Gelombang Protes di Iran Memasuki Pekan Kedua, Bentrokan Polisi–Warga Kembali Menyebabkan Korban Jiwa

Gelombang demonstrasi warga Iran yang dipicu oleh melonjaknya biaya hidup kini memasuki pekan kedua. Kelompok pembela hak asasi manusia dan media lokal pada 4 Januari melaporkan bahwa para pengunjuk rasa kembali terlibat bentrokan mematikan dengan pasukan keamanan.

EtIndonesia. Seiring meningkatnya kemarahan atas lonjakan harga, sejak 28 Desember tahun lalu ketika para pedagang di ibu kota Teheran melakukan mogok, gelombang protes telah menyebar ke seluruh negeri. Hingga kini, sedikitnya 12 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan.

Menurut laporan Reuters, bentrokan keras antara demonstran dan pasukan keamanan pecah di berbagai wilayah. Kelompok pembela HAM pada 4 Januari menyatakan bahwa kerusuhan yang terus berlanjut telah menyebabkan sedikitnya 16 orang meninggal dunia. Reuters menyebutkan bahwa angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Berdasarkan rangkuman pengumuman resmi dan laporan media oleh AFP, gelombang protes ini telah meluas ke 23 dari total 31 provinsi di Iran, dengan sedikitnya 40 kota mengalami demonstrasi dalam berbagai skala, sebagian besar terjadi di kota-kota kecil dan menengah.

Pada 1 Januari 2026, di Hamadan, Iran, selama kerusuhan, puing-puing yang terbakar berserakan di sekitar sebuah tempat sampah yang terbalik di tengah jalan. (Mobina / Middle East Images / AFP via Getty Images
Seorang demonstran mengacungkan tanda kemenangan saat lalu lintas melambat dalam aksi demonstrasi di Hamedan, Iran, pada 1 Januari 2026. Aksi protes ini meletus setelah para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko-toko mereka untuk memprotes anjloknya tajam nilai mata uang Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Bentrokan dilaporkan terjadi di beberapa provinsi, dan media Iran serta kelompok pembela HAM menyebutkan bahwa sejumlah orang tewas dalam kekerasan tersebut, menandai gelombang protes terbesar yang melanda Republik Islam itu dalam tiga tahun terakhir. (Foto oleh Mobina / Middle East Images / AFP via Getty Images)

Ini merupakan gelombang demonstrasi terbesar di Iran sejak protes besar pada periode 2022–2023, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini—seorang perempuan yang ditahan karena diduga melanggar aturan berpakaian perempuan—yang meninggal dalam tahanan. Namun, skala protes kali ini masih belum sebesar peristiwa tersebut, dan jauh lebih kecil dibandingkan aksi massa pada tahun 2009 yang dipicu sengketa hasil pemilu presiden.

Saat ini, protes terutama terkonsentrasi di wilayah barat Iran, yang memiliki populasi etnis Kurdi dan Lur (Lors) dalam jumlah besar.

Kantor berita Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa pada malam hari, aksi-aksi protes dengan massa besar terjadi di Teheran, kota Shiraz di selatan, serta berbagai wilayah di bagian barat, dengan para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik kepemimpinan ulama Republik Islam Iran.

Gelombang protes ini menjadi tantangan baru bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun dan telah berkuasa sejak 1989.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian, melalui juru bicaranya Fatemeh Mohajerani, mengatakan kepada televisi pemerintah pada 4 Januari bahwa pemerintah akan memberikan bantuan tunai kepada warga sebesar sekitar 7 dolar AS per bulan selama empat bulan ke depan. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine