Perang Rusia–Ukraina Meningkat di Awal Tahun, Putin Buka Ambisi Ekspansi 2026

Meski kalender telah memasuki tahun 2026, perang kejam antara Rusia dan Ukraina masih belum berhenti. Pada hari pertama Tahun Baru, kedua pihak saling melancarkan serangan udara besar-besaran.

EtIndonesia. Tahun 2026 telah tiba, namun yang menyambut Ukraina tetaplah kegelapan tanpa akhir dan suara sirine pertahanan udara yang memekakkan telinga. Pada hari pertama Tahun Baru, Rusia meluncurkan lebih dari 200 drone tempur ke sedikitnya tujuh wilayah di seluruh Ukraina. Sasaran utama adalah infrastruktur energi yang memicu pemadaman listrik skala besar dan kebakaran di sejumlah daerah.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunggah pernyataan yang mengecam Rusia karena dengan sengaja membawa perang ke Tahun Baru. Ia menyerukan kepada para sekutu bahwa pembunuhan harus dihentikan dan perlindungan terhadap nyawa manusia tidak boleh kendor sedikit pun. Jika serangan tetap berlanjut selama libur Tahun Baru, maka pengiriman peralatan pertahanan udara sama sekali tidak boleh ditunda.

Dalam pidato Tahun Baru sehari sebelumnya, Zelenskyy mengatakan:  “Kami menginginkan berakhirnya perang, bukan berakhirnya Ukraina. Apakah kami lelah? Sangat lelah. Namun apakah itu berarti kami siap menyerah? Orang yang berpikir demikian benar-benar keliru.”

Pada malam Tahun Baru yang sama, pejabat Rusia menyatakan bahwa drone Ukraina telah membombardir wilayah Yaroslavl, Oblast Kaluga, serta beberapa fasilitas energi dan industri di Krai Krasnodar. Rekaman video menunjukkan kilang minyak yang terkena serangan terbakar hebat, dengan asap hitam membumbung ke langit.

Sementara itu, Rusia juga menuduh drone Ukraina menyerang sebuah kafe di wilayah Kherson yang dikuasai Rusia, menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai 29 lainnya. Saat itu, warga sedang mengadakan perayaan Tahun Baru. Pihak Ukraina belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Terkait tuduhan Moskow sebelumnya bahwa Kyiv berupaya menggunakan drone jarak jauh untuk menyerang kediaman Presiden Putin, Kementerian Pertahanan Rusia pada Kamis mengklaim telah mengekstrak dan mendekode data dari sebuah drone Ukraina yang berhasil ditembak jatuh. Dokumen tersebut, menurut Rusia, membuktikan kebenaran tuduhan tersebut dan Moskow akan menyerahkan materi terkait kepada Amerika Serikat.

Namun sehari sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip pernyataan pejabat keamanan AS yang mengatakan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) memastikan Ukraina tidak memiliki niat menyerang kediaman Putin, melainkan menargetkan sebuah sasaran militer yang berada di kawasan tempat tinggal Putin.

Apa pun faktanya, yang terlihat oleh dunia luar adalah sikap Moskow terhadap perundingan damai semakin mengeras. Dalam pidato Tahun Barunya, Putin sama sekali tidak menyinggung perdamaian di Ukraina, melainkan justru menyemangati moral tempur pasukan Rusia.

 “Kita bersatu karena cinta yang tulus, tanpa pamrih, dan setia kepada Rusia. Saya mengucapkan selamat Tahun Baru kepada seluruh prajurit dan komandan! Kami percaya kepada kalian, dan kami percaya pada kemenangan kita,” ujar Putin, 

Panglima tertinggi Rusia Valery Gerasimov baru-baru ini mengungkapkan bahwa selain memperkuat serangan darat di Ukraina bagian selatan dan timur, Putin juga memerintahkan perluasan zona penyangga keamanan di wilayah utara Sumy dan Kharkiv pada tahun 2026. Ekspansi wilayah tersebut didefinisikan ulang sebagai kebutuhan defensif. Para analis menilai hal ini menunjukkan bahwa Moskow, sembari melakukan perundingan damai, berniat menguasai secara permanen wilayah-wilayah yang baru diduduki.

Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, menulis dalam sebuah unggahan menjelang Tahun Baru bahwa ia telah mengadakan pertemuan dengan Zelenskyy serta para penasihat keamanan nasional dari Inggris, Prancis, dan Jerman untuk membahas langkah-langkah selanjutnya dalam mendorong proses perdamaian. Seiring dentang lonceng Tahun Baru, perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini akan segera memasuki tahun kelimanya. (Hui)

Kota-Kota di Tiongkok Kerahkan Pasukan Keamanan Besar-Besaran pada Malam Tahun Baru

EtIndonesia. Pada malam pergantian tahun, kota-kota besar di Tiongkok berada dalam kondisi siaga tinggi. Selain membatalkan seluruh perayaan malam Tahun Baru, pihak berwenang juga mengerahkan pasukan polisi dan petugas keamanan dalam jumlah besar di lokasi-lokasi yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya warga untuk merayakan pergantian tahun. 

Meski demikian, antusiasme sebagian warga tetap mendorong mereka datang ke lokasi-lokasi tersebut. Namun banyak yang dihalangi, sehingga suasana malam Tahun Baru terasa jauh lebih sepi dan dingin dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sebelumnya, berbagai kota besar di Tiongkok telah mengumumkan pembatalan seluruh kegiatan perayaan malam Tahun Baru 2026, termasuk pertunjukan cahaya, acara hitung mundur, dan pesta kembang api. 

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada 31 Desember, kota-kota seperti Beijing, Shanghai, Shijiazhuang, Hangzhou, Zhengzhou, Chongqing, dan Qingdao mengerahkan dalam jumlah besar polisi, pasukan khusus, serta petugas keamanan. 

Di Changsha, pasukan khusus bersenjata tampak berjaga dengan senapan; di Nanjing, polisi menutup area Patung Sun Yat-sen dan bersiaga ketat; sementara di sekitar Menara Lonceng Xi’an, jalan-jalan ditutup dan polisi ditempatkan setiap beberapa meter.

 “Semua acara Tahun Baru dibatalkan. Sekarang tidak boleh ada kegiatan yang melibatkan kerumunan. Ada pemberitahuan yang melarang kegiatan seperti itu. Di setiap persimpangan dan jalan ada patroli, tidak boleh menyalakan petasan, tidak boleh ada kegiatan berskala besar. Rasanya benar-benar seperti menghadapi musuh besar, seolah-olah ketakutannya sudah sampai pada tingkat ekstrem,” kata seorang warga Beijing, Tuan Li. 

Pada malam 31 Desember, masih ada cukup banyak warga yang datang ke Jalan Wangfujing di Beijing untuk merayakan malam Tahun Baru. Namun Tuan Lin, yang berada di lokasi, mengungkapkan bahwa jumlah orang jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya dan nyaris tidak terasa suasana perayaannya.

 “Di Wangfujing bisa dibilang tidak ada acara apa pun. Orang-orang di sana hanya sibuk mencari-cari masalah. Sekarang untuk masuk harus reservasi, harus melewati dua atau tiga lapis pemeriksaan keamanan. Kalau mau masuk, ya harus lolos pemeriksaan dulu,” ujarnya. 

Seorang warga Shanghai, Tuan Liu, mengungkapkan bahwa cukup banyak orang yang pergi ke kawasan Bund Shanghai untuk merayakan malam Tahun Baru, namun pemandangan kerumunan besar seperti tahun-tahun sebelumnya tidak terlihat.

 “Tahun ini semua kegiatan perayaan Tahun Baru di kota tidak diselenggarakan. Di Bund Shanghai orangnya sedikit lebih banyak, tapi di jalan-jalan lain tidak terlalu ramai. Setiap tahun jumlah orang selalu dibatasi. Untuk acara seperti ini, polisi dikerahkan sepenuhnya, pengawasannya makin ketat. Rasanya kondisi makin tahun makin buruk,” ujarnya. 

Pada malam 31 Desember, cukup banyak warga berkumpul di sekitar Menara Kanton (Canton Tower), ikon kota Guangzhou. 

Seorang warga Guangzhou, Chen, mengatakan bahwa tidak adanya pertunjukan cahaya dan kembang api tahun ini membuatnya sangat kecewa. Namun ia merasa beruntung karena bisa tiba di rumah sekitar pukul dua dini hari, dua jam lebih cepat dibanding tahun lalu.

 “Tahun ini saat malam Tahun Baru, Guangzhou tidak ada acara apa pun. Di sekitar Menara Kanton juga tidak diadakan kegiatan. Jumlah orang jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu sangat ramai, tapi tahun ini tidak ada apa-apa. Kereta bawah tanah berhenti beroperasi pukul 10.00 malam, naik taksi sangat mahal, dan banyak kendaraan terjebak macet di jalan,” katanya. 

Laporan hasil wawancara oleh reporter Xiong Bin dan Peng Xinyu

Video Baku Tembak Meletus Selama Aksi Protes di Iran, Penembakan Digunakan Demi Menekan Para Demonstran di Beberapa Lokasi 

 Krisis ekonomi memicu gelombang perlawanan sipil terbesar di Iran dalam tiga tahun terakhir. Banyak video yang beredar di internet menunjukkan massa pengunjuk rasa menyerbu kantor-kantor pemerintah, sementara suara tembakan terdengar di berbagai daerah. Media setempat melaporkan bahwa baku tembak terjadi di sejumlah wilayah dan menewaskan banyak orang.

EtIndonesia. Media semi-resmi Iran, Fars News Agency, mengutip seorang “sumber yang mengetahui situasi” yang mengatakan bahwa pada 1 Januari 2026 pagi, bentrokan terjadi antara polisi dan pengunjuk rasa yang diduga bersenjata di kota Lordegan, Iran bagian barat, yang mengakibatkan beberapa orang tewas.

Namun hingga kini belum jelas apakah laporan tersebut mencerminkan fakta sebenarnya, atau justru menjadi dalih bagi otoritas Iran untuk melakukan penindasan kekerasan.

Kelompok pemantau hak asasi manusia Hengaw melaporkan bahwa pasukan keamanan menembaki massa pengunjuk rasa di Lordegan, menyebabkan banyak korban tewas dan luka-luka.

Selain itu, pada 1 Januari pagi, Garda Revolusi Iran juga mengklaim bahwa seorang anggota milisi garis keras Basij tewas dalam serangan di kota Kuhdasht, Provinsi Lorestan di Iran bagian barat, dan sejumlah anggota milisi lainnya mengalami luka-luka.

Hengaw juga melaporkan bahwa seorang pengunjuk rasa ditembak mati oleh aparat pada 31 Desember di Provinsi Isfahan di Iran tengah. Di Provinsi Kermanshah, Khuzestan, dan Hamedan di Iran barat, sejumlah demonstran ditangkap.

Seluruh informasi ini untuk sementara masih sulit diverifikasi. Namun berbagai sumber menunjukkan bahwa protes nasional yang dipicu oleh aksi mogok para pedagang pada 28 Desember ini terus meningkat tajam. Pemerintahan teokratis Khamenei di Iran kini menghadapi krisis kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Banyak video yang beredar di internet memperlihatkan bahwa di berbagai kota, massa pengunjuk rasa terlibat konfrontasi sengit dengan aparat pemerintah di jalanan, bahkan memukul mundur pasukan militer dan polisi. 

Mereka meneriakkan slogan “Gulingkan Khamenei”, secara kolektif menyerbu atau menduduki gedung-gedung pemerintah maupun basis milisi, serta membakarnya. Sebagian pengunjuk rasa juga terlihat membakar potret Khamenei dan para pendukungnya di depan umum. Di banyak kota, lokasi protes dipenuhi kobaran api yang menjulang tinggi.

Di Kuhdasht, Provinsi Lorestan, para pengunjuk rasa Iran terlihat merobohkan dan membakar patung serta monumen rezim Iran.

Di berbagai lokasi protes lainnya, suara tembakan yang padat juga terdengar. Ada laporan yang menyebutkan bahwa aparat militer dan polisi Iran melakukan pembantaian terhadap pengunjuk rasa, sementara laporan lain menyebutkan bahwa baku tembak terjadi antara kedua pihak.

Sebagian pengunjuk rasa secara terbuka menyerukan penggulingan rezim otoriter, pembentukan pemerintahan baru, serta mendukung Putra Mahkota Reza Pahlavi yang kini hidup di pengasingan agar kembali ke Iran dan memulihkan sistem monarki. 

Pahlavi, yang saat ini tinggal di Amerika Serikat, juga secara terbuka menyatakan dukungannya kepada para demonstran dan menyerukan agar militer serta polisi Iran berpihak kepada rakyat.

Rezim teokratis Iran telah lama dikenai sanksi Barat, yang menyebabkan ekonomi negara itu terpukul keras. Tingkat inflasi mencapai sekitar 40 persen, mata uang nasional merosot tajam, dan kondisi inilah yang memicu gelombang protes nasional tersebut.

Aksi protes di Iran juga menarik perhatian masyarakat Tiongkok. Banyak warganet di  Daratan Tiongkok menyatakan dukungan kepada rakyat Iran dan berharap agar “teman lama” Partai Komunis Tiongkok berkurang satu lagi. (Hui)

Malam Tahun Baru di Belanda Jauh dari  Kata Damai : Gereja Berusia 150 Tahun Terbakar Hingga Kembang Api Mengenai Polisi 

Malam pergantian tahun di Belanda berlangsung tidak tenang. Pada  1 Januari dini hari, sebuah gereja yang dibangun pada abad ke-19 di Amsterdam dilalap api. Kembang api menyebabkan dua orang tewas. Bahkan, di berbagai wilayah di seluruh negeri dilaporkan terjadi serangan yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap polisi dan petugas pemadam kebakaran.

EtIndonesia. Laporan kantor berita Agence France-Presse (AFP) menyebutkan, sebuah gereja di Amsterdam yang terletak di dekat taman kota yang sangat populer tiba-tiba terbakar pada 1 Januari dini hari. Menara setinggi sekitar 50 meter dari Gereja Vondel (Vondelkerk), yang dibangun pada tahun 1872, runtuh. Atap gereja mengalami kerusakan parah, namun struktur utama bangunan tetap utuh. Penyebab kebakaran masih belum diketahui.

Ketua serikat polisi Belanda, Nine Kooiman, mengatakan bahwa pada malam Tahun Baru, “polisi dan petugas layanan darurat menghadapi kekerasan yang sangat parah dan belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia sendiri, saat bertugas di Amsterdam, mengaku telah tiga kali diserang warga dengan kembang api dan bahan peledak lainnya.

Laporan serangan terhadap polisi dan petugas pemadam kebakaran muncul dari berbagai daerah di Belanda. 

Di kota Breda di wilayah selatan, bahkan ada pelaku yang melemparkan bom molotov ke arah polisi.

Sebelumnya diperkirakan pemerintah akan mulai melarang penyalaan kembang api secara pribadi. Akibatnya, warga berbondong-bondong membeli kembang api dalam jumlah besar. Meskipun beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai zona larangan kembang api, efektivitas kebijakan tersebut masih terbatas. (Hui)

Aksi Protes Akibat Ekonomi Sulit di Segala Penjuru Iran Terus Meluas, 6 Orang Tewas 

Aksi protes yang dipicu oleh kesulitan ekonomi di Iran terus meluas. Pada Kamis (1 Januari), gelombang protes menyebar hingga ke provinsi-provinsi pedesaan. Otoritas Iran menyatakan bahwa hingga saat ini bentrokan antara pasukan keamanan dan para demonstran telah menewaskan sedikitnya enam orang.

EtIndonesia. Aksi protes di Iran kali ini Ini merupakan aksi protes terbesar di Iran sejak tahun 2022. Aksi tersebut telah memicu bentrokan kekerasan di berbagai wilayah, yang berawal dari lonjakan inflasi. 

Dalam setahun terakhir, mata uang Iran, rial, telah terdepresiasi lebih dari sepertiga terhadap dolar AS. Saat ini, 1 dolar AS setara dengan sekitar 1,4 juta rial. Pada saat yang sama, menurut data badan statistik resmi Iran, tingkat inflasi tahunan pada Desember 2025 melonjak 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Selain itu, serangan udara Israel dan Amerika Serikat pada Juni 2025 yang menghantam fasilitas nuklir serta kepemimpinan militer Iran semakin memperburuk krisis rezim tersebut.

Bentrokan antara para demonstran dan pasukan keamanan menandai eskalasi signifikan sejak aksi protes meletus pada Minggu (28 Desember 2025). Hingga kini, sedikitnya enam orang dilaporkan tewas: satu orang pada Rabu (31 Desember 2025) dan lima orang pada Kamis, berasal dari tiga kota berbeda di Iran.

Insiden kekerasan paling sengit dilaporkan terjadi di kota Azna, Provinsi Lorestan, Iran. Kota ini terletak sekitar 300 kilometer (185 mil) di barat daya Teheran. Video yang beredar di internet menunjukkan sejumlah benda di jalanan terbakar, suara tembakan terdengar di berbagai arah, dan massa meneriakkan slogan: “Tidak tahu malu! Tidak tahu malu!”. 

Media semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa di kota Lordegan, Iran bagian barat, bentrokan antara pasukan keamanan dan para demonstran menewaskan dua orang. Kantor berita tersebut sebelumnya juga melaporkan adanya korban jiwa lainnya.

Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa satu personel militer tewas dan 13 lainnya luka-luka. Garda Revolusi menyalahkan para demonstran atas insiden tersebut.

Pemerintah Iran telah merespons aksi protes dengan menawarkan dialog, yang tampaknya dimaksudkan untuk menunjukkan sikap rekonsiliasi di tengah penerapan langkah-langkah keamanan. Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, pada Kamis mengatakan bahwa otoritas akan mengadakan dialog langsung dengan perwakilan serikat pekerja dan kalangan bisnis, namun tidak merinci detailnya. (Hui)

Seorang Peniup Kaca Asal Tiongkok, yang Dijuluki ‘Pangeran Katak’, Memiliki Pipi yang Menonjol Secara Tidak Biasa Setelah 30 Tahun Bekerja

EtIndonesia. Seorang peniup kaca di Tiongkok mengalami perubahan bentuk pipi yang dramatis seperti katak karena tekanan yang dialaminya selama 30 tahun bekerja di industri tersebut.

Pria berusia 48 tahun, bernama Zhang, yang bekerja di sebuah pabrik kaca di Zhongshan, Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, telah menarik perhatian media sosial dengan wajahnya yang berubah bentuk, menurut laporan dari media berita jxnews.com.cn.

Pekerjaan jangka panjang dan intensif telah secara aneh mengembangkan otot-otot wajah Zhang, sehingga pipinya menggembung secara aneh ketika dia meniup kaca.

Rekan-rekannya dengan penuh kasih memanggilnya “kakak bermulut besar”, sementara dia dengan santai menyebut dirinya “pangeran katak”, kata laporan itu.

Berasal dari sebuah desa di Provinsi Hunan tengah, Zhang telah bekerja di industri kaca di Guangdong selama 30 tahun.

Video viral menunjukkan Zhang menggunakan pipa logam sepanjang 1,5 meter untuk mengambil massa kaca cair yang dipanaskan hingga lebih dari 1.000 derajat Celcius dan meniupkan udara melalui pipa tersebut agar massa kaca mengembang.

Dia terlihat dengan hati-hati memutar pipa untuk menyesuaikan bentuk kaca sambil terus meniup.

Zhang sering bekerja tanpa mengenakan baju karena panas di bengkel.

Dia mengatakan wajahnya normal ketika mulai bekerja bertahun-tahun yang lalu.

Namun, akibat meniupkan udara berulang kali, otot-otot wajahnya meregang seiring waktu.

Secara bertahap, pipinya menjadi kendur dan seperti “balon,” kata Zhang.

Dia mengatakan telah mengalami kerusakan otot wajah.

Peniupan kaca adalah kerajinan dengan sejarah lebih dari 1.000 tahun di Tiongkok.

Dalam industri modern, sebagian besar produksi barang pecah belah menggunakan mesin untuk meniup udara; namun, peniupan tradisional diperlukan untuk membuat produk yang kompleks.

Di Kabupaten Qixian, Provinsi Shanxi, Tiongkok utara, yang dijuluki sebagai ibu kota kerajinan kaca negara itu, terdapat 35.000 peniup kaca.

Meskipun peniupan manual dapat menghasilkan enam gelas kaca dalam satu menit, mesin dapat membuat 45 gelas dalam waktu yang sama, demikian dilaporkan oleh media berita The Paper.

Dari segi kualitas, produk yang ditiup oleh manusia lebih ringan dan memiliki pinggiran yang lebih tipis, menurut laporan tersebut.

Kisah Zhang telah memicu diskusi yang ramai di media sosial daratan Tiongkok.

Seorang pengamat daring mengatakan: “Saya tidak berpikir penampilannya lucu, malah saya mengaguminya. Hati saya sakit memikirkan perjuangannya selama bertahun-tahun.”

Orang lain mengatakan: “Dia hebat. Saya yakin dia menghidupi keluarganya melalui kerja kerasnya.”(yn)

Kisah Inspiratif: Menyerahkan Nyawa kepada Diri Sendiri

EtIndonesia. “Raja Ular” adalah julukannya. Dia dikenal luas sebagai pakar gigitan ular, telah menyelamatkan tak terhitung banyak nyawa. Di daerahnya, hampir tak ada racun ular yang tak mampu dia tangani. Demi meneliti obat penawar, dia bahkan memelihara ular berbisa seperti hewan peliharaan. Namun makhluk-makhluk berbahaya itu tak pernah benar-benar jinak—berkali-kali membuatnya berada di ambang maut.

Suatu hari, saat melintas di pasar tradisional, dia melihat seekor ular aneh: panjangnya tak sampai satu kaki, tubuh hijau dengan ekor putih, kepalanya berbentuk segitiga seperti besi setrika—jenis yang belum pernah dia jumpai. Nalurinya berkata, ini mungkin spesies baru yang belum tercatat. Tanpa ragu, dia membelinya dari pedagang ular dan membawanya pulang. Ular itu dia beri nama lucu: “Kepala Setrika”. Setiap hari dia rawat, amati, dan teliti dengan saksama.

Enam bulan kemudian, dia akhirnya merumuskan obat penawar racun ular tersebut. Pada suatu sore, dia dan istrinya membawa “Kepala Setrika” ke alam liar untuk dilepasliarkan. Namun musibah terjadi seketika: tepat saat dia melepas pegangan, ular itu berbalik cepat dan menggigit jari tengah tangan kirinya, lalu menghilang ke semak belukar.

Darah mengucur deras. Dia menahan nyeri yang menusuk tulang dan menyuruh istrinya segera menyalakan kamera untuk merekam bekas gigitan dan aliran darah—demi menyimpan data gigitan yang paling berharga. Keputusan itu membuatnya kehilangan waktu emas untuk penanganan awal. Lima menit kemudian, jarinya menghitam; racun menyebar cepat melalui darah.

 “Kepala Setrika” ternyata ular yang sangat mematikan.

Sesampainya di rumah, dia segera meminum obat racikan barunya. Kondisinya sempat terkendali. Namun keesokan harinya—meski ditentang keras oleh istrinya—dia menghentikan obat itu. Alasannya dua: ingin merasakan langsung reaksi fisiologis keracunan, dan menguji efektivitas obat. Dia tak menyangka, uji coba itu nyaris merenggut nyawanya.

Malamnya, luka mulai membusuk; racun kembali menyerang. Seluruh tubuhnya disergap rasa sakit tak tertahankan. Keringat dingin bercucuran, seolah setiap tulang dipanggang api. Saat dia mencoba minum obat lagi, sudah terlambat—racun telah menyerang jantung. Dia roboh tak sadarkan diri.

Raja Ular berada di ambang kematian.

Para sahabat berdatangan. Melihatnya terbaring kaku, napas tipis, wajah pucat bagai kertas, mereka menangis dan menggeleng putus asa. 

Ada yang mengusulkan: “Ke rumah sakit besar sekarang juga!” 

Istrinya panik; dalam hati dia takut obat racikan suaminya kali ini tak lagi ampuh. Barangkali rumah sakit memberi secercah harapan. Dia pun menyetujui. Ambulans dipanggil; rumah mendadak kacau.

Dia terbaring dengan kesadaran utuh, namun tubuhnya lumpuh total—tak bisa bergerak, tak bisa bicara, tak bisa membuka mata. Hanya pendengaran yang masih ada. Semua yang terjadi dia dengar jelas. Dalam hati dia berteriak: Jangan ke rumah sakit! Kalau ke sana, tamat.

Dia tahu betul: tak ada serum penawar untuk ular ini. Di rumah sakit, dia pasti kalah. Lebih baik mempertaruhkan nyawa pada obatnya sendiri. Sayangnya, tak seorang pun tahu dia masih sadar. Dia tak bisa memberi isyarat—hanya pasrah.

Ambulans tiba. Saat tubuhnya diangkat, guncangan itu membuatnya membuka mata. Dia masih tak bisa bicara, namun memutar bola mata sekuat tenaga. Istrinya memahami isyarat itu. Dengan air mata, dia meminta semua orang menurunkannya kembali.

Istrinya lalu mengikuti resep yang telah ditinggalkan suaminya—obat diminum dan dioleskan, dirawat dengan penuh ketelitian. Dia tahu risikonya besar, namun itu satu-satunya jalan.

Dua hari kemudian, keajaiban terjadi. Dia kembali dari gerbang kematian.

Ketika menceritakan pengalaman itu kepada saya, wajahnya tenang—nyaris seperti berkisah tentang orang lain. 

Saya bertanya: “Nyawamu hampir melayang. Mengapa kamu tetap begitu percaya pada dirimu sendiri?”

Dia tersenyum :  “Daripada diserahkan ke orang lain untuk ‘diobati sampai mati’, lebih baik aku obati sendiri. Kalau mati, ya pantas. Tapi kalau hidup, berarti benar.”

Ternyata, itu gigitan ular berbisa kesembilan yang dia alami. Setiap kali nyaris merenggut nyawa. Dia bahkan pernah dua kali menulis surat wasiat. Ungkapan ‘sembilan kali mati, sekali hidup’ terasa sangat tepat. 

Saya bertanya-tanya, mengapa dia selalu lolos? 

Dia bercanda: “Mungkin Raja Neraka tak mau menerimaku.”

Tentu, keberuntungan tak mungkin selalu berpihak pada orang yang sama. Terutama kali ini—yang menyelamatkannya bukanlah nasib, melainkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kita semua tahu: percaya diri tidak menjamin sukses, tetapi tanpa percaya diri, kegagalan sudah pasti. Namun pertanyaannya— ketika hasil ditentukan oleh satu langkah, ketika hidup dan mati berjarak setipis rambut, ketika bahkan dunia meragukanmu—  masihkah kamu percaya pada dirimu sendiri? (jhn/yn)

Detoks Alami dari Dapur: Kacang Hijau, Senjata Kecil Penakluk Peradangan

Kuo-Pin Wu

Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, kacang hijau dikenal mampu memulihkan vitalitas, menyeimbangkan organ dalam, menenangkan pikiran, serta meredakan letusan kulit akibat panas dalam.

Gejala seperti jerawat yang kambuh, mulut kering, bau mulut, sembelit, dan rasa panas di dalam tubuh yang tak kunjung hilang sering muncul bersamaan. Kondisi ini kerap terjadi saat stres, kurang tidur, atau pola makan berlebihan. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok (PTT), kumpulan gejala semacam ini biasanya dikaitkan dengan kelebihan “panas dalam”. Salah satu cara paling sederhana dan telah teruji waktu untuk menyeimbangkan tubuh secara lembut adalah dengan mengonsumsi makanan yang telah digunakan sebagai obat selama berabad-abad: kacang hijau.


Manfaat Kesehatan Kacang Hijau

Penggunaan terapeutik kacang hijau telah tercatat sejak lebih dari 1.300 tahun lalu. Pada masa Dinasti Tang, tabib Meng Shen menulis dalam Dietary Materia Medica bahwa kacang hijau dapat memulihkan vitalitas, menyeimbangkan organ-organ dalam, menenangkan pikiran, serta meredakan gangguan kulit akibat panas. Ia juga mencatat kemampuannya mengurangi rasa haus dan kekeringan berlebihan.

Kemudian, pada masa Dinasti Ming, tabib Li Shizhen menjelaskan dalam Bencao Gangmu (Compendium of Materia Medica) bahwa bagian daging kacang hijau bersifat netral—tidak panas dan tidak dingin—dan sangat efektif untuk detoksifikasi, sementara kulit luarnya memiliki efek pembersih panas yang lebih kuat. Pembedaan ini tetap penting dalam praktik TCM hingga kini.

Kacang hijau bisa dimakan utuh, digiling menjadi bubuk, atau dijadikan kecambah. Dalam TCM, makanan diklasifikasikan berdasarkan pengaruhnya terhadap tubuh, bukan suhu sajinya. Kacang hijau digolongkan bercita rasa manis dan bersifat dingin, artinya memberi efek menyejukkan dan menenangkan tubuh bahkan setelah dimasak.


1. Membersihkan Racun Panas

Salah satu fungsi terpenting kacang hijau dalam TCM adalah membersihkan “racun panas”. Dalam istilah modern, ini berkaitan dengan kondisi peradangan yang sering menyerang kulit dan saluran cerna. Jerawat, bisul, abses, sembelit, dan asam lambung naik semuanya dianggap sebagai manifestasi racun panas.

Meredakan Peradangan Kulit

Kacang hijau—terutama jika dimasak dengan kulitnya—membantu menenangkan peradangan, mendukung pembuangan melalui urine dan feses, serta mengurangi iritasi pada kulit dan usus. Ramuan tradisional berbahan kacang hijau digunakan untuk meredakan gangguan kulit meradang, terutama pada anak-anak, dengan mempercepat pemulihan.

Mengatasi Bisul dan Abses

Bubuk kacang hijau dapat diminum dengan menambahkan 9–30 gram ke dalam air. Bubuk ini juga bisa dioleskan langsung pada area bisul atau abses. Menurut kitab medis Dinasti Qing Ben Jing Feng Yuan, mencampur bubuk kacang hijau tua dengan madu dan mengoleskannya sebagai pasta sangat efektif.

Mengatasi Jerawat Remaja

Bubuk kacang hijau telah lama digunakan sebagai masker atau tapal untuk kulit meradang. Sifatnya yang menyerap minyak, menenangkan, dan sedikit antimikroba menjadikannya obat alami populer untuk jerawat dan kemerahan.

Bahan:

  • 10 gram bubuk kacang hijau
  • 2 gram bedak talk
  • 1 gram borneol

Cara membuat:
Haluskan semua bahan hingga menjadi bubuk halus, campur rata, lalu tambahkan air hangat hingga menjadi pasta. Oleskan sebagai masker wajah, diamkan 15–20 menit, lalu bilas.

Meredakan Biduran

Untuk biduran merah, bengkak, gatal, dan makin parah saat cuaca panas, tambahkan akar manis (licorice) saat memasak sup kacang hijau untuk hasil lebih baik dalam membersihkan panas dan meredakan gatal.

Mengurangi Bau Mulut dan Sembelit

Kelebihan panas di sistem pencernaan dapat mengeringkan cairan tubuh dan memperlambat pergerakan usus, menyebabkan sembelit, perut kembung, dan bau mulut. Sup kacang hijau membantu menghidrasi, menyediakan serat larut, dan senyawa antiinflamasi yang mendukung fungsi usus.

Antiperspiran Alami

Bubuk kacang hijau yang disangrai ringan hingga agak kecokelatan, dicampur sedikit bubuk mint, bisa digunakan sebagai pengganti bedak bayi atau antiperspiran. Lembut dan cocok untuk bayi maupun kulit sensitif, membantu mengurangi keringat berlebih dan menjaga kulit tetap kering dan sejuk.


2. Mendukung Detoksifikasi

Secara historis, kacang hijau digunakan sebagai pendukung diet saat terjadi keracunan, seperti mabuk alkohol atau tertelan zat berbahaya. Penelitian modern menunjukkan senyawa dalam kacang hijau dapat meningkatkan jalur detoksifikasi hati dan mengurangi kerusakan oksidatif.


3. Menenangkan Pikiran dan Mendukung Tidur

Kacang hijau juga dikaitkan dengan efek menenangkan sistem saraf. Praktik tradisional bahkan menggunakan bantal berisi kulit kacang hijau kering untuk penderita insomnia yang disertai rasa panas, tekanan, atau pikiran gelisah.

Penelitian modern menunjukkan bahwa sensasi dingin dan penurunan stres oksidatif dapat membantu tidur lebih nyenyak, menjelaskan dasar ilmiah dari penggunaan tradisional ini.

Selain itu, kacang hijau kaya protein nabati, serat pangan, dan senyawa bioaktif seperti polifenol dan flavonoid. Studi laboratorium menemukan bahwa polifenol kacang hijau dapat mengurangi kerusakan sel akibat stres panas dan cedera oksidatif. Konsumsi rutin kacang hijau juga diyakini membantu menstabilkan gula darah, menurunkan kolesterol, melindungi fungsi hati, dan meningkatkan daya tahan tubuh.


Perhatian dan Tips Aman Mengonsumsi Kacang Hijau

  • Orang dengan pencernaan lemah dan cenderung “dingin” (sering diare atau feses encer) sebaiknya membatasi konsumsi kacang hijau.
  • Wanita sebaiknya mengurangi konsumsi kacang hijau saat menstruasi karena dapat memperparah rasa tidak nyaman.
  • Jangan memasak kacang hijau dengan panci besi. Gunakan panci tanah liat atau keramik. Flavonoid dalam kulit kacang hijau dapat bereaksi dengan ion logam, terutama besi, sehingga sup menjadi gelap dan manfaatnya berkurang.
  • Kecambah kacang hijau tumbuh di lingkungan lembap-panas dan bisa memperburuk kondisi panas-lembap internal. Saat jerawat atau bisul sedang kambuh, sebaiknya hindari kecambah dalam jumlah besar.

Tips:

  • Kacang hijau tidak menetralkan efek jamu atau tonik seperti ginseng, sehingga aman dikonsumsi bersamaan.
  • Pertahankan warna sup kacang hijau tetap hijau cerah. Rebus sekitar 10 menit setelah mendidih hingga berwarna hijau zamrud, lalu matikan api. Jika kacang pecah dan sup menjadi keruh atau abu-abu, efek penyejuknya menurun.

Kacang hijau adalah contoh langka kearifan diet kuno yang sejalan dengan ilmu gizi modern. Lembut namun efektif, kacang hijau membantu mengelola peradangan, mendukung pencernaan, menenangkan sistem saraf, dan memulihkan keseimbangan internal tubuh.

Mengapa Tumbuh Dewasa di Zaman Sekarang Terasa Lebih Melelahkan—Dan Solusinya yang Kongkrit

Kay Rubacek

Anda sering diminta “lebih santai”, “kurangi main gawai”, “fokus saja”, atau “jangan terlalu dipikirkan”. Namun nasihat-nasihat seperti itu kerap tidak sinkron dengan realitas hidup pada hari ini.

Setiap hari perhatian Anda diseret ke berbagai arah: notifikasi, linimasa media sosial, tenggat kerja, grup WhatsApp, tuntutan akademik, ekspektasi keluarga, serta tekanan sosial yang nyaris tidak pernah benar-benar berhenti. Tekanan bukan datang lalu pergi—ia menumpuk sejak pagi, terus berlapis sepanjang hari, dan kerap ikut terbawa hingga larut malam.

Karena itu, ketika seseorang berkata “coba santai saja”, kalimat itu sering terdengar asing dan terasa jauh dari dunia yang benar-benar Anda jalani.

Ini bukan soal Anda lemah, rapuh, atau gagal mengelola diri. Ini soal Anda tumbuh dalam sistem yang sejak awal melatih tubuh dan pikiran agar dalam mode siaga.

Artikel ini ditulis untuk generasi muda masa kini, tetapi juga ditujukan bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana kondisi tumbuh dewasa saat ini telah berubah dan mengapa penting diperhatikan.


Tubuh Anda Menyadari Perbedaannya—Meski Anda Sulit Menjelaskannya

Cobalah perhatikan apa yang terjadi saat Anda berada di alam terbuka tanpa ponsel, atau duduk bersama orang-orang yang tidak sibuk menggulir layar, tidak mengejar citra, dan tidak berpindah fokus setiap detik.

Tubuh Anda bereaksi. Napas melambat. Bahu mengendur. Pikiran berhenti melompat-lompat. Ketegangan latar belakang yang biasanya Anda pikul perlahan mereda—meski hanya sebentar.

Kontras inilah yang membuat pengalaman “offline” terasa begitu menenangkan.

Itulah sebabnya semakin banyak anak muda kembali ke aktivitas yang lambat: merajut, memperbaiki pakaian, merawat tanaman, berburu buku fisik, mendaki tanpa gawai, dan mendengarkan piringan hitam. Ini bukan sekadar tren gaya hidup. Ini refleks biologis tubuh yang sedang mencari ruang aman.

Namun kebanyakan orang tidak menyebutnya demikian. Yang sering terdengar justru nasihat klise: “kelola stresmu lebih baik”.


Anda Dibentuk oleh Lingkungan yang Selalu Menekan

Otak manusia berkembang hingga usia pertengahan 20-an. Pada masa inilah tubuh belajar apa yang disebut “normal”: seberapa cepat harus merespons, seberapa sering harus waspada, dan kapan aman untuk benar-benar beristirahat.

Masalahnya, Anda tumbuh di dunia yang tidak pernah benar-benar sunyi. Perbandingan sosial hidup 24 jam sehari. Pesan tidak pernah berhenti masuk. Tuntutan selalu berada di genggaman tangan.

Akibatnya, tubuh Anda menjadi ahli dalam satu hal: selalu siap.

Namun pada saat yang sama, tubuh tidak pernah dilatih untuk benar-benar tenang.


Mengapa Nasihat Lama Tidak Lagi Ampuh

Generasi sebelumnya hidup dengan batas yang jelas. Jam sekolah berakhir. Jam kerja berakhir. Ketika malam datang, tekanan benar-benar turun, dan tubuh belajar bahwa saat itulah ia boleh melepas kewaspadaan.

Struktur itulah yang membentuk sistem saraf mereka.

Anda tidak dibesarkan dalam struktur itu.

Hari-hari Anda tidak pernah benar-benar “tutup”. Grup obrolan terus aktif. Notifikasi tetap berbunyi. Bahkan waktu istirahat sering datang bersama rangsangan baru.

Jadi bukan nasihat mereka yang sepenuhnya salah—tetapi kerangka hidup yang melahirkannya memang berbeda.


Bukan Anda yang Lemah—Tubuh Anda Sedang Bertahan

Banyak konflik lintas generasi hari ini bukanlah soal siapa yang paling benar, melainkan soal tubuh-tubuh yang dibentuk oleh dua dunia yang tidak sama.

Stres, cemas, dan kelelahan bukan tanda kegagalan pribadi.

Itu tanda bahwa sistem saraf Anda sedang bekerja keras dalam lingkungan yang menuntut terlalu banyak.


Kabar Baiknya: Tubuh Bisa Dilatih Ulang

Sistem saraf manusia belajar dari pengulangan. Apa yang Anda alami setiap hari akan diperlakukan tubuh sebagai “keadaan normal”.

Jika hari-hari Anda selalu penuh tekanan, tubuh akan menganggap tekanan sebagai standar hidup.

Namun pola ini bisa diubah.

Di setiap generasi, tubuh manusia menenangkan diri dengan cara yang sama: ritme hidup yang teratur, sentuhan nyata, waktu di alam, serta batas tegas antara kerja dan istirahat.

Tumbuh dewasa di zaman ini memang lebih berat.

Namun Anda tidak harus selamanya hidup dalam mode “siaga”.

Kesadaran memberi Anda ruang untuk memilih: lebih sering berada dalam kondisi yang menenangkan tubuh, dan lebih jarang berada dalam kondisi yang mengurasnya.

Dan di tengah dunia yang makin bising, pilihan itu bukan kemunduran—melainkan strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.

Diabetes Dapat “Memaniskan” Air Liur dan Meningkatkan Risiko Gigi Berlubang

‘Air liur manis’ terbentuk ketika fruktosa dan glukosa bocor dari pembuluh darah

Rachel Ann T. Melegrito

Dokter gigi sering mengingatkan kita untuk menghindari makanan manis karena gula menjadi “bahan bakar” bagi bakteri penghasil asam yang dapat mengikis email gigi. Pada penderita diabetes, kelebihan gula dalam darah dapat berpindah langsung ke air liur, sehingga secara efektif “memaniskan” rongga mulut dari dalam.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa air liur pasien diabetes dapat menjadi hampir semanis darah mereka, sehingga membuat rongga mulut jauh lebih rentan terhadap gigi berlubang.

Air liur yang mengandung banyak gula ini disebabkan oleh fruktosa yang bocor dari darah ke dalam air liur, mengubah rongga mulut menjadi lingkungan kaya gula yang menjadi sumber energi bagi bakteri penyebab karies.

“Temuan ini menegaskan kenyataan biologis yang sejak lama kami curigai: rongga mulut bukanlah ekosistem yang terpisah, melainkan cerminan dari kesehatan sistemik tubuh,” kata Dr. Thaddeus Connelly, seorang ahli bedah mulut dan maksilofasial sekaligus CEO Gengyve, kepada The Epoch Times.


Bagaimana Gula Masuk ke Dalam Air Liur

Orang dengan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik hingga 90 persen lebih berisiko mengalami gigi berlubang yang tidak tertangani.

Ketika kadar gula darah tetap tinggi dalam jangka panjang, hal itu merusak pembuluh darah kecil di seluruh tubuh, melemahkannya dan meningkatkan kecenderungannya untuk bocor. Ini termasuk pembuluh darah kecil di sekitar kelenjar ludah, tempat darah biasanya menyediakan air dan elektrolit untuk membentuk air liur. Melalui kebocoran inilah gula merembes ke dalam air liur bahkan sebelum mencapai rongga mulut.

Dalam kondisi normal, air liur seharusnya hanya mengandung sangat sedikit gula. Namun, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Microbiome menemukan bahwa semakin tinggi kadar glukosa puasa dan HbA1c (ukuran kadar gula jangka panjang) seseorang, semakin “manis” pula air liurnya—dan semakin banyak pula gigi berlubang serta plak yang dimilikinya.

Mulut dengan plak yang berat memicu pertumbuhan karies lebih cepat, karena plak mengandung lebih banyak bakteri yang dengan cepat mengonsumsi gula, menciptakan gradien tajam yang menarik lebih banyak gula dari kelenjar ludah.

Mikrobioma rongga mulut juga mengalami pergeseran, dengan meningkatnya bakteri yang berkaitan dengan kerusakan gigi—seperti Streptococcus mutans—serta menurunnya jumlah bakteri yang bermanfaat.

Berbeda dari sebagian besar studi sebelumnya yang hanya mengambil air liur dari rongga mulut, penelitian baru ini juga mengumpulkan air liur langsung dari kelenjar ludah pasien, sehingga pengukuran kadar gula menjadi lebih akurat. Karena kelenjar ludah merupakan lingkungan steril tanpa bakteri, air liur yang diambil dari rongga mulut bisa saja sudah bersentuhan dengan bakteri yang cepat mencerna gula, sehingga hasil pembacaan gula tampak lebih rendah dari kondisi sebenarnya.

Saat menganalisis komposisi gula, para peneliti menemukan kadar fruktosa dalam air liur lebih tinggi dibandingkan glukosa, yang juga merupakan jenis gula umum yang digunakan tubuh.

Dalam percobaan laboratorium, kelebihan fruktosa dalam air liur memungkinkan Streptococcus mutans mengalahkan bakteri yang bermanfaat. Di dalam rongga mulut, migrasi fruktosa yang lebih tinggi menciptakan kondisi di mana bakteri penyebab karies dapat berkembang pesat dengan membentuk biofilm lengket (yang dikenal sebagai plak gigi ketika menempel pada gigi). Biofilm ini lebih efektif menarik dan memecah gula, menghasilkan lebih banyak asam sebagai produk sisa, sehingga membuat lingkungan rongga mulut semakin rentan terhadap gigi berlubang.


Gula dalam Air Liur Hanyalah “Puncak Gunung Es”

Sekitar dua pertiga penderita diabetes mengalami penyakit gusi berat, yang dikenal sebagai “komplikasi keenam diabetes”. Penyakit gusi berat menjadi tiga kali lebih mungkin terjadi ketika gula darah tidak terkontrol dengan baik.

Connelly mencatat bahwa gula dalam air liur hanyalah puncak dari masalah yang jauh lebih besar. “Ini adalah bagian dari lingkaran umpan balik yang kompleks yang melibatkan pola makan, mikrobioma (baik rongga mulut maupun usus), serta peradangan sistemik,” katanya. Ia menambahkan bahwa peradangan menghubungkan kesehatan rongga mulut secara langsung dengan kemampuan tubuh mengatur gula darah dan mempertahankan kesehatan metabolik.

Kara Siedman, ahli gizi sekaligus direktur kemitraan di Resbiotic Nutrition, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa temuan ini menunjukkan mengapa strategi yang secara bersamaan menangani gula darah, pola makan, dan mikrobioma dapat meningkatkan kesehatan mulut sekaligus kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Namun, hubungan ini bersifat dua arah: periodontitis juga memperburuk diabetes.

Gula darah yang tinggi membanjiri tubuh dengan molekul peradangan dan racun bakteri yang menyebar melampaui rongga mulut, memperburuk resistensi insulin dan meningkatkan gula darah, sehingga membuat diabetes semakin sulit dikendalikan, ujar Connelly.

Diabetes dan penyakit mulut saling memperkuat satu sama lain dalam lingkaran setan yang digerakkan oleh peradangan kronis. “Disfungsi metabolik mengubah lingkungan rongga mulut, sementara peradangan oral dan pergeseran mikroba semakin memperparah peradangan sistemik dan usus,” kata Kimberley Sukhum, ahli mikrobiologi dan kepala sains di Tiny Health. “Ini adalah interaksi kompleks yang menyoroti betapa saling terhubungnya ekosistem mikroba dalam tubuh kita.”

“Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan penilaian kesehatan rongga mulut dalam perawatan diabetes dan mempertimbangkan glukosa air liur sebagai mediator yang dapat dimodifikasi bagi kesehatan mikrobioma rongga mulut,” ujar Siedman.


Apa yang Bisa Anda Lakukan

Cara paling efektif untuk menurunkan risiko komplikasi seperti gigi berlubang adalah dengan mengendalikan kadar gula darah. Dalam studi ini, peserta yang mengikuti program rawat inap dua minggu sesuai pedoman perawatan diabetes di Jepang—yang mencakup pengelolaan intensif gula darah, tekanan darah, dislipidemia, dan berat badan—berhasil secara signifikan mengurangi jumlah fruktosa yang bocor ke dalam air liur. Seiring menurunnya migrasi fruktosa, keseimbangan antara bakteri berbahaya dan bakteri bermanfaat pun bergeser ke arah profil yang lebih sehat.

Mengobati penyakit gusi juga dapat mendukung kesehatan metabolik. Sebuah studi menunjukkan bahwa pengobatan penyakit gusi dampaknya sebanding dengan penambahan satu obat diabetes kedua, kata Connelly.

“Pola makan Barat yang tinggi gula bebas tidak hanya menjadi bahan bakar patogen oral, tetapi juga mengurangi keragaman mikroba dengan cara yang mendorong peradangan,” ujarnya. Sebaliknya, pola makan berbasis nabati dan tinggi serat dapat membantu menstabilkan komunitas mikroba ini.

Membatasi konsumsi makanan tinggi fruktosa juga dapat membantu.

Makanan olahan dan minuman berpemanis—seperti minuman ringan, jus berperisa, saus/condiment, dan camilan kemasan—sering mengandung sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS), yang bisa mengandung hingga 55 persen fruktosa. Bahkan sirup agave yang sering dipasarkan sebagai “alami” dapat mengandung hingga 90 persen fruktosa dan di dalam tubuh bertindak serupa dengan HFCS.

Banyak makanan manis alami—seperti madu dan beberapa jenis buah—mengandung fruktosa, meskipun kadarnya sangat bervariasi. Jus buah dan makanan yang dimaniskan dengan gula pasir juga menyumbang fruktosa.

“Intervensi yang mendukung kualitas air liur dan homeostasis biofilm seharusnya menjadi bagian dari rencana pengelolaan diabetes yang dipersonalisasi,” kata Siedman. Ini termasuk pengaturan waktu konsumsi karbohidrat secara terstruktur—mengatur jarak asupan karbohidrat agar tidak terjadi paparan gula terus-menerus sepanjang hari—menjaga target gula darah tetap stabil, menggunakan produk gigi berfluorida, serta melakukan perawatan gigi profesional secara rutin.

Kisah Inspiratif: Daripada Menghindar di Tengah Badai, Lebih Baik Menari di Tengah Petir

EtIndonesia. Hidup bukanlah tentang menyerah, melainkan tentang berjuang. Takdir bukan untuk ditunggu, melainkan diupayakan. Hidup tidak boleh dijalani dengan pasrah dan hampa, tetapi harus dihidupi dengan warna dan makna.

Dalam hidup, tak ada penderitaan yang abadi, dan tak ada kebahagiaan yang kekal. Pahit dan manis berjalan berdampingan, berkah dan malapetaka sering datang beriringan. Segalanya bergantung pada manusia itu sendiri. Selama mau berusaha dengan sungguh-sungguh, yang buruk pun bisa diubah menjadi baik.

Hidup ibarat aliran sungai—kadang tenang dan lurus, kadang berliku dan bergejolak. Ada pasang surut, ada deras dan landai. Kita perlu belajar memandang dengan lapang, tetapi juga berani menatap tantangan secara langsung.

Namun belakangan ini, mungkin karena beberapa kali terbentur kenyataan, semangat itu terasa melemah. Hidup seakan menekan dengan intensitas tinggi, menguji kecerdasan dan ketahanan batin. Rasanya sesak, terhimpit, hampir tak sanggup bernapas. Semangat runtuh oleh kegagalan.

Menghadapi hari ini, hati terasa bingung. Menatap esok hari, ada rasa ragu.  Memandang masa depan, muncul ketakutan.

Lalu kita mulai bertanya-tanya: Mengapa hidup begitu sulit diprediksi? Mengapa perjalanan ini penuh tikungan dan jurang? Mengapa naik-turunnya hidup terasa begitu tak terkendali?

Ketika menengok masa lalu yang penuh asam, manis, pahit, dan getir, perasaan pun bercampur aduk. Ada keinginan untuk mencari tempat sunyi, jauh dari hiruk-pikuk, bersembunyi sejenak dari dunia. Ingin berhenti berpikir. Ingin berhenti peduli. Ingin berhenti berbuat apa-apa.

Namun semua itu hanyalah angan-angan yang tak realistis—bahkan bentuk pelarian yang lemah dari kenyataan. Itu adalah sikap tanpa ambisi, mudah mengeluh: pekerjaan terasa berat, hidup terasa pahit, keberhasilan terasa mustahil, hidup terasa terlalu sulit. Usia masih muda, tetapi mental sudah menua. Tubuh lelah, hati renta, tekad rapuh, semangat melemah. Di usia muda sudah muram, enggan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menaklukkan kesulitan.

Memang, usia muda tak bisa ditahan selamanya. Namun jiwa yang muda bisa dijaga seumur hidup.

Dalam bersikap dan bertindak, kita boleh tenang dan matang, tetapi hati tak boleh membeku oleh rasa letih dan pesimisme. Jika jiwa dipenuhi suasana senja, maka kegagalan hanyalah soal waktu.

Dan hidup tanpa pencapaian—bukanlah hidup yang kita inginkan.

Semangat besar adalah sumber energi untuk mengejar mimpi. Jika energi itu habis, langkah akan terhenti di tengah jalan. Sikap mental yang baik ibarat mata air jernih di kedalaman jiwa—mengalirkan bukan hanya gairah, tetapi juga keteguhan, keberanian, daya juang, dan vitalitas hidup.

Daripada menghindar di tengah badai, lebih baik menari di tengah petir.

Ketika hidup menghadirkan rintangan, jangan patah semangat. Jangan tenggelam dalam keluhan dan ratapan. Tak perlu membenci dunia atau iri pada keadaan. Yang perlu dijaga adalah mental muda yang positif, semangat hidup yang menyala. Hadapilah gunung dengan tekad untuk membuka jalan, hadapi sungai dengan keberanian membangun jembatan.

Bersihkan hati dari niat sempit dan pikiran suram. Jadikan kerja keras dan perjuangan nyata sebagai karakter dan jati diri. Bukalah jalan di tengah kesulitan, carilah cara untuk bangkit, teruslah melangkah. Meski tubuh basah diguyur hujan badai, nikmatilah getirnya perjuangan, karena hanya jiwa yang kuat yang mampu mengusir monster ketakutan dalam diri.

Penderitaan adalah alas menuju keberhasilan. Kesusahan adalah pintu awal kebahagiaan.

Melangkahlah dengan tenang, tetapkan arah hidup, biarkan hidup memiliki tujuan, biarkan kebahagiaan memiliki sandaran, dan biarkan jiwa memiliki tempat berlabuh.

Selama hidup masih bernapas, perjuangan tak boleh berhenti.(jhn/yn)

Malam Tahun Baru Jadi Malam Siaga Partai Komunis Tiongkok : Separuh Jalan Dipenuhi Polisi, Separuh Lagi Warga Sipil 

Rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) berada dalam kondisi tidak stabil dan sangat waspada. Meskipun banyak daerah telah membatalkan kegiatan perayaan Tahun Baru sebelumnya, warga tetap berbondong-bondong turun ke jalan untuk merayakan tahun baru. Di banyak kota, aparat kepolisian dikerahkan dalam jumlah besar untuk menutup jalan dan mencegah warga berkumpul, sehingga pusat kota dipenuhi suasana mencekam.

EtIndonesia. Pada 31 Desember 2025 malam, beredar banyak foto di internet yang menunjukkan bahwa aparat keamanan dikerahkan di berbagai kota di Tiongkok demi memblokade alun-alun yang biasanya menjadi lokasi berkumpul warga saat pergantian tahun.

Di sekitar Menara Lonceng (Zhonglou) di Xi’an, Provinsi Shaanxi, jalan-jalan dipasangi barikade besi dalam jumlah besar. Lampu Menara Lonceng dipadamkan dan jalan ditutup, sementara polisi mengenakan jas hujan berjaga setiap beberapa langkah, membentuk lingkaran pengamanan. Karena sebelumnya sudah diumumkan pembatalan perayaan Tahun Baru, ditambah cuaca hujan bercampur salju malam itu, diduga hampir tidak ada warga yang berkumpul. Tempat yang biasanya ramai saat pergantian tahun ini tampak sepi dan tak bernyawa.

Di Qingdao, Provinsi Shandong, polisi juga membentuk lapisan demi lapisan barikade manusia untuk mencegah warga berkumpul di pusat kota. Di lokasi terlihat banyak polisi bersenjata khusus bahkan polisi bersenjata rakyat, menciptakan suasana yang menegangkan.

Di Xinjiekou Plaza, pusat kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, polisi sempat memasang dua lapis garis pengamanan untuk mencegah warga mendekati patung Sun Yat-sen di tengah alun-alun. Satu lapis dipasang di mulut jalan, satu lagi mengelilingi patung, sehingga warga terhalang di luar alun-alun. Patung Sun Yat-sen jelas memiliki makna politik, dan langkah ini dinilai mencerminkan ketegangan yang tinggi di pihak otoritas setempat.

Area di sekitar Menara Lonceng di Xi’an berada di bawah pengamanan ketat. (Gambar dari internet)

Informasi lanjutan menunjukkan bahwa polisi diduga tidak mampu menahan arus warga, sehingga jalan akhirnya dibuka dan banyak warga berbondong-bondong menuju pusat alun-alun. Namun, barikade berbentuk persegi di sekitar patung Sun Yat-sen tetap tidak dibuka, dan polisi masih berjaga ketat di sekitarnya.

Jalan-jalan di pusat kota Qingdao telah ditutup, dengan sejumlah besar polisi khusus dan polisi bersenjata dikerahkan. (Gambar dari internet)

Di kawasan Hubin, Hangzhou, suasana malam Tahun Baru dipenuhi barisan polisi di mana-mana, hingga muncul pemandangan aneh: “setengah pengunjung, setengah polisi”. Banyak ruas jalan di sekitar lokasi ditutup, sejumlah pos pemeriksaan dipenuhi polisi dan barikade besi. Stasiun MRT Longxiangqiao juga ditutup. Polisi secara paksa mencegat dan menghalangi warga untuk melintas.

Polisi Nanjing memasang dua barisan pertahanan untuk mencegah orang mendekati patung Sun Yat-sen. (Gambar dari internet)

Meski demikian, masih banyak warga yang memutar lewat jalur lain dan tetap berkumpul untuk merayakan. Akibatnya, otoritas mengerahkan lebih banyak personel keamanan untuk “menjaga stabilitas”. Di jalan-jalan, terlihat polisi dan petugas keamanan berbaris dan berpatroli di mana-mana.

Warganet pun menyindir: ini sebenarnya perayaan Tahun Baru atau “parade militer”?

Namun, di beberapa kota di daratan Tiongkok, suasana lautan manusia saat malam Tahun Baru tetap muncul kembali, termasuk di sejumlah kota yang sebelumnya telah mengumumkan pembatalan kegiatan pergantian tahun.

Beberapa hari sebelumnya, otoritas di Xi’an, Tianjin, Shanghai, dan kota-kota lain telah mengumumkan pembatalan pertunjukan lampu, acara hitung mundur, dan pertunjukan kembang api pada malam Tahun Baru, serta menerapkan pengaturan lalu lintas. Sejumlah acara yang semula dijadwalkan juga dihentikan secara mendadak.

Alasan resmi yang diberikan PKT adalah “pencegahan risiko”. Namun, di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatnya tingkat pengangguran, opini publik secara luas menilai bahwa kekhawatiran sesungguhnya pihak berwenang adalah potensi berkumpulnya massa dalam jumlah besar yang dapat memicu emosi sosial dan berujung pada situasi yang tak terkendali. (Hui)

Chen Zhenjin

Semakin Banyak Anak Muda di Tiongkok Mengais Sampah Demi Bertahan Hidup

EtIndonesia. Partai Komunis Tiongkok (PKT) gencar mempropagandakan apa yang disebut sebagai “garis pemenggalan Amerika Serikat”, namun pada saat yang sama terungkap bahwa akibat kurangnya bantuan sosial, banyak anak muda yang menganggur mengalami kesulitan hidup. Bahkan terpaksa bergabung dalam barisan orang-orang yang mengais sampah dari tempat pembuangan untuk menyambung hidup.

Seorang warga Kota Zhangzhou, Provinsi Fujian, bermarga Xie, mengungkapkan bahwa dulu yang biasa mengais tempat sampah dan memungut barang bekas adalah para lansia. Kini, karena banyak anak muda tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan kelaparan, mereka juga mulai mengais sampah. Namun demikian, pihak berwenang menutup-nutupi informasi tersebut, sehingga video-video terkait tidak bisa dipublikasikan.

 “Orang-orang yang mengelilingi tempat sampah untuk mencari makanan semakin banyak. Sekarang sudah ada orang berusia 40 tahun yang mengais tempat sampah. Di Tiongkok daratan tidak ada bantuan apa pun. Begitu seseorang menghadapi kesulitan dan terjerumus ke jalan buntu, hidup terasa lebih buruk dari kematian. Sekarang bunuh diri sangat banyak, tapi semuanya ditutup-tutupi dan tidak dilaporkan,” ujar Xie. 

Seorang warganet dari Zhejiang mengunggah video yang menunjukkan bahwa tempat sampah di depan rumahnya setiap hari didatangi gelombang demi gelombang orang yang memungut barang bekas. Ia mengatakan bahwa jika melihat kardus, ia sendiri juga akan memungutnya.

 “Semakin banyak anak muda juga bergabung dalam pekerjaan ini. Bisa dibilang setiap hari setidaknya ada 100 orang yang mengais tempat sampah di sini,” katanya.

Ada pula warga yang melaporkan bahwa banyak orang mengincar tempat sampah di kompleks perumahan. Setiap malam, tempat sampah dibongkar berkali-kali. Kadang-kadang, demi berebut botol plastik, kardus, dan barang bekas lainnya, terjadi pertengkaran.

 “Memungut botol pun sekarang sangat kompetitif. Mereka semua mengais tempat sampah tengah malam. Orang yang menganggur semakin banyak. Di jalanan penuh dengan kendaraan pengantar tanpa pengemudi—bukankah itu merebut mata pencaharian kita? Semua orang menganggur bersama-sama, lalu ‘rebahan’ (pasrah). Tidak berani makan di luar, satu kali makan belasan yuan. Sekarang saya masak sendiri di rumah, satu kali makan cuma 3 yuan,” ujar Warga Kota Qingdao, Provinsi Shandong, Mr Wang.

Seorang perempuan bermarga Liu dari Taiyuan, Provinsi Shanxi, lulusan sarjana universitas kedokteran yang telah tiga tahun lulus, tidak berhasil mendapatkan pekerjaan. Adik laki-laki dan perempuannya masih bersekolah, sementara ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Demi merawat ibunya, ia terpaksa mengais barang bekas untuk hidup.

“Saya tidak ingin mengais barang bekas, tapi tidak ada pilihan. Bau sampah itu sangat menjijikkan. Sekarang dokter saja harus lulusan magister atau doktor, bukan sesuatu yang bisa kamu jadi hanya karena mau. Kamu harus terus sekolah. Saya anak tertua di keluarga. Ibu saya terkena trombosis dan tahun ini sudah dua kali operasi. Tidak berutang kepada orang lain saja sudah termasuk sangat beruntung,” ujar warga Taiyuan, Shanxi, Nyonya Liu. 

Seorang pemilik toko barang bekas di Hefei, Provinsi Anhui, bermarga Wu, mengatakan bahwa dulu ia dan suaminya menjalankan toko bersama dan bisa menghasilkan 100.000 hingga 200.000 yuan per tahun, cukup untuk menghidupi keluarga. Namun demikian, beberapa tahun terakhir, perlambatan ekonomi menyebabkan harga barang bekas anjlok dan banyak toko barang bekas terpaksa tutup.

 “Sekarang tidak ada usaha yang benar-benar mudah menghasilkan uang. Botol minuman saya beli seharga 1 yuan, dijual kembali untungnya cuma 0,2 yuan per jin. Sekarang mengumpulkan barang bekas itu sangat sulit, kalau tidak hati-hati malah bisa rugi,” ujar pemilik toko barang bekas Hefei, Nyonya Wu. 

“Sekarang logam mulia dan produk elektronik lebih menguntungkan. Selama mau bekerja keras, pasti lebih baik daripada kerja serabutan. Di industri ini sekarang banyak anak muda, bahkan generasi kelahiran tahun 2000-an juga melakukannya,” jelasnya. 

Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Xiong Bin dan Bai Ni

 Kisah Inspiratif: Mencari Lawan untuk Berlari

EtIndonesia. Coba perhatikan lomba lari jarak jauh di lintasan atletik. Dari sana, kita bisa memetik banyak pelajaran tentang cara menjalani hidup. Saat lomba dimulai, semua pelari berangkat bersamaan—sulit membedakan siapa yang lebih unggul. Namun ketika lomba memasuki pertengahan, para pelari biasanya mulai mengikuti satu lawan tertentu, lalu pada saat yang tepat mempercepat langkah untuk menyalipnya. Setelah itu, mereka kembali mengikuti lawan lain, menunggu momen yang pas, lalu menyalip lagi—hingga akhirnya berlari menuju garis finis.

Lari jarak jauh—terutama maraton—bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental. Bahkan, daya tahan mental sering kali lebih menentukan. Ada pelari yang sebenarnya masih kuat secara fisik, tetapi mundur karena mentalnya goyah. Ada pula yang semula memimpin, namun tanpa sadar melambat dan akhirnya disusul pelari di belakang.

Mengikuti satu lawan membantu mencegah hal itu. Lawan menjadi pengingat dan pendorong: Jangan melambat! Tapi juga jangan terlalu cepat, agar tenaga tidak habis lebih awal! Selain itu, mengikuti lawan mengurangi rasa sepi dalam lomba.

Jika Anda mengamati lomba maraton, Anda akan melihat pola ini: mula-mula terbentuk kelompok-kelompok kecil, lalu terpecah menjadi dua atau tiga orang, dan setelah melewati titik tengah barulah muncul pelari-pelari yang memimpin sendirian.

Sebenarnya, hidup pun adalah sebuah lari jarak jauh. Jika demikian, mengapa kita tidak meniru cara para pelari itu—mencari seseorang untuk diikuti, menjadikannya target untuk dikejar dan dilampaui?

Tentu saja, “lawan” yang kita pilih harus memenuhi syarat tertentu, bukan dipilih sembarangan.

Pilihlah rekan kerja atau teman belajar di sekitar Anda. Target yang Anda pilih sebaiknya lebih unggul—baik dari segi kemampuan maupun pencapaian. Dengan kata lain, dia harus “berlari” di depan Anda, namun tidak terlalu jauh. Jika jaraknya terlalu jauh, Anda mungkin sulit menyusul; sekalipun bisa, akan memakan waktu lama dan tenaga besar, membuat perjalanan terasa berat dan penuh frustrasi.

Setelah menemukan “lawan”, lakukan analisis menyeluruh:
– Di mana keunggulannya?
– Bagaimana dia meraih prestasi itu?
– Bagaimana caranya bekerja, membangun relasi, dan mengembangkan diri?

Dari sana, Anda bisa meniru metodenya, atau menemukan cara Anda sendiri untuk berusaha. Perlahan tapi pasti, Anda akan menyamai langkahnya—bahkan melampauinya.

Setelah berhasil melampaui “lawan” yang satu, carilah “lawan” berikutnya untuk diikuti dan dilampaui lagi. Jika proses ini dilakukan terus-menerus, Anda akan semakin unggul. Kalaupun tidak menjadi juara, setidaknya Anda tidak tertinggal jauh.

Namun ada satu fakta yang perlu disadari: Dalam lomba lari, mengikuti lawan tidak selalu berarti Anda pasti bisa menyalipnya. Bisa saja, saat Anda baru berhasil mendekat, dia menyadari kehadiran Anda lalu mempercepat langkah dan meninggalkan Anda jauh di belakang.

Dalam hidup pun demikian.

Ketika menghadapi situasi seperti ini, jangan berkecil hati. Jika masih mampu mengikuti, ikutilah. Jika tidak, mungkin itu memang batas kondisi pribadi. Memaksakan diri hanya akan menguras tenaga lebih cepat. Apakah itu berarti usaha Anda sia-sia?

Tidak!

Karena tekad dan kerja keras untuk “mengikuti” lawan telah memicu potensi dan semangat dalam diri Anda. Selama proses itu, Anda berkembang lebih cepat dan lebih jauh dibandingkan saat berlari sendirian tanpa target. Mental Anda terasah, kemampuan Anda teruji—dan itu adalah modal berharga seumur hidup.

Ada pula kemungkinan lain: Anda sudah menemukan lawan, tetapi tetap tak mampu mendekat, bahkan satu per satu orang di belakang justru menyalip Anda. Itu memang terasa memalukan. Namun di sinilah jiwa sportivitas harus berbicara.

Dalam perlombaan, proses lebih penting daripada peringkat. Dalam hidup pun sama—usaha lebih bermakna daripada hasil. Selama Anda benar-benar telah berjuang dengan sepenuh tenaga, itu sudah cukup.

Yang paling menyedihkan bukanlah kalah, melainkan menyerah di tengah jalan dan kehilangan keberanian untuk terus melangkah.