Lebih dari Separuh Remaja Bermain Ponsel Sebelum Tidur, Pakar Peringatkan Dampaknya

EtIndonesia. American Academy of Pediatrics dan banyak pakar menyarankan agar remaja tidur selama 8 hingga 10 jam setiap malam. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa lebih dari separuh remaja menghabiskan setidaknya satu jam bermain ponsel sebelum tidur.

Para ahli menyarankan agar orangtua memberi contoh terlebih dahulu dengan menetapkan waktu dan aturan penggunaan perangkat elektronik bersama anak-anak, guna mencegah dampak buruk terhadap kesehatan bahkan risiko kecanduan.

Setelah menganalisis data, para peneliti menemukan bahwa lebih dari setengah remaja di Amerika Serikat menghabiskan sedikitnya satu jam bermain ponsel pada malam hari. Kebiasaan buruk ini bukan hanya mengganggu tidur mereka, tetapi juga berdampak pada kesehatan.

Walaupun penelitian ini tidak secara langsung membuktikan bahwa bermain ponsel sebelum tidur pasti membahayakan remaja, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gangguan tidur dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, pengendalian emosi, dan kesehatan mental.

Para ahli mengatakan bahwa untuk membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang lebih sehat, orang tua sebaiknya memulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

American Academy of Pediatrics menyarankan agar orang tua membuat “rencana penggunaan perangkat elektronik keluarga”, misalnya dengan menetapkan tempat dan waktu tertentu di mana penggunaan ponsel atau tablet tidak diperbolehkan.

Para ahli juga menyarankan agar ponsel, tablet, dan perangkat elektronik lainnya sebisa mungkin tidak dibawa ke kamar tidur. Selain itu, keluarga dianjurkan lebih sering mengadakan aktivitas luar ruangan.

Selain itu, keluarga juga bisa mempertimbangkan menyiapkan “kotak penyimpanan perangkat elektronik keluarga”, sehingga semua anggota keluarga dapat meletakkan ponsel mereka di sana untuk sementara waktu dan menikmati kebersamaan keluarga tanpa gangguan perangkat elektronik.

Sumber : NTDTV.com

Baru 11 Hari Menjabat, Pemimpin Baru Hamas Dilaporkan Tewas

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat tegang pada Selasa, 27 Mei 2026. Media Israel melaporkan bahwa militer Israel diduga berhasil menewaskan pemimpin baru Hamas, Mohammed Odeh, dalam sebuah serangan udara presisi yang dilakukan di Jalur Gaza.

Laporan tersebut langsung memicu perhatian internasional karena operasi itu terjadi hanya sekitar 11 hari setelah pemimpin militer Hamas sebelumnya juga dilaporkan tewas dalam operasi militer Israel. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa Israel kini terus meningkatkan strategi “targeted killing” atau pembunuhan terarah untuk memutus rantai komando Hamas di Gaza.

Menurut laporan awal media berbahasa Ibrani pada 27 Mei, evaluasi intelijen Israel menunjukkan bahwa Mohammed Odeh kemungkinan besar tewas setelah jet tempur Israel menggempur sebuah lokasi di Kota Gaza yang diyakini menjadi pusat aktivitas kelompok Hamas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama Menteri Pertahanan Israel sebelumnya telah mengumumkan bahwa operasi militer besar sedang berlangsung di Gaza sebagai bagian dari upaya menghancurkan struktur kepemimpinan Hamas.

Israel Intensifkan Operasi Pembunuhan Terarah

Sejak konflik kembali meningkat pada awal tahun 2026, Israel secara konsisten menjalankan operasi militer yang berfokus pada pemburuan para petinggi Hamas. Strategi tersebut bertujuan melemahkan koordinasi internal kelompok itu sekaligus mengurangi kemampuan Hamas dalam melancarkan serangan terhadap wilayah Israel.

Mohammed Oudeh diketahui merupakan salah satu tokoh penting dalam struktur Hamas. Sejumlah foto dan dokumentasi sebelumnya menunjukkan dirinya sering muncul bersama para pemimpin senior Hamas lainnya dalam berbagai pertemuan internal dan kegiatan militer organisasi tersebut.

Karena itu, jika kematiannya benar-benar terkonfirmasi secara resmi, banyak analis menilai hal tersebut akan memberikan pukulan besar terhadap stabilitas kepemimpinan Hamas di Jalur Gaza.

Serangan terbaru ini juga memperlihatkan bahwa Israel kini semakin mengandalkan operasi intelijen presisi tinggi untuk menghindari perang darat berskala besar yang berpotensi memicu tekanan internasional lebih luas.

Alarm Drone Sempat Berbunyi di Perbatasan Utara Israel

Di tengah operasi di Gaza, ketegangan juga sempat meningkat di wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.

Pada Selasa, 27 Mei 2026, alarm peringatan keamanan berbunyi di komunitas Baram setelah militer Israel mendeteksi adanya target udara mencurigakan yang diduga drone.

Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara telah melakukan pemeriksaan terhadap objek tersebut. Namun setelah investigasi lanjutan, alarm akhirnya dicabut dan tidak ditemukan adanya korban jiwa maupun kerusakan.

Meski demikian, insiden itu kembali memperlihatkan tingginya kewaspadaan Israel terhadap ancaman drone dari kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, termasuk yang didukung Iran.

Netanyahu dan Trump Bahas Ancaman Iran

Perkembangan penting lainnya terjadi setelah rapat kabinet keamanan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, guna membahas situasi keamanan regional, khususnya terkait Iran dan kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.

Pemerintah Israel disebut sangat khawatir terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai tidak benar-benar menghapus ancaman nuklir Teheran maupun jaringan militernya di kawasan.

Bagi Israel, ancaman terbesar bukan hanya program nuklir Iran, tetapi juga pengaruh Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.

Karena itu, Israel terus menjalankan operasi ofensif di Gaza dan Lebanon sebagai upaya memperkuat posisi tawarnya di tengah proses diplomasi regional yang sedang berlangsung.

Sejumlah analis keamanan menilai Israel berusaha mengirim pesan bahwa mereka tetap siap bertindak secara militer, bahkan ketika jalur negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan.

Iran Kembali Keluarkan Ancaman terhadap Israel

Ketegangan semakin meningkat setelah Mojtaba Khamenei — putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang disebut-sebut sebagai calon penerus kepemimpinan Iran — kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Israel pada 27 Mei 2026.

Dalam pernyataannya, Mojtaba menyebut bahwa Israel “akan segera runtuh”, sebuah komentar yang langsung memicu respons keras dari pejabat Israel.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menanggapi dengan nada sindiran. Ia mengatakan bahwa gaya bahasa Mojtaba sangat mirip dengan ayahnya dan secara terbuka mempertanyakan keberadaan Mojtaba saat ini.

Pernyataan saling serang tersebut kembali memperlihatkan bahwa hubungan Iran dan Israel kini berada pada titik yang sangat sensitif, terutama ketika negosiasi nuklir AS-Iran masih berlangsung di belakang layar.

Timur Tengah Masuk Fase “Berperang Sambil Bernegosiasi”

Secara keseluruhan, situasi Timur Tengah saat ini menunjukkan pola yang semakin rumit: konflik militer terus berlangsung, tetapi jalur diplomasi juga tetap berjalan secara paralel.

Israel menegaskan bahwa prinsip utama mereka tetap “keamanan di atas segalanya”. Karena itu, operasi militer di Gaza dan Lebanon diperkirakan akan terus berlanjut selama Israel masih menilai adanya ancaman langsung dari Hamas maupun kelompok pro-Iran lainnya.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap berusaha mendorong negosiasi nuklir dengan Iran demi mencegah konflik besar yang berpotensi menyeret kawasan ke perang regional berskala luas.

Perhatian dunia kini tertuju pada hasil rapat kabinet Presiden Donald Trump di Washington dan apakah perundingan AS-Iran dalam beberapa hari mendatang mampu menghasilkan terobosan diplomatik yang nyata, atau justru memicu eskalasi baru yang lebih berbahaya di Timur Tengah. (****) 

10.000 Drone per Hari Menggila di Ukraina, Dunia Ketakutan Masuk Era Perang Tanpa Manusia

EtIndonesia. Perang antara Rusia dan Ukraina kini memasuki fase yang benar-benar berbeda. Konflik yang sebelumnya didominasi oleh tank, artileri berat, dan serangan rudal besar-besaran perlahan berubah menjadi perang teknologi drone berskala masif yang mulai mengguncang keseimbangan militer modern.

Pada Selasa, 26 Mei 2026, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio secara terbuka mengakui bahwa setiap kali ia menyaksikan gelombang serangan udara dan aksi balasan yang terus meningkat di Ukraina, dunia kembali diingatkan bahwa perang ini merupakan salah satu konflik paling mengerikan di era modern.

Rubio bahkan menyinggung bahwa durasi perang Rusia-Ukraina kini telah melampaui lamanya Perang Dunia Kedua. Ia menegaskan bahwa perang tersebut harus segera diakhiri, namun situasi di lapangan menunjukkan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Menurut Rubio, kedua pihak masih terlibat dalam konfrontasi brutal tanpa tanda-tanda akan mundur. Di satu sisi, Rusia terus meningkatkan bombardemen terhadap kota-kota besar Ukraina. Namun di sisi lain, Ukraina kini mulai menjalankan strategi baru yang dinilai jauh lebih berbahaya bagi stabilitas militer Rusia.

Ukraina Ubah Strategi: Serang “Urat Nadi” Rusia

Dalam beberapa minggu terakhir, ketika militer Rusia terus menggempur Kyiv dengan rudal dan drone, Ukraina secara mendadak meningkatkan serangan jarak menengah terhadap sistem logistik Rusia di wilayah selatan.

Ribuan drone Ukraina mulai diarahkan jauh ke belakang garis pertahanan Rusia. Targetnya bukan lagi hanya posisi tempur di garis depan, melainkan jalur distribusi bahan bakar, kendaraan logistik, kereta suplai militer, hingga transportasi pengangkut amunisi.

Berdasarkan analisis dari Institute for the Study of War serta berbagai rekaman geolokasi medan perang yang beredar sepanjang Mei 2026, Ukraina kini memusatkan operasi pada dua jalur logistik paling penting milik Rusia, yaitu jalan raya M14 dan M18.

Dua jalur tersebut memiliki arti strategis yang sangat besar bagi Moskow.

Jalur itu menghubungkan kota Rostov-on-Don menuju wilayah-wilayah pendudukan Rusia seperti Mariupol dan Berdiansk, lalu berakhir di Krimea.

Para analis militer menyebut jaringan ini sebagai “urat nadi utama” pertahanan Rusia di wilayah selatan.

Kini, drone-drone Ukraina mulai melakukan serangan hampir tanpa henti terhadap truk bahan bakar, kendaraan logistik, serta konvoi militer Rusia yang melintasi jalur tersebut. Serangan dilakukan secara berulang, siang dan malam, dengan pola yang sangat sulit diprediksi.

Tekanan itu mulai memunculkan kepanikan di pihak Rusia sendiri.

Kebijakan Rusia Justru Jadi Bumerang

Pada 21 Mei 2026, gubernur wilayah Kherson bentukan Rusia, Vladimir Saldo, menandatangani perintah yang melarang truk sipil melintasi jalan raya M14.

Tujuannya sebenarnya untuk mengurangi risiko korban sipil dan mempermudah pengawasan lalu lintas di jalur strategis tersebut.

Namun kebijakan itu justru menimbulkan efek sebaliknya.

Ketika kendaraan sipil menghilang dari jalan raya, maka setiap kendaraan besar yang masih bergerak otomatis menjadi sasaran yang sangat mudah diidentifikasi sebagai target militer.

Beberapa blogger militer Rusia bahkan secara terbuka mengecam kebijakan tersebut. Mereka menilai langkah itu sama saja membantu Ukraina mengenali target dengan lebih cepat dan lebih akurat.

Tidak lama setelah kebijakan tersebut diberlakukan, dampaknya mulai terasa di berbagai wilayah pendudukan Rusia.

Krisis Bahan Bakar Mulai Muncul di Krimea

Efek paling nyata terlihat di Krimea.

TES, jaringan pom bensin terbesar di wilayah itu, mulai memberlakukan pembatasan pembelian bensin maksimal hanya 20 liter per orang.

Bensin beroktan tinggi mulai sulit ditemukan, sementara distribusi solar juga mulai dijatah secara ketat.

Situasi serupa kemudian terjadi di wilayah pendudukan Zaporizhzhia yang ikut mengumumkan pembatasan distribusi bahan bakar.

Dalam waktu kurang dari 72 jam, tiga zona perang Rusia sekaligus mengalami pembatasan lalu lintas dan krisis distribusi energi.

Perkembangan ini dianggap sebagai sinyal serius bahwa jaringan logistik militer Rusia di wilayah selatan mulai mengalami keretakan besar.

Bukan hanya jalur darat yang diserang.

Drone Ukraina juga terus memburu kereta logistik dan kereta tangki bahan bakar Rusia. Sedikitnya 10 rangkaian kereta dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan berat akibat serangan drone presisi.

Drone Kini Jadi Senjata Paling Mematikan

Perubahan terbesar dalam perang Rusia-Ukraina saat ini sebenarnya terletak pada dominasi drone.

Mantan Direktur CIA, Peter Reuss, baru-baru ini mengungkap data mengejutkan bahwa sekitar 90 persen korban dan kerusakan di pihak Rusia kini disebabkan oleh serangan drone.

Menurut berbagai laporan militer Barat, Ukraina saat ini menggunakan lebih dari 10.000 drone setiap hari di medan perang.

Produksi drone Ukraina juga meningkat sangat drastis.

Sepanjang tahun 2025, Ukraina diperkirakan memproduksi sekitar 3,5 juta unit drone. Sementara pada tahun 2026, kapasitas produksinya diprediksi dapat mendekati 7 juta unit.

Akibat perkembangan tersebut, wilayah sejauh sekitar 35 kilometer dari garis depan kini mulai dijuluki sebagai “zona kematian drone”.

Tank semakin sulit bertahan hidup.

Kendaraan lapis baja menjadi sasaran empuk.

Bahkan parit pertahanan tradisional yang selama puluhan tahun dianggap efektif kini tidak lagi aman.

Drone modern mampu masuk langsung ke dalam parit, mendeteksi panas tubuh manusia, lalu melancarkan serangan presisi terhadap target di dalamnya.

Dunia Mulai Takut pada “Kawanan Drone AI”

Peter Reuss juga memperingatkan bahwa dalam satu hingga dua tahun ke depan, dunia kemungkinan akan menghadapi era baru peperangan yang jauh lebih mengerikan: kemunculan “kawanan drone AI otonom”.

Teknologi ini memungkinkan drone bertindak sepenuhnya otomatis tanpa operator manusia.

Drone dapat mencari target sendiri, melakukan identifikasi mandiri, memilih sasaran, lalu menyerang tanpa perlu dikendalikan dari jarak jauh.

Para ahli keamanan menilai perkembangan tersebut dapat mengubah total konsep peperangan global.

Hingga saat ini, belum ada militer mana pun di dunia yang benar-benar memiliki sistem pertahanan efektif untuk menghadapi serangan drone massal berbasis kecerdasan buatan seperti itu.

NATO dan Eropa Mulai Panik

Ancaman ini kini mulai membuat negara-negara Eropa khawatir.

Mantan Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, melalui aliansi pertahanan drone yang dipimpinnya, baru-baru ini mengadakan demonstrasi besar sistem anti-drone di Denmark.

Berbagai perusahaan teknologi pertahanan Eropa kini bekerja sama mengembangkan generasi baru sistem anti-drone untuk melindungi bandara, pelabuhan, fasilitas energi, hingga pangkalan militer.

Kekhawatiran Eropa bukan tanpa alasan.

Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara seperti Polandia, Jerman, Denmark, Swedia, serta tiga negara Baltik berkali-kali melaporkan pelanggaran wilayah udara oleh drone misterius yang belum diketahui asal-usulnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina bukan lagi sekadar konflik regional biasa.

Teknologi perang yang lahir dari medan tempur Ukraina kini mulai mengguncang struktur keamanan seluruh Eropa dan berpotensi mengubah wajah peperangan dunia untuk selamanya. (***)

Drone Ukraina Hancurkan Front Rusia, Putin Luncurkan Serangan Balasan

EtIndonesia. Situasi geopolitik dunia pada Senin–Selasa, 25–26 Mei 2026, semakin memanas. Ketika perhatian internasional masih tertuju pada krisis Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz, Rusia justru mulai menunjukkan sinyal eskalasi besar baru di medan perang Ukraina.

Serangkaian langkah yang dilakukan Moskow dalam dua hari terakhir memicu kekhawatiran bahwa perang Rusia-Ukraina kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Mulai dari peringatan langsung kepada Amerika Serikat dan negara-negara Barat mengenai keselamatan staf diplomatik di Kyiv, serangan terhadap wilayah strategis Ukraina, hingga penandatanganan undang-undang baru oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, semuanya dianggap sebagai tanda bahwa Kremlin sedang menyiapkan langkah besar berikutnya.

Para analis keamanan internasional menilai perkembangan ini dapat memperluas konflik di Eropa Timur dan bahkan berpotensi terhubung dengan ketegangan global lain yang sedang berlangsung.

Lavrov Telepon Rubio, Rusia Minta Diplomat Barat Tinggalkan Ukraina

Pada Selasa, 26 Mei 2026, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dilaporkan melakukan percakapan telepon penting dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio.

Dalam pembicaraan tersebut, pihak Rusia memperingatkan agar Amerika Serikat serta negara-negara Barat mulai mempertimbangkan penarikan staf diplomatik mereka dari Ukraina, khususnya dari ibu kota Kyiv.

Peringatan itu langsung memicu spekulasi luas bahwa Moskow mungkin sedang mempersiapkan operasi militer berskala lebih besar dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Kremlin menilai situasi keamanan di Kyiv semakin tidak stabil, terutama setelah meningkatnya serangan drone Ukraina terhadap berbagai fasilitas militer Rusia di Crimea, wilayah selatan Rusia, dan area logistik strategis lainnya.

Tak lama setelah percakapan itu berlangsung, Rubio disebut turut menyampaikan peringatan bahwa perang Ukraina kini memiliki risiko berkembang menjadi konflik internasional yang lebih luas apabila eskalasi terus meningkat tanpa kendali.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Washington juga mulai melihat ancaman perluasan perang ke level yang lebih berbahaya, terutama jika konfrontasi langsung antara Rusia dan negara-negara NATO semakin meningkat.

Rusia Lancarkan Serangan ke Dnipro

Masih pada 26 Mei 2026, Rusia juga dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Dnipro, salah satu kota penting di Ukraina bagian tengah.

Salah satu lokasi yang terkena dampak disebut berada di dekat fasilitas gudang bantuan milik Program Pangan Dunia PBB atau World Food Programme (WFP).

Serangan ini kembali memicu kekhawatiran internasional mengenai risiko gangguan distribusi bantuan kemanusiaan di Ukraina, terutama bagi wilayah-wilayah yang selama ini sangat bergantung pada pasokan pangan dan bantuan internasional.

Sejumlah pengamat menilai serangan terhadap area yang berkaitan dengan jalur logistik bantuan internasional menunjukkan bahwa Rusia kini semakin agresif dalam menekan infrastruktur pendukung Ukraina.

Putin Teken UU Baru yang Memicu Alarm Dunia

Perkembangan paling mengejutkan justru datang sehari sebelumnya.

Pada Minggu, 25 Mei 2026, Presiden Rusia, Vladimir Putin, resmi menandatangani undang-undang baru yang langsung memicu alarm keamanan di berbagai negara.

Undang-undang tersebut memungkinkan Rusia mengirim pasukan militer ke luar negeri untuk “menjemput kembali” warga Rusia yang ditahan oleh lembaga internasional atau otoritas asing apabila Moskow tidak mengakui yurisdiksi lembaga tersebut.

Media-media internasional dan pengamat geopolitik segera menilai aturan baru itu sebagai bentuk legitimasi hukum baru bagi Kremlin untuk melakukan operasi militer lintas batas dengan alasan melindungi warga negara Rusia.

Banyak pihak melihat langkah ini sangat sensitif karena Rusia sebelumnya memang beberapa kali menggunakan alasan “perlindungan warga Rusia” sebagai dasar pembenaran operasi militer di luar negeri.

Kasus serupa pernah muncul sebelum aneksasi Crimea pada 2014, serta dalam berbagai operasi Rusia di wilayah bekas Uni Soviet.

Akibatnya, sejumlah negara yang memiliki populasi etnis Rusia atau berbatasan langsung dengan Rusia kini meningkatkan kewaspadaan keamanan mereka.

Negara-negara seperti Estonia, Latvia, Lithuania, Kazakhstan, Moldova, hingga Ukraina disebut mulai memantau secara serius implikasi dari undang-undang tersebut.

Analis keamanan Eropa menilai aturan itu dapat memperbesar risiko operasi khusus Rusia di luar negeri dan meningkatkan ketegangan keamanan di kawasan Eropa Timur maupun Asia Tengah.

Rusia Dinilai Sedang Menghadapi Tekanan Berat

Meski Moskow menunjukkan sikap yang semakin agresif, sejumlah analis militer Barat menilai Rusia sebenarnya sedang menghadapi tekanan besar di medan perang.

Dalam beberapa pekan terakhir, jalur logistik Rusia di Crimea dan front selatan terus dihantam serangan drone Ukraina.

Wilayah strategis seperti Crimea dan Zaporizhzhia disebut mengalami tekanan logistik yang serius, baik untuk kebutuhan militer maupun sipil.

Gangguan distribusi bahan bakar, amunisi, hingga jalur suplai kendaraan tempur mulai disebut semakin terasa di beberapa sektor garis depan.

Mantan Direktur CIA, Peter Ures, bahkan menyebut bahwa sekitar 90 persen korban pasukan Rusia saat ini berasal dari serangan drone.

Menurutnya, Ukraina kini menggunakan sekitar 10.000 drone setiap hari di berbagai medan tempur untuk menyerang posisi Rusia secara terus-menerus.

Ia menjelaskan bahwa di garis depan sepanjang sekitar 35 kilometer, tank dan kendaraan lapis baja Rusia kini hampir tidak dapat bertahan lama karena drone Ukraina mampu melakukan serangan presisi langsung ke parit pertahanan, bunker, hingga kendaraan logistik.

Perang drone modern disebut telah mengubah total pola peperangan konvensional di Ukraina.

Jika sebelumnya tank dan artileri berat menjadi simbol dominasi medan perang, kini drone murah dengan kemampuan serangan presisi justru menjadi senjata paling mematikan.

Bahkan sejumlah analis pro-Rusia mulai mengakui bahwa Rusia kini sedang menghadapi salah satu fase paling kritis sejak perang Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Dunia Khawatir Krisis Global Bisa Meledak

Situasi inilah yang membuat banyak negara semakin khawatir bahwa konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur sewaktu-waktu dapat saling terhubung menjadi krisis global yang jauh lebih besar.

Di satu sisi, Amerika Serikat masih menghadapi tekanan besar di Timur Tengah terkait Iran dan keamanan Selat Hormuz. Di sisi lain, Rusia kini mulai memperlihatkan tanda-tanda peningkatan operasi militer di Ukraina.

Para pengamat internasional memperingatkan bahwa apabila dua pusat konflik besar dunia itu mengalami eskalasi secara bersamaan, maka dampaknya dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, harga energi dunia, jalur perdagangan internasional, hingga keamanan geopolitik internasional secara keseluruhan.

Karena itu, perkembangan pada 25–26 Mei 2026 kini dipandang sebagai salah satu momen paling sensitif dalam dinamika geopolitik dunia tahun ini. (***)

Diaspora Indonesia di Prancis Rasakan Kehangatan Iduladha Bersama Presiden Prabowo

EtIndonesia.com. Suasana Iduladha 1447 Hijriah di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, pada Rabu, 27 Mei 2026, terasa berbeda bagi warga negara Indonesia dan diaspora yang hadir. Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam salat Iduladha berjemaah menambah kehangatan dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia di perantauan.

Bagi sebagian WNI yang sedang berada di Paris, kesempatan melaksanakan salat Id di tanah rantau sekaligus bertemu langsung dengan Kepala Negara menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Hal tersebut dirasakan oleh empat mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, yakni Zeahita, Yuri, Kezia, dan Sindhu, yang tengah berada di Prancis untuk mengikuti kegiatan akademik.

“Sangat spesial ya. Apalagi pas banget kita lagi di Prancis dan kebetulan bertemu sama Pak Presiden. It’s such an honor,” ujar Zeahita dikutip dari BPMI Setpres. 

Kezia mengaku tidak menyangka perjalanan mereka ke Prancis akan bertepatan dengan momen salat Iduladha bersama Presiden Prabowo. Awalnya, mereka datang ke Prancis untuk mengikuti konferensi dan lomba Model United Nations di Lyon, sebelum akhirnya mampir di Paris.

“Sebenarnya kami tidak pernah expect akan salat di sini juga karena kami awalnya berangkat ke Lyon untuk konferensi atau lomba Model United Nations. Tapi berhubung kami mampir ke Paris sebentar, kami memutuskan untuk salat Id di sini, dan kami sangat bahagia karena bisa bertemu banyak rekan-rekan dari Indonesia dan tentunya juga Bapak Presiden,” tutur Kezia.

Bagi Sindhu, momen tersebut juga menjadi pengobat rindu terhadap Indonesia. Meski baru dua pekan berada di Prancis, ia mengaku suasana Iduladha bersama sesama WNI membuatnya merasa kembali dekat dengan kampung halaman.

“Alhamdulillah sangat bahagia. Tentunya kita kangen banget dengan Indonesia, padahal baru dua minggu di Prancis, tapi sudah kangen banget sama Indonesia,” ucap Sindhu.

Bagi Yuri, salat Iduladha di Wisma Indonesia menjadi pengalaman yang membahagiakan karena dapat bertemu dengan jajaran kepresidenan serta sejumlah menteri yang turut hadir. “Rasanya cukup menyenangkan dan cukup exciting buat kita semua, buat salat di sini sekaligus bertemu dengan jajaran kepresidenan serta beberapa menteri juga,” ujar Yuri.

Tidak hanya para mahasiswa, pengalaman serupa juga dirasakan Myrna Damayanti, WNI asal Jakarta yang sedang melakukan perjalanan bisnis di Paris. Bagi Myrna, suasana salat Iduladha di Paris terasa berbeda namun tetap penuh kedamaian.

“Di sini rasanya damai. Di antara bangunan-bangunan yang sangat cantik dan historical, kita bisa salat Id dan mendengar takbir. Itu senang banget sih,” tuturnya.

Myrna juga mengaku kehadiran Presiden Prabowo menjadi kejutan yang tidak disangka. Ia sebelumnya hanya mendengar kabar dari teman-temannya bahwa Presiden akan melaksanakan salat Id di lokasi yang sama.

“Teman-teman saya bilang, ‘Oh Myrna mau sama Pak Prabowo ya?’ Itu kayak bercandaan aja. Tiba-tiba saya boleh masuk. Ini sih alhamdulillah banget, benar-benar nggak disangka-sangka,” ucapnya.

Dalam momen Iduladha tersebut, Myrna menyampaikan harapan agar Indonesia dan seluruh masyarakatnya senantiasa diberi keberkahan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia.

“Iduladha tahun ini, saya berharap untuk saya secara pribadi, perusahaan saya, dan negara kita, mudah-mudahan kita semua selalu diberikan keberkahan dan rahmat dari Allah,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, masyarakat yang hadir pun tampak menyanyikan bersama sejumlah lagu nasional. Momen ini semakin memperkuat rasa kebersamaan dan kehangatan diaspora di perantauan.

Bagi masyarakat Indonesia di Paris, Iduladha kali ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga ruang silaturahmi yang memperkuat rasa kebersamaan di tanah rantau. Kehadiran Presiden Prabowo menjadi pengingat bahwa di mana pun berada, masyarakat Indonesia tetap menjadi bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia.

Sumber : BPMI Setpres

Situasi Global Makin Gila: AS Serang Iran, Israel Siap Gempur Beirut, Dunia Masuk Fase Berbahaya

EtIndonesia.com  Situasi geopolitik dunia pada Selasa hingga Rabu, 26–27 Mei 2026, berkembang menuju fase yang semakin mengkhawatirkan. Ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat hampir secara bersamaan, memunculkan kekhawatiran internasional bahwa dunia sedang bergerak menuju konflik regional yang dapat meluas menjadi krisis global berskala besar.

Perhatian utama dunia saat ini tertuju pada memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, memanasnya konflik Israel–Hezbollah di Lebanon, serta meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran energi internasional di Selat Hormuz.

Di tengah situasi yang terus memburuk, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi strategis untuk mengakhiri konflik dalam waktu 60 hari sekaligus membuka kembali stabilitas jalur perdagangan global yang kini terguncang akibat eskalasi militer di kawasan Teluk Persia.


Trump Gelar Rapat Kabinet Penting di Gedung Putih

Menurut laporan sejumlah media Amerika pada Rabu, 27 Mei 2026, Trump dijadwalkan menggelar rapat kabinet penting di Gedung Putih yang diperkirakan dihadiri seluruh anggota kabinet dan pejabat keamanan nasional utama Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut menjadi rapat kabinet pertama yang dipimpin Trump sejak 26 Maret 2026 dan dipandang sebagai salah satu momen paling menentukan dalam kebijakan luar negeri Washington tahun ini.

Fokus utama pembahasan diperkirakan mencakup:

  • perkembangan negosiasi nuklir dengan Iran,
  • keamanan Selat Hormuz,
  • operasi militer AS di Timur Tengah,
  • eskalasi Israel–Hezbollah,
  • serta kemungkinan langkah militer lanjutan apabila jalur diplomasi gagal total.

Para analis menilai Gedung Putih kini berada dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, Washington masih ingin mempertahankan peluang diplomasi dengan Teheran. Namun di sisi lain, tekanan politik domestik dan situasi keamanan regional terus mendorong pemerintahan Trump ke arah pendekatan militer yang lebih keras.


Negosiasi AS-Iran Masuki Titik Paling Kritis

Ketegangan meningkat tajam setelah proses negosiasi antara Washington dan Teheran memasuki fase paling sensitif sejak pembicaraan dimulai beberapa bulan lalu.

Pada 27 Mei 2026, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menuntut pencairan dana sebesar 24 miliar dolar AS sebagai syarat utama tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Namun tuntutan tersebut langsung ditolak oleh tim negosiasi Trump.

Washington menilai permintaan itu terlalu berisiko dan dapat membuka ruang baru bagi Iran untuk memperkuat program strategisnya, termasuk kemampuan militer dan pengembangan teknologi yang selama ini menjadi perhatian Barat.

Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mujtaba Khamenei, melontarkan pernyataan keras bahwa Iran akan “menghitung seluruh utang” terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan tersebut dipandang luas sebagai sinyal bahwa Iran mulai meninggalkan pendekatan diplomasi lunak dan bergerak menuju posisi yang jauh lebih konfrontatif.

Para pengamat internasional menilai saat ini hubungan AS-Iran berada di titik paling rapuh sejak awal krisis terbaru meletus.

Dunia kini menunggu keputusan besar dari Trump:
apakah Washington akan tetap mempertahankan jalur diplomasi, atau justru mulai membuka opsi operasi militer berskala lebih luas terhadap Iran.


Militer AS Meluncurkan Operasi Mendadak di Iran Selatan

Ketegangan semakin meningkat setelah militer Amerika Serikat pada Senin, 26 Mei 2026, meluncurkan operasi militer mendadak di wilayah selatan Iran.

Operasi yang oleh Pentagon disebut sebagai “serangan defensif” itu dilaporkan menargetkan sejumlah aset strategis Iran, termasuk:

  • kapal penebar ranjau,
  • fasilitas peluncuran rudal,
  • sistem logistik militer,
  • serta wilayah sekitar Abbas Port yang dianggap menjadi pusat aktivitas operasional Garda Revolusi Iran.

Langkah tersebut langsung menarik perhatian dunia internasional karena dilakukan di tengah proses negosiasi diplomatik yang secara resmi masih berlangsung.

Para analis keamanan menilai Washington kini menjalankan dua strategi secara bersamaan:

  1. mempertahankan tekanan militer maksimum terhadap Iran,
  2. sambil tetap membuka peluang tercapainya kesepakatan diplomatik.

Namun strategi ganda ini dinilai sangat berisiko karena kesalahan kecil di lapangan dapat memicu bentrokan terbuka yang lebih luas.


Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Paling Berbahaya di Dunia

Dalam beberapa hari terakhir, Selat Hormuz kembali berubah menjadi pusat ketegangan global.

Kawasan ini sangat vital karena menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah melewati selat sempit tersebut.

Sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman keamanan, Amerika Serikat kembali mengaktifkan operasi pengamanan maritim bernama “Project Freedom”.

Operasi itu bertujuan memastikan jalur perdagangan energi internasional tetap terbuka dan aman dari ancaman sabotase.

Pada 27 Mei 2026, sebuah kapal tanker super milik Yunani yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dengan pengawalan langsung militer Amerika Serikat.

Washington juga diperkirakan akan mengawal belasan kapal lainnya dalam beberapa hari mendatang, termasuk:

  • kapal tanker minyak,
  • kapal kontainer internasional,
  • serta kapal logistik perdagangan global.

Langkah ini dilakukan setelah muncul kekhawatiran bahwa Iran dapat mencoba mengganggu jalur pelayaran menggunakan:

  • ranjau laut,
  • drone bersenjata,
  • kapal cepat,
  • maupun operasi maritim Garda Revolusi Iran.

Akibatnya, kawasan Teluk Persia kini berubah menjadi salah satu zona militer paling tegang di dunia.


Hezbollah dan Israel Kembali Terlibat Eskalasi Besar

Di saat bersamaan, situasi di perbatasan Israel–Lebanon juga mengalami peningkatan drastis.

Kelompok Hezbollah dilaporkan melancarkan serangan mendadak ke wilayah utara Israel.

Sebagai balasan, militer Israel segera melakukan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Lebanon.

Menurut laporan media Israel pada 26 Mei 2026, pasukan Israel menggunakan lebih dari 85 amunisi presisi untuk menyerang lebih dari 70 titik yang disebut sebagai basis dan infrastruktur Hezbollah.

Pejabat tinggi keamanan Israel bahkan menyatakan bahwa pemerintah telah menyetujui kemungkinan operasi pembunuhan terarah di Beirut apabila peluang operasi muncul.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan resminya mengatakan:

“Kami sedang berperang melawan Hezbollah. Dalam beberapa minggu terakhir saja, para prajurit kami telah menyingkirkan lebih dari 700 ekstremis. Kami tidak akan mengendurkan tekanan.”

Tidak hanya itu, militer Israel juga dilaporkan telah melintasi Blue Line dan melancarkan operasi darat terbatas di Lebanon selatan dengan target lokasi peluncuran drone Hezbollah.

Namun Iran segera memberikan respons keras melalui jalur diplomatik tidak resmi.

Teheran memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap serangan langsung Israel terhadap Beirut akan langsung mengakhiri seluruh proses negosiasi antara Washington dan Teheran.

Peringatan tersebut membuat situasi kawasan semakin sensitif karena konflik Lebanon kini berpotensi langsung terhubung dengan negosiasi nuklir AS-Iran.


Israel Klaim Tewaskan Pemimpin Militer Baru Hamas

Sementara itu di Jalur Gaza, operasi militer Israel juga terus meningkat.

Militer Israel mengumumkan bahwa mereka berhasil menghancurkan jaringan terowongan Hamas sepanjang hampir 7 mil di Gaza utara.

Selain itu, ratusan fasilitas infrastruktur di atas permukaan tanah juga disebut telah dihancurkan dalam operasi beberapa hari terakhir.

Israel juga mengklaim berhasil menewaskan pemimpin militer baru Hamas, yaitu Mohammed Odeh, melalui serangan udara terhadap sebuah gedung apartemen di Kota Gaza.

Menurut militer Israel, Mohammed Odeh merupakan pengganti Haddad yang sebelumnya tewas dalam operasi Israel pada pekan lalu.

Klaim tersebut hingga kini masih terus dipantau berbagai pihak internasional karena berpotensi memicu eskalasi baru di Gaza.


Trump dan Netanyahu Dikabarkan Bahas Iran dan Lebanon

Laporan lain menyebutkan bahwa Trump dan Netanyahu melakukan pembicaraan telepon penting pada 27 Mei 2026.

Sumber-sumber diplomatik menyebut topik utama pembahasan mencakup:

  • potensi kesepakatan nuklir dengan Iran,
  • perluasan operasi militer Israel di Lebanon,
  • serta strategi menghadapi Hezbollah dan Hamas.

Sejumlah pengamat menduga Trump kemungkinan meminta Netanyahu menahan diri agar tidak menyerang Beirut secara besar-besaran demi menjaga peluang negosiasi dengan Iran tetap hidup.

Namun sebagian analis internasional menilai pendekatan Trump yang terlalu berhati-hati juga berisiko dimanfaatkan oleh Rusia dan Tiongkok untuk mencari kelemahan strategis Amerika Serikat di tengah krisis global yang terus berkembang.


Dunia Khawatir Konflik Regional Bisa Meledak Jadi Krisis Global

Dengan meningkatnya ketegangan secara bersamaan di Iran, Lebanon, Gaza, dan Selat Hormuz, banyak pengamat kini mulai memperingatkan bahwa dunia sedang memasuki salah satu periode paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.

Setiap keputusan yang diambil Washington, Teheran, maupun Tel Aviv dalam beberapa hari ke depan diperkirakan dapat menentukan arah stabilitas global selanjutnya.

Jika negosiasi gagal dan konflik terus meluas, bukan hanya Timur Tengah yang akan terdampak, tetapi juga:

  • harga energi dunia,
  • jalur perdagangan internasional,
  • pasar keuangan global,
  • hingga stabilitas politik internasional secara keseluruhan.

Dunia kini menunggu:  apakah diplomasi masih mampu mencegah perang besar, atau justru krisis ini akan menjadi awal dari babak konflik global yang lebih luas.  (***)

Iran Diserang Mendadak! Sistem Pertahanan Rahasia Buatan Tiongkok Hancur dalam Sekejap

EtIndonesia— Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah United States Central Command atau CENTCOM mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan defensif berskala besar terhadap sejumlah target strategis di wilayah selatan Iran pada Senin, 25 Mei 2026.

Serangan tersebut disebut menjadi operasi militer Amerika pertama terhadap target di wilayah Iran sejak kedua negara sebelumnya mengumumkan gencatan senjata sementara. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran dunia internasional karena terjadi di sekitar Strait of Hormuz atau Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Menurut keterangan pejabat militer AS, target utama operasi tersebut mencakup lokasi peluncuran rudal milik Islamic Revolutionary Guard Corps, kapal penebar ranjau laut, hingga sistem pertahanan udara terbaru Iran yang diduga baru diterima secara rahasia dari Tiongkok.

AS Klaim Iran Diam-Diam Menebar Ranjau di Selat Hormuz

Sumber intelijen Amerika menyebut operasi militer itu dipicu oleh aktivitas rahasia Garda Revolusi Iran yang terdeteksi oleh satelit dan drone pengintai milik CENTCOM.

Menurut laporan tersebut, pasukan Iran diduga tengah memasang ranjau laut secara diam-diam di jalur strategis Selat Hormuz. Aktivitas itu dinilai sangat berbahaya karena dapat mengancam lalu lintas kapal tanker minyak internasional yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.

Ketegangan semakin meningkat ketika sebuah sistem rudal darat-ke-udara di wilayah selatan Iran dilaporkan tiba-tiba mengaktifkan radar pengunci tembakan dan mengarahkan sistemnya ke pesawat tempur Amerika yang sedang melakukan patroli rutin di kawasan itu.

Insiden tersebut disebut langsung memicu respons keras dari Presiden AS Donald Trump. Menurut sumber internal Gedung Putih, Trump segera memerintahkan CENTCOM untuk melaksanakan serangan cepat terhadap target-target militer Iran.

Ledakan Besar Guncang Bandar Abbas dan Pulau Qeshm

Pada Selasa pagi, 26 Mei 2026, media lokal Iran dan sejumlah sumber intelijen melaporkan sedikitnya tiga ledakan besar mengguncang wilayah Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di pintu masuk Selat Hormuz.

Ledakan juga terdengar di beberapa kawasan pesisir sekitarnya. Serangan presisi militer AS dilaporkan menghantam posisi-posisi Garda Revolusi Iran yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Salah satu sasaran paling menjadi sorotan adalah serangan terhadap Qeshm Island. Menurut bocoran kelompok oposisi Iran, militer Amerika berhasil menghancurkan satu unit sistem pertahanan udara HQ-9 atau Hongqi-9 yang baru saja diterima Iran secara diam-diam dari Tiongkok.

Sistem Pertahanan HQ-9 Disebut Hancur Sebelum Sempat Digunakan

Sistem HQ-9 selama ini dipromosikan oleh Tiongkok sebagai salah satu sistem pertahanan udara canggih yang mampu menghadapi pesawat siluman dan rudal jelajah modern.

Namun dalam operasi terbaru ini, sistem tersebut dilaporkan hancur sebelum sempat digunakan secara efektif. Beberapa sumber menyebut bom presisi AS langsung menghantam area tempat sistem itu ditempatkan bersama barak militer Garda Revolusi.

Insiden ini menjadi pukulan simbolis bagi Iran sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem pertahanan udara yang selama ini dipuji Beijing.

Drone AS Serang Pangkalan Parchin Dekat Teheran

Di saat serangan masih berlangsung di Iran selatan, drone tempur Amerika juga dilaporkan meluncurkan operasi presisi terhadap Parchin Military Complex di dekat Teheran pada hari Selasa.

Pangkalan Parchin selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu fasilitas paling sensitif Iran karena diduga terkait penelitian bahan peledak berkekuatan tinggi dan teknologi pemicu senjata nuklir.

Sumber intelijen menyebut serangan tersebut kemungkinan menewaskan sejumlah peneliti senior yang memiliki hubungan dengan Garda Revolusi Iran. Hingga kini pihak Teheran belum memberikan angka resmi korban jiwa.

Banyak analis menilai langkah ini merupakan bentuk tekanan tambahan dari pemerintahan Trump terhadap Iran di tengah negosiasi diplomatik yang masih berlangsung.

Angkatan Laut AS Mulai Operasi Pengawalan di Selat Hormuz

Belum lama setelah serangan udara terjadi, Angkatan Laut Amerika Serikat mengumumkan dimulainya operasi kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Kapal-kapal perusak AS langsung memasuki jalur utama pelayaran dan mulai mengawal kapal dagang internasional yang selama beberapa bulan terakhir terjebak akibat meningkatnya ancaman keamanan di kawasan tersebut.

Seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa sebuah kapal tanker super milik Yunani yang membawa sekitar dua juta barel minyak mentah telah terjebak di Teluk Persia sejak awal Maret 2026.

Selama hampir tiga bulan kapal tersebut tidak dapat bergerak karena tingginya risiko keamanan dan ancaman serangan di sekitar Selat Hormuz. Kerugian akibat keterlambatan pengiriman minyak disebut mencapai angka yang sangat besar.

Pada Selasa pagi, kapal perang Amerika akhirnya mendekati tanker tersebut dan menawarkan pengawalan keluar dari kawasan berbahaya. Tanker itu kemudian berhasil melewati Selat Hormuz di bawah perlindungan militer AS sebelum melanjutkan pelayaran menuju India.

Menurut pejabat Angkatan Laut AS, operasi serupa akan terus dilakukan dalam beberapa hari mendatang untuk membantu lebih dari sepuluh kapal dagang internasional lainnya, termasuk kapal tanker raksasa dan kapal kontainer besar.

Konflik Politik Internal Iran Makin Terbuka

Di tengah tekanan militer dari luar negeri, Iran juga menghadapi ketegangan internal yang semakin terlihat.

Pada 25 Mei 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan perintah kepada kementerian telekomunikasi untuk memulihkan akses internet nasional yang sebelumnya diputus besar-besaran sejak Januari 2026.

Langkah itu disebut sebagai upaya menyelamatkan ekonomi Iran yang semakin terpukul akibat blokade dan krisis berkepanjangan.

Media pemerintah Iran langsung menggambarkan kebijakan tersebut sebagai langkah positif untuk membantu rakyat.

Namun hanya beberapa saat kemudian, kantor berita Fars yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi secara terbuka membantah kewenangan Presiden Iran dalam persoalan tersebut.

Mereka menyatakan bahwa keputusan pemutusan internet sebelumnya dibuat oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sehingga pencabutannya juga harus melalui persetujuan lembaga tersebut.

Peristiwa ini memperlihatkan semakin jelasnya pertarungan kekuasaan antara pemerintahan sipil dan struktur militer di Iran.

Data pemantauan internasional menunjukkan akses internet internasional di Iran saat ini masih dibatasi hanya sekitar 1% hingga 4%. Sebagian besar warga Iran disebut hanya dapat mengakses dunia luar menggunakan VPN.

Pemutusan internet nasional selama hampir 90 hari itu disebut sebagai salah satu yang paling lama dan paling merusak dalam sejarah modern Iran.

Bentrokan Bersenjata Pecah di Pusat Teheran

Situasi semakin memburuk setelah muncul laporan bentrokan bersenjata di dekat Revolution Square di pusat Teheran.

Menurut sejumlah sumber intelijen, Garda Revolusi Iran bentrok dengan milisi Irak dari Popular Mobilization Forces yang selama ini ditempatkan di Teheran.

Kedua pihak dilaporkan saling menembak menggunakan senapan otomatis dan senapan mesin ringan di jalanan kota.

Sedikitnya lima anggota milisi Irak dilaporkan tewas di lokasi kejadian, sementara jumlah korban luka masih belum diumumkan secara resmi.

Insiden ini memperlihatkan bahwa tekanan di dalam tubuh aliansi pro-Iran sendiri mulai muncul di tengah situasi keamanan yang semakin tidak stabil.

Trump Mendadak Panggil Seluruh Kabinet ke Gedung Putih

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Presiden Donald Trump pada Selasa, 26 Mei 2026, secara mendadak memerintahkan seluruh anggota kabinet AS untuk bersiap menghadiri rapat penting.

Awalnya pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung di Camp David pada Rabu, 27 Mei 2026.

Media Amerika menyebut seluruh pejabat tinggi diwajibkan hadir, termasuk Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard yang dikabarkan akan segera meninggalkan jabatannya.

Langkah tersebut memicu spekulasi luas bahwa negosiasi AS-Iran mungkin telah memasuki tahap penentuan akhir, baik menuju kesepakatan besar maupun kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas.

Namun beberapa jam kemudian, Trump membatalkan rencana perjalanan ke Camp David dan memutuskan rapat kabinet tetap dilaksanakan di Gedung Putih dengan alasan potensi cuaca buruk.

Meski demikian, keputusan mendadak itu tetap dianggap sebagai sinyal bahwa Washington kini sedang menghadapi salah satu momen paling sensitif dalam hubungan AS-Iran sepanjang tahun 2026. (***)

5 Kondisi Khas Kehidupan Modern yang Diam-Diam Membunuh Anda

Bukan hal baru bahwa alkohol, narkoba, dan konsumsi gula berlebihan berbahaya bagi kesehatan. Namun, bahkan jika Anda tidak memiliki kebiasaan buruk tersebut, Anda mungkin tetap tanpa sadar memangkas usia hidup hanya karena mengikuti pola hidup modern.

Duduk Terlalu Lama

Seratus tahun lalu, orang-orang menggunakan otot mereka secara teratur. Mereka bekerja secara fisik, bepergian tanpa mobil, dan menghabiskan waktu luang dengan aktivitas sosial yang aktif. Saat ini, orang mungkin pergi ke gym untuk berolahraga, lalu duduk sepanjang hari. Inilah yang disebut gaya hidup sedentari atau minim gerak.

Jika Anda duduk terlalu lama saat bekerja, selama perjalanan, atau saat menonton TV, maka—meskipun Anda berolahraga satu jam setiap pagi—kemungkinan otot Anda tetap tidak mendapatkan aktivitas berkelanjutan yang dibutuhkan untuk membantu mengeluarkan glukosa dari aliran darah secara efisien.

Hal ini dapat memengaruhi cara tubuh mengolah gula, ini menjelaskan mengapa perilaku sedentari dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Jika dulu kakek-nenek kita secara alami aktif sepanjang hari, kini aktivitas semacam itu memiliki istilah khusus: Non-Exercise Activity Thermogenesis (NEAT), yaitu kalori yang dibakar melalui aktivitas harian biasa, bukan olahraga formal. Selain membakar kalori, aktivitas ini juga menjaga otot tetap aktif.

Mesin pencuci piring, mesin cuci, penyedot debu robotik, dan robot pemotong rumput memang menghemat waktu, tetapi juga menghilangkan kesempatan kita untuk bergerak secara alami. Belanja daring, layanan pesan antar makanan, dan hiburan elektronik di rumah membuat kita semakin nyaman untuk diam di tempat. Pekerjaan berbasis teknologi juga membuat kita terus terpaku di depan komputer.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Utamakan kesehatan Anda dan sengaja tambahkan lebih banyak gerakan ke rutinitas harian. Mungkin tidak realistis untuk sepenuhnya kembali ke gaya hidup tradisional, tetapi Anda bisa mencoba beberapa hal berikut:

  • Pasang pengingat untuk berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan secara rutin.
  • Pilih hobi aktif seperti berkebun, mengamati burung, atau bersepeda.
  • Pertahankan postur tubuh yang baik saat duduk. Ini membantu melibatkan otot inti, punggung, dan bahu sehingga meningkatkan kekuatan tubuh.
  • Gunakan meja kerja berdiri (standing desk) agar lebih sering bergerak.
  • Pilih moda transportasi yang paling aktif sejauh memungkinkan.

Pola Makan Ultra-Processed Food 

Kecuali Anda makan langsung dari kebun atau peternakan, sebagian besar makanan yang dikonsumsi memang telah diproses sampai tingkat tertentu, dan itu normal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir semakin jelas bahwa tidak semua makanan olahan itu sama.

Fenomena makanan ultra-proses dimulai sejak 1886 dengan diperkenalkannya Coca-Cola. Oreo muncul pada 1912, Velveeta pada 1918, dan SPAM pada 1937. Makanan-makanan ini diproduksi bukan untuk menyehatkan—bahkan bukan untuk benar-benar mengenyangkan—melainkan untuk menarik kelemahan manusia: cepat, praktis, lezat, dan murah.

Tren makanan ultra-proses berkembang tak terkendali hingga kini sekitar 70 persen makanan di pasaran termasuk kategori ultra-proses.

Definisinya bisa berbeda-beda, tetapi secara umum makanan ultra-proses sudah sangat jauh dari bentuk alaminya sehingga nyaris tidak layak disebut “makanan.” Pada 2025, Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. bahkan menyebutnya sebagai “racun.”

Kategori ini bukan hanya “junk food”. Ini juga mencakup jus dan teh dengan tambahan gula, daging olahan, kue kemasan, makanan beku, makanan microwave, dan banyak protein bar.

Makanan ultra-proses kaya bahan tidak sehat tetapi miskin nutrisi. Konsumsinya dikaitkan dengan obesitas, gangguan metabolisme, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan risiko kematian dari berbagai sebab. Masalahnya semakin parah karena makanan ini memang dirancang agar mudah dikonsumsi berlebihan.

Sayangi tubuh Anda dengan mulai beralih ke makanan yang lebih alami dan utuh. Mulailah perlahan dengan mengganti satu jenis makanan pada satu waktu hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

Asupan Serat yang Rendah

Jika Anda terbiasa mengonsumsi makanan ultra-proses, kemungkinan besar Anda kekurangan serat. Faktanya, kurang dari lima persen warga Amerika memenuhi rekomendasi minimum asupan serat harian, yaitu 25 gram untuk wanita dan 30 gram untuk pria. Banyak yang bahkan tidak mencapai setengahnya.

Serat tidak hanya penting untuk melancarkan pencernaan, tetapi juga membantu menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.

Sebagai gambaran, sebagian besar makanan “tinggi serat” mengandung sekitar 4–6 gram serat per porsi.

Jika Anda sarapan satu apel, segenggam almond, dan oatmeal, itu sudah sekitar 12 gram serat. Satu tortilla gandum utuh dengan setengah cangkir kacang matang dan setengah alpukat memberi tambahan sekitar 15 gram serat. Jadi, hanya dari dua makanan sederhana saja Anda sudah bisa memperoleh lebih dari 25 gram serat.

Masalahnya, kita cenderung fokus pada protein—biasanya protein hewani yang tidak mengandung serat—dan memadukannya dengan karbohidrat olahan seperti roti, pasta, dan nasi putih yang juga miskin serat.

Perbanyak buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum utuh dalam pola makan Anda, dan mungkin Anda bisa menambah usia hidup.

Kurang Tidur

Rata-rata orang dewasa membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam. Namun, di tengah jadwal yang padat, banyak orang menganggap tidur sekadar waktu istirahat biasa. Padahal, tidur adalah aktivitas metabolik yang sangat penting—saat itulah tubuh melakukan perbaikan dan pemeliharaan.

Kurang tidur tidak hanya membatasi fungsi penting tersebut, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur juga secara signifikan menurunkan sensitivitas insulin sehingga mengganggu pengendalian gula darah melalui berbagai jalur.

Kurang tidur juga memengaruhi hormon nafsu makan: menurunkan leptin (yang memberi sinyal kenyang) dan meningkatkan ghrelin (yang memicu rasa lapar). Akibatnya, Anda lebih menginginkan makanan tinggi kalori, sementara tubuh memprosesnya dengan kurang efisien.

Anda mungkin sudah menyadari bahwa kurang tidur mengganggu fungsi kognitif. Namun tahukah Anda bahwa hal itu juga meningkatkan peradangan, menaikkan hormon stres kortisol, dan melemahkan sistem imun?

Dr. Alex Wibberly, melalui pengalamannya di bidang kedokteran darurat, mencatat bahwa individu dengan kekurangan tidur kronis menunjukkan percepatan penyakit metabolik dan kardiovaskular.

Menurut Centers for Disease Control (CDC), sekitar sepertiga orang dewasa Amerika melaporkan tidak mendapatkan istirahat atau tidur yang cukup setiap hari, dan sekitar 50 hingga 70 juta warga Amerika mengalami gangguan tidur kronis.

Jika jadwal tidur Anda belum ideal, lakukan perubahan sebisa mungkin. Jika itu sulit, setidaknya tingkatkan kualitas tidur yang Anda miliki. Jaga kamar tetap gelap, sejuk, dan bebas gangguan. Gunakan bantal dan tempat tidur yang nyaman. Hindari layar elektronik setidaknya satu jam sebelum tidur.

Meditasi juga layak dipertimbangkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa meditasi tidak hanya meningkatkan kualitas tidur, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan tidur—sebuah keuntungan ganda.

Stres Kronis

Dibandingkan leluhur kita yang mengalami peristiwa sangat menegangkan tetapi diselingi masa tenang, manusia modern terus-menerus dihantam stres ringan berkepanjangan.

Perubahan teknologi, gaya hidup serba cepat, tekanan finansial, dan media sosial semuanya berkontribusi terhadap stres kronis yang berdampak serius pada kesehatan.

Stres memicu pelepasan kortisol, hormon yang sebenarnya berguna dalam jangka pendek karena membantu kita berpikir cepat dan bertindak. Namun ketika kadar kortisol terus tinggi, tubuh merespons dengan peningkatan tekanan darah, kenaikan gula darah, penurunan fungsi imun, dan peradangan sistemik.

Peradangan sistemik bukan hanya membuat tubuh terasa tidak nyaman, tetapi juga menjadi faktor utama hampir semua penyakit kronis besar.

Fakta pahitnya, stres adalah bagian umum dari kehidupan modern. Laporan Global Emotions Gallup 2023 menemukan bahwa 49 persen warga Amerika mengalami stres berat setiap hari. Menurut CDC, 70 persen orang dewasa Amerika mengalami stres yang memengaruhi kesehatan mental mereka.

Hampir mustahil menghindari stres dalam kehidupan modern, sehingga Anda perlu belajar mengelolanya.

Komunikasi terbuka adalah salah satu pelepas stres yang efektif. Berbicara dengan orang terpercaya memicu pelepasan oksitosin dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yang membantu tubuh rileks.

Olahraga teratur membantu mengurangi stres dengan melepaskan endorfin dan meningkatkan kualitas istirahat.

Menjalani hobi atau aktivitas yang memberi kebahagiaan dan kepuasan juga membantu menjauhkan diri sejenak dari sumber stres dan meningkatkan kesehatan emosional.

Sekali lagi, meditasi adalah alat klasik untuk mengelola stres. Penelitian menunjukkan bahwa praktik meditasi rutin dapat mengurangi ukuran amigdala, pusat utama respons stres di otak.

Sumber : Visiontimes.com

Pertempuran Sengit di Timur Kongo Demokratik di Tengah Penyebaran Wabah Ebola

EtIndonesia.com. Di tengah meluasnya wabah Ebola, wilayah timur Republik Demokratik Kongo kembali dilanda konflik bersenjata. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak M23.

Menurut laporan Agence France-Presse, sumber keamanan dan pejabat lokal menyatakan bahwa pertempuran terbaru terutama terjadi di wilayah Masisi, Provinsi North Kivu. Daerah ini berada di sebelah selatan Provinsi Ituri, yang merupakan pusat utama wabah Ebola.

Wakil Gubernur North Kivu, Didier Lomoyo, pada 25 Mei mengatakan bahwa bandara strategis di Kisangani diserang dengan mortir. Bandara tersebut dalam beberapa bulan terakhir berulang kali menjadi sasaran serangan kelompok M23. Pesawat militer pemerintah Republik Demokratik Kongo dari ibu kota Kinshasa beroperasi dari bandara itu.

Sumber kepolisian setempat juga mengungkapkan bahwa dua drone berhasil dicegat dan tidak menimbulkan kerusakan.

Sumber lokal menyebutkan bahwa Provinsi North Kivu dan South Kivu baru-baru ini beberapa kali mengalami serangan udara. Namun, AFP belum dapat memverifikasi secara independen jumlah korban akibat serangan tersebut.

Wilayah timur Republik Demokratik Kongo kaya akan sumber daya alam, tetapi selama lebih dari 30 tahun terus dilanda konflik bersenjata antara berbagai kelompok militan. Sejak 2021, pemberontak M23 yang didukung oleh Rwanda telah merebut wilayah yang luas, dan pada awal 2025 pertempuran kembali meningkat tajam.

Sementara itu, wilayah timur Kongo Demokratik juga merupakan pusat wabah Ebola saat ini. Wabah tersebut telah menyebabkan 204 kematian dan terdapat 867 kasus dugaan infeksi. WHO telah mengeluarkan peringatan kesehatan internasional terkait situasi terkait. 

Sumber : NTDTV.com

Pemimpin Tertinggi Iran Khawatir Dibunuh, Bersembunyi di Bunker Bawah Tanah dan Berkomunikasi Lewat Surat

EtIndonesia. Pejabat intelijen Amerika Serikat mengungkapkan bahwa demi menghindari kemungkinan dibunuh, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bersembunyi di bunker bawah tanah dan hidup dalam kondisi “terisolasi dari dunia luar”, hanya berkomunikasi dengan pihak luar melalui surat.

Menurut laporan CBS, dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel bernama “Epic Fury” pada akhir Februari lalu, Mojtaba mengalami luka-luka. Saat ini ia mengambil langkah-langkah ekstrem untuk menghindari nasib seperti ayahnya, Ali Khamenei, yakni tewas dalam serangan udara militer AS.

Dua pejabat Amerika yang mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa intelijen AS menunjukkan Mojtaba kini berada di lokasi rahasia yang tidak diungkapkan, hampir sepenuhnya terisolasi. Bahkan pejabat tertinggi pemerintah Iran pun tidak mengetahui keberadaannya dan tidak dapat menghubunginya secara langsung.

Sejak Iran mengumumkan pada bulan Maret bahwa Mojtaba menjadi penerus kepemimpinan, ia tidak pernah tampil di depan publik maupun menyampaikan pidato apa pun. Ia hanya berkomunikasi dengan dunia luar melalui jaringan kurir yang rumit, yang dibangun untuk menyembunyikan jejak keberadaannya.

Pejabat intelijen AS juga mengatakan bahwa saat ini sebagian besar pemimpin Iran bersembunyi di bunker dengan pengamanan ketat selama berminggu-minggu tanpa melihat cahaya matahari. Mereka juga menghindari saling berkomunikasi kecuali benar-benar diperlukan.

“Melihat mereka berusaha mencari cara untuk saling berkomunikasi rasanya seperti menonton sitkom. Mereka semua sudah kelelahan,” ujar salah seorang pejabat intelijen AS.

Pejabat lainnya mengatakan bahwa informasi intelijen yang diperoleh Amerika Serikat dan Israel dari dalam pemerintahan Iran membuat operasi untuk “memenggal” sebagian besar pimpinan tinggi Iran menjadi mungkin dilakukan.

Kedua pejabat tersebut juga menyebut bahwa para pejabat Iran yang sedang bernegosiasi dengan AS mengalami kesulitan komunikasi internal. Ketika Amerika mengirim rincian proposal, respons dari pihak Iran bisa sangat lambat karena sulit menghubungi pemimpin tertinggi mereka.

Laporan itu menyebutkan bahwa juru bicara Gedung Putih menolak berkomentar mengenai intelijen terkait lokasi pemimpin tertinggi Iran maupun metode komunikasi Iran.

Presiden AS Donald Trump pada 25 Mei menyatakan bahwa sebagai bagian dari potensi perjanjian nuklir dengan Iran, persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran hanya memiliki dua kemungkinan akhir.

“Uranium yang diperkaya itu akan segera diserahkan kepada Amerika Serikat untuk dibawa pulang dan dimusnahkan; atau—yang lebih ideal—dimusnahkan di lokasi saat ini atau di tempat lain yang disepakati bersama dengan kerja sama Republik Islam Iran, serta disaksikan oleh Komisi Energi Atom (atau lembaga setara),” tulis Trump di platform Truth Social.

Masalah pengayaan nuklir selama ini menjadi hambatan utama dalam perundingan potensi kesepakatan antara AS dan Iran. Pihak Amerika terus menuntut komitmen Iran agar tidak lagi berupaya mengembangkan senjata nuklir. Seorang pejabat AS pada 24 Mei mengungkapkan bahwa Iran pada prinsipnya telah menyetujui tuntutan tersebut.

Sumber : NTDTV.com

Mantan Ahli CIA: UFO Jatuh, AS Temukan 4 Jenis Jenazah Alien

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus mendorong peningkatan transparansi terkait penemuan “Fenomena Udara Tak Dikenal” (UAP). Tepat ketika Pentagon pada Jumat lalu (22 Mei) merilis gelombang kedua dokumen rahasia UFO yang telah dideklasifikasi, seorang pakar mengungkapkan lebih lanjut bahwa pemerintah AS sebenarnya telah menemukan empat jenis sisa jasad makhluk luar angkasa yang berbeda.

EtIndonesia. Pada Kamis lalu (21 Mei), peneliti yang didanai Central Intelligence Agency (CIA) sekaligus mantan penasihat proyek Advanced Aerospace Weapon System Applications Program (AAWSAP), Hal Puthoff, hadir dalam diskusi UFO di podcast The Diary of a CEO milik Steven Bartlett dan membagikan pernyataan mengejutkan tersebut.

Puthoff yang kini berusia 89 tahun adalah seorang fisikawan lulusan Stanford University. Dalam podcast itu, ia mengatakan bahwa Amerika Serikat telah menemukan setidaknya empat jenis spesies alien berbeda dari UFO yang jatuh.

“Dengan tingkat teknologi mereka, jika mereka tidak ingin terlihat, maka kita tidak akan bisa melihat mereka,” kata Puthoff. 

“Jadi saya kira ada bukti bahwa karena suatu alasan mereka memang ingin terlihat. Orang-orang yang ikut dalam operasi penemuan itu mengatakan setidaknya ada empat jenis.”

Pernyataan Puthoff sejalan dengan kesaksian mantan pejabat intelijen Angkatan Udara AS, David Grusch. Pada tahun 2023, Grusch pernah bersaksi di Kongres bahwa Amerika Serikat memiliki “biologis non-manusia” yang ditemukan dari puluhan pesawat luar angkasa yang jatuh.

Empat Jenis Alien

Menurut laporan New York Post, meskipun Puthoff tidak menjelaskan detail jenis alien tersebut dalam podcast, mantan rekannya di AAWSAP, Eric Davis, sebelumnya pernah mengklasifikasikan empat jenis alien itu dalam konferensi UAP Disclosure Fund tahun 2025, yaitu:

  • The Greys (Alien Abu-Abu)
  • Nordics (Alien Nordik)
  • Insectoids (Alien Serangga)
  • Reptilians (Alien Reptil)

Saat konferensi itu berlangsung, anggota DPR AS Nancy Mace, Anna Paulina Luna, dan Eric Burlison turut hadir.

Davis dan para pakar UFO lainnya menyebut bahwa semua jenis alien tersebut memiliki tubuh mirip manusia, dengan dua tangan dan dua kaki:

  • Nordics: Bertubuh mirip manusia dengan tinggi sekitar 6 kaki dan berpenampilan seperti orang Eropa Utara.
  • Reptilians: Memiliki sisik, ekor panjang, anggota tubuh menyerupai manusia, dan dapat berjalan tegak.
  • The Greys: Bertubuh kecil, tidak berambut, bermata besar, seperti yang digambarkan dalam film Close Encounters of the Third Kind.
  • Insectoids: Juga disebut “mantids”, yakni alien yang penampilannya menyerupai belalang sembah.

“Banyak Spesies Mengunjungi Manusia”

Namun demikian, tuduhan-tuduhan ini sejauh ini masih terutama berdasarkan kesaksian para saksi dan belum memiliki bukti fisik yang dapat dipublikasikan secara terbuka.

Sutradara film dokumenter The Age of Disclosure, Dan Farah, yang juga hadir di podcast tersebut, mengatakan banyak orang yang sebenarnya bisa bersaksi masih menolak tampil ke publik karena khawatir terhadap keselamatan mereka.

Dalam acara Jesse Watters Primetime di Fox News, Farah mengatakan: “Beberapa orang yang saya wawancarai dalam film ini—termasuk pejabat intelijen senior—telah secara terbuka mengatakan bahwa selama bertahun-tahun terjadi puluhan insiden jatuhnya pesawat yang berasal dari non-manusia.”

“Beberapa bagian dalam pemerintahan kami telah menemukan pesawat-pesawat jatuh tersebut, memperoleh teknologi yang bukan berasal dari manusia, dan dalam beberapa kasus juga menemukan jasad non-manusia di dalamnya,” ujar Farah.

Menanggapi rumor-rumor mengejutkan ini, penulis buku Catastrophic Disclosure, Kent Heckenlively, mengatakan kepada Fox News:

“Menurut para peneliti UFO yang pernah berbicara dengan saya, keempat jenis itu memiliki banyak variasi. Saya juga pernah mendengar tentang UFO atau alien tipe amfibi. Jadi ya, memang ada orang yang mengklaim bahwa banyak spesies berbeda sedang mengunjungi kita.”

Judul asli: Mantan Ahli CIA: UFO Jatuh, AS Menguasai 4 Jenis Jenazah Alien

Diadaptasi dari Epoch Times edisi bahasa Inggris 

Kasus Keracunan Air Ledeng di Henan, Tiongkok Masih Berlanjut, Warga Protes

Belakangan ini, Kabupaten Weishi di Kota Kaifeng, Provinsi Henan, terus dilanda kasus keracunan air minum. Banyak warga mengalami muntah, diare, dan gatal-gatal pada kulit, bahkan klinik-klinik kecil pun dipenuhi pasien. Pada 22 hingga 23 Mei, rumah sakit dan klinik masih penuh sesak. Sejumlah warga juga melakukan protes di depan kantor pemerintah Kabupaten Weishi, namun tidak mendapat tanggapan.

EtIndonesia.com. Seorang reporter media Tiongkok pada 23 Mei menelepon layanan hotline wali kota Kaifeng. Petugas menyatakan bahwa Kabupaten Weishi saat ini belum sepenuhnya memulihkan pasokan air yang aman. Di beberapa wilayah yang pasokan airnya sudah kembali, air keran yang keluar berwarna biru muda karena adanya sisa disinfektan. Warga tidak dianjurkan menggunakannya, dan waktu aman untuk konsumsi masih harus menunggu pemberitahuan resmi dari pemerintah.

Seorang warga Kompleks Hongyu International City di Kabupaten Weishi, Yang Lan (nama samaran), mengatakan kepada NTD bahwa pihak berwenang menyatakan air keran telah diuji, dan warga diminta membiarkan air mengalir selama 30 menit sebelum digunakan untuk mencuci muka atau mandi, tetapi tetap tidak boleh diminum.

 “Kemarin ada orang yang setelah sikat gigi dan cuci muka malah mengalami diare. Ada juga yang mandi lalu diare, bahkan ada yang kulitnya bermasalah. Airnya selalu terasa berbau amis menyengat. Mereka juga tidak memberi tahu berapa kandungan bakterinya atau bagaimana hasil uji kualitas airnya. Semuanya tidak transparan sama sekali,” ujar Warga Hongyu International City, Yang Lan (nama samaran). 

Yang Lan mengatakan lebih dari 600 keluarga mengalami masalah air minum. Ia sendiri telah menerima 24 botol air, tetapi persediaan air mineral sangat terbatas dan di beberapa tempat bahkan tidak bisa dibeli. Pemerintah disebut memberikan 20 ton “air subsidi”.

“Masalahnya, yang mereka subsidi itu air keran, dan tidak ada yang berani meminumnya. Tidak ada arti nyata sama sekali. Sebenarnya masalah ini sudah muncul sejak April, tetapi pemerintah terus menutup-nutupinya dan melarang orang membicarakannya. Setelah tidak bisa ditutupi lagi dan meledak dalam skala besar, barulah situasi seperti ini terjadi,” ujarnya. 

Karena pemerintah dianggap tidak bertindak, sejumlah warga turun melakukan protes. Namun pihak pengelola properti dan pemerintah saling melempar tanggung jawab tanpa memberikan penjelasan kepada masyarakat. Warga mengatakan pasokan air dimonopoli oleh pihak tertentu sehingga semua keputusan ada di tangan mereka. Kesulitan warga untuk mendapatkan pengobatan juga tidak diselesaikan.

Yang Lan mengatakan:  “Baik klinik kecil maupun rumah sakit besar, setiap hari penuh antrian. Bahkan di klinik kecil saja, antrean bisa sampai tengah malam, dengan lebih dari 200 nomor antrian.”

Seorang warga Tiongkok bermarga Qi (nama samaran) mengatakan bahwa air sumur dalam sebenarnya tidak bermasalah, tetapi justru air keran yang sudah diproses dan disaring malah menimbulkan masalah, dan ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya kasus serupa juga pernah muncul di Hangzhou, namun pemerintah dinilai tidak memiliki sikap untuk memperbaiki kesalahan.

 “Memberi sedikit air kompensasi seperti ini hanya sekadar formalitas. Masalah ini sendiri sudah sangat absurd, sama saja dengan penghinaan terbesar terhadap rakyat Tiongkok. Partai Komunis sama sekali tidak peduli pada rakyat. Hal seperti ini bagi mereka hanya masalah kecil. Di Tiongkok, kejadian seperti ini sudah dianggap biasa, semua orang sampai mati rasa. Lalu apa yang bisa dilakukan? Inilah kondisi Tiongkok saat ini,” katanya

Laporan oleh reporter NTD Zhang Zhongyuan, Li Shanshan, serta reporter khusus Gu Xiaohua dan Peng Xinyu.

Gempa Berkekuatan Magnitudo 6,9 Guncang Chile Utara, Getarannya Terasa hingga Negara Bagian São Paulo di Brasil

EtIndonesia. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan bahwa pada 25 Mei  pukul 17.52 waktu setempat , gempa kuat berkekuatan Magnitudo 6,9 mengguncang wilayah utara Chile. Pusat gempa berada sekitar 20 kilometer timur laut Kota Calama di wilayah Antofagasta Region. Hingga kini belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan besar. Namun karena guncangannya cukup kuat, Pusat Seismologi Universitas São Paulo mencatat bahwa beberapa wilayah di Negara Bagian São Paulo, Brasil, juga merasakan getarannya, yang membuat warga Brasil terkejut.

Menurut laporan Agence France-Presse, USGS menyatakan bahwa gempa terjadi di kawasan Gurun Atacama Desert, sekitar 31 kilometer dari Kota Calama, dengan kedalaman sekitar 100 kilometer.

Badan Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Chile menyatakan bahwa saat ini tidak ada risiko tsunami dan belum ada laporan korban luka maupun kerusakan serius.

Media lokal melaporkan bahwa getaran gempa terasa di wilayah Arica, Tarapacá Region, Antofagasta, dan Atacama Region.

Rekaman yang ditayangkan stasiun televisi pemerintah TVN memperlihatkan barang-barang di rak supermarket berjatuhan ke lantai akibat guncangan.

Diketahui bahwa gempa kali ini terasa cukup kuat hingga dampaknya melintasi perbatasan negara. Pusat Seismologi Universitas São Paulo mencatat sebagian wilayah Negara Bagian São Paulo di Brasil juga merasakan getaran, sesuatu yang mengejutkan banyak warga setempat.

Chile merupakan salah satu negara dengan aktivitas gempa paling sering di dunia karena terdapat tiga lempeng tektonik yang bertemu di wilayahnya, yaitu Lempeng Nazca Plate, Lempeng Amerika Selatan, dan Lempeng Antartika.

Masyarakat Chile umumnya menganggap gempa berkekuatan di bawah 7,0 tidak terlalu mengkhawatirkan. Pada tahun 1960, Kota Valdivia di bagian selatan dihancurkan oleh gempa berkekuatan 9,5, yang dianggap sebagai gempa terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah dan menewaskan sekitar 9.500 orang.

Pada tahun 2010, gempa berkekuatan 8,8 disertai tsunami mengguncang lepas pantai tengah Chile dan menyebabkan lebih dari 520 orang meninggal dunia. 

Sumber : NTDTV.com

Kecelakaan Tambang Shanxi, Tiongkok  Menyebabkan  Tingginya Korban Jiwa, Beijing Berkali-kali Merevisi Data

Kecelakaan ledakan gas besar terjadi di Tambang Batu Bara Liushenyu, Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, Tiongkok, pada 22 Mei malam. Menurut laporan terbaru pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok, insiden tersebut menyebabkan 82 orang tewas, 2 orang hilang, dan 128 orang luka-luka. Namun yang menuai kritik dari luar adalah angka korban tewas yang berkali-kali direvisi setelah kejadian, sementara kondisi sebenarnya dari kecelakaan tambang itu tetap ditutup rapat, sehingga memunculkan dugaan bahwa otoritas kembali menutupi fakta sebenarnya.

EtIndonesia. Setelah kecelakaan tambang terjadi Provinsi Shanxi, Tiongkok, jumlah korban tewas meningkat tajam dalam waktu singkat. Dari laporan awal yang menyebut 8 orang meninggal dunia, kemudian pemerintah sempat mengumumkan 90 korban jiwa, sebelum akhirnya direvisi menjadi 82 orang. Banyak pihak menilai terdapat masalah sistemik di balik tragedi ini, dan jumlah korban sebenarnya diduga lebih tinggi.

 “Pemerintah tidak benar-benar menghitung korban, mereka menyembunyikan sebanyak mungkin. Dulu dalam kecelakaan besar di Tiongkok, angka korban selalu diumumkan 37 orang. Sekarang karena internet sudah berkembang, kalau mereka masih bilang 37 orang, tidak ada yang percaya lagi,” ujar Wakil Ketua Front Demokrasi Tiongkok di Jerman, Wang Shoufeng. 

Saat kejadian, sebenarnya ada 247 pekerja yang sedang bekerja di bawah tanah, namun lebih dari 100 orang tidak tercatat dalam sistem. Media yang berada di bawah Kementerian Manajemen Darurat PKT menyebutkan bahwa 103 pekerja tidak mengenakan kartu pelacak lokasi, ditambah peta tambang yang tidak sesuai kondisi nyata sehingga menyulitkan proses penyelamatan.

Sejumlah mantan pekerja tambang mengungkap bahwa perusahaan diduga telah lama melakukan penambangan ilegal. Untuk menghindari pengawasan, pekerja dilarang membawa kartu pelacak saat turun ke tambang. Seorang penambang bahkan mengatakan, “Kalau melakukan penambangan ilegal, mana mungkin membawa kartu pelacak? Membawanya justru akan membongkar aktivitas itu.”

Tambang yang terlibat dalam insiden ini sebenarnya sudah lama masuk daftar tambang dengan risiko gas tinggi, dan dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali dikenai sanksi. Namun anehnya, tambang tersebut tetap memperoleh sertifikasi “standarisasi keselamatan produksi” dan “tambang hijau”. Banyak pihak menilai kolusi antara pejabat dan pengusaha serta lemahnya pengawasan pemerintah merupakan penyebab utama tragedi ini.


“Meskipun ini tambang milik swasta, dan sudah berkali-kali ditemukan memiliki bahaya keselamatan serius, masalah tersebut tetap tidak diperbaiki. Jika tidak ada pejabat PKT yang melindunginya, atau tidak ada kolusi pejabat dan pengusaha, masalah seperti ini tidak mungkin terjadi. Jelas ini adalah masalah korupsi dalam birokrasi PKT dan kolusi pejabat dengan pengusaha,” kata Ketua Aliansi Pengacara Hak Asasi Manusia Tiongkok di Luar Negeri, Wu Shaoping. 

Menurut laporan Reuters, setelah kecelakaan tambang Shanxi, pemerintah memperketat pemeriksaan keselamatan tambang batu bara. Pasar khawatir pasokan batu bara akan berkurang, sehingga harga kontrak berjangka batu bara kokas di Tiongkok melonjak hampir 8%.

Kecelakaan tambang batu bara di Tiongkok telah lama sering terjadi, dengan banyak insiden menewaskan lebih dari 100 orang. Yang paling parah adalah tragedi Tambang Laobaidong tahun 1960 yang menewaskan 684 orang. Sementara tragedi Tambang Liushenyu kali ini disebut sebagai kecelakaan tambang batu bara paling serius di Tiongkok sejak tahun 2009.

Sumber : NTDTV.com

AS Melancarkan Operasi Kontra-Infiltrasi, Influencer Sayap Kiri pro-PKT Menerima Panggilan Pengadilan

EtIndonesia. Pemerintah Amerika Serikat sedang memperluas penyelidikan terhadap organisasi dan jaringan pro-Partai Komunis Tiongkok (PKT) di AS. Baru-baru ini, Departemen Keuangan AS mengirim surat panggilan kepada komentator politik sayap kiri terkenal Hasan Piker serta salah satu pendiri organisasi kiri radikal CODEPINK, untuk menyelidiki perjalanan mereka ke Kuba pada  Maret lalu dan apakah perjalanan tersebut melanggar hukum Amerika Serikat. Kasus ini bahkan turut menyeret anggota Kongres AS Ilhan Omar.

Menurut laporan Fox News, pemerintah federal AS sedang memperluas penyelidikan terhadap kelompok-kelompok yang pro-komunisme.

Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS telah mengirim surat panggilan administratif kepada komentator politik sayap kiri terkenal Hasan Piker serta salah satu pendiri organisasi kiri radikal CODEPINK, Medea Benjamin, guna menyelidiki apakah perjalanan mereka ke Kuba pada Maret tahun ini melanggar sanksi dan aturan pengendalian aset AS terhadap Kuba.

Penyelidikan tersebut juga mencakup lebih dari 40 warga negara Amerika yang ikut dalam perjalanan itu, termasuk putri anggota DPR AS Ilhan Omar, yakni Isra Hirsi, serta koordinator CODEPINK di Washington, Danaka Katovich.

Fokus penyelidikan mencakup apakah para peserta selama berada di Havana, ibu kota Kuba, terlibat dalam transaksi dana ilegal, memberikan bantuan material kepada partai berkuasa Kuba, atau melakukan kontak dengan tokoh politik Kuba yang masuk daftar larangan pemerintah AS.

Selain itu, penyelidikan juga menyebut delegasi tersebut diduga menginap di hotel yang termasuk dalam “Daftar Pembatasan Kuba” milik Departemen Luar Negeri AS.

Pemerintahan Donald Trump saat ini sedang memperluas tindakan keras terhadap organisasi-organisasi pro-komunis, dan CODEPINK dianggap sebagai salah satu contoh paling menonjol.

Organisasi tersebut telah lama membantu rezim seperti PKT melakukan propaganda positif, serta menggelontorkan dana besar untuk berbagai gerakan kiri radikal di Amerika Serikat. Departemen Kehakiman AS dan lembaga penegak hukum telah berulang kali menyatakan bahwa aktivitas semacam ini tidak hanya berpotensi memicu kekerasan politik, tetapi juga mengancam keamanan nasional.

Di antaranya, miliarder Amerika Neville Singham, yang disebut sebagai penyandang dana utama CODEPINK, dituduh selama bertahun-tahun mendanai kelompok pro-PKT, pro-Kuba, dan anti-Amerika.

Pada tahun 2017, setelah menikah dengan salah satu pendiri CODEPINK, Jodie Evans, ia memberikan sekitar 1,33 juta dolar AS kepada organisasi tersebut dan melalui jaringan terkait menyalurkan sekitar 278 juta dolar AS kepada kelompok-kelompok kiri radikal. Saat ini, Departemen Kehakiman dan Departemen Keuangan AS sedang menyelidiki 145 organisasi nirlaba dan kelompok aktivis di Amerika Serikat.

Sumber : NTDTV.com