Archipelago International Hadirkan Sensasi Street Food Seoul di Indonesia Lewat “60 Seconds to Seoul”

Malang, 10 Desember 2025 – Guna merespons tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea, Archipelago International, grup manajemen perhotelan terbesar di Asia Tenggara, meluncurkan program pop-up kuliner bertajuk “60 Seconds to Seoul”. Program yang merupakan bagian dari Archipelago Global Flavours Series ini akan menghadirkan cita rasa otentik street food Seoul di seluruh jaringan hotel Archipelago di Indonesia, termasuk The Alana Hotel Malang, mulai Januari hingga Juni 2026.

Berdasarkan Survei Hallyu Luar Negeri 2024 oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, Indonesia mencatat ketertarikan tertinggi secara global terhadap budaya Korea, dengan 86,3% responden menunjukkan minat kuat, termasuk dalam hal kuliner.

“Kami menghadirkan 60 Seconds to Seoul untuk membawa cita rasa autentik street food Seoul lebih dekat ke Indonesia. Inisiatif ini akan berganti setiap enam bulan dengan menampilkan ragam street food dari berbagai negara,” jelas John Flood, CEO Archipelago.

Menu Terjangkau dengan Rasa Autentik
Dengan harga mulai dari Rp 38.000, para tamu dapat menikmati berbagai hidangan populer khas Korea seperti:

  • Tteokbokki
  • Korean Cheese Burger
  • Gangnam Hot Chicken
  • Soko Fish Taco
  • Kimchi Fried Rice

Pengalaman bersantap dilengkapi dengan pilihan dessert seperti Jeju Matcha Puff dan Baesuk Pear, serta minuman segar seperti Sparkling Yuzu Honey, Shiye Fizz, Maesil Mojito, dan Omija Cooler.

Kemudahan Akses Layanan
Menu “60 Seconds to Seoul” tidak hanya tersedia di restoran hotel, tetapi juga dapat dinikmati di area poolside, melalui room service, dan layanan pesan antar seperti GoFood dan GrabFood. Hal ini memungkinkan baik tamu hotel maupun masyarakat umum untuk menikmati sajian ini dengan mudah.

Tentang Archipelago International
Archipelago International mengoperasikan lebih dari 45.000 kamar di 300+ hotel di Asia Tenggara, Amerika Latin, Karibia, Timur Tengah, dan Oseania. Grup ini memiliki 13 merek pemenang penghargaan, termasuk Aston, Alana, Huxley, dan Quest, dengan pendekatan berbasis teknologi dan tata kelola yang kuat.

Cintailah Apa yang Telah Kamu Miliki

EtIndonesia. Pada tahun 1929, saat pasar saham New York runtuh, seorang pemilik perusahaan besar di Amerika Serikat pulang ke rumah dengan wajah muram dan hati penuh kecemasan.

“Ada apa, sayang?” tanya istrinya dengan senyum lembut.

“Habis sudah! Habis semuanya!” katanya terisak.  “Pengadilan telah menyatakan aku bangkrut. Besok, seluruh harta di rumah ini akan disita.”

Mendengar itu, sang istri bertanya pelan: “Apakah tubuhmu juga ikut disita?”

“Tidak,” jawabnya sambil mengangkat kepala, bingung.

“Kalau begitu, apakah aku—istrimu—ikut disita?”

“Tidak,” katanya lagi, menyeka air mata dan menatap istrinya dengan putus asa.

“Lalu anak-anak kita?”

“Mereka masih kecil. Urusan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.”

Istrinya tersenyum dan berkata dengan tenang: “Kalau begitu, bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa seluruh harta kita akan disita? Kamu masih memiliki seorang istri yang mendukungmu, anak-anak yang penuh harapan, pengalaman hidup yang berharga, serta kesehatan dan kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan. Adapun kekayaan yang hilang, anggap saja sebagai jerih payah masa lalu yang belum membuahkan hasil. Bukankah itu masih bisa kamu usahakan kembali?”

Tiga tahun kemudian, perusahaannya kembali bangkit dan terpilih sebagai salah satu dari lima perusahaan terbaik versi majalah Fortune. Semua perubahan itu bermula dari beberapa kalimat bijak sang istri.

Renungan / Hikmah Cerita

Saat kamu merasa terpuruk, cobalah membuat daftar aset kehidupan secara rinci:
– Apakah kamu masih memiliki tangan dan kaki yang utuh?
– Apakah kamu memiliki tubuh yang sehat dan otak yang mampu berpikir?
– Apakah kamu punya keluarga, sahabat, pasangan, atau anak-anak?
– Apakah kamu memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keahlian tertentu?

Arahkan perhatianmu pada apa yang kamu miliki, bukan pada apa yang hilang atau belum kamu dapatkan.

Ketika kamu melakukannya, kamu akan menyadari bahwa—ternyata—kamu sudah cukup beruntung dan bahagia.(jhn/yn)

Revolusi Terbuka! Iran Bergolak, Simbol Rezim Dibakar, Masjid Dibakar, Jutaan Rakyat Turun ke Jalan

EtIndonesia. Situasi di Iran dalam dua hari terakhir hanya dapat digambarkan dengan satu kenyataan pahit: sebuah rezim sedang menghadapi ancaman runtuh dari akar-akarnya. Gelombang perlawanan rakyat yang meletus sejak awal Januari kini telah berkembang menjadi revolusi nasional terbuka, dengan skala, intensitas, dan keberanian yang belum pernah terlihat sepanjang 46 tahun kekuasaan rezim teokrasi Iran.

Api yang menyala di tanah Persia bukan lagi sekadar simbol kemarahan—dia telah menjelma menjadi titik balik sejarah. Bagi sebagian pengamat, ini adalah akhir sebuah zaman. Bagi yang lain, inilah kelahiran kembali peradaban Persia yang lama terkungkung.

Gelombang Nasional: 1,8 Juta Warga Turun ke Jalan di 180 Kota

Menurut data lapangan yang masih terus diverifikasi, dalam satu malam pada 8 Januari 2026, sekitar 1,8 juta warga Iran turun ke jalan di sekitar 180 kota, mencakup seluruh 31 provinsi. Aksi yang sebelumnya disebut “demonstrasi” kini secara terbuka dinamai oleh rakyat Iran sendiri sebagai “Revolusi Nasional Iran”.

Di ibu kota Teheran, pemandangan dari udara memperlihatkan kota yang nyaris diliputi cahaya api. Gedung-gedung pemerintahan dibakar, simbol-simbol kekuasaan rezim dihancurkan, bahkan masjid-masjid yang selama puluhan tahun menjadi pilar legitimasi politik rezim agama ikut menjadi sasaran amuk massa.

Media resmi Iran mengonfirmasi bahwa setidaknya 25 masjid dibakar di Teheran hanya dalam satu malam.

Masjid Al-Rasul Dibakar: Simbol Titik Tanpa Jalan Mundur

Peristiwa paling mengguncang terjadi di Masjid Al-Rasul, sebuah masjid besar dan bersejarah di wilayah barat laut Teheran. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol langsung kekuasaan ideologis rezim teokrasi.

Pembakaran masjid tersebut dipandang sebagai pesan paling tegas dari rakyat: tidak ada lagi kompromi, tidak ada lagi jalan kembali.

Slogan yang menggema di berbagai kota pun terdengar seragam dan terang-terangan: “Gulingkan Khamenei!”

Represi Berdarah: Ratusan Korban, Rumah Sakit Lumpuh

Sejarah mencatat bahwa rezim otoriter yang mendekati kejatuhan sering kali menjadi semakin brutal—dan Iran kini menunjukkan pola yang sama.

Seorang dokter di Teheran, yang berbicara dengan mempertaruhkan nyawanya, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, hanya di enam rumah sakit ibu kota, dia menyaksikan setidaknya 217 demonstran tewas.

Sebagian besar korban meninggal akibat luka tembak, dengan kondisi yang digambarkan para tenaga medis sebagai “sangat mengerikan”. Para dokter dan perawat mengakui bahwa angka kematian sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan data yang dirilis organisasi HAM.

Rumah sakit dilaporkan kewalahan, kekurangan ruang, dan nyaris lumpuh.

Sebuah rekaman yang beredar luas memperlihatkan jenazah para demonstran diangkut dan ditumpuk dalam kantong plastik hitam, dipindahkan secara senyap ke sebuah gedung di Teheran—sebuah pemandangan yang memperkuat tuduhan pembantaian tersembunyi.

Keberanian di Hadapan Senjata: Aparat Mulai Ragu

Di tengah laras senjata, rakyat Iran justru menunjukkan keberanian yang mencengangkan. Mereka tidak mundur—sebaliknya, semakin banyak warga berdiri menghadapi aparat dengan kepala tegak.

Sebuah video viral memperlihatkan sepasang pria dan wanita, diduga pasangan kekasih, bergandengan tangan, merentangkan kedua lengan, dan berjalan lurus menuju barisan senjata aparat. Adegan ini mengguncang dunia.

Menurut informasi yang beredar, aparat tidak menembak, bahkan sebagian dilaporkan menurunkan senjata mereka.

Fenomena ini memunculkan tanda-tanda serius bahwa mesin represi rezim mulai retak dari dalam.

Aparat Menghilang, Kota Dikuasai Massa

Hingga malam 8 Januari, di sebagian besar wilayah Teheran, kehadiran polisi dan militer tiba-tiba menghilang. Militer bahkan menyerukan warga sipil untuk “membantu menggagalkan konspirasi musuh”—sebuah sinyal bahwa kendali lapangan mulai lepas.

Lapangan, jalan utama, dan kawasan pemukiman dipenuhi lautan manusia. Di saat yang sama, elite pendukung Ali Khamenei dilaporkan mulai meninggalkan posisi mereka.

Mashhad Jatuh: Media Negara Direbut Massa

Di Mashhad, kota terbesar ketiga Iran, demonstran menurunkan dan merobek bendera besar Republik Islam Iran, lalu mengambil alih kantor pusat televisi dan radio nasional setempat—sebuah langkah simbolik dan strategis yang menunjukkan runtuhnya kontrol narasi rezim.

Perlawanan terhadap Teknologi Represi: Kamera Buatan Tiongkok Dihancurkan

Fenomena mencolok lain dalam revolusi ini adalah penghancuran massal kamera pengawas buatan Tiongkok, khususnya merek Hikvision, yang selama bertahun-tahun digunakan rezim untuk memantau dan mengidentifikasi demonstran.

Di kota-kota besar maupun kecil, warga menggunakan tangga, batu, dan alat seadanya untuk menghancurkan kamera-kamera tersebut. 

Slogan yang diteriakkan berbunyi: “Jika kalian melarang kami bersuara, kami akan mencungkil mata kalian!”

Selongsong gas air mata bertuliskan “Made in China” ditemukan di jalanan Teheran, bahkan di stasiun metro, tempat gas air mata tetap digunakan meski ruang tertutup dan berisiko mematikan.

Internet Diputus, Starlink Menjadi Penyelamat

Pada 8 Januari, pemerintah Iran memberlakukan pemutusan internet nasional, bahkan memutus jaringan telepon kabel di sejumlah wilayah. Namun langkah ini gagal total.

Jaringan Starlink milik Elon Musk kembali menjadi jalur komunikasi vital. Foto-foto warga Iran memegang perangkat Starlink menyebar ke seluruh dunia.

Melalui sinyal ini, dunia menyaksikan perempuan Iran membakar jilbab, demonstran membakar foto Khamenei, gedung pemerintah dilalap api, dan bendera Singa dan Matahari era Dinasti Pahlavi dikibarkan di jalanan.

Simbolisme Global: X Ganti Bendera Iran

Pada 9 Januari 2026, platform X mengambil langkah simbolis yang mengejutkan: mengganti ikon bendera Iran. Simbol Republik Islam digantikan oleh bendera Singa dan Matahari.

Langkah ini dipandang sebagai pukulan simbolik langsung terhadap legitimasi rezim Teheran di panggung media global.

Ironisnya, Ali Khamenei sendiri memiliki akun di X. Tak lama setelah perubahan tersebut, dia menghapus simbol bendera Iran dari profilnya, seolah menyadari bahwa simbol itu tak lagi dapat dia pertahankan.

Elite Kabur, Listrik Dipadamkan

Ketika internet gagal dihentikan, rezim beralih ke pemadaman listrik di sejumlah wilayah Teheran. Namun para demonstran menyalakan lampu ponsel, mengubah kegelapan menjadi simbol kekuatan massa.

Sementara itu, laporan menyebutkan elite penguasa mulai melarikan diri. Menteri Luar Negeri Iran, Aragchi, dilaporkan membawa keluarganya ke Beirut, Lebanon. Keluarga Ketua Parlemen Ghalibaf disebut telah mengajukan visa ke Prancis.

Sikap AS Berubah: Tekanan Maksimum Kembali Diterapkan

Pada 9 Januari 2026, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keras terakhir kepada rezim Iran, menegaskan bahwa Teheran tidak boleh menguji tekad Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang menuju kebebasan terbesar dalam sejarahnya, dan AS siap membantu.

Media AS melaporkan bahwa kabinet Trump menggelar rapat darurat, membahas opsi serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran.

Senator Lindsey Graham menyampaikan pesan terbuka kepada rakyat Iran: “Mimpi buruk panjang kalian hampir berakhir. Keberanian kalian telah diperhatikan. Tuhan memberkati kalian—bantuan sedang menuju ke sana.”

Penutup: Kebangkitan Persia di Ambang Sejarah

Iran kini berdiri di persimpangan sejarah. Rezim ingin menyeret negara itu ke Abad Pertengahan, tetapi rakyatnya menyambut kebebasan dengan darah, api, dan keberanian.

Ketika demonstran Iran menurunkan bendera rezim di Kedutaan Besar Iran di London dan mengibarkan bendera Singa dan Matahari, banyak yang percaya bahwa secara spiritual dan historis, era teokrasi Iran telah berakhir—meski pertarungan terakhir masih berlangsung.

Dunia sedang menyaksikan: bukan sekadar protes, melainkan kebangkitan sebuah peradaban.

Memanfaatkan Sifat Egois

EtIndonesia. Seorang psikolog di Amerika Serikat pernah melakukan sebuah eksperimen menarik di sebuah kolam renang terbuka. Dia sengaja mengatur berbagai skenario orang yang “tenggelam”, lalu mengamati berapa banyak orang yang akan terjun untuk menolong. Hasilnya cukup menggelitik dan mengundang renungan.

Dalam eksperimen yang berlangsung selama satu tahun itu, ketika yang “tenggelam” adalah seorang lansia berambut putih, tercatat 20 orang yang melakukan penyelamatan. Ketika yang “tenggelam” adalah seorang anak, jumlah penolong meningkat menjadi 32 orang. Namun saat yang “tenggelam” adalah seorang wanita muda, jumlah orang yang melompat untuk menolong melonjak hingga 50 orang.

Psikolog tersebut menyimpulkan bahwa eksperimen ini membuktikan adanya kecenderungan egois dalam sifat manusia. Meskipun secara lahiriah sama-sama menolong orang, pada detik seseorang melompat ke air, sesungguhnya ada dorongan batin tertentu yang memengaruhi keputusan itu.

Eksperimen ini mengingatkan pada sebuah kisah nyata di sekitar kita. Ada seorang karyawan yang terkenal sangat pelit. Setiap kali perusahaan mengadakan penggalangan dana, dia paling banyak hanya menyumbang satu yuan. Namun yang mengejutkan, baru-baru ini dia menjalin hubungan bantuan pendidikan dengan seorang siswa miskin di daerah pegunungan Zhejiang Utara, dan kali ini dia langsung mengeluarkan 1.000 yuan sekaligus.

Sebenarnya, di dalam hati setiap orang terdapat kecenderungan bawah sadar yang berlandaskan pada kepentingan diri sendiri. Terus terang saja, dibandingkan banyak orang bersama-sama membantu satu orang, membantu satu orang secara langsung jauh lebih memberikan rasa pencapaian dan harapan akan “imbalan” batin.

Manusia adalah “makhluk egois”, dan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Yang penting bukanlah menentang sifat ini, melainkan memahami dan memanfaatkannya dengan bijak.

Di pinggiran sebuah kota terdapat sebuah waduk yang setiap musim panas selalu dipenuhi para perenang. Padahal waduk tersebut merupakan sumber utama air baku bagi perusahaan air minum kota. Demi menjaga kebersihan air, pihak pengelola memasang banyak papan bertuliskan “Dilarang Berenang”. Namun hasilnya tidak memuaskan—orang-orang tetap berenang seperti biasa.

Kemudian, pihak pengelola mengganti semua papan larangan itu. Kali ini, papan pengumuman berbunyi: “Air yang Anda gunakan berasal dari sini. Demi kesehatan Anda dan keluarga, mohon jaga kebersihan.”

Hasilnya sangat berbeda. Hampir tidak ada lagi orang yang berenang di waduk tersebut.

Renungan / Hikmah Cerita

Sisi egois dalam diri manusia adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah menciptakan suasana “aku untuk semua, semua untuk aku”.

Kita tentu tahu bahwa dunia membutuhkan pengorbanan dan ketulusan. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, terlalu menekankan sikap “tanpa pamrih” justru sering kali tidak menghasilkan dampak yang efektif. Memahami sifat manusia, lalu mengarahkannya ke tujuan yang baik—itulah kebijaksanaan sejati.(jhn/yn)

Iran di Ambang Runtuh: Kota-Kota Memberontak, Emas Diselundupkan, “Pesawat Hari Kiamat” AS Muncul

EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran memasuki fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal Januari 2026, gelombang aksi protes anti-rezim meningkat tajam dan kini dilaporkan telah meluas ke lebih dari 100 kota di seluruh negeri. Demonstrasi berskala nasional ini diwarnai bentrokan keras, penindasan berdarah aparat keamanan, serta tanda-tanda awal runtuhnya kendali negara atas institusi keamanan dan keuangan.

Represi Berdarah dan Jebolnya Aparat Keamanan

Pada 8 Januari 2026, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menembaki massa demonstran di wilayah Fardis, menggunakan senapan mesin. Insiden ini menyebabkan puluhan korban jiwa, meskipun angka resmi belum dirilis pemerintah.

Sehari berselang, 9 Januari 2026, situasi kian memburuk. Warga dilaporkan menduduki Kantor Polisi Kriminal Babol serta Kantor Polisi Sektor 12 dan 13, dan berhasil menyita lebih dari 500 pucuk senjata api. Di kawasan elit Sa’adat Abad, Teheran, ribuan demonstran turun ke jalan tanpa perlawanan berarti dari aparat keamanan, sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari—simbol Iran pra-Revolusi 1979.

Beberapa laporan menyebut massa bahkan sempat menerobos kawasan hunian Pemimpin Tertinggi, menandai melemahnya kontrol keamanan di jantung kekuasaan.

Elite Politik Diduga Bersiap Pergi

Tekanan politik internal turut memicu kepanikan di kalangan elite. Sejumlah media Eropa, termasuk Le Figaro, melaporkan adanya perundingan internal tertutup dengan salah satu skenario utama: Ali Khamenei meninggalkan Iran demi menjaga kesinambungan rezim.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dikabarkan telah mengurus visa melalui pengacara di Paris. Kerabat mantan Presiden Hassan Rouhani juga disebut melakukan langkah serupa. Sumber diplomatik menyebut pejabat Iran menggunakan jalur perantara Oman untuk menghubungi otoritas Prancis demi pengurusan visa keluarga.

Paralel dengan itu, beredar informasi bahwa sejumlah besar emas tengah dipindahkan ke luar negeri menggunakan pesawat kargo Rusia, memperkuat dugaan persiapan pelarian elite rezim.

Krisis Keuangan dan Penarikan Dana Massal

Kepanikan melanda sektor keuangan. Media Iran Manoto melaporkan bahwa Bank Nasional Iran, bank terbesar di negara itu, mengalami penarikan dana besar-besaran, hingga terpaksa menghentikan layanan penarikan tunai di sejumlah cabang. Dugaan kuat mengarah pada pemindahan dana dalam jumlah sangat besar oleh kalangan elite dan pejabat tinggi.

Langkah AS: Sinyal Militer Muncul ke Permukaan

Di tengah kekacauan domestik Iran, pergerakan militer Amerika Serikat mulai menarik perhatian dunia. Pada 9 Januari 2026, pesawat Boeing 747 E-4B Nightwatch—dikenal luas sebagai “pesawat hari kiamat”—terpantau melakukan patroli malam hari. Ini merupakan kemunculan publik pertama dalam 51 tahun sejarah operasional pesawat tersebut.

Pesawat E-4B lepas landas dari Bandara Los Angeles sekitar pukul 14.30 waktu Pasifik, disertai pesawat angkut militer C-17 Globemaster III. Pemerintah AS belum memberikan penjelasan resmi, namun kemunculan ini dipandang sebagai sinyal strategis tingkat tinggi.

Pesawat E-4B merupakan pusat komando udara AS untuk skenario perang nuklir atau krisis nasional. Pesawat ini dirancang tahan pulsa elektromagnetik, gelombang kejut nuklir, serta mampu menjalankan misi lebih dari tujuh hari nonstop, dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara. Sistem komunikasinya mencakup antena tarik sepanjang lima mil untuk komunikasi dengan kapal selam nuklir, dan mampu menampung hingga 112 personel komando.

Pernyataan Trump dan Aktivitas Militer Tambahan

Sekitar pukul 16.30 waktu Pantai Timur AS, Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas: “Iran sedang menghadapi masalah besar. Jika mereka kembali membantai rakyatnya seperti sebelumnya, kami akan terlibat.”

Selain itu, analis militer di platform X melaporkan sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, melintasi Teluk Persia dan Irak dalam misi yang tidak diumumkan—ditafsirkan sebagai peningkatan kesiapan operasi udara AS.

Perang Informasi dan Reaksi Global

Kelompok peretas Anonymous pada 9 Januari sore mengumumkan peluncuran “Operasi Iran”, sebagai respons atas pemblokiran internet dan penindasan brutal aparat. Sementara itu, platform X dilaporkan mengganti emoji bendera Iran dengan simbol Singa dan Matahari—sebuah langkah simbolik yang menuai perhatian luas.

Saluran televisi Israel Channel 12 melaporkan badan intelijen Israel kini merevisi penilaian sebelumnya dan menganggap demonstrasi berpotensi menjatuhkan rezim.

Seruan Reza Pahlavi dan Ancaman Mogok Nasional

Aliansi Nasional Demokrasi Iran menyatakan bahwa Reza Pahlavi tengah mempersiapkan langkah untuk kembali ke Iran. Ia menyerukan mogok kerja nasional lintas sektor dan menyampaikan pesan keras:

“Jika rezim memutus internet, maka kita harus memutus sumber pendapatan mereka.”

Seruan tersebut memicu gaung luas, dengan banyak demonstran meneriakkan “Hidup Raja!”, menandai harapan akan perubahan politik besar di Iran.


Kesimpulan

Iran kini berada di titik kritis sejarahnya. Kombinasi protes nasional, retaknya aparat keamanan, kepanikan elite, krisis keuangan, serta sinyal militer Amerika Serikat menempatkan kawasan Timur Tengah—dan dunia—di ambang eskalasi besar. Apakah ini akan berujung pada perubahan rezim atau konflik internasional terbuka, masih menjadi pertanyaan yang membuat dunia menahan napas. (***)

Iran Memasuki Hari-hari Kritis: Penindasan Brutal, Ancaman Perang, dan Dunia Hadapi Kejatuhan Rezim

EtIndonesia.  Iran memasuki fase paling krusial sejak gelombang protes nasional pecah hampir dua pekan lalu. Pada Kamis–Jumat, 8–9 Januari 2026, aksi protes di berbagai wilayah Iran resmi memasuki hari ke-12, sebuah titik balik yang dinilai akan menentukan nasib rezim Republik Islam Iran.

Gelombang demonstrasi kali ini dipicu oleh seruan terbuka Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, yang mengajak rakyat turun ke jalan pada 8 dan 9 Januari untuk menuntut perubahan politik secara menyeluruh. Seruan tersebut direspons luas oleh masyarakat, dari ibu kota Teheran hingga kota-kota besar lain di seluruh negeri.

Namun, alih-alih membuka dialog, rezim Iran justru meningkatkan represi secara ekstrem.


Pidato Keras Khamenei dan Eskalasi Konfrontasi Terbuka

Pada 9 Januari, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tampil dalam pidato televisi nasional dengan nada paling keras sejak protes dimulai. Dalam pidato tersebut, Khamenei secara terbuka menghina Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyebutnya sebagai “tiran”, dan menuduh seluruh aksi protes di Iran sebagai konspirasi asing yang dikendalikan Washington dan Tel Aviv.

Khamenei mengklaim bahwa para demonstran hanyalah alat kekuatan asing untuk “menjilat Trump”, serta menegaskan bahwa seluruh korban tewas dan luka dalam aksi protes adalah tanggung jawab Amerika Serikat. Ia juga menyatakan tidak akan menyerah dan bahkan melontarkan ancaman akan “menggulingkan pemerintahan Trump”.

Tak lama setelah pidato tersebut, akun resmi Khamenei mempublikasikan 16 unggahan berturut-turut yang seluruhnya mengecam Amerika Serikat dan Israel atas dugaan campur tangan dalam urusan domestik Iran.


Penerbangan Dibatalkan, Internet Diputus, Ancaman Terbuka ke Warga

Seiring meningkatnya ketegangan, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Turki secara bersamaan mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan menuju Iran, menandai kekhawatiran regional yang semakin serius.

Di dalam negeri, setelah pemutusan total internet dan listrik di banyak wilayah, media nasional Iran untuk pertama kalinya mengakui keberadaan aksi protes—namun dengan narasi resmi yang menyalahkan “kelompok teroris asing” yang diklaim berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam siaran televisi nasional, rezim bahkan melontarkan ancaman terbuka kepada warga: “Jangan biarkan anak-anak Anda keluar malam ini. Jika mereka tertembak, jangan mengeluh.”

Sementara itu, radio dan televisi pemerintah melaporkan adanya demonstrasi pro-pemerintah di sejumlah kota, yang menuntut aparat keamanan menumpas “perusuh asing”.


Dunia Luar Menilai: Sinyal Awal Pembantaian Massal

Pengamat internasional menilai bahwa pemadaman total internet, listrik, dan pelabelan protes damai sebagai aksi terorisme merupakan pola klasik pembenaran menuju kekerasan massal.

Banyak analis membandingkan situasi ini dengan tragedi Tiananmen 4 Juni 1989, ketika rezim menjustifikasi penindasan dengan menuduh rakyat sebagai agen asing. Di media sosial, warganet menyindir narasi Teheran sebagai “lulusan sekolah propaganda PKT” atau “naskah resmi People’s Daily—resep lama, rasa sama”.


Korban Jiwa Membengkak, Rumah Sakit Dibungkam

Jurnalis oposisi Ilya Hashemi melaporkan bahwa berdasarkan kesaksian saksi mata dan seorang dokter bedah di Teheran, jumlah demonstran yang tewas di Teheran, Karaj, dan Shahriar dalam satu malam bahkan melampaui korban pertempuran militer.

Rumah sakit dilaporkan kewalahan, kamera pengawas dimatikan, dan seluruh informasi diblokade. Di Fardis, Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) disebut menggunakan metode penyapuan senapan mesin terhadap massa, menyebabkan puluhan korban luka dan tewas.


Bentrok Besar di Teheran dan Kota-Kota Lain

Pada  8 Januari dini hari, Jalan Pahlavi di Teheran dipenuhi massa yang berusaha menyerbu Kementerian Dalam Negeri. Dua bom molotov dilaporkan dilemparkan ke kompleks tersebut, membakar sebagian fasilitas keamanan. Pasukan keamanan kemudian membuka tembakan ke arah demonstran.

Laporan internal menyebutkan 42 bus dikerahkan ke rumah sakit Teheran untuk mengangkut korban tewas dan luka.


Mashhad Jatuh ke Tangan Massa

Memasuki hari kedua seruan Pahlavi, demonstrasi kembali meledak meski represi brutal terus berlangsung. Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran sekaligus basis kekuasaan Khamenei, terjadi demonstrasi besar-besaran. Laporan menyebutkan pasukan keamanan mundur, bertahan di beberapa gedung pemerintah, sementara kota berada dalam kendali massa.


Seruan Darurat Pahlavi dan Ancaman Intervensi

Putra Mahkota Reza Pahlavi mengeluarkan seruan mendesak kepada Presiden Trump, meminta perhatian dan tindakan segera. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran kini menghadapi tembakan, pemadaman total komunikasi, dan ancaman pembantaian dengan memanfaatkan pemadaman listrik.

Pahlavi menyerukan rakyat untuk menggunakan keunggulan jumlah guna menekan aparat, serta meminta dunia bersiap melakukan intervensi bila diperlukan.


Pernyataan Keras Trump: “Jika Mereka Menembak, Kami Akan Menembak”

Pada  9 Januari sore, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan keras dalam konferensi pers. Ia menyebut kondisi Iran “sangat buruk”, mengonfirmasi bahwa rakyat telah merebut sejumlah kota, dan menegaskan Amerika Serikat terus memantau situasi. “Jika mereka menembak, kami akan menembak. Kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras.”

Trump menegaskan ini bukan berarti pendudukan militer, tetapi Iran akan membayar harga yang sangat mahal. Pernyataan ini mengejutkan jurnalis dan dinilai sebagai pengumuman de facto kesiapan serangan besar AS terhadap Iran.


Mossad Bergerak, Elite Iran Bersiap Kabur

Pada 9 Januari, beredar informasi bahwa Mossad telah melacak lokasi persenjataan dan suplai Garda Revolusi yang disembunyikan di bawah masjid dan situs suci, serta menyampaikan informasi tersebut kepada rakyat Iran. Operasi pelacakan lokasi Khamenei juga dilaporkan sedang berlangsung.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS dan Israel terlibat langsung dalam protes. Sementara itu, laporan Lembaga Penyiaran Publik Israel menyebutkan badan intelijen asing tengah memantau apakah situasi telah mencapai titik runtuh.


Tanda-Tanda Keruntuhan Internal

Laporan menyebutkan Menteri Luar Negeri Iran melarikan diri ke Lebanon, sementara Ketua Parlemen Iran mengajukan visa Prancis. Intelijen Inggris juga melaporkan pesawat kargo Rusia mengangkut emas keluar dari Teheran.

Khamenei sendiri dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi rahasia di gurun Iran timur, dengan pengamanan maksimum oleh Garda Revolusi.


Penutup: Menunggu Titik Balik Sejarah

Situasi Iran kini berada di ambang sejarah. Pengamat menilai dua kemungkinan terbuka: pembantaian besar-besaran, atau kejatuhan rezim secara tiba-tiba di bawah tekanan rakyat dan kekuatan eksternal.

Amerika Serikat dan sekutunya kini berada dalam posisi siaga tinggi. Bagi rezim diktator, pilihan sering kali tinggal dua: bertahan dengan darah, atau melarikan diri demi nyawa.

Pertanyaan yang tersisa: apakah Khamenei akan bertahan sampai akhir, atau hanya membeli waktu untuk kabur? (***)

Langit Teheran Menyala Merah: Malam Paling Berbahaya bagi Rezim Khamenei

EtIndonesia. Situasi di Iran pada Jumat malam, 9 Januari 2026, mencapai titik yang sangat emosional dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir. Rekaman-rekaman yang beredar dari ibu kota Teheran memperlihatkan pemandangan yang mengguncang: puluhan ribu warga turun ke jalan, mengubah malam kota menjadi lautan manusia, api, dan teriakan perlawanan.

Di bawah langit malam yang gelap gulita, siluet massa tampak bergerak seperti gelombang pasang. Kobaran api berwarna jingga kekuningan menyala di berbagai sudut kota, menerangi wajah-wajah penuh amarah sekaligus harapan. Asap tebal membubung ke udara, sementara sekelompok besar demonstran menari mengelilingi api unggun raksasa—sebuah pemandangan yang menyerupai ritual kuno, namun sarat makna pembebasan.

Cahaya api memantul di wajah para demonstran yang saling berpegangan tangan, berputar, bernyanyi, dan mengangkat ponsel dengan lampu menyala. Atmosfer yang tercipta bukan sekadar aksi unjuk rasa, melainkan terasa seperti pesta pembebasan kolektif setelah lebih dari 40 tahun penindasan.

Teriakan Penggulingan Rezim dan Simbol Perlawanan

Dalam rekaman lain dari malam yang sama, massa besar terdengar meneriakkan slogan-slogan yang secara terbuka menuntut penggulingan rezim Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ketika sebuah kembang api dinyalakan dari tengah kerumunan, langit malam Teheran seketika terang benderang. Alih-alih gentar, massa justru bersorak, bertepuk tangan, dan bernyanyi dengan penuh semangat.

Bagi rakyat Iran, protes ini bukanlah luapan emosi sesaat. Aksi tersebut mencerminkan akumulasi penderitaan selama lebih dari empat dekade, sekaligus tekad untuk memperjuangkan masa depan yang bebas, bermartabat, dan sejahtera bagi generasi mendatang. Banyak demonstran menyatakan bahwa mereka turun ke jalan tanpa lagi takut mati.

Teheran: Jalanan Dikuasai Massa, Aparat Nyaris Tak Terlihat

Sejumlah video memperlihatkan lautan manusia di berbagai titik Teheran, dengan ujung kerumunan yang tidak terlihat. Di Jalanan Sepehr-e Ferdows, puluhan ribu orang memenuhi ruas jalan sambil meneriakkan:

“Ini adalah pertempuran terakhir kita!”, “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”

Yang paling mencolok, hampir tidak terlihat kehadiran aparat kepolisian atau pasukan keamanan Islam di banyak lokasi. Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa rezim Islam telah kehilangan kendali atas ibu kota.

Sekitar pukul 02 : 00 dini hari waktu setempat, massa masih terus membludak. Para demonstran mendirikan barikade, membakar bendera Islam, dan menghalangi kemungkinan masuknya pasukan keamanan. Hampir di setiap rekaman dari berbagai sudut kota, yang terlihat hanyalah manusia—tak jelas lagi di mana awal dan akhir kerumunan.

Di beberapa alun-alun Teheran, warga tampak mengenakan dan mengibarkan bendera Singa dan Matahari, simbol kerajaan Iran, menandakan nostalgia sekaligus harapan akan perubahan sistem pemerintahan.

Aksi Simbolik: Pembakaran Potret dan Kendaraan Keamanan

Di Lapangan Zafaraniyeh dan Jalan Pasdaran, ribuan demonstran berkumpul di tengah gelap malam. Kilauan lampu ponsel membentuk lautan cahaya yang menggetarkan. Massa meneriakkan slogan secara serempak, menciptakan gema yang terdengar hingga jauh.

Dalam salah satu video paling mencolok, massa membakar potret raksasa Qasem Soleimani. Api melahap wajah tokoh tersebut, serpihan beterbangan di tengah asap tebal, diiringi sorak sorai dan tepuk tangan.

Rekaman lain menunjukkan kendaraan milik pasukan keamanan Iran dibakar. Api besar menjulang, asap hitam pekat membubung tinggi, menciptakan kontras dramatis dengan cahaya kota di kejauhan.

Masih pada malam yang sama, sebuah masjid di Lapangan Kachi turut dibakar. Menurut keterangan warga, bangunan tersebut berfungsi sebagai basis kelompok bersenjata rezim, bukan semata tempat ibadah.

Protes Meluas ke Seluruh Iran

Gelombang perlawanan tidak hanya terjadi di Teheran.

  • Mashhad (9 Januari malam)
    Kota terbesar kedua Iran dan kampung halaman Khamenei lumpuh total. Puluhan ribu orang memenuhi jalan, meski listrik sempat dipadamkan. Massa tetap turun ke jalan dengan lampu ponsel menyala, meneriakkan: “Reza Pahlavi kembali!”
  • Shiraz
    Gedung Bank Pertanian Iran dan Komite Bantuan Ekonomi dibakar. Puing kendaraan hangus berserakan di sekitar lokasi.
  • Isfahan
    Rekaman dari ketinggian menunjukkan api besar menyala di beberapa titik kota, sementara teriakan massa terdengar hingga beberapa blok jauhnya.
  • Yazd, Ahvaz, Bandar Abbas, Arak, dan Hamedan
    Demonstran menguasai pusat kota, membakar barikade, papan reklame rezim, hingga gedung pemerintahan bertingkat.

Di Khoy, wilayah dengan mayoritas etnis Azerbaijan, massa meneriakkan: “Kami semua adalah prajurit Dinasti Pahlavi! Kami rela mempertaruhkan nyawa!”

Peta sebaran aksi menunjukkan bahwa demonstrasi telah menjalar ke hampir seluruh penjuru Iran—dari Teheran hingga Tabriz, dari Mashhad hingga Bandar Abbas.

Internet Diputus, Starlink Jadi Penyelamat Informasi

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Iran memutus akses internet secara luas untuk mencegah mobilisasi massa. Namun langkah ini dinilai gagal. Berkat jaringan Starlink yang dibuka oleh Elon Musk, ribuan rekaman lapangan tetap berhasil dikirim ke luar negeri.

Respons Amerika Serikat dan Ancaman Internasional

Pada 9 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang menghadapi “masalah besar”. Dalam konferensi pers, Trump menegaskan bahwa jika rezim kembali menembaki rakyatnya, Amerika Serikat akan mempertimbangkan intervensi dengan menghantam titik-titik vital rezim—tanpa pengerahan pasukan darat.

Trump juga menyebut bahwa setelah menyelesaikan krisis Venezuela, fokus Washington kini tertuju pada Iran. Di sisi lain, Israel disebut telah berada dalam posisi siaga tinggi. Jika diperlukan, jet tempur F-35 Israel dapat dikerahkan ke wilayah udara Teheran dalam waktu singkat atas persetujuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Korban Berjatuhan, Situasi Masih Berkembang

Hingga dini hari 10 Januari 2026, laporan menyebutkan aparat keamanan kembali melepaskan tembakan ke arah massa di sejumlah wilayah. Ratusan orang dilaporkan luka-luka dan tewas, meskipun angka pasti masih terus diverifikasi karena kondisi komunikasi yang terbatas.

Iran di Persimpangan Sejarah

Mengutip pernyataan Xi Jinping tentang “perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad”, banyak pengamat menilai bahwa tahun 2026 benar-benar membuka babak baru sejarah dunia. Baru sepuluh hari memasuki tahun ini, dunia berpotensi menyaksikan runtuhnya lebih dari satu rezim diktator.

Di Iran, satu kesimpulan mulai menguat di kalangan rakyat dan pengamat internasional:
gelombang perlawanan ini tampaknya sudah sulit dihentikan, dan runtuhnya rezim Khamenei kini dinilai hanya tinggal menunggu waktu.

Hari ke-13 Pemberontakan Iran: Balai Kota Dibakar, Rezim Khamenei Dikepung dari Segala Arah

EtIndonesia. Iran kini memasuki hari ke-13 gelombang protes nasional yang terus membesar dan semakin sulit dikendalikan. Video-video yang berhasil keluar dari dalam negeri—meski di tengah pemutusan internet nasional—menunjukkan gelombang besar warga Iran turun ke jalan secara serentak di berbagai kota, meneriakkan slogan-slogan keras seperti “Ini adalah pertempuran terakhir!” dan “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”

Aksi-aksi tersebut menandai eskalasi paling serius dalam krisis politik Iran dalam beberapa dekade terakhir, dengan tuntutan terbuka untuk runtuhnya rezim teokrasi Islam dan pemulihan sistem monarki di bawah Dinasti Pahlavi.

Internet Diputus, Represi Aparat Berlanjut

Sejak awal Januari, pemerintah Iran menerapkan pemblokiran internet nasional secara ketat, yang secara signifikan membatasi arus informasi keluar negeri. Namun, sejumlah rekaman tetap berhasil diselundupkan ke luar Iran dan beredar luas di media sosial.

Video-video tersebut memperlihatkan tindakan represif aparat keamanan, termasuk penembakan terhadap demonstran, pengejaran massa di jalan-jalan kota, serta bentrokan keras di berbagai wilayah. 

Warga Iran di diaspora menggambarkan situasi ini dengan satu ungkapan simbolik: “Singa Persia telah terbangun.”

Korban Jiwa Terus Bertambah

Menurut laporan Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia pada 9 Januari 2026, sedikitnya:

  • 51 demonstran tewas,
  • 9 di antaranya berusia di bawah 18 tahun,
  • Ratusan lainnya mengalami luka-luka,
  • Lebih dari 2.200 orang ditahan oleh aparat keamanan.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa banyak rumah sakit di kota-kota besar penuh sesak oleh korban luka, sementara tenaga medis bekerja dalam tekanan ketat aparat keamanan.

Demonstrasi Meluas ke Kota-kota Strategis

Produser dan jurnalis multimedia berbasis London, Farzat Fattasi, membagikan ulang sejumlah video di platform X yang menunjukkan gelombang massa demonstran di berbagai wilayah, termasuk:

  • Provinsi Razavi Khorasan
  • Mashhad
  • Kawasan Makilabad

Sementara itu, laporan gabungan media diaspora menyebutkan bahwa demonstrasi besar, bentrokan, dan pembakaran terjadi di banyak kota, termasuk Teheran, Isfahan, Shiraz, Mashhad, dan Tabriz.

Balai Kota Karaj Terbakar, Jadi Simbol Perlawanan

Salah satu peristiwa paling mengejutkan terjadi di Karaj, kota strategis di Iran utara. Pada malam 9 Januari hingga dini hari 10 Januari 2026, Gedung Balai Kota Pusat Karaj dilaporkan dilalap api besar.

Api terlihat muncul serentak dari beberapa titik, dengan cepat menjalar hingga ke atap gedung bertingkat tersebut. Asap hitam pekat membumbung tinggi dan menerangi langit malam dengan cahaya merah menyala.

Menurut warga setempat, gedung itu selama ini digunakan sebagai pusat koordinasi dan komando pasukan keamanan lokal, sehingga menjadi target utama para demonstran. Insiden ini segera menjadi simbol paling mencolok dari gelombang protes anti-pemerintah yang melanda Iran.

Seruan Terbuka untuk Kembalinya Dinasti Pahlavi

Di tengah eskalasi ini, tuntutan politik para demonstran semakin jelas. Mereka secara terbuka menyerukan:

  • Runtuhnya rezim teokrasi Islam
  • Pemulihan sistem monarki
  • Kembalinya Dinasti Pahlavi

Menariknya, tiga pejabat pemerintah Iran yang berbicara secara anonim kepada The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa secara pribadi mereka merindukan kembalinya Dinasti Pahlavi. 

Salah satu dari mereka bahkan mengatakan: “Saya ingin raja saya kembali.”

Eksekusi Demonstran dan Peringatan Keras dari AS

Organisasi HAM Iran dan media diaspora melaporkan insiden penembakan langsung terhadap demonstran oleh tentara dan polisi. Bahkan, sumber-sumber Israel menyebut bahwa pemerintah Iran telah mengeksekusi demonstran untuk malam kedua berturut-turut, dan menyerukan agar Amerika Serikat turun tangan.

Pada 9 Januari 2026, Donald Trump menyampaikan pernyataan keras: “Iran sedang menghadapi masalah besar. Jika mereka mulai membantai rakyatnya seperti dulu, kami akan terlibat.”

Reaksi PBB dan Tekanan Internasional

Pada hari yang sama, Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat Iran.

PBB menyerukan:

  • Penghentian kekerasan terhadap demonstran
  • Pemulihan kebebasan internet
  • Penghormatan terhadap hak demonstrasi damai

Sejumlah negara Eropa dan Amerika juga mendesak Iran untuk segera menghentikan represi.

Isu Dukungan Tiongkok dan Peran Starlink

Masih pada 9 Januari, beredar unggahan di platform X yang mengklaim bahwa otoritas resmi Tiongkok siap memberikan dukungan intelijen dan logistik kepada Iran untuk menghadapi apa yang disebut sebagai “konspirasi eksternal”.

Namun, hingga kini:

  • Xinhua dan kanal resmi Tiongkok lainnya tidak memuat pernyataan tersebut
  • Sikap resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok tetap menekankan penolakan terhadap campur tangan asing dan seruan stabilitas regional

Di sisi lain, setelah Iran memutus internet nasional, Starlink milik Elon Musk memainkan peran krusial dengan menyalurkan informasi dari Iran ke dunia internasional secara real-time.

Platform X juga secara resmi mengganti emoji bendera Iran menjadi simbol Singa dan Matahari, lambang historis Iran sebelum Revolusi Islam. Pada saat yang sama, publik menemukan bahwa Ali Khamenei menghapus bendera Iran dari foto profil akun X miliknya—sebuah langkah simbolik yang memicu spekulasi luas.

Dampak Global dan Pandangan Washington

Perkembangan di Iran terjadi bersamaan dengan penangkapan diktator Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, memperkuat persepsi bahwa rezim-rezim otoriter global tengah menghadapi tekanan besar.

Anggota DPR AS dari Carolina Selatan, Joe Wilson, menyebut situasi ini sebagai titik balik sejarah, dan menilai rakyat Iran kini berada di momen penentuan nasib mereka sendiri, dengan dukungan Presiden Trump.

Dalam wawancara eksklusif dari Washington, Wilson menyatakan bahwa dunia berubah sangat cepat dan bahwa era “perdamaian melalui kekuatan” tengah meruntuhkan pemerintahan otoriter satu per satu.

Kesimpulan: Iran di Persimpangan Sejarah

Memasuki pertengahan Januari 2026, Iran berdiri di persimpangan sejarah yang genting. Dengan korban jiwa yang terus bertambah, simbol-simbol kekuasaan yang terbakar, dan tekanan internasional yang meningkat, masa depan negara itu kini sangat bergantung pada pilihan rakyatnya sendiri—serta bagaimana komunitas global akan merespons krisis yang terus membara ini.

Video Seorang Nenek-nenek Iran Mengangkat Kedua Tangan Menghadapi Laras Senjata, Diduga Tertembak Hingga Terjatuh, Viral di Medsos Daratan Tiongkok  

Rakyat Iran bangkit melawan pemerintahan otoriter Khamenei. Berbagai adegan mengharukan bermunculan di jalanan. Sebuah video yang beredar memperlihatkan seorang emak-emak mengangkat kedua tangannya untuk menghentikan tindakan kekerasan aparat militer dan polisi, namun diduga ia ditembak.

EtIndonesia. Dalam video tersebut terdengar suara tembakan, sementara para demonstran di jalan berhamburan menghindar, diduga dipukul mundur oleh tembakan aparat. 

Pada saat itu, seorang perempuan terlihat mengangkat kedua tangannya dan berjalan ke arah aparat militer dan polisi, tampak sambil berteriak untuk membujuk mereka agar menghentikan kekerasan. 

Di belakangnya, seorang perempuan muda berteriak panik memanggil, “Ibu!”, diduga berusaha mencegah sang ibu mempertaruhkan nyawanya. Tak lama kemudian terdengar satu kali tembakan, disusul teriakan kaget dari perempuan muda tersebut—diduga sang ibu telah tertembak.

Video ini menjadi viral di media sosial daratan Tiongkok. Banyak warganet Tiongkok menyebut ibu dalam video itu sebagai “pahlawan”, dan mendukungnya sebagai sosok yang “mengorbankan nyawanya demi memperjuangkan secercah harapan bagi putrinya”.

Banyak komentar warganet yang secara tersirat mengungkapkan keinginan untuk melawan kekuasaan otoriter Partai Komunis Tiongkok (PKT), antara lain:

 “Demi generasi berikutnya, ibu ini adalah teladan bagi kita”,
“Urusan besok biarlah diserahkan pada orang di masa depan, yang harus aku lakukan hari ini adalah mati dengan gagah”,
“Cahaya peradaban pada akhirnya akan menerangi seluruh dunia”.

Sebelumnya, beredar pula video lain di internet yang menunjukkan seorang perempuan lanjut usia berjalan di tengah barisan demonstran sambil meneriakkan slogan. Darah mengalir dari mulutnya hingga membasahi pakaiannya, diduga akibat dipukuli aparat militer dan polisi. Namun ia tetap tidak gentar menghadapi kekuasaan, dan terus melangkah maju.

Selain itu, foto-foto yang beredar di internet memperlihatkan sejumlah perempuan muda Iran membakar potret Khamenei dan menggunakannya untuk menyalakan rokok. 

Media Inggris melaporkan foto-foto tersebut dan menyebutnya sebagai “tindakan perlawanan yang berani”. Berdasarkan apa yang disebut sebagai hukum Iran saat ini, membakar foto Pemimpin Tertinggi merupakan “kejahatan serius”.

Di tengah teror pemutusan internet dan pembantaian oleh otoritas Iran, rakyat Iran tetap tidak gentar menghadapi ancaman kematian dan terus turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Banyak orang di seluruh dunia berharap Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memberikan bantuan.

Pada 10 Januari, Trump secara resmi mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa Amerika Serikat siap membantu rakyat Iran memperjuangkan kebebasan. Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah melakukan pembahasan awal mengenai serangan militer terhadap Iran, dengan salah satu opsi berupa serangan udara skala besar terhadap target militer Iran. (Hui)

Chen Zhenjin

Trump Umumkan Bantuan untuk Rakyat Iran yang Mencari Kebebasan, Media AS Ungkap Kajian Serangan Udara

EtIndonesia. Iran sedang dilanda gerakan perlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rezim teokrasi. Pemerintah kembali memutus akses internet dan melakukan pembantaian besar-besaran, namun rakyat tidak menyerah. Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan akan membantu rakyat Iran dalam upaya mereka meraih kebebasan. Media Amerika melaporkan bahwa tim Trump sedang mengkaji kemungkinan tindakan militer.

Pada 10 Januari pukul 13:27 waktu Pantai Timur AS , Trump menulis di platform Truth Social:  “Iran mungkin sedang mencari kebebasan dengan semangat yang belum pernah ada sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan!!!”

 Ia menggunakan tiga tanda seru untuk menegaskan pernyataannya.

Sekitar satu jam sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut dan melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah melakukan pembahasan awal mengenai cara-cara untuk menyerang Iran guna menepati peringatan yang sebelumnya disampaikan Trump. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah melakukan serangan udara skala besar terhadap sasaran militer Iran.

Sebelumnya, sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa pesawat-pesawat militer AS sedang dikerahkan dan berkumpul menuju kawasan Timur Tengah.

Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika otoritas Iran kembali melakukan pembantaian terhadap para demonstran seperti di masa lalu, Amerika Serikat akan turun tangan secara keras.

Pada 8 Januari, pemerintah Iran memberlakukan pemutusan internet nasional dan mulai melakukan penindasan berdarah. Majalah Time, mengutip seorang dokter setempat, melaporkan bahwa hanya di enam rumah sakit di ibu kota Teheran saja tercatat 217 orang tewas, termasuk para demonstran yang ditembak dengan senapan mesin.

Namun rakyat Iran tidak menyerah. Pada  9 dan 10 Januari malam, masih banyak warga yang turun ke jalan untuk melakukan protes. Mantan putra mahkota Iran yang kini hidup di pengasingan di Amerika Serikat, Reza Pahlavi, menyerukan agar rakyat Iran menduduki pusat-pusat kota.

Elon Musk juga mengumumkan bahwa jaringan Starlink akan dibuka secara gratis bagi para demonstran Iran. Menurut informasi yang beredar di internet, otoritas Iran berupaya keras mengganggu transmisi Starlink, tetapi belum berhasil memutusnya sepenuhnya. Warganet menduga teknologi gangguan tersebut berasal dari Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Berdasarkan informasi daring, banyak demonstran Iran menggunakan aplikasi komunikasi terenkripsi BitChat untuk menyebarkan informasi. BitChat tidak bergantung pada internet, melainkan menggunakan koneksi Bluetooth antarponsel untuk membangun jaringan luring berbasis “peer-to-peer” guna mengirimkan pesan terenkripsi. (Hu)

Sumber : NTDTV.com

Protes Rakyat Iran Terus Berlanjut, Para Demonstran Hancurkan Peralatan Pengawas Buatan Tiongkok 

Belakangan ini, aksi protes berskala nasional di Iran terus meluas. Meskipun pihak berwenang memberlakukan pemutusan internet untuk menekan penyebaran aksi protes, massa dalam jumlah besar tetap berkumpul di jalan-jalan sambil meneriakkan slogan-slogan. Sejumlah demonstran bahkan memanjat tiang listrik untuk membongkar dan menghancurkan kamera pengawas di jalanan. Peralatan pengawas tersebut diketahui dijual ke Iran oleh perusahaan-perusahaan asal Tiongkok.

EtIndonesia. Pada 28 Desember 2025, aksi protes meletus di Iran dan dengan cepat menyebar ke berbagai kota di seluruh negeri. Pada 8 Januari, otoritas Iran memutus jaringan internet dan komunikasi nasional dengan tujuan memblokir penyebaran informasi terkait protes. Pemerintah juga menggunakan kekuatan untuk menekan demonstrasi, namun rakyat tidak mundur—justru semakin banyak orang turun ke jalan.

Video yang beredar di media sosial dan telah diverifikasi menunjukkan bahwa di sejumlah kota, termasuk Teheran, massa besar berkumpul dan meneriakkan slogan seperti “Tumbangkan diktator” dan “Tumbangkan Khamenei”, sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap pemerintah.

Menurut laporan, peserta aksi protes kali ini tidak hanya berasal dari kalangan anak muda, tetapi mencakup berbagai kelompok usia dan beragam profesi.

Video yang beredar di internet memperlihatkan massa besar memenuhi jalan-jalan. Beberapa demonstran memanjat tiang di pinggir jalan untuk membongkar dan menghancurkan kamera pengawas di atasnya, sementara warga di bawah bersorak menyambut aksi tersebut.

Pada September 2022, seorang perempuan muda di Iran ditahan oleh polisi karena melanggar aturan berpakaian ekstrim Republik Islam Iran dan kemudian meninggal dunia, yang memicu gelombang protes besar. Organisasi hak asasi manusia menuduh bahwa polisi dan aparat keamanan Iran menggunakan teknologi pengenalan wajah serta sistem pengawasan yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk menindak para demonstran.

Polisi Teheran bahkan pernah memperlihatkan di televisi nasional Iran bagaimana mereka menggunakan kamera pengawas berbasis jaringan untuk mengidentifikasi, melacak, dan menangkap para demonstran.

Data bea cukai Tiongkok menunjukkan bahwa sejak gelombang protes meletus pada September 2022, ekspor peralatan pengawasan dari Tiongkok ke Iran meningkat tajam.

Pada 4 Februari 2023, menurut laporan harian Amerika The Wall Street Journal, pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan sanksi baru terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok yang menjual peralatan kamera pengawas kepada pasukan keamanan Iran. 

Target sanksi AS tersebut adalah produsen perangkat elektronik yang berbasis di Tianjin, Tiongkok, yaitu Tiandy Technologies. Perusahaan ini diketahui menjual produk kamera pengawas kepada Garda Revolusi Islam Iran. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter Li Li / Lin Qing – NTDTV.com

Video tentang Larangan Beijing terhadap Drone Memicu Sindiran Netizen Daratan Tiongkok  : “Mereka Takut dengan Delta Force!” 

Otoritas Beijing melarang penerbangan drone. Beberapa hari lalu, seorang warganet yang sedang berada di jalanan Beijing diperiksa kartu identitasnya. Setelah nomor identitas dimasukkan, sistem langsung menampilkan bahwa ia memiliki drone. 

Polisi memperingatkannya bahwa drone hanya boleh dibawa dalam keadaan mati dan sama sekali tidak boleh diterbangkan di wilayah Beijing. Banyak warganet daratan kemudian mengejek PKT dengan komentar seperti “ketakutan oleh pasukan Delta” dan “takut setengah mati, khawatir diseret keluar dari selimut”.

EtIndonesia. Seorang blogger daratan Tiongkok mengunggah video yang menunjukkan dirinya dihentikan polisi di jalanan Beijing untuk pemeriksaan KTP. Setelah nomor identitas dimasukkan, langsung muncul data bahwa ia memiliki drone. Polisi PKT memperingatkan bahwa drone hanya boleh dibawa dalam kondisi mati dan tidak boleh diterbangkan di Beijing.

Video tersebut memicu perbincangan hangat. Banyak warganet daratan menyindir kebijakan larangan drone di Beijing, antara lain:

“Benar-benar ketakutan oleh pasukan Delta.”
“Efek samping Delta masih akan terus ada.”
“Delta itu naik helikopter Chinook, bukan drone.”
“Takut pasukan Delta datang menangkap.”

(Tangkapan layar Douyin)
(Tangkapan layar Douyin)

“Tegang setengah mati, takut dibawa pergi dari dalam selimut.”
“Karena ketakutan, ‘Matahari’ (sindiran untuk Xi Jinping) harus pindah tempat tidur setiap malam.”

Ada pula blogger yang mengunggah video mengaku membeli sebuah drone DJI, lalu menerima telepon dari instansi pemerintah yang memintanya datang untuk mendaftar dan menandatangani perjanjian. Karena tak punya pilihan, ia akhirnya menjual drone tersebut.

“Pengawasan di Beijing sangat ketat, seluruh wilayah Beijing adalah zona larangan terbang,” ujar blogger itu sambil memegang drone di depan kamera. “Selama saya masih tinggal di Beijing, saya sama sekali tidak akan membeli benda ini lagi.”

Banyak warganet daratan berkomentar dengan nada mengejek:

“Apakah helikopter Chinook pasukan Delta juga perlu lapor?”
“Tengah malam, tanpa mengganggu warga atau melukai tentara, diam-diam mereka menangkapmu. Menurutmu takut atau tidak? Tidur malam harus di ruang aman baja, kalau sampai tertangkap diam-diam, tamatlah.”
“Takut, ya?”
“Sekalian saja seluruh rumahmu diangkat pergi.”
“Sepertinya sekarang tidur malam pun tidak bisa nyenyak.”

“Takut drone kalian juga dipasangi petasan.”
“DJI: tak menyangka malah diboikot di dalam negeri.”

Video larangan drone di Beijing juga memicu perbincangan hangat di platform X (Twitter) luar negeri. Banyak warganet menyindir :

“Ah, jadi pemimpin Partai Komunis juga tidak mudah, selalu waswas. Sepertinya mereka tahu betul betapa besar dosa mereka.”

“Xi kecil ketakutan sampai tak bisa makan dan tidur beberapa hari ini. Saat tidur pun harus dikelilingi 200 ‘anjing hitam’ (polisi), takut pasukan Delta turun dari langit.”

“Zhongnanhai di malam hari sekarang paling takut mendengar suara helikopter. Tidak percaya? Coba putar suara serupa dengan pengeras suara di sekitar sana, bisa ketakutan setengah mati.”

“Mungkin takut pengintaian drone tahap awal.”
“Runtuhnya PKT sudah di depan mata dan tak terelakkan.”

Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan serangan mendadak ke kediaman Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Hanya dalam beberapa jam, Maduro dan istrinya ditangkap hidup-hidup dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk diadili. Operasi ini melibatkan pasukan Delta AS, helikopter Chinook, pesawat tempur F-22, serta drone RQ-170, dan juga menyerang Pelabuhan La Guaira serta Pangkalan Fort Tiuna, menghancurkan sistem pertahanan udara Venezuela.

Beberapa jam sebelum ditangkap, Maduro sempat bertemu dengan utusan khusus PKT, Qiu Xiaoqi, beserta rombongan. Dalam pertemuan itu, Maduro menyebut pemimpin PKT Xi Jinping sebagai “kakak besar”, dan kedua pihak dikabarkan menandatangani 600 perjanjian kerja sama. Namun, sebelum delegasi Tiongkok meninggalkan Venezuela, mereka menyaksikan langsung penangkapan Maduro.

Berita penangkapan hidup-hidup Maduro oleh militer AS mengguncang dunia. Banyak warganet Tiongkok juga berharap militer AS segera menangkap diktator PKT Xi Jinping:
“Rakyat Tiongkok sudah antre terlalu lama sampai kaki pegal. Amerika, tolong bergerak lebih cepat!”

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Wen Hui

Apakah Kematian Seorang Siswi SMP di Henan, Tiongkok  terkait dengan Perdagangan Organ? Laporan Resmi Pemerintah Justru Memicu Meluasnya Keraguan Publik 

Pada 8 Januari, seorang siswa SMA di Kabupaten Xincai, Provinsi Henan, Tiongkok, meninggal dunia di dalam area sekolah. Pihak berwenang menyatakan bahwa kasus pidana telah dikesampingkan. Namun, adanya bekas tusukan jarum di dada siswa serta darah yang mengalir dari sudut mulut menimbulkan kecurigaan luas. 

Sejumlah netizen yang mengaku sebagai profesional medis menganalisis bahwa siswa tersebut kemungkinan menjadi korban pengambilan organ. Bahkan,  tindakan pihak sekolah yang tergesa-gesa memindahkan jenazah sebelum orangtua tiba diduga berkaitan dengan hal tersebut.

EtIndonesia. Pada 9 Januari 2026, Biro Pendidikan Kabupaten Xincai, Henan, Tiongkok mengeluarkan pernyataan situasi yang menyebutkan bahwa pada 8 Januari terjadi insiden kematian seorang siswa di Sekolah Jinshi Qinghuayuan, Kabupaten Xincai. Setelah diselidiki oleh aparat kepolisian, “kasus pidana telah dikesampingkan”.

Namun, pernyataan tersebut tidak memberikan penjelasan mengenai pemindahan jenazah lebih awal maupun temuan “bekas tusukan jarum di dada dan darah di sudut mulut” pada tubuh siswa.

Pernyataan resmi ini memicu keraguan luas dari warganet. Banyak yang mempertanyakan:
“Ada lubang di dada, darah keluar dari mulut, ambulans hendak membawa jenazah sebelum keluarga tiba, tapi disebut kecelakaan—kalian percaya?”
“Sampai sekarang tidak ada pengumuman dari kepolisian, hanya dari biro pendidikan. Sejak kapan biro pendidikan punya kewenangan mengumumkan kasus pidana?”
“Tidak membuka rekaman CCTV sudah menjelaskan segalanya.”
“Apakah kalian menganggap kami bodoh?”

(Tangkapan layar internet)

Sebagian warganet merangkum berbagai kejanggalan dan mengajukan pertanyaan berikut:
“Kejanggalan pertama: apa penyebab cairan darah yang keluar dari mulut?
Kejanggalan kedua: bagaimana bekas tusukan jarum di dada kiri bisa terjadi?
Kejanggalan ketiga: jika siswa mengalami masalah, mengapa orang tua tidak segera diberi tahu?

 Kejanggalan keempat: jika ini kecelakaan, mengapa setelah anak meninggal tidak menunggu orang tua untuk mengidentifikasi jenazah, melainkan tergesa-gesa menangani jenazah secara diam-diam (apa yang ditakuti?)
Kejanggalan kelima: saat pemindahan jenazah dihalangi orang, mengapa berbohong dengan mengatakan tidak ada orang di dalam kendaraan? Apa yang sebenarnya ditutupi? Apa yang ditakuti?”

Seorang warganet yang mengaku sebagai profesional menulis bahwa bekas tusukan jarum di dada dan darah di sudut mulut anak tersebut merupakan akibat dari pengambilan darah dari jantung. Tusukan jarum digunakan untuk menyuntikkan obat, yang menurutnya merupakan cairan klinis untuk pengawetan organ, dengan tujuan “mempertahankan viabilitas organ di luar tubuh”.

(Tangkapan layar internet)

Ada pula warganet lain yang mengatakan:
“Sekadar menjelaskan, ini adalah pengambilan darah dari jantung. Setelah jarum ditusukkan, darah seharusnya diambil perlahan. Jika diambil terlalu cepat, jantung akan kosong, lalu terjadi gagal jantung akut, diikuti edema paru akut. Setelah edema paru akut, busa darah berwarna merah muda akan keluar dari mulut. Semua yang belajar kedokteran pasti paham.”

Seorang warganet lokal dari Xincai mengungkapkan bahwa kejadian serupa bukan pertama kalinya terjadi di sekolah tersebut, dan sebelumnya juga pernah ada kasus serupa. Menurut video yang beredar di internet, insiden ini memicu protes besar dari warga setempat, dan pihak berwenang mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata untuk menjaga stabilitas.

Warganet setempat mengatakan bahwa pada sore hari 9 Januari, jalan tol di wilayah tersebut telah ditutup.

“Saya orang Xincai. Ini bukan pertama kalinya sekolah ini mengalami masalah. Sore hari siswa dipulangkan dengan bus, dan sekarang jalan tol sudah ditutup.”
“Kekuatan mereka besar, sampai jalan tol pun ditutup.”

(Tangkapan layar internet)

Menurut laporan sebelumnya, pada 8 Januari pagi, seorang siswa SMA berusia 14 tahun di Sekolah Menengah Atas Jinshi Qinghuayuan, Kabupaten Xincai, Henan, meninggal dunia di lingkungan sekolah. Pihak sekolah diduga berupaya memindahkan jenazah siswa dengan ambulans tanpa memberi tahu orang tua. Kendaraan tersebut kemudian dihalangi oleh pihak keluarga menggunakan truk di gerbang sekolah.

Laporan gabungan oleh reporter Li Li /Xu Gengwen – NTDTV.com