Meski Hidup Berakhir Sia-sia, Tetaplah Sibuk dengan Bahagia

EtIndonesia. Ada seekor rubah yang suatu hari berjalan-jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba, di hadapannya muncul sebuah kebun anggur yang sangat besar. Buah-buah anggur bergelantungan lebat, masing-masing tampak ranum dan menggoda, membuat air liurnya menetes.

Kebun anggur itu dikelilingi pagar besi. Rubah mencoba menyelinap masuk melalui celah pagar, tetapi tubuhnya terlalu gemuk untuk bisa melewatinya. Maka rubah pun memutuskan untuk menurunkan berat badan agar tubuhnya menjadi lebih ramping.

Dia menahan lapar di luar kebun selama tiga hari tiga malam. Benar saja, usahanya tidak sia-sia—tubuhnya menjadi lebih kurus, dan akhirnya dia berhasil masuk ke dalam kebun anggur.

Begitu berada di dalam, rubah pun berpesta pora. Anggur-anggur itu benar-benar manis dan harum! 

Dia makan dengan lahap, menikmati setiap suapan.

Entah sudah berapa lama dia makan, hingga akhirnya rasa puas menyelimuti dirinya.

Namun saat dia hendak keluar dari kebun, dia menyadari bahwa tubuhnya kembali gemuk karena terlalu banyak makan. Dia pun tidak bisa lagi melewati celah pagar. Tak ada pilihan lain, rubah itu kembali berpuasa di dalam kebun selama tiga hari tiga malam, sampai tubuhnya kembali ramping seperti semula, barulah dia bisa keluar.

Setelah kembali ke dunia luar, rubah menatap kebun anggur itu dan menghela napas: “Masuk dengan perut kosong, keluar juga dengan perut kosong. Benar-benar sibuk sia-sia.”

Awalnya, saya pun mengira cerita ini ingin mengatakan bahwa manusia datang ke dunia sendirian dan pergi juga sendirian—pada akhirnya bukankah semuanya hanya kesibukan yang sia-sia?

Namun sang pencerita berkata: melihat sebuah masalah harus melihat intinya.

Cerita ini, seperti kehidupan, justru terletak pada bagian tengahnya. Lihatlah—betapa bahagianya rubah itu saat berada di dalam kebun anggur!

“Sekalipun hidup ini pada akhirnya kosong, biarlah kekosongan itu terisi penuh. Meski hidup berakhir sebagai kesibukan yang sia-sia, tetaplah sibuk dengan bahagia.”

Renungan / Hikmah Cerita

“Meski hidup berakhir sia-sia, tetaplah sibuk dengan bahagia”—sebuah pemikiran yang begitu optimistis dan penuh energi positif.

Sejak kecil, kisah rubah dan anggur sering dipahami sebagai simbol kesia-siaan. Namun kita kerap melupakan kebahagiaan dalam prosesnya.

Hidup pun demikian. Banyak orang berjuang tanpa henti demi mimpi dan kesuksesan. Mungkin hanya segelintir yang benar-benar mencapainya. Namun terlepas dari berhasil atau tidak, saat seseorang mengejar mimpinya, hidupnya sedang bercahaya.

Cahaya itulah yang menuliskan kenangan paling berharga dalam perjalanan hidup—kenangan yang membuat hidup terasa penuh, bermakna, dan layak dijalani.(jhn/yn)

Trump Membentuk Dewan Perdamaian yang Memudarkan Reputasi PBB

oleh Jin Ran

Selama beberapa hari ada sekitar 3.000 orang selebriti politik dan bisnis dunia berkumpul di Kota Davos, Swiss untuk mengikuti Forum Ekonomi Dunia. Di antara mereka termasuk lebih dari 60 orang kepala negara dan pemerintahan, dan hampir 850 orang merupakan CEO dan ketua perusahaan terkemuka dunia.

Namun terlepas dari jumlah tokoh elit yang menghadiri forum di Davos, hanya ada satu protagonis: Presiden AS Trump, yang setiap gerakannya langsung memengaruhi dunia. Menurut saya, kehadiran Trump di Davos lebih bertujuan untuk “merusak acara”, yakni menanggalkan topeng globalisme.

Trump Mengguncang Davos

Meskipun penerbangan Trump ke Davos pada awalnya mengalami hambatan, tetapi ia tetap tiba tepat waktu di lokasi Forum Ekonomi Dunia yang diakui banyak orang sebagai markas besar globalisme. Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang ini tanpa hentinya mengkritik Trump. Sekarang Trump telah tiba di hadapan mereka.

Trump tiba di lokasi forum dengan menggunakan helikopter “Marine One”. Para penyelenggara telah menggelar karpet merah yang panjang untuk menyambutnya, dan mereka yang sebelumnya mengkritik Trump berbaris untuk berjabat tangan dan berfoto dengannya. Ini adalah politik realis: terlepas dari keengganan mereka, tetapi tidak seorang pun dapat mengabaikan kekuatan sejati ini dari tokoh yang dengan lantang menyatakan “America First” dan membantah pernyataan tersebut.

Berbicara tentang para elit di Davos, rasanya perlu kita tengok sejenak “humor gelap” yang terjadi di luar arena forum. Dalam dua hari terakhir, lebih dari 1.000 unit jet pribadi telah diparkir di kota kecil ini, membawa dua hingga tiga ribu orang elit yang dengan suara lantang membahas isu-isu seperti perubahan iklim dan menyelamatkan planet ini. 

Di satu sisi, mereka dengan sungguh-sungguh memberi tahu orang-orang di seluruh dunia: kurangi pemanasan ruangan musim dingin ini, usahakan suhu ruangan di 13°C untuk menghindari kedinginan dan pemborosan energi. Kurangi makan daging, lebih baik mengonsumsi daging nabati. Jangan mengendarai mobil berbahan bakar bensin, naik sepeda saja. Sementara itu, rata-rata tiga atau empat orang bersama terbang ke Davos dengan jet-jet pribadi, yang mengeluarkan ribuan ton karbon dioksida.

Trump memang hadir secara khusus untuk menghadapi para munafik ini. Ia tidak hanya ingin membongkar “panggung” globalisme dan perubahan iklim, tetapi juga datang untuk memungut “jasa perlindungan” yang perlu mereka bayar.

Langkah Brilian Menaklukkan Greenland Tanpa Biaya dan Membungkam Denmark

Forum Ekonomi Dunia tahun ini berlangsung di Davos, Swiss dari 19 hingga 23 Januari 2026, tetapi Trump hanya menghabiskan 2 hari di sana, yaitu 21 dan 22 Januari. Namun, dalam dua hari tersebut, Trump mencapai dua peristiwa besar yang secara fundamental mengubah strategi dan geopolitik global.

Tepat di hari kedatangannya, berita paling mengejutkan muncul: Trump secara pribadi mengumumkan bahwa berdasarkan pertemuan yang sangat produktif antara dirinya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, konsensus tentang kerangka kerja untuk perjanjian masa depan Greenland termasuk wilayah Arktik telah tercapai. Ketika rencana ini diimplementasikan, baik AS dan semua anggota NATO akan mendapatkan manfaat yang signifikan. 

Berdasarkan pemahaman ini, maka Trump memutuskan untuk menunda sanksi tarif yang semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026. Ada pun konsultasi mengenai hal-hal yang terkait rencana pertahanan strategis “Golden Dome” AS dengan pihak Greenland saat ini sedang berlangsung. Dan informasi lebih lanjut akan dirilis seiring berjalannya negosiasi.

Dunia luar menduga bahwa Trump akan menggunakan taktik “tekanan maksimal” dan “menetapkan target tinggi kendati sadar pencapaiannya di tingkat moderat.” Tetapi tidak satu pun menyangka bahwa Trump akan melakukan langkah brilian seperti ini. Dunia luar awalnya mengira Trump harus menghabiskan triliunan dolar untuk mengakuisisi Greenland, tetapi pada akhirnya ia dapat mencapai prestasi luar biasa dengan tanpa mengeluarkan sepeser pun.

Menurut laporan beberapa media Barat, Trump tidak hanya mengamankan Greenland tetapi juga mendapatkan kendali atas wilayah Arktik. Trump menyatakan bahwa “konsensus yang tercapai mengenai kerangka perjanjian di masa mendatang” itu mencakup hingga 6 poin: Pertama, Amerika Serikat akan memperoleh kendali atas beberapa “petak tanah kecil” di Greenland untuk membangun sistem pertahanan rudal “Golden Dome” dan pangkalan militer AS yang terkait.

Penulis memperkirakan bahwa pada akhirnya AS dapat memperoleh beberapa bidang tanah di sepanjang pantai utara Greenland untuk membangun pangkalan militernya.

Poin kuncinya adalah Trump menyatakan bahwa ia telah memperoleh tanah di Greenland, tetapi rumor sebelumnya yang terkait Trump bersedia membayar USD 700 miliar untuk mengakuisisi Greenland kini tidak lagi diperlukan. Cara yang dimainkan Trump ialah, Trump hanya peduli pada substansi, sepanjang Denmark masih ingin mempertahankan kedaulatan demi harga diri, maka tanah diperoleh tidak melalui akuisisi. Oleh sebab itu tidak perlu membayar.

Beberapa orang mungkin menganggap berisiko jika tidak melalui akuisisi, bukankah pemilik tanah bisa mengambilnya kembali? Poin kuncinya adalah: perjanjian tersebut ditetapkan dengan “tanpa batas waktu,” artinya Amerika Serikat dapat secara permanen berpijak di wilayah Arktik Greenland, untuk memperoleh akses ke seluruh Lingkaran Arktik. 

Lebih lanjut, AS juga mendapatkan hak mengeksploitasi sumber daya alam di Greenland. Klausul penting lainnya dalam kerangka perjanjian 6 poin ialah bahwa perjanjian ini bertujuan untuk memblokir pengaruh Rusia dan Partai Komunis Tiongkok di Greenland. 

Setelah mendapatkan apa yang diinginkan AS tanpa mengeluarkan biaya apa pun, yang perlu dilakukan Trump hanyalah mengumumkan bahwa sanksi tarif terhadap 8 negara Eropa, yang semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026, kini ditangguhkan untuk sementara. Sekarang semua orang seharusnya mengerti soal lihainya “seni bernegosiasi” Trump, bukan?

Pada hari pertamanya di Davos, Trump mengamankan dukungan NATO untuk masalah Greenland. Jika analisis saya masih bersifat personal, maka Polymarket, sebuah platform pasar prediksi terdesentralisasi yang terkenal dengan rekam jejak yang terbukti dalam memprediksi peristiwa besar dunia, pada 22 Januari telah mengeluarkan prediksi terbarunya: Probabilitas AS memperoleh Greenland pada tahun 2026 telah meroket dari 12% sebulan yang lalu menjadi 55% hanya dalam satu hari!

Trump tiba di Davos pada hari Rabu (21 Januari), setelah mendarat ia langsung menyampaikan pidato panjang yang berlangsung lebih dari satu jam dengan penuh semangat. Bergegas pergi ke ruang konferensi pers, kemudian menghadiri pertemuan terpisah dengan para pemimpin dunia. Forum Davos praktis menjadi panggung pertunjukan pribadi Trump. Menariknya, beberapa “bom” yang ia lontarkan langsung memporakporandakan tatanan geopolitik lama.

Selama kunjungannya ke Davos, Trump mengangkat kembali uneg-uneg lama terhadap Denmark, yang mengklaim kedaulatan atas Greenland, dengan blak-blakan menyatakan bahwa saat Perang Dunia II berlangsung, Denmark hanya melawan tentara Hitler selama 6 jam sebelum menyerah kepada Jerman. 

Maksud Trump jelas: Bagaimana mungkin negara yang bahkan tidak mampu melindungi dirinya sendiri mengklaim mampu membela Greenland? Trump secara blak-blakan menusuk ego Eropa yang rapuh: Jika apa yang disebut “kedaulatan dan martabat” menjadi kerentanan di bawah rudal strategis PKT dan Rusia, maka dalam menghadapi kesenjangan kekuatan absolut dan kelangsungan hidup nasional, hal itu dapat menjadi tindakan yang tidak bertanggung jawab terhadap keamanan global.

Dalam pidatonya, Trump juga mengungkapkan fakta sejarah bahwa selama Perang Dunia II, militer AS membela Greenland dan mengembalikannya kepada Denmark setelah perang dengan tanpa syarat.

Trump Mempermalukan PKT, Kantong Jenazah Wuhan dan Senjata PKT & Rusia Tak Berfungsi

Pengungkapan yang paling menarik datang dari penyebutan Trump tentang tidak berfungsinya senjata baru buatan PKT dan Rusia di Venezuela. Terdapat rumor bahwa Venezuela telah menggunakan sistem pertahanan buatan Rusia dan PKT, yang konon mampu mengunci target pesawat tempur AS. Namun apa yang terjadi? Trump menceritakan kisah kejadian itu seolah lelucon di Forum Davos.

Di Davos, Trump dengan langsung menuju intinya mengatakan kepada para hadirin bahwa negara-negara Barat harus menyadari bahwa “Eropa mampu melindungi dirinya sendiri” itu tidak lebih dari sebuah ilusi. Presiden Finlandia, yang baru saja menyatakan di forum tersebut bahwa Eropa tidak membutuhkan perlindungan Amerika Serikat, dengan cepat mengubah pernyataannya dalam waktu 11 menit ketika didesak oleh pertanyaan wartawan. Realitas adalah tamparan keras di wajahnya.

Mungkin rasa malu dan kesalahan Presiden Finlandia itulah yang membuat Sekretaris Jenderal NATO yang berada di dekatnya pun tak tahan lagi untuk berbicara terus terang dan bijaksana, sekaligus memberi kesempatan kepada para pemimpin Barat untuk berpikir secara mendalam.

Faktanya, Trump bukanlah satu-satunya orang yang muak dengan kemunafikan negara-negara Eropa. Bahkan Presiden Ukraina Zelensky, yang sering mengadakan pertemuan dengan mereka, juga tidak dapat mentolerirnya lagi. Di Forum Davos pada 21 Januari, Zelensky secara tidak biasa mengkritik negara-negara Eropa yang lain di mulut dan lain di hati.

Mungkin pernyataan Trump yang tajam dan “ratapan historis” Sekretaris Jenderal NATO itu telah membawa refleksi yang lebih serius bagi para pejabat Barat. Kanselir Jerman, yang sebelumnya mengkritik Trump, mulai merenungkan tindakannya sendiri, bahkan ia membenarkan bahwa “Jerman dan Eropa telah menyia-nyiakan potensi mereka,” yang sama saja dengan mengakui kegagalan dari sistem Uni Eropa.

Jika kritik Trump terhadap negara-negara Barat yang hanya berbicara tentang kebenaran politik tetapi tidak mengambil tindakan konkret, maka ketika membahas alasan kemunduran ekonomi AS di masa lalu, Trump menyebutkan untuk pertama kalinya bahwa pada tahap awal pandemi COVID-19, satelit AS menangkap gambar berupa kantong-kantong yang berisi jenazah berada di mana-mana di Kota Wuhan, Tiongkok.

Trump Membentuk Dewan Perdamaian untuk Menggantikan PBB

Setelah menyelesaikan masalah Greenland, pada hari keduanya di Davos, Trump secara resmi membentuk Dewan Perdamaian, sebuah organisasi internasional besar yang, menurut pandangan, di kemudian hari bisa jadi menggantikan fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada 22 Januari, terjadi perubahan besar dalam lanskap politik global dengan munculnya Dewan Perdamaian. Ini adalah upaya Trump untuk “meruntuhkan dan membangun kembali” sistem tata kelola global yang ada. Dari mana Dewan Perdamaian ini berasal? Ternyata Trump telah lama tidak puas dengan sifat “boros, tidak efisien, dan hanya banyak bicara” dari lembaga multilateral tradisional seperti PBB dan NATO. Dalam konflik di seluruh dunia, terutama di Jalur Gaza, birokrat PBB sering mengeluarkan pernyataan yang keras, tetapi tidak berkelanjutan.

Oleh karena itu, sebuah rencana berani terbentuk dalam benak Trump, yaitu untuk membangun platform yang “efisien dan pragmatis”. Bentuk awal dewan ini muncul dalam beberapa pertemuan pribadi yang diadakannya dengan para pemimpin dari Timur Tengah dan Eropa Timur.

Logika inti Trump adalah bahwa kedamaian tidak dapat diperoleh dengan mengemis, melainkan sesuatu yang harus “dinegosiasikan” melalui kemampuan, dan terlebih lagi, sesuatu yang harus dipaksakan keberadaannya. Ia ingin membentuk lingkaran para pemimpin yang berorientasi terhadap tindakan, bukan omongan, dengan mem-bypass PBB dan mengambil keputusan secara langsung.

 Trump menggunakan Forum Ekonomi Dunia sebagai platform untuk “menobatkan” Dewan Perdamaian. Saat ini, sekitar 35 negara telah setuju untuk bergabung. Pada pertemuan perdana, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka mengkritik para pemimpin dunia yang hanya membaca teks yang ada lalu terlibat dalam omong kosong tentang perdamaian.

Dewan Perdamaian tidak memiliki kepresidenan bergilir dan hak veto seperti lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Anggaran dasarnya sangat lugas: ketua tunggalnya adalah Trump. Ketua memiliki hak veto absolut dan bahkan dapat mengeluarkan resolusi tanpa berkonsultasi dengan komite. Lebih lanjut, masa jabatan ketua tidak dibatasi oleh masa jabatan presiden AS, tetapi merupakan penunjukan seumur hidup, dan hanya dapat diganti dengan persetujuan bulat dari komite eksekutif jika terjadi pengunduran diri sukarela atau ketidakmampuan. Singkatnya, ketua Dewan Perdamaian adalah posisi di mana Trump masih dapat memberikan pengaruh signifikan setelah mundur dari jabatan presiden AS.

Trump merancang struktur tiga tingkat yang hierarkis dan mengutamakan efisiensi, sepenuhnya memisahkan pengambilan keputusan politik, administrasi luar negeri, dan pelaksanaan di lapangan.

Badan pengambilan keputusan di Dewan Perdamaian ini terdiri dari kepala negara dari negara-negara yang diundang (saat ini 59 negara berpartisipasi). Mereka bertanggung jawab untuk meninjau kerangka kerja keseluruhan, anggaran, dan tujuan jangka panjang. 

Keanggotaan awal gratis untuk tiga tahun pertama, tetapi untuk mendapatkan keanggotaan tetap, diperlukan menyetor “biaya keanggotaan” lebih dari USD 1 miliar. Ini adalah logika bisnis Trump, yaitu perlu membayar jika ingin memiliki suara di panggung dunia. Tingkat eksekutif, atau komite eksekutif, pada dasarnya adalah otak dari seluruh organisasi. Komite ini ditunjuk secara pribadi oleh Trump dan saat ini termasuk Menteri Luar Negeri AS Rubio, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dan Presiden Bank Dunia dan lainnya. Tingkat ketiga adalah tingkat implementasi, Komite Eksekutif Gaza, yang bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana tersebut.

Yang mengejutkan, Presiden Rusia V. Putin juga termasuk yang diundang. Ketika ditanya oleh seorang reporter mengapa ia diundang meskipun ada kekhawatiran tentang potensi invasi ke Greenland, Trump memberikan jawaban yang lugas: “Saya ingin semua negara terlibat.” Ini adalah diplomasi khas Trump—menarik masuk musuh ke dalam aturan permainannya.

Dewan tersebut saat ini secara resmi dibentuk untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah, khususnya konflik Gaza, tetapi pada intinya, ini adalah “ruangan baru buat menangani urusan dunia” yang berpusat pada AS (atau lebih tepatnya, Trump sendiri) dengan mengabaikan sistem multilateral tradisional. (sin/asr)

Neraka dan Surga dalam Watak Manusia

Kisah Pertama

Suatu hari, di sebuah alun-alun di Kota Taipei, Taiwan, diadakan acara penggalangan dana oleh sebuah organisasi amal. Saya datang menghadirinya, dan setelah acara selesai, saya berjalan-jalan di sekitar lokasi.

“Bapak Liu, ya?” sapa seorang pegawai toko kerajinan tangan yang mengenali saya. Dia memiringkan kepalanya sambil menunjuk saya. “Saya tahu! Bapak datang untuk menghadiri acara penggalangan dana itu.”

“Kamu juga tahu ada acara penggalangan dana di alun-alun?” tanya saya heran.

“Tentu saja! Saya juga sempat ke sana dan ikut menyumbang,” katanya sambil mengeluarkan bukti donasi. Dia lalu mengajak saya melihat-lihat barang dagangannya. “Pak Liu, beli satu ya. Saya beri harga khusus.”

Saya pun membeli satu tanpa menawar, dengan keyakinan bahwa harganya pasti wajar.

Namun baru beberapa langkah pergi, saya melihat toko kerajinan lain. Di etalasenya terpajang barang yang persis sama, tetapi harganya hanya tiga perempat dari harga yang baru saja saya bayar.

Kisah Kedua

Suatu kali, saya membeli buah di sebuah kios. Pemiliknya tidak ada, hanya ada seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun yang menjaga kios.

“Dik, dari dua jenis pir ini, yang mana lebih bagus?” tanya saya.

“Yang kanan!” jawabnya spontan sambil menunjuk, tanpa ragu.

Tak lama kemudian, sang pemilik kios datang dan menyapa saya. 

Saya pun bertanya lagi:  “Pak, menurut Anda saya sebaiknya membeli pir yang mana?”

“Yang kiri, tentu saja!” jawabnya cepat sambil menunjuk.

Saya tertawa kecil: “Tapi tadi adik ini bilang yang kanan lebih bagus.”

“Ting! Ini Pak Liu, teman baik! Kalau bicara harus jujur!” Tanpa peringatan, sang ayah menampar anak itu.

Baik. Cerita sudah selesai.

 Sekarang kamu katakan:

Siapa yang baik?
Siapa yang jahat?
Siapa yang benar?
Siapa yang salah?

Begitulah watak manusia—sering kali tidak ada benar dan salah yang mutlak.

Seperti kata komposer besar Wang Luobin: “Ketika seseorang memotretmu dengan kamera yang sedikit miring ke kanan, di foto itu kamu menjadi ‘kiri’. Ketika kameranya sedikit miring ke kiri, di foto itu kamu menjadi ‘kanan’.”

Kita menonton tayangan korban bencana di televisi, lalu menitikkan air mata. Ketika nomor rekening donasi muncul di layar, kita buru-buru mencatatnya dan menelepon untuk menyumbang. Kita ikut retret, pengajian, kebaktian, meditasi, atau pengakuan dosa.

Namun keesokan paginya, saat kita masuk kantor—yang harus diperebutkan tetap diperebutkan, yang harus dipertengkarkan tetap dipertengkarkan; iri hati, keserakahan, dan ego kembali muncul.

Seberapa banyak sebenarnya kita berubah? Bukankah pegawai toko kerajinan dalam kisah pertama juga demikian?

Lalu kisah kedua. Jika kamu berada di posisi saya—kamu akan percaya anak itu, atau percaya ayahnya?

Apa pun pilihanmu, tetap menyedihkan.

Jika kamu percaya anak itu, kamu bersedih karena dia berkata jujur tetapi justru dipukul, dan ayahnya berbohong di hadapannya. Jika kamu percaya ayahnya, kamu tetap bersedih—karena anak itu belajar kebohongan sejak kecil.

Mengapa anak sekecil itu sudah belajar berbohong? Siapa yang mengajarinya?

Pertanyaannya adalah: saat kita mendidik anak-anak, bukankah kita sering melakukan kesalahan yang sama?

Sesungguhnya, kita semua berada dalam siklus yang terus berulang. Tidak seorang pun tahu berapa kali dalam hidupnya ia akan melewati surga dan berapa kali ia akan jatuh ke neraka.

Bukankah demikian? Mengapa harus menunggu mati untuk masuk surga atau neraka?

Jika surga dan neraka memang ada, seharusnya kita berkata: “Orang yang selama hidupnya hatinya sering berada di surga, setelah mati mungkin juga akan menuju surga; orang yang selama hidupnya hatinya dipenuhi ‘setan’, setelah mati mungkin akan menuju neraka.”

Sesungguhnya, sepanjang hidup ini kita terus bergulat di dalam hati.

Kita hidup di neraka sambil memimpikan surga; kita hidup di surga sambil membayangkan neraka; dan lebih jauh lagi— kita hidup di surga, tetapi mendorong orang lain jatuh ke neraka.

Renungan / Hikmah Cerita

“Keras kepada orang lain, lunak kepada diri sendiri”—itulah wajah manusia.

Beberapa kisah di atas menggambarkan kesalahan yang paling sering terjadi dalam watak manusia. Dari kedua cerita, yang paling menggetarkan hati adalah kisah kedua: penjual buah.

Anak-anak adalah harapan masa depan. Sejak kecil, mereka meniru cara berpikir dan bertindak generasi sebelumnya.
Berkata jujur—dipukul.
Berbohong—justru dipuji.

Nilai-nilai pun terdistorsi sejak dini. Dan ketika mereka dewasa, cara mereka menghadapi masalah pun akan berangkat dari kepentingan dan keuntungan, bukan kebenaran.(jhn/yn)

Telepon Darurat dari Teheran, Armada AS Sudah Siap: Apakah Perang AS–Iran Tinggal Hitungan Jam?

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dan kini memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Pada 26 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka mengungkapkan bahwa sejak dia memerintahkan pengerahan armada besar ke perairan dekat Iran, pihak Teheran telah berulang kali menghubungi Washington untuk mencoba membuka jalur kesepakatan.

Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa meskipun pintu diplomasi belum sepenuhnya ditutup, negosiasi hanya akan dilakukan dengan syarat-syarat tertentu. Hingga kini, tidak ada indikasi jelas bahwa Iran bersedia menerima prasyarat tersebut.

Di tengah kebuntuan diplomatik, opsi militer di Washington justru semakin menguat.

Dua Opsi Utama Trump terhadap Iran

Menurut sumber-sumber pemerintahan dan intelijen yang dikutip sejumlah media Barat, Presiden Trump saat ini tengah mempertimbangkan dua skenario utama untuk menekan Teheran:

1. Blokade Laut Total terhadap Ekspor Minyak Iran

Opsi pertama adalah blokade maritim guna menghentikan sepenuhnya ekspor minyak Iran. Strategi ini menyerupai pendekatan yang sebelumnya diterapkan terhadap Venezuela—tekanan ekonomi dilakukan secara bertahap hingga negara sasaran mengalami cekikan energi dan finansial total.

Langkah ini dinilai berpotensi melumpuhkan perekonomian Iran tanpa harus langsung memicu perang terbuka, namun tetap membawa risiko eskalasi regional yang besar.

2. Serangan Presisi terhadap Pucuk Pimpinan Iran

Opsi kedua adalah serangan presisi terhadap kepemimpinan tertinggi Iran, yang dalam istilah militer dikenal sebagai operasi decapitation strike atau “pemenggalan kepala”.

Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, dalam wawancara dengan Channel 12 Israel pada 26 Januari, secara terbuka menyatakan bahwa jika Amerika Serikat mengambil langkah militer terhadap Iran, Israel harus memilih momen yang tepat untuk ikut terlibat.

“Kita perlu menyingkirkan Khamenei dan kepemimpinan Iran,” tegas Gallant.

Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa Israel tengah bersiap menjadi bagian dari skenario militer yang lebih luas.

Militer AS dalam Posisi Siap Tempur

Hingga 27 Januari 2026, USS Abraham Lincoln dilaporkan telah mencapai posisi operasional yang telah ditentukan di kawasan tanggung jawab CENTCOM. Sejumlah laporan intelijen yang diterima Gedung Putih menyebutkan bahwa kepemimpinan Iran berada dalam kondisi paling rapuh sejak Revolusi Iran 1979.

Sumber militer menyebutkan bahwa jika perintah diberikan, serangan militer AS dapat dilancarkan dalam waktu satu hingga dua hari.

Pada hari yang sama, militer AS secara resmi mengumumkan bahwa CENTCOM akan menggelar latihan udara berskala besar di Timur Tengah selama beberapa hari ke depan. Latihan ini berfokus pada:

  • Penyebaran cepat pasukan udara
  • Dispersal aset militer
  • Dukungan tempur udara terpadu

Sejumlah analis menilai latihan tersebut berpotensi menjadi kamuflase operasional, dan tidak menutup kemungkinan berubah menjadi operasi tempur nyata dalam waktu singkat.

Ledakan di Pangkalan Militer Parchin

Situasi semakin genting setelah Iran mengonfirmasi terjadinya ledakan di fasilitas militer Parchin, sekitar 30 kilometer tenggara Teheran, pada 27 Januari.

Pangkalan Parchin merupakan lokasi strategis yang selama ini dikenal sebagai pusat:

  • Penelitian industri militer Iran
  • Uji amunisi berat
  • Pengujian bahan peledak dan senyawa kimia

Dalam konflik Desember 2025, fasilitas ini juga dilaporkan pernah menjadi target serangan Israel.

Sumber lain menyebutkan bahwa pada waktu yang hampir bersamaan, militer Iran tengah melakukan uji coba rudal di wilayah Teheran. Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah ledakan tersebut disebabkan oleh kecelakaan teknis atau merupakan aksi sabotase maupun serangan tersembunyi.

Di sisi lain, pembom strategis Amerika Serikat yang mampu menjangkau wilayah Iran kini berada dalam status siaga lebih tinggi dari biasanya.

Media Israel Today melaporkan bahwa pengerahan pasukan AS di Timur Tengah telah sepenuhnya rampung, sementara Pentagon secara langka mengonfirmasi bahwa senjata laser generasi baru telah memasuki tahap penempatan tempur nyata.

Pengerahan Militer Skala Besar di Teluk Persia

Pada 27 Januari, Angkatan Udara AS menggelar konsentrasi kekuatan besar di kawasan Teluk Persia, dengan sasaran yang dinilai semakin jelas: Iran.

Beberapa indikator utama meliputi:

  • Drone MQ-4C Triton (Poseidon) melakukan pengintaian intensif di atas Teluk Persia dan pesisir Iran
  • Pesawat angkut berat C-5 Galaxy terpantau dalam perjalanan, diduga membawa sistem pertahanan udara Patriot
  • Citra satelit dari perusahaan Tiongkok menunjukkan penambahan sistem Patriot di Pangkalan Udara Al Udeid
  • Pesawat khusus Boeing 737 BBJ berulang kali terlihat di langit Timur Tengah
  • Laporan dari Lebanon menyebutkan peningkatan aktivitas drone AS dan Israel di sepanjang pantai barat negara tersebut

Sistem pertahanan udara AS dari Fort Hood, Texas, kini dipindahkan ke:

  • Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait
  • Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi

Selain itu, sistem THAAD juga tengah dialihkan ke sejumlah pangkalan AS di kawasan.

Respons Iran dan Ancaman Jalur Laut Strategis

Media oposisi Iran melaporkan bahwa Masoud Khamenei, putra ketiga Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, kini mengambil alih sebagian besar urusan harian ayahnya dan muncul sebagai figur inti pengendali rezim.

Iran meningkatkan kehadiran militernya di:

  • Teluk Oman
  • Jalur laut strategis dekat Uni Emirat Arab

Drone jarak jauh Iran dikirim untuk mengumpulkan intelijen terhadap USS Abraham Lincoln. Pada saat yang sama, drone AS dan Iran dilaporkan beroperasi bersamaan di atas Selat Hormuz, meningkatkan risiko benturan langsung.

Iran dan kelompok Houthi juga disebut tengah bersiap melancarkan perang maritim asimetris di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb—dua jalur vital perdagangan global.

Lebih mengkhawatirkan, Iran memindahkan pasukan Garda Revolusi dari pangkalan resmi ke sekolah-sekolah, meniru taktik Hamas dengan menjadikan fasilitas sipil sebagai tameng manusia.

Israel mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memberi peringatan kepada UEA, Yordania, Irak, dan Arab Saudi. Jika konflik pecah, Inggris, UEA, dan Yordania diperkirakan akan membantu mencegat rudal dan drone Iran yang diarahkan ke Israel.

Sementara itu, Turki dikabarkan tengah merencanakan pembentukan zona penyangga di perbatasan Iran guna mengantisipasi potensi gelombang pengungsi jika rezim Teheran runtuh.

Isu HAM Iran dan Sikap Tiongkok Disorot

Pada 26 Januari, Perserikatan Bangsa-Bangsa meloloskan resolusi untuk menyelidiki dugaan penindasan HAM di Iran. Tiongkok memilih menentang resolusi tersebut tanpa memberikan penjelasan resmi.

Sikap Beijing menuai kritik luas di media sosial. 

Sejumlah warganet menyindir: “Ketika dunia menyelidiki kekerasan, dia yang menahan peluru.
Ketika orang lain mencari kebenaran, dia sibuk mematikan lampu.”

Penutup

Dengan pengerahan militer yang hampir sepenuhnya rampung, ketegangan AS–Iran kini berada di titik kritis. Dunia internasional menanti apakah tekanan ini akan berujung pada kesepakatan terakhir, atau justru menjadi awal konflik besar yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah dan jalur energi global.

Jangan Menjadi Sebuah Cangkir, Jadilah Sebuah Danau

EtIndonesia. Di sisi seorang guru besar India yang telah lanjut usia, ada seorang murid muda yang selalu mengeluh tentang hidup.

Suatu hari, sang guru menyuruh murid itu pergi membeli garam. 

Setelah murid tersebut kembali, guru itu memberi perintah kepada murid yang murung itu: “Ambil segenggam garam, masukkan ke dalam segelas air, lalu minumlah.”

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru.

“Asin,” jawab murid itu sambil meringis dan meludah sedikit.

Kemudian sang guru menyuruhnya menuangkan sisa garam itu ke sebuah danau di dekat sana. Murid itu pun menuruti perintah dan menuangkan garam ke danau.

Sang guru lalu berkata:  “Sekarang, cicipilah air danau itu.”

Murid itu mengambil sedikit air danau dengan kedua tangannya, lalu mencicipinya.

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru.

“Segar,” jawab murid itu.

“Apakah kamu merasakan rasa asin?” tanya sang guru lagi.

“Tidak,” jawab murid itu.

Saat itulah sang guru berkata dengan tenang: “Penderitaan dalam hidup ini seperti garam.
Jumlahnya tidak lebih dan tidak kurang—memang segitu adanya. Namun rasa asin yang kita rasakan bergantung pada seberapa besar wadah yang menampungnya.

Karena itu, ketika kamu berada dalam penderitaan, yang perlu kamu lakukan adalah meluaskan hatimu. Jangan menjadi sebuah cangkir, jadilah sebuah danau.”

Renungan / Hikmah Cerita

Dunia ini luas, namun tak ada air yang lebih asin daripada air laut. Membaca kisah yang sederhana namun penuh makna ini, membuat kita merenung akan hal tersebut.

Rasa pahit dalam hidup tidak hanya ditentukan oleh wadah penerimaan—yakni kesabaran, kelapangan hati, dan kapasitas diri seseorang—tetapi juga oleh cara kita mengelolanya.

Karena itu, selain memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kelapangan dada, manusia juga perlu kebijaksanaan untuk mengolah kepahitan dalam hati.

Seperti air laut yang tidak dapat diminum begitu saja, namun bisa menjadi air tawar melalui proses penguapan, demikian pula manusia—dengan kesadaran diri dan perenungan, kita dapat memisahkan kepahitan dari kejernihan batin, hingga hati kembali tenang dan bening hingga ke dasarnya.(jhn/yn)

OJK Cabut Izin Usaha PT BPR Prima Master Bank, LPS Siap Jalankan Penjaminan dan Likuidasi

Surabaya – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mencabut izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat Prima Master Bank (BPR Prima Master Bank). Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-9/D.03/2026 tanggal 27 Januari 2026.

Pencabutan izin dilakukan setelah bank yang beralamat di Jalan Jembatan Merah 15-17, Surabaya, ini dinyatakan gagal melakukan proses penyehatan dan tidak lagi memenuhi persyaratan kesehatan perbankan.

Proses Panjang Menuju Pencabutan
Riwayat masalah BPR Prima Master Bank telah berlangsung cukup lama:

  • 20 Desember 2024: OJK menetapkan bank ini sebagai Bank Dalam Penyehatan (BDP) karena memiliki rasio modal (KPMM) di bawah 12% dan predikat kesehatan “Tidak Sehat”.
  • 19 Desember 2025: Statusnya ditingkatkan menjadi Bank Dalam Resolusi (BDR) setelah manajemen dan pemegang saham dinilai gagal memperbaiki kondisi permodalan.
  • 21 Januari 2026: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan tidak melakukan penyelamatan dan meminta OJK untuk mencabut izin usahanya.

LPS Akan Jalankan Fungsi Penjaminan dan Likuidasi
Dengan pencabutan izin ini, LPS akan segera mengambil alih proses sesuai Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang LPS dan UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. LPS akan menjalankan fungsi penjaminan simpanan nasabah dan melakukan proses likuidasi bank.

Imbauan untuk Nasabah
OJK mengimbau seluruh nasabah PT BPR Prima Master Bank untuk tetap tenang. Dana masyarakat yang disimpan di bank tersebut tetap dijamin oleh LPS sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami tegaskan bahwa dana nasabah dijamin LPS. Masyarakat tidak perlu khawatir, proses penjaminan dan likuidasi akan dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku,” disampaikan OJK dalam rilisnya.

Pencabutan izin ini merupakan bagian dari komitmen OJK dalam menjaga stabilitas dan kesehatan industri perbankan nasional, serta melindungi kepentingan nasabah.

Rusia Angkat Kaki dari Bandara Qamishli, 100 Ribu Pasukan Kurdi Terjepit di Bawah Serangan Turki

EtIndonesia. Perhatian internasional kini turut tertuju pada langkah strategis Rusia di Suriah. Pada 25 Januari 2026, militer Rusia secara mendadak menarik seluruh pasukannya dari Bandara Qamishli, sebuah titik strategis di Suriah timur laut yang selama ini menjadi pusat logistik dan garis kehidupan utama bagi pasukan Kurdi.

Menurut berbagai laporan lapangan, proses evakuasi dilakukan secara intensif sepanjang malam. Sejumlah pesawat angkut militer Il-76 terlihat lepas landas satu per satu, mengangkut personel dan perlengkapan penting. Bersamaan dengan itu, jet tempur MiG, helikopter Mi-8, serta seluruh peralatan berat dan sistem pendukung juga ditarik keluar dari pangkalan tersebut.

Setelah penarikan rampung, pangkalan Qamishli dilaporkan diserahkan kepada Pasukan Pertahanan Nasional Suriah serta unsur kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Langkah ini secara efektif meninggalkan sekitar 100.000 pasukan Kurdi yang selama ini mendapat dukungan Amerika Serikat dalam posisi terjepit, tanpa perlindungan strategis dari Rusia.

Qamishli: Titik Kunci yang Kini Hilang

Qamishli bukan sekadar bandara militer. Selama bertahun-tahun, lokasi ini berfungsi sebagai urat nadi logistik, suplai senjata, dan jalur penghubung utama bagi wilayah-wilayah Kurdi di Suriah timur laut, termasuk Kobani dan wilayah sekitarnya.

Ketika tekanan militer Turki meningkat dalam beberapa bulan terakhir, Rusia sebelumnya berperan sebagai penyeimbang kekuatan, menciptakan zona penyangga tidak resmi untuk menahan eskalasi langsung antara Turki dan pasukan Kurdi. Keberadaan Rusia di Qamishli menjadi faktor penentu yang mencegah operasi militer besar-besaran Ankara.

Namun situasi berubah drastis. Sumber-sumber regional menyebutkan bahwa hubungan Kurdi dengan Washington mengalami ketegangan. Pasukan Kurdi dikabarkan telah menyerahkan sebagian sumber daya strategis, pos logistik, serta cadangan pangan kepada Amerika Serikat, sekaligus menolak permintaan AS untuk terlibat dalam potensi operasi militer terhadap Iran. Keputusan ini diyakini mempercepat hilangnya dukungan tidak langsung dari Moskow.

Moskow Menarik Diri, Kurdi Ditinggalkan

Upaya pasukan Kurdi untuk meminta bantuan Rusia setelah penarikan pasukan AS dilaporkan tidak membuahkan hasil. Presiden Rusia, Vladimir Putin disebut hanya mengizinkan evakuasi ratusan simpatisan pro-Rusia dan staf terkait, sementara puluhan ribu pasukan Kurdi dan penduduk sipil di kawasan tersebut dibiarkan menghadapi situasi yang semakin genting.

Akibatnya, Qamishli dan Kobani kini berada dalam kondisi terisolasi. Jalur suplai darat terputus, ladang minyak strategis tak lagi dapat diakses, sementara pasokan air bersih dan listrik berada di ambang krisis. Di sisi lain, amunisi pasukan Kurdi dilaporkan menipis, sementara serangan udara Turki terus berlangsung secara sporadis namun konsisten.

Upaya bantuan dari wilayah Kurdi Irak memang masih terjadi, namun bersifat terbatas dan berskala kecil, jauh dari cukup untuk mengubah keseimbangan militer di lapangan.

Manuver Presisi Putin

Banyak analis menilai langkah Rusia sebagai manuver strategis yang dingin dan presisi. Dengan menarik diri dari pangkalan non-inti seperti Qamishli, Moskow dinilai tengah menukar pengaruh taktis jangka pendek dengan jaminan keamanan jangka panjang bagi basis-basis utamanya di Suriah, yakni Pangkalan Udara Hmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus.

Langkah ini juga memperkuat posisi Rusia dalam negosiasi regional yang lebih luas, sekaligus mengurangi risiko terseret ke dalam konflik baru antara Turki, Kurdi, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, pasukan Kurdi kini harus menanggung konsekuensi langsung dari manuver geopolitik yang kompleks, berada di persimpangan antara kepentingan Amerika, Rusia, dan Turki—tanpa jaminan perlindungan nyata dari salah satu pihak.

Situasi di Suriah timur laut pun kian rapuh, dan banyak pihak memperingatkan bahwa kekosongan kekuatan di Qamishli dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas dalam waktu dekat.

IDX Terapkan Trading Halt, IHSG Anjlok 8%

JAKARTA, 28 Januari 2026 – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah darurat dengan memberlakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada Rabu (28/1) siang. Tindakan ini diambil menyusul pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai minus 8%.

Perdagangan dihentikan sementara pada pukul 13:43:13 WIB melalui sistem Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan dijadwalkan akan dilanjutkan pada pukul 14:13:13 WIB, tanpa perubahan jadwal sesi berikutnya.

Dalam rilis resminya, BEI menyatakan langkah ini dilakukan untuk menjaga agar perdagangan saham berjalan teratur, wajar, dan efisien. Aturan yang menjadi dasar pemberlakuan trading halt mengacu pada Peraturan BEI Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, serta Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.

Penurunan indeks yang memicu penghentian perdagangan ini mencerminkan tekanan jual yang signifikan di pasar modal Indonesia. Trading halt umumnya diberlakukan untuk mencegah kepanikan berlebihan (panic selling) dan memberikan jeda bagi investor untuk menilai situasi secara lebih tenang.

Pasca penghentian sementara, para analis memperkirakan pasar akan tetap dihadapkan pada volatilitas tinggi. Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan berita dan laporan keuangan emiten, sembari mengelola portofolio dengan hati-hati.

Peringatan Galang Diabaikan, Pernikahan Nadia dan Timothy Tertunda Saat Ingatan Kembali

0

JAKARTA – Kebahagiaan Nadia (Marshanda) setelah selamat dari upaya pembunuhan ternyata tidak berlangsung lama. Kini, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit: kehilangan ingatan dan ketidakpercayaan terhadap orang-orang terdekat, termasuk Saras (Pamela Sidarta), asisten sekaligus sahabat yang selama ini menjadi sandarannya.

Sementara Nadia berjuang mengingat masa lalunya, ayahnya justru merencanakan pernikahannya dengan Timothy (Arya Vasco), sang tunangan. Kabar itu sampai ke Galang (Stefan William), yang segera berusaha memperingatkan Nadia bahwa Timothy menyimpan bahaya. Sayangnya, Nadia yang masih dalam kondisi rapuh memilih meragukan Galang dan menutup diri dari kebenaran yang mulai mengintai.

Tak menyerah, Galang mulai menyelidiki dalang di balik upaya pembunuhan Nadia. Dari Pak Dadang, petugas kebersihan yang mematikan CCTV kantor Grand Harmonia, Galang mendapatkan petunjuk penting: nama Saras, mantan asisten Nadia yang dipecat Timothy, dan kunci pemulihan ingatan Nadia.

Setelah berhasil membujuk Saras untuk kembali terlibat, Galang dan Saras merancang strategi penyelamatan. Di tengah kemeriahan resepsi pernikahan Nadia dan Timothy, Saras menyamar sebagai vendor dan berhasil menyerahkan buku harian Nadia—catatan yang berisi rahasia kelam masa lalu, termasuk perselingkuhan Timothy.

Saat ingatan Nadia perlahan pulih, Timothy yang merasa terancam langsung mengusir Saras. Kejadian itu membuat Nadia shock hingga tak sadarkan diri, memaksa penundaan pernikahan. Rencana Timothy untuk menguasai posisi CEO pun terancam gagal.

Akankah ingatan Nadia pulih sepenuhnya? Bisakah Galang menyelamatkannya dari rencana busuk Timothy? Dan apakah Nadia akan kembali memilih cinta sejatinya?

Jawabannya dapat Anda saksikan dalam WeTV Original “Melindungimu Selamanya” Episode 7, tayang eksklusif setiap Jumat dan Sabtu pukul 18.00 WIB hanya di WeTV.

Kehidupan Bergerak di Antara Dua Kutub

EtIndonesia. Ada seorang petani yang memiliki sebidang lahan pertanian yang tandus.

Dia sering mengeluh: “Andai Tuhan membiarkanku mengatur cuaca sendiri, semuanya pasti akan menjadi lebih baik. Jelas sekali Dia tidak begitu memahami cuaca seperti apa yang dibutuhkan tanaman.”

Tuhan pun berkata kepadanya: “Aku akan memberimu waktu satu tahun untuk mengendalikan cuaca. Cuaca apa pun yang kamu inginkan, akan terjadi.”

Petani malang itu sangat gembira. 

Dia segera berkata: “Aku ingin cuaca cerah.”

Maka Matahari pun bersinar terang.

Tak lama kemudian dia berkata lagi: “Sekarang turunkan hujan.”

Dan hujan pun turun.

Sepanjang tahun itu, dia terus mengatur cuaca seperti ini—bergantian antara sinar matahari dan hujan.

Benih-benih tumbuh semakin besar, dan menyaksikan tanaman berkembang menjadi sumber kebahagiaan tersendiri baginya.

Dengan penuh kebanggaan dia berkata: “Sekarang Tuhan pasti mengerti bagaimana seharusnya mengatur cuaca!”

Tanaman-tanamannya belum pernah tumbuh sebesar ini, belum pernah sehijau ini—warna hijaunya begitu pekat dan menyejukkan mata.

Akhirnya, musim panen pun tiba.

Petani itu membawa sabitnya ke ladang untuk memanen gandum. Namun seketika hatinya terjun bebas ke dasar jurang—karena pada batang-batang tanaman itu tidak ada satu pun bulir gandum.

Tuhan datang menemuinya dan bertanya: “Bagaimana hasil panenmu?”

Petani itu mulai mengeluh: “Sangat buruk, Tuhanku. Benar-benar buruk!”

“Bukankah kamu sudah mengendalikan cuaca sesuai keinginanmu? Bukankah semua berjalan seperti yang kamu harapkan?”

“Tentu saja!” jawab petani itu bingung. “Itulah yang membuatku heran. Aku mendapatkan hujan dan matahari sesuai keinginanku, tetapi tetap tidak ada hasil panen.”

Lalu Tuhan berkata kepadanya: “Tetapi kamu tidak pernah meminta angin, badai, hujan deras, salju, atau hal-hal lain yang membersihkan udara dan membuat akar tanaman menjadi lebih kuat serta lebih tahan. Itulah sebabnya tanamanmu tidak menghasilkan apa pun.”

Hanya dengan tantangan, kehidupan bisa tumbuh.

Hanya ketika seseorang mengalami:cuaca baik dan cuaca buruk, kegembiraan dan penderitaan, musim dingin dan musim panas, kekecewaan dan kebahagiaan, ketidaknyamanan dan kenyamanan— barulah kehidupan benar-benar terbentuk.

Kehidupan selalu bergerak di antara dua kutub ini. Di antara dua kutub itulah, kita belajar menjaga keseimbangan.

Dengan dua “sayap” itulah, kita belajar bagaimana cara menjalani hidup.

Bukan hanya dalam satu hal keseimbangan itu diperlukan—dalam banyak aspek kehidupan pun demikian. Mencari titik seimbang di antara dua ekstrem sejatinya adalah salah satu ujian terbesar dalam hidup.

Renungan / Hikmah Cerita

Setelah membaca kisah ini, staf redaksi justru teringat pada jamur shiitake. Mengapa sebuah cerita kehidupan bisa mengingatkan pada jamur? Mari kami ceritakan perlahan.

Di Kabupaten Taichung, tepatnya di Kecamatan Xinshe, yang dahulu dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan, banyak petani kini beralih menanam jamur shiitake. “Desa buah” pun berubah menjadi “kampung jamur”.

Dalam proses budidaya jamur, ada satu tahap penting: kantong media jamur harus dibalik selama dua hingga tiga hari, lalu dibalik kembali. Hanya dengan cara itulah jamur bisa mulai tumbuh.

Pernah ditanyakan kepada seorang petani jamur, mengapa kantong jamur harus dibolak-balik seperti itu?

Dia menjawab:“Jamur adalah makhluk yang sangat unik. Hampir semua makhluk hidup, ketika lingkungannya semakin sulit, akan tumbuh lebih lambat atau mengurangi keturunannya. Namun jamur justru sebaliknya—dia tumbuh subur dan menyebarkan keturunannya dalam jumlah besar ketika berada dalam kondisi sulit. Jika kantong jamur tidak dibalik sehingga jamur ‘merasakan ancaman’, maka jamur itu tidak akan pernah tumbuh.”

Manusia pun sama.

Jika sepanjang hidup seseorang selalu berada dalam kenyamanan, nyaris tanpa hambatan, maka hampir pasti tidak akan tumbuh daya juang.

Justru karena menghadapi rintangan demi rintangan, manusia berkembang dan berevolusi.

Karena kehidupan selalu menemukan arah baru ketika melewati cobaan.(jhn/yn)

Perang Sudah di Depan Mata? Tanda-tanda Mengerikan Bermunculan di Timur Tengah

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan berbagai media regional dan Barat pada 26 Januari 2026, konsentrasi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut dinyatakan telah rampung, memicu spekulasi luas bahwa aksi militer terhadap Iran dapat terjadi dalam 24 hingga 36 jam ke depan.

Sejumlah indikator lapangan menunjukkan eskalasi tajam. Lebanon melaporkan peningkatan signifikan patroli drone Amerika Serikat dan Italia di sepanjang pantai barat negara itu. Pada saat yang sama, lalu lintas penerbangan sipil di wilayah Israel mulai terganggu, dengan banyak penerbangan internasional memutar balik atau menghindari wilayah udara Israel, menandai meningkatnya ancaman keamanan di langit Timur Tengah.

Pentagon Konfirmasi Penempatan Senjata Baru

Media Israel dan Barat mengungkapkan bahwa seluruh pengerahan militer AS kini berada dalam posisi operasional. Pentagon secara tidak lazim juga mengonfirmasi bahwa senjata otomatis generasi baru telah memasuki tahap penempatan tempur, dan dinilai sebagai elemen kunci untuk menghadapi potensi serangan jenuh drone dan rudal dari Iran maupun kelompok proksinya.

Menurut konfirmasi silang The Jerusalem Post dan sejumlah sumber intelijen, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah mencapai posisi yang telah ditetapkan dan kini menjadi poros utama daya gentar laut AS di kawasan. Kapal induk tersebut beroperasi bersama kapal penjelajah rudal dan unsur pertahanan udara, membentuk sistem serangan laut terpadu berlapis.

THAAD, Patriot, dan Iron Dome Aktif Penuh

Di darat, Amerika Serikat telah mengintegrasikan sistem pertahanan rudal THAAD yang baru dikerahkan dengan jaringan Patriot yang telah ada. Sistem ini membentuk lapisan intersepsi rudal balistik jarak tinggi dan rendah yang secara khusus diarahkan untuk menghadapi ancaman Iran.

Di Israel, pasukan AS yang dikerahkan dinyatakan sepenuhnya siap tempur, sementara militer Israel memasuki status siaga tingkat tiga. Sistem Iron Dome diaktifkan secara nasional, jet siluman F-35I berada di garis depan kesiapsiagaan, dan pesawat F-15I serta F-16 dari berbagai negara sekutu dilibatkan dalam latihan kesiapan tempur intensif selama beberapa hari terakhir.

Skala dan tempo latihan ini dinilai jauh melampaui pola pencegahan rutin, mengindikasikan persiapan nyata menuju konflik bersenjata.

Israel Siap Menyerang Balik Iran

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel pada 26 Januari 2026 menyatakan bahwa seluruh persiapan perang telah diselesaikan dan Israel siap berkoordinasi dengan pasukan AS kapan pun dibutuhkan. Para pejabat tinggi Israel menegaskan bahwa jika Iran menyerang Israel, maka serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran akan segera dilancarkan.

Sejumlah tanda tidak biasa terus bermunculan: pembatalan penerbangan sipil secara massal, patroli udara intensif AS dan Italia di Mediterania Timur, serta pergerakan pesawat pengintai yang meningkat drastis.

Koalisi Regional Mulai Terbentuk

Amerika Serikat dilaporkan telah memberi pemberitahuan kepada Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, dan Arab Saudi mengenai rencana operasi terkait. Jika konflik pecah, Inggris, UEA, dan Yordania diperkirakan akan berpartisipasi dalam operasi pertahanan udara regional, guna mencegat rudal dan drone bunuh diri Iran.

Sebagai bagian dari langkah darurat, Inggris pada 26 Januari 2026 mengerahkan empat jet tempur Typhoon ke Qatar, memperkuat postur udara koalisi bersama AS.

Iran Masuk Mode Perang: Khamenei Dipindahkan ke Bunker

Di pihak Iran, perkembangan besar juga terjadi. Setelah militer mengeluarkan peringatan serangan udara, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dilaporkan telah dipindahkan secara darurat ke fasilitas bawah tanah berkeamanan tinggi di Teheran. Pengelolaan pemerintahan harian sementara dialihkan kepada Masoud Pezeshkian, yang secara luas ditafsirkan sebagai peralihan kekuasaan de facto dalam situasi perang.

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan status siaga tempur penuh, dengan ribuan personel berada dalam posisi “jari di pelatuk”. Di fasilitas rudal bawah tanah yang membentang ratusan meter, sekitar 3.000 rudal dilaporkan berada dalam kondisi siap luncur, termasuk rudal hipersonik Fattah.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Dunia

Iran juga memperkuat pertahanan di Selat Hormuz dan Provinsi Hormozgan, membangun jaringan tembakan anti-kapal padat. Berbagai rudal anti-kapal—termasuk Fattah, Moghadam-360, dan rudal jelajah berat Abu Mahdi—dilaporkan telah ditempatkan di garis depan.

Selat Hormuz merupakan jalur vital dunia, dengan lebih dari 17 juta barel minyak per hari melintas. Gangguan kecil saja berpotensi mengguncang pasar energi global. Tak heran, kabar ini langsung memicu lonjakan harga minyak jangka pendek dan membuat perusahaan pelayaran internasional menilai ulang risiko rute mereka.

AS Tingkatkan Tekanan, Iran Balas dengan Ancaman Asimetris

Dalam 48 jam terakhir hingga 26 Januari 2026, lebih dari 45 penerbangan militer C-17 AS tercatat bolak-balik ke Timur Tengah, mengangkut personel dan peralatan kunci—pola yang oleh analis disebut sebagai ritme pra-perang klasik.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan akan mempertahankan kehadiran militer yang diperlukan untuk menjamin keamanan jalur pelayaran, meski tidak merinci langkah lanjutan.

Para analis menilai strategi Iran bersifat asimetris dan terukur. Menghadapi keunggulan mutlak AS dalam kapal induk dan kekuatan udara, Teheran memilih memanfaatkan rudal, drone, dan kendali titik geografis strategis untuk memperbesar risiko dengan biaya relatif rendah.

Israel Sudah Lebih Dulu Menyalakan Api

Di luar konfrontasi langsung AS–Iran, Israel telah lebih dahulu meningkatkan eskalasi. Dalam hitungan jam pada akhir Januari 2026, Israel melancarkan 14 serangan udara besar-besaran terhadap target Hizbullah Lebanon yang didukung Iran, termasuk di wilayah Maidan dan Jabal. Serangan ini dipandang sebagai pembersihan awal medan perang, guna melemahkan proksi Iran di utara.

Jika perang terbuka AS–Iran benar-benar pecah, para pengamat menilai Israel hampir pasti akan memperluas operasi ke Lebanon, Suriah, dan wilayah lain yang menjadi basis kelompok bersenjata pro-Iran.

Kesimpulan: Jendela Waktu Sangat Sempit

Dengan seluruh elemen militer berada di posisi siap tempur, 24 hingga 36 jam ke depan dipandang sebagai jendela waktu kritis. Satu keputusan politik atau satu insiden kecil saja berpotensi memicu konflik regional besar—dengan dampak global terhadap keamanan, energi, dan stabilitas dunia.

Timur Tengah kini berdiri di tepi jurang sejarah. Dunia menunggu: apakah perang akan meledak, atau masih ada ruang bagi penahanan terakhir?

2026, Tahun Penentuan: Zhang Youxia, Xi Jinping, dan Perang Internal Militer

EtIndonsia.  Panggung politik dan militer Tiongkok diguncang oleh peristiwa besar yang jarang terjadi. Pada 24 Januari 2026, pemerintah Tiongkok secara tiba-tiba mengumumkan penangkapan Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC), bersama Liu Zhengli, Kepala Staf Gabungan CMC, serta 17 perwira tinggi aktif lainnya.

Penangkapan ini langsung mengguncang struktur komando militer Tiongkok dan memicu spekulasi luas, baik di dalam maupun di luar negeri, mengenai krisis politik serius di tingkat elite Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Laporan Wall Street Journal: Tuduhan yang Mengguncang Dunia

Sehari setelah penangkapan tersebut, pada 25 Januari 2026, media Amerika Serikat, The Wall Street Journal (WSJ) menerbitkan laporan eksklusif yang mengungkap isi sebuah rapat pengarahan internal di Tiongkok yang berlangsung pada hari Sabtu sebelumnya.

Dalam rapat tersebut, disebutkan bahwa:

  • Zhang Youxia diduga menerima suap besar-besaran saat berperan dalam pengangkatan Li Shangfu sebagai Menteri Pertahanan.
  • Tuduhan yang jauh lebih serius muncul: Zhang Youxia dituduh membocorkan rahasia senjata nuklir Tiongkok kepada Amerika Serikat, sehingga dikategorikan sebagai kejahatan bersekongkol dengan kekuatan asing.

Meski WSJ dikenal memiliki kredibilitas tinggi, laporan ini tetap harus dibaca dengan sangat hati-hati, mengingat sensitivitas ekstrem isu politik dan keamanan internal PKT.

Sekutu Lama Xi Jinping, Kini Musuh?

Pertanyaan besar pun muncul: Apakah Zhang Youxia benar-benar mata-mata Amerika Serikat?

Secara historis, Zhang Youxia justru dikenal sebagai sekutu militer paling tepercaya Presiden Xi Jinping. Hubungan keduanya berakar jauh ke masa awal perjuangan PKT. Ayah Xi Jinping, Xi Zhongxun, dan ayah Zhang Youxia, Zhang Zongxun, adalah rekan seperjuangan dekat—yang satu menjabat sebagai komandan militer, sementara yang lain sebagai komisaris politik.

Setelah Xi Jinping berkuasa, Zhang Youxia menjadi pilar penting dalam konsolidasi kekuasaan Xi di tubuh militer dan mendukungnya selama lebih dari satu dekade. Hingga sebelum Kongres Nasional PKT ke-20, tidak tampak adanya retakan terbuka di antara keduanya.

Akar Konflik: Skandal Pasukan Roket 2023

Retakan pertama yang nyata justru muncul pasca-kongres, melalui kasus besar Pasukan Roket PLA pada 2023. Dalam penyelidikan tersebut:

  • Wei Fenghe dan Li Shangfu, dua mantan Menteri Pertahanan, dijerat kasus korupsi besar-besaran.
  • Keduanya sebelumnya bertugas di Departemen Peralatan Umum, di mana Zhang Youxia adalah atasan langsung mereka hingga tahun 2017.

Militer Tiongkok secara terbuka menyatakan bahwa penyelidikan ditarik mundur hingga tahun 2017—sebuah sinyal yang secara halus namun tegas mengarah langsung ke Zhang Youxia.

Pesan Xi Jinping saat itu dianggap sangat jelas: “Saya sudah menangkap orang-orang kepercayaan lama Anda.”

Sejumlah analis menilai bahwa bukti korupsi terhadap Zhang Youxia sebenarnya telah berada di tangan Xi sejak 2023, namun sengaja ditahan—seperti pedang yang digantung di leher, menunggu waktu dijatuhkan.

Mengapa Bertindak Sekarang?

Dua detail penting dari laporan WSJ menguatkan dugaan ini:

Pertama, tuduhan suap terhadap Zhang Youxia diumumkan hanya beberapa hari setelah penangkapan. Ini sangat tidak lazim, mengingat kasus pejabat militer setingkat ini biasanya membutuhkan berbulan-bulan penyelidikan. Sebagai perbandingan, kasus Wei Fenghe dan Li Shangfu memakan waktu lebih dari enam bulan sebelum diumumkan secara resmi.

Kedua, Xi Jinping dilaporkan telah mengirim tim investigasi khusus ke Shenyang, untuk menyelidiki masa jabatan Zhang Youxia sebagai Komandan Wilayah Militer Shenyang (2007–2012). Para penyelidik bahkan tidak tinggal di fasilitas militer, melainkan di hotel, sementara perangkat komunikasi sejumlah jenderal yang memiliki hubungan dekat dengan Zhang dan Liu disita.

Hal ini menunjukkan bahwa periode Shenyang belum pernah diselidiki secara tuntas sebelumnya, dan kini menjadi fokus utama.

Bahasa Xinhua: Isyarat Kudeta?

Pernyataan resmi Xinhua pada 24 Januari 2026 menggunakan bahasa yang sangat keras, antara lain menyebut:

“Secara serius merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer, melemahkan kepemimpinan mutlak partai atas militer, membahayakan fondasi kekuasaan partai, dan mengguncang persatuan ideologis seluruh tentara.”

Dalam struktur PKT:

  • Ketua Komisi Militer = Xi Jinping
  • Pusat Partai = Xi Jinping

Artinya, Zhang Youxia dan Liu Zhengli dituduh secara langsung menantang otoritas Xi Jinping, membuka kemungkinan dugaan upaya kudeta atau ancaman kudeta internal.

Rangkaian Besar: 2023–2026

Banyak pengamat menilai kasus ini sebagai bagian dari rangkaian panjang:

  • 2023: Skandal Pasukan Roket — awal konflik
  • 2025: Kejatuhan sembilan jenderal, termasuk Miao Hua dan He Weidong, tokoh dekat Xi
  • 2026: Penangkapan Zhang Youxia — babak penentuan

Rumor sepanjang tahun 2025—meski belum terkonfirmasi—menyebutkan bahwa Xi Jinping sempat mengalami gangguan kesehatan serius, menciptakan kekosongan kekuasaan sementara yang diduga dimanfaatkan untuk manuver internal.

Bukan Amerika, Tapi Politik Hidup dan Mati

Tuduhan “bersekongkol dengan kekuatan asing” bukanlah hal baru dalam sejarah PKT. Tokoh-tokoh seperti Peng Dehuai di masa lalu pernah dijatuhkan dengan tuduhan serupa tanpa bukti transparan.

Secara logika, banyak analis meragukan bahwa Zhang Youxia benar-benar menjual rahasia nuklir ke Amerika Serikat. Tuduhan tersebut dinilai lebih sebagai alat politik untuk menghancurkan lawan.

Kesimpulan yang paling banyak dipegang para pengamat:

Kasus Zhang Youxia bukan tentang Amerika, bukan semata korupsi, melainkan pertarungan kekuasaan hidup dan mati di jantung PKT.

Ke Depan: Pembersihan Besar-besaran

Penangkapan Zhang Youxia diperkirakan belum menjadi akhir. Militer Tiongkok sangat mungkin akan memasuki fase pembersihan besar-besaran, dengan semakin banyak jenderal berpotensi tumbang.

Dunia kini menunggu: siapa berikutnya?

Penangkapan Jenderal Zhang Youxia Mengguncang Moral di Dalam Komando Militer Pusat

Penangkapan Ini Menimbulkan Kekhawatiran tentang Potensi Pemberontakan Selama Masa Perang

Penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli yang terjadi secara bersamaan, memunculkan berbagai versi mengenai detail penangkapan mereka. Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai versi tersebut, peristiwa ini telah menyingkap kekacauan dan gejolak serius di internal elite kekuasaan. 

Saat ini, keluhan rakyat, ketidakpuasan tentara, dan kekecewaan aparat di Tiongkok sangat mendalam. Sejumlah analis menilai bahwa kasus Zhang Youxia dipandang sebagai langkah kunci yang menandai pergeseran sistem kekuasaan PKT dari kondisi tegang menuju rapuh, sekaligus menunjukkan bahwa struktur kepercayaan di dalam kelompok penguasa PKT telah sepenuhnya runtuh.

EtIndonesia. Pada 24 Januari sore, anggota Politbiro PKT sekaligus Wakil Ketua KMP Zhang Youxia, serta anggota KMP dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli, secara resmi diumumkan “jatuh” dan disebut “diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum serius”, sehingga dikenai pemeriksaan dan penyelidikan resmi.

Malam itu juga, surat kabar militer PKT menerbitkan tajuk rencana yang mengecam Zhang dan Liu dengan bahasa yang sangat keras, menuduh mereka “secara serius mengkhianati kepercayaan dan amanah Partai dan Komisi Militer Pusat”, “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer”, serta “membahayakan fondasi kekuasaan Partai”.

Media Epoch Times mengutip sejumlah sumber yang menyatakan bahwa penilaian politik awal terhadap Zhang dan Liu bukan sekadar pelanggaran disiplin biasa, melainkan dituduh “memecah Komisi Militer Pusat”, yang secara langsung menyentuh isu sistem tanggung jawab ketua KMP dan kepemilikan kekuasaan komando tertinggi. Dalam konteks politik militer saat ini, tuduhan semacam itu berarti kasus tersebut telah dinaikkan ke tingkat politik tertinggi.

Sumber yang mengetahui situasi menyebutkan bahwa penanganan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah menimbulkan guncangan nyata di dalam militer. Sejumlah perwira menengah dan senior diminta mendadak untuk menghentikan cuti, membatalkan agenda yang telah direncanakan, dan diperintahkan untuk “siaga di tempat”. Pada saat yang sama, sistem komando, propaganda, dan pernyataan politik di tubuh militer diperketat secara serempak, sehingga suasana keseluruhan menjadi sangat tegang.

Sebagai dua tokoh tertinggi di jajaran militer PKT, tumbangnya Zhang Youxia dan Liu Zhenli secara bersamaan mengejutkan opini internasional. Peristiwa ini juga menandai bahwa pertarungan internal di tingkat elite PKT telah sepenuhnya “membuka topeng”, tanpa lagi menyisakan ruang kompromi. Arah masa depan politik Tiongkok pun menjadi sorotan dunia luar.

Komentator politik Xiao Yang dalam artikelnya di Epoch Times pada 26 Januari menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan Xi Jinping, logika pemerintahan Tiongkok telah jelas bergeser dari “otoritarianisme berorientasi pembangunan” menuju “totalitarianisme defensif”. 

Ia menyebut, stabilitas tidak lagi menjadi sarana, melainkan tujuan itu sendiri; keamanan tidak lagi melayani operasi sosial, tetapi ditempatkan di atas segalanya. Kekuasaan politik memasuki kondisi ketegangan ekstrem—takut pada masyarakat di dalam negeri, takut pada dunia luar, takut pada sejarah, takut pada rakyat, bahkan takut pada legitimasi dirinya sendiri. Situasi “segala sesuatu terasa seperti musuh” ini justru merupakan tanda awal keruntuhan sistem.

Penulis menyatakan bahwa pembersihan terhadap elite militer, terlebih yang melibatkan Wakil Ketua KMP yang sedang menjabat seperti Zhang Youxia, melepaskan sinyal yang sangat berbahaya—yakni bahwa perebutan kekuasaan di tingkat tertinggi PKT telah mendekati fase “saling tidak bisa ditoleransi”. 

Ketika sebuah rezim mulai saling mencurigai dan saling membersihkan di dalam kekuatan bersenjata tertingginya, itu menandakan bahwa struktur kepercayaan internal kelompok penguasa telah sepenuhnya hancur.

Penulis menambahkan bahwa di bawah Xi Jinping, PKT kini tidak hanya “mewaspadai masyarakat”, tetapi mulai mewaspadai orang-orangnya sendiri. Ketika inti kekuasaan tidak lagi mampu menoleransi keberadaan kekuatan berbeda di dalam internalnya, sistem tersebut pada hakikatnya telah memasuki tahap keausan internal yang parah dan kemunduran yang tidak dapat dipulihkan. 

Pemerintahan yang selalu waspada dan penuh ketakutan menjadi tak terhindarkan. Inilah yang disebut sebagai “era akhir PKT”—kediktatoran satu orang dengan hilangnya sepenuhnya dukungan rakyat.

Dalam artikel lain, komentator politik Ding Lvkai berpendapat bahwa tumbangnya Zhang Youxia bukan sekadar akhir politik seorang jenderal senior, melainkan menandai perubahan kualitatif dalam logika pengoperasian kekuasaan militer PKT. 

Ding menyebut, hilangnya lapisan “penyangga struktural” yang diwakili oleh Zhang sangat mungkin dipandang sebagai langkah kunci yang mendorong sistem kekuasaan PKT dari kondisi tegang menuju rapuh. Sejarah sering kali tidak mengumumkan akhir sebuah rezim lewat keruntuhan yang dramatis, melainkan melalui keputusan-keputusan teknis yang tampak biasa, namun diam-diam mengubah arah.

Sejak Xi Jinping berkuasa, ekonomi Tiongkok terperosok ke dalam kesulitan, pertikaian elite semakin tajam, dan banyak pejabat PKT memilih sikap “pasrah”. Ketidakpuasan terhadap Xi merambah seluruh lapisan masyarakat. Di kalangan rakyat, suara yang mengecam Xi, menentang Xi, menyerukan kejatuhan Xi, dan menuntut Xi turun dari jabatan terus bermunculan.

Komentator independen Du Zheng dalam artikelnya di media Taiwan Up Media pada 25 Januari menulis bahwa sebelumnya para loyalis militer Xi Jinping—seperti He Weidong dan Miao Hua dari “faksi Fujian”—telah kalah dalam perebutan kekuasaan dengan Zhang Youxia dan akhirnya tersingkir. Kali ini, menurutnya, langkah Xi Jinping pada dasarnya merupakan tindakan balas dendam terhadap Zhang Youxia.

Penulis menyebutkan bahwa setelah tumbangnya He Weidong dan Miao Hua, kini Zhang Youxia dan Liu Zhenli kembali diselidiki, yang berujung pada guncangan serius dalam moral militer. Hal ini tentu berdampak pada Zona Komando Tengah yang bertugas melindungi Beijing.

Dalam tulisan sebelumnya, penulis juga menyinggung bahwa sejumlah perwira lapis bawah di beberapa zona komando merasa marah akibat korupsi di tingkat atas atau karena elite sibuk bertarung secara internal. 

Potensi pemberontakan militer bisa terakumulasi di bawah tekanan tinggi, dan dalam situasi perang dapat meletus menjadi pemberontakan tentara. Jika pasukan yang bertugas melindungi ibu kota, bahkan Zhongnanhai, mengalami pemberontakan, maka hal itu akan langsung mengancam posisi Xi Jinping.

Penulis menegaskan bahwa keluhan rakyat, tentara, dan pejabat di Tiongkok saat ini semakin parah. Setelah Xi Jinping memasuki masa jabatan ketiga, ekonomi jatuh ke dalam krisis serius, kontrol politik semakin diperketat, dan pembersihan internal kian intensif. 

Baik PKT maupun Xi Jinping telah menjadi sasaran penentangan, baik di dalam maupun di luar sistem. Terlebih sejak paruh akhir 2025, marak fenomena warganet “menabrak menara” (menantang sensor), di mana di bawah pengawasan ketat PKT, banyak orang mencari cara untuk melawan dengan berbagai metode tersembunyi dan relatif aman, mengejek sistem politik dan mengejek Xi Jinping.

Penulis menutup dengan menyatakan bahwa dalam situasi seperti ini, meskipun Xi Jinping memiliki bunker nuklir militer PKT di Xishan, Beijing, untuk menghindari serangan mendadak militer AS, kemarahan para prajurit di sekelilingnya justru bisa menjadi ancaman yang lebih sulit diantisipasi. Sepanjang sejarah, baik di Timur maupun Barat, tidak sedikit penguasa lalim yang akhirnya tumbang dengan cara seperti ini. (Hui)

Tang Zheng

Berharganya Menggenggam Tangan Kiri dengan Tangan Kanan

EtIndonesia. Suatu hari, di sebuah meja jamuan minum, ketika suasana mulai hangat dan wajah-wajah memerah karena pengaruh alkohol, seorang pria melontarkan celetukan setengah bercanda:

“Menggenggam tangan wanita penghibur, rasanya seperti kembali ke usia delapan belas atau sembilan belas tahun; menggenggam tangan adik ipar, menyesal dulu pernah salah menggenggam tangan; menggenggam tangan kekasih, terasa aliran hangat mengalir ke hati; menggenggam tangan teman perempuan semasa sekolah, menyesal dulu tidak berani melangkah; tapi menggenggam tangan istri… rasanya seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.”

Orang-orang di meja pun tertawa.

Namun, seorang wanita paruh baya yang sedari tadi diam, tiba-tiba angkat bicara:“Ungkapan ‘tangan kiri menggenggam tangan kanan’ itu justru sangat tepat.”

Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju padanya.

Wanita itu melanjutkan dengan tenang: “Menggenggam tangan orang lain—entah itu memabukkan atau mengguncang jiwa—setelahnya bisa saja dilepaskan dan dibuang.
Tetapi tangan kiri atau tangan kanan, jika salah satunya hilang, hidup pun akan pincang selamanya.”

Seseorang yang masih memiliki kedua tangannya dengan utuh, jika memandang pernikahan dan hidup dengan sikap seperti ini, sejatinya menyimpan sebuah kebanggaan yang sunyi di dalam dirinya.

Karena hanya ketika seseorang kehilangan salah satu tangannya, barulah dia sungguh-sungguh memahami betapa berharganya menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan.

Saat seseorang tanpa sadar menggenggam tangan kirinya dengan tangan kanan, akan muncul rasa memiliki yang alami—sebuah rasa aman dan kepenuhan yang nyata, bukan semu.

Pernikahan yang seperti “tangan kiri menggenggam tangan kanan” memiliki ketenangan yang panjang dan jernih, bagaikan air musim gugur yang mengalir tanpa riak.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, orang-orang di dalam pernikahan akan mengalami berbagai ketidakberdayaan dan kebingungan. Sudut-sudut tajam kepribadian perlahan terkikis, dan gairah pun memudar.

Namun perasaan yang tersembunyi di lipatan-lipatan pikiran, yang melekat di rambut yang mulai memutih, justru tetap mampu menyentuh hati dan memikat jiwa.

Tangan siapa pun, setelah ditempa oleh badai usia dan kerasnya waktu, lambat laun akan kehilangan daya tarik yang dulu pernah dimilikinya.

Pada dasarnya, perjalanan dari cinta bebas menuju pernikahan adalah proses dari gemerlap menuju kesederhanaan. Yang tersisa hanyalah hari-hari biasa—hari-hari seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.

Mungkin tidak lagi mendebarkan, tidak lagi romantis, tetapi jauh lebih nyata dan dapat diandalkan dibandingkan “menggenggam tangan orang lain”.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pria hanya akan merasa tenang dan akrab terhadap istrinya apabila dia telah menyiapkan perasaan seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.

Sesungguhnya, para pria pun paham:“Menggenggam tangan wanita penghibur itu mahal,
menggenggam tangan kekasih itu melelahkan.”

Hanya tangan istri yang setia menemani—dalam kegagalan maupun keberhasilan—yang akan tanpa syarat memberikan kelembutan seumur hidup.

Dan ketika suatu hari segalanya telah berlalu, ketika kabut kehidupan telah menghilang, jika seorang pria dan wanita masih mampu saling menggandeng tangan hingga akhir perjalanan hidup, maka itu bukan lagi sekadar kesederhanaan.

Itulah keindahan hidup yang abadi, tak lekang oleh waktu.

Renungan / Hikmah Cerita

Kata-kata bisa diucapkan oleh siapa saja, tetapi tidak semua orang mampu mengucapkannya dengan bijak. Banyak orang, jika mendengar pasangan atau lawan jenis berkata seperti itu, mungkin akan langsung membantah—dan pertengkaran pun tak terelakkan.

Namun mampu merespons dengan cara yang ringan, menenangkan, dan penuh makna, bukan hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi.

Menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan memang terlihat biasa, bahkan membosankan. Namun justru di sanalah tersembunyi kebahagiaan yang paling berharga.(jhn/yn)

Hukum Baru Taliban Melegalkan Perbudakan di Afghanistan, Memberikan Kekebalan Hukum kepada Para Mullah

EtIndonesia. Taliban secara resmi telah memperkuat sistem peradilan berbasis kelas di Afghanistan di bawah Kode Prosedur Pidana yang baru diberlakukan dan ditandatangani oleh pemimpin tertingginya, Hibatullah Akhundzada, sebuah langkah yang telah memicu kemarahan di antara organisasi hak asasi manusia dan memperbarui kekhawatiran internasional atas arah tatanan hukum dan politik negara tersebut.

Kode baru tersebut, yang dikeluarkan pada 4 Januari 2026 dan diedarkan ke pengadilan di seluruh negeri, telah diperoleh oleh Rawadari, sebuah organisasi hak asasi manusia Afghanistan yang memantau pelanggaran dan mengadvokasi akuntabilitas. Meskipun dokumen tersebut mencakup 119 pasal di tiga bagian dan 10 bab, para kritikus mengatakan salah satu fitur yang paling mengkhawatirkan adalah legalisasi eksplisit hierarki sosial dalam sistem peradilan itu sendiri.

Pembagian Berdasarkan Hierarki

Di tengah kontroversi terdapat Pasal 9, yang membagi masyarakat Afghanistan menjadi empat kategori: ulama, kaum elit, kelas menengah, dan kelas bawah. Di bawah sistem ini, hukuman untuk kejahatan yang sama tidak lagi ditentukan terutama oleh sifat atau beratnya pelanggaran, tetapi oleh status sosial terdakwa.

Menurut undang-undang tersebut, jika seorang ulama melakukan kejahatan, tanggapannya terbatas pada nasihat. Jika pelaku termasuk dalam kaum elit, konsekuensinya adalah panggilan ke pengadilan dan nasihat. Bagi mereka yang termasuk dalam apa yang disebut kelas menengah, pelanggaran yang sama mengakibatkan hukuman penjara. Tetapi bagi individu dari “kelas bawah”, hukumannya meningkat menjadi penjara dan hukuman fisik.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan ketentuan ini secara efektif memberikan kekebalan hampir total kepada ulama dan tokoh agama dari pertanggungjawaban pidana yang berarti, sementara mengekspos warga Afghanistan yang lebih miskin dan terpinggirkan pada hukuman yang lebih keras dan lebih kejam.

“Ini bukan sistem peradilan; ini adalah hierarki hak istimewa yang dikodifikasi secara hukum,” kata Rawadari dalam sebuah pernyataan, memperingatkan bahwa kode tersebut menghancurkan prinsip kesetaraan di hadapan hukum dan menggantinya dengan diskriminasi yang dilembagakan.

Kembalinya Perbudakan?

Para ahli hukum mencatat bahwa langkah ini menandai penyimpangan tajam bahkan dari konsep dasar hukum pidana modern, di mana hukuman seharusnya proporsional dengan kejahatan dan berdasarkan tanggung jawab individu, bukan latar belakang sosial. Sebaliknya, kode baru Taliban secara terbuka merangkul stratifikasi sosial sebagai prinsip hukum, mengubah pengadilan menjadi instrumen untuk melestarikan dan menegakkan tatanan sosial yang kaku.

Sistem berbasis kelas ini diperparah oleh elemen lain yang sangat kontroversial—referensi berulang kode tersebut terhadap orang “bebas” dan “budak”.

Dalam beberapa pasal, termasuk ketentuan tentang hukuman, hukum tersebut secara eksplisit membedakan antara individu yang bebas dan yang diperbudak, sebuah terminologi yang menurut para pembela hak asasi manusia sama dengan pengakuan hukum atas status yang benar-benar dilarang berdasarkan hukum internasional. Perbudakan dilarang dalam semua keadaan berdasarkan norma-norma hukum internasional yang mutlak, namun kode hukum Taliban memperlakukannya sebagai kategori hukum yang normal.

Kata-kata Lebih Penting daripada Bukti?

Di luar hierarki sosial, Kode Prosedur Pidana yang baru juga menghilangkan banyak perlindungan dasar dari proses hukum yang adil. Dokumen tersebut tidak mengakui hak untuk mendapatkan pengacara pembela, hak untuk tetap diam, atau hak untuk mendapatkan kompensasi atas hukuman yang salah. Dokumen ini sangat bergantung pada “pengakuan” dan “kesaksian” sebagai cara utama untuk membuktikan kesalahan, sementara menghilangkan persyaratan untuk penyelidikan independen dan gagal menetapkan hukuman minimum dan maksimum yang jelas untuk kejahatan.

Kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa kerangka hukum ini secara dramatis meningkatkan risiko penyiksaan dan pengakuan paksa, terutama dalam sistem di mana hakim dan penegak hukum beroperasi tanpa pengawasan atau akuntabilitas.

Kode tersebut juga secara signifikan memperluas penggunaan hukuman fisik, termasuk cambuk, dan memperkenalkan pelanggaran yang didefinisikan secara samar seperti “menari” atau hadir dalam “pertemuan korupsi”, memberikan hakim wewenang yang luas untuk menahan dan menghukum orang karena kegiatan budaya atau sosial biasa.

Sebuah Tantangan Hak Asasi Manusia

Namun, bagi banyak pengamat, formalisasi keadilan berbasis kelas merupakan sinyal paling jelas bahwa Taliban tidak hanya memberlakukan hukum yang keras, tetapi juga merekonstruksi seluruh sistem hukum di sekitar hak istimewa, loyalitas, dan status keagamaan. 

“Dengan menempatkan ulama dan elit agama di atas hukum, Taliban secara efektif mengumumkan bahwa sebagian orang tidak boleh disentuh, sementara yang lain dapat dibuang selamanya,” kata Rawadari.

Organisasi tersebut menyerukan penangguhan segera implementasi kode tersebut dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional untuk menggunakan semua mekanisme hukum dan diplomatik yang tersedia untuk mencegah penegakannya. Mereka juga berjanji untuk terus memantau situasi dan menerbitkan laporan berkala tentang bagaimana kerangka hukum baru tersebut digunakan dalam praktiknya.

Seiring dengan semakin terisolasinya Afghanistan dan semakin dalamnya penindasan internal, para kritikus mengatakan bahwa kode pidana baru tersebut mengirimkan pesan yang tegas – di bawah pemerintahan Taliban, keadilan tidak lagi buta, melainkan berlapis-lapis, selektif, dan sangat selaras dengan kekuasaan. (yn)