BREAKING! Intelijen Israel Bongkar Markas Nuklir Rahasia Iran, Amerika Siapkan Serangan Penentu?

EtIndonesia.com – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang semakin kompleks. Pada Senin malam, 20 Juli 2026, militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran terbaru ke wilayah Iran. Meski intensitas serangan tetap tinggi, sejumlah analis menilai pola operasi Washington kini telah berubah secara signifikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Alih-alih mengarah pada invasi besar-besaran atau perang terbuka, Amerika dinilai mulai menerapkan strategi perang berintensitas rendah (low-intensity warfare) yang bertujuan menggerus kemampuan militer Iran secara bertahap dalam jangka panjang.

Di saat yang sama, gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz semakin parah, propaganda Iran menuai ejekan akibat kesalahan geografis yang fatal, sementara laporan intelijen terbaru mengenai dugaan pemindahan fasilitas pengayaan uranium Iran kembali memicu kekhawatiran dunia internasional.


Amerika Kembali Menghantam Sasaran Strategis Iran

Pada malam 20 Juli 2026, militer Amerika Serikat kembali melancarkan operasi udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis di Iran.

Menurut berbagai laporan militer, operasi yang berlangsung sekitar lima jam tersebut difokuskan pada berbagai fasilitas pertahanan penting di kawasan pesisir selatan Iran.

Beberapa sasaran utama yang menjadi target serangan meliputi:

  • pusat komando militer;
  • sistem pertahanan udara;
  • radar pengawas;
  • lokasi peluncuran rudal balistik;
  • pangkalan peluncuran pesawat nirawak (drone);
  • jaringan komunikasi militer;
  • serta sejumlah infrastruktur pendukung operasi militer Iran.

Serangan dilakukan secara presisi menggunakan kombinasi pesawat tempur, rudal berpemandu, serta berbagai sistem senjata jarak jauh yang dirancang untuk melumpuhkan kemampuan komando dan pengendalian militer Iran.


Strategi Amerika Dinilai Berubah: Bukan Lagi Perang Total

Meski serangan terus berlangsung hampir setiap malam, para pengamat militer melihat adanya perubahan pola operasi yang cukup mencolok dibandingkan gelombang serangan yang terjadi sekitar empat bulan sebelumnya.

Jika pada tahap awal Washington dinilai berusaha menghancurkan sebanyak mungkin aset militer Iran dalam waktu singkat, kini pendekatan tersebut mulai bergeser.

Banyak analis menilai Amerika Serikat sedang menjalankan strategi perang berintensitas rendah (low-intensity warfare).

Dalam konsep ini, tujuan utama bukanlah memenangkan perang melalui invasi besar-besaran, melainkan terus memberikan tekanan militer secara berkelanjutan agar kemampuan tempur lawan melemah sedikit demi sedikit.

Strategi semacam ini memungkinkan kedua pihak tetap saling menyerang tanpa harus terlibat dalam perang terbuka yang berisiko memicu konflik regional maupun global.

Namun, di balik pendekatan tersebut tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar.

Menurut sejumlah analis keamanan internasional, konflik semacam ini justru berpotensi berlangsung selama bertahun-tahun karena tidak ada pihak yang benar-benar berniat mengakhirinya melalui konfrontasi total ataupun penyelesaian diplomatik.

Akibatnya, dunia dapat menghadapi perang berkepanjangan yang secara perlahan menguras ekonomi global.


Selat Hormuz Semakin Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok Drastis

Dampak konflik kini semakin terasa pada jalur perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia, dilaporkan mengalami gangguan yang semakin serius.

Menurut berbagai laporan, jumlah kapal yang berani melintas setiap hari kini tinggal sekitar sepuluh kapal, jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik meningkat.

Penurunan lalu lintas tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia, mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak global bergantung pada jalur sempit tersebut.


Qatar Usulkan Gencatan Senjata, Iran Dinilai Belum Tertarik

Melihat situasi yang terus memburuk, Pemerintah Qatar disebut telah mengusulkan skema gencatan senjata selama sepuluh hari sebagai langkah awal untuk meredakan ketegangan.

Namun, menurut berbagai analisis, dari sudut pandang Teheran, usulan tersebut dinilai belum memberikan keuntungan strategis sehingga kecil kemungkinan akan diterima.

Dengan demikian, peluang tercapainya penghentian sementara konflik dalam waktu dekat masih dipandang sangat kecil.


Perusahaan Pelayaran Beri Bonus Enam Bulan Gaji

Situasi keamanan di Selat Hormuz kini begitu berisiko sehingga perusahaan pelayaran internasional mulai mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sejumlah perusahaan dilaporkan menawarkan bonus hingga enam bulan gaji kepada awak kapal yang bersedia melewati Selat Hormuz.

Insentif tersebut diberikan sebagai kompensasi atas tingginya risiko keselamatan akibat ancaman rudal, drone, maupun kemungkinan bentrokan militer di kawasan tersebut.

Langkah ini menggambarkan betapa besarnya kekhawatiran industri pelayaran terhadap kondisi keamanan di Teluk Persia.


Propaganda Iran Berubah Menjadi Bahan Ejekan

Selain mengandalkan rudal balistik dan pesawat nirawak sebagai kekuatan militer asimetris, Iran selama bertahun-tahun juga dikenal aktif menggunakan perang informasi dan propaganda.

Namun, kampanye propaganda terbaru mereka justru menuai kritik dan menjadi bahan olok-olok di media sosial.

Belum lama ini, mantan Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat terus melanjutkan serangan militernya, Teheran akan mempertimbangkan secara serius untuk melancarkan invasi darat terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait.

Ia bahkan mengklaim Iran mampu menyandera sekitar 100 prajurit Amerika dan membawa mereka kembali ke Iran.

Pernyataan tersebut kemudian diikuti beredarnya berbagai video di media sosial yang mengklaim memperlihatkan pengerahan tank dan pasukan Iran menuju perbatasan Kuwait.


Kesalahan Geografis yang Menjadi Sorotan

Namun, para pengamat segera menemukan kelemahan mendasar dalam narasi tersebut.

Iran dan Kuwait tidak memiliki perbatasan darat.

Kedua negara dipisahkan oleh Teluk Persia dan wilayah Irak.

Artinya, apabila Iran benar-benar ingin menyerbu Kuwait melalui jalur darat, mereka terlebih dahulu harus melaksanakan operasi pendaratan amfibi dalam skala besar melalui laut.

Bagi banyak analis militer, operasi seperti itu hampir mustahil dilakukan mengingat keterbatasan armada amfibi Iran dibandingkan kekuatan laut dan udara Amerika Serikat.


Veteran Perang Vietnam Menyindir Klaim Iran

Menanggapi klaim tersebut, seorang veteran Perang Vietnam asal Amerika Serikat bernama Graves melontarkan sindiran keras.

Menurutnya, Iran tidak memiliki kemampuan logistik maupun armada yang memadai untuk melaksanakan operasi pendaratan amfibi berskala besar.

Ia bahkan menyindir: “Bagaimana mereka mau menyeberangi Teluk Persia? Apa mereka akan memakai perahu nelayan sepanjang enam meter dan mengangkut enam orang setiap kali berlayar? Saya harap mereka bisa berenang, karena kapal-kapal itu akan dihancurkan berkeping-keping oleh pesawat serang A-10 dan helikopter tempur Amerika.”

Menurut Graves, operasi pendaratan amfibi merupakan salah satu operasi militer paling rumit karena memerlukan:

  • kapal pendarat khusus;
  • dukungan udara yang kuat;
  • logistik dalam jumlah besar;
  • koordinasi lintas matra;
  • serta pelatihan militer yang sangat kompleks.

Ia menilai Iran hingga kini belum memiliki kemampuan tersebut dalam skala yang cukup untuk melaksanakan invasi lintas laut terhadap Kuwait.


Intelijen Israel Klaim Iran Memindahkan Fasilitas Pengayaan Uranium

Di tengah meningkatnya konflik militer, perhatian dunia juga kembali tertuju pada program nuklir Iran.

Menurut laporan The Wall Street Journal yang terbit pada 20 Juli 2026, badan intelijen Israel menyampaikan penilaian terbaru bahwa setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, Teheran diduga telah memindahkan sebagian sentrifugal pengayaan uranium ke kawasan pegunungan di dekat Natanz.

Fasilitas baru tersebut disebut dibangun jauh di dalam struktur pegunungan sehingga jauh lebih sulit dijangkau dibandingkan lokasi sebelumnya.


Diduga Mampu Menghasilkan Uranium Tingkat Senjata

Menurut penilaian intelijen tersebut, sentrifugal yang dipindahkan diyakini mampu meningkatkan kadar uranium yang sebelumnya telah diperkaya hingga sekitar 60 persen menjadi lebih dari 90 persen.

Tingkat kemurnian tersebut secara umum dipandang sebagai kategori yang dapat digunakan dalam pembuatan senjata nuklir.

Apabila laporan tersebut terbukti benar, banyak pengamat menilai kondisi itu telah menyentuh garis merah yang selama ini berkali-kali ditegaskan oleh Amerika Serikat maupun Israel.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah menerima dan sedang mempelajari hasil penilaian intelijen Israel tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya.


Trump Berulang Kali Menyinggung Target Pegunungan Natanz

Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga beberapa kali menyatakan secara terbuka bahwa kawasan pegunungan tempat fasilitas tersebut berada dapat menjadi sasaran operasi militer apabila Iran terus melanjutkan program pengayaan uranium.

Namun, menghancurkan fasilitas tersebut bukanlah pekerjaan mudah.


Tantangan Menghancurkan Fasilitas Nuklir Bawah Tanah

Menurut berbagai analisis militer, fasilitas baru tersebut diperkirakan berada sekitar 100 meter di bawah lapisan batu granit yang sangat keras.

Sebagai perbandingan, bom penghancur bunker paling kuat milik Amerika Serikat, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator dengan bobot sekitar 13,6 ton, dalam satu kali serangan diperkirakan hanya mampu menembus sekitar 25 meter lapisan batu.

Dengan demikian, satu bom saja tidak cukup untuk mencapai ruang utama fasilitas tersebut.


Strategi Amerika: Serangan Bertahap dalam Beberapa Gelombang

Meski demikian, para analis menegaskan bahwa militer Amerika tidak mengandalkan satu kali serangan untuk menghancurkan sasaran yang berada jauh di bawah tanah.

Sebaliknya, strategi yang umum digunakan adalah serangan bertahap.

Dalam skenario tersebut, beberapa bom GBU-57 akan dijatuhkan terlebih dahulu untuk menghancurkan bagian-bagian yang paling rentan, seperti:

  • lubang ventilasi;
  • pintu masuk terowongan;
  • poros akses;
  • serta titik-titik struktur yang telah dipetakan sebagai kelemahan konstruksi.

Setelah lapisan pelindung mulai terkikis, gelombang serangan berikutnya akan diarahkan ke titik yang sama sehingga daya tembus bom menjadi semakin dalam.


Infrastruktur Pendukung Menjadi Sasaran Utama

Para pakar militer juga menilai bahwa sasaran sebenarnya bukan hanya ruang penyimpanan sentrifugal, melainkan seluruh sistem pendukung yang membuat fasilitas tersebut dapat beroperasi.

Target tersebut meliputi:

  • gardu listrik;
  • jaringan distribusi daya;
  • sistem pendingin;
  • ventilasi;
  • akses jalan;
  • jalur logistik;
  • serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Apabila seluruh infrastruktur tersebut berhasil dilumpuhkan, kompleks bawah tanah akan kehilangan pasokan listrik, sistem pendingin, ventilasi, dan akses keluar-masuk.

Dalam kondisi demikian, sentrifugal tidak lagi dapat dioperasikan secara normal, sementara personel yang berada di dalam kompleks akan menghadapi kondisi yang sangat berbahaya.


Longsoran Gunung Berpotensi Menutup Terowongan

Selain menghancurkan fasilitas pendukung, kombinasi pengawasan satelit, intelijen waktu nyata (real-time), dan senjata berpemandu presisi juga dinilai berpotensi memicu longsoran pada sebagian lereng pegunungan.

Apabila pintu-pintu terowongan tertimbun material longsor, proses pemulihan fasilitas akan menjadi jauh lebih sulit karena akses menuju ruang bawah tanah dapat tertutup sepenuhnya.


Melumpuhkan Lebih Realistis daripada Menghancurkan Total

Mayoritas pakar militer berpendapat bahwa menghancurkan sepenuhnya fasilitas nuklir yang berada jauh di bawah lapisan granit merupakan tantangan yang sangat besar, bahkan bagi persenjataan paling canggih sekalipun.

Namun, mereka menilai tujuan yang lebih realistis adalah melumpuhkan operasional fasilitas tersebut dalam jangka panjang dengan menghancurkan infrastruktur pendukung, memutus pasokan energi, menutup akses, serta menghambat seluruh aktivitas pengayaan uranium.

Apabila strategi tersebut berhasil diterapkan secara efektif, kompleks bawah tanah itu dapat kehilangan kemampuan operasionalnya selama bertahun-tahun, meskipun struktur fisiknya mungkin tidak hancur sepenuhnya. (***)

Iran Diam-Diam Cari Jalan Damai, Tapi AS dan Israel Justru Siapkan Opsi Perang Terbesar

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan memasuki fase yang semakin menentukan. Sejumlah laporan media internasional serta pernyataan para analis keamanan menunjukkan bahwa ruang kompromi di antara pihak-pihak yang bertikai semakin menyempit.

Di tengah meningkatnya tekanan militer dan diplomatik, berbagai perkembangan terbaru mengindikasikan bahwa Washington dan Tel Aviv kini tengah mempertimbangkan dua skenario utama: membuka jalan menuju gencatan senjata atau justru meningkatkan operasi militer secara signifikan.

Di sisi lain, beredar pula laporan mengenai upaya diplomasi rahasia yang diduga dilakukan Iran, sementara Gedung Putih mulai menampilkan sinyal-sinyal yang dinilai sebagai persiapan membangun dukungan publik terhadap kemungkinan penyelesaian damai.


Amerika Serikat dan Israel Disebut Hanya Memiliki Dua Pilihan Strategis

Menurut laporan eksklusif jurnalis Barak Ravid dari Axios yang diterbitkan pada Senin, 21 Juli 2026, para pejabat tinggi Amerika Serikat dan Israel menilai bahwa situasi konflik dengan Iran kini hanya menyisakan dua pilihan realistis.

Pilihan pertama adalah mendorong gencatan senjata sementara selama 10 hari sebagai langkah awal untuk menghentikan eskalasi dan membuka ruang bagi perundingan diplomatik yang lebih luas.

Sementara itu, pilihan kedua adalah melancarkan operasi militer gabungan berskala besar antara Amerika Serikat dan Israel terhadap sasaran-sasaran strategis di wilayah Iran.

Menurut laporan tersebut, para pembuat kebijakan di Washington dan Tel Aviv menilai bahwa opsi jalan tengah semakin sulit diwujudkan, mengingat meningkatnya ketegangan serta semakin kompleksnya persoalan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump diperkirakan akan mengambil keputusan akhir mengenai arah kebijakan Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang. Keputusan tersebut dinilai akan menjadi penentu apakah konflik bergerak menuju deeskalasi atau justru memasuki fase konfrontasi yang lebih luas.


Iran Dikabarkan Mengirim Utusan Rahasia ke Pakistan

Pada hari yang sama, 21 Juli 2026, jurnalis geopolitik Pepe Escobar mengungkap informasi yang hingga kini belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun Pakistan.

Mengutip sumber yang disebut dekat dengan perkembangan diplomatik kawasan, Escobar menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran diduga telah mengirim seorang utusan khusus secara diam-diam ke Pakistan.

Misi tersebut dikabarkan membawa proposal penghentian sementara konflik sebagai upaya membuka kembali jalur diplomasi.

Menurut laporan tersebut, usulan Iran mencakup dua tahap, yaitu:

  • pemberlakuan gencatan senjata selama 10 hari sebagai langkah awal;
  • memanfaatkan periode tersebut untuk merundingkan gencatan senjata yang lebih panjang, yakni antara 60 hingga 90 hari.

Apabila informasi tersebut benar, langkah itu dapat diartikan sebagai indikasi bahwa Teheran mulai mencari ruang negosiasi guna mengurangi eskalasi militer yang dalam beberapa pekan terakhir terus meningkat.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran, Pakistan, maupun Amerika Serikat yang mengonfirmasi kebenaran laporan tersebut.


Gedung Putih Kembali Publikasikan Survei Dukungan Perdamaian

Masih pada 21 Juli 2026, Gedung Putih kembali menampilkan hasil survei yang sebelumnya dilakukan pada akhir Juni melalui situs resminya.

Survei tersebut dipublikasikan dengan judul: “Perjanjian Perdamaian dengan Iran Mendapat Dukungan yang Sangat Besar.”

Publikasi ulang hasil survei tersebut menarik perhatian sejumlah pengamat politik Amerika.

Menurut mereka, langkah Gedung Putih dapat dipandang sebagai bagian dari upaya membangun opini publik apabila pemerintahan Presiden Trump nantinya memilih jalur diplomasi dibandingkan peningkatan operasi militer.

Bagi sebagian analis, penyebarluasan hasil survei semacam ini juga dapat menjadi sinyal bahwa Washington tengah mempersiapkan landasan politik domestik untuk mendukung kemungkinan tercapainya proses deeskalasi dengan Iran.


Trump dan Perdana Menteri Inggris Bahas Operasi Pembersihan Ranjau Laut

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Presiden Donald Trump juga dilaporkan melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Inggris yang baru menjabat.

Salah satu agenda utama dalam pembicaraan tersebut adalah mengenai operasi pembersihan ranjau laut di jalur pelayaran strategis Timur Tengah.

Meski rincian pembicaraan tidak dipublikasikan secara lengkap, pembahasan mengenai keamanan jalur pelayaran memunculkan berbagai spekulasi bahwa NATO berpotensi mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga stabilitas kawasan, terutama pada jalur perdagangan internasional yang melintasi Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Apabila skenario tersebut benar-benar diwujudkan, sejumlah analis menilai Amerika Serikat kemungkinan akan membagi sebagian tanggung jawab keamanan kawasan kepada negara-negara sekutunya.

Dengan demikian, Washington dapat mengalokasikan sumber daya militernya untuk prioritas strategis lain tanpa harus menanggung seluruh beban operasi di Timur Tengah.


Michael Flynn: Invasi Darat ke Iran Akan Menjadi Operasi yang Sangat Sulit

Mantan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Jenderal Michael Flynn, juga memberikan penilaian mengenai kemungkinan operasi militer terhadap Iran.

Menurut Flynn, invasi darat ke Iran merupakan tantangan yang sangat besar, mengingat kapasitas pertahanan yang masih dimiliki negara tersebut.

Ia menjelaskan bahwa Iran diperkirakan masih memiliki:

  • sekitar 350.000 personel aktif Angkatan Darat;
  • lebih dari 1.500 tank tempur utama;
  • ribuan unit artileri;
  • jaringan pertahanan dan benteng militer yang dibangun selama puluhan tahun.

Flynn menilai bahwa meskipun sebagian peralatan militer Iran tergolong berusia tua, jumlah personel, kondisi geografis, serta sistem pertahanan berlapis tetap menjadikan Iran sebagai lawan yang sulit apabila terjadi invasi darat berskala penuh.

Karena itu, menurutnya, peluang tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat mulai meningkat.

Namun, Flynn juga mengingatkan bahwa penghentian konflik tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara dan belum tentu mampu menyelesaikan akar persoalan yang selama ini memicu ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat.


Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran Masih Menjadi Hambatan Utama

Di balik berbagai pembahasan mengenai kemungkinan gencatan senjata, persoalan terbesar yang hingga kini belum menemukan solusi adalah program nuklir Iran, khususnya fasilitas-fasilitas yang dibangun jauh di bawah pegunungan.

Berdasarkan informasi yang diklaim berasal dari intelijen Israel, Iran disebut telah memindahkan ribuan unit sentrifugal nuklir ke jaringan terowongan bawah tanah yang berada sekitar 450 kaki (sekitar 137 meter) di bawah permukaan pegunungan.

Di sisi lain, Amerika Serikat memiliki bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah yang sangat terlindungi.

Namun, menurut berbagai analisis militer, bom tersebut diperkirakan hanya mampu menembus hingga sekitar 200 kaki (sekitar 61 meter) dalam kondisi operasional yang ideal.

Artinya, apabila fasilitas nuklir Iran benar-benar berada pada kedalaman sekitar 137 meter, efektivitas serangan menggunakan GBU-57 masih menjadi perdebatan di kalangan analis pertahanan.

Bahkan jika beberapa bom dijatuhkan secara berurutan, belum terdapat kepastian bahwa seluruh daya ledaknya mampu mencapai ruang bawah tanah tempat sentrifugal tersebut ditempatkan.


Gencatan Senjata Dinilai Belum Menjamin Perdamaian Jangka Panjang

Sejumlah analis menilai bahwa selama fasilitas pengayaan uranium Iran masih tetap beroperasi di bawah perlindungan jaringan terowongan pegunungan, setiap kesepakatan gencatan senjata berpotensi hanya menjadi solusi sementara.

Dengan kata lain, penghentian pertempuran mungkin dapat meredakan konflik dalam jangka pendek, tetapi belum tentu menghilangkan sumber utama perselisihan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Karena itu, banyak pengamat berpendapat bahwa setiap perjanjian damai yang dicapai saat ini masih akan dibayangi risiko munculnya kembali ketegangan di masa mendatang apabila persoalan mengenai program nuklir Iran tidak memperoleh penyelesaian yang dapat diterima oleh seluruh pihak yang terlibat.

Perkembangan dalam beberapa hari ke depan, terutama keputusan yang akan diambil Presiden Donald Trump mengenai arah kebijakan Amerika Serikat, diperkirakan akan menjadi faktor penentu apakah kawasan Timur Tengah bergerak menuju proses deeskalasi atau justru menghadapi babak baru konflik yang lebih besar. (***)

Jerman dan Prancis Menuduh Yuan Dinilai Terlalu Rendah, Tidak Akan Lagi Membiarkan Persaingan yang Dianggap Tidak Adil

EtIndonesia.com Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini menunjukkan sikap yang sejalan dengan menyatakan bahwa nilai tukar yuan (renminbi) dinilai terlalu rendah, sehingga membuat harga produk ekspor Tiongkok menjadi lebih murah. Mereka juga menuduh Tiongkok memperoleh keunggulan yang tidak adil dalam persaingan dengan Uni Eropa karena kelebihan kapasitas produksi dan nilai tukar yuan yang rendah.

Masuknya produk-produk Tiongkok dalam jumlah besar ke pasar Eropa telah memicu kekhawatiran di negara-negara Uni Eropa mengenai kelebihan kapasitas produksi dan persaingan yang dianggap tidak seimbang.

Para pemimpin Jerman, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya belakangan ini menyatakan bahwa yuan dinilai jauh di bawah nilai wajarnya. Menurut mereka, nilai tukar yang rendah secara artifisial membuat barang ekspor Tiongkok memperoleh keunggulan harga di pasar internasional dan meningkatkan tekanan terhadap produsen Jerman serta industri manufaktur Eropa lainnya.

Menurut laporan German-China Network, Dewan Menteri Jerman–Prancis yang digelar di Jerman pada 17 Juli menyimpulkan bahwa Tiongkok memperoleh keuntungan yang tidak adil dalam persaingan dengan Uni Eropa.

Saat ini, defisit perdagangan Uni Eropa terhadap Tiongkok mencapai sekitar 1 miliar euro per hari. Kanselir Merz mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak dapat diterima karena dampaknya terjadi dengan mengorbankan lapangan kerja di Eropa, sementara beban kerugiannya hampir sepenuhnya ditanggung oleh pihak Eropa.

“Nilai tukar suatu mata uang pada dasarnya dipengaruhi oleh keseimbangan ekspor dan impornya. Jika ekspor dan impor seimbang, maka nilai tukarnya juga cenderung seimbang sehingga kedua belah pihak relatif puas. Namun jika ekspor suatu negara jauh lebih besar daripada impornya, perusahaan asing harus membeli lebih banyak mata uang negara tersebut untuk membayar barang yang diimpor. Hal ini dapat memengaruhi keseimbangan nilai tukar,” ujar Jiang Pinchao, Presiden American Caikuo Real Estate Investment Company. 

Sejumlah akademisi berpendapat bahwa persoalan ini bukan sekadar persaingan pasar, melainkan merupakan bentuk campur tangan negara yang mereka anggap sebagai manipulasi.

“Tujuan utama Beijing adalah menggunakan nilai tukar sebagai sarana mengalihkan tekanan inflasi. Dengan menekan biaya tenaga kerja serta mengorbankan kesejahteraan pekerja, pemerintah dapat mempertahankan harga produksi yang sangat rendah, meskipun pasar modal domestik mengalami tekanan dan daya beli masyarakat melemah,” kata ekonom yang berbasis di Amerika Serikat, Huang Dawei. 

“Akibatnya, produk yang dihasilkan dalam jumlah berlebih kemudian diekspor ke seluruh dunia dengan harga yang sangat murah. Seperti yang dikatakan Merz, hal ini merugikan kepentingan Eropa dan melemahkan sektor manufaktur serta lapangan kerja di Eropa dan Amerika,” ujarnya. 

Sebelumnya, Merz pernah menyatakan bahwa nilai tukar yuan mungkin dinilai terlalu rendah hingga sekitar 30%, sehingga memberikan keuntungan harga yang signifikan bagi produk ekspor Tiongkok.

Dalam pidatonya pada 17 Juli, Merz menyerukan agar pemerintah Tiongkok berdialog mengenai isu tersebut atau memberikan ruang yang lebih besar bagi nilai tukar yuan untuk bergerak sesuai mekanisme pasar.

Huang Dawei menambahkan: “Beijing tidak pernah benar-benar menerapkan hubungan dagang yang sepenuhnya timbal balik. Model yang digunakan adalah memaksimalkan keunggulan kapitalisme negara melalui kekuasaan pemerintah, menekan biaya tenaga kerja di dalam negeri, lalu memanfaatkan subsidi dan nilai tukar yang rendah untuk memperluas pangsa pasar di luar negeri.” 

“Menurut saya, Jerman dan Prancis kini merasa tidak memiliki banyak pilihan lagi. Ke depan, hubungan Uni Eropa dengan Tiongkok kemungkinan akan memasuki fase yang berbeda, termasuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih defensif seperti tarif, penyelidikan anti-subsidi, dan diversifikasi rantai pasok.”

Para analis berpendapat bahwa pemerintah Tiongkok belum sepenuhnya membiarkan yuan mengambang bebas. Nilai tukar masih dikelola melalui mekanisme seperti kurs acuan harian, pengendalian arus modal, dan intervensi di pasar valuta asing.

Menurut mereka, tujuan utamanya antara lain adalah mempertahankan daya saing ekspor di tengah lemahnya permintaan domestik serta menyerap kelebihan kapasitas produksi.

Jiang Pinchao juga mengatakan: “Bagi negara-negara Eropa, akan sulit menghadapi persoalan nilai tukar Tiongkok sendirian. Mereka memerlukan kerja sama dengan Amerika Serikat agar memiliki pengaruh yang lebih besar. Euro bukan mata uang dominan dunia seperti dolar AS. Jika Amerika Serikat dan Uni Eropa bekerja sama menghadapi Tiongkok, dampaknya terhadap ekonomi Tiongkok akan jauh lebih besar.”

Uni Eropa berencana mengambil keputusan pada musim gugur tahun ini mengenai kemungkinan memasukkan instrumen pertahanan perdagangan baru ke dalam kebijakan perdagangan bersama. (***)

Ribuan Produk dan 500 Perusahaan Ramaikan FHI 2026, Sektor F&B dan Hospitality Jadi Penggerak Ekonomi

JAKARTA, 21 Juli 2026 – Di tengah menguatnya ketahanan pasar domestik, sektor makanan, minuman, dan hospitality Indonesia terus menunjukkan geliat positif. Momentum ini semakin diperkuat dengan dibukanya Food & Hospitality Indonesia (FHI) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Selasa (21/7).

Memasuki edisi ke-20, FHI kembali menegaskan posisinya sebagai ajang Business-to-Business (B2B) strategis yang mempertemukan pelaku industri nasional dan global. Lebih dari sekadar pameran, acara ini menjadi katalis bagi perluasan akses perdagangan, investasi, dan kolaborasi lintas negara.

Pembukaan FHI 2026 ditandai dengan seremoni pemotongan pita yang dihadiri oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif Yuke Sri Rahayu, serta jajaran direksi PT Pamerindo Indonesia. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat daya saing industri nasional di kancah global.

Sektor Hospitality Tumbuh 13,14 Persen, Jadi Motor Ekonomi

Dalam sambutannya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai FHI 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat keterkaitan antara industri makanan, minuman, hospitality, dan pariwisata secara menyeluruh.

“Pariwisata Indonesia saat ini tidak hanya menawarkan destinasi, tetapi juga pengalaman melalui gastronomi dan kualitas layanan hospitality yang telah menjadi aset strategis dalam memperkuat citra Wonderful Indonesia. Kehadiran FHI memiliki peran penting sebagai platform yang menghubungkan produsen lokal dengan buyer internasional, mendorong investasi, serta membangun kemitraan untuk mewujudkan ekosistem pariwisata Indonesia yang semakin inovatif, tangguh, dan berdaya saing global,” ujar Widiyanti.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Dari sisi lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen, sementara konsumsi pemerintah meningkat 21,81 persen.

Industri makanan, minuman, dan hospitality Indonesia juga menyumbang sekitar 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau senilai sekitar Rp639 triliun pada 2025. Angka ini mencerminkan tingginya permintaan terhadap sektor hospitality dan food service yang kini menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menambahkan bahwa Indonesia memiliki pasar domestik yang kuat dengan prospek investasi yang menjanjikan.

“Di tengah perkembangan ekonomi kreatif yang terus bertumbuh, industri hospitality, makanan dan minuman memiliki peran penting dalam mendorong inovasi, membuka peluang usaha dan menciptakan nilai tambah. Karena itulah setiap pertemuan dan pameran terkait ekosistem ini dapat menjadi awal dari sebuah kolaborasi besar,” ujar Teuku Riefky.

500 Perusahaan dari 32 Negara, Asia Farm hingga Robot Coupe

Selama empat hari penyelenggaraan (21–24 Juli 2026), FHI 2026 menghadirkan ribuan produk, teknologi, dan solusi bagi industri makanan, minuman, serta hospitality. Lebih dari 500 perusahaan dari 32 negara berpartisipasi, di antaranya Asia Farm, Greenfields Professional, JAPFA Food, Queen Food, Bella Cuisine Korea, Koch Backen, Robot Coupe, Unox, Nayati, Sango Hospitality, Indo Porcelain, Gea Getra, dan Chair Culture.

Partisipasi perusahaan dari Australia, Amerika Serikat, Brasil, Kanada, Finlandia, Italia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Swiss, Turki, hingga Uni Emirat Arab menegaskan posisi FHI sebagai pameran dagang internasional B2B terdepan di Indonesia sekaligus pintu masuk strategis bagi pelaku industri global yang ingin menjangkau pasar Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Business Matching dan Kompetisi Bergengsi

FHI 2026 tidak hanya tentang pameran. Ajang ini juga menghadirkan FHI Business Matching Programme yang mempertemukan lebih dari 2.000 pertemuan bisnis antara exhibitor dengan buyer potensial dari dalam dan luar negeri. Program ini dirancang untuk mempercepat terjalinnya kemitraan strategis, memperluas akses pasar, serta membuka peluang investasi baru.

Berbagai kompetisi dan seminar juga digelar untuk meningkatkan kompetensi SDM dan mendorong inovasi:

  • Tea Masters Cup (TMC) – Kompetisi bergengsi bagi para profesional teh. Indonesian Tea Specialist Oza Sudewo mengatakan, “Tea Masters Cup bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di seluruh rantai industri teh, mulai dari petani, tea master, pelaku usaha, hingga edukator.”
  • World Fashion Drinks Competition (WFDC) Indonesia Division – Kompetisi kreasi minuman non-alkohol bertaraf internasional yang menjadi wadah bagi mixologist dan barista Indonesia.
  • Indonesia Barista Championship (IBC) – Ajang seleksi barista terbaik Indonesia menuju World Barista Championship, diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI).
  • Wine Masterclass – Edukasi dasar mengenai wine bagi para profesional di industri hospitality oleh Indonesia Sommelier Association (ISA).
  • Workshop Session bersama Association of Culinary Professionals (ACP) menghadirkan chef dan praktisi kuliner dalam sesi hands-on masterclass.
  • Industry Seminar bersama LPPOM MUI dan Perum BULOG membahas implementasi kewajiban sertifikasi halal serta strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.

Komitmen Keberlanjutan dan Ekosistem Terintegrasi

FHI 2026 juga memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan melalui berbagai inisiatif, antara lain:

  • Better Stands Programme – Stand pameran ramah lingkungan
  • Pengelolaan limbah pameran bersama Ecoloop
  • Pengelolaan limbah makanan berkolaborasi dengan FoodCycle Farm
  • Stasiun isi ulang air minum oleh Waterhub
  • Pengumpulan minyak jelantah untuk diolah menjadi sustainable aviation fuel bersama Noovoleum
  • Stasiun pengisian kendaraan listrik oleh SKKTAMA
  • Beyond Coffee – berkolaborasi dengan Kopi Kamu x POTADS dan melibatkan barista penyandang Down syndrome

Kunjungi FHI 2026 Sebelum 24 Juli

Meysia Stephannie, Portfolio Director Food & Hospitality Indonesia 2026, menyampaikan optimisme terhadap prospek industri ke depan.

“Dengan pertumbuhan daya beli masyarakat, meningkatnya investasi, serta prospek industri yang terus menguat, kami optimistis FHI 2026 tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi katalis lahirnya inovasi, investasi, dan kemitraan strategis yang akan menentukan arah pertumbuhan industri ini ke depan. Kami akan terus memperkuat peran FHI sebagai pameran dagang internasional B2B terdepan di Indonesia demi mendorong pertumbuhan industri secara berkelanjutan,” tutup Meysia.

FHI 2026 masih berlangsung hingga 24 Juli 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Tiket masuk tersedia melalui Advance Ticket Sales (ATS) seharga Rp150.000 atau di lokasi seharga Rp250.000 untuk akses selama empat hari pameran.

Peringatan 27 Tahun Penindasan terhadap Falun Gong, Pawai dan Aksi Damai Digelar di Berbagai Negara

EtIndonesia.com  Hingga 20 Juli 2026, penindasan terhadap Falun Gong oleh pemerintah Tiongkok telah berlangsung selama 27 tahun. Tindakan penindasan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok masih terus berlanjut. 

Dalam beberapa hari terakhir, para praktisi Falun Gong di berbagai negara mengadakan pawai, aksi damai, dan peringatan untuk menyerukan diakhirinya penindasan tersebut.

Falun Gong adalah suatu disiplin spiritual tradisional yang mencakup latihan meditasi dan ajaran moral yang didasarkan pada prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar. 

Partai Komunis Tiongkok (PKT) melancarkan penganiayaan berskala nasional yang menargetkan praktik ini pada Juli 1999.

Sejak saat itu, jutaan orang telah ditahan di penjara, kamp kerja paksa, dan fasilitas lainnya; ratusan ribu orang disiksa; dan ribuan orang tercatat tewas, menurut statistik yang dikumpulkan oleh Pusat Informasi Falun Dafa.

New York

Pada 19 Juli, ribuan praktisi Falun Gong menggelar pawai besar di Chinatown, Manhattan, New York, untuk memperingati 27 tahun penindasan terhadap Falun Gong. Mereka menyerukan penghentian penindasan terhadap Falun Gong dan meminta diakhirinya apa yang mereka sebut sebagai penindasan lintas negara oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Pawai diawali oleh Tian Guo Marching Band, diikuti berbagai spanduk dan bendera yang memperkenalkan Falun Gong serta menyampaikan informasi mengenai penindasan yang mereka alami. Barisan ditutup oleh pertunjukan grup genderang pinggang (waist drum).

Sepanjang rute pawai, banyak warga dan wisatawan berhenti untuk menyaksikan, mengambil foto dan video, serta mencari informasi mengenai Falun Gong.

Praktisi Falun Gong mengikuti aksi renungan dengan menyalakan lilin di Kota New York untuk memperingati 27 tahun penganiayaan terhadap Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), pada 20 Juli 2026. (Larry Dye/The Epoch Times)

London

Pada 18 Juli, praktisi Falun Gong dari berbagai wilayah di Inggris juga mengadakan pawai dan aksi damai di pusat kota London. Mereka menyerukan perhatian masyarakat internasional terhadap penindasan yang telah berlangsung selama 27 tahun, sekaligus mengecam apa yang mereka sebut sebagai perluasan penindasan oleh PKT ke luar negeri.

Pawai dipimpin oleh European Tian Guo Marching Band, melintasi pusat kota London dan berakhir di Old Palace Yard. Sepanjang perjalanan, banyak warga dan wisatawan dari berbagai negara berhenti untuk menyaksikan serta mengambil foto dan video.

Pada 18 Juli 2026, praktisi Falun Gong di Inggris mengadakan pawai dan demonstrasi besar untuk memperingati ulang tahun ke-27 protes 20 Juli melawan penganiayaan terhadap Falun Gong. Foto tersebut menunjukkan Marching Band Tian Guo memimpin pawai melalui Regent Street di pusat kota London. (Luo Yuan/Epoch Times)
Pada 18 Juli 2026, praktisi Falun Gong di Inggris mengadakan pawai dan demonstrasi besar untuk memperingati ulang tahun ke-27 protes 20 Juli melawan penganiayaan terhadap Falun Gong. Foto tersebut menunjukkan pawai yang melewati Chinatown London. (Wen Qing/The Epoch Times)

Toronto

Pada 18 Juli, para praktisi Falun Gong di Toronto, Kanada, tetap mengadakan aksi peringatan meskipun diguyur hujan. Kegiatan tersebut meliputi rapat umum, pawai, dan upacara penghormatan dengan cahaya lilin (candlelight vigil).

Sejumlah politisi dan tokoh masyarakat Kanada hadir memberikan dukungan. Mereka tetap berdiri di tengah hujan bersama para praktisi Falun Gong untuk menyerukan diakhirinya penindasan serta menyatakan penghargaan atas ketekunan para praktisi selama 27 tahun.

Pada 18 Juli, lebih dari seribu praktisi dan pendukung Falun Gong mengadakan pawai besar-besaran di pusat kota Toronto, menyerukan kepada komunitas internasional untuk memperhatikan penganiayaan Falun Gong selama 27 tahun yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok. Meskipun cuaca di Toronto hari itu berubah-ubah, dengan beberapa kali hujan deras, acara tersebut berlangsung dengan tertib. (Evan/Epoch Times)

Sydney

Di Sydney, Australia, praktisi Falun Gong mengadakan rapat umum pada 16 Juli di Martin Place, kawasan pusat bisnis kota.

Acara tersebut dihadiri oleh tamu dari kalangan politik, hukum, akademisi, dan berbagai sektor masyarakat. Menurut laporan ini, para pembicara mengecam tindakan PKT dan dugaan penindasan lintas negara, serta menyampaikan apresiasi kepada praktisi Falun Gong atas komitmen mereka terhadap prinsip “Sejati, Baik, Sabar” selama 27 tahun.

Pada siang hari 16 Juli 2026, sejumlah praktisi Falun Gong di Sydney menggelar rapat umum di Martin Place, pusat kota Sydney. Tokoh-tokoh dari berbagai kalangan hadir untuk menyatakan dukungan. Dalam pidato mereka, para pembicara secara serempak mengecam rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan menyerukan masyarakat internasional untuk mengambil tindakan bersama guna menghentikan penganiayaan yang masih berlangsung. Foto menunjukkan sebagian peserta rapat umum berfoto bersama. (Lu Hao/Epoch Times)

Taiwan

Di Pingtung dan Kaohsiung, Taiwan, para praktisi Falun Gong juga mengadakan upacara penghormatan dengan cahaya lilin dalam rangka peringatan 20 Juli.

Acara tersebut diselenggarakan masing-masing di Millennium Park dan Caogong Canal Waterfront Park di Distrik Fengshan. Para peserta mengenang praktisi di Tiongkok yang menurut mereka meninggal akibat penindasan karena mempertahankan keyakinan mereka, sekaligus mengajak masyarakat untuk memberikan perhatian terhadap penindasan yang telah berlangsung selama 27 tahun dan menyerukan agar penindasan tersebut dihentikan. (***)

Tragedi Ledakan Rumah di Grand Polonia Medan : Korban Terakhir Dievakuasi dari Reruntuhan, Operasi SAR Selesai

EtIndonesia.com  Tim SAR Gabungan yang dikoordinasikan oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan berhasil menemukan korban terakhir yang tertimbun reruntuhan bangunan akibat dugaan ledakan gas rumah tangga di Kelurahan Suka Damai, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (21/7/2026). 

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada pukul 18.20 WIB, sehingga seluruh korban berhasil dievakuasi dan Operasi SAR resmi dinyatakan selesai serta ditutup.

Peristiwa terjadi pada Senin (20/7) ketika sebuah bangunan runtuh akibat dugaan ledakan gas rumah tangga yang menyebabkan tujuh orang menjadi korban. Setelah menerima laporan kejadian, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan segera mengerahkan Tim Rescue beserta peralatan Urban Search and Rescue (USAR) untuk melaksanakan operasi pencarian bersama unsur SAR gabungan.

BACA JUGA : Harapan di Balik Reruntuhan: Tim SAR Basarnas Medan Intensifkan Pencarian Korban Ledakan Rumah Grand Polonia

Pada hari kedua operasi, Tim SAR Gabungan membagi personel ke dalam empat Search and Rescue Unit (SRU) dengan mengoptimalkan penggunaan drone thermal, peralatan ekstrikasi, serta dukungan alat berat berupa crane, ekskavator, mobil tangga pemadam kebakaran, dan alat pemotong besi untuk membuka akses menuju titik-titik yang diduga masih terdapat korban.

Setelah pencarian intensif sepanjang hari, korban terakhir berhasil ditemukan pada pukul 18.20 WIB dalam kondisi meninggal dunia di bawah timbunan material bangunan. Selanjutnya korban dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Columbia Asia Medan untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

BACA JUGA : Ledakan Rumah di Kompleks Medan Polonia: Tim SAR Temukan Satu Korban Tak Bernyawa, Satu Lagi Masih Dicari

Berdasarkan data akhir, dari tujuh orang korban, empat orang berhasil selamat dan tiga orang ditemukan meninggal dunia. Korban selamat terdiri atas Jeavelin (2), Hasan, seorang sopir, dan seorang kurir atas nama Yuda. Sedangkan korban meninggal dunia yaitu Jesika (33), Ros dan Sinta.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan selaku Search Mission Coordinator (SMC), Hery Marantika, atas persetujuan Search Coordinator (SC) mengatakan bahwa keberhasilan menemukan korban terakhir merupakan hasil kerja keras seluruh unsur SAR gabungan yang bekerja tanpa henti sejak operasi dimulai.

 “Alhamdulillah, pada pukul 18.20 WIB Tim SAR Gabungan berhasil menemukan korban terakhir yang sebelumnya masih dinyatakan hilang. Seluruh korban telah berhasil dievakuasi sehingga Operasi SAR terhadap peristiwa runtuhnya bangunan akibat dugaan ledakan gas rumah tangga di Medan Polonia resmi dinyatakan selesai dan ditutup. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur SAR gabungan yang telah bekerja secara profesional, solid, dan tetap mengedepankan keselamatan personel selama operasi berlangsung,” ujar Hery Marantika dalam siaran persnya. 

Operasi SAR melibatkan Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan bersama Brimob Polda Sumatera Utara, Dit Samapta Polda Sumatera Utara, TNI, Polri, BPBD Kota Medan, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Medan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, tenaga kesehatan, pemerintah setempat, PT MBS, serta unsur SAR gabungan lainnya.

Dengan ditemukannya korban terakhir, seluruh target operasi telah berhasil dievakuasi sehingga Operasi SAR resmi dinyatakan selesai dan ditutup. (***)

Harga Rumah di Tiongkok Turun Selama Tiga Tahun Berturut-turut, Ketidakpuasan Masyarakat Diklaim Ditekan

Biro Statistik Nasional Tiongkok pada 15 Juli mengumumkan bahwa harga rumah baru di 70 kota besar dan menengah turun 3,3% dibandingkan tahun sebelumnya dan 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya. Harga properti di Tiongkok telah mengalami penurunan selama tiga tahun berturut-turut. Sejumlah ekonom menilai bahwa pasar perumahan masih jauh dari tahap stabil.

EtIndonesia.com Pada 15 Juli 2026, Biro Statistik Nasional Tiongkok merilis data “Perubahan Harga Penjualan Perumahan Komersial di 70 Kota Besar dan Menengah” untuk Juni. Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa harga rumah baru turun 3,3% secara tahunan dan 0,1% secara bulanan. Meskipun penurunan tahunan sedikit lebih kecil dibandingkan bulan Mei yang mencapai 3,5%, tren penurunan telah berlangsung selama tiga tahun.

Sektor properti pernah menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun, berbagai masalah struktural yang terakumulasi selama masa pertumbuhan pesat mulai terlihat ketika pemerintah Tiongkok pada tahun 2020 menerapkan kebijakan “Tiga Garis Merah”, yang membatasi utang perusahaan pengembang. Kebijakan tersebut memicu pecahnya gelembung properti.

Memasuki tahun 2021, kondisi keuangan banyak pengembang properti yang memiliki hutang besar memburuk dengan cepat. Perusahaan-perusahaan besar seperti Evergrande, Country Garden, dan Sunac China mengalami banyak proyek yang terhenti, penyerahan rumah tertunda, bahkan berubah menjadi proyek mangkrak.

Sejak 2022, pemerintah Tiongkok terus berupaya menyelamatkan sektor properti. Namun hingga tahun 2026, harga rumah masih belum menunjukkan pemulihan secara menyeluruh. Pada bulan Juni, media resmi Partai Komunis Tiongkok Qiushi menerbitkan artikel yang menyerukan pemulihan neraca keuangan rumah tangga dan stabilisasi pasar properti guna mencegah penurunan harga aset memicu lingkaran penurunan kepercayaan konsumen.

Namun, sejumlah pakar berpendapat bahwa harga rumah masih akan terus turun.

“Setelah gelembung properti Jepang pecah, dibutuhkan sekitar 15 hingga 20 tahun sebelum harga rumah benar-benar stabil. Sebagian properti komersial bahkan membutuhkan lebih dari 20 tahun,” ujar Xu Zhen, seorang pengamat senior pasar modal Tiongkok. 

“Sementara pasar properti Tiongkok baru sekitar empat hingga lima tahun sejak mencapai puncaknya pada 2021. Karena itu, jalan menuju stabilisasi harga masih sangat panjang. Selama rumah hasil penyitaan bank belum terserap pasar, harga rumah akan terus mengalami penurunan,” katanya. 

Menurut para analis, berbeda dengan Jepang, gelembung properti di Tiongkok sangat dipengaruhi oleh campur tangan pemerintah. Pemerintah daerah juga sangat bergantung pada penjualan hak penggunaan tanah sebagai sumber pendapatan.

“Pada dasarnya pemerintah menjual tanah dan mendorong masyarakat untuk ikut membesarkan gelembung properti. Selama gelembung itu belum benar-benar pecah, ruang bagi harga yang sebelumnya terlalu tinggi masih sangat besar. Beberapa kota mungkin mengalami perlambatan penurunan harga, tetapi banyak kota lainnya masih akan terus turun,” ujar Xie Tian, profesor di Aiken School of Business, University of South Carolina. 

Surat kabar Liberty Times mengutip analis IG Sydney, Tony Sycamore, yang mengatakan: “Di Australia, jika harga rumah turun selama 36 bulan berturut-turut atau tiga tahun, masyarakat pasti sudah turun ke jalan.”

Para pakar mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat Tiongkok bukan tidak pernah melakukan protes, tetapi mereka menghadapi banyak kesulitan.

Xu Zhen menjelaskan: “Dalam beberapa tahun terakhir, banyak aksi protes kolektif dari pemilik rumah lama setelah pengembang menurunkan harga rumah baru. Namun karena dampaknya relatif terbatas dan pemerintah daerah melakukan pengamanan secara ketat, protes tersebut tidak berkembang menjadi kerusuhan sosial besar.” 

“Sementara itu, pada pasar rumah bekas, kerugian akibat penurunan harga umumnya diterima sendiri oleh pemilik sehingga lebih jarang memicu aksi kolektif. Sebaliknya, kasus keluarga yang kehilangan rumah karena gagal membayar cicilan dan rumah disita bank terus bermunculan. Namun peristiwa-peristiwa ini tersebar di berbagai daerah dan, ditambah dengan pengendalian keamanan serta pembatasan informasi, kondisi sebenarnya sulit diketahui publik.”

Xie Tian menambahkan: “Partai Komunis mengendalikan seluruh masyarakat, media, kepolisian, dan militer sehingga rakyat hidup dalam ketakutan. Ini adalah situasi sosial yang sangat keras. Bukan karena masyarakat tidak ingin berdemonstrasi, tetapi karena mereka tidak berani dan tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya.”

Meskipun pemerintah daerah dalam beberapa bulan terakhir terus meluncurkan berbagai insentif untuk mendorong penjualan rumah, data resmi menunjukkan bahwa pada paruh pertama tahun ini penurunan penjualan properti, investasi sektor properti, dan pembangunan rumah baru justru semakin cepat.

Xu Zhen mengatakan: “Penurunan harga rumah dalam jangka panjang berarti nilai kekayaan masyarakat terus menyusut. Akibatnya mereka menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja dan cenderung mempercepat pelunasan hutang. Keluarga yang memiliki tingkat utang tinggi bahkan bisa menghadapi kondisi aset bersih negatif.”

Xie Tian juga menilai bahwa masalah lain adalah kelebihan pasokan: “Saat ini pasokan rumah di Tiongkok jauh melebihi permintaan. Pertumbuhan penduduk melambat, bahkan jumlah penduduk terus menurun. Permintaan riil terhadap rumah juga berkurang, begitu pula kemampuan masyarakat untuk membeli. Oleh karena itu, kemerosotan pasar atau pecahnya gelembung properti kemungkinan masih akan berlangsung untuk beberapa waktu.”

Lesunya pasar properti Tiongkok terus menekan konsumsi rumah tangga dan memperburuk ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. 

Data resmi juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal kedua tahun ini melambat menjadi 4,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lebih rendah dari perkiraan para analis. (***)

Editor: Shang Yan Wawancara: Chang Chun  Produksi: Shao Yang

Prajurit AS Tewas, Trump Murka: Iran Harus Membayar “Ribuan Kali Lipat”

Perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi perhatian. Hingga saat ini, militer AS telah melancarkan serangan udara selama sembilan malam berturut-turut terhadap Iran, yang menurut laporan telah melemahkan kemampuan militernya secara signifikan. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sebagai penghormatan kepada prajurit Amerika yang gugur, ia telah memerintahkan militer untuk memberikan balasan terhadap Iran dengan “ribuan kali lipat”. Sementara itu, beredar laporan bahwa AS telah mengerahkan lebih banyak pesawat tempur ke kawasan dan menempatkan sistem rudal di Kuwait.

EtIndonesia.com Militer AS melanjutkan serangan udara terhadap Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, dengan tujuan melemahkan kemampuan militer Iran.

Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa atas perintah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata AS, militer telah menyerang pusat komando militer Iran, sistem pertahanan udara, pos pengawasan pesisir, kemampuan operasi maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta jaringan komunikasi militer.

Presiden Trump kemudian menulis: “Setiap kali Iran membunuh seorang prajurit Amerika, mereka akan membayar harga ribuan kali lipat!”

Ia juga mengatakan bahwa perintah tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Jenderal Daniel Caine, dan para pejabat militer lainnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan: “Meskipun mereka (Iran) terus mengatakan ingin berbicara dan bernegosiasi, yang kami nilai adalah tindakan mereka. Dan tindakan mereka adalah terus menyerang kapal-kapal dengan rudal dan drone, bahkan malam ini pun serangan masih berlangsung.”

Kiri) Letnan Satu (1st Lt.) Tyler James Feehan. (Kanan) Prajurit (Pvt.) Isabella Gonzales, 19 tahun, dari Carrollton, Texas. Foto melalui U.S. Army Space and Missile Defense Command dan Associated Press (AP).

Seiring meningkatnya konflik, data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa Angkatan Udara AS sedang melakukan pengerahan besar-besaran pesawat tempur. Sejumlah pesawat angkut militer terlihat terbang melalui wilayah udara Eropa menuju pangkalan-pangkalan di Timur Tengah.

The New York Times, mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa militer Amerika sedang mengirim tambahan pesawat tempur F-35 dan F-16 ke Timur Tengah.

Di antaranya, 12 unit F-16CJ Fighting Falcon, yang belum lama kembali ke Amerika Serikat, dilaporkan kembali dikerahkan secara darurat ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti (MSAB) di Yordania.

Selain itu, terdapat laporan bahwa militer AS telah menempatkan Army Tactical Missile System (ATACMS) dengan jangkauan sekitar 190 mil (sekitar 306 km), serta HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) yang mampu meluncurkan rudal berpemandu presisi dengan jangkauan lebih dari 310 mil (sekitar 500 km) di Kuwait sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan terhadap Iran.

Menghadapi serangan intensif AS, muncul klaim bahwa sistem pertahanan udara Hongqi-9 (HQ-9) buatan Tiongkok, yang disebut-sebut sebelumnya dipasang Iran untuk melindungi fasilitas rudal Garda Revolusi, gagal mencegat serangan dan kemudian dihancurkan dalam serangan udara AS. Klaim tersebut memicu perdebatan mengenai efektivitas sistem pertahanan udara tersebut.

Sementara itu, Organisasi Energi Atom Iran menuduh militer AS telah menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir yang masih dalam tahap pembangunan di Darkhovin.

Namun, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan masih menyelidiki laporan tersebut. IAEA menambahkan bahwa proyek tersebut masih berada pada tahap awal pembangunan dan saat inspeksi terakhir tidak ditemukan adanya bahan nuklir di lokasi tersebut.

Menurut laporan, kantor berita resmi Iran Fars News Agency baru-baru ini mengunggah sebuah video berjudul “Di Mana Membunuh Trump?”, tetapi video tersebut kini telah dihapus dari platform X.

Beberapa media melaporkan bahwa video tersebut mengklaim telah mengetahui rute harian dan celah keamanan Presiden Trump saat keluar-masuk Mar-a-Lago di Florida, bahkan menyebut sebuah jembatan tertentu sebagai lokasi yang dianggap cocok untuk melakukan serangan.

Namun, sejumlah media internasional yang membandingkan isi video dengan peta sebenarnya menemukan bahwa rute iring-iringan kendaraan yang ditampilkan tidak sesuai dengan kondisi nyata. Selain itu, rute tersebut dilaporkan telah diubah sejak Januari tahun ini, sehingga keaslian dan relevansi informasi dalam video tersebut masih belum dapat dipastikan.

Laporan oleh Wang Ziyi, NTD Television.

Kim Jong Un Bertemu Wang Huning dengan Cara yang Dianggap Merendahkan? Analis: Hubungan Tiongkok–Korea Utara Sedang Berubah

Baru-baru ini, saat Wang Huning, yang dijuluki sebagai “penasihat utama tiga generasi pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT)”, melakukan kunjungan ke Korea Utara, cara Kim Jong Un menerimanya menarik perhatian publik. Kim hanya didampingi seorang penerjemah ketika bertemu dengan Wang Huning dan rombongan pejabat PKT. 

Pemandangan tersebut ditafsirkan oleh sebagian pengamat sebagai upaya sengaja untuk menonjolkan posisi dominan Korea Utara. Sejumlah analis menilai bahwa pertemuan ini mencerminkan Korea Utara yang semakin melepaskan diri dari pengaruh Beijing.

EtIndonesia.com Hubungan Tiongkok–Korea Utara dinilai tidak lagi sekadar hubungan “kakak dan adik”, melainkan hubungan yang memadukan kerja sama dengan sikap saling mewaspadai.

Dalam rekaman yang beredar, Kim Jong Un hanya didampingi seorang penerjemah ketika menerima delegasi PKT yang dipimpin Wang Huning. Kedua pihak duduk berhadapan di meja panjang. Sembilan pejabat PKT duduk di seberang Kim sambil mendengarkan dan mencatat, sehingga tercipta kontras yang mencolok: satu orang berbicara, banyak orang mendengarkan.

Banyak warganet menyindir bahwa suasana tersebut lebih menyerupai penyampaian laporan kerja kepada atasan. Ada pula yang berkomentar bahwa PKT tampak dipermalukan, bahkan stasiun televisi pemerintah Tiongkok, CCTV, disebut tidak berani menayangkan gambar keseluruhan ruangan.

“Situasinya sangat mirip dengan ketika Partai Komunis Tiongkok berbicara kepada tamu asing… Kim Jong Un tampak seperti sedang memberikan instruksi,” ujar peneliti Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan, Shen Ming-shih. 

Sementara itu, penasihat khusus Indo-Pacific Strategic Think Tank, Chen Wenjia, mengatakan: “Ketidakseimbangan jumlah peserta, ditambah pengaturan ruang pertemuan, lebih mencerminkan kontrol simbolis yang dilakukan Korea Utara. Di satu sisi, Pyongyang tetap mempertahankan hubungan yang diperlukan dengan PKT, tetapi di sisi lain menggunakan bahasa visual untuk menonjolkan posisi sentral pemimpinnya dan kedaulatan negaranya.”

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring semakin eratnya kerja sama antara Korea Utara dan Rusia, ruang gerak diplomatik Kim Jong Un dinilai semakin luas. Para pengamat menilai bahwa bahkan ketika menerima pejabat tinggi PKT, Korea Utara tidak lagi menunjukkan sikap sebagai “adik” yang bergantung pada Beijing, melainkan mengirimkan sinyal bahwa mereka tidak lagi ingin berada di bawah kendali Tiongkok.

Shen Ming-shih mengatakan: “Hubungan Korea Utara dengan Rusia semakin erat. Mereka bahkan memperoleh lebih banyak kerja sama militer dan teknologi dari Rusia. Keinginan Korea Utara untuk membangun kekuatan militer dan persenjataan sebagai negara besar terlihat sangat jelas.”

“Dulu Tiongkok masih dapat membatasi program nuklir Korea Utara atau mendukung sanksi terhadapnya. Namun sekarang, jika Beijing ingin menentangnya, kemungkinan sudah terlambat. Jika suatu hari Korea Utara dan Rusia bekerja sama untuk memberikan tekanan terhadap Tiongkok, Beijing tentu akan menghadapi situasi yang sulit,” jelasnya. 

“Karena itu, Tiongkok mungkin sudah mulai mengantisipasi kemungkinan tersebut. Hal ini juga diperkirakan menjadi salah satu tujuan kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa kedua negara memang bekerja sama, tetapi pada saat yang sama juga saling bersaing dan saling mewaspadai,” katanya. 

Para analis menilai bahwa hubungan Tiongkok–Korea Utara saat ini telah berubah. Hubungan tersebut bukan lagi sekadar hubungan antara “kakak dan adik”, melainkan hubungan yang diwarnai kerja sama sekaligus kewaspadaan.

Chen Wenjia mengatakan : “Selama ini PKT dipandang sebagai pendukung diplomatik terpenting Korea Utara. Namun dalam isu senjata nuklir maupun strategi luar negeri, pemerintahan Kim Jong Un selalu menekankan jalur yang independen dan menghindari masuk ke dalam kerangka strategi Beijing.” 

“Sebaliknya, PKT ingin menjaga stabilitas di Semenanjung Korea, tetapi tidak ingin menanggung terlalu banyak risiko akibat Korea Utara. Karena itu, meskipun kedua negara masih mempertahankan retorika persahabatan tradisional di depan publik, interaksi nyata mereka lebih merupakan pertukaran kepentingan dan pengelolaan risiko.” 

“Kunjungan tingkat tinggi kali ini, yang disertai dengan bentuk pertemuan yang terkesan dingin, justru menunjukkan bahwa hubungan kedua negara bukan sedang menghangat, melainkan berada dalam keseimbangan yang rumit antara kerja sama dan saling mewaspadai.”

Laporan oleh Chen Yue dan Chang Chun, NTD Television.

Kebakaran Hutan Terbesar di Spanyol Tahun Ini Memasuki Hari Kelima, Gelombang Panas Belum Berakhir

EtIndonesia.com  Kawasan Eropa Selatan sedang menghadapi musim kebakaran hutan yang semakin parah. Kebakaran hutan di Provinsi Guadalajara, Spanyol bagian tengah, telah memasuki hari kelima dan menjadi kebakaran terbesar di Spanyol sepanjang tahun ini. Badan meteorologi memperingatkan bahwa gelombang panas yang akan datang akan meningkatkan risiko kebakaran di sebagian besar wilayah negara tersebut.

Menurut laporan Reuters, kurang dari dua minggu lalu, kebakaran hutan di dekat Bedar, Provinsi Almeria, menewaskan 13 orang. Peristiwa itu juga menjadi salah satu kebakaran hutan paling mematikan di Spanyol dalam beberapa dekade terakhir.

Saat ini, kebakaran di La Mierla, Provinsi Guadalajara, telah melahap lebih dari 26.000 hektare lahan. Pada 20 Juli, pemerintah kembali mengevakuasi tiga kota kecil lainnya. Hingga saat ini, lebih dari 1.000 penduduk telah meninggalkan rumah mereka.

Presiden Pemerintah Daerah Castilla-La Mancha, Emiliano García-Page, mengatakan bahwa hampir 30 permukiman kini dikepung kobaran api, yang menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi para petugas pemadam kebakaran.

Badan Meteorologi Nasional Spanyol (AEMET) menyatakan bahwa gelombang panas ketiga tahun ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga 23 Juli. Suhu di sebagian besar wilayah pedalaman tenggara diperkirakan akan melampaui 40°C, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan ke tingkat sangat ekstrem.

Seiring bergeraknya massa udara panas dan kering dari Afrika ke arah utara, suhu di beberapa wilayah diperkirakan dapat mencapai 42–44°C sebelum 23 Juli. AEMET juga memperingatkan kemungkinan terjadinya badai petir kering (dry thunderstorm) di kawasan pegunungan timur, yang dapat memicu kebakaran baru.

Tahun ini, Spanyol menjadi negara Uni Eropa yang paling terdampak oleh kebakaran hutan. Berdasarkan data dari layanan pemantauan kebakaran hutan Copernicus Climate Change Service (C3S), sepanjang tahun 2026 telah terjadi kebakaran yang menghanguskan sekitar 104.423 hektare lahan di Spanyol, jauh lebih luas dibandingkan Prancis, yang mencatat sekitar 41.781 hektare lahan terbakar.

Sumber : NTDTV.com

Trump Peringatkan Iran Harus Membayar Harga atas Gugurnya Prajurit AS, Pejabat Tinggi Iran Diam-Diam ke Pakistan untuk Bahas Perdamaian?

Situasi antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi sorotan. Militer AS telah melancarkan serangan malam ke-10 berturut-turut terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran akan membayar “berkali-kali lipat” atas setiap prajurit Amerika yang tewas. Sementara itu, muncul laporan bahwa para mediator telah mengajukan proposal gencatan senjata selama 10 hari kepada Iran. Di saat yang sama, Menteri Dalam Negeri Iran dikabarkan telah berangkat ke Pakistan.

EtIndonesia.com  Militer AS menyelesaikan serangan malam ke-10 terhadap Iran pada Senin (20/7/2026) pukul 21.00 waktu Pantai Timur Amerika Serikat.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam unggahannya kembali menegaskan bahwa kapal-kapal dagang masih terus melintasi Selat Hormuz. CENTCOM juga menyebutkan bahwa sejak awal Mei, militer AS telah membantu sekitar 900 kapal dagang serta pengiriman sekitar 450 juta barel minyak mentah melewati jalur strategis tersebut dengan aman.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di Kuwait. Mereka juga mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, sehingga terjadi ledakan dan kebakaran yang memaksa kedua kapal menghentikan pelayaran.

Pada hari Senin, Presiden Donald Trump melalui platform media sosial Truth Social memperingatkan Iran bahwa negara itu akan membayar “berkali-kali lipat” untuk setiap tentara Amerika yang mereka bunuh.

Trump juga mengatakan : “Instruksi ini telah saya sampaikan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Daniel Caine, serta seluruh pimpinan militer.”

Departemen Pertahanan AS juga mengumumkan identitas dua prajurit AS yang gugur dalam serangan sebelumnya di Yordania, yaitu:

  • Letnan Dua Angkatan Darat Tyler Feehan, 25 tahun, berasal dari Hawaii.
  • Prajurit Dua Isabella Gonzalez, 19 tahun, berasal dari Texas.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada 20 Juli mengatakan: “Yang dapat saya pastikan adalah bahwa dalam beberapa hari terakhir upaya diplomatik kami tetap berlangsung secara aktif. Berbagai usulan dan gagasan yang diajukan oleh para mediator memang telah disampaikan kepada kami.”

Menurut sejumlah laporan, para mediator telah mengajukan sebuah proposal kepada Iran untuk meredakan konflik, dengan target gencatan senjata selama 10 hari.

Pada Senin 20 Juli, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni telah melakukan kunjungan ke Pakistan. Ia memimpin delegasi tingkat tinggi dan diperkirakan akan membahas perkembangan situasi keamanan kawasan.

Selain itu, beredar laporan bahwa militer AS telah mengerahkan tambahan sejumlah besar pesawat tempur ke kawasan serta menempatkan sistem rudal di Kuwait, yang semakin meningkatkan perhatian terhadap perkembangan situasi.

Laporan gabungan NTD Asia-Pacific Television oleh Chen Huimo dan Chen Lingzhi.

Ketua DPR AS Mike Johnson: Komunisme Bertentangan dengan Prinsip Dasar Berdirinya Amerika Serikat

EtIndonesia.com  Baru-baru ini, sebuah video pidato terbuka Ketua DPR AS Mike Johnson menjadi viral di media sosial berbahasa Mandarin. Dalam pidatonya, Johnson menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami untuk menjelaskan mengapa komunisme dan sosialisme, menurut pandangannya, pada akhirnya selalu berujung pada kehancuran.

Pada 17 Juli, Johnson berbicara dalam Family Leadership Summit 2026 (Konferensi Tingkat Tinggi Kepemimpinan Keluarga 2026). Ia mengatakan bahwa saat berdiskusi dengan mahasiswa di berbagai kampus, ia menemukan banyak mahasiswa yang belum memahami akar pemikiran Marxisme, komunisme, dan sosialisme.

“Marxisme, komunisme, dan sosialisme semuanya dibangun di atas satu asumsi, yaitu bahwa Tuhan tidak ada. Jika seseorang percaya bahwa Tuhan tidak ada, maka akan muncul serangkaian konsekuensi,” katanya. 

Ia melanjutkan:”Jika Anda tidak percaya kepada Tuhan, maka Anda juga menolak gagasan bahwa setiap manusia memiliki martabat dan nilai yang luhur. Anda tidak lagi memiliki martabat, kebebasan, atau nilai yang melekat sejak lahir. Anda hanyalah makhluk sosial lainnya, sekadar bagian dari suatu kelompok.”

Menurut Johnson:”Tahukah Anda apa yang terjadi pada hewan yang hidup berkelompok? Mereka harus diarahkan, dikendalikan, dan dipelihara. Para penguasa mungkin memberi mereka makanan yang cukup atau berbagai fasilitas gratis, tetapi mereka pasti akan merampas kebebasan mereka.”

Johnson mengatakan bahwa para mahasiswa yang mendengarnya tampak sangat terkejut.

“Saya berkata kepada mereka: ‘Izinkan saya memberitahu kalian sesuatu. Pemikiran sosialisme ini sebenarnya berasal dari Marxisme. Hanya dalam abad ke-20 saja, Marxisme telah menyebabkan puluhan juta orang tak bersalah kehilangan nyawa.'”

Johnson juga menyatakan bahwa budaya arus utama saat ini mendorong orang untuk tidak mempercayai Tuhan. Menurutnya, ideologi komunisme bertentangan dengan prinsip dasar berdirinya Amerika Serikat, yaitu keyakinan bahwa hak-hak manusia berasal dari Tuhan, bukan dari pemerintah.

Ia menegaskan:”Ini adalah jalan menuju kehancuran. Saya ingin mengatakan kepada kalian bahwa pemikiran itu salah, karena asumsi dasarnya sejak awal sudah salah. Anda tidak mungkin meninggalkan cita-cita dan keyakinan yang menjadi dasar berdirinya Amerika, tetapi pada saat yang sama tetap dapat mempertahankan kebebasan Anda.”

Dalam pidatonya, Johnson juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi perjuangan melawan komunisme. Ia mengajak masyarakat untuk menolak pengaruh komunisme dan tidak meninggalkan prinsip dasar negara bahwa hak-hak manusia berasal dari Tuhan, bukan dari pemerintah.

Apakah Tanggul Kolam Ikan Jebol? Banjir Mendadak Terjang Kota Shunhe, Sichuan, Tiongkok Warga Terseret Arus

EtIndonesia.com Kota Shunhe di Provinsi Sichuan, Tiongkok tiba-tiba dilanda “banjir” pada Senin, 20 Juli 2026. Air datang dengan sangat deras sehingga warga tidak sempat bersiap dan mengalami kerugian besar. Pihak berwenang menyatakan banjir disebabkan oleh jebolnya tanggul kolam ikan, namun penjelasan ini menimbulkan keraguan di kalangan publik.

Menurut sejumlah video yang beredar di media sosial Tiongkok, Kota Shunhe, Distrik Dongxing, Kota Neijiang, Sichuan, mendadak diterjang banjir. Air keruh dengan cepat mengalir ke jalan-jalan dan rumah warga. Perabotan, sepeda listrik, bahkan seorang anak sempat terseret arus. Banyak rumah dan toko di lantai dasar terendam.

Seorang pria yang merekam dari dalam tokonya berkata:“Lihat, banjir besar datang! Tidak tahu dari mana air ini berasal! Airnya naik begitu cepat!”

Dalam video tersebut, kedalaman air di jalan telah mencapai betis orang dewasa, dengan arus yang deras, sehingga seluruh pertokoan di lantai satu di sepanjang jalan terendam.

Video lain memperlihatkan warga berusaha menyelamatkan barang-barang mereka dari banjir. Seorang wanita berulang kali berkata:“Terlalu mengerikan! Terlalu mengerikan!”

Seorang pria yang berdiri di depan rumahnya juga mengungkapkan keheranannya:“Aneh sekali air ini. Di bagian hulu tidak turun hujan, permukaan sungai juga tidak naik, tapi tiba-tiba seperti ini…”

Seorang ibu merekam video untuk dikirim kepada anaknya yang berada di luar daerah:“Nak, lihat keadaan kami. Tiba-tiba air memenuhi jalan. Sangat dalam, mobil-mobil rusak tertabrak arus. Ada mobil baru yang diparkir di jalan, sekarang airnya naik begitu besar.”

Video menunjukkan air banjir mengalir deras ke kawasan permukiman dan pasar tradisional. Seorang pedagang mengeluh:“Tidak tahu dari mana datangnya air ini, kerugiannya sangat besar!”

Banjir berlangsung lebih dari satu jam. Banyak kendaraan terendam, dengan ketinggian air mencapai paha orang dewasa. Sejumlah warga berusaha naik ke tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Banyak rumah di lantai dasar terendam, perabotan rusak akibat terendam air. Sebuah supermarket di tepi sungai juga kebanjiran, dan air mengalir seperti air terjun menuju sungai.

Warga Shunhe mengatakan bahwa banjir ini sangat aneh karena daerah tersebut sudah beberapa hari tidak diguyur hujan, tetapi tiba-tiba muncul “banjir besar”.

Menurut laporan Beijing News, pemerintah setempat menyatakan bahwa banjir disebabkan oleh jebolnya tanggul kolam ikan milik sebuah tempat wisata pertanian, sehingga air mengalir ke jalan-jalan di bawahnya. Saat ini, pihak berwenang sedang memperbaiki tanggul untuk mencegah limpasan air berikutnya. Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerugian material.

Berdasarkan laporan Cover News pada 6 September 2017, di Kota Shunhe terdapat sebuah waduk kecil bernama Waduk Tiangong (juga disebut Waduk Qianjin), yang berfungsi untuk irigasi, pengendalian banjir, dan budidaya perikanan. Waduk ini berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Dongxing, dengan kapasitas total 2,38 juta meter kubik dan kapasitas normal 1,54 juta meter kubik.

Banyak warganet meragukan penjelasan resmi bahwa banjir disebabkan oleh jebolnya tanggul kolam ikan. Ada yang menyindir : “Saya belum pernah melihat kolam ikan yang memiliki volume air sebesar itu.”

Sebagian netizen menduga bahwa banjir tersebut mungkin disebabkan oleh kerusakan atau jebolnya waduk setempat.

Belakangan ini, banyak wilayah di Tiongkok dilanda hujan deras dan banjir. Pada 6 Juli, Waduk Liulan di Guangxi dilaporkan mengalami kerusakan, mengakibatkan rumah-rumah warga di hilir tersapu arus. Banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri, dan sebagian kehilangan seluruh harta benda serta tempat tinggal.

Pihak berwenang menggunakan istilah “retakan” atau “lubang” untuk menggambarkan kerusakan bendungan, bukan “jebolnya bendungan”, yang menurut sebagian pihak dianggap sebagai upaya untuk mengurangi kesan parahnya bencana.

Laporan disusun oleh wartawan Luo Tingting / Editor: Wen Hui – NTDTV.com

Iran Diguncang Serangan Baru! Fasilitas Nuklir Diserang, Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran

EtIndonesia.com – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengalami eskalasi signifikan. Memasuki malam kedelapan berturut-turut, militer Amerika Serikat terus melancarkan operasi udara terhadap berbagai target strategis di Iran sebagai respons atas serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran yang sebelumnya menewaskan personel militer Amerika.

Di tengah operasi militer yang terus berlangsung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui ancaman sanksi baru, sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth kembali menegaskan bahwa Washington tidak akan mentoleransi setiap serangan yang mengancam nyawa warga maupun prajurit Amerika di mana pun mereka berada.


Serangan Iran ke Pangkalan AS di Yordania Memicu Respons Militer Washington

Rangkaian eskalasi terbaru bermula setelah 17 Juli 2026, Iran meluncurkan serangan menggunakan rudal balistik dan drone ke sebuah pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Yordania.

Menurut keterangan resmi Komando Pusat Militer Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) yang diumumkan pada 18 Juli 2026, serangan tersebut mengakibatkan:

  • dua prajurit Amerika Serikat tewas;
  • satu prajurit lainnya masih dinyatakan hilang dan hingga kini masih dalam proses pencarian.

Insiden tersebut menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap personel militer Amerika sejak konflik terbaru antara Washington dan Teheran kembali meningkat beberapa bulan terakhir.


CENTCOM Tampilkan Rekaman Serangan Presisi terhadap Target Militer Iran

Sebagai respons atas serangan tersebut, CENTCOM merilis rekaman video terbaru yang memperlihatkan operasi serangan udara presisi terhadap sejumlah sasaran militer Iran.

Menurut pernyataan resmi militer Amerika, sasaran yang dihancurkan meliputi berbagai fasilitas yang dinilai memiliki nilai strategis tinggi, antara lain:

  • fasilitas pengawasan di kawasan pesisir;
  • sistem pertahanan udara;
  • aset dan kemampuan tempur maritim;
  • gudang penyimpanan rudal;
  • fasilitas penyimpanan pesawat nirawak (drone).

Operasi tersebut sekaligus menandai malam kedelapan berturut-turut Amerika Serikat melaksanakan gelombang serangan udara besar-besaran terhadap sasaran militer Iran.

Washington menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan pertahanan Iran sekaligus mencegah ancaman lanjutan terhadap pasukan Amerika dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.


Pete Hegseth: Amerika Akan Memburu Siapa Pun yang Membunuh Warganya

Pada 19 Juli 2026, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali menyampaikan peringatan keras kepada Iran.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan serangan terhadap warga maupun personel militernya tanpa balasan.

“Jika Anda menyebabkan warga Amerika kehilangan nyawa, atau mengancam warga Amerika di mana pun mereka berada di dunia, kami tidak akan ragu untuk memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda.”

Hegseth juga menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tetap memegang prinsip yang selama ini menjadi salah satu kebijakan utama pemerintahannya, yakni memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Menurutnya, setiap langkah militer Washington saat ini merupakan bagian dari strategi yang bertujuan mencegah Teheran mengembangkan kemampuan nuklir yang dapat mengancam stabilitas kawasan maupun keamanan internasional.


AS Serang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Darhovin

Memasuki dini hari 19 Juli 2026 waktu Iran, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara yang kali ini menyasar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Darhovin.

Serangan tersebut segera memicu kecaman keras dari pemerintah Iran.

Organisasi Energi Atom Iran menilai aksi militer Amerika merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional serta membahayakan keselamatan fasilitas sipil.

Namun demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyampaikan bahwa fasilitas Darhovin tidak menyimpan material nuklir aktif.

Karena itu, badan tersebut memperkirakan serangan tersebut tidak menimbulkan ancaman kebocoran radiasi maupun pencemaran nuklir.

Sejumlah laporan awal juga menyebut bahwa bangunan utama pembangkit listrik tersebut masih tetap berdiri setelah serangan berlangsung.


Pernyataan Abbas Araghchi Picu Spekulasi Baru Mengenai Mojtaba Khamenei

Di tengah meningkatnya tekanan militer terhadap Iran, perkembangan menarik juga muncul dari ranah politik dalam negeri Iran.

Pada 19 Juli 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membuat pernyataan yang mengejutkan ketika ditanya mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran.

Araghchi mengatakan: “Selama periode ini, saya tidak pernah bertemu dengan Mojtaba Khamenei.”

Ia kemudian menambahkan: “Menurut saya, selain segelintir orang, tidak ada seorang pun yang pernah bertemu dengannya.”

Pernyataan tersebut kembali memunculkan berbagai spekulasi mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei yang selama beberapa waktu terakhir jarang terlihat di hadapan publik.

Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak pemerintah Iran mengenai keberadaan maupun aktivitas putra Ayatollah Ali Khamenei tersebut.


Trump Dorong Iran Masuk Paket Sanksi terhadap Rusia

Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengunggah pernyataan melalui platform media sosial Truth Social.

Menurut laporan The Times of Israel, Trump meminta agar Partai Republik memasukkan Iran ke dalam rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia yang sebelumnya mendapat dukungan luas di Senat Amerika Serikat.

Trump menyebut gagasan tersebut sejak awal merupakan usulan yang didorong oleh mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham dan sudah saatnya diwujudkan.

Rancangan undang-undang tersebut diketahui telah memperoleh dukungan lebih dari 60 senator, baik dari Partai Republik maupun Partai Demokrat.

Apabila disahkan, aturan itu akan:

  • mengenakan sanksi sekunder hingga 200 persen terhadap negara-negara yang tetap membeli minyak dan gas Rusia;
  • memperluas sanksi terhadap Iran apabila dimasukkan ke dalam regulasi tersebut;
  • menargetkan armada shadow fleet Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi internasional.

Menurut Trump, kebijakan itu akan semakin mempersempit ruang gerak ekonomi negara-negara yang dianggap mengancam kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.


Trump Peringatkan Negara-Negara Teluk

Sementara itu, Channel 13 Israel melaporkan bahwa Trump juga telah mengirimkan pesan kepada sejumlah negara di kawasan Teluk.

Menurut laporan tersebut, Trump memperingatkan bahwa apabila upaya gencatan senjata gagal dicapai dalam pekan ini, maka kawasan Timur Tengah berpotensi menghadapi eskalasi konflik yang jauh lebih besar.

Laporan itu menyebutkan bahwa fasilitas vital seperti:

  • instalasi desalinasi air laut;
  • pembangkit listrik;
  • infrastruktur energi;

berisiko menjadi terdampak apabila perang terus meluas.


Trump Ancam Lumpuhkan Infrastruktur Kelistrikan Iran

Dalam pernyataan terpisah, Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran.

Ia mengatakan Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk melumpuhkan seluruh jaringan kelistrikan Iran dalam waktu yang sangat singkat.

“Kami dapat melumpuhkan seluruh kapasitas kelistrikan mereka hanya dalam waktu satu jam, sementara mereka membutuhkan waktu sekitar 25 tahun untuk membangunnya kembali.”

Pernyataan tersebut kembali menunjukkan bahwa tensi hubungan Washington dan Teheran masih berada pada tingkat yang sangat tinggi, sementara peluang tercapainya penyelesaian damai dalam waktu dekat masih belum menunjukkan kepastian.

Konflik Memasuki Fase yang Semakin Berbahaya

Memasuki 19 Juli 2026, perang antara Amerika Serikat dan Iran terus bergerak menuju fase yang semakin kompleks. Di satu sisi, operasi militer Amerika masih berlangsung dengan intensitas tinggi dan menyasar berbagai fasilitas strategis Iran. Di sisi lain, tekanan diplomatik serta ancaman sanksi ekonomi terus diperluas untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Di tengah situasi tersebut, perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan beberapa hari ke depan. Apakah berbagai upaya diplomasi masih mampu meredakan ketegangan, atau justru kawasan Timur Tengah akan memasuki babak konflik yang lebih luas dengan dampak yang jauh lebih besar terhadap stabilitas regional maupun ekonomi global. (***)

Israel Mulai Kepung Iran dari Suriah! Jalur Senjata Hizbullah Terancam Putus Total

EtIndonesia.com — Aktivitas militer Israel di wilayah Suriah selatan kembali meningkat di tengah memanasnya situasi keamanan di Timur Tengah. Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik regional semakin meluas, terutama setelah muncul laporan mengenai pergerakan pasukan Israel di dekat perbatasan Suriah-Israel.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Nasional Suriah (SANA) yang dipublikasikan pada 19 Juli 2026, sebuah konvoi militer Israel yang terdiri atas enam kendaraan tempur dilaporkan memasuki wilayah Provinsi Quneitra, Suriah selatan, melalui kawasan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Selama operasi berlangsung, sejumlah pesawat nirawak (drone) Israel terus terlihat berpatroli di atas wilayah tersebut. Drone-drone itu diduga menjalankan misi pengintaian, pemantauan situasi di lapangan, serta memberikan dukungan intelijen secara langsung kepada pasukan darat yang bergerak memasuki wilayah Suriah.

Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai bentrokan besar antara pasukan Israel dan kelompok bersenjata di kawasan tersebut. Namun, peningkatan aktivitas militer itu menunjukkan bahwa Israel terus memperluas operasi ke wilayah Suriah selatan sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi keamanannya di sepanjang perbatasan.

Operasi Israel Dinilai Terus Meluas

Sejumlah analis militer menilai bahwa masuknya kendaraan tempur Israel ke Provinsi Quneitra bukan sekadar patroli rutin, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat kendali terhadap wilayah perbatasan sekaligus mencegah aktivitas kelompok-kelompok yang didukung Iran.

Selama beberapa bulan terakhir, Israel diketahui meningkatkan intensitas operasi militernya di Suriah dengan alasan mencegah berkembangnya infrastruktur militer Iran dan kelompok-kelompok sekutunya di dekat wilayah Israel.

Penggunaan drone pengintai secara terus-menerus juga menunjukkan bahwa operasi tersebut dirancang secara terkoordinasi, dengan pemantauan medan secara real time untuk mendukung setiap pergerakan pasukan darat.

Jalur Pasokan Senjata Iran ke Hizbullah Terancam

Perkembangan di Quneitra memiliki arti strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadar pergerakan pasukan di wilayah perbatasan.

Selama bertahun-tahun, Suriah merupakan jalur logistik utama yang digunakan Iran untuk mengirimkan berbagai jenis persenjataan kepada kelompok Hizbullah di Lebanon.

Koridor darat yang menghubungkan Iran–Irak–Suriah–Lebanon menjadi jalur distribusi utama bagi berbagai perlengkapan militer, mulai dari rudal jarak pendek dan menengah, pesawat nirawak (drone), roket, amunisi, hingga berbagai perlengkapan logistik lainnya.

Di antara seluruh jalur tersebut, Provinsi Quneitra memiliki posisi yang sangat penting karena berada di bagian barat daya Suriah, tidak jauh dari perbatasan Lebanon dan Dataran Tinggi Golan. Wilayah ini menjadi salah satu titik terakhir sebelum pasokan memasuki Lebanon.

Dengan meningkatnya kehadiran militer Israel di kawasan tersebut, para pengamat memperkirakan bahwa jalur logistik Iran menuju Hizbullah akan menghadapi hambatan yang jauh lebih besar.

Apabila Israel mampu mempertahankan atau bahkan memperluas penguasaannya di sebagian wilayah Quneitra, kemampuan Iran untuk mengirimkan bantuan militer kepada Hizbullah melalui jalur darat diperkirakan akan semakin terbatas.

Iran Menghadapi Tekanan dari Tiga Arah

Sejumlah analis keamanan menilai bahwa kondisi yang dihadapi Iran saat ini semakin kompleks karena tekanan militer datang dari berbagai arah secara bersamaan.

Dari arah barat, pasukan Israel dilaporkan terus memperluas operasi darat di wilayah Suriah selatan. Di bagian utara Suriah, tekanan juga datang dari kelompok-kelompok bersenjata Kurdi yang menguasai sejumlah wilayah strategis.

Sementara itu, di bagian selatan, Amerika Serikat terus meningkatkan operasi militernya terhadap berbagai fasilitas strategis Iran, termasuk pelabuhan, gudang logistik, infrastruktur transportasi, serta sejumlah target militer lainnya.

Kombinasi tekanan dari ketiga arah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi yang bertujuan mempersempit ruang gerak Teheran serta menghambat kemampuan Iran dalam mempertahankan jaringan logistik regionalnya.

Pengaruh Strategis Iran di Timur Tengah Berpotensi Melemah

Para pengamat menilai bahwa apabila tekanan tersebut terus berlanjut, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh Iran, tetapi juga oleh kelompok-kelompok yang selama ini menjadi sekutu utama Teheran di kawasan Timur Tengah.

Terhambatnya jalur distribusi persenjataan diperkirakan akan mempersulit pengiriman rudal, drone, amunisi, maupun perlengkapan militer lainnya kepada Hizbullah di Lebanon.

Apabila koridor logistik Iran melalui Suriah benar-benar terputus atau mengalami gangguan berkepanjangan, kemampuan Iran untuk mempertahankan pengaruh strategisnya di kawasan dapat ikut melemah.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi independen yang menyatakan bahwa jalur pasokan tersebut telah sepenuhnya terputus. Situasi di lapangan masih berkembang, dan berbagai pihak terus memantau apakah peningkatan operasi militer Israel di Suriah akan memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang. (***)