Ingin Menikmati Glamping Style, Grand Whiz Hotel Trawas Buka Area “Rindu Alam”

Trawas – Menjawab tren wisata alam yang kian diminati, Grand Whiz Hotel Trawas resmi membuka area kemah baru bertajuk “Rindu Alam”. Area yang terletak di dalam kawasan hotel ini menghadirkan konsep kemah yang terorganisir (organized camping) dengan fasilitas memadai, menawarkan pengalaman menyatu dengan alam tanpa mengorbankan kenyamanan dasar.

Terletak di kaki Gunung Penanggungan, area seluas ini menawarkan udara sejuk, panorama pegunungan hijau, dan kerindangan pepohonan. Lokasinya dirancang dengan kontur landai yang aman, cocok untuk berbagai aktivitas outdoor seperti berkemah keluarga, outbound perusahaan, pelatihan, hingga kegiatan sekolah.

“Banyak masyarakat yang ingin menikmati keindahan alam Trawas, tetapi terkendala persiapan logistik dan perlengkapan. Melalui ‘Rindu Alam’, kami ingin memudahkan mereka. Baik tamu hotel maupun masyarakat umum bisa langsung menikmati suasana berkemah dengan layanan yang telah kami siapkan,” jelas Indra Purwono, General Manager Grand Whiz Hotel Trawas.

Fasilitas Lengkap untuk Kenyamanan “Glamping-Style”
Berbeda dari lokasi kemah biasa, “Rindu Alam” dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung seperti:

  • Area api unggun yang aman
  • Kamar mandi umum bersih
  • Penerangan memadai di titik strategis
  • Lahan datar dan tertata untuk pemasangan tenda

Sejak dibuka, area ini telah digunakan sejumlah sekolah dan perusahaan untuk kegiatan team building, kemah pramuka, dan pelatihan kepemimpinan. Hal ini menunjukkan potensi lokasi sebagai destinasi edukatif dan rekreatif berbasis alam di kawasan Mojokerto.

Dukung Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Lokal
Kehadiran area kemah ini tidak hanya menambah portofolio layanan hotel, tetapi juga diharapkan dapat mendorong pariwisata berkelanjutan di Kecamatan Trawas. Kolaborasi dengan masyarakat setempat dalam penyediaan layanan dan pemeliharaan lingkungan menjadi bagian dari komitmen Grand Whiz Hotel Trawas untuk menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan ekonomi lokal.

Area “Rindu Alam” terbuka untuk umum dan dapat diakses oleh individu, komunitas, rombongan sekolah, maupun perusahaan. Dengan konsep kemah yang lebih terstruktur, Grand Whiz Hotel Trawas ingin menjadikan pengalaman bermalam di alam terbuka menjadi lebih mudah, nyaman, dan berkesan.

Trump Gugat JPMorgan Chase, Tuntut Ganti Rugi 5 Miliar Dolar AS

EtIIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump  pada 22 Januari 2026  secara resmi mengajukan gugatan ke pengadilan negara bagian Florida di Miami, menuntut JPMorgan Chase dan CEO-nya, Jamie Dimon, dengan klaim ganti rugi sebesar 5 miliar dolar AS. Alasannya, Trump dan perusahaan-perusahaannya dituduh menjadi korban penutupan rekening bank secara sepihak tanpa pemberitahuan yang jelas, yang diduga bermotif politik.

Gugatan ini diajukan oleh pengacara Trump, Alejandro Brito, yang mewakili Trump secara pribadi serta beberapa grup hotel di bawah kepemilikannya.

Dalam berkas gugatan disebutkan bahwa Trump telah menjalin hubungan perbankan dengan JPMorgan Chase selama puluhan tahun dan menyelesaikan transaksi senilai ratusan juta dolar. Namun pada 19 Februari 2021, bank tersebut tiba-tiba memberi tahu Trump dan perusahaan terkait bahwa sejumlah rekening atas nama mereka akan ditutup dalam waktu dua bulan, tanpa penjelasan alasan, serta tanpa memberikan opsi perbaikan atau alternatif.

Gugatan tersebut menyoroti bahwa dalam kode etiknya, JPMorgan Chase menekankan integritas dan standar moral yang tinggi, serta kebijakan “nol toleransi” terhadap perilaku tidak etis. Namun di sisi lain, bank justru menghentikan layanan tanpa dasar yang sah. Pihak Trump menilai tindakan ini bukanlah keputusan bisnis murni, melainkan bentuk penekanan yang bermotif politik.

Selain itu, gugatan juga menuduh bahwa JPMorgan Chase telah memasukkan Trump, Trump Organization, dan entitas terkait ke dalam “daftar hitam” internal, yang kabarnya dibagikan di dalam sistem perbankan dan mempengaruhi sikap bank lain dalam bekerja sama. Tim Trump menilai tindakan tersebut sebagai perbuatan jahat yang tergolong praktik bisnis palsu, menipu, dan tidak adil.

Pengacara Trump berpendapat bahwa tindakan ini mencerminkan budaya “woke”, di mana lembaga keuangan berupaya menjaga jarak dari individu atau perusahaan yang memiliki pandangan politik konservatif. Hal ini dinilai menciptakan preseden berbahaya: seseorang dapat dimarginalkan dari sistem keuangan hanya karena perbedaan pandangan politik.

Tuduhan yang diajukan Trump mencakup pencemaran nama dagang, pelanggaran terhadap Undang-Undang Praktik Perdagangan Tidak Adil dan Menipu Negara Bagian Florida, serta pelanggaran kewajiban itikad baik dalam perjanjian kontrak. 

Trump juga meminta agar kasus ini disidangkan oleh juri. Sebelumnya, ia pernah menyatakan di platform Truth Social bahwa setelah peristiwa 6 Januari 2021, ia secara keliru diputus layanannya oleh bank, dan akan mengajukan gugatan hukum.

Menanggapi hal ini, juru bicara JPMorgan Chase mengatakan kepada Fox News bahwa gugatan tersebut “tidak berdasar”. Bank menegaskan tidak pernah menutup rekening berdasarkan alasan politik atau agama, dan hanya akan mengambil langkah tersebut jika terdapat risiko hukum atau regulasi yang terlalu tinggi. JPMorgan Chase juga menegaskan akan membela diri sesuai hukum.

Namun demikian, CEO Jamie Dimon pernah menyampaikan kepada Kongres pada tahun 2025 bahwa meskipun bank tidak memutus layanan berdasarkan posisi politik, aturan regulasi yang ada saat ini memang terlalu ketat dan dapat menimbulkan keterbatasan dalam praktik operasional. (Hui)

Armada Siap Tempur, Ancaman Terbuka Dilontarkan: Timur Tengah Menunggu Detik-detik Serangan ke Iran

EtIndonesia. Amerika Serikat saat ini tengah menyelesaikan sebuah konsentrasi militer yang dinilai sangat tidak biasa di kawasan Timur Tengah. Seluruh pola pergerakan pasukan, logistik, dan sistem pertahanan menunjukkan satu sasaran strategis yang sama: Iran.

Pengerahan ini tidak lagi menyerupai rotasi rutin atau latihan pencegahan. Sebaliknya, berbagai indikator lapangan memperlihatkan bahwa Washington sedang menyiapkan postur garis depan dengan orientasi tempur nyata.

Kapal Induk USS Abraham Lincoln Masuki Laut Arab

Pada 22–23 Januari 2026, kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempur pengawalnya dilaporkan telah tiba atau bersiap memasuki Laut Arab, menandai peningkatan signifikan kehadiran militer Amerika Serikat di sekitar Teluk Persia dan pesisir selatan Iran.

Kehadiran kapal induk ini memperkuat kemampuan serangan udara jarak jauh AS, sekaligus memberikan fleksibilitas operasi terhadap target darat Iran tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pangkalan regional.

Pernyataan Trump: Singkat, Namun Sarat Makna

Saat ditanya wartawan mengenai kemungkinan langkah Amerika Serikat terhadap Iran, Presiden Donald Trump, pada 23 Januari 2026, memberikan jawaban singkat namun penuh ambiguitas: “Mari kita tunggu dan lihat. Saya tidak ingin menjelaskan secara rinci langkah apa yang mungkin akan saya ambil.”

Dalam praktik diplomasi dan strategi militer, ketidakjelasan yang disengaja seperti ini justru sering dipahami sebagai ruang manuver sebelum tindakan nyata, bukan sebagai sinyal penurunan eskalasi.

Lonjakan Logistik Udara: Indikasi Operasi Skala Besar

Dalam lima hari terakhir hingga 23 Januari 2026, aktivitas udara militer AS meningkat tajam. Sedikitnya:

  • 29 pesawat angkut strategis C-17
  • 12 pesawat pengisian bahan bakar udara

telah mendarat di kawasan Timur Tengah, dengan tujuan utama Qatar, Yordania, dan Uni Emirat Arab.

Skala pengerahan ini hampir secara eksklusif mendukung satu skenario: operasi udara intensitas tinggi yang berkelanjutan, baik dalam bentuk serangan, patroli tempur, maupun dukungan logistik jangka panjang.

Patriot dan THAAD Aktif, AS–Israel Masuk Mode Koordinasi Tinggi

Sebagai lapisan pendukung, sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD telah digelar secara penuh. Pada periode yang sama, sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan memasuki tingkat koordinasi operasional tertinggi.

Perubahan ini menandai pergeseran strategis kawasan: dari sekadar pencegahan, menuju kesiapan tempur penuh.

25.000 Personel AS Dikerahkan di Kawasan

Menurut berbagai sumber keamanan regional, hingga akhir Januari 2026, Amerika Serikat dan Israel telah menempatkan sekitar 25.000 personel militer AS di berbagai titik strategis Timur Tengah untuk mengantisipasi kemungkinan konflik langsung dengan Iran.

Jumlah ini mencerminkan kesiapan menghadapi skenario eskalasi luas, bukan konflik terbatas.

Penilaian Israel Berubah: Bukan Lagi “Apakah”, Melainkan “Kapan”

Media Israel mengungkapkan adanya perubahan signifikan dalam penilaian strategis internal. Jika sebelumnya pertanyaan utama adalah apakah Amerika Serikat akan menyerang Iran, kini fokusnya telah bergeser menjadi kapan serangan itu akan dilakukan.

Menurut laporan media Israel, jika dalam beberapa pekan ke depan Iran terus menolak kembali ke meja perundingan nuklir sesuai syarat Washington, maka serangan udara AS dinilai sangat mungkin terjadi.

Target potensial disebut mencakup:

  • Fasilitas nuklir Iran
  • Program rudal balistik
  • Sistem pertahanan udara
  • Kapasitas drone dan perang asimetris

Tujuan operasi dipandang tidak lagi sekadar peringatan, melainkan melemahkan kemampuan strategis Iran secara sistematis, bahkan membuka jalan bagi perubahan struktur kekuasaan.

Laporan Channel 12 Israel: Serangan Hampir Tak Terelakkan

Menurut laporan Channel 12 Israel yang beredar pada 23 Januari 2026, sejumlah pejabat Amerika Serikat menilai bahwa serangan terhadap Iran hampir tak terelakkan, dan persiapan operasional telah dimulai.

Belum adanya jadwal bulan pelaksanaan disebut berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyempurnakan pengerahan pasukan dan logistik.

Sumber internal menyebutkan bahwa persoalannya kini bukan lagi jika, melainkan kapan.

Sinyal dari Davos: Dunia Bisnis Ikut Mencium Arah Angin

Di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos 2026, CEO perusahaan investasi Lazard, Peter Orszag, dalam wawancara dengan CNBC, menyatakan bahwa informasi yang cia terima mengindikasikan Amerika Serikat memang sedang bersiap mengambil tindakan terhadap Iran.

Dia menyebut kemungkinan serangan udara dan rudal skala besar, dengan tujuan strategis yang melampaui sekadar tekanan—yakni mengubah arah kepemimpinan Iran saat ini.

Ancaman Terbuka: Trump dan Respons Keras Teheran

Pada Selasa, 21 Januari 2026, dalam wawancara dengan NewsNation, Presiden Trump menyatakan: “Saya telah mengeluarkan perintah yang sangat jelas. Jika terjadi apa pun, Iran akan dihapus dari permukaan bumi.”

Di hari yang sama, Jenderal Iran, Abolfazl Shekarchi merespons keras. Melalui media resmi Iran, dia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat melakukan tindakan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, maka Presiden AS sendiri akan menghadapi konsekuensi fatal.

Shekarchi menegaskan bahwa ancaman tersebut bukan gertakan, dan bahwa Trump memahami sepenuhnya risiko eskalasi tersebut.

Tekanan Internal Iran Semakin Meningkat

Di saat ancaman eksternal memuncak, Iran juga menghadapi tekanan internal yang kian berat. Dalam beberapa pekan terakhir hingga akhir Januari 2026, berbagai wilayah Iran dilaporkan mengalami gelombang protes dan ketidakstabilan sosial yang meningkat.

Kombinasi antara tekanan luar dan gejolak dalam negeri membuat posisi rezim Iran dinilai semakin rapuh.

Washington: Fokus pada Skala dan Kecepatan Serangan

Di Washington, suara kelompok garis keras semakin dominan. Sejumlah mantan perwira militer AS secara terbuka menyebut bahwa serangan terhadap Iran dapat terjadi dalam waktu dekat.

Lingkaran inti Trump dilaporkan tidak lagi memperdebatkan apakah akan bertindak, melainkan:

  • seberapa besar serangan dilakukan,
  • seberapa cepat dieksekusi,
  • dan apa tujuan akhirnya.

Beberapa pihak bahkan menilai bahwa setiap penundaan hanyalah untuk menghimpun kekuatan serangan yang lebih besar.

Menuju Titik Paling Berbahaya

Jika rencana ini terealisasi, konflik diperkirakan tidak akan terbatas di wilayah Iran. Basis militer AS di seluruh Timur Tengah berpotensi terseret, membuka risiko eskalasi regional yang luas.

Isu lain seperti Greenland dinilai hanya pengalih perhatian. Fokus utama tetap berada di Timur Tengah.

Kapal induk telah siap.
Logistik telah digelar.
Pertahanan udara telah aktif.
Retorika politik terus mengeras.

Kini, hanya satu pertanyaan yang tersisa: kapan ledakan pertama akan terjadi?

Timur Tengah sedang melangkah menuju titik paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir.

“Hidden Potion”: Lima Seniman Buka Ruang Refleksi dan Imajinasi di ARTSPACE Artotel TS Suites Surabaya

0

Surabaya – ARTSPACE Artotel TS Suites Surabaya membuka tahun 2026 dengan pameran seni rupa kontemporer yang menyegarkan, bertajuk “Hidden Potion”. Pameran yang resmi dibuka pada Jumat (23/1) ini menampilkan 26 karya dari lima seniman dengan beragam latar dan teknik, menawarkan pengalaman artistik yang intim sekaligus reflektif bagi pengunjung.

Kurator pameran, Rahma Tussofiyah, menggambarkan “Hidden Potion” sebagai ruang pertemuan antara rasa, ingatan, dan proses kreatif. Karya-karya yang dipamerkan tidak sekadar objek visual, melainkan hasil olahan pengalaman hidup, isu personal, dan pengamatan terhadap budaya visual masa kini. Dengan pendekatan yang beragam, pameran ini mengajak publik untuk menyelami relasi antara manusia, memori, imajinasi, dan pengalaman emosional.

Lima seniman yang terlibat—Ahmad Fahrizal Irsadi, Septian Adi Perdana, Putri Setyowati, Yotandh, dan Izzar Fakhruddin—menggunakan medium dan gaya yang berbeda-beda, mulai dari lukisan, ilustrasi, hingga karya mixed media. Unsur figuratif, humor, serta referensi budaya kontemporer hadir sebagai bahasa visual yang mudah dicerna namun sarat makna.

Teddy Patrick, S.E., M.Par., CHA, General Manager ARTOTEL TS Suites Surabaya, menegaskan komitmen hotel dalam mendukung ekosistem seni lokal.
“Kami ingin menjadi jembatan yang mempertemukan seniman dengan publik. Melalui ‘Hidden Potion’, kami berharap dapat memperkaya dialog seni di Surabaya dan memberikan ruang apresiasi yang lebih luas bagi karya-karya berbobot,” ujarnya.

Pameran “Hidden Potion” tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga membuka ruang bagi pengunjung untuk menemukan interpretasi dan makna personal. Setiap karya dirangkai sebagai bagian dari perjalanan naratif yang saling terhubung, mengundang refleksi dan kepekaan terhadap cerita di balik setiap goresan dan bentuk.

Pameran ini terbuka untuk umum gratis dan dapat dikunjungi di ARTSPACE, Lantai UG, Artotel TS Suites Surabaya, Jalan Hayam Wuruk No. 6, mulai 23 Januari hingga 26 April 2026. Pengunjung dapat menikmati karya seni sembari merasakan atmosfer hotel butik yang kental dengan nuansa artistik dan gaya hidup modern.

ARTOTEL Harmoni x Magnum: “A Sweet Affair”, Kolaborasi Manis yang Menggoda Selera

Jakarta – Bagi pecinta kuliner dan pengalaman unik, kolaborasi menggugah selera telah lahir di jantung ibu kota. ARTOTEL Harmoni – Jakarta resmi meluncurkan program spesial bertajuk “A Sweet Affair”, sebuah kerjasama eksklusif dengan merek es krim premium dunia, Magnum. Promo ini menghadirkan inovasi menu dessert dan minuman yang mengangkat es krim Magnum ikonik ke dalam sajian khas hotel butik bernuansa seni.

Kolaborasi ini merupakan bagian dari program Artotel Wanderlust, yang berfokus menghadirkan pengalaman gaya hidup yang tak terlupakan. Selama periode Januari hingga Maret 2026, pengunjung diajak menikmati momen “bersalah” yang manis dengan kreasi unik yang mungkin belum pernah ditemui di tempat lain.

Kreasi Unik yang Wajib Dicoba

Menu “A Sweet Affair” menantang batas konvensional dengan hidangan penutup dan minuman yang penuh karakter. Beberapa highlight-nya antara lain:

  • Almond Magnum Croissant: Perpaduan sempurna croissant renyah dengan es krim Magnum Almond, menciptakan sensasi flaky dan creamy sekaligus.
  • Classic Magnum Corndog: Inovasi tak terduga yang menyatukan rasa manis Magnum Classic dengan bentuk sajian gurih yang familiar.
  • Mango Yogurt Magnum Shortcake: Kombinasi segar mangga dan yogurt dengan es krim Magnum di atas shortcake lembut, pilihan tepat bagi yang menyukai rasa fruity.

Tak ketinggalan, deretan minuman spesial juga siap memanjakan:

  • Espresso Martini: Minuman klasik ini mendapat sentuhan mewah dengan kelezatan cokelat Magnum.
  • Mango Yogurt Bellini: Minuman segar dengan sentuhan buah tropis yang cocok untuk cuaca Jakarta.
  • “What The Que”: Nama yang penuh teka-teki untuk sebuah kreasi minuman misterius yang hanya tersedia selama promo berlangsung.

Arbiter Gerhard, General Manager ARTOTEL Harmoni – Jakarta, mengungkapkan filosofi di balik kolaborasi ini. “Melalui ‘A Sweet Affair’, kami ingin menciptakan lebih dari sekadar hidangan lezat. Ini adalah tentang seni mentransformasi produk ikonik seperti Magnum menjadi sebuah pengalaman kuliner artistik dan autentik yang bisa dinikmati dalam suasana hotel butik kami. Setiap sajian dirancang untuk memanjakan lidah sekaligus menyajikan visual yang menarik.”

Einstein dan Qian Weichang

EtIndonesia. Pada Maret 1940, Qian Weichang—seorang fisikawan dan matematikawan Tiongkok—berangkat ke Kanada, tepatnya ke University of Toronto, untuk melanjutkan studi.

Yang jarang diketahui orang, Qian Weichang pada awalnya bukan mahasiswa sains. Saat berkuliah di Tsinghua University, dia mengambil jurusan sastra Tiongkok. Sejak kecil, impiannya adalah menjadi seorang sastrawan—itulah mimpi terindah dalam hidupnya.

Namun, baru hari kedua dia memasuki bangku universitas, sebelum mimpinya benar-benar dimulai, terjadi peristiwa yang mengguncang Tiongkok dan dunia: Insiden 18 September..

Pada 18 September 1931, Jepang menginvasi tiga provinsi di Tiongkok Timur Laut. Pemerintahan Chiang Kai-shek saat itu menerapkan kebijakan tidak melawan, sehingga wilayah tersebut jatuh ke tangan Jepang. Tanah air yang luas dan subur pun terinjak-injak oleh pasukan penjajah.

Dalam sekejap, kaum muda di seluruh negeri turun ke jalan, melakukan demonstrasi menuntut perlawanan terhadap Jepang. 

Ketika mendengar kabar itu, Qian Weichang bangkit dengan penuh emosi dan berseru lantang: “Aku juga ingin membuat senjata dan meriam, untuk melawan penjajah Jepang!”

Dia segera mendatangi pihak universitas dan meminta pindah ke jurusan fisika. Keputusan pindah jurusan inilah yang mengubah seluruh jalan hidup Qian Weichang.

Di Universitas Toronto, Qian Weichang memusatkan penelitiannya pada mekanika elastis. Saat pertama kali bertemu pembimbingnya, Profesor Eric Reissner (dikenal dalam teks sebagai Singer), sang pembimbing mengetahui bahwa Qian tengah meneliti persamaan terpadu pelat tipis dan selubung tipis—sebuah masalah ilmiah besar yang saat itu sangat mendesak untuk dipecahkan di tingkat dunia.

Profesor pembimbingnya sangat mengapresiasi hasil awal penelitian Qian. Dia mengatakan bahwa dirinya meneliti masalah tersebut dari sudut pandang makroskopis, sementara Qian menelitinya dari sisi mikroskopis. Jika kedua pendekatan itu digabungkan menjadi satu makalah, nilainya akan jauh lebih besar dan bermakna.

Mendengar usulan itu, Qian Weichang menyetujuinya dengan penuh antusias. Maka, dibawah bimbingan sang profesor, dia pun terjun lebih dalam ke penelitian rinci di bidang mekanika elastis.

Akhirnya, makalah berjudul “Teori Intrinsik Pelat Tipis dan Selubung Tipis” disusun oleh Qian Weichang sebagai draf awal, kemudian disunting oleh pembimbingnya, dan diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan makalah yang disusun untuk memperingati ulang tahun ke-60 ilmuwan Amerika terkenal Theodore von Kármán.

Dalam kumpulan makalah yang sama, juga dimuat tulisan dari ilmuwan terbesar abad ke-20, Albert Einstein.

Ketika Einstein membaca makalah Qian Weichang, dia langsung berseru dengan penuh kekaguman: “Qian dari Tiongkok—luar biasa! Dia telah memecahkan persoalan yang selama ini mengganggu pikiranku.”

Pada saat itu, Einstein sedang meneliti fisika nuklir. Hasil penelitian Qian Weichang memberinya inspirasi dan rujukan penting, sehingga mempercepat proses dan kemajuan riset Einstein.

Makalah Qian Weichang tersebut merupakan teori intrinsik pelat dan selubung pertama di dunia, memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi. Teori itu kemudian dikenal sebagai “Persamaan Umum Qian Weichang” dan “Persamaan Qian Weichang untuk Selubung Silinder”.

Selama Perang Dunia II, Jerman melancarkan serangan roket mutakhir ke London. Banyak roket jatuh dan meledak di pinggiran kota, situasinya sangat genting. London terancam, Inggris terancam, bahkan seluruh Eropa berada dalam bahaya.

Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill pun meminta bantuan darurat kepada Amerika Serikat.

Setelah mengetahui situasi tersebut, Einstein memanfaatkan hasil penelitian Qian Weichang tentang teori intrinsik pelat dan selubung. Dia mengusulkan kepada Churchill agar dibuat sejumlah titik palsu di pusat kota London yang seolah-olah telah terkena serangan roket. Dengan demikian, Jerman tidak akan mengubah jarak tembak roketnya, sehingga roket-roket berikutnya tetap jatuh di luar pusat kota.

Strategi ini terbukti sangat efektif. Roket-roket Jerman seluruhnya jatuh di pinggiran London, dan keselamatan pusat kota London pun terjaga.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Einstein mengenang peristiwa itu dengan penuh perasaan dan berkata: “Penelitian Qian Weichang dari Tiongkok telah sangat membantu saya. Teori dan kontribusinya bahkan dapat dikatakan mengubah jalannya Perang Dunia II. Qian Weichang akan selalu menjadi ilmuwan terbesar yang paling saya hormati.”

Qian Weichang mendedikasikan kecintaannya pada tanah air melalui pengabdian pada ilmu pengetahuan. Dalam hampir satu abad perjalanan hidupnya, apa pun perubahan nasib yang dia alami—bahkan saat dipenjara dan menjalani kerja paksa—api di dalam hatinya tidak pernah padam.

Api itu adalah cinta pada tanah air dan tekad untuk mengabdi kepada bangsa.
Dia menjadi monumen abadi di dalam hatinya— tak pernah berubah, dan tak akan pernah pudar.(jhn/yn)

Amazon Berencana Lakukan Gelombang PHK Kedua, Dikabarkan Akan Pangkas Lagi 15.000 Pekerja 

EtIndonesia. Amazon pada Oktober tahun lalu telah memangkas sekitar 14.000 posisi karyawan kantoran. Kini perusahaan tersebut berencana melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kedua pada pekan depan. Langkah ini merupakan bagian dari target Amazon untuk mengurangi total sekitar 30.000 pegawai kantor.

Menurut laporan Reuters, sumber yang mengetahui rencana tersebut—dan meminta identitasnya dirahasiakan—mengatakan bahwa jumlah PHK kali ini diperkirakan hampir sama dengan gelombang sebelumnya dan paling cepat bisa dimulai pada 27 Januari, meskipun rincian rencana masih dapat berubah. Juru bicara Amazon menolak memberikan komentar.

Sumber tersebut menyebutkan bahwa sejumlah posisi di berbagai divisi Amazon kemungkinan akan terdampak, termasuk Amazon Web Services (AWS), unit ritel, Prime Video, serta divisi sumber daya manusia yang dikenal sebagai People Experience and Technology. Namun, cakupan pastinya masih belum jelas.

Pemangkasan total 30.000 posisi hanya mencakup sebagian kecil dari total 1,58 juta karyawan Amazon di seluruh dunia, tetapi hampir 10 persen dari tenaga kerja kantoran perusahaan. Sebagian besar karyawan Amazon bekerja di pusat pemenuhan pesanan dan gudang logistik.

Jika terealisasi, ini akan menjadi PHK terbesar dalam sejarah 30 tahun Amazon. Sebelumnya, pada tahun 2022, Amazon juga telah memangkas sekitar 27.000 posisi.

Para karyawan yang terdampak PHK pada Oktober lalu diberi tahu bahwa mereka akan tetap menerima gaji selama 90 hari, di mana mereka dapat melamar posisi internal atau mencari pekerjaan lain. Masa tersebut akan berakhir pada 26 Januari.

Amazon sebelumnya menjelaskan bahwa PHK pada Oktober lalu berkaitan dengan pesatnya perkembangan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI). 

Dalam memo internal perusahaan, Amazon menyatakan:  “Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak hadirnya internet, dan memungkinkan perusahaan berinovasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Namun, CEO Amazon Andy Jassy kemudian mengatakan dalam panggilan konferensi laporan keuangan kuartal ketiga bahwa PHK tersebut “sebenarnya tidak didorong oleh faktor keuangan, dan bahkan tidak sepenuhnya didorong oleh AI”, melainkan oleh masalah budaya perusahaan, yang merujuk pada struktur birokrasi internal yang terlalu besar.

Saat ini, semakin banyak perusahaan besar memanfaatkan AI untuk menulis kode perangkat lunak dan menggunakan agen AI guna mengotomatiskan tugas-tugas rutin, demi menekan biaya dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia. Amazon sendiri gencar mempromosikan model AI terbarunya dalam konferensi tahunan AWS Cloud Computing yang digelar pada Desember lalu. (Hui)

Donetsk Jadi Titik Mati: Perundingan AS–Rusia–Ukraina Ambruk, Trump Guncang NATO

EtIndonesia. Upaya internasional untuk meredakan perang Ukraina kembali menemui jalan buntu. Pada 23 Januari 2026, juru runding Amerika Serikat–Rusia–Ukraina menggelar pembicaraan trilateral di Uni Emirat Arab, namun perundingan tersebut gagal mencapai terobosan pada satu isu krusial: status wilayah Donetsk dan kawasan Donbas.

Meski berbagai aspek teknis lain disebut telah mendekati titik temu, Donetsk tetap menjadi satu-satunya perbedaan mendasar yang belum terselesaikan—dan justru itulah yang menentukan arah masa depan perang.

Donetsk, Titik Mati Negosiasi

Pihak Rusia secara tegas menuntut agar Ukraina menarik seluruh pasukannya dari wilayah Donetsk, menjadikannya sebagai syarat mutlak yang tidak dapat dinegosiasikan. Moskow menilai penguasaan penuh atas Donetsk sebagai bagian dari klaim teritorial yang telah mereka tetapkan sejak awal konflik.

Presiden Volodymyr Zelenskyy pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa Donetsk memang menjadi satu-satunya perbedaan kunci antara posisi Ukraina dan Amerika Serikat dalam perundingan ini, sekaligus faktor utama yang membuat dialog trilateral gagal mencapai kesepakatan.

Alasan Donetsk Menjadi Medan Tarik Ulur

Para analis menilai kebuntuan ini berakar pada tiga faktor utama:

Pertama, realitas militer. Hingga kini, Rusia hampir sepenuhnya menguasai wilayah Luhansk, namun di Donetsk masih terdapat sekitar 5.000 kilometer persegi wilayah yang dikuasai pasukan Ukraina. Kawasan tersebut menjadi tulang punggung garis pertahanan timur Ukraina. Jika Donetsk jatuh sepenuhnya, pasukan Rusia berpotensi memperoleh jalur strategis menuju Sungai Dnieper, yang akan mengubah peta perang secara fundamental.

Kedua, harga politik dan emosional yang sangat mahal. Perang atrisi berkepanjangan di wilayah seperti Bakhmut telah menelan korban besar di kedua belah pihak. Bagi Presiden Vladimir Putin, penguasaan Donetsk berkaitan langsung dengan narasi politik domestik tentang “merebut kembali wilayah historis Rusia”.  Sebaliknya, bagi Zelenskyy, melepaskan wilayah yang masih dihuni ratusan ribu warga sipil berisiko dipandang sebagai pengkhianatan terhadap pengorbanan tentara Ukraina dan kehendak rakyat.

Lebih jauh, Konstitusi Ukraina mengharuskan setiap perubahan wilayah negara dilakukan melalui referendum nasional, sehingga keputusan sepihak hampir mustahil secara hukum.

Ketiga, kepentingan ekonomi strategis. Donetsk dikenal kaya akan logam tanah jarang, titanium, dan mineral strategis lainnya—sumber daya yang sangat bernilai dalam ekonomi dan industri pertahanan global.

Usulan Trump: Zona Ekonomi Bebas Non-Militer

Dalam konteks kebuntuan ini, Donald Trump belakangan mengusulkan gagasan alternatif: menjadikan wilayah sengketa sebagai zona ekonomi bebas non-militer, berada di bawah pengawasan internasional, dengan fokus pada perdagangan bebas dan eksploitasi mineral sebagai insentif ekonomi menuju perdamaian.

Namun hingga 23 Januari 2026, gagasan tersebut belum memperoleh dukungan substantif, baik dari Rusia maupun Ukraina.

Ketegangan Meluas ke Laut dan Eropa

Di tengah kebuntuan diplomasi, ketegangan geopolitik terus menjalar. Pada 22 Januari, Angkatan Laut Prancis mencegat dan menyita sebuah kapal pesiar yang berangkat dari Rusia di perairan internasional Mediterania. Paris menuduh kapal tersebut bagian dari “armada bayangan” Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi internasional.

Zelenskyy memuji langkah Prancis dan bahkan menyarankan agar muatan minyak di kapal tersebut disita sepenuhnya.

Zelenskyy–Trump Bertemu di Davos

Pada 23 Januari, Zelenskyy mengungkapkan bahwa dia baru saja bertemu Donald Trump di Davos, Swiss, di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF). Dalam pertemuan itu, keduanya membahas kemungkinan penambahan sistem pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat untuk Ukraina.

Zelenskyy juga menyatakan bahwa kerangka besar perjanjian jaminan keamanan AS–Eropa telah hampir rampung dan kini hanya menunggu keputusan Trump terkait waktu dan lokasi penandatanganan.

Pengamat politik Tao Miao menilai perkembangan ini sebagai sinyal strategis yang sangat penting. Selama ini, Ukraina berupaya memperoleh jaminan keamanan yang mengikat secara hukum—mirip Pasal 5 NATO. Dukungan Amerika Serikat sebagai kekuatan militer utama akan sangat menentukan arah perang dan struktur keamanan Eropa ke depan.

Greenland, NATO, dan Retaknya Uni Eropa

Sementara itu, ketegangan AS–Eropa meningkat di luar medan Ukraina. Menteri Perdagangan AS,  Howard Lutnick mempertanyakan logika negara-negara Eropa yang bersedia mengirim pasukan ke Greenland, tetapi tidak ke Ukraina—sebuah sikap yang menurut Washington sulit dipahami.

Akibat sengketa geopolitik Greenland dan ancaman tarif AS, sejumlah dana pensiun Eropa, termasuk dari Swedia dan Denmark, sempat melakukan penjualan obligasi Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan Fox News di Davos pada 22 Januari, Trump menanggapi potensi tekanan ekonomi itu dengan nada keras: “Jika mereka benar-benar ingin melakukannya, silakan. Tapi jika itu terjadi, kami akan melakukan pembalasan besar. Kami memegang semua kartu.”

Sehari kemudian, 23 Januari, Trump kembali mengejutkan dunia dengan unggahan media sosial yang menyatakan: “Mungkin kita seharusnya menguji NATO, mengaktifkan Pasal 5, memaksa NATO melindungi perbatasan selatan kita dan menghentikan imigrasi ilegal.”

Pernyataan tersebut memicu pertemuan darurat semalaman Uni Eropa di Brussel pada hari yang sama. Meski Trump tampak sedikit melunak soal Greenland, mayoritas negara UE menilai krisis berikutnya bisa muncul kapan saja. Uni Eropa kini terbelah antara pendekatan keras dan lunak, namun satu kesimpulan disepakati: UE tidak lagi memiliki jalan mundur.

Arktik Memanas, Inggris Mundur soal Chagos

Secara paralel, Norwegia meningkatkan kewaspadaan di Kepulauan Svalbard karena kekhawatiran meningkatnya aktivitas Tiongkok dan Rusia di kawasan Arktik. Pemerintah Norwegia menegaskan bahwa Perjanjian Svalbard hanya menjamin akses setara, bukan kedaulatan setara.

Di London, menurut laporan The Daily Telegraph, pada 23 Januari, Perdana Menteri Keir Starmer menarik kembali rancangan undang-undang penyerahan Kepulauan Chagos kepada Mauritius setelah mendapat penolakan keras dari Amerika Serikat. Partai Konservatif memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi melanggar Perjanjian Inggris–AS 1966, yang menjamin kedaulatan Inggris atas Chagos demi pertahanan bersama dan penggunaan Pangkalan Militer Diego Garcia.

Rusia Sambut Komisi Perdamaian Trump

Di tengah dinamika ini, Rusia menyatakan kesediaannya bergabung dengan Komisi Perdamaian yang digagas Trump, bahkan menawarkan penggunaan 1 miliar dolar dari aset Rusia yang dibekukan di AS sebagai modal tawar-menawar.

Analis menilai langkah ini memberi Rusia pengaruh diplomatik besar tanpa biaya tambahan. Moskow selama ini dikenal kurang menyukai peran dominan PBB, sehingga pembentukan Komisi Perdamaian alternatif justru sejalan dengan kepentingannya. Sebaliknya, PKT (Partai Komunis Tiongkok) yang sangat bergantung pada hak veto dan panggung PBB berpotensi tersisih jika struktur diplomasi global bergeser.

Kebohongan Bakar Diri Hoaks Terungkap, 25 Tahun Berlalu : Metode Penganiayaan Partai Komunis Tiongkok Terus Meningkat

Meskipun kebenaran di balik kebohongan “bakar diri di Lapangan Tiananmen” Beijing pada 23 Januari 2001 telah dibongkar dan diungkap oleh masyarakat internasional, penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong tak pernah berhenti hingga sekarang. 

Bahkan, metode penganiayaannya menjadi semakin kejam. Dalam beberapa tahun terakhir, PKT mulai mengekspor penindasan ini ke luar negeri dalam bentuk “represi lintas negara”. Dua puluh lima tahun telah berlalu, kebohongan PKT telah runtuh, dan kebenaran kini semakin banyak diketahui oleh dunia. 

EtIndonesia. Pada  2002, film dokumenter False Fire yang diproduksi oleh New Tang Dynasty Television membongkar berbagai celah rekayasa dalam kasus “bakar diri” hoaks. PKT memilih bungkam dan tidak berani menanggapinya. Namun, penganiayaan terhadap Falun Gong justru terus meningkat dan bahkan meluas ke luar negeri. Insiden bakar diri palsu itu terjadi pada 23 Januari 2001.

“Kasus bakar diri Tiananmen hoaks dengan cepat terbongkar. Setelah konspirasi itu gagal, penganiayaan tetap berlanjut. PKT beralih dari penganiayaan terbuka ke penganiayaan secara tersembunyi. Namun, penganiayaan secara diam-diam ini justru sangat serius dan semakin parah,” kata Ketua World Organization to Investigate Persecution of Falun Gong (WOIPFG) atau Organisasi Internasional untuk Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong, Wang Zhiyuan.

Sebelum rekayasa kasus palsu Tiananmen, sudah tak terhitung jumlah praktisi Falun Gong yang ditangkap secara ilegal karena mengungkap penganiayaan dan menyampaikan kebenaran. Mereka dimasukkan ke kamp kerja paksa dan mengalami penyiksaan brutal, dan banyak di antaranya menghilang tanpa jejak.

Menurut laporan situs Minghui, PKT telah menerapkan lebih dari seratus jenis penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong. Namun, metode paling kejam adalah pengambilan organ hidup-hidup dari praktisi Falun Gong.

 “Pada awalnya, PKT memiliki tiga kebijakan terhadap Falun Gong, yang ketiga adalah ‘pemusnahan fisik’. Banyak orang mengira ini hanya retorika, mungkin hanya berarti kematian akibat penyiksaan di kamp kerja paksa atau penjara. Namun, berdasarkan bukti besar yang muncul kemudian, ‘pemusnahan fisik’ ini berarti pemusnahan besar-besaran terhadap para praktisi yang tetap teguh pada keyakinan mereka,” ujar Wang Zhiyuan.

“Ini mirip dengan genosida yang dilakukan Nazi terhadap orang Yahudi pada Perang Dunia II. Pembantaian ini dilakukan secara terencana di seluruh negeri, dan metodenya adalah pengambilan organ hidup-hidup—sangat tidak berperikemanusiaan,” tambahnya. 

Orang-orang berkumpul di sebuah taman di Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, untuk berlatih Falun Gong pada tahun 1998, sebelum penganiayaan. Courtesy of Minghui.org

Pada tahun 2006, kejahatan pengambilan organ hidup-hidup dari praktisi Falun Gong terungkap ke dunia internasional. Investigasi mendalam oleh WOIPFG menemukan bahwa pemerintah PKT, kepolisian, rumah sakit, dan penjara beroperasi secara terintegrasi dalam perdagangan organ praktisi Falun Gong, membentuk rantai industri pengambilan organ hidup-hidup berskala nasional.

“Para praktisi Falun Gong di Shenyang melakukan latihan kelima Falun Dafa.” ©The Epoch Times

Penyelidik WOIPFG bertanya:  “Bagaimana Anda memastikan bahwa donor tersebut adalah praktisi Falun Gong?”

Chen Qiang, kontak sumber ginjal di Departemen Transplantasi Rumah Sakit Militer 307 Beijing, menjawab:  “Bagaimana memastikan itu praktisi Falun Gong… nanti akan ada orang atasan kami yang memberikan data. Jangan khawatir. Terus terang saja, kami punya jalur resmi—di atas kami ada orang-orang berwenang.”

Selama bertahun-tahun, WOIPFG juga melakukan penyelidikan lewat telepon ke berbagai rumah sakit di Wuhan. Hasilnya menunjukkan bahwa pusat-pusat transplantasi di Wuhan memiliki volume transplantasi organ yang sangat besar, waktu tunggu yang sangat singkat, dan menggunakan praktisi Falun Gong sebagai sumber organ.

 “Sejak 2003 saya sudah memastikan bahwa PKT melakukan pengambilan organ hidup-hidup terhadap praktisi Falun Gong sebagai sebuah kelompok. Saat itu saya juga menelusuri situs Kementerian Kesehatan PKT sendiri. Dari awal hingga akhir, ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan—kejahatan ekstrim dengan target yang jelas untuk membantai suatu kelompok,” ujar Wakil Ketua Federasi Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue. 

Pada tahun 2006, Shen Yun Performing Arts didirikan. Selama 20 tahun terakhir, Shen Yun telah mengadakan lebih dari 7.400 pertunjukan di seluruh dunia, dengan total penonton lebih dari 11 juta orang, dan mendapat pujian luas dari kalangan elite budaya Timur dan Barat.

Namun, karena pertunjukan Shen Yun mengungkap kebenaran tentang penganiayaan PKT, kelompok ini menjadi target represi lintas negara oleh PKT. PKT melakukan berbagai upaya intimidasi, termasuk ancaman bom, perusakan ban bus Shen Yun, bahkan penembakan, tetapi semuanya gagal.

Pembawa acara Shen Yun, Lin Lishan (26 Maret 2025), mengatakan:  “Saya bergabung dengan Shen Yun sejak awal berdirinya pada akhir 2006. PKT terus berusaha menghalangi kami. Pada awalnya, cara paling umum adalah kedutaan dan konsulat PKT mengirim surat ke teater, menelepon, bahkan datang langsung untuk menuntut pembatalan pertunjukan.”

Dalam dua tahun terakhir, represi lintas negara PKT semakin dipimpin secara sistematis oleh Menteri Keamanan Negara PKT, Chen Yixin, melalui perang hukum dan perang opini media untuk memfitnah pendiri Falun Gong dan mencemarkan nama Shen Yun Performing Arts.

 “Ini bukan hanya menargetkan Falun Gong atau Shen Yun. Ini adalah strategi PKT untuk menggunakan institusi Amerika melawan Amerika sendiri. Jika mereka berhasil terhadap Shen Yun dan Falun Gong, mereka akan semakin berani melangkah lebih jauh,” ujar Direktur Falun Dafa Information Center, Levi Browde pada 26 Maret 2025. 

Represi lintas negara PKT yang berlandaskan “kepalsuan, kejahatan, dan perjuangan” tidak dapat menghentikan penyebaran nilai “Sejati, Baik, Sabar”. Saat ini, Falun Gong telah menyebar ke lebih dari 140 negara dan wilayah di seluruh dunia.

 “PKT sedang berperang melawan keyakinan—ini adalah perang yang sudah ditakdirkan akan mereka kalah,” ujar Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback. 

Wang Zhiyuan menegaskan:  “Penganiayaan terhadap Falun Gong merupakan kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Terutama pengambilan organ hidup-hidup, ini adalah kejahatan paling jahat yang belum pernah ada dalam sejarah manusia.” 

“Siapa pun yang terlibat tidak akan bisa lolos dari pengadilan sejarah dan hukum pidana. Satu-satunya jalan keluar adalah menghentikan penganiayaan, segera mengaku dan menjelaskan kejahatan kepada WOIPFG, mengungkap pelaku lain, dan berusaha menebus dosa dengan jasa. Ini satu-satunya jalan.”

Kilas Balik Bakar Diri Hoaks di Tiananmen 

Seminggu setelah Tahun Baru Imlek Tiongkok pada 31 Januari 2001, ketika jutaan orang di Tiongkok tengah menikmati tayangan televisi penyiar nasional China Central Television (CCTV), media negara melaporkan bahwa lima praktisi Falun Gong telah membakar diri di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada 23 Januari tahun itu.

Namun, insiden tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut dan menghasilkan sebuah film dokumenter berjudul “False Fire”. Dokumenter ini meraih penghargaan kehormatan pada Festival Film Internasional Columbia ke-51 pada November 2003 karena berhasil mengungkap propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang bertujuan mendemonisasi sistem meditasi damai tersebut.

Pada tahun 2001, Partai Komunis Tiongkok (PKT) merekayasa insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen dalam upaya untuk membalikkan opini publik terhadap praktik Falun Gong yang damai. ©Tangkapan Layar Video | False Fire

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan kultivasi jiwa dan raga yang berakar pada tradisi Buddhis. Praktik ini terdiri dari lima rangkaian latihan meditasi dan berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Menurut perkiraan resmi, pada akhir 1990-an terdapat sekitar 70 juta hingga 100 juta orang yang mempraktikkan Falun Gong di Tiongkok karena manfaat kesehatannya dan ajaran moralnya. Namun, pada Juli 1999, rezim Tiongkok melancarkan kampanye untuk menganiaya dan melarang praktik tersebut. Hingga kini, tak terhitung jumlah praktisi yang telah ditangkap, ditahan, disiksa, bahkan dibunuh untuk diambil organ tubuhnya.

“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan seorang individu yang mengalami luka bakar parah dalam dugaan insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Secara umum, warga Tiongkok yang mengenal Falun Gong sebagai praktik spiritual yang damai, bermoral, dan bermanfaat bagi kesehatan, bersikap simpatik terhadap Falun Gong. Namun, setelah PKT menyiarkan insiden bakar diri yang direkayasa tersebut, opini publik berubah secara drastis.

Rekayasa Aksi Bakar Diri di Lapangan Tiananmen 

Tak lama setelah rekaman dugaan aksi bakar diri itu ditayangkan, muncul berbagai bukti yang mengungkap bahwa peristiwa tersebut merupakan tipuan yang direkayasa secara menyesatkan oleh rezim Tiongkok.

Menanggapi pertanyaan mengenai mengapa ada kru kamera di lokasi kejadian, media Tiongkok mengklaim bahwa rekaman jarak dekat insiden itu berasal dari CNN—klaim yang kemudian dibantah oleh CNN. Eason Jordan, eksekutif kepala divisi berita CNN saat itu, mengatakan kepada The Washington Post bahwa rekaman yang digunakan dalam laporan televisi Tiongkok tidak mungkin berasal dari video CNN, karena “juru kamera kami ditangkap hampir seketika setelah insiden itu dimulai.”

Wartawan asing yang familiar dengan kondisi Lapangan Tiananmen menyatakan bahwa polisi biasanya tidak membawa alat pemadam kebakaran, dan gedung terdekat membutuhkan waktu pulang-pergi sekitar 20 menit. Namun, rekaman insiden tersebut menunjukkan bahwa polisi dapat dengan cepat memadamkan api menggunakan peralatan pemadam kebakaran.

“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan salah satu orang yang diduga melakukan aksi bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Bukti lain menunjukkan bahwa salah satu pelaku bakar diri, Wang Jindong, masih memiliki rambut utuh—padahal rambut adalah bagian tubuh yang paling cepat terbakar dalam peristiwa kebakaran. Selain itu, disebutkan bahwa Wang menggunakan botol plastik minuman Sprite berisi bensin untuk membakar diri, tetapi botol yang berada di antara kedua kakinya tetap utuh dan tidak meleleh.

Laporan The Washington Post pada 4 Februari 2001 mengungkapkan bahwa para tetangga dari Liu Chunling, yang disebut sebagai salah satu pelaku dan meninggal dunia dalam insiden tersebut, serta putrinya yang berusia 12 tahun, Liu Siying, yang meninggal beberapa minggu kemudian, menyatakan bahwa mereka tidak pernah melihat ibu maupun anak itu mempraktikkan Falun Gong.

Para tetangga itu juga menjelaskan bahwa perilaku Chunling, yang bekerja di sebuah klub malam, terbilang aneh: ia kerap memukul anaknya dan mengusir ibu kandungnya yang sudah lanjut usia. Perilaku tersebut bertentangan dengan ajaran Falun Gong yang menekankan peningkatan moral pribadi serta hidup berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Sementara itu, putrinya, Siying, yang diklaim telah menjalani trakeotomi setelah insiden tersebut, direkam sedang bernyanyi—sesuatu yang secara ilmiah hampir mustahil dilakukan dalam kondisi tersebut.

Laporan The Washington Post juga menyebutkan bahwa hanya media milik negara yang diizinkan mewawancarai para penyintas dan berinteraksi dengan keluarga mereka.

The Epoch Times juga melaporkan bahwa, menurut Sun Yanjun, seorang profesor madya psikologi di Capital Normal University Beijing pada saat itu, media negara Tiongkok mulai “meredam pemberitaan” setelah NTD (media saudara The Epoch Times dan bagian dari Epoch Media Group) menayangkan dokumenter “False Fire.”

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui.

Jam -jam am Menuju Perang? Armada Raksasa AS Mengepung Iran, Trump Lepas Peringatan Terkeras

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat ke level yang sangat berbahaya. Amerika Serikat secara bertahap namun masif terus memperkuat pengerahan militernya di kawasan, menyusul potensi eskalasi konflik dengan Iran.

Seorang pejabat Angkatan Laut Amerika Serikat mengonfirmasi kepada situs pertahanan The War Zone pada 22 Januari 2026 bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempur kapal induknya (Carrier Strike Group) telah memasuki Samudra Hindia. Pengerahan ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington sedang mempersiapkan skenario terburuk di kawasan Teluk.

Selain armada laut, pergerakan besar juga terjadi di udara. Sejumlah pesawat angkut militer dan pesawat pengisian bahan bakar di udara dilaporkan telah tiba di kawasan Timur Tengah dan diperkirakan akan segera mencapai perairan Teluk Oman, yang berbatasan langsung dengan pesisir selatan Iran. Kehadiran aset-aset ini memperluas jangkauan operasional militer AS secara signifikan.

Trump: Armada Besar Bergerak, Tapi Belum Tentu Digunakan

Pada pagi hari 23 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berbicara kepada awak media di atas pesawat Air Force One. Dalam pernyataannya, Trump mengakui secara terbuka bahwa kekuatan militer AS tengah bergerak ke kawasan tersebut.

“Kami memiliki armada besar yang sedang bergerak ke arah itu. Mungkin kita tidak perlu menggunakannya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, mari kita tunggu dan lihat,” ujar Trump.

Namun di balik nada yang terdengar menahan diri, pernyataan Trump juga disertai peringatan yang sangat keras.

Dia mengungkapkan bahwa sehari sebelumnya, pihak terkait hampir melakukan 837 eksekusi gantung, dengan mayoritas korban adalah pria muda. Trump menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang “terasa seperti terjadi seribu tahun lalu.”

Trump kemudian menyampaikan ancaman langsung: “Jika kalian benar-benar mengeksekusi orang-orang ini, kalian akan menghadapi serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Itu akan membuat apa pun yang kami lakukan terhadap fasilitas nuklir Iran tampak seperti hal sepele.”

Menurut Trump, sekitar satu jam sebelum tragedi itu nyaris terjadi, pihak terkait akhirnya menyatakan bahwa rencana tersebut dibatalkan secara permanen, bukan sekadar ditunda.

Yordania Disiapkan Jadi Basis Utama Jika Perang Pecah

Pada saat yang hampir bersamaan, pesawat komando Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) terdeteksi telah mendarat di Yordania. Sejumlah analis militer menilai langkah ini sebagai indikasi kuat bahwa Yordania tengah dipersiapkan menjadi basis utama operasi militer Amerika Serikat jika konflik bersenjata dengan Iran benar-benar pecah.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran beserta sejumlah pejabat tinggi negara tersebut secara terbuka memperingatkan bahwa setiap negara atau target yang terlibat dalam serangan Amerika Serikat akan dianggap sebagai sasaran sah bagi pembalasan Iran.

JD Vance: AS Siapkan Semua Opsi Respons

Pada 22 Januari 2026, Wakil Presiden AS, JD Vance turut angkat bicara. Dia menegaskan bahwa Presiden Trump memiliki beragam opsi strategis, meskipun ia menolak merinci langkah apa yang akan diambil.

“Kami hanya ingin memastikan bahwa kami memiliki pilihan respons,” kata Vance.
“Arab Saudi dan beberapa negara lain telah menerima investasi besar dari Amerika Serikat. Kami harus memastikan ada personel kami di wilayah-wilayah itu untuk melindungi aset kami.”

Menurut Vance, fokus utama Trump adalah memastikan bahwa jika Iran melakukan tindakan yang sangat bodoh, Amerika Serikat memiliki kekuatan yang cukup untuk merespons secara tegas dan cepat.

Israel Siap, Serangan Bisa Dilancarkan Kapan Saja

Media The Times of Israel melaporkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menyelesaikan seluruh persiapan untuk menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pengerahan militer AS di seluruh kawasan diperkirakan rampung dalam 24 jam, dan setelah itu serangan dapat dilancarkan kapan saja, tergantung pada keputusan politik Washington.

Di pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dilaporkan membatalkan agenda jalan-jalan rutinnya pada hari Jumat, sebuah langkah yang jarang terjadi dan dinilai sebagai indikasi kekhawatiran serius terhadap kemungkinan dirinya menjadi target serangan.

Zelenskyy di Davos: Dunia Hampir Diam

Dalam perkembangan lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy secara mengejutkan menyuarakan dukungan terhadap rakyat Iran dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos.

Zelenskyy menilai bahwa bantuan dunia internasional kepada rakyat Iran jauh dari memadai, dan banyak negara memilih untuk berdiam diri.

“Saat Eropa larut dalam perayaan Natal dan Tahun Baru, rezim Ayatollah justru membantai ribuan orang,” ujar Zelenskyy.

Dia memperingatkan bahwa jika rezim tersebut dibiarkan bertahan, dunia sedang mengirimkan pesan berbahaya kepada para tiran: “Selama pembantaian dilakukan dalam jumlah cukup besar, kekuasaan tetap bisa dipertahankan.”

Isu Tiongkok, Rusia, dan Nilai Kehidupan Manusia

Sebelumnya, beredar kabar di dunia maya bahwa dalam waktu 56 jam, Partai Komunis Tiongkok telah mengirim 16 pesawat angkut militer ke Iran untuk menyelesaikan pemindahan logistik dalam skala besar. Hingga kini, klaim tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Di sisi lain, pengusaha teknologi Amerika Rach memberikan pandangan tajam mengenai perbedaan sistem nilai antara negara demokratis dan rezim otoriter.

“Orang boleh mengkritik demokrasi atau bahkan oligarki perusahaan, tetapi sistem-sistem itu tidak digerakkan oleh satu orang yang mendorong perilaku irasional seperti dalam rezim diktator,” ujarnya.

Dia menambahkan: “Jika di Amerika Serikat kami kehilangan 7.000 orang per minggu, bahkan hanya selama satu minggu, politisi yang mendukungnya akan tamat secara politik—apalagi jika berlangsung bertahun-tahun.”

Menurut Rach, banyak pihak keliru mengasumsikan bahwa semua negara menghargai kehidupan manusia dengan standar yang sama. Dia menyebut bahwa Tiongkok dan Rusia menunjukkan pola yang berbeda.

“Mereka menempatkan ekonomi di atas nyawa manusia, apalagi kebebasan. Ekonomi hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Ini adalah sistem nilai yang sama sekali berbeda.”

Rach juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima pemberitahuan resmi dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok, yang menyatakan bahwa dia dimasukkan ke dalam daftar “orang berbahaya” dan dikenai sanksi.

Operasi SAR Pesawat ATR 42-500 Berlanjut, Total Temuan Capai 11 Pack Body Part 

EtIndonesia. Makassar — Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) kecelakaan pesawat di Pegunungan Bulusaraung Kabupaten Pangkep-Maros,  Sulawesi Selatan terus berlanjut dengan perkembangan terbaru dari lapangan. 

Laporan menyebutkan hingga  Jumat (231/2026), dua paket hasil evakuasi telah berhasil tiba di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin pada pukul 09.06 wita.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan terkini dari tim SAR gabungan, total temuan di area operasi saat ini telah mencapai 10 paket.

“Update dari lapangan, dua paket hasil evakuasi telah tiba di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin, pagi tadi. Sementara itu, informasi terbaru menyebutkan total temuan di lokasi operasi saat ini berjumlah 10 paket yang masih dalam proses penanganan dan evakuasi oleh tim SAR gabungan,” ujar Andi Sultan dalam keterangannya. 

Ia menjelaskan bahwa semalam telah ada penambahan personel dari Basarnas Mamuju, Basarnas Kendari dan Basarnas Palu yang akan melakukan proses evakuasi terhadap korban pesawat ATR 42-500 PK THT di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

“Pukul 09.06 wita paket 9 telah ditemukan, dan pukul 09.10 wita paket 10 telah ditemukan, dan sementara dalam proses evakuasi,” ujarnya menahan haru dan tangis saat menyampaikan berita ini.

Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan memastikan operasi SAR akan terus dilaksanakan secara maksimal dan terkoordinasi hingga seluruh temuan berhasil dievakuasi sesuai dengan prosedur yang berlaku. (***)

Bambu yang Tumbuh Menembus Tiang Lampu Besi Menjadi Simbol Ketahanan di Tiongkok

EtIndonesia. Sebuah batang bambu yang tumbuh menembus tiang lampu sepanjang 6 meter hingga menumbuhkan daun-daun rimbun di sisi lainnya telah menjadi simbol ketahanan dan ketekunan di Tiongkok.

Sebuah video tentang batang bambu ramping yang entah bagaimana tumbuh menembus tiang lampu besi di dekat World Trade Plaza di Kabupaten Xinchang, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, telah menjadi viral di media sosial. Dijuluki “Bambu yang Tak Terkalahkan”, tanaman tangguh ini berakar hanya beberapa sentimeter dari tiang lampu dan masuk ke dalamnya melalui lubang kecil di dekat pangkalnya.

Sebagian besar tanaman tidak tumbuh dengan baik dalam kegelapan total, tetapi bambu ini tampaknya telah mengatasinya dengan cukup baik, karena berhasil mencapai sisi lain tiang, di mana dia menumbuhkan sekelompok daun hijau yang rimbun.

Para ahli mengatakan bahwa bambu masih dapat tumbuh dalam kegelapan karena memiliki sistem akar yang besar dan berkembang dengan baik serta batang bawah tanah yang dapat menembus jauh ke dalam tanah untuk menyerap air dan nutrisi anorganik, sehingga memungkinkan bambu untuk mempertahankan pertumbuhan pada tahap awal ketika tidak ada cahaya.

Sebuah video tentang batang bambu yang tidak biasa ini diunggah ke media sosial oleh seorang pria lokal yang hanya dikenal sebagai Jia, yang lewat bersama anak-anaknya dan memperhatikan gugusan daun hijau di puncak tiang lampu.

Dia bersama anak-anaknya, dan mereka semua menganggapnya sebagai pemandangan yang menarik, jadi dia memutuskan untuk merekamnya, tanpa mengantisipasi dampak yang akan ditimbulkannya di media sosial.

“Saya pikir itu luar biasa, dan anak-anak juga sangat terkesan, jadi saya membuat video,” kata Jia. “Saya tidak menyangka bahwa video biasa yang diunggah secara online akan menjadi sangat populer.”

Video awal itu ditonton jutaan kali, dan bambu yang tangguh itu menjadi sensasi dalam semalam di Xinchang. Orang-orang mulai berkunjung hanya untuk menyaksikan keajaiban itu secara langsung, dan beberapa bahkan membawa anak-anak mereka untuk mengajarkan kepada mereka arti ketahanan, kegigihan, dan vitalitas. (yn)

Wanita di Thailand Mengundang Kontroversi karena Berpacaran dengan Dua Saudara Kembar Secara Bersamaan

EtIndonesia. Seorang wanita Thailand berusia 24 tahun telah menarik banyak perhatian di dunia maya setelah mengungkapkan bahwa dia berpacaran dengan dua saudara kembar secara bersamaan.

Nong Fah, seorang wanita muda dari distrik Nakhon Phanom, Thailand, baru-baru ini menjadi sensasi dalam semalam di negara asalnya karena hubungan romantisnya yang unik. Wanita berusia 24 tahun itu menggunakan TikTok untuk mengkonfirmasi bahwa dia menjalin hubungan romantis dengan dua saudara kembar yang konon tidak keberatan berbagi dirinya.

Berbicara tentang hubungannya yang unik, Fah mengatakan kepada wartawan Thailand bahwa dia bertemu dengan si kembar, Sing dan Suea, tahun lalu, saat bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran untuk membiayai studinya di Universitas Nakhon Phanom.

Musim panas lalu, mereka datang suatu hari dengan beberapa teman, salah satunya meminta nomor teleponnya. Seseorang di meja itu bercanda bahwa dia terlalu tua dan bahwa Nah seharusnya memberikan nomor itu kepada si kembar. Dia tidak terlalu memikirkan lelucon itu saat itu, tetapi ternyata itu menjadi pertanda.

Sekitar sebulan kemudian, Sing dan Suea datang lagi ke restoran itu, dan mereka bertiga mulai mengobrol dan bertukar detail Line (aplikasi pesan populer). Pada hari yang sama, ketika sampai di rumah, Nong Fah menerima pesan dari saudara kembar yang lebih tua, Sing, diikuti tak lama kemudian oleh pesan dari Suea. Dia mulai mengobrol dengan keduanya secara bersamaan, dan sejak saat itu, dia mulai mengembangkan perasaan terhadap keduanya.

“Kedua saudara itu tidak pernah bertengkar atau cemburu karena mereka berdua mencintai saya, dan saya juga mencintai mereka,” kata Nong Fah. “Awalnya, kami tinggal terpisah—saya menyewa kamar di dekat Desa Noen Sa-at, Moo 8, Kecamatan Naratchkwai, dan mereka tinggal di rumah mereka di Desa Nong Bua, Moo 1, Kecamatan Naratchkwai. Seiring waktu, mereka terus berkunjung dan tidak ingin pergi, jadi saya menerimanya saja. Sekarang kami hidup bersama dengan bahagia.”

Nong Fah menjelaskan bahwa fakta bahwa kedua pacar kembarnya berasal dari latar belakang miskin tidak pernah mengganggunya. Mereka berdua bekerja di bidang pertanian, Sing mengemudikan traktor dan Suea mengoperasikan mesin pemanen padi, dan dia membantu mereka mengelola keuangan. Dia membuka rekening bank untuk mereka agar mereka dapat melacak tabungan bulanan mereka.

Ketiganya telah bersama selama lebih dari enam bulan sekarang, dan sejauh ini semuanya berjalan lancar. Terlepas dari pengaturan mereka yang tidak biasa, Fah mengklaim bahwa si kembar tidak pernah bertengkar atau berselisih. Mereka cenderung pemalu dan lembut. Jika ada yang memulai pertengkaran, itu adalah dirinya, karena mereka selalu lebih suka menghindari konfrontasi.

Wanita berusia 24 tahun itu mengakui bahwa keluarga mereka awalnya enggan menerima cinta segitiga mereka, tetapi setelah melihat betapa baiknya hubungan mereka, mereka menerimanya.

Adapun tanggapan online terhadap video TikTok mereka yang kini viral, tanggapannya beragam. Beberapa orang mengkritik, yang lain memuji keberanian mereka. Dia telah memberi tahu si kembar untuk mengabaikan komentar negatif, karena itu adalah pilihan mereka dan mereka tidak melakukan apa pun untuk memengaruhi orang lain secara negatif.

Sejak kisah mereka menjadi viral di Thailand, Nong Fah dan si kembar dibanjiri tawaran dari berbagai perusahaan dan individu untuk mempromosikan produk dan acara secara online. Namun, untuk saat ini, mereka semua fokus pada pekerjaan dan hubungan mereka.(yn)

25 Negara Sepakat Bergabung dengan Board of Peace (BoP) Bentukan Trump, Berpotensi Menggantikan PBB?

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (20/1/2026) menyatakan bahwa Board of Peace atau “Dewan Perdamaian” yang dia bentuk untuk mendorong proses perdamaian Gaza, di masa depan mungkin akan menggantikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia juga mengkritik PBB karena dinilai hampir tidak memberikan bantuan berarti dalam delapan konflik militer global yang berhasil ia selesaikan. Namun demikian, Trump tidak menyerukan pembubaran PBB. Hingga kini, sedikitnya 25 pemimpin negara telah menerima undangan Presiden Trump untuk bergabung dengan “kelompok baru” tersebut.

Wartawan bertanya: “Apakah Anda berharap Dewan Perdamaian Anda dapat menggantikan PBB?”

Presiden AS Donald Trump menjawab: “Ya, mungkin saja. Maksud saya, PBB selama ini tidak terlalu efektif. Saya sangat percaya pada potensi PBB, tetapi potensi itu tidak pernah benar-benar tercapai.”

Pada tahun pertama masa jabatan keduanya di Gedung Putih, Trump mengumumkan bahwa ia telah menyelesaikan delapan konflik bersenjata di dunia, termasuk konflik antara Israel dan Hamas, India dan Pakistan, serta Kamboja dan Thailand.

Trump mengatakan: “PBB seharusnya bisa menyelesaikan setiap perang yang saya selesaikan, dan saya sama sekali tidak pernah meminta bantuan mereka—bahkan tidak terpikir untuk meminta. Mereka seharusnya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan konflik-konflik tersebut. Namun saya tetap percaya PBB harus terus ada, karena potensinya sangat besar.”

Dewan Keamanan PBB pada pertengahan November tahun lalu mengesahkan sebuah resolusi yang memberikan mandat kepada “Dewan Perdamaian” serta negara-negara mitranya untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional di Gaza. Menurut rencana Presiden Trump, Dewan ini pada tahap awal akan berfokus mengawasi struktur pemerintahan sementara di Gaza, dan di masa depan dapat diperluas ke konflik di wilayah lain.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada  Rabu mengumumkan melalui platform media sosial X bahwa ia menerima undangan Trump dan akan bergabung dengan “Dewan Perdamaian”.

Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, pada  Rabu menyatakan bahwa hingga kini sekitar 25 negara telah menerima undangan untuk bergabung dengan Komite Perdamaian. Negara-negara tersebut termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Azerbaijan, dan Armenia. Anggota NATO seperti Turkiye dan Hungaria juga telah menyatakan kesediaan untuk bergabung.

Norwegia dan Swedia telah menolak undangan tersebut, sementara Menteri Ekonomi Italia, Giancarlo Giorgetti, mengatakan bahwa bergabung tampaknya menimbulkan banyak persoalan. Prancis juga menolak undangan tersebut. Trump menyatakan bahwa ia akan mengenakan tarif 200 persen atas anggur dan sampanye Prancis kecuali Paris mengubah keputusannya.

Kanada menyatakan persetujuan secara prinsip, namun rincian masih dalam tahap perundingan. Sementara itu, sekutu utama Amerika Serikat seperti Inggris, Jerman, dan Jepang belum menyampaikan sikap resmi.

Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan masih mengkaji rencana tersebut, namun Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa setelah mengalami perang selama empat tahun, ia sulit membayangkan duduk dalam satu komite bersama Rusia.

Presiden Belarus Alexander Lukashenko pada hari Selasa telah menandatangani perjanjian untuk bergabung dengan “Dewan Perdamaian”. Langkah ini dipandang sebagai perkembangan terbaru dalam upaya Belarus memperbaiki hubungan dengan Washington setelah bertahun-tahun mengalami isolasi internasional.

“Kami sangat berterima kasih kepada pihak Amerika Serikat karena dalam surat undangan secara jelas mengakui Belarus sebagai negara yang siap memikul tanggung jawab mulia untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan, memberi teladan, serta berinvestasi demi masa depan yang aman dan sejahtera bagi generasi mendatang,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Belarus, Ruslan Varankov. (Hui)

Laporan reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat.

Engkau Adalah  Payung Surgaku

EtIndonesia. Surga—tak seorang pun benar-benar pernah melihat seperti apa wujud aslinya. Karena itu, setiap orang menyimpan surga yang berbeda di dalam hatinya masing-masing. Kita semua tahu bahwa di atas kepala kita, selain hamparan alam semesta yang tak berbatas, tidak ada surga secara harfiah. Namun tetap saja, setiap manusia berharap: semoga di langit sana memang ada sebuah surga, persis seperti yang diimpikannya.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidup atau setelah mati, aku akan memiliki seluruh surga seperti dalam khayalan. 

Seperti lirik lagu yang pernah dinyanyikan Pan Meichen: “Aku hanya ingin memiliki sebuah rumah, sebuah tempat yang tak perlu terlalu besar.”

Begitu pula aku. Aku tidak menginginkan surga yang utuh. Aku hanya berharap memiliki sebuah payung kecil—payung surga—yang mampu menopang secuil sudut dari surga itu. Sebuah payung yang menahan seluruh angin dan hujan kenyataan, agar aku bisa dengan tenang, di bawah naungannya, membangun sebuah rumah batin tempat harapan dan kerinduan hidup berdampingan.

Di hamparan alam yang luas, aku telah melihat tak terhitung pohon-pohon tinggi menjulang ke langit. Aku juga telah mencium harum berbagai bunga dan rumput liar. Namun semua kemegahan dan keindahan itu tak benar-benar menggugah hatiku.

Sampai suatu hari, di bawah pepohonan yang menjulang dan di antara rerumputan yang rimbun, aku melihat sebuah payung kecil yang nyaris tak berarti—namun fia berusaha sekuat tenaga, dengan tudungnya yang mungil, melindungi sebatang rumput kecil di bawahnya yang lemah dan letih.

Tudung payung itu berwarna cokelat kemerahan yang lembut, tidak mencolok, tidak istimewa. Namun justru karena kesederhanaannya, warna itu terasa jauh lebih menyejukkan mata dibandingkan mawar yang mekar di atas kain putih. Sebab fia menggunakan kehidupan yang sederhana untuk melindungi kehidupan lain yang sama-sama sederhana. Maka aku pun menamai payung kecil berwarna cokelat lembut itu sebagai payung surga.

Aku masih ingat, itu adalah musim gugur terdingin dalam hidupku. Angin kejam menyapu bersih seluruh kemegahan yang pernah kumiliki, tak menyisakan apa pun. “Datang dengan kesucian, pergi pun dengan kesucian,” mengakhiri hidup seperti itu sebenarnya tidak buruk bagi keadaanku saat itu. Bukankah teori evolusi telah lama menjelaskan prinsip “yang mampu bertahan, dialah yang hidup”?

Namun justru di saat penentuan hidup itulah, kamu membentangkan payung surga itu untukku. Kamu membuatku kembali menegakkan punggung, memegang pena di tanganku, dan menulis ulang jalan hidupku.

Kala itu, di mataku, dunia nyata begitu gelap dan buruk rupa. Keburukan yang telanjang membuat orang merasa raga berada di dunia, tetapi hati terperosok ke neraka. Namun sejak kamu mengirimkan payung surga itu, kenyataanku berubah—seolah aku berjalan di tengah hujan musim semi dan bunga aprikot.

Aku seperti memegang payung kecil pemberianmu, berjalan menyusuri gang-gang sempit di perkampungan air selatan, menikmati bunga aprikot yang basah oleh hujan, atau berhenti sejenak di lorong hujan untuk mendengarkan alunan kecapi dan senar. Kegelapan dan keburukan di depan mata berubah menjadi gang-gang basah yang sunyi, dengan suara dayung perahu beratap hitam yang perlahan menyentuh air sungai di sampingnya.

Ada jembatan kecil, ada aliran air, ada rumah-rumah di tepi sungai. Segalanya diselimuti kabut hujan yang lembut. Kenyataan pun menjelma menjadi sebuah lukisan tinta yang indah. Di bawah payungmu, aku membiarkan pikiranku mengembara jauh dalam hujan musim semi yang tak berkesudahan, menikmati sepenuh hati keindahan musim semi di dalam batin.

Melalui musim semi, melewati musim panas, payung surgamu kembali menemaniku menyongsong musim gugur. Angin gugur berdesir, hujan gugur turun perlahan. Dengan tudung kecil payungmu di atas kepalaku, yang kulihat bukan lagi kesedihan musim gugur, melainkan pegunungan yang memerah seluruhnya, hutan yang berlapis warna, perahu-perahu kecil yang berkejaran di atas ombak.

Dengan payung surgamu di sisiku, hatiku tak lagi dipenuhi kesepian pilu khas angin dan hujan musim gugur. Menyaksikan warna musim gugur di tengah gerimis, justru menghadirkan suasana dan perasaan yang sama sekali berbeda.

Memiliki payung surga seperti itu menaungi diri—bahkan saat angin telah reda dan hujan berhenti, aku tetap enggan menutupnya.

Di dunia ini memang ada jenis sahabat seperti itu. Mereka mungkin tidak bisa selalu bersama menyaksikan pasang surut kehidupan, tidak selalu dapat mendengarkan alunan air pegunungan bersama, tidak bisa berbagi hujan musim semi atau daun merah musim gugur, apalagi duduk bersama di malam musim dingin merebus arak di bawah pohon plum.

Namun mereka menyerahkan hati mereka satu sama lain. Aku menjadi bekal terberat dalam perjalanan hidupmu, dan kamu menjadi mimpi paling tulus dalam hidupku. Bahkan ketika rambut hitam telah berubah menjadi uban, keterikatan itu tetap tersimpan dalam-dalam di hati.

Seorang sahabat sejati adalah sebuah payung surga. Dengan payung seperti itu menemani langkahku, bagaimana mungkin hidupku tidak menjadi surga yang paling indah?(jhn/yn)