Stasiun Televisi Iran Diduga Diretas, Menayangkan Pidato Putra Mahkota Iran di Pengasingan

Baru-baru ini, stasiun televisi Iran diduga diretas oleh peretas. Siaran televisi tiba-tiba dialihkan ke tayangan aksi protes rakyat di berbagai daerah serta pidato Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. 

Selain itu, pada akhir pekan lalu, demonstrasi besar-besaran yang mendukung rakyat Iran juga pecah di Los Angeles, Tokyo, dan kota-kota lain, menuntut pertanggungjawaban rezim Iran atas pembantaian terhadap rakyatnya. Sejumlah tokoh politik Amerika Serikat turut angkat bicara, menyerukan agar pemerintahan Presiden Trump membantu mengakhiri rezim diktator Iran.

EtIndonesia. Pada Minggu (18/1/2026), televisi nasional Iran menghentikan transmisi satelit di sejumlah kanal. Layar siaran langsung dialihkan ke gambar-gambar dramatis aksi protes di berbagai penjuru negeri, disertai pemutaran pidato Reza Pahlavi, Putra Mahkota terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan.

Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, mengatakan: “Para pegawai lembaga negara, aparat bersenjata dan pasukan keamanan, kalian harus memilih: berdiri bersama rakyat dan membela kepentingan bangsa, atau berdiri bersama para pembunuh rakyat, dan dengan demikian menjadikan diri kalian sebagai aib dan kutukan abadi bagi negara.”

Rekaman yang ditayangkan tersebut tampaknya merupakan potongan video yang dirilis Pahlavi pada 12 dan 13 Januari. Hingga kini, belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas dugaan peretasan ini.

Pada saat yang sama, Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mencabut undangan kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi.

Pada hari Minggu, aksi solidaritas untuk mendukung para pengunjuk rasa Iran juga meletus di pusat kota Los Angeles. Dari rekaman udara terlihat massa besar turun ke jalan, mengibarkan bendera “Singa dan Matahari” era Pahlavi, serta menyalakan suar berwarna bendera nasional Iran.

Spanduk-spanduk bertuliskan:  “Rezim Islam telah membunuh lebih dari 20.000 warga Iran. Diam berarti ikut bersalah. Dunia tidak boleh tetap diam.”

Di hari yang sama, demonstrasi dukungan bagi rakyat Iran juga terjadi di Tokyo, Jepang. Pada poster-poster para pengunjuk rasa tertulis:  “Tanpa internet, tanpa suara. Iran telah memutus jaringan.”

Seorang demonstran anonim mengatakan: “Kami ingin tahu apa yang terjadi pada mereka yang ditangkap. Apakah mereka telah dieksekusi? Berapa banyak orang yang tewas atau disiksa di dalam penjara? Kami sama sekali tidak tahu.”

Senator Partai Republik AS, Ted Cruz, menyatakan bahwa Amerika Serikat harus mengambil “semua langkah yang memungkinkan” untuk mengakhiri kekuasaan teokrasi Islam di Iran.

“Saya percaya Amerika Serikat harus mengambil segala langkah yang mungkin untuk mengakhiri rezim ini. Khamenei membenci Amerika, dan ia kerap memimpin massa besar untuk meneriakkan ‘Matilah Amerika’,” ujarnya. 

Presiden Trump juga menetapkan dua garis merah bagi otoritas Iran: melarang pembunuhan terhadap demonstran damai, dan melarang pelaksanaan eksekusi massal setelah unjuk rasa.

Pada hari Senin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memperingatkan Iran dalam pidatonya di parlemen agar tidak menyerang Israel, atau akan menghadapi serangan balasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan: “Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan Iran, tetapi satu hal sangat jelas: apa pun yang terjadi, Iran tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua.

Asal-Usul Maneki Neko  – Kucing Pembawa Rezeki

EtIndonesia. Sebagai informasi singkat, maneki neko adalah pajangan berbentuk kucing dari Jepang, biasanya terbuat dari porselen atau keramik. Pajangan ini dipercaya membawa keberuntungan bagi pemiliknya, dan sering dipajang di toko, restoran, serta tempat usaha.

Pada zaman dahulu, di Era Edo, ada sebuah keluarga terkenal bernama Echigoya. Keluarga ini turun-temurun menekuni usaha pewarnaan kain, dan dikenal sebagai keluarga terpandang di wilayah sekitar.

Namun lama-kelamaan, usaha keluarga Echigoya mulai merosot. Penyebabnya adalah sang pewaris muda—yang juga dipanggil “Echigoya”—tidak suka berdagang. Sehari-hari dia hanya bersenang-senang.

Dua hal yang paling dia sukai hanyalah berjudi dan bermain dengan kucingnya. Urusan lain tak dia pedulikan. Akibatnya, keluarga Echigoya pun hampir bangkrut di tangannya.

Tetangga-tetangga tentu menjadikannya bahan obrolan. Namun dia sama sekali tidak merasa terganggu. 

Dia bahkan berseloroh: “Echigoya mau runtuh? Ya tinggal ditopang pakai tiang saja, selesai!”

Ucapan itu membuat sang kepala pelayan sangat sedih. Dia sering menasihati : “Tuan muda… bagaimana Anda bisa tega pada leluhur keluarga Echigoya?”

“Ah, jangan cerewet…” jawab tuan muda itu. “Bukankah dulu ada cerita seperti ‘bangau membalas budi’ dan semacamnya? Kalau tidak punya uang, ya suruh Komama mencari saja. Benar kan, Komama?”

Komama adalah nama kucingnya. Setiap kali ditegur, tuan muda itu hanya memeluk kucingnya sambil bermain—menganggap nasihat kepala pelayan angin lalu.

Akhirnya, yang ditakuti benar-benar terjadi. Echigoya bangkrut. Para penagih utang datang satu per satu. Pintu dan jendela dibongkar dan dibawa pergi. Echigoya benar-benar habis—tak tersisa apa-apa.

Saat itu kepala pelayan berkata lagi: “Tuan muda, Anda harus kuat! Kita masih bisa mulai dari nol!”

Namun tuan muda malah mengangkat kucingnya sambil tertawa : “Komama! Kamu tidak lupa janji kita, kan? Pergi ambilkan beberapa keping koin emas!”

Kucing itu sempat ragu, lalu perlahan berjalan pergi.

“Tunggu, Komama! Aku cuma bercanda!” teriaknya.

Namun kucing itu tetap keluar.

Keesokan harinya… kucing itu benar-benar kembali dengan sebuah koin emas di mulutnya! Kepala pelayan dan tuan muda sangat gembira.

Kepala pelayan langsung menasihati:  “Tuan muda, gunakan koin emas ini untuk membangun usaha yang benar.”

“Tenang! Kali ini aku pasti bisa balik modal!”

 Tapi apa yang terjadi? Tuan muda malah pergi berjudi lagi…

Sayangnya, koin emas itu tidak membawa keberuntungan. Dia kalah habis-habisan dan pulang dengan tangan kosong. Tentu saja kepala pelayan kembali mengomel.

Tuan muda lalu berkata pada kucingnya: “Komama, ambilkan satu koin emas lagi. Kali ini aku akan memakainya dengan benar. Aku tidak akan berjudi lagi!”

Kucing itu kembali ragu-ragu… lalu berjalan pergi pelan-pelan.

Keesokan harinya, kucing itu pulang lagi membawa sebuah koin emas.

Tuan muda bersorak gembira, menggenggam koin itu lalu berlari keluar tanpa menoleh—langsung menuju tempat perjudian untuk “mengambil kembali” uangnya.

Seperti yang bisa diduga… dia kalah lagi sampai habis.

Dia pulang dengan wajah muram. Namun baru masuk rumah, kepala pelayan panik berkata: “Ada yang aneh dengan Komama. Seharian dia lemas dan tidak bersemangat!”

Tuan muda segera berlari masuk, memeluk kucing itu, memanggil-manggil: “Komama! Komama! Ada apa denganmu?!”

Kucing itu perlahan membuka mata, lalu menjilatnya pelan. Tuan muda sedikit lega.

“Tuan muda… Anda tidak merasa Komama makin kurus? Aneh sekali,” kata kepala pelayan.

Namun tuan muda tak menggubris. Dia malah mengangkat kucing itu tinggi-tinggi dan berkata: “Komama! Satu lagi! Satu koin lagi saja! Kali ini aku pasti akan membangun usaha sungguh-sungguh!”

Kucing itu menatapnya lemah… lalu berjalan pergi lagi.

Namun dalam hati, tuan muda berpikir: “Komama mengambil koin-koin itu dari mana? Kalau aku mengikutinya… bukankah aku akan punya koin emas tak ada habisnya? Hmm… besok aku akan mengikutinya.”

Keesokan pagi, kucing itu keluar rumah.

Dan kali ini, Echigoya mengikuti dari jauh.

Kucing itu berjalan memutari pinggiran kota cukup lama, menyeberangi beberapa sungai, lalu masuk ke sebuah hutan. Akhirnya dia berhenti di depan sebuah kuil.

Di sana, kucing itu mengangkat kedua “tangannya”, merapatkannya seperti orang berdoa, dan mulutnya komat-kamit seolah merapalkan sesuatu.

Echigoya yang mengintip dari balik pepohonan terkejut, : “Apa yang dia ucapkan?”

Dia pun mendekat pelan-pelan.

Lalu dia mendengar kucing itu merapalkan: “Ambil sedikit tanganku… ambil sedikit kakiku… berikan aku koin emas… Ambil sedikit perutku… ambil sedikit buluku… berikan aku koin emas…”

Saat kucing itu terus merapalkan, tubuhnya semakin kurus… semakin kecil…

Echigoya tersentak sadar. 

Dia berteriak sambil berlari keluar dari persembunyiannya:  “Komama! Jangan! Berhenti! Aku tidak mau koin emas itu! Komama!!!”

Namun kucing itu menoleh sebentar… lalu kembali merapalkan: “Ambil sedikit tanganku… ambil sedikit kakiku… berikan aku koin emas… Ambil sedikit perutku… ambil sedikit buluku… berikan aku koin emas…”

Akhirnya… kucing itu menghilang.

Yang tersisa di tanah hanya tiga keping koin emas.

Echigoya mengambil koin-koin itu dan menangis tersedu-sedu sambil memegangi kepalanya: “Komama… kenapa kamu sebodoh ini… hanya demi tiga koin emas… hanya tiga koin emas saja… Komama…”

Sejak hari itu, Echigoya berubah seperti orang lain.

Dia bekerja keras setiap hari. Ketika menghasilkan uang, dia tidak lagi menghamburkannya. Para tetangga pun heran melihat perubahan itu.

Namun Echigoya selalu berkata:  “Seekor kucing saja bisa berkorban demi menyadarkanku. Bagaimana mungkin aku tidak berusaha?”

Lama-kelamaan, berkat kerja kerasnya, keluarga Echigoya kembali bangkit dan menjadi makmur.

Karena Echigoya selalu meletakkan patung kucing yang memegang koin emas di depan pintu rumah, orang-orang pada masa itu pun mengikuti kebiasaan tersebut.

Dan itulah… asal-usul Maneki Neko, kucing pembawa rezeki.

Renungan

Kadang, di sekeliling kita ada orang-orang yang selalu berkorban untuk kita, peduli pada kita, memperlakukan kita dengan baik—sementara kita hanya terus menikmati tanpa henti.

Sampai suatu hari… mungkin yang tersisa hanya “tiga koin emas”. Bahkan mungkin… tidak tersisa satu koin pun.

Barulah kita tersadar, bahwa “maneki neko” dalam hidup kita… sudah menghilang.

Catatan Redaksi

Kisah hari ini adalah asal-usul Maneki Neko. Banyak orang menyukai Maneki Neko karena dipercaya membawa pelanggan dan mendatangkan rezeki.(jhn/yn)

Video Ribuan Warga Yunnan, Tiongkok  Menang dalam Perlawanan, Memaksa Pemerintah Membatalkan Kebijakan Kremasi Paksa

Seorang lansia di Desa Linikou, Kabupaten Zhenxiong, Provinsi Yunnan, Tiongkok, makamnya digali dan jenazahnya dirampas oleh pihak berwenang 18 hari setelah dimakamkan. Baru-baru ini, ribuan warga desa mengantarkan seorang lansia yang sama sekali tidak mereka kenal untuk perjalanan terakhirnya. Ini merupakan hasil dari perjuangan warga selama lebih dari setahun hingga akhirnya memaksa pihak berwenang membatalkan kebijakan kremasi paksa.

EtIndonesia. Pada 19 Januari 2026, akun media independen yang memantau insiden massa di  daratan Tiongkok bernama “Zuotian (Yesterday)” mengungkapkan bahwa lansia yang dimaksud berasal dari kelompok keluarga termiskin di Desa Fengyan, Kelompok Tianba, Kecamatan Linikou, Kabupaten Zhenxiong. 

Disebutkan, rumah tua tempat ia tinggal semasa hidup pernah dipaksa dibongkar oleh pemerintah setempat. Setelah ia meninggal dunia pada musim dingin 2024, pemerintah desa dan kecamatan berkali-kali mendatangi keluarga untuk menuntut agar jenazah dibawa ke kota kabupaten untuk dikremasi. Namun, biaya transportasi, tenaga kerja, serta biaya kremasi sendiri sama sekali tidak mampu ditanggung oleh keluarga tersebut.

Dengan putus asa, keluarga mengatakan kepada petugas setempat, “Jika memang harus dikremasi, silakan kalian sendiri yang membawa jenazahnya.” Namun, pihak berwenang menolak menanggung biaya apa pun. Pada akhirnya, keluarga mengikuti adat setempat dan memakamkan lansia tersebut dengan dikubur.

Setelah pemakaman, aparat kepolisian setempat dan pejabat kecamatan berulang kali mendatangi rumah keluarga, menuntut agar jenazah diserahkan, bahkan menawarkan “kompensasi”. Namun keluarga tetap menolak—mereka tidak sanggup melakukannya.

Delapan belas hari setelah pemakaman, pihak berwenang mulai melakukan operasi perampasan jenazah. Pada 20 Desember 2024 dini hari, listrik di Kelompok Tianba, Desa Fengyan, serta beberapa kelompok desa di sekitarnya tiba-tiba diputus secara bersamaan. Seluruh desa tenggelam dalam kegelapan, dan sistem kamera pengawas yang dipasang warga juga lumpuh total. 

Tak lama kemudian, sebuah tim yang dipimpin oleh Komite Politik dan Hukum tingkat kabupaten, yang terdiri dari lebih dari 200 orang—termasuk pegawai negeri, polisi, dan personel terkait—diam-diam memasuki desa. Tujuan mereka hanya satu: menggali makam dan merampas jenazah.

Makam baru digali, dan jenazah lansia tersebut dibawa pergi secara paksa. Sepanjang proses itu, kelompok tersebut tidak menunjukkan satu pun dokumen hukum kepada keluarga. Polisi mengendalikan para lansia dan anak-anak di rumah, serta membawa anggota keluarga pergi layaknya mengawal tersangka kriminal. Ketika warga mencoba merekam kejadian dengan ponsel, ponsel mereka langsung dirampas, dan beberapa warga dibawa ke kantor polisi.

Namun kali ini keluarga tidak menyerah. Mereka mulai bersuara di internet, mengadukan kejadian tersebut kepada publik, serta terus melakukan pengaduan, banding, dan protes selama lebih dari satu tahun.

Sejak November 2025, di Kecamatan Zhongtun yang berjarak puluhan kilometer, warga juga memulai gerakan besar-besaran “menentang kremasi paksa”. Setelah berlangsung lebih dari dua bulan dan disertai berbagai aksi perlawanan berskala besar, pemerintah Kecamatan Zhongtun akhirnya membatalkan kebijakan kremasi paksa.

Pada awal Januari 2026, kebijakan kremasi paksa di Kecamatan Linikou juga resmi dibatalkan. Abu jenazah lansia tersebut akhirnya dikembalikan kepada keluarga. Bahkan, setelah lebih dari setahun akhirnya dapat dimakamkan kembali.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa setelah kabar ini menyebar, seluruh Kecamatan Linikou terguncang. Warga desa sangat menyadari bahwa tanpa keteguhan keluarga ini selama lebih dari setahun, kebijakan tersebut kemungkinan besar masih akan terus diberlakukan. Di mata warga, keluarga ini bukan lagi keluarga biasa, melainkan pahlawan seluruh Kecamatan Linikou—yang mereka perjuangkan adalah martabat sebagai manusia.

Pada 14 Januari 2026, ribuan warga secara spontan memadati Kelompok Tianba untuk mengantarkan lansia tersebut ke peristirahatan terakhir. Iring-iringan pemakaman membentang sejauh beberapa kilometer, petasan bergemuruh, tabuhan genderang mengguncang hingga menggema di seluruh lembah.

Li Enzhen – NTDTV.com

Topeng Iblis

EtIndonesia. Suatu hari, sesosok iblis menjatuhkan sebuah topeng di tengah perjalanannya. Seorang gadis kecil yang penasaran memungut topeng itu. Setelah memperhatikannya sejenak, ia pun mengenakannya.

Namun siapa sangka, topeng iblis itu menempel di wajahnya dan tak bisa dilepaskan. Wajah gadis itu berubah menjadi mengerikan, seperti monster yang menyeramkan.

Dengan panik, gadis kecil itu berlari kembali ke desa untuk mencari ibunya. Namun ibunya sama sekali tidak mengenalinya. Bahkan, sang ibu bersama warga desa justru mengusirnya. Hati gadis itu hancur berkeping-keping.

Saat itulah muncul seorang anak laki-laki—teman masa kecilnya sejak kecil. Dia berdiri di depan semua orang dan mengakui bahwa gadis itu adalah benar dirinya. Karena dia sangat percaya, bahwa gadis di balik wajah mengerikan itu adalah gadis kecil yang dia kenal.

Saat gadis itu kembali mendapatkan kepercayaan seseorang, topeng iblis pun terlepas. Dia kembali ke pelukan anak laki-laki itu.

Dia melingkarkan kedua tangannya di bahunya. Rambutnya menjuntai ke dada anak laki-laki itu, aroma tubuhnya menyelimuti dirinya. Wangi yang khas itu membuatnya merasa hangat.

“Pernahkah dia mendengar cerita ini?”

Tentu saja dia pernah mendengarnya. Bahkan, gadis itu sudah menceritakan kisah ini berkali-kali kepadanya.

“Besok… maukah kamu mengantarku pergi?” Dia menoleh ke arahnya dan berbisik pelan di dekat telinganya.

“Tidak… karena aku akan menangis…” Dia memonyongkan bibir, menahan air mata, ekspresi itu membuatnya hampir tertawa. Justru itulah yang membuatnya terlihat begitu manis.

Mereka berdua sudah membicarakan pernikahan. Namun karena pekerjaan, anak laki-laki itu harus pergi ke luar negeri selama satu tahun. Sebenarnya, dia sangat ingin membawa gadisnya bersamanya, tetapi orangtua gadis itu tidak mengizinkan.

“Di luar negeri nanti, kamu harus selalu memikirkanku, ya!”

“Aku akan memikirkanmu. Selain kamu, aku tak akan memikirkan siapa pun.”

“Benar?”

“Janji.”

Dia mencubit hidungnya, lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Air mata gadis itu pun jatuh tanpa bisa ditahan. Wajahnya yang merona tampak semakin merah di bawah cahaya lampu. Saat itu, dia hampir saja membatalkan niatnya untuk pergi ke luar negeri.

“Jangan menangis. Demi kamu, aku pasti segera kembali. Saat itu, bagaimana kalau kita mengadakan pernikahan yang sungguh-sungguh dan khidmat?”

“Iya… iya… huu…”

“Jangan menangis. Hatiku sakit melihatmu seperti ini. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

Dalam hidup ini, dia hanya mencintai gadis itu.

Tak lama setelah dia pergi…

Beberapa bulan kemudian, gadis itu mengalami kecelakaan. Saat sedang berbelanja bersama temannya, dia ditabrak oleh pengemudi mabuk. Nyawanya nyaris melayang.

Meski akhirnya berhasil diselamatkan, wajahnya berubah menjadi mengerikan. Dalam proses operasi, jahitan gagal dengan sempurna, menyebabkan kerusakan saraf wajah.

Dia terbaring di ranjang rumah sakit sambil menangis. Wajah sempurna yang dulu dia miliki telah hilang. Untuk apa dia terus hidup? Lebih baik mati saja, pikirnya.

Orangtuanya bahkan tidak sanggup menatap wajahnya. Jika bukan karena dukungan teman-temannya, dia mungkin sudah tak mampu bertahan hidup.

“Ini alamat email-nya. Maukah kamu menulis surat kepadanya?” tanya seorang teman dengan lembut.

Karena kondisi wajahnya, dia menjadi tertutup dan tidak berani berkomunikasi dengan siapa pun. Bahkan dengan pria yang paling dia cintai, dia tak berani menelepon.

“Dia sangat mengkhawatirkanmu. Dia selalu ingin tahu bagaimana keadaanmu…”

“Kamu ingin aku bicara dengannya?! Dengan wajah seperti ini?! Orangtuaku saja tak bisa menerimaku… apalagi dia! Aku benar-benar… tidak berani menghadapinya…”

Dia menyentuh wajahnya yang terdistorsi, seperti monster. Ke mana perginya dirinya yang dulu? Apa yang akan dia rasakan jika melihatnya sekarang? Apakah dia masih akan mencintainya? Apakah dia masih akan menyukainya?

Dia bahkan tak berani membayangkan pernikahan.

“Ini… juga kesempatan untuk menguji perasaannya,” bujuk temannya.

Akhirnya, dia mulai berkorespondensi dengannya lewat surat elektronik. Namun dia tak pernah menceritakan keadaan sebenarnya. Dia terlalu takut.

Hari demi hari berlalu. Setahun pun berlalu begitu cepat.

Dalam e-mailnya, pria itu dengan bahagia menggambarkan masa depan mereka. Saat membacanya, hatinya justru hancur. Dia takut.

Akhirnya, tibalah hari kepulangannya.

Dengan ditemani temannya, dia datang ke bandara dengan perasaan takut dan gelisah yang amat besar. Namun jauh di dalam hatinya, masih ada secercah harapan. Mungkin… seperti cerita yang dulu sering dia ceritakan—dia akan tetap mengenalinya.

Dia mengenakan topi, kacamata hitam, dan masker. Dari kejauhan, dia menunggu pria yang dia cintai.

Pria itu turun dari pesawat dengan hati penuh kegembiraan. Setahun penuh kerinduan memenuhi dadanya. Cintanya padanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Selama setahun itu, komunikasi mereka memang sempat terputus. Namun mereka tetap saling berkirim surat elektronik, mencurahkan rindu satu sama lain.

Dia juga cemas—mengapa tiba-tiba dia menghilang? Bahkan teman-temannya pun tak mau menjelaskan apa pun.

Namun semua itu dia kesampingkan. Karena hari ini, dia akan bertemu dengannya—wanita yang dia rindukan selama setahun.

Begitu memasuki bandara, di tengah lalu-lalang orang, matanya menyapu kerumunan mencari sosoknya. Dia percaya, gadis itu bukan tipe yang ingkar janji. Dia pasti datang.

Akhirnya, di balik sebuah pilar dekat pintu keluar, dia melihat punggung seorang wanita yang bersembunyi.

Dengan gembira, dia menghampiri dan memeluknya dari belakang.

“Aku sangat merindukanmu! Sampai bersembunyi begini untuk menjemputku? Main petak umpet, ya?”

“Kamu… bisa menemukanku?” Suaranya sangat pelan, seolah ingin memastikan.

Dia merasa ada yang aneh. Dia memutar tubuhnya. Mengapa wajahnya tertutup seperti itu?

“Kamu… kamu… masih mengenaliku…?”

Suara tersendat keluar dari balik masker. Hatinya terkejut. Dia segera memeluknya erat. Pasti telah terjadi sesuatu.

“Tentu saja aku mengenalimu! Aku mencintaimu!”

“Kalau begitu… dengan wajah seperti ini… kamu masih akan mencintaiku?”

Di bawah tatapannya, dia melepas topi, membuka kacamata, lalu perlahan menarik masker itu.

Wajah yang penuh luka dan bekas jahitan tersingkap di hadapannya. Terdengar suara keterkejutan orang-orang di sekitar.

Dia terdiam sejenak. Lalu tersenyum lebar. Sama sekali tidak terganggu. Dia memeluknya erat dan berbisik di telinganya,

“Cantik sekali… tentu saja aku mencintaimu.”

Tangannya menyentuh satu per satu bekas luka di wajahnya. Ciumannya jatuh seperti hujan di atas bekas-bekas itu.

 Meski wajahnya berubah, meski dirinya yang dulu seolah telah hilang—dia tetap mencintainya.

Mereka mulai mempersiapkan pernikahan. Meski orangtuanya tidak setuju, dia tetap bersikeras. Karena dia benar-benar mencintainya—dia mencintai hatinya, bukan penampilannya.

Itulah sebabnya, hanya dari punggungnya saja, dia sudah tahu bahwa itu adalah dirinya.

Setelah kembali bekerja di dalam negeri, demi cepat menyesuaikan diri, dia sering pulang larut.

Dia pun mulai sering merasa cemas. Walau ia selalu menelepon dan memberi tahu keberadaannya, dia tetap gelisah. Dia takut—takut suatu hari dia akan kehilangan cintanya karena wajahnya.

Dia menjadi tertutup, kehilangan kepercayaan diri.

Awalnya, dia sering menelepon. Jika terlambat satu menit saja, dia langsung bertanya ke mana dia pergi. Kecurigaan mulai tumbuh, membuatnya sedikit histeris. Bahkan dia berharap pria itu tidak perlu keluar bekerja sama sekali.

Pria itu sering mengernyitkan dahi. Berkali-kali dia ingin menjelaskan, ingin berbicara jujur. Namun mengingat luka batin yang dia alami, dia menahannya.

Perlahan, dia berubah menjadi mudah marah, tidak rasional, seperti kehilangan kendali. Semua hal harus dijelaskan. Setelah dijelaskan, dia masih curiga. Setelah curiga, dia kembali meminta kepastian.

Dia tak lagi sanggup menanggung tekanan pekerjaan dan berbagai urusan lainnya. Ditambah lagi tuduhan-tuduhan darinya yang sama sekali tidak berdasar. Akhirnya… dia meledak.

“Jangan sampai hatimu juga ikut menjadi seburuk wajahmu!”

Ucapannya penuh amarah. Dia lalu pergi begitu saja.

Menghadapi kata-kata itu, dia menangis. Dia tidak ingin menjadi seperti ini.  Dia hanya terlalu takut kehilangan dirinya, hingga berusaha mengikatnya dengan berbagai cara—tanpa sadar justru membuatnya tertekan.

Dulu dia bukan orang seperti ini.

Wajahnya telah rusak, dan perlahan hatinya pun ikut terluka.  Segalanya berubah… hanya karena wajah ini.

Dia memutuskan untuk meminta maaf.

Dia menelepon. Dia menjawab bahwa sedang rapat. Dia pun mendatangi kantornya, tetapi orang-orang mengatakan bahwa dia tidak masuk kerja hari itu.

dia terdiam, terkejut.

Dia kembali menelepon ke ponselnya—namun ponsel itu sudah tidak aktif.

Rasa takut menyergap.

“Apakah dia bersama wanita lain?”

Pikiran itu muncul, lalu dia mengerutkan kening. Dia sadar, semua ini mungkin akibat prasangka buruknya sendiri. Karena kecurigaannya, dia pergi. Dia seharusnya lebih percaya padanya.

Namun saat berjalan di jalanan kota, dari balik kaca sebuah kafe, dia melihatnya—bersama seorang wanita lain.

Ternyata, ketakutannya menjadi kenyataan.

Melihat mereka tertawa dan berbincang akrab di balik kaca, dia menangis.

Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik—wajah yang dulu pernah dia miliki, namun kini telah hilang.

Dia membenci… Dia sangat membencinya!

Ternyata benar—dia jijik pada wajahnya. Jijik pada rupa yang rusak ini. Dia tidak menginginkannya lagi!

Beberapa hari kemudian, pertunangan mereka dibatalkan.

Dia sempat datang ke rumahnya, ingin menjelaskan sesuatu, namun selalu ditolak. Dia bahkan tidak mau mendengar penjelasan terakhir darinya.

Waktu pun berlalu.

Setahun lagi berlalu.

Dia menjalani hidup dengan “topeng buruk rupa” itu, hingga suatu hari teman-temannya kembali membujuknya untuk menjalani operasi.

Dia terus menolak. Setidaknya dengan wajah ini, dia bisa melihat wajah asli banyak orang.

Namun teman-temannya tak menyerah. Akhirnya, bersama teman dan orangtuanya, dia pergi ke Jepang untuk menjalani operasi bedah plastik.

Temannya meyakinkannya bahwa dokter itu sangat terkenal dan pasti bisa mengembalikan wajahnya.

Dia tersenyum tipis.

“Coba saja. Toh cuma selembar kulit.”

Setelah operasi selama 12 jam dan masa pemulihan satu bulan, dia membuka penutup wajahnya dengan ditemani temannya.

Wajah yang familiar muncul.

Wajah lamanya.

Dirinya yang dulu… kembali.

Dia tersenyum pahit. Wajah lama telah kembali, namun orang yang dulu mencintainya… sudah tidak ada.

Sejak itu, dia memulai kehidupan baru. Awal yang benar-benar baru.

Lingkaran pergaulannya meluas. Dia bertemu banyak orang. Dan akhirnya, dia bertemu seseorang yang ingin menemaninya seumur hidup.

Dia tidak lagi mengejar cinta—dia hanya ingin kebahagiaan. Dan wajah ini, telah memberinya kehidupan yang damai.

Bersama pria yang telah membicarakan pernikahan dengannya, dia kembali ke Jepang, ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter yang telah mengoperasinya.

Namun pihak rumah sakit mengatakan bahwa dokter tersebut tidak berada di tempat. Dia menunggu cukup lama, namun dokter itu tak kunjung muncul.

Dia pun berbalik hendak pergi.

Di tikungan lorong rumah sakit, dia tak sengaja menabrak seorang pasien yang wajahnya tertutup perban.

“Maaf…” ucapnya dengan bahasa Jepang yang terbata-bata.

Pasien itu tampak terkejut menatapnya, lalu segera pergi.

Seolah teringat sesuatu, dia menggenggam tangan pasien itu dan berkata lagi dengan bahasa Jepang yang kurang lancar,

“Dokter di sini sangat hebat. Kalau kamu operasi di sini, wajahmu pasti bisa pulih. Lihat, wajahku dioperasi di sini. Cantik, kan?”

Pasien itu terdiam, tak berkata apa-apa.

Tunangannya memanggilnya dari pintu. Dia tersenyum pada pasien itu, lalu melangkah keluar rumah sakit.

Dari kejauhan, menatap senyum bahagia di wajahnya, pasien itu menangis dalam diam.

Tak lama kemudian, seorang dokter wanita muncul di belakang pasien itu dan berkata dengan bahasa Jepang yang fasih: “Kamu benar-benar mencintainya. Demi dirinya, kamu menyumbangkan kulit wajahmu sendiri. Tapi dia tidak mengenalimu…”

“Sejak setahun lalu kamu mencariku untuk melakukan operasi ini. Apakah kamu puas dengan akhir seperti ini? Aku bisa mengembalikan wajahmu secara gratis…”

“Tidak perlu…” jawabnya lirih. “Tidak apa-apa jika dia tak mengenaliku… Biarkan aku hidup dengan topeng ini…”

Air mata mengalir di wajah pasien itu.  Saat dia tadi mendekatinya, aroma khas yang ditinggalkannya justru membuat kesepiannya semakin dalam.

Catatan Akhir Penulis Asli

Anak laki-laki itu kemudian menemukan kembali topeng iblis dan ingin mengujinya—apakah gadis kecil itu masih bisa mengenalinya.

Namun gadis itu justru menangis ketakutan dan memintanya menjauh.

Sejak saat itu, anak laki-laki itu hidup seumur hidup dengan topeng iblis—dalam kesepian dan penderitaan

Catatan Redaksi – Versi Akhir Tambahan

Redaksi Erabaru telah membaca kisah “Topeng Iblis” ini berkali-kali, dan setiap kali membacanya selalu tersentuh.

Kami menyukai kisah cinta ini, tetapi tidak menyukai akhir ceritanya. Lelaki seperti itu pantas mendapatkan cinta yang lebih baik. Karena itu, redaksi ingin menambahkan akhir cerita sesuai harapan kami—semoga penulis tidak keberatan.

Setelah gadis itu pergi, dia kembali ke ruang rawat dan menjalani perawatan lanjutan. Di bawah perawatan lembut sang dokter wanita, pemulihannya berjalan sangat cepat.

Dalam perhatian dan ketulusan sang dokter, tanpa disadari dia pun jatuh cinta padanya. Sang dokter, yang awalnya merawatnya karena rasa iba, lambat laun juga jatuh cinta.

Di bawah perawatannya, dia mendapatkan kembali wajah lamanya dan menjalani hidup bahagia bersama sang dokter.

Sementara itu, anak laki-laki yang hidup dengan topeng iblis dijauhi dan ditakuti banyak orang. Namun di desa sebelah, ada seorang gadis yang tidak takut pada penampilannya. Dia justru merasa iba dan sering menemaninya.

Dari kebersamaan itu, gadis tersebut mengenal betapa baiknya hati anak laki-laki itu—dan perlahan jatuh cinta padanya.

Suatu senja, gadis itu tiba-tiba mengecup wajah anak laki-laki itu.

Keajaiban pun terjadi.

Topeng iblis hancur berkeping-keping. Wajah aslinya kembali terlihat. Di tersenyum manis dan memeluk gadis itu.

Sejak hari itu, mereka hidup bahagia selamanya.

Pesan Cerita

Ketika kita berharap orang lain memahami dan mempercayai kita, sudahkah kita juga memahami dan mempercayai orang lain?

Ketika kita tidak ingin dinilai dari penampilan luar, sudahkah kita sendiri berhenti menilai orang lain dari rupa mereka? (yn)

Mencuri Darah Bumil? Viral Kisah Bumil di Daratan Tiongkok Diambil Lebih dari Selusin Tabung Darahnya Selama Pemeriksaan Kehamilan

Belakangan ini, banyak warganet di  daratan Tiongkok melaporkan bahwa saat menjalani pemeriksaan kehamilan di rumah sakit, darah yang diambil semakin banyak. Dalam satu kali pemeriksaan, ada ibu hamil yang diambil darahnya hingga belasan tabung. 

Beberapa ibu hamil mengalami ketidaknyamanan fisik yang serius akibat pengambilan darah berlebihan, bahkan ada kasus di mana pengambilan darah yang terlalu banyak menyebabkan suplai darah ibu ke janin tidak mencukupi, sehingga janin mengalami masalah serius.

EtIndonesia. Seorang warganet mengungkapkan di media sosial bahwa saat ia menjalani pemeriksaan kehamilan, darahnya diambil sebanyak 12 tabung, hingga setelahnya ia merasa sangat lemas dan kakinya gemetar saat berjalan.

Warganet dari Hunan mengatakan,  “Pada tahun 2023 saat pembuatan berkas kehamilan, darah saya diambil 12 tabung. Dari awal hamil sampai anak lahir, total diambil sekitar 20–30 tabung darah. Hemoglobin saya turun drastis, nilainya hanya sekitar 90-an. Saya bilang saya anemia dan minta agar darah diambil lebih sedikit, tapi dokter bilang tidak apa-apa dan tidak berpengaruh. Benar-benar bikin tidak bisa berkata-kata.”

 Seorang warganet dari Beijing juga mengatakan,  “Tahun ini saat pembuatan berkas kehamilan ditambah tes toleransi glukosa, sekali diambil 11 tabung darah. Pada tabung ke-8, karena darah hampir tidak keluar, perawat sampai menekan lengan saya dengan keras untuk memeras darah.”

(Tangkapan layar dari internet)

Warganet dari Zhejiang berkata,  “Selama seluruh masa kehamilan, saya diambil darah lebih dari 40 tabung. Anemia dan hipoglikemia semuanya muncul.”

Warganet dari Guangdong mengatakan,
“Dua minggu… 15 tabung…”
“Aku beberapa hari lalu ke rumah sakit untuk pembuatan berkas dan pemeriksaan NT, darahku diambil 18 tabung. Aku bahkan tidak tahu diperiksa apa saja, benar-benar keterlaluan.”

(Tangkapan layar dari internet)

Ada pula warganet yang mengatakan,  “Sekarang ke rumah sakit itu isinya cuma ambil darah… orang dewasa dan anak-anak diambil darah, ibu hamil juga setiap datang pasti diambil darah. Kalau tidak ada apa-apa, sebaiknya jangan ke rumah sakit.”

Dalam beberapa tahun terakhir, terus ada warganet yang mengungkapkan bahwa saat pemeriksaan kehamilan mereka diwajibkan tes darah dan berbagai pemeriksaan lainnya, tetapi mereka sendiri tidak memahami mana pemeriksaan yang benar-benar diperlukan dan mana yang tidak perlu, sehingga merasa sangat bingung.

(Tangkapan layar dari internet)

“Beberapa hari lalu saya ke rumah sakit untuk pembuatan berkas kehamilan dan NT, darah saya diambil 18 tabung. Saya bahkan tidak tahu diperiksa apa, benar-benar tidak masuk akal.”

 “Sekarang hamil dan pembuatan berkas memang harus ambil darah sebanyak itu? Dokter hanya sibuk membuka daftar pemeriksaan. Saat ditanya pemeriksaan apa saja, dokter hanya bilang semua ini harus diperiksa, dan sikapnya sangat tidak sabar. Setelah membuka daftar, langsung suruh bayar dan ambil darah.”

“Satu tabung saja belum tentu habis dipakai, kelebihannya malah seperti dijadikan kantong darah untuk dijual! Ibu hamil diambil darah terlalu banyak sampai belasan tabung. Kalau janinnya memang agak lemah, bisa menyebabkan suplai darah ibu ke janin tidak mencukupi, hingga detak jantung janin hilang dan terpaksa harus digugurkan.”

Seorang dokter di daratan Tiongkok menulis dalam sebuah unggahan,
“Sepuluh tahun lebih yang lalu, pemeriksaan kehamilan hanya mengambil satu tabung darah. Setelah itu perlahan bertambah. Dua tahun lalu diambil 8 tabung. Hanya dalam dua tahun sekarang sudah menjadi 12 tabung. Beberapa tahun lagi apakah harus diambil satu jin (sekitar setengah kilogram) darah?”

Seorang mantan dokter kandungan di Tiongkok, Mrs Liu, mengatakan kepada New Tang Dynasty bahwa dalam kondisi khusus, untuk ibu hamil tertentu yang memang membutuhkan pemeriksaan mendalam, pengambilan darah bisa mencapai 7 atau 8 tabung dan itu masih bisa dimengerti. Namun, jika pengambilan darah sampai belasan tabung dan terjadi secara umum, maka itu sangat tidak normal.

Seorang dokter yang juga kreator konten medis di Douyin mengatakan dalam sebuah video,
“Pengambilan darah dalam pemeriksaan kehamilan itu perlu, tetapi mengambil darah terlalu banyak adalah hal yang tidak perlu.”

Sejumlah warga Tiongkok  mengatakan kepada New Tang Dynasty bahwa rumah sakit di Tiongkok saat ini terasa sangat menakutkan dan sulit dipercaya: mulai dari pengambilan organ hidup-hidup, praktik pengobatan berlebihan, hingga memperlakukan pasien seperti objek eksperimen. Hal ini dianggap sangat mengerikan.

Laporan wawancara oleh reporter Li Li / Editor Fan Ming – NTD

Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara NORAD Dikerahkan ke Greenland

EtIndonesia. Komando Pertahanan Udara Amerika Utara (NORAD) baru saja mengumumkan melalui platform media sosial X bahwa beberapa pesawat militer AS akan ditempatkan di Pangkalan Antariksa Pituffik di Greenland. NORAD menyatakan bahwa ini merupakan operasi berskala besar yang telah lama dipersiapkan, dengan fokus pada pertahanan udara Amerika Utara.

Operasi ini tidak hanya melibatkan Amerika Serikat dan Kanada, tetapi juga dilakukan melalui kerja sama mendalam dengan Kerajaan Denmark. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kemampuan operasi terdistribusi yang berkelanjutan di tiga wilayah utama: Alaska, Kanada, dan wilayah daratan Amerika Serikat.

Militer AS menegaskan bahwa seluruh operasi telah memperoleh izin diplomatik dan telah diberitahukan kepada pemerintah Greenland. Di tengah semakin pentingnya posisi strategis Arktik, langkah ini memiliki makna simbolis yang sangat kuat.

Saat ini, situasi global terus memanas, dan lingkar pertahanan udara Amerika Utara semakin diperluas ke arah utara. Presiden AS Donald Trump terus menyuarakan bahwa demi “keamanan nasional”, Amerika Serikat perlu membeli Pulau Greenland. Analisis laporan terbaru menunjukkan bahwa Eropa, yang kini menghadapi tarif baru sebesar 10% yang diberlakukan Trump, cenderung memilih jalur negosiasi dan kemungkinan melakukan kompromi.

Komando Pertahanan Udara Amerika Utara (NORAD)

Merupakan komando operasi gabungan yang dijalankan bersama oleh Amerika Serikat dan Kanada, dengan tugas melindungi kedaulatan wilayah udara dan perairan Amerika Utara.

Pangkalan Antariksa Pituffik (Pituffik Space Base)

Fasilitas militer AS yang terletak paling utara di dunia, dan merupakan bagian kunci dari sistem peringatan dini rudal balistik Amerika Utara, sangat penting bagi pemantauan militer di kawasan Arktik.

Greenland

Terletak di antara Samudra Arktik dan Samudra Atlantik, merupakan zona penyangga dan jalur strategis penting di kawasan Arktik. Dalam beberapa tahun terakhir, kepentingan geopolitiknya meningkat pesat. (Hui)

Ledakan Besar Tiba-tiba di Restoran Tiongkok di Ibu Kota Afghanistan, 7 Orang Tewas Termasuk Warga Tiongkok

EtIndonesia. Sebuah restoran Tionghoa di pusat kota Kabul, ibu kota Afghanistan, yang terutama melayani komunitas Muslim Tiongkok, mengalami ledakan pada Senin (19 Januari). Restoran tersebut mengalami kerusakan parah. Insiden ini menewaskan sedikitnya 7 orang dan melukai lebih dari 10 orang. Para korban tewas termasuk seorang warga negara Tiongkok.

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), setelah ledakan terjadi di sebuah jalan di Distrik Shahr-e-Naw yang terkenal sebagai kawasan pedagang bunga, wartawan melihat mobil polisi dan ambulans berada di lokasi kejadian.

Diketahui bahwa kawasan tersebut merupakan zona relatif aman di ibu kota Afghanistan, yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya warga asing dan pelaku usaha. Di area ini terdapat gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, serta kedutaan besar. Pejabat Taliban telah mengkonfirmasi terjadinya insiden tersebut.

Organisasi non pemerintah Italia, EMERGENCY, menyatakan bahwa rumah sakit terdekat menerima “7 orang yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan saat tiba di rumah sakit”. Para korban tewas termasuk seorang petugas keamanan Afghanistan. Selain itu, 13 orang lainnya dirawat, termasuk 2 warga negara Tiongkok yang mengalami luka berat.

Juru bicara Kepolisian Kabul, Khalid Zadran, mengatakan bahwa lokasi ledakan adalah sebuah restoran mi Tiongkok yang terutama melayani Muslim Tiongkok.

“Seorang Muslim Tiongkok bernama Ayub dan enam warga Afghanistan tewas. Selain itu, beberapa orang lainnya terluka. Ledakan terjadi di dekat area dapur,” ujarnya. 

Zadran menambahkan bahwa penyebab ledakan masih dalam tahap penyelidikan.

Seorang pemilik toko bunga yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan mengatakan bahwa ledakan terjadi sekitar pukul 15.30 waktu setempat, di ujung lain jalan tempat tokonya berada. Ia mengatakan kepada AFP bahwa ia mendengar suara ledakan “sangat keras” di kawasan yang biasanya ramai tersebut.

Ia berkata:  “Ini situasi darurat. Semua orang sangat khawatir akan keselamatan jiwa mereka. Saya melihat setidaknya lima orang terluka.”

Video yang dibagikan di media sosial menunjukkan puing-puing berserakan di jalan di luar restoran. Bagian depan restoran tampak terkoyak membentuk lubang besa dengan asap tebal menyembur keluar dari dalam ruangan.

Editor penanggung jawab: Cheng Yiren – NTDTV.com

AS Mengundang 60 Negara Membentuk Komite Perdamaian Gaza, Trump Menjabat sebagai Ketua Seumur Hidup

Etindonesia. Baru-baru ini, Presiden Donald Trump mengirimkan undangan kepada lebih dari 60 negara dan organisasi internasional untuk bergabung dalam sebuah “Komite Perdamaian” yang baru dibentuk. Negara-negara yang diundang antara lain Prancis, Jerman, Hungaria, Australia, Uni Eropa, serta sejumlah negara utama di Timur Tengah. Saat ini, Hungaria, Kanada, dan Argentina telah menyatakan menerima undangan tersebut, sementara sebagian besar pemimpin negara lain masih bersikap menunggu dan mengamati.

Menurut rancangan anggaran dasar yang beredar saat ini, Komite Perdamaian tersebut akan dipimpin langsung oleh Presiden Trump sebagai ketua seumur hidup. Tahap pertama komite ini akan berfokus pada penanganan konflik Gaza, kemudian diperluas untuk menangani konflik internasional lainnya.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa anggota yang membayar 1 miliar dolar AS akan memperoleh kursi permanen, sementara anggota yang tidak membayar jumlah tersebut hanya akan memiliki masa jabatan selama tiga tahun.

Pejabat tersebut menyatakan bahwa seluruh dana yang terkumpul akan digunakan untuk rekonstruksi Gaza.

Anggota dewan eksekutif yang telah diumumkan meliputi:  Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus presiden Steve Witkof, menantu Presiden Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, CEO Apollo Global Management Marc Rowan, Presiden Bank Dunia Ajay Banga, serta Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Robert Gabriel.

Di antara lebih dari 60 negara dan organisasi yang diundang, Hungaria, Vietnam, Kanada, Mesir, Turki, Argentina, India, Yordania, Yunani, Siprus, Pakistan, dan Belarus telah menyatakan menerima undangan tersebut.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan:  “Saya akan melakukan yang terbaik, dan Kanada juga akan melakukan yang terbaik, untuk mencapai tujuan-tujuan kemanusiaan inti ini. Mengenai rincian spesifik dari ‘Komite Perdamaian’, kami belum mempelajarinya secara menyeluruh, termasuk struktur, cara operasinya, serta penggunaan dana. Oleh karena itu, dalam beberapa hari ke depan kami akan secara bertahap menelaah isu-isu tersebut.”

Kremlin pada Senin (19 Januari) menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin juga telah menerima undangan tersebut. Pihak Moskow sedang mempelajari proposal itu dan berharap dapat melakukan komunikasi lebih lanjut dengan Washington terkait hal ini.

Pihak Prancis bersikap lebih berhati-hati. Seorang pejabat Prancis mengatakan bahwa Prancis “untuk saat ini tidak berencana bergabung”, terutama karena kekhawatiran bahwa mekanisme tersebut dapat mempengaruhi peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sudah ada.

Uni Eropa juga mengkonfirmasi bahwa Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen telah menerima undangan, dan selanjutnya akan berdiskusi dengan para pemimpin Uni Eropa lainnya mengenai bagaimana merespons undangan tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menentang Turki dan Qatar untuk memegang posisi penting dalam komite tersebut, serta menyatakan bahwa komite ini “kurang berkoordinasi dengan Israel dan bertentangan dengan kebijakan Israel.”

Amerika Serikat diperkirakan akan secara resmi mengumumkan daftar anggota dalam beberapa hari ke depan, kemungkinan bertepatan dengan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

Laporan oleh jurnalis New Tang Dynasty Television Liu Jiajia, Amerika Serikat

Surat dari Norwegia dan Finlandia Bahas Greenland, Balasan Trump Jadi Viral

EtIndonesia. Pada 18 Januari sore, Perdana Menteri Norwegia dan Presiden Finlandia secara bersama-sama menulis surat kepada Presiden AS Donald Trump. Sejak awal, mereka menyerukan agar situasi “did­inginkan”. Mereka berharap, dalam isu-isu sensitif seperti Greenland, Gaza, dan Ukraina, semua pihak tidak bersikap terlalu konfrontatif, melainkan meredakan ketegangan—bahkan menyarankan agar dilakukan panggilan telepon untuk membicarakannya.

Namun, Trump membalas surat tersebut hanya dalam waktu 27 menit setelah menerimanya. Dalam balasannya, ia mengatakan bahwa karena Hadiah Nobel Perdamaian tidak diberikan kepadanya—padahal ia mengklaim telah menghentikan lebih dari delapan perang—maka ia tidak lagi merasa berkewajiban untuk hanya mempertimbangkan perdamaian. Yang lebih ia pedulikan sekarang adalah kepentingan Amerika Serikat dan apa yang menurutnya merupakan hal yang benar.

Trump juga secara terbuka mengangkat isu Greenland dalam surat itu. Menurut laporan Time Magazine, ia mempertanyakan dasar kepemilikan Denmark atas Greenland. Ia mengatakan bahwa berabad-abad lalu kapal kalian pernah singgah di sana, tetapi kapal kami juga pernah singgah. Lalu atas dasar apa wilayah itu menjadi milik kalian? Tidak ada dokumen tertulis yang membuktikannya.

Selain itu, Trump menegaskan bahwa Denmark pada dasarnya tidak mampu melindungi Greenland. Rusia dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) bisa saja memanfaatkan celah tersebut, sementara Amerika Serikat Lah yang memiliki kemampuan untuk menjaga wilayah itu.

Untuk mendorong perundingan soal Greenland, Trump pun mengeluarkan kartu tarif. Ia mengumumkan bahwa mulai 1 Februari, Amerika Serikat akan mengenakan tarif sebesar 10% terhadap delapan negara NATO—termasuk Denmark dan Norwegia—yang mengirim pasukan ke Greenland. Jika hingga 1 Juni belum tercapai kesepakatan, tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25%.

Trump menegaskan dengan jelas dalam suratnya: ia telah berbuat banyak untuk NATO, dan sekarang saatnya negara-negara tersebut memberikan imbalan. Serahkan Greenland kepada Amerika Serikat demi menjamin keamanan global.

Pernyataan ini segera memicu reaksi. Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut-sebut tidak bisa tinggal diam. Ada kabar bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk mengaktifkan “Instrumen Anti-Pemaksaan” Uni Eropa—yang dijuluki “bazoka perdagangan”—untuk membatasi masuknya produk Amerika ke pasar Eropa sebagai bentuk balasan. (Hui)

Krisis Demografi Tiongkok Kian Nyata: Kelahiran Terendah Sepanjang Sejarah PKT, Populasi Menyusut

EtIndonesia. Biro Statistik Nasional Tiongkok pada Senin, 19 Januari 2026, merilis data demografi terbaru yang kembali menegaskan bahwa negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia itu tengah menghadapi krisis kependudukan serius dan berlarut-larut.

Untuk tahun keempat berturut-turut, populasi Tiongkok tercatat mengalami pertumbuhan negatif. Sepanjang tahun 2025, jumlah penduduk berkurang 3,39 juta jiwa, melanjutkan tren penurunan yang dimulai sejak awal dekade ini.

Kelahiran Anjlok ke Titik Terendah Sejak 1949

Data resmi menunjukkan bahwa sepanjang 2025, jumlah kelahiran di Tiongkok hanya mencapai 7,92 juta bayi, dengan tingkat kelahiran 5,63 per 1.000 penduduk. Angka ini menjadi yang terendah sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949.

Sebagai perbandingan:

  • Tahun 2024: 9,54 juta kelahiran
  • Penurunan tahunan: 1,62 juta kelahiran
  • Penurunan persentase: sekitar 17% hanya dalam satu tahun

Sementara itu, jumlah kematian pada 2025 mencapai 11,31 juta orang, dengan tingkat kematian 8,04 per 1.000 penduduk, jauh melampaui angka kelahiran dan memperlebar defisit populasi nasional.

Lebih Rendah dari Era Kelaparan Besar

Para pengamat menilai angka ini sangat mencengangkan jika dilihat secara historis. Bahkan pada masa bencana kelaparan besar awal 1960-an, jumlah kelahiran masih berada di level yang jauh lebih tinggi.

Pada tahun 1961, ketika Tiongkok mengalami salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern:

  • Jumlah kelahiran masih mencapai 11,87 juta
  • Total populasi saat itu sekitar 650 juta jiwa

Sebaliknya, pada 2025, dengan populasi resmi yang diklaim pemerintah masih di atas 1,4 miliar jiwa, jumlah bayi yang lahir justru bahkan tidak mencapai 8 juta.

Pakar Demografi: “Setara dengan Tahun 1738”

Pakar demografi independen Yi Fuxian menilai kondisi ini sebagai sinyal bahaya ekstrem. Dia menyebut bahwa jumlah kelahiran Tiongkok kini hanya menyumbang sekitar 6% dari total kelahiran dunia.

Menurut Yi, angka 7,92 juta kelahiran setara dengan situasi pada tahun 1738, yakni tahun ketiga masa pemerintahan Kaisar Qianlong, ketika populasi Tiongkok diperkirakan hanya sekitar 150 juta jiwa.

“Perbedaannya, saat itu penduduk hanya 150 juta, sementara hari ini pemerintah mengklaim lebih dari 1,4 miliar,” ujar Yi.

Dia juga menegaskan bahwa meskipun data resmi telah melalui proses “penyesuaian” atau “pemolesan statistik”, kenyataannya angka yang dirilis tetap menunjukkan kemerosotan yang mengejutkan.

Ketakutan Melahirkan dan Beban Demografi

Sejumlah analis menilai bahwa rendahnya angka kelahiran bukan semata akibat faktor ekonomi, tetapi juga karena ketakutan struktural untuk membangun keluarga di bawah tekanan sosial, ekonomi, dan politik yang berkepanjangan.

Dampaknya:

  • Penuaan penduduk semakin cepat
  • Rasio usia produktif terus menurun
  • Apa yang dahulu disebut sebagai “bonus demografi” kini berubah menjadi beban demografi raksasa

Kondisi ini berpotensi mengguncang:

  • Sistem pensiun
  • Jaminan kesehatan
  • Stabilitas ekonomi jangka panjang

Pertanyaan Besar: Benarkah Populasi Masih 1,4 Miliar?

Di tengah krisis ini, muncul kembali keraguan luas terhadap keakuratan angka populasi resmi Tiongkok.

Beberapa estimasi tidak resmi yang pernah beredar:

  • 2018: Rusia memperkirakan populasi sekitar 800 juta jiwa, berdasarkan konsumsi pangan
  • 2019: Jepang memperkirakan angka serupa, sekitar 800 juta, melalui analisis konsumsi garam

Selain itu, seorang mantan pejabat yang disebut telah bekerja puluhan tahun di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah mengungkap secara pribadi bahwa:

  • Sebelum pandemi, populasi Tiongkok diperkirakan sekitar 750 juta jiwa
  • Hingga Januari 2023, jumlah tersebut disebut tinggal sekitar 320 juta jiwa

Jika klaim ini benar, maka selama periode pandemi saja, lebih dari 400 juta orang diduga telah meninggal, sebuah angka yang sangat kontras dengan statistik resmi pemerintah. Namun, klaim ini hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.

Sensor Internet Kian Ketat

Seiring memburuknya situasi domestik dan meningkatnya ketegangan global, akses terhadap informasi di Tiongkok disebut semakin terbatas.

Disebutkan bahwa:

  • Kurang dari 0,5% warga Tiongkok kini mampu mengakses internet tanpa sensor
  • Setelah peristiwa geopolitik besar di Timur Tengah, pengawasan digital diperketat
  • Banyak layanan VPN tidak lagi berfungsi

Di tengah kondisi ini, muncul kabar tentang alat anti-sensor baru yang dikembangkan oleh teknolog keturunan Tionghoa-Amerika. Alat tersebut diklaim dapat:

  • Menembus sistem sensor tanpa keahlian teknis
  • Diakses hanya dengan memindai kode QR
  • Memberikan koneksi internet yang lebih aman

Namun, biaya operasionalnya disebut cukup tinggi dan bergantung pada dukungan sukarela dari luar negeri.

Insiden Mengerikan di Guangdong: Truk Melawan Arus, Korban Terseret Puluhan Meter

Zhongshan, Guangdong — Senin malam, 19 Januari 2026

Di tengah sorotan terhadap krisis nasional, sebuah insiden kekerasan serius dilaporkan terjadi di Pelabuhan Zhongshan, Provinsi Guangdong, sekitar pukul 19.00 waktu setempat.

Menurut kesaksian warganet dan video yang beredar luas:

  • Sebuah truk putih melawan arus lalu lintas
  • Menabrak pengendara sepeda motor listrik
  • Melakukan tabrakan dan lindasan berulang
  • Korban terseret hingga sekitar 50 meter

Dalam rekaman video, terlihat sopir sempat mundur, lalu kembali mempercepat kendaraan ke arah korban yang sudah terjatuh. Sebuah mobil kecil berhasil menghindar, namun korban tidak sempat menyelamatkan diri.

Polisi akhirnya berhasil mengejar dan menangkap sopir. Terdapat rumor mengenai suara tembakan saat penangkapan, namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi. Pihak kepolisian setempat juga belum mengeluarkan pernyataan publik terkait motif maupun kondisi korban.

Kekerasan Sipil dan Keputusasaan Sosial

Terlepas dari motif yang mungkin melatarbelakangi insiden tersebut—baik dugaan penggunaan narkoba maupun luapan kebencian sosial—banyak pihak menegaskan bahwa menjadikan warga sipil sebagai target kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.

Video lain yang beredar menunjukkan sejumlah warga mulai merakit senjata sederhana, seperti:

  • Alat pemotong logam
  • Penyembur api rakitan
  • Perangkat laser modifikasi

Fenomena ini mencerminkan tingkat keputusasaan sosial yang semakin dalam, di mana sebagian masyarakat merasa tidak lagi memiliki saluran aman untuk menyampaikan keresahan dan harapan.

Penutup

Krisis demografi, ketertutupan informasi, serta meningkatnya insiden kekerasan sipil menunjukkan bahwa Tiongkok tengah berada pada fase tekanan multidimensi yang serius. Di tengah angka statistik yang terus menurun dan pertanyaan besar tentang transparansi data, masa depan sosial dan ekonomi negara itu kini menjadi sorotan dunia.

Warga Kanada Nyatakan Dukungan bagi Para Demonstran Iran, Serukan Perhatian Internasional

Pada akhir pekan yang baru saja berlalu, berbagai kota di Kanada menggelar aksi unjuk rasa dan pawai untuk mendukung perjuangan rakyat Iran, sekaligus menyerukan penggulingan pemerintahan diktator Ayatollah Khamenei.

EtIndonesia. Lebih dari sepuluh ribu orang berkumpul di pusat kota Toronto, Vancouver, dan sejumlah kota lainnya di Kanada untuk memprotes pemblokiran internet oleh pemerintah Iran serta pembantaian terhadap warga yang melakukan protes di berbagai wilayah Iran.

 “Saat ini jalanan di Iran dipenuhi darah, jumlah korban tewas tak terhitung. Yang lebih mengejutkan, pemerintah bahkan meminta uang kepada keluarga korban sebelum mau mengembalikan jenazah,” kata warga keturunan Iran di Toronto, Nozhan. 

Warga keturunan Iran di Vancouver, Fatima Jafari, berkata:  “Seluruh keluarga saya berada di Iran. Saya sudah lebih dari satu minggu tidak bisa menghubungi mereka.”

Warga keturunan Iran di Vancouver lainnya Arvin Sanaei, mengatakan:  “Kami membutuhkan bantuan dari seluruh dunia untuk membantu kami keluar dari rezim ini. Rezim ini mendukung terorisme dan mengekspor aksi teror ke seluruh dunia.”

Para peserta aksi mengecam rezim diktator yang melakukan penindasan berdarah terhadap para pengunjuk rasa di dalam negeri. Mereka menuntut diakhirinya kekerasan dan penganiayaan, serta menyerukan perhatian komunitas internasional. Mereka menuntut penggulingan rezim  yang berkuasa saat ini dan menyerukan agar Putra Mahkota Reza Pahlavi, yang telah hidup di pengasingan di Amerika Serikat selama 47 tahun, kembali ke Iran.

Warga keturunan Iran di Vancouver, Kian Kamyabi, mengatakan:  “Kami berkumpul di sini untuk menyuarakan aspirasi rakyat Iran. Kami ingin merebut kembali martabat kami, sejarah dan warisan kami. Kami juga sudah muak disandera oleh rezim Islam.”

Penyelenggara kegiatan di Vancouver, Pouria Mahmoudi, menyampaikan:  “Saudara-saudari kami, kalian tidak sendirian. Kita berjuang bersama, bahu-membahu. Tetaplah kuat.”

Ketua Budaya Iran di Tri-Cities Vancouver, Behzad Abdi, mengatakan:  “Mereka (masyarakat internasional) bisa mengusir duta besar Iran dan menutup kedutaan mereka. Rakyat Iran mendambakan kebebasan, dan kebebasan itu pasti akan segera datang.”

Ribuan warga keturunan Iran berkumpul dan berparade di jalan-jalan pusat kota, sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari dari masa pemerintahan Iran di pengasingan, untuk menyatakan solidaritas kepada rakyat Iran yang masih berjuang demi kebebasan di dalam negeri.

Warga keturunan Iran di Toronto, Naryam, mengatakan:  “Kami akan berjuang sampai akhir, karena pada saat ini juga, warga yang berani masih dibunuh di jalanan.”

Para peserta aksi menyerukan kepada pemerintah di berbagai negara agar segera mengambil tindakan dan membantu rakyat Iran yang tengah memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia dasar.

Warga keturunan Iran di Toronto, Shahaa, mengatakan:  “Kami berharap semua orang memiliki tempat yang aman, dan kami mendambakan perdamaian bagi semua.”

Warga Kanada dari berbagai latar belakang etnis juga turut bergabung untuk mendukung rakyat Iran, berharap mereka dapat segera menggulingkan rezim diktator dan memperoleh kebebasan serta hak asasi manusia.

Warga Hong Kong di Vancouver, Ken, mengatakan:  “Melihat mereka dibantai membuat saya sangat sedih, rasanya seperti melihat para mahasiswa Tiananmen pada peristiwa 4 Juni.”

Warga Hong Kong di Vancouver, Christine, mengatakan:  “Saya berharap semua rezim totaliter tumbang. Orang Hong Kong akan terus berdiri bersama rakyat Iran.”

Laporan wawancara oleh tim reporter New Tang Dynasty Television Kanada

Menangis di Kaki Buddha: Jeritan Sunyi Rakyat Tiongkok Menjelang Imlek

ETIndonesia. Kurang dari satu bulan lagi, Tahun Baru Imlek 2025 akan tiba. Seharusnya ini menjadi masa paling hangat dalam setahun—waktu untuk berbelanja, berkumpul bersama keluarga, dan menatap tahun baru dengan harapan. Namun di Tiongkok hari ini, suasana yang terlihat justru berbanding terbalik.

Alih-alih memenuhi pusat perbelanjaan, banyak warga justru berbondong-bondong menuju kuil. Bukan untuk memohon keberuntungan, melainkan untuk menumpahkan kesedihan yang tak lagi menemukan saluran di dunia nyata.

Tangisan di Gunung-gunung Suci

Di Gunung Jiuhua, salah satu gunung suci Buddhisme di Tiongkok, seorang pria muda terlihat bersujud di kaki patung emas Bodhisattva Ksitigarbha. Tubuhnya gemetar, tangisnya pecah, seolah semua beban hidup runtuh sekaligus di hadapan patung suci itu.

Sementara itu di Gunung Putuo, Provinsi Zhejiang, pemandangan serupa terulang. Di depan patung Bodhisattva Avalokitesvara, seorang perempuan muda berlutut di anak tangga batu, menangis sambil berdoa. Di bawah alas patung, deretan orang bersandar ke dinding, berlutut di tanah, dan menangis tanpa malu—tanpa suara ditahan.

Video-video ini menyebar luas di media sosial Tiongkok. Kolom komentar dipenuhi kalimat pendek yang menusuk hati:

“Seandainya aku juga bisa menangis di depan Buddha.”
“Aku benar-benar ingin menangis sepuasnya.”
“Aku menanggung begitu banyak penderitaan, tapi tak ada yang mengerti.”

Tangisan-tangisan itu bukan sekadar emosi sesaat. Itu adalah akumulasi luka sosial yang telah lama dipendam.

Dunia yang Diam-diam Berubah

Seorang blogger daratan Tiongkok menyimpulkan dengan getir: “Dunia ini sedang berubah tanpa suara—dan menjadi semakin asing.”

Dulu, meski hidup pas-pasan, masih ada kehangatan, tawa, dan kebahagiaan sederhana. Kini, rasa bahagia terasa terus merosot dari hari ke hari. Fenomena-fenomena yang dulu tak pernah terdengar—bahkan tak terbayangkan—kini muncul satu per satu, menyelimuti kehidupan sehari-hari rakyat.

Fenomena Aneh Pertama: Konsumsi Menghilang

Jalan-jalan kota kini dipenuhi toko-toko tutup. Papan bertuliskan “disewakan” dan “dijual” menggantikan etalase yang dulu ramai.

Banyak pemilik toko berkata pahit: bertahan enam bulan saja sudah dianggap beruntung, sebagian bahkan tutup sebelum tiga bulan.

Para ekonom akhirnya menyimpulkan satu fakta sederhana namun berat: rakyat benar-benar kehabisan uang.

Hari ini, bagi banyak orang, bisa makan dengan stabil, tetap sehat, dan tidur nyenyak sudah menjadi harapan terbesar—bukan lagi impian kemakmuran.

Fenomena Aneh Kedua: Pendidikan Tak Lagi Mengubah Nasib

Dulu, satu mahasiswa adalah harapan seluruh keluarga. Orangtua berhemat bertahun-tahun demi satu ijazah, berharap nasib keluarga ikut terangkat.

Kini, pasar kerja membeku. Lulusan universitas membanjiri jalanan dengan seragam kurir makanan, berjuang di tengah lalu lintas demi bertahan hidup. Bertahun-tahun belajar keras, yang menanti justru masa depan buram tanpa kepastian.

Dari sinilah lahir fenomena “rebahan”.

Bukan karena generasi muda malas, melainkan karena sekeras apa pun berusaha, mereka tetap terbentur langit-langit tak terlihat. Daripada terus terkuras secara mental, mereka memilih menurunkan ekspektasi—asal bisa bertahan hidup.

Fenomena Aneh Ketiga: Orang Sakit Takut ke Rumah Sakit

Dulu, rumah sakit berarti harapan. Kini, itu identik dengan biaya yang mencekik.

Sebelum pengobatan dimulai, pasien harus menjalani serangkaian tes mahal: CT scan, tes darah, EKG—bahkan untuk flu atau sakit gigi. Penyakit belum sembuh, tabungan sudah habis ribuan yuan.

Yang lebih menakutkan, muncul cerita-cerita tentang pasien yang masuk rumah sakit dan tak pernah pulang hidup-hidup. Setelah dinyatakan mati otak, organ tubuh segera diambil untuk transplantasi.

Dari sinilah lahir ungkapan pahit yang kini beredar luas: “Penyakit kecil ditahan, penyakit besar pasrah pada nasib.”

Fenomena Aneh Keempat: Rumah Tak Lagi Diinginkan

Tak peduli seberapa besar diskon atau slogan pengembang, pembeli rumah terus menyusut.

Dulu rumah adalah simbol status dan kekayaan. Kini itu dianggap beban hidup. Banyak orang kehilangan pekerjaan, tak sanggup membayar cicilan. Rumah disita, nama dicap sebagai penunggak utang—sementara harga properti terus merosot.

Daripada menjadi budak rumah dan budak utang, semakin banyak orang memilih menyewa dan hidup lebih bebas.

Fenomena Aneh Kelima: Orang Tak Mau Menikah

Data resmi menunjukkan, dalam sembilan bulan pertama tahun 2024, jumlah pernikahan nasional hanya 4,747 juta pasangan—angka terendah dalam hampir 40 tahun.

Anak muda berhitung dengan dingin: menikah berarti rumah, mobil, mahar; setelah menikah harus menopang empat generasi orangtua; biaya hidup melonjak drastis.

Maka era lajang pun dimulai.

Fenomena Aneh Keenam: Orang Tak Mau Punya Anak

Dulu orangtua berkata: hidup adalah hidup demi anak. Kini, membesarkan anak terasa seperti menghabiskan seluruh hidup dan masa depan.

Lebih jauh lagi, setelah legalisasi transplantasi organ dan komersialisasi tubuh manusia, muncul ketakutan yang jauh lebih gelap. Anak-anak dianggap rentan menjadi “tambang organ”. Cerita kehilangan misterius dan penculikan paksa ke ambulans menyebar dari mulut ke mulut.

Banyak orangtua akhirnya berpikir pahit: lebih baik tidak melahirkan, daripada kehilangan anak suatu hari tanpa jejak.

Menangis Karena Tak Ada Tempat Mengadu

Di tengah semua ini, rakyat hanya bisa menangis di depan Buddha. Bukan karena mereka terlalu religius, melainkan karena tak ada lagi tempat untuk mengadu.

Tangisan di kuil-kuil itu adalah jeritan sunyi sebuah masyarakat—sebuah tanda bahwa sesuatu telah retak jauh di dalam sendi kehidupan.

Menjelang Imlek 2025, ketika lentera merah mulai digantung, yang menyala bukanlah harapan, melainkan air mata yang tak lagi bisa ditahan.

Video Ledakan Pabrik Baja di Tiongkok, Lebih dari 40 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit 

Pada 18 Januari 2026, sebuah pabrik di Kota Baotou, Daerah Otonomi Mongolia Dalam, Tiongkok, mengalami ledakan. Di lokasi kejadian muncul “awan jamur”, dan gelombang kejut dahsyat memecahkan kaca pintu dan jendela rumah-rumah warga di sekitar. Lebih dari 40 orang telah dibawa ke rumah sakit setempat.

EtIndonesia. Berdasarkan laporan gabungan media daratan Tiongkok pada 18 Januari  sekitar pukul 15.00, terjadi insiden ledakan di pabrik cabang Baogang yang berlokasi di Desa Erjiahai, Distrik Jiuyuan, Kota Baotou. Video yang beredar di internet memperlihatkan awan jamur raksasa membumbung tinggi dari lokasi ledakan, dengan asap dan debu pekat menutupi langit.

Sejumlah warga yang tinggal di sekitar lokasi mengatakan kepada wartawan The Beijing News bahwa ledakan tersebut menyebabkan kaca pintu dan jendela di banyak rumah warga pecah akibat getaran hebat.

Hingga pukul 15.55 hari yang sama, lima orang korban luka telah berhasil dievakuasi. Beberapa warganet menyebutkan bahwa banyak ambulans berada di lokasi, dan rumah sakit seperti Rumah Sakit Baogang serta Rumah Sakit Baogang No. 3 telah menerima sejumlah besar korban luka.

Seorang staf Rumah Sakit Baogang mengatakan kepada Xiaoxiang Morning News bahwa lebih dari 40 korban luka telah dibawa ke rumah sakit tersebut, dengan kondisi luka yang bervariasi dari ringan hingga berat, dan saat ini sedang mendapatkan perawatan darurat.

Hingga kini, pihak berwenang belum mengumumkan penyebab pasti ledakan maupun jumlah korban jiwa dan luka secara resmi. (hui)