EtIndonesia. Iran sekali lagi menyaksikan pemandangan yang sangat familiar bagi kepemimpinannya: pasar yang tutup, universitas yang lumpuh, dan demonstran di jalanan, sekali lagi menantang rezim Khamenei.
Apa yang dimulai sebagai kemarahan atas anjloknya rial, hiperinflasi yang terus-menerus, dan seruan untuk stabilitas ekonomi telah meningkat menjadi protes politik yang lebih luas. Di seluruh Teheran, Isfahan, Lorestan, dan wilayah lain, para demonstran tidak lagi hanya menuntut bantuan ekonomi tetapi sekarang mereka secara terbuka menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama.
Video yang beredar online menunjukkan kerumunan orang meneriakkan slogan-slogan seperti ‘Mullah harus meninggalkan Iran’, ‘Matilah Khamenei’, dan ‘Shah akan kembali’, saat kerusuhan di seluruh Iran memasuki hari keenam, tanpa menyisakan ruang untuk ambiguitas.
Selama protes ini, seorang anggota sukarelawan Garda Revolusi paramiliter Iran tewas di Kuhdasht. Menurut Reuters, 13 anggota Basij lainnya, sebuah pasukan paramiliter sukarelawan yang berafiliasi dengan Garda Revolusi, dilaporkan terluka oleh para demonstran. Insiden-insiden ini telah menyoroti meningkatnya volatilitas dan perbedaan pendapat saat negara tersebut menghadapi kerusuhan terbesar dalam tiga tahun terakhir.
Perang Iran-Irak (1980–1988) mengubah IRGC menjadi kekuatan tempur konvensional. Kini sangat terinstitusionalisasi, IRGC tetap menjadi kekuatan yang setara dengan angkatan bersenjata reguler Iran. IRGC mencakup pasukan darat yang berbasis di 31 provinsi Iran, pasukan paramiliter Basij, angkatan laut yang terpisah dari cabang angkatan laut militer reguler Iran, angkatan udara yang terpisah, dan komando siber.
Asal Usul dan Struktur Basij
Basij, yang secara resmi dikenal sebagai Organisasi untuk Mobilisasi Kaum Tertindas (Sâzmân-e Basij-e Mostaz’afin), didirikan pada tahun 1980 atas perintah Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang menyerukan ‘20 juta penembak jitu’ untuk membela revolusi. Ini adalah milisi sukarelawan paramiliter Iran di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menurut Reuters, Basij adalah pasukan paramiliter sukarelawan yang beroperasi di bawah loyalitas langsung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Modern Science menggambarkan strategi keamanan Iran sebagai ‘doktrin pertahanan mosaik,’ yang menggabungkan perlindungan teritorial berlapis-lapis dengan peperangan asimetris. Dalam kerangka ini, peran Basij tidak hanya terbatas sebagai anak perusahaan IRGC tetapi juga memainkan perannya dalam mekanisme sentral untuk mobilisasi sosial, menekan perbedaan pendapat, dan mencapai tujuan rezim.
Di luar penegakan hukum domestik, Basij mendukung kelompok-kelompok sekutu di luar negeri dan berpartisipasi dalam konflik regional, yang mencerminkan peran gandanya dalam strategi internal dan eksternal Iran. Basij sering dituduh berpartisipasi dalam penindakan kekerasan, terutama selama pemilihan presiden 2009 dan pada November 2019 ketika Basij dilaporkan termasuk di antara pasukan keamanan Iran yang bertanggung jawab atas kematian ratusan pria, wanita, dan anak-anak.
Fungsi dan Pengaruh
Menurut United States Institute of Peace, Basij adalah pasukan tambahan yang menjalankan berbagai tugas, mulai dari keamanan internal dan penegakan hukum hingga pengawasan moral dan pengorganisasian acara keagamaan atau politik khusus. Milisi ini memiliki cabang di hampir setiap kota dan desa di Iran, memberikan Pemimpin Tertinggi jangkauan yang luas di masyarakat.
Basij memperoleh peningkatan signifikansi setelah pemilihan 2009 yang dipersengketakan, ketika Khamenei memobilisasi pasukan tersebut untuk melawan ancaman ‘domestik’ yang dianggap ada. Pengaruh yang semakin besar ini telah memperkuat kekuatan politik dan ekonomi Basij, yang berkontribusi pada militerisasi rezim Iran.
Meskipun memiliki otoritas, Basij tidak kebal terhadap tantangan. Tanggapannya terhadap protes di masa lalu terkadang dikritik, dan anggarannya yang terbatas membatasi operasinya. Namun, serangan terhadap Basij bukanlah hal baru; pasukan ini telah menghadapi kemarahan serupa dari warga sipil dan ‘kelompok teroris’ di masa lalu. Integrasi ke dalam Pasukan Darat IRGC pada tahun 2008 semakin membentuk kembali strukturnya, sementara sanksi AS dan internasional terhadap IRGC dapat melemahkan kapasitasnya. Namun, peran sentralnya dalam aparat keamanan internal Iran tetap tidak diragukan.
Relevansi Kontemporer dan Peran Regional
Seiring berlanjutnya protes di seluruh negeri, sukarelawan Basij telah aktif dalam memberikan keamanan dan dukungan publik. Selama konflik Israel-Iran pada Juni 2025, Panglima Garda Revolusi Mohammad Pakpour menyatakan: “Para sukarelawan Basij aktif di bidang keamanan dan dukungan publik sejak hari pertama eskalasi.” Dalam perang yang sama, Mohammad Taghi Yousefvand, komandan perlindungan intelijen untuk pasukan Basij, tewas selama serangan rudal Israel.
Dalam struktur kekuasaan Iran yang kompleks, Basij tetap menjadi “mata dan telinga” rezim, sebuah alat serbaguna untuk kontrol domestik dan pengaruh regional. Integrasinya yang mendalam dengan IRGC, jaringan yang luas, dan komitmen ideologisnya memastikan bahwa seiring intensifikasi protes, Basij akan terus menjadi pusat bagi kelangsungan hidup dan proyeksi kepemimpinan ulama Iran.(yn)


