Video: Penembak Jitu “Hantu” Ukraina Menembak Mati Dua Tentara Rusia dengan Tembakan Mematikan yang Memecahkan Rekor dari Jarak 4 Km

EtIndonesia. Seorang penembak jitu Ukraina diyakini telah mencetak rekor dunia baru untuk tembakan mematikan terjauh yang terkonfirmasi dalam sejarah — menembak mati dua tentara Rusia dari jarak lebih dari 4 kilometer (sekitar 2,5 mil) hanya dengan satu peluru. Serangan bersejarah ini dilaporkan dilakukan pada hari Kamis (14/8).

Menurut laporan, serangan tersebut dilakukan dengan senapan runduk Alligator 14,5 mm di garis pertahanan Pokrovsk–Myrnohrad di Donetsk. Peluru tersebut dilaporkan menembus jendela kaca sebuah gedung tempat pasukan Rusia ditempatkan sebelum menewaskan bukan hanya satu, tetapi dua tentara Rusia.

Rekor dunia tembakan mematikan

Operasi tersebut dilakukan oleh unit penembak jitu elit Pryvyd, atau Hantu, dari Angkatan Darat Ukraina, yang telah menewaskan hampir 1.000 tentara Rusia dalam setahun terakhir, menurut laporan militer Ukraina.

Rekaman dramatis menunjukkan penembak jitu Ukraina dan pengintainya menembakkan beberapa peluru sebelum melepaskan tembakan mematikan. Kilatan cahaya terlihat saat peluru menghantam sasaran, melenyapkan tentara Rusia.

Menurut The Sun, kecerdasan buatan digunakan untuk memandu misi tersebut. AI tersebut digunakan bersama sistem pengintaian drone untuk menemukan tentara Rusia.

Tembakan tersebut — yang diukur pada jarak 4 kilometer — memecahkan rekor sebelumnya sejauh 3,7 kilometer yang dibuat pada tahun 2023 oleh penembak jitu Ukraina lainnya, Viacheslav Kovalskyi. Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh penembak jitu pasukan khusus Kanada yang membunuh seorang pejuang ISIS dari jarak 3,52 kilometer di Irak pada tahun 2017.

Tembakan mematikan yang memecahkan rekor tersebut dilakukan di garis pertahanan Pokrovsk–Myrnohrad, tempat pasukan Ukraina terus bertahan melawan serangan Rusia. Hingga Jumat (15/8), wilayah tersebut masih berada di bawah kendali Ukraina, klaim militer negara tersebut.

Sejak invasi besar-besaran Rusia pada tahun 2022, penembak jitu Ukraina telah membangun reputasi untuk tembakan presisi jarak jauh. Dalam prestasi impresif lainnya, seorang penembak jitu Ukraina dilaporkan membunuh dua tentara Rusia dengan satu peluru sambil menembak lima orang dalam lima menit. Tembakan tersebut dilaporkan diambil dari jarak hampir 1,22 kilometer oleh seorang penembak jitu dari Resimen Tujuan Khusus ke-3 Ukraina dari Pasukan Operasi Khusus.(yn)

Ceritanya Singkat, Tapi Menyentuh Sepanjang Hidup Kita

1. Belajar Melepaskan

Seorang kakek penjual mangkuk porselen berjalan di jalan sambil memikul dagangannya. Tiba-tiba, salah satu mangkuk jatuh dan pecah. Anehnya, ia tidak menoleh sedikit pun, tetap melangkah ke depan.
Orang yang melihatnya bertanya:
“Kenapa mangkukmu pecah tapi kamu tidak menengoknya?”
Sang kakek menjawab, “Meskipun aku menoleh, mangkuk itu tetap pecah.”
 

Hikmah: Kehilangan harus kita terima. Tidak semua kesedihan bisa membalikkan keadaan. Belajar lepaskan apa yang sudah pergi.


2. Burung Beo dan Burung Gagak

Burung beo di sangkar hidup nyaman, burung gagak di alam liar hidup bebas. Beo iri pada kebebasan gagak, gagak iri pada kenyamanan beo. Mereka pun sepakat bertukar.
Akhirnya, gagak mati dalam kurungan karena tak disukai tuannya, dan beo mati di alam liar karena tak bisa bertahan hidup.
 

Hikmah: Jangan buta iri pada kebahagiaan orang lain. Belum tentu cocok untukmu. Jalani hidupmu sendiri dengan tenang.


3. Air dalam Teko

Guru bertanya: “Ada orang sedang merebus air. Baru setengah jalan, kayunya tidak cukup. Apa yang harus dilakukan?”
Murid-murid menjawab: cari kayu lagi, pinjam, atau beli.
Guru tersenyum: “Kenapa tidak buang sebagian airnya saja?”
 

Hikmah: Hidup tak selalu sesuai harapan. Kadang kita harus rela melepaskan sebagian agar bisa mendapatkan hasil. Fokuslah pada yang penting.


4. Persahabatan Kucing dan Babi

Suatu hari, kucing jatuh ke lubang. Babi membawa tali dan langsung melemparkan seluruh gulungan ke bawah.
Kucing kecewa: “Begini, mana bisa aku naik?”
Babi bingung: “Kalau begitu gimana?”
Kucing menjelaskan: “Harusnya kamu pegang satu ujungnya.”
Mendengar itu, babi pun melompat ke dalam lubang, memegang satu ujung tali, lalu berkata: “Sekarang bisa, kan?”
Kucing menangis terharu.
Hikmah: Ada orang yang mungkin tidak pintar, tapi tulus. Ketulusan seperti itu layak dimiliki seumur hidup.


5. Jalan di Samping

Seorang biksu tua bertanya pada biksu muda:
“Jika maju selangkah berarti mati, mundur selangkah juga mati, apa yang kau lakukan?”
Biksu muda menjawab: “Aku akan menyingkir ke samping.”
Hikmah: Hidup tidak pernah benar-benar buntu. Kadang solusi ada jika kita mau melihat dari sudut pandang lain.


6. Umpan Wortel

Hari pertama, kelinci kecil memancing, tak dapat apa-apa.
Hari kedua, ia coba lagi, tetap nihil.
Hari ketiga, seekor ikan besar meloncat keluar sambil berteriak:
“Kalau kamu masih pakai wortel sebagai umpan, akan kupukul kamu!”
 

Hikmah: Memberi bukan soal apa yang kita mau beri, tapi apa yang orang lain butuhkan. Berkorban dengan cara egois tidak ada nilainya.


7. Nasihat Buddha pada Orang Miskin

Seorang miskin bertanya: “Kenapa aku begitu miskin?”
Buddha menjawab: “Karena kamu tidak tahu memberi.”
Orang miskin heran: “Tapi aku tak punya apa-apa.”
Buddha berkata: “Walau tanpa harta, kamu bisa memberi tujuh hal:

1.     Senyum yang tulus.

2.     Kata-kata yang baik dan menghibur.

3.     Hati yang ramah.

4.     Pandangan mata penuh kasih.

5.     Tindakan nyata untuk membantu.

6.     Memberi tempat duduk.

7.     Hati yang lapang untuk menerima orang lain.”
 

Hikmah: Jangan hitung-hitungan. Kebaikan kecil pun bisa jadi kekayaan besar.


8. Petani yang Tak Menanam

Seseorang bertanya pada petani: “Kamu sudah menanam gandum?”
Petani menjawab: “Belum, takut tak turun hujan.”
Orang itu bertanya lagi: “Kalau kapas?”
Petani berkata: “Belum juga, takut dimakan ulat.”
“Kalau begitu, apa yang kamu tanam?”
“Tidak tanam apa-apa, supaya aman.”
 

Hikmah: Terlalu banyak kekhawatiran hanya membuat kita diam. Takut gagal justru membuat kita tidak pernah berhasil.


✨ Pesan inti: Hidup sering memberi kita pelajaran lewat hal-hal kecil. Yang penting adalah bagaimana kita melihatnya. Belajar menerima, bersyukur, melepaskan, dan tetap melangkah—itulah kunci menjalani hidup dengan bijak. (Jhon)

Jangan Berhenti Mencoba, Meski Pernah Gagal

EtIndonesia. Dalam perjalanan hidup, kita pasti akan menghadapi tantangan dan kesulitan. Saat kita memberanikan diri untuk mencoba lalu merasakan pahitnya kegagalan, banyak orang memilih berhenti, menyerah, atau lari dari kenyataan.

Namun, justru dari kegagalanlah kita sering mendapat kebijaksanaan dan pertumbuhan yang sesungguhnya. Karena itu, jangan pernah berhenti mencoba hanya karena sekali gagal.

Kegagalan Bukan Akhir, Tapi Pelajaran

Kegagalan memang membawa rasa sakit, kecewa, bahkan putus asa. Tapi di balik itu ada pelajaran berharga. Setiap kegagalan adalah guru yang memberi tahu di mana kekurangan kita, dan bagaimana cara kita menghadapi tantangan berikutnya dengan lebih baik.

Hanya dengan melewati kegagalan, kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, tangguh, dan bijaksana.

Semua Orang Sukses Pernah Gagal

Ketika gagal, wajar bila kita terjebak dalam keraguan diri. Tapi jangan lupa: setiap orang sukses punya jejak kegagalan panjang di belakangnya. Tidak ada keberhasilan yang datang seketika. Ia lahir dari keberanian untuk mencoba, jatuh, lalu bangkit lagi dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Jangan Biarkan Gagal Jadi Jerat

Di jalan hidup, pasti ada rintangan. Tapi jika kita berani menghadapi, tetap percaya diri, dan tidak takut gagal, peluang untuk meraih impian akan selalu ada. Kegagalan seharusnya tidak jadi belenggu, melainkan titik balik. Ia mengingatkan kita untuk mengevaluasi, memperbaiki strategi, lalu mencoba lagi.

Ingatlah, banyak pengalaman paling berkesan justru lahir dari kesulitan dan kegagalan. Dari situlah karakter terbentuk, wawasan semakin dalam, dan keberhasilan jadi lebih bermakna.

Ubah Gagal Jadi Tenaga Pendorong

Setiap kali gagal, jangan hanya larut dalam kecewa. Ambil pelajaran. Gagal membuat kita lebih hati-hati, lebih gigih, dan lebih tekun. Jadikan kegagalan sebagai batu loncatan, bukan batu sandungan.

Kegagalan bukan akhir perjalanan—ia hanyalah awal yang baru.


✨ Pesan inti:
Jangan biarkan kegagalan menghentikan langkahmu. Setiap kegagalan membawa pelajaran yang membuatmu lebih kuat. Teruslah mencoba, karena bisa jadi kesuksesanmu sudah menunggu di percobaan berikutnya. (jhon)

Jangan Membuat Keputusan di Tengah Malam, Jika Tak Ingin Menyesal

EtIndonesia. Ketika kita dihadapkan sebuah tindakan kita memerlukan pertimbangan yang matang untuk menetapkan sebuah keputusan. Hal ini juga terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana kongkritnya? 

1. Belanja Tengah Malam yang Menjerumuskan

Pernah ada masa, penulis merasa uang habis terlalu cepat. Setelah mengecek rekening, penulis kaget sendiri: beberapa bulan terakhir ternyata hampir setiap malam sebelum tidur penulis iseng buka situs belanja, beli barang-barang kecil yang “kelihatan lucu” tapi tak terlalu penting.

Lama-lama, jumlahnya menumpuk jadi pengeluaran besar. Saat dibuka semua belanjaan itu di rumah, yang ada di hadapanku hanyalah: kacang yang rasanya aneh, alat pemotong semangka yang tak pernah berhasil, skincare yang bikin alergi, bahkan seperangkat alat baking yang masih baru tak pernah dipakai. Semua hasil dari keputusan impulsif di malam hari.

Ketika kulihatkan pada sahabatku, ia geleng-geleng kepala:
“Setengah malam itu jangan bikin keputusan. Kalau aku turuti semua yang kupikirkan sebelum tidur, mungkin aku sudah cerai dari suamiku seratus kali.”


2. Malam Memperbesar Semua Masalah

Malam itu waktu yang unik: sepi, kosong, kadang membuat kita merasa kesepian. Pikiran jadi gampang berkelana, hal-hal kecil terasa begitu besar.

Seorang teman penulis pernah menelponku tengah malam, menangis karena kesal dengan bosnya. Ia bersikeras ingin langsung telpon, lalu resign malam itu juga. penulis mencoba menenangkan:  “Kalau memang mau resign, tidak apa. Tapi sekarang tidur dulu. Besok bangun siang, baru bicara di kantor.”

Keesokan harinya… tak ada kabar resign. Hari-hari berikutnya juga tidak. Saat ditanya, ia tersenyum malu:
“Malam itu aku memang terlalu emosi. Setelah tidur dan masuk kantor, ternyata bosku tak marah sedikit pun. Malah aku sadar, meski capek, pekerjaanku gajinya besar dan fleksibel. Banyak teman iri padaku. Jadi aku batalkan niat itu.”

Ia mengaku, “Aneh sekali, malam itu rasanya tak tertahan. Tapi begitu matahari muncul, semua keruwetan lenyap.”


3. Malam, Emosi, dan Penyesalan

Banyak hal konyol terjadi di malam hari:

·        Janji ke pelatih fitness lewat chat tengah malam, besok pagi “pasti jogging”—nyatanya bablas tidur.

·        Mabuk lalu nelpon mantan dengan suara sesenggukan—besok pagi malah marah ke teman karena “tidak mencegahku”.

·        Meluapkan isi hati di media sosial—besoknya menyesal karena status itu disalahartikan orang.

Malam membuat kita sensitif, rapuh, dan mudah terseret emosi. Impulsif itu sering berarti salah langkah.

Seorang teman bercerita, saat lembur semalaman ia merasa hampir hancur. Tapi ketika fajar datang, ia membuka jendela: udara pagi yang sejuk, langit timur berwarna keemasan, cahaya matahari masuk hangat ke dalam kamar. Saat itu, ia sadar: malam gelap hanya menipu hati, tapi pagi selalu membawa harapan.


4. Dua Wajah Diri Kita

Setiap orang punya dua versi diri:

·        Diri di malam hari: rapuh, mudah patah, emosional, penuh pikiran negatif.

·        Diri di siang hari: berani, optimis, berpikiran jernih, dan lebih realistis.

Masalahnya, keputusan yang dibuat di tengah malam biasanya bukan keputusan terbaik. Kadang penyesalannya justru bertahan lama.

Mampu menolak dorongan impulsif sebelum tidur, berarti kita berhasil menaklukkan sisi rapuh dalam diri.

Malam itu untuk tidur, bukan untuk membuat keputusan besar. Jangan biarkan kegelapan membesar-besarkan masalah, dan jangan khianati diri cerahmu yang ada di bawah sinar matahari.


✨ Pesan inti: Jangan buat keputusan penting di tengah malam. Tunggu hingga pagi, karena di bawah cahaya matahari, dunia dan hati kita akan terasa jauh lebih ringan. (Jhon)

[UPDATE] Gempa Bumi M 6.0 Poso : 32 Orang  Terluka, 33 Rumah, 1 Gedung SD dan 3 Gereja Rusak

EtIndonesia. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,0 mengguncang wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Minggu (17/8), telah menyebabkan 32 orang yang mengalami luka-luka di Kabupaten Poso, sebagaimana berdasarkan perkembangan hasil laporan kaji cepat per pukul 12.00 WIB.

Dari jumlah tersebut, 16 orang dirujuk ke RSUD Poso termasuk dua orang dalam kondisi kritis, enam orang dirawat di Puskesmas Tokorondo, serta sepuluh orang lainnya mengalami luka ringan. Sampai siaran pers ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban meninggal dunia.

Sementara itu, kerusakan bangunan yang terdata meliputi 4 unit rumah rusak berat, 33 unit rumah rusak ringan, satu unit gedung SDN 1 Tangkura rusak, termasuk tiga unit fasilitas ibadah yaitu Gereja Jemaat Elim Desa Masani, Gereja Gloria, dan GPDL Mahnaim.

BPBD Kabupaten Poso bersama aparat setempat masih melakukan pendataan dan assessment di desa-desa terdampak, antara lain Desa Masani, Tokorondo, Towu, Pinedapa, Tangkura, Lape, dan Bega.

 Hingga siang ini, kebutuhan mendesak yang dilaporkan antara lain tenda, terpal, lampu taktis, selimut, alas tidur, makanan siap saji, perlengkapan bayi, obat-obatan, serta kendaraan operasional untuk mendukung penanganan darurat.

Atas perintah Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, BNPB pada Minggu (18/8) mengirimkan tim dari Direktorat Dukungan Sumber Daya Darurat (DSDD), Kedeputian Bidang Penanganan Darurat untuk memberikan dukungan mulai dari pendampingan, monitoring, kaji cepat, manajemen posko darurat, data informasi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tanggap darurat.

Di samping itu, BNPB juga terus berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk mempercepat penanganan darurat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pengungsi dan pemulihan kondisi masyarakat. Masyarakat diimbau tetap tenang, waspada terhadap potensi gempa susulan, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan BNPB. (asr)

Lima Hal dalam Hidup yang Tak Perlu Kita Pusingkan

EtIndonesia. Dalam hidup, ada lima hal yang sebenarnya tidak perlu kita urus. Saat muda, kita sering ngotot ingin ikut campur. Namun, seiring bertambahnya usia, kita sadar bahwa hal-hal itu memang tak bisa kita kendalikan. Saat itulah kita benar-benar mulai tumbuh dewasa. Hidup punya banyak urusan penting yang memang perlu kita jalani, jadi jangan sampai energi kita terbuang pada hal-hal yang sia-sia. Hanya orang yang bisa menyadari ini, dan benar-benar melakukannya, yang dapat menjalani hidup dengan lebih bernilai.

1. Orang Tua – Siapa yang Melahirkan Kita, Itu Bukan Urusan Kita

Kita tak bisa memilih orang tua. Filsuf eksistensialis seperti Heidegger mengatakan bahwa manusia itu “dilemparkan” ke dunia. Tidak ada yang bertanya pada kita apakah kita mau lahir atau tidak. Begitu lahir, kita hanya bisa menerima kenyataan: aku sudah ada di sini. Walaupun situasinya tidak ideal, kita tidak punya jalan kembali. Itulah mengapa tangisan adalah reaksi pertama ketika kita lahir.

Entah orang tua kita rupawan atau tidak, kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau tidak pernah sekolah, penyayang atau keras bahkan kasar, itu semua di luar kendali kita. Mau tidak mau, kita harus menerimanya sebagai kenyataan hidup.

2. Wajah – Penampilan Fisik Kita, Tak Perlu Dipusingkan

Setiap orang tentu ingin berwajah menawan. Namun kenyataannya, rupa kita sebagian besar sudah ditentukan sejak lahir. Kita bisa merawat diri, tetapi jangan berharap perubahan drastis. Wajah hanyalah “bungkus luar”, sementara kualitas sejati seseorang ada pada isi dirinya.

Ada orang yang terlalu sibuk mengkhawatirkan penampilan, seolah hidup bergantung sepenuhnya pada cantik atau tampan. Kalau pikiran itu hanya muncul di masa kanak-kanak atau remaja, masih bisa dimaklumi. Tetapi jika sudah dewasa masih saja terjebak, yang rusak bukan hanya wajahnya—melainkan seluruh hidupnya. Ingatlah: penampilan tidak menentukan apakah hidupmu akan berwarna. Banyak orang dengan wajah biasa-biasa saja, tapi hidupnya penuh arti dan menginspirasi.

3. Masa Lalu – Apa yang Sudah Terjadi, Tak Perlu Dipusingkan

Begitu sesuatu terjadi, ia otomatis menjadi masa lalu. Dan masa lalu punya sifat dasar: tidak bisa diubah. Bahkan dewa sekalipun tidak bisa mengubah yang sudah terjadi. Sayangnya, manusia sering lebih keras kepala daripada dewa—terus menolak kenyataan, terus bertanya “kenapa harus begitu?”, padahal jawabannya hanya satu: karena memang sudah terjadi.

Seperti seorang anak kecil yang mainan kesayangannya jatuh dan pecah. Ia menangis keras, sambil memprotes: “Aku tidak mau mainanku pecah!” Tapi mainannya tetap pecah, sekeras apa pun ia menangis. Begitu juga dengan hidup—kadang ada hal-hal yang hancur, dan kita hanya bisa belajar menerimanya, bukan mengingkarinya.

4. Pikiran Orang Lain – Itu Bukan Kendali Kita

Sejak kecil sampai dewasa, selalu ada orang yang punya pendapat tentang kita. Masalahnya, kita sering terlalu peduli dengan bagaimana orang lain memandang kita, sampai-sampai lupa mendengarkan suara hati sendiri.

Kebenarannya sederhana: yang terpenting adalah apa yang kita pikirkan, bukan apa yang orang lain pikirkan. Kita bisa mengumpulkan seribu pendapat, tapi tetap saja ragu untuk melangkah. Sebaliknya, punya satu ide yang kita yakini lalu berani melangkah, jauh lebih berharga.

Ada pepatah Tiongkok: “Mendirikan rumah di pinggir jalan, tiga tahun tak selesai.” Artinya, jika kita selalu sibuk mendengarkan pendapat orang yang lewat, rumah tak akan pernah jadi. Begitu juga hidup. Pendapat orang lain memang ada, tapi yang menentukan langkah tetap diri kita sendiri.

5. Urusan Langit – Hal-hal di Luar Kuasa Manusia, Tak Perlu Dipusingkan

Ada hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia. Itulah sebabnya ada pepatah kuno: “Lakukan yang bisa dilakukan, serahkan hasilnya pada takdir.”

Menerima keterbatasan bukan berarti menyerah, tetapi sebuah kebijaksanaan. Seperti kisah seorang penjual minyak. Suatu hari, satu botol minyak jatuh dari pikulannya dan pecah. Orang bertanya, mengapa ia tidak berhenti untuk menyesali kerugiannya. Ia menjawab, “Sudah pecah, untuk apa dipikirkan?” Jawaban sederhana itu justru membuat seorang pejabat yang melihatnya kagum, lalu merekomendasikannya menjadi pejabat negara. Dan benar saja, ia berhasil menjadi pemimpin yang bijak, karena tahu bagaimana memanfaatkan sumber daya dengan tepat—tidak menghabiskan energi pada hal yang sudah tak bisa dikendalikan.


✨ Pesan hidup: Saat kita belajar untuk tidak repot-repot mengurusi hal-hal yang memang di luar kendali kita, barulah kita benar-benar bisa fokus pada hal yang penting—dan menjalani hidup dengan lebih tenang, bijak, dan bermakna. (Jhon)

Akar dari Segala Keluhan Ada pada Perbandingan yang Keliru

EtIndonesia. Jack Ma, pendiri Alibaba, pernah berkata: “Sikap hidup yang tidak pernah mengeluh adalah yang paling utama.” Namun, kenyataannya banyak orang justru suka mengeluh. Mengeluh soal pekerjaan yang penuh tekanan, mengeluh soal rumah tangga yang banyak masalah, mengeluh tentang keadaan sosial yang memburuk, mengeluh bahwa nasib tidak adil. Seakan-akan selalu ada alasan untuk mengeluh, bahkan merasa keluhan itu wajar dan pantas.

Sekali-dua kali mengeluh masih bisa dimaklumi, karena itu adalah bentuk pelampiasan emosi. Tetapi jika keluhan menjadi kebiasaan, tanpa peduli waktu dan tempat, itu sudah jadi masalah serius. Itu adalah tanda mentalitas yang tidak sehat, sebuah kebiasaan buruk, bahkan energi negatif dalam hidup. 

Jika terbiasa mengeluh, kita bukan hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga meracuni orang-orang di sekitar kita. Karena itu, kita harus sadar, berusaha mengatasi, menjauh dari keluhan, dan menjalani hidup dengan sikap positif.

Mengapa orang suka mengeluh? Alasannya banyak dan kompleks, tapi ada dua penyebab utama:

1.     Tidak bisa memandang hidup dengan sikap positif.

2.     Tidak mampu melakukan perbandingan dengan cara yang benar.

Tidak Mampu Positif

Orang yang suka mengeluh biasanya tidak bisa melihat sisi indah dari hidup. Mereka tidak tahu bersyukur, tidak merasa cukup, dan tidak menghargai apa yang sudah dimiliki. Padahal, sesuatu yang terjadi pada kita adalah sebuah fakta, tetapi bagaimana kita menyikapinya ditentukan oleh cara pandang kita. Seperti kata Shakespeare dalam Hamlet: “Tidak ada yang benar-benar baik atau buruk, semua tergantung pikiran kita.”

Perbandingan yang Salah

Inilah akar utama keluhan. Banyak orang terbiasa membandingkan apa yang tidak dimiliki dengan apa yang orang lain miliki. Membandingkan kelemahan diri dengan kelebihan orang lain. Semakin dibandingkan, semakin kesal, semakin iri, dan akhirnya lahir perasaan cemburu, benci, serta dendam. Hidup pun penuh keluhan.

Sebaliknya, perbandingan yang benar adalah seni hidup, kunci untuk merasa bahagia. Ia adalah bentuk kebijaksanaan hidup. Semua orang pasti membandingkan diri dengan orang lain—itu naluri manusia. Tetapi cara kita membandingkan menunjukkan seberapa dewasa kita dalam mengendalikan hidup.

Kisah Franklin D. Roosevelt

Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika ke-32, adalah sosok legendaris. Meski lumpuh dan harus duduk di kursi roda, ia berhasil memimpin bangsa keluar dari depresi besar dan perang. Suatu ketika rumahnya kemalingan. Seorang temannya menulis surat menghibur, dan Roosevelt menjawab:

“Terima kasih atas penghiburanmu. Aku baik-baik saja. Aku justru bersyukur pada Tuhan karena: Pertama, pencuri hanya mengambil barangku, bukan nyawaku. Kedua, pencuri hanya mengambil sebagian, bukan semuanya. Ketiga, yang menjadi pencuri adalah dia, bukan aku.”

Hilang harta memang sial, tetapi Roosevelt memilih melihat sisi yang bisa disyukuri. Ia menemukan tiga alasan untuk tidak mengeluh, melainkan berterima kasih.

Belajar dari Penderitaan

Penulis Tiongkok, Shi Tiesheng, yang seumur hidup sakit-sakitan, pernah menulis:

“Ketika demam, baru sadar betapa nikmatnya saat tubuh tidak panas. Saat batuk, baru tahu betapa damainya tenggorokan yang sehat. Saat duduk di kursi roda, aku merasa dunia gelap. Tapi setelah terkena luka baring dan tak bisa bergerak, aku baru sadar, bisa duduk tegak itu sebenarnya anugerah. Lalu ketika sakit ginjal hingga pikiran pun sulit berjalan, aku semakin merindukan masa lalu. Akhirnya aku mengerti: setiap saat kita selalu beruntung, karena di balik setiap kesulitan, masih mungkin ada yang lebih buruk.”

Artinya, kita mengeluh karena kita tidak tahu—masih ada keadaan yang lebih buruk dari yang kita alami. Begitu sadar, keluhan akan berubah menjadi rasa syukur.

Belajar Melihat Sisi Lain

Anton Chekhov, penulis besar Rusia, pernah berkata: “Jika jarimu tertusuk duri, kamu masih patut bersyukur—karena itu bukan matamu yang tertusuk.” Betul, hidup pasti ada ketidaknyamanan kecil, tetapi masih ada yang lebih parah dari itu.

Saat kita kehilangan sepasang sepatu, lihatlah mereka yang bahkan tak punya kaki. Saat kita mengeluh makanan kurang enak, ingatlah ada orang yang mencari sisa di tempat sampah. Saat kita merasa rumah terlalu sempit, bayangkan orang yang tidur di jalanan. Saat kita mengeluh pasangan kurang baik, pikirkan mereka yang ditinggalkan sendirian di rumah sakit. Saat kita kecewa anak tak berprestasi, sadarilah ada orang yang mendambakan anak tapi tak pernah memilikinya.

Hidup dengan Rasa Syukur

Ketika kita mampu melihat dari sisi lain, kita akan sadar betapa beruntungnya kita. Hidup kita memang tidak sempurna, tapi masih jauh lebih baik daripada banyak orang lain.

Dengan hati penuh rasa syukur, kita akan:

·        Mengabaikan hal-hal kecil yang tak sesuai harapan.

·        Lebih mudah memaafkan orang yang pernah membuat kita kecewa.

·        Menghargai apa yang kita miliki sekarang.

·        Tidak lagi terjebak dalam kebiasaan mengeluh.

Kita boleh mengejar hidup yang lebih baik, boleh berusaha keras untuk meraih cita-cita, tetapi satu hal yang tak boleh kita lakukan adalah mengeluh tentang hidup. Karena kita adalah orang yang beruntung—dan orang beruntung tidak punya alasan untuk mengeluh.


✨ Intinya: Akar dari segala keluhan ada pada perbandingan yang keliru. Jika kita belajar membandingkan dengan cara yang tepat, kita akan menemukan alasan untuk bersyukur, bukan untuk mengeluh. (jhon)

Cerita Filosofis: Mulailah dari Hal Kecil yang Sepele

EtIndonesia. Sekitar sepuluh tahun lalu, hiduplah seorang petani di pinggiran kota. Ia dikenal pendiam, jarang berbicara, dan wajahnya selalu terlihat sedikit murung. Namun ada satu hal yang ia sukai: membaca buku. 

Selain itu, ia punya hobi yang saat itu dianggap tidak berguna di desa—menanam bunga dan merawat tanaman. Karena itulah, orang-orang di sekitarnya sering mengejeknya. Mereka berkata hidupnya malang, lahir di tempat yang salah, di keluarga yang salah. Tetapi, semua ejekan itu ia abaikan. Ia tetap menjalani hidup seperti biasanya.

Suatu hari, ia berjalan-jalan ke pusat kota yang sedang dalam proses renovasi. Tanpa sengaja ia melihat sebidang tanah kosong di samping gedung pemerintahan kota, penuh dengan sampah dan rumput liar. Ia berdiri lama di sana, lalu bergumam:
“Sayang sekali… kalau lahan ini dijadikan taman, pasti indah sekali.”

Tak disangka, seseorang di belakangnya menyahut:
“Benar juga. Bisa jelaskan bagaimana caranya menurutmu?”

Ia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya tersenyum padanya, ditemani seorang anak muda. Orang di sebelahnya berbisik, “Itu wali kota yang baru.”

Petani itu lalu berkata dengan mantap, “Kalau Anda setuju, saya bisa mengubah tanah kosong ini jadi taman.”
Wali kota menjawab, “Urusan kota sudah terlalu banyak. Untuk proyek ini, saya khawatir belum ada dana.”
Petani itu tersenyum, “Saya tidak butuh uang. Biar saya yang kerjakan, dan setelah selesai, saya juga bisa menjaganya.”

Wali kota terdiam sejenak, lalu mengangguk terharu, “Baik, saya setuju.” Ia bahkan menyuruh sekretarisnya mengumumkan keputusan itu supaya tidak ada pihak yang menghalangi.

Keesokan harinya, petani itu datang dengan kendaraan roda tiga miliknya, penuh dengan alat-alat kerja. Ia mulai dengan membersihkan sampah, mencabut rumput liar, meratakan tanah, memasang pagar kayu, lalu membuat papan kecil bertuliskan: “Taman Baiwan” — karena nama kecilnya adalah Wanwan.

Kabar bahwa seorang petani rela membangun taman dengan biaya sendiri segera menyebar luas. Banyak warga penasaran datang menonton. Bahkan wartawan TV dan surat kabar meliput. Namun ketika ditanya mengapa ia melakukan semua ini, ia hanya diam dan terus bekerja. Justru sikap bungkamnya itulah yang membuat orang-orang makin tertarik. Sejak itu, ia dan “Taman Baiwan” menjadi buah bibir di seluruh kota.

Perlahan-lahan, orang-orang yang dulu hanya menonton mulai ikut membantu. Ada yang menyumbang bibit pohon, ada yang memberi benih bunga, siswa-siswa dari sekolah terdekat ikut membantu selepas sekolah. Sebuah taman bunga bahkan mengirimkan bibit mawar dan bunga rambat. Tak ketinggalan, seorang direktur perusahaan kayu menawarkan bangku-bangku taman secara gratis.

Beberapa bulan kemudian, lahan yang dulunya kumuh penuh sampah itu telah berubah menjadi taman indah: pagar kayu dihiasi rambatan bunga mawar, rerumputan hijau membentang, jalan setapak dari batu kerikil berkelok ke deretan bangku putih. Orang-orang bisa masuk dengan bebas, berjalan-jalan, atau beristirahat. Ia tersenyum melihat hasilnya—meski tetap saja jarang berbicara. Saat itu usianya sudah 42 tahun.

Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia tidak menjadi penjaga tetap “Taman Baiwan”, melainkan mulai bepergian ke kota-kota lain. 

Ada yang mengundangnya, ada juga yang ia datangi sendiri. Bukan untuk memberi ceramah, tetapi untuk merancang taman. Berkat kerja keras dan pembelajarannya selama bertahun-tahun, ia akhirnya dikenal sebagai seorang desainer taman yang penuh kisah inspiratif. Namanya kini tercatat di banyak rancangan taman kota.

Meski begitu, taman yang paling ia banggakan, yang paling ia rindukan, tetaplah “Taman Baiwan”—karena di situlah awal mula ia menemukan arti hidupnya yang baru. (jhon)

Banjir Bandang Mematikan di Kashmir India: 60 Tewas dan 200 Hilang

EtIndonesia. Pada Jumat (15/8/2025), banjir bandang melanda Kashmir, bagian India, menewaskan sedikitnya 60 orang dan membuat 200 orang lainnya hilang. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, dan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.

Pada hari itu, tim penyelamat menggunakan sekop dan buldoser untuk mencari korban selamat di bawah bongkahan batu besar dan puing-puing.

Sehari sebelumnya, tanah longsor dan banjir menerjang Desa Chasoti di Kashmir, India, menyeret para peziarah yang tengah singgah sementara di sana.

Para penyintas mengenang, ada sekitar 150 hingga 200 orang di lokasi,  semuanya tersapu hanya dalam hitungan detik.

Tim penyelamat terus berupaya mengevakuasi orang-orang dari reruntuhan. Di area terdampak, jembatan darurat juga telah dibangun untuk mengevakuasi warga.

Seorang korban selamat yang tubuhnya penuh lumpur terlihat menggendong seorang anak, diikuti oleh beberapa penyintas lain yang juga penuh lumpur.

Pejabat setempat menyatakan, banjir ini juga menyebabkan sedikitnya 100 orang terluka. Pihak berwenang tengah berupaya mengevakuasi para korban luka dan memberikan bantuan darurat.

Ini adalah kedua kalinya dalam bulan ini wilayah Himalaya India dilanda banjir.

Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa pembangunan kota yang berlebihan dan penebangan hutan membuat kawasan pegunungan ini semakin rapuh.

“Pembangunan jalan, pembangunan bendungan, serta ekspansi besar-besaran sektor pariwisata telah mendorong urbanisasi yang pada akhirnya membawa bencana,” kata Ravi Chopra, pakar ekologi Himalaya. 

Wilayah bencana ini juga berada di perbatasan India, Pakistan, dan Tiongkok, sehingga selain menjadi daerah rawan bencana pegunungan, juga memiliki sensitivitas geopolitik yang menarik perhatian dunia. 

Sumber : NTDTV.com

India–Pakistan Dilanda Hujan Lebat Langka, Banjir Bandang dan Longsor Tewaskan Ratusan Orang

Beberapa hari terakhir, hujan deras langka melanda sejumlah wilayah termasuk Kashmir yang dikuasai India serta barat laut Pakistan. Hujan ini memicu banjir bandang dan tanah longsor, menimbulkan ratusan korban jiwa dan luka-luka.

EtIndonesia. Pada Jumat (15 Agustus), di wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan, banjir bandang menerjang desa-desa, menenggelamkan sebagian rumah warga.

Direktur Badan Penanggulangan Bencana Pakistan, Saeed Ur, mengatakan:  “Terjadi peristiwa banjir, sayangnya enam orang dalam satu rumah tewas, dan tiga rumah hanyut terbawa arus.”

Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Nasional Pakistan, bencana banjir ini telah menewaskan 194 orang di Pakistan.

Di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang paling parah terdampak, pejabat setempat menyebut banjir menewaskan 180 orang, melukai 23 orang, serta merusak sekitar 30 rumah.

Seorang warga, Muhammad Anwar, menuturkan:  “Banjir bandang datang dari hulu, air masuk ke kota dan rumah-rumah kami, menghanyutkan banyak kendaraan. Beberapa mobil hancur total.”

Pejabat setempat menambahkan, sebuah helikopter jatuh saat melakukan misi penyelamatan korban banjir, lima awaknya tewas.

Badan Penanggulangan Bencana Pakistan melaporkan bahwa sejak 26 Juni lalu, setidaknya 477 orang meninggal, 763 orang terluka, dan lebih dari 1.851 rumah rusak akibat banjir di seluruh negeri.

Di Kashmir yang dikuasai India, banjir juga menimbulkan dampak besar. Beberapa warga masih kehilangan kontak dengan anggota keluarga.

Seorang istri korban, Saniha, berkata:  “Anak perempuan, anak laki-laki, dan suami saya bersama-sama saat itu. Anak saya hanyut tapi berhasil diselamatkan tentara. Namun saya belum tahu kabar anak perempuan dan suami saya.”

Sehari sebelumnya, sebuah desa terpencil di wilayah tersebut diterjang banjir bandang dan longsor. Sebuah dapur umum bagi para peziarah tertimbun material longsor, sejumlah peziarah ikut tertimbun.

Petugas penyelamat, Kuldeep Singh, mengatakan:  “Di wilayah ini mungkin masih ada 100 hingga 150 orang yang tertimbun.”

Seorang penyintas banjir menuturkan:  “Saya terjebak di bawah sebuah mobil, saya pikir tidak akan selamat. Saya melihat ayah saya, lalu saya berusaha keluar. Ketika saya berhasil, saya melihat ibu saya terhimpit tiang listrik, bersama orang lain yang terjebak. Saya akhirnya bisa kabur, tapi ibu saya mengalami luka parah.”

Pemerintah India menyatakan bahwa banjir akibat hujan deras ini telah menewaskan 56 orang dan sedikitnya 200 orang hilang. Tim penyelamat masih terus mencari korban selamat. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Gunung Berapi di Rusia Meletus, Mengirimkan Kolom Abu Setinggi 8.000 Meter Hingga Mengancam Keselamatan Penerbangan

Pada 15 Agustus 2025 waktu setempat, Gunung Klyuchevskoy di Semenanjung Kamchatka, Rusia, tercatat menyemburkan abu vulkanik setinggi 8.000 meter.

EtIndonesia. Menurut laporan RIA Novosti pada 15 Agustus, Pusat Tanggap Erupsi Gunung Berapi (KVERT) dari Institut Geologi dan Vulkanologi, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia cabang Timur Jauh, menyatakan bahwa Gunung Klyuchevskoy mengalami letusan abu kuat dengan ketinggian mencapai 8.000 meter, yang membahayakan keselamatan lalu lintas udara.

Dilaporkan, pada pukul 09.50 waktu setempat pada 15 Agustus, abu vulkanik Gunung Klyuchevskoy mencapai ketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut, dengan arah sebaran ke timur laut sejauh 521 kilometer.

Sinyal peringatan keselamatan penerbangan ditetapkan pada tingkat oranye, yang berarti aktivitas gunung berapi ini menimbulkan bahaya bagi penerbangan lokal maupun internasional.

Gunung Klyuchevskoy memiliki ketinggian 4.750 meter, berjarak 30 km dari Desa Klyuchi. Gunung ini merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di kawasan Eurasia, sekaligus salah satu yang paling aktif di dunia.

Sejak gempa besar berkekuatan 8,8 yang mengguncang perairan dekat Semenanjung Kamchatka pada 30 Juli lalu, wilayah ini terus mengalami gempa susulan. Gunung Klyuchevskoy mulai meletus sejak 31 Juli, dengan ketinggian abu mencapai 12 km. Warga di Distrik Ust-Kamchatsky melaporkan adanya hujan abu vulkanik.

Menurut kantor berita TASS, pada 10 Agustus pagi, Gunung Klyuchevskoy kembali meletus dengan semburan abu setinggi 10.000 meter. Saat itu, gunung ini telah dikategorikan dalam tingkat bahaya penerbangan merah.

Sebelumnya, Kementerian Situasi Darurat Rusia di Semenanjung Kamchatka melaporkan bahwa saat ini masih terdapat lima gunung berapi aktif, yaitu: Gunung Bezymianny, Gunung Shiveluch, Gunung Klyuchevskoy, Gunung Karymsky, dan Gunung Krasheninnikov. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Apakah Xi Takut Beijing akan Dibom? Trump: Dia Berjanji Tak akan Menginvasi Taiwan Selama Pemerintahan Saya

Menjelang KTT AS-Rusia, Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan media mengatakan bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, pernah mengatakan kepadanya bahwa selama Trump masih menjadi Presiden AS, PKT tidak akan menyerang Taiwan. Sebelumnya, Trump juga pernah mengungkap bahwa dirinya pernah dengan tegas memperingatkan Xi Jinping bahwa jika menyerang Taiwan, AS akan membom Beijing.

EtIndonesia. Pada 15 Agustus waktu setempat, Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan di Alaska, Amerika Serikat. Sejumlah media asing melaporkan, sebelum pertemuan tersebut, Trump mengungkapkan kepada Fox News bahwa Xi Jinping mengatakan kepadanya, selama dirinya masih menjabat, Xi tidak akan “mengambil tindakan terhadap Taiwan”.

Trump mengatakan, ketika ia masih menjabat sebagai Presiden, para pemimpin dunia tidak akan berani melakukan tindakan seperti invasi Rusia ke Ukraina, termasuk Xi Jinping.

Trump menegaskan bahwa sikap diplomasi keras yang ia terapkan selama masa jabatannya membuat para pemimpin dunia tidak bisa dengan mudah menantang tatanan internasional. Ia menekankan:

 “Selama saya masih menjabat, saya tidak percaya hal semacam itu akan terjadi.” Ia juga mengungkapkan: “Ketua Xi (Xi Jinping) mengatakan kepada saya, selama saya masih Presiden, ia tidak akan pernah melakukan hal itu.”

Sejak Xi Jinping berkuasa pada 2012, PKT terus meningkatkan provokasi militernya terhadap Taiwan, dan bahkan berulang kali mengancam tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menyatukan Taiwan.

Trump sebelumnya pernah mengungkap bahwa ia dengan keras memperingatkan Xi Jinping: jika berani menyerang Taiwan, maka Beijing akan dibom hancur.

Pada Juli lalu, CNN menayangkan rekaman suara Trump, yang menunjukkan bahwa dalam percakapan telepon dengan Xi Jinping, Trump secara pribadi memperingatkan bahwa jika PKT berani menyerang Taiwan, ia akan memerintahkan untuk “membom Beijing hingga hancur”. Trump juga menyebut bahwa ia menggunakan nada yang sama untuk memperingatkan Presiden Rusia Putin agar tidak menyerang Ukraina.

Trump berkata: “Saya pernah mengatakan hal yang sama kepada Presiden Tiongkok (PKT) Xi Jinping. Saya bilang, jika kalian menyerang Taiwan, saya akan membuat Beijing hancur lebur.”

Trump menggambarkan bahwa saat itu Xi Jinping tidak sepenuhnya percaya pada ancamannya: “Dia mungkin hanya percaya 10%, dan itu sudah cukup. Faktanya, 5% kemungkinan saja sudah cukup untuk membuat mereka berhati-hati.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com