oleh Jin Ran
Selama beberapa hari ada sekitar 3.000 orang selebriti politik dan bisnis dunia berkumpul di Kota Davos, Swiss untuk mengikuti Forum Ekonomi Dunia. Di antara mereka termasuk lebih dari 60 orang kepala negara dan pemerintahan, dan hampir 850 orang merupakan CEO dan ketua perusahaan terkemuka dunia.
Namun terlepas dari jumlah tokoh elit yang menghadiri forum di Davos, hanya ada satu protagonis: Presiden AS Trump, yang setiap gerakannya langsung memengaruhi dunia. Menurut saya, kehadiran Trump di Davos lebih bertujuan untuk “merusak acara”, yakni menanggalkan topeng globalisme.
Trump Mengguncang Davos
Meskipun penerbangan Trump ke Davos pada awalnya mengalami hambatan, tetapi ia tetap tiba tepat waktu di lokasi Forum Ekonomi Dunia yang diakui banyak orang sebagai markas besar globalisme. Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang ini tanpa hentinya mengkritik Trump. Sekarang Trump telah tiba di hadapan mereka.
Trump tiba di lokasi forum dengan menggunakan helikopter “Marine One”. Para penyelenggara telah menggelar karpet merah yang panjang untuk menyambutnya, dan mereka yang sebelumnya mengkritik Trump berbaris untuk berjabat tangan dan berfoto dengannya. Ini adalah politik realis: terlepas dari keengganan mereka, tetapi tidak seorang pun dapat mengabaikan kekuatan sejati ini dari tokoh yang dengan lantang menyatakan “America First” dan membantah pernyataan tersebut.
Berbicara tentang para elit di Davos, rasanya perlu kita tengok sejenak “humor gelap” yang terjadi di luar arena forum. Dalam dua hari terakhir, lebih dari 1.000 unit jet pribadi telah diparkir di kota kecil ini, membawa dua hingga tiga ribu orang elit yang dengan suara lantang membahas isu-isu seperti perubahan iklim dan menyelamatkan planet ini.
Di satu sisi, mereka dengan sungguh-sungguh memberi tahu orang-orang di seluruh dunia: kurangi pemanasan ruangan musim dingin ini, usahakan suhu ruangan di 13°C untuk menghindari kedinginan dan pemborosan energi. Kurangi makan daging, lebih baik mengonsumsi daging nabati. Jangan mengendarai mobil berbahan bakar bensin, naik sepeda saja. Sementara itu, rata-rata tiga atau empat orang bersama terbang ke Davos dengan jet-jet pribadi, yang mengeluarkan ribuan ton karbon dioksida.
Trump memang hadir secara khusus untuk menghadapi para munafik ini. Ia tidak hanya ingin membongkar “panggung” globalisme dan perubahan iklim, tetapi juga datang untuk memungut “jasa perlindungan” yang perlu mereka bayar.
Langkah Brilian Menaklukkan Greenland Tanpa Biaya dan Membungkam Denmark
Forum Ekonomi Dunia tahun ini berlangsung di Davos, Swiss dari 19 hingga 23 Januari 2026, tetapi Trump hanya menghabiskan 2 hari di sana, yaitu 21 dan 22 Januari. Namun, dalam dua hari tersebut, Trump mencapai dua peristiwa besar yang secara fundamental mengubah strategi dan geopolitik global.
Tepat di hari kedatangannya, berita paling mengejutkan muncul: Trump secara pribadi mengumumkan bahwa berdasarkan pertemuan yang sangat produktif antara dirinya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, konsensus tentang kerangka kerja untuk perjanjian masa depan Greenland termasuk wilayah Arktik telah tercapai. Ketika rencana ini diimplementasikan, baik AS dan semua anggota NATO akan mendapatkan manfaat yang signifikan.
Berdasarkan pemahaman ini, maka Trump memutuskan untuk menunda sanksi tarif yang semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026. Ada pun konsultasi mengenai hal-hal yang terkait rencana pertahanan strategis “Golden Dome” AS dengan pihak Greenland saat ini sedang berlangsung. Dan informasi lebih lanjut akan dirilis seiring berjalannya negosiasi.
Dunia luar menduga bahwa Trump akan menggunakan taktik “tekanan maksimal” dan “menetapkan target tinggi kendati sadar pencapaiannya di tingkat moderat.” Tetapi tidak satu pun menyangka bahwa Trump akan melakukan langkah brilian seperti ini. Dunia luar awalnya mengira Trump harus menghabiskan triliunan dolar untuk mengakuisisi Greenland, tetapi pada akhirnya ia dapat mencapai prestasi luar biasa dengan tanpa mengeluarkan sepeser pun.
Menurut laporan beberapa media Barat, Trump tidak hanya mengamankan Greenland tetapi juga mendapatkan kendali atas wilayah Arktik. Trump menyatakan bahwa “konsensus yang tercapai mengenai kerangka perjanjian di masa mendatang” itu mencakup hingga 6 poin: Pertama, Amerika Serikat akan memperoleh kendali atas beberapa “petak tanah kecil” di Greenland untuk membangun sistem pertahanan rudal “Golden Dome” dan pangkalan militer AS yang terkait.
Penulis memperkirakan bahwa pada akhirnya AS dapat memperoleh beberapa bidang tanah di sepanjang pantai utara Greenland untuk membangun pangkalan militernya.
Poin kuncinya adalah Trump menyatakan bahwa ia telah memperoleh tanah di Greenland, tetapi rumor sebelumnya yang terkait Trump bersedia membayar USD 700 miliar untuk mengakuisisi Greenland kini tidak lagi diperlukan. Cara yang dimainkan Trump ialah, Trump hanya peduli pada substansi, sepanjang Denmark masih ingin mempertahankan kedaulatan demi harga diri, maka tanah diperoleh tidak melalui akuisisi. Oleh sebab itu tidak perlu membayar.
Beberapa orang mungkin menganggap berisiko jika tidak melalui akuisisi, bukankah pemilik tanah bisa mengambilnya kembali? Poin kuncinya adalah: perjanjian tersebut ditetapkan dengan “tanpa batas waktu,” artinya Amerika Serikat dapat secara permanen berpijak di wilayah Arktik Greenland, untuk memperoleh akses ke seluruh Lingkaran Arktik.
Lebih lanjut, AS juga mendapatkan hak mengeksploitasi sumber daya alam di Greenland. Klausul penting lainnya dalam kerangka perjanjian 6 poin ialah bahwa perjanjian ini bertujuan untuk memblokir pengaruh Rusia dan Partai Komunis Tiongkok di Greenland.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan AS tanpa mengeluarkan biaya apa pun, yang perlu dilakukan Trump hanyalah mengumumkan bahwa sanksi tarif terhadap 8 negara Eropa, yang semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026, kini ditangguhkan untuk sementara. Sekarang semua orang seharusnya mengerti soal lihainya “seni bernegosiasi” Trump, bukan?
Pada hari pertamanya di Davos, Trump mengamankan dukungan NATO untuk masalah Greenland. Jika analisis saya masih bersifat personal, maka Polymarket, sebuah platform pasar prediksi terdesentralisasi yang terkenal dengan rekam jejak yang terbukti dalam memprediksi peristiwa besar dunia, pada 22 Januari telah mengeluarkan prediksi terbarunya: Probabilitas AS memperoleh Greenland pada tahun 2026 telah meroket dari 12% sebulan yang lalu menjadi 55% hanya dalam satu hari!
Trump tiba di Davos pada hari Rabu (21 Januari), setelah mendarat ia langsung menyampaikan pidato panjang yang berlangsung lebih dari satu jam dengan penuh semangat. Bergegas pergi ke ruang konferensi pers, kemudian menghadiri pertemuan terpisah dengan para pemimpin dunia. Forum Davos praktis menjadi panggung pertunjukan pribadi Trump. Menariknya, beberapa “bom” yang ia lontarkan langsung memporakporandakan tatanan geopolitik lama.
Selama kunjungannya ke Davos, Trump mengangkat kembali uneg-uneg lama terhadap Denmark, yang mengklaim kedaulatan atas Greenland, dengan blak-blakan menyatakan bahwa saat Perang Dunia II berlangsung, Denmark hanya melawan tentara Hitler selama 6 jam sebelum menyerah kepada Jerman.
Maksud Trump jelas: Bagaimana mungkin negara yang bahkan tidak mampu melindungi dirinya sendiri mengklaim mampu membela Greenland? Trump secara blak-blakan menusuk ego Eropa yang rapuh: Jika apa yang disebut “kedaulatan dan martabat” menjadi kerentanan di bawah rudal strategis PKT dan Rusia, maka dalam menghadapi kesenjangan kekuatan absolut dan kelangsungan hidup nasional, hal itu dapat menjadi tindakan yang tidak bertanggung jawab terhadap keamanan global.
Dalam pidatonya, Trump juga mengungkapkan fakta sejarah bahwa selama Perang Dunia II, militer AS membela Greenland dan mengembalikannya kepada Denmark setelah perang dengan tanpa syarat.
Trump Mempermalukan PKT, Kantong Jenazah Wuhan dan Senjata PKT & Rusia Tak Berfungsi
Pengungkapan yang paling menarik datang dari penyebutan Trump tentang tidak berfungsinya senjata baru buatan PKT dan Rusia di Venezuela. Terdapat rumor bahwa Venezuela telah menggunakan sistem pertahanan buatan Rusia dan PKT, yang konon mampu mengunci target pesawat tempur AS. Namun apa yang terjadi? Trump menceritakan kisah kejadian itu seolah lelucon di Forum Davos.
Di Davos, Trump dengan langsung menuju intinya mengatakan kepada para hadirin bahwa negara-negara Barat harus menyadari bahwa “Eropa mampu melindungi dirinya sendiri” itu tidak lebih dari sebuah ilusi. Presiden Finlandia, yang baru saja menyatakan di forum tersebut bahwa Eropa tidak membutuhkan perlindungan Amerika Serikat, dengan cepat mengubah pernyataannya dalam waktu 11 menit ketika didesak oleh pertanyaan wartawan. Realitas adalah tamparan keras di wajahnya.
Mungkin rasa malu dan kesalahan Presiden Finlandia itulah yang membuat Sekretaris Jenderal NATO yang berada di dekatnya pun tak tahan lagi untuk berbicara terus terang dan bijaksana, sekaligus memberi kesempatan kepada para pemimpin Barat untuk berpikir secara mendalam.
Faktanya, Trump bukanlah satu-satunya orang yang muak dengan kemunafikan negara-negara Eropa. Bahkan Presiden Ukraina Zelensky, yang sering mengadakan pertemuan dengan mereka, juga tidak dapat mentolerirnya lagi. Di Forum Davos pada 21 Januari, Zelensky secara tidak biasa mengkritik negara-negara Eropa yang lain di mulut dan lain di hati.
Mungkin pernyataan Trump yang tajam dan “ratapan historis” Sekretaris Jenderal NATO itu telah membawa refleksi yang lebih serius bagi para pejabat Barat. Kanselir Jerman, yang sebelumnya mengkritik Trump, mulai merenungkan tindakannya sendiri, bahkan ia membenarkan bahwa “Jerman dan Eropa telah menyia-nyiakan potensi mereka,” yang sama saja dengan mengakui kegagalan dari sistem Uni Eropa.
Jika kritik Trump terhadap negara-negara Barat yang hanya berbicara tentang kebenaran politik tetapi tidak mengambil tindakan konkret, maka ketika membahas alasan kemunduran ekonomi AS di masa lalu, Trump menyebutkan untuk pertama kalinya bahwa pada tahap awal pandemi COVID-19, satelit AS menangkap gambar berupa kantong-kantong yang berisi jenazah berada di mana-mana di Kota Wuhan, Tiongkok.
Trump Membentuk Dewan Perdamaian untuk Menggantikan PBB
Setelah menyelesaikan masalah Greenland, pada hari keduanya di Davos, Trump secara resmi membentuk Dewan Perdamaian, sebuah organisasi internasional besar yang, menurut pandangan, di kemudian hari bisa jadi menggantikan fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pada 22 Januari, terjadi perubahan besar dalam lanskap politik global dengan munculnya Dewan Perdamaian. Ini adalah upaya Trump untuk “meruntuhkan dan membangun kembali” sistem tata kelola global yang ada. Dari mana Dewan Perdamaian ini berasal? Ternyata Trump telah lama tidak puas dengan sifat “boros, tidak efisien, dan hanya banyak bicara” dari lembaga multilateral tradisional seperti PBB dan NATO. Dalam konflik di seluruh dunia, terutama di Jalur Gaza, birokrat PBB sering mengeluarkan pernyataan yang keras, tetapi tidak berkelanjutan.
Oleh karena itu, sebuah rencana berani terbentuk dalam benak Trump, yaitu untuk membangun platform yang “efisien dan pragmatis”. Bentuk awal dewan ini muncul dalam beberapa pertemuan pribadi yang diadakannya dengan para pemimpin dari Timur Tengah dan Eropa Timur.
Logika inti Trump adalah bahwa kedamaian tidak dapat diperoleh dengan mengemis, melainkan sesuatu yang harus “dinegosiasikan” melalui kemampuan, dan terlebih lagi, sesuatu yang harus dipaksakan keberadaannya. Ia ingin membentuk lingkaran para pemimpin yang berorientasi terhadap tindakan, bukan omongan, dengan mem-bypass PBB dan mengambil keputusan secara langsung.
Trump menggunakan Forum Ekonomi Dunia sebagai platform untuk “menobatkan” Dewan Perdamaian. Saat ini, sekitar 35 negara telah setuju untuk bergabung. Pada pertemuan perdana, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka mengkritik para pemimpin dunia yang hanya membaca teks yang ada lalu terlibat dalam omong kosong tentang perdamaian.
Dewan Perdamaian tidak memiliki kepresidenan bergilir dan hak veto seperti lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Anggaran dasarnya sangat lugas: ketua tunggalnya adalah Trump. Ketua memiliki hak veto absolut dan bahkan dapat mengeluarkan resolusi tanpa berkonsultasi dengan komite. Lebih lanjut, masa jabatan ketua tidak dibatasi oleh masa jabatan presiden AS, tetapi merupakan penunjukan seumur hidup, dan hanya dapat diganti dengan persetujuan bulat dari komite eksekutif jika terjadi pengunduran diri sukarela atau ketidakmampuan. Singkatnya, ketua Dewan Perdamaian adalah posisi di mana Trump masih dapat memberikan pengaruh signifikan setelah mundur dari jabatan presiden AS.
Trump merancang struktur tiga tingkat yang hierarkis dan mengutamakan efisiensi, sepenuhnya memisahkan pengambilan keputusan politik, administrasi luar negeri, dan pelaksanaan di lapangan.
Badan pengambilan keputusan di Dewan Perdamaian ini terdiri dari kepala negara dari negara-negara yang diundang (saat ini 59 negara berpartisipasi). Mereka bertanggung jawab untuk meninjau kerangka kerja keseluruhan, anggaran, dan tujuan jangka panjang.
Keanggotaan awal gratis untuk tiga tahun pertama, tetapi untuk mendapatkan keanggotaan tetap, diperlukan menyetor “biaya keanggotaan” lebih dari USD 1 miliar. Ini adalah logika bisnis Trump, yaitu perlu membayar jika ingin memiliki suara di panggung dunia. Tingkat eksekutif, atau komite eksekutif, pada dasarnya adalah otak dari seluruh organisasi. Komite ini ditunjuk secara pribadi oleh Trump dan saat ini termasuk Menteri Luar Negeri AS Rubio, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dan Presiden Bank Dunia dan lainnya. Tingkat ketiga adalah tingkat implementasi, Komite Eksekutif Gaza, yang bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana tersebut.
Yang mengejutkan, Presiden Rusia V. Putin juga termasuk yang diundang. Ketika ditanya oleh seorang reporter mengapa ia diundang meskipun ada kekhawatiran tentang potensi invasi ke Greenland, Trump memberikan jawaban yang lugas: “Saya ingin semua negara terlibat.” Ini adalah diplomasi khas Trump—menarik masuk musuh ke dalam aturan permainannya.
Dewan tersebut saat ini secara resmi dibentuk untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah, khususnya konflik Gaza, tetapi pada intinya, ini adalah “ruangan baru buat menangani urusan dunia” yang berpusat pada AS (atau lebih tepatnya, Trump sendiri) dengan mengabaikan sistem multilateral tradisional. (sin/asr)


