Wanita di Philipina Menyembah Patung Hijau Selama 4 Tahun, Menemukan Bahwa Itu Adalah Karakter Animasi Shrek

EtIndonesia. Seorang wanita di Philipina menghabiskan empat tahun menyembah patung Buddha hijau sebelum menemukan bahwa itu sebenarnya adalah figur cetak 3D dari karakter kartun Shrek.

Keyakinan wanita yang keliru ini telah memicu hiburan di media sosial.

Kisah ini dimulai empat tahun lalu ketika wanita yang tidak disebutkan namanya dari Manila, ibu kota Philipina, membeli “patung Buddha” dari sebuah toko lokal.

Dengan bentuknya yang bulat dan ekspresi lembutnya, dia percaya itu adalah penggambaran Buddha dan memperlakukannya dengan penuh hormat.

Dia menempatkannya di tempat yang menonjol di altar rumahnya dan mulai menyembahnya setiap hari, mempersembahkan dupa dan berdoa dengan harapan menerima berkah.

Namun, seorang teman yang berkunjung memperhatikan bahwa warna dan fitur wajah patung itu tampak sangat berbeda dari Buddha pada umumnya.

Setelah diperiksa lebih teliti, mereka menemukan bahwa patung yang selama ini disembahnya dengan penuh kekaguman sebenarnya adalah model Shrek yang dicetak 3D, yaitu ogre hijau fiktif dari film animasi Shrek, yang dikenal karena penampilannya yang mengintimidasi tetapi hatinya yang baik.

Setelah mengetahui kebenarannya, wanita itu merasa geli sekaligus terdiam.

Alih-alih merasa malu atau kesal, dia tertawa dan mengatakan bahwa yang benar-benar penting adalah ketulusan doanya, bukan patung itu sendiri. Dia menambahkan bahwa iman dengan niat baik lebih penting daripada penampilan.

Dia juga mengatakan bahwa dia berencana untuk terus menyembah patung Shrek tersebut.

Kejadian ini memicu kehebohan di media sosial.

Seseorang berkata: “Ini benar-benar lucu. Dia telah mendapatkan pahala, tetapi saya baru saja kehilangan satu poin pahala.”

Yang lain berkata: “Pengabdian dan iman kepada Tuhan datang dari dalam. Jadi bagaimana jika dia menyembah Shrek? Yang penting adalah pengabdian itu tulus.”

“Pesan moralnya adalah terkadang Anda juga perlu menonton film kartun,” kata yang ketiga.

Sementara orang keempat menambahkan: “Buddhisme telah lama menyerap unsur-unsur dari berbagai kepercayaan rakyat setempat, jadi tidak mengherankan atau bahkan mengejutkan jika seseorang mungkin berdoa kepada Shrek sebagai wujud Buddha. Jika ada Buddha di hatimu, maka itulah Buddha.”

Insiden ini menggemakan kasus serupa yang terjadi di Taman Premlok di Pune, India, Juni lalu, ketika air tiba-tiba menyembur keluar dari batang pohon poinciana kerajaan.

Penduduk setempat salah mengira itu sebagai mukjizat ilahi dan berbondong-bondong ke tempat itu untuk beribadah.

Namun, kemudian terungkap bahwa “air suci” itu sebenarnya disebabkan oleh pipa bawah tanah yang rusak di bawah pohon, yang memungkinkan air merembes keluar melalui batang pohon yang berongga. (yn)

Sumber Sebenarnya dari Kekacauan di Iran: Ideologi Radikal + Marxisme

 Situasi Iran terus menarik perhatian dunia. Seorang warga Iran yang tinggal di luar negeri menyatakan bahwa alasan Iran terjerumus hingga kondisi saat ini adalah akibat buruk dari perpaduan antara ideologi ekstrem dan Marxisme. 

Para pengamat menilai, krisis Iran memiliki banyak kesamaan dengan krisis yang dihadapi Partai Komunis Tiongkok (PKT). Gelombang perlawanan berani rakyat Iran membuat PKT sangat ketakutan, sekaligus memberi inspirasi bagi rakyat Tiongkok untuk menantikan datangnya perubahan.

EtIndonesia. Pada 15 Januari 2026, suasana di jalan-jalan Teheran masih sangat tegang. Di kedua sisi jalan terlihat banyak kantong jenazah, sementara warga yang cemas mencari jasad kerabat mereka yang terbunuh sambil meneriakkan slogan “Gulingkan Khamenei.”

Lembaga Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa hingga kini telah dikonfirmasi 2.417 pengunjuk rasa tewas, termasuk 12 anak-anak dan 10 warga sipil yang tidak terlibat demonstrasi. Namun, menurut laporan media Iran International, pembantaian tersebut setidaknya telah menyebabkan 12.000 orang tewas.

Selama aksi protes rakyat, Putra Mahkota terakhir Iran yang kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat, Reza Pahlavi, menyerukan kepada militer Iran agar meninggalkan rezim diktator dan melindungi rakyat.

Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, berkata:  “Kalian adalah tentara negara Iran, bukan angkatan bersenjata Republik Islam. Kalian memiliki tanggung jawab untuk melindungi sesama rakyat kalian. Waktu kalian tidak banyak, segeralah bergabung dengan barisan rakyat!”

Seorang warga Iran yang tinggal di luar negeri mengatakan bahwa ini adalah akibat dari puluhan tahun ideologi ekstrem yang dibawa kepada Iran. Ia menggambarkan sistem pemerintahan Iran sebagai gabungan antara ekstremisme  dan Marxisme.

 “Setelah Khomeini melancarkan apa yang disebut revolusi keempat, Iran dengan cepat benar-benar memutar balik arah sejarah. Metodenya sangat mirip dengan yang dilakukan Xi Jinping—dengan cepat berubah menjadi negara tertutup yang memadukan politik dan agama. Di satu sisi, Khomeini memberlakukan kontrol ketat terhadap kebebasan berbicara dan berpikir di dalam negeri, menerapkan pemerintahan represif, dan menyeret seluruh Iran ke dalam model negara yang didominasi ideologi ekstrem, menuju jalur terorisme,” ujar pengamat politik senior Tang Jingyuan. 

Aksi protes jalanan yang berlangsung berhari-hari di Iran telah memberi semangat besar bagi warga daratan Tiongkok, bahkan ada yang menyerukan petisi nasional agar rezim otoriter PKT segera runtuh.

Tokoh pembangkang Tiongkok Wang Jie mengatakan:  “Dalam dua hari terakhir saya melihat dua berita ini dan merasa sangat bersemangat. Tak disangka, rakyat Iran yang hidup di bawah rezim diktator dengan tekanan tinggi justru melangkah lebih dulu daripada rakyat Tiongkok dalam upaya menggulingkan tirani. Ini jelas menjadi dorongan dan inspirasi besar bagi rakyat Tiongkok.”

Baru-baru ini, sumber informasi mengungkapkan kepada The Epoch Times bahwa di tengah terus memanasnya situasi Iran, PKT secara internal sangat waspada, namun secara eksternal sengaja meremehkan situasi.

Tang Jingyuan menambahkan:  “Situasi sosial yang dihadapi Iran saat ini dan yang dihadapi PKT sebenarnya memiliki banyak kesamaan. Misalnya, kedua rezim sama-sama menghadapi krisis ekonomi yang sangat serius, dan krisis ekonomi inilah yang memicu krisis sosial besar.”

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui

Kapan Mengasah Gergaji?

EtIndonesia. Seseorang sedang berjuang keras menggergaji setumpuk kayu. Kayu lama belum habis dipotong, kayu baru sudah terus berdatangan, membuat tumpukan kian menggunung. Tak ada pilihan lain selain terus memperpanjang jam kerja.

Seseorang yang baik hati mengingatkannya: “Gergajimu sudah tumpul, itu sebabnya efisiensimu sangat rendah. Jika kamu mau mengasahnya, keadaan yang makin buruk ini bisa segera membaik.”

Orang itu bahkan tidak menoleh, dia menjawab ketus : “Pekerjaan saja sudah tidak ada habisnya, mana sempat mengasah gergaji?!”

Orang baik hati itu belum menyerah dan bertanya lagi : “Kalau begitu, kapan kamu akan mengasah gergajimu?”

Dengan lemah dia menjawab : “Nanti saja, setelah tumpukan kayu ini selesai.”

Kedengarannya seperti lelucon, tetapi di dunia perusahaan, situasi semacam ini justru sering terjadi.

Seorang direktur utama sebuah perusahaan mengeluhkan bahwa banyak manajer yang kurang kompeten dan perlu ditingkatkan melalui pelatihan. Dia pun menugaskan bagian SDM untuk menyelenggarakannya.

Bagian SDM bekerja dengan sangat cepat: menyusun materi, mencari pengajar, dan menyiapkan jadwal, lalu mengajukannya untuk persetujuan.

Namun hasilnya, direktur memberi catatan: “Saat ini sedang musim pesanan ramai. Demi menjaga produksi dan penjualan, sebaiknya pelatihan ditunda hingga musim sepi.”

Ketika musim sepi tiba, bagian SDM kembali mengajukan rencana yang sama. 

Tak disangka, direktur hanya menuliskan satu kata: “Tunda.” Tanpa penjelasan apa pun.

Dari pembicaraan samar para pimpinan senior, bagian SDM akhirnya mengetahui alasannya: “Bisnis sedang lesu, laba menurun. Dari mana ada dana untuk pelatihan?”

Ternyata, bagi banyak perusahaan, perhatian terhadap pendidikan dan pelatihan hanyalah slogan sesaat. Lalu bagaimana mungkin mereka menyalahkan kualitas SDM yang rendah atau kurangnya regenerasi talenta?

Di sebuah pabrik lain, pengiriman barang terus terlambat. Padahal, pesanan tidak melebihi kapasitas produksi, dan output bulanan bahkan hanya sekitar 60% dari kapasitas maksimal. Pemilik pabrik sangat tidak puas.

Alasan sang kepala pabrik selalu sama: “Tingkat kerusakan mesin terlalu tinggi.”

Akhirnya, pemilik pabrik tak tahan lagi dan bertanya: “Mengapa mesin tidak diperbaiki secara menyeluruh untuk menurunkan tingkat kerusakan?”

Kepala pabrik mengangkat tangan dengan wajah putus asa:  “Pesanan saja sudah dikejar-kejar, bahkan hari libur pun lembur. Mana mungkin menghentikan mesin untuk perbaikan?”

Pemilik pabrik balik bertanya : “Bukankah bisa diperbaiki saat malam hari setelah jam kerja?”

Kepala pabrik menjawab dengan nada mengeluh : “Siang hari saja sudah lembur sampai kelelahan.”

Sejujurnya, sekalipun harus menghentikan produksi di siang hari demi perbaikan menyeluruh, itu tetap sepadan.

Intinya bukan ada atau tidaknya waktu, melainkan apakah ada niat untuk benar-benar menyelesaikan masalah keterlambatan pengiriman. Jika tidak, semua alasan hanyalah dalih untuk menipu diri sendiri.

Banyak orang membeli banyak buku bagus demi pengembangan diri, berharap suatu hari bisa duduk tenang dan membacanya dengan saksama. 

Buku-buku itu pun disusun rapi di rak, sambil berjanji pada diri sendiri :  “Kalau sudah ada waktu, aku akan membaca dengan serius.”

Akhirnya, buku semakin banyak, waktu justru semakin sedikit—dan tak pernah benar-benar ada waktu untuk membaca.

Padahal, apa yang lebih penting daripada terlebih dahulu mengasah gergaji?

Renungan Redaksi

Pembaca yang terhormat, jika Anda bisa menyelesaikan membaca kisah ini, itu berarti Anda sedang terus belajar dan menambah pengetahuan.

Artinya, Anda sedang menjaga diri Anda tetap berada dalam kondisi “gergaji yang diasah”—siap bekerja dengan lebih tajam, efektif, dan bermakna. (jhn/yn)

Pesawat ATR 42-500 Milik Indonesia Air Hilang Kontak di Maros

EtIndonesia. Tim Badan SAR Nasional (BASARNAS) Makassar bergerak cepat menurunkan tim pencarian menyusul laporan hilangnya kontak dengan pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport, Sabtu (17/1/2026). 

Pesawat yang mengangkut 11 orang, terdiri dari 8 awak dan 3 penumpang, tersebut hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.

Informasi awal diterima oleh Basarnas Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026. Berdasarkan data yang dihimpun dari AirNav Indonesia, posisi terakhir pesawat diperkirakan berada di sekitar kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, dengan koordinat 04°57’08” LS dan 119°42’54” BT.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengonfirmasi bahwa personel SAR segera bergerak menuju lokasi dugaan. 

“Personel saat ini masih dalam perjalanan menuju lokasi. Informasinya daerah Leang-leang,” ujarnya.

Dalam operasi awal ini, Basarnas Makassar menurunkan sekitar 25 personel yang dibagi ke dalam tiga regu untuk mempercepat proses penelusuran di lapangan.

Data lebih rinci yang diterima dari manajemen AirNav Makassar mengungkap, pesawat tersebut membawa 11 orang di dalamnya, terdiri dari 8 awak dan 3 penumpang. Hilangnya kontak dilaporkan terjadi pada pukul 13.17 WITA.

Tim SAR dari Kantor SAR (Kansar) Makassar telah bergerak dengan membawa peralatan pendukung, termasuk satu unit mobil truk personel, satu unit mobil rescue, dan satu unit drone untuk membantu pencarian dari udara.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih berlangsung untuk menemukan titik lokasi pasti dan kondisi pesawat serta orang-orang di dalamnya. (***)

Menikmati Kealamian dalam Hidup

EtIndonesia. Suatu hari, seekor katak filsuf melihat seekor kelabang sedang berjalan.

Dia berpikir dalam hati :  “Berjalan dengan empat kaki saja sudah cukup merepotkan. Lalu bagaimana kelabang bisa berjalan dengan seratus kaki?”

“Bagaimana dia tahu kaki mana yang harus melangkah lebih dulu? Kaki mana yang mengikuti? Lalu setelah itu kaki yang mana lagi?”

Akhirnya, dia menghentikan kelabang dan menyampaikan pertanyaannya.

Kelabang menjawab : “Seumur hidupku aku berjalan, tetapi aku belum pernah memikirkan hal itu. Sekarang aku harus benar-benar memikirkannya dulu sebelum menjawabmu.”

Kelabang pun berdiri di sana selama beberapa menit… dan mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Dia terhuyung-huyung sejenak, lalu jatuh terkapar.

Kelabang berkata kepada katak : “Tolong jangan pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada kelabang lain. Sekarang aku bahkan tidak bisa mengendalikan kakiku sendiri!”

Bintang-bintang tidak memerlukan peta untuk bergerak mengikuti orbitnya yang melingkar. Jika justru diberi jangka dan penggaris, bisa jadi mereka malah tidak tahu harus ke mana, bahkan tersesat.

Manusia pun demikian. Ketika seseorang tidak percaya pada kehidupannya sendiri dan merasa harus selalu bergantung pada kitab, pepatah, atau aturan—terlalu banyak prinsip dan ajaran yang harus diikuti—maka ketika pikiran mulai membeda-bedakan dan menganalisis secara berlebihan, hasilnya akan sama seperti yang dialami kelabang akibat pertanyaan katak: kebingungan dan kehilangan arah.

Cobalah untuk menikmati kealamian hidup.

Berjalanlah dengan sepenuh perhatian. Makanlah dengan sepenuh kesadaran. Mencintailah dengan sepenuh hati.

Maka ketenangan dan kebahagiaan akan muncul dengan sendirinya.

Renungan Redaksi

Banyak hal dalam hidup terjadi secara alami—tanpa perlu dipaksa untuk diperhatikan, dipikirkan, atau dijalankan dengan sengaja.
Ketika kita terlalu memaksakan diri untuk memperhatikan, menganalisis, dan mengendalikan, justru kita kehilangan makna aslinya. Hasil yang muncul pun bukan lagi hakikat yang sejati.

Ambil contoh senyum. Senyum yang muncul dari kebahagiaan tulus tampak begitu cerah dan memikat. Namun ketika seseorang mulai berpikir bagaimana caranya tersenyum, senyum itu kehilangan sinarnya dan terlihat kaku.

Demikian juga dalam hidup— biarkan dia mengalir secara alami. (jhn/yn)

Sambut Imlek 2026 Grand Mercure Malang Mirama Gelar Gala Dinner Mewah “Year of The Fire Horse”

Malang  – Menyambut Tahun Baru Imlek 2577 atau Tahun Kuda Api, Grand Mercure Malang Mirama kembali menggelar perayaan spektakuler bertajuk “Gala Dinner Year of The Fire Horse”. Acara yang akan diadakan pada Senin, 16 Februari 2026 di Grand Ballroom Malang Mirama ini menjanjikan sebuah malam yang tak terlupakan, memadukan kemewahan, tradisi autentik, dan hiburan kelas atas.

Shio Kuda Api melambangkan kecepatan, semangat, dan keberanian. Grand Mercure Malang Mirama mengangkat filosofi ini dalam sebuah perhelatan yang dirancang sebagai destinasi utama keluarga dan komunitas di Malang Raya untuk merayakan kebersamaan.

“Saya berharap acara tahun ini lebih sukses dari sebelumnya, dengan seluruh meja terjual habis. Kami ingin menjadi rujukan berkumpul bagi keluarga dan kerabat di Malang Raya,” ujar Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama.

Hiburan Spektakuler dan Bintang Tamu Istimewa
Malam perayaan akan dihiasi oleh rangkaian pertunjukan istimewa, termasuk:

  • Penampilan spesial penyanyi Mandarin ternama, Marcelina Lim.
  • Pertunjukan magis dan penuh misteri Bian Lian (Tukar Topeng) dari Steve Angel Magic Enterprise.
  • Kemeriahan tradisional lewat Barongsai & Liong Dance dari Klenteng Eng An Kiong.
  • Live Music oleh Jingga Production dan Dance Performances dari Athena Flame Entertainment.
  • Acara akan dipandu oleh MC Eric Yuwono.

Sebagai puncak kejutan, tamu berkesempatan memenangkan Grand Prize menginap satu malam gratis di kamar Penthouse dengan pemandangan Kota Malang dari lantai tertinggi hotel.

Kuliner Premium Khas Lan Hua Chinese Restaurant
Pengalaman kuliner menjadi salah satu daya tarik utama. Hidangan autentik disiapkan secara khusus oleh Lan Hua Chinese Restaurant Malang, menampilkan menu-menu premium seperti:

  • Salmon Yu Sheng
  • Double Boiled Green Pelvic Shark Fin Soup with F10 Abalone
  • Braised Shark Fin Soup with Golden Pumpkin and Crab Meat

Tiga Nasihat

EtIndonesia. Sepasang suami istri yang baru menikah hidup dalam kemiskinan. 

Suatu hari, sang suami berkata kepada istrinya:  “Sayang, aku akan pergi bekerja ke tempat yang sangat jauh. Aku tidak akan pulang sampai aku mampu memberimu kehidupan yang layak dan terhormat. Aku hanya meminta satu hal darimu: selama aku pergi, tetaplah setia padaku. Aku pun akan setia padamu.”

Beberapa waktu kemudian, dia diterima bekerja di sebuah perkebunan besar.

Dia meminta satu syarat kepada pemilik perkebunan: “Izinkan saya bekerja di sini selama yang saya mau. Ketika saya merasa sudah waktunya pergi, Anda harus mengizinkan saya pergi. Dan pada hari saya pergi, barulah Anda memberikan seluruh upah yang saya peroleh.”

Keduanya sepakat. Pemuda itu bekerja di sana selama 20 tahun penuh tanpa satu hari pun libur.

Suatu hari, dia berkata kepada majikannya :  “Saya ingin pulang ke rumah.”

Majikan itu menjawab :  “Aku akan menepati perjanjian. Tapi aku punya satu usulan: aku bisa memberimu uangmu sekarang, atau aku bisa memberimu tiga nasihat. Pikirkan baik-baik sebelum memutuskan.”

Dia berpikir selama dua hari, lalu kembali dan berkata : “Saya memilih tiga nasihat itu.”

Majikannya mengingatkan:  “Jika kamu memilih nasihat, aku tidak akan memberikan uangmu.”

Namun dia tetap berkata:  “Saya memilih nasihat.”

Majikan itu pun berkata:

  1. Jangan pernah mengambil jalan pintas. Jalan yang terlihat lebih cepat dan asing bisa merenggut nyawamu.
  2. Jangan pernah penasaran pada hal-hal yang mungkin buruk. Rasa ingin tahu itu bisa membunuhmu.
  3. Jangan pernah mengambil keputusan saat diliputi kebencian dan penderitaan. Kamu pasti akan menyesalinya kelak.

Majikan itu lalu menambahkan : “Ini ada tiga roti. Dua untuk kamu makan di perjalanan. Satu lagi, makanlah bersama istrimu saat kamu tiba di rumah.”

Setelah 20 tahun jauh dari istri tercinta dan kampung halaman, pria itu pun memulai perjalanan pulang.

Sehari kemudian, dia bertemu seseorang yang berkata :  “Jalan ini terlalu jauh. Aku tahu jalan pintas—beberapa hari saja sudah sampai.”

Dia sangat gembira dan hampir saja mengambil jalan pintas itu. Namun dia teringat nasihat pertama, lalu kembali ke jalan semula.

Belakangan, dia mengetahui bahwa “jalan pintas” itu ternyata sebuah jebakan.

Beberapa hari kemudian, dia kelelahan dan melihat sebuah penginapan di pinggir jalan. Dia memutuskan bermalam. Setelah membayar, dia pun tertidur.

Di tengah malam, dia terbangun oleh jeritan mengerikan. Dia bangkit, berjalan ke pintu, hendak melihat apa yang terjadi. Tepat saat membuka pintu, dia teringat nasihat kedua. Dia pun kembali ke tempat tidur dan melanjutkan tidur.

Pagi harinya, setelah minum kopi, pemilik penginapan bertanya apakah dia mendengar jeritan malam tadi. 

Dia menjawab:  “Ya.”

Pemilik penginapan bertanya lagi :  “Anda tidak penasaran?”

Dia menjawab,: “Tidak.”

Pemilik penginapan berkata : “Anda adalah tamu pertama yang keluar dari sini dalam keadaan hidup. Anak tunggal saya mengidap gangguan jiwa. Tadi malam, dia berteriak untuk memancing tamu keluar kamar, lalu membunuh dan mengubur mereka.”

Pria itu melanjutkan perjalanan. Akhirnya, pada suatu senja, dari kejauhan dia melihat rumah kecilnya. Cerobongnya mengepulkan asap, dan samar-samar terlihat sosok istrinya. Meski hari mulai gelap, dia melihat istrinya tidak sendirian—ada seorang pria yang bersandar di pangkuannya, dan istrinya mengelus rambut pria itu.

Melihat pemandangan itu, hatinya dipenuhi kebencian dan penderitaan. Dia ingin masuk dan membunuh mereka. 

Dia menarik napas dalam-dalam dan melangkah cepat—lalu teringat nasihat ketiga. Dia pun berhenti.

Keesokan paginya, setelah pikirannya tenang, dia berkata pada diri sendiri : “Aku tidak bisa membunuh istriku. Aku akan kembali kepada majikanku dan memohon untuk diterima kembali. Namun sebelum itu, aku ingin mengatakan pada istriku bahwa aku selalu setia padanya.”

Dia mengetuk pintu. Istrinya membuka pintu, mengenalinya, lalu berlari memeluknya erat.

Dia ingin mendorong istrinya, tetapi tidak sanggup. 

Dengan mata berkaca-kaca dia berkata :  “Aku setia padamu, tapi kamu mengkhianatiku…”

Istrinya terkejut :  “Apa? Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku menunggumu selama 20 tahun.”

Dia berkata : “Kalau begitu, siapa pria yang kamu elus semalam?”

Istrinya menjawab :  “Itu anak kita. Saat kamu pergi, aku sedang hamil. Tahun ini usianya genap 20 tahun.”

Sang suami masuk ke rumah dan memeluk putranya.

Saat istrinya menyiapkan makan malam, dia menceritakan pengalamannya kepada sang anak.

Kemudian, mereka sekeluarga duduk bersama untuk memakan roti. Ketika dia membelah roti pemberian majikannya, dia menemukan sejumlah uang di dalamnya—itulah upah kerja kerasnya selama 20 tahun.

Manusia sering kali terbiasa melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri… hingga akhirnya… kebenaran terungkap.

Renungan Redaksi

Jika tiga nasihat dalam cerita ini benar-benar dipahami dan dipraktikkan, niscaya kita dapat menghindari banyak jebakan dan penyesalan dalam hidup.

Namun, jika dihadapkan pada pilihan upah 20 tahun kerja versus tiga nasihat, meninggalkan uang sebesar itu demi tiga nasihat sungguh terasa seperti perjudian yang gila.

Mungkin hanya tokoh dalam cerita inilah yang akan memilih tiga nasihat tersebut.

Bagaimanapun, upah 20 tahun adalah harta yang sangat besar, sedangkan nilai tiga nasihat itu tidak dapat diukur—dan bisa berbeda bagi setiap orang.

Bagi sebagian orang, tiga nasihat itu mungkin tak bernilai apa-apa. Bahkan nasihat pertama bisa ditafsirkan menjadi:  “Uang di tangan harus segera dimasukkan ke kantong; jangan bertaruh pada hal yang tidak pasti agar tidak berakhir dengan tangan kosong.”

Jika demikian, orang itu hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu percaya pada orang lain, menyerahkan uang hasil jerih payah, dan akhirnya hanya mendapat pelajaran pahit.

Untungnya, tiga nasihat ini bisa kita peroleh tanpa risiko apa pun. Cukup dengan menenangkan diri, membaca, dan merenungkannya. Mari kita hargai keberuntungan ini—dan bagikan pula kepada teman-teman kita, agar mereka pun mendapatkan tiga nasihat berharga ini. (jhn/yn)

Media: Rusia Membantu Iran Menekan Protes Tanpa Intervensi Langsung

EtIndonesia. Rusia secara aktif mendukung Iran dalam menekan protes dengan memasok senjata dan teknologi kontrol. Kremlin memilih bantuan secara diam-diam daripada intervensi militer langsung, untuk melindungi kepentingannya sendiri, menurut Foreign Policy.

Menurut media tersebut, Rusia tidak mengirim pasukan ke Iran tetapi secara aktif membantu rezim tersebut memperkuat mekanisme represifnya.

Senjata Rusia

Moskow memasok senapan serbu, senapan sniper, kendaraan lapis baja, dan helikopter, serta menyediakan teknologi untuk kontrol internet dan penanggulangan protes.

Setelah gelombang protes sebelumnya, delegasi Iran mengunjungi anak perusahaan konglomerat pertahanan Rusia, di mana mereka membahas alat kejut, granat kejut, dan bahan peledak yang dirancang untuk menetralisir demonstran sambil meminimalkan dampak politik.

Pemadaman Internet

Pada 8 Januari, Iran juga menerapkan pemadaman internet yang berkepanjangan, yang melumpuhkan masyarakat tetapi memungkinkan platform pemerintah dan sistem perbankan untuk terus berfungsi.

Hal ini memberi pihak berwenang kendali penuh atas komunikasi dan koordinasi pasukan tanpa campur tangan eksternal langsung.

Rusia juga berupaya mendukung rezim tersebut secara diplomatik, menggunakan statusnya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk memblokir atau mengurangi sanksi terhadap Iran.

Pada saat yang sama, intervensi militer langsung oleh Moskow tetap tidak mungkin terjadi. Kremlin mengejar strategi bantuan tidak langsung untuk menjaga jarak yang masuk akal dari represi politik domestik.

Represi rezim

Iran telah menyaksikan protes terbesar sejak 2022, dipicu oleh penurunan tajam mata uang nasional dan krisis ekonomi yang semakin dalam.

Di tengah devaluasi rial yang cepat, inflasi yang mencapai rekor tertinggi, dan meningkatnya keresahan sosial, ribuan orang turun ke jalan meskipun mendapat represi keras dari pihak berwenang.

Pemerintah Iran mengklaim bahwa situasi di negara itu stabil dan sepenuhnya terkendali. Namun, saksi mata yang dikutip oleh Fox News melaporkan penembakan terhadap demonstran yang tidak bersenjata dan aktivitas penembak jitu, yang bertentangan dengan pernyataan resmi pemerintah.

Menurut laporan yang belum diverifikasi, sekitar 12.000 orang mungkin tewas selama protes tersebut.

Sebelumnya, 648 kematian secara resmi dikonfirmasi selama protes anti-rezim terbesar di Iran. Pada saat yang sama, laporan menunjukkan bahwa jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi — menurut perkiraan paling pesimistis, hingga 6.000 orang. (yn)

Meredakan Amarah

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, ada seorang wanita yang sangat mudah marah hanya karena hal-hal kecil dan sepele. Dia sendiri sadar bahwa kebiasaan ini tidak baik. Karena itu, dia mendatangi seorang biksu agung untuk meminta petunjuk, berharap bisa belajar tentang jalan kebijaksanaan dan melapangkan hatinya.

Setelah mendengarkan keluh kesah wanita itu, sang biksu tidak berkata apa-apa. Dia hanya membawanya ke sebuah kamar meditasi, menguncinya dari luar, lalu pergi begitu saja.

Wanita itu langsung marah besar, melompat-lompat sambil memaki-maki. Dia berteriak dan mengumpat cukup lama, tetapi sang biksu sama sekali tidak menanggapi.

Setelah lelah memaki, dia mulai memohon dengan suara lirih. Namun sang biksu tetap diam, seakan tidak mendengar apa pun.

Akhirnya, wanita itu terdiam.

Biksu itu lalu datang ke depan pintu dan bertanya : “Apakah kamu masih marah?”

Wanita itu menjawab:  “Aku marah pada diriku sendiri. Mengapa aku bisa sampai ke tempat ini dan menderita seperti ini?”

“Orang yang bahkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin hatinya bisa setenang air?”

Sang biksu mengibaskan lengan jubahnya dan pergi.

Beberapa saat kemudian, sang biksu kembali bertanya :  “Masih marah?”

“Tidak,” jawab wanita itu.

“Mengapa?”

“Karena marah pun tidak ada gunanya.”

“Amarahmu belum benar-benar lenyap, dia hanya tertekan di dalam hati. Jika meledak nanti, justru akan lebih hebat,” ” kata sang biksu, lalu dia kembali pergi lagi.

Untuk ketiga kalinya, sang biksu datang ke depan pintu. 

Wanita itu berkata : “Aku sudah tidak marah lagi, karena memang tidak pantas untuk marah.”

“Kamu masih menilai pantas atau tidak pantas,” kata sang biksu sambil tersenyum. “Berarti di hatimu masih ada pertimbangan, dan di sana masih tersisa akar amarah.”

Saat bayangan sang biksu berdiri di depan pintu, disinari cahaya matahari senja, wanita itu bertanya :  “Guru, sebenarnya apa itu amarah?”

Sang biksu menuangkan air teh dari cangkirnya ke tanah. 

Wanita itu memandangnya lama… lalu tiba-tiba tercerahkan. Dia bersujud berterima kasih, lalu pergi.

Mengapa harus marah?  Amarah itu seperti sesuatu yang dimuntahkan orang lain, tetapi justru kita terima dan masukkan ke dalam mulut sendiri. Jika kita menelannya, perut kita yang mual. Jika kita tidak memedulikannya, dia akan lenyap dengan sendirinya.

Marah adalah menggunakan kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri.

Matahari senja berkilau seperti emas, bulan bersinar laksana perak. Kebahagiaan dan berkah hidup saja belum tentu sempat dinikmati sepenuhnya—lalu dari mana kita punya waktu untuk marah?

Renungan Redaksi

Orang-orang lebih senang bergaul dengan mereka yang berwajah ramah dan murah senyum. Marah sehari, bahagia pun sehari—lalu mengapa tidak memilih menjalani setiap hari dengan gembira?

Semoga kita semua bisa hidup dengan hati yang ringan, bahagia, dan tersenyum dalam perjalanan hidup ini. (jhn/yn)

Menurutmu, Apa Faktor Paling Penting dalam Kesuksesan Karier?

EtIndonesia. Kecerdasan tidak akan pernah mampu menutupi kekosongan moral. Moralitas adalah fondasi kekuatan suatu bangsa—lalu mengapa banyak negara maju di Eropa tetap kuat dan makmur?

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah acara wawancara di televisi, hadir seorang pengusaha muda yang cukup terkenal saat ini. 

Menjelang akhir acara, seperti biasa, pembawa acara mengajukan pertanyaan terakhir: “Menurut Anda, kualitas apa yang paling menentukan kesuksesan dalam berkarier?”

Setelah merenung sejenak, dia tidak langsung menjawab. Dengan tenang, dia justru menceritakan sebuah kisah berikut ini:

Dua belas tahun yang lalu, seorang pemuda baru saja lulus kuliah dan pergi ke Prancis untuk melanjutkan studi sambil bekerja paruh waktu.

Seiring waktu, dia menyadari bahwa sistem transportasi umum di sana menggunakan sistem pembelian tiket mandiri. Artinya, penumpang membeli tiket sendiri sesuai tujuan. Stasiun-stasiunnya hampir semuanya terbuka—tidak ada gerbang pemeriksaan, tidak ada petugas tiket, bahkan pemeriksaan acak pun sangat jarang dilakukan.

Dia melihat hal ini sebagai sebuah “celah” dalam sistem pengelolaan—setidaknya menurut cara berpikirnya.

Dengan kecerdasannya, dia menghitung peluangnya secara matematis: kemungkinan tertangkap karena naik tanpa tiket hanya sekitar tiga dari sepuluh ribu.

Dia merasa bangga dengan “penemuan” ini. Sejak saat itu, dia pun sering naik kendaraan umum tanpa membeli tiket. Dia bahkan menemukan alasan untuk menenangkan dirinya sendiri: “Aku kan masih mahasiswa miskin. Bisa hemat sedikit, ya hemat saja.”

Empat tahun berlalu. Dengan ijazah dari universitas ternama dan prestasi akademik yang sangat baik, kepercayaan dirinya melonjak. Dia mulai sering melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan multinasional di Paris, dengan penuh keyakinan menawarkan dirinya—karena dia tahu perusahaan-perusahaan itu tengah gencar mengembangkan pasar Asia Pasifik.

Awalnya, perusahaan-perusahaan tersebut menyambutnya dengan sangat antusias. Namun beberapa hari kemudian, semuanya menolak dengan alasan yang sopan.

Kegagalan demi kegagalan membuatnya marah. Dia yakin bahwa perusahaan-perusahaan itu bersikap diskriminatif dan tidak mau menerima orang Tiongkok.

Pada akhirnya, dia mendatangi kantor manajer HRD salah satu perusahaan dan menuntut penjelasan yang masuk akal mengapa dirinya tidak diterima.

Namun, jawaban yang dia dapatkan benar-benar di luar dugaannya.

Berikut adalah potongan dialog yang sangat menggugah: “Pak, kami sama sekali tidak mendiskriminasi Anda. Justru sebaliknya, kami sangat menghargai Anda.

Perusahaan kami sedang mengembangkan pasar Tiongkok dan membutuhkan talenta lokal yang unggul. Karena itu, sejak awal kami sangat tertarik pada latar belakang pendidikan dan kemampuan akademik Anda. Terus terang, dari sisi kemampuan kerja, Anda adalah kandidat yang kami cari.”

“Kalau begitu, mengapa perusahaan tidak mau menerima talenta terbaik?”

“Karena kami memeriksa catatan kredit Anda, dan menemukan bahwa Anda pernah tiga kali tertangkap melakukan pelanggaran naik bus tanpa tiket.”

“Saya tidak menyangkal hal itu. Tapi hanya karena masalah kecil seperti ini, kalian menolak seseorang yang telah berkali-kali menerbitkan artikel ilmiah?”

“Masalah kecil? Kami tidak menganggapnya sepele. Kami mencatat bahwa pelanggaran pertama terjadi pada minggu pertama Anda tiba di negara kami. Saat itu, petugas percaya pada penjelasan Anda karena Anda mengaku belum memahami sistem tiket mandiri, sehingga hanya diminta membeli tiket tambahan. Namun setelah itu, Anda masih dua kali kembali melanggar.”

“Saat itu kebetulan saya tidak punya uang receh.”

“Tidak, Pak. Saya tidak setuju dengan penjelasan tersebut. Anda justru meremehkan kecerdasan saya. Saya yakin sebelum tertangkap, Anda sudah ratusan kali naik tanpa tiket.”

“Bukankah itu tidak sampai pada kejahatan besar? Mengapa harus dipermasalahkan sedemikian rupa? Bukankah saya bisa berubah ke depannya?”

“Tidak, Pak. Peristiwa ini membuktikan dua hal:

Pertama, Anda tidak menghormati aturan. Lebih dari itu, Anda pandai menemukan celah dalam aturan dan sengaja memanfaatkannya.

Kedua, Anda tidak dapat dipercaya. Sementara banyak pekerjaan di perusahaan kami hanya bisa dijalankan berdasarkan kepercayaan. Jika Anda bertanggung jawab atas pengembangan pasar di suatu wilayah, perusahaan akan memberi Anda wewenang yang besar. Demi efisiensi biaya, kami tidak mungkin membangun sistem pengawasan yang rumit—sama seperti sistem transportasi umum kami.

Karena itu, kami tidak bisa mempekerjakan Anda. Bahkan dapat saya pastikan, di negara ini—bahkan di seluruh Uni Eropa—Anda mungkin tidak akan menemukan perusahaan yang bersedia mempekerjakan Anda.”

Barulah saat itu dia tersadar sepenuhnya dan diliputi penyesalan yang mendalam. Namun kalimat terakhir dari pihak perusahaanlah yang benar-benar mengguncang hatinya:

“Moralitas sering kali mampu menutupi kekurangan kecerdasan. Namun kecerdasan tidak akan pernah mampu mengisi kekosongan moral.”

Renungan Redaksi

Tidak memasang aturan secara ketat bukan berarti tidak ada aturan.

 “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin kamu terima”—itulah aturan paling dasar.

Tidak adanya pengawasan bukan berarti tidak ada penjagaan. Hati manusia adalah penjaga terbaik. Segala yang kamu lakukan akan tersimpan dalam ingatan orang lain.

Hari ini terbiasa mencari celah, esok hari akan terbiasa mengejar keuntungan semata, dan akhirnya lupa pada moral.

Integritas adalah modal terbesar dalam hidup. Dia juga menjadi ukuran utama bagi orang lain untuk menilai apakah kita layak dipercaya dan diberi tanggung jawab. (jhn/yn)

Kapal Tanker Rusia Berbelok Mendadak di Laut Baltik, Apa yang Terjadi?

EtIndonesia. Sebuah kapal tanker minyak Aframax bernama Arcusat, yang sedang menuju pelabuhan Rusia, melakukan manuver tak terduga dan berbalik arah, menghindari memasuki Laut Baltik, menurut Bloomberg.

Kapal tanker tersebut, yang terkait dengan armada bayangan Rusia, menarik perhatian para analis dengan rutenya yang tidak biasa. Kapal tersebut, yang sedang menuju untuk memuat bahan baku di salah satu pelabuhan Rusia, tiba-tiba berhenti bergerak menuju Laut Baltik, berbalik arah, dan menuju ke arah lain.

Manuver Misterius di Baltik

Arcusat termasuk dalam apa yang disebut kapal tanker hantu yang digunakan Rusia untuk menghindari sanksi Barat dan pembatasan harga minyak. Perubahan haluan yang tiba-tiba ini mungkin menunjukkan masalah teknis atau tantangan baru bagi logistik Kremlin.

Detail penting dari insiden tersebut:

  • Geografi: Belokan terjadi tepat sebelum memasuki selat sempit yang menuju ke Laut Baltik.
  • Afiliasi: Kapal tersebut tidak memiliki asuransi yang transparan atau struktur kepemilikan yang jelas, yang merupakan ciri khas armada bayangan.
  • Konsekuensi: Gangguan pelayaran seperti itu menunda ekspor minyak Rusia dan menciptakan biaya logistik tambahan bagi pihak agresor.

Jerman menolak kapal tanker Rusia untuk pertama kalinya

Arcusat sedang menuju Teluk Finlandia untuk memuat minyak Rusia, tetapi saat melewati selat sempit antara Denmark dan Swedia, kapal tersebut tiba-tiba berbalik arah dan menuju Arktik. Menurut laporan media Jerman, ini disebabkan oleh paksaan langsung dari otoritas Jerman, meskipun Kepolisian Federal belum secara resmi mengomentari penyelidikan tersebut.

Ini adalah kasus pertama yang tercatat di mana sebuah negara Eropa secara paksa menolak akses kapal bayangan ke Laut Baltik. Jika strategi seperti itu menjadi sistematis, hal itu dapat sepenuhnya melumpuhkan kemampuan Moskow untuk mengekspor minyak mentah dari wilayah tersebut.

Kapal tersebut menggunakan taktik bendera kemudahan. Dalam berbagai basis data, kapal tersebut terdaftar di bawah bendera Tanzania dan Kamerun, yang merupakan tanda khas upaya untuk menyembunyikan pemilik sebenarnya.

Tekanan pada Armada Bayangan

Para ahli Bloomberg mencatat bahwa telah terjadi peningkatan pengawasan terhadap kapal-kapal semacam itu di perairan internasional baru-baru ini. Ini bukan pertama kalinya kapal tanker yang beroperasi untuk kepentingan Moskow mengalami kesulitan saat melewati jalur laut penting.

Meskipun Rusia berupaya menyembunyikan rute dengan mematikan pemancar AIS, pemantauan satelit memungkinkan pergerakan anomali tersebut untuk direkam.

Washington telah meluncurkan operasi skala besar terhadap armada bayangan yang berupaya mengekspor minyak dari Venezuela dengan memanipulasi bendera dan nama.

Pada awal Januari, pasukan AS melakukan serangkaian pencegatan di perairan netral. Kasus yang paling menonjol adalah penahanan Bella 1 (Marinera) di Atlantik Utara.

Hampir bersamaan dengan pencegatan di Atlantik, militer AS melakukan operasi yang sukses di Laut Karibia, menahan kapal lain dari armada bayangan, kapal tanker Sophia.

Di Laut Karibia, pasukan khusus AS menyita kapal tanker Veronica yang dikenai sanksi, yang merupakan kapal keenam yang ditahan sebagai bagian dari operasi tersebut. Kapal tersebut melanggar embargo dengan memanipulasi dokumen dan sistem pelacakan untuk secara ilegal mengangkut minyak untuk Iran, Rusia, dan Venezuela.

Para anggota parlemen Amerika menuntut agar pemerintahan Donald Trump mengambil langkah-langkah radikal, mulai dari sanksi yang ditargetkan hingga penangkapan massal kapal-kapal yang membawa minyak Rusia.(yn)

Pembersihan Internal Besar-besaran Terus Berlanjut di Militer Partai Komunis Tiongkok, 10 Jenderal Menghilang Bersamaan

Pembersihan besar-besaran di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus meningkat. Pada Sidang Pleno Kelima Komisi Pusat Inspeksi Disiplin (KPKD) PKT yang ditutup pada 14 Januari, tercatat sebanyak 10 anggota dari kalangan militer tidak hadir, termasuk mantan Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Disiplin Militer, Letnan Jenderal Chen Guoqiang. Para pakar menilai hal ini menunjukkan bahwa pembersihan internal di militer PKT masih terus berlangsung.

EtIndonesia. Sidang Pleno Kelima KPKD PKT digelar pada 12 hingga 14 Januari. Komunike sidang menunjukkan bahwa jumlah anggota KPKD yang hadir adalah 120 orang, berkurang 11 orang dibandingkan tahun lalu.

Pengamat juga mencatat bahwa dari total 22 anggota KPKD yang berasal dari sistem militer, tahun lalu semuanya hadir, namun tahun ini 10 orang absen—hampir setengahnya. Mereka terdiri dari 8 letnan jenderal dan 2 mayor jenderal.

Para anggota militer yang absen berasal dari berbagai matra, termasuk angkatan darat, laut, udara, serta Pasukan Polisi Bersenjata. 

Di antaranya adalah mantan Wakil Sekretaris Komisi Disiplin Komisi Militer Pusat, Letnan Jenderal Chen Guoqiang; Wakil Komisaris Politik Angkatan Laut, Letnan Jenderal Leng Shaojie; serta Wakil Komisaris Politik Angkatan Laut, Letnan Jenderal Cheng Dongfang.

 “Ini menunjukkan bahwa pembersihan besar-besaran di dalam militer PKT masih terus berlangsung. Kita melihat para jenderal senior dari berbagai matra, termasuk dari Komando Teater Timur dan Selatan, satu per satu tersandung kasus. Kini yang ditangkap adalah para kroni mereka,” kata Pembawa acara Military Intelligence Bureau, Zhou Ziding. 

Pada Sidang Pleno Keempat PKT yang digelar Oktober tahun lalu, dari 42 anggota Komite Sentral yang berasal dari militer, 27 orang tidak hadir, dengan tingkat ketidakhadiran mencapai 63 persen, di mana 22 di antaranya berpangkat jenderal penuh.

 “Pembersihan besar-besaran di militer secara keseluruhan—tingkat jatuhnya dan tersingkirnya para jenderal senior—jauh melampaui bayangan dunia luar. Dilihat dari dua indikator ini saja, yakni tingkat kehadiran anggota Komite Sentral dan anggota KPKD, sudah tampak bahwa situasi internal sebenarnya jauh lebih rumit dan mungkin tak terbayangkan oleh pihak luar,” ujar penulis kolom Epoch Times, Wang He. 

Tahun lalu, pada Sidang Pleno Keempat tersebut, sembilan jenderal yang sebelumnya dipromosikan dan dipercaya oleh pemimpin PKT Xi Jinping—termasuk Wakil Ketua Komisi Militer Pusat He Weidong dan Kepala Departemen Kerja Politik Komisi Militer Pusat Miao Hua—jatuh secara bersamaan.

Di antara 10 orang yang absen dalam sidang pleno kali ini, mantan Kepala Auditor Komisi Militer Pusat, Mayor Jenderal Sun Bin, telah dicopot dari jabatannya sebagai anggota Kongres Rakyat Nasional.

Wang He menambahkan:  “Ini menunjukkan bahwa karena telah terjadi perubahan dalam kekuasaan tertinggi militer PKT, para pemegang kekuasaan koersif sebelumnya pasti akan diganti. Dan mereka yang memegang ‘pisau kekuasaan’ itu kemungkinan besar akan menghadapi akhir yang sangat tragis. Pertarungan internal di militer ini sangat kejam—barangkali yang paling brutal sejak PKT berkuasa.”

Dilaporkan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Li Yun dan Qiu Yue.

Pabrik Lateks

EtIndonesia. Sekelompok wisatawan sedang mengunjungi sebuah pabrik lateks. Ketika mereka melewati bagian produksi dot bayi, terdengar suara mesin yang mula-mula berbunyi “sss…”, lalu disusul “pop”, dan sebuah dot bayi pun jatuh keluar.

Seorang teknisi di samping mereka menjelaskan: “Ketika mesin mengeluarkan suara ‘sss…’, itu berarti mesin sedang menyuntikkan lateks ke dalam cetakan dot. Sedangkan suara ‘pop’ di akhir proses adalah saat mesin melubangi dot tersebut.”

Kemudian rombongan melanjutkan kunjungan ke bagian produksi kondom. Di sana mereka kembali mendengar suara “sss…”, hanya saja bedanya, setelah beberapa kali suara “sss…”, barulah terdengar satu kali “pop”.

Para pengunjung pun penasaran dan bertanya: “Kalau suara ‘sss…’ kami mengerti. Tapi kenapa dalam pembuatan kondom juga ada suara ‘pop’?”

Teknisi itu menjelaskan, “Karena mesin akan melubangi satu dari setiap lima kondom yang diproduksi.”

Para wisatawan terkejut dan bertanya lagi, “Hah?! Bukankah cara seperti ini justru merugikan produk kondom kalian?”

Teknisi itu tersenyum lalu menjawab, “Memang, ini tidak menguntungkan bagi penjualan kondom. Tapi justru sangat menguntungkan bagi penjualan dot bayi.”

Renungan Redaksi

Agar sebuah perusahaan bisa bertahan dan berkembang dalam jangka panjang, inovasi adalah keharusan. Kuncinya terletak pada bagaimana memanfaatkan sumber daya yang sudah ada untuk menciptakan sumber daya baru—dan bagaimana sumber daya baru itu kembali memberi nilai tambah pada yang lama.

Seperti pabrik lateks ini: mereka memanfaatkan tingkat cacat produksi kondom untuk mendorong penjualan dot dan botol bayi.Dan ketika bayi-bayi itu tumbuh dewasa, mereka pada akhirnya akan kembali menjadi pasar bagi produk kondom.

Benar juga pepatah itu: “Tak ada pedagang tanpa kelicikan.”(jhn/yn)