“Jabat Tangan Kematian” Xi Jinping Sebagai “Mitra Baik” : Setelah Bersalaman dengannya, Empat Pemimpin Negara Berturut-turut Lengser

EtIndonesia. Belum lama ini, militer Amerika Serikat menangkap hidup-hidup Nicolás Maduro beserta istrinya, memicu perhatian luas opini publik dunia. Pengamatan pihak luar menemukan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, di antara para pemimpin asing yang disebut pemimpin PKT Xi Jinping sebagai “teman baik” dan pernah berjabat tangan dengannya, setidaknya empat orang berturut-turut lengser dari kekuasaan. Warganet pun menyindir bahwa Xi Jinping adalah pemilik “jabat tangan kematian” paling kuat di dunia.

Presiden Venezuela Maduro, Disebut Xi Jinping sebagai “Mitra Baik”

Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan serangan mendadak ke Venezuela dan berhasil menangkap hidup-hidup Presiden Maduro, lalu membawanya ke New York untuk diadili.

Sebelumnya, pada Mei tahun lalu, Xi Jinping bertemu Maduro di Moskow. Saat itu, Xi dan Maduro berjabat tangan dengan akrab. Xi menyebut kedua pihak sebagai mitra baik yang saling percaya dan berkembang bersama. Maduro juga menyatakan harapannya untuk memperkuat “kemitraan strategis sepanjang waktu” dengan Tiongkok.

Maduro telah berulang kali mengunjungi Tiongkok dan bahkan memuji ponsel Huawei yang dihadiahkan Xi Jinping kepadanya, dengan klaim bahwa ponsel tersebut paling aman dan tidak dapat disadap oleh Amerika Serikat. Namun kini, Maduro telah ditangkap oleh militer AS dan langsung dibawa ke New York untuk diadili.

Sejumlah warganet berspekulasi bahwa penangkapan Maduro kali ini mungkin justru karena ponsel Huawei tersebut melacak keberadaannya. Terlebih lagi, pada malam hari setelah ia menerima delegasi PKT, ia ditangkap di istana presiden. Karena itu, militer AS seharusnya “berterima kasih” kepada Xi Jinping yang dianggap “membantu”.

Perdana Menteri Nepal Oli Bertemu Xi Jinping, Seminggu Kemudian Lengser

Pada akhir Agustus 2025, Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Oli berkunjung ke Tiongkok dan bertemu Xi Jinping. Saat itu, Xi menyatakan bahwa kedua negara memiliki hubungan “persahabatan lintas generasi” dan “saling memahami serta saling dekat”.

Namun, hanya seminggu setelah Oli kembali ke Nepal, menghadapi gelombang besar demonstrasi rakyat yang kian memanas, ia terpaksa mengundurkan diri dengan suram. Nepal juga merupakan salah satu mitra proyek “Belt and Road” PKT, dengan berbagai investasi dan proyek pembangunan Tiongkok di negara tersebut.

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina Bertemu Xi, Pulang lalu Lengser dan Mengungsi

Bangladesh, yang juga merupakan mitra kerja sama “Belt and Road” PKT, menyaksikan Perdana Menteri saat itu Sheikh Hasina mengunjungi Tiongkok pada Juli 2024 dan bertemu Xi Jinping, saling membicarakan “persahabatan”.

Namun setelah Hasina kembali ke negaranya, pada Juli–Agustus tahun yang sama, Bangladesh dilanda gerakan mahasiswa besar-besaran. 

Menghadapi demonstrasi rakyat, pemerintah melakukan penindasan berdarah yang menyebabkan sekitar 1.400 orang tewas, memicu kemarahan publik yang lebih luas. Akhirnya, Hasina yang telah berkuasa selama 15 tahun terpaksa mengundurkan diri dan melarikan diri ke India. Setelah itu, Pengadilan Kejahatan Perang Internasional Bangladesh menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Presiden Suriah Assad dan “Persahabatan di Masa Sulit” dengan Xi Jinping

Presiden Suriah Bashar al-Assad pada September 2023 membawa seluruh keluarganya berkunjung ke Tiongkok, bertemu Xi Jinping, dan bahkan pergi ke Kuil Lingyin di Hangzhou untuk “bersembahyang kepada Buddha”.

Saat itu, media resmi PKT menyatakan bahwa Xi Jinping dan Assad “sepakat bahwa Tiongkok dan Suriah adalah sahabat setia dan sahabat di masa sulit”, serta menyetujui pembentukan “kemitraan strategis” antara kedua negara.

Namun hasilnya, pada akhir 2024, Assad tumbang dari kekuasaan dan segera melarikan diri ke Rusia, mengakhiri 50 tahun pemerintahan keluarga Assad.

Terkait “kemitraan strategis” yang pernah dibangun antara Tiongkok dan Suriah, sejumlah warganet menyindir bahwa investasi pemerintah PKT kembali “lenyap tanpa hasil”.

Sumber ; NTDTV.com

AS dan Tiongkok Berselisih di Dewan Keamanan PBB: Tegaskan Penangkapan Maduro Sebagai Penegakan Hukum, Bukan Invasi 

Terkait penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar pertemuan di New York pada 5 Januari 2026. Perwakilan AS menegaskan bahwa penangkapan Maduro merupakan tindakan penegakan hukum, bukan invasi. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz:  “(Maduro) akan menjalani proses peradilan di Amerika Serikat.”

EtIndonesia. Menanggapi penangkapan pemimpin diktator Venezuela, Nicolás Maduro, oleh Amerika Serikat, Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan pada tanggal 5. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menggunakan sekitar 10 menit untuk menjelaskan secara menyeluruh posisi Amerika Serikat.

Duta Besar AS untuk PBB, Waltz:  “Kami tidak melancarkan perang terhadap Venezuela dan rakyatnya. Kami tidak menduduki sebuah negara. Ini adalah sebuah operasi penegakan hukum.”

Kuasa Usaha Sementara Perwakilan Tetap PKT untuk PBB, Sun Lei:  “Tiongkok dengan tegas menentang hal ini.”

Dalam pertemuan tersebut, Rusia, Kolombia, dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyatakan kecaman terhadap Amerika Serikat. Perwakilan PKT juga menyerukan bahwa “cara militer bukanlah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.”

Sementara itu, pihak AS kembali menegaskan bahwa Maduro membantu masuknya narkoba ilegal dalam jumlah besar ke Amerika Serikat, yang juga secara bertahap mengalir ke Eropa. Selain itu, Maduro disebut sebagai pemimpin dari rezim ilegal dan bukan kepala negara yang sah.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz:  “Jika PBB dan lembaga-lembaganya memberikan legitimasi kepada seorang teroris bandar narkoba yang tidak sah, dan memberinya perlakuan yang sama seperti presiden terpilih atau kepala negara, maka organisasi seperti apa sebenarnya PBB itu?”

Waltz lebih lanjut menyatakan bahwa dunia tidak boleh membiarkan cadangan energi terbesar di dunia jatuh ke tangan musuh Amerika Serikat, serta tidak mengizinkan Belahan Barat dimanfaatkan sebagai basis operasi oleh kekuatan yang memusuhi AS.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz:  “Anda tidak boleh mengubah Venezuela menjadi basis bagi Iran, Hizbullah, geng kriminal, intelijen Kuba, dan aktor-aktor jahat lainnya yang mengendalikan negara tersebut.”

Selain Amerika Serikat, Swiss juga bergabung dalam aksi pengetanan. Pemerintah Swiss mengumumkan pembekuan seluruh aset yang dimiliki Maduro dan 37 orang terkait lainnya di wilayah Swiss. Langkah ini segera berlaku. (Hui)

Disusun dan dilaporkan oleh Lin Jiawei dan Zeng Xinmin, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.

Selebgram Wanita Tiongkok Berusia 20 Tahun Terlantar di Jalanan Kamboja, Ia Ditemukan Dalam Kondisi Linglung dan Cedera Lutut 

Belakangan ini, kabar tentang selebgram perempuan Tiongkok berusia 20 tahun bernama “umi” (nama asli: Wu Zhenzhen) yang terlantar di jalanan Kamboja telah memicu perhatian publik. Setelah itu, lebih banyak informasi mengenai kondisinya pun terungkap.

EtIndonesia. Wu Zhenzhen, selebgram asal Provinsi Fujian, lahir pada tahun 2005 di Kota Jian’ou, Fujian. Akun Douyin miliknya memiliki sekitar 24 ribu pengikut. Pada 26 Desember tahun lalu, ia ditemukan terlantar di jalanan Sihanoukville, Kamboja, dalam kondisi linglung, wajah tampak sangat lelah, tubuh kurus, lutut diduga mengalami cedera, dan secara keseluruhan berada dalam keadaan yang sangat buruk. 

Ia mengaku datang ke Kamboja karena tergiur tawaran “pekerjaan bergaji tinggi”, namun akhirnya terlantar di jalanan.

Pada 5 Januari 2026i, Wu Zhenzhen mengatakan kepada China News Weekly melalui panggilan video bahwa pada Maret 2025 ia pergi ke Kamboja untuk bekerja atas perkenalan seorang teman, dan bekerja di sektor jasa. Selama bekerja di sana, ia berkenalan dengan seorang pacar, namun kemudian putus. 

Mengenai alasan dirinya terlantar di jalanan, ia menyatakan bahwa karena keterbatasan mobilitas dan kondisi fisiknya yang buruk, pemilik tempat tinggal khawatir akan keselamatannya sehingga mengusirnya.

Saat ini, Wu Zhenzhen sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Tongji, Sihanoukville, Kamboja. Pihak rumah sakit menyampaikan bahwa saat dirawat, ia mengalami batuk dan sesak napas disertai nyeri dan kembung perut, kesulitan buang air kecil, serta kelelahan di seluruh tubuh. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan ia didiagnosis menderita infeksi paru-paru, radang selaput dada (pleuritis), efusi pleura, retensi urine, serta gangguan somatisasi dan hipoalbuminemia (kadar protein darah rendah).

Setelah beberapa hari perawatan, tanda-tanda vitalnya stabil, nafsu makannya berangsur meningkat, dan keinginannya untuk berkomunikasi secara aktif juga membaik. Rumah sakit melakukan tes rambut, dan hasilnya menunjukkan positif metamfetamin (sabu-sabu) dan ketamin.

Dalam proses wawancara, ingatan Wu Zhenzhen tampak kabur dan ia enggan banyak berbicara. Ia menyebut pernah dikurung selama beberapa hari, namun tidak dapat menjelaskan alasan maupun lokasi penahanan tersebut. Ia juga beberapa kali menyebut dirinya bekerja sebagai pelayan di Kamboja, tetapi tidak mau menjelaskan secara rinci jenis pekerjaan yang dilakukan.

Ibu Wu Zhenzhen mengatakan bahwa setelah lulus SMP, putrinya bekerja di luar daerah dan jarang berhubungan dengan keluarga. Keluarga baru mengetahui bahwa ia ke luar negeri setelah lebih dari sebulan. Saat itu, putrinya hanya mengatakan bahwa “di Kamboja uang mudah didapat”, tanpa menjelaskan pekerjaan apa yang ia lakukan.

Menurut penuturan sang ibu, setelah bekerja sekitar setengah tahun, Wu Zhenzhen kehilangan pekerjaannya dan kemudian berulang kali meminta uang kepada keluarga. Selain orang tuanya, ia juga meminjam uang dari banyak kerabat dan kenalan. Seiring permintaan uang yang semakin sering, sang ibu mulai khawatir akan keselamatan putrinya, bahkan mencurigai bahwa ia mungkin berada di bawah kendali orang lain.

 “Saya bertanya uang itu dipakai untuk apa, dia selalu menghindari pertanyaan ini. Tidak mungkin dalam dua hari bisa menghabiskan 10.000 yuan,” ujar sang ibu.

Kontak terakhir antara Wu Zhenzhen dan ibunya terjadi pada pagi hari sekitar pukul 09.00 tanggal 26 Desember 2025 melalui panggilan video. 

Saat itu, sang ibu sudah merasa kondisi putrinya tidak baik. Setelah sambungan terputus, mereka tidak lagi bisa berkomunikasi. Hingga akhirnya, seorang kerabat melihat foto Wu Zhenzhen yang terlantar di jalanan beredar di internet, barulah sang ibu mengetahui kondisi putrinya.

Menurut laporan Jimu News, ayah Wu Zhenzhen menyebutkan bahwa pada hari mereka kehilangan kontak, putrinya menghubungi keluarga dan mengatakan bahwa kakinya bermasalah serta membutuhkan uang untuk berobat. Keluarga segera mentransfer 2.200 yuan. Namun kemudian, setelah kerabat melihat foto-fotonya di jalanan secara daring, mereka tidak lagi bisa menghubunginya. Keluarga Wu lalu melaporkan kejadian ini kepada polisi.

“Pasti dia ditipu untuk pergi ke sana. Dia bilang uang di sana sangat mudah didapat,” ungkap sang ayah. Ia menambahkan bahwa putrinya memang sangat ingin menghasilkan uang. Pada awal mencoba berwirausaha, ia pernah menjual komputer, sepatu, dan pakaian, namun setelah itu ia tidak tahu pasti apa pekerjaan yang dilakukan putrinya.

Ibu Wu Zhenzhen mengatakan kepada Cover News bahwa pada 6 Januari sekitar pukul 15.00 ia berangkat menuju Kamboja. Tiket pesawat dibantu dibelikan oleh kerabat, dan ia ditemani oleh teman dari keponakannya. Ayah Wu tidak ikut karena keterbatasan fisik. Kondisi kesehatan putrinya masih kurang baik dengan banyak masalah kesehatan. 

Dalam panggilan video pada l 5 Januari, kondisi Wu Zhenzhen tampak lebih baik dibandingkan foto-foto yang beredar. Setibanya di Kamboja, keluarga akan melihat langkah apa yang perlu diambil, dan untuk sementara belum diketahui kapan mereka bisa membawa Wu Zhenzhen kembali ke Tiongkok. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Seiring dengan Menyebarnya Wabah Flu di Tiongkok, Orang-orang dari Segala Usia dan Jenis Kelamin Meninggal Dunia Satu Demi Satu

Kita kembali menyoroti wabah di Tiongkok. Belakangan ini, rumah sakit di berbagai kota dipenuhi pasien, dan sejumlah rumah duka kembali penuh sesak. Para pelaku industri pemakaman serta banyak warga Tiongkok mengungkapkan di internet bahwa banyak lansia meninggal dunia, dan tidak sedikit pula kaum muda yang meninggal secara mendadak.

EtIndonesia. Baru-baru ini, sejumlah warganet mengunggah video yang mengatakan bahwa para lansia meninggal satu per satu. Banyak netizen juga meninggalkan komentar, menyebutkan bahwa di desa mereka banyak lansia yang wafat, bahkan ada juga kaum muda yang meninggal.

Seorang petugas pemakaman bermarga Wei dari Ningbo, Provinsi Zhejiang, menyatakan bahwa di daerah setempat jumlah lansia yang meninggal relatif banyak. Gelombang kematian datang silih berganti, dan gelombang terbaru mencapai puncaknya sekitar perayaan titik balik matahari musim dingin (Dongzhi).

 “Yang meninggal banyak berusia 80–90 tahun atau 70–80 tahun. Penyakit jantung dan pembuluh darah otak cukup banyak. Rata-rata harapan hidup di Ningbo, Zhejiang, sebenarnya cukup tinggi,” kata petugas pemakaman Ningbo, Zhejiang, Tn. Wei. 

“Wabah ini berdampak cukup besar pada paru-paru lansia—pada beberapa kasus, paru-paru sampai tampak ‘memutih’. Anak muda yang sakit biasanya menderita penyakit berat, seperti kanker, yang sudah tidak bisa diobati lagi sehingga akhirnya meninggal. Kalau bukan karena wabah, mereka sebenarnya masih bisa hidup lebih lama,” tambahnya. 

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, jalan di depan Rumah Duka Hefei mengalami kemacetan panjang; Rumah Duka Yinchuan penuh sesak dengan keluarga yang menunggu pengambilan abu jenazah; Rumah Duka Jingzhou juga dilaporkan penuh.

Seorang perias jenazah bermarga Liu dari Anhui mengatakan bahwa perusahaan pemakaman yang ia kelola menyediakan layanan satu paket dan bekerja sama dengan rumah duka setempat. Setiap tahun, musim panas dan musim dingin merupakan musim sibuk bagi industri pemakaman. Terlepas dari usia, sebagian besar kematian disebabkan oleh penyakit.

Perias jenazah Anhui, Tn. Liu:  “Banyak yang meninggal karena sakit—serangan jantung dan stroke banyak. Anak muda juga banyak, bahkan cukup parah. Usia 30-an yang meninggal juga cukup banyak. Tahun ini (2025) saya menangani dua hingga tiga puluh anak kecil. Dua hari ini sangat sibuk, hampir selalu di rumah duka. Kalau ada pekerjaan, kami langsung pergi. Di kota kabupaten kami, lebih dari 20 orang meninggal setiap hari, itu dianggap normal.”

Video lain juga menunjukkan bahwa rumah duka di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Hefeng di Provinsi Hubei dan Kabupaten Shouxian di Provinsi Anhui, sedang dalam proses pembangunan.

Seorang warga Shanghai bermarga Liu mengungkapkan bahwa gelombang wabah ini dimulai sejak November 2025. Pada bulan Desember terjadi lonjakan besar di sekolah-sekolah. Banyak anak terinfeksi dan harus izin untuk berobat. Hingga kini wabah masih terus menyebar, dan rumah sakit dipenuhi pasien.

Warga Shanghai, Tn. Liu:  “Orang yang berobat sangat banyak. Ada rumah sakit komunitas yang buka tujuh hari seminggu, setiap hari penuh. Semuanya COVID, tapi secara resmi disebut hanya flu atau pilek—itu istilah yang sudah ditetapkan. Soal kematian mendadak, sejak COVID mulai, sudah ada aturan bahwa dokter tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Mereka selalu bilang itu karena penyakit bawaan sebelumnya.”

Seorang warga Taiyuan, Provinsi Shanxi, bermarga Zhao, mengungkapkan bahwa gelombang wabah kali ini sangat ganas. Banyak kaum muda dan lansia meninggal dunia. Di pedesaan setempat, ada lansia yang karena tidak punya uang untuk berobat akhirnya memilih jalan buntu. Pihak berwenang menutup informasi terkait hal ini.

Warga Taiyuan, Shanxi, Tn. Zhao:  “Kondisinya sangat serius. Remaja dan anak-anak yang terinfeksi juga banyak, dan tingkat kematian mendadak meningkat. Kaum muda juga tidak sedikit. Banyak kasus serangan jantung, stroke, nodul paru, pneumonia, dan kanker paru. Pada bulan November, ada pasangan lansia usia 70 tahun yang hanya menerima pensiun 300 yuan. Biaya medis dan hidup tidak mencukupi, mereka menyerah berobat dan akhirnya bundir.” (Hui)

Laporan hasil wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Xiong Bin dan Gao Yu.

Setiap Mimpi Mendapat Pertolongan Tuhan

EtIndonesia. Dia adalah anak seorang pedagang kayu asal Hungaria. Sejak kecil, dia terlihat lamban dan kurang cerdas, sehingga orang-orang menjulukinya “Kepala Besar”. Julukan itu pun terasa cocok dengannya. Hingga usia 9 tahun, selain pernah mendapatkan sebuah sekrup mainan sebagai hadiah karena tertib di sekolah, dia nyaris tidak pernah menerima penghargaan apa pun.

Saat berusia 12 tahun, dia bermimpi: dalam mimpinya, seorang raja memberinya penghargaan karena karyanya mendapat perhatian Nobel. Saat terbangun, dia ingin menceritakan mimpi itu kepada orang lain, tetapi takut ditertawakan. Akhirnya, dia hanya berani menceritakannya kepada ibunya.

Sang ibu berkata: “Kalau itu benar-benar mimpimu, berarti kamu anak yang berbakat. Aku pernah mendengar, ketika Tuhan menaruh sebuah mimpi yang tampak mustahil di hati seseorang, itu artinya Tuhan sungguh ingin menolong orang tersebut untuk mewujudkannya.”

Anak itu belum pernah mendengar hubungan antara mimpi dan Tuhan seperti itu. Namun setelah ibunya berkata demikian, dia langsung mempercayainya. Dia merasa dirinya adalah orang paling beruntung di dunia—di tengah dunia yang begitu luas, Tuhan seolah-olah memilih dirinya secara khusus.

Agar tidak mengecewakan harapan Tuhan, sejak saat itu dia benar-benar jatuh cinta pada dunia menulis.

“Jika aku sanggup melewati ujian, Tuhan pasti akan datang membantuku.”

 Dengan keyakinan itulah dia memulai perjalanan menulisnya.

Tiga tahun berlalu, Tuhan belum datang. Tiga tahun berikutnya berlalu lagi, Tuhan tetap belum datang.

Ketika dia masih menantikan pertolongan Tuhan, justru pasukan Hitler yang lebih dulu datang. Sebagai seorang Yahudi, dia dikirim ke kamp konsentrasi. Di tempat itu, jutaan orang kehilangan nyawa. Namun dia berhasil bertahan hidup dengan keyakinan bahwa “hidup adalah tentang menerima dan bertahan”.

“Aku bisa kembali menekuni profesi impianku,” pikirnya, ketika dia melangkah keluar dari Auschwitz.

Pada tahun 1965, dia akhirnya menulis novel pertamanya, Fatelessness (Sorstalanság).

Setelah itu, dia terus melahirkan karya demi karya.

Ketika dia sudah tidak lagi memikirkan apakah Tuhan akan menolongnya atau tidak, Swedish Academy mengumumkan: Hadiah Nobel Sastra tahun 2002 diberikan kepada penulis Hungaria, Imre Kertész.

Dia terperanjat, karena nama yang disebut itu persis adalah namanya sendiri.

Ketika orang-orang meminta penulis yang sebelumnya nyaris tak dikenal ini untuk mengungkapkan perasaannya setelah meraih penghargaan tertinggi tersebut, ia hanya berkata dengan tenang :  “Aku tidak merasakan apa-apa yang istimewa. Aku hanya tahu satu hal: ketika kamu berkata, ‘Aku memang suka melakukan ini, seberat apa pun kesulitannya aku tidak peduli,’ maka Tuhan akan meluangkan waktu untuk membantumu.”

Hikmah cerita:

Setiap mimpi mendapat pertolongan Tuhan.

Di abad baru ini, Imre Kertész menjadi bukti pertama.Kelak akan ada bukti kedua, ketiga—dan mereka tersembunyi di antara orang-orang yang berani bermimpi.

Lalu, apakah orang itu sedang membaca kisah ini sekarang… adalah kamu?(jhn/yn)

3 Menit

EtIndonesia. Kita sering kali tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan. Impian yang dulu pernah kita miliki perlahan menjadi semakin kabur, hingga kita pun kebingungan menentukan langkah berikutnya. Mungkin, setelah membaca kisah tiga menit berikut ini, kamu akan mendapatkan pencerahan.

Sebuah jam kecil yang baru saja dirakit diletakkan di antara dua jam tua. Kedua jam tua itu terus berdetak, “tik-tak, tik-tak”, detik demi detik berjalan tanpa henti.

Salah satu jam tua berkata kepada jam kecil:  “Ayo, sekarang giliranmu bekerja. Tapi aku agak khawatir, setelah kamu berdetak sebanyak 32 juta kali, aku takut kamu tidak akan sanggup lagi.”

“Ya Tuhan, 32 juta kali?” jam kecil terkejut. “Harus melakukan pekerjaan sebesar itu? Tidak mungkin, aku tidak sanggup.”

Jam tua yang satunya lagi berkata: “Jangan dengarkan omong kosongnya. Tidak perlu takut. Kamu hanya perlu berdetak satu kali setiap detik.”

“Mana ada hal yang sesederhana itu?” jawab jam kecil dengan ragu. “Tapi kalau memang begitu, aku akan mencobanya.”

Jam kecil pun dengan santai berdetak sekali setiap detik: “tik”, lalu “tak”. 

 “Tik”, lalu “tak” lagi.

Tanpa terasa, satu tahun pun berlalu—dan jam kecil itu telah berdetak sebanyak 32 juta kali.

Pesan hidup:

Setiap orang ingin mimpinya menjadi kenyataan. Namun kesuksesan sering terasa begitu jauh, seolah tak terjangkau. Rasa lelah dan kurang percaya diri membuat kita meragukan kemampuan sendiri, lalu menyerah sebelum benar-benar berjuang.

Padahal, kita tidak perlu memikirkan apa yang akan terjadi sebulan atau setahun ke depan.

Cukup pikirkan: apa yang harus aku lakukan hari ini?  Apa yang perlu aku kerjakan besok?

Lalu, lakukan dengan sungguh-sungguh.

Seperti jam kecil itu—cukup berdetak satu kali setiap detik—perlahan tapi pasti, kebahagiaan dan keberhasilan akan meresap ke dalam hidup kita.(jhn/yn)

31 Tahun Buku Zhuan Falun Diterbitkan: Insinyur AI Menemukan Kembali Arah Hidup

Jacky dulu adalah anak yang nakal dan memberontak—suka merokok, minum alkohol, bermain game semuanya ia lakukan. Orangtua dan gurunya sudah tidak berdaya lagi menghadapinya. Namun kemudian, setelah ia berkenalan dengan sekelompok orang dan membaca sebuah buku, ia meninggalkan semua kebiasaan buruk dan berubah menjadi pemuda teladan yang peduli pada orang lain. 

Dalam serial laporan “Zhuan Falun Menuntun Jalan Kehidupan” episode kali ini, mari kita simak kisah Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat.

EtIndonesia. Jacky yang berusia 22 tahun adalah seorang insinyur AI sekaligus mahasiswa pascasarjana. Sejak kecil, ia pernah tinggal di banyak negara—dari Tiongkok, Eropa, hingga Amerika Serikat. Lingkungan yang terus berubah dan beragam budaya asing memberikan banyak guncangan bagi dirinya di usia muda.

 “Saya pergi ke luar negeri sejak usia enam tahun. Waktu itu kami ke Eropa, karena perusahaan ibu saya menugaskannya ke sana. Saat remaja, setiap anak pasti melewati fase ini—tidak terlalu patuh, punya pemikiran sendiri. Saat itu saya merasa ya memang seperti itu. Semua orang melakukan ini dan itu, kadang emosinya buruk, mudah marah, main game. merokok, minum alkohol, semuanya dilakukan,” kata insinyur AI AS, Jacky Guan. 

Saat itu, Jacky adalah anak nakal dan pemberontak di mata orangtua dan gurunya. Namun menurut Jacky, sesungguhnya ia hanya merasa gelisah dan bingung terhadap kehidupan serta masa depannya.

Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat (tangkapan layar NTD)

 “Orang tua saya juga tidak punya cara untuk memaksa saya melakukan sesuatu. Bagi seorang anak, jika kamu dipindahkan ke lingkungan baru, bolak-balik seperti itu, dia perlu cara untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut,” ujarnya. 

Beruntung, sekolah menengah atas yang Jacky masuki di Amerika memiliki Klub Falun Dafa yang dapat diikuti secara bebas. Ibu Jacky juga seorang praktisi Falun Gong. Saat kecil, ia pernah melihat ibunya membaca Zhuan Falun dan berlatih. Pemandangan yang familiar ini kembali ia lihat di sekolah barunya di Amerika.


“Kebetulan di sekolah kami ada beberapa orang yang berlatih Falun Gong. Mereka melakukan latihan pagi, atau malam hari membaca buku—seperti umat Kristen membaca Alkitab. Praktisi Falun Gong membaca buku mereka, yaitu Zhuan Falun,” ujarnya. 

“Pada saat itu, saya memang sedang berada dalam kondisi seperti sedang mencari sesuatu di dalam hati—sulit dijelaskan, tetapi seperti sedang mencari rasa memiliki. Saya sudah mencoba banyak hal. Main game tidak benar-benar memuaskan, ikut-ikutan teman juga tidak. Jadi saya berpikir, kenapa tidak mencoba berlatih Falun Gong?” tambahnya. 

Dengan Zhuan Falun di tangannya, Jacky mulai membaca dengan sungguh-sungguh, dan perubahan pun perlahan terjadi.

 “Sejak berlatih Falun Gong, hidup saya benar-benar berbalik arah. Orang-orang di sekitar saya berkata, ‘Kamu seperti menjadi pribadi yang sama sekali baru.’ Mereka melihat saya kini lebih lurus dalam prinsip, lebih tertata dalam tindakan, lebih santun dalam bersikap, dan lebih tahu ke mana harus melangkah,” ujarnya.

Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat (tangkapan layar NTD)

“Dulu saya pemarah. Setelah belajar Falun Gong, orang-orang berkata kepada saya bahwa saya seharusnya berbicara dengan orang lain dengan lebih baik, lebih mau berdiskusi. Saya merasa itu benar. Melalui ini saya tahu bahwa saya harus menjadikan ‘Sejati, Baik, Sabar’ sebagai standar untuk menilai baik dan buruk,” katanya. 

“Saya menggunakannya untuk menilai apakah saya berbohong pada orang lain, apakah tindakan saya sesuai dengan hati nurani saya, apakah saya memperlakukan orang lain dengan baik, dan apakah saya mampu bersabar saat menghadapi kesulitan,” imbuhnya. 

Melalui pembelajaran Zhuan Falun, kebuntuan batin Jacky pun terbuka. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidupnya mendapat jawaban, dan ia menemukan tempat berlabuh yang telah ia cari sejak kecil. Ia menjadi sangat yakin terhadap masa depannya.

“Bukan hanya memahami banyak prinsip yang sebelumnya tidak saya ketahui, tetapi saya juga menyadari bahwa inilah sesuatu yang telah lama saya cari. Setelah berlatih Falun Gong, saya benar-benar menemukan arah hidup saya. Jika saya tidak memiliki arah ini, mungkin sekarang hidup saya akan penuh kebingungan,” tambahnya. 

Pada saat yang sama, latihan Falun Gong juga sangat meningkatkan kemampuan belajarnya. Dari yang sebelumnya berprestasi biasa saja, setelah lulus SMA ia berhasil diterima di universitas ternama di Swiss, Universitas Zürich, memenuhi harapan orang tuanya. Namun setelah belajar selama setengah tahun, Jacky memilih kembali ke Amerika. Ia merasa sangat bersyukur karena menemukan keyakinannya di sini.

 “Dalam kehidupan duniawi, kamu selalu akan memiliki berbagai pemikiran. Tetapi jika kamu tidak memiliki keyakinan, itu adalah hal yang sangat menakutkan. Saya merasa bahwa jika kamu menemukan keyakinan, kamu akan memiliki batasan dan norma untuk mengendalikan diri, dan itu bisa menjamin bahwa kamu dapat membuat banyak pilihan yang benar dalam hidup. Dan bagi saya, keyakinan itu adalah Falun Gong,” tambahnya. 

Perubahan besar lainnya adalah, setelah berlatih Falun Gong, Jacky belajar untuk peduli pada orang lain. Ia sering mengorganisir berbagai kegiatan di sekolah dan komunitas untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Tanggal 4 Januari 2026 menandai peringatan 31 tahun penerbitan buku Zhuan Falun, karya pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi. Buku ini telah menuntun ratusan juta orang menuju kesehatan fisik dan peningkatan spiritual, kembali pada jati diri sejati manusia.

 “Tentu saja saya sangat bersyukur. Siapa yang bisa menulis buku sebaik ini, saya rasa pasti bukan orang biasa. Bagi kami yang belajar Falun Gong, selama kamu mengikuti buku ini dan mengikuti Dafa ini, kamu bisa menjadi orang baik. Dan, dalam hidupmu, kamu bisa menemukan tempatmu berlabuh,” pungkasnya. (Hui)

Coba Bayangkan… Lima Tahun Lagi, Apa yang Paling Kamu Inginkan?

EtIndonesia. Saya pernah membaca sebuah kisah yang sangat menyentuh di sebuah majalah—sebuah kisah tentang mimpi.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang staf laboratorium pesawat ulang-alik di NASA wilayah Houston. Di saat yang sama, dia juga kuliah jurusan komputer di University of Houston.

Meski hidupnya nyaris habis terbagi antara sekolah, tidur, dan pekerjaan—hingga hampir mengisi 24 jam setiap hari—selama masih ada satu menit tersisa, dia selalu mencurahkan seluruh energinya untuk mencipta musik.

Menulis lirik bukan keahliannya. Karena itu, selama periode tersebut dia terus mencari rekan yang pandai merangkai kata untuk berkolaborasi. Hingga akhirnya dia bertemu seorang sahabat bernama Vaneri. Dialah yang, di masa-masa awal perjalanan kariernya, memberi dukungan paling besar.

Vaneri saat itu baru berusia 19 tahun, namun sudah berkali-kali memenangkan lomba puisi di Texas. Tulisan-tulisannya membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka benar-benar menciptakan banyak karya yang bagus bersama, dan hingga hari ini, dia masih menganggap karya-karya itu sarat dengan keunikan dan kreativitas.

Suatu Sabtu pagi, Vaneri dengan penuh semangat mengundangnya ke peternakan keluarganya untuk acara barbeku. Keluarganya adalah taipan minyak terkenal di Texas dan memiliki lahan peternakan yang sangat luas.

Meski lahir dari keluarga superkaya, cara berpakaian Vaneri, mobil yang dia kendarai, serta sikapnya yang rendah hati dan tulus kepada siapa pun, justru membuatnya semakin kagum dari lubuk hati.

Vaneri memahami betul kegigihannya pada musik. Namun, menghadapi dunia musik yang terasa begitu jauh dan pasar rekaman Amerika yang sama sekali asing, mereka tidak punya saluran apa pun. Saat itu, mereka hanya berada di pedesaan Texas—tak tahu harus melangkah ke mana selanjutnya.

Tiba-tiba, Vaneri melontarkan satu pertanyaan: “Coba bayangkan, lima tahun lagi kamu sedang melakukan apa?”

Dia terdiam sejenak.

Vaneri berbalik, menunjuk ke arahnya sambil berkata : “Hei, ceritakan padaku: dalam hatimu, apa yang PALING kamu harapkan akan kamu lakukan lima tahun lagi? Seperti apa kehidupanmu saat itu?”

Belum sempat dia menjawab, Vaneri menambahkan: “Jangan terburu-buru. Pikirkan baik-baik. Setelah benar-benar yakin, baru ucapkan.”

Dia merenung beberapa menit, lalu berkata: “Pertama, lima tahun lagi aku berharap sudah memiliki satu album yang beredar di pasaran, dan album itu disukai banyak orang serta mendapat pengakuan luas. Kedua, aku ingin tinggal di tempat yang dipenuhi musik, bisa bekerja setiap hari bersama para musisi kelas dunia.”

Vaneri bertanya lagi:  “Kamu yakin?”

Dengan suara pelan, dia menjawab : “Ya.”

“Baik, kalau begitu, mari kita tarik mundur target ini dari lima tahun ke hari ini,”” kata Vaneri.

“Jika pada tahun ke-5 albummu sudah beredar, maka pada tahun ke-4 kamu pasti sudah menandatangani kontrak dengan sebuah label rekaman.”

“Kalau begitu, pada tahun ke-3 kamu harus sudah memiliki karya yang benar-benar lengkap untuk diperdengarkan ke banyak perusahaan rekaman, benar?”

“Maka pada tahun ke-2, kamu harus sudah memiliki karya yang sangat bagus dan mulai merekamnya.”

“Lalu pada tahun pertama, kamu harus menyelesaikan seluruh aransemen lagu dan menyiapkannya untuk rekaman.”

“Pada bulan ke-6, kamu harus merapikan semua karya yang belum selesai, lalu menyortirnya satu per satu.”

“Pada bulan pertama, kamu harus menuntaskan lagu-lagu yang sedang kamu kerjakan sekarang.”

“Dan pada minggu pertama, kamu perlu membuat daftar lengkap: lagu mana yang harus diperbaiki, mana yang harus diselesaikan.”

Vaneri tersenyum lalu berkata: “Bukankah sekarang kita sudah tahu apa yang harus kamu lakukan mulai hari Senin depan?”

“Oh ya, kamu juga bilang ingin hidup di tempat yang penuh musik dan bekerja bersama para musisi top, kan? Kalau pada tahun ke-5 kamu sudah bekerja bersama mereka, maka secara logis pada tahun ke-4 kamu harus sudah punya studio atau ruang rekaman sendiri. Pada tahun ke-3, kamu seharusnya sudah mulai bekerja dengan orang-orang di lingkaran itu. Dan pada tahun ke-2, kamu jelas tidak lagi tinggal di Texas, melainkan di New York atau Los Angeles,” tambahnya.

Tahun berikutnya, dia benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaan impian banyak orang di NASA, meninggalkan Houston, dan pindah ke Los Angeles.

Dan yang luar biasa: memang bukan tepat lima tahun, tetapi kira-kira pada tahun ke-6—tahun 1983—albumnya mulai laris di Asia. Hampir 24 jam sehari ia sibuk bekerja dari pagi hingga malam bersama para maestro musik papan atas dunia.

Hikmah cerita:

Ketika kamu sering bertanya, “Mengapa hidupku menjadi seperti ini?”  cobalah bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar tahu apa yang aku inginkan?

Jika bahkan kamu sendiri tidak jelas tentang apa yang kamu inginkan, bagaimana mungkin orang-orang yang mencintaimu bisa membantu mengatur jalan hidupmu? Dan bagaimana mungkin kita menyalahkan mereka karena tidak membuka jalan bagi kita?

Prabowo Tegaskan Program MBG Adalah Kebijakan Strategis Kepedulian Negara Terhadap Gizi Anak

EtIndonesia. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis yang dilandasi kepedulian negara terhadap kondisi gizi anak-anak Indonesia. 

Hal ini disampaikan Kepala Negara dalam Taklimat Awal Tahun pada Selasa, 6 Januari 2026, Presiden mengungkapkan bahwa berbagai kajian menunjukkan persentase anak Indonesia mengalami kekurangan gizi mencapai lebih dari 20 hingga 30 persen.

“Itu yang jelas dikatakan malnutrisi, stunting, badannya sangat lemah, pertumbuhannya tidak normal. Kemudian ternyata puluhan juta anak-anak Indonesia berangkat sekolah tanpa makan pagi. Banyak juga makan mereka hanya nasi dengan daun-daun,” kata Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor dikutip dari rilis BPMI Setpres. 

Menurut Presiden, dari kondisi tersebut menuntut kehadiran negara untuk melakukan intervensi langsung dan terukur demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa melalui program makan bergizi gratis (MBG). Presiden Prabowo menjelaskan bahwa program MBG yang telah berjalan tepat satu tahun lalu telah berhasil menjangkau 55 juta penerima manfaat.

“Hari ini adalah 6 Januari 2026 dan kita sudah mencapai hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat, 55 juta, 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari dan termasuk ibu-ibu hamil. Ini sesuatu yang membanggakan juga,” ucapnya.

Meski demikian, Presiden tidak menutup mata terhadap kekurangan dan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program MBG tersebut. Namun, menurut Presiden, berdasarkan evaluasi objektif tingkat keberhasilan MBG mencapai angka 99 persen.

“Dengan kekurangan 0,00 sekian itu pun bagi kita sesuatu yang harus kita atasi, dan Alhamdulillah kita sudah mengatasi, dan kita sedang atasi terus. Langkah demi langkah, pengawasan demi pengawasan, langkah-langkah pengamanan terus kita lakukan. Tapi intinya adalah bahwa kita intervensi,” katanya.

Lebih lanjut, Presiden menegaskan bahwa pemimpin yang bertanggung jawab harus bekerja keras untuk menghilangkan kelaparan dan kemiskinan. Untuk itu, Presiden pun mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk tetap yakin berada di jalan yang benar dalam memberantas kemiskinan dan menghilangkan kelaparan demi masa depan bangsa.

“Kita buktikan. Kalau niat kita bersih, niat kita tidak mencuri uang rakyat, kita berbuat untuk kepentingan rakyat, kepentingan bangsa kita, keselamatan bangsa kita, kita tidak perlu ragu-ragu, kita tidak perlu sedikitpun gentar,” tandasnya.

Setelah Maduro, Siapa Berikutnya? Tiongkok Terpukul, Xi Jinping Masuk Mode Siaga

EtIndonesia. Dunia diguncang oleh perkembangan dramatis setelah Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap oleh pasukan militer Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer skala besar yang mengejutkan komunitas internasional. Penangkapan ini mengikuti serangkaian serangan udara dan serangan terhadap pangkalan militer di Venezuela pada 3 Januari 2026 dini hari, yang secara resmi disebut “Operation Absolute Resolve” oleh militer AS.

Serangan Militer dan Penangkapan Mendadak

Operasi militer yang dimulai pada tanggal 3 Januari 2026 itu melibatkan ratusan pesawat serta unit pasukan khusus seperti Delta Force dan unit laut serta udara lainnya. Sasaran serangan mencakup pangkalan militer utama di Caracas, termasuk La Carlota (Generalissimo Francisco de Miranda Air Base) dan Fort Tiuna, serta fasilitas penting lain di wilayah utara Venezuela. Akibat operasi tersebut, terjadi ledakan di sejumlah titik strategis dan beberapa bagian Kota Caracas dilaporkan kehilangan pasokan listrik.

Tak lama setelah serangan udara dimulai, pasukan khusus AS berhasil masuk ke kawasan tempat tinggal Maduro dan menangkapnya bersama istrinya. Keduanya kemudian dibawa keluar dari wilayah Venezuela dan diterbangkan ke Amerika Serikat, tiba di Stewart Air National Guard Base di negara bagian New York pada hari yang sama.

Sidang Perdana di New York

Pada 5 Januari 2026, Maduro dan Cilia Flores muncul di pengadilan federal Manhattan, New York, di bawah pengamanan ketat. Keduanya menghadapi tuduhan serius terkait konspirasi narkoterrorisme, perdagangan kokain, dan kejahatan lain yang berkaitan dengan impor narkotika ke AS — dakwaan yang sudah bergulir sejak tahun 2020. Di hadapan hakim, kedua terdakwa menyatakan “tidak bersalah” atas semua dakwaan tersebut. Maduro diperintahkan tetap ditahan hingga persidangan lanjutan yang dijadwalkan 17 Maret 2026.

Kekacauan Politik Internasional dan Kecaman Global

Operasi militer ini memicu gelombang kritik internasional yang intens. PBB dan lembaga hak asasi manusia menilai tindakan AS melanggar hukum internasional, karena menggunakan kekuatan militer tanpa mandat Dewan Keamanan PBB atau persetujuan Kongres AS. Beberapa negara anggota Dewan Keamanan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan nasional.

Sementara itu, pemerintah Venezuela menyatakan kecaman keras terhadap serangan tersebut, menyebutnya sebagai agresi imperialistis. Pemerintah sementara yang dibentuk, dengan Delcy Rodríguez sebagai pemimpin sementara, mengumumkan masa berkabung nasional dan menegaskan akan mempertahankan kedaulatan negara.

Reaksi Domestik dan Dampak di AS

Di Amerika Serikat sendiri, langkah militer yang dramatis ini turut memicu perdebatan politik. Laporan menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap Presiden Donald Trump meningkat tajam setelah penangkapan Maduro, dengan sebagian pendukung memuji tindakan keras terhadap pemerintahan yang dituduh korup dan bersekongkol dalam perdagangan narkoba. Namun, banyak anggota parlemen dan pakar hukum menyoroti kekhawatiran legalitas tindakan tersebut.

Trump sendiri mengumumkan bahwa AS “akan menjalankan” Venezuela sementara waktu untuk mengatur transisi yang aman, meskipun rincian praktis dari kebijakan ini masih belum jelas dan menuai kritik luas. Pernyataan mengenai pengelolaan minyak Venezuela juga menjadi sorotan, terutama di tengah spekulasi bahwa AS akan memanfaatkan cadangan minyak besar negara itu untuk kepentingan strategisnya.

Dampak Global dan Perubahan Kekuatan Energi

Penangkapan Maduro dipandang sebagai pergeseran besar dalam geopolitik energi global. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan kontrol atas sumber daya ini menjadi salah satu alasan kuat di balik keputusan AS. Beberapa analis mencatat bahwa hilangnya akses terhadap minyak Venezuela merupakan pukulan besar bagi negara-negara yang selama ini mengandalkan pasokan energi murah dari Caracas.

Kesimpulan

Penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan Cilia Flores pada awal Januari 2026 adalah peristiwa luar biasa yang mengguncang tatanan geopolitik internasional. Operasi militer AS dan konsekuensi hukum yang menyertainya menandai titik balik hubungan antara AS, Amerika Latin, dan komunitas internasional secara umum.

Perkembangan terbaru masih terus memunculkan ketidakpastian, baik secara hukum, politik, maupun dampaknya terhadap stabilitas regional. 

Bangkitlah Terlebih Dahulu

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, ada seorang penderita kusta yang telah sakit hampir 40 tahun. Selama itu pula dia terbaring di tepi jalan, menunggu seseorang menyeretnya ke sebuah kolam yang diyakini memiliki kekuatan penyembuhan ajaib. Empat puluh tahun berlalu, namun dia tetap terbaring di tempat yang sama, tidak pernah melangkah satu langkah pun mendekati kolam tersebut.

Suatu hari, seorang utusan langit bertemu dengannya dan bertanya : “Tuan, apakah engkau ingin disembuhkan dan dibebaskan dari penyakit ini?”

Si penderita kusta menjawab : “Tentu saja ingin. Tapi hati manusia terlalu kejam. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, tak akan ada yang mau menolongku.”

Utusan langit itu mendengar jawabannya, lalu bertanya lagi : “Apakah engkau benar-benar ingin disembuhkan?”

“Ya, tentu ingin,tetapi ketika aku merangkak ke sana, air kolam itu pasti sudah kering,”” jawabnya. 

Mendengar itu, utusan langit mulai merasa kesal dan kembali bertanya dengan tegas: “Sebenarnya, engkau mau disembuhkan atau tidak?”

Penderita kusta itu tetap menjawab: “Mau!”

Utusan langit pun berkata: “Baik. Kalau begitu, sekarang juga berdirilah dan berjalanlah sendiri menuju kolam itu. Jangan terus-menerus mencari alasan yang mustahil sebagai pembenaran atas dirimu.”

Mendengar kata-kata itu, si penderita kusta merasa sangat malu. Dia pun segera berdiri, berjalan menuju kolam, menampung air suci dengan telapak tangannya, lalu meminumnya beberapa teguk. Dalam sekejap, penyakit kusta yang telah mengikatnya selama 40 tahun pun lenyap tanpa bekas.

Hikmah cerita:

Setiap orang memiliki cita-cita, dan setiap orang mendambakan kesuksesan. Namun jika hari ini cita-citamu belum tercapai dan keberhasilan terasa masih sangat jauh, pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri: Sudah seberapa besar usaha yang benar-benar aku lakukan untuk impianku? Apakah aku sering mencari segudang alasan untuk membenarkan kegagalanku?

Sesungguhnya, kita tidak seharusnya sibuk mencari alasan atas kegagalan, melainkan mencari cara untuk meraih keberhasilan. Selama kita mau berusaha dan terus menggali potensi diri, takdir pun akan selalu berpihak pada mereka yang berani bangkit dan melangkah lebih dulu.(jhn/yn)

111 Kota di Iran Bergolak, Garda Revolusi Retak, dan Pasukan Elite AS Muncul di Perbatasan

EtIndonesia. Gelombang protes nasional di Iran telah memasuki hari ke-10 dan menunjukkan eskalasi paling serius sejak awal demonstrasi pecah. Hingga Selasa (6/1), sedikitnya 35 orang dilaporkan tewas dan sekitar 1.200 warga ditangkap akibat penindasan keras aparat keamanan. Namun alih-alih mereda, perlawanan rakyat justru berkembang menjadi krisis politik dan keamanan berskala nasional.

Perkembangan terbaru menunjukkan dua kota telah sepenuhnya lepas dari kendali rezim Islam Iran, disertai pembelotan aparat keamanan, pemogokan massal di pusat ekonomi Teheran, serta meningkatnya keterlibatan aktor regional dan internasional.

Ancaman Terbuka Rezim: “Pergi atau Mati”

Dalam upaya membendung gelombang perlawanan, Kepala Kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, pada awal Januari mengeluarkan instruksi keras kepada aparat penegak hukum. Dia menuntut tindakan hukum ekstrem terhadap pihak-pihak yang disebutnya sebagai “perusuh”.

Di Shahrekord, situasi berkembang lebih jauh. Seluruh unit Garda Revolusi Islam (IRGC) dikerahkan dan mengeluarkan ultimatum langsung kepada massa demonstran: meninggalkan lokasi atau menghadapi kekerasan mematikan.

Pesan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ancaman terbuka: “Pergi, atau mati.”

Langkah ini mencerminkan pola klasik rezim otoriter—mengandalkan teror dan kekerasan untuk membungkam aspirasi publik. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Grand Bazaar Teheran Lumpuh Total

Pada 6 Januari 2026, sebuah peristiwa simbolik mengguncang ibu kota. Para pedagang di Grand Bazaar Teheran secara serempak menutup seluruh toko, bergabung dalam pemogokan nasional anti-pemerintah.

Grand Bazaar bukan sekadar pasar. Dia adalah jantung ekonomi dan simbol historis Iran, yang dalam sejarah sering menjadi penentu arah perubahan politik.

Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan kios-kios tertutup total, sementara teriakan “kebebasan” menggema tanpa henti. Para pedagang berdiri bahu-membahu, menegaskan bahwa pusat kekuasaan rezim kini menghadapi perlawanan langsung dari pusat ekonomi negara.

Karena hampir seluruh lembaga pemerintahan utama Iran berada di Teheran, aksi ini menjadikan ibu kota kembali sebagai episentrum perlawanan nasional.

Slogan dari Dunia Maya Menjadi Seruan Jalanan

Menariknya, gelombang protes juga dipengaruhi dinamika global. Sebuah kalimat berbahasa Persia yang pernah dilontarkan Elon Musk untuk menyindir Ali Khamenei—yang berarti “bermimpi di siang bolong”—kini berubah menjadi slogan populer di jalan-jalan Iran.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemarahan publik kini terfokus langsung pada figur Pemimpin Tertinggi, bukan lagi sekadar kebijakan pemerintah.

Terobosan Besar: Polisi Meletakkan Senjata, Kota Dibebaskan

Hari yang sama, 6 Januari, menjadi titik balik dramatis.

Di kota Apdanan, seluruh warga turun ke jalan, dan dalam kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya, polisi setempat meletakkan senjata mereka. Aparat terlihat melambaikan tangan kepada massa sebagai tanda dukungan.

Saat senjata dilepaskan, sorak-sorai dan perayaan spontan meledak di jalanan. Apdanan pun menjadi kota pertama yang sepenuhnya lepas dari kendali rezim Islam Iran.

Tak lama berselang, saluran oposisi Iran mengumumkan bahwa kota Malekshahi juga telah “dibebaskan”. Seorang komandan kota baru telah ditunjuk, menandakan pengambilalihan administratif penuh.

Dengan demikian, dua kota kini secara de facto keluar dari kekuasaan rezim Teheran.

Pembelotan IRGC di Kurdistan: Ancaman dari Dalam

Eskalasi berlanjut pada 5 Januari 2026, ketika laporan dari wilayah Kurdistan Iran menyebutkan bahwa anggota Garda Revolusi Islam membelot dan bergabung dengan Tentara Nasional Kurdistan.

Seorang personel keamanan menyampaikan pernyataan resmi yang mengguncang publik: “Sebagai letnan Pasukan Quds, saya dan rekan-rekan saya siap mengambil segala tindakan untuk menghancurkan Republik Islam.”

Pernyataan ini menandai retakan serius di tubuh aparat elit rezim, sekaligus memperbesar risiko konflik internal bersenjata.

Internet Diputus, Pasukan Tambahan Dikirim

Di tengah situasi yang memburuk, warga Apdanan melaporkan bahwa rezim Khamenei mengirim pasukan tambahan ke wilayah tersebut. Secara nasional, sedikitnya 111 kota di Iran telah terdampak aksi protes sejak awal gelombang demonstrasi.

Laporan lain menyebutkan pemutusan koneksi internet nasional, sebuah langkah yang sering mendahului operasi penindasan besar-besaran.

Jika hal ini terjadi, pengamat menilai situasi dapat memicu skenario yang pernah diutarakan Donald Trump—bahwa “peluru telah terisi”, yang berarti intervensi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran bukan lagi sekadar ancaman verbal.

Israel Siaga, AS Bergerak di Perbatasan

Pada 6 Januari, Komandan Pertahanan Dalam Negeri Israel menggelar rapat pengarahan darurat nasional bersama para wali kota dan pimpinan pemerintahan daerah, memerintahkan kesiapsiagaan penuh menghadapi kemungkinan status darurat.

Di saat yang sama, laporan intelijen menyebutkan bahwa Pasukan Delta Angkatan Darat AS telah memasuki wilayah perbatasan Irak, khususnya di area Irak–Suriah–Yordania—wilayah yang kini tegang akibat konflik antara pemerintah Irak dan milisi pro-Iran.

Fakta penting lainnya: Apdanan berada dekat dengan wilayah perbatasan Irak, menambah signifikansi strategis perkembangan di kota tersebut.

Selain itu, Amerika Serikat, Israel, dan Suriah dilaporkan telah menyepakati pembentukan pusat berbagi intelijen bersama dan kelompok komunikasi khusus untuk koordinasi waktu nyata—mulai dari stabilisasi keamanan, diplomasi, hingga potensi kerja sama ekonomi di bawah pengawasan AS.

Manuver Politik Presiden Pezeshkian

Di tengah tekanan yang kian menumpuk, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengeluarkan pernyataan publik yang tidak biasa. 

Dia menyatakan bertanggung jawab penuh atas aksi protes: “Kesalahan ada pada saya. Mahasiswa, pekerja, dan rakyat lainnya tidak seharusnya disalahkan. Kita perlu memperbaiki tindakan kita.”

Pernyataan ini ditafsirkan dalam dua kemungkinan:

  1. Upaya meredakan ketegangan dan membeli waktu agar protes tidak meluas.
  2. Taktik penundaan strategis, sembari menunggu kejelasan langkah Amerika Serikat dan Israel sebelum melancarkan penindasan lebih keras.

Menuju Babak Penentuan

Dengan dua kota lepas dari kendali, aparat elite membelot, internet diputus, dan pergerakan pasukan asing di sekitar perbatasan, Iran kini berada di ambang babak penentuan sejarah.

Pertanyaan yang mengemuka di kalangan pengamat internasional adalah satu:  Apakah kemunculan Pasukan Delta AS di sekitar perbatasan Iran merupakan persiapan operasi penyingkiran Ali Khamenei?

Jawabannya masih belum pasti. Namun satu hal jelas— krisis Iran telah melampaui sekadar demonstrasi, dan dunia kini menahan napas menyaksikan arah berikutnya.

Kartu Dibagikan oleh Tuhan

EtIndonesia. Dwight D. Eisenhower adalah Presiden ke-34 Amerika Serikat. Saat masih muda, dia sering bermain kartu bersama keluarganya.

Suatu malam setelah makan malam, seperti biasa dia kembali bermain kartu dengan keluarganya. Namun kali ini, peruntungannya benar-benar buruk. Setiap kartu yang fia dapatkan selalu jelek. Pada awalnya fia hanya mengeluh pelan, tetapi lama-kelamaan dia tak sanggup menahan emosi dan akhirnya meluapkan amarahnya.

Melihat itu, sang ibu tak bisa tinggal diam. 

Dengan wajah serius dia berkata: “Kalau kamu memilih bermain kartu, maka kamu harus memainkan kartu yang ada di tanganmu, entah itu kartu bagus atau kartu buruk. Tidak mungkin semua keberuntungan selalu berpihak padamu!”

Eisenhower masih belum sepenuhnya tenang. 

Sang ibu pun melanjutkan:  “Hidup itu sama seperti bermain kartu. Yang membagikan kartu adalah Tuhan. Entah kartu yang kamu terima itu baik atau buruk, kamu tetap harus menerimanya dan menghadapinya. Yang bisa kamu lakukan hanyalah menenangkan hatimu, bersikap serius, lalu memainkan kartu yang ada sebaik mungkin agar hasilnya mendekati sempurna. Hanya dengan cara itulah bermain kartu—dan menjalani hidup—menjadi bermakna.”

Sejak saat itu, Eisenhower selalu mengingat kata-kata ibunya dan menjadikannya sebagai dorongan untuk terus berjuang secara aktif. Selangkah demi selangkah dia maju, menjadi letnan kolonel, kemudian panglima tertinggi pasukan Sekutu, hingga akhirnya menduduki kursi Presiden Amerika Serikat.

Mantan Presiden India, Jawaharlal Nehru juga pernah mengatakan hal serupa: “Hidup itu seperti bermain poker. Kartu yang dibagikan sudah ditentukan, tetapi bagaimana cara memainkannya sepenuhnya bergantung pada kehendak kita sendiri.”

Keadaan yang dihadapi seseorang mungkin tidak selalu bisa diubah dengan kekuatan pribadi. Namun, cara kita menyesuaikan diri dengan keadaan itu sepenuhnya berada dalam kendali kita. Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti akan menemui berbagai masalah dan tidak sedikit kegagalan. Saat menghadapi kesulitan dan kemunduran, meratapi nasib tidak akan menyelesaikan apa pun.

Menata kembali sikap hidup, berani menghadapi tantangan, dan mengerahkan usaha terbaik dalam setiap hal—itulah pilihan paling bijak dalam menjalani kehidupan.(jhn/yn)