AS Dikabarkan Akan Pangkas Besar-besaran Kekuatan Militer NATO, Pesawat Bomber Dipangkas Separuh dan Kapal Selam Nuklir Ditarik

EtIndonesia. Hubungan aliansi antara Amerika Serikat dan NATO sedang menghadapi ujian serius. Menurut laporan media Jerman, Amerika Serikat akan secara besar-besaran mengurangi sumber daya militer strategis yang disediakan bagi negara-negara anggota NATO, termasuk pesawat tempur, kapal perang, dan drone, serta tidak lagi menyediakan kapal selam bertenaga nuklir.

Media Jerman Der Spiegel baru-baru ini melaporkan bahwa utusan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yaitu Welles-Greene, membuat geger dalam sebuah pertemuan tertutup di Brussel pekan lalu. Ia memberitahu negara-negara anggota NATO bahwa Amerika Serikat akan mengurangi sumber daya militer yang dapat disediakan untuk NATO pada masa krisis.

Secara rinci, Amerika berencana mengurangi jumlah pesawat pengebom strategis hingga setengahnya, memangkas sepertiga penempatan pesawat tempur, dan juga mengurangi jumlah kapal perusak. Ia bahkan secara tegas menyatakan bahwa Amerika tidak akan lagi menyediakan kapal selam bertenaga nuklir, sementara jumlah drone kemungkinan juga akan dikurangi secara signifikan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Amerika Serikat ingin mempertahankan sebagian kemampuan militernya untuk menghadapi kebutuhan strategis global lainnya. Selain itu, ketidakpuasan Presiden Donald Trump terhadap sekutu-sekutu Eropa dianggap sebagai salah satu alasan pengurangan dukungan militer ini. 

Trump sejak lama mengkritik rendahnya anggaran pertahanan negara-negara Eropa dan terus menegaskan bahwa Eropa harus memikul tanggung jawab pertahanannya sendiri lebih besar.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengakui bahwa NATO sedang mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu negara anggota dan memperkuat kemampuan pertahanan mandiri.

Hingga saat ini, Washington belum secara resmi mengumumkan rincian kebijakan terkait. Amerika Serikat diperkirakan akan memberikan informasi lebih lanjut dalam pertemuan pembahasan komposisi pasukan pada awal Juni mendatang.

Sumber : NTDTV.com

Seorang Wanita Menang Tiket Piala Dunia 2026 Setelah Membeli Pasta Gigi, Ada yang Menawar Rp1 Miliar Lebih untuk Membelinya

Baru-baru ini, seorang wanita di Henan, Tiongkok, menjadi perbincangan hangat setelah secara beruntung memenangkan satu tiket Piala Dunia babak “16 besar” melalui undian saat membeli pasta gigi di supermarket. Bahkan ada netizen yang menawarkan harga hingga 500 ribu yuan untuk membeli tiket tersebut.

EtIndonesia. Seorang wanita dari Provinsi Henan, Tiongkok pada 25 Mei mengunggah video di internet dan mengatakan bahwa beberapa hari sebelumnya ia membeli pasta gigi di sebuah supermarket di Nanyang, Henan, lalu mengikuti undian berhadiah. Tak disangka, ia memenangkan hadiah utama berupa “satu tiket pertandingan babak 16 besar Piala Dunia pada 3 Juli” yang akan digelar di Miami, Amerika Serikat.

Wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak dapat pergi langsung ke lokasi pertandingan, sehingga berharap bisa mengalihkan tiket itu kepada penggemar sepak bola yang benar-benar ingin menonton Piala Dunia.

Video yang beredar dengan cepat menjadi viral dan meraih ratusan ribu tayangan dalam waktu singkat. Kolom komentar pun ramai. Banyak netizen mendorong wanita itu agar tidak melewatkan kesempatan langka tersebut. Selain itu, sejumlah penggemar sepak bola menawarkan harga tinggi, mulai dari 100 ribu hingga 500 ribu yuan, untuk membeli tiket tersebut.

Pihak supermarket terkait membenarkan bahwa tiket itu asli. Undian tersebut merupakan bagian dari acara perayaan ulang tahun pusat perbelanjaan Kaiyuan Plaza yang berlangsung pada 23–24 Mei. Setiap pelanggan yang berbelanja minimal 128 yuan di toko mana pun di pusat perbelanjaan tersebut berhak mengikuti undian.

Staf supermarket menjelaskan bahwa “hadiah utama tiket Piala Dunia hanya ada satu, dan disediakan oleh merek pasta gigi sponsor.”

Pihak supermarket juga menegaskan bahwa pemenang harus melakukan verifikasi online sebelum menerima tiket. Jika tiket dijual kembali, hal itu merupakan tindakan pribadi pemenang. Mengenai apakah tiket menggunakan nama asli dan apakah dapat dipindahtangankan, pihak supermarket mengaku tidak mengetahui secara pasti dan mengingatkan calon pembeli agar berhati-hati.

2026 FIFA World Cup akan berlangsung pada 12 Juni hingga 20 Juli 2026 di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia diselenggarakan bersama oleh tiga negara.

Wanita pemenang tiket tersebut kembali menyatakan bahwa ia hanya ingin memberikan tiket itu kepada orang yang benar-benar ingin menonton sepak bola, dan berharap netizen yang sekadar ikut meramaikan bisa bersikap lebih rasional.

Reporter Luo Tingting / Editor: Wen Hui – NTD

Wabah Mematikan Ebola Bundibugyo di Kongo Menjadi yang Terbesar Ketiga dalam Sejarah

EtIndonesia.com – Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan wabah Ebola varian Bundibugyo di Democratic Republic of the Congo baru berlangsung beberapa minggu, namun jumlah total infeksinya sudah menjadi wabah Ebola terbesar ketiga dalam sejarah. 

Hingga saat ini, statistik World Health Organization (WHO) melaporkan lebih dari 900 kasus suspek dan lebih dari 220 kematian suspek. Namun, banyak pakar kesehatan masyarakat sepakat bahwa skala infeksi sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa kecepatan penyebaran virus masih melampaui upaya pengendalian, dan ia akan secara pribadi mengunjungi Kongo untuk menilai situasi di lapangan, lapor The Guardian. Pengamat Tang Hao juga memperingatkan bahwa Piala Dunia mendatang bisa menjadi titik risiko terbesar bagi jebolnya pertahanan perbatasan Amerika Serikat.

Varian Mematikan yang Terabaikan

Penyebab wabah ini adalah virus Bundibugyo—varian Ebola yang sangat langka. Virus ini dinamai dari wilayah pegunungan di Uganda barat tempat pertama kali muncul pada 2007, dan sebelum wabah kali ini hanya pernah menyebabkan dua wabah.

Karena sangat langka, laboratorium setempat bahkan tidak memasukkannya dalam protokol standar pemeriksaan Ebola, sehingga identifikasi mengalami keterlambatan besar dan memungkinkan virus menyebar secara diam-diam.

Pengamat Tang Hao mencatat bahwa tingkat kematian varian Bundibugyo mencapai sekitar 40 persen, jauh lebih tinggi dibanding tingkat kematian COVID-19 yang diperkirakan sebesar 1,08 persen. Yang lebih mengkhawatirkan, saat ini belum ada vaksin yang disetujui maupun pengobatan efektif untuk varian ini. Artinya, setelah terinfeksi, pasien pada dasarnya hanya dapat bergantung pada sistem imun mereka sendiri untuk bertahan hidup.

Virus ini menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh seperti darah, keringat, air liur, kotoran, dan muntahan penderita, bukan melalui udara seperti COVID-19. Meski tampak mengurangi risiko penularan, Tang Hao menegaskan bahwa kondisi ini justru membuat pengendalian lebih sulit—petugas medis, pekerja pemulasaraan jenazah, dan kontak dekat menghadapi risiko paparan yang sangat tinggi. Bahkan setelah meninggal, jenazah tetap sangat menular.

Di banyak komunitas lokal, tradisi pemakaman melibatkan menyentuh dan memandikan jenazah serta berkumpul untuk ritual berkabung bersama, yang menurutnya menjadi “celah budaya” dalam pengendalian epidemi.

Menurut Associated Press, pada 21 Mei terjadi insiden mengejutkan di kota tambang Rwampara di Kongo timur: setelah seorang pasien Ebola meninggal dunia, kerabatnya menyerbu fasilitas medis dan membakar seluruh bangunan—dilaporkan karena rumah sakit menolak menyerahkan jenazah untuk ritual pemakaman tradisional.

Tang Hao menyebut insiden itu sebagai “perang antarperadaban,” yang menunjukkan benturan mendalam antara protokol medis modern dan praktik budaya lokal, serta menandakan bahwa pengendalian wabah menghadapi tantangan yang jauh melampaui virus itu sendiri.

Banyak Faktor Penyebab Penyebaran Tak Terkendali

Provinsi Ituri, pusat wabah, terletak di timur laut Kongo dan berbatasan dengan Uganda serta Sudan Selatan, wilayah yang telah lama dilanda konflik bersenjata. Sekitar 2 juta orang mengungsi, puluhan juta menghadapi kekurangan pangan parah, dan kekerasan meningkat selama dua bulan terakhir, sehingga sangat menghambat penyaluran bantuan.

Masalah diperburuk oleh ketidakpercayaan publik yang mendalam terhadap pemerintah dan organisasi luar, yang secara langsung menghambat langkah penting seperti pelacakan kontak, karantina, dan distribusi vaksin.

Yang sangat mengkhawatirkan bagi komunitas kesehatan internasional adalah perkembangan baru: kematian terkonfirmasi juga telah dilaporkan di Provinsi Kivu Selatan di tenggara Kongo, lapor Reuters. Lokasi ini berjarak ratusan kilometer dari zona wabah awal, menandakan virus telah melakukan “lompatan” lintas wilayah.

Kivu Selatan saat ini dikuasai kelompok pemberontak M23, yang tidak memiliki pengalaman menangani wabah berskala besar dan kekurangan kapasitas medis maupun pengendalian, sehingga penyebaran tak terkendali sangat mungkin terjadi.

Tang Hao juga mengutip pernyataan mantan Direktur CDC AS sekaligus ahli virologi Robert Redfield.

Dalam wawancara dengan NewsNation, Redfield mengatakan wabah Ebola di Kongo biasanya dapat diidentifikasi dan dikendalikan dengan cepat saat baru terdapat 5–10 kasus. Sebaliknya, wabah saat ini baru terdeteksi ketika jumlah kasus sudah mencapai ratusan, keterlambatan yang menurutnya sangat mengkhawatirkan.

Redfield memperingatkan bahwa wabah ini dapat berkembang menjadi pandemi global lintas negara, dan menyebut Tanzania, Sudan Selatan, serta Rwanda sebagai negara dengan risiko limpahan penularan tertinggi.

Pertahanan Perbatasan AS di Bawah Tekanan

Menghadapi risiko penyebaran internasional, Amerika Serikat dengan cepat memperketat kontrol masuk.

Pada 21 Mei, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan pembatasan masuk baru: seluruh warga negara asing yang pernah mengunjungi Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam tiga minggu terakhir dilarang memasuki Amerika Serikat. Warga AS dan pemegang green card yang kembali dari wilayah tersebut wajib melalui Bandara Internasional Washington Dulles untuk pemeriksaan Ebola tambahan sebelum diizinkan masuk.

Mengapa Dulles dipilih sebagai satu-satunya titik pemeriksaan Ebola? Menurut Tang Hao, alasannya mencakup beberapa faktor: bandara itu merupakan pusat utama kedatangan pelancong Afrika yang transit melalui Eropa; memiliki fasilitas lengkap CDC, bea cukai, karantina, dan evaluasi medis; serta berada dekat dengan National Institutes of Health (NIH) dan rumah sakit yang mampu menangani penyakit menular berisiko tinggi.

Pendekatan ini mengikuti pelajaran dari wabah Ebola Afrika Barat tahun 2014, ketika AS menunjuk lima bandara untuk menyaring pelancong dari wilayah terdampak, dengan Dulles menangani sekitar 22 persen kedatangan tersebut. Kali ini, sistem dipersempit menjadi satu titik masuk guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko kebocoran.

Namun, pertahanan itu hampir langsung diuji. Menurut The New York Times, pada 21 Mei, penerbangan Air France 378 dari Paris menuju Detroit terpaksa dialihkan setelah otoritas AS menemukan seorang penumpang di dalam pesawat baru saja melakukan perjalanan dari Kongo, yang melanggar aturan masuk baru. Pesawat dialihkan ke Montreal, lebih dari 800 kilometer dari tujuan semula.

Air France menyatakan insiden itu terjadi akibat kesalahan operasional yang memungkinkan penumpang tersebut naik pesawat, namun rinciannya masih belum jelas.

Tang Hao menafsirkan insiden itu memiliki tiga implikasi: pertama, AS sedang mendorong garis pertahanannya keluar untuk memerangi epidemi di luar perbatasannya; kedua, keamanan nasional dan kesehatan publik telah menjadi isu politik sensitif menjelang pemilu sela mendatang; dan ketiga—yang paling penting—sebuah ajang olahraga global besar segera dimulai.

Piala Dunia: Risiko Penularan Besar

Pada 11 Juni, FIFA World Cup akan dimulai di Amerika Utara. Lebih dari 200 pemain top dari 48 negara akan berpartisipasi, dan lebih dari 100 juta penggemar diperkirakan bepergian ke kota-kota tuan rumah termasuk New York, Los Angeles, dan Dallas—lokasi yang sulit dijangkau oleh cakupan pemeriksaan Ebola secara menyeluruh.

Tang Hao memperingatkan bahwa Piala Dunia dapat menjadi titik kelemahan terbesar dalam pertahanan AS terhadap Ebola. Pergerakan internasional berskala besar secara signifikan meningkatkan kemungkinan kegagalan pemeriksaan. Bahkan satu orang terinfeksi tanpa gejala atau masih dalam masa inkubasi dapat memicu rantai penularan yang tidak terlacak.

Meski Kongo telah membatalkan kamp pelatihan pra-Piala Dunia untuk mengurangi risiko infeksi, tim nasionalnya tetap berencana berangkat ke AS untuk bertanding, menciptakan sinyal yang saling bertentangan dan mempersulit upaya pencegahan.

Virus Masih Jauh dari Terkendali: Dunia Harus Bertindak Cepat

Gejala Ebola semakin mempersulit pengendalian. Pada tahap awal, infeksi menimbulkan demam, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, dan sakit tenggorokan—hampir tidak dapat dibedakan dari influenza. Baru setelah empat hingga lima hari muncul gejala yang lebih parah, termasuk diare, muntah, ruam, serta pendarahan internal maupun eksternal yang dapat menyebabkan gagal hati dan ginjal.

Selama masa inkubasi, pasien mungkin sudah mampu menularkan virus, sehingga deteksi dini menjadi salah satu tantangan paling sulit dalam pengendalian wabah.

Tang Hao juga menyoroti bahwa meningkatnya pertukaran ekonomi dan personel antara Tiongkok dan Afrika, ditambah sulitnya mendeteksi varian Bundibugyo melalui tes konvensional, menimbulkan risiko tersembunyi bagi Tiongkok dan kawasan Asia-Pasifik secara lebih luas.

Secara keseluruhan, dunia saat ini berada dalam perlombaan berisiko tinggi melawan waktu. Vaksin belum dapat dikerahkan dengan cepat, kondisi lokal di wilayah wabah masih tidak stabil, dan mobilitas global semakin meningkat akibat ajang seperti Piala Dunia. Di bawah tekanan gabungan ini, peringatan Direktur Jenderal WHO Tedros semakin terasa berat:

“Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi bergerak lebih cepat daripada kami.”

Sumber : Visiontimes.com

AS-Iran Mencapai Kesepakatan Gencatan Senjata Selama 60 Hari 

Kesepakatan 60 hari itu menunggu persetujuan akhir dari Trump, kata seorang sumber AS.

EtIndonesia.com —Amerika Serikat dan Iran untuk sementara telah menyetujui sebuah nota kesepahaman selama 60 hari guna memperpanjang gencatan senjata yang berlaku saat ini. Gencatan senjata ini memungkinkan negosiasi lebih lanjut mengenai program nuklir Iran, demikian dikonfirmasi seorang sumber pemerintah AS kepada The Epoch Times.

Kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump, kata sumber itu pada 28 Mei. Axios pertama kali melaporkan perkembangan terbaru gencatan senjata.

Kesepahaman itu dicapai setelah Trump memerintahkan aksi militer ofensif terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu 38 hari pertempuran berskala besar sebelum Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata pada 7 April.

Ketegangan tetap tinggi meskipun ada gencatan senjata.  Pasukan AS serta Iran telah beberapa kali saling baku tembak, termasuk beberapa putaran serangan semalam pada 27 Mei.

Komando Pusat AS mengatakan tindakan terbaru Iran, termasuk peluncuran drone yang menargetkan Selat Hormuz dan peluncuran rudal yang menargetkan Kuwait, merupakan “pelanggaran gencatan senjata yang sangat serius.”

Sebaliknya, Teheran merasa keberatan atas blokade berkelanjutan AS terhadap sejumnlah pelabuhan Iran, yang dimulai Trump hanya beberapa hari setelah gencatan senjata 7 April.

Komando Pusat AS pada 28 Mei melaporkan bahwa pasukan AS telah mengalihkan 111 kapal sehubungan dengan operasi blokade tersebut. Pasukan AS juga menggunakan tembakan pelumpuh terhadap beberapa kapal kargo Iran.

Kekhawatiran Nuklir Memicu Kebuntuan

Trump telah berjanji untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, dan menjadikan ancaman tersebut sebagai alasan peluncuran operasi tempur.

Para anggota pemerintahan Trump, termasuk Menteri Perang Pete Hegseth, menggambarkan aksi tempur terbaru AS sebagai upaya untuk membongkar perlindungan militer Iran yang dapat digunakan untuk menahan serangan jika negara itu berupaya cepat memperoleh senjata nuklir.

Para pemimpin Iran berulang kali mengatakan program nuklir negara itu bersifat damai, meskipun para pengamat internasional tetap skeptis mengingat kemajuan yang telah dicapai sejauh ini.

Setelah Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan memulai kampanye “tekanan maksimum” berupa sanksi ekonomi baru, Teheran mulai meningkatkan cadangan uranium secara keseluruhan dan memperkaya uranium ke tingkat kemurnian yang lebih tinggi, sehingga semakin mendekati bahan bakar nuklir tingkat senjata, menurut Badan Energi Atom Internasional.

Tahun lalu, Trump memerintahkan pasukan AS, termasuk pembom siluman B-2 Spirit, untuk melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di Isfahan, Fordow, dan Natanz.

Dalam negosiasi terbaru, Trump berfokus pada bagaimana melucuti Iran dari cadangan uranium yang diperkaya tinggi, yang mungkin masih terkubur di fasilitas yang diserang tahun lalu.

Dalam rapat kabinet pada 27 Mei, Trump menolak gagasan membiarkan Iran memindahkan cadangan uraniumnya ke Tiongkok atau Rusia, yang keduanya merupakan negara bersenjata nuklir.

“Saya tidak akan merasa nyaman dengan itu,” kata presiden.

Sebaliknya, Trump menawarkan tiga opsi: Iran menyerahkan cadangan uraniumnya kepada Amerika Serikat, menghancurkannya di tempat, atau setuju untuk menghancurkannya di bawah pengawasan pemantau pengawas nuklir.

Sepanjang pembicaraan terbaru, pejabat Iran mengatakan program nuklir adalah hak kedaulatan mereka dan menyatakan keinginan untuk mempertahankan sebagian kapasitas pengayaan domestik dalam hasil akhir.

Isu Lain Membebani Negosiasi

Beberapa faktor lain juga dapat menjadi tantangan bagi Washington dan Teheran untuk mencapai nota kesepahaman 60 hari tersebut serta mendorong penyelesaian permanen atas kebuntuan saat ini di Timur Tengah.

Pada akhir pekan lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan nota kesepahaman yang sedang disusun akan memprioritaskan penghentian permusuhan dan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Hal demikian dilakukan sebelum membuka jalan bagi tahap negosiasi berikutnya. Negosiasi yang dimaksud adalah membahas program nuklir Iran dan isu lain yang menjadi kepentingan bersama.

Pasukan Iran mulai menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Teluk Persia sebagai bagian dari respons mereka terhadap serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Di tengah gencatan senjata dan blokade AS, Teheran bergerak memformalkan kendali Iran atas lalu lintas selat tersebut dengan mengumumkan administrasi tarif baru.

Departemen Keuangan AS pada 28 Mei menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap kantor tarif Iran yang baru dibentuk tersebut.

Baghaei juga mengindikasikan bahwa nota kesepahaman yang sedang dibahas akan membuka jalan bagi pelonggaran sanksi terhadap Iran di masa mendatang.

Dalam rapat kabinet 27 Mei, Trump mengatakan ia tidak mempertimbangkan pencabutan sanksi secara langsung, tetapi mengisyaratkan terbuka terhadap kemungkinan pelepasan aset Iran yang dibekukan di kemudian hari.

“Kami mengendalikan uang yang mereka klaim sebagai milik mereka,” katanya. “Kami akan tetap mengendalikan uang itu. Ketika mereka berperilaku dengan baik, dan ketika mereka melakukan hal yang benar, kami akan membiarkan mereka mendapatkan uang mereka.”

Dukungan Iran terhadap kelompok teroris yang ditetapkan secara internasional, khususnya Hezbollah di Lebanon, juga dapat meningkatkan taruhan dalam negosiasi. Dalam pidato utama pada 1 April, Trump mengatakan operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran dirancang untuk melumpuhkan dukungan Teheran terhadap terorisme.

Ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, Hezbollah memulai putaran baru serangan yang menargetkan Israel. Sebagai tanggapan, pasukan udara Israel meningkatkan serangan di seluruh Lebanon, dan pasukan darat Israel yang telah menduduki wilayah selatan negara itu memperluas patroli dan penggerebekan darat.

Pasukan Israel terus menyerang Lebanon bahkan setelah Amerika Serikat dan Iran memasuki gencatan senjata 7 April, sehingga memicu kecaman dari Teheran. Amerika Serikat kemudian menengahi gencatan senjata paralel untuk Lebanon, meskipun pertempuran di sana masih terus berlanjut.

Sumber : Theepochtimes.com

109 Kapal Dialihkan, Iran Meledak Beruntun, Israel Terima KC-46: Timur Tengah Memanas Total

EtIndonesia.com. Pada 27 Mei 2026, situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian ledakan dan perkembangan militer besar terjadi hampir bersamaan di Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pusat energi utama Iran diguncang ledakan dahsyat, Washington melontarkan ancaman keras terkait Selat Hormuz, sementara Israel resmi menerima pesawat tanker udara strategis yang diyakini dapat memperluas kemampuan serangan jarak jauh terhadap Iran.

Rangkaian peristiwa ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa kawasan Timur Tengah sedang bergerak menuju fase konfrontasi yang jauh lebih berbahaya.

Ledakan Besar Hantam Kompleks Petrokimia Terbesar Iran

Media dalam negeri Iran pada 27 Mei melaporkan bahwa ledakan besar terjadi di kawasan industri energi Asalouyeh, Provinsi Bushehr, wilayah yang dikenal sebagai jantung industri petrokimia dan gas alam Iran.

Ledakan tersebut terjadi di fasilitas milik perusahaan energi Damavand yang berada di dalam kompleks industri raksasa tersebut. Menurut laporan resmi pemerintah Iran, kecelakaan terjadi pada unit pemrosesan udara dan sistem pemisahan gas di area fasilitas.

Pemerintah Iran menyatakan satu pekerja tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka. Namun, sejumlah sumber dari luar Iran menyebut jumlah korban kemungkinan jauh lebih besar, bahkan dilaporkan terdapat anggota Garda Revolusi Iran yang ikut tewas maupun terluka dalam insiden tersebut.

Asalouyeh merupakan salah satu pusat energi paling strategis bagi Iran. Wilayah ini menjadi pusat pengolahan gas South Pars, ladang gas terbesar di dunia yang menjadi tulang punggung ekonomi energi Teheran.

Kawasan itu sebelumnya juga pernah dilaporkan menjadi sasaran serangan udara Israel pada awal April 2026. Sejak saat itu, beberapa ledakan misterius dan kebakaran beruntun terus terjadi di berbagai fasilitas industri Iran, memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi sabotase tersembunyi.

Video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan kobaran api besar dan asap hitam pekat membumbung tinggi dari area industri tersebut. Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan rinci mengenai penyebab pasti ledakan.

Trump Tegaskan Selat Hormuz Bukan Milik Negara Mana Pun

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar rapat kabinet penting di Gedung Putih pada siang hari 27 Mei 2026 bersama seluruh anggota kabinetnya.

Rapat tersebut menjadi sorotan internasional karena membahas eskalasi terbaru di Timur Tengah dan masa depan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang tidak boleh dikuasai atau dikendalikan oleh negara mana pun.

Pernyataan itu muncul setelah Iran dan Oman dikabarkan membahas kemungkinan kerja sama pengelolaan kawasan strategis tersebut.

Trump kemudian melontarkan peringatan keras yang langsung memicu perhatian dunia internasional.

“Oman sebaiknya tahu apa yang sedang mereka lakukan. Jika tidak, kami mungkin terpaksa membombardir mereka,” ujar Trump dalam pernyataan yang dikutip berbagai media Amerika.

Ucapan tersebut segera memicu gelombang reaksi karena dianggap sebagai salah satu ancaman paling keras yang pernah disampaikan Washington terkait Selat Hormuz dalam beberapa tahun terakhir.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati wilayah sempit tersebut setiap hari. Karena itu, setiap ancaman terhadap stabilitas kawasan langsung berdampak pada pasar energi internasional.

AS: Diplomasi Masih Utama, Tapi Opsi Militer Sudah Siap

Dalam rapat kabinet yang sama, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa Washington tetap berharap persoalan nuklir Iran dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.

Namun ia juga memperingatkan bahwa militer Amerika telah menyiapkan berbagai opsi jika negosiasi gagal.

Menurut Hegseth, tujuan utama Washington adalah memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa beberapa jam hingga beberapa hari ke depan akan menjadi periode paling menentukan bagi pembicaraan damai dan denuklirisasi antara Washington dan Teheran.

Rubio menegaskan bahwa jalur diplomatik masih menjadi prioritas utama Amerika Serikat, namun ia mengakui situasi saat ini berada pada titik yang sangat sensitif.

Dalam wawancara telepon dengan PBS pada hari yang sama, Trump juga menyatakan bahwa sekalipun Iran menyerahkan uranium berkadar pengayaan tinggi, Amerika Serikat belum tentu akan langsung mencabut sanksi terhadap Teheran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington masih mempertahankan tekanan maksimum terhadap Iran di tengah negosiasi yang berlangsung sangat alot.

Ledakan Misterius Guncang Gedung di Teheran

Pada hari yang sama, laporan lain juga muncul dari ibu kota Iran.

Media dan video yang beredar di internet menunjukkan ledakan besar terjadi di Gedung Pamchal No. 6 di Teheran. Rekaman video memperlihatkan api besar dan asap hitam tebal keluar dari bagian dalam bangunan tersebut.

Beberapa laporan menyebut insiden itu kemungkinan bukan kecelakaan biasa, melainkan operasi “pembunuhan terarah” terhadap target tertentu.

Spekulasi tersebut menguat setelah muncul informasi bahwa gedung itu memiliki hubungan dengan yayasan kerja sama militer Iran.

Hingga malam 27 Mei 2026, pemerintah Iran belum mengeluarkan komentar resmi terkait insiden tersebut.

USS Lincoln dan Operasi Blokade Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln sedang menjalankan operasi penerbangan rutin untuk mendukung berbagai misi militer Amerika di Timur Tengah.

Dalam unggahan resminya di platform X, CENTCOM menyatakan bahwa operasi lepas landas dan pendaratan pesawat di kapal induk membutuhkan koordinasi yang sangat kompleks antara pelaut dan marinir Amerika.

Selain itu, sebuah helikopter MH-60R Seahawk dilaporkan baru menyelesaikan patroli di Laut Arab untuk mendukung operasi blokade terhadap Iran sebelum mendekati kapal perusak USS Bulkeley.

Menurut laporan terbaru hingga 27 Mei 2026, sedikitnya 109 kapal dagang telah dialihkan rutenya guna memastikan kepatuhan terhadap operasi pengawasan dan blokade maritim yang berlangsung di kawasan tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran masih terus diperkuat, bahkan ketika jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup.

Israel Resmi Terima KC-46, Kemampuan Serangan Jarak Jauh Melonjak

Sementara itu, perkembangan penting juga datang dari Israel.

Pada 27 Mei 2026, militer Israel mengumumkan bahwa Angkatan Udara Israel resmi menerima pesawat tanker udara Boeing KC-46 pertama dari Amerika Serikat.

Pesawat itu merupakan unit pertama dari enam KC-46 yang dibeli oleh Kementerian Pertahanan Israel.

Kehadiran KC-46 dianggap sebagai peningkatan besar dalam kemampuan tempur strategis Israel, terutama untuk operasi serangan jarak jauh terhadap Iran maupun target lain di kawasan Timur Tengah.

KC-46 merupakan pesawat tanker udara multifungsi canggih yang mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara untuk jet tempur dan pesawat militer lainnya. Pesawat ini juga dapat digunakan untuk transportasi logistik dan pasukan.

Menurut pihak Boeing, KC-46 saat ini merupakan salah satu pesawat tanker udara paling modern di dunia.

Militer Israel menyatakan bahwa apabila pesawat tersebut sudah dioperasikan dalam konflik sebelumnya melawan Iran, maka jangkauan operasi tempur Israel akan meningkat drastis.

Dengan kemampuan pengisian bahan bakar di udara, jet tempur Israel dapat bertahan lebih lama di wilayah operasi dan menjangkau target-target yang jauh lebih dalam.

Analis militer menilai kedatangan KC-46 merupakan bagian dari pembangunan kekuatan militer jangka panjang antara Israel dan pemerintahan Trump di tengah meningkatnya ancaman regional.

Israel Tingkatkan Tekanan terhadap Hizbullah dan Hamas

Meski ketegangan langsung antara Amerika Serikat dan Iran untuk sementara tampak sedikit mereda, Israel justru terus meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk mengepung dan melemahkan seluruh jaringan proksi Iran di Timur Tengah.

Karena itu, penghentian operasi militer Israel juga dilaporkan menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Iran dalam berbagai pembicaraan gencatan senjata dan negosiasi regional.

Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa operasi militer Israel akan dihentikan dalam waktu dekat.

Dengan ledakan yang terus mengguncang Iran, ancaman terbuka dari Washington, serta peningkatan kemampuan militer Israel, kawasan Timur Tengah kini kembali berada dalam situasi yang sangat rapuh.

Banyak pengamat internasional memperingatkan bahwa kesalahan kecil saja dapat memicu konflik regional berskala jauh lebih besar dalam beberapa minggu mendatang. (***)

Saat Malam Mencekam di Timur Tengah: Rudal Israel Menghujani Gaza, Kapal Iran Dihancurkan AS

EtIndonesia.com.  Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya pada 26 Mei 2026. Militer Israel mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran di Jalur Gaza dengan menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah Hamas sepanjang hampir 7 mil atau sekitar 11 kilometer. Di saat yang sama, bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali pecah di kawasan Selat Hormuz, memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.

Israel Klaim Hancurkan Salah Satu Jaringan Terowongan Hamas Terbesar

Pada 26 Mei 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menghancurkan salah satu jaringan terowongan bawah tanah Hamas terbesar di wilayah utara Jalur Gaza sejak perang kembali memanas.

Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut jaringan bawah tanah tersebut memiliki panjang hampir 11 kilometer dan tersebar di sejumlah titik strategis di Gaza utara. Operasi penghancuran itu disebut melibatkan pasukan darat, unit teknik tempur, drone pengintai, hingga dukungan serangan udara presisi.

IDF bahkan merilis visualisasi efek 3D yang memperlihatkan skala kompleks jaringan lorong bawah tanah tersebut. Dari gambar yang dipublikasikan, terlihat bahwa terowongan-terowongan itu saling terhubung dan membentuk sistem bawah tanah yang luas.

Menurut militer Israel, jumlah lorong yang ditemukan di kawasan tersebut sangat mengejutkan. Sebagian terowongan disebut berada di dekat fasilitas sipil dan kawasan padat penduduk, sementara beberapa lainnya diduga digunakan sebagai jalur pergerakan militan Hamas, tempat penyimpanan senjata, hingga pusat komando tersembunyi.

Israel menyatakan bahwa operasi ini menjadi salah satu penghancuran infrastruktur bawah tanah terbesar sejak konflik Gaza kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Ratusan Fasilitas Hamas di Atas Permukaan Ikut Dihancurkan

Selain menghancurkan jaringan bawah tanah, Israel juga mengklaim telah merusak ratusan fasilitas Hamas di atas permukaan tanah.

Target-target tersebut disebut mencakup gudang logistik, pusat komunikasi, bangunan operasional, lokasi peluncuran roket, serta berbagai fasilitas yang menurut Israel digunakan oleh kelompok Hamas untuk mendukung aktivitas militer mereka.

Serangan udara Israel di Jalur Gaza juga dilaporkan terus berlangsung tanpa henti sepanjang 26 Mei. Fokus utama operasi kini diarahkan untuk memburu dan menyingkirkan petinggi Hamas yang masih tersisa di wilayah tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel memang meningkatkan operasi pembunuhan terarah terhadap tokoh-tokoh senior Hamas. Langkah itu disebut sebagai bagian dari strategi untuk melumpuhkan struktur komando kelompok tersebut secara menyeluruh.

Israel Kembali Gempur Hizbullah di Lebanon Selatan

Ketegangan tidak hanya terjadi di Gaza. Pada hari yang sama, militer Israel juga merilis rekaman video serangan udara terhadap target milik Hizbullah di Lebanon selatan.

Menurut keterangan IDF, target yang diserang merupakan sebuah bangunan yang digunakan oleh anggota Hizbullah untuk aktivitas operasional.

Video yang dipublikasikan memperlihatkan momen ketika rudal Israel menghantam bangunan tersebut secara langsung. Ledakan besar terlihat menghancurkan gedung hingga berkeping-keping dalam hitungan detik.

Israel menegaskan bahwa operasi terhadap Hizbullah akan terus dilanjutkan selama kelompok tersebut masih dianggap mengancam keamanan wilayah utara Israel.

Serangan lintas batas antara Israel dan Hizbullah memang terus terjadi sejak konflik Gaza kembali meningkat. Situasi itu membuat kawasan perbatasan Lebanon-Israel tetap berada dalam kondisi sangat tegang.

Rumor “Operation Freedom” Picu Kehebohan di Selat Hormuz

Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju pada perkembangan terbaru di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Pada 26 Mei 2026, sejumlah media Amerika, termasuk The Wall Street Journal, melaporkan bahwa militer Amerika Serikat disebut telah kembali mengaktifkan “Operation Freedom” atau “Rencana Kebebasan”.

Operasi tersebut sebelumnya dikenal sebagai misi pengawalan kapal dagang internasional di kawasan Selat Hormuz guna melindungi jalur pelayaran dari ancaman militer Iran.

Laporan media AS bahkan menyebut beberapa kapal dagang telah berhasil keluar dari kawasan berbahaya dengan pengawalan militer.

Namun tidak lama kemudian, kabar tersebut langsung dibantah oleh United States Central Command atau CENTCOM.

Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menegaskan bahwa informasi mengenai dimulainya kembali pengawalan kapal dagang oleh Angkatan Laut Amerika tidak benar.

Militer AS menyatakan bahwa hingga saat ini “Operation Freedom” belum diaktifkan kembali dan Washington juga belum memiliki rencana resmi untuk melakukan pengawalan kapal di Selat Hormuz.

Bentrokan Baru AS-Iran Dilaporkan Pecah

Meski demikian, situasi di kawasan itu ternyata tetap memanas.

Menurut sumber militer Amerika, pada malam sebelum pengumuman tersebut, terjadi bentrokan baru antara pasukan Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz.

Pihak Amerika menuduh dua kapal cepat milik Garda Revolusi Iran berusaha secara diam-diam memasang ranjau laut di jalur pelayaran strategis. Aktivitas itu disebut berhasil terdeteksi oleh pesawat pengintai Amerika Serikat.

Setelah itu, sistem rudal darat-ke-udara di sekitar Pelabuhan Abbas dilaporkan mengunci jet tempur AS yang sedang melakukan patroli di kawasan tersebut.

Berdasarkan otorisasi dari CENTCOM, militer Amerika kemudian melancarkan serangan balasan.

Amerika Serikat mengklaim berhasil menghancurkan dua kapal cepat Garda Revolusi Iran serta menyerang posisi rudal yang dianggap terkait dengan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.

Media Iran kemudian melaporkan bahwa beberapa anggota Garda Revolusi tewas dalam insiden tersebut.

Washington menyebut operasi itu sebagai tindakan defensif yang dilakukan di dalam zona operasi militer demi menjaga keamanan pelayaran internasional.

Negosiasi AS-Iran Masuk Fase Sangat Sensitif

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, negosiasi antara Washington dan Teheran juga dilaporkan memasuki tahap paling sensitif.

Menurut berbagai laporan media Amerika, Iran meminta pencairan dana sebesar 24 miliar dolar AS sebagai salah satu syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Namun tim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan menolak permintaan tersebut.

Washington menegaskan bahwa bantuan finansial baru akan diberikan apabila Iran benar-benar menjalankan seluruh kewajiban dalam perjanjian yang sedang dibahas.

Selain itu, Amerika Serikat juga meminta Iran menghentikan seluruh program senjata nuklir serta tidak melakukan pengendalian terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Perundingan kedua negara disebut berlangsung sangat alot karena kedua pihak masih saling menekan dalam isu keamanan dan ekonomi.

Trump Gelar Rapat Kabinet Langka di Camp David

Di tengah situasi yang semakin panas, Presiden Donald Trump dijadwalkan menggelar rapat kabinet penting di Camp David pada Selasa, 27 Mei 2026.

Menurut laporan Fox News, seluruh anggota kabinet diperkirakan hadir dalam pertemuan tersebut.

Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, yang dikabarkan segera mengundurkan diri.

Media Amerika juga mengungkap bahwa sebelum operasi militer besar terhadap Iran pada Juni tahun lalu yang dikenal sebagai “Operation Five Page Hammer”, Trump juga sempat menggelar rapat tertutup bersama pejabat tinggi di Camp David.

Hal itu memunculkan spekulasi bahwa pertemuan terbaru kali ini kemungkinan berkaitan dengan situasi keamanan Timur Tengah yang semakin tidak stabil.

Pemimpin Tertinggi Iran Disebut Masih Bersembunyi

Dalam laporan lain yang juga dirilis Fox News pada 26 Mei, sejumlah pakar kontra-terorisme menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba, saat ini masih menggunakan jaringan kurir rahasia untuk menyampaikan dan menyetujui keputusan strategis terkait negosiasi dengan Amerika Serikat.

Mereka mengatakan bahwa tokoh tersebut tetap menjadi target utama operasi intelijen dan militer sehingga terus berpindah lokasi persembunyian demi menghindari pelacakan.

Laporan tersebut semakin memperlihatkan betapa sensitif dan rapuhnya situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini.

Dengan konflik Gaza yang terus berkobar, serangan Israel terhadap Hizbullah yang belum berhenti, serta meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, dunia kini menghadapi risiko eskalasi yang semakin sulit diprediksi dalam beberapa hari ke depan. (***)

AS, Jepang, India, dan Australia Luncurkan Empat Inisiatif Besar untuk Membendung Ekspansi Tiongkok di Indo-Pasifik

Kelompok Quadrilateral Security Dialogue yang terdiri dari Amerika Serikat, Jepang, India, dan Australia mengadakan pertemuan menteri luar negeri di New Delhi pada Selasa (26 Mei). Menghadapi ekspansi militer dan pengaruh ekonomi Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang terus meluas di kawasan Indo-Pasifik, serta krisis Selat Hormuz yang mempengaruhi pasokan energi global, keempat negara meluncurkan sejumlah inisiatif kerja sama di bidang mineral penting, keamanan energi, pengawasan maritim, dan pembangunan infrastruktur pelabuhan.

EtIndonesia. Pada 26 Mei, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersama Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, dan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri Quad di New Delhi.

Keempat negara menyatakan akan memperkuat mekanisme kerja sama kawasan dan memperdalam strategi di bidang energi, rantai pasokan, serta pembangunan pelabuhan di Indo-Pasifik guna menghadapi ekspansi militer PKT di Laut China Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pihak AS mengumumkan pembentukan “Kerangka Mineral Penting Quad” untuk mengurangi ketergantungan global terhadap rantai pasokan yang didominasi PKT.

“Kami akan mengumumkan ‘Kerangka Mineral Penting Quad’, yang akan menjadi pedoman bagi negara-negara kami dalam menggunakan instrumen kebijakan ekonomi dan mengkoordinasikan investasi guna memperkuat rantai pasokan mineral penting, termasuk di bidang penambangan, pemrosesan, dan daur ulang mineral penting,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. 

Keempat negara juga meluncurkan “Inisiatif Keamanan Energi Indo-Pasifik” untuk memperkuat pasokan bahan bakar, ketahanan energi, dan koordinasi tanggap darurat. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong memperingatkan bahwa krisis di Selat Hormuz telah secara langsung mengancam keamanan energi dan ekonomi kawasan Indo-Pasifik.

Quad juga mengumumkan peluncuran “Mekanisme Kerja Sama Pengawasan Maritim Indo-Pasifik” yang baru, dengan mengintegrasikan kemampuan pengawasan laut empat negara dan memperkuat pertukaran informasi kawasan.

Rubio menekankan pentingnya perairan Indo-Pasifik bagi ekonomi dunia.

“60% perdagangan maritim global melewati kawasan Indo-Pasifik.”

Selain itu, Quad juga akan meluncurkan “Program Kemitraan Pelabuhan Masa Depan” di Fiji, yang dipandang sebagai langkah penting untuk memperdalam pengaruh keempat negara di kawasan Pasifik.

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi setelah pertemuan mengatakan bahwa keempat negara sepakat untuk dengan tegas menentang “upaya mengubah status quo secara sepihak dengan kekuatan”, yang dinilai banyak pihak sebagai sindiran langsung terhadap PKT.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio hari ini mengakhiri kunjungan empat harinya di India. Setelah memperkuat hubungan bilateral dengan New Delhi, ia telah meninggalkan India menuju Armenia.

Sumber : NTDTV.com

Dinas Pertanian di Tiongkok Menunggak Utang, Perusahaan Swasta Gunakan Drone dengan Spanduk Raksasa untuk Menagih Pembayaran

EtIndonesia. Pemerintah daerah partai komunis Tiongkok yang menunggak hutang kini telah menjadi hal biasa, dan para kreditur seringkali kesulitan menagih pembayaran. Baru-baru ini, sebuah perusahaan swasta di Shandong menggunakan drone dengan spanduk untuk menuntut Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe membayar hutangnya, sehingga menarik perhatian publik.

Video yang beredar di internet memperlihatkan sebuah drone terbang sambil membawa spanduk merah bertuliskan: “Biro Pertanian Kabupaten Shanghe: Sudah tiga tahun, cepat bayar hutangnya!”

Video tersebut juga menampilkan surat pemberitahuan pemenang tender yang menunjukkan bahwa perusahaan terkait adalah Shandong Junshen Carbon Hydrogen Biotechnology Co., Ltd. (selanjutnya disebut “Perusahaan Junshen”). Pada Mei 2023, perusahaan ini memenangkan proyek pengadaan pemerintah Kabupaten Shanghe untuk program gandum “satu penyemprotan tiga pencegahan” dengan nilai lebih dari 1,2 juta yuan.

Pada 26 Mei, seorang penanggung jawab perusahaan bermarga Gao mengatakan kepada media daratan bahwa proyek tersebut merupakan operasi “satu penyemprotan tiga pencegahan” pada musim pertumbuhan gandum tahun 2023, yaitu menggunakan drone untuk menyemprot pestisida guna mencegah penyakit tanaman, hama, dan angin panas kering. Dana proyek tersebut berasal dari anggaran khusus departemen pertanian dan pedesaan.

Gao mengatakan bahwa perusahaannya sebenarnya memenangkan bukan hanya satu paket proyek, melainkan enam paket, dengan total nilai kontrak lebih dari 3,6 juta yuan.

“Pekerjaannya selesai dalam tujuh hari, tetapi pembayaran terus ditunda,” katanya.

Menurut salinan perjanjian pembayaran kembali yang diberikan Gao, bertanggal 17 Desember 2024 dan dibubuhi cap resmi Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe, total biaya layanan yang diberikan Perusahaan Junshen mencapai 3,6849 juta yuan. Dari jumlah itu, biro tersebut baru membayar 270 ribu yuan dan masih menunggak 3,4149 juta yuan.

Kedua pihak sepakat pembayaran dilakukan secara bertahap:

  • sebelum 26 Januari 2025 membayar 500 ribu yuan;
  • sebelum 30 Oktober 2025 membayar 1,5 juta yuan;
  • sebelum 30 Januari 2026 membayar 1,4149 juta yuan.

Namun Gao mengatakan, pembayaran pertama hanya masuk 400 ribu yuan, pembayaran kedua sebesar 1,5 juta yuan hanya dibayar 100 ribu yuan, sedangkan pembayaran ketiga sebesar 1,4149 juta yuan hanya dibayar 50 ribu yuan.

Gao mengeluhkan bahwa “setiap kali mereka tidak menjalankan perjanjian sesuai kesepakatan”. Hingga kini, masih ada lebih dari 2,8 juta yuan yang belum dibayar.

Ia juga mengatakan bahwa di antara para pekerja perusahaan terdapat orang-orang dengan kondisi keluarga sulit dan orang tua yang sakit. Penunggakan pembayaran jangka panjang telah memengaruhi operasional normal perusahaan.

“Benar-benar sudah tidak ada cara lain, makanya kami membuat video itu,” ujarnya.

Pada pagi 26 Mei, seorang staf kantor Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe menanggapi bahwa dirinya “tidak terlalu memahami” detail tunggakan tersebut.

Informasi dari Platform Nasional Transaksi Sumber Daya Publik Tiongkok menunjukkan bahwa perusahaan pemenang tender proyek layanan “satu penyemprotan tiga pencegahan” gandum Kabupaten Shanghe tahun 2023 memang adalah Perusahaan Junshen. Pihak pemberi tender adalah Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe, dan proyek itu mencakup layanan pengendalian di enam wilayah kecamatan, termasuk Longsangsi, Shahe, Zhenglu, Sunji, Hanmiao, dan Yinxiang.

Laporan ini memicu perhatian luas. Warganet berkomentar:

  • “Berulang kali melanggar janji pembayaran, di mana kredibilitas pemerintah?”
  • “Lagi-lagi pekerjaan selesai tapi uang tidak dibayar.”
  • “Menagih upah memang terlalu sulit, sampai terpaksa melakukan ini.”
  • “Kalau tidak diekspos, mereka akan terus menunda pembayaran.”

Pada 26 Mei sore, seorang pejabat Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe menanggapi bahwa “kami sudah berbicara lewat telepon dengan pihak terkait dan sedang bernegosiasi untuk menyelesaikan masalah ini”. Namun kondisi sebenarnya masih belum jelas. (***)

Sumber : NTDTV.com

Perkembangan Terbaru Pembangunan Pangkalan Bulan AS

EtIndonesia.com.  Administrator NASA, Jared Isaacman, pada 26 Mei pukul 14.00 waktu Pantai Timur AS menghadiri konferensi pers siaran langsung di markas NASA. Dalam acara tersebut, jajaran pimpinan lembaga akan membahas perkembangan terbaru proyek pangkalan bulan, termasuk mitra industri baru yang bergabung serta perencanaan misi mendatang. NTDTV dan Epoch Times menayangkan siaran langsung daring dengan terjemahan subtitle secara real-time.

Peserta yang hadir meliputi:

  • Administrator NASA, Jared Isaacman;
  • Wakil Administrator sementara Divisi Ilmu Bumi (ESDMD), Lori Glaze;
  • Direktur Eksekutif proyek pangkalan bulan, Carlos García-Galán.

Sebagai bagian dari program Artemis Program milik NASA, Amerika Serikat sedang membangun sebuah pangkalan di bulan yang bertujuan menyediakan habitat untuk eksplorasi bulan jangka panjang dan penelitian ilmiah.

“Pangkalan Bulan” merupakan sebuah inisiatif untuk mendorong eksplorasi dan pembangunan infrastruktur di bulan. Tujuannya adalah mewujudkan keberadaan manusia jangka panjang di wilayah kutub selatan bulan, sekaligus memperluas kegiatan ilmiah dan komersial terkait.

Di masa depan, misi robotik akan bekerja bersama para astronaut untuk melakukan penelitian di bulan dan membantu mempersiapkan misi eksplorasi manusia ke Mars. (***)

AS–Iran di Titik Kritis Perundingan, Trump Cegah Israel Membombardir Hizbullah

EtIndonesia. Laporan Fox News menyebutkan Presiden Donald Trump pada Selasa (26 Mei) berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan meminta militer Israel menghentikan sementara serangan terhadap Hezbollah agar tidak merusak perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sedang memasuki tahap krusial.

Selain itu, Presiden Trump pada sore hari mengumumkan pembatalan rapat kabinet penuh yang semula dijadwalkan berlangsung besok di Camp David, dan menggantinya dengan pertemuan di Gedung Putih. Pengamat menilai bahwa perkembangan kesepakatan AS–Iran kemungkinan akan menjadi fokus utama dalam rapat tingkat tinggi tersebut.

Menurut laporan Fox News yang mengutip media berbahasa Ibrani, sumber informasi menyebutkan bahwa Presiden Trump berbicara dengan Netanyahu pada Selasa sore. Sebelumnya, Netanyahu telah mengadakan rapat kabinet keamanan dan bersiap meningkatkan serangan terhadap Hizbullah. Namun pihak Trump meminta Israel tidak menyerang Beirut agar tidak mengganggu perundingan AS–Iran yang sedang berada pada tahap penting.

Sementara itu, New York Post mengutip seorang pejabat Gedung Putih yang mengatakan bahwa Presiden Trump awalnya dijadwalkan melakukan kunjungan langka ke tempat peristirahatan presiden di Maryland, Camp David, pada Rabu (27 Mei) untuk mengadakan rapat kabinet penuh. Namun karena faktor cuaca, agenda tersebut kemudian ditunda dan dipindahkan ke Gedung Putih. Semua anggota kabinet dijadwalkan hadir.

Pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa rapat tersebut akan membahas berbagai pencapaian terbaru pemerintahan saat ini, termasuk kebijakan ekonomi dan usaha kecil, perkembangan “Satuan Tugas Pemberantasan Penipuan”, serta perkembangan terbaru kebijakan luar negeri.

Namun, New York Post menilai bahwa kemungkinan besar isu utama dalam rapat tersebut adalah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Sumber : NTDTV.com

Seorang Dokter Inggris Peringatkan: Media Sosial Membahayakan Remaja Setara dengan Merokok

EtIndonesia. Selasa (26 Mei), Academy of Medical Royal Colleges menyerahkan laporan kepada pemerintah Inggris yang memperingatkan bahwa dampak negatif media sosial terhadap remaja sudah sangat serius, hampir setara dengan bahaya merokok.

Asosiasi tersebut mewakili 23 akademi kedokteran kerajaan di Inggris dan Irlandia.

Laporan itu menyebutkan bahwa banyak anak kini kecanduan media sosial, dan masalahnya sudah sama berbahayanya dengan “kecanduan merokok” atau “mengemudi tanpa sabuk pengaman”.

Hasil survei menunjukkan, dari 132 dokter yang diwawancarai, lebih dari setengah mengatakan mereka setidaknya setiap minggu menangani satu kasus masalah kesehatan yang berkaitan dengan ponsel, internet, atau perangkat elektronik. Lebih dari sepertiga dokter bahkan mengatakan mereka menemui kasus seperti itu beberapa kali dalam seminggu.

Beberapa remaja dilaporkan melukai diri sendiri karena meniru konten pornografi ekstrem di internet. Ada juga yang mengalami gangguan psikologis setelah lama terpapar tayangan kekerasan.

Saat ini, pemerintah Inggris sedang membahas kemungkinan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak, termasuk melarang remaja di bawah 16 tahun menggunakan platform media sosial, menetapkan “jam malam” penggunaan pada malam hari, membatasi waktu penggunaan, serta melarang desain aplikasi yang membuat pengguna terus-menerus menggulir tanpa henti.

Online Safety Act di Inggris saat ini telah mewajibkan perusahaan media sosial untuk melindungi anak-anak agar tidak terpapar konten ilegal atau berbahaya. Menteri Teknologi Inggris, Liz Kendall, juga mengatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah tambahan ke depannya.

Saat ini, ratusan keluarga di Inggris telah mulai menguji coba “larangan media sosial” dan pembatasan waktu penggunaan untuk melihat apakah kualitas tidur anak-anak, prestasi belajar, dan hubungan keluarga dapat membaik.

Namun, beberapa ahli juga khawatir bahwa larangan total belum tentu efektif. Dalam wawancara terbaru, sejumlah anak muda Inggris menyatakan mereka tidak mendukung pembatasan tersebut.

Laporan itu mendesak pemerintah untuk segera membuat undang-undang agar semakin banyak generasi muda tidak terus terdampak oleh media sosial. Tahun lalu, Australia menjadi negara pertama di dunia yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial, dan kini banyak negara di Eropa juga sedang mempertimbangkan langkah serupa.

Sumber : NTDTV.com

Kecelakaan Tambang Shanxi Menggemparkan Tiongkok, Orang Dalam Bongkar Praktik Kolusi Pejabat dan Pengusaha

EtIndonesia. Tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, Tiongkok, mengalami ledakan gas pada 22 Mei lalu. Peristiwa ini menjadi kecelakaan tambang batu bara paling serius di Tiongkok dalam 17 tahun terakhir, menewaskan setidaknya 82 orang dan menyebabkan 2 lainnya hilang. Seiring penyelidikan berlangsung, berbagai fakta mengejutkan mengenai “bencana akibat ulah manusia” mulai terungkap. Publik mempertanyakan bahwa tragedi ini bukan sekadar pelanggaran satu perusahaan, melainkan memperlihatkan kegagalan pengawasan jangka panjang dan rantai kepentingan antara pejabat dan pengusaha di industri tambang batu bara Tiongkok.

Ledakan gas di tambang Liushenyu Shanxi menewaskan sedikitnya 82 penambang dan melukai lebih dari 120 orang. Kini terungkap serangkaian fakta mengerikan mengenai faktor manusia di balik tragedi tersebut.

Misalnya, tim penyelamat menemukan bahwa peta lorong tambang yang diberikan perusahaan sangat berbeda dengan kondisi sebenarnya di bawah tanah, bahkan terdapat lorong rahasia yang tidak dicantumkan. 

Perusahaan itu bukan hanya memiliki dua set gambar tambang, tetapi juga dua sistem pengawasan. Salah satunya adalah “sistem kepatuhan keselamatan” untuk menghadapi pemantauan pemerintah yang terhubung secara daring. Sistem lainnya adalah “sistem bayangan” yang digunakan untuk mengarahkan para pekerja menambang secara ilegal di “area kerja tersembunyi”. Batu bara hasil tambang ilegal itu tidak dimasukkan ke dalam data produksi dan tidak dikenai pajak.

Selain itu, manajemen pekerja di tambang sangat kacau. Demi menghindari pengawasan, perusahaan sengaja tidak mengizinkan para pekerja yang turun ke tambang memakai kartu pelacak posisi personel. Akibatnya, ketika kecelakaan terjadi, tim penyelamat tidak dapat segera mengetahui lokasi para pekerja. Dari 247 pekerja yang turun ke tambang saat kejadian, sebanyak 103 orang tidak mengenakan kartu pelacak.

Kecelakaan ini memicu perhatian besar masyarakat. Warga menyerukan pertanggungjawaban, tetapi media resmi PKT di platform seperti Weibo justru melakukan penyaringan komentar. Komentar yang tersisa sebagian besar hanya ditujukan pada ketidakpuasan terhadap perusahaan terkait.

“Rakyat sekarang berada di bawah tekanan kontrol ucapan PKT, sehingga banyak orang hanya bisa mengarahkan kritik kepada perusahaan. PKT justru senang dengan situasi seperti ini. Di satu sisi, mereka mengalihkan perhatian agar dirinya tidak menjadi sasaran kritik publik,” ujar Ketua Aliansi Pengacara HAM Luar Negeri, Wu Shaoping. 

“Di sisi lain, mereka sengaja mengarahkan kemarahan rakyat kepada perusahaan ilegal itu, seolah-olah ini hanya pelanggaran segelintir perusahaan, bukan masalah sistem pengawasan atau sistem pemerintahan PKT,” tambahnya. 

Namun, apakah “bencana akibat ulah manusia” dalam kecelakaan ini benar-benar hanya masalah Tambang Liushenyu milik Grup Tongzhou? Ternyata tidak. Dalam berbagai laporan tahunan, Administrasi Pengawasan Keselamatan Tambang Nasional Tiongkok berkali-kali menyebut “gambar tambang yang tidak sesuai dengan kondisi nyata” dan “penambangan ilegal di area tersembunyi” sebagai penyakit kronis utama industri tambang batu bara. Dengan kata lain, praktik ini sudah menjadi “aturan tak tertulis” dan metode umum di industri tersebut.

Ding Haifeng, mantan pekerja di anak perusahaan grup tambang batu bara lain di Kota Changzhi, Shanxi, mengatakan bahwa praktik “dua set gambar dan dua sistem pengawasan” bukan hanya karena motif keuntungan perusahaan, tetapi juga karena kelonggaran dari pihak pengawas.

“Kenapa perusahaan membuat dua sistem? Pertama demi keuntungan. Kedua karena pengawasan. Biasanya pemeriksaan sudah diberitahukan lebih dulu kepada perusahaan, sehingga mereka punya cukup waktu untuk bersiap,” kata Mantan pegawai perusahaan tambang di Kabupaten Xiangyuan, Changzhi, Ding Haifeng. 

“Sebelum inspeksi datang, perusahaan akan menyiapkan satu sisi untuk ditunjukkan kepada pengawas, lalu setelah pemeriksaan selesai, mereka kembali menjalankan praktik sebenarnya. Selain itu, tambang dan perusahaan ini merupakan sumber pajak penting bagi pemerintah daerah, sehingga ada unsur kesengajaan untuk membiarkannya. Ditambah lagi perusahaan memberi uang kepada lembaga pengawas agar lolos dari pemeriksaan,” tambahnya. 

Meskipun beberapa tahun terakhir pemerintah menerapkan pengawasan digital dan mewajibkan tambang melaporkan secara real-time data lorong tambang, posisi pekerja, serta pemantauan gas, Ding Haifeng mengatakan bahwa pemeriksaan di tingkat bawah biasanya hanya formalitas. Petugas hanya memeriksa catatan, formulir, dan dokumen yang diberikan perusahaan, tanpa benar-benar turun ke tambang untuk memeriksa jumlah pekerja. Karena itu, praktik pekerja tanpa kartu pelacak dan penambangan ilegal terus berlangsung tanpa koreksi.

“Departemen pengawas tidak mungkin menempatkan satu orang terus-menerus di bawah tanah untuk mengawasi. Karena itu penambangan ilegal bisa berlangsung lama tanpa diketahui. Pemeriksaan juga selalu diberitahukan sebelumnya, sehingga perusahaan bisa sengaja mengarahkan pemeriksa ke lorong-lorong yang sudah dilaporkan,” ujar Ding Haifeng. 

“Lorong rahasia sangat sulit ditemukan. Ditambah adanya aliran keuntungan, para pengawas yang sudah menerima manfaat tentu tidak akan menggagalkan pemeriksaan. Akar masalahnya ada pada sistem PKT itu sendiri. Dari atas sampai bawah, semuanya penuh praktik suap dan kepentingan, sehingga mereka menutup mata terhadap masalah-masalah ini dan menganggap nyawa manusia tidak berharga,” lanjutnya. 

Tambang Liushenyu bukan pertama kali melakukan pelanggaran. Pada 2024, tambang ini sudah dimasukkan ke daftar nasional “tambang dengan tingkat bahaya tinggi”. Pada 2025, tambang tersebut dua kali mendapat sanksi administratif dengan total denda hanya 50 ribu yuan.

“Denda 50 ribu yuan itu terlalu kecil. Bahkan didenda 100 kali pun mungkin tidak sebanding dengan keuntungan produksi satu atau dua hari mereka. Kalau kali ini bukan kecelakaan sebesar ini, kemungkinan besar kasusnya akan ditutup-tutupi dan rakyat biasa tidak akan tahu. Misalnya hanya satu atau dua orang meninggal, bagi mereka tinggal bayar kompensasi 700 ribu yuan per orang lalu masalah selesai. Biaya melakukan pelanggaran terlalu rendah,” ujar Ding Haifeng. 

Saat ini operasi penyelamatan di lokasi tambang masih berlangsung. Dua orang yang hilang hingga kini belum ditemukan. (***)

Sumber : NTDTV.com

Kembali Terungkap Kasus Agen Ilegal Partai Komunis Tiongkok di AS : Seorang Jurnalis Didakwa

EtIndonesia. Kasus terbaru terkait infiltrasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) kembali menjadi sorotan. Baru-baru ini, jurnalis Amerika Thomas Pauken II didakwa oleh Departemen Kehakiman AS karena diduga bertindak sebagai agen ilegal bagi PKT.

Thomas Pauken II, yang menggunakan nama pena Tom McGregor, pernah tinggal di Tiongkok lebih dari 10 tahun. Ia bekerja sebagai jurnalis untuk media resmi PKT seperti Radio Internasional Tiongkok, CCTV, CGTN, dan Kantor Berita Xinhua.

Pada tahun 2019, ia menerbitkan sebuah buku mengenai perang dagang AS–Tiongkok dan mengklaim dapat memberikan sudut pandang netral.

Menurut dokumen pernyataan bersumpah di pengadilan, sejak 2019 Pauken beroperasi di bawah arahan seorang kontak dari Kementerian Keamanan Negara PKT bernama “Cathy”. Disebutkan pula bahwa laporan intelijen yang ditulis Pauken akan langsung diberikan kepada pemimpin PKT.

Salah satu tugas utama Pauken adalah mendekati seorang individu yang kemungkinan akan masuk ke pemerintahan Trump.

Pauken diketahui beberapa kali bepergian antara AS dan Tiongkok dengan biaya perjalanan ditanggung pihak Tiongkok. Ditambah bayaran untuk penulisan laporan, total uang yang diterimanya mencapai sedikitnya 100 ribu dolar AS.

Dilaporkan bahwa pada Januari 2025, saat memasuki Bandara Dulles di Washington, FBI memeriksa perangkat komunikasinya dan beberapa kali melakukan wawancara. Pada Februari tahun ini, Pauken kembali ditangkap setelah masuk ke AS.

Ayah Pauken adalah Tom Pauken Sr., tokoh senior Partai Republik di Texas yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintahan Reagan dan ketua Partai Republik Texas.

Pauken dijadwalkan menghadiri “sidang pengakuan bersalah sebelum dakwaan” pada Jumat pekan ini. Biasanya hal ini menandakan terdakwa berencana mencapai kesepakatan pengakuan bersalah dengan jaksa.

Mata-mata Partai Komunis Tiongkok didakwa (tangkapan layar)

Tahun ini, sudah ada beberapa orang yang didakwa atau dijatuhi hukuman atas tuduhan “bertindak sebagai agen ilegal PKT”, termasuk:

  • Tokoh komunitas Tionghoa New York, Lu Jianwang;
  • Mantan wali kota keturunan Tionghoa di Arcadia, California, Eileen Wang;
  • Mantan pacar Eileen Wang, Sun Yaoning, yang telah dijatuhi hukuman 48 bulan penjara;
  • Mantan wakil kepala staf Gubernur New York Kathy Hochul, Sun Wen, beserta suaminya Hu Xiao;
  • Serta Liang Litang, pria keturunan Tionghoa di Massachusetts yang ditangkap pada 2023 karena diduga terlibat dalam penindasan lintas negara terhadap demonstrasi anti-PKT di Boston.

Sumber : NTDTV.com

Lebih dari Separuh Remaja Bermain Ponsel Sebelum Tidur, Pakar Peringatkan Dampaknya

EtIndonesia. American Academy of Pediatrics dan banyak pakar menyarankan agar remaja tidur selama 8 hingga 10 jam setiap malam. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa lebih dari separuh remaja menghabiskan setidaknya satu jam bermain ponsel sebelum tidur.

Para ahli menyarankan agar orangtua memberi contoh terlebih dahulu dengan menetapkan waktu dan aturan penggunaan perangkat elektronik bersama anak-anak, guna mencegah dampak buruk terhadap kesehatan bahkan risiko kecanduan.

Setelah menganalisis data, para peneliti menemukan bahwa lebih dari setengah remaja di Amerika Serikat menghabiskan sedikitnya satu jam bermain ponsel pada malam hari. Kebiasaan buruk ini bukan hanya mengganggu tidur mereka, tetapi juga berdampak pada kesehatan.

Walaupun penelitian ini tidak secara langsung membuktikan bahwa bermain ponsel sebelum tidur pasti membahayakan remaja, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gangguan tidur dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, pengendalian emosi, dan kesehatan mental.

Para ahli mengatakan bahwa untuk membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang lebih sehat, orang tua sebaiknya memulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

American Academy of Pediatrics menyarankan agar orang tua membuat “rencana penggunaan perangkat elektronik keluarga”, misalnya dengan menetapkan tempat dan waktu tertentu di mana penggunaan ponsel atau tablet tidak diperbolehkan.

Para ahli juga menyarankan agar ponsel, tablet, dan perangkat elektronik lainnya sebisa mungkin tidak dibawa ke kamar tidur. Selain itu, keluarga dianjurkan lebih sering mengadakan aktivitas luar ruangan.

Selain itu, keluarga juga bisa mempertimbangkan menyiapkan “kotak penyimpanan perangkat elektronik keluarga”, sehingga semua anggota keluarga dapat meletakkan ponsel mereka di sana untuk sementara waktu dan menikmati kebersamaan keluarga tanpa gangguan perangkat elektronik.

Sumber : NTDTV.com

Baru 11 Hari Menjabat, Pemimpin Baru Hamas Dilaporkan Tewas

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat tegang pada Selasa, 27 Mei 2026. Media Israel melaporkan bahwa militer Israel diduga berhasil menewaskan pemimpin baru Hamas, Mohammed Odeh, dalam sebuah serangan udara presisi yang dilakukan di Jalur Gaza.

Laporan tersebut langsung memicu perhatian internasional karena operasi itu terjadi hanya sekitar 11 hari setelah pemimpin militer Hamas sebelumnya juga dilaporkan tewas dalam operasi militer Israel. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa Israel kini terus meningkatkan strategi “targeted killing” atau pembunuhan terarah untuk memutus rantai komando Hamas di Gaza.

Menurut laporan awal media berbahasa Ibrani pada 27 Mei, evaluasi intelijen Israel menunjukkan bahwa Mohammed Odeh kemungkinan besar tewas setelah jet tempur Israel menggempur sebuah lokasi di Kota Gaza yang diyakini menjadi pusat aktivitas kelompok Hamas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama Menteri Pertahanan Israel sebelumnya telah mengumumkan bahwa operasi militer besar sedang berlangsung di Gaza sebagai bagian dari upaya menghancurkan struktur kepemimpinan Hamas.

Israel Intensifkan Operasi Pembunuhan Terarah

Sejak konflik kembali meningkat pada awal tahun 2026, Israel secara konsisten menjalankan operasi militer yang berfokus pada pemburuan para petinggi Hamas. Strategi tersebut bertujuan melemahkan koordinasi internal kelompok itu sekaligus mengurangi kemampuan Hamas dalam melancarkan serangan terhadap wilayah Israel.

Mohammed Oudeh diketahui merupakan salah satu tokoh penting dalam struktur Hamas. Sejumlah foto dan dokumentasi sebelumnya menunjukkan dirinya sering muncul bersama para pemimpin senior Hamas lainnya dalam berbagai pertemuan internal dan kegiatan militer organisasi tersebut.

Karena itu, jika kematiannya benar-benar terkonfirmasi secara resmi, banyak analis menilai hal tersebut akan memberikan pukulan besar terhadap stabilitas kepemimpinan Hamas di Jalur Gaza.

Serangan terbaru ini juga memperlihatkan bahwa Israel kini semakin mengandalkan operasi intelijen presisi tinggi untuk menghindari perang darat berskala besar yang berpotensi memicu tekanan internasional lebih luas.

Alarm Drone Sempat Berbunyi di Perbatasan Utara Israel

Di tengah operasi di Gaza, ketegangan juga sempat meningkat di wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.

Pada Selasa, 27 Mei 2026, alarm peringatan keamanan berbunyi di komunitas Baram setelah militer Israel mendeteksi adanya target udara mencurigakan yang diduga drone.

Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara telah melakukan pemeriksaan terhadap objek tersebut. Namun setelah investigasi lanjutan, alarm akhirnya dicabut dan tidak ditemukan adanya korban jiwa maupun kerusakan.

Meski demikian, insiden itu kembali memperlihatkan tingginya kewaspadaan Israel terhadap ancaman drone dari kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, termasuk yang didukung Iran.

Netanyahu dan Trump Bahas Ancaman Iran

Perkembangan penting lainnya terjadi setelah rapat kabinet keamanan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, guna membahas situasi keamanan regional, khususnya terkait Iran dan kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.

Pemerintah Israel disebut sangat khawatir terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai tidak benar-benar menghapus ancaman nuklir Teheran maupun jaringan militernya di kawasan.

Bagi Israel, ancaman terbesar bukan hanya program nuklir Iran, tetapi juga pengaruh Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.

Karena itu, Israel terus menjalankan operasi ofensif di Gaza dan Lebanon sebagai upaya memperkuat posisi tawarnya di tengah proses diplomasi regional yang sedang berlangsung.

Sejumlah analis keamanan menilai Israel berusaha mengirim pesan bahwa mereka tetap siap bertindak secara militer, bahkan ketika jalur negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan.

Iran Kembali Keluarkan Ancaman terhadap Israel

Ketegangan semakin meningkat setelah Mojtaba Khamenei — putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang disebut-sebut sebagai calon penerus kepemimpinan Iran — kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Israel pada 27 Mei 2026.

Dalam pernyataannya, Mojtaba menyebut bahwa Israel “akan segera runtuh”, sebuah komentar yang langsung memicu respons keras dari pejabat Israel.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menanggapi dengan nada sindiran. Ia mengatakan bahwa gaya bahasa Mojtaba sangat mirip dengan ayahnya dan secara terbuka mempertanyakan keberadaan Mojtaba saat ini.

Pernyataan saling serang tersebut kembali memperlihatkan bahwa hubungan Iran dan Israel kini berada pada titik yang sangat sensitif, terutama ketika negosiasi nuklir AS-Iran masih berlangsung di belakang layar.

Timur Tengah Masuk Fase “Berperang Sambil Bernegosiasi”

Secara keseluruhan, situasi Timur Tengah saat ini menunjukkan pola yang semakin rumit: konflik militer terus berlangsung, tetapi jalur diplomasi juga tetap berjalan secara paralel.

Israel menegaskan bahwa prinsip utama mereka tetap “keamanan di atas segalanya”. Karena itu, operasi militer di Gaza dan Lebanon diperkirakan akan terus berlanjut selama Israel masih menilai adanya ancaman langsung dari Hamas maupun kelompok pro-Iran lainnya.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap berusaha mendorong negosiasi nuklir dengan Iran demi mencegah konflik besar yang berpotensi menyeret kawasan ke perang regional berskala luas.

Perhatian dunia kini tertuju pada hasil rapat kabinet Presiden Donald Trump di Washington dan apakah perundingan AS-Iran dalam beberapa hari mendatang mampu menghasilkan terobosan diplomatik yang nyata, atau justru memicu eskalasi baru yang lebih berbahaya di Timur Tengah. (****)