Saat Rudal Flamingo Ukraina Menghantam Pabrik Militer Rusia Setelah Terbang Sejauh Lebih dari 1.500 KM

Dalam rangka memperingati kemenangan Perang Dunia II, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (4 Mei) mengusulkan gencatan senjata sepihak selama sehari pada 8–9 Mei. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy justru memajukan tanggal gencatan senjata dua hari lebih awal untuk menguji kesungguhan pihak Rusia. Namun pada Selasa (5 Mei), serangan antara kedua pihak tetap berlangsung sangat intens.

EtIndonesia. Militer Ukraina pada Selasa mengkonfirmasi bahwa Rusia semalaman meluncurkan 11 rudal balistik dan 164 drone serang ke wilayah Ukraina. Kota Zaporizhzhia diserang bom luncur, menewaskan sedikitnya 12 warga sipil.

Di hari yang sama, Ukraina juga melancarkan serangan besar-besaran menggunakan rudal dan drone ke berbagai wilayah Rusia.

Di kota Cheboksary, sebelah timur Moskow, terdengar ledakan terus-menerus. Sebagian wilayah dilaporkan dilalap api. Bahkan ada saksi mata yang merekam sebuah drone Ukraina menabrak langsung sebuah gedung, menciptakan pemandangan yang mengerikan.

Presiden Zelenskyy pada hari itu mengkonfirmasi bahwa selain drone, Ukraina juga menggunakan rudal jelajah domestik F-5 “Flamingo”, yang mampu menempuh jarak lebih dari 1.500 kilometer, untuk menyerang sejumlah target di Rusia, termasuk kompleks industri militer di Cheboksary. Pabrik tersebut memproduksi komponen navigasi bagi angkatan laut Rusia, industri rudal, penerbangan, dan kendaraan lapis baja.

Zelenskyy menyatakan bahwa saat ini militer Ukraina tidak hanya mempertahankan posisi, tetapi juga meningkatkan serangan ke wilayah dalam Rusia. Ia juga menyebut bahwa pihak Rusia mengalami kerugian besar, dengan lebih dari 35.000 personel tewas atau terluka parah hanya dalam bulan April.

Penyiar Rusia mengatakan:  “Berdasarkan keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia, diumumkan gencatan senjata pada 8 hingga 9 Mei.”

Untuk memperingati 81 tahun kemenangan Perang Dunia II, Kremlin pada Senin mengumumkan gencatan senjata sepihak pada Jumat (8 Mei) hingga Sabtu (9 Mei), serta meminta Ukraina untuk mematuhinya.

Zelenskyy menanggapi:  “Gencatan senjata satu hari, tetapi sebelum itu mereka membunuh rakyat kami—dengan kata lain, ini sama sekali tidak adil. Kami memberi mereka ‘libur’, lalu keesokan paginya, setelah tanggal 9, mereka kembali datang untuk membunuh kami?”

Zelenskyy juga mengusulkan rencana gencatan senjatanya sendiri, yaitu mulai tengah malam 5 Mei hingga 6 Mei, dua hari lebih awal dari yang diumumkan oleh Putin.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba, menyatakan bahwa tanggal 6 Mei akan menunjukkan apakah Moskow benar-benar memiliki niat baik—apakah menginginkan perdamaian atau sekadar parade militer.

Pada Selasa, otoritas Moskow memutus jaringan internet seluler bagi banyak pengguna di Rusia, dengan alasan untuk memastikan parade militer pada 9 Mei tidak diserang oleh drone Ukraina. Kremlin juga mengklaim bahwa parade tersebut tidak akan menampilkan peralatan militer apa pun.

Laporan oleh Yi Jing, NTDTV.

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, WHO Menduga Penularan Terjadi dari Manusia ke Manusia

EtIndonesia. World Health Organization (WHO) pada Selasa (5 Mei) menyatakan bahwa terjadi wabah Hantavirus di kapal pesiar Belanda MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik. Diduga telah terjadi fenomena langka penularan dari manusia ke manusia. Saat ini, tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah lainnya terinfeksi.

Biasanya, virus Hanta menyebar melalui hewan pengerat seperti tikus, dan manusia terinfeksi setelah menghirup udara yang terkontaminasi. Namun kali ini situasinya berbeda. 

Pakar WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan bahwa dalam kondisi kontak yang sangat dekat, kemungkinan terjadi penularan antar manusia. Meski demikian, ia menekankan bahwa risiko keseluruhan bagi masyarakat umum tetap rendah.

Saat ini, kapal telah berada di bawah pengendalian ketat. Rekaman yang diperoleh Associated Press menunjukkan bahwa kapal hampir sepenuhnya ditutup, para penumpang dikarantina di dalam kabin masing-masing, dan area publik nyaris kosong. Tenaga medis mengenakan alat pelindung diri (APD) dan bolak-balik ke kapal menggunakan perahu kecil untuk menangani kasus.

Kapal tersebut awalnya menjalani rute ke Antartika dan berangkat dari Argentina. Namun karena wabah, negara Afrika Barat Cape Verde menolak mengizinkan penumpang turun ke darat. Saat ini kapal hanya bisa berlabuh di perairan dekat negara tersebut sambil menunggu pengaturan lebih lanjut. Di dalam kapal terdapat 149 orang dari 23 negara, semuanya sedang dalam pengawasan.

Mengenai sumber virus, analisis awal menunjukkan kemungkinan berasal dari “strain Andes” (Andes virus), satu-satunya jenis virus Hanta yang diketahui dapat menular antar manusia, yang umumnya ditemukan di Amerika Selatan—sesuai dengan titik awal pelayaran ini.

Data saat ini mencatat 7 kasus, termasuk yang terkonfirmasi dan yang masih diduga. Beberapa pasien dalam kondisi serius sedang dipersiapkan untuk evakuasi, dan ada yang telah dirawat di unit perawatan intensif (ICU).

Terkait tujuan berikutnya kapal ini, masih belum ada kepastian. Sebelumnya sempat muncul kabar bahwa Spanyol mungkin akan mengizinkan kapal bersandar di Canary Islands, namun pihak Spanyol menyatakan belum menerima permohonan resmi dan akan menunggu lebih banyak data sebelum mengambil keputusan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS, saat ini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk virus ini. Penanganan hanya bersifat suportif, seperti pemberian cairan dan istirahat, sementara kasus berat memerlukan bantuan ventilator. Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci, terutama dengan menghindari kontak dengan hewan pengerat untuk mengurangi risiko infeksi. 

Seorang Pekerja Migran di Sichuan, Tiongkok Menangis Histeris di Jalan : “Saya Tidak Punya Uang Sepeser pun” 

EtIndonesia. Di tengah perlambatan ekonomi di Tiongkok, banyak pekerja tidak dapat menemukan pekerjaan dan terpaksa hidup terlantar di jalanan kota. 

Beredar video dari Sichuan yang menunjukkan seorang pemuda duduk di pinggir jalan sambil menangis putus asa, mengatakan bahwa ia tidak memiliki uang sama sekali.

Video tersebut diunggah ke internet pada 3 Mei. Warganet setempat mengungkapkan bahwa pekerja tersebut sudah lama tidak mendapatkan pekerjaan, uang yang dimilikinya telah habis, bahkan tidak mampu membeli makanan. Karena terdesak situasi, ia akhirnya mengalami keputusasaan dan menangis histeris di jalan.

Selain itu, baru-baru ini juga beredar video dari Xi’an, Provinsi Shaanxi, yang menunjukkan seorang kurir makanan meninggal mendadak di atas sepeda listriknya.

Beberapa video lain di internet juga memperlihatkan bahwa di banyak kota di Tiongkok terdapat sejumlah besar anak muda yang tidur di jalanan, diduga karena tidak mendapatkan pekerjaan atau tidak mampu membayar sewa tempat tinggal.

Sumber : NTDTV.com

Iran Klaim Tembakkan Dua Rudal yang Tenggelamkan Kapal Perang AS, Ternyata Video Rekaman Latihan Perang 10 Tahun Lalu

EtIndonesia. Pemerintah Iran pada Senin (4 Mei) merilis sebuah video secara besar-besaran, mengklaim bahwa dua rudal yang ditembakkan Iran telah menghantam sebuah kapal perang Amerika Serikat. Video tersebut sempat viral luas. Namun tak lama kemudian, publik menemukan bahwa video itu sebenarnya adalah rekaman lama dari latihan militer AS sepuluh tahun lalu. Sejumlah warganet pun menyindir: kemampuan Iran dalam memalsukan informasi kini sudah “mengejar” Partai Komunis TIongkok (PKT)

Kantor berita resmi Iran merilis video tersebut pada Senin, menyatakan bahwa dua rudal Iran menghancurkan kapal perang AS di dekat Pulau Jask.

Video itu langsung menyebar luas dan banyak orang sempat mempercayainya.

Namun segera diketahui bahwa rekaman tersebut berasal dari 14 Juli 2016, saat militer AS dalam latihan RIMPAC di Hawaii menenggelamkan sebuah kapal fregat yang sudah dipensiunkan dengan tembakan langsung.

Seorang aktivis pro-demokrasi ternama, Tang Baiqiao, menyindir di platform X:
“Iran dalam hal pemalsuan sudah mengejar PKT, langsung pakai saja (video lama).”

Sejumlah warganet Tiongkok juga bercanda:  “Mungkin videonya disediakan oleh PKT.”

Ada juga yang mengatakan bahwa Iran tidak punya cukup dana untuk menggunakan teknologi AI, sehingga terpaksa “mencuri” video Amerika untuk membuat propaganda palsu tentang Amerika.

Beberapa pengamat militer juga menunjukkan bahwa kapal yang dikerahkan AS ke Timur Tengah adalah kapal perusak kelas Arleigh Burke dengan sistem Aegis, sedangkan kapal yang terlihat dalam video adalah fregat kelas Perry. Mereka menilai bahwa orang yang memahami militer tidak akan mudah tertipu oleh video tersebut.

Laporan oleh Ren Hao, NTDTV.

Kecelakaan China Eastern Airlines Tahun 2022 Menewaskan 132 orang, Data Kotak Hitam Menunjukkan Manipulasi yang Disengaja

EtIndonesia. Empat tahun setelah kecelakaan pesawat China Eastern Airlines yang melibatkan pesawat Boeing 737, data terbaru yang dideklasifikasi oleh pihak Amerika Serikat menunjukkan bahwa aliran bahan bakar ke kedua mesin telah dimatikan, yang mengarah pada kemungkinan tindakan disengaja oleh manusia. NTD  juga mewawancarai seorang pilot senior AS untuk mendapatkan analisisnya.

Badan National Transportation Safety Board (NTSB), atas permintaan berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi, baru-baru ini merilis data hasil decoding “kotak hitam” dari kecelakaan tahun 2022 tersebut, yang kembali menarik perhatian publik.

Pada 21 Maret 2022, pesawat China Eastern penerbangan MU5735 yang terbang dari Kunming ke Guangzhou jatuh di Wuzhou, Guangxi, menyebabkan seluruh 132 orang di dalamnya meninggal dunia.

Menurut data yang dirilis NTSB, saat pesawat berada di ketinggian jelajah sekitar 29.000 kaki, sakelar bahan bakar kedua mesin dipindahkan ke posisi mati, yang menyebabkan putaran mesin menurun.

Seorang pilot senior AS bernama Sky menjelaskan bahwa sakelar bahan bakar biasanya terletak di bagian belakang konsol tengah kokpit, tidak mudah tersentuh secara tidak sengaja, dan tidak disentuh selama penerbangan normal.

Sky mengatakan:  “Dalam kondisi normal, kapten tidak mengizinkan siapapun menyentuh atau mendekati area itu. Jika seseorang mencoba mendekatinya, dia akan langsung menarik tangan orang tersebut. Jika dimatikan, untuk menyalakan kembali mesin membutuhkan waktu yang cukup lama.”

Selain itu, sakelar pemutus bahan bakar pada Boeing 737 dilengkapi dengan mekanisme pengaman “tarik lalu geser”, sehingga kemungkinan terpicu secara tidak sengaja sangat kecil. Karena itu, muncul dugaan adanya tindakan manusia yang disengaja.

Sky menambahkan:  “Ada sistem pengaman. Anda harus menariknya keluar terlebih dahulu sebelum bisa menggeser ke atas atau ke bawah. Kemungkinan untuk tidak sengaja menyalakan atau mematikannya sangat kecil. Itulah sebabnya dirancang seperti itu, untuk mencegah sentuhan yang tidak disengaja.”

Data juga menunjukkan bahwa sebelum pesawat jatuh, terdapat operasi yang saling berlawanan di kokpit—satu pihak diduga mendorong tuas sehingga pesawat menukik, sementara pihak lain mencoba menariknya kembali ke atas.

Kopilot berusia 59 tahun memiliki pengalaman terbang hingga 30.000 jam, dan dilaporkan pernah diturunkan jabatannya, sehingga oleh sebagian pihak dianggap sebagai tersangka utama.

Sky mengatakan:  “Jika kopilot bisa menjangkau sakelar itu, berarti situasinya sangat tidak biasa. Pada dasarnya, begitu seseorang menyentuhnya, kami tahu apa yang ingin dia lakukan.”

Namun demikian, data yang dipublikasikan saat ini belum dapat memastikan siapa yang melakukan tindakan tersebut maupun motifnya.

Sky juga menyebut bahwa perekam data penerbangan dalam kotak hitam dapat menunjukkan apakah sakelar bahan bakar dimatikan secara manual. Namun hingga kini, otoritas penerbangan sipil Tiongkok belum merilis rekaman suara kokpit maupun laporan investigasi akhir yang paling krusial.

Sky menambahkan:  “Pertama adalah soal citra negara—mereka ingin tampil sebagai pemimpin. Kedua, setiap perusahaan cenderung menutupi hal-hal demi citra dan kepentingannya sendiri.”

Laporan oleh Chang Chun dan Zheng Shengxun dari Amerika Serikat.

Trump Mendesak Iran Agar Menyerah,  Laporan Menunjukkan Ia Mempertimbangkan untuk Memberikan Senjata kepada Warga Sipil 

EtIndonesia. Pada Selasa (5 Mei), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Iran seharusnya mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah. Ia juga menyebut rakyat Iran sebenarnya ingin melawan tirani, tetapi tidak memiliki senjata. Akibatnya, 200 ribu orang bisa ditakuti hanya oleh 5–6 orang bersenjata.

Trump berkata:  “Mereka (Iran) seharusnya mengangkat bendera putih, bendera tanda menyerah.”

Trump juga mengatakan bahwa Iran sebenarnya sudah kalah, tetapi demi menjaga muka masih menunjukkan kekuatan dengan “senjata mainan”.

Trump: “Mereka sekarang seperti menembak dengan senjata kecil dari perahu-perahu kecil.”

Trump menambahkan:  “Mereka sedang bermain taktik. Tapi saya katakan kepada Anda, mereka benar-benar ingin mencapai kesepakatan. Siapa yang tidak ingin? Lagi pula, militer mereka sudah hancur total!”

Trump juga menyatakan bahwa para pemimpin Iran bersikap sangat sopan kepadanya, namun kemudian di televisi mengatakan tidak pernah bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Mengenai kemungkinan Iran melanggar gencatan senjata, Trump mengatakan Teheran tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan.

Terkait rumor bahwa AS akan membagikan senjata kepada rakyat Iran, Trump menolak membahasnya secara langsung, hanya menyebut bahwa rakyat Iran ingin melakukan protes tetapi tidak memiliki senjata.

Trump mengatakan:  “Anda bisa memiliki 200 ribu orang yang berdemonstrasi, lalu hanya 5–6 orang gila dengan senjata. Ketika mereka mulai menembak ke arah dahi para demonstran…”

Trump juga menyebut bahwa bulan lalu Iran telah membunuh 42.000 demonstran, dan sejak tahun lalu, pembunuhan terhadap peserta protes membuat sebagian orang tidak lagi berani melanjutkan aksi.

Kegiatan hari Selasa tersebut bertema pemulihan tes kebugaran anak-anak Amerika. Program ini awalnya dibentuk pada tahun 1950-an dan dihapus pada masa pemerintahan Barack Obama.

Tahun lalu, Trump mengaktifkan kembali program tersebut.

Dalam acara tersebut, banyak pelajar muda berkunjung ke Gedung Putih. Trump juga dengan antusias menyaksikan mereka bermain golf dan mengajarkan gerakan khas yang disebut “Trump dance”.

Laporan oleh Ren Hao dari Washington DC.

Li Ka-shing Kembali Menjual Bisnis Lainnya, Kali Ini Telekomunikasi Inggris Miliknya dengan Pendapatan Sebesar 4,3 Miliar Poundsterling

Baru-baru ini, perusahaan milik keluarga Li Ka-shing, CK Hutchison Holdings (CK Hutchison), mengumumkan bahwa anak perusahaannya telah menjual seluruh saham yang dimilikinya dalam bisnis telekomunikasi Inggris Vodafone Three. Transaksi ini akan menghasilkan dana tunai sebesar 4,3 miliar poundsterling.

EtIndonesia. Pada 5 Mei, CK Hutchison mengumumkan bahwa anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki, CK Hutchison Group Telecom Holdings Limited (CKHGT), telah setuju untuk menjual seluruh kepemilikannya di Vodafone Three. Melalui pembatalan sahamnya di perusahaan tersebut, CK Hutchison akan menerima pembayaran sebesar 4,3 miliar pound (sekitar 45,494 miliar dolar Hong Kong).

Setelah kabar ini dirilis, harga saham CK Hutchison sempat melonjak tajam sebelum akhirnya sedikit terkoreksi. Hingga penutupan perdagangan, saham berada di level 68 dolar Hong Kong per lembar, naik 4,13%, dengan kapitalisasi pasar terbaru mencapai 260,4 miliar dolar Hong Kong.

Menurut data publik, CKHGT memegang 49% saham, sementara Vodafone Group Plc memegang 51% sisanya. Kedua perusahaan telah menandatangani perjanjian pada Juni 2023 dan menyelesaikan merger pada tahun 2025.

Co-Managing Director CK Hutchison, Canning Fok dan Alex Chisholm, menyatakan bahwa transaksi ini merupakan situasi saling menguntungkan bagi grup dan mitra, serta membawa arus kas besar dan merealisasikan nilai investasi secara nyata.

Dalam beberapa tahun terakhir, grup CK Hutchison telah beberapa kali mengurangi investasinya di Inggris.

Pada Januari 2026, kelompok CK Hutchison (dipimpin oleh CK Infrastructure) telah menyelesaikan penjualan seluruh kepemilikan di perusahaan penyewaan kereta Inggris UK Rails (Eversholt Rail). Transaksi ini disetujui oleh otoritas persaingan Inggris, dengan pembeli adalah perusahaan leasing kereta Eropa Beacon.

Kemudian pada 26 Februari, kelompok Cheung Kong mengumumkan secara bersama bahwa perusahaan-perusahaan di bawah keluarga Li Ka-shing—termasuk CK Infrastructure, CK Hutchison, Power Assets Holdings, dan CK Asset Holdings—sepakat menjual seluruh saham mereka di perusahaan jaringan listrik Inggris UK Power Networks kepada Engie dengan harga 10,5 miliar pound. Transaksi tersebut disetujui dengan mayoritas besar dalam rapat umum pemegang saham pada 27 April.

Saat mengakuisisi UK Power Networks pada tahun 2010, kelompok ini mengeluarkan hampir 5,8 miliar pound. Dengan harga jual saat ini sebesar 10,5 miliar pound, nilainya hampir meningkat dua kali lipat.

Media Hong Kong sebelumnya melaporkan bahwa nilai pasar UK Power Networks saat ini mencapai 16,838 miliar pound. Ditambah dengan dividen sekitar 4,4 miliar pound yang telah diterima keluarga Li selama bertahun-tahun, total keuntungan dari investasi selama 16 tahun ini diperkirakan melebihi enam kali lipat.

Dua transaksi besar tersebut dinilai oleh pihak luar sebagai sinyal penting bahwa kelompok CK Hutchison sedang menarik diri dari Inggris, meskipun pihak perusahaan tidak memberikan tanggapan langsung mengenai hal tersebut.

Sumber : NTDTV.com

Modus Baru Penipuan Pencucian Uang di Tiongkok : Menyerahkan Rekening Bisa Berujung Penjara

EtIndonesia. Di Tiongkok, kasus penipuan terus bermunculan, bahkan ada warga yang tanpa sadar terseret ke dalam kasus pencucian uang. Para pelaku menggunakan berbagai modus seperti “kerja paruh waktu dengan imbalan tinggi” atau “memanipulasi arus transaksi untuk pinjaman” guna menipu korban agar memberikan rekening bank mereka, sehingga dana ilegal dapat “dicuci” menjadi tampak sah. Akibatnya, korban tidak hanya mengalami pembekuan rekening, tetapi juga menghadapi ancaman hukuman penjara.

Metode penipuan di Tiongkok sangat beragam. Banyak warga tertipu dan menyerahkan rekening mereka untuk membantu pencucian uang. Bahkan ada toko dan perusahaan yang menerima pembayaran yang ternyata merupakan uang hasil kejahatan, sehingga rekening mereka dibekukan dan polisi meminta pengembalian dana, yang akhirnya menyebabkan operasional usaha terhenti.

Seorang anggota keluarga korban bermarga Liu (nama samaran) mengatakan:
“Adik saya bekerja sebagai kurir (melalui aplikasi), menerima satu pesanan, lalu ditransfer 13.000 yuan untuk menerima pembayaran barang. Namun kemudian pemilik barang mengatakan pesanan dibatalkan dan meminta adik saya menarik uang itu untuk diserahkan kembali. Tidak lama kemudian, dia dibawa oleh kantor polisi setempat.”

Korban lain bermarga Zhang (nama samaran) mengungkapkan bahwa karena ketidaktahuannya, ia menjadi kaki tangan dalam pencucian uang oleh pelaku penipuan. Korban tersebar di seluruh negeri, dan polisi dari berbagai daerah secara bergantian menetapkan dirinya sebagai tersangka, membuatnya sangat terbebani.

Zhang mengatakan:  “Saat mencari kerja paruh waktu, saya menemukan sebuah situs. Mereka memindahkan kepemilikan sebuah perusahaan ke atas nama saya, meminta saya menandatangani surat pernyataan, lalu membuka rekening perusahaan. Total transaksi mencapai 5 juta yuan, dengan transaksi tunggal sekitar 9.800 yuan. Korbannya sangat banyak. Polisi sudah datang—di Anhui saya didakwa ‘membantu kejahatan’, di Sichuan didakwa ‘menyembunyikan hasil kejahatan’. Saya ditahan selama 21 hari, lalu dikenakan tahanan rumah.”

Diketahui, pelaku pencucian uang sering menggunakan dalih “imbal hasil tinggi” atau “membantu memperlancar pinjaman” untuk memancing pekerja paruh waktu agar menyerahkan rekening mereka. Melalui “platform perantara dana (running score)”, sejumlah besar uang dipecah dan dialirkan sehingga tampak sebagai sumber yang sah. Komisi dari aktivitas ini bahkan bisa mencapai 50%.

Seorang anggota kelompok “running score” mengungkapkan bahwa mereka membantu mencuci uang hasil penipuan dengan berpura-pura mengajukan pinjaman, serta merekrut orang secara online. Mereka menawarkan komisi 10% hingga 18% bagi siapa saja yang menyediakan kartu bank, akun WeChat, atau kode pembayaran Alipay. Ia sendiri bisa memperoleh pendapatan 100.000 hingga 200.000 yuan per bulan.

Anggota kelompok tersebut bermarga Yang (nama samaran) mengatakan:  “Saya merekrut orang untuk ‘memikul utang’ atas nama pinjaman. Klien datang untuk pinjaman, lalu dikatakan bahwa arus transaksi mereka tidak cukup dan perlu ‘dipoles’, padahal sebenarnya itu adalah aktivitas pencucian uang. Kami juga memasang iklan, menawarkan 10% komisi untuk yang ikut, dan untuk kode QR online bisa 15% sampai 18%.”

Seorang pengacara bermarga Wu mengungkapkan bahwa salah satu kliennya dijatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara karena membantu teman mentransfer hampir 1 juta yuan. Saat itu, temannya beralasan kartu banknya diblokir dan meminta bantuan untuk menerima uang dengan imbalan tertentu. Ternyata uang tersebut adalah hasil kejahatan.

Pengacara Wu mengatakan:  “Undang-undang anti-penipuan telekomunikasi secara jelas melarang memberikan kartu bank kepada orang lain, membantu penarikan tunai, transfer, atau manipulasi arus transaksi. Orang-orang yang terlibat dalam ‘running score’ ini sebenarnya juga tertipu, tetapi karena ikut terlibat, mereka akhirnya memiliki catatan kriminal.”

Laporan oleh Xiong Bin dan Huang Yuning, NTDTV.

Para Praktisi Falun Gong di Luar Negeri Memohon Perhatian Internasional untuk Menyelamatkan Anggota Keluarga Mereka di Daratan Tiongkok

EtIndonesia. Pada 15 April 2026, otoritas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, mengerahkan sejumlah besar polisi dan menangkap sekitar 17 praktisi Falun Gong di kawasan Distrik Baru Changjiang dan Distrik Xinzhou. Saat ini, setidaknya 4 praktisi masih ditahan secara ilegal di pusat penahanan dan fasilitas “cuci otak”, dengan kondisi hidup dan mati yang belum diketahui.

Di antaranya, keluarga dari Wang Youmei dan Tong Shuying yang berada di Amerika Serikat menyatakan kepada media ini bahwa mereka telah meminta bantuan dari masyarakat internasional, serta menyerukan tekanan terhadap Partai Komunis Tiongkok agar membebaskan para praktisi Falun Gong.

Saat ini, putri Wang Youmei dan kakak perempuan Tong Shuying telah mengirim surat kepada sejumlah anggota Kongres federal dan anggota legislatif negara bagian di Maryland dan New York, meminta bantuan untuk upaya penyelamatan.

Kakak perempuan Tong Shuying, Tong Shuzhen, mengatakan:  “(PKT) bisa menangkap siapa saja yang mereka mau dan menahan selama yang mereka inginkan. PKT harus segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. Menjadi orang baik bukanlah kesalahan.”

Putri Wang Youmei, Alisa Zhou, mengatakan:  “Ketika saya berusia sembilan tahun, ada satu kejadian di mana para tetangga keluar untuk menghentikan polisi. Mereka berkata, ‘Mengapa kalian (polisi PKT) selalu menangkap orang baik, bukan orang jahat?’”

Kedua praktisi Falun Gong di Amerika Serikat tersebut menyatakan bahwa, seperti ratusan juta praktisi lainnya, banyak anggota keluarga mereka mengalami peningkatan moral setelah berlatih Falun Dafa, dan berbagai penyakit, termasuk penyakit serius, hilang tanpa jejak.

Namun, akibat penganiayaan oleh PKT, sejak Wang Youmei datang ke AS pada tahun 2019 untuk mengunjungi putrinya, ibu dan anak itu tidak pernah bisa berkumpul kembali.

Pada 20 Juli 2025, praktisi Falun Gong di wilayah New York dan sekitarnya mengadakan parade akbar di Pecinan Manhattan, menyerukan diakhirinya penganiayaan PKT terhadap praktisi Falun Gong dan mendukung 449 juta rakyat Tiongkok yang telah mengundurkan diri dari PKT, Liga Pemuda Komunis, dan Pionir Muda. (Dai Bing/The Epoch Times)

Alisa Zhou mengatakan:  “Sebelum penganiayaan pada tahun 1999, ibu saya menderita penyakit ginekologi. Kakek dan nenek saya harus mengeluarkan lebih dari 3.000 yuan setiap bulan untuk berobat dan membeli obat, dan kamar mereka penuh dengan botol obat. Tetapi setelah berlatih, hanya dalam beberapa bulan, penyakit ibu saya sembuh, kakek dan nenek saya juga menjadi sehat, tidak perlu minum obat lagi, dan semua botol obat itu akhirnya dibuang.”

Tong Shuzhen mengatakan:  “Berbagai penyakit saya juga cepat hilang. Jika di dunia ini semua orang mengikuti prinsip ‘Sejati, Baik, Sabar’ untuk menjadi orang baik, dan saling berbuat baik tanpa saling menipu, betapa indahnya masyarakat ini.”

Menurut laporan Minghui.org berjudul “Ringkasan Penganiayaan terhadap Praktisi Falun Gong di Wuhan Tahun 2025”, pada tahun 2025 terdapat 9 praktisi di Wuhan yang dijatuhi hukuman ilegal, 48 orang ditangkap, dan 16 orang ditahan secara ilegal serta dipaksa mengikuti sesi “cuci otak”.

Tong Shuzhen juga menambahkan:  “Saya ditangkap, adik saya ditangkap, bergantian tanpa henti. Sejak tahun 1999, kami berdua telah ditangkap sebanyak sembilan kali. Saat saya dimasukkan ke mobil polisi, anak saya berlari di belakang sambil menangis dan memanggil ‘Mama, Mama’.”

Saat ini, World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (Organisasi Dunia untuk Menyelidiki Penganiayaan terhadap Falun Gong) telah mengeluarkan pemberitahuan penyelidikan terhadap sejumlah pejabat yang dianggap bertanggung jawab, termasuk pejabat Komite Politik dan Hukum di Distrik Baru Changjiang, serta aparat kepolisian terkait. Mereka diharapkan tidak mengikuti kebijakan PKT dalam menganiaya praktisi Falun Gong.

Setidaknya 70 juta warga Tiongkok telah mempraktikkan Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, pada akhir 1990-an, menurut survei pemerintah saat itu. Banyak di antara mereka menyebut manfaat kesehatan dari latihan tersebut serta filosofi moralnya yang berpusat pada prinsip universal Sejati, Baik, dan Sabar.

Karena menilai popularitas Falun Gong yang melonjak mengancam otoritas rezim, Jiang Zemin, pemimpin tertinggi Tiongkok saat itu, memerintahkan agar latihan tersebut diberantas pada 20 Juli 1999. Sejak itu, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah mengerahkan seluruh aparat keamanannya untuk melacak, menangkap, dan menahan para praktisi di penjara, pusat pencucian otak, dan berbagai fasilitas lainnya. Banyak yang mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.

Moderator internet di Tiongkok juga menghapus setiap rujukan tentang Falun Gong di luar narasi resmi yang mendiskreditkannya, menjadikannya salah satu topik yang paling ketat disensor di Tiongkok.

Laporan oleh Yu Liang, Tang Cheng, dan Shang Jing dari New York.

Briefing Perdana Marco Rubio di Gedung Putih : Tanggapan Besar terhadap Praktik Pengambilan Organ yang Diluncurkan Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk pertama kalinya menggantikan tugas memimpin konferensi pers di Gedung Putih pada Selasa (5/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengecam keras Iran karena memblokade selat secara ilegal, menyebutnya sebagai “perompak internasional”, dan menegaskan bahwa militer AS telah membangun jaringan pertahanan yang kuat untuk menghadapi provokasi kapan saja.

Dua wartawan dari NTDTV dan media afiliasinya, The Epoch Times, masing-masing mendapat kesempatan bertanya. Mereka mengangkat sejumlah isu yang menjadi perhatian komunitas Tionghoa, termasuk dugaan praktik pengambilan organ hidup oleh PKT.

Wartawan NTDTV, Mari Otsu :  “Anda telah lama menjadi salah satu suara penting dalam isu hak asasi manusia di Tiongkok, termasuk penindasan agama dan pengambilan organ hidup. Presiden Donald Trump akan bertemu dengan Xi Jinping minggu depan. Apakah isu HAM akan menjadi bagian dari pembahasan?”

Gambar menunjukkan pada 16 Mei 2019, para praktisi Falun Gong berparade di Manhattan, menyerukan kepada masyarakat dunia untuk memperhatikan kekejaman pengambilan organ hidup oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Edward Dye/The Epoch Times edisi bahasa Inggris)

Marco Rubio:  “Kami selalu mengangkat isu-isu ini, dan masalah tersebut masih terus ada. Dalam beberapa situasi, kami telah menunjukkan bahwa mengangkat isu-isu ini pada kesempatan yang tepat adalah cara paling efektif. Namun kami tidak pernah berhenti menyuarakannya. Isu-isu ini sangat penting bagi kami dan juga pihak lain. Kami melihat bahwa masalah ini masih sangat menonjol, sehingga tetap menjadi bagian penting dalam diskusi kami. Kami akan terus mengangkatnya pada kesempatan yang tepat.”

Wartawan The Epoch Times, Emel Akan:  “Apa tanggapan Anda terkait rencana kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Tiongkok, serta instruksi Beijing kepada perusahaannya untuk mengabaikan sanksi AS?”

Rubio:  “Saya akan mengarahkan pertanyaan itu ke Departemen Keuangan. Namun secara umum, kami memiliki sejumlah langkah respons. Jika (PKT) mengabaikan sanksi kami, maka perusahaan-perusahaan tersebut akan menghadapi sanksi sekunder. Saya tidak memiliki pengumuman baru hari ini, tetapi tindakan sanksi ini bukan sekadar simbolis.

“Mengenai poin pertama (kunjungan Menteri Luar Negeri Iran), saya tidak keberatan. Saya berharap pihak PKT dapat menyampaikan kepada Iran hal-hal yang perlu mereka ketahui, yaitu bahwa tindakan mereka di Selat Hormuz telah menyebabkan mereka semakin terisolasi secara global.

“Anda (Iran) bertindak buruk. Anda tidak seharusnya menyerang kapal, memasang ranjau laut, atau mencoba menyandera ekonomi global.”

“Saya berharap PKT dapat menyampaikan pesan ini, baik secara pribadi maupun terbuka. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Tiongkok adalah ekonomi yang berorientasi ekspor. Artinya mereka bergantung pada negara lain untuk membeli barang dari mereka.”

“Jika negara lain tidak dapat mengirim barang, maka mereka tidak bisa membeli dari Tiongkok. Jika ekonomi global terganggu akibat tindakan Iran, maka pembelian dari Tiongkok juga akan terganggu. Menghentikan blokade selat mungkin tidak menguntungkan Iran, tetapi jelas menguntungkan Tiongkok. Blokade tersebut merugikan kepentingan Tiongkok.”

Dalam konferensi pers tersebut, Rubio juga mengonfirmasi bahwa operasi militer AS “Epic Fury” telah berakhir, dan saat ini beralih ke operasi “Free Plan”.

Ia menambahkan, jika Iran memiliki senjata nuklir, harga minyak di AS saat ini mungkin sudah mencapai 8 hingga bahkan lebih dari 9 dolar per galon, bukan hanya sedikit di atas 4 dolar seperti sekarang.

Laporan oleh Ren Hao, NTDTV, dari Washington DC.

Ribuan Kapal Terkunci, Rudal Mengintai: Drama Mencekam di Selat Hormuz

EtIndonesia — Ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru setelah Amerika Serikat secara resmi memulai operasi pengawalan militer di Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi penghubung utama distribusi energi dunia.

Pada 4 Mei 2026, Angkatan Laut Amerika Serikat mengerahkan sejumlah kapal perusak berpeluru kendali dengan sistem Aegis untuk memasuki selat sempit tersebut. Langkah ini menandai dimulainya implementasi awal dari operasi yang dikenal sebagai “Project Freedom”, sebuah misi yang secara resmi bertujuan menjamin kebebasan navigasi internasional.

Namun di balik tujuan tersebut, banyak analis menilai bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas dari Presiden Donald Trump dalam membentuk ulang tatanan global di era konflik multipolar.


Ribuan Kapal Terjebak, Puluhan Ribu Awak dalam Ancaman

Pada pagi hari 5 Mei 2026, perhatian dunia tertuju pada konferensi pers militer yang digelar oleh Pentagon. Dalam pernyataannya, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Charles Q. Brown Jr., mengungkapkan situasi yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data terbaru:

  • Lebih dari 1.550 kapal dagang dari berbagai negara terjebak di kawasan Teluk Persia
  • Sekitar 22.500 awak kapal berada dalam kondisi terancam
  • Ancaman berasal dari rudal, drone, serta kapal cepat milik Garda Revolusi Iran

Menurut pihak AS, praktik intimidasi dan pungutan paksa oleh Iran membuat para awak kapal ini praktis menjadi “sandera tidak langsung” dalam konflik yang semakin memanas.

Presiden Trump bahkan menyebut operasi ini sebagai “hadiah Amerika bagi dunia”, meski efektivitasnya masih dipertanyakan. Pada hari pertama, hanya dua kapal yang berhasil dikawal melewati Selat Hormuz.


Strategi “Kubah Merah-Putih-Biru” dan Perang Teknologi Tinggi

Menteri Perang  AS, Pete Hegseth, memperkenalkan konsep baru dalam operasi ini yang disebut sebagai “kubah merah-putih-biru”.

Konsep ini mencakup:

  • Pembentukan satu koridor pelayaran aman
  • Perlindungan penuh dari ancaman udara, laut, dan bawah laut
  • Respons militer langsung terhadap setiap gangguan

Berbeda dengan pengawalan konvensional, operasi ini melibatkan:

  • Sekitar 15.000 pasukan elite
  • Kapal perusak Aegis
  • Helikopter Apache
  • Ratusan pesawat tempur dan drone
  • Sistem pertahanan rudal terintegrasi

Lebih jauh, operasi ini dikendalikan oleh Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division) dengan sistem komando berbasis data global. Teknologi kecerdasan buatan (AI) disebut mampu:

  • Mendeteksi ancaman lebih awal
  • Menghitung lintasan rudal
  • Mengaktifkan sistem pencegat secara otomatis

Bentrokan Langsung dan Gangguan Misterius di Laut

Pada hari yang sama, dua kapal perusak AS—USS Truxtun dan USS Mason—berhasil menembus Selat Hormuz di tengah ancaman serangan dari Iran.

Serangan berupa:

  • Drone tempur
  • Rudal
  • Kapal cepat

dibalas oleh:

  • Helikopter Apache
  • Pesawat tempur AS

Hasilnya, kapal-kapal tersebut berhasil memasuki Teluk Persia tanpa kerusakan berarti.

Namun, di tengah operasi militer, muncul fenomena aneh berupa:

  • Gangguan sinyal besar-besaran
  • Kapal-kapal “menghilang” dari radar
  • Jalur navigasi yang tidak masuk akal

Hal ini memicu spekulasi adanya perang elektronik skala besar di kawasan tersebut.


Iran Membantah, Dunia Mulai Bereaksi

Iran sempat mengklaim bahwa tidak ada kapal yang berhasil melewati selat di bawah pengawalan AS. Namun klaim ini dibantah oleh perusahaan pelayaran global Maersk, yang mengonfirmasi keberhasilan salah satu kapalnya melintas dengan aman.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyindir Garda Revolusi Iran sebagai:

“bajak laut kacau dengan angkatan laut nyamuk”

Karena kesulitan menghadapi kekuatan militer AS secara langsung, Iran mulai mengubah strategi, termasuk:

  • Merilis peta baru yang memperluas klaim wilayah hingga perairan Uni Emirat Arab
  • Meluncurkan kembali serangan rudal dan drone ke UEA

Ketegangan Internal Iran dan Manuver Diplomatik

Menurut laporan media internasional, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan marah besar atas eskalasi militer tersebut. Ia bahkan meminta pertemuan darurat dengan Pemimpin Tertinggi Mujtaba Khamenei.

Pezeshkian menilai langkah militer yang agresif berpotensi:

  • Mempercepat instabilitas internal
  • Memicu runtuhnya sistem negara

Di tengah tekanan global, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan langkah diplomatik dengan terbang ke Beijing untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok, Wang Yi.


Respons Global: Dari Korea Selatan hingga Jerman

Ketegangan di Selat Hormuz memicu respons internasional:

  • Korea Selatan berencana mengirim kapal perang (estimasi tiba dalam dua minggu)
  • Jerman mengumumkan pengiriman kapal penyapu ranjau, meski hanya akan beroperasi pascakonflik

Sementara itu di Washington, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengambil alih briefing Gedung Putih dan memperingatkan:

Tidak ada negara yang boleh menguji tekad Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.


Dampak Global: Ukraina Serang Moskow, Rusia Siaga Penuh

Di luar Timur Tengah, konflik global juga semakin meluas.

Amerika Serikat menyetujui penjualan senjata senilai 373 juta dolar kepada Ukraina, termasuk:

  • 1.500 kit bom pintar JDAM

Tak lama setelah itu, drone Ukraina jenis FP-1 berhasil:

  • Menembus sistem pertahanan udara Rusia
  • Mencapai wilayah dekat Kremlin di Moskow

Serangan ini terjadi menjelang Hari Kemenangan Rusia (9 Mei)—momen penting bagi Presiden Vladimir Putin.

Akibatnya:

  • Bandara di Moskow ditutup
  • Internet terganggu
  • Layanan publik lumpuh

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan menyindir bahwa jika parade militer Rusia tanpa senjata terjadi, itu akan menjadi pertama dalam sejarah—sementara drone Ukraina mungkin “hadir” sebagai pengganti.


Kesimpulan: Dunia di Titik Kritis

Perkembangan dalam dua hari, 4–5 Mei 2026, menunjukkan bahwa konflik di Selat Hormuz bukan sekadar krisis regional, melainkan bagian dari dinamika global yang lebih besar.

Dengan:

  • Ribuan kapal terjebak
  • Kekuatan militer besar dikerahkan
  • Teknologi perang modern digunakan
  • Konflik meluas hingga Eropa Timur

dunia kini berada di ambang perubahan besar dalam tatanan geopolitik internasional. (***)

23 Ribu Orang Terjebak, Drone Menghantam, Tanker Hilang—Lalu Kenapa Operasi Project Freedom Dihentikan?

EtIndonesia — Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik paling kritis ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan bahwa kekuatan militer Iran telah “hancur total”. 

Pernyataan tersebut disampaikan langsung kepada publik dunia pada 5 Mei 2026, di tengah konflik yang terus memanas di sekitar Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global.

Trump menegaskan bahwa angkatan laut Iran telah dilumpuhkan sepenuhnya, angkatan udara “musnah”, sistem pertahanan udara tidak lagi berfungsi, bahkan struktur kepemimpinan disebut telah runtuh. Dalam nada tegas, ia juga secara terbuka menyerukan kepada Teheran untuk mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.


Gedung Putih Ambil Langkah Luar Biasa, “Project Freedom” Resmi Diluncurkan

Pada hari yang sama, Gedung Putih mencatat sejarah baru ketika Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, secara langsung memimpin konferensi pers—menggantikan juru bicara resmi yang sedang cuti.

Dalam kesempatan tersebut, Rubio secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer bertajuk “Project Freedom” (Rencana Kebebasan). Operasi ini dirancang untuk:

  • Menyelamatkan sekitar 23.000 warga sipil dari 87 negara
  • Membantu kapal-kapal dagang yang terjebak lebih dari dua bulan akibat blokade Iran
  • Menjamin kembali keamanan jalur pelayaran internasional di Teluk Persia

Rubio menegaskan bahwa operasi ini bersifat defensif, bukan ofensif. Militer AS tidak akan melakukan serangan lebih dahulu, kecuali jika diserang oleh rudal atau drone dari Iran.

“Ini adalah tindakan untuk melindungi keselamatan internasional. Tidak ada negara yang berhak menguasai jalur perairan global,” tegas Rubio.


Situasi Masih Tidak Stabil, Serangan dan Insiden Terus Berlanjut

Meski muncul sinyal menuju gencatan senjata, kondisi di lapangan justru menunjukkan eskalasi yang belum mereda.

Pada 5 Mei 2026, sejumlah insiden serius dilaporkan:

  • Serangan terhadap kapal dagang masih terjadi di Selat Hormuz
  • Sebuah kapal diserang objek tak dikenal menurut laporan otoritas maritim Inggris
  • Dua pesawat tanker militer AS (KC-135 dan KC-46A Pegasus) mengirimkan sinyal darurat 7700, bahkan salah satunya dilaporkan sempat menghilang dari radar
  • Aktivitas pesawat tanker di wilayah udara Teluk Persia meningkat drastis sebelum akhirnya sebagian besar meninggalkan area pasca-insiden

Di daratan, situasi juga semakin genting:

  • Kebakaran besar melanda sebuah pusat perbelanjaan di Teheran
  • Serangkaian ledakan mengguncang pelabuhan Abbas dan Pulau Qeshm di Iran selatan
  • Serangan drone Iran menghantam fasilitas energi di Dubai, memicu kebakaran besar dan korban luka

Insiden ini langsung memicu kekhawatiran global terhadap keamanan energi dan menyebabkan fluktuasi tajam harga minyak dunia.


Pentagon Bangun “Perisai Langit” di Atas Hormuz

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam briefing di Pentagon mengungkapkan bahwa Amerika telah membangun sistem pertahanan rudal berlapis di atas Selat Hormuz.

Ia menggambarkan sistem ini sebagai:

“Kubah pertahanan tiga warna merah-putih-biru yang aktif 24 jam, menyerupai sistem pertahanan era luar angkasa.”

Sistem ini didukung oleh:

  • Kapal perusak berpeluru kendali
  • Ratusan pesawat tempur dan helikopter
  • Drone dan pesawat pengintai
  • Sistem pemantauan real-time tanpa henti

Trump Tiba-Tiba Hentikan Operasi, Alasan Diplomatik Mengemuka

Di tengah operasi yang sedang berjalan, Trump kembali mengejutkan dunia dengan mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa “Project Freedom” akan dihentikan sementara.

Keputusan ini diambil berdasarkan:

  • Permintaan dari Pakistan dan sejumlah negara lain
  • Klaim keberhasilan besar operasi militer terhadap Iran
  • Kemajuan signifikan dalam negosiasi menuju kesepakatan final

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa blokade terhadap Iran tetap diberlakukan secara penuh.

“Penghentian ini untuk memberi ruang bagi tercapainya kesepakatan damai secara resmi,” jelasnya.


Serangan Iran Terus Berlanjut Meski Ada Gencatan Senjata

Menurut pejabat militer senior AS, sejak gencatan senjata diumumkan pada 7 April 2026, Iran masih terus melakukan aksi militer:

  • 9 serangan terhadap kapal dagang
  • 2 kapal kontainer ditahan
  • Lebih dari 10 serangan terhadap pasukan AS, termasuk drone dan rudal ke wilayah Uni Emirat Arab dan Oman

Meski demikian, pihak militer AS menilai situasi belum mencapai titik yang mengharuskan dimulainya kembali operasi besar-besaran—namun kesiapan penuh tetap dijaga.


Trump: “Ini Hanya Konflik Skala Kecil”

Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada 5 Mei 2026, Trump kembali menegaskan keyakinannya bahwa Iran telah berada di posisi yang sangat lemah.

“Saya menyebut ini konflik skala kecil, karena Iran sama sekali tidak punya peluang untuk menang. Mereka tahu itu, bahkan mengakuinya saat berbicara dengan saya. Tapi di televisi mereka tetap membanggakan diri. Faktanya, mereka sudah kalah total.”


Dunia Menahan Napas, Risiko Perang Regional Semakin Nyata

Perkembangan dramatis pada 5 Mei 2026 ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai terbuka, ancaman konflik berskala besar di Timur Tengah masih sangat nyata.

Dengan Selat Hormuz sebagai urat nadi energi dunia, setiap eskalasi kecil berpotensi memicu dampak global—mulai dari krisis energi hingga ketidakstabilan ekonomi internasional.

Saat ini, dunia berada dalam posisi menunggu:
apakah langkah penghentian sementara ini akan benar-benar membuka jalan menuju perdamaian,
atau justru menjadi jeda singkat sebelum konflik yang lebih besar meledak. (***)

Trump Bongkar Pertempuran di Hormuz: “2 Detik, 8 Kapal Iran Jadi Rongsokan!”

EtIndonesia. Situasi di kawasan Selat Hormuz kembali berubah drastis pada 5 Mei 2026. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan penghentian sementara operasi militer “Project Freedom”, hanya beberapa jam setelah bentrokan sengit antara militer Amerika Serikat dan Iran terjadi di kawasan Teluk Persia.

Pengumuman itu disampaikan Trump sekitar pukul 19.00 waktu Pantai Timur Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan penghentian sementara operasi dilakukan untuk memberi kesempatan bagi proses negosiasi damai dengan Iran.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa blokade terhadap Iran tetap dipertahankan sepenuhnya.

Ia juga menyebut bahwa operasi militer Amerika Serikat telah mencapai “keberhasilan besar” dan pembicaraan mengenai “kesepakatan menyeluruh dan final” dengan Iran mengalami kemajuan signifikan.

Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi internasional bahwa Washington dan Teheran kemungkinan sedang bergerak menuju sebuah kesepakatan besar dalam beberapa hari ke depan.

Pentagon Bongkar Sistem Pertahanan Raksasa AS

Pada 5 Mei 2026 pagi, Menteri Perang AS Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menggelar konferensi pers di Pentagon.

Dalam konferensi tersebut, Pentagon membeberkan detail operasi “Freedom” yang selama beberapa hari terakhir dijalankan di Selat Hormuz.

Hegseth mengatakan militer AS telah membangun sistem pengamanan udara dan laut berlapis yang ia sebut sebagai “kubah merah-putih-biru” untuk melindungi kapal dagang internasional selama 24 jam penuh.

Menurut Pentagon, operasi tersebut melibatkan lebih dari 100 pesawat tempur dan drone, kapal perang, sistem anti-rudal, serta pengawasan udara intensif di kawasan Teluk Persia.

Pengamat militer menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak sekadar melakukan pengawalan kapal, melainkan sedang mengambil alih kendali penuh atas jalur laut dan udara di kawasan strategis tersebut.

Kapal Perang AS Tembus Blokade Iran

Pada hari yang sama, dua kapal perusak Amerika Serikat berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia meski mendapat serangan dari Iran.

Laporan menyebutkan kapal perang AS menjadi sasaran drone, rudal, dan kapal cepat milik Iran. Namun armada Amerika mendapat perlindungan penuh dari helikopter Apache, Seahawk, dan berbagai pesawat tempur pendukung lainnya.

Trump mengungkapkan bahwa Iran mengirim delapan kapal cepat untuk menyerang garis blokade militer AS. Namun seluruh kapal tersebut berhasil dihancurkan dalam waktu singkat.

Dalam wawancara di Ruang Oval Gedung Putih, Trump bahkan sempat melontarkan candaan:

“Kapal mereka cepat, tapi rudal kami lebih cepat.”

Trump juga menegaskan bahwa kekuatan militer Iran dan Amerika Serikat “tidak berada pada level yang sama”.

Menurutnya, kapal cepat Iran tidak mampu menembus pertahanan kapal perang Amerika yang dirancang khusus untuk menghadapi pertempuran berat.

Dua Kapal Dagang Berhasil Keluar dari Selat Hormuz

Media Axios melaporkan bahwa sebelum operasi “Freedom” dimulai, Gedung Putih sebenarnya telah memperingatkan Iran agar tidak mengganggu pengawalan kapal dagang oleh militer Amerika.

Namun hanya dua jam setelah peringatan diberikan, Iran justru melancarkan serangan.

Meski begitu, dua kapal dagang akhirnya berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan aman di bawah perlindungan armada Amerika Serikat.

Salah satu kapal yang dikawal merupakan kapal milik Maersk, perusahaan pelayaran terbesar kedua di dunia asal Denmark.

Keberhasilan pengawalan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa perusahaan pelayaran internasional mulai percaya pada kemampuan militer AS dalam menjaga keamanan jalur perdagangan global.

Iran Bantah Serang Uni Emirat Arab

Ketegangan kawasan semakin meningkat setelah Iran dituduh meluncurkan 19 rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke arah Uni Emirat Arab pada 4 Mei 2026.

Sebuah kapal kargo Korea Selatan juga dilaporkan terkena ledakan dalam insiden tersebut.

Serangan itu memicu kecaman keras dari banyak negara, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, India, Italia, dan Uni Eropa.

Namun pada 5 Mei, militer Iran mengeluarkan tiga pernyataan resmi yang membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak pernah menyerang UEA menggunakan rudal maupun drone.

Di sisi lain, UEA dilaporkan mulai melancarkan serangan udara balasan terhadap sejumlah target militer Iran, termasuk pangkalan Garda Revolusi Iran dan fasilitas minyak di Bandar Abbas.

Korea Selatan Mulai Pertimbangkan Bergabung

Perkembangan penting lainnya datang dari Korea Selatan. Pemerintah Seoul dikabarkan mulai meninjau kemungkinan bergabung dalam operasi “Freedom” yang dipimpin Amerika Serikat.

Jika keputusan itu disetujui, Korea Selatan akan menjadi negara Asia pertama yang ikut dalam operasi militer internasional di Selat Hormuz.

Padahal sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung sempat memberikan bantuan kemanusiaan kepada Iran pada April 2026.

Trump Beri Sinyal Dukungan untuk Warga Iran

Dalam wawancara lain pada 4 Mei 2026, Trump juga mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengatakan bahwa rakyat Iran membutuhkan senjata untuk melawan rezim mereka sendiri.

Trump menyebut bahwa tanpa senjata, warga sipil Iran tidak akan mampu menghadapi aparat bersenjata pemerintah.

Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Amerika Serikat mungkin sedang mempertimbangkan dukungan lebih besar terhadap kelompok oposisi di Iran.

Kini perhatian dunia tertuju pada langkah Trump yang tiba-tiba menghentikan sementara operasi “Freedom”, sementara di saat yang sama Menteri Luar Negeri Iran justru melakukan perjalanan penting ke Tiongkok.

Banyak pihak menilai Timur Tengah saat ini berada di persimpangan paling berbahaya: menuju kesepakatan damai besar atau justru memasuki konflik regional yang lebih luas. (***)

AS vs Iran Makin Gila-Gilaan: Selat Hormuz Dikepung, Fujairah Dibakar, Dunia Terancam Krisis Energi

EtIndonesia. Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase paling berbahaya pada 4 hingga 5 Mei 2026. Ketegangan yang sebelumnya hanya berupa saling ancam antara Iran dan Amerika Serikat kini berubah menjadi bentrokan militer terbuka di sekitar Selat Hormuz—jalur laut paling vital bagi perdagangan energi dunia.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, kawasan tersebut menyaksikan serangkaian peristiwa dramatis: pengawalan kapal dagang oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, serangan rudal dan drone Iran terhadap armada AS, penghancuran kapal cepat Iran oleh militer Amerika, hingga gelombang serangan udara besar-besaran Iran terhadap Uni Emirat Arab (UEA).

Perkembangan ini langsung mengguncang pasar energi global dan memicu kekhawatiran luas bahwa Timur Tengah kini berada di ambang perang regional berskala besar yang dapat menyeret banyak negara ke dalam konflik terbuka.

Amerika Serikat Kerahkan Kekuatan Militer Besar di Selat Hormuz

Pada 5 Mei 2026, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengumumkan bahwa dua kapal perang Angkatan Laut AS berhasil mengawal dua kapal dagang berbendera Amerika Serikat melewati Selat Hormuz dengan aman.

Selat Hormuz merupakan jalur laut paling strategis di dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi wilayah sempit tersebut setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat langsung memengaruhi harga energi dunia, rantai pasok internasional, hingga stabilitas ekonomi global.

Dalam konferensi pers resmi pada 5 Mei, Laksamana Angkatan Laut AS Brad Cooper menegaskan bahwa Washington telah mengerahkan kekuatan tempur besar demi menjamin kebebasan navigasi di kawasan Teluk Persia.

Menurut Cooper, operasi militer Amerika kali ini melibatkan berbagai aset tempur utama, termasuk:

  • Pesawat serang A-10 Thunderbolt II
  • Jet tempur F-15 Eagle
  • F-16 Fighting Falcon
  • F/A-18 Super Hornet
  • F-35 Lightning II
  • Pesawat tanker KC-46 Pegasus
  • Kapal perusak berpeluru kendali
  • Dua kelompok tempur kapal induk
  • Satu kelompok kesiapan amfibi
  • Unit ekspedisi Marinir Amerika Serikat

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa operasi Amerika di Selat Hormuz kini bukan lagi patroli maritim biasa, melainkan operasi militer penuh dengan tingkat kesiapan tempur sangat tinggi.

Analis militer menilai pengerahan kekuatan sebesar ini mencerminkan kekhawatiran Washington bahwa Iran benar-benar siap menutup atau mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Bentrokan Terbuka Pecah: Iran Luncurkan Rudal dan Drone ke Armada AS

Ketegangan kemudian berubah menjadi konfrontasi militer terbuka beberapa jam setelah operasi pengawalan kapal dagang dilakukan.

Media Iran merilis rekaman video yang memperlihatkan peluncuran rudal menuju kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat di wilayah Selat Hormuz.

Menurut penjelasan Laksamana Brad Cooper, Iran meluncurkan rudal jelajah yang menargetkan dua kapal perang AS beserta kapal dagang yang sedang berada di bawah pengawalan militer Amerika.

“Kami mempertahankan diri kami sendiri, dan sesuai janji kami juga melindungi seluruh kapal dagang,” ujar Cooper dalam konferensi pers pada 5 Mei 2026.

Selain rudal, Iran juga mengerahkan sejumlah kapal cepat bersenjata untuk mencoba menyerang kapal-kapal dagang di kawasan tersebut. Namun operasi itu berhasil digagalkan oleh militer Amerika Serikat.

CENTCOM menyatakan bahwa enam kapal cepat Iran berhasil dihancurkan oleh helikopter Apache AH-64 dan helikopter Seahawk milik AS sebelum sempat mendekati armada pengawalan.

Peristiwa ini menjadi salah satu bentrokan langsung paling serius antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Apache dan A-10 Menjadi Tulang Punggung Operasi AS

Dalam konflik terbaru di Selat Hormuz, helikopter Apache dan pesawat serang A-10 disebut menjadi elemen paling penting dalam operasi tempur Amerika Serikat.

Kedua sistem senjata tersebut memang dirancang untuk terbang rendah dengan kecepatan relatif lambat dalam waktu lama. Kemampuan itu membuat mereka sangat efektif untuk patroli maritim, pengintaian, dan pemberian dukungan tembakan berkelanjutan.

Hal ini berbeda dengan jet tempur seperti F-16 atau F-35 yang lebih dirancang untuk operasi udara berkecepatan tinggi dan pertempuran supersonik.

Karena kondisi geografis Selat Hormuz sangat sempit dan padat lalu lintas kapal, penggunaan pesawat yang mampu bertahan lama di ketinggian rendah menjadi jauh lebih efektif.

Kehadiran Apache juga memunculkan spekulasi strategis penting. Karena Apache merupakan aset Angkatan Darat AS, banyak analis militer memperkirakan helikopter tersebut kemungkinan besar diterbangkan dari pangkalan militer Amerika Serikat di dekat Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Jika asumsi itu benar, maka UEA kini telah berubah menjadi salah satu basis operasi utama Amerika Serikat dalam upaya membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Iran Balas Menyerang Uni Emirat Arab

Setelah Amerika Serikat berhasil mengawal kapal dagang melewati Selat Hormuz, Iran langsung melancarkan langkah balasan.

Namun menariknya, Iran tidak menyerang Arab Saudi, Qatar, Kuwait, ataupun Bahrain. Fokus serangan justru diarahkan hampir sepenuhnya kepada Uni Emirat Arab.

Pada malam 4 Mei 2026, Iran meluncurkan serangan besar-besaran menggunakan lebih dari:

  • 12 rudal balistik
  • 3 rudal jelajah
  • 4 drone tempur

Serangan tersebut menyasar sejumlah wilayah strategis di UEA.

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sistem pertahanan udara aktif menembaki langit malam untuk mencegat rudal dan drone yang datang dari arah Teluk Persia.

Beberapa video lain memperlihatkan ledakan besar mengguncang sejumlah titik di Dubai dan Fujairah, sementara sirene darurat meraung di berbagai wilayah.

Langit malam di beberapa kota UEA bahkan tampak memerah akibat kobaran api dan ledakan.

Kapal Kargo Korea Selatan Terbakar Hebat

Salah satu insiden paling mengejutkan dalam serangan tersebut terjadi terhadap kapal barang berbendera Panama yang dioperasikan perusahaan Hyundai asal Korea Selatan.

Sekitar pukul 20.40 waktu setempat pada malam 4 Mei 2026, kapal itu sedang berlabuh di dekat pantai Uni Emirat Arab ketika terkena serangan dan meledak hebat hingga terbakar.

Api besar terlihat membumbung tinggi dari badan kapal, sementara asap hitam pekat memenuhi langit malam.

Beruntung, seluruh 24 awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat, termasuk:

  • 6 warga Korea Selatan
  • 18 awak asing lainnya

Di saat bersamaan, sebuah siaran radio yang diklaim berasal dari Garda Revolusi Iran terdengar mengeluarkan ancaman keras.

“Kapal apa pun yang mencoba melintas akan dihancurkan,” demikian isi siaran tersebut.

Ancaman itu mempertegas bahwa Iran kini benar-benar berusaha menciptakan blokade psikologis terhadap seluruh aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Dubai dan Pelabuhan Fujairah Menjadi Sasaran Strategis

Selain menyerang kapal dagang, Iran juga menghantam sejumlah target strategis di Uni Emirat Arab.

Di Dubai, sebuah drone Iran dilaporkan menghantam target darat dan memicu ledakan besar yang membuat langit malam berubah merah akibat kobaran api.

Dalam rekaman lain, asap hitam tebal terlihat membumbung tinggi dari sebuah gedung apartemen yang diduga terkena serangan drone.

Namun target paling penting Iran tampaknya adalah Pelabuhan Fujairah.

Pelabuhan ini memiliki arti strategis luar biasa bagi Uni Emirat Arab karena menjadi jalur ekspor minyak alternatif yang tidak perlu melewati Selat Hormuz.

Fujairah selama ini dianggap sebagai “jalur cadangan” energi Teluk jika Selat Hormuz sewaktu-waktu ditutup Iran.

Dari berbagai video yang direkam warga dan awak kapal di kawasan tersebut, terlihat area penyimpanan minyak di Pelabuhan Fujairah terbakar hebat. Sirene darurat meraung di seluruh kawasan pelabuhan, sementara ledakan terus terdengar sepanjang malam.

Iran Kirim Pesan Geopolitik: Tidak Ada Jalur Aman untuk Minyak Dunia

Serangan terhadap Fujairah dinilai sebagai pesan geopolitik yang sangat jelas dari Teheran.

Iran ingin menunjukkan bahwa bukan hanya Selat Hormuz yang dapat mereka blokade, tetapi juga jalur alternatif ekspor minyak di luar selat tersebut.

Langkah ini dinilai sangat strategis karena beberapa hari sebelumnya Uni Emirat Arab baru saja mengumumkan keluar dari OPEC dan berencana meningkatkan produksi minyaknya.

Sebagian besar minyak tersebut direncanakan dialirkan melalui jaringan pipa menuju Pelabuhan Fujairah sebelum diekspor ke pasar internasional.

Pipa minyak itu memiliki kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari dan setelah ekspansi diperkirakan dapat meningkat hingga 1,8 juta barel per hari.

Karena itulah, serangan Iran terhadap Fujairah dinilai bukan sekadar aksi militer biasa, melainkan upaya langsung untuk mengguncang stabilitas energi global.

Mengapa Iran Hanya Menyerang Uni Emirat Arab?

Banyak pihak mempertanyakan alasan Iran hanya memusatkan serangan kepada Uni Emirat Arab sementara negara-negara Teluk lainnya relatif tidak tersentuh.

Para analis menilai terdapat dua alasan utama di balik keputusan Teheran.

1. UEA Dinilai Membantu Operasi Militer Amerika

Iran meyakini Uni Emirat Arab telah membantu operasi militer Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Selain menyediakan fasilitas militer dan dukungan logistik, wilayah UEA juga diduga menjadi titik operasi helikopter Apache milik AS yang digunakan untuk menghancurkan kapal cepat Iran.

Dari sudut pandang Teheran, UEA kini bukan lagi negara netral, melainkan bagian dari infrastruktur militer Amerika di kawasan Teluk.

2. Kedekatan Militer UEA dan Israel

Faktor kedua adalah meningkatnya hubungan pertahanan antara Uni Emirat Arab dan Israel.

Dalam beberapa minggu terakhir, media Barat melaporkan bahwa Israel membantu memperkuat pertahanan udara UEA dengan mengirim sistem Iron Dome dan teknologi senjata laser Iron Beam.

Iron Dome sebelumnya dikenal efektif menghadapi serangan roket Hamas, sementara Iron Beam dirancang untuk menghadapi ancaman drone dan rudal murah dalam jumlah besar.

Bagi Iran, kerja sama militer semacam ini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional mereka.

Akankah Uni Emirat Arab Masuk Perang?

Meski menerima serangan udara paling berat sejauh ini, banyak analis menilai kemungkinan Uni Emirat Arab menyatakan perang secara resmi terhadap Iran masih relatif kecil.

Alasan utamanya bersifat strategis dan militer.

UEA dinilai belum memiliki kemampuan tempur yang cukup untuk menghadapi Iran secara langsung tanpa dukungan penuh Amerika Serikat dan Israel.

Selain itu, perang terbuka berkepanjangan berpotensi menghancurkan ekonomi UEA yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, investasi asing, dan stabilitas kawasan.

Karena itu, langkah yang kemungkinan besar akan diambil Abu Dhabi adalah terus mendorong Washington dan Tel Aviv agar meningkatkan tekanan militer terhadap Iran, sambil tetap menghindari keterlibatan perang darat secara langsung.

Namun dengan situasi yang terus memburuk sejak 4–5 Mei 2026, dunia kini mulai khawatir bahwa satu kesalahan kecil saja dapat memicu perang besar yang melibatkan hampir seluruh kawasan Timur Tengah. (***)

OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global, IHSG Terkoreksi 1,30%

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) tetap terjaga meskipun ketidakpastian kondisi global masih berlanjut. Demikian hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 30 April 2026 yang dirilis di Jakarta, Selasa (5/5).

Perang dan blokade di Timur Tengah serta fragmentasi geopolitik masih membayangi prospek ekonomi dunia. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1% dan memperingatkan risiko stagflasi. Namun demikian, ekonomi domestik masih solid dengan pertumbuhan 5,61%, ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

IHSG Terkoreksi, tapi Likuiditas Terjaga

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.956,80 pada April 2026, terkoreksi 1,30% secara bulanan (mtm) dan 19,55% secara tahunan (ytd). Meski demikian, OJK menilai resiliensi dan likuiditas pasar tetap manageable. Rata-rata bid-ask spread tercatat rendah di 1,33 kali, sementara rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp18,51 triliun.

Investor asing mencatatkan net sell di saham sebesar Rp17,02 triliun sepanjang April. Namun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), asing membukukan net buy Rp8,80 triliun secara bulanan.

Jumlah investor pasar modal terus bertambah. Hingga April 2026, tercatat 26,49 juta investor, tumbuh 30,06% secara year-to-date.

Kredit Tumbuh 9,49%, NPL Terjaga

Sektor perbankan menunjukkan kinerja positif. Kredit pada Maret 2026 tumbuh 9,49% year-on-year (yoy) menjadi Rp8.659 triliun. Kredit investasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan 20,85% yoy, disusul kredit konsumsi 5,88% dan modal kerja 4,38%.

Kredit UMKM juga mulai membaik, tumbuh positif 0,12% yoy setelah sempat terkontraksi. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,55% yoy menjadi Rp10.231 triliun.

Risiko kredit tetap terkendali dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,14% dan NPL net 0,83%. Rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 25,09%, jauh di atas ambang batas.

Industri Asuransi dan Dana Pensiun

Aset industri asuransi Maret 2026 mencapai Rp1.195,75 triliun, naik 4,38% yoy. Risk Based Capital (RBC) asuransi jiwa tercatat 474,26% dan asuransi umum 316,32%, jauh di atas ketentuan minimum 120%. Sementara total aset dana pensiun tumbuh 10,49% yoy menjadi Rp1.684,89 triliun.

Pemberantasan Pinjol Ilegal dan Penipuan

OJK melalui Satgas PASTI telah menghentikan 951 entitas pinjaman online ilegal dan 3 investasi ilegal sepanjang 2026 hingga 29 April. Secara akumulasi sejak 2017, total pinjol ilegal yang ditutup mencapai 12.824 entitas.

Melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), OJK bersama perbankan berhasil memblokir 485.758 rekening penipuan dengan total dana korban yang diblokir Rp614,3 miliar. Dana yang telah dikembalikan ke korban mencapai Rp169,3 miliar.

Arah Kebijakan ke Depan

OJK akan terus memantau dinamika global dan melakukan stress test terhadap industri jasa keuangan. Kebijakan pendukung pasar saham seperti buyback tanpa RUPS dan trading halt diperpanjang. OJK juga mendorong reformasi transparansi pasar modal, termasuk kenaikan minimum free float menjadi 15%.

Di sektor riil, OJK mendukung program 3 juta rumah dan UMKM melalui penguatan kebijakan SLIK serta restrukturisasi kredit terdampak bencana yang telah terealisasi Rp17,43 triliun untuk 279 ribu rekening.