Prajurit AS Tewas, Trump Murka: Iran Harus Membayar “Ribuan Kali Lipat”

Perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi perhatian. Hingga saat ini, militer AS telah melancarkan serangan udara selama sembilan malam berturut-turut terhadap Iran, yang menurut laporan telah melemahkan kemampuan militernya secara signifikan. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sebagai penghormatan kepada prajurit Amerika yang gugur, ia telah memerintahkan militer untuk memberikan balasan terhadap Iran dengan “ribuan kali lipat”. Sementara itu, beredar laporan bahwa AS telah mengerahkan lebih banyak pesawat tempur ke kawasan dan menempatkan sistem rudal di Kuwait.

EtIndonesia.com Militer AS melanjutkan serangan udara terhadap Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, dengan tujuan melemahkan kemampuan militer Iran.

Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa atas perintah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata AS, militer telah menyerang pusat komando militer Iran, sistem pertahanan udara, pos pengawasan pesisir, kemampuan operasi maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta jaringan komunikasi militer.

Presiden Trump kemudian menulis: “Setiap kali Iran membunuh seorang prajurit Amerika, mereka akan membayar harga ribuan kali lipat!”

Ia juga mengatakan bahwa perintah tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Jenderal Daniel Caine, dan para pejabat militer lainnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan: “Meskipun mereka (Iran) terus mengatakan ingin berbicara dan bernegosiasi, yang kami nilai adalah tindakan mereka. Dan tindakan mereka adalah terus menyerang kapal-kapal dengan rudal dan drone, bahkan malam ini pun serangan masih berlangsung.”

Kiri) Letnan Satu (1st Lt.) Tyler James Feehan. (Kanan) Prajurit (Pvt.) Isabella Gonzales, 19 tahun, dari Carrollton, Texas. Foto melalui U.S. Army Space and Missile Defense Command dan Associated Press (AP).

Seiring meningkatnya konflik, data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa Angkatan Udara AS sedang melakukan pengerahan besar-besaran pesawat tempur. Sejumlah pesawat angkut militer terlihat terbang melalui wilayah udara Eropa menuju pangkalan-pangkalan di Timur Tengah.

The New York Times, mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa militer Amerika sedang mengirim tambahan pesawat tempur F-35 dan F-16 ke Timur Tengah.

Di antaranya, 12 unit F-16CJ Fighting Falcon, yang belum lama kembali ke Amerika Serikat, dilaporkan kembali dikerahkan secara darurat ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti (MSAB) di Yordania.

Selain itu, terdapat laporan bahwa militer AS telah menempatkan Army Tactical Missile System (ATACMS) dengan jangkauan sekitar 190 mil (sekitar 306 km), serta HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) yang mampu meluncurkan rudal berpemandu presisi dengan jangkauan lebih dari 310 mil (sekitar 500 km) di Kuwait sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan terhadap Iran.

Menghadapi serangan intensif AS, muncul klaim bahwa sistem pertahanan udara Hongqi-9 (HQ-9) buatan Tiongkok, yang disebut-sebut sebelumnya dipasang Iran untuk melindungi fasilitas rudal Garda Revolusi, gagal mencegat serangan dan kemudian dihancurkan dalam serangan udara AS. Klaim tersebut memicu perdebatan mengenai efektivitas sistem pertahanan udara tersebut.

Sementara itu, Organisasi Energi Atom Iran menuduh militer AS telah menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir yang masih dalam tahap pembangunan di Darkhovin.

Namun, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan masih menyelidiki laporan tersebut. IAEA menambahkan bahwa proyek tersebut masih berada pada tahap awal pembangunan dan saat inspeksi terakhir tidak ditemukan adanya bahan nuklir di lokasi tersebut.

Menurut laporan, kantor berita resmi Iran Fars News Agency baru-baru ini mengunggah sebuah video berjudul “Di Mana Membunuh Trump?”, tetapi video tersebut kini telah dihapus dari platform X.

Beberapa media melaporkan bahwa video tersebut mengklaim telah mengetahui rute harian dan celah keamanan Presiden Trump saat keluar-masuk Mar-a-Lago di Florida, bahkan menyebut sebuah jembatan tertentu sebagai lokasi yang dianggap cocok untuk melakukan serangan.

Namun, sejumlah media internasional yang membandingkan isi video dengan peta sebenarnya menemukan bahwa rute iring-iringan kendaraan yang ditampilkan tidak sesuai dengan kondisi nyata. Selain itu, rute tersebut dilaporkan telah diubah sejak Januari tahun ini, sehingga keaslian dan relevansi informasi dalam video tersebut masih belum dapat dipastikan.

Laporan oleh Wang Ziyi, NTD Television.

INSPIRASI ERABARU

Bersyukur Tak Hanya Menenangkan Hati, tetapi Juga Membentuk Ulang Otak

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu otak mengembangkan rasa syukur yang bermanfaat bagi kesehatan mental maupun fisik. Oleh Sarah Campise Hallier Ketika ayah Melissa meninggal secara tiba-tiba,...

4 Makanan Tinggi Protein yang Membantu Lansia Meningkatkan Imunitas dan Mempertahankan Massa Otot

Asupan protein cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan dampaknya sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Ketika massa otot melemah, infeksi menjadi lebih lama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine