orang pada Rabu (31 Desember 2025) dan lima orang pada Kamis, berasal dari tiga kota berbeda di Iran.

Insiden kekerasan paling sengit dilaporkan terjadi di kota Azna, Provinsi Lorestan, Iran. Kota ini terletak sekitar 300 kilometer (185 mil) di barat daya Teheran. Video yang beredar di internet menunjukkan sejumlah benda di jalanan terbakar, suara tembakan terdengar di berbagai arah, dan massa meneriakkan slogan: “Tidak tahu malu! Tidak tahu malu!”. 

Media semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa di kota Lordegan, Iran bagian barat, bentrokan antara pasukan keamanan dan para demonstran menewaskan dua orang. Kantor berita tersebut sebelumnya juga melaporkan adanya korban jiwa lainnya.

Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa satu personel militer tewas dan 13 lainnya luka-luka. Garda Revolusi menyalahkan para demonstran atas insiden tersebut.

Pemerintah Iran telah merespons aksi protes dengan menawarkan dialog, yang tampaknya dimaksudkan untuk menunjukkan sikap rekonsiliasi di tengah penerapan langkah-langkah keamanan. Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, pada Kamis mengatakan bahwa otoritas akan mengadakan dialog langsung dengan perwakilan serikat pekerja dan kalangan bisnis, namun tidak merinci detailnya. (Hui)

Seorang Peniup Kaca Asal Tiongkok, yang Dijuluki ‘Pangeran Katak’, Memiliki Pipi yang Menonjol Secara Tidak Biasa Setelah 30 Tahun Bekerja

EtIndonesia. Seorang peniup kaca di Tiongkok mengalami perubahan bentuk pipi yang dramatis seperti katak karena tekanan yang dialaminya selama 30 tahun bekerja di industri tersebut.

Pria berusia 48 tahun, bernama Zhang, yang bekerja di sebuah pabrik kaca di Zhongshan, Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, telah menarik perhatian media sosial dengan wajahnya yang berubah bentuk, menurut laporan dari media berita jxnews.com.cn.

Pekerjaan jangka panjang dan intensif telah secara aneh mengembangkan otot-otot wajah Zhang, sehingga pipinya menggembung secara aneh ketika dia meniup kaca.

Rekan-rekannya dengan penuh kasih memanggilnya “kakak bermulut besar”, sementara dia dengan santai menyebut dirinya “pangeran katak”, kata laporan itu.

Berasal dari sebuah desa di Provinsi Hunan tengah, Zhang telah bekerja di industri kaca di Guangdong selama 30 tahun.

Video viral menunjukkan Zhang menggunakan pipa logam sepanjang 1,5 meter untuk mengambil massa kaca cair yang dipanaskan hingga lebih dari 1.000 derajat Celcius dan meniupkan udara melalui pipa tersebut agar massa kaca mengembang.

Dia terlihat dengan hati-hati memutar pipa untuk menyesuaikan bentuk kaca sambil terus meniup.

Zhang sering bekerja tanpa mengenakan baju karena panas di bengkel.

Dia mengatakan wajahnya normal ketika mulai bekerja bertahun-tahun yang lalu.

Namun, akibat meniupkan udara berulang kali, otot-otot wajahnya meregang seiring waktu.

Secara bertahap, pipinya menjadi kendur dan seperti “balon,” kata Zhang.

Dia mengatakan telah mengalami kerusakan otot wajah.

Peniupan kaca adalah kerajinan dengan sejarah lebih dari 1.000 tahun di Tiongkok.

Dalam industri modern, sebagian besar produksi barang pecah belah menggunakan mesin untuk meniup udara; namun, peniupan tradisional diperlukan untuk membuat produk yang kompleks.

Di Kabupaten Qixian, Provinsi Shanxi, Tiongkok utara, yang dijuluki sebagai ibu kota kerajinan kaca negara itu, terdapat 35.000 peniup kaca.

Meskipun peniupan manual dapat menghasilkan enam gelas kaca dalam satu menit, mesin dapat membuat 45 gelas dalam waktu yang sama, demikian dilaporkan oleh media berita The Paper.

Dari segi kualitas, produk yang ditiup oleh manusia lebih ringan dan memiliki pinggiran yang lebih tipis, menurut laporan tersebut.

Kisah Zhang telah memicu diskusi yang ramai di media sosial daratan Tiongkok.

Seorang pengamat daring mengatakan: “Saya tidak berpikir penampilannya lucu, malah saya mengaguminya. Hati saya sakit memikirkan perjuangannya selama bertahun-tahun.”

Orang lain mengatakan: “Dia hebat. Saya yakin dia menghidupi keluarganya melalui kerja kerasnya.”(yn)

Kisah Inspiratif: Menyerahkan Nyawa kepada Diri Sendiri

EtIndonesia. “Raja Ular” adalah julukannya. Dia dikenal luas sebagai pakar gigitan ular, telah menyelamatkan tak terhitung banyak nyawa. Di daerahnya, hampir tak ada racun ular yang tak mampu dia tangani. Demi meneliti obat penawar, dia bahkan memelihara ular berbisa seperti hewan peliharaan. Namun makhluk-makhluk berbahaya itu tak pernah benar-benar jinak—berkali-kali membuatnya berada di ambang maut.

Suatu hari, saat melintas di pasar tradisional, dia melihat seekor ular aneh: panjangnya tak sampai satu kaki, tubuh hijau dengan ekor putih, kepalanya berbentuk segitiga seperti besi setrika—jenis yang belum pernah dia jumpai. Nalurinya berkata, ini mungkin spesies baru yang belum tercatat. Tanpa ragu, dia membelinya dari pedagang ular dan membawanya pulang. Ular itu dia beri nama lucu: “Kepala Setrika”. Setiap hari dia rawat, amati, dan teliti dengan saksama.

Enam bulan kemudian, dia akhirnya merumuskan obat penawar racun ular tersebut. Pada suatu sore, dia dan istrinya membawa “Kepala Setrika” ke alam liar untuk dilepasliarkan. Namun musibah terjadi seketika: tepat saat dia melepas pegangan, ular itu berbalik cepat dan menggigit jari tengah tangan kirinya, lalu menghilang ke semak belukar.

Darah mengucur deras. Dia menahan nyeri yang menusuk tulang dan menyuruh istrinya segera menyalakan kamera untuk merekam bekas gigitan dan aliran darah—demi menyimpan data gigitan yang paling berharga. Keputusan itu membuatnya kehilangan waktu emas untuk penanganan awal. Lima menit kemudian, jarinya menghitam; racun menyebar cepat melalui darah.

 “Kepala Setrika” ternyata ular yang sangat mematikan.

Sesampainya di rumah, dia segera meminum obat racikan barunya. Kondisinya sempat terkendali. Namun keesokan harinya—meski ditentang keras oleh istrinya—dia menghentikan obat itu. Alasannya dua: ingin merasakan langsung reaksi fisiologis keracunan, dan menguji efektivitas obat. Dia tak menyangka, uji coba itu nyaris merenggut nyawanya.

Malamnya, luka mulai membusuk; racun kembali menyerang. Seluruh tubuhnya disergap rasa sakit tak tertahankan. Keringat dingin bercucuran, seolah setiap tulang dipanggang api. Saat dia mencoba minum obat lagi, sudah terlambat—racun telah menyerang jantung. Dia roboh tak sadarkan diri.

Raja Ular berada di ambang kematian.

Para sahabat berdatangan. Melihatnya terbaring kaku, napas tipis, wajah pucat bagai kertas, mereka menangis dan menggeleng putus asa. 

Ada yang mengusulkan: “Ke rumah sakit besar sekarang juga!” 

Istrinya panik; dalam hati dia takut obat racikan suaminya kali ini tak lagi ampuh. Barangkali rumah sakit memberi secercah harapan. Dia pun menyetujui. Ambulans dipanggil; rumah mendadak kacau.

Dia terbaring dengan kesadaran utuh, namun tubuhnya lumpuh total—tak bisa bergerak, tak bisa bicara, tak bisa membuka mata. Hanya pendengaran yang masih ada. Semua yang terjadi dia dengar jelas. Dalam hati dia berteriak: Jangan ke rumah sakit! Kalau ke sana, tamat.

Dia tahu betul: tak ada serum penawar untuk ular ini. Di rumah sakit, dia pasti kalah. Lebih baik mempertaruhkan nyawa pada obatnya sendiri. Sayangnya, tak seorang pun tahu dia masih sadar. Dia tak bisa memberi isyarat—hanya pasrah.

Ambulans tiba. Saat tubuhnya diangkat, guncangan itu membuatnya membuka mata. Dia masih tak bisa bicara, namun memutar bola mata sekuat tenaga. Istrinya memahami isyarat itu. Dengan air mata, dia meminta semua orang menurunkannya kembali.

Istrinya lalu mengikuti resep yang telah ditinggalkan suaminya—obat diminum dan dioleskan, dirawat dengan penuh ketelitian. Dia tahu risikonya besar, namun itu satu-satunya jalan.

Dua hari kemudian, keajaiban terjadi. Dia kembali dari gerbang kematian.

Ketika menceritakan pengalaman itu kepada saya, wajahnya tenang—nyaris seperti berkisah tentang orang lain. 

Saya bertanya: “Nyawamu hampir melayang. Mengapa kamu tetap begitu percaya pada dirimu sendiri?”

Dia tersenyum :  “Daripada diserahkan ke orang lain untuk ‘diobati sampai mati’, lebih baik aku obati sendiri. Kalau mati, ya pantas. Tapi kalau hidup, berarti benar.”

Ternyata, itu gigitan ular berbisa kesembilan yang dia alami. Setiap kali nyaris merenggut nyawa. Dia bahkan pernah dua kali menulis surat wasiat. Ungkapan ‘sembilan kali mati, sekali hidup’ terasa sangat tepat. 

Saya bertanya-tanya, mengapa dia selalu lolos? 

Dia bercanda: “Mungkin Raja Neraka tak mau menerimaku.”

Tentu, keberuntungan tak mungkin selalu berpihak pada orang yang sama. Terutama kali ini—yang menyelamatkannya bukanlah nasib, melainkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kita semua tahu: percaya diri tidak menjamin sukses, tetapi tanpa percaya diri, kegagalan sudah pasti. Namun pertanyaannya— ketika hasil ditentukan oleh satu langkah, ketika hidup dan mati berjarak setipis rambut, ketika bahkan dunia meragukanmu—  masihkah kamu percaya pada dirimu sendiri? (jhn/yn)