Tiongkok Geger: Banyak Pria Muda Dilaporkan Hilang, Diduga Dijadikan Target Pencocokan untuk Pengambilan Organ Hidup

Kasus hilangnya anak-anak dan pria dewasa muda dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Tiongkok, memicu perhatian besar masyarakat. Seorang blogger dari Tiongkok daratan sejak akhir Juli tahun ini telah mengunggah hampir 300 video pencarian orang hilang. Sebagian besar korban berusia belasan hingga awal 30-an, dan mayoritas adalah laki-laki. Hal ini memicu berbagai spekulasi, termasuk dugaan keterkaitan dengan praktik “pengambilan organ hidup”.

EtIndonesia. Blogger Bilibili bernama “Lìzhì Niú Mówáng” (励志牛魔王) sejak 31 Juli telah mengunggah 299 video pencarian orang hilang. Para korban sebagian besar adalah remaja belasan tahun serta pemuda usia 20–30-an, mayoritas laki-laki. Hanya sebagian kecil yang merupakan anak-anak atau lansia.

Dari video-video tersebut terlihat bahwa para korban berasal dari hampir seluruh provinsi di Tiongkok, termasuk Sichuan, Hebei, Guizhou, Shandong, Shaanxi, Anhui, Fujian, Hubei, Yunnan, Henan, Shanxi, Jiangxi, Jilin, Chongqing, Mongolia Dalam, Gansu, Qinghai, Jiangsu, Zhejiang, Hunan, Tianjin, Hainan, serta wilayah otonom Guangxi dan Ningxia.

Berdasarkan informasi korban, sebagian memang diduga tertipu dan dibawa ke luar negeri atau ke kawasan penipuan di Asia Tenggara. Namun, banyak di antaranya hilang tanpa tanda-tanda apa pun. Banyak orang dilaporkan menghilang secara misterius saat berangkat atau pulang kerja, berangkat atau pulang sekolah, atau setelah keluar rumah.

Berikut beberapa contoh kasus orang hilang:

  • Video 5 November menunjukkan bahwa Zhong Yuanda, pria 30 tahun asal Luchuan, Yulin, Guangxi, kehilangan kontak pada 27 Agustus saat melakukan perjalanan mengemudi sendiri di Qinghai. Pada 1 November, mobil yang ia kendarai ditemukan di Parit Tolahai, Kota Golmud, namun dirinya tidak diketahui keberadaannya. Kamera dasbor mobil tersebut ditemukan tertutup lakban. (Video terkait)
  • Video 19 Desember menunjukkan bahwa Yu Yankang, mahasiswa pascasarjana pengobatan tradisional Tiongkok berusia 28 tahun asal Ningde, Fujian, telah hilang selama dua tahun sejak berangkat kerja ke rumah sakit pada suatu pagi. Ibunya masih terus mencari sang anak dan berharap ia dapat segera pulang.
  • Video 18 Desember menunjukkan bahwa Liu Enqi, siswa SMA kelas dua berusia 17 tahun, telah hilang lebih dari 150 hari. Ibunya mengatakan bahwa anak tersebut berangkat dari Tanggu menuju Stasiun Tianjin, lalu naik mobil daring ke arah “Hutan Kecil”. Jejak terakhirnya terdeteksi di Plaza Selatan Stasiun Tianjin dan hingga kini belum ditemukan.
  • Video 24 November menunjukkan bahwa Cao Xuan, pemuda 18 tahun asal Chongqing, hilang di dekat Pantai Jinwan, Kota Dongxing, Fangchenggang, Guangxi. Menurut ibunya, anak tersebut hanya membawa ponsel dan charger saat pergi. Hingga kini telah lebih dari 70 hari tanpa kabar.
  • Video 16 September menunjukkan bahwa Chen Zhiyu, remaja 15 tahun asal Zunyi, Guizhou, telah hilang lebih dari lima bulan. Ibunya berharap anaknya dapat segera kembali.

Banyak warganet meninggalkan komentar di bawah video-video tersebut, antara lain:
“Kenapa belakangan ini begitu banyak orang hilang?”
“Orang hilang makin banyak.”
“Sudah jadi ‘suku cadang’.”
“Organ dibutuhkan.”
“Ginjal sehat paling bagus.”
“Organ sudah diambil.”

Komentar lain menyebut:
“Kalau ada orang ingin hidup lebih lama, harus ada objek eksperimen?”
“Pasti sudah ‘mengabdi’ pada ilmu hayati.”
“Kalau sudah cocok, kenapa kamera pengawas tidak bisa menemukan?”
“Jangan tanya, alasannya selalu kamera rusak.”
“CCTV hanya untuk melacak tubuh hidup dan donor.”
“CCTV di mana-mana, tapi kalau ada kejadian selalu rusak.”

Beberapa netizen luar negeri juga berkomentar:
“Transplantasi organ adalah cara utama pejabat tinggi PKT memperpanjang umur.”
“Begitu situs pencarian keluarga yang bersifat swadaya ditutup, kita sudah tahu apa yang terjadi.”
“Dulu banyak kasus mutilasi di Tiongkok daratan yang sebenarnya untuk menutupi pengambilan organ, demi mengganti organ pejabat senior. Banyak yang dilakukan oleh militer, dan kebenarannya tak pernah terungkap.”

Dalam beberapa tahun terakhir, meskipun jumlah kamera pengawas PKT terus meningkat, masih terjadi banyak kasus anak-anak dan pria muda yang hilang secara misterius, diduga tewas akibat pengambilan organ hidup.

Menurut Buku Putih Orang Hilang Tiongkok (2020), jumlah orang hilang di Tiongkok pada 2020 mencapai 1 juta orang. Sementara laporan Radio Tiongkok tahun 2013 menyebutkan bahwa setiap tahun sekitar 200.000 anak hilang, dan yang berhasil ditemukan kembali hanya 0,1%.

Pada Juli tahun ini, seorang keturunan pejabat PKT dari sebuah kota tingkat kabupaten di Provinsi Jiangsu, bernama Eric MY, yang pernah bekerja dalam sistem PKT, mengungkap kepada Epoch Times:  

Ia berkata : “Jumlah kamera keamanan di Tiongkok sangat banyak, puluhan juta. Kalau mau mencari, pasti bisa. Selama ada foto atau nama, salah satunya saja cukup. Sistem ‘Mata Langit’ bisa secara otomatis memeriksa lokasi seseorang. Semua kamera di seluruh negeri memantau. Dalam waktu kurang dari 5 detik, orang itu bisa ditemukan.”

Ia menambahkan:  “Lalu mengapa tidak ditemukan? Saya beritahu—karena organ mereka sudah diambil. Ini benar-benar nyata. Remaja yang hilang di Tiongkok, pada dasarnya organ mereka sudah diambil. Karena organ remaja paling sehat dan paling bernilai. Pelaku utama pengambilan organ adalah pemerintah.”

Seorang blogger perjalanan dari Tiongkok daratan, Wang Ankang, pernah mengunggah video peringatan tentang cara mencegah menjadi korban pengambilan organ hidup saat berada di luar kota. Ia mengatakan bahwa masyarakat harus memahami pola pengambilan organ hidup untuk menghindarinya.

 “Jika Anda berada di luar kota, lalu tiba-tiba ditabrak sepeda listrik atau kendaraan asing, dan orang tersebut membantu menelepon ambulans, Anda harus waspada. Jangan pernah naik ambulans yang dipanggil orang asing. Begitu Anda naik, beberapa orang akan menahan Anda dan Anda tidak bisa pergi. Lebih baik mencari ambulans sendiri, atau bersikeras tidak naik ambulans yang dipanggil orang asing—terutama bagi kaum muda usia 17 hingga 22 tahun.” (Hui)

 Tang Zixuan / Zhu Xinrui

Thailand Bersatu dengan 60 Negara Perangi Scam Online, Kamboja  Absen

Di tengah eskalasi konflik antara Thailand dan Kamboja, Thailand menggelar konferensi internasional global untuk memberantas penipuan daring di Bangkok. Lebih dari 300 perwakilan dari 60 negara bersama-sama mengesahkan “Pernyataan Bersama Bangkok 2025”, yang menyepakati bahwa pemberantasan scam online akan dinaikkan menjadi prioritas kebijakan utama. Para peserta berkomitmen memperkuat legislasi domestik dan memperdalam kerja sama lintas negara guna menghadapi pesatnya perluasan kejahatan penipuan daring. Kamboja, yang dikenal memiliki banyak kawasan pusat penipuan, tidak ikut berpartisipasi.

EtIndonesia. Laporan Bangkok Post pada 19 Desember, Konferensi Internasional Kemitraan Global untuk Pemberantasan Penipuan Daring (IC-GPOS) yang berlangsung selama dua hari, 17–18 Desember, diadakan di Bangkok. Lebih dari 300 perwakilan dari organisasi internasional, sektor swasta, dan masyarakat sipil dari 60 negara menghadiri konferensi tersebut dan mengesahkan Pernyataan Bersama Bangkok 2025.

Konferensi ini diselenggarakan bersama oleh Kementerian Luar Negeri Thailand dan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC). Menurut informasi di situs Kementerian Luar Negeri Thailand, pernyataan bersama ini diprakarsai bersama oleh Peru, Bangladesh, Uni Emirat Arab, Nepal, dan negara-negara lainnya.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa dalam pernyataan bersama, negara-negara peserta berkomitmen untuk memperkuat kerja sama internasional dalam penegakan hukum, penyelidikan, dan penuntutan. Hal ini mencakup pertukaran intelijen dan bukti secara tepat waktu, peningkatan kemampuan forensik digital, serta perbaikan mekanisme pelacakan, penyitaan, dan pemulihan hasil kejahatan.

Pernyataan tersebut juga mendorong penyusunan prosedur operasi standar dalam pemberantasan penipuan daring, serta mempertimbangkan pembentukan kelompok kerja bilateral, regional, atau lintas kawasan guna meningkatkan efektivitas penindakan terhadap kejahatan penipuan.

Selain itu, dokumen tersebut menekankan pentingnya memperkuat legislasi untuk memberantas kejahatan keuangan yang terkait dengan penipuan daring, termasuk pencucian uang dan penyalahgunaan aset virtual. Pernyataan ini mendesak pemerintah negara-negara untuk memastikan bahwa sistem hukum mereka mampu mendukung perampasan aset, transparansi keuangan, dan pengawasan layanan keuangan digital.

Pernyataan bersama tersebut juga menyerukan penguatan perlindungan hukum bagi para korban, serta pembedaan yang jelas antara korban perdagangan manusia dan pelaku kejahatan, khususnya dalam kasus kejahatan paksa yang terjadi di pusat-pusat penipuan.

Wakil Menteri Luar Negeri Thailand Vijavat Isarabhakdi menyampaikan dalam pidato penutupan bahwa kerugian akibat penipuan daring jauh melampaui kerugian ekonomi, dan juga menimbulkan ancaman serius terhadap hak asasi manusia, kepercayaan publik, serta stabilitas sosial-ekonomi. Kelompok kriminal semakin menyalahgunakan platform digital, sistem keuangan, dan teknologi baru untuk melakukan kejahatan lintas negara, sehingga diperlukan respons hukum dan penegakan hukum yang terkoordinasi.

Perwakilan Regional UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Delphine Schantz, menyatakan bahwa selama masih ada akses digital, setiap negara rentan terhadap penipuan daring. Ia juga menegaskan bahwa penipuan daring telah menjadi salah satu sumber pendapatan utama kejahatan terorganisir. Diperkirakan, kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami kerugian hampir 40 miliar dolar AS per tahun akibat kejahatan ini.

 “Teknologi menghubungkan masyarakat dan komunitas dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun teknologi juga menciptakan lahan subur bagi para penjahat yang ingin mengambil keuntungan dari ruang baru. Penipuan daring menyebabkan kerugian puluhan miliar dolar setiap tahun, dan kecerdasan buatan memungkinkan para penjahat menipu korban dalam skala besar,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, dalam pidato video yang disampaikan pada 17 Desember. 

Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyatakan dalam pidato pembukaan konferensi bahwa dalam tiga tahun terakhir, Thailand telah menderita kerugian sekitar 3,16 miliar dolar AS akibat penipuan daring. Pada tahun ini saja, Thailand telah membantu memulangkan lebih dari 10.000 orang dari lebih dari 40 negara yang diselamatkan dari pusat-pusat penipuan di negara tetangga.

Ia menambahkan bahwa Kamboja tidak berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa konferensi ini tidak ditujukan kepada negara tertentu, melainkan membutuhkan kerja sama dari semua negara yang terdampak kejahatan siber.

Dalam dua minggu terakhir, bentrokan militer terjadi di perbatasan Thailand–Kamboja, menyebabkan sekitar 900.000 orang mengungsi. Dilaporkan bahwa militer Thailand membombardir kawasan pusat penipuan di wilayah perbatasan Kamboja, yang disambut dengan dukungan luas dari warganet Tiongkok yang lama menderita akibat penipuan daring. Karena banyak pusat penipuan tersebut diduga memiliki dukungan di belakang layar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), konflik Thailand–Kamboja ini juga menempatkan PKT dalam posisi yang canggung. (Hui)

Laporan terjemahan oleh Jin Hong / Lin Qing

Teko Susu dan Penghematan Puluhan Juta Dolar

EtIndonesia. Sekitar tahun 2008, perekonomian global mengalami penurunan tajam. Demi menghemat pengeluaran, banyak orang mulai mengubah kebiasaan konsumsi mereka—tidak lagi rutin pergi ke kafe untuk minum kopi. Perubahan ini memberikan pukulan telak bagi jaringan kedai kopi terbesar di dunia, Starbucks, yang mengalami penurunan pendapatan secara signifikan.

Untuk membawa Starbucks keluar dari krisis, sang pendiri, Howard Schultz, kembali ke perusahaan setelah delapan tahun meninggalkannya dan kembali menjabat sebagai CEO, bertekad menyelamatkan perusahaan dari keterpurukan.

Saat Schultz kembali, Starbucks berada pada titik terendah. Laba dan pendapatan merosot tajam, harga saham anjlok drastis, dan perusahaan berada di ambang ancaman akuisisi. Namun, alih-alih langsung melakukan perombakan besar-besaran atau menyusun kebijakan keuangan baru, Schultz memilih memulai dari hal-hal kecil—mengencangkan ikat pinggang dan mencari sumber penghematan dari detail operasional.

Setelah melakukan pengamatan menyeluruh, Schultz menemukan bahwa banyak pemborosan terjadi justru pada hal-hal sepele. Demi menghasilkan secangkir kopi dengan cita rasa sempurna, para barista sering kali harus mencoba berulang kali perbandingan susu dan gula. Masalahnya, takaran susu sulit dikontrol—sedikit saja lengah, susu bisa tertuang berlebihan. Untuk menjaga kualitas rasa, kopi yang sudah terlanjur tidak sesuai standar sering kali dibuang dan dibuat ulang. Jika dihitung secara keseluruhan, pemborosan bahan baku ini mencapai puluhan juta dolar setiap tahun.

Schultz pun mendorong seluruh karyawan untuk berpikir bersama, mencari solusi atas kebocoran kecil yang berdampak besar ini.

Seorang karyawan kemudian mengusulkan ide sederhana namun brilian: memasang cincin bergerigi di bagian dalam teko susu agar barista lebih mudah mengontrol jumlah susu yang dituangkan. Kantor pusat Starbucks menguji ide tersebut dan menemukan bahwa cara ini memang efektif mengurangi pemborosan. Karyawan tersebut pun diberi penghargaan besar, dan seluruh teko susu di gerai Starbucks kemudian dimodifikasi dengan desain serupa.

Hanya dari satu perubahan kecil ini saja, perusahaan berhasil menghemat jutaan dolar. Keberhasilan tersebut memicu semangat inovasi di kalangan karyawan. Ide-ide perbaikan lain pun bermunculan, semuanya berfokus pada penyempurnaan detail.

Di bawah dorongan Schultz, Starbucks terus melakukan berbagai penyesuaian kecil—mulai dari desain meja bar, alur kerja di gerai, hingga peralatan penyeduh kopi lainnya. Serangkaian perbaikan detail ini secara perlahan membantu Starbucks keluar dari krisis. Perusahaan bukan hanya berhasil menghindari akuisisi, tetapi justru tumbuh semakin kuat setelah badai berlalu.

Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Schultz telah menyelamatkan Starbucks untuk kedua kalinya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Fortune, Schultz pernah berkata: “Apa istimewanya sebuah teko susu? Namun di Starbucks, benda itu sangat penting. Karena sering kali, hanya dengan menyelesaikan masalah-masalah kecil, barulah kita bisa menemukan sumber keuntungan. Detail, selalu lebih mampu mengubah nasib sebuah perusahaan dibandingkan hal-hal besar lainnya.” (jhn/yn)

Keluhan Publik di Berbagai Daerah Tiongkok Kian Meningkat, Kasus Perlawanan di Pedesaan Naik 70%

Guncangan ekonomi di Tiongkok telah memicu ketidakstabilan sosial. Tahun ini, jumlah aksi perlawanan di wilayah pedesaan meningkat 70% dibandingkan total sepanjang tahun lalu. Partai Komunis Tiongkok (PKT) bahkan secara tidak biasa menekankan perlunya mencegah kembalinya buruh migran ke kampung halaman dalam skala besar, yang menunjukkan betapa seriusnya situasi saat ini.

EtIndonesia. Pada pertengahan November lalu, pemerintah daerah Kabupaten Lingao di Provinsi Hainan dan Kabupaten Fuchuan di Guangxi masing-masing melakukan pembongkaran paksa terhadap kuil rakyat dan balai leluhur klan, yang memicu bentrokan fisik antara warga desa dan aparat pemerintah. Tak lama kemudian, di Kabupaten Xifeng, Provinsi Guizhou, kebijakan yang mewajibkan seluruh jenazah penduduk untuk dikremasi setelah meninggal dunia memicu dua aksi demonstrasi petani secara berturut-turut.

Harian The Guardian Inggris pada 19 Desember melaporkan bahwa melemahnya ekonomi Tiongkok telah meningkatkan ketegangan sosial, dan protes di wilayah pedesaan akibat perampasan tanah serta tekanan keuangan pemerintah daerah mengalami peningkatan yang signifikan.

Mengutip data dari China Dissent Monitor, The Guardian menyebutkan bahwa hingga 11 bulan pertama tahun ini telah tercatat 661 kasus perlawanan di pedesaan, meningkat sekitar 70% dibandingkan total sepanjang tahun lalu.

 “Kembalinya Xi Jinping pada fundamentalisme Mao Zedong dan serangkaian kebijakan yang mundur telah mendorong seluruh masyarakat ke tingkat keputusasaan. Bukan hanya buruh migran yang menganggur, lulusan universitas yang menganggur begitu lulus, atau veteran yang setelah demobilisasi sama saja dengan menganggur, tetapi juga kaum intelektual independen dan pengusaha swasta—semuanya berada dalam kondisi tanpa harapan dan keputusasaan yang mendalam,” kata pakar hukum yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing.

Yuan Hongbing menegaskan bahwa kebijakan politik dan ekonomi PKT telah menyebabkan kemerosotan besar ekonomi Tiongkok yang bersifat tidak dapat dipulihkan, sehingga kemarahan dan ketidakpuasan di kalangan masyarakat sipil terus meningkat. Dari kota hingga desa, berbagai bentuk perlawanan rakyat bermunculan, yang menjadi salah satu ciri utama dari kecenderungan “akhir rezim” tirani PKT.

Penulis Tionghoa-Kanada Sheng Xue menyatakan bahwa selama lebih dari 30 tahun terakhir, perlawanan rakyat di Tiongkok sebenarnya tidak pernah berhenti.

 “Dulu sudah ada puluhan ribu, bahkan ratusan ribu insiden aksi massa. Namun kini sifatnya telah berubah. Dari gelombang PHK pada 1990-an, objek perlawanan kini bergeser—dari pejabat atau pemerintah daerah tertentu, menjadi langsung menentang sistem PKT itu sendiri, bahkan secara langsung mengarah ke puncak kekuasaan,” ujar Sheng Xue.

Menurut Sheng Xue, seiring PKT memperlakukan warga biasa sebagai musuh untuk diawasi dan dikendalikan, para peserta perlawanan tidak lagi terfokus pada tuntutan konkret, melainkan semakin terbuka menyangkal legitimasi kekuasaan PKT.

Aksi perlawanan di pedesaan kerap berkaitan dengan persoalan tanah. Misalnya pada September lalu, Desa Tongxing di Provinsi Hunan melakukan penolakan terhadap pengambilalihan lahan pertanian. 

Seorang pengguna Douyin berkomentar:  “Di tengah kondisi ekonomi yang memburuk, mereka justru merampas lahan pertanian, tanpa menyisakan ruang hidup bagi warga desa.”

The Guardian juga menyebutkan bahwa total utang pemerintah daerah Tiongkok telah mencapai 44 triliun yuan. Meski pasar properti sedang lesu, tanah masih memiliki nilai sebagai jaminan pinjaman, sehingga sering dijadikan sumber pendanaan oleh pemerintah daerah yang mengalami tekanan fiskal. Namun, kompensasi yang layak bagi warga desa sering kali tidak diberikan.

Yuan Hongbing mengatakan:  “Kemerosotan besar ekonomi Tiongkok paling keras menghantam dua kelompok: sekitar 250 juta buruh migran, serta para lulusan universitas yang langsung menganggur setelah lulus.”

Ia menjelaskan bahwa selama dua dekade terakhir, buruh migran hampir semuanya bekerja di kota. Ketika mereka kembali ke desa, tanah yang dulu mereka miliki sering kali sudah tidak ada lagi. Mereka kehilangan penopang terakhir untuk bertahan hidup di pedesaan, dan menjadi kelompok paling tidak stabil dalam masyarakat.

Sebenarnya, PKT sangat khawatir akan terjadinya gelombang besar buruh migran yang pulang kampung. Dalam rapat Kementerian Pertanian PKT pada 16 November, secara khusus ditekankan perlunya mencegah terbentuknya “kembalinya buruh migran dalam skala besar dan tertahannya mereka di desa”.

 “Upaya PKT yang ketat mencegah buruh migran pulang kampung sendiri merupakan sinyal yang sangat berbahaya. Ini berarti bahwa jika sejumlah besar pengangguran kembali ke desa, krisis ekonomi perkotaan akan terekspos secara terkonsentrasi. Tekanan sosial di pedesaan juga akan melonjak drastis,” ujar Sheng Xue.

“Pedesaan justru merupakan wilayah dengan pengawasan yang relatif lemah, serta ikatan kekerabatan dan geografis yang kuat. Dalam sejarah Tiongkok, banyak pemberontakan rakyat berawal dari hilangnya mata pencaharian oleh sejumlah besar penduduk muda yang tidak memiliki jalan kembali,” katanya. 

Yuan Hongbing menambahkan bahwa sistem pemerintahan ala intelijen yang diterapkan PKT terutama berfokus pada kota-kota besar dan menengah, sementara kemampuan kontrol PKT di wilayah pedesaan sangat lemah. 

Ditambah lagi, lembaga partai dan pemerintahan di tingkat kabupaten dan di bawahnya kini secara luas menunggak pembayaran gaji pegawai negeri. Akibatnya, banyak aparat bersikap pasif dan lalai dalam menjalankan tugas, yang pada tingkat tertentu menciptakan “zona kosong” dalam kekuasaan PKT. Inilah salah satu alasan mendasar mengapa PKT sangat takut buruh migran kembali dan menetap di pedesaan. (Hui)

Jajak Pendapat : Hanya 25 Persen Warga Rusia yang Mendukung Kelanjutan Perang Melawan Ukraina,

EtIndonesia. Proporsi warga Rusia yang menginginkan perang di Ukraina berlanjut telah turun menjadi 25 persen, level terendah sejak dimulainya invasi skala penuh. Pada saat yang sama, dua pertiga responden mendukung transisi ke negosiasi perdamaian, menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Pusat Levada Rusia.

Studi ini mencakup 1.618 responden di 50 wilayah Rusia. Survei dilakukan dari tanggal 11 hingga 19 Desember.

Menurut para sosiolog, proporsi mereka yang percaya bahwa sekarang perlu untuk beralih ke negosiasi perdamaian telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir dan mencapai dua pertiga responden (66%).

“Pada saat yang sama, proporsi mereka yang berpikir bahwa aksi militer harus dilanjutkan menurun — menjadi seperempat responden (25%) — ini adalah nilai minimum untuk seluruh periode pengamatan,” kata pernyataan itu.

Seperti yang dicatat oleh Pusat Levada, pendukung kelanjutan perang lebih banyak jumlahnya, khususnya di antara mereka yang mempercayai televisi Rusia dan menyetujui tindakan Presiden Rusia, Vladimir Putin (yang memulai perang).

“Proporsi pendukung negosiasi perdamaian lebih tinggi di kalangan perempuan (71%), responden di bawah 40 tahun (74%), responden dengan pendidikan menengah ke bawah (72%), penduduk pedesaan (72%), mereka yang percaya bahwa keadaan di negara ini bergerak ke arah yang salah (80%), mereka yang tidak menyetujui kinerja Putin sebagai presiden (80%), dan mereka yang mempercayai jejaring sosial sebagai sumber informasi (75%),” tulis para sosiolog.

Kepala Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina, Andriy Kovalenko, mencatat bahwa inti sempit individu yang berpikiran radikal telah terbentuk di sekitar pemimpin Kremlin, yang bersikeras untuk melanjutkan perang.

“Faktanya, inti Nazi tetap ada di sekitar Putin yang ingin terus berperang, beberapa di antaranya menghasilkan uang sendiri atau memiliki rekan dekat yang menjadi kaya dari perang,” tulisnya.

Jajak pendapat lainnya

Ingatlah bahwa jajak pendapat Levada Center yang dilakukan pada bulan Juli menunjukkan bahwa dukungan terhadap perang melawan Ukraina di kalangan warga Rusia tetap berada pada tingkat maksimum, sementara dua pertiga responden mendukung negosiasi, tetapi dengan syarat mereka sendiri.

Pada saat yang sama, pada Mei 2025, studi lain menunjukkan bahwa sebagian besar warga Rusia tidak mendukung gencatan senjata dan percaya bahwa perlu untuk mengupayakan penyerahan diri Ukraina.

Hasil jajak pendapat di Ukraina menunjukkan sentimen yang berlawanan: 59,5% warga Ukraina yakin bahwa, terlepas dari syarat-syarat di mana perang saat ini berakhir, Rusia akan menyerang Ukraina lagi di masa depan. (yn)

Menangkal Tiongkok dan Rusia: Jepang Tingkatkan Hubungan dengan Lima Negara Asia Tengah dan Meningkatkan Investasi

Jepang dan lima negara Asia Tengah pada 20 Desember menggelar KTT pertama mereka di Tokyo dan mengumumkan serangkaian inisiatif kerja sama. Para pengamat menilai langkah Jepang ini bertujuan untuk memperdalam pengaruhnya di kawasan Asia Tengah, mengurangi ketergantungan pada Tiongkok dalam hal mineral strategis, sekaligus membangun jalur logistik strategis yang menghindari Rusia.

EtIndonesia. Pada 19–20 Desember, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memimpin KTT Perdana Jepang–Lima Negara Asia Tengah di Tokyo bersama para pemimpin Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Dalam pertemuan tersebut, mereka bersama-sama mengumumkan rencana kerja sama ekonomi lima tahun.

Kantor Perdana Menteri Jepang menyatakan bahwa rencana tersebut mencakup tiga bidang prioritas kerja sama, yakni pembangunan hijau dan ketahanan, konektivitas, serta pengembangan sumber daya manusia.

Kerja sama di bidang hijau dan ketahanan meliputi transisi energi, pengurangan risiko bencana, penanggulangan perubahan iklim, serta penguatan rantai pasokan mineral strategis. Sementara itu, kerja sama konektivitas mencakup pengembangan lebih lanjut Rute Transportasi Internasional Trans-Kaspia, serta peluncuran Kemitraan Kecerdasan Buatan Jepang–Asia Tengah.

 “Langkah ini dapat dipandang sebagai respons aktif terhadap persaingan geopolitik AS–Tiongkok, bukan sekadar investasi ekonomi biasa. Salah satu tujuannya adalah memecahkan ketergantungan pada mineral strategis Tiongkok, secara langsung menanggapi pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Tiongkok,” kata Wakil Peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Hsieh Pei-hsueh.

Ia menjelaskan bahwa Partai Komunis Tiongkok kerap menggunakan logam tanah jarang sebagai alat tekanan terhadap negara-negara Barat, dan Jepang termasuk yang terdampak. Sementara itu, lima negara Asia Tengah kaya akan sumber daya alam dan memiliki posisi geopolitik yang strategis: Kazakhstan merupakan produsen uranium terbesar di dunia, Uzbekistan memiliki cadangan emas yang besar, Turkmenistan kaya akan gas alam, sedangkan Kirgizstan dan Tajikistan memiliki banyak cadangan mineral, termasuk logam langka.

Ia juga menambahkan bahwa perang Rusia–Ukraina membuat Jepang tidak lagi dapat bergantung pada jalur logistik tradisional di utara. Oleh karena itu, jalur yang melewati Asia Tengah langsung menuju Eropa menjadi kebutuhan yang mendesak.

Hsieh Pei-hsueh mengatakan:  “Ini juga bertujuan membangun koridor transportasi strategis yang menghindari Rusia, seperti Rute Transportasi Internasional Trans-Kaspia, yang merupakan simpul geografis dengan nilai strategis sangat besar.”

Menurut pernyataan resmi, selama KTT ini lebih dari 150 dokumen telah ditandatangani atau diajukan, mencakup kerja sama di berbagai bidang. Jepang dan lima negara Asia Tengah sepakat untuk melaksanakan proyek bisnis senilai 3 triliun yen (sekitar 19 miliar dolar AS) dalam lima tahun ke depan.

Hsieh Pei-hsueh menambahkan:  “Tentu saja, inisiatif Jepang ini berbeda dari ‘Belt and Road’ PKT yang menekankan pembiayaan pinjaman infrastruktur berskala besar. Model Jepang lebih menekankan kerja sama antarkorporasi, alih teknologi, serta kemitraan yang setara dan saling percaya. Ini jelas berbeda dari model Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang didukung strategi negara, pembangunan infrastruktur besar-besaran, dan pinjaman dalam jumlah besar.”

Selama bertahun-tahun, PKT telah mengucurkan dana besar ke luar negeri melalui proyek yang disebut “Belt and Road” untuk melakukan ekspansi. Namun pada akhirnya, banyak masalah muncul, meninggalkan proyek-proyek bermutu rendah, proyek mangkrak, dan jebakan utang di berbagai negara. Kini, dengan ekonomi Beijing yang melemah dan kesulitan internal yang meningkat, skala investasi luar negerinya pun terus menyusut.

 “Jepang memanfaatkan momentum ini dan kekuatan ekonominya untuk membangun pengaruh di negara-negara Asia Tengah. Pada saat Tiongkok sedang melemah, Jepang dapat merebut kepemimpinan dan kepentingan strategis geopolitik di Asia Tengah. Oleh karena itu, investasi dan keterlibatan Jepang ini jelas merupakan hasil perhitungan yang matang,” ujar peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Ming-shih. 

KTT ini menandai peningkatan besar sejak Jepang membangun mekanisme dialog dengan lima negara Asia Tengah pada 2004, dari tingkat menteri luar negeri menjadi kerja sama tingkat kepala negara. Peningkatan ini diyakini akan memperkuat pengaruh Jepang di Asia Tengah, sekaligus membantu negara-negara tersebut mengurangi ketergantungan pada Tiongkok dan Rusia.

Shen Ming-shih menambahkan:  “Setidaknya dalam keseimbangan geopolitik, negara-negara Asia Tengah tidak lagi harus bergantung hanya pada Rusia atau hanya pada Tiongkok, tetapi juga dapat mengandalkan negara-negara aliansi demokratis untuk membantu pembangunan infrastruktur dan bahkan pengembangan ekonomi.”

Dalam pertemuan tersebut, Sanae Takaichi secara khusus menekankan pentingnya Asia Tengah, dengan menyatakan bahwa “seiring perubahan situasi regional dan internasional di Asia Tengah dan sekitarnya, pengaruh Asia Tengah di panggung internasional terus meningkat.” (Hui)

Wanita di Pakistan Mencekik Putrinya yang Berusia 16 Tahun Hingga Tewas Setelah Bertengkar Soal Merokok

EtIndonesia. Seorang wanita di Pakistan mencekik putrinya yang masih remaja hingga tewas setelah bertengkar soal merokok, kata polisi pada hari Senin. Insiden itu terjadi di Basti Sokar, distrik Bahawalpur, Punjab, sekitar 400 km dari Lahore pada hari Sabtu.

Menurut polisi, Nabila Ahmad, 45 tahun, dan putrinya Ayesha, 16 tahun, sering bertengkar soal merokok.

“Ayesha tidak menyukai ibunya karena merokok di tempat umum dan akan mencegahnya,” kata polisi.

Pada Sabtu malam, sang ibu mencekik Ayesha hingga tewas dalam keadaan marah setelah putrinya menjadi hiperaktif.

“Setelah melakukan kejahatan, Nabila melarikan diri dari tempat kejadian. Namun, tim polisi menangkapnya setelah seorang anggota keluarga melaporkan kejadian tersebut kepada mereka,” kata polisi.

Polisi akhirnya menangkap Nabila setelah seorang anggota keluarga melaporkannya. Sementara itu, unit forensik dan unit tempat kejadian perkara telah mengumpulkan bukti.

Jenazah gadis itu telah dipindahkan ke Rumah Sakit Yazman THQ untuk pemeriksaan postmortem.

Seorang influencer media sosial Pakistan berusia 17 tahun tewas dalam kasus serupa pada bulan Juni. Sana Yousaf, seorang kreator konten TikTok populer dari Upper Chitral dengan hampir 500.000 pengikut di Instagram, dilaporkan tewas ditembak dari jarak dekat oleh seorang kerabat.

Sana Yousaf menjadi terkenal melalui video TikTok-nya dan banyak diikuti karena kontennya. Remaja Chitral ini adalah putri seorang aktivis sosial dan menggunakan platformnya, terutama TikTok dan Instagram, untuk mempromosikan kebanggaan budaya, hak-hak perempuan, dan kesadaran pendidikan. Kontennya sering menyoroti tradisi Chitrali. (yn)

AS Cegat Kapal Tanker Ketiga di Dekat Perairan Venezuela, Tekanan terhadap Maduro Semakin Ditingkatkan

Pada 21 Desember 2025, Amerika Serikat kembali mencegat sebuah kapal tanker minyak di perairan internasional dekat Venezuela. Ini merupakan kapal tanker ketiga yang dicegat AS di kawasan tersebut dalam waktu dekat. Langkah ini dipandang sebagai aksi terbaru AS untuk meningkatkan tekanan agar Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, turun dari kekuasaan.

EtIndonesia.  Menurut laporan Reuters, pada  21 Desember 2025, kapal tanker “Bella 1” dicegat oleh pihak AS di laut lepas dekat Venezuela. Kapal tanker berbendera Panama ini tercantum dalam daftar sanksi Amerika Serikat. 

Data dari situs pelacakan pengangkutan minyak mentah TankerTrackers.com menunjukkan bahwa Bella 1 saat ini dalam kondisi kosong. Data tersebut juga mengungkapkan bahwa kapal ini sebelumnya pernah mengangkut minyak mentah Venezuela ke Tiongkok, serta pernah mengangkut minyak mentah Iran.

Sebagai bagian dari tekanan, militer AS dalam beberapa hari terakhir terus melakukan pengerahan militer skala besar di sekitar Laut Karibia. Sehari sebelumnya, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah mencegat kapal tanker kedua di perairan lepas pantai Venezuela.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, pada 20 Desember membagikan sebuah video di platform X yang mengkonfirmasi bahwa pada pagi hari itu militer AS telah mencegat sebuah kapal tanker di perairan internasional dekat pantai Venezuela. Ia juga menyertakan pernyataan yang mengatakan:  “Amerika Serikat akan terus memburu perdagangan minyak ilegal yang dikenai sanksi. Minyak ini digunakan untuk mendanai terorisme narkoba di kawasan tersebut. Kami akan menemukan kalian dan menghentikan kalian.”

Menurut perusahaan manajemen risiko maritim asal Inggris, Vanguard Maritime Risk Management, kapal tanker berbendera Panama bernama “Century” baru-baru ini sempat berlabuh di Venezuela dan dicegat oleh militer AS di Laut Karibia, di perairan sebelah timur Barbados.

Pada 16 Desember, Presiden AS Donald Trump memerintahkan pemblokiran total terhadap kapal tanker yang dikenai sanksi yang keluar-masuk Venezuela. Hingga pekan ini, terdapat lebih dari 70 kapal tanker bayangan di perairan Venezuela, dan 38 di antaranya telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS.

Sementara itu, Pentagon secara bertahap mengirim pasukan darat ke kawasan Karibia, serta mengerahkan kapal induk, kapal perang, dan pesawat tempur. Pada 20 Desember, sebuah pesawat angkut Angkatan Udara AS C-17 Globemaster III lepas landas dari Bandara Mercedita di Puerto Rico; sementara kapal perusak berpeluru kendali Aegis Angkatan Laut AS USS Thomas Hudner juga berlayar dari pelabuhan di pantai selatan Puerto Rico.

Dalam upaya memerangi perdagangan narkoba, pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir terus meningkatkan sanksi terhadap rezim Maduro. Presiden Trump juga berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat akan segera melancarkan serangan militer terhadap Venezuela. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua dan Rong Yu.

Dua Hari Setelah Pembunuhan Jenderal Rusia, Dua Polisi Tewas di Dekat Lokasi di Moskow

EtIndonesia. Tiga orang tewas akibat bom pada hari Rabu (24/12) di Moskow setelah dua petugas polisi mendekati seorang pria yang bertindak mencurigakan di dekat lokasi di mana seorang jenderal senior tewas dua hari lalu akibat bom mobil yang menurut Rusia ditanam oleh intelijen Ukraina.

Sejumlah tokoh militer Rusia dan pendukung perang di Ukraina yang berpengaruh telah dibunuh selama konflik yang hampir empat tahun berlangsung; intelijen militer Ukraina mengatakan bertanggung jawab atas sejumlah serangan tersebut.

Komite Investigasi Negara Rusia mengatakan bahwa ketika dua petugas polisi mendekati seorang pria yang bertindak aneh, mereka tewas akibat alat peledak, dan menambahkan bahwa orang ketiga juga tewas. Komite tersebut tidak menyebutkan siapa orang ketiga itu.

Komite tersebut mengatakan telah membuka kasus pidana berdasarkan pasal-pasal yang berkaitan dengan pembunuhan petugas penegak hukum dan perdagangan bom ilegal.

Saluran berita Telegram Rusia tidak resmi mengatakan pelaku bom adalah salah satu dari mereka yang tewas dan dia meledakkan bom ketika didekati oleh petugas. Reuters tidak dapat secara independen mengkonfirmasi detail tersebut.

Ledakan itu terjadi sangat dekat dengan tempat Letnan Jenderal Fanil Sarvarov, kepala direktorat pelatihan operasional militer Staf Umum Rusia, tewas pada hari Senin.

Rusia mengatakan pihaknya mencurigai Ukraina berada di balik pembunuhan tersebut. Tidak ada komentar resmi dari Ukraina.

Myrotvorets, situs web Ukraina tidak resmi yang menyediakan basis data orang-orang yang digambarkan sebagai penjahat perang atau pengkhianat, memperbarui entri tentang Sarvarov dengan menyatakan bahwa jenderal berusia 56 tahun itu telah “dilikuidasi.”(yn)

Bertahanlah Sedikit Lagi

EtIndonesia. Pada tahun 1943, John Harold Johnson mendirikan majalah The Negro Digest (yang kemudian berganti nama menjadi Black World). Demi memperluas jumlah pembaca, dia memiliki sebuah gagasan berani: mengajak orang kulit putih melakukan “pertukaran peran” dengan menulis artikel bertema “Seandainya aku adalah seorang kulit hitam.”

Dengan penuh ketulusan, Johnson menulis surat kepada Ibu Negara Amerika Serikat, Eleanor Roosevelt, memohon agar beliau bersedia menulis artikel tersebut sebagai bentuk dukungan. Namun, balasan yang diterimanya adalah bahwa sang Ibu Negara sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menulis.

Johnson tidak berkecil hati. Dalam benaknya, dia berpikir: “Beliau hanya mengatakan tidak punya waktu, bukan mengatakan tidak mau menulis.”

Sebulan kemudian, dia kembali mengirim surat. Jawabannya tetap sama—masih terlalu sibuk.

Namun Johnson tidak menyerah. Setiap satu bulan sekali, dia terus mengirim surat. Dan setiap kali pula, jawaban yang dia terima tak berubah: bahkan satu menit waktu luang pun tidak ada.

Meski begitu, Johnson tetap berpegang pada keyakinannya: “Selama beliau tidak mengatakan ‘tidak mau’, berarti masih ada secercah harapan. Jika aku terus menulis, suatu hari pasti beliau akan punya waktu.”

Akhirnya, kegigihan Johnson membuahkan hasil. Eleanor Roosevelt benar-benar tersentuh oleh ketekunannya. Dia tidak hanya menulis artikel tersebut, tetapi datang langsung ke kantor redaksi dan dengan serius menuliskan artikel itu untuk The Negro Digest.

Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam waktu satu bulan, oplah majalah tersebut melonjak drastis—dari 50.000 eksemplar menjadi 150.000 eksemplar.

Ketekunan adalah sebuah kekuatan.(yn)

Menjelang Natal, Santa Claus di Berbagai Negara Menyebarkan Kegembiraan dan Cinta Kasih

EtIndonesia. Menjelang perayaan Natal, suasana meriah terasa di berbagai belahan dunia. Pada 21 Desember di Italia, para Santa Claus tidak lagi menaiki kereta luncur tradisional, melainkan bersepeda, mengendarai sepeda motor, bahkan menaiki perahu gondola untuk menyebarkan kegembiraan Natal sekaligus menggalang dana bagi lembaga amal.

Dalam acara “Santa Claus Bersepeda” yang digelar di pusat kota Roma, ratusan pengendara berpakaian Santa Claus berangkat dari Koloseum Roma, melewati berbagai ikon kota, dan tiba di kawasan terkenal Trastevere.

 “Acara bersepeda ini telah memasuki tahun ke-14 dan bertujuan menggalang dana bagi Rumah Peter Pan, sebuah lembaga yang menampung keluarga anak-anak penderita kanker dan penyakit darah,” ujar penyelenggara acara Santa Claus Bersepeda, Riccardo Locce,.

Seorang peserta asal Houston, Texas, Amerika Serikat, Gabriel Tadei, menuturkan:  “Bagi saya, kegiatan bersepeda ini sangat bermakna, karena itu saya memutuskan untuk ikut setiap tahun. Setiap menjelang Natal, saya berangkat dari Houston, transit di beberapa tempat, dan menempuh perjalanan sekitar 18 jam untuk sampai ke sini.”

Masih di Roma, dalam parade pengendara Santa Claus lainnya, para peserta menggalang dana untuk mendukung asosiasi So.Spe., yang membantu ibu tunggal, remaja, serta orang-orang yang terdampak kekerasan dan kemiskinan agar dapat kembali berintegrasi ke dalam masyarakat.

Di Venesia, perayaan Natal berlangsung di atas air. Lomba Dayung Santa Claus ke-13 digelar di sepanjang Terusan Besar (Grand Canal). Sebanyak 32 perahu kecil berangkat dari Gereja San Zaccaria dan finis di Universitas Venesia. Berbagai kategori serta penghargaan untuk perahu dengan dekorasi terbaik turut diperebutkan.

Di ibu kota Spanyol, Madrid, ribuan orang mengikuti lomba lari maraton tahunan untuk menggalang dana bagi Palang Merah.

Salah satu peserta lari, Susanna Gómez, mengatakan:  “Menyelesaikan lomba dengan kostum Santa Claus adalah cara perayaan yang luar biasa. Prosesnya menyenangkan, dan ditutup dengan antusiasme tinggi. Benar-benar fantastis.”

Di Amerika Selatan, tepatnya Brasil, organisasi nirlaba “Sahabat Santa Claus” mengikuti tradisi tahunan dengan mengunjungi komunitas Careiro da Várzea di negara bagian Amazonas, membagikan hadiah Natal kepada anak-anak.

Ibu dari seorang bayi perempuan berusia satu tahun, Samara da Silva, berkata:  “Ini sungguh luar biasa, karena Santa Claus sudah beberapa tahun tidak datang. Sebelumnya, yang menerima hadiah adalah saya, dan hari ini giliran putri saya yang mendapatkannya.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua dan Zhang Xiaoyu.

Menari untuk Mengubah Hidup

EtIndonesia. Pada musim panas tahun 1892, Henry Hersenbi lahir di sebuah keluarga kelas menengah di St. Louis, Amerika Serikat. Dia adalah salah satu dari enam bersaudara. Seperti kebanyakan keluarga kelas menengah pada masa itu, meski hidup mereka cukup layak, pendidikan tinggi masih merupakan sesuatu yang mewah. Karena itu, Henry hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah menengah pertama sebelum mulai bekerja.

Namun, Henry tidak pernah berhenti belajar. Dia memanfaatkan seluruh waktu luangnya untuk mengamati dan membaca. Saat masih belasan tahun, dia sudah tertarik pada dunia perbankan. Seusai jam kerja, ketika rekan-rekannya pulang, Henry justru membuka buku-buku pembukuan, sering kali belajar hingga pukul dua atau tiga dini hari sebelum kembali ke rumah.

Tak lama kemudian, dia menyadari satu kenyataan pahit: peluang untuk maju sangat kecil. Saat itu, St. Louis adalah kota tua yang konservatif. Kebanyakan anak muda meninggalkan sekolah di usia 15 tahun, lalu bekerja keras selama puluhan tahun, hingga pensiun pun tetap melakukan pekerjaan yang sama. Kalaupun seseorang sangat rajin dan beruntung, paling cepat pada usia 35 tahun dia hanya bisa menjadi pegawai biasa. Untuk masuk ke jajaran manajemen, umumnya harus menunggu hingga usia lebih dari 40 tahun.

Henry merasa sistem ini tidak adil. Dia teringat bahwa Thomas Jefferson menyusun Declaration of Independence ketika baru berusia 33 tahun, dan dua belas penandatangan lainnya pun belum ada yang berusia 35 tahun. Karena itu, pada usia 18 tahun, Henry memutuskan untuk bertindak. Dia ingin menciptakan peluang bagi anak muda sepertinya—yang tidak mengenyam pendidikan tinggi dan tidak memiliki latar belakang kuat—serta mematahkan pola karier lama yang membelenggu.

Setelah persiapan matang, Henry mendirikan sebuah organisasi bernama Klub Tari Herculaneum.

Sekilas, menari tampak sama sekali tidak berkaitan dengan cita-cita besar Henry. Namun justru di situlah kecerdasannya. Jika anak muda ingin mengubah nasib, mereka harus bersatu terlebih dahulu. Klub tari adalah cara yang paling mudah diterima, menyenangkan, dan menjangkau semua kalangan.

Hasilnya luar biasa. Dalam waktu kurang dari dua tahun, Klub Herculaneum menjadi klub paling bergengsi di daerah tersebut. Banyak anak muda merasa bangga jika bisa menjadi anggotanya.

Pada tahun 1914, Klub Herculaneum bergabung dengan enam organisasi sosial lainnya dan berganti nama menjadi Federasi Tari, dengan Henry tetap menjabat sebagai ketua. Saat itulah kesempatan yang selama ini dia tunggu akhirnya datang.

Dengan langkah yang terencana dan tenang, Henry mulai menjalankan visinya. Setahun kemudian, Federasi Tari kembali berganti nama menjadi Aliansi Warga Muda Progresif—menari atau tidak menari sudah tidak lagi menjadi hal utama. Enam bulan kemudian, jumlah anggotanya di St. Louis melonjak drastis hingga mencapai 750 orang.

Pelajarannya sederhana namun mendalam:  Ketika tujuan hidup belum sepenuhnya jelas, yang terpenting adalah berani melangkah dan mulai melakukan sesuatu. Karena sering kali, arah besar justru baru terlihat setelah kita bergerak.(jhn/yn)

Wilayah Belakang Rusia Jebol: Drone Membakar Pelabuhan, Pasukan Khusus Menyusup Hingga Dekat Moskow

EtIndonesia. Ketika Rusia mengira musim dingin hanya akan menjadi ujian suhu ekstrem, wilayah belakangnya justru menghadapi tekanan militer yang kian intens. Dalam dua hari berturut-turut, fasilitas strategis Rusia—mulai dari pelabuhan energi di Laut Hitam hingga pangkalan udara di pedalaman—menjadi sasaran serangan presisi yang menunjukkan eskalasi baru dalam konflik Rusia–Ukraina.

Pelabuhan Laut Hitam Dibakar Drone

Pada 21 dan 22 Desember, fasilitas pelabuhan di Desa Volna, Distrik Temryuk, Wilayah Krasnodar—yang terletak di pesisir Laut Hitam—mengalami serangan drone beruntun. Serangan pertama menghantam pipa penyalur minyak, memicu kebakaran hebat. Tak lama berselang, dermaga pelabuhan serta kapal-kapal yang tengah bersandar ikut terdampak.

Pihak berwenang Rusia menyatakan tidak ada korban jiwa; seluruh awak kapal dan pekerja darat berhasil dievakuasi. Namun dampak materialnya signifikan. Luas area terbakar yang semula diperkirakan sekitar 100 meter persegi, melebar drastis hingga sekitar 1.500 meter persegi. Bagi para analis energi, eskalasi ini bukan gangguan kecil, melainkan sinyal ancaman serius terhadap transportasi energi dan aktivitas pelayaran Laut Hitam.

Tingkat presisi serangan mengindikasikan intelijen yang sangat rinci: penyerang memahami tata letak pelabuhan, posisi sandar kapal, serta rute dan sudut serangan drone. Meski Rusia belum mengungkap jenis drone yang digunakan, banyak pengamat menilai Ukraina berada di balik operasi ini, sejalan dengan pola serangan jarak jauh Kyiv terhadap fasilitas energi dan militer Rusia dalam beberapa bulan terakhir.

Celah Pertahanan Udara Rusia

Serangan ini kembali menyoroti kelemahan sistem pertahanan udara Rusia, khususnya terhadap target kecil, lambat, dan terbang rendah. Walau tidak menelan korban, kerusakan pada pelabuhan dan pipa minyak berpotensi mengganggu rantai pasok energi dan logistik maritim Rusia dalam jangka menengah.

Penyusupan Dramatis di Pangkalan Udara Lipetsk

Tekanan tidak berhenti di laut. Pada malam 21 Desember, Pangkalan Udara Lipetsk—sekitar 500 kilometer dari Moskow—menjadi sasaran operasi khusus pasukan intelijen Ukraina. Menurut laporan yang beredar, tim khusus menyusup diam-diam ke dalam hanggar dan membakar dua pesawat tempur:

  • Su-30 bernomor lambung 82
  • Su-27 bernomor lambung 12

Operasi ini digambarkan berlangsung cepat dan senyap—dari penyusupan, pembakaran, penarikan diri, hingga ledakan bola api—bahkan anjing penjaga tidak menyadari kehadiran penyusup. Persiapan operasi disebut memakan waktu hampir dua minggu, mencakup studi rute patroli dan jadwal pergantian penjaga. Kerugian awal diperkirakan melampaui 100 juta dolar AS.

Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di Krimea, dengan jet MiG-31 dan Su-27 kembali menjadi target. Tekanan terhadap Angkatan Udara Rusia pun meningkat tajam.

Pergeseran Pola Perang

Para analis menilai rangkaian kejadian ini mencerminkan tiga tren utama:

  1. Serangan asimetris berbiaya rendah — Ukraina mengandalkan drone dan pasukan khusus untuk menguras sumber daya Rusia secara efektif.
  2. Kerentanan wilayah belakang — Pertahanan konvensional Rusia kesulitan menghadapi serangan malam hari berprofil rendah.
  3. Tekanan multidimensi — Fokus serangan bergeser dari garis depan darat ke energi, pelabuhan, dan pusat angkatan udara, guna melemahkan kemampuan tempur sekaligus meningkatkan posisi tawar diplomatik.

Secara makro, serangan terhadap pelabuhan Laut Hitam dan pangkalan udara menempatkan logistik energi dan militer Rusia di bawah tekanan berkelanjutan. Rusia dipaksa menyebar sumber daya pertahanan, kondisi yang menguntungkan Ukraina dalam perang kelelahan.

Tekanan Logistik dan Laut

Tekanan terhadap jalur laut Rusia kian terasa setelah Penjaga Pantai Swedia dilaporkan menyita sebuah kapal kargo Rusia yang diduga mengangkut perlengkapan militer. Insiden ini memperparah tantangan logistik maritim Rusia, terutama jika dikombinasikan dengan serangan presisi Ukraina di pelabuhan dan pangkalan udara.

Diplomasi: Upaya Jalan Tengah Barat

Di ranah diplomatik, 11 negara Eropa bersama Uni Eropa baru-baru ini mengeluarkan pernyataan bersama yang mendukung kompromi terbatas wilayah bagi Ukraina, dengan syarat jaminan keamanan kuat. Skema yang dibahas mencakup pasukan reaksi cepat multinasional Eropa—dijuluki kalangan luar sebagai “legiun Eropa”—sebagai penyeimbang keamanan.

Pendekatan ini dinilai memberi “jalur pendaratan lunak”: Eropa tidak lagi menekan Ukraina merebut seluruh wilayah, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak menjadikan keanggotaan NATO sebagai prasyarat mutlak, melainkan menuntut jaminan keamanan kolektif setara Pasal 5 NATO. Amerika Serikat pada dasarnya merestui integrasi pertahanan Eropa yang lebih dalam.

Namun, semua ini masih uji coba internal Barat. Realisasi gencatan senjata tetap bergantung pada sikap Vladimir Putin, terutama terkait posisi strategis Ukraina di Eropa Timur dan status Donbas.

Medan Tempur Tetap Panas

Di lapangan, ketegangan berlanjut. Rusia meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi dan target militer Ukraina sebagai bagian dari ofensif musim dingin. Di sisi lain, Ukraina mencatat keberhasilan taktis, termasuk penghancuran 24 kendaraan lapis baja Rusia di Dobropillia dalam pertempuran sekitar 100 menit, berkat koordinasi drone, artileri, dan senjata ringan.

Ukraina juga memperkenalkan drone pencegat murah (sekitar 1.000 dolar AS) yang efektif menjatuhkan drone Rusia berbiaya tinggi, menandai revolusi pertahanan udara berbiaya rendah.

Bayang-Bayang Eskalasi Regional

Kepala Intelijen Militer Ukraina (GUR), Kyrylo Budanov, memperingatkan bahwa Rusia diduga memajukan rencana ekspansi yang semula ditargetkan 2030 menjadi 2027, dengan potensi ancaman terhadap Estonia, Latvia, dan Lithuania. Ia menyebutnya bukan sekadar retorika, melainkan rencana pendudukan nyata. Kekhawatiran ini diperkuat oleh insiden pelanggaran wilayah udara Estonia oleh tiga jet MiG-31 Rusia selama 12 menit pada September lalu.

Menanggapi situasi tersebut, NATO membangun tiga lapis pencegah: kekuatan militer Ukraina, dukungan koalisi Eropa, dan sokongan strategis Amerika Serikat. Dari Kaliningrad, Putin mengeluarkan peringatan keras kepada Polandia dan Lithuania, meningkatkan ketegangan kawasan.

Bantuan dan Reaksi Global

Di tengah eskalasi, Uni Eropa kembali mengucurkan €2,3 miliar bantuan. Lithuania memindahkan fasilitas pembangkit listriknya, Australia mengirim 49 tank M1A1 Abrams, dan Prancis mengumumkan pembangunan kapal induk nuklir terbesar di Eropa—seluruhnya menegaskan bahwa konflik telah menjadi pertarungan multidimensi: militer, ekonomi, energi, dan geopolitik.

Kesimpulan

Serangan presisi terhadap pelabuhan Laut Hitam dan pangkalan udara Rusia menandai babak baru perang wilayah belakang. Bagi Ukraina, ini bukan sekadar operasi militer, melainkan strategi pemindahan biaya perang ke pihak lawan. Bagi Rusia, tekanan simultan di laut, udara, dan darat menuntut penyesuaian besar strategi logistik dan pertahanan. Di atas semuanya, krisis Ukraina kini menyerupai permainan catur tingkat tinggi—di mana setiap langkah berpotensi mengubah peta keamanan Eropa dalam beberapa tahun ke depan.

Operasi Bayangan Ukraina: Hanggar Rusia Dibakar, Jenderal Tewas, Putin Kehilangan Kendali

EtIndonesia. Pada dini hari 21 Desember 2025, Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina melancarkan operasi sabotase rahasia terhadap Pangkalan Udara Lipetsk, salah satu fasilitas penting Angkatan Udara Rusia.

Rekaman yang dirilis kemudian memperlihatkan pasukan khusus Ukraina berhasil menyusup ke area bandara, melewati sistem keamanan, dan masuk ke dalam hanggar pesawat tanpa terdeteksi. Dalam video tersebut, tampak dua jet tempur Rusia dengan nomor lambung 12 dan 82, masing-masing merupakan Su-27 dan Su-30.

Pasukan Ukraina dilaporkan masuk hingga ke kokpit, lalu membakar badan pesawat dari dalam. Api membesar dengan cepat, disertai bola api terang dan ledakan-ledakan kecil, menandakan kerusakan total. Dari kondisi fisik pesawat, kedua jet tempur tersebut dipastikan tidak lagi dapat diperbaiki atau dioperasikan.

Setelah misi selesai, pasukan khusus Ukraina mundur secara senyap, tanpa korban maupun jejak yang tertinggal.

Menurut sumber intelijen Ukraina, persiapan operasi ini memakan waktu sekitar dua minggu, termasuk pengamatan rute patroli, jadwal penjagaan, dan celah dalam sistem pengawasan pangkalan. Kerugian Rusia diperkirakan mencapai sekitar 100 juta dolar AS.

Serangan Drone Beruntun ke Pangkalan Udara Rusia

Operasi di Lipetsk bukan insiden tunggal. Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina mengintensifkan serangan udara berbasis drone ke berbagai pangkalan militer Rusia.

  • 20 Desember 2025
    Dinas Keamanan Nasional Ukraina melancarkan serangan drone Alpha ke Pangkalan Udara Belbek, Semenanjung Krimea. Serangan ini menghancurkan dua jet tempur Su-27 Rusia.
  • 12 Desember 2025
    Drone Ukraina kembali menyasar Krimea, kali ini menghantam pesawat angkut militer An-26 serta sistem radar bandara. Serangan malam hari tersebut terekam jelas, memperlihatkan satu unit An-26 hancur total.

Pesawat An-26 merupakan tulang punggung transportasi militer era Soviet dan Rusia. Diproduksi sejak 1960-an dengan total lebih dari 1.400 unit, pesawat turboprop bermesin ganda ini mampu mengangkut hingga 40 personel militer.

Rentetan Kecelakaan Fatal Angkatan Udara Rusia

Di luar serangan Ukraina, masalah internal Angkatan Udara Rusia juga semakin mencolok.

Pada 9 Desember 2025, sebuah pesawat angkut berat An-22 milik Kementerian Pertahanan Rusia jatuh saat uji terbang pascaperawatan di Oblast Ivanovo. Seluruh tujuh awak tewas, setelah pesawat hancur di udara dan puing-puingnya tersebar di daratan serta perairan sekitar.

An-22, yang dikembangkan oleh Antonov pada 1960-an dan melakukan penerbangan perdana pada 1965, mampu mengangkut hingga 80 ton kargo. Karena usia dan masalah perawatan, model ini resmi dipensiunkan pada 2024, dan pesawat yang jatuh tersebut merupakan unit An-22 terakhir Rusia yang masih aktif.

Ledakan Mobil Jenderal Rusia: Pola Pembunuhan Terarah

Masih pada malam 21 Desember 2025, media Rusia melaporkan ledakan kendaraan dinas milik Salvarov, Kepala Biro Pelatihan Tempur Angkatan Bersenjata Rusia. Ledakan terjadi pada pagi hari setelah bom rakitan yang dipasang di bawah Kia Sorento miliknya meledak sesaat setelah mesin dinyalakan. Salvarov tewas di tempat.

Salvarov dikenal luas sebagai perwira senior yang terlibat dalam Perang Chechnya serta memimpin operasi Rusia di Suriah (2005–2016).

Dalam satu tahun terakhir, Ukraina disebut beberapa kali melakukan operasi pembunuhan terencana terhadap jenderal Rusia di Moskow:

  • Desember 2024: Letnan Jenderal Kirillov, Komandan Pasukan Pertahanan Nuklir, Biologi, dan Kimia Rusia, tewas akibat bom di skuter listrik.
  • April 2025: Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik, Wakil Kepala Departemen Operasi Staf Umum Rusia, tewas akibat bom mobil.

Presiden Vladimir Putin kala itu menyebut insiden-insiden tersebut sebagai kegagalan serius aparat keamanan Rusia.

Garis Depan Memanas: Red Army Village Tak Jatuh

Perhatian publik kini tertuju ke Red Army Village (Krasnohorivka) di Donbas.
Hingga 22 Desember 2025, Rusia masih menguasai wilayah selatan rel kereta api, namun bagian utara kota tetap dipertahankan Ukraina.

Dalam wawancara 22 Desember, Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa situasi medan perang relatif tidak berubah dibanding sebulan sebelumnya. Rusia menempatkan sekitar 1.100 personel di dalam kota, tetapi tidak mencatat kemajuan berarti.

Rekaman lapangan menunjukkan pertempuran artileri intens, dengan Ukraina terus melakukan tembakan balasan.

Pada hari yang sama:

  • Brigade ke-46 Ukraina merilis video drone ber-pengeras suara yang menjatuhkan 6 drone Rusia hanya dengan satu unit.
  • Batalion Azov memperlihatkan keberhasilan menggagalkan serangan mekanis Rusia ke arah Dobropillia.

Ukraina melaporkan kehancuran:

  • 6 tank Rusia
  • 10 kendaraan tempur infanteri
  • 5 APC
  • 1 kendaraan lapis baja perbaikan

Menariknya, Rusia juga mengerahkan kendaraan ATV, namun 10 dari 11 unit berhasil dihancurkan.

Kesimpulan: Donbas Masih Jauh dari Genggaman Moskow

Lebih dari dua tahun pertempuran, Rusia belum mampu merebut Red Army Village sepenuhnya. Meski Putin terus menolak gencatan senjata dan yakin Donbas bisa direbut seiring waktu, realitas di lapangan menunjukkan stagnasi.

Dengan sistem pertahanan Ukraina yang masih utuh serta kota-kota strategis seperti Slavyansk dan Yansk di belakangnya, ambisi Rusia untuk menguasai Donbas sepenuhnya kian tampak sebagai tujuan yang sulit diwujudkan secara militer.

Jangan Mengira Diri Sendiri Bisa Melakukan Segalanya

EtIndonesia. Ada seorang anak kecil yang diminta ayahnya untuk belajar bahasa Latin.Sebulan berlalu, anak itu merasa pelajaran tersebut sangat membosankan. Kepalanya terasa pusing dan dia sama sekali tidak menikmati proses belajar.

 Akhirnya, dia tak tahan lagi dan berkata kepada ayahnya: “Aku benar-benar tidak suka bahasa Latin. Bolehkah aku mengganti dengan melakukan hal lain?”

“Boleh saja,” jawab sang ayah dengan ringan. “Kebetulan ladang kita sedang membutuhkan saluran irigasi. Pergilah ke sana dan bantulah menggali parit air.”

Maka anak itu pun benar-benar pergi ke ladang ayahnya untuk menggali parit. Namun, tangan yang terbiasa memegang pena jelas tidak terbiasa memegang cangkul. Pada malam pertama, seluruh tubuhnya terasa pegal dan nyeri, kelelahan luar biasa. Dia sangat menyesal, tetapi harga diri membuatnya enggan menyerah begitu saja. Dia pun menguatkan diri dan bertahan satu hari lagi.

Menjelang sore hari kedua, anak itu sudah begitu lelah hingga tubuhnya membungkuk.

Akhirnya, dia harus mengakui dengan jujur :  “Kelelahan telah menelan habis seluruh kesombonganku.”

Keesokan paginya, di hari ketiga, anak itu kembali ke ruang kelas. Namun kali ini dengan sikap yang sama sekali berbeda. Dia belajar dengan jauh lebih serius, tekun, dan penuh kesungguhan.

Kelak, anak itu tumbuh dewasa dan dipercaya menjabat sebagai wakil presiden pertama Amerika Serikat. Setelah itu, dia menggantikan George Washington sebagai presiden kedua Amerika Serikat. Dia adalah John Adams.

Kita harus mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan; ada hal yang bisa dilakukan, dan ada pula yang tidak mampu dilakukan. Jika seseorang selalu merasa dirinya bisa melakukan segalanya, sebenarnya itu adalah bentuk ketidaktahuan akan kemampuan diri sendiri. Akibatnya, justru tidak ada satu pun yang dapat dikerjakan dengan baik.

Saat ini, para pelajar masih berada dalam tahap belajar dan mengenali diri. Apa yang kelak menjadi keahlian utama belum tentu sudah jelas. Karena itu, mencoba berbagai hal memang bukan sesuatu yang salah. Namun, mencoba pun harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan diri, bukan semata-mata berdasarkan suka atau tidak suka. Jika tidak, besar kemungkinan waktu dan tenaga akan terbuang sia-sia.(jhn/yn)