Kebijaksanaan di Balik Uang 1.000 Yuan

EtIndonesia. Dalam sebuah pesta koktail, Tuan Zhang mengeluarkan uang 1.000 yuan dari sakunya, lalu mengumumkan kepada semua tamu bahwad ia akan melelang uang tersebut kepada penawar tertinggi.

Para tamu diminta saling mengajukan tawaran dengan kenaikan 50 yuan, hingga tidak ada lagi yang menambah harga.

Aturannya sederhana namun tidak biasa:

  • Penawar tertinggi cukup membayar sejumlah harga yang dia ajukan, lalu berhak memperoleh uang 1.000 yuan itu.
  • Penawar tertinggi kedua, meskipun tidak mendapatkan uang tersebut, tetap harus membayar penuh harga yang dia tawarkan kepada Tuan Zhang.

Lelang unik ini—ibarat “membeli uang dengan uang”—seketika menarik minat semua orang.

Awalnya terdengar teriakan tawaran seperti “100 yuan”, “150 yuan”, “200 yuan” silih berganti. Ketika harga naik hingga 500 yuan, ritme mulai melambat. Tinggal tiga atau empat orang yang masih bertahan. Pada akhirnya, hanya Tuan Wang dan Tuan Lin yang tersisa, saling berhadapan tanpa mau mengalah.

Saat Tuan Wang berteriak : “950 yuan!”

Tuan Zhang mengibaskan uang 1.000 yuan di tangannya dan menatap Tuan Lin dengan senyum penuh arti. 

Tanpa banyak berpikir, Tuan Lin langsung berseru: “1.050 yuan!”

Suasana ruangan langsung bergemuruh.

Kini Tuan Li menoleh dengan penuh kemenangan ke arah Tuan Wang, menunggu apakah dia akan menambah harga atau menyerah. 

Tuan Wang mengertakkan gigi dan berkata: “2.050 yuan!”

Keributan di ruangan pun semakin besar. Tuan Lin melambaikan tangan, meneguk koktailnya, dan menyatakan mengundurkan diri dari lelang gila ini. Semua orang pun akhirnya menghela napas lega.

Hasil akhirnya:

  • Tuan Wang membayar 2.050 yuan untuk mendapatkan uang 1.000 yuan.
  • Tuan Lin, tanpa mendapatkan apa pun, tetap harus membayar 1.050 yuan.

Keduanya “imbang”, sama-sama rugi 1.050 yuan, dan seluruh uang itu masuk ke kantong Tuan Zhang.

Tiga Ciri Utama Sebuah Perangkap

Permainan ini diciptakan oleh ekonom Universitas Yale, Martin Shubik (M. Shubik). Orang yang melelang uang hampir selalu pasti untung dari permainan ini.

Ini adalah contoh kecil namun nyata dari “perangkap kehidupan”. Tuan Wang dan Tuan Lin semakin lama semakin terperosok, tak mampu menarik diri, hingga akhirnya harus membayar harga yang menyakitkan.

Sejak dahulu, perangkap yang dipasang manusia untuk menangkap hewan biasanya memiliki tiga ciri utama:

  1. Ada umpan yang sangat menggoda.
  2. Jalan menuju umpan hanya satu arah—bisa masuk, tapi sulit keluar.
  3. Semakin berusaha melepaskan diri, semakin terjerat.

Perangkap-perangkap dalam kehidupan pun sering kali memiliki pola yang sama.

Psikolog sosial A. Teger pernah menganalisis peserta permainan lelang uang 1.000 yuan ini, dan menemukan bahwa mereka yang terjebak biasanya didorong oleh dua jenis motivasi:

  • Motivasi ekonomi, dan
  • Motivasi hubungan sosial (ego dan harga diri).

Motivasi ekonomi meliputi:

  • Keinginan memenangkan uang 1.000 yuan,
  • Keinginan menutup kerugian yang sudah terjadi,
  • Keinginan menghindari kerugian yang lebih besar.

Motivasi sosial meliputi:

  • Menjaga harga diri,
  • Membuktikan diri sebagai pemain terbaik,
  • Menghukum lawan.

Uang 1.000 yuan adalah umpan yang jelas. Pada awalnya, semua orang berharap bisa mendapatkannya dengan harga murah. Karena semua berpikir demikian, harga pun terus dinaikkan.

Ketika permainan sudah berlangsung lama dan harga semakin tinggi, dua orang yang tersisa mulai menyadari bahwa mereka telah masuk perangkap—namun sudah terlalu banyak “investasi” untuk mundur. Satu-satunya jalan yang terasa mungkin adalah menambah investasi.

Saat harga mencapai nilai hadiah, mereka mulai cemas, gelisah, dan menyadari kebodohan sendiri—namun sudah tak berdaya.

Ketika harga melampaui nilai hadiah, siapa pun yang menang pasti rugi. Tetapi demi menyelamatkan muka atau membuat lawan lebih rugi, seseorang rela mengorbankan diri dengan menaikkan harga lebih tinggi lagi.

Perangkap Ada di Mana-mana dalam Hidup

Dalam kehidupan sehari-hari, dari persaingan bisnis hingga hal sepele seperti menunggu bus, perangkap selalu mengintai.

Misalnya, bus biasanya datang setiap 15 menit. Ketika Anda sudah menunggu lebih dari 10 menit, rasa kesal mulai muncul. Jika lewat 15 menit bus belum datang, Anda mulai menyesal—seharusnya tadi berjalan kaki atau naik taksi.

Namun biasanya, Anda tetap menunggu, karena merasa sudah menginvestasikan terlalu banyak waktu untuk pergi sekarang. Akibatnya, Anda semakin terjebak hingga akhirnya bus datang terlambat dan barulah beban batin itu terlepas.

Masalahnya, dalam hidup, tidak semua tujuan pasti datang seperti bus, dan yang kita investasikan bukan hanya waktu—tetapi juga uang, emosi, dan masa depan.

Bagaimana Menghindari Perangkap Kehidupan

Bagaimana cara menghindari perangkap semacam ini? Psikolog J. E. Rubin memberikan beberapa saran:

  1. Tentukan batas investasi sejak awal: berapa uang, waktu, atau tenaga yang bersedia Anda keluarkan.
  2. Setelah batas ditetapkan, patuhi dengan tegas: misalnya, dalam mendekati lawan jenis, tetapkan “sekali ditolak, berhenti”—jangan mengubahnya menjadi “boleh ditolak tiga dari lima kali”.
  3. Putuskan sendiri, jangan melihat orang lain: terbukti bahwa jika dua orang asing sama-sama menunggu bus, kemungkinan mereka pergi justru menurun, karena merasa “orang lain juga menunggu”.
  4. Ingatkan diri sendiri akan biaya jika terus melanjutkan.
  5. Tetap waspada.

Metode-metode ini mungkin terdengar sederhana, tetapi mengetahui itu mudah, melakukannya sulit. Sekali terjebak dalam perangkap kehidupan, menarik diri bukanlah hal yang mudah.

Renungan / Hikmah Cerita

Tulisan ini memang tidak panjang, tetapi menyimpan banyak kebijaksanaan hidup. Dengan contoh permainan yang sangat sederhana, penulis berhasil menyingkap berbagai kelemahan dalam sifat manusia.

Dari keinginan mendapatkan keuntungan besar dengan modal kecil, hingga upaya mati-matian mengurangi kerugian setelah menyadari kesalahan. Tokoh Tuan Lin menggambarkan sisi manusia yang rela rugi lebih besar demi gengsi.

Seperti penutup artikel ini:  “Mengetahui itu mudah, melakukannya sulit. Sekali terjebak dalam perangkap kehidupan, keluar darinya bukan perkara sederhana.”

Terima kasih atas tulisan yang berharga ini—sebuah pelajaran hidup yang layak direnungkan berkali-kali.

Para Elit PKT Panik: Pejabat Kabur ke Luar Negeri, Pembersihan Internal Xi Disebut “Berdarah-darah”

EtIndonesia. Di tengah upaya sebagian negara untuk mempererat hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT), justru muncul fenomena yang berlawanan di dalam tubuh rezim itu sendiri. Semakin banyak pejabat tinggi PKT dilaporkan berusaha melarikan diri ke luar negeri, menyusul gelombang pembersihan internal yang disebut-sebut sebagai yang paling luas dan paling keras dalam beberapa dekade terakhir.

Pelarian Pejabat Tinggi: Sinyal Kepanikan di Puncak Kekuasaan

Pada 28 Januari 2026, pengusaha Tiongkok yang bermukim di Amerika Serikat, Hu Linrun, mengungkapkan informasi mengejutkan terkait situasi elite politik Beijing. Dalam pernyataannya, Hu menyebut bahwa seorang pejabat setingkat wakil menteri PKT telah berhasil melarikan diri ke luar negeri, meskipun identitas dan lokasi detailnya belum dapat dipublikasikan demi alasan keamanan.

Hu Linrun menegaskan bahwa kasus tersebut bukan peristiwa tunggal. Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir semakin banyak pejabat PKT yang memilih kabur, mengundurkan diri secara diam-diam, atau menarik diri dari sistem, karena menyadari besarnya risiko yang kini mengintai siapa pun yang masih berada di lingkaran kekuasaan.

Dia menilai bahwa pembersihan internal yang sedang berlangsung tidak lagi terbatas pada militer, melainkan telah menyasar seluruh sistem kekuasaan PKT, termasuk birokrasi partai, aparat keamanan, dan struktur organisasi inti.

“Ini bukan sekadar penindakan biasa. Ini adalah pembersihan menyeluruh, dan prosesnya akan sangat berdarah,” ujar Hu.

Lebih jauh, Hu juga mengungkap bahwa mantan Wakil Menteri Departemen Organisasi PKT—lembaga yang berperan penting dalam penunjukan dan promosi kader—dilaporkan telah berhasil melarikan diri ke luar negeri. Namun, hingga kini detail terkait jalur pelarian dan negara tujuan masih dirahasiakan.

Dampak Penangkapan Zhang Youxia: Efek Domino di Dalam Sistem

Fenomena ini muncul tak lama setelah penangkapan Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT, yang secara resmi diumumkan pada 24 Januari 2026. Penangkapan tokoh militer paling senior tersebut diyakini telah memicu efek domino, membuat para pejabat lain menyadari bahwa tak ada lagi zona aman di dalam sistem.

Sejumlah analis menilai, sejak saat itu, suasana internal PKT berubah drastis—dipenuhi ketakutan, kecurigaan, dan saling waspada.

Bocoran Terbaru: Penangkapan Massal dan Eksekusi Diam-diam

Pada 29 Januari 2026, aktivis dan pengamat Tiongkok Sheng Xue kembali mempublikasikan serangkaian bocoran yang diklaim berasal dari mantan perwira PKT. Informasi tersebut, jika benar, menggambarkan skala pembersihan yang jauh lebih ekstrem dari yang selama ini diketahui publik.

Beberapa poin utama bocoran tersebut antara lain:

  • Seluruh ajudan dan pengasuh pribadi Zhang Youxia dan Liu Zhengli dilaporkan telah dibunuh, dengan jumlah korban lebih dari 50 orang. Tindakan ini disebut dilakukan untuk “membersihkan jejak” dan mencegah kebocoran informasi.
  • Sekitar 200 orang ditangkap di Komando Wilayah Selatan, sementara Komando Wilayah Timur juga mengalami penangkapan besar-besaran terhadap perwira dan pejabat terkait.
  • Aparat keamanan pribadi Xi Jinping meningkat drastis, dari sekitar 1.000 orang menjadi sekitar 12.500 orang, atau naik lebih dari empat kali lipat dalam waktu singkat.
  • Xi Jinping disebut membentuk lembaga pengawasan silang yang menyerupai Dongchang dan Xichang—lembaga intelijen rahasia era kekaisaran Tiongkok—dengan jumlah anggota diperkirakan 200.000 hingga 350.000 orang.
  • Struktur pengawasan baru ini berada langsung di bawah kendali Cai Qi, orang kepercayaan Xi sekaligus anggota lingkaran inti kekuasaan.

Dinamika Kekuasaan yang Kian Ekstrem

Jika informasi tersebut terbukti akurat, banyak pengamat menilai bahwa Xi Jinping telah memasuki fase kekuasaan yang semakin ekstrem dan tertutup, dengan tingkat paranoia politik yang sangat tinggi. Penguatan aparat keamanan, perluasan pengawasan internal, serta pembersihan tanpa pandang bulu menunjukkan bahwa rezim sedang menghadapi krisis kepercayaan dari dalam.

Dalam situasi ini, bukan hanya pejabat tinggi yang berada dalam bahaya, tetapi juga rakyat biasa, karena sistem pengawasan dan represi berpotensi diperluas ke seluruh lapisan masyarakat.

Kesimpulan: Harapan pada PKT dan Risiko yang Tak Pernah Hilang

Kesimpulan yang disampaikan oleh sejumlah pengamat sangat tegas:
Selama rakyat Tiongkok masih menggantungkan harapan pada PKT, keselamatan—baik politik maupun pribadi—tidak akan pernah benar-benar terjamin.

Gelombang pelarian pejabat, penangkapan massal, serta penguatan aparat keamanan menunjukkan bahwa krisis internal PKT kini telah memasuki fase yang lebih dalam dan berbahaya, dengan dampak jangka panjang yang masih sulit diprediksi—baik bagi stabilitas Tiongkok maupun kawasan internasional.

Rasa Sakit Seekor Belut

EtIndonesia. Sebuah restoran mengadakan pertunjukan kuliner belut segar yang disembelih dan dipanggang langsung di tempat. 

Saya bertanya kepada seorang juru sembelih ikan—yang hari itu harus memotong sedikitnya hampir 300 ekor belut: “Ketika menyembelih belut, apakah Anda bisa merasakan rasa sakitnya?”

Awalnya itu hanya pertanyaan spontan, nyaris seperti berbicara sendiri. Namun tanpa ragu, juru sembelih ikan yang masih muda itu langsung menjawab:“Tentu saja bisa.”

Dia menjelaskan bahwa langkah terpenting dalam menyembelih belut adalah menarik satu sayatan panjang dari kepala hingga ekor, membelah tubuh belut yang bulat menjadi satu bidang datar agar mudah dipanggang. Sayatan itu harus lurus dan panjang. Pada saat itulah belut biasanya akan menggeliat dengan sangat kuat.

“Berat satu belut paling hanya 300–500 gram, tapi tenaga perlawanan mereka sangat besar. Kadang-kadang manusia pun sulit menahannya. Jadi saya tahu, belut itu pasti sangat kesakitan,”katanya.

Saya bertanya lagi:  “Kalau Anda merasakan belut itu kesakitan, apa yang Anda rasakan di dalam hati?”

Dia menjawab: “Saya marah.”

“Marah karena apa?”

“Marah karena mereka terus melawan dan menggeliat, tidak membiarkan saya menyelesaikan satu sayatan dengan cepat. Semakin mereka melawan, semakin sakit yang mereka rasakan. Tapi saya juga tidak bisa berhenti dan tidak menyembelih.”

Saya terdiam lama, merenungkan kata-katanya, dan merasakan perasaan yang sulit dijelaskan.

Bagaimana belut dibunuh?

Karena dunia kuliner menuntut kesegaran, belut harus disembelih dan dipanggang saat itu juga agar menarik bagi para pencinta makanan.

Prosesnya seperti ini:

Belut yang masih hidup dan menggeliat dimasukkan ke dalam ember berisi air es. Dahulu, belut dipukul hingga pingsan, tetapi cara itu dianggap terlalu berdarah, sehingga kini digunakan air es.

Belut yang semula aktif akan menjadi tenang setelah satu atau dua menit di air es, gerakannya melambat. Pada saat inilah juru sembelih bisa memegang belut yang licin itu dengan kuat.

Untuk memegang belut, harus menggunakan tiga jari. Jika memakai lima jari, justru lebih mudah terlepas.

Setelah belut tertahan, pisau digunakan untuk membuat sayatan di leher guna mengeluarkan darah, lalu kepala belut dipaku, tubuhnya dibelah, tulang punggung panjangnya dibuang, ekornya dipotong, bagian-bagian yang tak diperlukan disingkirkan.

Tubuh belut yang bulat kini berubah menjadi balok panjang—selesai. Namun daging belut itu masih disebut “daging hidup.”

Juru sembelih berkata, kepala belut yang sudah terpotong masih bergerak, dan tubuh yang tanpa kepala pun masih bisa bergerak. Jika dibiarkan, belut dengan vitalitas tinggi bisa bertahan hingga enam jam, terus bergerak tanpa henti.

Sambil bercerita, dia menyerahkan tubuh belut kepada koki untuk langsung dipanggang. Panggangannya berada tepat di sebelah kepala belut yang masih bergerak. Koki pun memanggang dagingnya di depan mata kepala belut itu, memotong hatinya, sambil berkata dengan santai: “Kepala ini nanti akan kami rebus untuk dijadikan saus belut.”

Kepala belut yang masih bergerak itu, menyaksikan dagingnya sendiri dipanggang.

Siapa sebenarnya yang kejam?

Saya melihat kepala belut yang masih bergerak, mencium aroma tubuhnya yang sedang dipanggang—perasaan itu sungguh kontradiktif dan sulit dijelaskan.

Dan kepala belut yang masih hidup itu, melihat tubuhnya sendiri dibakar—apa yang dia rasakan?

Saya menatap tangan juru sembelih yang berlumuran darah belut, dan tiba-tiba hati saya terasa sangat sedih.

Dia adalah orang yang masih memiliki perasaan. Dia bisa merasakan rasa sakit belut. Namun karena pekerjaannya, dia tetap harus membunuh hampir 300 ekor belut setiap hari—menanggung 300 kali ketidaknyamanan.

Jika menyembelih belut itu berdarah dan menyakitkan—hal yang tak ingin kita lihat—maka artinya semua ketidaknyamanan dan kekejaman itu telah ditanggung olehnya.

Sementara kita, dengan pura-pura bermoral tinggi, cukup menutup mata dan menikmati sepiring nasi belut yang lezat.

Saya teringat buku “Catatan Seorang Petani Perempuan”. Dalam buku itu, A-Bao mengatakan bahwa dia adalah seorang vegetarian dan percaya pada pertanian organik demi melindungi tanah. Namun suatu hari, karena menolak pestisida, dia harus menangkap hama satu per satu dengan tangannya sendiri.

Dia tidak bisa melepaskan serangga-serangga itu ke alam bebas karena akan merusak ekosistem lain. Maka satu-satunya cara adalah menenggelamkan mereka hingga mati.

Seiring bertambahnya pengalaman, dia merasa bahwa menenggelamkan justru merupakan siksaan yang lambat. Maka dia mulai memukul mati serangga di tempat atau memotongnya dengan gunting—setiap potongan membuat jantungnya bergetar seperti tersengat listrik. Dan dalam sehari, bisa ada ratusan serangga.

A-Bao menulis: “Aku sudah menjadi petani. Memberantas hama adalah tugas petani. Namun untuk menjalani profesi ini dengan sungguh-sungguh, konflik dengan kehidupan tak bisa dihindari.

Aku baru sadar, bahwa ketenangan yang dulu kunikmati adalah bentuk kelicikan yang tak kusadari— karena semua pelajaran sulit telah dikerjakan oleh orang lain.”

Buku itu adalah bacaan yang sangat baik dan menggugah banyak pemikiran.

Bahkan seorang vegetarian yang dengan anggun memakan sayur dan berkata dirinya tidak membunuh, perlu menyadari bahwa agar sayuran itu tumbuh, tak terhitung berapa banyak nyawa serangga yang harus dikorbankan—hanya saja pekerjaan itu telah dilakukan oleh petani atau oleh pestisida.

Saya bukan seorang vegetarian. Saya bisa menikmati sepiring nasi belut dengan senang hati karena saya tidak perlu menangkap atau membunuh belut itu sendiri. Segala pekerjaan yang sulit dan kejam—semua darah dan penderitaan—telah ditanggung oleh juru sembelih dan koki dengan tangan mereka yang berlumuran darah.

Koki memproses hati belut tepat di atas kepala belut yang masih bergerak.

Jika selera manusia tidak bisa dihilangkan, jika kekejaman dan ketidakpedulian adalah bagian dari kelangsungan hidup, maka mungkin satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah lebih banyak berterima kasih— kepada tumbuhan dan hewan yang telah mengorbankan hidupnya, kepada para koki dan nelayan, karena merekalah yang secara nyata menggenggam rasa sakit belut itu, dan menanggung seluruh kekejaman serta ketidaknyamanan di balik kenikmatan makanan yang kita santap.

Renungan / Hikmah Cerita

Tulisan ini membuat staf redaksi teringat pada ungkapan: “Aku tidak membunuh Bo Ren, tetapi Bo Ren mati karena aku.”

Artinya: seseorang mungkin tidak berniat menyakiti atau membunuh, namun karena keberadaannya, orang lain justru terluka atau mati.

Makna lain yang lebih dalam adalah ini: kita sering mengira bahwa dengan memilih jalan tertentu—misalnya menjadi vegetarian—kita telah sepenuhnya lepas dari dosa pembunuhan. Padahal, dosa itu tetap terjadi, hanya saja berlangsung di tempat yang tak kita lihat.

Dunia ini sesungguhnya adalah rantai makanan raksasa. Di balik setiap sajian lezat, tak terhitung nyawa yang telah berkorban—menanggung darah, rasa sakit, dan ketidaknyamanan—demi kita.(jhn/yn)

Kunjungan Presiden Israel ke Australia Dikonfirmasi, Kelompok Pro-Palestina Berjanji Akan Berunjuk Rasa

Komunitas Yahudi menegaskan kunjungan Herzog akan memperkuat solidaritas komunitas dan hubungan bilateral

Naziya Alvi Rahman

Presiden Israel Isaac Herzog akan melakukan perjalanan ke Australia pada awal Februari dalam sebuah kunjungan penting yang berfokus pada keselamatan komunitas Yahudi, demikian dikonfirmasi oleh kantor Kepresidenan Israel

Kunjungan ini menyusul undangan dari pemerintah Australia setelah serangan teroris di Bondi Beach yang menewaskan 15 orang dan melukai 40 lainnya pada 14 Desember 2025.

Menurut pernyataan pemerintah Israel, kunjungan Herzog akan berlangsung dari 8 hingga 12 Februari.

Presiden akan bertemu dengan keluarga para korban tewas dalam penembakan massal di Bondi, serta para penyintas dan kerabat korban yang terluka.

Selain itu, Herzog akan menerima pemaparan mengenai kerja Badan Yahudi (Jewish Agency) dan Organisasi Zionis Dunia (World Zionist Organization) di Australia, termasuk respons mereka terhadap antisemitisme yang masih berlangsung di negara tersebut.

Sebelum serangan teror di Bondi, komunitas Yahudi telah mengalami serangkaian insiden yang bertujuan mengejek atau mengintimidasi mereka, termasuk coretan grafiti, aksi pembakaran, serta pengeboman dengan bom molotov terhadap Sinagoge Adass Israel di Melbourne.

Herzog juga akan mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin senior Australia, termasuk Gubernur Jenderal Sam Mostyn, Perdana Menteri Anthony Albanese, para pemimpin lintas spektrum politik, serta melakukan wawancara dengan media.

Kelompok Pro-Palestina Menyerukan Pembatalan Visa Herzog

Kunjungan resmi Herzog menuai kritik dari para aktivis pro-Palestina, termasuk dari kalangan Partai Buruh (Labor).

Labor Friends of Palestine, sebuah kelompok anggota Partai Buruh yang mendukung pendirian negara Palestina, telah mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri Tony Burke, mendesak agar kementeriannya menolak pemberian visa kepada Herzog.

Burke sebelumnya telah menolak visa bagi sejumlah tokoh Israel, termasuk influencer daring Sammy Yahood, mantan Menteri Israel Ayelet Shaked, pengusaha teknologi Yahudi-Amerika Hillel Fuld, serta anggota Knesset saat ini, Simcha Rothman.

Surat tersebut, yang ditandatangani oleh aktivis Partai Buruh dan serikat pekerja seperti Peter Moss, Wendy Turner, dan Oliver van Ingen, mempertanyakan apakah Burke akan menerapkan “uji karakter” terhadap permohonan visa Herzog. Mereka merujuk pada ketentuan dalam undang-undang migrasi yang berlaku, yang melarang individu yang dituduh terlibat dalam “genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, kejahatan yang melibatkan penyiksaan atau perbudakan, atau kejahatan lain yang menjadi perhatian serius komunitas internasional.”

Surat itu juga menyoroti ketentuan terkait risiko bahwa seseorang dapat “menghasut perpecahan dalam masyarakat Australia atau dalam suatu kelompok masyarakat.”

Organisasi pro-Palestina lainnya juga mengumumkan niat mereka untuk menggelar aksi protes selama kunjungan tersebut.

Dalam unggahan di media sosial, Palestine Action Group menyatakan akan bertemu dengan perwakilan gerakan Palestina secara nasional untuk membahas rencana “hari aksi protes nasional besar-besaran.”

Pemimpin Yahudi Mendukung Kunjungan Herzog

Sementara itu, kelompok-kelompok Yahudi Australia menyambut baik rencana kunjungan Herzog.

Australia/Israel & Jewish Affairs Council (AIJAC) mengatakan kunjungan tersebut menandai “momen yang sangat penting,” serta menjadi peluang untuk memperkuat hubungan Australia–Israel.

Organisasi itu juga mencatat bahwa kehadiran Herzog akan membantu menegaskan kembali nilai-nilai demokrasi bersama dan memberikan rasa aman bagi warga Yahudi Australia.

Selain itu, AIJAC dengan tegas menolak kritik dari kelompok pro-Palestina yang berupaya menggagalkan kunjungan tersebut.

“Kami merasa terganggu dan sedih melihat kelompok dan individu yang bertekad mempolitisasi kunjungan ini dengan melabelinya sebagai ‘memecah belah’ dan mencoba memelintir pernyataan Herzog setelah 7 Oktober,” ujar Direktur Eksekutif AIJAC, Colin Rubenstein.

“Menurut pandangan kami, setelah peristiwa Bondi, kunjungan Herzog bukan hanya pantas, tetapi merupakan bagian penting dari proses pemulihan, dan kami sangat yakin bahwa kami mewakili mayoritas besar warga Yahudi Australia dalam hal ini.”

Crystal-Rose Jones berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Trump : Kanada “Secara Sistematis Menghancurkan Dirinya Sendiri” Lewat Kesepakatan dengan Tiongkok

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Kanada sedang “secara sistematis menghancurkan dirinya sendiri,” seraya menambahkan bahwa “kesepakatan dengan Tiongkok adalah bencana bagi mereka.”

“Kanada secara sistematis menghancurkan dirinya sendiri. Kesepakatan dengan Tiongkok adalah bencana bagi mereka. Ini akan tercatat sebagai salah satu kesepakatan terburuk, dalam bentuk apa pun, dalam sejarah,” ujar Trump dalam unggahannya di Truth Social pada 25 Januari. “Semua bisnis mereka pindah ke AS. Saya ingin melihat Kanada BERTAHAN DAN BERKEMBANG!”

Trump menyertakan sebuah video dalam unggahannya yang menampilkan Presiden dan CEO Asosiasi Produsen Kendaraan Kanada, Brian Kingston, yang berbicara dalam konferensi pers pada 21 Januari di Ontario. Trump menyebut video tersebut sebagai “wajib ditonton.”

Dalam video itu, Kingston mengatakan bahwa kesepakatan dagang Ottawa dengan Beijing “sangat mengkhawatirkan” karena berpotensi “melemahkan sektor otomotif Kanada dan menimbulkan risiko bagi masa depan rantai pasok otomotif Amerika Utara yang terintegrasi.”

“Dengan 90 persen produksi Kanada ditujukan ke Amerika Serikat, tidak ada industri tanpa akses ke AS dan integrasi Amerika Utara,” kata Kingston.

Ia menambahkan bahwa masa depan industri otomotif Kanada bergantung pada “mengamankan hubungan dagang kami dengan Amerika Serikat.” 

Selain itu, ia mengatakan bahwa diversifikasi “bukan pilihan” bagi sektor otomotif, karena pasar di Eropa dan Asia lebih dilayani oleh pabrik perakitan yang berada di kawasan tersebut.

Dalam unggahan Truth Social berikutnya pada 25 Januari, Trump mengatakan bahwa Tiongkok sedang “berhasil dan sepenuhnya mengambil alih negara Kanada yang dulunya hebat.”

Unggahan-unggahan tersebut muncul di tengah pernyataan Trump lainnya dalam beberapa hari terakhir yang menyuarakan kekhawatiran atas perjanjian terbaru Kanada dengan Tiongkok, serta mengatakan bahwa jika Kanada “membuat kesepakatan dengan Tiongkok,” maka Kanada akan dikenai tarif 100 persen atas seluruh barang Kanada yang diekspor ke Amerika Serikat.

Dalam perjalanannya ke Tiongkok awal bulan ini, Carney menandatangani serangkaian perjanjian dengan Beijing, termasuk memangkas tarif impor kendaraan listrik Tiongkok dari 100 persen menjadi 6,1 persen untuk 49.000 kendaraan pertama, sebagai imbalan atas penurunan tarif Tiongkok terhadap kanola Kanada setidaknya hingga akhir tahun.

Saat berada di Tiongkok, Carney mengatakan bahwa Ottawa berada dalam “kemitraan strategis” dengan Beijing dan bahwa kemajuan yang dicapai dalam kemitraan tersebut “menempatkan kami pada posisi yang baik untuk tatanan dunia baru.” Ia juga mengatakan bahwa hubungan antara Ottawa dan Beijing telah memasuki “era baru.”

Menanggapi ancaman tarif 100 persen dari Trump, Carney mengatakan kepada wartawan pada 25 Januari bahwa Kanada “tidak memiliki niat” untuk mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan Tiongkok. Ia menyebut bahwa Kanada memiliki komitmen dalam Perjanjian Amerika Serikat–Meksiko–Kanada (USMCA) “untuk tidak mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan ekonomi non-pasar tanpa pemberitahuan sebelumnya.”

“Kami tidak berniat melakukan itu dengan Tiongkok maupun ekonomi non-pasar lainnya,” kata Carney. “Apa yang kami lakukan dengan Tiongkok adalah memperbaiki sejumlah masalah yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.”

Kekhawatiran Pemerintahan AS

Akun media sosial White House Rapid Response pada 25 Januari mengunggah video Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang berbicara dalam wawancara dengan ABC News, di mana ia mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki pasar yang “sangat terintegrasi” dengan Kanada.

“Kita tidak bisa membiarkan Kanada menjadi celah masuk bagi Tiongkok untuk membanjiri barang-barang murahnya ke AS,” kata Bessent.

“Saya tidak yakin apa yang sedang dilakukan Perdana Menteri Carney di sini, selain mencoba memberi sinyal kebajikan kepada teman-teman globalisnya di Davos,” tambahnya. “Saya rasa dia tidak melakukan pekerjaan terbaik untuk rakyat Kanada.”

Meskipun Trump awalnya terkesan meremehkan perjanjian baru Carney dengan Tiongkok dengan mengatakan kepada wartawan bahwa penandatanganan kesepakatan dagang dengan Tiongkok adalah “hal yang baik,” para anggota senior kabinet Trump justru menyatakan keprihatinan.

Menteri Transportasi AS Sean Duffy mengatakan dalam unggahan di platform X pada 17 Januari bahwa Ottawa akan “menyesali” keputusannya bermitra dengan Beijing dan membawa kendaraan listrik Tiongkok ke pasar Kanada.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyampaikan komentar serupa dalam wawancara dengan CNBC pada 16 Januari, dengan mengatakan bahwa perjanjian tersebut “bermasalah bagi Kanada” dan bahwa Washington memberlakukan tarif atas kendaraan listrik Tiongkok untuk melindungi para pekerja otomotif. Ia mengatakan bahwa dalam “jangka panjang,” Kanada “tidak akan senang telah membuat kesepakatan tersebut.”

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick juga mengatakan pada 22 Januari bahwa Ottawa berisiko membahayakan negosiasi ulang USMCA yang akan datang jika berupaya mempererat hubungan dengan Tiongkok.

Omid Ghoreishi berkontribusi dalam laporan ini

Beijing Bergejolak: Xi Jinping Muncul, Tapi Militer Tak Tunduk

EtIndonesia. Setelah enam hari tidak muncul di hadapan publik, Presiden Tiongkok sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, akhirnya kembali terlihat pada Rabu, 28 Januari. Xi bertemu dengan Perdana Menteri Finlandia, Petteri Orpo, di Balai Agung Rakyat, Beijing, dalam sebuah pertemuan resmi yang segera dilaporkan oleh media pemerintah Tiongkok.

Namun, yang menarik perhatian pengamat bukan hanya kemunculan Xi, melainkan kecepatan luar biasa media resmi PKT dalam merilis laporan pertemuan tersebut. Xinhua dan media utama lainnya hanya menampilkan satu kalimat singkat disertai foto, tetapi dipublikasikan hampir seketika setelah pertemuan berlangsung. Dalam konteks politik Tiongkok, langkah ini dinilai sarat makna politik.

Sinyal Stabilitas di Tengah Krisis Kekuasaan

Banyak analis menilai bahwa publikasi kilat ini bukan sekadar laporan diplomatik biasa. Pertemuan tersebut dipandang sebagai sinyal politik yang disengaja, untuk menegaskan bahwa Xi Jinping masih memegang kendali penuh atas kekuasaan negara, setelah spekulasi merebak akibat penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC), Zhang Youxia, yang diumumkan pada 24 Januari 2026.

Pola ini mengingatkan publik pada cara PKT merespons krisis elite sebelumnya: bertindak cepat untuk mengunci narasi, menenangkan pasar politik internal, dan menekan potensi perlawanan. Pesan yang hendak disampaikan tampak jelas—baik kepada publik domestik maupun kepada jajaran militer—bahwa situasi telah “dikendalikan” dan tidak ada ruang bagi manuver di luar garis pusat kekuasaan.

Lebih jauh, pertemuan dengan kepala pemerintahan asing dipandang sebagai pesan tidak langsung kepada para jenderal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA): bahwa Xi Jinping masih berdiri kokoh dan setiap upaya mengguncang stabilitas akan sia-sia.

Pelatihan Massal Pejabat dan Pengetatan Internal

Di sisi lain, informasi dari luar negeri memperkuat indikasi bahwa situasi internal PKT tengah berada dalam fase pengetatan luar biasa. Jiang Weizheng, seorang warga Tiongkok yang bermukim di Australia, mengungkapkan bahwa seluruh anggota tetap komite partai tingkat provinsi, kota, dan daerah otonom, termasuk pejabat setingkat wakil menteri ke atas, saat ini dikumpulkan untuk mengikuti pelatihan tertutup di Dua Kantor Pusat (Zhongnanhai).

Menurut Jiang, langkah ini secara khusus menyasar pejabat yang memiliki latar belakang militer, termasuk komandan wilayah dan pejabat garnisun. Ini mengindikasikan bahwa fokus pengawasan kekuasaan saat ini tertuju pada jalur militer, bukan semata-mata birokrasi sipil.

Orang Dekat Zhang Youxia Ditempatkan dalam Tahanan Rumah

Masih menurut Jiang Weizheng, Bai Zhongbin, anggota tetap Komite Partai Kota Tianjin sekaligus Komandan Garnisun Tianjin, kini dilaporkan berada dalam tahanan rumah di Kantor Komite Partai Kota Tianjin. Penahanan tersebut disebut dilakukan di bawah pengawasan Sekretaris Partai Kota Tianjin, Chen Min’er, yang dikenal sebagai loyalis Xi Jinping.

Riwayat karier Bai Zhongbin menunjukkan hubungan yang erat dengan Zhang Youxia. Sejumlah kenaikan pangkat pentingnya terjadi setelah Zhang menjabat sebagai Wakil Ketua CMC. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa pembersihan internal tidak berhenti pada Zhang, tetapi merembet ke jaringan pendukungnya.

Keheningan Militer yang Tak Biasa

Meski demikian, langkah-langkah Xi Jinping sejauh ini justru memunculkan kejanggalan yang semakin sulit diabaikan. Hingga 28 Januari 2026, atau empat hari setelah pengumuman resmi penangkapan Zhang Youxia, nama dan foto Zhang masih tercantum di situs resmi pemerintah Tiongkok dan Xinhua sebagai anggota Politbiro PKT. Tidak ada klarifikasi, revisi, ataupun penghapusan informasi—sebuah keanehan serius dalam sistem politik yang biasanya sangat cepat menghapus jejak pejabat yang jatuh.

Lebih mencolok lagi adalah keheningan total dari militer PKT. Sejak 24 Januari, tidak satu pun pernyataan independen dikeluarkan oleh angkatan darat, laut, udara, pasukan roket, maupun lima Komando Wilayah PLA untuk menyatakan dukungan kepada Xi Jinping atau Komisi Militer Pusat.

Penelusuran terhadap akun media sosial resmi lima Komando Wilayah menunjukkan pola yang tidak seragam:

  • Komando Wilayah Timur hanya meneruskan video pengumuman Kementerian Pertahanan dan editorial PLA Daily pada 24 Januari.
  • Komando Wilayah Selatan sekadar membagikan pernyataan tertulis dari Kementerian Pertahanan.
  • Komando Wilayah Barat, Utara, dan Tengah sama sekali tidak merespons, seolah-olah tidak terjadi peristiwa besar apa pun.

Berbeda dari Preseden Sejarah

Sikap ini sangat kontras dengan preseden sebelumnya. Saat Zhou Yongkang, Guo Boxiong, dan Xu Caihou tersandung kasus besar, militer PKT secara cepat dan serempak menyatakan loyalitas kepada “kepemimpinan pusat dan Ketua Komisi Militer”. Nada pernyataan kala itu konsisten, tegas, dan tanpa ambiguitas.

Kali ini, justru keheningan kolektif yang muncul—sebuah sikap yang dalam politik kekuasaan Tiongkok sering kali lebih bermakna daripada pernyataan terbuka.

Diam sebagai Bentuk Perlawanan

Bagi banyak pengamat, sikap diam militer bukanlah netralitas, melainkan perlawanan pasif. Diam berarti tidak mengakui legitimasi penuh atas langkah yang diambil pimpinan pusat. Dalam konteks ini, keheningan PLA bisa dibaca sebagai tanda bahwa militer tidak sepenuhnya berada di pihak Xi Jinping, atau setidaknya menolak cara penanganan kasus Zhang Youxia.

Inilah situasi yang paling berbahaya bagi Xi Jinping. Dalam sistem otoriter, loyalitas militer adalah fondasi utama kekuasaan. Ketika militer memilih diam, maka retakan kekuasaan telah terbuka, meski belum meledak ke permukaan.

Menuju Titik Kritis?

Pertanyaan yang kini menggantung adalah: seberapa jauh Tiongkok dari sebuah guncangan besar di tubuh militernya sendiri?
Apakah keheningan ini hanya strategi menunggu, atau pertanda bahwa konflik internal telah memasuki fase yang lebih dalam dan berbahaya?

Yang jelas, kemunculan kembali Xi Jinping pada 27 Januari bukanlah akhir dari krisis—melainkan mungkin awal dari babak yang lebih menentukan dalam pertarungan kekuasaan di jantung Partai Komunis Tiongkok.

Seekor Kuda yang Membawa Belas Kasih dan Penyesalan

EtIndonesia. Di Arab, ada seorang pedagang kaya yang memiliki seekor kuda yang sangat kuat dan tangguh. Dalam satu hari, kuda itu mampu berlari menempuh jarak ribuan mil, sehingga menjadi alat transportasi terbaik pada masa itu. Karena itulah sang pemilik sangat menyayangi dan merawatnya dengan sepenuh hati.

Ada pula pedagang lain yang setiap hari menggiring sekawanan unta untuk mengangkut barang ke berbagai tempat. Ketika melihat pedagang pertama bisa mengantarkan barang pulang-pergi dalam satu hari dengan menunggang kuda, dia merasa sangat iri dan kagum.

Suatu hari, pedagang kedua berkata kepada pedagang pertama: “Aku ingin menukar sekawanan unta ini dengan kudamu.”

Pedagang pertama menjawab: “Maaf, aku tidak ingin menukarnya.”

Pedagang kedua terus membujuk: “Asal kamu mau memberikan kudamu, apa pun yang kau minta akan kuberikan.”

Namun pedagang pertama berkata dengan tegas: “Apa pun yang kamu katakan, selama aku masih hidup, aku tidak akan melepaskan kuda ini. Dia adalah sahabat terbaik dalam hidupku, jadi aku tidak bisa menukarnya.”

Pedagang kedua sangat menginginkan kuda itu. Dia tahu bahwa pedagang pertama adalah orang yang penuh kasih. Maka suatu hari, dia sengaja mengenakan pakaian compang-camping dan berpura-pura sakit parah, lalu rebah di pinggir jalan yang biasa dilewati pedagang pertama.

Ketika pedagang pertama melihat seseorang tergeletak di jalan, dia segera turun dari kudanya. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata orang itu adalah pedagang kedua. Melihat kondisinya yang seolah sakit berat, pedagang pertama bersusah payah membantu menaikkannya ke atas kuda, berniat mengantarkannya berobat.

Melihat rencananya berhasil, pedagang kedua langsung berubah sikap dan berkata: “Selama ini aku sudah mencoba berbagai cara dan menawarkan banyak harta untuk menukar kudamu, tetapi kamu tidak mau. Sekarang aku sudah berada di atas kuda ini, berarti kuda ini milikku. Aku akan pergi menungganginya.”

Pedagang pertama menjawab dengan tenang: “Karena kamu sudah berada di atas kuda, maka kuda ini memang bisa dianggap milikmu. Namun dengarkanlah beberapa perkataanku, dan ingatlah baik-baik.”

Pedagang kedua berkata:  “Selama kudanya jadi milikku, aku bersedia mendengarkan apa pun katamu.”

Pedagang pertama berkata: “Ingatlah ini: kelak jika ada orang yang bertanya bagaimana caramu mendapatkan kuda ini, jangan sekali-kali kau ceritakan.”

Pedagang kedua bertanya heran: “Mengapa?”

Pedagang pertama menjawab: “Jika kamu menceritakannya, maka di kemudian hari, ketika ada orang yang sakit tergeletak di pinggir jalan, tidak akan ada lagi yang berani menolongnya. Demi mencegah hal itu terjadi, janganlah kamu berkata apa-apa, agar setiap orang tetap memiliki niat baik dalam hatinya.”

Mendengar kata-kata itu, pedagang kedua seketika merasa sangat malu dan diliputi penyesalan. 

Dia segera turun dari kuda dan berkata: “Hanya karena satu niat buruk, aku telah mencederai kebaikan manusia. Aku sungguh menyesal. Kuda ini tetap milikmu. Aku kembalikan kepadamu. Mohon maafkan aku.”

Renungan / Hikmah Cerita

Kemajuan media dan maraknya pemberitaan memang membuat orang lebih waspada dan mengurangi risiko penipuan. Namun di sisi lain, hal itu juga menumbuhkan kecurigaan dan kewaspadaan berlebihan antar sesama manusia.

Bukan karena orang-orang berhati baik semakin sedikit, melainkan karena banyak orang takut—takut bahwa setelah memberi pertolongan, yang mereka terima justru penyesalan.

Perlahan, kehangatan dan rasa kemanusiaan di antara sesama pun semakin memudar.

Namun kita tetap percaya bahwa manusia pada dasarnya terlahir baik, dan hukum sebab-akibat akan selalu berputar. Orang yang tulus berbuat baik pada akhirnya akan menuai kebaikan. Sebaliknya, mereka yang menyalahgunakan kebaikan dan simpati orang lain—suatu hari, ketika benar-benar membutuhkan pertolongan—bisa jadi justru akan menemukan bahwa belas kasih telah menjauh darinya. (jhn/yn)

Sejumlah Warga di Daratan Tiongkok Diperintahkan Menyerahkan Paspor

Para pengacara mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penahanan paspor warga oleh otoritas lokal di Tiongkok adalah tindakan yang melanggar hukum.

EtIndonesia. Sejumlah otoritas lokal di Tiongkok telah memperketat pengawasan terhadap perjalanan luar negeri warga negara Tiongkok, termasuk dengan menyita paspor mereka, demikian disampaikan sejumlah warga Tiongkok kepada The Epoch Times edisi bahasa mandarin.

Dalam beberapa tahun terakhir, rezim komunis Tiongkok telah mewajibkan pegawai negeri menyerahkan paspor mereka. Pembatasan tersebut belakangan diperluas hingga mencakup rohaniwan Katolik serta warga sipil lainnya.

Menurut keterangan sejumlah warga di Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya, polisi atau pejabat kantor subdistrik menuntut agar paspor warga diserahkan untuk “penitipan sementara”, tanpa menyebutkan dasar hukum maupun menjelaskan kapan dokumen tersebut akan dikembalikan.

“Polisi mengumpulkan informasi melalui petugas kepolisian atau kantor subdistrik, apakah seseorang pernah menjalani hukuman penjara atau masuk dalam daftar orang tidak jujur,” ujar Huang, seorang warga Guiyang, Guizhou, kepada edisi bahasa Mandarin The Epoch Times.

“Jika Anda memesan penerbangan internasional, polisi akan menelepon untuk menanyakan tujuan dan maksud perjalanan Anda,” katanya.

Liu Xiaonan, warga Zunyi, Guizhou, mengatakan bahwa warga setempat yang sering bepergian ke Amerika Serikat, Eropa, atau Jepang baru-baru ini diperintahkan untuk menyerahkan paspor mereka.

“Setelah kembali ke Tiongkok, mereka juga dipanggil oleh polisi setempat untuk memberikan keterangan mengenai apa yang mereka lakukan di luar negeri,” kata Liu.

“Seorang teman mengatakan bahwa mereka telah menyerahkan paspornya. Untuk bepergian lagi di masa depan, mereka harus terlebih dahulu mengajukan permohonan ke kantor subdistrik,” ujar Liu. “Pegawai kantor subdistrik sendiri paspornya sudah disita sejak tahun lalu.”

The Epoch Times edisi bahasa mandarin menemukan kasus-kasus serupa di Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya.

Menurut hukum Tiongkok, hanya aparat penegak hukum atau lembaga keamanan nasional yang berwenang menahan paspor, dan itu pun hanya jika pemegang paspor terlibat dalam suatu penyelidikan.

Seorang pengacara dari Wuhan, Tiongkok, yang hanya memperkenalkan diri sebagai Zhang demi alasan keamanan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penahanan paspor merupakan pembatasan terhadap kebebasan bergerak warga negara.

“Hukum menetapkan bahwa warga negara menikmati kebebasan untuk keluar dan masuk negara,” kata Zhang. 

“Jika kewajiban menyerahkan paspor tidak ditujukan kepada individu tertentu yang terlibat dalam perkara hukum, melainkan diterapkan secara umum kepada warga biasa, maka harus ada dasar hukum yang jelas, syarat penerapan, serta prosedur yang tegas. Jika tidak, hal ini dengan mudah menimbulkan sengketa mengenai keabsahannya,” katanya. 

Lai Jianping, mantan pengacara Tiongkok yang kini bermukim di Kanada, mengatakan kepada NTD—media saudara The Epoch Times—bahwa tidak ada dokumen pemerintah mengenai penahanan paspor warga sipil karena kebijakan tersebut memang melanggar hukum.

“Semua pejabat Tiongkok tahu bahwa mereka tidak memiliki kewenangan untuk melakukan ini, sehingga tidak ada yang berani mengeluarkan dokumen resmi secara terbuka, apalagi membuat undang-undang. Mereka bergerak berdasarkan kesepahaman diam-diam, kadang melalui komunikasi lisan, kadang lewat panggilan telepon atau instruksi singkat, dan bawahan mereka hanya mengikuti perintah,” katanya.

Wang Xin berkontribusi dalam laporan ini.

Krisis Internal Militer Tiongkok Menggema ke Dunia: Apa yang Terjadi di Beijing?

EtIndonesia. Situasi internal militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) dilaporkan memasuki fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah sumber yang dekat dengan lingkungan militer PKT mengungkapkan bahwa sejak Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan CMC, Liu Zhenli resmi diselidiki, sebagian besar perintah militer dari CMC tidak lagi dijalankan di lapangan.

Menurut sumber-sumber tersebut, berbagai dokumen instruksi yang dikirim dari pusat kepada komando wilayah dan unit-unit angkatan darat tidak mendapatkan respons sama sekali. Perintah-perintah itu disebut hanya “menghantam udara”, tanpa tindak lanjut nyata dari satuan di bawah.

Dua Dokumen CMC Diabaikan, Keheningan Kolektif Terbentuk

Seorang sumber internal militer PKT bermarga Ruan, dalam wawancara dengan The Epoch Times, menyebutkan bahwa pada 24 Januari, Kantor Umum CMC mengirimkan sedikitnya dua dokumen resmi kepada seluruh komando wilayah dan unit militer.

Dokumen tersebut menuntut agar seluruh jajaran militer menyatakan sikap setia dan sejalan dengan “pusat partai” serta CMC terkait penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Namun, hasil di lapangan justru berlawanan dengan harapan pimpinan pusat.

“Banyak unit sama sekali tidak memberikan respons. Bahkan, sebagian secara terang-terangan menolak menyatakan sikap,” ungkap Ruan.

Keesokan harinya, 25 Januari, CMC kembali mengedarkan dokumen serupa dengan nada yang lebih menekan, bertujuan meredam gelombang penolakan internal. Namun, upaya tersebut kembali gagal total. Hingga kini, tidak ada satu pun pernyataan kolektif dari komando wilayah, matra militer, situs resmi PLA, maupun media militer.

Keheningan menyeluruh ini dinilai sebagai fenomena yang sangat langka dalam sejarah militer PKT.

Jalur Komando Lumpuh, Penolakan Menyebar dari Atas ke Bawah

Sumber lain yang dekat dengan militer menyatakan secara blak-blakan bahwa jalur penyampaian perintah dari pucuk pimpinan nyaris lumpuh total.

“Perintah memang turun, tetapi tidak ada yang menganggapnya serius,” ujar sumber tersebut.

Ruan menegaskan bahwa di kalangan internal militer, penyelidikan terhadap Zhang dan Liu dipersepsikan luas sebagai pembersihan politik, bukan proses hukum murni. Langkah ini disebut telah mengguncang kepercayaan prajurit terhadap pimpinan tertinggi.

Beberapa keluarga personel militer bahkan mengonfirmasi bahwa di Komando Wilayah Timur serta sejumlah unit di daerah pedalaman, prajurit tingkat bawah secara diam-diam menjuluki Xi Jinping dengan sebutan ‘baozi’ (bakpao)—sebuah panggilan bernada ejekan yang sarat makna penolakan.

Sinyal Perlawanan Pasif yang Serius

Seorang analis berlatar belakang militer menjelaskan bahwa dalam konteks militer, penggunaan julukan semacam ini merupakan sinyal perlawanan pasif terhadap otoritas panglima tertinggi.

“Begitu perintah tidak lagi dianggap wajib dilaksanakan, fondasi mobilisasi perang akan runtuh. Tidak akan ada yang mau mempertaruhkan nyawanya,” tegas analis tersebut.

Seorang lulusan akademi militer bermarga Hu menambahkan bahwa penolakan dari bawah ke atas seperti ini sangat jarang terjadi dalam sejarah militer PKT, dan mencerminkan penyangkalan langsung terhadap otoritas pribadi Xi Jinping.

Konvoi Militer Bergerak, Pengamanan Beijing Diperketat

Di tengah memburuknya situasi internal, pada 27–28 Januari, warganet di berbagai daerah—termasuk Yixing dan Taizhou (Jiangsu), Hebei, Tianjin, serta wilayah lain—merekam konvoi besar kendaraan militer yang melaju kencang di jalan tol.

Rekaman tersebut memperlihatkan:

  • Kendaraan pengangkut pasukan
  • Truk logistik militer
  • Kendaraan teknik berat
  • Hingga peluncur rudal

Beberapa ruas jalan dilaporkan ditutup sementara.

Di Jalan Wennan, Distrik Changping, Beijing, terlihat kendaraan komando, kendaraan teknik militer berukuran besar, serta kendaraan tempur dari unit etnis minoritas. Sejumlah warganet mengaku telah menghubungi kerabat di Beijing, Tianjin, dan Hebei, dan semuanya menyaksikan kendaraan militer bergerak menuju ibu kota.

Pada hari yang sama, pengamanan di sekitar Zhongnanhai meningkat tajam. Kendaraan polisi bersenjata berjajar rapat, personel berpakaian sipil dan anggota Biro Pengawal Pusat memenuhi jalan-jalan. Suasana digambarkan mencekam dengan pola pengamanan “tiga langkah satu pos, lima langkah satu penjaga.”

Perhatian Internasional Meningkat, AS Turut Memantau

Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio secara terbuka menyatakan bahwa Washington tengah memantau dengan sangat cermat perkembangan di dalam sistem militer dan politik PKT.

Pada 28 Januari, dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Rubio menegaskan bahwa pembersihan besar-besaran terhadap pimpinan militer PKT telah menarik perhatian serius Amerika Serikat. Dia menyoroti isu kekuasaan dan pengelolaan dana militer, menyebut bahwa meskipun PKT mengucurkan anggaran besar ke militer, sebagian dana diduga disalahgunakan atau digelapkan.

“Amerika Serikat belum memiliki informasi rinci, tetapi kami akan terus memantau perkembangan situasi,” ujar Rubio.

Risiko Kehilangan Kendali atas Dua Juta Tentara

Sejumlah sumber internal militer memperingatkan bahwa jika pihak berwenang tidak membebaskan Zhang Youxia, CMC berisiko kehilangan kendali efektif atas sekitar dua juta tentara aktif, dengan konsekuensi politik dan keamanan yang sulit diprediksi.

Situs Mandarin berbasis New York, New Heights, menilai kegagalan langkah Xi kali ini bersumber dari serangkaian salah perhitungan besar, antara lain:

  1. Meremehkan solidaritas “keturunan merah” dan faksi para sesepuh.
  2. Meremehkan pengaruh Zhang Youxia di partai, pemerintahan, dan militer.
  3. Meremehkan tekad para jenderal pendukung Zhang.
  4. Kekosongan informasi resmi yang justru memicu spekulasi publik.
  5. Respons cepat komunitas internasional yang membuka ruang tekanan eksternal.

Alih-alih mengokohkan kekuasaan, operasi ini justru menyeret Xi Jinping ke posisi negosiasi yang pasif. Restrukturisasi kekuasaan PKT pun masih terus bergejolak.

Spekulasi Baru di Tubuh CMC

Saat ini, di jajaran CMC, hanya Zhang Shengmin yang tersisa. Di dunia maya, warganet mulai mengaitkan situasi ini dengan ramalan klasik Tui Bei Tu, yang menyebut “seorang prajurit membawa busur”.

Spekulasi pun mengemuka: apakah Zhang Shengmin akan menjadi target berikutnya?

Di tengah keheningan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, pertanyaan besar kini menggantung di Beijing—siapa yang sebenarnya memegang kendali atas angkatan bersenjata Tiongkok?

Setelah Kejatuhan Zhang Youxia, Militer Belum Menyatakan Sikap Tegas,  Analisis: Pertarungan Zhang–Xi Jinping Masih Jauh dari Kata Selesai

Saat ini, selain editorial yang diterbitkan oleh surat kabar militer Partai Komunis Tiongkok, belum terlihat adanya pernyataan dari para pejabat tinggi di berbagai komando zona perang maupun pimpinan tertinggi daerah yang menyatakan “mendukung keputusan pusat”. Para analis menilai bahwa pertarungan kekuasaan antara Zhang Youxia dan pemimpin PKT Xi Jinping masih jauh dari kata selesai.

EtIndonesia. Pada 24 Januari, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli secara tiba-tiba diumumkan tumbang dari jabatan. Tak lama kemudian, surat kabar militer PKT menerbitkan editorial yang mengecam Zhang Youxia dan Liu Zhenli serta memberi label resmi terhadap kasus tersebut. Namun, mengenai alasan sebenarnya di balik kejatuhan dua petinggi militer ini, berbagai spekulasi pun bermunculan.

 “Surat kabar militer menggunakan editorial semacam ini untuk terlebih dahulu menstigmatisasi Zhang Youxia dan Liu Zhenli, karena mereka tidak bisa secara terbuka mengatakan bahwa keduanya menantang kekuasaan Xi Jinping. Jika itu dikatakan, justru bisa berdampak sebaliknya,” kata peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Taiwan, Shen Mingshi. 

“Maka mereka menuduh soal korupsi, tetapi tanpa fakta yang konkret. Sekarang yang perlu diperhatikan adalah seberapa banyak pihak di dalam militer yang mau menerima narasi semacam ini, dan apakah ada unit militer atau komando tertentu yang mungkin mengambil tindakan lebih keras,” tambahnya. 

Para ahli menilai bahwa Zhang Youxia sebelumnya pernah bekerja sama dengan kelompok para “sesepuh” PKT, dengan tujuan menjelang Kongres Nasional Partai ke-21 untuk menyingkirkan Xi Jinping dari kekuasaan dan melucuti pengaruhnya, namun upaya tersebut kemudian dibalas oleh Xi.

“Setelah Xi Jinping (dilaporkan) jatuh sakit pasca Pleno Ketiga, muncullah peluang bahwa Xi bisa turun lebih awal. (Zhang Youxia) di satu sisi berusaha mengencerkan kekuasaan, dan di sisi lain secara bertahap memotong kendali agar Xi Jinping tidak lagi memegang kekuasaan penuh,” jelas Shen Mingshi. 

“Pada satu periode, Xi memang terlihat sangat rendah profil, bahkan dalam kegiatan penting ia tidak menggunakan standar protokoler sebagai Ketua Komisi Militer Pusat. Namuntoos, setelah ia menemukan momentum, ia segera melancarkan serangan balik,” tambahnya. 

Saat ini, berbagai situs resmi partai dan pemerintah masih belum menghapus profil Zhang Youxia sebagai pemimpin. Meskipun surat kabar militer telah menerbitkan editorial yang mengkritik Zhang Youxia dan Liu Zhenli, belum terlihat adanya pernyataan resmi dari lembaga-lembaga di bawah Komisi Militer Pusat, dari berbagai komando zona perang, maupun dari masing-masing matra militer yang menyatakan “dukungan penuh terhadap keputusan pusat”. Juga tidak terlihat adanya pernyataan dukungan atau laporan media resmi mengenai kegiatan belajar dan diskusi politik terkait hal ini.

 “Secara logika, jika Xi Jinping benar-benar telah memegang kekuasaan penuh dan berhasil menjatuhkan dua lawan utamanya, seharusnya akan ada pihak yang segera menyatakan loyalitas. Namun kenyataannya tidak demikian. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah Zhang Youxia dan Liu Zhenli benar-benar sudah ditangkap? Bagaimana sikap para sesepuh partai? Selain itu, apakah seluruh anggota Politbiro saat ini sepenuhnya mendukung langkah Xi Jinping? Semua itu tampaknya masih belum pasti, sehingga sampai sekarang belum muncul pernyataan sikap,” tambah Shen Mingshi. 

Sejumlah pengamat menilai bahwa penangkapan Zhang Youxia merupakan peristiwa besar yang menandai percepatan menuju keruntuhan rezim diktator PKT.

“Saya berharap proses ini bisa berlangsung lebih cepat dan lebih singkat, agar rakyat Tiongkok lebih sedikit menderita dan mengalami kerugian. Xi Jinping semakin menekankan kesetiaan ideologis dan kesetiaan pribadi kepadanya,” kata Pemimpin redaksi media dan mantan pendiri NPO di Shenzhen, Ai Shicheng. 

“Namun kesetiaan semacam ini sebenarnya sudah lama bangkrut, karena ideologi komunisme sendiri telah terbukti gagal oleh sejarah—baik secara teori maupun praktik, sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat. Kesetiaan yang dibangun di atas rasa takut hanya akan membuat semua orang hidup dalam kecemasan,” tambahnya. 

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua dan Yi Ru.

Probabilitas Keberuntungan Semu

EtIndonesia. Tak seorang pun bisa mengendalikan peluang keberuntungan semu—paling tinggi hanya 50%.  Namun 50% sisanya adalah wilayah yang bisa kita kendalikan sepenuhnya.

Seorang direktur utama sebuah perusahaan agen mobil mewah mengalami masalah kesehatan. Dia memutuskan untuk memilih satu dari dua manajer penjualan sebagai penerusnya. Keduanya dipanggil untuk mengikuti sebuah penilaian.

Setelah menjelaskan maksudnya, sang direktur memberi tugas sederhana untuk menentukan siapa yang paling layak menjadi penggantinya.

Dia berkata bahwa 50 unit mobil terbaru dari pabrik Jerman akan segera tiba di Taiwan. Kedua kandidat diberi waktu tiga bulan. Siapa yang menjual paling banyak, dialah direktur utama yang baru.

Namun ada satu catatan penting. Pabrik memberi tahu bahwa model ini memiliki satu komponen elektronik yang berpotensi cacat, dengan peluang terjadinya 50%. Cacat ini tidak memengaruhi keselamatan berkendara, sehingga pabrik tidak berencana melakukan penarikan (recall). Masalahnya, jika cacat itu benar-benar terjadi, suku cadang pengganti baru akan tiba tiga bulan kemudian.

Kedua kandidat sangat percaya diri. Berdasarkan catatan penjualan, masing-masing mampu menjual 30 unit dalam tiga bulan.

Hasil akhirnya sungguh mencolok. Saat periode tiga bulan berakhir, satu manajer berhasil menjual 49 unit, sementara yang satunya tidak menjual satu unit pun.

Direktur utama merasa heran. Dia meneliti laporan harian penjualan tiga bulan terakhir dan mendapati bahwa jumlah pengunjung dan test drive keduanya hampir sama, tetapi hasil penjualannya bertolak belakang.

Penasaran, sang direktur meminta seorang temannya menyamar sebagai pembeli dan mendatangi kedua kandidat.

Setelah mendapatkan penjelasan lengkap dan melakukan test drive, teman itu bertanya kepada manajer yang telah menjual 49 unit:  “Kalau saya beli sekarang, kapan mobil bisa diserahkan?”

“Bisa langsung,” jawab manajer itu.

Teman sang direktur mengatakan akan memutuskan dalam dua hari.

Keesokan harinya, setelah test drive di tempat kandidat yang tidak menjual satu unit pun, dia bertanya pertanyaan yang sama.

“Kapan mobil bisa diserahkan?”

“Tiga bulan lagi,” jawab manajer itu.

“Mengapa selama itu?”

“Karena kuota saya sudah habis. Jika Bapak butuh cepat, saya bisa mengenalkan Bapak kepada rekan saya—dia masih punya satu unit terakhir.”

Mendengar laporan ini, direktur utama memanggil kandidat yang tidak menjual mobil itu dan bertanya mengapa dia mengalihkan pelanggan ke orang lain.

Direktur berkata:  “Saya dengar, dari 49 unit yang terjual itu, 30 unit adalah pelanggan yang kamu rujuk. Mengapa kamu melakukannya?”

Manajer itu menjawab dengan tenang: “Sebagai karyawan, saya punya tanggung jawab untuk mendukung penjualan, jadi saya tidak bisa menghentikan penjualan 50 unit ini. Namun sebagai pribadi, saya tidak sanggup menjual mobil yang saya tahu berpotensi cacat, sementara suku cadangnya belum tersedia. Itu bertentangan dengan prinsip saya.

Karena itu, setiap kali merujuk pelanggan, saya menjelaskan potensi cacat tersebut secara jujur. Akibatnya, orang lain memang menjual lebih banyak dari saya.

Namun jika Bapak memilih dia sebagai direktur utama, itu berarti Bapak lebih mementingkan angka penjualan daripada integritas. Dari sudut pandang karier, saya pun merasa tidak cocok dengan budaya perusahaan seperti itu.”

Saat itu juga, manajer yang menjual 49 unit masuk ke ruangan dengan wajah cemas, membawa sebuah dokumen. 

Itu adalah email dari pabrik Jerman: “25 unit suku cadang akan tertunda 30 hari lagi.

Dengan gelisah dia berkata : “Ditunda lagi 30 hari… banyak pelanggan saya minta pembatalan.”

“Berapa orang?” tanya direktur.

“25 orang,” jawabnya.

Dua puluh lima. Tepat setengah dari 50 unit—persis 50%. Keberuntungan semu yang tak bisa dihindari itu akhirnya datang juga: seluruh peluang 50% cacat benar-benar terjadi.

Kita semua tahu, jika sebuah koin dilempar seratus kali, peluang muncul angka atau gambar masing-masing 50%. Artinya, tak seorang pun bisa mengendalikan peluang keberuntungan semu, karena batasnya hanya 50%. Namun 50% sisanya adalah pilihan yang sepenuhnya berada di tangan kita.

Dalam kisah ini, manajer yang menjual mobil memilih berjudi pada 50% keberuntungan semu. Manajer yang tidak menjual mobil menolak berjudi pada peluang itu.

Jika kamu adalah pembeli mobil, kamu akan membeli dari siapa? Dan jika kamu adalah pemilik perusahaan, siapa yang akan kamu pilih menjadi direktur utama?

Satu hal pasti: tak seorang pun ingin menjadi korban dari 50% keberuntungan semu.

Demikian pula dalam hidup. Berapa banyak tindakan kita selama ini yang dilakukan dengan bertaruh pada peluang 50%? Di masa depan, setengah dari tindakan itu pasti akan menimbulkan masalah.

Renungan / Hikmah Cerita

Artikel ini menulis tentang kehidupan—dan kehidupan pun menulis artikel ini. Kisah ini membuat banyak dari kami merenung, bahkan sulit merangkai kata untuk mengungkapkannya.

Namun satu hal sangat jelas: Apa yang tidak kita inginkan terjadi pada diri kita, janganlah kita lakukan kepada orang lain.

Tak seorang pun ingin mengeluarkan uang besar untuk membeli barang cacat. Ingatlah: siapa yang memperlakukan orang lain dengan sikap “coba-coba beruntung”, akan diperlakukan orang lain dengan sikap yang sama. (jhn/yn)

Setelah Kejatuhan Zhang Youxia, Beredar Kabar Pergerakan Tidak Biasa di Militer! Situasi Memanas

Kasus Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah memicu perhatian luas opini publik internasional. Namun hingga kini, otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) belum mengumumkan rincian resmi terkait kasus tersebut. 

Dalam beberapa hari terakhir, berbagai rumor mengenai penangkapan keduanya beredar luas. Menurut informasi terbaru, situasi di Zhongnanhai (kantor pusat dan komplek partai komunis Tiongkok di Beijing) sangat tidak menentu, suasana di dalam militer menegang, dan aparat militer serta kepolisian dikerahkan secara besar-besaran di Jalan Chang’an. Para analis menilai rezim PKT sedang berada pada momen perubahan besar.

EtIndonesia. Setelah Zhang Youxia dan Liu Zhenli tumbang, dunia luar terus mencermati dinamika situasi di Zhongnanhai. Informasi terbaru menunjukkan bahwa tingkat pengamanan di pusat kota Beijing serta jalur-jalur utama keluar masuk kota telah dinaikkan secara signifikan. Warga Beijing mengatakan kepada Epoch Times bahwa dari Dongdan hingga Stasiun Beijing, hampir setiap beberapa langkah terdapat pos penjagaan, dengan patroli ketat di sepanjang jalan.

Mantan pejabat Kementerian Luar Negeri PKT, Han Lianchao, mengunggah foto di platform X yang menunjukkan bahwa di Jalan Chang’an Beijing, aparat militer, polisi, polisi militer, dan pasukan khusus dari berbagai lembaga melakukan penjagaan gabungan.

Pada 27 Januari, sejumlah video juga beredar di internet yang memperlihatkan adanya pergerakan pasukan militer PKT di berbagai tempat, termasuk wilayah militer Xuzhou. Dalam rekaman tersebut terlihat sejumlah besar pasukan darat dikerahkan dengan senjata lengkap dan perlengkapan tempur penuh. Karena PKT selama ini dikenal dengan praktik operasi tertutup, kebenaran informasi tersebut untuk sementara belum dapat diverifikasi.

 “Pergerakan militer yang kita lihat menunjukkan bahwa memang ada tingkat ketidakpuasan yang cukup besar di dalam militer, dan juga benar-benar ada koordinasi antar unsur. Pernyataan ini terutama saya sampaikan berdasarkan informasi yang saya peroleh dari sumber internal di dalam negeri,” kata Wakil Ketua Front Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue. 

Informasi terbaru juga menunjukkan bahwa saat ini terdapat beberapa faksi yang ikut terlibat dalam peristiwa ini.

Sheng Xue menambahkan:  “Teman saya mengatakan kepada saya bahwa saat ini kekuatan lama dari faksi Jiang, faksi Ye, termasuk Liu Yuan dan pihak-pihak lainnya, kemungkinan semuanya ikut campur dalam situasi ini.”

Selain itu, menurut pengungkapan aktivis demokrasi Tiongkok yang bermukim di Amerika Serikat, Tang Baqiao, melalui platform X, kasus Zhang Youxia masih belum sepenuhnya berakhir. 

Kedua pihak saat ini dikabarkan tengah berdebat mengenai legalitas penangkapan tersebut. Otoritas absolut pemimpin PKT Xi Jinping disebut-sebut untuk pertama kalinya menghadapi tantangan serius, dan risiko bentrokan terbuka semakin meningkat.

 “Penangkapan Zhang Youxia kali ini pada dasarnya merupakan hasil dari pertarungan politik. Kasusnya sangat berbeda dengan kasus sebelumnya seperti Miao Hua atau Li Shangfu. Dari terjadinya insiden hingga pengumuman resmi, hanya berlangsung beberapa hari. Sementara Miao Hua, He Weidong, maupun Li Shangfu semuanya melalui apa yang disebut ‘penyelidikan’ selama setidaknya lebih dari setengah tahun,” kata Pengamat isu aktual dan blogger Military Intelligence Bureau, Zhou Ziding. 

“Ini menunjukkan bahwa Xi Jinping sangat ingin menyelesaikan kasus Zhang Youxia dalam waktu singkat. Selain itu, tuduhan terhadap Zhang Youxia sangat berat, termasuk ‘secara serius menginjak-injak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat,” tambahnya. 

“Tuduhan seperti ini belum pernah kita lihat dalam sejarah militer PKT. Dari sini dapat terlihat bahwa pertarungan antara Xi Jinping dan Zhang Youxia bersifat hidup atau mati, dan sangat sengit,” lanjutnya. 

Pada 27 Januari, media resmi PKT melaporkan bahwa pemimpin PKT Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo di Aula Besar Rakyat di Beijing. Para analis menilai ini merupakan pola khas PKT: di dalam terjadi gejolak dan arus bawah yang kuat, sementara di permukaan tetap mempertontonkan stabilitas.

 “Pendekatan seperti ini sebenarnya tidak mengejutkan. Secara keseluruhan, PKT—baik melalui kontrol sepihak maupun kerja sama antar faksi—pasti akan berusaha menyampaikan sinyal kepada dunia luar bahwa kekuasaan dan pemerintahan PKT tetap stabil,” kata Sheng Xue. 

Sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip sumber yang mengetahui masalah ini dan melaporkan bahwa otoritas terkait PKT telah menyita perangkat komunikasi milik para perwira yang dipromosikan bersamaan dengan Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Selain itu, ribuan perwira yang memiliki keterkaitan dengan mereka kemungkinan akan menjadi target penyelidikan selanjutnya.

Para analis menilai bahwa peristiwa ini bukan hanya pertarungan kekuasaan antara Xi Jinping dan Zhang Youxia, tetapi juga bisa menjadi pemicu awal dari perubahan besar yang menentukan nasib rezim PKT.

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui.

Front Selatan Retak! Rusia Tinggalkan Kherson, Logistik Donetsk Dibakar, Armada Laut Hitam Terancam

EtIndonesia. Perkembangan terbaru di medan perang Ukraina menunjukkan peningkatan signifikan intensitas operasi militer Kyiv di berbagai front strategis. Dari wilayah rawa-rawa di selatan Kherson hingga garis logistik Rusia di Donetsk timur, pasukan Ukraina terus menekan, sementara militer Rusia dilaporkan mengalami kemunduran di sejumlah sektor kunci.

Rusia Mundur dari Posisi Strategis di Kherson

Menurut laporan RBC News, sekitar 26 Januari, pasukan Rusia telah ditarik mundur dari Pulau Oleksiivskyi di wilayah Kherson. Pulau ini sebelumnya berfungsi sebagai salah satu basis operasional penting Rusia di kawasan rawa-rawa sepanjang Sungai Dnipro.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Selatan Ukraina mengonfirmasi penarikan tersebut. Berdasarkan penilaian intelijen Ukraina, mundurnya pasukan Rusia tidak hanya disebabkan oleh tekanan militer langsung, tetapi juga oleh merosotnya moral tempur di kalangan prajurit Rusia. Serangan drone yang konsisten, keterbatasan suplai, serta kesulitan mempertahankan posisi di medan rawa disebut menjadi faktor utama.

Dengan ditinggalkannya Oleksiivskyi, Rusia kehilangan titik pijak penting untuk operasi pengintaian dan serangan lintas sungai, sementara Ukraina memperoleh ruang gerak lebih luas untuk memperkuat kendali di selatan Kherson.

Serangan Presisi Ukraina di Donetsk Timur

Di wilayah Donetsk timur, pasukan Ukraina juga melancarkan operasi ofensif terarah. Brigade Mekanis ke-28 Ukraina dilaporkan melakukan serangan berat terhadap sistem artileri dan jaringan logistik Rusia di sekitar Velyka Novosilka.

Dalam operasi tersebut, Ukraina berhasil:

  • Menghancurkan pusat suplai logistik Rusia
  • Melumpuhkan node kendali drone yang digunakan untuk pengintaian dan serangan
  • Memasang ranjau di jalur utama pergerakan pasukan Rusia, memperlambat rotasi dan pengiriman amunisi

Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis Ukraina untuk memutus rantai pasokan Rusia, sekaligus mengurangi efektivitas artileri dan drone yang selama ini menjadi tulang punggung operasi Moskow di Donetsk.

Fasilitas Minyak di Penza Hancur Total

Sementara itu, Ukraina juga merilis citra satelit terbaru yang menunjukkan kehancuran total sebuah fasilitas penyimpanan minyak di Penza, wilayah Rusia bagian barat. Kebakaran besar di lokasi tersebut dilaporkan berlangsung selama beberapa hari.

Menariknya, Penza berjarak sekitar 500 kilometer dari Moskow, menandakan bahwa Ukraina semakin memperluas jangkauan serangan terhadap infrastruktur strategis Rusia di wilayah pedalaman. Meski Moskow belum merilis penjelasan rinci, kerusakan ini dipandang sebagai pukulan terhadap logistik energi dan cadangan bahan bakar Rusia.

Armada Laut Hitam Rusia Kian Tertekan

Pada 27 Januari, kelompok perlawanan Ukraina HP陆 melaporkan bahwa Komandan Armada Laut Hitam Rusia, Laksamana Sergei Pinchuk, berpotensi dicopot dari jabatannya. Laporan tersebut menyebutkan bahwa kegagalan mempertahankan pangkalan dan kapal dari serangan drone Ukraina menjadi alasan utama.

Jika informasi ini terkonfirmasi, Pinchuk akan menjadi komandan ketiga Armada Laut Hitam Rusia yang dicopot sejak dimulainya perang skala penuh pada Februari 2022—sebuah indikasi krisis kepemimpinan dan tekanan operasional yang terus berlanjut di armada tersebut.

Data militer menunjukkan bahwa sejak Februari 2022:

  • Ukraina telah menghancurkan atau merusak sekitar sepertiga Armada Laut Hitam Rusia
  • Hingga musim semi 2024, armada tersebut dinilai hampir kehilangan kemampuan tempur sistemik, terutama akibat serangan drone laut, rudal jarak jauh, dan operasi intelijen presisi

Gambaran Umum: Ukraina Menggenggam Inisiatif

Secara keseluruhan, dari Kherson hingga Donetsk, Ukraina tampak jelas meningkatkan tempo dan cakupan serangan, baik di garis depan maupun terhadap target strategis di wilayah Rusia. Sebaliknya, Rusia menghadapi perlambatan operasi di beberapa sektor, tekanan moral pasukan, serta tantangan serius dalam mempertahankan logistik dan aset militernya.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Ukraina–Rusia memasuki fase baru, di mana perang jarak jauh, serangan presisi, dan penggerusan kemampuan logistik menjadi penentu utama arah pertempuran ke depan.

Mengharukan Tanpa Penyesalan

EtIndonesia. Ada seorang gadis muda yang cantik, terlahir dari keluarga terpandang, memiliki kekayaan melimpah, serta berbakat dalam banyak hal. Hidupnya serba berkecukupan. Para mak comblang bahkan hampir merusak ambang pintu rumahnya karena terlalu sering datang. Namun gadis itu tetap tidak ingin menikah, sebab dia merasa belum bertemu dengan pria yang benar-benar ingin dia nikahi.

Suatu hari, dia pergi ke sebuah perayaan kuil untuk menenangkan pikirannya. Di tengah lautan manusia yang berdesakan, dia melihat seorang pria muda. Tanpa perlu alasan atau penjelasan, gadis itu tahu—dialah pria yang selama ini dia tunggu.

Sayangnya, keramaian terlalu padat. Dia tak mampu mendekatinya dan hanya bisa menyaksikan pria itu menghilang di tengah kerumunan.

Dalam dua tahun berikutnya, gadis itu berkeliling ke mana-mana untuk mencari pria tersebut. Namun seolah-olah pria itu menguap begitu saja—tanpa jejak, tanpa kabar.

Setiap hari gadis itu berdoa kepada Buddha, memohon agar diberi kesempatan bertemu kembali dengan pria itu.

Ketulusan doanya akhirnya menggerakkan Buddha, dan Buddha pun menampakkan diri.

Buddha bertanya: “Apakah kamu ingin bertemu kembali dengan pria itu?”

Gadis itu menjawab: “Ya. Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi.”

Buddha berkata: “Kamu harus melepaskan semua yang kamu miliki sekarang—keluargamu yang mencintaimu, dan kehidupan bahagiamu.”

Gadis itu menjawab: “Aku sanggup.”

Buddha melanjutkan: “Kamu juga harus menjalani pertapaan selama lima ratus tahun, baru bisa melihatnya sekali. Apakah kamu tidak menyesal?”

Gadis itu berkata dengan tegas: “Aku tidak menyesal.”

Maka gadis itu berubah menjadi sebuah batu besar, tergeletak di tempat terpencil. Selama lebih dari empat ratus tahun, dia diterpa angin dan matahari, menderita tanpa henti. Namun semua penderitaan itu terasa biasa baginya.

Yang paling menyakitkan justru adalah—selama ratusan tahun itu, dia tidak melihat seorang manusia pun, tak ada secercah harapan. Hampir saja dia runtuh.

Pada tahun terakhir, sebuah tim penambang datang. Mereka melihat batu besar itu, memahatnya menjadi balok batu raksasa dan membawanya ke kota untuk membangun sebuah jembatan. Gadis itu pun berubah menjadi pagar batu jembatan.

Pada hari pertama jembatan itu selesai dibangun, gadis itu akhirnya melihat pria yang telah dia tunggu selama lima ratus tahun.

Pria itu berjalan tergesa-gesa, seolah memiliki urusan penting. Dia melintas tepat di tengah jembatan dan tentu saja tidak menyadari bahwa sebuah batu sedang menatapnya dengan penuh cinta. Sekali lagi, pria itu menghilang.

Buddha pun muncul kembali.

Buddha bertanya: “Apakah sekarang kamu puas?”

Gadis itu menjawab: “Tidak! Mengapa aku hanya menjadi pagar jembatan? Jika aku berada di tengah jembatan, aku bisa menyentuhnya… setidaknya menyentuhnya sekali!”

Buddha berkata: “Jika kamu ingin menyentuhnya, kamu harus bertapa lima ratus tahun lagi.”

Gadis itu berkata tanpa ragu: “Aku bersedia.”

Buddha bertanya lagi: “Kamu sudah menanggung begitu banyak penderitaan. Apakah kamu masih tidak menyesal?”

Gadis itu menjawab: “Aku tidak menyesal.”

Maka gadis itu berubah menjadi sebatang pohon besar, berdiri di sisi jalan raya yang ramai dilalui orang. Setiap hari banyak orang lewat. Dia bisa melihat dari dekat—namun ini justru lebih menyiksa. Berkali-kali harapan muncul saat seseorang datang, dan berkali-kali pula harapan itu hancur.

Jika bukan karena pertapaan lima ratus tahun sebelumnya, mungkin gadis itu sudah lama runtuh.

Hari demi hari berlalu. Hati gadis itu perlahan menjadi tenang. Dia tahu—pria itu tidak akan muncul sebelum hari terakhir.

Lima ratus tahun pun berlalu. Pada hari terakhir, dia tahu pria itu akan datang. Anehnya, hatinya tidak lagi berdebar.

Dia datang.Dia benar-benar datang.

Dia masih mengenakan jubah putih kesayangannya, wajahnya tetap tampan seperti dulu. Gadis itu menatapnya dengan penuh cinta.

Kali ini, pria itu tidak berjalan tergesa-gesa. Hari itu sangat panas.

Dia melihat sebuah pohon besar di tepi jalan. Rimbun, sejuk, mengundang untuk beristirahat. Dia pun berjalan ke bawah pohon itu, bersandar pada akarnya, perlahan memejamkan mata, dan tertidur.

Gadis itu menyentuhnya. Dia bersandar tepat di sisinya.

Namun dia tidak bisa mengatakan apa pun—tentang kerinduan yang telah dia simpan selama seribu tahun.

Yang bisa dia lakukan hanyalah mengumpulkan seluruh keteduhan yang dia miliki, melindunginya dari teriknya matahari. 

Seribu tahun kelembutan… seribu tahun cinta tanpa kata.

Pria itu hanya tertidur sejenak. Dia masih memiliki urusan. Dia bangkit, menepuk debu di jubahnya, lalu sebelum pergi, dia menoleh ke arah pohon itu dan dengan lembut menyentuh batangnya—seolah berterima kasih atas kesejukan yang diberikannya.

Lalu dia pergi, tanpa menoleh kembali.

Saat pria itu menghilang dari pandangannya, Buddha muncul sekali lagi.

Buddha bertanya: “Apakah kamu masih ingin menjadi istrinya? Jika ya, kamu harus bertapa lagi.”

Gadis itu dengan tenang menyela: “Aku sangat ingin… tetapi tidak perlu.”

Buddha terkejut: “Oh?”

Gadis itu berkata: “Seperti ini sudah cukup. Mencintainya tidak harus menjadi istrinya.”

Buddha berkata pelan: “Oh…”

Gadis itu bertanya: “Istrinya sekarang… apakah dia juga telah menderita seperti aku?”

Buddha mengangguk pelan.

Gadis itu tersenyum tipis: “Aku juga bisa melakukannya. Tapi tidak perlu.”

Pada saat itu, gadis itu melihat Buddha menarik napas panjang—atau mungkin menghembuskannya dengan lega.

Dia bertanya heran: “Apakah Buddha juga memiliki kegundahan?”

Wajah Buddha pun tersenyum: “Karena dengan keputusanmu ini, ada seorang pria yang tidak perlu menunggu seribu tahun lagi.

 Demi bisa melihatmu sekali saja, dia telah bertapa dua ribu tahun…”

Hidup selalu menjaga keseimbangan— dengan cara yang kita pahami, atau mungkin tidak pernah kita pahami.

Apakah itu hakikat cinta? Satu hal menaklukkan hal lainnya. Bukankah demikian? (jhh/yn)

Badai Musim Dingin Melanda Amerika Serikat, Ribuan Penerbangan Dibatalkan

Badai musim dingin yang berlangsung dari akhir pekan hingga Senin (26/1/2026) ini membuat sekitar dua pertiga wilayah Amerika Serikat mengalami suhu di bawah nol derajat. Di wilayah Lembah Sungai Ohio, suhu terendah bahkan turun hingga minus 29 derajat Celsius. 

Badan Meteorologi Nasional AS menyatakan bahwa gelombang udara dingin ini akan terus berlanjut hingga pekan depan. Hingga Selasa (27/1/2026) pagi, lebih dari 1.400 penerbangan telah dibatalkan. Pemirsa juga diimbau untuk tetap menjaga kehangatan dan memperhatikan keselamatan saat bepergian.

EtIndonesia. Badai musim dingin yang kuat melanda Washington DC pada akhir pekan, menyelimuti seluruh kawasan dengan lapisan salju tebal, tampak putih sejauh mata memandang.

“Ini benar-benar badai salju terbesar sepanjang sejarah. Saya pernah melihat beberapa badai salju besar, tapi tidak ada yang sebanding dengan yang ini,” kata Warga Washington, Mark Phihouer. 

Mark Phihouer, warga Washington

Seorang warga Washington lainnya berkata:  “Saya mengendarai kendaraan berpenggerak empat roda menembus badai salju untuk masuk ke kota, menerobos salju sepanjang jalan. Saya merekam beberapa video—salju beterbangan dan kota tampak kosong. Sebenarnya cukup keren.”

Menurut data Badan Meteorologi Nasional, ketebalan salju di wilayah Washington mencapai sekitar sembilan inci. Di beberapa daerah, salju juga bercampur dengan beberapa inci lapisan es, membuat permukaan tanah menjadi keras dan licin.

Di luar Gedung Capitol (Gedung Kongres AS0, orang-orang berkumpul dan menikmati waktu bersama. Salju ini mungkin tidak cocok untuk perang bola salju, tetapi jelas merupakan waktu yang tepat untuk bermain seluncur salju.

Seorang warga Washington berkata:  “Kami sedang mencoba bermain seluncur salju tanpa papan seluncur. Hasilnya tidak terlalu bagus, tapi kami terus mencoba.”

Warga lainnya mengatakan:  “Ini adalah waktu terbaik di dunia. Saya membawa tutup tempat sampah untuk memanfaatkan salju ini sepenuhnya. Salju jarang turun di Washington, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin.”

Suasana badai musim dingin di Washington

Reporter NTD, Sheng Yan, melaporkan:  “Saya sekarang berada di luar Gedung Capitol, di bawah kaki saya terdapat salju yang sangat tebal. Lihat, jika saya mengeruk dengan tumit sepatu, saya bisa menggali sedalam beberapa inci. Fase terparah dari badai salju telah berlalu, namun karena suhu minggu ini tetap di bawah nol, salju diperkirakan sulit mencair dalam waktu dekat.”

Sebagian warga mengatakan bahwa meskipun badai salju membawa kesenangan, bepergian tetap sangat sulit.

Pendeta Washington, Gene Hemrick, mengatakan:  “Gereja ada di sana, tapi pagi ini saya memutuskan untuk mencoba dan melihat bagaimana kondisinya. Jalan-jalan yang tertutup salju sangat sulit dilalui, dan akhirnya saya terjatuh dengan keras.”

Badai musim dingin berskala besar ini menyebabkan sekitar dua pertiga wilayah Amerika Serikat mengalami suhu di bawah nol derajat, dan setidaknya 30 orang dilaporkan meninggal dunia.

Di Massachusetts dan Ohio, masing-masing dua orang tewas setelah tertabrak kendaraan pembersih salju. Di Arkansas dan Texas, kecelakaan seluncur salju yang fatal merenggut nyawa remaja. Ada pula orang yang mabuk dan tergeletak di jalan hingga meninggal karena kedinginan.

Pejabat Kota New York menyatakan bahwa selama akhir pekan, delapan orang ditemukan meninggal di luar ruangan.

Badan Meteorologi Nasional menyebutkan bahwa gelombang udara dingin ini akan bertahan hingga pekan depan. Sementara itu, satu lagi massa udara Arktik sedang mendekat. Dari Jumat hingga Sabtu, udara dingin tersebut akan bergerak dari wilayah dataran menuju arah tenggara, berpotensi mencetak rekor suhu rendah baru, dengan dampak yang bisa meluas hingga negara bagian Florida.

Hingga Selasa pagi, lebih dari 1.400 penerbangan dibatalkan dan lebih dari 8.000 penerbangan mengalami penundaan.

Sheng Yan menambahkan dari Washington: pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk menghindari bepergian, sementara tim pembersih salju terus bekerja membersihkan jalan raya antar negara bagian dan jalur transportasi utama. (Hui)

 Laporan dari Washington oleh reporter NTD, Sheng Yan.