Setelah Zhang Youxia Tumbang, Xi Tak Berani Tinggalkan Beijing? Untuk Pertama Kalinya Gunakan Video untuk Menyapa Pasukan

EtIndonesia. Menjelang Tahun Baru Imlek tradisional Tiongkok, pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping pada 10 Februari mendatangi Gedung Bayi di Beijing dan untuk pertama kalinya menggunakan konferensi video untuk menyampaikan ucapan kepada para perwira dan prajurit. Langkah yang tidak biasa ini memicu berbagai spekulasi.

Sejumlah analis berpendapat bahwa setelah tumbangnya Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia, Xi khawatir menghadapi kemungkinan kudeta atau serangan terhadap dirinya, sehingga hingga kini belum berani meninggalkan Beijing.


Xi Gunakan Video untuk “Mengunjungi” Pasukan

Menurut laporan kantor berita resmi Xinhua pada 11 Februari, Xi Jinping pada 10 Februari mendatangi Gedung Bayi di Beijing—markas Komisi Militer Pusat PKT—dan “melalui video” menyampaikan perhatian kepada para perwira dan prajurit. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan ucapan selamat menjelang Tahun Baru Imlek.

Dalam tayangan resmi yang dirilis pemerintah, Xi terlihat mengenakan jas Zhongshan hijau tua bergaya Mao dan duduk di depan layar besar, menyapa para prajurit yang terhubung melalui video.

Ini merupakan interaksi pertama Xi dengan militer sejak Zhang Youxia secara mendadak tumbang pada tanggal 24 bulan lalu. Yang menarik perhatian, kali ini Xi tidak seperti dua tahun sebelumnya yang turun langsung ke unit militer untuk bertemu para prajurit secara tatap muka.


Tradisi Tahunan yang Berubah

Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, para pemimpin PKT biasanya mengunjungi pasukan untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru secara langsung—sebuah tradisi politik yang sudah berlangsung lama.

Menurut laporan media resmi:

  • Menjelang Tahun Baru 2024 (2 Februari 2024), Xi mengunjungi dan meninjau pasukan yang ditempatkan di Tianjin.
  • Menjelang Tahun Baru 2025 (24 Januari 2025), Xi pergi ke Komando Teater Utara di Shenyang, Provinsi Liaoning, untuk melakukan inspeksi dan慰問 kepada pasukan.

Namun, sejak Zhang Youxia tumbang hingga kini telah berlalu 18 hari, dan Xi belum meninggalkan Beijing.


Aktivitas Xi Tetap di Sekitar Beijing

Berdasarkan laporan terbuka, pada 6 Februari Xi berada di Beijing untuk menyampaikan慰問 kepada para pensiunan kader militer yang ditempatkan di ibu kota.

Pada 9 hingga 10 Februari, ia juga masih beraktivitas di wilayah Beijing dan sekitarnya, termasuk mengunjungi kawasan inovasi teknologi, pusat layanan lansia, pasar Tahun Baru, serta kantin komunitas untuk melakukan apa yang disebut sebagai “inspeksi”.

Seluruh agenda tersebut dilakukan tanpa meninggalkan kawasan inti politik di Beijing.


Analisis: Kekhawatiran atas Keamanan

Du Wen, mantan pejabat dalam sistem PKT, pada 11 Februari menulis di platform X bahwa karena pengaruh kubu Zhang Youxia belum sepenuhnya disingkirkan, Xi khawatir terhadap kemungkinan pembunuhan di tengah jalan atau kudeta, sehingga tidak berani meninggalkan Beijing untuk turun ke daerah.

Ia juga menyebut bahwa proses penertiban dan pembersihan besar-besaran di tubuh militer PKT masih terus berlangsung.


Langkah Xi yang memecahkan tradisi tahunan dengan hanya menggunakan video untuk menyapa pasukan dinilai sebagian pengamat sebagai sinyal tidak biasa di tengah dinamika internal militer yang sensitif. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Nenek Taiwan dan Nenek Asing 

EtIndonesia. Seorang anak laki-laki bertanya kepada ibunya: “Ibu, nanti kalau sudah tua, Ibu ingin menjadi nenek Taiwan atau nenek asing?”

Sang ibu menjawab :  “Kalau sudah tua tentu saja aku menjadi nenek Taiwan. Memangnya seperti apa nenek asing itu?”

Anak itu berkata : “Nenek asing, ketika masih muda, adalah seorang gadis cantik. Setelah lulus kuliah, dia mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap. Kemudian dia mengajukan pinjaman ke bank untuk membeli vila dan mobil, serta membeli berbagai perlengkapan hidup yang berkualitas tinggi.

Setiap bulan dia mencicil pinjaman, hidupnya terasa sibuk, penuh tekanan, tetapi juga penuh kepuasan dan kebahagiaan.

Karena memiliki tempat tinggal yang nyaman, mobil sebagai sarana transportasi, dan menikmati hampir semua kesenangan hidup,  ketika dia berusia delapan puluh tahun dan mendekati ajal, kebetulan seluruh pinjaman banknya telah lunas. Dia pun menutup mata dengan tenang.”

“Sedangkan nenek Taiwan,  ketika masih muda, juga seorang gadis cantik. Bedanya, setelah mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap, dia mulai menabung tanpa henti.

Sepanjang tahun dia bekerja keras, hidup sangat hemat, tidak tega makan enak atau menikmati hidup. Akhirnya, pada usia delapan puluh tahun, dia meninggal dunia dalam keadaan sakit-sakitan.

Anak-anaknya menerima warisan berupa simpanan bank yang sangat besar— cukup untuk membeli rumah besar, mobil mewah, dan berbagai barang hidup yang mahal.

Anak-anak yang berbakti menggunakan sebagian tabungan itu untuk menyelenggarakan pemakaman yang megah dan terhormat. Namun selama hidupnya, nenek Taiwan hampir tidak pernah benar-benar menikmati apa pun.”

“Ibu, Ibu ingin menjadi nenek Taiwan atau nenek asing?”

Perenungan Hidup

Hidup ini singkat. Sudah seharusnya kita mengubah cara pandang terhadap kehidupan dan belajar menikmati hidup dengan bijaksana.

Adapun kemegahan upacara pemakaman setelah kita meninggal— apakah kita masih bisa merasakannya?

Wahai semua, kalau diganti menjadi “ayah” pun sama saja. Jangan terlalu bodoh. Hiduplah sedikit lebih banyak untuk diri sendiri.

Renungan

Pandangan hidup orang Barat dan masyarakat Tionghoa memang berbeda di beberapa hal mendasar.

Masyarakat Tionghoa cenderung mempersiapkan masa depan anak-anaknya, sementara orang Barat lebih menekankan kemandirian anak untuk memperjuangkan masa depannya sendiri.

Menurutku, baik model hidup “nenek Taiwan” maupun “nenek asing” sebenarnya sama-sama kurang ideal.

Yang satu terlalu hemat hingga hidup terasa pahit dan tanpa kenikmatan. Yang lain terlalu bebas dan santai, hingga jika suatu hari diterpa krisis ekonomi, hidup bisa langsung terjerumus ke dalam penderitaan berat.

Ketika pekerjaan hilang, utang menumpuk, dan sumber penghasilan terputus, rumah dan mobil pun terancam disita oleh hukum. Saat itu, hidup justru menjadi jauh lebih menyakitkan.

Apalagi dalam sepuluh tahun terakhir saja, kita telah mengalami gelembung internet, kejatuhan pasar saham, dan krisis keuangan global— tiga bencana ekonomi besar.

Sementara usia manusia rata-rata hanya sekitar enam puluh hingga tujuh puluh tahun.

Karena itu, hidup hemat tetap penting, namun harus disertai keseimbangan dan kebijaksanaan.

Tidak terlalu mengekang diri, dan tidak pula hidup tanpa perhitungan.(jhn/yn)

Aneh! Setiap Hari Seorang Wanita Ini Menemukan Uang di Rumahnya dan Terus Bertambah Setiap Harinya, Ternyata Dalangnya di Luar Dugaan

EtIndonesia. Belakangan ini, seorang wanita di Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok, mengalami kejadian yang aneh sekaligus menggelitik. Ia mendapati uang receh tiba-tiba muncul di rumahnya, dan jumlahnya bertambah setiap hari. Setelah diselidiki, barulah terungkap bahwa uang tersebut dibawa pulang oleh kucing peliharaannya dari rumah tetangga.

Seorang blogger asal Chengdu dengan nama akun “Niukulu He Da Pangju” membagikan video yang menjelaskan kejadian tersebut. Ia mengatakan bahwa belakangan ini ia sering menemukan uang dengan nominal 10 yuan, 5 yuan, dan 1 yuan di rumahnya tanpa tahu asal-usulnya. Hal itu membuatnya sangat bingung.

Untuk mencari tahu dari mana uang tersebut berasal, ia memasang kamera pengawas di rumahnya. Dari rekaman itulah terungkap bahwa kucing oranye gemuk miliknya bernama “A Nu” diam-diam mengambil uang dari rumah tetangga dan membawanya pulang.

Dengan nada pasrah bercampur geli, sang pemilik berkata,
“Ah, ternyata ini kucing yang cinta uang.”

Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan rekayasa: “Ini benar-benar bukan settingan. Tetangga saya tinggal di sini. Lihat, ini hasil ‘aksinya’ kemarin—dia membawa pulang 10 yuan lagi. Di sini juga ada 1 yuan. Rumah tetangga kebetulan tidak terkunci, kucing saya masuk. Lihat, di sini ada 1 yuan lagi. Ya, memang dia yang melakukannya.”

Dalam video tersebut, kucing oranye bertubuh besar itu tampak berjalan santai di halaman rumah tetangga tanpa menunjukkan sedikit pun rasa bersalah.

Sang blogger mengaku total uang yang sudah dibawa pulang oleh kucingnya mencapai 77 yuan. Ia telah meninggalkan pesan di depan rumah tetangganya dan berjanji akan mengembalikan seluruh uang tersebut setelah mereka pulang.

Kisah “kucing pencuri uang” ini pun langsung memicu perbincangan hangat di kalangan warganet. Banyak yang menanggapinya dengan humor:

  • “Kucing pembawa rezeki di rumah orang lain cuma pajangan, tapi yang di rumahmu asli!”
  • “Anak berbulu ini tahu betul betapa sulitnya majikan membesarkannya, jadi dia keluar cari penghasilan sendiri.”

Kisah unik ini pun menjadi hiburan tersendiri di tengah berbagai kabar serius, sekaligus menunjukkan betapa tingkah hewan peliharaan kadang bisa di luar dugaan. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Menempuh Risiko dengan Diam-diam Merekam Kamp “Konsentrasi” di Xinjiang, Guan Heng Berbagi Perjalanan Batin (Tamat)

EtIndonesia. Guan Heng, seorang aktivis pembangkang asal Tiongkok, pernah merekam dan mempublikasikan video yang ia sebut sebagai “kamp konsentrasi Xinjiang”, yang kemudian menarik perhatian luas dari berbagai pihak. Dalam wawancara khusus, ia dan ibunya berbagi kisah mengenai perubahan pemikirannya serta tekanan yang mereka hadapi.

Guan Heng menjelaskan bahwa titik balik dalam cara pandangnya terjadi pada awal tahun 2020, saat wabah COVID-19 (disebutnya sebagai “virus PKT”) mulai merebak di Tiongkok.


Pengalaman Saat Lockdown 2020: “Pertama Kali Merasakan Kepalan Besi”

Pada 2020, ketika wabah COVID-19 meluas di Tiongkok, kompleks tempat tinggal Guan Heng memberlakukan pembatasan keluar-masuk yang ketat. Ia mengatakan, sebuah pengalaman saat itu membuatnya untuk pertama kali merasakan secara langsung apa yang ia sebut sebagai “kepalan besi komunisme”.

Guan Heng mengenang:

“Saat itu saya sebenarnya tidak punya izin khusus (surat jalan). Penjaga tidak mengizinkan saya keluar. Saya membujuknya cukup lama hingga akhirnya dia membiarkan saya pergi. Setelah saya membeli bahan makanan dan kembali, penjaganya sudah berganti. Yang baru tidak mengizinkan saya masuk. Saya mencoba masuk secara paksa, belum jauh, dia langsung menarik saya hingga terjatuh. Pemerintah Tiongkok saat itu benar-benar memberi ancaman langsung kepada saya—ancaman terhadap kelangsungan hidup. Sayuran yang saya beli berhamburan di tanah, seolah-olah saya bahkan tidak diizinkan untuk makan.”

Momen ketika ia ditarik hingga terjatuh itu membuatnya teringat pada peristiwa kelaparan besar di Xinyang, Henan, pada tahun 1959.

BACA JUGA : Merekam Kamp Konsentrasi Xinjiang Secara Diam-diam dengan Risiko Besar: Wawancara dengan Guan Heng yang Menceritakan Perjalanannya (Bagian 1)

Guan Heng berkata:

“Saat itu, di Xinyang, kondisi kelaparan sangat parah. Gudang pemerintah sebenarnya masih memiliki persediaan makanan, tetapi rakyat tidak punya apa-apa. Orang-orang yang mencoba melarikan diri untuk mencari makanan ditembak mati, mungkin oleh polisi bersenjata atau aparat lainnya. Mereka tidak diizinkan melarikan diri.”


Refleksi atas Kontrol Sistematis Negara

Sejak saat itu, Guan Heng mulai merenungkan bagaimana Partai Komunis Tiongkok (PKT) menjalankan kontrol sistematis terhadap masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk melalui slogan-slogan propaganda politik yang tersebar di mana-mana.

Ia menuturkan:

“Saat saya pergi ke Xinjiang pada 2019, saya memasukkan banyak slogan itu ke dalam video saya. Seperti ‘Partai Komunis Tiongkok itu baik’, ‘kebijakan etnis’, ‘kebangkitan besar bangsa Tiongkok’. Banyak orang sebenarnya hanya bisa ikut arus. Saya bahkan tidak bisa mengatakan mereka didorong—karena jika sedikit saja berjalan ke arah berlawanan, mesin negara akan langsung tanpa ampun menghancurkan Anda.”


Tekanan terhadap Keluarga Tak Pernah Berhenti

Meski kini Guan Heng tinggal di luar negeri, tekanan terhadap keluarganya di Tiongkok disebut masih terus berlanjut.

Ibunya, Luo Yun, mengatakan:

“Saya bisa memahami mereka (kerabat atau orang sekitar). Berusaha menjaga jarak dari saya, bagi mereka itu adalah bentuk perlindungan.”


Mendapat Suaka Politik, Ingin Lebih Banyak Menemani Ibu

Saat ini, Guan Heng telah memperoleh suaka politik di Amerika Serikat.

Mengenai rencana ke depan, ia mengatakan ingin lebih banyak meluangkan waktu bersama ibunya, serta berencana membuat film dokumenter tentang empat tahun kehidupannya di Amerika. (Jhon)

Jet Tempur Menumpuk di Yordania, Patriot Bergerak di Qatar — Apakah Jam Perang Iran Sudah Berdetak?

EtIndonesia. Amerika Serikat mempercepat konsentrasi kekuatan serangan strategisnya di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran terkait program nuklir dan stabilitas kawasan. Berdasarkan rangkaian citra satelit yang dianalisis hingga awal Februari 2026, terlihat adanya pengerahan signifikan aset udara dan penyesuaian sistem pertahanan di sejumlah pangkalan utama Amerika Serikat di kawasan.

Pengerahan Besar di Yordania: Muwaffaq Salti Jadi Titik Fokus

Citra satelit terbaru menunjukkan peningkatan aktivitas militer di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Hingga 7–10 Februari 2026, pangkalan ini tercatat menampung sedikitnya:

  • 8 unit A-10 Thunderbolt II
  • 17 unit F-15E Strike Eagle
  • 4 unit EA-18G Growler
  • Sejumlah pesawat angkut C-130 untuk dukungan logistik

Komposisi ini menunjukkan bukan hanya penguatan daya gempur, tetapi juga kesiapan operasional jangka menengah hingga panjang.

A-10, yang dijuluki “pembunuh tank”, dirancang untuk dukungan udara jarak dekat (close air support), efektif menghancurkan kendaraan lapis baja, posisi artileri, dan sistem pertahanan udara dari ketinggian rendah. F-15E Strike Eagle mampu membawa amunisi presisi jarak jauh, termasuk bom penghancur bunker untuk menarget fasilitas bawah tanah dan pangkalan rudal yang diperkeras.

Sementara itu, EA-18G Growler memainkan peran krusial dalam peperangan elektronik—menekan radar dan sistem pertahanan udara musuh sebelum gelombang serangan utama dilancarkan.

Kombinasi ketiga platform ini mengindikasikan pembangunan arsitektur “penetrasi udara terpadu”: gangguan elektronik, pembukaan koridor serangan, lalu penghancuran target strategis.

Qatar: Patriot Beralih ke Konfigurasi Mobile

Secara paralel, hingga 8 Februari 2026, citra satelit menunjukkan perubahan konfigurasi sistem pertahanan udara Patriot di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.

Sistem yang sebelumnya ditempatkan dalam posisi relatif tetap kini dipasang pada truk taktis berat, memungkinkan pola operasi “tembak dan berpindah” (shoot and scoot). Strategi ini bertujuan:

  1. Mengurangi risiko sistem terkunci dan dihantam rudal balistik.
  2. Meningkatkan daya tahan terhadap serangan drone dan rudal jelajah.
  3. Memperbesar fleksibilitas respons dalam skenario serangan simultan.

Langkah ini dinilai sebagai antisipasi terhadap ancaman balasan Iran, terutama dari jaringan rudal balistik dan drone jarak jauh.

Iran Angkat Suara, Aktivitas Laut Meningkat

Ketegangan meningkat setelah pejabat Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan.

Citra satelit juga mendeteksi aktivitas kapal induk drone Angkatan Laut Iran, Shahid Bagheri, di Teluk Persia pada awal Februari 2026. Kehadiran kapal ini dipandang sebagai pesan simbolik bahwa Teheran siap meningkatkan tekanan asimetris melalui operasi drone maritim.

Elemen Laut dan Opsi Kapal Induk Kedua

Di domain maritim, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di kawasan sejak akhir Januari 2026 sebagai elemen utama deterensi laut.

Presiden Donald Trump pada awal Februari 2026 menyatakan tengah mempertimbangkan pengiriman kelompok tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah. Jika direalisasikan, langkah ini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan dan serangan presisi jarak jauh.

F-35A di Eropa: Lapisan Persiapan Tambahan

Pada akhir Januari 2026, enam unit F-35A Lightning II milik Garda Nasional Udara Vermont diterbangkan menuju Pangkalan Udara Lajes, Kepulauan Azores, Portugal.

Penempatan ini dipandang sebagai cadangan strategis. F-35A dikenal sebagai platform utama untuk misi penyerangan dan penghancuran sistem pertahanan udara musuh (SEAD/DEAD), sangat relevan dalam menghadapi jaringan pertahanan udara berlapis Iran.

Analis menilai pengerahan ini memberi Washington fleksibilitas untuk meningkatkan eskalasi dengan cepat bila diperlukan.

Deterensi atau Persiapan Operasi Besar?

Sejumlah pakar militer menilai konfigurasi saat ini masih bersifat deterensi dan defensif. Jumlah F-15E dan A-10 lebih diarahkan untuk melindungi Israel dan instalasi AS dari ancaman rudal serta drone.

Namun, untuk operasi udara skala penuh dan berkepanjangan terhadap target strategis Iran, diperlukan tambahan pembom strategis, tanker udara, serta sistem komando dan kontrol yang lebih luas.

Dengan kata lain, struktur saat ini cukup untuk respons cepat dan terbatas—tetapi belum sepenuhnya mencerminkan mobilisasi perang total.

Tekanan Ekonomi: Sanksi dan Dampaknya

Di luar ranah militer, Washington memperketat tekanan finansial terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam pernyataan publik awal Februari 2026 mengakui bahwa sanksi dirancang untuk menciptakan kelangkaan dolar di Iran.

Dampaknya terasa sejak akhir 2025 hingga awal 2026:

  • Nilai rial Iran terdepresiasi tajam.
  • Inflasi melonjak.
  • Sistem perbankan mengalami tekanan berat.
  • Gelombang protes muncul di berbagai kota besar.

Pemerintah AS menyebut pendekatan ini sebagai strategi “tekanan maksimal tanpa perang langsung.” Sementara Teheran menuduh kebijakan tersebut memperparah krisis domestik dan mengganggu stabilitas nasional.

Kesimpulan: Kawasan Mendekati Titik Kritis

Pergerakan militer sejak akhir Januari hingga pertengahan Februari 2026 menunjukkan peningkatan kesiapan tempur yang sistematis: dari udara, laut, hingga sistem pertahanan rudal.

Meski belum memasuki fase konfrontasi terbuka, kombinasi pengerahan militer dan tekanan ekonomi menempatkan Timur Tengah pada fase sensitif.

Jika diplomasi gagal dan salah satu pihak mengambil langkah ofensif, konfigurasi yang kini terlihat di Yordania, Qatar, dan perairan Teluk dapat dengan cepat berubah dari sinyal deterensi menjadi operasi militer nyata.

Eropa Bersiap Perang? Polandia Bangun 500 Ribu Pasukan, UE Gelontorkan 90 Miliar Euro untuk Ukraina!

EtIndonesia. Pada tahun 2025, pemerintah Polandia secara resmi mengumumkan rencana ambisius untuk memperkuat kemampuan mobilisasi nasionalnya. Target yang dicanangkan adalah membangun kekuatan siaga hingga 500.000 personel, yang terdiri dari tentara aktif dan pasukan cadangan dalam status kesiapsiagaan tinggi.

Langkah ini dipandang sebagai respons langsung terhadap memburuknya situasi keamanan di Eropa Timur, khususnya sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Selain memperbesar kekuatan militer reguler, Polandia juga menargetkan hingga 400.000 warga sipil akan menerima pelatihan dasar pertahanan sebelum akhir 2026. Program ini mencakup:

  • Prosedur evakuasi darurat
  • Pertolongan pertama dalam situasi konflik
  • Keterampilan bertahan hidup dalam kondisi perang
  • Dukungan logistik dan pertahanan sipil

Kebijakan ini menandai transformasi pertahanan Polandia dari model profesional terbatas menjadi konsep “pertahanan total” yang melibatkan elemen masyarakat luas.


Keluar dari Konvensi Ottawa, Polandia dan Finlandia Ubah Doktrin Ranjau Darat

Pada 2025, Polandia secara resmi menandatangani dokumen untuk menarik diri dari Konvensi Ottawa, perjanjian internasional yang melarang penggunaan, produksi, dan penyimpanan ranjau darat anti-personel.

Pemberitahuan resmi telah disampaikan kepada PBB. Sesuai ketentuan internasional, penarikan diri tersebut akan berlaku efektif pada 2026. Artinya, mulai saat itu Polandia kembali memiliki hak hukum untuk memproduksi dan menyimpan ranjau darat anti-personel.

Langkah ini mengejutkan banyak pihak, karena Konvensi Ottawa selama dua dekade dianggap sebagai salah satu pilar hukum humaniter internasional.

Sementara itu, Finlandia juga menyatakan niat serupa untuk mempertimbangkan keluar dari perjanjian tersebut, seiring dengan rencana peningkatan belanja pertahanan hingga sekitar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Bagi Finlandia—yang berbatasan langsung dengan Rusia—kebijakan ini mencerminkan kekhawatiran serius terhadap potensi ancaman konvensional di perbatasan timur.


Sabuk Pertahanan Baltik Menghadap Rusia

Negara-negara Baltik—Estonia, Latvia, dan Lithuania—mempercepat pembangunan infrastruktur pertahanan perbatasan.

Dari Finlandia di utara, melintasi Estonia, Latvia, hingga Polandia di selatan, kini terbentuk jalur pertahanan militer yang semakin terintegrasi. Fokus utama meliputi:

  • Penguatan sistem pertahanan udara
  • Penempatan sistem anti-tank dan artileri jarak jauh
  • Peningkatan latihan gabungan NATO
  • Modernisasi sistem pengawasan perbatasan

Di kawasan Arktik, Inggris memperluas kehadiran militernya di Norwegia. Inggris berpartisipasi dalam misi NATO bertajuk NATO Arctic Sentinel, yang berfokus pada:

  • Keamanan jalur laut Arktik
  • Pemantauan aktivitas militer Rusia
  • Perlindungan kepentingan energi dan pelayaran

Arktik kini dipandang sebagai front strategis baru dalam rivalitas NATO–Rusia.


Uni Eropa Setujui Paket 90 Miliar Euro untuk Ukraina

Pada 11 Februari 2026, Uni Eropa secara resmi menyetujui paket bantuan sebesar 90 miliar euro untuk Ukraina.

Rinciannya adalah:

  • 60 miliar euro untuk kebutuhan pertahanan
  • 30 miliar euro untuk dukungan fiskal makro

Secara formal, bantuan ini berbentuk pinjaman. Namun terdapat klausul penting: pelunasan hanya akan diwajibkan jika Ukraina menerima reparasi perang dari Rusia. Dalam praktiknya, skema ini mendekati bantuan tanpa syarat.

Keputusan tersebut memperlihatkan komitmen jangka panjang Eropa untuk menjaga stabilitas Ukraina, baik dari sisi militer maupun keberlangsungan sistem ekonominya.


Rencana Pemilu dan Referendum Perdamaian Ukraina

Pada hari yang sama, laporan Financial Times mengungkap bahwa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, berencana mengumumkan:

  • Pemilihan presiden
  • Referendum perdamaian

Pengumuman tersebut dijadwalkan pada 24 Februari 2026, bertepatan dengan empat tahun invasi Rusia.

Targetnya, proses pemilu dan referendum selesai sebelum 15 Mei 2026, sejalan dengan dorongan dari Amerika Serikat agar kesepakatan gencatan senjata dapat dicapai sebelum Juni 2026.

Jika terlaksana, langkah ini dapat menjadi titik balik politik domestik Ukraina sekaligus instrumen legitimasi publik terhadap kemungkinan kesepakatan damai.


Eskalasi Serangan Ukraina ke Infrastruktur Energi Rusia

Di medan perang, intensitas serangan Ukraina terhadap infrastruktur Rusia meningkat tajam.

Pada malam 11 Februari 2026, serangan drone besar diluncurkan ke wilayah Volgograd, menargetkan fasilitas kilang minyak. Ledakan dan kebakaran besar dilaporkan terjadi.

Pihak Ukraina menyatakan bahwa serangan jarak jauh terhadap fasilitas energi Rusia telah menurunkan kapasitas pengolahan minyak Rusia hingga sekitar 19%. Strategi ini bertujuan melemahkan pendapatan energi yang menjadi tulang punggung pembiayaan perang Moskow.

Selain itu:

  • Sistem pertahanan udara Rusia jenis Tor dan Osa dilaporkan dihancurkan di wilayah Donetsk dan Kherson.
  • Pesawat tempur MiG-29MU1 Ukraina menggunakan bom berpemandu ASM Hammer buatan Prancis untuk menghantam basis militer Rusia di Zaporizhzhia.

Serangan presisi ini menunjukkan peningkatan integrasi senjata Barat dalam strategi militer Ukraina.


Gangguan Komunikasi Rusia dan Isu Starlink

Di sisi Rusia, ribuan terminal Starlink yang digunakan secara tidak resmi dilaporkan diblokir. Gangguan ini menyebabkan terputusnya sebagian jaringan komunikasi di garis depan.

Selain itu, aplikasi Telegram dilaporkan mengalami pembatasan akses, memicu kepanikan di sejumlah unit tempur yang mengandalkan platform tersebut untuk koordinasi.

Gangguan komunikasi di medan perang modern dapat berdampak signifikan terhadap komando dan kontrol pasukan.


Amerika Serikat Masuk ke Kaukasus Selatan

Sementara itu, Amerika Serikat meningkatkan aktivitas diplomatiknya di Kaukasus Selatan.

Wakil Presiden AS melakukan kunjungan resmi ke Armenia dan membahas potensi kerja sama energi, termasuk kemungkinan kerja sama nuklir sipil berdasarkan “Perjanjian 123” — kerangka hukum kerja sama nuklir sipil AS dengan negara mitra.

Jika terealisasi, kerja sama ini berpotensi:

  • Mengurangi ketergantungan Armenia pada Rusia
  • Menggeser keseimbangan geopolitik di Kaukasus
  • Memperluas pengaruh energi dan teknologi Barat di kawasan

Eropa Memasuki Fase Baru Keamanan Kolektif

Rangkaian langkah dari Polandia, Finlandia, negara-negara Baltik, Inggris, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat menunjukkan bahwa Eropa kini memasuki fase konsolidasi pertahanan jangka panjang.

Sabuk pertahanan dari Arktik hingga Eropa Timur semakin terintegrasi. Bantuan finansial untuk Ukraina diperluas. Infrastruktur energi Rusia menjadi target sistematis. Dan di saat bersamaan, diplomasi energi AS merambah Kaukasus.

Perang Rusia–Ukraina bukan lagi sekadar konflik regional. Ia telah menjadi katalis pembentukan ulang arsitektur keamanan Eropa abad ke-21. (***)

Siklus Sebab dan Akibat

EtIndonesia. Ada seorang petani miskin asal Skotlandia bernama Fleming. Dia tinggal di sebuah gubuk sederhana di daerah terpencil.

Suatu hari, ketika sedang membajak sawah, dia mendengar teriakan minta tolong dari arah kejauhan. Dia segera berlari ke sumber suara itu dan melihat seorang anak laki-laki yang ketakutan terperosok ke dalam rawa. Lumpur telah menenggelamkan tubuh anak itu hingga ke dada. Dia berjuang mati-matian sambil berteriak meminta pertolongan.

Fleming berhasil menyelamatkan anak tersebut dari kematian yang lambat dan mengerikan.

Keesokan harinya, sebuah kereta kuda yang mewah berhenti di depan rumah Fleming. Dari dalamnya turun seorang pria bangsawan yang berpenampilan anggun.

Dia memperkenalkan diri sebagai ayah dari anak laki-laki yang diselamatkan kemarin, dan berkata bahwa dia datang untuk membalas budi.

“Tidak, tidak,” jawab Fleming. “Aku tidak membutuhkan balasan apa pun.”

Pada saat itu, seorang anak laki-laki keluar dari dalam rumah.

“Apakah itu putramu?” tanya sang bangsawan.

 “Ya,” jawab Fleming dengan bangga.

“Baiklah, aku akan memberinya pendidikan yang sama baiknya seperti yang akan diterima oleh putraku sendiri. Jika dia mewarisi kebajikan ayahnya, dia akan tumbuh menjadi seseorang yang membuat kita berdua bangga,” kata bangsawan.

Putra Fleming kemudian disekolahkan di sekolah-sekolah terbaik. Dia akhirnya lulus dari St. Mary’s Medical School di London.

Anak itu kelak dikenal dunia sebagai Alexander Fleming, penemu penisilin, antibiotik yang menyelamatkan jutaan nyawa manusia.

Beberapa tahun kemudian, putra bangsawan tersebut terserang pneumonia yang sangat parah. Dan siapa yang kembali menyelamatkan nyawanya?

Jawabannya: penisilin.

Putra bangsawan itu bernama  Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris.

Sekarang, kamu tentu mengerti apa yang disebut sebagai siklus sebab dan akibat, bukan?

Renungan

Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa di dunia ini, dua orang mana pun dapat saling terhubung hanya melalui lima lapisan jaringan manusia.

Karena itu, kejahatan yang ditabur akan kembali sebagai kejahatan, dan kebaikan yang diberikan pada akhirnya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Niat baik untuk menolong sesama tidak pernah benar-benar hilang. Dia hanya berputar, menunggu saat yang tepat untuk kembali kepada pemberinya— mungkin dengan cara yang sama sekali tak terduga.(jhn/yn)

Dewi dan Tanaman Keberuntungan

EtIndonesia. Pada masa Buddha masih hidup, terdapat seorang dermawan yang sangat mendukung penyebaran ajaran Buddha. Dia kerap menyumbangkan harta bendanya untuk menolong para fakir miskin dan mereka yang hidup dalam kesendirian. Karena kedermawanannya itu, masyarakat menjulukinya “Dermawan Penolong Kaum Papa.”

Pada masa itu, masyarakat hidup dalam sistem kelas yang sangat ketat. Kaum budak berada pada lapisan paling bawah dan disebut sebagai golongan hina.

Meski sang dermawan sangat kaya dan memiliki kedudukan sosial tinggi, dia dikenal berhati lembut, penuh kasih, dan memperlakukan semua orang tanpa membeda-bedakan kelas. Dia bahkan memiliki seorang sahabat karib yang berasal dari golongan budak—kelas sosial paling rendah saat itu.

Budak tersebut berakhlak baik dan dapat dipercaya. Sang dermawan begitu mempercayainya hingga menyerahkan pengelolaan hartanya kepada orang itu.

Namun para kerabat dan sahabat sang dermawan yang berasal dari kalangan atas merasa sangat tidak setuju. Mereka berulang kali menasihatinya agar menjauh dari budak yang dianggap hina itu.

Sang dermawan menjelaskan dengan sabar bahwa hakikat manusia adalah setara, tanpa perbedaan mulia atau hina. Namun karena pandangan kelas sosial telah mengakar kuat di benak para kerabatnya, dia pun merasa sangat tertekan. Akhirnya, dia menemui Buddha untuk memohon petunjuk.

Buddha memuji kebajikan sang dermawan yang menghormati martabat manusia, dan menjelaskan bahwa sikap setara itu bukan hanya miliknya di kehidupan ini, melainkan juga telah dia praktikkan dalam kehidupan lampau.

Kemudian Buddha menceritakan sebuah kisah tentang hubungan sang dermawan dengan budak tersebut di kehidupan sebelumnya.

Pada zaman yang sangat lampau, hidup seorang raja yang memiliki istana megah dan taman kerajaan yang sangat indah. Di taman itu tumbuh berbagai tanaman langka.

Di antara tanaman tersebut, terdapat segerombol rumput keberuntungan yang tumbuh subur dan indah. Saat tertiup angin, daunnya bergoyang lembut dan mengeluarkan aroma harum.

Selain itu, ada pula sebuah pohon aprikot raksasa dengan batang tegak lurus dan cabang rimbun. Pohon ini adalah yang paling besar dan paling megah di taman, hingga dijuluki “Raja Pohon.”

Suatu hari, para pelayan istana melaporkan kepada raja bahwa sebuah bangunan bernama Aula Pilar Tunggal sudah sangat tua dan kini hanya disangga oleh satu tiang besar. Bangunan itu terancam roboh. Raja pun memerintahkan para pengrajin untuk mengganti tiang lama dengan kayu terbaik.

Namun setelah mencari ke seluruh negeri, para pengrajin tidak menemukan kayu yang cocok. Akhirnya mereka menyadari bahwa satu-satunya kayu yang memenuhi syarat adalah pohon aprikot raksasa di taman istana.

Meski raja sangat menyukai pohon itu, Aula Pilar Tunggal merupakan bangunan yang jauh lebih penting. Setelah mempertimbangkan dengan berat hati, raja memutuskan untuk menebang pohon tersebut.

Pada masa itu, orang-orang percaya bahwa setiap pohon dan tanaman memiliki roh penjaga. Maka para pengrajin menyiapkan persembahan buah-buahan, memuja roh pohon, dan berdoa:

“Karena Aula Pilar Tunggal hampir runtuh, kami terpaksa menebangmu untuk dijadikan tiang.
Mohon ampunilah kami.”

Setelah itu, mereka pun pergi.

Roh penjaga pohon aprikot adalah seorang dewi. Ketika mendengar bahwa dirinya akan ditebang, dia menangis dengan penuh kesedihan. Para roh pohon di sekitarnya pun ikut bersedih dan mengeluh, namun tak satu pun tahu bagaimana cara menolongnya.

Selama ini, sang dewi selalu bersikap ramah kepada roh rumput keberuntungan.

Kini, roh rumput itu datang menghiburnya dan berkata: “Mengeluh saja tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kita harus segera mencari jalan keluar dari bahaya ini.”

Namun roh-roh pohon yang merasa lebih tinggi derajatnya memandang rendah roh rumput tersebut.

Mereka mencibir dan berkata: “Kami saja tidak tahu harus berbuat apa, apalagi kamu, roh rumput kecil dan hina. Apa yang bisa kamu lakukan?”

Roh rumput menjawab dengan tenang: “Jika kita sungguh-sungguh memikirkan jalan keluarnya, pasti akan ada cara.”

Malam itu, roh rumput mengumpulkan banyak serangga dan menyuruh mereka membawa tanah serta menempelkannya di batang pohon aprikot. Tak lama kemudian, batang pohon itu dipenuhi gundukan tanah kecil, seolah-olah telah terserang hama parah.

Keesokan paginya, ketika para pengrajin datang untuk menebang pohon, mereka terkejut melihat kondisi tersebut.

“Kenapa pohon ini tiba-tiba jadi seperti ini? Sudah rusak parah karena hama. Kayunya tidak bisa dipakai.”

Akhirnya, mereka pun membatalkan rencana penebangan.

Sang dewi dengan penuh rasa syukur berkata: “Selama ini para roh pohon selalu menasihatiku agar tidak bergaul dengan roh rumput yang dianggap rendah. Namun ketika aku benar-benar berada dalam bahaya,  justru hanya roh rumputlah yang mampu menolongku.”

Setelah menyelesaikan kisah itu, Buddha berkata kepada sang dermawan: “Dewi dalam cerita itu adalah dirimu di kehidupan lampau. Roh rumput keberuntungan itu adalah budak yang kini menjadi sahabatmu. Dalam kehidupan ini memang ada perbedaan antara baik dan buruk, tetapi tidak ada perbedaan mulia dan hina di antara manusia.

Kalian telah saling menolong dari kehidupan ke kehidupan dan menjalin hubungan kebajikan yang sangat baik.  Jagalah persahabatan ini dengan sepenuh hati.”

Pada umumnya, manusia mudah menilai orang lain berdasarkan kekayaan, kekuasaan, dan tingkat pendidikan, lalu meremehkan mereka yang dianggap lebih rendah.

Padahal, ketenaran, kekayaan, dan jabatan bersifat semu dan tidak kekal. Semua itu bukanlah nilai sejati kehidupan.

Hanya dengan memperlakukan setiap orang secara setara dan menjalin hubungan dengan ketulusan dan kasih, kita dapat menjalani hidup yang benar-benar bijaksana.

Renungan

Jika dipikirkan, pohon itu pada akhirnya tetap ditebang— kalau tidak, bagaimana mungkin ada kehidupan berikutnya?

Meski aku sendiri tidak sepenuhnya percaya pada konsep reinkarnasi, aku percaya bahwa kepribadian seseorang akan menarik jenis teman yang serupa.  Orang yang tulus, suka menolong, dan ramah terhadap sesama akan dikelilingi oleh orang-orang dengan sifat yang sama. Sebaliknya, mereka yang hanya mengejar keuntungan akan menarik orang-orang yang berpikir serupa.

Hidup manusia— tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu singkat. Sebagian besar waktu diwarnai ketidakberesan dan ujian.

Karena itu, jangan sombong saat sedang berjaya, dan jangan tenggelam dalam keluh kesah saat sedang terpuruk.

Jika dalam keseharian kita tulus memperlakukan orang lain, maka ketika kesulitan datang, akan selalu ada tangan yang bersedia menolong.

Kelas sosial dan status  hanyalah ciptaan manusia yang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Merendahkan sesama karena merasa lebih unggul hanya akan menumbuhkan kesombongan— dan pada akhirnya, kesombongan itu akan membawa akibatnya sendiri.(jhn/yn)

Wabah Merebak di Mongolia Dalam, Pembangunan Pemakaman, Rumah Duka, dan Rumah Sakit Digenjot Besar-besaran

EtIndonesia. Wabah penyakit dilaporkan kembali merebak di wilayah Mongolia Dalam, Tiongkok. Sejumlah warga setempat mengungkapkan bahwa rumah sakit dipenuhi pasien, obat-obatan sulit diperoleh, jumlah pasien dalam kondisi kritis meningkat tajam, dan kasus kematian mendadak terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari remaja belasan tahun hingga warga berusia lebih dari 60 tahun. 

Di saat yang sama, pembangunan rumah sakit dan rumah duka terus digenjot, serta proyek pemakaman umum diperluas secara besar-besaran. Namun, pihak berwenang disebut-sebut menutupi situasi wabah tersebut.

Warga dari berbagai daerah di Mongolia Dalam menyampaikan bahwa selama musim dingin dengan cuaca yang sangat dingin, jumlah orang yang mengalami demam dan flu meningkat drastis. Banyak yang menduga virus COVID-19 (disebut juga virus PKT) kembali menyebar, tetapi informasi terkait wabah ini tidak diumumkan secara terbuka oleh otoritas setempat.

Seorang warga Kota Hohhot bermarga Zhang mengatakan: “Beberapa tetangga saya meninggal dunia, ada yang berusia 40-an, 50-an, bahkan 50 hingga 60 tahun. Sekarang rumah sakit besar sudah tidak mampu lagi menangani pasien, jadi orang-orang harus berobat ke klinik komunitas.” 

“Asuransi kesehatan di rumah sakit besar juga tidak lagi bisa digunakan secara terpusat. Kami diwajibkan membeli obat di apotek komunitas yang ditunjuk, tetapi sering kali tidak ada obat. Kalau pun apotek punya stok, biayanya tidak bisa ditanggung asuransi. Informasi tidak boleh disebarkan ke luar. Sekarang pengawasannya jauh lebih ketat.”

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wilayah di Mongolia Dalam membangun rumah sakit dan rumah duka baru. Misalnya, di Hohhot—ibu kota Mongolia Dalam—telah dibangun sebuah rumah sakit besar kelas tiga tingkat A (rumah sakit rujukan tingkat tertinggi di Tiongkok) serta satu rumah duka di wilayah Tumed Left Banner. Di Kota Ordos, wilayah Etuoke Banner juga membangun rumah sakit dan rumah duka baru.

Seorang warga Ordos bermarga Qi mengungkapkan bahwa di sekitarnya terdapat cukup banyak pasien pneumonia dan kasus “paru-paru putih” (istilah yang merujuk pada kondisi paru-paru parah akibat infeksi). 

Rumah sakit setempat disebut sudah penuh. Kasus kematian mendadak terjadi pada usia belasan tahun hingga 40-an. Pemerintah daerah juga disebut secara masif membangun area pemakaman umum, dengan harga makam berkisar antara 30.000 hingga 60.000–70.000 yuan.

Qi mengatakan: “Di tempat kami, tahun ini rumah duka dibangun lagi satu, bahkan diperluas. Setelah kremasi, jenazah wajib dimakamkan di pemakaman umum. Ini jadi cara pemerintah mencari pemasukan. Dalam industri saya, penjualan minuman keras meningkat karena banyaknya acara pemakaman. Sementara untuk pesta pernikahan, hampir tidak ada. Sekarang, bisnis yang paling menguntungkan adalah penyelenggaraan upacara duka.”

Seorang warga Hulunbuir yang menggunakan nama samaran Lao Wang menyampaikan bahwa musim dingin memang menjadi periode dengan angka penyakit kardiovaskular yang tinggi. Ia menyebut dua pejabat dari instansi pemerintah setempat—keduanya anggota Partai Komunis Tiongkok—meninggal secara mendadak dalam tidur.

Lao Wang mengatakan: “Usianya sekitar 50-an, ada juga yang lebih muda. Tiba-tiba meninggal mendadak. Ada yang meninggal saat bekerja. Dua pejabat itu, satu berusia 55 tahun dan satu lagi 47 tahun. Mereka meninggal dalam tidur, baru diketahui keesokan paginya. Mereka belum pensiun dan kondisi fisiknya sebelumnya cukup baik.”

Pada Agustus 2023, pendiri Falun Gong, Guru Li Hongzhi, menyatakan bahwa pandemi COVID-19 (virus PKT) terutama ditujukan kepada Partai Komunis serta mereka yang secara membabi buta mengikuti, membela, dan bekerja demi kepentingan partai tersebut. Ia menyebut bahwa sudah banyak orang meninggal dunia, termasuk banyak kalangan muda. Dalam artikel berjudul “Rasional”, Guru Li juga menjelaskan bahwa cara untuk menjaga keselamatan diri adalah dengan “tiga pengunduran diri (mundur dari Partai Komunis, Liga Pemuda, dan Pionir Muda) serta dengan tulus melafalkan kalimat kebenaran.”

Qi juga mengatakan: “Saya dalam hati sering melafalkan ‘Falun Dafa baik, Sejati-Baik-Sabar baik.’ Saya percaya itu pasti membawa manfaat bagi saya. Saya selalu menghormati Guru Li.”

Sumber : NTDTV.com

Menjelang Tahun Baru Imlek, Wabah Merebak di Tiongkok, Kasus Kematian Mendadak pada Kaum Muda Meningkat, Otoritas Dituding Menutup-nutupi

EtIndonesia. Menjelang Tahun Baru Imlek tradisional Tiongkok, berbagai wabah penyakit masih merebak di sejumlah wilayah, khususnya penyakit saluran pernapasan yang menjadi perhatian utama.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok menyatakan bahwa influenza dan COVID-19 masih berada dalam periode penyebaran, namun situasi secara keseluruhan disebut mulai mereda. Meski demikian, banyak warga di berbagai daerah melaporkan rumah sakit penuh sesak, jumlah pasien kritis dan kasus kematian mendadak terus bertambah, serta tingkat positif COVID-19 kembali meningkat.

Masyarakat pun mempertanyakan apakah kondisi wabah yang sebenarnya telah diremehkan atau tidak disampaikan secara transparan. 

Dengan datangnya Tahun Baru dan meningkatnya mobilitas penduduk dalam skala besar, tekanan terhadap pencegahan wabah dikhawatirkan akan kembali meningkat, sehingga arah perkembangan situasi ini menjadi perhatian luas.


Data Resmi: Masih Musim Puncak Penyakit Pernapasan

Baru-baru ini, CDC Tiongkok melaporkan bahwa penyakit menular saluran pernapasan di negara tersebut masih berada pada musim dengan angka kejadian tinggi, meskipun secara umum disebut menunjukkan tren menurun.

Influenza dilaporkan berada pada tingkat penyebaran sedang. Tingkat positif virus syncytial pernapasan (RSV) menunjukkan tren penurunan, sementara rhinovirus, virus parainfluenza, dan coronavirus biasa masih menunjukkan aktivitas pada tingkat tertentu.

Pada 10 Februari, media resmi Partai Komunis Tiongkok menyebut bahwa musim dingin dan awal musim semi memang merupakan periode dengan angka tinggi penyakit infeksi saluran pernapasan akut. Selama libur Tahun Baru, peningkatan kerumunan orang akan memperbesar risiko penularan. Data pemantauan terbaru menunjukkan bahwa patogen utama penyebab infeksi pernapasan akut adalah virus influenza dan RSV.


Warga Laporkan Rumah Sakit Penuh dan Kematian Mendadak

Namun, warga di Mongolia Dalam, Jiangsu, dan wilayah lain menyampaikan gambaran yang berbeda. Mereka mengatakan bahwa jumlah orang yang mengalami demam dan flu sangat banyak, rumah sakit penuh, dan pasien dalam kondisi kritis juga meningkat. Sebagian menduga COVID-19 kembali merebak, sementara otoritas dinilai tidak mengungkapkan kondisi sebenarnya.

Seorang warga Hohhot bermarga Mu mengatakan: “Banyak yang batuk, pilek, sakit tenggorokan. Rumah sakit penuh. Kasus pneumonia berat dan ‘paru-paru putih’ sering terjadi. Sering juga ada yang meninggal, banyak yang masih relatif muda, 50 atau 60 tahun. Masalahnya kebanyakan terkait paru-paru.”

Seorang warga Wuxi, Jiangsu, bermarga Su menyatakan: “Dalam dua tahun terakhir, kematian di sekitar saya sangat banyak. Kematian mendadak cukup sering terjadi. Di perkampungan di Wuxi, banyak orang tiba-tiba meninggal. Ini jelas tidak normal, pasti ada wabah.”


Tingkat Positif COVID-19 Naik, Kematian Cenderung Lebih Muda

Berdasarkan data pekan ke-5 yang dirilis CDC Tiongkok terkait tingkat positif tes asam nukleat, persentase infeksi COVID-19 pada pasien rawat jalan dengan gejala mirip influenza maupun pasien rawat inap dengan infeksi pernapasan akut berat meningkat dibanding pekan sebelumnya.

Warga menyatakan bahwa jumlah kematian mendadak di berbagai daerah meningkat dan cenderung terjadi pada usia yang lebih muda.

Seorang warga desa di Wuhan bermarga Sun mengatakan: “Kasus berat, di sekitar saya banyak yang masih muda, usia 30-an dan 40-an, tiba-tiba saja meninggal. Kami pulang ke kampung halaman, keadaannya dari tahun ke tahun semakin sepi. Dulu banyak orang di mana-mana, sekarang hampir tidak ada. Desa seperti hampir punah. Rasanya sangat menyedihkan.”

Sementara itu, seorang warga Ordos, Mongolia Dalam, mengungkapkan bahwa pemerintah setempat gencar membangun pemakaman umum dengan harga makam berkisar antara 30.000 hingga 60.000–70.000 yuan.

Ia mengatakan: “Di tempat kami, tahun ini rumah duka dibangun lagi dan diperluas. Setelah kremasi, semuanya harus dimakamkan di pemakaman umum. Ini menjadi cara pemerintah mencari pemasukan.”


Kematian Mendadak Tokoh Publik Picu Perhatian

Belakangan, media di Tiongkok juga memberitakan sejumlah kematian mendadak tokoh publik yang memicu perhatian.

Pada 2 Februari, Shen Xianbing, mitra pendiri perusahaan investasi kuantitatif swasta Qilin Investment, meninggal mendadak pada usia 40 tahun.

Baru-baru ini, seorang influencer kebugaran berusia 26 tahun dari Ningbo, bernama Bi Jiaqi, juga meninggal secara mendadak dalam tidurnya. Sehari sebelumnya ia masih berinteraksi normal dengan teman-temannya di platform media sosial.

Seorang dokter lulusan Universitas Okayama Jepang, Zhen Lixue, mengatakan: “Beberapa laporan menunjukkan bahwa populasi Tiongkok tampaknya menurun tajam. Pemerintah tentu tidak akan mengumumkan angka pastinya, tetapi jika populasi turun drastis dan krematorium sangat sibuk, itu mencerminkan dari sisi lain bahwa tingkat kematian memang tinggi.”


Kekhawatiran Jelang Arus Mudik Besar-besaran

Dengan semakin dekatnya Tahun Baru Imlek, mobilitas penduduk dalam skala besar dan lintas wilayah akan meningkat drastis. Ditambah dengan cuaca dingin dan lingkungan tertutup, kondisi ini dikhawatirkan semakin memperbesar risiko penyebaran virus.

Perkembangan wabah dalam beberapa pekan ke depan pun menjadi perhatian publik, terutama di tengah laporan warga mengenai meningkatnya kasus berat dan kematian mendadak. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Video Dihapus, Jalan Ambruk: Misteri Amblesan Besar di Proyek Metro Shanghai

EtIndonesia. Insiden amblesan besar terjadi di lokasi pembangunan Stasiun Qixing Road pada proyek jalur Metro Shanghai yang masih dalam tahap konstruksi. Peristiwa ini berlangsung pada pagi hari 12 Februari 2026, memicu kepanikan di lokasi proyek serta menimbulkan pertanyaan publik terkait keselamatan konstruksi bawah tanah di kota metropolitan tersebut.

Hingga berita ini disusun, rincian resmi mengenai jumlah korban maupun dampak kerusakan secara menyeluruh belum diumumkan secara terbuka oleh otoritas setempat.

Kronologi Kejadian: Jalan Tiba-tiba Turun dan Runtuh Total

Sekitar tengah hari 12 Februari, sejumlah video yang diunggah ke platform Douyin memperlihatkan detik-detik amblesan terjadi di area persimpangan sekitar proyek Stasiun Qixing Road. Namun, sebagian besar video tersebut kemudian dihapus.

Dari rekaman yang sempat beredar, tampak permukaan jalan di persimpangan proyek mengalami penurunan tidak wajar. Retakan-retakan panjang membelah badan jalan, lalu dalam waktu singkat area yang retak terus melebar. Struktur jalan di bagian tengah persimpangan akhirnya runtuh sepenuhnya, membentuk lubang besar yang semakin meluas.

Seiring lubang membesar, para pekerja proyek terlihat berlarian menjauh untuk menyelamatkan diri. Beberapa ruas jalan di sekitar lokasi segera ditutup, sementara tim penanganan darurat dikerahkan untuk mengendalikan situasi. Truk-truk pengangkut beton dan semen dalam jumlah besar didatangkan guna menutup area ambles.

Pipa Bawah Tanah Pecah, Lumpur Menutup Lubang

Dalam proses amblesan tersebut, sebuah pipa bawah tanah berdiameter besar dilaporkan pecah dan memancarkan air dalam jumlah signifikan. Air yang menyembur mempercepat pelunakan tanah, sehingga lubang runtuhan dengan cepat tertutup lumpur.

Sejumlah bangunan sementara di area proyek serta bahan konstruksi—termasuk tong plastik dan material pendukung lainnya—terseret masuk ke dalam lubang. Video dari lokasi memperlihatkan genangan lumpur yang terus bergerak dan menelan struktur di sekitarnya.

Berdasarkan analisis awal dengan membandingkan lebar jalur kendaraan dan objek-objek di lokasi, luas amblesan diperkirakan mencapai 1.000 hingga 2.000 meter persegi, setara dengan satu hingga dua lapangan basket standar. Kedalaman lubang diperkirakan berkisar antara 8 hingga 12 meter.

Kesaksian Warga: “Terdengar Ledakan Keras”

Dua warga yang tinggal di sekitar lokasi menyatakan bahwa mereka mendengar suara ledakan keras saat amblesan terjadi.

Dalam salah satu video yang beredar, terdengar suara panik seseorang berteriak: “Rumah itu jatuh masuk!” disusul suara lain yang mengatakan: “Rasanya gedung kami ikut bergetar.”

Seorang sopir yang mengantar material pengurukan juga mengunggah rekaman, menyebut bahwa tidak lama setelah material diturunkan, area tersebut runtuh sepenuhnya. Seorang pekerja proyek menyampaikan bahwa kejadian tersebut sebenarnya merupakan amblesan besar, meskipun secara resmi disebut sebagai fenomena “rembesan air bawah tanah”.

Pernyataan Resmi: Disebut sebagai “Rembesan Lokal”

Media resmi Tiongkok hingga kini belum memberitakan peristiwa tersebut secara luas.

Pada malam 11 Februari 2026, akun resmi operator metro Shanghai hanya merilis pemberitahuan bahwa sekitar pukul 10:30 waktu setempat pada 11 Februari, saat proses konstruksi jalur kanan segmen antara Stasiun Qixin Road dan Stasiun Xinjie Road—yang dikerjakan oleh China Railway Tunnel Bureau—terjadi fenomena “rembesan lokal”.

Dalam keterangan tersebut ditegaskan bahwa tidak ada korban jiwa.

Otoritas setempat juga mengumumkan penutupan sebagian ruas Jalan Qixin dan Lian’an bagi kendaraan bermotor, kendaraan non-motor, serta pejalan kaki sebagai langkah pengamanan.

Namun demikian, perbedaan antara istilah resmi “rembesan lokal” dengan gambaran visual amblesan besar yang beredar di media sosial memicu perdebatan di kalangan warganet.

Riwayat Insiden Metro Shanghai

Peristiwa ini bukan kali pertama sistem Metro Shanghai mengalami insiden signifikan.

Pada 22 Desember 2024, sebuah kereta Metro Jalur 11 tertimpa derek menara yang roboh. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan berat pada bagian depan kereta dan beberapa gerbong, serta menjebol dinding pelindung jalur layang sepanjang sekitar lima meter.

Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, kerugian ekonomi langsung dilaporkan mencapai 18,31 juta yuan. Gangguan listrik memaksa penumpang menunggu sekitar 50 menit di dalam gerbong yang dingin sebelum akhirnya dievakuasi dengan berjalan kaki sekitar 20 menit menuju stasiun terdekat.

Saat itu, operator hanya menyampaikan surat permintaan maaf tanpa memberikan kompensasi finansial kepada penumpang, menurut laporan media setempat.

Sorotan terhadap Keselamatan Proyek Bawah Tanah

Amblesan di Stasiun Qixing Road kembali menyoroti risiko teknis dalam pembangunan infrastruktur bawah tanah berskala besar di kota-kota megapolitan. Faktor seperti kondisi tanah, tekanan air bawah tanah, serta stabilitas struktur penahan menjadi variabel krusial dalam proyek metro.

Hingga kini, investigasi teknis resmi atas penyebab amblesan masih menunggu hasil akhir. Publik menanti transparansi lebih lanjut terkait kondisi korban, tingkat kerusakan struktural, serta langkah perbaikan jangka panjang untuk memastikan keselamatan konstruksi.

Perkembangan terbaru akan menentukan sejauh mana insiden ini berdampak terhadap jadwal pembangunan jalur metro tersebut serta kepercayaan masyarakat terhadap keamanan sistem transportasi publik di Shanghai.

Satu Foto Isyaratkan Sinyal Bahaya bagi Xi Jinping: Bahkan Tak Berani Tinggalkan Beijing

EtIndonesia. Menjelang Tahun Baru Imlek di Tiongkok, pada 10 Februari, Xi Jinping memecahkan kebiasaan tahunan dengan tidak turun langsung menemui pasukan di garis depan. Sebaliknya, ia memilih tetap berada di Gedung Bayi di Beijing dan menyampaikan “perhatian” kepada militer melalui konferensi video. Cuplikan gambar dari acara tersebut memicu perbincangan luas di kalangan publik.

Sejumlah pengamat menilai, setelah peristiwa yang menimpa Zhang Youxia dan Liu Zhenli, Xi berada dalam kondisi sangat waspada dan diliputi kekhawatiran. Ia bahkan tidak berani meninggalkan Beijing untuk tampil di hadapan publik seperti biasanya. Langkah ini dinilai mengirimkan sinyal yang sangat tidak lazim.

Menurut laporan kantor berita resmi Xinhua pada 11 Februari, sekitar pukul 16.00 tanggal 10 Februari, Xi Jinping berada di Gedung Bayi, Beijing, dan melalui video “memeriksa kesiapan tempur dan tugas jaga seluruh militer”, serta menyampaikan perhatian kepada sejumlah unit. Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Shengmin turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Xi menekankan bahwa seluruh pasukan harus “memperkuat kesiapan tempur, mempertahankan status siaga sesuai ketentuan, serta secara cepat dan efektif menangani berbagai kemungkinan situasi darurat.” Pernyataan seperti ini tidak muncul dalam kesempatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya.

Rekaman yang ditayangkan CCTV menunjukkan di ruangan tersebut terdapat tiga meja. Di meja utama duduk Xi Jinping, sementara di dua meja di sisi kiri dan kanan duduk dua pejabat tinggi militer, salah satunya diyakini adalah Zhang Shengmin.

Cuplikan layar video itu memicu berbagai komentar warganet:

  • “Kunjungan video kali ini lebih terlihat seperti pertunjukan demi melindungi diri sendiri, bukan untuk menenangkan moral pasukan. Seluruh militer seperti tinggal satu komandan tanpa bawahan. Suasananya sangat tegang.”
  • “Moral tentara kacau, semua orang merasa tidak aman.”
  • “Atmosfernya aneh dan ganjil.”

Publik juga mencatat perbedaan mencolok dibanding tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, menjelang Tahun Baru Imlek, Xi turun langsung ke unit militer untuk bertemu prajurit. Namun tahun ini ia tidak melakukannya. Setelah kabar tentang Zhang Youxia dan Liu Zhenli mencuat, Xi juga dilaporkan belum meninggalkan Beijing.

Keputusan Xi untuk melakukan kunjungan publik melalui video pun memicu diskusi luas.

Pada 11 Februari, seorang blogger di platform X dengan nama akun “Tao Miao Xiansheng” menulis bahwa pada 10 Februari, Xi untuk pertama kalinya memilih tetap di Gedung Bayi dan menyampaikan perhatian/kepedulian  melalui video, tanpa berani turun ke lapangan seperti biasanya. Ia menilai hal ini menunjukkan bahwa pengaruh kubu Zhang belum sepenuhnya disingkirkan, sehingga Xi khawatir terhadap kemungkinan pembunuhan di tengah jalan atau kudeta. Menurutnya, ini mengindikasikan bahwa situasi di militer belum stabil, pembersihan besar-besaran masih berlangsung, dan kekuatan anti-Xi masih cukup kuat.

Komentator politik independen Cai Shenkun pada 12 Februari juga menulis di platform X bahwa pada 10 Februari, Xi memecahkan tradisi tahunan menjelang Imlek yang biasanya turun ke unit militer. Kali ini ia tetap berada di Gedung Bayi yang dijaga ketat dan melakukan “pemeriksaan kesiapan tempur” melalui video. Setelah insiden yang menimpa Zhang Youxia dan Liu Zhenli, rasa kekhawatiran Xi dinilai tampak jelas, sehingga ia bahkan tidak berani tampil langsung di hadapan pasukan.

Cai menganalisis bahwa acara kunjungan publik  melalui video tersebut pada hakikatnya bukanlah bentuk kepedulian, melainkan upaya manajemen krisis yang gagal sekaligus ancaman terselubung. Ia menilai Xi telah mengirimkan sinyal yang sangat tidak biasa dan berbahaya:

Pertama, upaya “menenangkan” militer secara paksa. Penyingkiran Zhang Youxia dan Liu Zhenli disebut-sebut mengguncang militer secara serius, bahkan dibandingkan dengan dampak peristiwa Lin Biao pada era Mao. Moral pasukan terpukul dan citra militer rusak. Jutaan personel disebut hidup dalam suasana saling curiga dan merasa tidak aman.

Kedua, penggunaan dalih “anti-korupsi” untuk terus menekan dan mengintimidasi militer.慰問 disebut hanya sebagai balutan manis dari tekanan politik yang keras.

Ia menambahkan, ini bukan lagi komunikasi setara antara panglima tertinggi dan prajurit, melainkan pernyataan terbuka dari seorang pemegang kekuasaan tertinggi yang merasa sangat tidak aman dan tidak percaya diri, sehingga mengandalkan rasa takut untuk mempertahankan kendali.

Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT) periode ke-20 yang dibentuk langsung oleh Xi pada 2022 awalnya terdiri dari tujuh orang. Kini, selain Xi sendiri, yang tersisa hanya Zhang Shengmin. Wakil Ketua KMP Zhang Youxia dan He Weidong, serta anggota KMP Li Shangfu, Miao Hua, dan Liu Zhenli disebut telah tumbang dari jabatan. Data menunjukkan bahwa sejak 2023, setidaknya lebih dari 122 perwira militer telah diselidiki.

Seorang komentator dengan nama akun “Xin Gaodi” di platform X menyatakan bahwa insiden beruntun yang menimpa tokoh-tokoh inti seperti Zhang Youxia dan Liu Zhenli menyebabkan sistem komando KMP mengalami kekosongan yang jarang terjadi. Seluruh militer hidup dalam suasana saling curiga, moral rendah, dan kepercayaan runtuh. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi seperti itu, Xi dinilai enggan mengambil risiko meninggalkan pusat politik Beijing untuk mengunjungi lokasi mana pun yang mengandung variabel tak terduga.

Akun lain bernama “Wu Wang Wu Di (Ao Xi Special Operations Brigade)” menulis bahwa Xi terlihat sangat takut terhadap militernya sendiri. Dalam acara慰問 tersebut, ia bahkan tidak berani mendatangi barak atau bertemu langsung dengan seorang prajurit aktif. Di dalam ruangan hanya tampak tiga orang menatap layar besar. Hal itu dianggap menunjukkan tingkat kecurigaan dan ketidakstabilan internal yang tinggi.

Sementara itu, Du Wen, mantan pejabat Mongolia Dalam yang kini tinggal di luar negeri, dalam program medianya menyatakan bahwa Xi tidak berani pergi karena tiga hal utama jika ditarik garis waktunya: pertama, penangkapan Zhang Youxia; kedua, pembersihan di tubuh militer yang terus berlanjut sehingga kekuasaan militer bergejolak, dan sebagian kekuatan yang terkait Zhang mungkin sedang bersiap melakukan perlawanan; ketiga, adanya pihak di dalam militer yang menunggu saat Xi keluar dari Beijing. Dalam situasi seperti itu, menurutnya, Xi tentu tidak akan berani meninggalkan ibu kota dengan mudah. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Perundingan Nuklir AS–Iran Masih Diwarnai Perbedaan Tajam, Trump Kembali Peringatkan Teheran

EtIndonesia. Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Menteri Luar Negeri Iran pada Rabu (11 Februari) menegaskan bahwa perundingan antara Teheran dan Washington tidak akan mencakup program rudal balistik Iran.

Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali menyampaikan peringatan kepada pemerintah Iran.

Pertemuan Trump–Netanyahu di Washington

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Presiden Trump di Washington.

Setelah pertemuan tersebut, Trump menulis di platform Truth Social bahwa pembicaraannya dengan Netanyahu berlangsung sangat baik. Ia juga menyebut bahwa keduanya membahas kemajuan signifikan terkait Gaza serta proses perdamaian di seluruh kawasan Timur Tengah.

Dalam unggahannya, Trump menyatakan: “Selain saya tetap bersikeras untuk melanjutkan perundingan dengan Iran guna melihat apakah kesepakatan bisa tercapai, tidak ada kesimpulan akhir yang dicapai dalam pertemuan ini. Jika kesepakatan dapat diraih, saya telah menyampaikan kepada Perdana Menteri bahwa itu adalah opsi pilihan saya. Jika tidak tercapai, maka kita hanya bisa menunggu dan melihat perkembangan selanjutnya.”

Namun, Trump juga kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Ia menulis:

“Terakhir kali Iran memilih untuk tidak menandatangani kesepakatan, hasilnya adalah serangan tengah malam—dan itu tidak baik bagi mereka. Semoga kali ini mereka lebih rasional dan bertanggung jawab.”

Israel Ingin Perluas Ruang Lingkup Negosiasi

Sejumlah pihak memperkirakan bahwa Netanyahu akan mendesak Amerika Serikat untuk memperluas cakupan perundingan nuklir dengan Iran.

Selain program nuklir, Israel ingin agar pembahasan juga mencakup pembatasan arsenal rudal Iran serta upaya mengurangi ancaman keamanan lainnya yang dinilai berasal dari Teheran.

Iran Tegaskan Rudal Tak Akan Dinegosiasikan

Di hari yang sama, dalam sebuah peringatan Revolusi Islam 1979 di Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menyampaikan sikap tegas terkait isu perundingan dengan Amerika Serikat.

Araghchi mengatakan: “Tidak seorang pun dapat mengambil tindakan terhadap rudal kami. Program rudal tidak termasuk dalam ruang lingkup perundingan, dan ke depan pun tidak akan dimasukkan.”

Pernyataan tersebut menegaskan adanya perbedaan mendasar antara kedua pihak, terutama terkait isu rudal balistik yang menjadi salah satu perhatian utama Washington dan Tel Aviv.

Trump: Armada Besar Menuju Iran

Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox Business, Presiden Trump menyatakan bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat.

Trump mengatakan: “Kalian semua tahu, saat ini ada armada besar yang sedang menuju Iran. Kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya. Saya pikir mereka ingin mencapai kesepakatan. Jika mereka menolak bernegosiasi, itu sangat bodoh. Terakhir kali kami menghancurkan kemampuan nuklir mereka. Apakah kali ini akan diambil langkah yang lebih keras, masih harus dilihat.”

Pengerahan Militer dan Peran Oman

Ketegangan semakin meningkat setelah Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln, sejumlah kapal perang, serta tambahan kekuatan militer ke kawasan Timur Tengah.

Di tengah situasi tersebut, seorang pejabat tinggi keamanan Iran pada Selasa (10 Februari) melakukan kunjungan ke Oman. Oman selama ini dikenal sebagai salah satu mediator dalam perundingan terkait program nuklir Iran, dengan tujuan meredakan ketegangan dan mencegah kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Trump dan Netanyahu Kembali Bertemu, Fokus Utama Perundingan AS–Iran

EtIndonesia. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu (11 Februari) tiba di Gedung Putih dan mengadakan pertemuan tertutup selama tiga jam dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ini merupakan pertemuan ketujuh antara keduanya sejak Trump kembali ke Gedung Putih.

Isu utama dalam pembahasan tersebut adalah Iran. Netanyahu secara tegas mendesak agar Amerika Serikat memasukkan pembatasan program rudal balistik Iran serta penghentian pendanaan terhadap kelompok-kelompok proksi bersenjata dalam setiap kesepakatan dengan Teheran.

Presiden Trump kemudian menyatakan bahwa ia tetap berkomitmen untuk melanjutkan perundingan dengan Iran. Namun, ia juga memperingatkan bahwa jika jalur diplomasi gagal, Amerika Serikat tidak menutup kemungkinan mengambil langkah yang “sangat keras”.


Pertemuan Ketujuh, Iran Jadi Sorotan

Pada Rabu sore, setelah bertemu dengan Netanyahu, Presiden Trump menyatakan bahwa pertemuan tersebut berjalan sangat sukses. Ia menegaskan kembali keputusan untuk melanjutkan perundingan dengan Iran, sekaligus menyampaikan komitmen untuk bekerja sama secara erat dengan Israel.

Trump mengatakan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, Amerika Serikat akan “menunggu dan melihat” perkembangan selanjutnya. Ia juga mengingatkan Iran bahwa tahun lalu, ketika Teheran menolak untuk berunding, mereka menghadapi apa yang ia sebut sebagai “serangan tengah malam”, yang menghancurkan fasilitas nuklir mereka.

Ini adalah pertemuan keenam antara Trump dan Netanyahu di wilayah Amerika Serikat pada masa jabatan kedua Trump. Tahun lalu, saat Trump berkunjung ke Israel, keduanya juga beberapa kali bertemu.

Rombongan pers Gedung Putih pada Rabu menangkap momen iring-iringan kendaraan Netanyahu masuk dan keluar dari kompleks Gedung Putih, dengan durasi kunjungan lebih dari dua jam.


Netanyahu Bertemu Pejabat Tinggi AS Sebelum Pertemuan

Sebelum menuju Gedung Putih, Netanyahu bertemu dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan secara resmi menandatangani perjanjian keikutsertaan Israel dalam Komite Perdamaian yang diprakarsai oleh Trump.

Sehari sebelumnya, Selasa (10 Februari), setelah tiba di Washington, Netanyahu juga bertemu dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, serta Jared Kushner, untuk mendapatkan pembaruan mengenai perkembangan perundingan AS–Iran.

Sebelum berangkat ke Amerika Serikat, Netanyahu menyatakan bahwa ia akan menyampaikan pandangan Israel mengenai prinsip-prinsip dasar dalam perundingan dengan Iran.

Netanyahu mengatakan:

“Dalam kunjungan ini, kami akan membahas serangkaian isu: situasi di Gaza, situasi di Timur Tengah, dan tentu saja yang paling utama adalah perundingan dengan Iran.”


Perbedaan Sikap antara Iran dan AS–Israel

Selama bertahun-tahun, Israel mendesak Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium yang terkait dengan potensi pengembangan senjata nuklir, membatasi program rudal balistik, serta memutus hubungan dengan kelompok bersenjata di kawasan. Namun, Iran secara konsisten menolak tuntutan tersebut.

Sejak dilantik kembali pada Januari tahun lalu, Presiden Trump membantu memediasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas, serta antara Israel dan Iran, sekaligus berperan dalam upaya pembebasan seluruh sandera Israel yang ditahan Hamas, termasuk pemulangan jenazah sandera.

Dalam perundingan AS–Iran saat ini, Amerika Serikat dan Israel sama-sama menuntut agar Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir serta berhenti mendukung Hizbullah, Hamas, dan kelompok Houthi. Sementara itu, Iran menuntut pencabutan sanksi menyeluruh dari Amerika Serikat dan tetap mempertahankan hak untuk memanfaatkan energi nuklir.

Awalnya, Netanyahu dijadwalkan berkunjung ke AS pekan depan, bertepatan dengan pertemuan resmi pertama Komite Perdamaian yang dipimpin Trump. Namun, pertemuan ini dimajukan satu minggu, yang dinilai berkaitan dengan langkah Trump pada pekan lalu dalam memperkuat penempatan militer di Timur Tengah serta dimulainya kembali perundingan dengan Iran.


Jelang Hari Valentine, Ibu Negara Kunjungi Anak-anak

Sementara itu, Sabtu (14 Februari) akan diperingati sebagai Hari Valentine. Pada Rabu, Ibu Negara Melania Trump mengunjungi Children’s Inn di National Institutes of Health (NIH), dan menghabiskan waktu bersama anak-anak untuk membuat kerajinan tangan dalam rangka menyambut hari yang identik dengan kasih sayang tersebut.

Pada Jumat (13 Februari), pasangan Trump dijadwalkan mengunjungi Fort Bragg di North Carolina untuk bertemu dengan personel militer AS beserta keluarga mereka yang terlibat dalam operasi penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro.

Sumber : NTDTV.com