Berpegang Teguh pada Aturan Hidup Sendiri

EtIndonesia. Saya membayangkan, pasti ada orang yang akan berkata: “Bukankah hidup ini sudah cukup melelahkan dan membosankan? Mengapa masih harus membuat aturan hidup untuk diri sendiri? Bukankah itu terlalu kaku dan mengikat?”

Setiap fase usia sebenarnya memiliki kata kunci yang sangat penting:
– usia 20 tahun penuh gairah dan semangat membara,
– usia 30 tahun mulai stabil dan alami,
– usia 40 tahun tenang dan berwibawa,
– usia 50 tahun lebih realistis,
– usia 60 tahun lapang dan mantap,
– usia 70 tahun santai dan menikmati hidup.

Di setiap tahap usia, melakukan hal-hal yang “sesuai umur” sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah seumur hidup tetap setia pada aturan hidup dan prinsip hidup yang kita tetapkan sendiri.

Kehidupan kota besar sejatinya jauh dari kata seindah yang terlihat. Gedung pencakar langit, mobil mewah, pria dan wanita rupawan, para profesional sukses, lampu jalan yang berkilauan, neon warna-warni, aroma kopi yang semerbak, dan arus manusia yang tiada henti—semuanya membentuk permukaan kehidupan kota, sebuah dunia tempat peluang dan cita-cita berdampingan.

Namun di balik gemerlap itu, hasrat terus bergolak, konflik tak pernah berhenti, tipu daya dan kepura-puraan merajalela, perebutan kekuasaan, pemujaan terhadap uang, hubungan antarmanusia yang rumit, serta dingin-hangatnya perasaan sesama. Semua itu lebih menyerupai medan perang tanpa asap mesiu. Di sana ada kegembiraan para pemenang, dan tentu saja air mata mereka yang kalah.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, pernahkah kamu kehilangan kendali atas diri sendiri? Pernahkah kamu tersesat? Ikut hanyut mengikuti arus? Apakah kamu punya aturan hidup dan prinsip sebagai manusia?

Banyak orang mungkin akan mencibir:  “Memangnya aku anak sekolah? Harus hidup sambil menghafal aturan? Untuk apa aturan hidup segala? Aku ini orang dewasa. Aku tahu apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.”

Menurut mereka, untuk sukses harus berjuang, dan perjuangan tidak mengenal akhir—terus maju tanpa ragu agar semakin dekat dengan tujuan. Untuk bahagia harus bekerja keras, dan kerja keras menuntut pengorbanan. Keringat dan air mata adalah pembuka kebahagiaan, sementara bunga dan senyum adalah kelanjutannya.

Bukankah hanya orang-orang yang ‘bermasalah’ yang butuh aturan hidup? Membatasi diri hanya akan membuat langkah ke kiri mentok garis, ke kanan terbentur bingkai. Dengan begitu banyak batasan, bagaimana mungkin bisa melakukan hal besar?

Dalam kehidupan nyata, banyak orang hidup tanpa rencana jangka panjang, tanpa target jangka pendek, apalagi aturan hidup dan prinsip. Mereka menjalani hari demi hari, asal senang, asal lewat, ikut kata orang, dan ikut arus.

Ada teman A, awalnya bertubuh ramping, tetapi karena makan dan minum tanpa kendali, dia berubah menjadi sangat gemuk. Lalu karena tubuhnya tak lagi lincah, dia mulai diet dan berolahraga mati-matian. Siklus ini terus berulang.

Ada teman B, karena menuruti hawa nafsu tanpa batas, ingin memiliki semua kecantikan dunia. Melihat satu jatuh cinta pada satu. Akhirnya “api” muncul di belakang, dan dia pun sibuk memadamkan kebakaran demi kebakaran dalam hidupnya.

Ada pula teman C, karena api keserakahan di dalam hatinya tumbuh tanpa kendali, akhirnya membakar dirinya sendiri. Tangannya selalu ingin meraih apa pun yang bisa diraih—yang bukan miliknya pun ingin diambil. Baskom penuh, mangkuk pun penuh, tetapi akhirnya dia hanya bisa duduk di balik jeruji besi, merindukan kebebasan. Seperti pepatah: rumah boleh seribu, tempat tidur malam tetap hanya selebar delapan kaki.

Sebenarnya kita semua tahu, waktu tidak akan pernah bisa diputar ulang. Daripada menipu diri sendiri dengan berbagai andaian, lebih baik sejak awal menjalani hidup sesuai dengan aturan hidup yang kita tetapkan sendiri.

Penulis Jepang Haruki Murakami menetapkan aturan hidup pribadinya sebagai berikut:
– tidak berkata melemahkan diri,
– tidak mengeluh,
– tidak mencari alasan,
– tidur lebih awal dan bangun lebih pagi,
– berlari 10 kilometer setiap hari,
– menulis 10 halaman setiap hari,
– dan hidup seperti orang bodoh.

Sekilas terlihat sangat sederhana.
Tidak berkata melemahkan diri berarti terus menyemangati diri tanpa kendur.
Tidak mengeluh berarti menjaga sikap positif dan memberi sugesti mental yang baik.
Tidak mencari alasan berarti berani menghadapi benar dan salah dengan lapang dada.
Berlari 10 kilometer setiap hari karena manusia adalah bagian dari alam—berlari di antara pepohonan dan bunga membuat tubuh tetap kuat. 

Menulis 10 halaman setiap hari adalah cara menempa diri agar terus berkembang dan tidak kehabisan inspirasi. Hidup seperti orang bodoh berarti tidak memikirkan hal-hal yang membuat tidak bahagia, tidak larut dalam masalah. Siapa tahu, apa yang tampak sebagai kerugian justru adalah keuntungan? Dengan cara itulah kita semakin dekat pada kebahagiaan.

Jika diteliti satu per satu, semuanya memang sederhana. Tetapi menjalankannya setiap hari secara konsisten sama sekali tidak mudah. Kita harus melawan sifat malas dan ceroboh dalam diri, mengatasi kondisi fisik dan kemauan subjektif, serta menghadapi berbagai godaan dan situasi dari luar. Justru karena tidak mudah itulah, hidup yang dijalani berdasarkan aturan sendiri akan tetap berada di jalur yang benar.

Lalu pertanyaannya:  kamu, apakah sudah punya aturan hidupmu sendiri?(jhn/yn)

Mengejutkan! Insiden Langka Lahan Sayur di Sichuan, Tiongkok Terbakar, Menyala 7 Hari Berturut-turut Tak Padam Meski Hujan Turun

Belakangan ini, sebidang lahan sayur di Kota Nanchong, Provinsi Sichuan, Tiongkok, tiba-tiba terbakar hebat. Api telah menyala selama sekitar 7 hari dan belum juga padam, meskipun dalam beberapa hari terakhir hujan turun terus-menerus. Peristiwa ini menarik perhatian publik.

EtIndonesia. Video yang beredar di internet memperlihatkan sebuah lahan sayur di Desa Xujia, Kecamatan Xujiā, Kabupaten Peng’an, di mana api besar menyembur langsung dari permukaan tanah. Hingga kini api tersebut telah menyala terus selama 7 hari, bahkan tidak padam saat cuaca mendung dan diguyur hujan.

Seorang warga desa setempat mengatakan bahwa ketika api pertama kali muncul pada 28 Desember, tinggi nyala api hanya sekitar satu meter. Namun pada  30 Desember siang hari, tinggi api sudah melonjak hingga lebih dari 3 meter, dan area yang terbakar pun semakin meluas.

Pihak berwenang setempat menyatakan bahwa lokasi kebakaran di lahan pertanian tersebut bukan disebabkan oleh kebocoran pipa gas alam. Dugaan sementara adalah adanya cadangan gas alam di bawah tanah yang belum dieksploitasi. Saat ini, pihak berwenang telah memasang garis pembatas di sekitar lokasi kebakaran.

Menurut ingatan warga, beberapa tahun lalu daerah tersebut pernah dilakukan eksplorasi gas alam dengan pengeboran di beberapa titik. Jika lubang-lubang sumur yang sudah ditinggalkan itu tidak ditutup rapat sepenuhnya, ada kemungkinan gas alam bocor ke permukaan.

Menurut laporan sebelumnya, fenomena serupa juga pernah terjadi di Distrik Wutongqiao, Kota Leshan, Sichuan, di mana api di permukaan tanah terus menyala selama dua bulan tanpa padam. Penyebabnya juga adalah kebocoran gas alam.

Selain itu, di sekitar Teluk Niujia, Desa Dongmen, wilayah Jalan Xinshi, Distrik Changshou, Kota Chongqing, terdapat lokasi yang dikenal sebagai “Desa Api Tanah”. Menurut warga setempat, sejak tahun 1958, api tiba-tiba muncul dari tanah di lokasi tersebut dan telah menyala selama puluhan tahun tanpa pernah padam. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Host Media Arus Utama AS: Target Sebenarnya Trump Menyerang Maduro adalah Partai Komunis Tiongkok

Di awal tahun baru, Amerika Serikat berhasil menangkap hidup-hidup Nicolás Maduro, sebuah peristiwa yang mengguncang dunia. Sejumlah analis media Amerika menilai bahwa target sebenarnya Trump dalam menyerang Maduro adalah Partai Komunis Tiongkok (PKT), sehingga menarik perhatian luas.

EtIndonesia. Pembawa acara program Fine Point with Chanel Rion di media konservatif Amerika OAN, Chanel Rion, pada Oktober tahun lalu pernah menyampaikan analisis terkait langkah Amerika Serikat terhadap rezim Maduro di Venezuela.

Cuplikan komentarnya kembali beredar luas di internet. Rion menyatakan bahwa Trump sebenarnya melancarkan “perang bayangan” terhadap Beijing, yang menargetkan tata letak dan pengaruh PKT di Venezuela selama bertahun-tahun. Ia menyebut Trump sebagai “satu-satunya presiden yang benar-benar menghantam titik paling menyakitkan PKT”.

Analisis tersebut menyebutkan bahwa Venezuela adalah agen garis depan PKT dalam menghadapi Amerika Serikat, sekaligus contoh klasik dari permainan energi yang bersifat predator.

“Sejak 2007, Venezuela telah berhutang lebih dari 60 miliar dolar AS kepada Beijing. Bagaimana mereka membayar hutang itu? Anda benar—dengan minyak. Akibat sanksi, ekonomi Venezuela lumpuh, dan satu-satunya negara yang mampu memberi dukungan nyata adalah Beijing, karena mereka adalah pembeli utama. Hal ini memaksa Venezuela menjual minyak dengan harga sangat rendah, yang berarti mereka akan terus berutang kepada Beijing,” kata Rion.

“Ini adalah inti dari keseluruhan permainan, dan begitulah cara PKT beroperasi. Pada Mei 2025, dalam Forum Tiongkok–Amerika Latin, Beijing kembali memberikan investasi minyak baru senilai 1 miliar dolar AS kepada Venezuela, memperkuat posisi Venezuela sebagai garis depan perang bayangan AS–Tiongkok.”

“Namun kepentingan PKT di Venezuela jauh melampaui minyak murah dan ekonomi. Perusahaan-perusahaan Tiongkok terlibat jauh dalam modernisasi pelabuhan dan infrastruktur telekomunikasi Venezuela. Jika Anda mengira PKT melakukan sesuatu tanpa tujuan ‘sipil-militer ganda’, itu terlalu naif.”

Analisis itu juga menyebut bahwa Trump sedang menyatakan perang terhadap aset paling berharga PKT: Iran, Venezuela, dan Gaza.

“Trump telah menciptakan situasi ‘tiga banding nol’ melawan PKT—dan inilah poin yang diabaikan banyak orang. PKT pernah memiliki investasi besar di Iran, dan Trump menghantam mereka; PKT pernah memiliki kepentingan besar di Gaza, dan Trump membangun semacam sekat keamanan regional; PKT secara langsung mengendalikan Venezuela selama dua puluh tahun, dan kini Trump campur tangan secara besar-besaran, sementara PKT untuk ketiga kalinya berada di posisi kalah.”

Video tersebut telah ditonton sekitar 2 juta kali di platform X dan mendapat ribuan komentar. Banyak warganet menyatakan setuju dengan analisis Rion, dengan komentar seperti: “Analisis terbaik tentang geopolitik saat ini”, “Sangat tepat sasaran”, dan “100% benar. Kapal perang PKT telah bertahun-tahun berlabuh di lepas pantai Venezuela.”

Komentar lain berbunyi: “Ini sangat penting, Chanel! Kamu benar sekali—orang-orang mengabaikan papan catur global di balik ini. Setiap langkah saling terhubung, dan Venezuela adalah titik tekanan dalam jaringan bayangan PKT. Badai ini bukan bersifat lokal, melainkan strategis.”

Chanel Rion sendiri juga menanggapi dengan membandingkan investasi PKT dan Rusia di Venezuela: “Investasi Rusia = 17 miliar dolar AS, pinjaman PKT = 62 miliar dolar AS. Dan Rusia pun harus mendengarkan PKT.”

Pada 4 Januari, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengatakan kepada Fox News bahwa PKT secara agresif memperluas pengaruhnya di Amerika Selatan, dan Presiden Trump serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio terus secara aktif melawan tindakan tersebut.

“Apa yang Anda lihat adalah Tiongkok memperoleh minyak murah, masuk dan menguasai lokasi-lokasi geografis strategis, termasuk pelabuhan, jalur kereta api, dan pasokan pangan. Semua ini terjadi langsung di belahan bumi barat kita, khususnya di Amerika Tengah dan Selatan. Itulah sebabnya—dan juga karena banyak alasan lain—ini menjadi isu keamanan nasional yang sangat krusial,” ujarnya.

Beberapa jam sebelum penangkapan Maduro, utusan khusus PKT masih bertemu dengan Maduro di Venezuela. Dunia luar menilai langkah ini sebagai upaya PKT untuk “menyemangati” Maduro yang tengah berada di bawah tekanan besar Amerika Serikat.

Saat ini beredar luas kabar bahwa penangkapan Maduro telah membuat Xi Jinping berada dalam kondisi ketakutan ekstrem. Pengusaha asal Shanghai, Hu Liren, pada 4 Januari menulis di X bahwa ada informasi dari Beijing yang menyebut Xi Jinping mulai semakin memperketat sistem perlindungan pribadinya. Basis-basis militer di sekitar Beijing dilaporkan mengalami pergerakan pasukan dengan frekuensi tinggi, dan banyak sistem bunker bawah tanah di sekitar Beijing diperkirakan mulai diaktifkan. (Hui)

Laporan terjemahan oleh reporter Jin Jing / Lin Qing

AS–Israel Bergerak, Rakyat Bangkit: Gerbang Neraka Terbuka bagi Rezim Teokrasi Iran

EtIndonesia. Tahun 2026 dibuka dengan rangkaian peristiwa geopolitik berintensitas tinggi. Setelah operasi kilat Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, perhatian Washington dengan cepat beralih ke Iran—sebuah pergeseran fokus yang langsung mengguncang Timur Tengah.

Jika operasi terhadap Maduro dikenal sebagai penangkapan mendadak dan presisi tinggi, maka langkah berikutnya terhadap Iran dipandang dunia sebagai fase eskalasi strategis. Berbagai indikator—politik, militer, hingga sosial—menunjukkan bahwa rezim teokrasi Iran berada di ambang krisis paling serius dalam beberapa dekade terakhir.

Peringatan Terbuka dari Gedung Putih

Pada 4 Januari 2026, Presiden Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memantau setiap pergerakan di dalam Iran. Dia memperingatkan, setiap upaya kekerasan terhadap demonstran akan dibalas dengan serangan yang menghancurkan.

Nada peringatan itu kian tajam menyusul keberhasilan operasi Venezuela—sebuah preseden yang membuat setiap pernyataan Trump kini dibaca sebagai ancaman operasional, bukan retorika.

Video Berbahasa Persia: Pesan yang Tak Disamarkan

Masih pada 4 Januari 2026, akun resmi pemerintah AS berbahasa Persia merilis sebuah video yang segera viral. 

Tokoh utamanya adalah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang secara eksplisit menyebut Maduro: “Kami pernah memberi Maduro kesempatan. Ketika dia memilih keras kepala, ia kehilangan kesempatan itu.”

Pesan tersebut dibaca luas sebagai seruan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei—sebuah peringatan bahwa “kesempatan” Iran telah habis.

Israel Bergerak: Ultimatum dan Opsi Militer

Tekanan terhadap Iran tidak datang dari Washington saja. Setelah pertemuan dengan Trump pada awal Januari, Perdana Menteri Israe,l Benjamin Netanyahu mengadopsi sikap yang jauh lebih keras.

Dalam pernyataan terbuka, Israel menyampaikan dua tuntutan utama:

  • Iran harus memindahkan sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya
  • Seluruh fasilitas nuklir Iran wajib tunduk pada pengawasan internasional yang ketat dan substantif

Sumber keamanan Israel mengungkapkan bahwa nama sandi operasi terhadap Iran telah ditetapkan sebagai “Tinju Besi”. Netanyahu bahkan dilaporkan menggelar rapat tertutup lima jam dengan para petinggi militer untuk memfinalisasi opsi serangan. Di Yerusalem, diskusi kini bukan lagi soal “apakah”, melainkan “kapan”.

Rencana Gabungan AS–Israel: Target Kepemimpinan

Media Israel melaporkan adanya rencana gabungan AS–Israel yang mencakup operasi pemenggalan kekuasaan dan penangkapan, dengan target langsung Ali Khamenei. Jika penangkapan Maduro terjadi dalam hitungan jam, maka skenario serupa terhadap Teheran dipandang tidak lagi mustahil.

Netanyahu bahkan berbicara langsung kepada rakyat Iran, memuji potensi bangsa Persia dan menegaskan bahwa penghambat kemajuan Iran bukanlah rakyatnya, melainkan rezim ulama.

Elite Iran dalam Mode Bertahan Hidup

Di Teheran, situasi digambarkan oleh pejabat internal sebagai “mode bertahan hidup”. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menggelar rapat darurat semalaman pada 5 Januari 2026. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian dilaporkan menerima saran ekstrem dari para penasihat ekonominya: melemparkan tanggung jawab kebijakan sepenuhnya kepada Khamenei demi menyelamatkan institusi pemerintah.

Lebih jauh, laporan intelijen yang diungkap The Times pada 5 Januari 2026 menyebutkan bahwa Khamenei telah menyiapkan rencana pelarian. Jika situasi tak terkendali—terutama bila Garda Revolusi membelot—dia disebut siap membawa puluhan orang kepercayaan, keluarga inti, serta aset hampir 100 miliar dolar, menuju Moskow.

“Indeks Pizza” dan Sinyal Perang

Sinyal lain datang dari Washington. Pasca-operasi Venezuela, pesanan pizza di sekitar Pentagon melonjak tajam—fenomena yang dikenal analis sebagai “Indeks Pizza”.

  • Gerai Papa John’s dalam radius 3 km mencatat lonjakan hingga 1.250%
  • Gerai lain di radius 1–2 km mencatat kenaikan ratusan persen

Lonjakan semacam ini kerap dikaitkan dengan lembur massal pejabat militer menjelang operasi besar.

Pergerakan Militer: Bukti Nyata

Dalam 4–6 Januari 2026, data intelijen sumber terbuka menunjukkan:

  • C-17 Globemaster III dan KC-135 tanker bergerak dari AS ke Inggris, lalu ke Timur Tengah
  • Salah satu C-17 lepas landas dari Fort Campbell, markas Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 (Night Stalkers)—unit yang juga terlibat dalam penangkapan Maduro
  • Drone MQ-4C Triton melakukan misi pengintaian di Selat Hormuz dan Teluk Persia
  • Divisi Lintas Udara ke-101 dan Resimen Kavaleri ke-75 berada pada status siap tempur

Pengamat menilai pola ini identik dengan transisi menuju operasi ofensif.

Pemberontakan Nasional di Dalam Negeri

Di dalam Iran, gelombang perlawanan rakyat memasuki hari kesembilan pada 6 Januari 2026. Protes telah menyebar ke 174 kota—dari Teheran, Qom, Mashhad, hingga Ilam. Bentrok berdarah, barikade jalanan, hingga milisi sipil bersenjata dilaporkan muncul di sejumlah wilayah. Serangan siber oleh kelompok peretas Iran juga melumpuhkan puluhan situs pemerintah.

Di pusat Teheran, sebuah kelompok bernama “Penjaga Kebangkitan” mengibarkan bendera era Dinasti Pahlavi, menyerukan penggulingan rezim teokrasi. Bahkan, sebagian massa menamai ulang sebuah ruas jalan menjadi “Jalan Donald Trump” sebagai simbol dukungan internasional.

Penutup: Sejarah Dipacu oleh Tekanan

Ketika tekanan eksternal AS–Israel bertemu dengan pemberontakan internal berskala nasional, Iran memasuki fase paling menentukan sejak Revolusi 1979.  Bagi banyak warga Iran, suara tembakan di Teheran bukan sekadar konflik—melainkan tanda berakhirnya sebuah era.

Sejarah sedang bergerak cepat. Dan ketika rasa takut lenyap dari hati rakyat, akhir sebuah rezim tirani sering kali tinggal menunggu waktu.

Xi Jinping dan Maduro Sama-sama Menganggap Kekuasaan Sebagai Nyawa, 6 Kesamaan Utama Terungkap

EtIndonesia. Pasukan khusus militer Amerika Serikat baru-baru ini berhasil menangkap Nicolás Maduro dan membawanya ke New York, Amerika Serikat, untuk diadili. Para pengamat menilai bahwa Maduro dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping memiliki enam kesamaan utama dalam cara mereka mempertahankan kekuasaan, mengendalikan militer, dan memerintah negara. 

Demi berkuasa seumur hidup, keduanya mengikat nasib negara dengan kekuasaan pribadi, sehingga tugas utama militer bergeser dari melindungi negara menjadi “melindungi pemimpin”.

1- Merebut Kekuasaan dengan Kekerasan

Surat kabar Liberty Times mengutip analisis data yang dihimpun pihak berwenang Taiwan, yang menunjukkan bahwa Maduro dan Xi Jinping memiliki kemiripan tinggi dalam mempertahankan kekuasaan. Maduro meraih dan mempertahankan kekuasaan melalui kecurangan pemilu dan kekerasan. Meski Venezuela masih mempertahankan bentuk pemilu, Maduro menyingkirkan oposisi dengan mencabut kelayakan mereka, memanipulasi sistem penghitungan suara, serta mengerahkan militer dan polisi untuk menindas demonstrasi demi memaksakan masa jabatan baru.

Xi Jinping, di sisi lain, berupaya mempertahankan kekuasaan jangka panjang melalui perubahan konstitusi dan pembersihan lawan politik. Pada 2018, ia menghapus batas masa jabatan presiden melalui amandemen konstitusi, melanggar tradisi suksesi antargenerasi. Dengan dalih pemberantasan korupsi, ia melakukan “pembersihan internal partai” dan memusatkan kekuasaan pada dirinya sendiri.

Keduanya memandang pergantian kekuasaan sebagai jalan menuju kehancuran, lalu mengikat nasib negara dengan kekuasaan pribadi demi mencapai pemerintahan seumur hidup secara de facto.

2- Perdagangan Narkoba

Dalam hal ekspor narkoba dan aktivitas di wilayah abu-abu, Maduro dituduh membangun kartel narkoba tingkat negara. Melalui militer dan kelompok yang dikenal sebagai “Kartel Matahari”, rezimnya secara langsung terlibat dalam pengiriman kokain, menggunakan narkoba sebagai alat untuk memperoleh devisa dan menyuap militer. Ia pun secara resmi didakwa oleh Departemen Kehakiman AS.

Xi Jinping dituduh membiarkan ekspor fentanyl, dengan negara diduga mensubsidi atau membiarkan ekspor bahan kimia prekursor fentanil yang kemudian masuk ke Amerika Serikat melalui Meksiko. Hal ini dipandang sebagai bentuk “perang candu terbalik” dan perang sosial terhadap Barat.

Sumber yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa keduanya memanfaatkan zat adiktif atau destruktif seperti narkoba sebagai alat perang asimetris untuk melemahkan ketahanan sosial dan kesehatan negara lawan.

3- Pengendalian Militer

Dalam hal pengendalian militer, Maduro menyerahkan urat nadi ekonomi negara—seperti minyak, pertambangan, dan distribusi pangan—kepada para jenderal militer, menjadikan militer sebagai “kelompok kepentingan bersama” yang harus membela Maduro demi melindungi diri mereka sendiri.

Xi Jinping menerapkan prinsip “partai mengendalikan senjata” untuk melakukan pembersihan politik. Melalui reformasi militer dan kampanye antikorupsi, ia menyingkirkan lawan-lawan politik, termasuk di Pasukan Roket, menuntut loyalitas mutlak, dan mengubah militer dari angkatan pertahanan nasional menjadi pasukan penjaga kekuasaan PKT dan pemimpinnya.

Kesamaan utama keduanya adalah keyakinan bahwa “kekuasaan lahir dari laras senjata”, sehingga misi utama militer bukan lagi membela negara, melainkan “melindungi pemimpin” dan menjaga stabilitas rezim.

4- Penindasan Brutal

Dalam menghadapi perbedaan pendapat, Maduro menerapkan metode “pemusnahan fisik dan pemenjaraan”. Melalui badan intelijen SEBIN, rezimnya melakukan penangkapan, penyiksaan, dan eksekusi di luar hukum, yang menyebabkan jutaan warga Venezuela melarikan diri dan menjadi pengungsi.

Xi Jinping menggunakan pendekatan “sentralisasi digital dan pendirian kamp konsentrasi” untuk mengawasi seluruh masyarakat Tiongkok. Ia membangun kamp-kamp di Xinjiang, memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong, serta menerapkan yurisdiksi lintas batas untuk mengancam para pembangkang di luar negeri.

Analisis menunjukkan bahwa keduanya secara sistematis menghancurkan masyarakat sipil, serta melabeli setiap suara oposisi sebagai “agen kekuatan asing” atau “penghasut subversi”.

5- Perampasan Ekonomi

Dalam model ekonomi, keduanya juga menunjukkan kemiripan besar. Maduro menjalankan “sosialisme predator” yang menyebabkan hiperinflasi dan keruntuhan ekonomi, sementara kelompok inti rezim memperkaya diri melalui pasar gelap dan selisih nilai tukar.

Xi Jinping mendorong kebijakan “negara maju, swasta mundur”, menekan perusahaan teknologi swasta, menegaskan dominasi BUMN, dan mengusung konsep “kemakmuran bersama” yang pada prakteknya dianggap menyedot kekayaan masyarakat dan memusatkan sumber daya ekonomi di tangan Partai Komunis.

6- Aliansi Anti-Amerika

Dalam aliansi internasional, Venezuela berperan sebagai garis depan anti-Amerika di Amerika Selatan, sementara PKT menjadi poros revisionis. Maduro membawa masuk pengaruh Rusia, Tiongkok, dan Iran, menjadikan Venezuela sebagai titik tumpu strategis.

Xi Jinping mendorong narasi “perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad”, berupaya menulis ulang aturan internasional, serta secara diam-diam mendukung negara-negara anti-Amerika seperti Rusia, Iran, dan Venezuela.

Para pengamat mengkritik bahwa dua rezim otoriter ini saling menopang satu sama lain, termasuk saling melindungi melalui pemungutan suara di Dewan HAM PBB dan forum internasional lainnya, guna melawan diplomasi berbasis nilai dari negara-negara demokratis. (Hui)

Video Mengejutkan! Warga Tiongkok Timur Laut Lupa Menutup Keran Airnya, Rumah Berubah Menjadi “Gunung Es” 

Baru-baru ini, sebuah keluarga di wilayah Tiongkok Timur Laut lupa menutup keran air ketika keluar rumah. Saat kembali, mereka terkejut mendapati rumah mereka telah berubah menjadi sebuah “gunung es”, dengan lapisan es di lantai setebal hingga setengah meter. Warganet pun berseloroh bahwa ini adalah “aset tetap yang dibekukan”.

EtIndonesia. Pada 3 Januari 2025, seorang warganet dari Provinsi Heilongjiang mengunggah video rumahnya yang berubah menjadi “gunung es” ke media sosial, dan langsung memicu perbincangan hangat.

Rekaman video memperlihatkan bahwa keluarga tersebut lalai menutup keran air dengan baik saat meninggalkan rumah. Ketika mereka kembali, pemandangan yang terlihat sungguh mengejutkan. 

Air dari keran dapur mengalir terus hingga membeku, bak cuci dipenuhi air yang kemudian mengalir ke berbagai sudut lantai, sementara lapisan es menjalar dengan cepat dari lantai ke dinding.

Lemari dapur terbungkus rapat oleh es, pipa air berubah menjadi bagian dari stalaktit es, dan pintu, perabotan, serta peralatan rumah tangga tertimbun lapisan es yang sangat tebal—pada bagian tertentu bahkan mencapai ketebalan setengah meter.

Seluruh genangan air di dalam rumah membeku, membentuk pemandangan yang spektakuler namun juga membuat orang tak tahu harus tertawa atau menangis. Bahkan tangga di luar rumah pun dipenuhi es akibat rembesan air, sehingga tampak seperti sebuah gua es.

Dalam video terlihat anggota keluarga membawa kapak dan sekop besi untuk memecah dan membersihkan es di dalam rumah, dengan pekerjaan yang tampak cukup berat.

Warganet pun ramai-ramai berkomentar dengan nada bercanda:
“Ini bukan sekadar kebocoran air, tapi benar-benar pembekuan aset tetap.”
“Inilah yang namanya ‘rumah dingin’ dalam arti sebenarnya.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Fan Ming

Asal-Usul Sepatu Kulit

EtIndonesia. Pada zaman yang sangat, sangat lampau, manusia masih berjalan dengan kaki telanjang ke mana-mana.

Suatu hari, seorang raja bepergian melewati sebuah daerah pedesaan terpencil. Jalan di sana sangat kasar dan tidak rata, dipenuhi batu-batu kecil yang tajam, hingga membuat telapak kaki sang raja terasa perih dan mati rasa.

Setelah kembali ke istana, raja mengeluarkan sebuah perintah: semua jalan di dalam negeri harus dilapisi dengan kulit sapi.

Menurutnya, langkah ini bukan hanya demi kenyamanan dirinya sendiri, tetapi juga untuk kesejahteraan rakyat, agar tidak ada lagi yang harus menahan rasa sakit saat berjalan.

Namun kenyataannya, meskipun seluruh sapi di negeri itu disembelih, tetap tidak akan cukup kulit untuk menutupi semua jalan. Belum lagi biaya yang sangat besar serta tenaga manusia yang harus dikerahkan—jumlahnya tak terbayangkan. Perintah itu jelas mustahil dilakukan, bahkan terkesan konyol. Tetapi karena itu adalah titah raja, tak seorang pun berani menentangnya, hanya bisa mengeluh dalam hati.

Di tengah kebuntuan itu, seorang pelayan yang cerdas memberanikan diri memberi nasihat kepada raja : “Paduka Raja, mengapa Anda harus mengerahkan begitu banyak orang, mengorbankan begitu banyak sapi, dan menghabiskan begitu banyak uang? Mengapa tidak memotong dua lembar kecil kulit sapi saja untuk membungkus kaki Anda? Dengan begitu, semua orang pun bisa melakukan hal yang sama.”

Mendengar hal itu, raja sangat terkejut. Dia merenung sejenak, lalu segera mencabut perintah sebelumnya dan menerima usulan sang pelayan.

Sejak saat itulah, di dunia ini lahir benda yang kita kenal sebagai sepatu kulit.

Hikmah cerita:

Mengubah dunia adalah hal yang sangat sulit.  Namun, mengubah diri sendiri jauh lebih mudah.

Daripada berusaha mengubah seluruh dunia, lebih baik kita mulai dengan mengubah diri sendiri. Ketika diri kita berubah, cara kita memandang dunia pun akan ikut berubah.

Ketika hati berubah, sikap akan berubah. Sikap berubah, kebiasaan pun berubah. Kebiasaan berubah, maka hidup pun akan berubah.

Ada satu hal penting yang tidak boleh kita abaikan: semua niat baik lahir dari kasih sayang.

Pelayan itu bukanlah orang yang luar biasa cerdas. Dia hanya memiliki sedikit lebih banyak rasa belas kasih. Ia bukan semata-mata memberi saran demi raja, melainkan demi sapi, dan demi seluruh makhluk hidup di dunia ini.(jhn/yn)

Iran di Titik Kritis: Ancaman Terbuka AS, Mossad Bergerak, Khamenei Disebut Siap Kabur

EtIndonesia. Setelah penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran mengalami eskalasi tajam dan terbuka. Dalam waktu kurang dari 48 jam, Washington secara simultan mengerahkan tekanan politik, diplomatik, psikologis, dan militer, memicu spekulasi luas bahwa krisis Iran telah memasuki titik paling kritis dalam beberapa dekade terakhir.

Para analis menilai pola ini mencerminkan pendekatan baru Amerika Serikat: tidak lagi bersifat simbolik atau terselubung, melainkan langsung dan konfrontatif, dengan target utama kepemimpinan tertinggi Iran.

Ultimatum Berbahasa Persia: “Pergi atau Bernasib Sama”

Pada 4 Januari 2026, Pemerintah Amerika Serikat merilis video resmi berbahasa Persia melalui akun komunikasi Pemerintah AS yang ditujukan langsung kepada publik Iran. Video tersebut menyampaikan ultimatum terbuka kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Isi pesan dalam video tersebut sangat tegas: “Kami memberi Anda waktu untuk melarikan diri. Jika tidak, nasib Anda akan sama seperti Maduro.”

Dalam pernyataan yang menyertai video itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth menegaskan bahwa Maduro sebelumnya telah diberi kesempatan untuk mundur secara damai, sebagaimana Iran juga pernah diberikan peluang serupa. Namun, ketika peluang tersebut diabaikan, konsekuensi dianggap tak lagi dapat dihindari.

Pesan tersirat dari Washington sangat jelas: Khamenei diminta segera meninggalkan kekuasaan.

Tekanan Diplomatik ke Negara-Negara Kunci Timur Tengah

Masih pada 4 Januari 2026, seorang sumber diplomatik yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa Departemen Luar Negeri AS telah mengirimkan pesan darurat melalui jalur diplomatik kepada negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), termasuk Qatar dan Oman, serta kepada Turki.

Presiden AS, Donald Trump disebut secara langsung mendesak negara-negara tersebut untuk menyampaikan peringatan terakhir kepada rezim Khamenei dan para pendukungnya. Pilihan yang disodorkan hanya tiga:

  1. Menyerah,
  2. Menerima jalur keluar yang aman, atau
  3. Menghadapi konsekuensi yang sama seperti Maduro akibat menindas rakyat sendiri.

Langkah ini mempertegas kembali pernyataan Trump dua hari sebelumnya bahwa Amerika Serikat mengklaim berdiri di pihak rakyat Iran, bukan rezim yang menindas mereka.

Opsi Intelijen: Pembukaan Dokumen Rahasia dan Hadiah Penangkapan

Sejumlah laporan keamanan menyebutkan bahwa Washington juga tengah mempertimbangkan langkah lanjutan berupa:

  • pembukaan dokumen intelijen rahasia, serta
  • pemberian hadiah penangkapan internasional

Bagi para pemimpin kelompok bersenjata yang terlibat langsung dalam penindasan demonstrasi di Iran.

Kelompok-kelompok yang disebut secara eksplisit antara lain:

  • milisi Basij elit,
  • Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC),
  • serta jaringan bersenjata pro-Iran lainnya.

Langkah ini dinilai berpotensi mengubah krisis Iran dari tekanan politik menjadi perburuan hukum dan intelijen berskala global.

Pergerakan Militer AS Picu Spekulasi Operasi Besar

Sejak malam 4 Januari 2026, laporan mengenai pergerakan militer besar-besaran AS mulai bermunculan. Data intelijen sumber terbuka (OSINT) menunjukkan bahwa:

  • 12 pesawat angkut strategis C-17 mendarat di Inggris pada malam hari,
  • kemudian bergerak menuju pangkalan militer Amerika Serikat di Jerman.

Pergerakan ini memicu spekulasi luas bahwa Washington sedang menyiapkan operasi militer skala besar, dengan kemungkinan tujuan strategis yang mencakup penggulingan rezim Iran dan penangkapan Khamenei.

Israel Disebut Siap Bergerak: “Operasi Tangan Besi”

Hampir bersamaan dengan eskalasi AS, kabinet keamanan Israel dilaporkan telah menyetujui sebuah operasi militer baru terhadap Iran dengan sandi “Operasi Tangan Besi.”

Sumber-sumber Timur Tengah menyebutkan kemungkinan serangan militer gabungan Amerika Serikat–Israel dalam waktu 72 jam, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua pemerintah.

“Indikator Pizza Pentagon” Kembali Muncul

Di Washington, sebuah indikator tidak resmi kembali menyedot perhatian publik. Pada malam 4 Januari 2026, pesanan pizza di sekitar kompleks Pentagon dilaporkan melonjak hingga 1.250%.

Sebagai perbandingan, lonjakan pesanan menjelang operasi militer AS di Venezuela sebelumnya tercatat sekitar 700%. Fenomena ini kembali memicu spekulasi bahwa aksi militer besar sedang dalam tahap finalisasi.

Mossad Serukan Pembelotan Aparat Keamanan Iran

Di sisi lain, badan intelijen Israel Mossad merilis pernyataan berbahasa Persia, mengklaim telah menerima laporan bahwa ribuan anggota pasukan keamanan dan milisi Basij memilih membelot karena muak dengan penindasan rezim.

Dalam pernyataannya, Mossad menyampaikan pesan langsung kepada aparat Iran: “Kalian memilih untuk tidak mengarahkan senjata ke rakyat, tetapi berdiri bersama bangsa. Sejarah akan mencatat kalian sebagai pejuang sejati Iran dan pelindung bangsa.”

Khamenei Disebut Siapkan Rencana Kabur ke Moskow

Sebuah laporan intelijen yang dikutip media Inggris The Times menyebutkan bahwa Khamenei tengah menyiapkan rencana pelarian dari Teheran, bersama sekitar 20 orang pembantu dan anggota keluarga, dengan tujuan akhir Moskow.

Pilihan Rusia—bukan Tiongkok—dinilai penuh perhitungan. Di ruang publik global, beredar sindiran tajam mengenai pola jatuhnya para pemimpin yang sebelumnya memiliki kedekatan dengan Beijing, yang oleh warganet dijuluki “Kutukan Jabat Tangan Xi Jinping.”

Beberapa contoh yang kerap disorot antara lain:

  • K.P. Sharma Oli (Nepal) berkunjung ke Tiongkok (Agustus 2025), sepekan kemudian jatuh dari kekuasaan dan kabur ke Dubai.
  • Hamas menandatangani deklarasi dengan PKT (2024), dalam hitungan hari pimpinan utamanya tewas.
  • Sheikh Hasina (Bangladesh) bertemu Xi Jinping (Juli 2024), lalu jatuh dan melarikan diri ke India.
  • Bashar al-Assad membawa keluarga ke Tiongkok (akhir 2024), tak lama kemudian rezimnya runtuh dan ia mengungsi ke Rusia.
  • Nicolás Maduro berkunjung ke Tiongkok (2025), beberapa bulan kemudian ditangkap dan diekstradisi ke Amerika Serikat.

Sindiran yang kini beredar luas di media sosial pun terdengar sangat tajam: “Mengikuti Partai Komunis sama saja berlari menuju krematorium.”

Penutup

Dengan tekanan diplomatik, pergerakan militer, operasi intelijen, dan perang psikologis yang berlangsung bersamaan, situasi Iran pada awal Januari 2026 dinilai telah mencapai titik balik sejarah. Dunia kini menanti apakah krisis ini akan berujung pada perubahan rezim, atau justru memicu konflik militer besar di Timur Tengah.

Gelombang Protes di Iran Memasuki Pekan Kedua, Bentrokan Polisi–Warga Kembali Menyebabkan Korban Jiwa

Gelombang demonstrasi warga Iran yang dipicu oleh melonjaknya biaya hidup kini memasuki pekan kedua. Kelompok pembela hak asasi manusia dan media lokal pada 4 Januari melaporkan bahwa para pengunjuk rasa kembali terlibat bentrokan mematikan dengan pasukan keamanan.

EtIndonesia. Seiring meningkatnya kemarahan atas lonjakan harga, sejak 28 Desember tahun lalu ketika para pedagang di ibu kota Teheran melakukan mogok, gelombang protes telah menyebar ke seluruh negeri. Hingga kini, sedikitnya 12 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan.

Menurut laporan Reuters, bentrokan keras antara demonstran dan pasukan keamanan pecah di berbagai wilayah. Kelompok pembela HAM pada 4 Januari menyatakan bahwa kerusuhan yang terus berlanjut telah menyebabkan sedikitnya 16 orang meninggal dunia. Reuters menyebutkan bahwa angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Berdasarkan rangkuman pengumuman resmi dan laporan media oleh AFP, gelombang protes ini telah meluas ke 23 dari total 31 provinsi di Iran, dengan sedikitnya 40 kota mengalami demonstrasi dalam berbagai skala, sebagian besar terjadi di kota-kota kecil dan menengah.

Pada 1 Januari 2026, di Hamadan, Iran, selama kerusuhan, puing-puing yang terbakar berserakan di sekitar sebuah tempat sampah yang terbalik di tengah jalan. (Mobina / Middle East Images / AFP via Getty Images
Seorang demonstran mengacungkan tanda kemenangan saat lalu lintas melambat dalam aksi demonstrasi di Hamedan, Iran, pada 1 Januari 2026. Aksi protes ini meletus setelah para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko-toko mereka untuk memprotes anjloknya tajam nilai mata uang Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Bentrokan dilaporkan terjadi di beberapa provinsi, dan media Iran serta kelompok pembela HAM menyebutkan bahwa sejumlah orang tewas dalam kekerasan tersebut, menandai gelombang protes terbesar yang melanda Republik Islam itu dalam tiga tahun terakhir. (Foto oleh Mobina / Middle East Images / AFP via Getty Images)

Ini merupakan gelombang demonstrasi terbesar di Iran sejak protes besar pada periode 2022–2023, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini—seorang perempuan yang ditahan karena diduga melanggar aturan berpakaian perempuan—yang meninggal dalam tahanan. Namun, skala protes kali ini masih belum sebesar peristiwa tersebut, dan jauh lebih kecil dibandingkan aksi massa pada tahun 2009 yang dipicu sengketa hasil pemilu presiden.

Saat ini, protes terutama terkonsentrasi di wilayah barat Iran, yang memiliki populasi etnis Kurdi dan Lur (Lors) dalam jumlah besar.

Kantor berita Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa pada malam hari, aksi-aksi protes dengan massa besar terjadi di Teheran, kota Shiraz di selatan, serta berbagai wilayah di bagian barat, dengan para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik kepemimpinan ulama Republik Islam Iran.

Gelombang protes ini menjadi tantangan baru bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun dan telah berkuasa sejak 1989.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian, melalui juru bicaranya Fatemeh Mohajerani, mengatakan kepada televisi pemerintah pada 4 Januari bahwa pemerintah akan memberikan bantuan tunai kepada warga sebesar sekitar 7 dolar AS per bulan selama empat bulan ke depan. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Penangkapan Nicolas Maduro Tidak Lepas dari Keterlibatan Puerto Rico

EtIndonesia. Ketika pasukan AS menangkap Nicolas Maduro dari Venezuela pada hari Sabtu, Aguadilla dan beberapa pangkalan Puerto Rico lainnya sudah menjadi tempat berlabuh pesawat dan personel yang terlibat dalam operasi tersebut.

Pulau itu, yang berjarak sekitar 800 km dari Venezuela, merupakan pusat peralatan militer Amerika di wilayah tersebut. Bekas pangkalan seperti bandara di Aguadilla dan stasiun angkatan laut di Roosevelt Roads, yang ditutup pada tahun 2004, telah dihidupkan kembali untuk mendukung operasi AS.

Pesawat tempur, drone, dan peralatan militer lainnya dilaporkan telah dikerahkan ke Puerto Rico seiring meningkatnya tekanan terhadap Maduro. Bekas pangkalan Angkatan Udara di Aguadilla dilaporkan menjadi pemberhentian pertama Maduro di tanah Amerika setelah penangkapannya, menurut Politico.

Petunjuknya adalah foto yang dibagikan oleh Presiden AS, Donald Trump yang menunjukkan Maduro yang ditutup matanya dan diborgol sambil memegang sebotol air merek Nikini, yang banyak tersedia di Puerto Rico.

Meskipun pulau itu menjadi pusat angkatan laut AS yang penting selama Perang Dunia II, kehadiran militer menurun setelah Perang Dingin. Protes menghentikan latihan pengeboman Angkatan Laut di Vieques pada tahun 2001, dan pangkalan seperti Roosevelt Roads ditutup.

Di bawah pemerintahan Trump, jet tempur F-35 dikirim ke Puerto Rico pada bulan September, dan pasukan angkatan laut AS, termasuk kapal perusak dan kapal serbu amfibi, dikerahkan di dekat Venezuela.

Secara historis, Puerto Rico telah menjadi bagian utama dari strategi pertahanan AS di Karibia. AS juga mengandalkannya untuk melindungi Terusan Panama dan mengklaim keunggulan regional. Sekali lagi, pulau ini berfungsi sebagai pusat strategi militer dan geopolitik AS di Amerika Latin.

Operasi penangkapan pemimpin Venezuela tersebut menyusul aktivitas militer AS selama berbulan-bulan di wilayah tersebut. Mulai September 2025 dan seterusnya, setidaknya ada 35 serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh AS membawa narkoba dari Venezuela, yang mengakibatkan lebih dari 100 kematian.

AS mengerahkan kapal perang, pesawat terbang, dan sekitar 12.000 tentara di Karibia di bawah Operasi Southern Spear. Sebuah kapal selam Angkatan Laut dengan rudal jelajah juga beroperasi di dekat Amerika Selatan.(yn)

Gempa Bumi Berkekuatan Magnitudo 6,2  Melanda Jepang Barat

EtIndonesia. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 melanda wilayah Chugoku barat Jepang pada hari Selasa (6/1), menurut Badan Meteorologi Jepang, diikuti oleh serangkaian gempa susulan yang cukup besar.

Pusat gempa pertama berada di prefektur Shimane timur, kata badan tersebut, menambahkan bahwa tidak ada bahaya tsunami. Chugoku Electric Power mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Shimane, sekitar 32 km (20 mil) jauhnya.

Otoritas Regulasi Nuklir Jepang mengatakan tidak ada penyimpangan di pembangkit tersebut.

Seorang juru bicara mengatakan perusahaan listrik sedang memeriksa dampak apa pun pada unit No. 2 pembangkit, yang telah beroperasi sejak Desember 2024 setelah ditutup menyusul bencana Maret 2011 di Fukushima.

Gempa bumi sering terjadi di Jepang, salah satu wilayah paling aktif secara seismik di dunia.(yn)

Biaya Hidup 100 Yuan

EtIndonesia. Seorang pria tua memiliki seorang anak laki-laki. Anak itu tidak suka belajar, tidak mau bekerja, tetapi setiap hari hanya pandai mengeluh. Dia terus menyalahkan ayahnya karena dianggap tidak punya kemampuan dan tidak mampu mewariskan harta yang cukup untuknya.

Suatu hari, sang ayah berkata kepada anaknya :  “Aku harus pergi ke luar kota untuk mengurus suatu urusan. Ini ada 100 yuan untuk biaya hidupmu.”

Anak itu menerima uang seratus yuan tersebut tanpa bertanya sedikit pun berapa lama ayahnya akan pergi. Setelah sang ayah berangkat, tak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan seluruh uang itu. Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana dia akan bertahan hidup di hari-hari berikutnya, apalagi kemungkinan harus menahan lapar sambil menunggu ayahnya pulang.

Tiga hari kemudian, sang ayah kembali. Dia terkejut melihat anaknya terbaring lemas di tempat tidur, nyaris tak bertenaga. 

Dengan heran dia bertanya :  “Bukankah aku sudah memberimu seratus yuan untuk membeli makanan?”

Dengan wajah penuh keluhan, sang anak menjawab: “Seratus yuan itu terlalu sedikit. Sekali belanja, langsung habis.”

Mendengar itu, sang ayah berkata dengan nada penuh makna : “Uang yang kuberikan padamu sebenarnya cukup untuk tiga hari, tetapi kamu menghabiskannya dalam sekejap. Kalau begitu, sekalipun aku meninggalkan harta yang sangat banyak untukmu, semuanya juga akan segera kau sia-siakan. Jika kamu tidak mau mengandalkan usaha dan kerja kerasmu sendiri, pada akhirnya kamu tetap akan kelaparan.”

Sang anak memegang perutnya yang kempis karena lapar, wajahnya memerah karena malu.(jhn/yn)

Militer AS Menewaskan Sebagian Besar Pengawal Maduro, 32 Orang Berasal dari Kuba

Pemerintah Kuba pada 5 Januari mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa dalam proses penangkapan Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat, sebanyak 32 warga Kuba tewas. Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, sebelumnya juga mengkonfirmasi bahwa para pengawal Maduro telah tewas dalam serangan mendadak militer AS.

EtIndonesia. Media resmi Kuba Granma melaporkan bahwa selama operasi Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, total 32 warga Kuba meninggal dunia. Disebutkan bahwa mereka tewas setelah melakukan “perlawanan sengit” terhadap pasukan militer AS.

Pada  3 Januari dini hari waktu Pantai Timur AS, Amerika Serikat mengerahkan pasukan khusus untuk melancarkan serangan mendadak ke ibu kota Venezuela, Caracas, dan berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, lalu membawa mereka ke Amerika Serikat untuk diadili.

Menteri Pertahanan Venezuela, Padrino López, dalam pidato televisi pada 4 Januari mengungkapkan bahwa dalam operasi serangan militer AS tersebut, sebagian besar personel keamanan Maduro ditembak mati. Namun, ia tidak merinci jumlah korban tewas maupun luka.

Pernyataan López tersebut membenarkan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump, dalam wawancara dengan New York Post pada 3 Januari, mengatakan bahwa ketika militer AS menyerang Venezuela dan menangkap Maduro, banyak warga Kuba yang bertugas melindungi Maduro tewas.

Trump menyatakan, “Kuba selama ini sangat bergantung pada Venezuela. Uang mereka berasal dari Venezuela, dan mereka juga melindungi Venezuela. Namun kali ini, perlindungan itu tidak terlalu berhasil (maksudnya gagal mempertahankan Maduro).”  (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Minyak, Pemilu, dan Penguasa: Trump Mengungkap Rencananya untuk Masa Depan Venezuela

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tidak sedang berperang dengan Venezuela dan tidak akan mendorong pemilu di sana dalam waktu dekat, beberapa hari setelah pasukan AS menangkap presiden yang kini telah digulingkan, Nicolas Maduro, dalam serangan militer. Trump berpendapat bahwa negara Amerika Selatan itu harus terlebih dahulu distabilkan dan infrastrukturnya dibangun kembali setelah penangkapan Maduro.

Berbicara kepada NBC News, Trump mengatakan kondisi di lapangan membuat pemungutan suara di Venezuela tidak realistis dalam 30 hari ke depan.

“Kita harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak dapat mengadakan pemilu jika orang bahkan tidak dapat memilih,” kata Trump.

Proposal Dana Minyak

Dia mengklaim Washington akan fokus pada pemulihan ketertiban dasar dan pembangunan kembali ekonomi di negara itu terlebih dahulu, dan “perusahaan minyak AS” dapat memainkan peran sentral dalam membangun kembali infrastruktur energi Venezuela.

“Kita harus memulihkan kesehatan negara itu,” katanya, menambahkan bahwa transisi tersebut dapat memakan waktu kurang dari 18 bulan. Trump mengatakan Amerika Serikat mungkin akan mensubsidi sebagian dari upaya tersebut, tetapi menegaskan bahwa perusahaan minyak pada akhirnya akan menanggung biaya dan memulihkan investasi mereka.

“Sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan minyak akan mengeluarkannya, dan kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kita atau melalui pendapatan,” kata Trump.

Tidak Sedang Berperang

Pemimpin Partai Republik itu menolak klaim bahwa Amerika Serikat terlibat dalam perang dengan Venezuela.

“Tidak,” katanya. “Kita sedang berperang dengan orang-orang yang menjual narkoba. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita dan mengosongkan pecandu narkoba mereka dan mengosongkan lembaga kejiwaan mereka ke negara kita.”

Dia mengatakan tanggung jawab atas keruntuhan Venezuela terletak pada kepemimpinannya, yang dia tuduh mengekspor kejahatan dan ketidakstabilan.

Maduro ditangkap selama penggerebekan AS di Caracas dan kemudian diadili di New York atas tuduhan termasuk konspirasi terorisme narkoba dan konspirasi impor kokain. Trump mengatakan Presiden sementara Delcy Rodriguez telah bekerja sama dengan pejabat AS tetapi membantah adanya komunikasi antara Washington dan kubu Rodriguez sebelum penggulingan Maduro.

“Tidak, bukan begitu,” kata Trump, menambahkan bahwa keputusan akan segera dibuat mengenai apakah sanksi terhadap Rodríguez akan tetap berlaku.

Trump “Bertanggung Jawab” Atas Venezuela

Ketika ditanya siapa yang pada akhirnya bertanggung jawab atas Venezuela, Trump memberikan jawaban satu kata: “Saya.”

Trump mengatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah sangat terlibat dalam komunikasi dengan kepemimpinan Venezuela, mencatat bahwa Rubio “berbicara dengannya dengan lancar dalam bahasa Spanyol” dan bahwa “hubungan mereka sangat kuat.” Dia juga mengatakan Amerika Serikat siap untuk melancarkan serangan militer kedua jika kerja sama gagal, meskipun dia mengatakan dia tidak percaya itu akan diperlukan.

“Kami siap melakukannya,” katanya. “Sebenarnya kami mengantisipasinya.”

Trump menepis kritik bahwa dia gagal meminta persetujuan kongres untuk operasi tersebut, mengatakan para anggota parlemen mengetahui tindakan AS.

“Kami mendapat dukungan yang baik di Kongres,” katanya, menolak untuk menjelaskan lebih lanjut tentang siapa yang mengetahui apa dan kapan.

Tembakan Dilepaskan di Dekat Istana Kepresidenan Venezuela

Tembakan dilepaskan pada Senin malam di dekat istana kepresidenan Venezuela. Mengutip sebuah sumber, kantor berita AFP melaporkan bahwa situasi telah terkendali.

Sebuah video yang diunggah di media sosial menunjukkan apa yang tampak seperti peluru penjejak yang ditembakkan ke langit. Video tersebut menunjukkan banyak anggota pasukan keamanan bergegas ke istana setelah tembakan.

Drone tak dikenal terbang di atas Istana Miraflores di pusat Caracas, dan pasukan keamanan melepaskan tembakan sebagai respons sekitar pukul 20.00 (0000 GMT), kata sumber tersebut, beberapa jam setelah wakil Maduro, Delcy Rodriguez, dilantik sebagai presiden sementara.

Rentetan tembakan terdengar, tetapi tidak sekuat serangan sebelum subuh pada hari Sabtu yang menggulingkan Maduro, menurut seseorang yang tinggal lima blok dari istana, yang mengatakan insiden itu berlangsung sekitar satu menit.

“Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah melihat apakah ada pesawat yang terbang di atas, tetapi tidak ada. Saya hanya melihat dua lampu merah di langit,” kata warga yang tinggal di dekat istana tersebut dengan syarat anonim.

“Semua orang melihat ke luar jendela mereka untuk melihat apakah ada pesawat, untuk melihat apa yang sedang terjadi.”(yn)

Video: Mantan Presiden Venezuela Maduro Terpincang-pincang Menuju Gedung Pengadilan

EtIndonesia. Segala hal tentang operasi Amerika Serikat di Venezuela, mulai dari penangkapan Presiden Nicolas Maduro hingga prosesi penangkapan dan momen mengenakan pakaian olahraga abu-abu yang kini viral, telah menyebar luas di media sosial. Hal yang sama juga terjadi pada perjalanannya ke gedung pengadilan New York untuk penampilan pertamanya.

Cuplikan yang menunjukkan pergerakan Maduro di New York menjelang penampilan pertamanya di pengadilan telah beredar di internet.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dikawal dari helikopter ke kendaraan yang menunggu sebelum dibawa ke gedung pengadilan federal di Manhattan. Sebuah video menunjukkan Maduro diborgol saat dia turun dari kendaraan lapis baja dan bergerak perlahan menuju kendaraan lain.

Dalam rekaman tersebut, Maduro tampak terpincang-pincang. Dia mengenakan celana panjang krem, jaket khaki, dan sepatu oranye terang, dan dikelilingi oleh petugas penegak hukum bersenjata lengkap.

Video lain menunjukkan dia naik ke helikopter. Dia diangkut ke gedung pengadilan dengan kendaraan lapis baja setelah penerbangan.

Iring-iringan kendaraan yang membawa Maduro meninggalkan penjara sekitar pukul 07:15 pagi dan menuju ke lapangan atletik terdekat. Dari sana, Maduro naik helikopter. Helikopter tersebut melintasi pelabuhan New York dan mendarat di helipad Manhattan. Maduro kemudian dimasukkan ke dalam kendaraan lapis baja. Beberapa menit kemudian, konvoi penegak hukum memasuki garasi di kompleks gedung pengadilan.

Maduro Mengaku ‘Tidak Bersalah’ dalam Sidang Pertama

Pada sidang pertamanya, mantan pemimpin Venezuela itu mengaku “tidak bersalah” atas keempat tuduhan terhadapnya. Tuduhan tersebut termasuk konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.

Ketika ditanya tentang pembelaannya, Maduro berkata: “Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Saya orang yang baik.”

Dia menambahkan: “Saya masih presiden negara saya.”

Ketika diminta untuk memperkenalkan diri, Maduro berbicara dalam bahasa Spanyol, menyebut dirinya presiden Republik Venezuela dan mengatakan bahwa fia berada di sana “diculik.” Sidang selanjutnya dijadwalkan pada 17 Maret.

Catatan pengadilan federal menunjukkan bahwa Maduro telah menyewa pengacara Barry Joel Pollack, yang terkenal karena mewakili pendiri WikiLeaks, Julian Assange.

Maduro, 63 tahun, dan istrinya ditangkap oleh pasukan komando AS pada hari Sabtu selama operasi militer gabungan yang mengejutkan.(yn)