Negara Pembeli Minyak Rusia Akan Dikenakan AS Tarif 500 Persen, Prospek Perundingan Damai Rusia–Ukraina Tidak Jelas

Pekan ini, perjanjian damai yang dibahas antara Ukraina dan Amerika Serikat dapat dikatakan telah hampir rampung, tinggal menunggu hasil perundingan antara AS dan Rusia. Ukraina juga telah menandatangani nota kesepahaman jaminan keamanan dengan Prancis dan Inggris, sehingga perdamaian tampak di depan mata. Namun, Rusia justru melancarkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina minggu ini, bahkan Kedutaan Besar Qatar ikut terdampak. Rusia dengan tegas menyatakan bahwa setiap pasukan yang ditempatkan di Ukraina akan menjadi sasaran serangan.

Kongres AS mengajukan rancangan undang-undang sanksi keras terhadap Rusia. Jika RUU tersebut disahkan, negara mana pun yang membeli minyak Rusia akan menghadapi tarif hukuman hingga 500%.

EtIndonesia. Pada 6 Januari, Ukraina bersama Inggris dan Prancis yang memimpin “Koalisi Sukarela” (Coalition of the Willing) menandatangani “Deklarasi Paris” (Paris Declaration).

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan:  “Deklarasi Paris yang ditandatangani oleh Koalisi Sukarela untuk pertama kalinya mengakui adanya kesepakatan aksi bersama antara 35 negara anggota koalisi, Ukraina, dan Amerika Serikat dalam membangun jaminan keamanan yang kuat.”

Koalisi Sukarela dibentuk pada Maret 2025. KTT Paris kali ini menghasilkan dua konsensus utama. Pertama, setelah gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina tercapai, Ukraina akan memperoleh jaminan keamanan. Amerika Serikat akan bertanggung jawab atas pemantauan dan verifikasi gencatan senjata, termasuk mekanisme yang melibatkan negara-negara peserta, seperti penggunaan drone militer AS dan teknologi satelit. Inggris dan Prancis kemungkinan akan mendirikan pusat militer di Ukraina untuk penyimpanan senjata dan pelatihan pasukan.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan:  “Pasukan hanya akan dikerahkan setelah gencatan senjata, dengan tujuan mendukung kemampuan Ukraina, melakukan pencegahan, serta membangun dan melindungi pusat-pusat militer.”

Italia menyatakan tidak akan mengirim pasukan secara langsung ke Ukraina. Polandia juga mengatakan akan berperan dalam dukungan logistik dan urusan organisasi, tetapi tidak akan menempatkan pasukan di Ukraina. Jerman kemungkinan akan mengerahkan pasukan di negara-negara sekitar Ukraina. Para sekutu Eropa ini juga berharap Amerika Serikat berkomitmen untuk ikut merespons jika Rusia melanggar perjanjian damai.

Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff telah menegaskan bahwa “Presiden Trump dengan tegas mendukung perjanjian keamanan ini”. Ia bersama Jared Kushner akan terus berdiskusi dengan delegasi Ukraina mengenai isu wilayah dalam “Perjanjian Damai 20 Poin” guna mencapai konsensus.

Namun, Kementerian Luar Negeri Rusia pada 8 Januari memberikan tanggapan keras: setiap pasukan Barat yang ditempatkan di Ukraina akan menjadi target serangan. Semua fasilitas militer, gudang, dan infrastruktur yang dikerahkan di Ukraina akan dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Rusia.

Wartawan: “Apakah menurut Anda Rusia siap menandatangani perjanjian damai?”
Warga Dnipro, Alla: “Tidak, belum siap.”
Warga Dnipro, Svitlana: “Saya tidak percaya. Selama Putin masih hidup, tidak mungkin ada perjanjian damai.”

Pekan ini, drone dan rudal Rusia terus membombardir Ukraina secara besar-besaran, termasuk Lviv yang berdekatan dengan Polandia serta ibu kota Kyiv. Bahkan Kedutaan Besar Qatar, rumah tinggal warga, dan rumah sakit ikut rusak. Rusia juga menggunakan rudal hipersonik jenis baru “Oreshnik”, yang mampu membawa hulu ledak nuklir, sebagai balasan atas tuduhan bahwa Ukraina menyerang kediaman Presiden Putin—meskipun klaim tersebut telah dibantah oleh Ukraina dan CIA AS.

Wilayah Lviv berada dekat perbatasan Polandia, anggota NATO dan Uni Eropa. Kyiv memperingatkan bahwa serangan Moskow di wilayah ini secara serius mengancam keamanan benua Eropa.

Gubernur Oblast Belgorod, Vyacheslav Gladkov, menuduh Ukraina menyerang fasilitas umum, menyebabkan 200 ribu orang kehilangan pasokan air, 500 ribu orang mengalami pemadaman listrik, dan tidak memiliki pemanas. Drone Ukraina juga menargetkan gudang senjata besar di Oblast Kostroma, memicu kebakaran besar dan ledakan beruntun.

Rusia juga menyerang wilayah Ukraina yang memiliki fasilitas energi. Daerah Dnipro dan Zaporizhzhia hampir sepenuhnya mengalami pemadaman listrik, diperkirakan lebih dari satu juta orang tidak dapat menggunakan pemanas.

Prospek perundingan damai Rusia–Ukraina tampak tidak menentu. Sementara itu, Amerika Serikat minggu ini bergerak cepat dan tegas: menerima minyak mentah Venezuela, menyita kapal tanker berbendera Rusia yang menyelundupkan minyak, serta Trump memberi lampu hijau pada RUU sanksi bipartisan terhadap Rusia yang telah lama tertunda.

Jika RUU tersebut disahkan, negara-negara yang membeli minyak, gas alam, uranium, dan produk ekspor lainnya dari Rusia akan dikenai tarif hukuman hingga 500%. Entitas asing yang melakukan transaksi energi dengan Rusia juga dapat menghadapi sanksi sekunder.

Lalu, bagaimana Ukraina memulihkan diri setelah gencatan senjata? Konsensus kedua dalam Deklarasi Paris adalah rencana pembangunan ekonomi pascaperang Ukraina yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Pekan ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengunjungi Siprus—ketua bergilir Uni Eropa—untuk membahas kemajuan proses keanggotaan Ukraina di UE bersama Presiden Nikos Christodoulides.

Presiden Zelenskyy mengatakan:  “Dalam proses perundingan (perdamaian), kami melakukan segala upaya. Kami berharap tidak akan ada tuntutan tambahan atau tuntutan berlebihan terhadap Ukraina.”

Selain itu, anggota parlemen Kanada yang berpengalaman secara internasional dan mantan Wakil Perdana Menteri Kanada, Chrystia Freeland, mengundurkan diri pada 9 Januari. Ke depan, ia akan menjabat sebagai penasihat pembangunan ekonomi Ukraina untuk membawa lebih banyak peluang investasi. (Hui)

Laporan gabungan Majalah Berita New Tang Dynasty oleh Lin Chao dan Yu Wei.

Iran Masuk Titik Tanpa Jalan Kembali: Rezim Terkepung, Rakyat Menolak Mundur

EtIndonesia. Gelombang besar aksi protes anti-pemerintah di Iran pada 10 Januari 2026 resmi memasuki hari ke-14, menandai salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Republik Islam sejak berdiri pada 1979. Meski otoritas terus memperketat pengamanan, memutus total jaringan internet nasional, serta mengerahkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mengancam penindasan bersenjata, momentum perlawanan rakyat justru tidak menunjukkan tanda-tanda melemah.

Para analis menilai Iran kini telah mencapai titik kritis (point of no return). Rezim yang berkuasa menghadapi situasi hidup-mati yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam lebih dari empat dekade terakhir.

Sinyal Politik dari Luar Negeri: Reza Pahlavi dan Sikap Amerika Serikat

Di tengah eskalasi krisis domestik, Reza Pahlavi, putra mahkota dari dinasti terakhir Iran yang kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat, menyatakan kesiapannya untuk kembali ke tanah air. Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal politik kuat bagi gerakan protes yang telah berkembang menjadi perlawanan nasional terbuka.

Pada saat yang sama, Presiden AS, Donald Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan. Meski belum disertai langkah resmi berskala negara, pernyataan ini dipahami sebagai bentuk dukungan moral dan strategis terhadap rakyat Iran.

Internet Diputus, Starlink Dibuka Gratis

Sejak 8 Januari 2026, lalu lintas internet di Teheran dan berbagai kota besar Iran mengalami penurunan drastis. Pemerintah Iran tidak hanya memutus jaringan kabel dan seluler, tetapi juga mencoba menggunakan teknologi pengacauan (jamming) untuk menghalangi sinyal satelit.

Namun, di balik layar, CEO SpaceX, Elon Musk mengambil langkah mengejutkan. Dia mengaktifkan layanan internet satelit Starlink secara gratis bagi para demonstran Iran, memungkinkan komunikasi dasar dengan dunia luar tetap berjalan.

Musk menyatakan bahwa akses tersebut akan tetap dibuka selama masa protes berlangsung, serta telah menginstruksikan tim teknisnya untuk mencegah intervensi digital dari pihak berwenang Iran.

Dukungan Regulasi AS: Ribuan Satelit Baru Disetujui

Dalam perkembangan terkait, Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat baru-baru ini menyetujui permohonan SpaceX untuk menambah 7.500 satelit Starlink generasi kedua. Dengan persetujuan ini, total satelit Starlink di orbit diproyeksikan mencapai sekitar 15.000 unit, dari sebelumnya sekitar 9.400 satelit aktif.

FCC menjelaskan bahwa satelit tambahan tersebut akan difokuskan untuk:

  • Mendukung layanan ponsel-ke-satelit (direct-to-cell) di luar wilayah AS
  • Memperluas dan memperkuat cakupan jaringan domestik Amerika Serikat

Meski tidak secara eksplisit ditujukan untuk Iran, keputusan ini dinilai memberi keunggulan strategis besar bagi upaya menjaga konektivitas di negara-negara yang mengalami sensor ekstrem.

Tekanan Media dan Seruan Aksi Nyata

Media Amerika Fox News mengutip sejumlah pakar kebijakan luar negeri yang menegaskan bahwa Amerika Serikat harus menyelaraskan kata dan tindakan. Menurut mereka, inilah momen krusial bagi Washington untuk membantu rakyat Iran mengubah kemarahan dan ketidakpuasan menjadi tekanan nyata yang mampu menggoyahkan rezim.

Bantuan yang disorot meliputi:

  • Dukungan internet dan VPN berskala besar
  • Perlindungan digital bagi aktivis
  • Keterlibatan langsung Trump sebagai figur politik berpengaruh

Situasi Lapangan: Demonstrasi Besar di Teheran

Menurut laporan CNN, pada malam 9 Januari 2026, Lapangan Punak di wilayah barat Teheran dipenuhi ribuan demonstran. Massa meneriakkan slogan kebebasan, memblokir jalan raya utama, dan menghadapi aparat keamanan secara terbuka.

Warga setempat menyatakan bahwa meski:

  • Internet terputus
  • Komunikasi dibatasi
  • Tekanan ekonomi semakin berat

rakyat tetap terorganisir, solid, dan pantang menyerah. Keyakinan umum yang berkembang adalah bahwa pemerintah saat ini sudah tidak memiliki jalan kembali.

“Revolusi Sejati” dengan Perempuan sebagai Inti

Pakar Iran asal Jerman, Tekal, menyebut peristiwa ini sebagai revolusi sejati, dengan perempuan sebagai kekuatan inti perlawanan. Aksi-aksi simbolik seperti:

  • Pembakaran stasiun televisi pemerintah
  • Pembalikan mobil polisi
  • Perusakan kamera pengawas

menjadi penanda perlawanan terbuka terhadap sistem teokrasi.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan tanpa hijab merokok di depan potret Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei telah menyebar luas dan dianggap sebagai ikon pemberontakan, menandai titik balik psikologis dan simbolis dalam sejarah Iran modern.

Dukungan Publik Hampir Mutlak

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan sekitar 90 persen rakyat Iran mendambakan demokrasi, dan hampir tidak ada lagi kepercayaan bahwa sistem lama dapat direformasi. Ditambah dengan:

  • Kegagalan milisi proksi Iran di luar negeri
  • Pembelotan sekutu internal
  • Melemahnya kendali keamanan

Rezim Iran kini dinilai berada dalam kondisi sangat rapuh. Konsensus utama rakyat semakin jelas: mengakhiri kekuasaan Republik Islam.

Pernyataan Terbaru Reza Pahlavi

Pada 10 Januari 2026, Reza Pahlavi menulis di platform X bahwa ia sedang mempersiapkan kepulangannya untuk berdiri berdampingan dengan rakyat Iran ketika revolusi nasional mencapai kemenangan.

Dia menegaskan keyakinannya bahwa hari itu akan segera tiba.

Penindasan di Iran Meningkat, Ratusan Orang Tewas! Warga Terus Turun ke Jalan untuk Berdemo

 Aksi protes rakyat Iran terus berlanjut pada Sabtu (10 Januari). Sementara itu, tindakan penindasan juga semakin meningkat. Menurut laporan organisasi hak asasi manusia, hingga Jumat sedikitnya 65 orang telah tewas, termasuk 7 anak-anak dan remaja, serta 2.311 orang ditangkap. Amerika Serikat menyatakan dukungannya kepada rakyat Iran yang berani. Uni Eropa, Jerman, Inggris, dan Prancis juga turut mengecam rezim Iran dan menyuarakan dukungan bagi rakyat Iran.

EtIndonesia. Video yang diunggah ke media sosial pada Jumat (9 Januari) menunjukkan bahwa meskipun pemerintah memutus akses internet, para demonstran Iran tetap berkumpul di jalan-jalan ibu kota Teheran, mengikuti aksi protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Selama dua pekan terakhir, aksi protes telah menyebar ke 31 provinsi di Iran. Awalnya dipicu oleh melonjaknya inflasi, gerakan ini dengan cepat berkembang menjadi protes terhadap rezim diktator Iran dan tuntutan untuk menggulingkan penguasa.

Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, pada Sabtu menyerukan kepada para demonstran untuk menduduki dan menguasai kota-kota.

Putra Mahkota Iran di Pengasingan, Reza Pahlavi:  “Tujuan kita tidak lagi sekadar turun ke jalan; tujuan kita adalah bersiap untuk menduduki dan menguasai pusat-pusat kota.”

Ia juga mendesak para pekerja yang menguasai sektor-sektor ekonomi vital untuk memulai pemogokan nasional.

Reza Pahlavi:  “Saya menyerukan kepada para pekerja dan pegawai di sektor-sektor ekonomi kunci—terutama transportasi, minyak, gas, dan energi—untuk memulai pemogokan nasional.”

Menurut Human Rights Activists News Agency, dalam 13 hari terakhir hingga Jumat, sedikitnya 65 orang tewas, termasuk 7 anak-anak dan remaja, serta 2.311 orang ditangkap oleh pihak berwenang.

Sementara itu, kelompok berbasis di Amerika Serikat Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan pada 11 Januari bahwa sedikitnya 538 orang telah tewas dalam penindasan pemerintah terhadap protes nasional. 

Dari jumlah itu, 490 korban adalah demonstran dan 48 lainnya anggota pasukan keamanan rezim. Sekitar 10.600 orang telah ditahan, dan HRANA menegaskan bahwa angka korban tewas dan penangkapan masih akan meningkat.

Meski arus informasi sangat dibatasi dan pemerintah memberlakukan blokade ketat terhadap berita, laporan menyebutkan bahwa aksi unjuk rasa malam hari masih terus berlangsung.

Pada saat yang sama, penindasan semakin meningkat, termasuk penembakan, penggunaan gas air mata dan senapan peluru karet/shotgun, serta ancaman hukum terbuka terhadap para demonstran. Selain itu, penerbangan internasional terdampak dan sejumlah pemerintah asing mengeluarkan peringatan perjalanan ke Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Jumat menuduh para demonstran dikendalikan oleh Donald Trump, menyebut mereka sebagai “perusuh” yang menyerang properti publik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada musim panas lalu telah mengebom Iran, kembali memperingatkan Iran pada Jumat:  “Lebih baik kalian jangan menembak, karena kami juga akan menembak.”

Presiden AS Donald Trump: “Jika mereka mulai membunuh orang seperti sebelumnya, kami akan campur tangan. Kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras. Ini tidak berarti kami akan mengirim pasukan, tetapi kami akan menyerang titik-titik penting mereka.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menulis di media sosial bahwa “Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani.”

Sebuah akun terverifikasi di platform X yang sering membagikan informasi militer menyebutkan bahwa pesawat angkut strategis C-17 Angkatan Udara AS telah terbang dari Jerman menuju kawasan Timur Tengah.

Dilaporkan bahwa Amerika Serikat telah mulai menggunakan pesawat angkut berat untuk mengirim amunisi dan perlengkapan militer lainnya ke pangkalan-pangkalan di Timur Tengah.

Sementara itu, sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Angkatan Udara AS telah lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, terbang melintasi Teluk Persia dan Irak, menjalankan misi yang tidak diumumkan. Hal ini menunjukkan bahwa Angkatan Udara AS kemungkinan sedang melakukan latihan intensif yang menargetkan rezim Iran.

Terkait aksi protes di Iran, negara-negara Eropa juga menyatakan dukungan kepada rakyat Iran.

Para pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman pada Jumat mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pembunuhan terhadap para demonstran oleh Iran, serta mendesak otoritas Iran untuk menghindari penggunaan kekerasan dan menjamin hak rakyat atas kebebasan berpendapat dan berkumpul secara damai, tanpa takut akan pembalasan.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menulis di media sosial: “Rakyat Iran sedang berjuang untuk masa depan mereka. Rezim Iran mengabaikan tuntutan sah mereka dan memperlihatkan wajah aslinya.”

 “Menutup internet sambil melakukan penindasan brutal terhadap aksi protes memperlihatkan ketakutan rezim terhadap rakyatnya sendiri.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Li Mei dan Liu Fang.

Dua Belas Senyuman

EtIndonesia. Sebelum pesawat lepas landas, seorang penumpang meminta pramugari untuk mengambilkan segelas air agar dia bisa minum obat. 

Dengan sopan, pramugari itu menjawab: “Pak, demi keselamatan Anda, mohon menunggu sebentar. Setelah pesawat mencapai kondisi terbang stabil, saya akan segera mengantarkan air untuk Anda. Apakah tidak apa-apa?”

Lima belas menit kemudian, pesawat telah lama berada dalam kondisi terbang stabil. Tiba-tiba, bel panggilan penumpang berbunyi dengan nada mendesak. 

Sang pramugari tersentak dan langsung teringat: “Astaga… karena terlalu sibuk, aku lupa mengantarkan air untuk penumpang itu!”

Dia segera menuju kabin, dengan hati-hati membawa segelas air ke hadapan penumpang tersebut. 

Sambil tersenyum, dia berkata dengan tulus: “Pak, saya benar-benar minta maaf. Karena kelalaian saya, waktu Anda untuk minum obat jadi tertunda. Saya sungguh mohon maaf.”

Namun penumpang itu mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arlojinya, lalu berkata dengan nada kesal: “Ada apa ini? Pelayanan macam apa ini? Coba lihat, sudah berapa lama saya menunggu!”

Pramugari itu memegang gelas air dengan perasaan sangat sedih dan tertekan. Dia merasa amat bersalah. Tetapi, sekeras apa pun dia berusaha menjelaskan, penumpang yang sangat cerewet itu tetap tidak mau memaafkan kelalaiannya.

Sepanjang sisa penerbangan, demi menebus kesalahannya, setiap kali pramugari masuk ke kabin untuk melayani penumpang, dia selalu sengaja mendatangi pria tersebut. Dengan senyum yang sama tulusnya, dia bertanya apakah dia membutuhkan air atau bantuan lain.

Namun kemarahan penumpang itu belum mereda. Dia bersikap dingin dan tidak kooperatif, bahkan sama sekali tidak menanggapi pramugari tersebut.

Menjelang pesawat tiba di tujuan, penumpang itu meminta agar buku pesan dan saran diserahkan kepadanya. Jelas sekali, dia berniat mengajukan keluhan terhadap pramugari itu.

Saat itu, meskipun hatinya terasa sangat perih, pramugari tersebut tetap menjaga profesionalismenya. 

Dia bersikap sangat sopan dan tetap tersenyum seraya berkata: “Pak, izinkan saya sekali lagi menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Apa pun pendapat atau kritik yang ingin Anda sampaikan, saya akan menerimanya dengan lapang dada.”

Wajah penumpang itu tampak menegang. Bibirnya seolah hendak berkata sesuatu, tetapi akhirnya dia tidak mengatakan apa pun. Dia mengambil buku pesan dan mulai menulis. 

Pesawat pun mendarat dengan selamat. Setelah semua penumpang turun, pramugari membuka buku pesan tersebut. Dia sangat terkejut—yang tertulis di sana bukanlah surat keluhan, melainkan sebuah surat pujian yang penuh kehangatan.

Apa yang membuat penumpang cerewet itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengajukan keluhan?

Di dalam surat tersebut tertulis kalimat ini:

“Sepanjang kejadian itu, ketulusan permintaan maaf Anda—terutama dua belas senyuman Anda—sangat menyentuh hati saya. Itulah yang membuat saya akhirnya mengubah surat keluhan menjadi surat pujian. Kualitas pelayanan Anda sangat baik. Jika ada kesempatan di lain waktu, saya pasti akan kembali menggunakan penerbangan ini.”

Pesan cerita

Senyuman yang tulus mampu menebus kesalahan, mencairkan kesalahpahaman, dan meluruhkan rasa kecewa maupun kebencian dalam hidup. Ketika kamu menghadirkan senyum yang jujur kepada orang lain, mereka pun akan membalasnya dengan kehangatan dan kepedulian yang sama.

Jangan pelit dengan senyummu. Biarkan di bibirmu mekar setangkai bunga yang indah—maka dunia pun akan ikut menjadi lebih indah karenanya.(jhn/yn)

Penindakan Brutal Rezim Iran: Dokter Mengungkapkan “Peluru Menembus Bagian Belakang Kepala, 40 Butir Peluru Timah Bersarang di Kaki”

Pada Sabtu (10 Januari) malam, slogan-slogan anti-pemerintah kembali menggema di jalanan ibu kota Iran, Teheran. Di bawah perlindungan pemutusan jaringan internet, otoritas melancarkan penindasan mematikan. Media asing hanya dapat menghubungi tenaga medis setempat melalui jaringan Starlink, yang kemudian mengungkap “pemandangan mengerikan” dengan korban tewas dan luka dalam jumlah besar di garis depan. Menurut perhitungan kelompok hak asasi manusia, aksi protes telah menewaskan sedikitnya 72 orang, sementara lebih dari 2.300 orang ditahan.

EtIndonesia. Kelompok pemantau internet independen NetBlocks dan organisasi HAM pada 10 Januari memperingatkan bahwa di bawah pemadaman internet yang telah berlangsung selama 48 jam, otoritas Iran semakin meningkatkan penindasan mematikan. Di wilayah Teheran utara, warga kembali berkumpul, menyalakan kembang api, memukul panci dan wajan, serta meneriakkan slogan-slogan yang mendukung monarki yang telah digulingkan.

Amnesty International menyatakan sedang menganalisis “sejumlah laporan yang mengkhawatirkan”, yang menunjukkan bahwa sejak  8 Januari, pasukan keamanan semakin sering menggunakan kekuatan mematikan secara ilegal terhadap para demonstran, sehingga menyebabkan lebih banyak korban.

Organisasi yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebutkan bahwa aksi protes telah menewaskan sedikitnya 72 orang dan lebih dari 2.300 orang ditangkap.

Tenaga Medis: Korban Datang tanpa Sempat Dilakukan CPR, Rumah Sakit Penuh Korban Tewas dan Terluka

Staf dari tiga rumah sakit di Iran mengatakan kepada BBC bahwa akibat berlanjutnya aksi protes besar-besaran anti-pemerintah, rumah sakit dipenuhi korban tewas dan luka. Seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit di Teheran mengatakan, “Kepala dan jantung para pemuda ditembak langsung,” sementara seorang dokter lainnya menyebut sebuah rumah sakit mata di ibu kota telah memasuki mode krisis.

BBC melaporkan bahwa unit gawat darurat di Teheran kewalahan, dan tenaga medis “bahkan tidak sempat melakukan CPR”. Seorang dokter di sebuah pusat medis mengatakan kepada BBC: “Jumlah korban sangat tinggi. Saya melihat seseorang tertembak di mata, pelurunya keluar menembus bagian belakang kepalanya.”

“Sekitar tengah malam, pintu pusat medis ditutup rapat. Sekelompok orang mendobrak masuk dan melemparkan seorang pria yang tertembak ke dalam, lalu pergi. Namun semuanya sudah terlambat—dia telah meninggal sebelum tiba di rumah sakit dan tidak dapat diselamatkan.”

Sebagian besar korban luka yang dibawa ke rumah sakit berusia antara 20 hingga 25 tahun. Ada yang tertembak di mata, peluru menembus bagian belakang kepala; ada pula yang “kepalanya tertembak dan jantungnya juga terkena peluru”. 

Sebagian korban bahkan meninggal dunia sebelum sempat mendapat perawatan medis. Kamar jenazah telah penuh sesak, “mayat ditumpuk satu di atas yang lain”, bahkan dipindahkan ke ruang doa untuk penampungan sementara.

Seorang dokter lain mengatakan kepada BBC melalui sambungan satelit Starlink bahwa pusat spesialis mata utama di Teheran, Rumah Sakit Farabi (Farabi Hospital), telah memasuki status krisis. Rumah sakit menghentikan penerimaan dan operasi non-darurat serta memanggil kembali tenaga medis untuk fokus menangani kasus gawat darurat.

CNN, mengutip keterangan para demonstran, melaporkan bahwa saat mereka membantu seorang pria berusia sekitar 60 tahun mendapatkan perawatan medis, ditemukan sekitar 40 butir peluru timah (peluru senapan) tertanam di kakinya, serta tulang lengannya patah. Mereka menggambarkan kondisi di berbagai rumah sakit sebagai “benar-benar kacau”.

BBC melaporkan bahwa luka tembak para korban berasal dari peluru tajam dan peluru senapan (shotgun). Dalam penindasan, pasukan keamanan Iran sering menggunakan senapan yang menembakkan peluru berisi banyak butir timah.

Pada hari Jumat, Amerika Serikat kembali menegaskan bahwa pembunuhan terhadap para demonstran akan memicu respons militer. Menanggapi perkembangan terbaru, Presiden Donald Trump menulis di media sosial:  “Iran sedang mencari kebebasan, mungkin dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja!!!” (Hui)

Cheng Yi-ren – NTDTV.com

Dari Protes ke Revolusi: Jam-jam Paling Berbahaya bagi Iran

EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran terus memburuk seiring berlanjutnya gelombang protes rakyat yang kini telah memasuki hampir dua pekan penuh. Hingga 9 Januari 2026, organisasi-organisasi hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 62 orang tewas dan lebih dari 2.300 orang ditangkap akibat tindakan represif aparat keamanan.

Pemerintah Iran dilaporkan telah mengerahkan pasukan darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke sejumlah provinsi untuk memperkuat penindasan. Langkah ini menandai eskalasi serius dari sekadar pengamanan demonstrasi menjadi operasi militer internal berskala luas.

Internet Diputus Total, Informasi Tetap Bocor

Sejak awal Januari, pemerintah memberlakukan pemutusan total jaringan internet dan komunikasi internasional. Meski demikian, sebagian warga masih berupaya menyelundupkan informasi ke luar negeri menggunakan perangkat komunikasi alternatif yang baru diperoleh.

Pengacara HAM Iran yang hidup di pengasingan, Shirin Ebadi, menegaskan bahwa pemadaman internet bukanlah masalah teknis, melainkan strategi yang disengaja untuk menutupi penindasan brutal di dalam apa yang ia sebut sebagai “kotak hitam informasi”.

Ebadi juga mengungkapkan bahwa banyak demonstran harus dirawat di rumah sakit akibat cedera serius pada mata, yang diduga disebabkan oleh tembakan peluru karet dari jarak dekat.

Ancaman Hukuman Mati dan Penggunaan Senjata Berat

Kepala lembaga peradilan Iran secara terbuka mengancam bahwa demonstran yang dianggap merusak fasilitas publik dapat dijatuhi hukuman mati. Di beberapa wilayah, saksi mata dan organisasi HAM menuduh aparat militer serta kepolisian telah menggunakan senapan mesin, selain gas air mata, meriam air, peluru karet, hingga peluru tajam, untuk membubarkan massa yang sebagian besar bersikap damai.

Para pengamat menilai bahwa potensi pembelotan massal di tubuh aparat keamanan kini menjadi faktor kunci yang dapat menentukan arah krisis Iran ke depan.

Lautan Massa di Teheran, Masjid Dibakar

Rekaman video yang beredar luas menunjukkan bahwa pada malam 9 Januari 2026, sejumlah jalan utama di Teheran dipenuhi lautan manusia. 

Massa meneriakkan slogan seperti :  “Hancurkan diktator!” dan “Jatuhkan Khamenei!”.

Di berbagai wilayah, warga melakukan aksi solidaritas dengan memukul panci dan wajan, serta membunyikan klakson kendaraan secara serempak.

Di Lapangan Kazi, Teheran, sebuah masjid dilaporkan dibakar. Masjid tersebut dikenal sebagai lokasi berkumpulnya kelompok bersenjata pendukung Republik Islam. Selain itu, sejumlah mobil dan sepeda motor hangus terbakar, memancarkan cahaya jingga kekuningan dengan asap hitam tebal membubung ke udara, sementara puing-puing berserakan di jalanan.

Situasi di Daerah: Rasht Seperti Zona Perang

Seorang jurnalis yang berada di Jalan Shariati, Kota Rasht, Provinsi Gilan, menggambarkan kondisi setempat bak zona perang. Hampir seluruh pertokoan dilaporkan hancur atau terbakar.

Di tengah tekanan publik, beredar informasi bahwa Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, sempat menyampaikan kepada para anggota parlemen bahwa mereka perlu mendengarkan suara para demonstran—sebuah pernyataan yang jarang terdengar dari elite kekuasaan.

Sinyal Militer AS dan Israel Meningkatkan Ketegangan

Di platform X, sejumlah akun intelijen sumber terbuka melaporkan bahwa pesawat angkut strategis C-17 dan pesawat pengisian bahan bakar KC-135 milik Angkatan Udara Amerika Serikat terbang dari Jerman menuju Timur Tengah. Unggahan tersebut memicu spekulasi bahwa Amerika Serikat tengah bersiap menghadapi skenario konflik besar dengan Iran.

Sejumlah analis menilai bahwa selama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu menghendakinya, jet tempur F-35 Israel dapat sewaktu-waktu memasuki wilayah udara Iran dan melancarkan serangan presisi terhadap pangkalan IRGC maupun fasilitas Kementerian Pertahanan Iran—sebuah skenario yang disebut sebagai ketakutan terbesar otoritas Teheran.

Rumor Pelarian Khamenei dan Emas ke Rusia

Di tengah kekacauan, beredar kabar di media sosial bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, diduga telah meninggalkan Teheran. Sementara itu, sejumlah anggota parlemen Inggris mengungkapkan laporan intelijen yang menyebutkan bahwa pesawat kargo Rusia mendarat di Teheran untuk mengangkut emas dalam jumlah besar keluar dari Iran—memicu spekulasi tentang persiapan darurat elite rezim.

Putra Mahkota Pahlavi Kembali Disorot

Nama Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, kembali menjadi sorotan internasional. Sebagai figur simbolik oposisi, ia terus menyerukan penggulingan sistem teokrasi Islam dan pembentukan pemerintahan demokratis berbasis pemilu.
Dia juga berulang kali menegaskan bahwa dirinya tidak berniat memulihkan Dinasti Pahlavi, melainkan ingin memfasilitasi transisi damai menuju demokrasi.

“Ini Bukan Lagi Protes, Ini Revolusi”

Pakar Jerman Dr. Michael Tekal, dalam wawancara dengan Focus News, menegaskan bahwa peristiwa di Iran telah melampaui batas demonstrasi biasa.

“Ini bukan lagi protes ekonomi, melainkan revolusi nasional—perlawanan menyeluruh dari berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.

Seruan pemogokan nasional kini menggema di berbagai wilayah. Massa dilaporkan membakar gedung penyiaran nasional, membalikkan mobil polisi, serta merusak kamera pengawas publik.

Simbol Baru Perlawanan Perempuan

Sebuah foto yang viral di internet memperlihatkan seorang perempuan tanpa kerudung yang menyalakan rokok menggunakan lukisan bertema ideologi rezim. Gambar tersebut dengan cepat menjadi simbol keberanian dan kebebasan perempuan Iran, dibagikan ribuan kali di berbagai platform media sosial.

Para analis menilai bahwa simbol semacam ini menunjukkan runtuhnya tembok ketakutan. Ketika rasa takut tak lagi efektif sebagai alat kontrol, fondasi rezim otoriter mulai goyah.

Penutupan Wilayah Udara dan Keterlibatan Milisi Asing

Di saat yang sama, IRGC menutup seluruh wilayah udara Iran. Langkah ini dinilai bukan hanya untuk mencegah pasokan eksternal kepada rakyat, tetapi juga untuk mengantisipasi kemungkinan intervensi Amerika Serikat atau Israel.

Lebih jauh, dilaporkan bahwa Garda Revolusi mulai mengerahkan milisi Syiah Irak ke Teheran dan wilayah Kurdi. Penggunaan tentara bayaran asing kerap dipandang sebagai sinyal bahwa pasukan domestik mulai enggan atau menolak menembaki warga sendiri.

Standar Seorang Malaikat

EtIndonesia. Dua malaikat yang sedang melakukan perjalanan singgah untuk bermalam di rumah sebuah keluarga kaya. Namun, keluarga itu tidak bersikap ramah. Mereka menolak memberi para malaikat kamar tamu yang nyaman, dan justru menyuruh mereka tidur di sudut ruang bawah tanah yang dingin dan keras.

Saat para malaikat menggelar alas tidur di lantai yang kaku, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding. Dia pun memperbaikinya begitu saja. Melihat hal itu, malaikat yang lebih muda bertanya dengan heran, mengapa dia melakukan hal tersebut. 

Sang malaikat tua hanya menjawab dengan tenang: “Ada banyak hal di dunia ini yang tidak seperti apa yang terlihat di permukaannya.”

Malam berikutnya, mereka kembali singgah di rumah seorang petani yang sangat miskin. Berbeda dengan keluarga kaya sebelumnya, pasangan suami istri ini menyambut mereka dengan penuh kehangatan. Mereka berbagi sedikit makanan yang mereka miliki, bahkan rela menyerahkan tempat tidur mereka sendiri agar kedua malaikat bisa beristirahat dengan nyaman.

Namun keesokan paginya, kedua malaikat mendapati sang petani dan istrinya menangis tersedu-sedu. Seekor sapi perah mereka mati di ladang—padahal susu dari sapi itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka. Malaikat tua itu hanya diam tanpa melakukan tindakan apa pun.

Malaikat muda pun sangat marah. 

Dia mempertanyakan keputusan malaikat tua: “Keluarga pertama punya segalanya, tapi kamu malah membantu mereka menutup lubang di dinding. Keluarga kedua ini begitu miskin, tetapi masih mau berbagi apa yang mereka punya. Mengapa kamu membiarkan sapi mereka mati?”

Malaikat tua menjawab dengan suara lembut: “Ada banyak hal yang tidak seperti apa yang terlihat di permukaannya.”

Dia melanjutkan penjelasannya: “Saat kita bermalam di ruang bawah tanah rumah keluarga kaya itu, aku melihat lubang di dinding tersebut menyembunyikan tumpukan emas. Karena pemilik rumah dikuasai keserakahan dan tidak mau berbagi kekayaannya, aku menutup lubang itu agar dia tidak pernah menemukan emas tersebut.”

“Malam tadi, ketika kita tidur di rumah petani, malaikat maut datang untuk menjemput nyawa istri petani itu. Aku membiarkan sapi itu menggantikannya. Karena itulah, ada banyak hal yang tidak seperti apa yang terlihat.”

Hikmah Cerita

Para bijak sering mengajarkan kita untuk tidak menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di luar, melainkan memahami hakikat yang tersembunyi di baliknya. Tidak semua peristiwa terlihat sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Seperti pepatah lama mengatakan: Sesuatu yang awalnya tampak sebagai musibah, bisa jadi justru membawa berkah di kemudian hari.

Jika kamu memiliki keyakinan, maka percayalah bahwa setiap kebaikan dan pengorbanan pasti akan mendapat balasan. Hanya saja, terkadang kita baru menyadarinya setelah waktu berlalu.(jhn/yn)

Teheran Jadi Neraka Sebelum Fajar: Ultimatum Rezim Gagal Total

EtIndonesia. Iran kini berdiri di persimpangan sejarah paling menentukan sejak Revolusi Islam 1979. Pada pukul 06.00 dini hari, Jumat (10/1), batas waktu ultimatum terakhir yang dikeluarkan rezim Iran kepada massa demonstran resmi berakhir. Namun, bahkan sebelum tenggat tersebut tercapai, ibu kota Teheran telah berubah menjadi medan kekacauan dan kekerasan terbuka.

Sejumlah pengamat menyebut Iran saat ini berada pada titik paling gelap sekaligus paling terang dalam lebih dari empat dekade terakhir—sebuah ambang batas yang akan menentukan arah masa depan negara tersebut: bertahan di bawah rezim lama, atau runtuh oleh gelombang revolusi nasional.

Sinyal Militer Aneh Menguat di Langit Timur Tengah

Di tengah eskalasi domestik, langit Timur Tengah memperlihatkan sinyal militer yang dinilai sangat tidak lazim. Sejumlah sumber intelijen regional mengungkapkan bahwa banyak pesawat militer Amerika Serikat secara serentak mematikan transponder mereka.

Dalam doktrin peperangan modern, langkah ini umumnya diartikan sebagai indikasi awal operasi militer presisi atau “surgical strike”, terutama untuk misi pengintaian lanjutan atau serangan mendadak ke sasaran bernilai tinggi.

Pada 9 Januari 2026, media profesional Angkatan Laut AS, Maritime Executive mengutip citra satelit komersial yang menunjukkan bahwa kapal-kapal fregat Angkatan Laut Iran telah meninggalkan Pangkalan Bandar Abbas, namun arah dan tujuan pelayaran mereka tidak diketahui.

Sementara itu, akun intelijen militer Intersky melaporkan bahwa jet tempur Iran telah lepas landas dengan persenjataan penuh, melakukan patroli intensif dan mengunci wilayah sekitar fasilitas bahan bakar rudal strategis.

GPS Lumpuh, Rudal Siaga, Zona Nuklir Ditutup Total

Situasi keamanan nasional Iran dilaporkan meningkat drastis ke level hampir pecahnya perang terbuka. Beberapa indikator krusial terpantau secara bersamaan:

  • Sinyal GPS di seluruh Iran lumpuh
  • Rudal-rudal strategis masuk status siaga peluncuran dan pencegatan
  • Wilayah udara di atas pangkalan rudal ditutup tanpa batas ketinggian
  • Zona “segitiga nuklir” di gurun Iran bagian tengah ditutup total

Langkah-langkah ini menandakan bahwa rezim Iran mengantisipasi skenario terburuk, baik dari ancaman eksternal maupun pemberontakan internal yang meluas.

Peringatan Keras dari Gedung Putih

Di Washington, Donald Trump untuk ketiga kalinya menyampaikan peringatan paling keras terkait situasi Iran. 

Dalam pernyataannya dari Gedung Putih, Trump menegaskan: “Jika Iran menembakkan satu peluru pun, kami akan turun tangan. Bukan dengan pasukan darat, tetapi dengan serangan sangat keras ke titik-titik vital mereka.”

Pernyataan tersebut ditafsirkan luas oleh analis pertahanan sebagai sinyal kesiapan militer AS untuk melakukan eliminasi presisi, termasuk terhadap Pemimpin Tertinggi Iran dan jajaran puncak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Api Kemarahan Rakyat: Simbol 1979 Dibakar

Di dalam negeri, kemarahan rakyat Iran telah melampaui aksi jalanan biasa. Pada 9–10 Januari, massa dilaporkan membakar Makam Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh pendiri Republik Islam Iran. Selain itu, Masjid Al-Rasul di Teheran juga dibakar.

Aksi ini dipandang sebagai tantangan langsung terhadap tatanan ideologis yang berdiri sejak 1979, sekaligus simbol runtuhnya rasa takut terhadap otoritas agama.

Analis pertahanan Iran Babak Taghvaei, menulis di platform X bahwa perkembangan paling signifikan dari gelombang protes ini adalah proses “de-Islamisasi nasional”. Menurutnya, rakyat Iran kini secara terbuka menolak ideologi Islamisme, dengan sasaran masjid, sekolah agama, dan simbol-simbol spiritual rezim.

Kelas Elite Turun ke Jalan, Seruan Dinasti Pahlavi Menggema

Fenomena baru juga muncul di Teheran Utara, kawasan elite yang selama ini dikenal apolitis dan cenderung diam. Pada 9 Januari, wilayah ini justru meledak dalam aksi protes besar, dengan seruan terbuka mendukung kembalinya Dinasti Pahlavi.

Sebuah adegan yang viral memperlihatkan seorang wanita lanjut usia berambut putih berteriak sambil menahan wajahnya: “Aku tidak takut! Aku sudah mati selama 47 tahun!”

Kalimat ini menjadi simbol trauma panjang generasi Iran yang hidup di bawah rezim pasca-1979.

Korban Tewas Bertambah, Represi Memuncak

Pada pagi 10 Januari, Kepolisian Teheran mengeluarkan perintah keras: seluruh demonstran wajib mengosongkan jalan sebelum pukul 06: 00, atau akan ditembak dengan peluru tajam.

Tak lama berselang, IRGC dan aparat keamanan melakukan operasi pembersihan besar-besaran di kota-kota utama, dengan laporan penembakan langsung terhadap demonstran.

Pakar jaringan komunikasi menyebut IRGC juga mengganggu sinyal GPS dan sistem pemantauan biologis, menyebabkan hampir tidak ada rekaman video baru yang berhasil keluar dari Iran.

Seorang dokter di Teheran mengatakan kepada Time Magazine bahwa enam rumah sakit utama di ibu kota telah mencatat 212 korban tewas akibat tembakan langsung. Sementara itu, Babak Taghvaei memperkirakan jumlah korban tewas melebihi 300 orang hanya dalam 48 jam terakhir.

Ke Mana Arah Iran Selanjutnya?

Tokoh oposisi Yahudi Iran, Neuberger, menulis dengan nada emosional bahwa sejak 2009, setiap gelombang protes di Iran selalu dipatahkan melalui pemutusan komunikasi dan pembantaian massal.

Namun kali ini, situasinya berbeda. Jumlah demonstran justru terus bertambah, koordinasi semakin rapi, dan untuk pertama kalinya muncul figur pemimpin lapangan dengan kemampuan komando yang jelas, dikenal dengan nama Hallevi.

Menurut Neuberger, ini bukan lagi sekadar pemberontakan—melainkan revolusi yang sesungguhnya.

Seruan Putus Asa ke Dunia

Sebuah video viral menampilkan pemuda Iran bernama Ali, yang dengan wajah terbuka mempertaruhkan nyawanya, menyerukan bantuan kepada Amerika Serikat: “Tolong bantu kami mengembalikan cahaya ke negara kami.”

Dia menegaskan bahwa rakyat Iran bukan musuh Amerika, melainkan anak-anak, orangtua, dan keluarga yang hanya menginginkan kehidupan yang layak dan bebas dari ketakutan.

Bayang-bayang Intervensi Militer AS

Akun X Safe kemudian merilis video yang menyoroti kekuatan militer Amerika Serikat, berdasarkan kesaksian pengawal Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Menurut kesaksian tersebut, 20 tentara AS tanpa korban mampu melumpuhkan ratusan lawan. Mereka disebut bergerak tanpa suara, menembakkan 300 peluru per menit, serta menggunakan senjata energi terarah yang menyebabkan lawan lumpuh seketika, dengan gejala pendarahan dari telinga dan hidung, bahkan muntah darah.

Salah satu pernyataan dalam video itu berbunyi: “Kamu pikir bisa melawan Amerika? Kamu tidak tahu betapa mengerikannya senjata mereka.”

Iran kini berada di ujung tanduk sejarah. Apakah negara ini akan menyaksikan kejatuhan rezim 46 tahun, atau justru tenggelam dalam pertumpahan darah yang lebih besar, dunia tengah menunggu jawabannya—jam demi jam.

Dari Doa ke Amarah: Masjid Terbakar, Rakyat Menuntut Akhir Rezim


EtIndonesia. Gelombang protes nasional di Iran kini memasuki hari ke-13, menandai salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah Republik Islam Iran sejak Revolusi 1979. Situasi di lapangan berkembang cepat, dengan eskalasi perlawanan rakyat di berbagai kota besar, bersamaan dengan meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dukungan Terbuka AS dan Pergerakan Militer ke Timur Tengah

Pada 10 Januari, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio menulis pernyataan di platform X, menegaskan bahwa Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani dalam menghadapi tekanan rezim. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap krisis Iran.

Di hari yang sama, sejumlah akun intelijen militer sumber terbuka melacak pergerakan sebuah pesawat angkut berat C-17 Globemaster milik Angkatan Udara AS yang lepas landas dari Jerman menuju Timur Tengah. Laporan-laporan tersebut menyebutkan bahwa Washington telah mulai menggunakan pesawat angkut strategis untuk memindahkan amunisi serta perlengkapan militer ke pangkalan-pangkalan regionalnya.

Selain itu, sebuah pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 dilaporkan lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, terbang melintasi Teluk Persia dan wilayah udara Irak dalam sebuah misi yang tidak dipublikasikan. Para pengamat militer menilai, rangkaian penerbangan ini menunjukkan peningkatan signifikan kesiapan operasional militer AS, dan tidak menutup kemungkinan sedang mengarah pada skenario serangan besar terhadap Iran.

Teheran Membara: Gedung Pemerintah Dibakar, Jalur Utama Dikuasai Massa

Menurut laporan jurnalis senior Timur Tengah Ariel Oseran dari i24News (edisi Inggris) pada 10 Januari, para demonstran di Teheran membakar gedung-gedung pemerintahan di sedikitnya 15 distrik kota.

Blogger geopolitik Mario Nawfal, yang memiliki 2,78 juta pengikut, menulis pada hari yang sama bahwa massa demonstran telah menguasai jalur lalu lintas utama Teheran dari utara ke selatan—mulai dari Lapangan Tajrish di utara hingga Taman Velayat di selatan. Jalur ini merupakan salah satu arteri transportasi paling vital di ibu kota Iran.

Nawfal menambahkan bahwa setelah bentrokan sengit, pasukan keamanan terpaksa mundur, dan dia menerima informasi bahwa Presiden Iran disebut telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei—meskipun belum ada konfirmasi resmi.

Sejumlah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan bahwa pada malam 9 Januari, rezim kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah Teheran. Kehadiran aparat keamanan hampir tidak terlihat di banyak kawasan, sementara aksi perlawanan rakyat terus berlangsung hingga larut malam. Keberadaan Ali Khamenei sendiri dilaporkan tidak diketahui.

Makam Khamenei Dibakar, Masjid Diserang, Seruan Akhir Kekuasaan Islam Menggema

Video lain yang beredar menunjukkan bahwa makam Ali Khamenei di selatan Teheran turut dibakar massa. Khamenei dikenal sebagai tokoh sentral Revolusi Islam Iran 1979 dan kerap disebut sebagai “bapak bangsa” oleh pendukung rezim. Seorang warganet membandingkan peristiwa ini dengan pembakaran Mausoleum Mao Zedong di Beijing, sebuah simbol runtuhnya legitimasi ideologis.

Selain itu, sejumlah masjid di ibu kota dilaporkan dibakar, sementara para demonstran secara terbuka menyerukan berakhirnya kekuasaan Islam di Iran. Tokoh media Tang Boqiao menyatakan bahwa hari kebebasan rakyat Iran semakin dekat.

Namun demikian, perkembangan besar ini nyaris tidak mendapat sorotan dari media arus utama internasional.

Diaspora Iran Protes BBC di London

Sebuah video memperlihatkan ribuan warga diaspora Iran berkumpul di luar kantor pusat BBC di Inggris, mengibarkan bendera singa dan matahari Dinasti Pahlavi serta bendera Israel, sebagai bentuk protes terhadap sikap diam BBC dalam melaporkan gejolak di Iran.

Pasukan Elite AS Dipindahkan, Sinyal Operasi Besar Menguat

Nawfal juga mengungkapkan bahwa dua hari sebelumnya, pada 8 Januari, unit pasukan khusus elite AS—yang sebelumnya terlibat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro—telah mulai dipindahkan ke Timur Tengah.

Lebih dari sepuluh pesawat angkut strategis AS dilaporkan menyeberangi Atlantik menuju Inggris, lalu melanjutkan penerbangan ke arah timur. Beberapa pesawat tersebut mengangkut helikopter unit Night Stalkers, yang sebelumnya berperan penting dalam menerbangkan Pasukan Delta ke Caracas.

Laporan lain menyebutkan bahwa bukan hanya Pasukan Delta, tetapi juga unit infanteri gerilya dan pasukan serbuan udara dari Eropa, sedang dipindahkan secara cepat ke kawasan Timur Tengah.

Mashhad, Bandar Abbas, Karaj: Kota-kota Strategis Dilaporkan Jatuh

Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran dan tempat kelahiran Khamenei, jutaan warga turun ke jalan pada malam hari, meneriakkan slogan “Pahlavi telah kembali” dan “Pahlavi akan kembali”. Demonstran anti-pemerintah dilaporkan telah sepenuhnya menguasai kota, sementara pasukan keamanan terjebak di beberapa gedung pemerintah.

Video memperlihatkan kantor televisi nasional Iran dan markas kepolisian setempat dibakar oleh massa.

Di saat yang sama, ribuan demonstran merebut Bandar Abbas, pelabuhan strategis di Teluk Persia yang sangat vital bagi ekonomi dan ekspor minyak Iran. Di Karaj, kota terbesar keempat Iran, balai kota dilaporkan dibakar massa. Di Provinsi Fars, para demonstran menduduki kamp Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sementara di ibu kota Provinsi Golestan, polisi dilaporkan meletakkan senjata dan menolak menghadapi demonstran.

Keuangan Iran Lumpuh, Bank Besar Hentikan Penarikan Tunai

Dalam sebuah video, seorang komandan Iran menyerukan kepada pasukan keamanan agar tidak menggunakan senjata terhadap para pemuda demonstran, menyatakan bahwa mereka bukan musuh.

Seorang pengguna X menulis bahwa sistem keuangan Iran telah runtuh. Media Iran melaporkan bahwa bank terbesar di negara itu mengalami penarikan dana besar-besaran, hingga terpaksa menghentikan layanan penarikan tunai.

Penilaian Intelijen AS Berubah Drastis dalam Dua Hari

Pada 7 Januari, badan intelijen AS CIA masih menilai bahwa protes rakyat Iran belum cukup kuat untuk menantang rezim Khamenei. Namun hanya dalam dua hari, situasi berubah drastis. Pada 9 Januari, Axios melaporkan bahwa para pejabat AS tengah melakukan penilaian ulang terhadap situasi Iran.

Sejumlah akun intelijen sumber terbuka juga melaporkan bahwa sebuah pesawat pemerintah Iran lepas landas dari Teheran menuju arah selatan, meski belum dapat dipastikan apakah pesawat tersebut terkait langsung dengan Khamenei.

Implikasi Global: Poros Energi dan Geopolitik Terancam

Seorang warganet berkomentar bahwa jika perubahan rezim di Iran benar-benar terjadi, maka tiga jalur utama yang menopang kelangsungan hidup PKT—Rusia, Venezuela, dan Iran—akan terputus secara bersamaan. Situasi ini disebut sebagai pengepungan geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya, jauh melampaui dampak perang dagang atau pembatasan teknologi.

Para pengamat menilai bahwa strategi Amerika Serikat sangat terfokus dan presisi, karena secara langsung menargetkan jalur energi, yang merupakan urat nadi vital kekuatan geopolitik PKT.

 Antara Uang dan Kehidupan

EtIndonesia. Seorang kaya raya mendatangi seorang filsuf dan bertanya mengapa setelah memiliki banyak uang, hatinya justru menjadi semakin sempit dan kikir. 

Sang filsuf membawanya ke dekat jendela, lalu bertanya: “Coba lihat ke luar. Apa yang kamu lihat?”

Orang kaya itu menjawab: “Aku melihat banyak orang di dunia luar.”

Filsuf kemudian mengajaknya berdiri di depan sebuah cermin dan bertanya lagi: “Sekarang, apa yang kamu lihat?”

“Aku melihat diriku sendiri,” jawabnya.

Filsuf tersenyum dan berkata: “Jendela dan cermin sama-sama terbuat dari kaca. Bedanya, cermin dilapisi oleh selapis tipis perak. Justru karena lapisan perak itulah, kamu hanya bisa melihat diri sendiri dan tak lagi melihat dunia.”

Banyak orang tahu bahwa John D. Rockefeller adalah seorang dermawan besar. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa dia pun pernah tertutup matanya oleh ‘lapisan perak’ itu.

Rockefeller lahir dari keluarga miskin. Pada masa awal merintis usaha, dia dikenal rajin dan tekun, bahkan dipuji sebagai pemuda yang baik. Namun ketika dia telah menjadi orang terkaya di zamannya, dia berubah menjadi serakah dan dingin. 

Penduduk wilayah ladang minyak di Pennsylvania menderita akibat kebijakannya dan membencinya setengah mati. Sebagian warga bahkan membuat patung kayu menyerupai dirinya lalu “menghukum gantung” patung itu untuk meluapkan amarah. Surat ancaman penuh kebencian membanjiri kantornya. Bahkan saudara kandungnya sendiri merasa malu atas perbuatannya dan memindahkan makam anaknya dari pemakaman keluarga Rockefeller, dengan alasan bahwa di tanah yang dikuasai Rockefeller, sang anak tak akan bisa beristirahat dengan tenang.

Paruh pertama hidup Rockefeller berlalu dalam keterasingan dan permusuhan. Pada usia 53 tahun, penyakit menyerangnya bertubi-tubi. Tubuhnya kurus kering seperti mumi. Para dokter menyampaikan kenyataan pahit: dia harus memilih satu di antara tiga hal—uang, kecemasan, atau kehidupan.

Saat itulah dia mulai menyadari bahwa dirinya telah dikendalikan oleh iblis keserakahan. Dia menuruti nasihat dokter, pensiun, belajar bermain golf, menonton komedi di teater, dan sering mengobrol santai dengan tetangga. Dia mulai menjalani hidup sederhana yang damai dan tanpa persaingan.

Kemudian, Rockefeller mulai memikirkan cara menyumbangkan kekayaannya yang luar biasa besar. Pada awalnya, banyak orang menolak, menganggap itu uang kotor. Namun dengan ketulusan dan konsistensinya, perlahan orang-orang mulai percaya.

Ketika sebuah sekolah di tepi Danau Michigan hampir bangkrut, dia menyumbangkan jutaan dolar—yang kelak melahirkan Universitas Chicago. Rumah Sakit Peking Union Medical College (Xiehe Hospital) di Beijing juga dibangun berkat dana dari Yayasan Rockefeller. 

Pada tahun 1932, saat wabah kolera melanda Tiongkok, bantuan yayasan ini memungkinkan penyediaan vaksin yang cukup sehingga bencana besar dapat dicegah. Selain itu, Rockefeller juga mendirikan berbagai lembaga kesejahteraan dan membantu komunitas kulit hitam. Sejak saat itu, pandangan dunia terhadapnya pun berubah.

Pada paruh pertama hidupnya, Rockefeller tersesat oleh uang. Pada paruh kedua, dengan menghamburkan kekayaan demi kemanusiaan, dia kembali menemukan jalan kehidupan yang benar. 

Sepanjang hidupnya, dia menghasilkan setidaknya 1 miliar dolar, dan menyumbangkan 750 juta dolar di antaranya. Dia menghabiskan satu kehidupan penuh untuk menemukan kembali dunia yang pernah hilang—dunia yang berisi ketenangan, kebahagiaan, kesehatan, umur panjang, serta penghormatan dan cinta dari sesama, hal-hal yang tak bisa dibeli dengan uang.

Rockefeller wafat pada usia 98 tahun, tanpa penyesalan.

Renungan / Hikmah Cerita

Kita tidak perlu menempuh jalan berliku sepanjang hidup seperti Rockefeller untuk memahami makna sejati kehidupan. Selama kita tidak menjauh dari kebenaran, kebaikan, dan keindahan; selama kita tidak diperbudak oleh uang, maka dunia ini tetap milik kita.

Dan hati yang tak ternodai oleh bau tembaga—suatu hari akan sejernih bulan purnama, memantulkan cahaya yang indah bersama dunia yang juga indah.(jhn/yn)

Insiden Kebakaran Besar Seperti di Hong Kong Terulang — Sebuah Gedung Tinggi di Hunan, Tiongkok, Dilalap Api

Pada 10 Januari 2026 waktu setempat, sebuah bangunan di Kota Changsha, Provinsi Hunan, Tiongkok, mengalami kebakaran hebat. Api dengan cepat merambat ke bagian atas gedung melalui perancah luar.  Pemandangan kebakaran tersebut mirip dengan kebakaran besar di Wang Fuk Court (宏福苑) Hong Kong yang terjadi sebelumnya.

EtIndonesia. Pada malam 10 Januari 2026, sebuah bangunan proyek konstruksi di tepi jalan di Distrik Tianxin, Kota Changsha, terbakar. Hingga sekitar pukul 23.00 , api terbuka baru berhasil dipadamkan.

Berdasarkan rekaman video yang beredar di internet, bangunan yang terbakar diperkirakan memiliki sekitar sepuluh lantai. Setelah kebakaran terjadi, api dengan cepat menjalar hingga ke puncak gedung. Asap tebal membumbung ke langit, dan cahaya api menerangi area proyek konstruksi di sekitarnya.

Warga sekitar mengatakan kepada reporter Jimu News bahwa kebakaran terjadi sekitar pukul 21:25. Pada awalnya api terlihat kecil dan ia mengira seseorang sedang menyalakan api untuk menghangatkan diri. Namun, api kemudian semakin membesar, dan fasilitas penahan debu pada perancah konstruksi ikut terbakar sehingga api tampak sangat besar.

Seorang pedagang lain menyebutkan bahwa lantai paling bawah gedung tersebut adalah deretan toko, sementara di dalam gedung terdapat hotel dan hunian. Saat kebakaran terjadi, belum diketahui apakah ada orang di dalam gedung.

Menurut keterangan, karena pembangunan jalur kereta bawah tanah setempat, bagian luar gedung tersebut telah lama dipagari dengan jaring pelindung. Kebakaran kali ini dengan cepat menyebar hingga ke atap karena jaring pelindung tersebut ikut terbakar.

Departemen pemadam kebakaran Changsha kemudian mengumumkan bahwa pada pukul 21:25 malam pada 10 Januari, terjadi kebakaran di sebuah proyek konstruksi di No. 137 Jalan Shaoshan Selatan, Komunitas Meiling, Jalan Wen Yuan, Distrik Tianxin. Pihak berwenang menyatakan bahwa setelah verifikasi di lokasi, tidak ada orang yang terjebak, dan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Kebakaran ini mengingatkan publik pada kebakaran besar di Wang Fuk Court, Hong Kong, yang terjadi belum lama ini. Dalam kasus tersebut, jaring pelindung yang terbakar juga memperparah bencana. Jaring pelindung semacam ini sebagian besar berasal dari daratan Tiongkok.

Kebakaran Wang Fuk Court di Hong Kong terjadi pada 26 November 2025. Dari delapan gedung, tujuh diantaranya terbakar. Pihak berwenang menyatakan bahwa kebakaran tersebut menewaskan 161 orang dan melukai 79 lainnya, menjadikannya kebakaran dengan jumlah korban terbesar di Hong Kong dalam kurun waktu hampir 70 tahun terakhir. (Hui)

Ketika Rakyat Menantang Takdir: Iran Menggugat Kekuasaan Ulama

EtIndonesia. Situasi di Iran kini memasuki titik paling berbahaya dalam lebih dari empat dekade terakhir—sebuah fase kritis yang tidak hanya menentukan nasib rezim berkuasa, tetapi juga berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara menyeluruh.

Dalam beberapa hari terakhir, gelombang protes nasional di Iran resmi memasuki fase kedua, yang oleh banyak analis disebut sebagai fase “penentuan hidup dan mati”. Ini bukan lagi rangkaian demonstrasi sporadis, melainkan konfrontasi terbuka antara rezim teokratis yang dipimpin ulama dengan rakyat penentang kekuasaan Republik Islam.

Protes Terbesar Sejak 1979, Menyapu 115 Kota

Berbagai media internasional dan regional melaporkan bahwa gelombang perlawanan ini merupakan yang terbesar dan paling intens sejak Revolusi Iran 1979, sekaligus yang paling luas selama 46 tahun kekuasaan kelompok ulama.

Aksi protes tercatat telah terjadi di sedikitnya 115 kota, belum termasuk puluhan kota kecil dan wilayah pedesaan yang tidak terdata secara resmi. Untuk pertama kalinya, terbentuk koordinasi nasional lintas wilayah dan lintas kelas sosial, sebuah fenomena yang belum pernah terlihat dalam sejarah modern Iran.

Teheran dan Mashhad: Kota Besar Masuk Kondisi Setengah Perang

Pada malam 7–8 Januari 2026, jumlah demonstran di Teheran dan Mashhad—kota terbesar kedua Iran—diperkirakan melampaui satu juta orang.

Massa meneriakkan slogan seperti “Ini adalah pertempuran terakhir!” sambil mendorong garis pertahanan aparat keamanan. Bentrokan frontal berlangsung selama berjam-jam antara demonstran dan Garda Revolusi Islam (IRGC), milisi Basij, serta kepolisian nasional. Banyak wilayah kota berubah menjadi zona bentrokan intens, menciptakan kondisi yang oleh warga setempat digambarkan sebagai “setengah perang”.

Di kawasan Haft-e-Hoz, Teheran, sebuah gedung resmi pemerintah dibakar oleh massa. Di berbagai distrik, demonstran mengibarkan bendera Pahlavi, simbol dinasti Iran sebelum Revolusi Islam—sebuah tindakan yang secara terbuka menantang legitimasi Republik Islam Iran.

Tekanan Massa Memukul Mundur Aparat di Sejumlah Kota

Di wilayah Ashrafi, Isfahan, pasukan keamanan dilaporkan mundur tergesa-gesa akibat tekanan besar dari demonstran, mencerminkan melemahnya kontrol keamanan di tingkat lapangan.

Situasi semakin genting ketika massa sempat bergerak hingga Jalan Pirouz, hanya beberapa ratus meter dari markas pusat IRGC. Meski akhirnya dipukul mundur melalui serangan balasan besar-besaran, insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya garis pertahanan rezim.

Di Mashhad, massa berhasil memaksa IRGC dan milisi Basij menarik diri dari sejumlah wilayah strategis. Kota ini memiliki nilai simbolik tinggi, karena merupakan kampung halaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Hamedan, Ardabil, Isfahan: Kota-kota Jatuh ke Tangan Massa

Di Hamedan, demonstran menggunakan batu bata, bom molotov, bahkan senjata api untuk memukul mundur aparat dan mengambil alih operasional kota. Hamedan menjadi kota keempat yang dilaporkan “jatuh ke tangan massa” setelah Karaj, Malayer, dan Abdanan.

Bentrok keras juga terjadi di Isfahan, di mana fasilitas luar IRGC dibakar. Mahasiswa, buruh, guru, dan pedagang terlihat berada di garis depan, menandai partisipasi lintas kelas sosial yang membuat gerakan ini semakin sulit dibendung.

Di Ardabil, kantor polisi dibakar. Rekaman video memperlihatkan tarik-ulur sengit antara massa dan aparat, dengan pemandangan yang menyerupai pertempuran kota.

Perlawanan Simbolik Kaum Perempuan Iran Mengguncang Dunia

Salah satu pemandangan paling mengguncang datang dari perempuan muda Iran. Beberapa di antaranya merobek jilbab mereka di depan aparat bersenjata, berteriak: “Lindas aku dengan kendaraanmu!”

Aksi ini dipandang luas sebagai penolakan total terhadap rasa takut, sekaligus simbol runtuhnya kontrol psikologis rezim terhadap generasi muda Iran.

Korban Jiwa dan Penangkapan Massal

Hingga 8 Januari 2026, sedikitnya 41 orang tewas, sementara lebih dari 2.200 orang ditangkap, termasuk pelajar, buruh, hingga pengusaha. Dalam satu malam saja, seorang remaja 17 tahun tewas di lokasi, dan seorang pemuda 18 tahun meninggal dunia di rumah sakit. Ratusan orang dari kedua pihak mengalami luka-luka.

Internet Diputus Total, Starlink Jadi Jalur Kehidupan

Menghadapi eskalasi yang makin liar, Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, sempat berencana menyerukan mobilisasi nasional daring dan transisi ke fase perlawanan bersenjata.

Namun, pemerintah Iran segera memutus total akses internet nasional, sebuah langkah yang oleh banyak analis dipandang sebagai sinyal akan dimulainya pembersihan berdarah skala besar.

Sebelum pemadaman total, Elon Musk mengumumkan pembukaan layanan Starlink gratis bagi demonstran Iran. Banyak perangkat Starlink yang masih tersisa sejak protes 2022, dan hingga kini dinilai sulit dinetralisasi oleh pemerintah.

Seruan Terbuka ke Trump dan Netanyahu

Di Mashhad, demonstran secara terbuka menyerukan bantuan kepada Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa rakyat Iran sedang dibantai dan meminta dukungan internasional agar Pahlavi dapat kembali ke Iran—sebuah langkah yang sangat jarang terjadi dalam sejarah Iran modern.

8 Januari: Ancaman Trump dan Isu Pelarian Khamenei

Pada 8 Januari 2026, Trump mengeluarkan peringatan ketiga kepada kelompok ulama Iran, menegaskan bahwa jika penindasan berlanjut, Amerika Serikat akan memberikan pukulan keras. Dia juga secara terbuka mengklaim bahwa Khamenei tengah bersiap melarikan diri dari Teheran, disertai ancaman militer yang sangat gamblang.

Pernyataan ini langsung mengguncang opini publik internasional dan memperparah ketegangan AS–Iran.

Emas, Moskow, dan Bayang-bayang Skenario Suriah

Hampir bersamaan, kalangan diplomatik dan intelijen melaporkan bahwa Teheran diam-diam memindahkan cadangan emas dan dokumen negara penting ke luar negeri, dengan Moskow disebut sebagai tujuan utama. Meski dibantah pemerintah Iran, laporan eksklusif media Inggris memperkuat kecurigaan tersebut.

Banyak pihak membandingkan situasi ini dengan nasib mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang akhirnya berlindung di Rusia setelah kekuasaannya runtuh.

Militer AS Bergerak, Dunia Evakuasi Warga

Menurut Reuters, Komando Eropa militer AS mempercepat penempatan pasukan di sekitar Iran. Berbagai pesawat militer dikerahkan, dan Delta Force dilaporkan telah menyelesaikan penempatan garis depan di perbatasan Irak–Iran.

Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, India, dan Ukraina mengeluarkan peringatan perjalanan tingkat tertinggi dan memerintahkan warganya segera meninggalkan Iran.

Pidato Penentu Reza Pahlavi, 12 Januari

Media Jerusalem Post melaporkan bahwa Reza Pahlavi akan menyampaikan pidato penting pada 12 Januari 2026 di Mar-a-Lago, yang dipandang sebagai pernyataan arah transformasi politik Iran ke depan.

Iran di Persimpangan Sejarah

Saat ini, Iran telah menutup seluruh wilayah udaranya, sementara sistem pertahanan udara berada pada status siaga tingkat satu. BBC sebelumnya mengutip sumber yang menyebut Khamenei telah melarikan diri ke Moskow dengan membawa sekitar 95 miliar dolar AS aset, meski klaim ini belum terverifikasi.

Namun, rumor itu saja sudah cukup mengguncang fondasi rezim.

Jika rezim teokratis runtuh, sanksi Barat hampir pasti akan dicabut. Dengan cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia, Iran berpotensi mengalami transformasi ekonomi besar dalam waktu singkat—dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, harapan akan masa depan yang lebih sejahtera kembali terbuka bagi rakyatnya.

Menargetkan ISIS, Militer AS Luncurkan Serangan Udara Skala Besar di Suriah

EtIndonesia. Sebagai tanggapan atas serangan yang terjadi pada 13 Desember tahun lalu, ketika pasukan Amerika dan Suriah diserang oleh kelompok ekstremis “Negara Islam” (Islamic State) di Palmyra (Tadmur) yang menyebabkan tiga warga Amerika tewas, Komando Pusat AS pada Sabtu (10 Januari) menyatakan bahwa mereka telah melancarkan beberapa serangan udara “berskala besar”. Namun, tidak disebutkan apakah operasi tersebut menimbulkan korban jiwa.

Komando Pusat AS menyampaikan melalui platform X bahwa:  “Serangan udara hari ini (10 Januari) menargetkan sasaran-sasaran ‘Negara Islam’ di wilayah Suriah. Ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan kami untuk memberantas terorisme Islam yang mengancam personel operasi kami, serta merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike.”

Dalam pernyataannya disebutkan bahwa operasi ini merupakan “respons langsung” atas serangan pada 13 Desember terhadap pasukan AS dan Suriah di Palmyra. Serangan tersebut menewaskan dua tentara Amerika dan satu penerjemah sipil.

Pernyataan itu juga menambahkan bahwa gelombang serangan ini dilakukan tak lama setelah siang hari waktu Pantai Timur Amerika Serikat, dengan tujuan memerangi terorisme serta melindungi keamanan pasukan Amerika dan sekutunya di kawasan tersebut.

Pernyataan tersebut menegaskan:  “Pesan kami selalu jelas dan kuat: siapa pun yang melukai personel operasi kami, di mana pun mereka bersembunyi di dunia ini dan bagaimanapun mereka berusaha menghindari keadilan, kami akan menemukan dan menghancurkan Anda.”

Menurut informasi yang diperoleh, pada 10 Januari militer AS mengerahkan lebih dari 20 pesawat tempur untuk melakukan pengeboman presisi terhadap 35 target.

Cheng Yi-ren – NTDTV.com

Perbankan Tetap Solid, OJK Tegaskan Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga hingga Akhir 2025

Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kinerja sektor perbankan nasional tetap solid dan resilien di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Penegasan tersebut disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK periode Desember 2025.

OJK menilai stabilitas sistem keuangan nasional berada dalam kondisi terjaga, dengan sektor perbankan tetap menjadi penopang utama intermediasi dan kepercayaan pasar.

Perbankan: Likuiditas Kuat, Risiko Terkendali

OJK mencatat fungsi intermediasi perbankan terus berjalan dengan baik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang positif dan sejalan dengan kebutuhan sektor riil. Likuiditas perbankan dinilai memadai, dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang berada jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga pada level yang aman. OJK menilai manajemen risiko perbankan cukup solid dalam menghadapi potensi tekanan global, termasuk ketidakpastian suku bunga dan volatilitas pasar keuangan internasional.

“Perbankan nasional memiliki bantalan permodalan dan likuiditas yang kuat untuk menyerap berbagai risiko,” ujar perwakilan OJK dalam konferensi pers tersebut.

OJK juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengawasan prudensial serta mendorong perbankan menjaga prinsip kehati-hatian, khususnya dalam penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.

Pasar Modal: Volatil, namun Fundamenta Tetap Terjaga

Di sektor pasar modal, OJK mencatat adanya volatilitas seiring perkembangan sentimen global. Namun demikian, fundamental emiten dan partisipasi investor domestik dinilai tetap kuat, sehingga mampu meredam tekanan eksternal.

Industri Keuangan Non-Bank (IKNB): Tumbuh Selektif

Sektor IKNB menunjukkan pertumbuhan yang lebih selektif dengan profil risiko yang relatif terkendali. OJK terus mendorong penguatan tata kelola dan perlindungan konsumen di tengah inovasi produk dan layanan keuangan.

Keuangan Syariah dan Digital: Potensi Terus Dikembangkan

OJK juga menyoroti perkembangan positif sektor keuangan syariah serta transformasi digital jasa keuangan. Penguatan regulasi dan pengawasan diarahkan agar inovasi berjalan seimbang dengan stabilitas dan perlindungan konsumen.

Outlook 2026: OJK Perkuat Sinergi dan Pengawasan

Memasuki 2026, OJK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.